Connect with us
Seorang Penyair dan Musafir Karbitan Seorang Penyair dan Musafir Karbitan

Cerpen

Seorang Penyair dan Musafir Karbitan

mm

Published

on

Bertahun-tahun nanti, seseorang sungguh-sungguh mencari penyair itu dan ingin bertemu dengannya lagi. Tapi saat ini, ia lebih tenang berpikir bahwa kepergiannya tak akan dicari oleh siapapun. Langkahnya gontai mengimbangi tubuhnya yang kurus berlapis baju panjang semata kaki yang membuatnya terlihat seperti dewa kehilangan penyembahnya, menyedihkan. Ia memandangi langit yang merubuhkan gelap sambil menahan wajahnya dari sapuan angin yang terus-terusan berembus. Janggutnya yang agak lebat berkibar-kibar pelan dan matanya terpaksa dipejamkan. Ia menengok ke belakang, ke arah selatan, seperti sedang memastikan seberapa jauh jalan yang sudah ia tempuh. Anak-anak rumput yang tumbuh berjarak dan batu-batu yang merebah sepanjang pandangan mata adalah jawaban bahwa ia sudah seharusnya bisa melupakan segala yang terjadi di belakangnya.

Ia duduk di atas batu besardi bawah pohon. Sebuah kantong kecil yang ia selendangkan di pundaknya diturunkan dan diletakkan di tanah.Dari arah timur, seorang laki-laki dengan tubuh bungkuk dan rambut tipis di kepalanya yang bulat, mendekat. Di hadapan si penyair, laki-laki itu membungkuk memberi hormat.

“Kiranya Tuan sedang beristirahat, bolehkah aku ikut duduk di samping Tuan?”

Si penyair menggeser tubuhnya dan laki-laki bungkuk itu duduk di sebelahnya. Keduanya memandang lurus ke depan, ke arah pertemuan langit dan ujung daratan yang tak terlihat. Laki-laki bungkuk itu menoleh dengan wajahnya yang putih dan jenaka.

“Tuan sedang menuju kemana?”

Setiap bicara, pipinya yang gemuk terlihat seperti karet yang ditarik-tarik. Si penyair hanya menjawab, “Utara.”

Laki-laki itu mengangguk-ngangguk. “Betapa luas daratan di Utara,” katanya sambil memandang ke Utara.

“Almaria. Aku.. menuju Almaria,” si laki-laki mendengarkan dengan seksama dan menyadari bahwa gaya bicara si penyair selalu diselingi jeda setelah beberapa kata seakan memikirkan kata yang harus ia lontarkan berikutnya.

“Ah,” dianggukkannya lagi kepalanya dengan lebih pelan, “kota yang indah dan sepi.”

Penyair itu tidak menggubris penilaiannya. Ia sudah tahu seperti apa tempat yang ia tuju. “Tuan dari.. timur?”

“Ya, benar sekali,” jawab si laki-laki bungkuk sambil menepuk-nepuk pahanya yang dihinggapi debu dari deburan angin yang terus-terusan berembus. “Menuju Barat. Lantes,” tambahnya lagi.

“Kota yang makmur,” si penyair tersenyum pada laki-laki itu.

Langit semakin tidak menampakkan secuil pun celah untuk matahari padahal hari masih siang. Angin masih terus merengek manja tanpa henti, meniup-niup rumput-rumput kecil di sepanjang daratan berbatu itu. Dan kemudian, seperti remah-remah roti yang dilemparkan burung-burung, hujan turun disertai kilat-kilat yang menyalak di balik himpitan awan gelap.

Kedua laki-laki itu mengangkat kepalanya ke langit dan segera sadar bahwa mereka tidak bisa terus duduk di sana. Hujan deras mengguyur lebih cepat dari dugaan. Si penyair, diikuti laki-laki bungkuk itu, lari menuju reruntuhan kota yang sudah tak berpenghuni, beberapa meter dari tempat mereka duduk.

Mereka berteduh di bawah atap sebuah rumah yang warna catnya sudah tidak jelas dan ada gambar pedang di dindingnya. Mungkin dulunya gudang atau toko senjata. Langit semakin gelap dan hujan juga semakin ganas. Kilat sudah berganti menjadi gemuruh yang menggelegar seolah membangunkan seluruh negeri di daratan Kimera.

“Tampaknya badai hanya hitungan menit lagi,” ujar si laki-laki bungkuk sambil mencoba peruntungannya mencoba engsel pintu yang sudah tidak bekerja lagi. Kakinya menendang-nendang bagian bawah pintu berwarna jerami. Si penyair ikut menendang-nendang pintu itu dan akhirnya pintu itu terbuka.

“Ah,” wajah si laki-laki bungkuk terlihat senang dan kepalanya dianggukkan lagi.

Di dalam ruangan sangat gelap. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah jendela berbentuk segi empatyang harus dibuka dengan mendorongnya. Karena agak keras untuk didorong dengan tangan, mereka melakukannya dengan sebilah kayudari sebuah lemari besar berwarna cokelat. Di dalam lemari itu, apabila pintunya digeser ke kiri, ada beberapa bilah kayu yang sudah hampir lapuk.

Mereka duduk bersandar di dua tembok yang berhadapan. Petir makin garang menyambar dan daun jendela terus terbuka tertutup dengan suara kencang seperti ditampar-tampar. Suasana tidak terlalu nyaman, tapi bangunan itu adalah satu-satunyatempat berteduh yang aman karena itu satu-satunya bangunan beratap di sana. Tempat lain hanya berupa tembok-tembok yang hancur.

Sadar bahwa ia akan menghabiskan malam di sana, bersama seseorang yang baru ia kenal, laki-laki bungkuk mencoba membuka diri. Ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berwarna cokelat dari sakunya. “Tuan, sekiranya Tuan lapar, aku masih memiliki sisa roti yang cukup untuk kita bagi berdua malam ini.”

Didekatinya si penyair dan dibaginya roti itu. Si penyair berterima kasih. Ia gantian merogoh kantong kecilnya dan mengeluarkan sebuah botol.

“Aku pun masih.. menyimpan persediaan walaupun.. maaf, Tuan, hanya arak.”

Wajah laki-laki bungkuk itu tampak sumringah, karena arak itu dan karena orang asing itu mau membuka diri juga. “Udara badai dan kita punya arak. Apalagi yang harus kita khawatirkan?” kata si bungkuk sambil setengah tertawa saat si penyair meletakkan botol araknya di tengah ruangan.

Sore sudah hampir habis ditelan malam yang terasa lebih gesit dari biasanya. Ruangan itu menjadi lebih gelap lagi, dan saat malam tiba, ruangan itu semakin menumpuk gulita.Di luar badai sudah berembus kencang. Mereka masih saling duduk berseberangan, memeluk kakinya masing-masing untuk menahan dingin yang terasa berputar-putar di ruangan yang hanya terisi sedikit obrolan.

Setelah menghabiskan rotinya, si penyair membuka botol arak dan meminumnya seteguk. Diberikannya botol itu pada si laki-laki bungkuk lalu ia meminumnya seteguk. Mereka duduk semakin dekat agar mudah mengoper botol. Seteguk demi seteguk, obrolan-obrolan mulai mengalir diantar oleh kepala yang mulai mabuk dan ruangan terasa lebih hangat.

“Tuan, kau berjalan dari mana? Selatan?”

