Connect with us
Seorang Penyair dan Musafir Karbitan Seorang Penyair dan Musafir Karbitan

Cerpen

Seorang Penyair dan Musafir Karbitan

mm

Published

on

Bertahun-tahun nanti, seseorang sungguh-sungguh mencari penyair itu dan ingin bertemu dengannya lagi. Tapi saat ini, ia lebih tenang berpikir bahwa kepergiannya tak akan dicari oleh siapapun. Langkahnya gontai mengimbangi tubuhnya yang kurus berlapis baju panjang semata kaki yang membuatnya terlihat seperti dewa kehilangan penyembahnya, menyedihkan. Ia memandangi langit yang merubuhkan gelap sambil menahan wajahnya dari sapuan angin yang terus-terusan berembus. Janggutnya yang agak lebat berkibar-kibar pelan dan matanya terpaksa dipejamkan. Ia menengok ke belakang, ke arah selatan, seperti sedang memastikan seberapa jauh jalan yang sudah ia tempuh. Anak-anak rumput yang tumbuh berjarak dan batu-batu yang merebah sepanjang pandangan mata adalah jawaban bahwa ia sudah seharusnya bisa melupakan segala yang terjadi di belakangnya.

Ia duduk di atas batu besardi bawah pohon. Sebuah kantong kecil yang ia selendangkan di pundaknya diturunkan dan diletakkan di tanah.Dari arah timur, seorang laki-laki dengan tubuh bungkuk dan rambut tipis di kepalanya yang bulat, mendekat. Di hadapan si penyair, laki-laki itu membungkuk memberi hormat.

“Kiranya Tuan sedang beristirahat, bolehkah aku ikut duduk di samping Tuan?”

Si penyair menggeser tubuhnya dan laki-laki bungkuk itu duduk di sebelahnya. Keduanya memandang lurus ke depan, ke arah pertemuan langit dan ujung daratan yang tak terlihat. Laki-laki bungkuk itu menoleh dengan wajahnya yang putih dan jenaka.

“Tuan sedang menuju kemana?”

Setiap bicara, pipinya yang gemuk terlihat seperti karet yang ditarik-tarik. Si penyair hanya menjawab, “Utara.”

Laki-laki itu mengangguk-ngangguk. “Betapa luas daratan di Utara,” katanya sambil memandang ke Utara.

“Almaria. Aku.. menuju Almaria,” si laki-laki mendengarkan dengan seksama dan menyadari bahwa gaya bicara si penyair selalu diselingi jeda setelah beberapa kata seakan memikirkan kata yang harus ia lontarkan berikutnya.

“Ah,” dianggukkannya lagi kepalanya dengan lebih pelan, “kota yang indah dan sepi.”

Penyair itu tidak menggubris penilaiannya. Ia sudah tahu seperti apa tempat yang ia tuju. “Tuan dari.. timur?”

“Ya, benar sekali,” jawab si laki-laki bungkuk sambil menepuk-nepuk pahanya yang dihinggapi debu dari deburan angin yang terus-terusan berembus. “Menuju Barat. Lantes,” tambahnya lagi.

“Kota yang makmur,” si penyair tersenyum pada laki-laki itu.

Langit semakin tidak menampakkan secuil pun celah untuk matahari padahal hari masih siang. Angin masih terus merengek manja tanpa henti, meniup-niup rumput-rumput kecil di sepanjang daratan berbatu itu. Dan kemudian, seperti remah-remah roti yang dilemparkan burung-burung, hujan turun disertai kilat-kilat yang menyalak di balik himpitan awan gelap.

Kedua laki-laki itu mengangkat kepalanya ke langit dan segera sadar bahwa mereka tidak bisa terus duduk di sana. Hujan deras mengguyur lebih cepat dari dugaan. Si penyair, diikuti laki-laki bungkuk itu, lari menuju reruntuhan kota yang sudah tak berpenghuni, beberapa meter dari tempat mereka duduk.

Mereka berteduh di bawah atap sebuah rumah yang warna catnya sudah tidak jelas dan ada gambar pedang di dindingnya. Mungkin dulunya gudang atau toko senjata. Langit semakin gelap dan hujan juga semakin ganas. Kilat sudah berganti menjadi gemuruh yang menggelegar seolah membangunkan seluruh negeri di daratan Kimera.

“Tampaknya badai hanya hitungan menit lagi,” ujar si laki-laki bungkuk sambil mencoba peruntungannya mencoba engsel pintu yang sudah tidak bekerja lagi. Kakinya menendang-nendang bagian bawah pintu berwarna jerami. Si penyair ikut menendang-nendang pintu itu dan akhirnya pintu itu terbuka.

“Ah,” wajah si laki-laki bungkuk terlihat senang dan kepalanya dianggukkan lagi.

Di dalam ruangan sangat gelap. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah jendela berbentuk segi empatyang harus dibuka dengan mendorongnya. Karena agak keras untuk didorong dengan tangan, mereka melakukannya dengan sebilah kayudari sebuah lemari besar berwarna cokelat. Di dalam lemari itu, apabila pintunya digeser ke kiri, ada beberapa bilah kayu yang sudah hampir lapuk.

Mereka duduk bersandar di dua tembok yang berhadapan. Petir makin garang menyambar dan daun jendela terus terbuka tertutup dengan suara kencang seperti ditampar-tampar. Suasana tidak terlalu nyaman, tapi bangunan itu adalah satu-satunyatempat berteduh yang aman karena itu satu-satunya bangunan beratap di sana. Tempat lain hanya berupa tembok-tembok yang hancur.

Sadar bahwa ia akan menghabiskan malam di sana, bersama seseorang yang baru ia kenal, laki-laki bungkuk mencoba membuka diri. Ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berwarna cokelat dari sakunya. “Tuan, sekiranya Tuan lapar, aku masih memiliki sisa roti yang cukup untuk kita bagi berdua malam ini.”

Didekatinya si penyair dan dibaginya roti itu. Si penyair berterima kasih. Ia gantian merogoh kantong kecilnya dan mengeluarkan sebuah botol.

“Aku pun masih.. menyimpan persediaan walaupun.. maaf, Tuan, hanya arak.”

