Connect with us

Non Fiction Books

Sisi Gelap Sir Thomas Stamford Raffles

mm

Published

on

Judul: Raffles dan Invansi Inggris ke Jawa

Pengarang: Tim Hannigan

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun: 2015

Cetakan: 1

Kategori: Sejarah

Jumlah Halaman: 434 Halaman

 

Jika mengingat nama Sir Thomas Stamford Raffles apa yang pertama kali Anda ingat? Saya jamin pasti dua hal yang selalu akan anda ingat tentang sosok ini. Pertama, buku mahadahsyat yang berjudul History of Java dan kedua adalah penemuan bunga bangkai di daratan Bengkulu yang kemudian dinamakan Rafflesia Arnoldi.

Hal itu sudah lumrah dan diketahui banyak orang, dibalik kegemilangan Thomas Stamford Raffles dalam bidang akademik ternyata ada beberapa sisi gelap yang ditutupi oleh para pro-Raffles. Satu diantaranya sekian banyak penulis yang ingin mengungkap sisi negatif Raffles adalah Tim Hannigan dengan bukunya yang berjudul Raffles dan Invansi Inggris ke Jawa.

Awal mulanya saya berfikir pasti isi buku ini tidak jauh dari mengagung-agungkan seorang Letnan Gubernur ini, tapi ternyata saya keliru dibuatnya. Tema yang ditawarkan penulis dalam bukunya ini adalah berkutat tentang penyebab-penyebab Raffles akhirnya tidak bisa memerintah Jawa dalam kurun waktu yang lama, mulai dari masalah yang besar hingga masalah kecil seputar konflik internal dengan orang-orang terdekatnya.

Adapun alur yang digunakan dalam buku ini adalah alur maju. Di situ diceriterakan bagaimana ia datang ke Hindia Belanda hingga akhirnya kembali lagi ke dan meninggal karena tumor otak, selain itu kehidupan pribadi Raffles pun tak luput. Mulai dari ia skandal dengan atasannya Lord Minto hingga anak-anaknya meninggal di Bengkulu (Bencoolen). Beberapa konflik yang terdapat dalam buku ini kebanyakan terdiri dari konflik internal, berkisar antara Raffles dan para bawahannya.

Banyak sekali tokoh-tokoh yang terdapat dalam buku ini, akan tetapi Raffles tetap menjadi tokoh utama yang menjadi alur cerita. Namun ada kalanya penulis juga menampilkan watak tokoh secara tidak langsung seperti tempat tinggal dengan menggambarkan Jawa pada saat itu, kemudian jalan fikiran Raffles dan tingkah laku nya yang cenderung protagonis. Jadi bisa dipastikan bahwa campuran pertokohan yang secara analitik dan dramatik tertuang rapi dalam buku ini.

Raffles sudah jelas menjadi tokoh utama yang selalu ada dalam setiap bagian buku ini dari awal hingga akhir, selain itu Raffles juga lebih sering digambarkan sebagai sosok antagonis ketimbang sosok yang protagonis. Pada awal buku hingga pasukan Inggris berhasil merebut Weltevreden, Raffles masih digambarkan sebagai sosok yang protagonis. Setelah itu? Antagonis sekali.

Latar tempat yang terdapat dalam buku ini kebanyakan berada di sebuah kota seperti Batavia, Surakarta, Yogyakarta hingga Bengkulu. Sedangkan latar waktu sekitar pada masa peralihan Inggris yaitu kurun waktu 1811 hingga 1816, dan latar suasana awalnya gembira karena Inggris berhasil mengusir Belanda tetapi lama kelamaan berubah menjadi sedih dan nestapa karena ulah tangan nya sendiri yang maruk.

Penulis berposisi sebagai orang di luar kejadian tersebut sehingga penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga karena tidak hidup sejaman dengan peristiwa atau kejadian yang dituliskan.

Penulis juga melalui buku ini berusaha untuk mendobrak persepsi khalayak ramai terdapat Thomas Stamford Raffles dewasa ini, ini tertuang pada amanat yang paling membuat saya terpikat. Penulis sendiri adalah seorang Inggris tapi anehnya ia tidak mengagungkan Raffles sebagai sebuah pahlawan masa lampau.