“Ya, dari Samduga. Dan.. kukira kau cukup memangilku.. Amar,” jawab si penyair.

“Ah, Amar,” laki-laki itu mengangguk lagi, “kalau begitu, namaku Turas. Kau pasti seniman.”

Penyair itu tersenyum dan memang Samduga adalah kota para seniman. Pelukis, penulis, penyair, banyak yang berasal dari sana. Kalaupun ada seorang seniman yang bukan dari Samduga, ia pasti pernah menetap di Samduga.

“Apa yang hendak kau cari di Almaria?”

Amar berkata dengan gagap seperti ragu-ragu untuk mengatakan, “Tidak.. ada.”

Wajah laki-laki bungkuk itu jelas terlihat bingung tapi ia tidak berani untuk menanyakan lebih. Dan tanpa harus ditanya pun, Amar melanjutkan perkataannya.

“Aku.. tidak mencari apa-apa. Dan sebaiknya.. juga.. tidak menemukan apa-apa,” ia berkata sambil meneguk lagi arak dari botol.

Laki-laki itu masih terdiam. “Ya,” ia tertawa sedikit, “kautahu, aku hanya orang yang tak pernah mengerti seni.” Ia terkekeh. Amar mengerti bahwa laki-laki ini menginginkan penjelasan lebih.

“Tuan.. Maaf, Turas, aku sedang dalam perjalanan.. meninggalkan.. melupakan Samduga,” ia berkata sambil menggerak-gerakkan tangannya di udara, memutar-mutar telapak tangan kanannya.

“Oh, tentu kuyakin ada hal yang berat untuk kepergian yang berat ini,” Turas menaruh botol arak di tengah ruangan lagi setelah meneguknya sedikit. Ia tidak ingin mabuk terlalu berat dulu untuk pembicaraan yang mulai terbangun ini.

“Ya,” Amar malu-malu untuk mengatakannya, “aku meninggalkan.. Samduga.. untuk melupakan cinta.”

“Ah,” Turas menyela sambil, seperti biasa, menganggukkan kepala. “Samduga memang tak pernah kehabisan wanita cantik untuk para seniman itu,” ia berujar dan tertawa sambil merentangkan tangannya lebar-lebar. Sesuatu yang kemudian ia sesali lalu ia meminta maaf.

“Tidak apa.. Tidak apa-apa. Kau benar.. Turas. Wanita ini sangat.. cantik. Tercantik di Samduga.”

Dari mata Amar yang berbinar mengisahkannya, Turas tahu betapa dalam cinta penyair itu.

“Lalu? Apa yang terjadi, temanku?”

Amar bercerita tentang bagaimana ia sangat mencintai wanita itu. Sebagai penyair, ia merangkai beberapa puisi untuknya, namun wanita ini menolaknya. Ia lebih mencintai seorang pelukis berkulit kuning halus seperti kain sutera dan bermata sebening keramik Mongolia.

Amar kecewa dan sakit hatinya. Di saat itu, secercah harapan sempat tumbuh. Laki-laki itu mati dibunuh oleh seseorang dalam perjalanan. Amar sedih melihat sang wanita meratapi kematian kekasihnya, tapi bahagia untuk kemungkinan mekar cintanya.

Sang wanita terus-terusan meratapi luka dan tak lama, membunuh dirinya sendiri karena tak kuat hidup tanpa orang yang dicintainya. Sakit hati Amar bertambah. Bukan hanya dicampakkan, ia juga harus melihat pengorbanan cinta sang wanita yang begitu besar pada kekasihnya.

“Tak ada hati yang lebih patah, Turas.. daripada melihat ia mati.. menyusul cintanya.. yang bukan aku,” ujarnya seraya diteguknya lagi sebuah tegukan besar dari botol arak.

Mata Amar yang hitam terasa makin tak bercahaya setelah mengutarakan cerita ini. Kata-kata yang semula lancar pun seperti kembali dalam kepala dan hatinya, mungkin menunggu waktu untuk kemudian dituliskannya menjadi sebuah aksara berbalut air mata lainnya. Tapi tidak malam ini.

Di hadapan Amar yang merenung, seperti yang ia lihat saat penyair itu duduk di atas batu besar perbatasan, Turas sadar bahwa ia harus membuat keadaan seimbang lagi dengan bercerita juga. Jadi diceritakannya hari-hari di Lantes yang selalu terisi dengan pelajaran-pelajaran dari macam-macam ahli.

“Aku adalah adik dari Pangerang Razam yang..”

“Oh!” Amar memotong dengan suara keras, “seharusnya aku tak bersikap lancang dan tetap memanggilmu ‘Tuan’!”

“Tidak, tidak. Tidak perlu. Ya, sejujurnya, aku hanyalah adik angkat. Dan lagipula kita telah berbagi roti dan arak, mengapa tidak menganggapku teman saja.”

Turas tersenyum ramah. Matanya mengecil sampai terlihat seperti lubang kunci. Ia meneruskan ceritanya.

“Paduka Raja, ayah Pangeran Razam, mengangkatku menjadi anaknya setelah ayahku mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan raja saat terjadi perang dua puluh tahun yang lalu. Kau tentu pernah mendengar soal perang itu.”

Amar tentu tahu soal perang itu seperti juga semua penduduk di daratan Kimera. Empat kerajaan berperang merebutkan wilayah dan kini hanya tersisa dua dari mereka, Lantes dan Dumaka. Keduanya membuat perjanjian damai dan berjanji untuk mengupayakan kemakmuran di seluruh negeri Kimera. Setelah itu, peradaban terbangun dengan lebih baik. Seluruh negeri bertukar ilmu dan kesenian, juga barang dagangan. Pembangunan negeri-negeri kecil melesat dengan cepat dan seluruh penduduk berbahagia.

“Pangeran memiliki tiga adik kandung yang dapat menggantikan jabatannya jika terjadi apa-apa. Tapi, karena kebaikan raja, aku dijanjikan jabatan penasehat, dengan syarat, aku harus belajar seluruh ilmu, bahkan yang tidak pernah dipelajari oleh raja.”

“Turas, aku memohon maaf atas.. segala kemiskinan budiku. Sungguh,” Amar merendahkan kepalanya seperti bagaimana adat Kimera mengajarkannya jika bertemu dengan orang yang dianggap memiliki ilmu lebih luas. Turas melanjutkan cerita.

“Tapi tidak seperti yang kau bayangkan, Amar, kegiatan mencari ilmu itu,” ujar Turas tertawa. Diminumnya lagi arak yang kemudian diberikan pada Amar sebelum diletakkan kembali.

Badai sudah berhenti dan angin juga mereda tapi mereka seolah tidak peduli. Bahkan meskipun cerita-cerita itu mengalir dari tempat gelap yang hanya diterangi oleh ketidaksempurnaan warna hitam di langit, mereka tetap melanjutkannya.

“Aku menghabiskan hampir seluruh hariku dengan belajar dan membaca buku-buku. Sementara itu, laki-laki lain seusiaku, pangeran dan yang lainnya, sibuk bepergian ke pelosok Kimera. Kau tahu, Amar, setiap mereka kembali, wajah mereka selalu dipenuhi kebanggaan dan kepuasan yang tak pernah kudapatkan. Dan selalu, setiap mereka kembali, ada orang-orang yang menyambut dengan wajah bahagia, seperti sudah lama menyimpan rindu lalu bertemu.”