Wajah laki-laki bungkuk itu tampak sumringah, karena arak itu dan karena orang asing itu mau membuka diri juga. “Udara badai dan kita punya arak. Apalagi yang harus kita khawatirkan?” kata si bungkuk sambil setengah tertawa saat si penyair meletakkan botol araknya di tengah ruangan.

Sore sudah hampir habis ditelan malam yang terasa lebih gesit dari biasanya. Ruangan itu menjadi lebih gelap lagi, dan saat malam tiba, ruangan itu semakin menumpuk gulita.Di luar badai sudah berembus kencang. Mereka masih saling duduk berseberangan, memeluk kakinya masing-masing untuk menahan dingin yang terasa berputar-putar di ruangan yang hanya terisi sedikit obrolan.

Setelah menghabiskan rotinya, si penyair membuka botol arak dan meminumnya seteguk. Diberikannya botol itu pada si laki-laki bungkuk lalu ia meminumnya seteguk. Mereka duduk semakin dekat agar mudah mengoper botol. Seteguk demi seteguk, obrolan-obrolan mulai mengalir diantar oleh kepala yang mulai mabuk dan ruangan terasa lebih hangat.

“Tuan, kau berjalan dari mana? Selatan?”

“Ya, dari Samduga. Dan.. kukira kau cukup memangilku.. Amar,” jawab si penyair.

“Ah, Amar,” laki-laki itu mengangguk lagi, “kalau begitu, namaku Turas. Kau pasti seniman.”

Penyair itu tersenyum dan memang Samduga adalah kota para seniman. Pelukis, penulis, penyair, banyak yang berasal dari sana. Kalaupun ada seorang seniman yang bukan dari Samduga, ia pasti pernah menetap di Samduga.

“Apa yang hendak kau cari di Almaria?”

Amar berkata dengan gagap seperti ragu-ragu untuk mengatakan, “Tidak.. ada.”

Wajah laki-laki bungkuk itu jelas terlihat bingung tapi ia tidak berani untuk menanyakan lebih. Dan tanpa harus ditanya pun, Amar melanjutkan perkataannya.

“Aku.. tidak mencari apa-apa. Dan sebaiknya.. juga.. tidak menemukan apa-apa,” ia berkata sambil meneguk lagi arak dari botol.

Laki-laki itu masih terdiam. “Ya,” ia tertawa sedikit, “kautahu, aku hanya orang yang tak pernah mengerti seni.” Ia terkekeh. Amar mengerti bahwa laki-laki ini menginginkan penjelasan lebih.

“Tuan.. Maaf, Turas, aku sedang dalam perjalanan.. meninggalkan.. melupakan Samduga,” ia berkata sambil menggerak-gerakkan tangannya di udara, memutar-mutar telapak tangan kanannya.

“Oh, tentu kuyakin ada hal yang berat untuk kepergian yang berat ini,” Turas menaruh botol arak di tengah ruangan lagi setelah meneguknya sedikit. Ia tidak ingin mabuk terlalu berat dulu untuk pembicaraan yang mulai terbangun ini.

“Ya,” Amar malu-malu untuk mengatakannya, “aku meninggalkan.. Samduga.. untuk melupakan cinta.”

“Ah,” Turas menyela sambil, seperti biasa, menganggukkan kepala. “Samduga memang tak pernah kehabisan wanita cantik untuk para seniman itu,” ia berujar dan tertawa sambil merentangkan tangannya lebar-lebar. Sesuatu yang kemudian ia sesali lalu ia meminta maaf.

“Tidak apa.. Tidak apa-apa. Kau benar.. Turas. Wanita ini sangat.. cantik. Tercantik di Samduga.”

Dari mata Amar yang berbinar mengisahkannya, Turas tahu betapa dalam cinta penyair itu.

“Lalu? Apa yang terjadi, temanku?”

Amar bercerita tentang bagaimana ia sangat mencintai wanita itu. Sebagai penyair, ia merangkai beberapa puisi untuknya, namun wanita ini menolaknya. Ia lebih mencintai seorang pelukis berkulit kuning halus seperti kain sutera dan bermata sebening keramik Mongolia.

Amar kecewa dan sakit hatinya. Di saat itu, secercah harapan sempat tumbuh. Laki-laki itu mati dibunuh oleh seseorang dalam perjalanan. Amar sedih melihat sang wanita meratapi kematian kekasihnya, tapi bahagia untuk kemungkinan mekar cintanya.

Sang wanita terus-terusan meratapi luka dan tak lama, membunuh dirinya sendiri karena tak kuat hidup tanpa orang yang dicintainya. Sakit hati Amar bertambah. Bukan hanya dicampakkan, ia juga harus melihat pengorbanan cinta sang wanita yang begitu besar pada kekasihnya.

“Tak ada hati yang lebih patah, Turas.. daripada melihat ia mati.. menyusul cintanya.. yang bukan aku,” ujarnya seraya diteguknya lagi sebuah tegukan besar dari botol arak.

Mata Amar yang hitam terasa makin tak bercahaya setelah mengutarakan cerita ini. Kata-kata yang semula lancar pun seperti kembali dalam kepala dan hatinya, mungkin menunggu waktu untuk kemudian dituliskannya menjadi sebuah aksara berbalut air mata lainnya. Tapi tidak malam ini.

Di hadapan Amar yang merenung, seperti yang ia lihat saat penyair itu duduk di atas batu besar perbatasan, Turas sadar bahwa ia harus membuat keadaan seimbang lagi dengan bercerita juga. Jadi diceritakannya hari-hari di Lantes yang selalu terisi dengan pelajaran-pelajaran dari macam-macam ahli.

“Aku adalah adik dari Pangerang Razam yang..”

“Oh!” Amar memotong dengan suara keras, “seharusnya aku tak bersikap lancang dan tetap memanggilmu ‘Tuan’!”

“Tidak, tidak. Tidak perlu. Ya, sejujurnya, aku hanyalah adik angkat. Dan lagipula kita telah berbagi roti dan arak, mengapa tidak menganggapku teman saja.”

Turas tersenyum ramah. Matanya mengecil sampai terlihat seperti lubang kunci. Ia meneruskan ceritanya.