Ia berusaha untuk memberitahukan kepada pembaca bahwa pada dasarnya Raffles itu tetaplah seorang penjajah, dan Raffles tidak sama baiknya dengan Belanda ketika itu. Tak lebih baik. Hanya saja karena latar belakang Raffles yang tidak mengenyam militer yang membuatnya cenderung lunak terhadap tanah koloni dan sialnya dicap sebagai seorang liberal.

Kesimpulan nya adalah buku ini bisa membuat persepsi kita berubah ketika mendengar kisah Raffles di Jawa, ternyata di balik bayang-bayang History of Java dan Rafflesia Arnoldi tersebut masih banyak kisah yang sengaja ditutup-tutupi demi reputasi baik Raffles. Dan yang paling penting adalah Indonesia tak lebih baik ketika dijajah Inggris, sama saja.

*Kahfi Ananda: Seorang mahasiswa di salah satu Universitas di Semarang, tertarik pada olahraga dan sejarah. Twitter @kahfiananda8

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fimela

Melihat Saras Dewi Mengurai Disekuilibrium

mm

Published

on

Buku terbaru karya Saras Dewi ini tidak bisa dipisahkan dari momentum perjuangan masyarakat Bali dalam mempertahankan Teluk Benoa dari ancaman reklamasi. Pasca disahkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 51 Tahun 2014 tentang Perubahan Perpres Nomor 45 tahun 2011 yang mengatur kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan), pergerakan ribuan massa kontra reklamasi kian masif.

Bahkan, gelombang penolakan yang dimulai oleh penduduk lokal itu meluas dengan dukungan dari para aktivis lingkungan. Mereka satu suara menyatakan perubahan Perpres tersebut justru memicu kerusakan lingkungan berupa perluasan abrasi di selatan perairan Bali. Apalagi menurut hasil studi analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) oleh Universitas Udayana, reklamasi memang tidak layak dilakukan.

Lahir dan dibesarkan di Pulau Dewata, Saras memiliki kecintaan mendalam terhadap tanah kelahirannya. Pada bagian pembuka buku setebal 172 halaman ini, Saras mengisahkan kegelisahannya atas pembangunan di Bali yang membabibuta. Kegelisahan tersebut bermula ketika ia duduk di bangku SD.

Kala itu, pemilik nama lengkap Luh Gede Saraswati Putri ini sangat mengagumi pohon ketapang yang tumbuh di sekolahnya. Saras kecil sering menghabiskan waktu luang di bawah rindangnya pohon ketapang. Namun menjelang kelulusan sekolah, ia mendengar kabar mengecewakan lantaran pohon ketapang tersebut akan ditebang untuk perluasan gedung sekolah. Dalam benaknya terbersit untuk protes, tetapi ia menyadari pikiran kecilnya belum sanggup membangun argumen yang kuat untuk menentang penebangan pohon ketapang kesayangannya.

Seiring dengan pesatnya pariswisata di Bali, Saras melihat maraknya eksploitasi sumber daya tanpa memerhatikan keselarasan alam. Atas nama pembangunan, atas nama kemewahan, juga atas nama kemajuan, alam liar berangsur-angsur digantikan beton-beton dan rimba gedung-gedung. Parahnya, ada pula pihak yang mengatasnamakan kesejahteraan sebagai pembenaran untuk merusak alam.

Pengalaman historis itulah yang mengusik naluri dosen sekaligus Kepala Program Studi (Kaprodi) Filsafat, Universitas Indonesia (UI) untuk melakukan perenungan filosofis demi tercapainya keseimbangan relasi antara alam dan manusia. Bagi pelantun tembang Lembayung Bali tersebut, buku terbitan Marjin Kiri ini juga merupakan argumen yang tertunda atas kegagalan menyelamatkan penebangan pohon ketapang saat ia masih berseragam putih merah.