Amar melihat ke dalam wajah Turas yang bulat dan putih. “Memang.. Kita, laki-laki.. selalu dibuat mederita.. karena ketidaktahuan akan wanita.. dan dunia.”

Turas menganggukkan kepala.

“Bahkan.. sejak manusia pertama diciptakan.. ia kehilangan surganya karena.. tidak ketidaktahuan akan wanita,” Amar melanjutkan, “saat terpencar.. dan saling mencari di atas bumi.. ia tersesat karena ketidaktahuannya.. akan dunia.”

Amar menyandarkan tubuhnya ke dinding dan matanya mengelilingi isi ruangan yang gelap seolah ingin menjemput sebuah cahaya kecil yang mungkin dibawa oleh kunang-kunang yang siapa tahu tersesat. Tapi sia-sia,tidak ada kunang-kunang atau apa pun, hanya gelap di rongga mata.

“Suatu hari aku memutuskan pergi dari Lantesuntuk memulai perjalananku sendiri,” lanjut Turas,“begitu kakiku menginjak tanah di luar wilayah dan paru-paruku dipenuhi udara segar yang asing, aku merasa menemukan kepuasan itu, yang kulihat di wajah para laki-laki.”

Wajahnya tersenyum lebar mengenang kepergian pertamanya. Melihat itu Amar ikut tersenyum. “Aku.. bisa membayangkan.. dan merasakannya.”

“Ya, tapi ketika hari berganti dan tanah yang kuinjak semakin tidak kukenali, aku semakin cemas. Dumaka, kota yang kutuju, tampak terlalu jauh untuk diriku. Ditambah lagi, aku menghabiskan makanan lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Aku menjadi panik dan takut. Belumlah aku melihat gerbang Dumaka, aku memutuskan pulang, dan ya, seperti yang kautahu, kita akhirnya bertemu tadi siang,” Turna mengatakannya sambil tertawa.

Mereka mungkin bisa meyakini pertemuannya sebagai takdir atau apapun saat mereka saling membagi arak hingga kandas dan terlelap di atas lantai yang tanpa alas. Ketika pagi menurunkan tirai cahaya keemasan yang silau, merambat masuk melalui jendela segi empat yang terbuka sepanjang malam, mereka meninggalkan kota itu. Keduanya berpisah di depan reruntuhan tempat mereka masuk. Turas melanjutkan perjalanan pulang ke Lantes dan Amar ke Utara. Turas sempat mengajaknya ikut ke Lantes namun Amar memilih melanjutkan mengikuti kesedihannya sampai ke Utara. Pagi itu udara lebih hangat di sekujur tubuh mereka. Hanya dalam hitungan menit berikutnya, bebatuan dan tanah hanya menjadi semestinya dan reruntuhan kota itu seperti tak punya kisah apa-apa.

Di Lantes, Turas melanjutkan pelajarannya hingga kemudian, saat raja wafat dan Pangeran Razam naik tahta, ia betul-betul diangkat menjadi penasehat. Ia memiliki kekayaan pengetahuan dan keluwesan berbicara. Kakak angkatnya, Sang Raja, memberi penghormatan selayaknya: sebuah kuda nan gagah dan pengawal-pengawal yang menemaninya berkeliling kota. Ia selalu gemar melakukannya.

Ketika raja berulang tahun pun, ia ikut mencari bahan makanan untuk pesta bersama para koki istana. Menyusuri gang-gang dan pasar di Lantes yang ia hafal. Membeli sayuran dari seorang wanita tua, buah-buahan di sudut pasar, dan kambing-kambing pada seorang anak kecil yang berjualan sambil membacakan puisi. Turas memperhatikan puisi yang dibacakan. Betapa sedih puisi itu. Ia menambahkan uang melebihi harga kambing kepada laki-laki itu hingga membuat anak laki-laki itu girang sekali.

Turas meninggal lima tahun kemudian akibat penyakit yang gagal diobati. Sebelum meninggal, ia meminta satu permintaan pada raja sebagai permintaan terakhirnya. Ia meminta agar raja mencari laki-laki bernama Amar, dari Samduga, dan mempertemukan mereka. Raja mengabulkannya. Namun, sampai kematiannya tiba, Amar tidak juga ditemukan. Turas mati dalam kesedihan.

Yang tak pernah Turas tahu, bukan hanya dirinya yang mati dalam kesedihan. Tidak lama setelah berpisah dengan Turas, Amar tiba di Almaria. Di kota yang sepi itu ia semakin teringat pada wanita yang dicintainya. Ia terus menangis dalam kesendiriannya. Puluhan puisi yang lirih tak mengobati seiris pun luka hatinya. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukan pengorbanan yang sama seperti yang dilakukan wanita itu: mengakhiri hidupnya dan menyusul cintanya ke alam baka. Saat itu, baginya, hanya kematianlah yang dapat mewujudkan bentuk paling sempurna atas ketulusan dan kepahitan dalam hatinya.

Amar melompat dari tebing Almaria dan menenggelamkan dirinya di Laut Sehluta. Tidak ada jejak yang tertinggal dari kematiannya selain sebuah puisi terakhir yang ia tulis. Puisi itu begitu sedih, seolah menampung semua kesedihan yang tidak bisa ditampung oleh puisi lain selama ini. Amar memberikan puisi itu ke seorang gembala kecil yang sedang memberi makan kambing-kambing. (*)

*Tentang penulis: Rizaldy Yusuf lahir 21 Oktober 1991. Saat ini bekerja di Jakarta.

Continue Reading

Cerpen

Cinta yang Sulit

mm

Published

on

Kawan pertamanya di semesta ganjil ini adalah seekor ayam jago muda. Dengan suaranya yang tipis dan belum matang benar, si ayam jago muda senantiasa menjadi yang pertama berkokok. Jago-jago yang lain, dengan malas-malasan, kemudian mengikutinya. Sesekali mereka mengeluh apalah gunanya berkokok di semesta yang seperti itu. Sia-sia belaka, tukas yang lain. Namun tak urung, mereka tetap saja berkokok. Jago-jago yang benar-benar labil. Ayam-ayam betina akan bangun dari tidur mereka dan berciap-ciap ribut. Lalu hari yang membosankan pun dimulai. Mereka berkeliaran. Kadang-kadang, mengikuti kebiasaan alami kaum ayam, mereka mematuk-matuk lantai semesta tersebut. Namun tak ada cacing atau remah tanah yang bisa diasin. Bahkan, tak ada partikel apa pun yang masuk melalui paruh-paruh mereka. Semesta ini bersih dan jembar dengan caranya sendiri yang sepertinya tak terdeskripsikan. Bukan hanya umat ayam penghuni semesta tersebut, tentu saja. Banyak. Aneka tetumbuhan seperti bayam dan kangkung, hingga binatang-binatang, mulai sapi hingga kelelawar dan tikus.

“Bagaimana bisa ada tikus dan kelelawar?” ia pernah bertanya seperti itu.

“Menado,” jawab si ayam jago muda. “Mereka masuk ke sini ketika ia berada di Menado.”

“Ia pernah ke Menado? Itu kan jauh,” katanya. “Kukira ia tidak cukup kaya untuk bisa pergi ke Menado.”

