Connect with us
Sinar Bulan di Atas Kolam Sinar Bulan di Atas Kolam

Cerpen

Sinar Bulan di Atas Kolam

mm

Published

on

Yasunari Kawabata*

SUDAH agak lama juga datangnya pikiran pada Kyoko untuk memperlihatkan kebun sayurannya pada suaminya, dengan perantara cermin-tangan. Dengan demikian ia membuka bagi suaminya, yang sudah lama sakit, pintu gerbang suatu dunia yang telah hilang baginya. Cermin-tangan itu adalah sebagian dari hadiah perkawinannya. Baik gagang maupun bingkai cermin yang tidak begitu besar itu terbuat dari kayu murbei.

Cermin tersebut selalu mengingatkan betapa malunya ia dulu pada tahun-tehun permulaan perkawinan mereka. Mula-mula ia mencoba melihat melalui cermin itu sanggulnya di bagian belakang kepala, dan akibatnya lengan kimononya yang lebar turun ke bawah, sehingga pangkal lengannya tersingkap seluruhnya. Ia lalu tersipu-sipu dan yang lebih hebat lagi, menurutnya, adalah ketika ia keluar dari pemandian dan suaminya melalui cermin itu mengangumi kuduknya dari segala sudut.

“Benar-benar kau ini tidak cekatan sekali!” kata suaminya sambil tertawa dan merenggut cermin itu dari tangannya. “Mari, biar aku yang memegangnya.”

Sebenarnya Kyoko bukannya tidak cekatan, tetapi ia menjadi gugup bila suaminya  memperhatikan dia sampai ke detail-detail seperti itu.

Peristiwa itu adalah kenangan lama, tetapi belum begitu lama hingga kayu cermin itu menjadi usang. Selama perang, cermin itu tersimpan saja di laci, karena menurut Kyoko pada masa itu bukanlah waktu untuk mempercantik diri. Mereka harus mengungsi ke luar kota dan kemudian suaminya jatuh sakit, sehingga sewaktu ia mendapat ide untuk memperlihatkan kebun sayurnya melalui cermin itu, kaca cermin sudah agak tua dan pinggirnya kotor oleh gincu yang usang dan bedak. Tetapi proses penuaan itu hanya terjadi setempat saja dan juga tidak demikian buruk hingga tak kelihatan lagi gambar-gambarnya; karena itulah Kyoko tak begitu memperhatikannya. Tetapi suaminya, dengan perasaan gugup seorang cacat yang tak punya kerjaan, selalu menggosok-gosok cermin itu. Kadang-kadang Kyoko dihinggapi perasaan, bahwa dengan jalan  demikian suaminya sedang menggosokan hasil tuberkel ke dalam cermin tersebut. Bila Kyoko mengosokkan minyak rambut yang sengit baunya pada rambut suaminya, maka suaminya kadang-kadang mengusap-usap rambutnya terlebih dulu dengan tangan dan kemudian cermin itu. Suaminya tak memperkenankan cermin itu dibawa oleh Kyoko, walaupun hanya untuk sekejap. Dengan demikian rangka kayu murbeinya menjadi suram tetapi kacanya sendiri tetap mengkilap.

Sewaktu Kyoko kawin untuk kedua kalinya, gagang cermin itu dibawanya. Tetapi kacanya dimasukkan ke peti mati suaminya sewaktu pembakaran mayat. Pada gagang cermin ia masukkan kaca cermin yang baru dan diberinya pinggiran yang berukir. Mengenai hal ini tak pernah ia bicarakan dengan suaminya yang kedua.

Karena tangan-tangan orang mati, menurut kebiasaan lama—dengan jari-jari bersusun—harus dilipatkan di atas dada, maka cermin itu tak dapat ditaruhnya di dalam tangan suaminya. Dengan demikian cermin itu ditempatkan di bawah tangannya, di atas dada. Ia pikir; kau selalu menderita sakit di dadamu, karena itu kuharap cermin ini tidak memberatkanmu. Karena itu, beberapa saat kemudian cermin itu ia geser sedikit ke bawah hingga di atas perut. Kyoko tak ingin sanak-keluarganya mengetahui hal ini. Mereka toh tak akan mengerti betapa pentingnya peranan yang telah dimainkan cermin itu dalam perkawinan mereka. Karena itu ia susun bunga-bunga chrysanthenum berwarna putih di atas cermin tersebut. Tak seorang pun yang mengetahui hal ini. Baru setelah kremasi abu jenazah dikumpulkan, maka di antara gumpalan yang tak memiliki bentuk lagi, orang menemukan pecahan-pecahan kaca yang hangus.

“Ini kaca!” kata seseorang, “Aneh, kaca ini bisa masuk ke dalam peti!”

Cermin baru yang ada di gagang cermin itu lebih kecil ukurannya daripada yang lama.

Cermin baru ini adalah cermin rangkap, yang diberikan oleh suaminya yang kedua sebelum pergi berbulan madu. Perjalanan bulan madu dengan suami pertamanya tidak jadi, karena pada masa itu perang meletus. Dengan suaminya yang kedua, barulah ia jadi berbulan madu. Dan karena kopornya sudah bau apak, maka dibelinya yang baru—dengan cermin-tangan di dalamnya.

Pada hari pertama tamsya bulan madu itu, tiba-tiba suaminya memegang tangan Kyoko dan berkata, “Kau ini masih seperti gadis cilik saja! Kasihan!”

Ia berkata bahwa itu tidak ironis. Lebih tepatnya, karena ia gembira. Agaknya ia senang Kyoko tampak masih seperti gadis. Tetapi Kyoko tiba-tiba merasa sedih karena kata-kata itu. Airmatanya berlinang dan tangannya dilepaskan dari pegangan suaminya. Mungkin suaminya sendiri menganggap, ini juga kekanak-kanakan.

Tak tahulah Kyoko, apakah ia sedih memikirkan nasibnya sendiri atau karena nasib suaminya yang pertama. Hal ini tak dapat ia pastikan. Sebab ketika pikiran-pikiran itu muncul, Kyoko tiba-tiba merasa kasihan pada suami keduanya dan merasa bersikap keberahi-berahian.

“Apakah aku begitu berbeda dibandingkan istri pertamamu?”

Belum habis kalimat itu ia ucapkan, ia menyesal dan sekali lagi tersipu-sipu. Suaminya memandangnya dengan bergairah dan berakta, “Kau tak pernah mempunyai anak …..”

Kata-kata itu sangat menusuk hati Kyoko. Apakah suaminya menghinanya? Atau ia bermaksud, dengan ucapan itu, ia ingin membuat malu suami pertamanya; bahwa almarhum tidak melakukan tugasnya sebagai laki-laki?

“Tetapi aku selalu mengharapkan seorang anak!” protesnya.

Ia toh tak dapat mengatakan, bahwa selama sakit bertahun-tahun itu suami pertamanya adalah anaknya. Tetapi kalau nasib sudah ditetapkan bahwa ia harus mati, apa gunanya Kyoko menghindari hubungan badan selama itu?

“Aku hanya melihat Desa Mori selalu dari kereta api.”

Suami keduanya itu meraih Kyoko sewaktu ia menyebut nama desa kelahirannya belakangan ini. “Mori artinya kayu, bukan? Apakah letaknya begitu indah di tengah-tengah hutan? Berapa lama kau tinggal di sana?”

“Hingga ujian penghabisanku. Setelah itu aku mendapat panggilan untuk bekerja di sebuah perusahaan mesiu di Sanjo.”

“Sanjo adalah kota yang terdekat letaknya, bukan? Termasyhur karena kecantikan alamnya! Kalau begitu, jelaslah bagiku, kanapa aku tertarik kawin dengan ratu kecantikan ini!”

“Oh, aku sama sekali tidak cantik!” kata Kyoko tersipu-sipu, sambil  menutupi lehernya yang terbuka dengan tangannya.

“Karena tanganmu demikian bagusnya, aku pikir tentu tubuhmu juga sebagus itu.”

“Oh, tidak!” Karena malunya, tangannya disembunyikan di balik ikat pinggangnya.

“Aku tahu pasti, aku akan mengawini kau juga meski seandainya kau punya anak. Ya, aku dapat mengadopsi dan merawatnya. Anak gadis yang paling kusukai dalam hal ini.” Kata-kata terakhir ini ia bisikkan ke telinga Kyoko. Mungkin ia sangat mengharapkan anak perempuan, karena ia sendiri sudah punya anak laki-laki. Tetapi kata-kata yang dikemukakannya itu terdengar agak janggal. Apakah ia merencanakan perjalanan bulan madu yang demikian lama agar Kyoko tak terlalu cepat berkenalan dengan anak tirinya itu?

Kopor suaminya terbuat dari kulit yang kuat. Kepunyaan Kyoko tak sebanding dengan miliknya. Kopor suaminya besar dan kuat, tapi tidak baru lagi. Mungkin karena ia banyak berpergian, atau karena suaminya sayang pada kopirnya sendiri yang tak pernah digunakan dan sudah bulukan. Satu-satunya yang digunakannya adalah kaca cermin yang ada dalam kopor itu, yang telah dibakar bersama suami pertamanya. Karena kerangka kayu terbakar habis, maka tidak tahulah orang bahwa pecahan kaca itu adalah bekas sebuah cermin. Kyoko dihinggapi perasaan, seolah-olah dunia yang digambarkan oleh cermin itu juga ikut terbakar. Sebab melalui cermin itu, Kyoko untuk pertama kali memperlihatkan kebun sayurnya pada suaminya. Sesudah itu suaminya selalu menghendaki agar cermin tersebut berada di samping bantalnya. Karena cermin dengan bingkainya itu terlampau berat bagi orang cacat seperti suaminya, maka kacanya lalu dikeluarkan dari bingkai.

Tidak hanya kebun sayurnya yang telah dilihat suaminya melalui cermin itu; juga langit, awan, salju, gunung-gunung yang jauh dan hutan-hutan di sekitarnya. Dia telah melihat bulan dan bunga-bunga liar dan rombongan burung-burung, melalui cermin itu. Dia telah melihat orang berjalan-jalan dan anak-anak yang bermain di kebun.

Kyoko sangat tercengan akan kekayaan dunia dalam cerminnya itu. Sebuah cermin yang sampai saat itu hanya dikenalnya sebagai alat rias—cermin-tangan untuk melihat bagian belakang lehernya—ternyata bagi seroang cacat adalah suatu penghidupan baru. Bersama-sama mereka melihat ke dalam cermint itu. Lama-kelamaan Kyoko malah dapat membedakan dengan jelas dunia yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri dan dunia melalui cermin tersebut. Seolah-olah dua dunia yang terpisah. Dan kadang-kadang rupa dunia dalam cermin itu adalah dunia yang sebenarnya.

“Dalam cermin, langit tampak seolah-olah perak,” pernah Kyoko berkata. Kemudian sambil memandang melalui jendela, ia menambahkan, “Sedangkan di luar, warna langit abu-abu.” Sebab langit yang dilihatnya melalui jendela begitu guram, sedangkan langit di cermin tampak mengkilap.

“Apa itu disebabkan karena kau selalu menggosok cermin ini?”

Walaupun suaminya telentang di atas punggunya, dapat juga ia melihat langit dengan cara memutar kepalanya.

“Ya, langit itu berwarna abu-abu suram. Tetapi belum tentu mata burung-burung atau binatang-binatang berkaki empat melihat warna langit seperti kita melihatnya.”

“Apa kaukira yang kita lihat melalui cermin ini sama seperti mata-cermin ini melihatnya?”

Kyoko cenderung menamakan cermin itu “mata cinta mereka”. Jika dilihat melalui cermin, warna hijau pohon-pohon tampak lebih segar dan warna putih bunga lili lebih putih.

“Ini sidik itu jarimu, Kyoko. Ibu jari kananmu!”

Ia menunjuk pada pinggiran cermin. Kyoko terkejut melihatnya. Ia embuskan napasnya pada cermin untuk menghapus sidik jari itu.

“Tak usahlah, Kyoko. Sidik jari ini sudah ada sewaktu kau untuk pertama kali memperlihatkan kebun sayurmu padaku.”

“Aku tak pernah mengetahuinya.”

“Mungkin tidak. Tetapi dengan perantara cermin ini aku sudah mengenal seluruh sidik jarimu. Hanya seorang cacat yang bisa begitu.”

Sejak permulaan perkawinan mereka, suaminya selalu berbaring di tempat tidur. Dia tidak ikut perang. Pada tahun-tahun akhir peperangan, ia mendapat panggilan untuk bekerja di lapangan terbang, tetapi ia jatuh sakit lagi, dan segera setelah Jepang kalah suaminya dilepas dari pekerjaannya. Bersama kakak laki-lakinya, Kyoko pergi menjemput suaminya, karena ia sudah tak dapat berjalan lagi. Pada waktu suaminya menerima panggilan itu, Kyoko tinggal bersama orangtuanya yang meninggalkan kota karena takut pada pengeboman.

Perabotan rumah sudah tidak ada. Rumah yang didiaminya selama minggu-minggu pertama perkawinan mereka sudah terbakar habis, dan kemudian mereka menyewa kamar pada seorang kawannya.

Sebulan di rumahnya yang pertama dan dua bulan di rumah kawannya; itulah masa Kyoko hidup bersama suaminya sebelum ia jatuh sakit. Waktu ia kembali dari dinas, mereka mengambil keputusan untuk menyewa sebuah rumah kecil di pegunungan, di mana ia mungkin bisa sembuh. Penghuninya  yang terakhir  adalah para pengungsi, yang setelah perang selesai kembali lagi ke Tokyo. Kyoko juga mengoper kebun sayur mereka. Luasnya tidak lebih dari enam meter persegi; sebuah tanah terbuka di antara semak-semak. Mereka dapat saja membeli sayuran di desa, tetapi Kyoko senang sekali bekerja di kebunnya. Ia tertarik pada segala sesuatu yang dapat tumbuh sendiri.

Soalnya bukan karena ia bosan selalu duduk di dekat suaminya, tetapi seharian hanya menjahit dan menyulam saja membuat ia selalu merasa sedih. Karena ia harus selalu mengingat suaminya itu, maka pikirannya akan lebih ringan dan penuh harapan bila ia bekerja di kebunnya. Di sanalah ia baru merasakan cinta pada suaminya. Memang sering pula ia duduk di dekat tempat tidur untuk membacakan cerita, tetapi pekerjaan di kebun adalah penting sekali untuk menyebarkan jiwa, sehingga dapatlah Kyoko merawat suaminya dengan baik.

Sewaktu mereka datang ke rumah di pegunungan itu, saat itu pertengahan September. Tamu-tamu musim panas sudah pulang lagi dan masa berikutnya ditandai dengan udara lembap dan hujan yang dingin.

Pada suatu petang matahari tiba-tiba memantulkan sinarnya menerobos awan dan seekor burung kesiangan mulai berkicau. Waktu Kyoko tiba di kebunya, daun-daun sayur mengkilap seperti baru digosok layaknya. Awan berwarna merah-muda yang menggumpal di puncak-puncak pegunungan itu memesonanya. Ia terkejut sewaktu mendengar suaminya tiba-tiba memanggilnya, dan tergesa-gesa ia ke atas; tanpa menunggu sampai tangannya yang penuh lumpur di cuci dulu. Suaminya terengah-engah karena pemusatan tenaga yang dibutuhkan untuk berteriak memanggilnya.

“Aku memanggil dan memanggil! Apa kau tidak dengar?”

“Aku sangat menyesal.”

“Berhentilah dengan kerjamu di kebun ini! Bila aku tiap kali harus berteriak memanggilmu, dalam sekejap saja aku akan mati. Lagi pula aku tak bisa melihat di mana kau berada dan apa yang kaulakukan.”

“Aku bekerja di kebun sayur. Tapi kalau kau tidak suka, aku akan berhenti bekerja.”

Suaminya menjadi agak tenang.

“Apa kaudengar burung nuri itu berkicau?”

Hanya itulah yang ingin diceritakannya pada Kyoko. Seekor burung nuri di hutan yang menyanyi. Hutan itu tampak hitam di udara malam itu. Demikianlah ia telah dapat membedakan bunyi kicau burung nuri.

“Bagaimana kalau kita gunakan bel saja untuk memanggilku? Bagaimana kalau aku beri kau sesuatu untuk dilontarkan, selama bel itu belum terpasang?”

“Apakah kau suka aku melemparkan cangkir ke kepalamu? Kok lucu sekali?”

Akhirnya suaminya setuju ia terus berkebun-sayur, tetapi baru setelah musim semi mengakhiri musim dingin di pegunungan itu, timbul pikiran pada Kyoko untuk memperlihatkan kebun sayurnya melalui cermin. Cermin sederhana itu memberikan kenikmatan yang bukan main besarnya pada suaminya, seolah-olah telah kembali padanya suatu dunia-hijau yang segar.

Dia dapat melihat Kyoko bekerja di kebun, tetapi tentu saja ia tidak dapat melihat ulat-ulat yang sedang dibersihkan istrinya dari daun-daun sayur. Maka ia akan menggunakan bel dan Kyoko datang memperlihatkan ulat-ulat itu.

“Tetapi cacing tanah dapat kulihat dari sini,” kata suaminya berolok-olok, ketika dilihatnya Kyoko sedang menggaruk-garuk tanah.

Jika matahari menyinarkan cahayanya melalui jendela, kadang-kadang Kyoko melihat gumpalan cahaya terang yang tiba-tiba bergerak. Suaminya sedang memainkan cermin dengan memantulkan cahaya matahari itu. Ia menghendaki agar Kyoko membuat celana kerja dari kimono biru yang dipakainya dulu pada masa mahasiswanya. Sebab ia ingin mengangumi Kyoko bekerja di kebun, di mana cahaya dimainkan di atas patron biru dan putih dari kimono tersebut. Bila Kyoko bekerja di kebun, alam-tak-sadarnya mengatakan ia sedang diamat-amati. Ia merasa senang diamat-amati oleh suaminya, hal mana terbukti bahwa ia sudah sangat berubah sejak hari-hari pertama perkawinan mereka. Waktu itu Kyoko masih malu jika ia memegang cermin di atas kepalanya, dan lengan kimononya yang merosot itu tiba-tiba mempertontonkan pangkal lengannya yang telanjang. Sekarang ia malah senang suaminya diam-diam mengamatinya. Tetapi barulah setelah perkawinannya  yang kedua, Kyoko menggunakan make-up dan gincu untuk mempercantik diri. Seolah-olah ia hendak mengejar tahun-tahun ketika ia harus merawat suaminya dan masa ia dalam dukacita itu. Dia kini sadar akan kecantikannya dan mengerti bahwa suami keduanya tidak berlebihan ketika berkata ia cantik.

Juga setelah mandi ia tidak mau lagi pada pantulan tubuhnya di cermin itu. Ia telah menemukan kecantikannya sendiri. Tetapi perasaan akan adanya keistimewaan pada gambar-gambar  di cermin, yang dikenalnya pada masa bersama suami pertamanya, tidaklah hilang. Dia tidak menyangsikan adanya kecantikan istimewa yang dipantulkan oleh cermin itu. Malah sebaliknya, ada kecenderungan untuk tidak percaya pada kebenaran dunia di luar cermin tersebut, walaupun perbedaan antara kulitnya didalam cermin dan yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri tidaklah begitu besar; seperti perbedaan tempo hari antara langit yang berwarna abu-abu dengan yang mengkilap. Hal ini bukanlah akibat dari perbedaan jarak. Mungkin juga keinginan suaminya yang sakit itu yang menyebabkan adanya kilap ajaib pada langit. Hingga saat kematian suami pertamanya, ia tak tahu rahasia cermin itu yang sebenarnya.

Lagi-lagi terkenang oleh Kyoko, betapa suaminya bergairah mengamatinya dalam cermin sewaktu ia bekerja di kebun, dan betapa putihnya bunga lili, betapa riangnya anak-anak, betapa indahnya cahaya matahari pagi memantulkan sinarnya di puncak-puncak pegunungan yang penuh salju; sewaktu mereka bersama-sama menikmati pemandangan melalui cermin itu. Maka timbullah kerinduan padanya untuk melihat dunia rahasia itu, yang hanya diperuntukan bagi mereka berdua. Tetapi agar tidak menyedihkan hati suaminya yang baru, Kyoko menekan sekuat tenaga perasaan itu, yang kadang-kadang merupakan kerinduan jasmaniah dan ia mencoba menganggapnya sebagai keinginan melihat surga melalui lubang kunci.

Pada suatu pagi di bulan Mei ia mendengar di radio nyanyian burung-burung di hutan, yaitu siaran yang dipancarkan dari lereng gunung di daerah mana ia tinggal sampai saat suami pertamanya meninggal.

Jika  pagi-pagi suaminya meninggalkan rumah untuk ke kantor, sering Kyoko mengeluarkan cermin-tangan itu dari gagangnya untuk dipantul-pantulkan ke langit. Atau ia memperhatikan wajahnya sendiri di cermin tersebut. Dan terjadilah sesuatu yang memesona, yaitu orang hanya dapat melihat wajahnya melalui cermin. Tak ada orang yang dapat  melihat wajahnya sendiri. Lalu timbul pertanyaan, seberapa besar kebenaran gambar di cermin itu dengan wajah kita sendiri. Lama Kyoko memikirkan hal ini. Apa sebabnya Tuhan menjelmakan manusia sedemikian rupa, sehingga ia tak bisa melihat wajahnya sendiri?

Coba bayangkan jika kita dapat melihat wajah kita sendiri, apakah manusia akan tahan dalam keadaan seperti ini? Apakah dengan demikian tak mungkin kita dapat hidup terus? Perkembangan alamiah menyebabkan manusia tak dapat melihat wajahnya sendiri. Dengan susunan mata yang rumit itu, mungkin penglihatan kita bsia diterbangkan atau dilayang-layangkan.

Tetapi mungkin muka seseorang hanya boleh dilihat oleh orang lain. Bukankah hal ini sama halnya dengan cinta?

Sewaktu kaca cermin diletakkan lagi pada gagangnya, Kyoko tertarik akan kombinasi bingkai kayu murbei dan garis-garis kembang yang tergores didalamnya. Karena kaca cermin yang lama sudah terbakar bersama suaminya, maka gagang itu dapat disamakan dengan seorang janda. Tetapi kaca cermin itu memiliki segi kerugiannya juga. Kyoko selalu melihat di dalamnya wajah suaminya yang kurus-kering. Mungkinkah suaminya juga melihat tengkoraknya di belakang cermin itu? Kalau begitu, mungkinkah dalam hal ini kita bisa bicara tentang suatu pembunuhan psikologis, dan sebenarnya Kyoko-lah pembunuh itu, karena ia yang memberikan cermin itu pada suaminya? Tetapi suaminya sendiri tak sependapat dalam hal ini.

“Apa kau mau membuat aku buta? Selama aku masih hidup, aku ingin melihat dunia dan mencitainya,” demikian kata suaminya.

Ia rela mengorbankan jiwanya untuk mempertahankan cermin itu. Bila hujan lama turun berlarut-larut, mereka mengagumi bulan—atau tepatnya kolam kecil di kebun tempat bulan dipantulkan. Bulan itu, yang sebenarnya  tak lain adalah suatu gambar cermin, masih tetap bersinar di hati Kyoko.

Suaminya yang kedua senang mengucapkan, “Cinta yang sehat menghendaki tubuh yang sehat.”

Kyoko hanya mengangguk saja, walaupun sebenarnya ia tidak sependapat. Sewaktu suami pertamanya meninggal, timbul perasaan menyesal pada Kyoko bahwa tahun-tahun itu dilaluinya tanpa hubungan badan. Tetapi setelah itu terasa pula bahwa pengingkaran seksual itu adalah kenangan yang terhangat dalam cinta mereka; suatu kenangan dimana cinta penuh-sesak dan penyesalan terhapus karenanya. Mungkin suaminya yang kedua menganggap soal cinta itu enteng saja.

“Kenapa kau menceraikan dia, sedangkan kau adalah manusia yang dimikian baiknya?” pernah Kyoko bertanya.

Pertanyaan itu tak pernah dijawab suaminya.

Kyoko mengawininya atas desakan kakak tertua suaminya almarhum. Empat bulan mereka berkawan, kemudian mereka kawin. Dia lima belas tahun lebih tua dari Kyoko.

Sewaktu Kyoko mengandung, ia begitu takut hingga seluruh wajahnya berubah. “Aku  takut! Aku takut!” Ia mendekap kuat-kuat suaminya. Ia sangat menderita karena muntah-muntah dan kadang-kadang tampak seperti orang tidak waras. Maka berjalanlah ia di kebun untuk mengumpulkan daun-daun cemara, atau ia memberi anak tirinya dua bungkus makanan untuk ke sekolah, yang dua-duanya hanya terdiri dari nasi ketan belaka. Sering pula ia menengok pada cermin, seolah-olah pandangannya tembus ke dalam kaca itu. Suatu malam ikat pinggang kimononya terlepas, dan ia sangat terkejut ketika tanpa sadar ia membuat jerat dari ikat pinggang tersebut. Apakah ia hendak menjerat leher suaminya? Sesaat kemudian Kyoko menangis histeris, sampai ia mandi air mata dan suaminya terbangun. Seolah tak terjadi apa-apa, suaminya dengan penuh kasih melekatkan ikat pinggang itu kembali. Kyoko menggigil, walaupun malam itu adalah malam musim panas yang amat hangat.

“Percayalah pada anakmu, Kyoko!” kata suaminya yang lalu memeluknya dengan kasih sayang.

Dokter menghendaki agar Kyoko bersalin di rumah sakit. Mula-mula Kyoko tidak setuju, tetapi kemudian menyetujuinya.

“Aku akan minta diopname, tapi kuharap kau setuju agar terleblih dahulu aku mengunjungi orangtuaku.”

Beberapa hari kemudian suaminya mengantarnya ke desa di mana orangtuanya tinggal. Esok harinya Kyoko diam-diam meninggalkan rumah dan mengambil kereta ke bukit, di mana ia pernah tinggal bersama suami pertamanya. Waktu itu permulaan bulan September, sepuluh hari lebih awal dari saat mereka pindah ke sana dulu, Kyoko merasa ia mau munta. Kereta api membuatnya mabuk darat, sehingga rasanya ia ingin meloncat keluar saja. Sewaktu kereta tiba di daerah pegunungan yang lebih tinggi, Kyoko merasa badannya enakan karena udara segar itu. Ia sudah dapat menguasai dirinya  lagi; setan yang menganggunya tadi rupanya sudah lenyap. Tetapi toh ia berdiri di muka gedung stasiun kecil itu seperti orang bingung. Di sekelilingnya berderet gunung-gunung yang membiru menggambarkan langit . Di dalamnya ia melihat suatu kehidupan penuh misteri. Ia menghapus airmatanya yang jatuh berlinang dan perlahan-lahan berjalan ke rumah dimana mereka pernah tinggal.

Dari hutan yang gelap dalam udara senja terdengar burung nuri berkicau. Rumah itu kini ditinggali orang lain, dan dari jendela atas sebuah tirai putih menggelepar karena angin. Kyoko berdiri sebentar, karena ia hanya mau melihat rumah itu dari kejauhan saja.

“Dan apabila anak ini wajahnya seperti dia,” pikirnya tiba-tiba.

Ia terkejut sendiri karena pikiran itu, tetapi ia dihinggapi perasaan tenang yang teramat sangat sewaktu dalam perjalanan pulang. (*)

*YASUNARI KAWABATA, lahir di Osaka, Jepang tahun 1899 dan meninggal tahun 1972. Mulanya Kawabata bercita-cita menjadi pelukis, tetapi kemudian dunia karang-mengarang lebih menarik perhatiannya. Sejak Sekolah Lanjutan, ia sudah menulis untuk majalah-majalah sastra dan surat kabar, dan setelah menamatkan pendidikan di Univesitas Tokyo ia menjadi redaktur dua majalah sastra terkemuka di Jepang. Sejak itulah ia menulis dengan gaya ceosensualisme, dan secara halus menyarakan pandangan hidup orang Jepang. Kawabata terutama dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis cerpen dan esai. Bahkan pada masa mduanya ia juga menulis puisi. Novel-novel Kawabata antara lain Yukiguni (1947), Senbazuru (1949), Meijin (1954), Yama no Oto (1954) dan Nerumeru Bijo (1961). Sedangkan kumpulan cerita pendeknya yang banyak diterjemahkan dan dibicarakan adalah Izu no Odoriko (1926).

 

Continue Reading

Cerpen

Cinta Ayu

mm

Published

on

Dengan langkah kaki cepat, Ayu bergegas menuju gedung Diponegoro untuk mengikuti seminar. Seminar yang mengambil tema “Menyoal Cinta dan Feminisme” bukan hanya memikat hati Ayu, melainkan kebanyakan hati perempuan. Sebab, pembicara dalam seminar ialah seorang feminis laki-laki, sekaligus aktivis “kemanusiaan” yang menjadi diskursusnya. Kendati ia masih berstatus mahasiswa. Namun, ia bagaikan matahari yang menjadi pusat perhatian di kampusnya. Pagi itu, bukan tanpa perjuangan bagi seorang gadis yang hidupnya normal. Ayu memutuskan alpa sarapan pagi beserta Abah dan Umminya. Satu keputusan radikal yang sepanjang usianya belum sekalipun dilakukannya. “Semoga acaranya belum dimulai,” gumamnya dalam hati.

Setelah setengah berlari menaiki tangga sepanjang lima lantai, Ayu mengatur nafasnya sambil sesekali mengipasi wajahnya yang merah setelah mengambil tempat duduk. “Ayu, sini, kamu lama sekali,” kata April sahabat karibnya. “Ia, maaf saya ketiduran sehabis salat Subuh,” jawabnya pelan.

“Raka sudah berbicara?”

“Belum, Ayu.”

Setelah satu jam berlalu, kini giliran pembicara terakhir yang sudah dinanti-nantikan tampil di podium. “Selamat pagi Puan dan Tuan. Baik untuk menghemat narasi saya langsung masuk pada bagian subtansi…”

“Kenapa tidak mengucapkan Assalamualaikum.”

“Entahlah.”

“Apa dia non-Muslim?”

Ayu tak menjawab. Hanya mengangkat kedua bahunya.

Setelah hampir setengah jam Raka menyampaikan pandangannya, kini waktunya berdiskusi: tanya-jawab. Empat orang penanya sudah mendapatkan jawabannya. Dan Ayu memberanikan diri mengangkat tangannya. “Baik, silakan perkenalkan diri Anda sebelum bertanya,” kata moderator. “Nama saya Ayu Arunika. Saya ingin bertanya pada Mas Raka. Sepanjang penjelasan Anda tentang feminisme. Saya merasa bahwa Anda terlalu liberal. Sebab, Islam justru memuliakan perempuan. Perkara peradaban menghendaki perempuan selalu di bawah laki-laki, karena seorang suami adalah pemimpin dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sebagai hamba tentu harus taat pada perintah Allah SWT. Itu yang pertama. Yang kedua, atas dasar apa Anda mengajukan argumen bahwa doktrin teologis adalah penyumbang kerusakan alam? Bahkan berperan dalam mendorong rusaknya lingkungan alam akibat doktrin antoposentrisnya. Terima kasih.”

Pertanyaan yang mengagetkan semua orang yang sedang asyik-masyuk mendengar penjelasan Raka, mahasiswa filsafat yang menjadi bintang di acara itu. Dengan tenang Raka menjawab, “Ayu Arunika. Sebagai fakta nama itu indah untuk dikecupkan. Saya tahu arah pertanyaanmu. Benar-benar pertanyaan teologis. Tadi dikecupkan kata “hamba”. Maka, dengan sendirinya ada hierarki dalam kalimat yang Anda susun: Tuhan dan hamba. Saya mengajukan argumen yang basisnya adalah reasoning. Dan Anda mengajukan pertanyaan yang dibungkus dokumen dari langit. Tidak mungkin saya debat dengan argumen. Itu yang pertama. Yang kedua perihal ekofeminisme…”

“Tunggu sebentar. Apa keyakinan Anda?” Ayu memotong.

Setelah diam sesaat, Raka menjawab. “Anda tahu bahwa diskusi ini mengangkat tema feminisme. Artinya tidak membahas tema teologis. Pertanyaan Anda tidak ethics, kendati dibungkus dengan kesantunan bahasa. Karena Anda bertanya sesuatu yang bersifat privat. Tidak mungkin saya jawab di ruang publik. Tapi tidak jadi soal. Pukul setengah empat nanti saya ada perlu di perpustakaan. Jika Anda masih penasaran dan menuntut jawaban dari saya, silakan temui saya.” Selanjutnya diskusi berjalan lancar. Namun pertanyaan dari Ayu membuat orang-orang mulai berpikir ulang tentang sosok sang pembicara.

***

Pukul empat sore Ayu datang ke perpustakaan. Di ruang kecil, tempat diskusi, seorang pemuda sedang duduk dengan tenang. Di tangannya terlihat Ivan Illich: Deshooling Society. Setelah menarik nafas panjang Ayu memberanikan diri menghampirinya. “Assalamulaikum, maaf saya terlambat datang.”

“Tak apa. Artinya dikau masih orang Indonesia. Silakan duduk.”

Jawaban yang membuat wajah Ayu merah sebab malu. “Maaf, tadi saya habis salat Ashar terlebih dahulu.” Jawabnya pelan. “Mas Raka sudah Salat?”

Setelah meletakan Ivan Illich, Raka menatap mata Ayu dengan tatapan tajam. “Puan, apa dikau tahu siapa nama orangtuaku? Pekerjaannya apa? Apa dikau juga tahu sosio-historisku?”

Ayu menggelengkan kepala.

“Pertanyaan teologismu itu menghukum psikologiku. Semacam hukuman bahwa saya telah divonis dalam perkara privat: agama tertentu. Dan seringkali pertanyaan itu dianggap hal yang wajar hingga berkumandang di telinga setiap orang. “Kamu sudah salat? Apa agamamu? Pertanyaan itu buat saya semacam arogansi karena disponsori suara mayoritasisme. Bahkan hal semacam itu, terjadi di wilayah akademis. Seharusnya seorang akademis bisa lepas dari hal semacam itu. Di ruang akademis yang ada hanya pikiran. Universitas dalam definisi bebas ialah wilayah di mana sikap kritis itu tumbuh. Artinya tidak dikekang oleh doktrin teologis. Yang ada hanya dialektika rasionalisme. Sebab universitas adalah tempat lalu lintasnya pikiran. No road to heaven. Dan sebagai warga negara, kita hanya diikat oleh etika publik. Status agama itu hak. Artinya seseorang boleh tidak menggunakan haknya. Paham Ayu?”

Mendengar jawaban Raka, airmuka Ayu merah padam. Baru kali ini ia diceramahi pelajaran di luar nalar pikirannya. Wajahnya menunduk, seakan-akan tak sanggup melihat matanya yang tajam bagai mata pedang. Barulah ia sadar bahwa pemuda yang sedang menceramahinya adalah pemuda yang setiap hari diperbincangkan teman-temannya sesama mahasiswi: Raka adalah pemuda cerdas. Menyukai sastra, filsafat, sosiologi, psikologi, politik, hukum dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Raka penggila filsuf Immanuel Kant, Sartre, Heidegger hingga Ivan Illich. Juga ada pula yang mengatakan bahwa sudah banyak perempuan yang patah hati. Bukan lantaran disakiti, melainkan karena alasan yang abnormal: Raka tidak ingin menikah. Pikiran yang benar-benar gila bagi anak muda seusianya.

“Saya minta maaf bila pertanyaanku membuat Mas Raka tersinggung,” kata Ayu sebelum meninggalkan Raka. Akan tetapi, sebelum Ayu menghilang ditelan pintu perpustakaan, Raka menyahut, “Ayu, saya yang minta maaf. Senang berkenalan denganmu. Di luar ada cafe yang nyaman untuk menikmati segelas kopi dan sepotong kenangan.” Ayu terseyum mendengarnya. Senyuman yang menawan. Demikianlah perempuan gemar membunuh seorang lelaki dengan senyumannya.

***

Waktu bergulir dengan cepat. Bergantinya nama bulan seperti bergantinya siang dan malam. Demikianlah bagi hati anak muda yang hari-harinya diliputi bahagia bertabur bunga. Begitulah hari-hari Ayu dan Raka. Keduanya semakin akrab, bukan hanya sebagai teman, melainkan sepasang kekasih yang sedang mengepakan sayapnya. Selepas pertemuan itu, Ayu terpesona oleh Raka yang dinilainya berbeda.

Kendati kasak-kusuk berita negatif tentang Raka tersebar luas di lingkungan kampus. Namun, hal itu tidak membuat Ayu membatalkan cintanya. Tidak pula mempengaruhi Ayu untuk memadamkan api cinta yang menyala di hatinya. Masih menggema lonceng cinta di pikiran batinnya, baginya Raka serupa sang pengusik sepi yang membunyikan loncengnya. “Janganlah dikau padamkan matahari cinta yang terbit dari hati seorang pujangga,” kata-kata itu bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya tepat mengenai jantung hati gadis pujaannya. Ujar Raka pada Ayu suatu senja di bukit Mandalawangi.

Dalam cinta selalu ada kegilaan. Orang gila yang rasional adalah orang yang sedang dimabuk cinta. Hari-hari berikutnya, di mana kaki Raka melangkah, di situ jejak Ayu tertinggal. Terlebih Raka selalu membimbing langkah kaki Ayu pada tempat yang tak terduga: gunung, hutan, dan sekolah rakyat yang didirikannya bersama para sahabatnya. Deschooling Society adalah kitab sucinya Raka.

Namun, ada yang ganjil dalam pikiran Ayu yang setiap malam selalu menghantuinya. Sebab, selama menjadi kekasih Raka, sekalipun Ayu tak pernah mendengar kata dari kamus agama diucapkan olehnya. Juga tidak sekalipun Ayu mempergoki sisa-sisa jejak ritual keagamaan yang dilakukan Raka. Baik jejak kakinya di Gereja, Masjid, maupun rumah ibadah lainnya yang tertinggal.

Keganjilan itu membuat Ayu memberanikan diri untuk mencari tahu. Entah sudah berapa banyak teman-teman Raka yang diinterogasi. Namun, semuanya menjawab seragam seperti orang mengucapkan kata “Aamiin”, yakni “tidak tahu”. Hingga pada suatu hari Ayu menanyakan langsung kepada Raka. Sebagaimana kebiasaannya, Raka yang suka merenung di tempat sunyi seorang diri di hutan, tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran Ayu yang sudah mengetahui tempat pelariannya. Lama keduanya bertukar pandangan.

Ayu mulai mencium keganjilan kekasihnya itu. Karena tak tahan sambil bercucuran air mata Ayu bertanya, “Apa agamamu Mas? Banyak orang yang membicarakanmu perihal itu. Apakah Mas percaya akan adanya Tuhan?”

Raka tak menjawab. Lama ia terdiam.

“Sekali lagi saya tanya, apa Mas percaya akan adanya Tuhan?”

“Ayu, dikau menyusulku ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu yang menjadi antitesis kemanusiaan.” Kemudian Raka menjemput tangan Ayu sambil berujar, “Kamu mencintaiku?” Ayu mengangguk diiringi tangisan.

“Jika dikau percaya Sartre adalah seorang atheis, dan Simon de Beauvoir tidak mempermasalahkannya, maka kamu harus percaya bahwa kekasihmu adalah orang yang percaya sebagaimana kepercayaan Sartre.”

Mendengar jawaban itu, tangisan Ayu semakin dera. Segera saja Ayu melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-MU,” ucap Ayu sebelum pergi.

“Jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri. Sebab, cinta sedari dulu kala selalu saja drama. Cinta adalah kesunyian yang panjang, kendati keramaian selalu mengintainya. Namun cinta selalu memilih untuk sendiri,” kata Raka pada dirinya sendiri. (*)

*) Arian Pangestu, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya berupa cerpen, esai, dan puisi dimuat di koran Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bangka Pos, Radar Surabaya, Harian Analisa. Saat ini aktif sebagai mahasiswa sastra.

Continue Reading

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Jika Neraka Itu Ada…

mm

Published

on

Ole: Ferry Fansuri

Terkadang saat kuberdiri diantara senja itu kubisa merasakan hawa dingin yang pekat, bisa kusentuh aliran udara disekitarku. Terasa waktu berhenti seketika, entah ini sebuah ilusi tapi yang kurasakan nyata. Gejala itu selalu terjadi ketika mata ini menemukan burung-burung gereja berkeliaran di sekeliling diriku. Cuma aku tak habis berpikir kenapa burung-burung gereja ini ada disini, apalagi kampung ini tidak ada tradisi atau jejak burung-burung gereja itu.

Mereka begitu jinak berjalan dihamparan sawah kampung kami, melompat-lompat sesekali terbang rendah di dahan-dahan, ranting pada pohon-pohon rindang disana. Munculnya burung-burung gereja ini semenjak pertikaian itu terjadi di kampung kami. Dulu kampung ini yang dibelah sungai yang mengalir di tengah-tengah memberikan penghidupan bagi penduduk disini. Tanah disini bagai melempar sebuah biji akan menghasilkan buah-buahan, tumbuh subur dan tak pernah habis.

Disini dulunya terdapat dua kampung yang saling berdekatan biarpun secara harfiah berbeda. Kampung Maidiling ada diutara sungai ini, disana tengah bangunan kokoh bertahtakan tembok dan diatas tanda salib. Gereja bergaya renaisance menjulang dan dipuja masyarakat Maidiling. Sedangkan bagian selatan dari sungai besar tersebut Kampung Sidempuan setiap senja atau saat ayam belum berkokok, alunan ayat-ayat suci begitu merdu ditelinga. Dua kampung saling berdekatan dan bersahabatan, berabad-abad tak pernah sekalipun bermusuhan atau menumpahkan darah untuk hal yang konyol sekalipun.

Tapi tepat dua ratus abad setelah bulan Oktober yang lalu, masa kelam merudung kedua desa tersebut. Diawali gemuruh awah hitam bukan menandakan hujan, muncul sosok asing yang meracuni kedua desa tersebut. Dia datang entah darimana atau dari dunia antah berantah, mulutnya begitu berbisa dan siapa saja yang mendengarkannya seperti dihipnotis untuk membenarkan semua perkataannya. Berkoar tentang kemurnian ajaran, siapa sesat atau bukan, pilihan neraka atau surga dan hal-hal yang tak bisa dipikirkan oleh akal pikiran.

“Tak maukah engkau janji Surga bagimu jika masih membenarkan Neraka untukmu”

Doktrin-doktrin itu membangkitkan napsu purba dalam penduduk kampung tersebut. Orang asing menuduh bahwa toleransi adalah bahaya laten yang harus diberantas sampai akar-akarnya. Semua perbedaan akan menimbulkan pertikaian di masa depan jika tidak ditekan sejak dini.

“Sesuatu yang murni itu merupakan hal mutlak dan tidak bisa diganggu gugat”

Entah kenapa dari sanalah kemudian muncul wajah-wajah beringas kesetanan yang terus merangsek ke ubun-ubun. Hawa iblis keluar dari cangkang manusianya, saling olok, ejek kemudian adu fisik tak terhindarkan. Aku dulu merasa hawa yang begitu panas melingkupi kampungku ini, Sidempuan dulu berhawa sejuk karena konon kadar oksigen disini tinggi hingga harapan hidup penduduknya tinggi diatas rata-rata. Tak heran disini tak pernah jatuh sakit biarpun sudah berumur lebih 100 tahun.

Tapi saat ini berbeda, pertumpahan darah terus terjadi. Gesekan kecil atas nama agama pun berujung bertikai tak habis-habisan. Aku sendiri tak habis pikir mengapa mereka menumpahkan darah hanya janji-janji surga dan neraka sesuai ajaran yang mereka pegang. Apakah nalar dan logika mereka tak dipakai untuk mencerna semua ini?.

Tiap kali ada hinaan dari kampung sebelah, kumpulan pemuda kampung ini terbakar emosi dan menyulut emosi. Tangan-tangan mereka berkumpul benda-benda tumpul yang dikit demi dikit diasah menjadi tajam. Tapi aku tak bergeming sedikitpun atas ajakan mereka, caci maki dilontarkan dari mulut-mulut mereka yang berbusa dan berbau arak.

“Pengecut !!”

“Penista !!”

“Murtad!!”

Ocehan dan rancuan mereka tan aku gubris sama sekali, lebih baik aku moksa daripada harus menebas orang-orang yang tak sejalan dengan kita. Manusia diciptakan dengan derajat yang sama yang membedakan amalan dan napsunya.

Mereka selalu pulang dengan bersimbah darah apakah itu sebuah kemenangan atau kekalahan, itu sama saja. Andai aku bisa menghentikan semua tanpa kaki ini tetap terjejak masuk kedalam tanah.

Sebenarnya aku membenci mereka yang melakukan ini. Demi apa? demi rancuan-rancuan tak becus menerangkan apa itu Surga atau Neraka.

Aku membenci mereka yang culas menjual agama demi sebuah kemurnian yang omong kosong belaka.

Aku menghujat mereka yang begitu gampang menumpahkan darah saudara-saudara yang tak sejalan atau tidak seiman. Mereka menganggap apa yang dilakukan adalah perang suci yang direstui penguasa langit.

Kuingin melenyapkan mereka !

Memberanggus !

Menggibas !

Menghembuskan topan !

Memporak porandakan !

Tapi aku hanya manusia lemah hati dan pikiran, ada secuil ketakutan yang berkutat dalam rongga dadaku. Menyerah akan keadaanku yang ganjil dan mereka pun mengucilkan dan memasung diriku di tanah antah berantah. Hingga mereka bisa bebas melakukan pekerjaan nistanya itu tanpa diriku.

Hura-hara itu sudah sampai ke titik pedih, kulihat langit mendung berbalut merah jingga hampir semerah darah. Teriakan-teriakan menyayat dari wanita serta bocah kecil membahana beriringan kegelapan menelusup.

Kejadian itu terus bergulir dari hari ke hari, minggu ke mingu sampai berbulan-bulan. Entah aku tak tahu sampai kapan ini akan berakhir, dulu disini gemah lo jinawi berganti gersang sengsara. Tanah disini kering membentuk petak-petak pecah, tak ada juluran padi atau korekan katak, semua hilang kusam.

***

            Kehampaan dan keheningan ini selalu kurasakan saat memasuki kampung ini, udara sekitarnya sekali lagi terhenti. Kaki ini mencoba melangkah dan sejurus mata ini melihat rumah-rumah itu tampak kosong melompong tanpa penghuni. Kemana orang-orang beringas itu, apakah masih trengginas untuk menyerang kampung sebelahnya? Atau semua tewas ditebas parang terbang kiriman dukun sakti milik kampung seberang.

Tidak ada jejak kaki atau saksi mata yang nyata untuk ditanyakan, makhluk hidup tak diijinkan menghirup napas di bumi Sidempuan ini. Sungai disana tampak keruh hitam pekat bak tinta yang akan dikuaskan pada lukisan kesedihan. Langit diatas tidak sejingga dulu, sekarang merah sedarah. Tiba-tiba gemuruh beriringan  kilat berkejaran dengan guntur, awan hitam itu menyemburkan airmata yang tersampaikan hujan. Titik-titik air itu mengenai mata dan mukaku, bau amis dan sangir terasa di hidungku.

Ini darah!!

Guyuran hujan itu berubah menjadi darah mengenangi tanah, kaki telanjangku merasakan gemericik air darah itu. Tapi yang kurasakan beda, rinai hujan perlahan menetes seperti waktu terhenti seketika. Ujung jariku bisa menyentuh bulir-bulir itu, aku bisa menyibak dan menepisnya. Gejala apakah ini?

Bersamaan itu muncul burung-burung gereja berkeliaran di sekitarku. Kasat mata aku melihat ratusan bahkan ribuan burung gereja itu terbang berseliweran tak tentu arah. Berputar-putar diatas kepalaku, kemudian hinggap diatas kubah berujung bintang rembulan itu.

Sunyi dan senyap.

Terkadang ada sebuah pertanyaan yang dalam tempurung otak ini bergeliat saat melihat burung-burung gereja yang nangkring di kubah bulan bintang ini. Agama apakah yang tepat buat mereka? Mereka dikenal burung gereja yang bisa hinggap kemana mereka mau tanpa kuatir. Jika mereka punya agama, tak mungkin rela menjejakkan kakinya diatas kubah itu.

Suara-suara koak-koak itu muncul dari burung-burung gereja itu, menciptakan senandung kematian yang memekakkan telinga ini. Mata bulat hitam itu menatap tajam ke arahku, mereka seperti menginginkan diriku. Sekali kepak berterbangan jingkat diatas ubun-ubun, berputar-putar. Sekali kibas, burung-burung gereja itu menerjang. Mata ini melihat itu dengan terbelalak tak percaya, mereka mengincar mata ini. Paruh burung-burung itu menusuk kedua mata ini, masuk kedalam menyelinap dan melesat hilang dalam pupil bola mata ini. Mereka terus masuk tanpa henti, aku hanya berteriak kesakitan.

“Hentikan !!”

Teriakanku tak membuat mereka berhenti memasuki mataku, tidak hanya satu tapi ribuan terus dan terus. Akhirnya terhenti saat burung gereja terakhir lenyap kedalam kedua mataku. Aku merasakan perih yang amat sangat, disela-sela kelopak mataku meleleh darah hitam pekat. Aku hanya bisa memegangi dan menutupi salah satu mataku, raunganku menggelegar.

Aku pun tertunduk.

Saat kubuka mata ini, kulihat sekitarku bergelimpang mayat-mayat bersimbah darah dan tangan kananku lunglai begitu saja meloloskan sebilah parang belepotan darah segar yang tercecer beku.  (*)

Surabaya, November 2017

Continue Reading

Classic Prose

Trending