Kendati berawal dari fenomena di Bali, buku sepanjang enam bab ini memaparkan pendekatan baru dalam menganalisis fenomena kerusakan alam secara universal. Saras menekankan pentingnya rekonstruksi pandangan manusia tentang alam sebagai tempat mereka berpijak. Hal tersebut penting, mengingat selama ini ekologi dan etika lingkungan tidak cukup gamblang dalam menjawab masalah kemerosotan lingkungan hidup.

Sejatinya, pada tataran etis sejumlah teori telah dikembangkan untuk menjelaskan relasi antara manusia dan alam. Namun, pemikiran etis tidak cukup tajam membedah dan memilah substansi permasalahan kerusakan alam (hlm 1). Sebagai contoh perspektif Aldo Leopold tentang Etika Tanah (1949) yang menunjukkan betapa rapuhnya kehidupan manusia karena dikuasai oleh perilaku antroposentrik.

Leopold telah menawarkan suatu konsep konservasi untuk meminimalisasi kerusakan alam. Ia mengklaim bahwa konservasi adalah kondisi harmoni antara manusia dan alam (Cottingham, 1996: 452). Akan tetapi, konsep Leopold tentang konservasi tersebut menimbulkan persepsi dari pemikir lingkungan bahwa alam hanya sebatas properti. Alam dianggap tidak memiliki nilai intrinsik dan hanya relevan dalam kegunaannya bagi manusia. Pandangan alam sebagai properti itu, menyebabkan manusia tidak terikat kewajiban untuk merawat alam (hlm 4).

Dalam buku ini, Saras mengungkapkan bahwa rekonstruksi terhadap alam yang rusak tidak dapat diselesaikan lewat pandangan etis praktis saja. Tetapi harus melalui pemahaman ontologis tentang alam. Akan tetapi, ia menegaskan konsep ontologi yang dimaksud berbeda dengan pemahaman sebelumnya. Etika lingkungan memahami alam dan manusia sebagai ontologi yang berlainan, sedangkan Saras menawarkan ontologi baru yang menyorot secara spesifik relasi alam dan manusia. Maksudnya alam dan manusia dinilai sebagai substansi yang utuh, yaitu kehidupan.

Menggunakan metode fenomenologi lingkungan, Saras meneliti dan mengkritik relasi antara alam dan manusia secara radikal. Ia menggunakan fenomenologi Edmund Husserl (1970), Maurice Merleau-Ponty (1973), dan Martin Heidegger (1983) sebagai kerangka berpikirnya. Ketiga tokoh fenomenologi ini mengantarkan Saras pada kesimpulan bahwa telah terjadi kondisi disekuilibrium di alam semesta.

Disekuilibrium merupakan hilangnya kestabilan dari dua substansi yang ada, yang berbeda dan juga berlawanan tetapi saling berpengaruh. Kondisi tersebut terjadi karena manusia mengeksploitasi alam tanpa memikirkan keberlanjutan hidupnya. Walau alam memiliki kemampuan untuk memulihkan diri, tetapi lambat laun kondisi disekuilibrium yang terus menerus akan membawa manusia di ambang kehancuran.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mencapai kondisi yang ekuilibrium? di tengah derasnya arus industrialisasi, pembangunan kian tidak terbendung. Pemerintah yang diharapkan mampu berperan sebagai aktor untuk mencegah kerusakan lingkungan ternyata belum berbuat banyak. Jargon pembangunan sebagai pembasmi kemiskinan dilantangkan, namun justru rakyat miskin yang akhirnya disengsarakan. Seperti tertuang dalam buku Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi karya Emil Salim (2010). Emil mengkritik pola pembangunan yang merusak lingkungan dan memperparah kemiskinan.

Melalui buku Ekofenomenologi Saras meyakini, ketimpangan relasi antara manusia dan alam yang terjadi saat ini dapat dipulihkan apabila ada kesadaran ontologis relasi manusia dan dan alam yang lebih adil (hlm 146). Pada bagian penutup, Saras menyinggung gagasan penting Thomas More mengenai kaum Utopia. Dalam kuotasinya More menyebutkan, “kala alam memperlakukan diri manusia dengan baik dan lembut, mestinya mereka tidak berbuat kejam dan kasar terhadap diri mereka juga,” (hlm 85).