“Kau beruntung aku sudah berada di sini cukup lama. Lebih lama ketimbang kelelawar dan tikus itu. Jadi aku bisa tahu dengan pasti bagaimana ia bisa sampai ke Menado, lalu memasukkan kelelawar dan tikus itu ke sini. Jadi begini,” si ayam mendehem sebentar. Ia mengepakkan sayapnya tiga kali, membenahi posisi berdirinya, lalu meneruskan, “dia seorang penyair. Kau pasti tahu itu kan? Sekitar tiga tahun yang lalu, ia pernah dikirim oleh Dewan Kesenian Jawa Timur untuk menghadiri temu sastrawan di sana. Semua biaya ditanggung. Selain itu, ia juga mendapat uang saku yang cukup banyak. Ini akan ada hubungannya denganmu.”

“Ada hubungannya denganku? Apa maksudmu?”

“Dengan uang saku yang ia dapat, ia melamar perempuan itu.”

“Siti?”

“Siti.”

“Oh.”

“Kenapa?”

“Kukira mereka kawin lari.”

“Mereka memang kawin lari.”

“Apa maksudmu? Bukankah katamu ia melamar Siti. Lalu kenapa mereka kawin lari?”

“Lamarannya ditolak. Mereka beda agama. Masa kau tidak tahu itu? Dan karena ditolak itulah, mereka kawin lari. Uang yang sedianya untuk beli peningset itu yang mereka gunakan untuk lari dan mengontrak rumah di tepi kali itu.”

“Begitu?”

“Begitulah. Dan kau sudah tahu apa yang kemudian terjadi.”

Ia memang tahu apa yang kemudian terjadi. Sejak suatu sore tiga tahun yang lalu, hari kedua kepindahan pasangan muda tersebut, ia tahu hampir semua yang terjadi atas mereka. Ia sedang mengintai seekor kodok yang tengah bersantai di pinggir kali sewaktu Siti hendak membuang sampah. Setengah tubuhnya tersembunyi di balik gerumbul semak. Namun ekornya yang panjang menjulur tak terlindung. Jarak mereka tidak begitu jauh, sekitar dua puluh meter. Cahaya matahari sore menimpa sisik-sisik gelapnya. Takdir menumbukkan padangan mata Siti ke ekornya.

“Buaya… buaya…” Siti berteriak seraya menjatuhkan keranjang sampahnya dan berlari balik ke rumah petak kontrakannya. Ia terkejut mendengar teriakan itu dan melesat nyemplung ke dalam kali. Si kodok juga terkejut dan melompat entah ke mana. Tak lama kemudian, seorang laki-laki keluar dari rumah, dengan Siti yang mukanya sepucat mayat mengikuti dan mengintip dari balik bahu.

“Di mana buayanya?” lelaki itu bertanya.

“Di sana. Tadi aku melihat ekornya. Di sana. Mungkin sudah pergi. Tapi hati-hatilah.”

Si lelaki menggenggam sebilah parang. Dengan mantap, ia berjalan menuju semak-semak. Melempar batu ke sana. Lalu diam sebentar dalam jarak lima meter.

“Kalau memang ada buaya, pasti ia sudah keluar,” kata si lelaki.

“Mungkin batunya kurang besar.”

Si lelaki memungut batu yang lebih besar. Lalu melemparkannya ke gerumbul semak.

“Tidak ada,” kata si lelaki. Lalu ia berjalan semakin mendekati gerumbul itu. Dan dengan parangnya, ia tebasi gerumbul itu.

“Tidak ada apa-apa.”

“Tapi aku bersumpah.”

“Mungkin kau hanya salah lihat.”

Ia mengamati adegan itu dengan sepasang mata kecilnya dari bawah permukaan air yang coklat. Itulah saat ia merasa darahnya yang dingin berubah hangat. Ia lupa akan dirinya, akan bahaya yang mengancamnya. Ia berenang ke tepian yang baru saja ia tinggalkan. Seperti ada magnet yang menariknya. Dan ia tahu, perempuan itulah magnet tersebut. Si lelaki sudah membalikkan badan dan mulai melangkah menuju rumah kontraknya ketika ia sampai di tepian. Siti berjalan mengikuti lelaki itu, namun sebelum memasuki halaman rumah, Siti menoleh. Pandangan mereka bertemu. Siti kembali menjerit. Dan ia merasa tubuhnya kaku.

Si lelaki menoleh. Lantas tertawa kencang. “Itu biawak. Bukan buaya. Sama sekali tidak berbahaya,” kata si lelaki di sela-sela tawa.

Sejak itu, satu-satunya hal yang ia ingini adalah melihat si perempuan yang di kemudian hari, dari bagaimana si lelaki memanggil, ia ketahui bernama Siti. Semakin dekat semakin baik. Dan dalam rangka itulah ia kerap menyelinap di antara tumpukan sampah tak jauh dari rumah petak tersebut, kadangkala ia mendekam di antara potongan kayu dan tong-tong yang berada di samping rumah. Namun yang paling ia sukai adalah berada di kolong tempat tidur pasangan baru tersebut.

Beberapa kali Siti memergokinya. Ia gembira ketika tahu bahwa Siti mengetahui kehadirannya. Namun tidak dengan Siti. Perempuan itu selalu berteriak. Dan si lelaki akan segera datang untuk mengusirnya.

“Usir yang jauh supaya dia tidak kembali lagi,” begitu selalu yang dikatakan Siti.

“Jangan takut. Nanti aku akan menangkapnya. Daging biawak enak kalau dimasak rica-rica.”

“Ih… jangan begitu. Menjijikkan.”

Namun si lelaki tak pernah berhasil menangkapnya. Ia terlalu gesit. Sekali waktu, ia hampir tertangkap. Si lelaki bahkan berhasil menyabetkan parang yang merobek punggungnya. Namun ia segera berlari. Kesakitan yang ia rasakan memberi semacam kekuatan ekstra yang tak ia duga sebelumnya. Setelah kejadian itu, ia menjadi lebih berhati-hati.

Namun dua minggu yang lalu, ia memutuskan untuk menyerahkan dirinya. Dan untuk keputusan paling penting dalam keseluruhan takdirnya itu, ia berhutang kepada seekor kodok yang sedianya bakal menjadi menu makan siangnya. Seekor kodok petapa, pikirnya, dan karenanya, telah memperoleh pencerahan yang tidak didapat oleh kebanyakan makhluk. Kodok itu, tanpa ia tahu bagaimana, mengerti bahasanya.

“Aku lebih suka menjadi santapanmu ketimbang mati karena usia tua dan membusuk dalam tanah,” kata si kodok. “Dengan menjadi santapanmu, aku tidak benar-benar mati. Aku akan meneruskan hidupku, hanya saja dalam semesta tubuhmu, menjadi bagian dari dirimu.”

Itu adalah hari ketiga ia tersiksa dalam nelangsa yang tidak karuan besarnya. Itu adalah hari ketiga ia mengetahui bahwa Siti telah meninggalkan si lelaki setelah sebuah pertengkaran atas hal yang sama, namun telah mencapai puncaknya. Ia berada di kolong ranjang ketika pertengkaran tersebut terjadi. Dan karenanya, ia tahu detil-detilnya.

“Kita ini kualat. Karena itu rezeki kita seret. Aku lapar. Dan kita terancam jadi gelandangan kalau tidak bisa membayar kontrakan bulan depan,” rintih Siti terbata, di antara isak tangis yang sedemikian pilu.

“Sabarlah. Aku yakin sebentar lagi tulisanku akan ada yang terbit. Dan itu berarti kita akan dapat honor.”