“Paduka Raja, ayah Pangeran Razam, mengangkatku menjadi anaknya setelah ayahku mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan raja saat terjadi perang dua puluh tahun yang lalu. Kau tentu pernah mendengar soal perang itu.”

Amar tentu tahu soal perang itu seperti juga semua penduduk di daratan Kimera. Empat kerajaan berperang merebutkan wilayah dan kini hanya tersisa dua dari mereka, Lantes dan Dumaka. Keduanya membuat perjanjian damai dan berjanji untuk mengupayakan kemakmuran di seluruh negeri Kimera. Setelah itu, peradaban terbangun dengan lebih baik. Seluruh negeri bertukar ilmu dan kesenian, juga barang dagangan. Pembangunan negeri-negeri kecil melesat dengan cepat dan seluruh penduduk berbahagia.

“Pangeran memiliki tiga adik kandung yang dapat menggantikan jabatannya jika terjadi apa-apa. Tapi, karena kebaikan raja, aku dijanjikan jabatan penasehat, dengan syarat, aku harus belajar seluruh ilmu, bahkan yang tidak pernah dipelajari oleh raja.”

“Turas, aku memohon maaf atas.. segala kemiskinan budiku. Sungguh,” Amar merendahkan kepalanya seperti bagaimana adat Kimera mengajarkannya jika bertemu dengan orang yang dianggap memiliki ilmu lebih luas. Turas melanjutkan cerita.

“Tapi tidak seperti yang kau bayangkan, Amar, kegiatan mencari ilmu itu,” ujar Turas tertawa. Diminumnya lagi arak yang kemudian diberikan pada Amar sebelum diletakkan kembali.

Badai sudah berhenti dan angin juga mereda tapi mereka seolah tidak peduli. Bahkan meskipun cerita-cerita itu mengalir dari tempat gelap yang hanya diterangi oleh ketidaksempurnaan warna hitam di langit, mereka tetap melanjutkannya.

“Aku menghabiskan hampir seluruh hariku dengan belajar dan membaca buku-buku. Sementara itu, laki-laki lain seusiaku, pangeran dan yang lainnya, sibuk bepergian ke pelosok Kimera. Kau tahu, Amar, setiap mereka kembali, wajah mereka selalu dipenuhi kebanggaan dan kepuasan yang tak pernah kudapatkan. Dan selalu, setiap mereka kembali, ada orang-orang yang menyambut dengan wajah bahagia, seperti sudah lama menyimpan rindu lalu bertemu.”

Amar melihat ke dalam wajah Turas yang bulat dan putih. “Memang.. Kita, laki-laki.. selalu dibuat mederita.. karena ketidaktahuan akan wanita.. dan dunia.”

Turas menganggukkan kepala.

“Bahkan.. sejak manusia pertama diciptakan.. ia kehilangan surganya karena.. tidak ketidaktahuan akan wanita,” Amar melanjutkan, “saat terpencar.. dan saling mencari di atas bumi.. ia tersesat karena ketidaktahuannya.. akan dunia.”

Amar menyandarkan tubuhnya ke dinding dan matanya mengelilingi isi ruangan yang gelap seolah ingin menjemput sebuah cahaya kecil yang mungkin dibawa oleh kunang-kunang yang siapa tahu tersesat. Tapi sia-sia,tidak ada kunang-kunang atau apa pun, hanya gelap di rongga mata.

“Suatu hari aku memutuskan pergi dari Lantesuntuk memulai perjalananku sendiri,” lanjut Turas,“begitu kakiku menginjak tanah di luar wilayah dan paru-paruku dipenuhi udara segar yang asing, aku merasa menemukan kepuasan itu, yang kulihat di wajah para laki-laki.”

Wajahnya tersenyum lebar mengenang kepergian pertamanya. Melihat itu Amar ikut tersenyum. “Aku.. bisa membayangkan.. dan merasakannya.”

“Ya, tapi ketika hari berganti dan tanah yang kuinjak semakin tidak kukenali, aku semakin cemas. Dumaka, kota yang kutuju, tampak terlalu jauh untuk diriku. Ditambah lagi, aku menghabiskan makanan lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Aku menjadi panik dan takut. Belumlah aku melihat gerbang Dumaka, aku memutuskan pulang, dan ya, seperti yang kautahu, kita akhirnya bertemu tadi siang,” Turna mengatakannya sambil tertawa.

Mereka mungkin bisa meyakini pertemuannya sebagai takdir atau apapun saat mereka saling membagi arak hingga kandas dan terlelap di atas lantai yang tanpa alas. Ketika pagi menurunkan tirai cahaya keemasan yang silau, merambat masuk melalui jendela segi empat yang terbuka sepanjang malam, mereka meninggalkan kota itu. Keduanya berpisah di depan reruntuhan tempat mereka masuk. Turas melanjutkan perjalanan pulang ke Lantes dan Amar ke Utara. Turas sempat mengajaknya ikut ke Lantes namun Amar memilih melanjutkan mengikuti kesedihannya sampai ke Utara. Pagi itu udara lebih hangat di sekujur tubuh mereka. Hanya dalam hitungan menit berikutnya, bebatuan dan tanah hanya menjadi semestinya dan reruntuhan kota itu seperti tak punya kisah apa-apa.

Di Lantes, Turas melanjutkan pelajarannya hingga kemudian, saat raja wafat dan Pangeran Razam naik tahta, ia betul-betul diangkat menjadi penasehat. Ia memiliki kekayaan pengetahuan dan keluwesan berbicara. Kakak angkatnya, Sang Raja, memberi penghormatan selayaknya: sebuah kuda nan gagah dan pengawal-pengawal yang menemaninya berkeliling kota. Ia selalu gemar melakukannya.

Ketika raja berulang tahun pun, ia ikut mencari bahan makanan untuk pesta bersama para koki istana. Menyusuri gang-gang dan pasar di Lantes yang ia hafal. Membeli sayuran dari seorang wanita tua, buah-buahan di sudut pasar, dan kambing-kambing pada seorang anak kecil yang berjualan sambil membacakan puisi. Turas memperhatikan puisi yang dibacakan. Betapa sedih puisi itu. Ia menambahkan uang melebihi harga kambing kepada laki-laki itu hingga membuat anak laki-laki itu girang sekali.

Turas meninggal lima tahun kemudian akibat penyakit yang gagal diobati. Sebelum meninggal, ia meminta satu permintaan pada raja sebagai permintaan terakhirnya. Ia meminta agar raja mencari laki-laki bernama Amar, dari Samduga, dan mempertemukan mereka. Raja mengabulkannya. Namun, sampai kematiannya tiba, Amar tidak juga ditemukan. Turas mati dalam kesedihan.

Yang tak pernah Turas tahu, bukan hanya dirinya yang mati dalam kesedihan. Tidak lama setelah berpisah dengan Turas, Amar tiba di Almaria. Di kota yang sepi itu ia semakin teringat pada wanita yang dicintainya. Ia terus menangis dalam kesendiriannya. Puluhan puisi yang lirih tak mengobati seiris pun luka hatinya. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukan pengorbanan yang sama seperti yang dilakukan wanita itu: mengakhiri hidupnya dan menyusul cintanya ke alam baka. Saat itu, baginya, hanya kematianlah yang dapat mewujudkan bentuk paling sempurna atas ketulusan dan kepahitan dalam hatinya.

Amar melompat dari tebing Almaria dan menenggelamkan dirinya di Laut Sehluta. Tidak ada jejak yang tertinggal dari kematiannya selain sebuah puisi terakhir yang ia tulis. Puisi itu begitu sedih, seolah menampung semua kesedihan yang tidak bisa ditampung oleh puisi lain selama ini. Amar memberikan puisi itu ke seorang gembala kecil yang sedang memberi makan kambing-kambing. (*)

*Tentang penulis: Rizaldy Yusuf lahir 21 Oktober 1991. Saat ini bekerja di Jakarta.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Gao Xingjian: Bayangan Kematian

mm

Published

on

Getty Images/ google

Kau tak lagi hidup dalam bayang-bayang orang lain dan tak lagi menganggapnya sebagai musuh khayalan. Kau meninggalkan bayangan itu, berhenti berkhayal dan melamunkan hal-hal aneh, dan kini terpuruk dalam kehampaan yang damai. Kau datang ke dunia dengan telanjang, tiada yang membutuhkanmu dan andaikan kau menginginkan sesuatu, kau tak akan mampu melakukannya. Satu-satunya rasa takutmu hanyalah pada maut yang datang tiba-tiba.

Kau ingat rasa takutmu pada maut berawal di masa kecil. Saat itu rasa takut itu lebih besar dari kini. Kesedihan sepele membuatmu begitu cemas, seolah-olah itu adalah penyakit tak terobati dan saat kau jatuh sakit kau akan mengigau ketakutan.

Kau telah bertahan melalui berbagai penyakit dan bencana yang kau lewati dengan kemujuran. Kehidupan itu sendiri adalah keajaiban yang tak bisa dijelaskan dan hidup di dalamnya adalah perwujudan sebuah keajaiban. Tak cukupkah bahwa sesosok tubuh yang sadar bisa merasakan sakit dan senang dalam hidup ini? Apalagi yang mesti dicari?

Ketakutanmu pada kematian muncul saat kau rapuh jiwa dan raga. Kau merasa sesak dan cemas, khawatir keburu mati sebelum sempat menghela napas berikutnya. Seolah-olah kau terlempar ke dasar jurang, perasaan keterpurukan ini sering muncul dalam mimpi-mimpi masa kecilmu dank au akan terbangun dengan napas terengah-engah, ketakutan. Saat itu ibumu akan membawamuke rumah sakit, namun kini, sebuah permintaan dokter untuk melakukan pemeriksaan pun kau tunda berkali-kali.

Jelas sekali bagimu kehidupan berakhir dengan sendirinya dan saat akhir itu tiba rasa takutmu memudar, karena rasa takut itu sendiri adalah perwujudan kehidupan. Saat kehilangan kesadaran dan keinsyafan, hidup tiba-tiba berakhir tanpa menyisakan makna dan pemikiran.

Penderitaanmu adalah pencarian makna bagimu. Saat kau mulai membincangkan arti kesejatian hidup manusia dengan teman-teman masa mudamu, kau hidup dengan susah payah, seolah-olah kini kau telah menikmati segala kesemuan hidup dank au menertawakan kesia-siaanmu dalam pencarian makna. Yang terbaik adalah mengalami keberadaan dan menjaganya.

Kau merasa melihat makna hidup dalam kehampaan, cahaya samar yang muncul dari antah berantah. Ia tak berdiri di tempat tertentu di atas bumi. Ia seperti dahan pohon tanpa bayangan, sementara ufuk yang memisahkan langit dan bumi telah lenyap. Atau, ia bagaikan seekor burung di sebuah tempat berselimut salju yang memandang berkeliling. Terkadang, ia menatap ke depan, menghunjam dalam pikiranmu, walaupun tak jelas benar apa yang ia renungi. Itu hanyalah isyarat tubuh sederhana, isyarat tubuh yang indah. Keberadaan pun senyatanya adalah sebuah isyarat tubuh, mencoba mencari rasa nyaman, merentangkan lengan, menekuk lutut, berbalik, memandang ke belakang di atas relung kesadaran. Dari situ ia mampu menggapai kebahagiaan sekejap. Tragedi, komedi, dan lelucon. Penghakiman atas keindahan hidup manusia yang berbeda bagi masing-masing orang, waktu, dan tempat. Perasaan pun mungkin seperti ini. Kesedihan yang timbul di saat ini di waktu yang lain bisa jadi sebuah kekonyolan dan penyucian diri. Hanya isyarat tubuh yang tenang bisa memperpanjang hidup ini dan bersusah payah menyimpulkan misteri kekinian di saat kebebasan tercapai. Menyendiri, meneliti pendapat diri melalui kekalahan-kekalahan orang lain.

Kau tak tahu apa lagi yang akan dilakuan, apa pun yang bisa kau lakukan tak penting lagi. Jika kau ingin melakukan sesuatu, lakukanlah. Tapi tak kau lakukan pun tak jadi soal. Dan kau tak perlu ngotot melakukan sesuatu jika kau merasa lapar dan haus, lebih baik kau makan dan minum. Tentu saja kau bebas berpendapat, menafsir apapun, punya keinginan, dan bahkan marah, biarpun kau telah sampai pada usia di mana tenagamu tak cukup lagi untuk marah. Secara alamiah, kau bisa naik darah, namun tanpa gairah amarah. Perasaan dan inderamu tetap bekerja, namun tak seperti dulu. Tak akan ada lagi penyesalan. Penyesalan itu sia-sia dan merusak diri.

Bagimu hanyalah kehidupan yang bernilai. Kau telah melekat dan terserap padanya seolah-olah masih ada hal menakjubkanyang bisa kau temukan di dalamnya. Seolah-olah hanya kehidupan yang bisa membuatmu senang. Bukankah itu yang kau rasakan? (*)

Gao Xingjian (高行健, pinyin: Gāo Xíngjiàn, lahir di Ganzhou, Jiangxi, Republik Rakyat Tiongkok, 4 Januari 1940; umur 77 tahun), ialah penulis seorang novelis, dramawan, dan kritikus Tiongkok seberang lautan. Ia juga seorang penerjemah, sutradara, dan pelukis terkenal.

Continue Reading

Cerpen

Valentin Rasputin: Pelajaran Bahasa Perancis

mm

Published

on

Kejadian ini berlangsung pada tahun 1948. Perang[1] belum lama usai, orang-orang ketika itu hidup dengan penuh kesulitan dan kelaparan.

Pada  tahun itu saya pergi dari  desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, lantaran sekolah di desa kami hanya sampai kelas 4.[2]

Di kota saya masuk ke kelas 5. Saya belajar dengan begitu baiknya, di semua mata pelajaran saya memperoleh nilai pyatyorka,[3] kecuali bahasa Perancis.

Dengan bahasa Perancis persoalan yang terjadi pada saya adalah karena pelafalan yang buruk. Untuk membenarkan pelafalan itu, Lidia Mikhailovna, guru bahasa Perancis, kerap menjelaskan, di manakah harusnya menempatkan lidah untuk mendapatkan bunyi yang benar. Tetapi semua kelihatannya sia-sia, lidah saya tidak mematuhi saya. Dan ada sedih yang lain. Ketika saya pulang dari sekolah dan tinggal sendirian, saya berpikiran mengenai rumah di desa. Saya merindukan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, juga kawan-kawan. Saya sangatlah kurus, dan ibu, ketika datang melihat, dengan penuh kesulitan mengenali saya.

Akan tetapi saya kurus bukan hanya lantaran rindu kepada rumah. Saya pada sepanjang waktu merasa kelaparan. Ibu kadang-kadang mengirimkan roti dan kentang lewat orang-orang, yang pergi ke kota, tetapi itu tidaklah banyak. Dan saya tidak mampu meminta lebih kepada ibu, karena di rumah masih ada saudara laki-laki dan saudara perempuan saya. Kira-kira ada dua kali ibu mengirimkan kepada saya 50 kopek,[4] agar saya dapat membeli susu. Saya membeli susu di tetangga.

Dan pada suatu hari, pemuda sebelah, bernama Fedka[5] bertanya kepada saya:

“Kau main uang?”

“Apa? Main uang?”

“Ya, kalau kau punya uang, mari kita pergi untuk main.”

“Tidak, saya tak punya uang.”

“Ya, kalau begitu mari kita pergi untuk melihat, bagaimana mereka bermain.”

Kami pergi menuju ke sekolah. Di belakang sekolah semua anak-anak berdiri.

“Buat apa kau bawa dia?” seorang yang paling tua di antara kami bertanya kepada Fedka.

“Tidak apa-apa, Vadik,[6] biarkan dia melihat, dia orang kita sendiri,” jawab Fedka.

“Kau akan main?” tanya Vadik kepada saya.

“Saya tidak punya uang.”

“Baiklah, kalau begitu kau lihatlah, jangan bilang kepada siapapun juga, kalau kami main di sini.”

Lebih jauh lagi tidak ada yang memperhatikan saya dan saya mulai melihat. Memahami permainan tersebut tidaklah sukar. Anak-anak menggambar kuadrat[7]di atas tanah yang tidak begitu besar dan meletakkan uang di dalam kuadrat, setiap orang 10 kopek. Kemudian mereka menjauh kira-kira dua meter dan mulai melemparkan koin. Kalau koin jatuh di dalam kuadrat, maka orang yang melempar tersebut mengambil semua, yang ada di dalam kuadrat.

Kelihatannya bagi saya, jika saya ikut main, saya juga akan mampu memenangkannya. Dan demikianlah ketika ibu mengirimkan 50 kopek kepada saya untuk kali ketiga, saya tidak pergi untuk membeli susu. Saya pergi untuk ikut bermain. Mula-mulanya saya kalah 30 kopek, kemudian menang 20 kopek, kemudian menang lagi 50 kopek. Hari tampak sudah malam, saya ingin pulang, tetapi Vadik berkata:

“Main!”

Dia melemparkan koin dan koin tersebut agak tidak sampai ke dalam kuadrat. Dan saya melihat bagaimana Vadik mendorong koin tersebut.

“Kau mendorong koinnya!” kata saya.

“Apa? Coba, kau ulangi!” teriaknya.

“Kau mendorong koinnya!”

Vadik memukul saya. Saya pun terjatuh dan dari hidung saya keluar darah.

“Kau mendorongnya, kau mendorongnya!”

Vadik memukul saya dan saya ketika itu tidak menangis. Kemudian dia meninggalkan saya sendirian. Dengan susah payah saya bangun dan pulang ke rumah.

Di pagi hari saya dengan rasa khawatir melihat diri sendiri di  dalam cermin: hidung jadi membesar, di bawah mata kiri terlihat lebam kebiru-biruan.

“Hari ini di kelas kita ada yang terluka,” kata Lidia Mikhailovna, ketika saya masuk ke dalam kelas. “Apakah yang terjadi?”

“Tidak ada yang terjadi,” jawab saya.

“Hah, tidak ada yang terjadi!” teriak Fedka secara tiba-tiba. “Kemaren dia dipukul Vadik. Mereka main uang!”

Saya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Kami semua tahu dengan jelas, bahwa karena main uang, orang bisa dikeluarkan dari sekolah dan Fedka mengatakan semuanya kepada Lidia Mikhailovna!

“Saya tidak bertanya kepadamu, tetapi jika kau ingin menceritakan mengenai sesuatu, mendekatlah ke papan tulis dan ceritakanlah suatu teks pelajaran.” Lidia Mikhailovna menghentikan kata-kata Fedka. Dan kepada saya, dia berkata: “Kau tunggulah setelah mata pelajaran.”

Setelah mata pelajaran Lidia Mikhailovna menghampiri saya.

“Itu benar, bahwa kau main uang?” tanyanya.

“Benar.”

“Dan bagaimana, kau menang atau kalah?”

“Menang.”

“Berapakah?”

“40 kopek.”

“Dan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?”

“Saya akan membeli susu.”

“Susu?” Lidia Mikhailovna dengan penuh perhatian memandangi saya. “Tetapi tetap saja tidak boleh bermain uang. Kau tahu mengapa? Kita mesti belajar bahasa Perancis. Datanglah ke rumah saya nanti malam,” katanya mengakhiri percakapan.

Begitulah pelajaran bahasa Perancis dimulai untuk saya. Hampir setiap malam saya datang ke rumah Lidia Mikhailovna untuk belajar. Dan setelah belajar, dia mengundang saya untuk makan malam. Tetapi saya seketika itu juga bangun, berkata, bahwa saya tidaklah lapar dan dengan sesegeranya saya berlari pulang. Begitulah berulang beberapa kali, dan kemudian Lidia Mikhailovna berhenti mengundang saya untuk makan.

Pada suatu hari saya diberitahu untuk datang ke sekolah mengambil bingkisan. Saya berpikir, bahwa ibu sekali lagi mengirimkan saya kentang melalui seseorang, tetapi di dalam bingkisan tersebut terdapat makaroni. Makaroni! Di manakah ibu membeli makaroni? Di desa kami makaroni tidak pernah dijual. Surat di dalam bingkisan juga tidak ada. Jika ibu yang mengirimkan bingkisan, maka ibu pasti akan menggeletakkan surat di dalamnya dan di  dalam surat tersebut ibu akan mengisahkan, dari mana kekayaan tersebut bermuasal. Artinya, ini bukanlah ibu. Saya mengambil bingkisan tersebut dan menuju kepada Lidia Mikhailovna.

“Apakah yang  kau bawa itu? Untuk apa?” tanyanya, manakala dia melihat bingkisan.

“Ibu guru yang melakukan ini, ibulah yang mengirimkan ini kepada saya,” kata saya.

“Mengapa kau berpikir, bahwa sayalah yang melakukannya?’

“Karena di desa kami makaroni tidak ada, ibu harusnya  tahu itu.”

Dengan seketika Lidia Mikhailovna tertawa: “Ya, seharusnya lebih dulu saya tahu. Dan apakah yang kalian punya di desa?”

“Kentang.”

“Kami di Ukraina memiliki apel. Di sana sekarang banyak apel. Yah, baiklah, ambillah makaroni tersebut. Kau harus banyak makan, agar bisa belajar.”

Tetapi saya sudah lari menjauh.

Di dalam perkara yang demikian, pelajaran belumlah berakhir, saya masih melanjutkan untuk pergi ke rumah Lidia Mikhailovna. Patutlah diceritakan, bahwa saya telah melakukan keberhasilan dan oleh karenanya saya belajar bahasa Perancis dengan senang hati. Mengenai bingkisan kami tidaklah lagi mengingatnya.

Suatu hari Lidia Mikhailovna berkata kepada saya: “Nah, bagaimana, kau tidak lagi bermain uang?”

“Tidak,” jawab saya.

“Dan bagaimanakah permainan tersebut? Ceritakanlah!”

“Buat ibu, untuk apakah?”

“Itu menarik! Di dalam masa kanak-kanak saya juga bermain-main. Ceritakanlah, tidak perlu takut!”

“Untuk apa saya takut!”

Saya pun menjelaskan aturan permainan kepada Lidia Mikhailovna.

“Mari kita bermain,” tiba-tiba dia menawarkan.

Saya tidak mempercayai pendengaran saya sendiri. “Ibu kan seorang guru!”

“Lantas apa? Guru – mahluk lainkah? Hanya jangan sampai direktur sekolah tahu, bahwa kita main. Nah, mari kita mulai, jika tidak tertarik, kita tidak akan main.”

“Baiklah,” kata saya dengan penuh keraguan.

Kami mulai main. Lidia Mikhailovna tidak beruntung, dan tiba-tiba saya jadi faham, bahwasanya  dia memang tidak ingin memenangkan! Dia sengaja membuang koin, agar koin tersebut sejauh-jauhnya jatuh dari titik tujuan.

“Sudahlah,” kata saya, “kalau caranya demikian saya tidak bermain. Untuk apa ibu justru mengalah?”

“Sama sekali tidak, lihatlah!” kata Lidia Mikhailovna dan dia melemparkan koin. Sekali lagi koin jatuh cukup jauh dan pada ketika itu juga saya melihat, bahwa Lidia Mikhailovna mendorong koin!

“Apa yang ibu lakukan?” teriak saya.

“Apa?”

“Buat apa ibu mendorong koinnya?”

“Tidak, koinnya memang tergeletak di sini,” dengan riang Lidia Mikhailovna menjawab.

Saya langsung tidak ingat, bahwa dia secara khusus memang mengalah pada saya. Saya memandang dengan hati-hati, agar dia tidak mengelabui saya.

Semenjak itu kami bermain hampir pada setiap sore. Sekali lagi saya memiliki uang dan sekali lagi saya membeli susu.

Akan tetapi pada suatu hari segalanya berakhir. Seperti biasanya, pada setiap sore kami bermain dan berbantahan dengan kencang.

“Apakah yang sedang terjadi di sini?” tiba-tiba saja kami mendengar suara yang berat. Di depan kami berdiri direktur sekolah.

“Saya pikir, Anda akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk,” dengan perlahan Lidia Mikhailovna berkata.

“Saya sudah mengetuknya, tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Apakah yang sedang terjadi di sini? Saya punya hak untuk mengetahui sebagai direktur sekolah.”

“Kami main uang,” dengan tenang Lidia Mikhailova menjelaskan.

“Anda main uang?…Dengan murid sendiri?!”

“Benar.”

“Anda tahu, saya…saya telah dua puluh tahun mengajar di sekolah, tetapi yang demikian ini…Ini perbuatan kriminal!”

“Selang tiga hari Lidia Mikhailovna pergi. Menjelang keberangkatannya dia berkata kepada saya: “Saya akan pergi ke Ukraina, ke tempat saya sendiri. Dan kau belajarlah dengan tenang. Tidak seorang pun yang akan mengeluarkanmu dari sekolah. Di sini sayalah yang bersalah. Belajarlah.”

Dia pun pergi dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Pada musim dingin, selepas waktu liburan, saya menerima bingkisan. Di dalamnya ada makaroni dan tiga buah apel merah yang besar-besar. Dulu kala saya hanya melihat apel di dalam gambar-gambar, tetapi sekarang saya langsung mengerti, beginilah apel-apel itu.

 

*Biografi Valentin Rasputin

Valentin Grigorevich Rasputin (15 Maret 1937-14 Maret 2015) lahir di desa Atalanka, Rusia dan wafat di Moskow, Rusia. Valentin Rasputin menamatkan Universitas Irkutsk pada tahun 1959 dan dalam beberapa tahun beliau bekerja di surat kabar di Irkutsk dan Krasnoyarsk. Buku pertamanya “The Edge Near The Sky” dipublikasikan tahun 1966 di Irkutsk dan “Man from This World” dikeluarkan tahun 1967 di Krasnoyarsk. Pada tahun yang sama “Money for Maria” dimuat di Angara No. 4 dan pada tahun 1968 “Money for Maria” diterbitkan sebagai buku terpisah di Moskow. Karya-karyanya yang lain: The Last Term (1970), Live and Remember (1974), Farewell to Matyora (1976), You Live and Love (1982), Ivan’s daughter, Ivan’s mother (2004).

Valentin Rasputin sangat dekat dikaitkan dengan gerakan kesusastraan Soviet Pasca Perang yang disebut dengan village prose atau rural prose. Karya village prose biasanya berfokus pada kesulitan kaum tani Soviet, pada gambaran ideal tentang kehidupan desa tradisional, dan secara implisit atau eksplisit mengkritik proyek modernisasi.

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

[1] Великая Отечественная Война (Velikaya Otechestvennaya Voina) atau Great Patriotic War adalah perang  antara Rusia dan Republik-republik yang tergabung di dalam Uni Soviet (kecuali negara-negara Baltik, Georgia, Azerbaijan dan Ukraina) melawan invasi Jerman dengan aliansinya Hungaria, Italia, Rumania, Slovakia, Finlandia, dan Kroasia. Perang berlangsung dari tanggal 22 Juni 1941 sampai tanggal 9 Mei 1945

[2] Primary general education merupakan tingkatan pertama dan berlangsung  selama 4 tahun, basic general education adalah tingkatan kedua berlangsung selama 5 tahun, dari kelas 5 sampai kelas  9, dan secondary (complete) general education yang merupakan tingkatan terakhir, berlangsung selama 2 tahun, dari kelas 10 sampai kelas 11

[3] Sistem penilaian di dalam pendidikan Rusia: единица yedinitsa = 1, двойка dvoika = 2, тройка troika = 3, четвёркa chetvorka = 4 dan пятёрка pyatyorka = 5

[4] Satuan terkecil mata uang Rusia

[5] Berasal dari nama Fyodor

[6] Beberapa sumber  menyebutkan berasal dari nama Vadim

[7] Persegi

Continue Reading

Cerpen

Chingiz Aitmatov: Mankurt

mm

Published

on

Ini terjadi pada berabad-abad yang lalu. Di antara suku-suku nomaden, yang hidup di tanah Kazakhstan, berlangsung perang yang permanen. Para pemenang perang mengubah orang-orang taklukan menjadi budak. Zhuanzhuan, yang pada suatu waktu menguasai sebagian besar tanah Kazakhstan, merupakan orang-orang yang terutama sangat keji. Mereka mengubah para tawanan menjadi mankurt, manusia yang kehilangan ingatan. Untuk itu ke kepala para tawanan dilekatkan kulit unta yang lembab dan mereka ditinggal  tanpa air, tanpa roti, dalam beberapa hari di atas tanah lapang terbuka. Matahari memanaskan kulit unta yang lembab dan kulit itu pun menjadi mengkerut, dan manusia bisa mati lantaran rasa sakit atau bisa menjadi gila, kehilangan ingatan. Baru pada hari ke lima Zhuanzhuan datang melihat, siapakah di antara tawanan yang bertahan hidup. Biasanya yang bertahan hidup hanyalah 1-2 orang dari lima. Mereka merupakan budak-mankurt, yang harganya sangat mahal, karena mereka adalah manusia tanpa ingatan, manusia, yang melupakan ayah dan ibunya dan hanya mengetahui tuannya. Budak yang demikian tidak memimpikan kebebasan, dia mampu mengerjakan pekerjaan yang paling hitam dan berat, dan tidak menginginkan apa-apa. Dan tidak ada seorang dari para kerabat atau kawan yang berupaya membebaskan mankurt, manusia, yang melupakan segala.

Tetapi ada seorang ibu, bernama Naiman-Ana, tidak mampu berdamai dengan hal tersebut. Anak laki-lakinya, yang ikut di dalam pertempuran dengan Zhuanzhuan, jatuh ke dalam tawanan. Naiman-Ana ingin menemukan anaknya. Dia memimpikan hanya satu hal: semoga anaknya masih hidup, meskipun menjadi seorang mankurt, yang kehilangan ingatan, tetapi anaknya tetap hidup, tetap hidup! Naiman-Ana mengambil selembar selendang putih dan mulai berjalan ke padang stepa. Begitu lama dia berjalan di atas padang stepa dan akhirnya dia bertemu dengan seorang pemuda rupawan dan dia mengetahui, bahwa itu adalah anaknya.

“Anakku, anak kandungku! Aku mencarimu!” teriaknya, “aku ibumu!” Dan dengan seketika Naiman-Ana memahami semuanya dan dia pun mulai menangis, dan dia memandangi wajah anaknya yang beku, yang berdiri di sampingnya. Tetapi anaknya bahkan tidak bertanya, siapakah dia dan mengapa juga dia menangis. Kedua mata anaknya tampak kosong dan wajahnya tidak pedulian.

“Kau tidak mengenalku?” tanya sang ibu, akhirnya.

“Tidak,” jawab mankurt.

“Siapakah namamu?”

“Mankurt.”

“Begitulah sekarang kau dipanggil. Dan bagaimanakah dulunya kau dipanggil? Ingatlah namamu sendiri!”

Mankurt terdiam.

“Dan siapakah nama ayahmu? Dan kau sendiri siapa, dari mana, di manakah kau dilahirkan? Kau ingatkah?”

Tidak, anaknya tidak ingat apa-apa dan dia tidak mengenali.

“Apakah yang mereka lakukan terhadapmu!” kata sang ibu dengan lirih. “Kau dengar? Namamu Zholaman. Ayahmu bernama Donenbai. Kau ingat ayahmu? Dialah yang mengajari kau memanah. Dan aku adalah ibumu, kau dengar?”

Akan tetapi semua, apa yang dikatakan sang ibu, tidaklah menarik baginya.

“Marilah aku lihat, apa yang mereka lakukan dengan kepalamu?” kata Naiman-Ana.

“Tidak,” jawab mankurt dan dia tidak ingin lebih jauh lagi berbicara dengan Naiman-Ana. Dan Naiman-Ana memutuskan untuk membawa pulang anaknya. Lebih baik anaknya tinggal di rumah sendiri, dibandingkan di padang stepa, menjadi budak Zhuanzhuan.

Naiman-Ana dengan begitu lama meminta anaknya untuk pulang ke rumah, tetapi anaknya tidak memahami, bagaimanakah harus pergi, jika sang tuan tidak mengijinkan. Dan kembali, dan kembali lagi Naiman-Ana mengulangi:

“Ayahmu Donenbai, dan namamu bukan Mankurt, tetapi Zholaman. Ketika kau dilahirkan di dalam keluarga kita ada perayaan yang demikian besar.”

Dan tiba-tiba saja Naiman-Ana melihat seseorang, yang berjalan ke arah mereka di atas seekor unta.

“Siapakah dia?” tanyanya.

“Itu sang tuan.”

Naiman-Ana mestilah pergi.

“Jangan katakan apa-apa kepadanya, aku akan segera datang kembali.” Kata Naiman-Ana. Anaknya tidak menjawab. Baginya semua sama saja.

Tetapi sang tuan telah melihat sang perempuan tersebut. “Siapakah dia?” tanyanya kepada mankurt.

“Dia berkata, bahwa dia adalah ibuku.”

“Dia bukan ibumu! Kau tidak punya ibu! Kau tahu, apa yang dia inginkan? Dia ingin mengambil kepalamu!” teriak Zhuanzhuan.

Mankurt ketakutan. Wajahnya menjadi suram.

“Jangan khawatir!” kata sang tuan, “bukankah kau bisa memanah? Nah, ambillah!” Dan dia memberikan mankurt busur beserta anak panahnya.

Ketika Zhuanzhuan pergi, Naiman-Ana menghampiri anaknya. Dia tidak melihat, bahwa anaknya, mankurt, telah bersiap-siap memanah. Sinar matahari mengganggu mankurt, dan dia menantikan momen yang tepat.

“Zholaman, anakku!” panggil Naiman-Ana kepada anaknya. Tetapi terlambat: anak panah telah menghantam tepat di jantung Naiman-Ana. Itu adalah hantaman yang mematikan. Naiman-Ana pelan-pelan terjatuh, tetapi dari bagian kepalanya selendang putih terlebih dulu jatuh, berubah menjadi seekor burung dan terbang dengan teriakan: “Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai! Donenbai!”

Orang-orang mengatakan, bahwa sekarang pejalan yang berjalan di padang stepa masih bisa mendengar, bagaimana burung tersebut berteriak:

“Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai!” (*)

 

*Biografi Chingiz Aitmatov

Chingiz Torekulovich Aitmatov lahir pada tanggal 12 Desember 1928, di Sheker, Kyrgyzstan dan meninggal pada tanggal  10 Juni 2008, di Nürnberg, Jerman. Karyanya antara lain: “Jamila” (1958), “Farewell, Gulsary” (1966), “The White Ship” (1970), “The Day Last More Than a Hundred Years” (1980), “Mother Earth and Other Stories” (2011). Chingiz Aitmatov juga pernah berkaris sebagai ambassador Uni Soviet dan kemudian Kyrgyzstan untuk European Union, NATO, UNESCO dan negara-negara Benelux. Karya-karya Chingiz Aitmatov memiliki elemen-elemen yang unik, khususnya pada proses kreatifnya dan karya-karyanya menggambarkan folklore, bukan dalam cita  rasa kuno, tetapi Chingiz berupaya mengkreasi kembali dan mensintesiskan karya-karya lisan ke dalam kehidupan kontemporer.

Dalam arti kiasan, kata mankurt digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang telah kehilangan kontak dengan akar sejarah dan kenasionalan mereka, dan melupakan hubungan mereka. Kata mankurt telah menjadi identik dan telah digunakan di dalam jurnalisme. Di Rusia muncul neologisme: mankurtismmankurtizatsiya, dan  demankurtizatsiya.

Kata mankurt bisa jadi diderivasi dari bahasa Mongolia мангуурах (manguurah, yang bermakna bodoh), atau mungkin bahasa Turki mengirt (manusia yang memorinya dirampas) atau man kort (suku yang jelek, buruk atau jahat).

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

Continue Reading

Trending