Senada dengan More, Heidegger juga menyatakan kehidupan yang baik tidak mungkin dilepas dari relasi seimbang dengan alam. Cara memperlakukan alam mencitrakan sikap sebagai manusia. Perlakuan yang adil tidak saja kewajiban manusia terhadap sesamanya, tetapi juga sensitivitas terhadap kelestarian alam (hlm 142). Kesadaran manusia sebagai makhluk yang sempurna tidak seharusnya menjerumuskan mereka pada keangkuhan. Sebab, alam dan manusia adalah satu kesatuan yang saling menopang adanya kehidupan di bumi.

Pada akhirnya, Ekofenomenologi memang sangat detil dalam membedah isu kerusakan lingkungan. Secara spesifik, Saras telah merangkai metode baru yakni fenomenologi lingkungan. Buku ini membawa perspektif baru bagi akademisi, swasta, pemerintah, dan masyarakat untuk mendiskusikan konsep pembangunan yang berkelanjutan. Akan tetapi pada implementasinya, mencapai kondisi ekuilibrium tentu bak mencari satu jarum dalam tumpukan jerami. Tentu dibutuhkan perjuangan esktra keras untuk mengubah moralitas dan paradigma manusia supaya lebih mencintai alam semesta. (*)

Penulis           : Saras Dewi

Penerbit         : CV Marjin Kiri

Cetakan          : Pertama, Maret 2015

Tebal               : xiv + 172 halaman

ISBN               : 978-979-1260-42-8

Peresensi       : Fikri Angga Reksa
————————————
Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Continue Reading

Non Fiction Books

Sintren, Riwayatmu Kini…

mm

Published

on

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

Bilamana tabiat para sastrawan hanya sekadar menjalankan laku mimetik dan menggambarkan wajah realitas sebagaimana yang “tersurat” saja (bukan tersirat), karya sastra tentu saja bakal segera menjemukan, lekas lapuk dimakan waktu. Lagi pula, laku peniruan sukar dipertanggungjawabkan sebagai kerja kreatif yang selalu saja menyimpan obsesi-obsesi literer. Maka, pergulatan melahirkan karya sastra semestinya bergeser dari sekadar tiru-meniru realitas menjadi sebuah “ikhtiar” menciptakan realitas baru, bila perlu dengan cara meloncati atau “melampaui” realitas usang, merangsek masuk ke lorong-lorong permenungan yang tidak berhasil ditembus oleh para filsuf.

Barangkali, di titik inilah letak perbedaan antara jalan sastra dan jalan filsafat. Bila tradisi berpikir diskursif-spekulatif di medan filsafat senantiasa mengayuh biduk menuju hulu, tempat kebenaran bersemayam, sastra justru bersitungkin menggali lubang-lubang kemungkinan sebanyak mungkin agar pencarian itu tidak berlabuh pada wujud kebenaran yang bulat, dan tidak melulu tertumpu pada arche transendental yang tunggal dan tak sumbing sebagaimana yang hendak digenggam oleh filsafat. Filsafat begitu bernafsu dan menggebu-gebu ingin menggapai “semesta kepastian”, sebaliknya, sastra malah tekun membukakan pintu-pintu “keserbamungkinan”.

Watak literer yang terobsesi hendak membangun (setidaknya menawarkan) dunia baru dalam sastra sangat terasa pada novel Sintren, karya novelis muda Dianing Widya Yudhistira ini. Ia mempertentangkan dua sisi realitas dalam posisi saling membelakangi. Realitas pertama adalah dunia keseharian Saraswati, murid SD berparas ayu tapi terlahir dari keluarga miskin. Pada jam istiharat, ia lebih suka membaca buku di ruang kelas, sementara kawan-kawannya menghambur-hamburkan uang jajan di kantin sekolah. Jangankan beroleh uang jajan dari Mak, uang sekolah saja sudah menunggak tiga bulan. Kemiskinan itulah yang membuat ia selalu tergesa-gesa melucuti seragam seusai jam sekolah, lalu bergegas ke Klidang, membantu Mak yang bekerja sebagai buruh penjemur ikan.

Sementara realitas kedua adalah ruang dan waktu suprainderawi yang diselami Saraswati tatkala gadis bau kencur itu harus tampil sebagai penari sintren. Tubuhnya dibebat dengan berlapis-lapis pakaian, lalu diikat erat-erat dengan tali yang melilit sekujur badan sebagaimana kerap dijumpai dalam atraksi sulap tingkat tinggi, setelah itu ia dimasukkan ke kurungan ayam.Tak lama kemudian, Mbah Mo mulai melafalkan mantra-mantra gaib, hingga datanglah serombongan anak kecil menghampiri Saraswati. Mereka akan segera merasuki raga Saraswati untuk kemudian dilenggak-lenggokkan serupa anak-anak kecil sungguhan bermain boneka. Penonton bertepuk tangan dan bersorak sorai kegirangan menyaksikan sintren yang tiba-tiba muncul dalam keadaan sudah berdandan ala penari, memancarkan aura kecantikan yang membuat mata para lelaki enggan berkedip, pinggang langsing Saraswati meliuk-liuk, sampai tiba saatnya menagih saweran. Padahal, sesungguhnya, Saraswati tidak beranjak ke mana- mana, ia tetap duduk diam dalam kurungan, bahkan ikut pula menyaksikan lentik jemarinya berayun-berayun gemulai seiring irama gendang.

Pagelaran Sintren / getty image

Peristiwa metafisis tatkala Saraswati menjadi sintren inilah yang dapat disebut sebagai salah satu lubang “keserbamungkinan” hasil galian pengarang dalam rangka membangun dan menawarkan realitas baru. Boleh jadi tidak ada pretensi pengarang untuk menonjolkan salah satu sisi dari dua dunia yang saling membelakang bulat itu.
Tetapi, “diam-diam” kekuatan teks seolah menyuarakan bahwa pengalaman supranatural dan adikodrati yang dialami Saraswati adalah sungguh-sungguh nyata. Senyata peristiwa ketika gadis kecil itu dipaksa menerima lamaran Kirman, anak juragan Wargo, di usia yang belum genap empat belas tahun (meski pernikahan itu gagal), senyata kemelaratan yang tak jemu-jemu menimpa keluarganya. Ketakmujuran itu pula yang membuat Saraswati terpaksa menjadi sintren agar ia tetap bisa sekolah. Membiayai sekolah dengan uang saweran.

Dunia sintren memang dunia gaib, asing dan tak kasatmata, selayaknya dunia pesugihan yang selalu menghendaki tumbal. Tumbal paling mula tentulah si penari itu sendiri. Betapa tidak? Sejak jadi penari sintren, Saraswati dengan lapang dada harus menerima kenyataan bakal kerasukan setan di setiap penampilan, harus pula pasrah pada “takdir” sintren yang cantik alang kepalang, tapi pantang disentuh laki-laki sebab dunia sintren menghendaki keperawanan abadi, tiada seorang laki-laki pun yang boleh menjamah tubuhnya. Tumbal selanjutnya tentu saja para lelaki yang mabuk kepayang dan tergila-gila ingin mempersunting Saraswati. Lihatlah riwayat peruntungan Dharma, Warno, Royali, dan Sumito, empat laki-laki yang pernah nekat mempersunting Saraswati, semuanya mati mengenaskan sebelum sempat mencicipi ranum tubuh sintren paling masyhur di Kampung Batang itu.

Namun, Saraswati sudah kadung menjatuhkan pilihan, tidak bakal sanggup ia melarikan diri dari kurungan gaib itu, mustahil ia berhenti jadi penari sintren. Saraswati siap menanggung segala akibat dari pilihannya, siapa melompat siapa jatuh. Sampai di titik ini, realitas yang tidak kasatmata telah menjelma dunia yang sesungguhnya, sementara keseharian Saras dengan Wati, Sinur dan teman-teman sekolahnya seolah-olah tidak nyata, seakan-akan fiksi belaka, begitu juga kesehariannya dengan Mak, Bapak, Lik Wastini, Lik Menur, dan juragan Wargo. Itu sebabnya Saraswati dengan berat hati menolak lamaran Sinur. Menerimanya sama saja dengan mempercepat kematian laki-laki pujaannya itu. Saraswati berusaha memercayai gejolak cintanya kepada Sinur adalah angan-angan saja, tidak nyata, karena yang paling nyata bagi gadis itu adalah dirinya sintren yang telah menelan banyak korban.

Hampir separuh dari kisah yang disuguhkan buku ini menyiratkan semacam kerinduan pada tarian sintren yang perlahan-lahan mulai punah di Batang, kampung kelahiran Saraswati. Dan separuhnya lagi menampakkan kelegaan setelah kematian Saraswati, pangkal segala bala, biang segala tumbal, musabab segala sial.

Laku bertutur Dianing memang tidak terlalu menggiurkan, datar, bersahaja, dan tidak pongah mempermainkan bentuk sebagaimana perilaku novelis muda lainnya. Alurnya lempeng, gampang ditebak, tidak berpilin-pilin. Tapi, justru dalam kesederhanaan itu keistimewaan novel ini mengemuka.

Meskipun pilihan tematiknya terbilang berat, setidaknya memerlukan penghayatan dan kepekaan tingkat tinggi, Dianing berhasil mengangkat sintren dengan menggunakan point of view masa kanak-kanak. Ia menghayati sintren seperti merindukan kenangan masa kecil yang begitu mengasyikkan.

Di tangan Dianing, jelajah prosaik yang “asing” sekalipun ternyata dapat tergarap dengan laku penuturan yang lugas dan terang-benderang sehingga buku sastra tidak melulu dinikmati oleh peminat sastra belaka, tapi juga digandrungi peminat buku-buku fiksi umumnya.

Barangkali, kebersahajaan dalam merancang kisah macam inilah yang selama ini terabaikan dalam kerja kreatif novelis-novelis kita yang kerap sumringah hendak melahirkan teks sastra simbolik, metaforik, bila perlu (sengaja) dirumit-rumitkan. Tapi, celakanya, sebagian besar buku sastra hanya dapat digauli oleh peminat sastra yang jumlahnya tak seberapa, seperti cemoohan bahasa iklan; jeruk makan jeruk… (*)

Continue Reading

Non Fiction Books

Keberanian Yang Hakiki Masihkah Ada?

mm

Published

on

Keberanian menjadi fenomena, ia mengemuka belakangan ini, meski tak hakiki dan tak seberapa dipedulikan orang. Lihat betapa beraninya orang-orang berjalan dari Garut menuju Jakarta, meski di tengah jalan kandas juga. Lihatlah, betapa beraninya orang-orang luar Pulau Jawa berangkat ke Jakarta demi demo semata. Yang utama, pasti sudah dilihat, betapa beraninya Joko Widodo menghampiri massa demo yang konon katanya membencinya.

Cerita tidak sampai di situ. Coba tengok, betapa beraninya sekelompok massa membubarkan ritual keagamaan di Sabuga ITB Bandung, padahal mereka bukan termasuk seagama. Tak usah jauh ke luar, di Yogyakarta, coba tengok betapa beraninya FUI meminta pengelola UKDW menurunkan spanduk yang sebenarnya bukan wewenangnya.

Keberanian yang janggal? Absurd? Atau sesungguhnya bukan selayaknya kita namai dan masukkan dalam kategori keberanian? Apakah layak mereka (pelaku) dikategorikan pemberani? Mungkin, layak atau tidaknya, mari tengok dialog Lakhes, Sokrates, dan Nikias dalam buku Mari Berbincang Bersama Platon: Keberanian (Lakhes).

Lakhes menawarkan kenyataan-kenyataan subjek yang menurutnya berani. Misalnya, ada prajurit berbaris di depan masuh dalam perangnya. Bagi Lakhes, prajurit itu berani karena berhadap-hadapan dengan musuh. Bayangkan, bila musuh membawa senjata? Dengan seketika, bukan tidak mungkin prajurit itu mati.

Lakhes: Demi Zeus, Sokrates, tidak sulit untuk merumuskannya. Setiap orang yang menjaga teguh posisi dalam barisannya, siap menghadapi musuh, dan tidak melarikan diri, kamu boleh yakin bahwa orang itu adalah pemberani. (halaman 110).

Sokrates membantahnya. Ia menawarkan subjek lain, bahwa ada juga prajurit-prajurit yang berlari di medan tempur. Bagaimana dengan orang lain yang bertempur melawan musuh dengan melarikan diri, dan tidak tetap tinggal di barisannya? (paparan Sokrates, halaman 110). Bukan tidak mungkin di luar medan tempur sudah banyak musuh yang bersembunyi. Pada saat itu juga, prajurit bisa mati. Malah, mati tanpa diketahui teman sendiri. Bagi Sokrates, prajurit yang melarikan diri itu juga layak dinyatakan berani.

Sokrates, Lakhes, dan Nikias terus berdialog. Berdialektika. Ada yanb mengusul lalu ada yanb membantah. Mencari pada nilai esensi, apa keberanian? Jika Lakhes menawarkan kenyataan-kenyataan untuk mengidentifikasi keberanian, Sokrates membantahnya. Lakhes menyatakan dengan pendekatan dimensi psikologi. Tetapi di sisi lain, Lakhes tak berhenti pada defenisi psikologinya, dan menawarkan kembali dimensi lainnya, hingga lainnya. Sokrates membantah, dengan menawarkan subjek yang lainnya. Sokrates membantah, membantah, dan membantah.

Begitulah dialog wacana keberanian tersebut, hingga Sokrates menanyakan simpulan defenitif kepada Lakhes, “cobalah berbicara tentang tentang keberanian dengan cara seperti tadi, Lakhes. Daya apakah itu, yang selalu sama dalam hal kenikmatan, kesakitan, dan apa saja yanb sudah kita katakan tadi, yang diberi nama keberanian?” (halaman 113).

Lakhes memberi pernyataannya bahwa keberanian ialah ihwal keteguhan jiwa, “Jadi, keberanian adalah semacam keteguhan jiwa. Seperti itulah memang harus mengatakan keberanian sebagai hal secara kodratiah tampak dalam semua contoh tadi.” (halaman 113).

Nikias menambah sudut pandang lain, di luar pemahaman keberanian dari Sokrates dan Lakhes. Menurut Nikias, keberanian adalah ilmu tentang apa yang harus ditakuti dan apa yang harus dipercayai. Tentu ini dibangun atas pendidikan agar menjadi bijaksana, sehingga memahami mana yang ditakuti dan mana yang dipercayai.

Di pengujung dialog, ketiganya sepakat, keberanian yang hakiki belum dapat dinyatakan. Sokrates akhirnya berujar kepada Nikias bahwa keberanian belum ditemukan. Bukan keberanian pemahaman yang sederhana. Lebih dari itu, yang sifatnya kekal.

Keberanian bukan semata menghadapi risiko. Keberanian bukan semata mengambil keputusan yang bertanggungjawab. Apalagi, keberanian bukanlah semangat yang menggebu-gebu. Bukan aspek psikologis semata. Bukan aspek ide semata. Bukan aspek nilai benar-salah semata. Keberanian lebih dari itu, yang hakiki. Yang jelas, pada akhirnya, tanpa memberi defenisi yang pasti, Sokrates dan Nikias memahami, keberanian dibangun atas ilmu.

Keberanian merupakan daya, sesuai konteksnya. Daya menghadapi risiko juga daya memahami ketakutan dan kepercayaan.. Namun, dialog Sokrates, Lakhes, dan Nikias, menunjukkan bahwa ada keberanian yang hakiki di atas daya tersebut. Jika Sokrates, Lakhes, dan Nikias tidak bisa mendefinisikannya, mungkin juga kita.

***

Buku yang berjudul Mari Berbincang Bersama Platon: Keberanian (Lakhes) merupakan terjemahan oleh Setyo Wibowo. Terjemahan tidak berasal dari teks aslinya, Yunani, melainkan dari teks yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, sehingga memungkinkan adanya ‘miss-link’ dalam aspek budaya, seperti persoalan penerjemahan pada umumnya. Proses penerjemahan bukan semata proses menerjemahkan teks atau bukan semata menerjemahkan bahasa, melainkan juga sebagai linguistic hospitality (meminjam istilah Alois A. Nugroho) yang kompleks. Setyo memaparkan hal itu seperti berikut: Penulis mengikuti terjemahan yang sudah dibuat dalam teks Yunani-Inggris dari W. R. B. Lamb M.A. Plato: Laches, Protagoras, Meno, Euthydemus, The Loeb Classical Library, London: William Heinemann Ltd, edisi cetakan 1967 (hal. 83).

Lakhes, judul teks asli Yunani, adalah teks yang dihasilkan dari dialog antara Lakhes, Nikias, Sokrates (filsuf yang sangat berpengaruh bagi filsuf-filsuf setelahnya seperti Hegel, Heideger, Nietzsche, Marx, Freud, hingga filsuf-filsuf postmodern), dan dua kaum awam. Dialog ini diperkirakan terjadi pada masa 418 SM kemudian ditulis oleh Platon semasa mudanya pada 399-387 SM. Dialog diawali dengan mempertanyakan persoalan mendidik anak kepada Lakhes dan Nikias, dan pada saat itu Sokrates berada di dalamnya yang mendampingi Lakes dan Nikias. Lebih lanjut, dialog pun mengalir membicarakan persoalan pendidikan, khususnya menanamkan pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai medium keberanian anak-anak sebelum memasuki fase dewasa dalam menentukan kehidupannya, menentukan kebijakan-kebijakan, menentukan keputusan-keputusan secara mandiri. Seperti adigum “berani karena benar, takut karena salah” yang telah kita kenal sejak di bangku sekolah dasar, pendidikan dijadikan proses pemberian pengetahuan (logos) sehingga kelak dengan pengetahuan anak-anak akan menjadi berani.

***

Coba renungkan kembali, apakah fenomena sosial-agama belakangan ini sebuah keberanian? Kalau ya, apakah mereka membangun epistemologi dan merefleksikan ontologinya sebagai menata ilmunya?

Mungkin benar mereka yang rela mengeluarkan biaya besar untuk perjalanan dari luar Jakarta ke Monas disebut pemberani. Mereka tak ubahnya prajurit di depan musuh. Mungkin benar juga mereka yang membubarkan kegiatan agama di Sabuga ITB disebut pemberani. Mereka tak ubahnya prajurit yang melarikan diri dengan sejuta risiko kematiannya yang tidak terduga.

Menurut dialog Sokrates, Lakhes, dan Nikias, mereka bukanlah pemberani yang menunjukkan keberanian yang hakiki. Berdasarkan dialog sanggahan, keberanian seperti itu sama saja seperti binatang, mampu menghadapi musuh di depan hidungnya sendiri.

Menurut dialog Sokrates, Lakhes, dan Nikias, mereka bukanlah pemberani yang menunjukkan keberanian yang hakiki. Berdasarkan dialog sanggahan, keberanian seperti itu sama saja seperti binatang, mampu menghadapi musuh di depan hidungnya sendiri. Tak ubahnya binatang juga yang mampu melarikan diri saat menghadapi binatang pemburu. Mereka hanyalah contoh keberanian daya (semangat) belaka, tanpa dibangun melalui ilmu (pengetahuan).

Untuk mendekati keberanian yang hakiki, jalannya ialah ilmu (pengetahuan) dengan sikap kebijaksanaan. Mungkin, subjek yang membangun ilmu pengetahuannya dan bersikap bijaksana tidak akan rela mengeluarkan uangnya hanya untuk demo ke Monas, tidak akan melakukan pembubaran acara keagamaan di Sabuga ITB, dan juga tidak akan meminta pengurus UKDW menurunkan spanduk perempuan berjilbab. Ini hanyalah mungkin, karena keberanian yang hakiki itu tidak terdefinisikan. (*)

Fredy Wansyah

Mahasiswa Magister Filsafat UGM

Continue Reading

Trending