“Seberapa besar honormu? Tidak. Kau tahu, bukan karena tulisanmu jelek sehingga jarang ada yang mau memuatnya. Tapi karena kualat. Kita sudah melawan orangtua kita. Kita ini durhaka. Ini hukuman.”

“Ada apa denganmu? Kau dulu tidak pernah berkata seperti ini.”

“Dulu aku belum tahu kalau kita akan kualat.”

Keesokan paginya, Siti meninggalkan rumah itu sebelum si lelaki bangun. Pergi untuk selama-lamanya. Dan ia tahu, ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Siti kalau ia tidak melakukan sesuatu. Ucapan si kodoklah yang membuatnya keluar dari persembunyiannya, menampakkan diri pada si lelaki, dan membiarkan lelaki lapar itu menebas kepalanya, lalu mengulitinya, memotong-motong dagingnya, memasaknya, lalu memangsanya.

Dan seperti yang dikatakan si kodok, ia ternyata tidak benar-benar mati. Ia hanya berpindah semesta. Meneruskan hidup dalam diri si lelaki. Dan bertemu serta berkenalan dengan banyak makhluk yang juga meneruskan hidup dalam diri si lelaki.

Ia berharap si lelaki akan menyusul Siti dan membujuknya, dan mereka akan kembali hidup bersama, lalu berbahagia selama-lamanya. Namun ucapan si ayam jago muda membuat semangatnya menyusut.

“Kau tahu apa yang membuat hubungan mereka tidak direstui?”

Ia menggeleng.

“Mereka beda agama. Dan secinta-cintanya mereka satu sama lain, keimanan mereka jauh lebih kuat. Mereka memang bukan orang saleh dan karenanya kau tak akan mendapatkan mereka tengah beribadah. Kekurang salehan mereka, selain cinta tentu saja, yang menyebabkan mereka memutuskan kawin lari. Namun toh, tetap saja, tak ada yang mau mengalah dengan berpindah agama. Mereka pikir itu bukan kendala yang berarti. Dan sekarang kau tahu, yang menjadi kendala adalah kelaparan. Uang. Dan aku yakin, bila ia menyusul Siti, orang tua Siti hanya akan memberi dua pilihan: berpisah atau ia pindah agama.”

“Kemungkinan mana yang lebih besar?”

“Berpisah.”

Tapi si lelaki, ternyata, tak pernah menyusul Siti. Tak pernah. Dan ia, yang merasa pengorbanannya sia-sia, hanya bisa merutuki si lelaki: lelaki terkutuk ini tidak pernah benar-benar mencintai Siti. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

Continue Reading

Cerpen

Ziarah Bit

mm

Published

on

Apa yang akan mereka lakukan bila sungguh-sungguh ketemu? Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore, membeli es krim di Taman Bungkul, atau menyesap kopi di Kafe Cakcuk. Atau mungkin juga mereka akan memutuskan untuk menghabiskan waktu di H20, memilih sebuah meja dan duduk berseberangan, lalu saling diam, saling memandang, tangan mereka bertaut di atas meja, dan penjaga berkacamata akan berkali-kali melirik untuk memastikan mereka tidak melakukan perbuatan mesum. Mereka memang tidak akan berbuat mesum. Tidak. Dari semua kemungkinan yang bisa terjadi, berbuat mesum tidak termasuk di dalamnya. Salah satu dari mereka mungkin akan beranjak ke rak terdekat setelah berpandangan sepuluh detik dan mulai merasa rikuh, mengambil satu buku puisi secara acak, membuka halaman juga secara acak, dan melisankan puisi apa pun yang terpacak di dalamnya lirih-lirih. Setelah itu mereka tertawa tertahan.

“Puisi ini lebih bagus dari puisi Suyitno,” demikian Bit barangkali akan berkata.

“Tapi tidak ada puisi yang lebih penting ketimbang puisi Suyitno,” Aliya menanggapi.

Dan mereka kembali tertawa.

Dunia memang penuh perdebatan, pertentangan, perbedaan, ketidaksetujuan dari satu pihak kepada pihak lain atas satu hal. Agama, politik, penggusuran, drama korea, Tere Liye, Kusala Sastra Khatulistiwa, Jerusalem, tingkat kepahitan kopi, cara menyuguhkan bubur ayam, definisi soto, dan banyak lagi. Namun semua, tidak bisa tidak, akan bersepakat bahwa puisi Suyitno, seseorang yang satu-satunya cita-citanya adalah menjadi penyair namun jelas-jelas tak memiliki kemampuan untuk itu, adalah puisi yang buruk. Buruk sekali, malah. Demi Tuhan, salah satu berkah terbesar yang merungkupi Suyitno adalah ia hidup di zaman media sosial telah melebarkan sayap dan menancapkan cakar-cakarnya sedemikian rupa hingga lelaki ceking dengan kumis melintang dan rambut abu-abu itu sanggup mengumumkan puisi-puisi ciptaannya ke khalayak. Bebas. Tanpa mesti melewati tatapan bengis mata redaktur yang senantiasa dicurigai keobyektifan dan kapasitas keilmuannya. Bertahun-tahun sebelumnya, mati-matian Suyitno mengirim ratusan, kalau tidak ribuan, puisi ke koran-koran dan majalah-majalah, mulai dari yang dianggap memiliki wibawa dan pengaruh dalam bidang kesusatraan hingga yang acak adut dan sama sekali tidak masuk radar halaman bermutu. Dan tak satu pun yang dimuat. Ia juga tak kapok-kapok mengirim manuskrip puisi, yang dilambari pengantar muluk-muluk yang ia tulis sendiri, ke penerbit. Dan tak satu pun penerbit yang membalas kirimannya. Media sosial membuatnya mungkin melakukan apa yang dulu tidak mungkin ia lakukan. Dan dengan kegirangan yang luar biasa, ia mengumumkan siapa dirinya: aku penyair!

Di bawah kuasa ilusi bahwa puisi-puisi yang dihasilkannya adalah puisi-puisi paling adiluhung yang pernah diproduksi manusia sepanjang peradaban, seperti kebanyakan – atau kalau tidak, semua – penyair, Suyitno merasa ia memiliki tanggungjawab untuk memaksa orang lain membaca puisi-puisinya. Tak lega dengan mengunggah puisi-puisinya belaka (khususnya dan terutama di Facebook), ia juga menandai akun-akun orang lain dalam unggahannya. Dan untuk kerja kerasnya, ia setidaknya menuai lima tanda suka dan nol komentar dari empat puluh tanda paksaannya. Itu sudah cukup membuatnya tersenyum puas.

Tak ada pola khusus mengenai bagaimana Suyitno menentukan akun-akun siapa yang akan ia tandai. Dalam seminggu, kadang satu akun ia tandai lima kali, kadang satu kali, dan kadang tidak sama sekali. Dengan lima ribu akun yang berteman dengannya, ia memiliki banyak komposisi kemungkinan. Pada akhir September 2017, murni ketidaksengajaan, ia menandai Bit dan Aliya dalam penandaan yang sama atas puisi singkatnya. Berteman di Facebook, itu judul puisinya. Isinya singkat belaka, hanya dua baris: sejak aku mengenalmu/aku bertambah teman.

Bit dan Aliya bukan orang yang suka puisi. Apalagi pembaca puisi yang baik. Apalagi mengerti teori-teori dalam dunia perpuisian. Namun tak urung, mereka tertawa ngakak sehabis membaca puisi Suyitno. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia dan pernah mengenyam Sekolah Dasar, mereka pernah membaca beberapa puisi Chairil Anwar, Rendra, dan Toto Sudarto Bachtiar. Dan tentu saja puisi-puisi mereka tidak bisa dibandingkan dengan puisi Suyitno. Dan puisi dari ketiga penyair itu, setidaknya, memberi Bit dan Aliya dasar seperti apa puisi itu sebenarnya.

Bit punya waktu berlimpah. Umurnya dua puluh lima dan orangtuanya memperlakukannya laiknya porselen yang gampang retak. Kakaknya meninggal diseruduk motor yang dikendarai pemuda mabuk pada usia sepuluh tahun. Sejak itu, Bit menjadi anak tunggal. Trauma mendalam yang mendera orangtuanya menyebabkan mereka begitu protektif terhadap Bit. Bit, yang berselisih usia lima tahun dari kakaknya, tumbuh dalam begitu banyak larangan. Jangan menyeberang jalan sembarangan. Jangan bermain dengan anak itu.  Jangan lari-larian. Jangan bermain lumpur. Jangan hujan-hujan. Jangan jajan permen. Jangan pulang sekolah telat. Jangan naik sepeda pancal. Jangan lupa pakai sandal. Jangan memanjat pohon. Jangan menyentuh beling. Jangan pergi ke ujung gang. Jangan sampai tisunya ketinggalan. Jangan pakai kaos kaki ungu. Jangan petak umpet, cuma bikin capek. Jangan ikut kasti, nanti kakimu patah. Jangan ini. Jangan itu. Pada akhirnya, tanpa disadari, Bit telah menjelma pemuda tanpa keberanian melakukan apa pun. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di dalam rumah bila tidak ada sesuatu yang memaksanya untuk beraktivitas di luaran. Ia juga cenderung kesulitan dalam pergaulan sosial secara langsung, yang mendorongnya menjauh dari kehidupan sosial semacam itu. Ia, praktis, tak pernah memiliki teman, apalagi teman dekat. Dan orangtuanya, yang masih dihantui tragedi kematian anak sulungnya, menganggap itu yang terbaik bagi Bit. Sebagai kompensasi dari tindak protektif mereka, mereka menyediakan apa pun yang berpotensi membuat Bit nyaman dan krasan di rumah. Mulai dari konsol game hingga akhirnya gawai-gawai termutakhir dengan koneksi internet yang lajak. Selepas kuliah, Bit yang tidak kunjung mendapat pekerjaan menghabiskan waktu dengan berselancar di media sosial. Lalu ia, pada suatu hari, menerima permintaan pertemanan dari Suyitno di Facebook. Dan akhir September itu, ia ditandai dalam sebuah kiriman puisi yang menyedihkan. Keberlimpahan waktu yang dimiliki Bit lah yang menyebabkan pemuda itu secara iseng mengklik tanda reaksi tawa, satu-satunya reaksi yang didapat puisi Suyitno tersebut, dan mendapati nama akun Aliya.

Bit yakin ia jatuh cinta pada saat itu. Gambar profil Aliya menampilkan sosok gadis ideal masa kini: kulit putih, hidung mancung, bibir tipis segar, mata sipit, rambut lurus sepunggung, dan tubuh langsing semampai. Bit mengklik akun itu dan mulai berjalan-jalan di linimasa Aliya. Bit tidak mendapat banyak info dari keterangan akun. Hanya bahwa Aliya tinggal di Surabaya. Di unggahan foto Aliya dan keterangan yang menyertai foto tersebut, Bit mendapat gambaran bagaimana suasana kafe Cakcuk atau bagaimana rak-rak buku berderet-deret di perpustakaan H20. Itu semua adalah tempat-tempat yang asing bagi Bit meski sepanjang hayatnya hingga saat itu ia tinggal di Surabaya.

Dengan gelegak aneh di kedalaman dadanya, Bit menjelajahi waktu yang membeku di linimasa Aliya. Sebelumnya, tentu saja, ia mengajukan permintaan pertemanan. Untung saja akun Aliya diatur publik hingga ia tidak perlu menunggu permintaan pertemanannya disetujui untuk segera memulai perjalanannya membongkar jejak-jejak arkeologis kehidupan Aliya.

“Ia punya banyak teman,” batin Bit setelah beberapa saat. Ia menemukan ratusan reaksi dan komentar yang didapat Aliya dari setiap unggahannya, dan ratusan foto-foto yang menandakan betapa perempuan itu suka dan acap jalan-jalan serta kumpul-kumpul dengan banyak orang. Bit juga kerap bercanda dengan teman-teman media sosialnya, namun itu terbatas di media sosial. Dari tiga ribu teman Facebook-nya – dua ratus di antaranya cukup sering berinteraksi dengannya – ia belum pernah ngopi darat dengan mereka dan ngobrol bertatap muka secara langsung. Ia terlalu pemalu. Beberapa teman mayanya yang berdomisili di Surabaya pernah mengajaknya kopi darat. Namun Bit tak pernah menanggapi permintaan itu. Bukannya tidak ingin, namun ia hanya gentar. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana bila pertemuan langsung itu terjadi. Ia juga tak tahu apa yang akan mereka bicarakan nantinya. Facebook dan platform media sosial lainnya telah menyelamatkannya dari kegagapan semacam itu, namun tak pernah benar-benar membantu menyelesaikan semua masalahnya. Hal pertama yang terlintas di benaknya setiap kali mendapatkan ajakan untuk kopi darat adalah pengalaman-pengalamannya selama sekolah atau kuliah, di mana ia senantiasa menghabiskan waktu sendirian di sudut kelas dan memandang teman-temannya saling bercanda. Beberapa kali ada teman yang mencoba mengajaknya bercakap, namun secara reflek, ia melindungi diri dengan cara membungkam; hanya mengangguk atau menggeleng.

Empat menit setelah mengklik akun Aliya untuk pertama kalinya, Bit merasakan dorongan untuk mengirim pesan pribadi ke kotak pesan Aliya. Namun dengan segera ia mendapati bahwa ia tak tahu apa yang akan ia tulis. Ia tugur. Lalu ia meneruskan menjelajahi linimasa Aliya. Tiga jam setelah permintaan pertemannya terkirim, Aliya menyetujuinya. Dan sepuluh detik kemudian, Aliya memperbaharui statusnya. Siap-siap kopi darat nih, tulis Aliya. Bit merasakan dadanya panas. Mangkel. Cemburu? Bit tidak tahu.

Bit menunggu. Ia ingin mengomentari status itu. Namun baru satu kata ia tulis, buru-buru ia hapus. Begitu berulang-ulang. Tak ada kata atau kalimat yang layak untuk ditulis di kolom komentar, pikir Bit. Hingga akhirnya Bit membanting dirinya sendiri ke atas kasur. Ia berguling-guling seraya membayangkan apa yang akan mereka lakukan bila mereka benar-benar bertemu. Bertemu sebagai sepasang kekasih. Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore. Atau membeli es krim di Taman Bungkul. Atau membaca buku puisi sambil tertawa-tawa di H20.

Namun khayalan Bit tidak akan pernah terjadi. Tiga jam empat puluh lima menit setelah Aliya memperbaharui statusnya, puluhan kiriman menyesaki dinding akun Aliya. Semuanya muram. Semua menyampaikan pernyataan duka cita. Bit tak percaya apa yang jelas-jelas tersurat dari kiriman-kiriman itu, bahwa Aliya ditemukan dengan leher nyaris putus digorok oleh lelaki yang dikenalnya melalui Facebook pada perjumpaan langsung mereka yang pertama. Beberapa akun memacak foto pembunuh, seorang pemuda sepantaran Bit, dengan cambang dan kumis lebat dan model rambut undercut, yang telah berhasil dibekuk polisi setengah jam setelah kejadian.

Bit mengunggah gambar karangan mawar di dinding akun Aliya. Berulang-ulang setiap hari. Sebuah ziarah yang seakan abadi ke kuburan yang dibangun dengan pondasi algoritma dan bit komputer. Akun Aliya terkesan singun.  Begitu singun. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

 

 

Continue Reading

Cerpen

Samuel Beckett: Molloy

mm

Published

on

Aku ada dikamar Ibu. Sekarang aku memang tinggal di sana. Aku tak tahu, bagaimana aku bisa sampai ke sana. Barangkali dengan ambulans, sejenis kendaraan atau angkutan tertentu. Aku tidak betah. Heran. Aku tak pernah disana sendirian.

Ada seorang laki-laki yang rutin berkunjung setiap minggu. Mungkin aku harus berterima kasih padanya. Dia tidak banyak bicara. Dia memberiku uang dan mengambil berkas-berkas. Lebih banyak berkas, akan lebih banyak uang. Ya, aku bekerja sekarang. Setidak-tidaknya, yang kuangankan, sedikit mirip. Lagi pula aku tidak tahu persis, bagaimana sesungguhnya bekerja itu. Agaknya ini tidak penting.

Apa yang sesungguhnya kuinginkan sekarang adalah membicarakan hal-hal yang telah lewat, mengucapkan selamat tinggal, lalu mengakhiri dengan kematian. Tetapi mereka tak mengiinginkan hal itu terjadi padaku. Ya, kukatakan mereka, karena lebih dari satu—tampaknya begitu. Tetapi, hanya orang itu-itu saja yang datang. Kamu akan bisa mengerjakannya nanti, katanya. Baguslah.

Nyatanya, aku tak akan membiarkan semua ini terus tertinggal. Yaitu ketika dia datang dengan berkas-berkas baru yang ia bawa minggu berikutnya. Mereka sibuk menandai dengan tanda-tanda yang sama sekali tidak kumengerti. Karena itu, aku sengaja tak membacanya. Dan ketika aku tidak mengerjakan apa-apa, mereka tidak memberiku apa-apa. Bahkan mengancamku.

Sebenarnya aku tidak bekerja demi uang. Lalu, untuk apa? Aku tidak tahu. Sungguh, aku tidak tahu banyak. Sebagai contoh, kematian Ibu. Apakah berliau sudah meninggal waktu aku datang? Ataukah beliau meninggal kemudian, yaitu baru meninggal beberapa saat setelah kedatanganku?

Kukira Ibu sudah dimakamkan. Entahlah. Mungkin mereka malah belum menguburkannya. Yang pasti, di sisi lain, aku memiliki kamarnya. Aku tidur di ranjangnya. Aku buang air dan meludah di pispotnya. Aku sudah mengambil alih tempatnya. Barangkali, semakin lama aku semakin mirip dengannya.

Yang lebih kubutuhkan sekarang sebenarnya seorang anak laki-laki. Barangkali suatu saat nanti aku akan memiliki satu. Tapi kupikir tidak. Dia sudah sangat tua sekarang. Hampir setua aku. Dia hanyalah pelayan rendahan. Ini bukan cintaku yang sesungguhnya.

Cinta yang sejati telah kupersembahkan pada orang yang lainnya lagi. Kita akan membicarakannya setelah ini. Namanya? Ah, aku sudah lupa. Dan agaknya, bagi diriku sendiri, kadang-kadang seakan aku merasa begitu mengetahui ihwal anak laki-lakiku tadi. Aku bentul-betul menganguminya. Kemudian aku meyakinkan diriku kalau itu tidak mungkin. Seperti juga tidak mungkinya aku dapat mengagumi orang lain. Aku bahkan sudah lupa, bagaimana mengeja dan memilah kata-kata. Tampaknya ini tidak penting.

Baiklah. Dia adalah kartu ajaib bagiku, yang datang secara khusus untuk menjengukku. Agaknya dia datang hanya setiap hari Minggu. Pada hari-hari yang lain, dia libur. Dia selalu keharusan. Dialah yang membentakku kalau aku mulai mengerjakan sesuatu yang menurutnya salah; dan aku seharusnya mengerjakannya secara berbeda. Mungkin dia benar. Aku harus memuliai dari permulaan lagi; seperti meneliti suatu kesalahan yang usang dan membingunkan—bisakah kalian bayangkan?

Ini permulaan bagiku. Mungkin karena itulah mereka membiarkannya saja.Aku menemui banyak kesulitan. Padahal ini baru permulaan—kalian lihat? Seolah-olah sekarang aku sedang mendekati titik akhir. Apakah yang kukerjakan saat ini jauh lebih baik? Entahlah.

Kota itu tidak jauh. Ada dua orang, mungkin tidak mudah kalian pahami. Yang satu pendek, yang satunya lagi lebih tinggi. Mererka bergerak meninggalkan kota. Mula-mula yang satu, kemudian yang lainnya. Dan kemudian, dengan susah-payah mereka mengingat-ingat semua perbuatan yang telah mereka kerjakan. Udara dingin menusuk tajam, sehingga mereka mengenakan mantel-mantel tebal. Mereka tampak serupa satu sama lain.

Tetapi tak ada lagi yang mereka kerjakan. Pada awalnya jarak yang lebar membentang diantara mereka. Mereka tidak saling melihat. Padahal mereka sudah mencapai keadaan di mana kepala mereka saling berhadapan. Namun, dikarenakan jarak yang lebar, ruang yang lapang, dan kemudian karena tanah yang bergelombang yang menyebabkan jalanan jadi ikut bergelombang—meskipun tidak curam dan terjal tapi cukup berkelok. Tetapi saatnya tiba, ketika mereka berdua tiba di sebuah ruang yang sama dan akhirnya tikungan-tikungan itu bertemu.

Untuk mengatakan bahwa mereka saling memperkenalkan diri, tidak, tidak ada apa pun yang jadi jaminannya. Tetapi, barangkali dari suara langkah-langkah kaki atau ditandai gemerisik uap insting yang samar-samar, mereka saling mendongakkan kepala dan saling menyelidiki satu sama lain, untuk menentukan langkah-langkah yang baik sebelum akhirnya mereka berhenti dan saling berhadapan.

Ya, mereka tidak saling melewati, tetapi mengendap-endap, berhadap-hadapan, mengadu wajah seperti ketika di desa: pada suatu senja di ruas jalan yang sejuk, dua sosok bayang-bayang saling berkelebat, tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Tetapi barangkali saja mereka sudah saling mengenal satu sama lain, mengagumi satu sama lainnya, saling memuji, bahkan setelah mereka sampai ke sudut-sudut kota.

Mereka berjalan memutar, melewati laut yang ada di ujung timur. Jauh dari padang-padang rumput, memanjat cakrawala tinggi dengan menggubah sedikit kata-kata. Kemudian keduanya berjalan ke arah masing-masing. A melintasi kota, B melewati jalanan yang seolah teramat sulit untuk dia mengerti. Atau semuanya.

Selama dia pergi dengan langkah-langkah tak menentu dan terkadang terlalu sering menghentikan langkahnya untuk mengamati apa saja, dia seperti seseorang yang mencoba memperbaiki letak penanda batas-tanah-milik di dalam benaknya. Pada suatu hari, barangkali dia harus berkali-kali membalikkan langkahnya—kalian tak akan pernah tahu kenapa.

Dia tampak tua. Dan dengan pandangan mata penuh penyesalan, ia menekuri kesunyian yang telah ditempuhnya berabad-abad, bertahun-tahun, berhari-hari, dan bermalam-malam tanpa bernah berpikir untuk membiarkan keajaiban-keajaiban itu muncul justru pada hari kelahirannya, atau bahkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Sekarang, perlahan, sebuah bisikan. Sekarang, lebih teliti dari apa yang telah dikerjakan seorang pelayan teladan. Dan selanjutnya? Sesudah itu? Dan sering pula muncul sebagai jeritan. Dan pada akhirnya, aku harus percaya padanya. Aku tahu, tinggal ini kesempatanku. Tinggal ini saja. Aku percaya lagi pada umur panjangku. Dan sekarang aku mengunyah apa saja dengan asyik.

Apa yang kubutuhkan sekarang adalah dongeng-dongeng yang membutuhkan waktu sangat lama untuk memahaminya, dan aku tidak yakin apakah itu ada, memberi informasi padamu, pada kalian, hal-hal tertentu; tentang benda-benda yang kuketahui, tentang hal-hal yang tidak kumengerti. Hal-hal yang begitu menyulitkanku, juga yang tak pernah menyulitkanku.

Apapun bahasanya. Apa pun istilahnya. Aku bahkan telah mempelajari apa profesinya, karena aku tertarik pada keahlian-keahlian. Dan berpikir: aku mencoba mengerjakan yang terbaik untuk tidak bercerita tentang diriku sendiri. Pada suatu ketika aku mungkin akan bercerita tentang ternak-ternak, tentang langit dan apa saja, apabila aku mampu melakukannya.

Aku di sana, kemudian dia meninggalkan aku. Dia tampak terburu-buru. Dia mengembara, seperti yang sudah pernah kukatakan pada kalian; tetapi, setelah tiga menit berbicara denganku, dia tampak terburu-buru. Aku percaya padanya. Dan sekali lagi, aku tak akan menceritakan diriku sendiri. Tidak, itu tidak seperti aku. Tetapi bagaimana aku harus mengatakannya, aku tidak tahu.

Memperbaiki diri sendiri, menyempurnakan diri sendiri, oh tidak. Aku tak akan bisa membiarkan diriku sendiri. Bebas. Ya. Aku tak tahu apa artinya itu, tetapi itulah kata yang kupilih dan kugunakan. Bebas untuk mengerjakan apa saja, bebas untuk tidak melakukan apa-apa, bebas untuk mengetahui—tapi apa? Mungkin hukum-hukum pemikiran; pemikiran-pemikiranmu sendiri yang serupa air mengalir secara proporsional ketika ia memutuskan untuk membasahimu. Dan kalian akan mengerjakan hal-hal yang baik, paling tidak, tidak terlalu buruk untuk menghapus teks-teks, menghilangkan margin-margin, mengisi lubang kata-kata, sampai segalanya menjadi kosong dan datar. Sehingga segala kesibukan yang tampaknya dahsyat, menakutkan dan tak berperasaan atau semacamnya menjadi tak terkatakan, sampai tak ada lagi isu kemiskinan. Jadi aku tak merasa ragu untuk mengerjakan semua yang lebih baik, paling tidak, tidak terlalu buruk, dan tidak menyusahkan diriku sendiri dengan serangkaian observasi tentang segala sesuatu yang akan terjadi nanti.

Aku memiliki cacat untuk dapat membangkitkan semangat orang lain, yaitu orang-orang yang bertongkat. Kemudian bisik-bisikan dan gumam-gumam itu kembali dimulai. Untuk bersunyi sendiri; mengembalikan peranan lebih dari sekadar objek-objek.

Kemudian, aku masih hidup. Mungkin kehadiranku masih berguna. Mahkota dan pakaian kebesaran kupandang sebagai sesuatu yang belum layak kubicarakan sekarang, karena masih terlalu dini. Tanpa ragu-ragu aku akan membicarakannya nanti, jika sudah tiba saatnya untuk membicarakan penemuan kebaikan-kebaikan serta harapan-harapan milikku. Jika tidak, aku akan merelakannya hilang, terselip di antara hari-hari sekarang dan nanti. Tetapi, bahkan ketika semua itu hilang, mereka tetap akan mendapat tempat, di dalam daftar semua barang kesayanganku. Tetapi, mudah bagi ingatanku; tidak seharusnya aku menghilangkannya. Seperti tongkat setiaku, yang tidak seharusnya kuhilangkan juga.

Barangkali sekarang aku sedang berada di puncak atau di lereng, di antara orang-orang penting dan terkenal, demi orang lain. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku dapat melihat begitu jauh, begitu dekat di tangan, begitu banyak hal yang tetap dan yang berpindah-pindah. Tetapi, apa yang akan dilakukan seseorang yang sudah sangat terkenal di tempat yang hampir-hampir tak beriak ini? Dan aku, apa yang kukerjakan di sini, dan kenapa mesti datang?

Ada banyak hal yang mesti kita coba dan temukan. Tetapi ada hal-hal tertentu yang tidak seharusnya kita pikirkan dengan serius. Ada sebagian dari segala sesuatu yang secara penampakan wajud lahirnya memiliki cacat tersendiri. Dan pada suatu ketika aku mungkin menjadi bingung oleh kontrasnya perbedaan-perbedaan itu. Tetapi pertentangan-pertentangan adalah tempat kediamanku. (*)

_______________________

*) Samuel Beckett: Peraih Nobel Prize for Literature 1969. Lahir di Dublin, Irlandia tahun 1906 dan meninggal tahun 1989 di Paris, Prancis. Beckett dianggap sebagai salah satu pengarang abad ke-20 yang paling inovatif dan berpengaruh. Hal ini berangkat dari keyakinannya, yang lalu membekas dalam karya-karyanya, bahwa hidup manusia adalah absurd, tidak jelas, keras, dan akhirnya tidak memiliki tujuan. Secara pribadi, ia gigih menyuarakan metafora-metafora tentang malaise moral manusia.

Beckett terutama dikenal sebagai penulis drama, tetapi ia juga menulis novel dan puisi. Ia telah menulis enam novel, empat naskah drama serta lusinan framen yang lebih pendek, selain sebuah esai dan satu kumpulan puisi. Tetapi yang membuat namanya dikenal adalah karya drama Waiting for Godot (1952) yang disebut-sebut sebagai drama paling penting dalam abad ke-20.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Keusastraan pada Beckett sebagai pengakuan: “…..untuk karangan-karangannya yang dalam serta mengungkap kekurangan manusia modern, mendapatkan tempat yang luhur lewat bentuk novel dan drama gaya baru…..

Beckett adalah sastrawan kedua Irlandia (Setelah William Butler Yeats tahun 1923) yang memperoleh penghargaan tersebut. Atau sastrawan ketiga setelah George Benard Shaw (tahun 1925) yang kemudian hijrah dan menjadi warga negara Inggris.

**) Penerjemah: Endang Susanti R.A.

 

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending