Connect with us

Cerpen

Si Lidi Pemesan Peti Mati

mm

Published

on

Seseorang bisa mengetahuinya jika dia ingin mengetahuinya, jawab Si lidi. Bagaimana caranya? aku bertanya, mulai penasaran juga. Ketika anda sudah kehilangan pegangan terhadap dunia ini, anda akan segera berakhir, tuturnya.

___

  FARRAS PRADANA

Begitu pelanggan terakhir mendapatkan pesanannya, adik laki-lakiku pulang untuk menenangkan anaknya yang – menurut kabar dari iparku – tiba-tiba menjadi rewel. Saat pelanggan terkahir meninggalkan kedai dengan lesu, MxLo muncul dengan wajah yang lebih menyedihkan dari si pemuda – pelanggan terkahir. Dia langsung duduk di sembarang kursi tanpa menegurku.

Kusuguhkan kopi dari bubuk sisa yang menempel di pinggiran toples. Aku bertanya padanya, apa yang telah terjadi? Namun dia tetap termenung, entah memikirkan apa. Aku meneruskan aktivitasku memberesi kedai.

Ketika aku mengangkati kursi ke atas meja, lalu menyapu dan mengepel seluruh lantai, MxLo mengeluarkan suaranya. Menceritakan kisah ini padaku:

Awal mulanya begini, Rin.

Dua bulan yang lalu ada seorang yang sangat kurus datang ke tempat kerjaku. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Sticky WidyMo Jongker. Nama yang panjang dan cukup aneh. Dia memesan peti mati yang seukuran dirinya dan sebuah nisan kayu berukir namanya. Diukir! Bukan di cat seperti umumnya. Seolah-olah namanya adalah susunan kata paling indah di bumi.

Tapi yang kuingat dari pemesan itu adalah tubunya yang sangat kurus seperti lidi. Lebih langsing darimu, Rin.

Si lidi ini, maksudku, Sticky WidyMo jongker ini, meminta dibuatkan pesanannya dalam waktu satu jam.

Satu jam, Rin? Pekerjaku tidak bisa mengukir nama yang panjang itu dalam enam puluh menit. Jadi aku mengatakan padanya bahwa kami tidak sanggup memenuhi permintaannya soal nisan kayu itu. Tapi dia bersikukuh bahwa peti dan nisan itu harus jadi dalam waktu bersamaan.

Kau tahulah, Rin. Membuat peti lebih mudah dari membuat apapun dalam urusan perkayuan. Kau tinggal memotong empat kayu berbentuk persegi panjang sesuai ukuranmu dan tinggal merangkainya menjadi bentuk balok. Gampang sekali, bukan.

Lantas aku menemuinya di ruang tamu depan, dan mengatakan: Maaf, kami benar-benar tidak bisa melakukannya secepat permintaan anda, begitu kira-kira kataku.

Apa ide terbaik untuk menuliskan nama saya selain diukir dan dicat. Saya tidak suka dicat. Cat akan luntur setelah beberapa tahun disengat matahari dan diguyur hujan, begitulah jawabnya.

Aku mengusulkan padanya bahwa namanya mungkin bisa diukir, tapi hanya nama saja tidak dengan hiasanya yang membuat cantik. Ukiran memang seperti itu pada dasarnya. Bentuk, motif, pola, itulah kesulitannya yang menjadikan ukiran begitu mahal.

Dia setuju dan akan menunggunya dalam waktu satu jam. Aku mempersilahkannya menggunakan ruang depan untuk bersantai. Di situ ada meja kayu panjang yang indah dan nyaman.

Kau sering mengagumi kursi itu setiap kali datang, Rin.

Pada saat pekerjaku mengukur tubuhnya, dia memiliki tinggi seratus sembilan puluh tiga sentimenter dan lebar bahu hanya empat puluh satu sentimeter. Benar-benar seperti lidi. Panjang dan tipis, Rin.

Setelah diukur tubunya, aku ke belakang mengecek bagaimana pekerjaku melakukannya. Mereka dengan sigap mengambil empat potongan kayu pipih yang paling lebar dan meratakannya. Tebal, panjang, dan tingginya dibuat sama dengan cepat. Sampai di situ aku meninggalkan mereka kembali ke ruanganku.

Kau tahu kan, Rin. Ruanganku merupakan ruangan kaca. Jadi dari tempatku duduk, aku dapat melihat Si lidi. Aku hampir lupa namnya waktu itu karena perwujudannya menimbulkan sebutan lidi, kurus, krempeng lebih cocok daripada harus mengingat Sticky WidyMo Jongker. Aku kebetulan sedang tidak ada pekerjaan. Pembukuan bahan baku masuk sudah kuselesaikan setengah jam sebelum Si lidi tiba. Lalu karena kebosanan yang panjang, aku keluar dari ruanganku. Aku menemui pelangganku itu. Aku mengambil tempat yang berhadapan dengannya. Saat aku duduk, dia tengah membaca majalah furnitur dan desain interior yang selalu ada di meja. Tapi kukira dia tidak membacanya. Dia hanya melihat-lihat gambarnya saja tanpa membaca penjelasan yang ada di bawahnya. Sebenarnya, aku tidak tahu apa yang dilakukannya. Aku tidak terlalu memperhatikannya, karena mataku selalu memandang bentuk tubuhnya. Dan mungkin karena mataku yang agak sembrono ini, dia menegurku.

Apa ada yang aneh, katanya, tanpa tanda tanya. Nada yang lurus.

Tidak, balasku, semua baik-baik saja. Semoga pesanan anda selesai dengan cepat.

Jangan terburu-buru, ujarnya, saya lebih senang menunggu hingga saat yang tepat.

Aku lalu bertanya padanya, untuk apa dia memesan peti mati dan nisan itu. Seseorang tidak bisa mengetahui kematiannya kapan tiba, kataku.

Seseorang bisa mengetahuinya jika dia ingin mengetahuinya, jawab Si lidi.

Bagaimana caranya? aku bertanya, mulai penasaran juga.

Ketika anda sudah kehilangan pegangan terhadap dunia ini, anda akan segera berakhir, tuturnya.

Aku bertanya, apa yang dirasakannya sekarang.

Saya sudah kehilangan banyak hal yang menjadikan pijakan kedua kaki saya lenyap, jawabnya. Setiap langkah yang dulu bisa bergerak maju dengan mudah, sekarang berhenti. Mundur kebelakang tidak mungkin. Sekarang, yang saya milik hanyalah satu pijakan yang semakin hari, semakin menyusut. Hingga sepenuhnya kaki saya tidak akan berpijak pada apapun. Dan begitulah riwayat saya tamat.

Saat dia selesai menucapakan kalimat itu, aku sepenuhnnya tertarik ke dalam pikirannya. Apa karena itu, anda segera memesan peti mati? tanyaku.

Tentu saja, sahutnya. Saya tidak punya siapa-siapa lagi. Saya tidak mau mayat saya membusuk begitu saja. Saya harus mempersiapkan jasad saya sebaik mungkin sebelum ke Tahta langit.

Suara pekerjaku memalu terdengar hingga ke tempatku dan Si lidi berada. Untuk urusan yang bersentuhan dengan kematian, aku selalu menggunakan kayu jati. Kayu itu keras sekali.

Selang beberapa saat aku undur diri ke belakang untuk mengecek nisannya sudah sampai tahap apa.

Peti matinya hampir sudah dirakit dengan sempurna. Tinggal menambahkan semacama ornamen di bagian pinggir agar tidak terlalu polos. Juga untuk memberi kesan kepada siapa saja yang melihatnya. Sementara itu, ternyata tukang ukirku sudah selesai dengan namanya. Dia sekarang menambahkan beberapa garis lengkung di  sekitar nama: Sticky WidyMo Jongker, untuk menambah keindahaannya. Aku kembali keluar, memberitahu Si lidi.

Sepertiya anda bisa mendapatkan sedikit ukiran, kataku.

Si lidi menghela nafas lega. Termakasih anda telah membantu kemtian saya, ujarnya.

Maaf, kalau boleh saya tahu, kenapa anda bisa sampai seukurus ini? tanyaku agak sungkan.

Dia kurus sekali, Rin. Aku begitu penasaran.

Seperti yang saya katakan tadi. Saya kehilangan pegangan terhadap dunia ini. Termasuk kepada makanannya, tukas Si lidi. Sebulan ini, saya hanya makan sebungkus roti dan minum kopi setiap harinya. Ditambah merokok. Jangan tanya saya punya uang atau tidak. Tentu saja saya punya uang yang lebih. Bahkan untuk mengenyangkan perut saya dengan makanan yang mahal. Tapi saya tidak melakukannya. Saya juga tidak tahu kenapa, tambahnya.

Apa ada hal lain yang hilang dari diri anda? aku bertanya lagi.

Pekerjaan, jawab Si lidi. Dua hari yang lalu saya menerima surat pemecatan. Saat saya menerima surat itu, awalnya saya bingung, kenapa surat itu dialamatkan kepada saya. Lalu setelah saya mengobrak-abrik beberapa berkas, saya menyadari bahwa saya bekerja di sebuah perusahaan ekspor-impor. Dan di dalam surat itu ditulis bahwa saya sudah tidak masuk kerja selama dua minggu. Saya dikerluarkan. Meskipun begitu, saya tidak merasa menyesal atau sedih. Saya hanya heran saja terhadap apa yang pernah saya lakukan.

Bagaimana soal cinta? tanyaku.

Itu yang paling parah, kata Si lidi. Kemarin saya menemukan foto-foto perempuan di dalam folder komputer. Perempuan itu sama. Yang membedakannya hanya gayanya saja. Saya tahu itu komputer saya. Tapi kenapa ada foto-foto itu? Setelah saya cari tahu seharian dengan membongkar semua isi kamar, saya akhirnya tahu, foto-foto itu adalah foto seorang perempuan yang saya cintai. Dan saya mencoba mempertahankan pegangan saya terhadap yang satu ini.

Seorang pekerjaku muncul. Memberitahu peti mati dan nisan pesanan Si lidi sudah selesai.

Si lidi meminta nisan dan peti mati dikirim saat itu juga ke rumahnya. Dia akan ikut sebagai pemandu. Aku menyuruh tiga pekerjaku melakukannya. Si lidi membayar. Dia mengucapkan terimakasih atas caraku melayani pelanggan dan obrolannya.

Begitulah, Rin. Aku bertanya-tanya, berapa bobot Si lidi jika ditimbang?

Ketika MxLo selesi menceritakan Si lidi itu, aku tengah meghitung uang yang masuk hari ini di mesin kasir. Aku tidak menyadari, dia telah bangkit dari duduknya dan sekarang berdiri tepat di belakangku. Dia menempel padaku. Dia melingkarkan tangannya pada pinggangku dan menempelkan kepalanya pada pundak kananku.

Kau menjadi kurus sekarang, ujarku. Merasakan tubuhnya lebih langsing dariku.

______

FARRAS PRADANA lahir pada 26 Mei 2001 di Lombok Timur karena ayahnya yang menjadi guru di tempatkan di sana. Pada 2003, dia sekeluarga pindah ke tempat asal orang tuanya di Kulon Progo. Dia menempuh seluruh jenjang pendidikannya dari TK, SD, SMP, dan SMK di kabupaten itu. Saat kelas dua SMK dia mulai menekuni dunia tulis-menulis. Akhir Januari 2019, untuk pertama kalinya, cerita pendeknya  yang berjudul “Menerbitkan” berhasil dipublikasikan secara luas di media daring Basabasi.co. https://farraspradana26.blogspot.com/

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Tentang Maria, Gedung Bioskop, dan Buku Harian yang Tertinggal

mm

Published

on

Getty Images/ The Lovers by Rene Magritte

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

 

Oleh Ken Hanggara *)

Pada sore hari setelah Maria pergi, aku duduk di teras dan membuka-buka sebuah buku harian. Di sampul depan buku harian tersebut terdapat suatu cap yang dahulu aku buat di sana untuk kenang-kenangan agar Maria tak melupakanku.

“Ini hadiah dariku, Bung,” kataku kepada seorang tetangga.

“Kau yakin kalian benar-benar saling mencintai?”

Aku berdiri dan mengajaknya masuk ke ruang tamu. Toni tetangga baruku, dan ia belum pernah menyapa Maria. Tiga hari yang lalu Toni datang dengan membawa mobil pick up berisi berbagai perabot, dan kepadaku yang kebetulan berada di teras rumahku, ia mengaku semua benda tersebut warisan. Ia akan tinggal di rumah sebelah yang sudah sepuluh tahun lebih kosong.

Aku mengenal Toni sejak itu, dan karena ia bujangan, aku bisa mengajak pemuda itu mengobrol apa saja sampai larut malam. Maria tidak pernah mau kuajak bercumbu sebelum tidur dan itu tidak kuceritakan pada Toni.

Karena tidak pernah kuungkit-ungkit soal Maria, dan begitu tahu pasanganku pergi tanpa pamit, Toni berpikir Maria tidak benar-benar mencintaiku. Ia berkata, sambil kami melangkah ke dalam, “Kalau tidak begitu, ada sesuatu yang salah.”

Aku berhenti dan bermenung di depan foto diriku dan Maria yang berdiri sambil berpelukan di depan gedung bioskop tujuh tahun lalu, waktu kami pengantin baru. Aku tidak berkata apa-apa sampai akhirnya sadar ada Toni di sini, dan kujawab, “Sebetulnya tidak ada yang salah.”

Aku tahu ada yang beda di wajah Toni, dan kukira dia tidak enak saja padaku yang lebih tua beberapa tahun, tapi sudah dituduh macam-macam. Soal asmara bagi beberapa orang bisa jadi sensitif. Mungkin karena itu Toni memutuskan diam.

Kami tidak berkata apa-apa sampai kuajak Toni ke ruang tengah. Ada lebih banyak fotoku dan Maria dari tahun ke tahun. Ada beberapa yang sengaja dibuat khusus untuk mengenang bahwa kami tidak akan berubah soal cinta.

“Foto-foto macam ini,” jelasku pada Toni, yang terlihat agak lega, karena aku bisa bersikap santai, “dimulai dari ketidaksengajaan. Itu foto waktu kami pertama jadian.”

Kutunjuk sebuah foto, dan kemudian jariku beralih ke foto lain di samping kanan foto tadi.

“Ini setahun pertama kami jadian. Posisiku dan Maria terlihat sama seperti di hari ketika kami bersumpah akan terus bersama. Dia di kanan dan aku di kiri. Kami tetap berpelukan. Lihat, senyum kami juga sama. Ketika itu Maria bilang, ‘Aku tidak mau kita pacaran, dan kelak selesai begitu saja tanpa ada yang bisa dikenang.’ Maka kusodorkan ide foto dengan pose yang sama dari tahun ke tahun, dan perempuanku itu setuju. Dan kini, kamu lihat hasilnya!”

Toni mengangguk-angguk selagi kujelaskan itu. Ia sesekali bicara soal keakuratan senyum kami.

Senyumku dan Maria dari tahun ke tahun nyaris tak pernah terlihat beda dari foto di tahun sebelum dan sesudahnya. Bagi Toni, merancang foto seperti ini tidak semudah yang orang pikir, apalagi yang kami lakukan melebihi dari foto dengan pose tunggal. Yang kami lakukan membeku untuk urusan asmara. Ada beberapa yang beda di wajahku, yang jadi agak bulat, tapi senyumku dan Maria tak pernah beda.

Lalu kami melompat ke topik lain soal ayah dan anak di suatu belahan bumi, yang berfoto dengan pose tunggal setiap tahunnya, dan ketika si bocah semakin lama semakin besar, posisi ayah yang menggendong anaknya dapat dibalik sewaktu-waktu.

“Di foto kalian, tidak ada yang bakal terbalik, sebab kalian saling berpelukan, dan kita bisa memeluk siapa pun tanpa harus menjadi kuat. Apa yang tadi sempat kukatakan soal kalian yang sama-sama saling mencintai, harus kutarik dan aku menyesal sudah mengatakannya,” tutur Toni dengan memandangku lesu.

Aku mengangguk. Urusan percintaan saat manusia sudah berusia tiga puluh ke atas, atau empat puluhan, atau bahkan lima puluh hingga seratus tahun, sangat berbeda dari kisah cinta yang pada umumnya orang percayai.

“Aku dan Maria sering bertengkar dari waktu ke waktu setelah tahun keenam kami. Bayangkan, itu baru enam tahun kami menikah. Aku menikahi Maria pada saat umurku dua puluh delapan, dan dia dua puluh tujuh. Jadi, sekarang ini kami masih cukup muda, padahal kenyataannya aku dan Maria merasa sama-sama menua.”

Aku tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Kuajak Toni berjalan lagi ke depan setelah puas melihat hampir semua fotoku dan Maria yang ada di ruang tengah.

Begitu aku ingat sudah menunjukkan foto-foto kami dengan pose tunggal kepada seorang tetangga baru, aku berbelok ke kamar dan mencari sesuatu di sana.

“Kau tunggu di depan,” kataku pada Toni.

Tak butuh waktu lama untuk tahu betapa Maria sudah membawa kamera dan setiap file dalam laptopku yang menyimpan seluruh foto dengan pose tunggal tadi. Itu adalah bukti untuk, paling tidak, dua kemungkinan. Pertama, Maria tidak ingin melupakanku sehingga foto-foto yang kami buat akan ia simpan selamanya meski kami tak bersama. Kedua, ia hapus seluruh file tersebut sehingga tidak ada lagi yang tahu bagaimana cara kami menyimpan cinta yang dulu begitu kami agungkan.

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

Di gedung bioskop,” desisku.

Itulah potongan kalimat pertama di buku harian Maria. Ia pernah bilang bahwa ia sengaja memindah catatan hariannya ke buku baru, setelah ada lelaki yang memenuhi kebutuhan cintanya, yakni aku. Jadi, hari ketika kami berdua bertemu itu Maria jadikan halaman pertama di buku harian barunya yang tebal.

Aku pernah bertanya, “Kamu menyiapkan buku setebal itu untuk tahun-tahun yang manis bersama orang paling beruntung, ya?”

“Aku yakin buku ini tidak akan pernah putus, karena ketika dia sudah kehabisan halaman kelak, akan kutambah dengan buku harian yang juga tebal, lalu mereka berdua kujahit, begitu seterusnya. Bisa dibayangkan? Kelak anak cucu kita akan tahu betapa nenek moyang mereka adalah penulis yang romantis!”

Aku bahagia dan merasa terhormat mendapat tempat seistimewa itu di hati Maria. Dia pernah dikhianati lelaki sewaktu masih SMA, dan sejak itu hingga berumur dua puluh tujuh, tidak sekali pun jatuh cinta. Dengan kata lain, akulah pria pertama yang ia cintai setelah bertahun-tahun membenci cinta.

Di gedung bioskop, seorang lelaki datang menyapaku, dan dia bertanya film apa yang bagus ditonton seorang diri? Kalimat pertama itulah yang ditulis Maria, dan aku ingat betapa dengan konyolnya aku bertanya soal film yang baik ditonton oleh orang yang kesepian. Waktu itu pilihan filmnya hanya romansa. Aku dan Maria dengan senang hati menonton bersama. Ia mudah menerima teman baru sepertiku, yang baginya lucu. Memang ketika itu aku merasa bodoh dan lucu.

Pulang dari bioskop kami mengobrol seperti teman biasa yang baru berkenalan. Ia kumintai nomor telepon, dan sejak itu, kami sering pergi ke bioskop. Sering juga kami menonton film yang dibuat untuk mereka yang tidak punya pasangan. Film-film macam superhero dan hal-hal tak masuk akal yang cenderung kekanak-kanakan. Aku tahu film semacam itu tidak benar-benar dibuat khusus untuk mereka yang single, tetapi tentu saja aku dan Maria ketika itu senang bercanda.

Begitulah, aku membaca halaman demi halaman buku harian Maria yang ditinggal, entah sengaja atau tidak. Buku harian itu kutemukan di lantai ruang tengah, tergeletak begitu saja bersama beberapa brosur liburan murah ke luar negeri serta beberapa buah buku bacaan yang Maria sukai. Benda-benda ini tersimpan di salah satu tas yang kukira harus Maria bawa, namun tak sengaja ditinggalkan. Aku tahu dia pergi dari rumahku dengan tergesa-gesa. Tidak ada alasan lain selain karena takut aku melarangnya.

Memikirkan Maria yang merasa tidak akan ada gunanya kami hidup tanpa pernah ada calon bayi di perutnya, membuatku sedih dan mungkin baiknya aku juga berkemas malam ini dan pergi dari rumah. Aku pergi untuk mencari Maria, atau mungkin pergi ke tempat mana pun yang kusuka untuk menghibur diri. Tapi, tubuhku lemas dan tak ada kemauan mewujudkan pikiran gila apa pun.

Mungkin esok keputusan itu ada. Mungkin juga tidak. Tapi, untuk saat ini tak ada hal apa pun yang ingin kulakukan selain tetap di sini. (*)

Gempol, 2017-2019

 _______________

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Continue Reading

Cerpen

12.15.22.5

mm

Published

on

Seseorang yang menyalakan rokok harus menghabiskannya

“Bagaimanapun caranya, sayang. Kau mencintaiku kan?”

“Kau sengaja menghadiaiku rasa pahit ini untuk menghilangkan jejak bibirmu di bibirku.”

Ia tersenyum kecil. Senang, karena berhasil mengerjaiku dengan tembakau yang diberikannya.

“Ayo, habiskan sayang. Kau tidak ingin membuat pemberian nenekku sia-sia kan?”

“Kau terlalu senang mengaturku.”

“Ayolah habiskan. Aku ingin lihat seberapa kuat kamu menerjemahkan rasa pahit yang ada menjadi ritus cinta.”

“Kau harus berikan cintamu sepenuhnya padaku untuk bisa mengaturku. Kalau kau tidak memberikannya secara penuh, yang terjadi dengan cintaku cuma ketidakberdayaan. Dan aku tidak bisa menurutimu.”

“Baiklah akan kuberikan apa yang kau mau. Tapi sekarang habiskan rokok di jarimu itu sebelum baranya memakan habis semua tembakau di dalamnya.”

“Kalau kau ingin aku menghabiskannya, kita harus habiskan berdua.”

Kedua bola matanya yang indah seperti ada lapisan air di bawah permukaan membulat. Warna coklat keemasan pupilnya semakin terlihat jelas dan jernih. Keningnya membentuk lapisan kerutan. Ia tampak sangat mengemaskan.

Aku menyesap dalam-dalam rokok lintingan di sela jari telunjuk dan tengah tangan kanan. Lalu dengan tangan kiriku yang dapat bergerak bebas, aku menggapai tengkuk leher perempuan di depanku ini. Aku menangkupkan bibirku dan bibirnya. Membuat jalur kecil yang menghubungkan ruang mulutku dan ruang mulutnya. Ia mengisap bibirku, sekaligus mengisap udara yang ada di paru-paru hingga mulutku. Memindahkan asap rokok ke dalam ruang mulutnya, menjalankannya keseluruh bagian alat pernafasan sebelum menghembuskannya perlahan keluar melalui lubang hidung. Ia tidak tersedak ataupun terbatuk sedikitpun. Kami sudah biasa melakukan hal semacam ini sebelumnya dengan anggur.

“Akan lebih baik jika nenekmu memberimu marijuana.”

“Sebelum daun-daun itu sampai dimulutmu, nenekku sudah sampai dulu di penjara.”

“Tapi ayahmu jaksanya. Dia tidak mungkin menjebloskan nenekmu di balik jeruji besi.”

“Sayang, papaku seorang yang setia pada pekerjaanya. Dia tidak bakal ambil pusing dengan siapa saja yang didakwa melakukan pelanggaran hukum. Menurutnya, kitab hukum lebih penting di dunia ini daripada kita penuh cerita moral yang tersebar luas dengan penulis anonim itu.”

“Apa anak-anaknya diajari dengan cara yang keras semanjak kecil?”

“Tidak. Papa hanya selalu mengingatkan anak-anaknya agar tidak melewati batas yang telah ditulis dalam kitab hukum. Dia tidak ingin anak-anaknya menjadi penganggu hukum. Makanya, dari dulu papa sering mengajak anak-anaknya datang ke persidangannya buat menonton bagaimana dia menuntut pada terdakwa dengan hukuman yang berat.”

“Lantas apa kau menjadi orang yang takut dengan hukum?”

“Malah sebaliknya. Aku sering bermain-main di batasan hukum itu, meskipun kami memang tidak pernah melangkahinya. Tapi, Aniel…”

“Jangan mengulangi lagi. Kau sudah menceritakannya tadi waktu datang.”

Bahkan, meski tidak menggunakan ganja, aku dan ia sudah tidak waras. Ia terus tersenyum-senyum selama satu menit. Menampakan lesung pipitnya yang selalu tersembunyi jika ia tidak berekspresi. Aku mengelus cekungan itu.

“Tinggal rintik-rintik,” katanya. “Ayo keluar, sayang. Kita cari pelangi. Mungkin kita bisa menemukan emas.”

“Sayang…,” aku pura-pura manja. “Di matamu sudah ada pelangi. Sayangnya dengan warna yang berbeda.”

“Warna seperti apa itu sayang?” ia membalas manjaku.

“Mungkin berwarna diriku? Atau cinta? Atau coklat. Aku kurang yakin. Mendekatlah biar kulihat.”

Ia mendekat juga. Walau aku bisa menebak ia tahu maksudku. Wajahnya berjarak satu buku jari dengan wajahku. Hidung kami bersentuhan. Aku memagut bibirnya. Kami berciuman.

“Bagunlah!” Ia sudah berdiri mengenakan mantel panjangnya yang tadi tergantung dibalik daun pintu. Ia mengucir rambut panjangnya.

“Aku bahkan belum mandi.”

“Momen yang pas, bukan? Kau belum mandi, dan langit pengertian untuk memandikanmu. Bangunlah. Aku mau menunjukan sesuatu padamu.”

Aku bangkit dengan kemalasan yang luar biasa berat. Kulempar sebuah gulungan koran yang kutemukan di bawah selimut ke tengah ruangan. Aku memakai celana panjang dan mantel. Kemudian kami keluar dari apartemen, turun ke bawah melalui tangga.

“Aku titip selai, roti, sama keju,” seru Kakek Hola menghentikan langkah kami. Ia duduk di kursi goyang yang ada di depan pintu apartemennya.

“Baiklah. Nanti aku bawakan,” jawabku sekenanya saja. Aku malas berurusan dengan kakek brengsek yang tak siapapun mau mengurusinya.

“Kau, gadis kecil. Jaga dirimu baik-baik dengan laki-laki ini. Dia tidak sebaik yang kau kira. Dia anjing berbulu kelinci.”

Aranda tersenyum kecil. Membalas: “Bulunya bukan hanya kelinci. Lebih halus dan lembut. Pesona yang mengelabui, Kek.”

“Sudahlah. Jangan dengarkan kakek ini.” Aku menariknya turun. “Apa kau pikir, aku yang tidak mandi ini, halus dan lembut? Kalau itu pikiranmu, aku berterimakasih sekali.” Aku tersenyum lebar.

Ia mencubit pinggangku. Kami tiba di lantai dasar.

“Apa yang mau kau tunjukan padaku?” aku bertanya. Sejujurnya aku sedang tidak ingin keluar bersamanya hari ini. Mungkin tidak, sampai seminggu kedepan. Tapi ia telah datang ke tempatku. Artinya memang ada sesuatu hal yang ingin sekali dilakukannya denganku. Aku menyukai sifat kenesnya. Kekanak-kanakan yang membuatku betah berada di dekatnya.

Sekarang sudah mendekati malam. Ia menarikku, berjalan ke arah balai kota. Kami melangkah beriringan seperti sepasang sepatu. Kami sepasang manusia yang diguyur asmara. Diguyur rintik hujan sebagai mandiku. Hanya satu dua orang yang kami temui sepanjang trotoar. Orang-orang lebih nyaman berada di dalam mobilnya yang hangat untuk pergi kemanapun. Toko-toko yang biasanya memajang jualan hingga mempersempit pejalan kaki, memilih mengurung diri di balik dinding kaca. Berharap ada orang yang berhenti berjalan, lalu masuk membeli. Kurasai tanganku semakin dingin. Apa Aranda juga kedinginan? ia tidak kuat dengan hawa dingin. Pertamakali aku menemukannya setahun yang lalu, ia mengigil seperti habis melihat neraka di lantai dasar apartemen. Mungkin dengan setengah sadar, ia kubawa naik dan pingsan di atas ranjang. Ia begitu cantik waktu itu meski dalam kondisinya yang sakit. Ia terbangun keesokan harinya dengan ingatan yang sedikit hilang. Yang pertama dikatakanya begitu sadar adalah, apakah kau memperkosaku? Itulah pertanyaan paling melecut emosi dengan cepat. Aku langsung keluar kamar dan meninggalkannya seharian. Berharap ia pergi dengan sendirinya. Sore harinya, begitu aku balik ke apartemen, ia masih ada di sana. Hanya mengenakan dalaman saja. Bukan emosi seperti tadi pagi, aku malah ingin mengajaknya tidur bersama. Bukan bercinta. Aku belum pernah bercinta dengan perempuan manapun. Perempuan biasanya hanya kuajak tidur bersama untuk saling berbagi kehangatan. Itu bukan sebuah nafsu. Seminggu penuh ia berada di apartemenku. Tidak kunjung pulang ke rumahnya atau setidaknya keluar dari dalam apartemen. Ia hanya tiduran dan bangkit melakukan peregangan otot-ototnya. Selama itulah aku mulai menyukainya. Perempuan yang bahkan namanya baru kuketahui sebulan kemudian ketika menonton pertunjukan teater yang diadakan kakaknya.

“Naikan kerah mantelmu. Kau kedinginan,” ujarku.

Aranda meliriku. Dan melakukan yang barusan kukatan.

“Apa salah satu dari kedua laki-laki yang menuju ke sini itu Aniel?” tanyaku. Mataku agak mulai rusak juga gara-gara menulis hanya diterangi lilin beberapa minggu yang lalu.

“Kau tahu, kakakku itu kayaknya berorientasi gay.”

Aniel dan lelaki yang bersamanya semakin mendekat dari arah depan. Berjarak sepuluh gedung lagi. Brengsek! Ternyata memang Aniel.

“Sayang, aku mau buang air kecil sebentar. Kau tunggu disini. Jika nanti Aniel datang, bilang saja kau sedang berjalan-jalan sendirian.”

“Cepat. Aku tidak suka menunggu lama.”

Sepertinya ia tidak memperhatikan kalimat terakhirku. Masa bodoh dengan hal itu. Yang penting aku harus menghindari Aniel dulu sekarang. Aku menyelinap masuk ke dalam toko pakaian tempat kami berdiri. Aku langsung meminta sama penjaganya untuk  mengizinkanku menggunakan kamar mandi yang ada. Ia menunjukan keberadaannya di bagian belakang. Di dalam kamar mandi, aku tetap membuang air seni. Setidaknya, aku tidak berbohong. Lima menit, terlewat atau belum? Kurasa aku sudah terlalu lama di sini. Mungkin Aniel dan temannya sudah berlalu. Aku keluar, kembali ke depan. Brengsek! Aniel masih berdiri dengan Aranda di trotoar. Karena tidak mungkin kembali masuk lagi, akhirnya aku berdiri di balik bagian tembok yang tidak berkaca. Mendengarkan pembicaraan kakak beradik itu.

“Kakak carilah pasangan yang benar,” kata Aranda. Ia dan kakaknya menjauh dari temannya Aneil.

“Apanya yang benar. Sekarang, dimana kekasihmu itu?”

“Kau mengalihkan pembicaraan, kak. Apa kau benar-benar seorang homoseksual?” Pertanyaan yang dilontarkan Aranda sungguh gila. Apa mungkin ia sudah tidak tahan melihat sikap kakaknya? Aku hanya bisa menebak-nebak saja. Aku belum menjadi bagian dari keluarga itu.

“Dimana kekasihmu itu? dia punya utang padaku belum dilunasi.”

Brengsek! Kenapa ia harus mengatakannya kepada Aranda. Padahal  aku sudah mendoakan semoga teaternya diminati agar ia punya uang dan melupakan utangku, tapi sekarang ia malah mempermalukan aku dihadapan adiknya. Bregsek kau!

Aranda terhenyak sejenak, sebelum kembali meluap. “Aku akan adukan kau kepada ayah agar kau digantung!”

“Adikku yang baik,” Aniel meletakan kedua tangannya di pundak Aranda. “Cinta adalah cinta. Batas cakrawala tidak bisa membentenginya. Biar kutentukan cintaku dan kau tentukan cintamu. Kau boleh dengan kolumnis kere itu. Asal, suruh dia bayar utangnya.” Semua katanya ia katakan dengan nada penuh penekanan. Dan Aranda hanya bisa terpana dengan kemampuan akting kakaknya.

Sementara Aranda berdiri terpaku, Aneil kembali meneruskan jalannya dengan temannya itu. Atau boleh kubilang kekasihnya. Dasar homo. Brengsek!

Aku keluar dengan pura-pura merasa lega. Namun, Aranda tidak bisa dikecoh.

“Kenapa kau tidak minta bantuanku.” Ia menatapku.

“Lihat.” Aku memandang Aneil dan kekasihnya dari belakang. “Mereka bermesraan di tempat umum tanpa malu.”

“Aku tahu, aku tahu, aku tahu Aneil seorang gay.” Merengek. Ia mulai tidak beres. Aku meraih tubuhnya. Memeluknya. Mengusap rambutnya. Ia pernah bilang padaku, bahwa ia sangat suka rambutnya diusap-usap. Itu bisa membuatnya merasa disayangi.

“Ayo.” Ia melepaskan diri. Kami kembali berjalan. Intensitas rintik hujan bertambah.

“Dulu aku pernah hanya memakai dalaman di kamarnya. Tapi ia tidak bereaksi apapun. Sejak itu aku mulai curiga ia tidak berniat pada perempuan. Apalagi setelah adanya teater itu. Ia selalu menulis drama yang banyak diperankan laki-laki. Ia mengambil kesempatan sebagai penulis sekaligus pemain.”

“Kau sangat peduli terhadap semua orang.” Hanya itu komentarku?

“Aku akan membayar utangmu padanya. Juga nanti gunakan uangku dulu untuk titipan si kakek tadi.”

“Jangan.” Aduh, ia benar-benar peduli. “Aku bisa melunasinya. Kau jangan terlalu mengaturku.”

“Kau meminjam dariku. Aku tahu kau pasti tidak pernah mau dibantu, meski sudah kuberikan cintaku sepenuhnya padamu.”

“Listrik di apartemenku diputus dua minggu lalu. Baru tiga hari lalu hidup lagi setelah pinjam dari Aniel. Aku sedang mengalami masa kebuntuan.”

“Kenapa kau tidak mencoba menulis puisi? Atau naskah drama? Kau bisa menjualnya kepada Aneil untuk membayar utang.”

“Akan kucoba nanti.” Aku merangkulnya.

Hujan semakin deras. Toko-toko menutup pintunya rapat-rapat. Kami bingung harus berteduh dimana.

“Kotak telepon.” Ia menarikku masuk ke dalam. Kami saling menempel. Saling menghangatkan. Kotak telepon yang nyaman. Sempit dan cukup bagi kami berdua untuk berbagi ruang dan tatapan.

“Kita akan di sini terus?”

Ia mengambil gagang telepon dan menjulurkannya padaku. Aku menerima.”Siapa?”

“Dua belas, Lima belas, dua-dua, lima.”

“Pelan-pelan.”

Ia mengulangi lagi. Ia bicara dan aku menekan tombol nomor yang dimaksud. Kudengarkan baik-baik. “Nomornya salah.”

“Tidak akan pernah bisa.” Ia mengambil gagang teleponnya, dan menaruhnya kembali. Ia menatapku.

“Kemarin Anile menerima sebuah surat yang isinya angka-angka tidak berututan. Ia menunjukan padaku bermaksud meminta bantuan memahami maksudnya. Aku tahu maksud dari isinya, tapi aku tidak memberitahukan yang sebenarnya. Aku hanya mengatakan mungkin dari orang yang iseng.”

“Apa isinya?”

“Isinya adalah pesan cinta dari laki-laki yang tadi jalan bersama Anile. Angka-angka itu merupakan semacam sandi. Kurasa itu sandi caesar. Transkripsi angka-angka itu sangat mudah. Yaitu urutan huruf secara alafabe. Kukira, laki-laki tadi sengaja tidak menunjukan maksudnya secara langsung. Tapi, mungkin Aneil sudah mengetahuinya sendiri hal itu. Ia tadi begitu senang jalan bareng laki-laki itu.”

“Jadi, dua belas, lima belas, .…”

“Dua belas, lima belas, dua-dua, lima.” Ia membantuku. “Apa cinta bisa melampaui cakrawala? Seberapa jauh kekuatan cinta bisa melampaui batas cakrawala?”

Aku menghitung dengan jari huruf ke Dua belas, lima belas, dua-dua, dan lima. Aku menatapnya. “Love.” Ia menatapku. Aku menciumnya. Ciuman panjang yang tidak memengal nafas. (*)

 

____________

*) FARRAS PRADANA lahir pada 26 Mei 2001 di Lombok Timur karena ayahnya yang menjadi guru di tempatkan di sana. Pada 2003, dia sekeluarga pindah ke tempat asal orang tuanya di Kulon Progo. Dia menempuh seluruh jenjang pendidikannya dari TK, SD, SMP, dan SMK di kabupaten itu. Saat kelas dua SMK dia mulai menekuni dunia tulis-menulis. Akhir Januari 2019, untuk pertama kalinya, cerita pendeknya  yang berjudul “Menerbitkan” berhasil dipublikasikan secara luas di media daring Basabasi.co.

 

Continue Reading

Cerpen

Kepoh

mm

Published

on

Ruly R *)

            Kabar itu mengagetkan warga kampung Kepoh. Seharusnya Mbah Marindi tidak perlu melakukan itu. Tak butuh waktu lebih lama untuk malaikat mencabut nyawanya.

Ada dua bola mata yang menatap nanar. Sepasang mata itu seakan bicara tentang kehilangan yang begitu dalam dibanding lainnya. Dua mata nanar dan berkaca-kaca itu milik Jauhari. Lelaki yang baru dua minggu ini kembali ke kampung setelah menyelesaikan kuliahnya di kota nun jauh.

Matahari belum penuh menawarkan teriknya. Angin menggugurkan daun pohon Kepoh yang kuning-kecokelatan. Mayat itu masih menggantung. Kerumunan semakin bertambah saja seiring menit yang berjalan. Bisik dan kasak-kusuk terdengar. Kesimpulan yang ditarik dari informasi yang belum sepenuhnya pasti menyebar di antara kerumunan.

Pak Lurah dan Bayan Marino datang. Telat. Seharusnya mereka sudah datang dari tadi karena mereka perangkat desa. Yang baru datang coba menyela, membelah kerumunan yang ada. Pak Lurah melongo melihat mayat juga tambang yang ada. Garis vertikal ungu pada tambang tak lepas dari mata Pak Lurah. Dia tak percaya.

Didukne. Cepet. Dukne![1]” perintah Bayan Marino yang memang selalu mencari muka di hadapan Pak Lurah. Kerumunan mendengar itu, namun tak ada yang bergerak untuk melakukannya. Bukan mereka tidak kasihan, tapi semua seakan berpikir tentang pohon Kepoh itu sendiri.

Pohon Kepoh di desa itu bukan sekadar pelengkap di antara deretan pohon lainnya. Pohon Kepoh juga menjadi cikal hingga akhirnya desa dinamakan begitu, juga menjadi batas antara dua desa yang dulu saling bermusuhan. Pohon Kepoh juga sebagai sumber penyimpanan air. Bukan sekadar itu saja, pohon yang berdiri itu dikeramatkan, para warga takut kualat jika sampai berani memanjat pohon itu, atau menebangnya.

Cepet. Kui didukne![2]” perintah Bayan Marino berulang dan kali ini jelas ditujukan pada Jauhari yang berdiri di sebelah kirinya. Keras Bayan Marino menepuk pundak Jauhari. Yang diperintah hanya diam saja. Tidak ada keberanian dari Jauhari. Kesedihan seketika menenggelamkan keberanian yang dia miliki.

Mayat yang masih menggantung lekat di mata Jauhari setelah mata itu sekilas melihat Bayan Marino.

Raut wajah Jauhari menampakan segala duka dan gelisah serta rasa yang masih saja tak habis pikir. Semasa Jauhari belum berangkat ke tanah rantau, dia sering sekali berbincang dengan Mbah Marindi. Namun, ada yang janggal bagi Jauhari setelah empat tahun berlalu. Mbah Marindi berubah menjadi pemurung. Kata-kata pelit keluar dari mulutnya. Jika berpapasan di jalan atau di pematang, Mbah Marindi seperti tidak hirau, dia berlalu begitu saja.

Sekali waktu, Jauhari pulang saat libur kuliah atau hari raya, namun dia tak begitu memperhatikan Mbah Marindi ketika itu.

Bagi orang lain, Mbah Marindi mungkin hanya lelaki tua yang jago menggerutu, namun bagi Jauhari, Mbah Marindi sudah dianggap sebagai orangtuanya sendiri, terlebih setelah kematian ayah Jauhari. Mbah Marindi banyak mengajarkan tentang tani kepada Jauhari, juga memberi banyak pelajaran tentang melalui terjal dan cobaan hidup. Lelaki tua itu juga menjadi teman setia Jauhari ketika sedih.

Sekali waktu, menjelang petang, Jauhari bertanya pada Mbah Samino tentang diamnya Mbah Marindi karena Mbah Marino yang tampak akrab dengan Mbah Marindi.

Urusane gedhe,[3]” ucap Mbah Samino saat itu tanpa menjelaskan lebih lanjut meski Jauhari coba mendesak.

Pernah juga Jauhari bertanya pada ibunya terkait Mbah Marindi, namun seperti ada yang disembunyikan dari Jauhari. Juga saat Jauhari bertanya pada orang-orang yang ada di warung, semua seakan mengunci mulut masing-masing. Bahkan satu-dua orang di antara mereka ada yang langsung pergi. Beruntung bagi Jauhari karena ada yang tiba-tiba nyeletuk.

Mbah Marindi kui edan. Saben dino kok golek tegesan kretek?![4]” Suara ketus itu milik Bayan Marino.

Cericit burung pipit. Malai-malai padi dihembus angin lembut. Di satu sore yang cerah, Jauhari membawa jawaban itu pulang dan menyimpulkan betapa tersiksanya karena semua warga menjauhi Mbah Marindi karena perilakunya itu. Bagi Jauhari, tidak ada orang lain kecuali memang Mbah Samino yang bisa membuka dan menuntaskan segala penasarannya. Dia memang dekat dengan Mbah Marindi, jarak rumah mereka juga hanya sepelemparan batu. Tentu Mbah Samino tahu yang sebenarnya menjadi misteri bagi Jauhari, sebab apa orang-orang menyebut Mbah Marindi gila.

Bertamu pada lelaki tua itu, Jauhari disambut dengan muka masam dari si empunya rumah. Namun telah Jauhari bulatkan tekad untuk menerima semua hal yang ada, asal dia bisa mengobati rasa penasarannya.

Jauhari membuka obrolan basa-basi. Tentang kabar Mbah Samino, padi-padi, juga musim panen. Perlahan obrolan mengarah pada Mbah Marindi. Mbah Samino menghela panjang.

Dudu urusanmu, Le.[5]

Jauhari meminta maaf dan langsung menjelaskan kalau dia merasa tak terima jika setiap warga menyebut Mbah Marindi gila lantas menjauhinya.

Wajah Mbah Samino langsung padam. Semakin merah marah wajah itu ketika Jauhari menjelaskan tentang kejadian di warung.

Marino kui sik gemblung,” ucap Mbah Samino masih marah. Dia menjelaskan pada Jauhari kalau sebenarnya puntung kretek untuk pupuk. Ide itu dianggap kurang waras oleh warga karena mereka belum mencobanya. Mbah Samino juga menerangkan kalau dia sudah mencoba hal yang disarankan sahabatnya itu dan terbukti berhasil.

Marino kui musuhe Marindi. Kabeh wong-wong kui diapusi. Marino kui dodol pupuk kimia.[6]

Lelaki tua di hadapan Jauhari itu seakan sulit untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Diterangkan pada Jauhari kalau ada monopoli pupuk di desa Kepoh, itu semua dilakukan Marino karena dia menjabat sebagai Bayan. Mbah Marindi yang mendapat info dari kawannya di kota tentang pupuk dari puntung kretek justru dituding gila karena setiap pagi memungut puntung kretek dan mengumpulkan.

“Jane gampang nek pengen gawe pupuk kui. Ning okeh wong males.”[7]

Jauhari hanya bisa melongo. Wajahnya tampak tak percaya dengan pupuk yang terbuat dari puntung kretek, namun dia juga tidak berani membantah semua yang dikatakan Mbah Samino. Lelaki tua itu kembali menjelaskan kalau sebenarnya belakangan ini warga sudah mencoba dan buktinya berhasil. Hal itu membuat Bayan Marino geram bukan main. Dia juga sempat mengancam akan membuat hidup Mbah Marindi tak tenang.

“Terus?” spontan Jauhari bertanya.

“Ora digagas Marindi. Wong tani iku yo macul, mendhem opo sing dadi pengarepane bakal tukul. Nek sewayah-wayah dipendem yo ra masalah.”[8]

 

***

 

Matahari perlahan meninggi. Mayat itu masih menggantung. Mata Jauhari masih lekat melihat mayat Mbah Marindi. Tidak ada satu orang juga yang berani memanjat pohon itu. Termasuk Lurah dan Bayan. Kerumunan bertambah ramai, meski ada juga satu-dua orang yang meninggalkan tempat itu.

Mayat yang menggantung dengan leher yang dijerat tali itu kaku. Angin yang perlahan datang tidak juga menggerakan tubuh itu. Kesedihan Jauhari semakin dalam usai benaknya berkelindan dan mengingat apa yang dikatakan Mbah Samino.

Mata Jauhari mengedar ke sekitar. Tidak tampak batang hidung Mbah Samino. Jauhari terus melihat orang-orang yang ada di kerumunan. Lelaki yang dekat dan tahu segala rahasia Mbah Marindi itu tidak ada.

“Jangan-jangan….” Sebelum kata dalam gumam Jauhari itu rampung, ada teriakan yang memerintah untuk kerumunan memberi jalan. Itu suara milik Mbah Samino. Dia terengah, napasnya kembang kempis. Kapak besar ada di genggaman tangan lelaki yang tubuhnya tinggal lunglit. Sebentar lagi, akan ada yang tumbang di desa Kepoh. ***

 

 

 

 

____

*) Ruly R, tinggal di Karanganyar. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar (K4). Kumcernya Cakrawala Gelap (Penerbit Nomina, 2018) dan novelnya Tidak Ada Kartu Merah (Penerbit Buku Kompas, 2019). Surat menyurat: riantiarnoruly@gmail.com serta telepon: 0812 2630 4320.

 

[1] Turunkan. Cepat. Diturunkan!

[2] Cepat. Itu diturunkan!

[3] Urusannya besar

[4] Mbah Marindi itu gila. Setiap hari kok cari puntung kretek.

[5] Bukan urusanmu, Nak.

[6] Marino itu musuhnya Marindi. Semua orang-orang itu dibohongi. Marino itu jual pupuk kimia.

[7] Sebenarnya gampang kalau mau buat pupuk itu. Tapi banyak orang yang malas.

[8] Tidak digubris Marindi. Petani itu ya mencangkul, mengubur apa yang menjadi harapannya akan tumbuh. Kalau sewaktu-waktu dikubur ya bukan masalah.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending