Connect with us
Seorang Penyair dan Musafir Karbitan Seorang Penyair dan Musafir Karbitan

Cerpen

Seorang Penyair dan Musafir Karbitan

mm

Published

on

Bertahun-tahun nanti, seseorang sungguh-sungguh mencari penyair itu dan ingin bertemu dengannya lagi. Tapi saat ini, ia lebih tenang berpikir bahwa kepergiannya tak akan dicari oleh siapapun. Langkahnya gontai mengimbangi tubuhnya yang kurus berlapis baju panjang semata kaki yang membuatnya terlihat seperti dewa kehilangan penyembahnya, menyedihkan. Ia memandangi langit yang merubuhkan gelap sambil menahan wajahnya dari sapuan angin yang terus-terusan berembus. Janggutnya yang agak lebat berkibar-kibar pelan dan matanya terpaksa dipejamkan. Ia menengok ke belakang, ke arah selatan, seperti sedang memastikan seberapa jauh jalan yang sudah ia tempuh. Anak-anak rumput yang tumbuh berjarak dan batu-batu yang merebah sepanjang pandangan mata adalah jawaban bahwa ia sudah seharusnya bisa melupakan segala yang terjadi di belakangnya.

Ia duduk di atas batu besardi bawah pohon. Sebuah kantong kecil yang ia selendangkan di pundaknya diturunkan dan diletakkan di tanah.Dari arah timur, seorang laki-laki dengan tubuh bungkuk dan rambut tipis di kepalanya yang bulat, mendekat. Di hadapan si penyair, laki-laki itu membungkuk memberi hormat.

“Kiranya Tuan sedang beristirahat, bolehkah aku ikut duduk di samping Tuan?”

Si penyair menggeser tubuhnya dan laki-laki bungkuk itu duduk di sebelahnya. Keduanya memandang lurus ke depan, ke arah pertemuan langit dan ujung daratan yang tak terlihat. Laki-laki bungkuk itu menoleh dengan wajahnya yang putih dan jenaka.

“Tuan sedang menuju kemana?”

Setiap bicara, pipinya yang gemuk terlihat seperti karet yang ditarik-tarik. Si penyair hanya menjawab, “Utara.”

Laki-laki itu mengangguk-ngangguk. “Betapa luas daratan di Utara,” katanya sambil memandang ke Utara.

“Almaria. Aku.. menuju Almaria,” si laki-laki mendengarkan dengan seksama dan menyadari bahwa gaya bicara si penyair selalu diselingi jeda setelah beberapa kata seakan memikirkan kata yang harus ia lontarkan berikutnya.

“Ah,” dianggukkannya lagi kepalanya dengan lebih pelan, “kota yang indah dan sepi.”

Penyair itu tidak menggubris penilaiannya. Ia sudah tahu seperti apa tempat yang ia tuju. “Tuan dari.. timur?”

“Ya, benar sekali,” jawab si laki-laki bungkuk sambil menepuk-nepuk pahanya yang dihinggapi debu dari deburan angin yang terus-terusan berembus. “Menuju Barat. Lantes,” tambahnya lagi.

“Kota yang makmur,” si penyair tersenyum pada laki-laki itu.

Langit semakin tidak menampakkan secuil pun celah untuk matahari padahal hari masih siang. Angin masih terus merengek manja tanpa henti, meniup-niup rumput-rumput kecil di sepanjang daratan berbatu itu. Dan kemudian, seperti remah-remah roti yang dilemparkan burung-burung, hujan turun disertai kilat-kilat yang menyalak di balik himpitan awan gelap.

Kedua laki-laki itu mengangkat kepalanya ke langit dan segera sadar bahwa mereka tidak bisa terus duduk di sana. Hujan deras mengguyur lebih cepat dari dugaan. Si penyair, diikuti laki-laki bungkuk itu, lari menuju reruntuhan kota yang sudah tak berpenghuni, beberapa meter dari tempat mereka duduk.

Mereka berteduh di bawah atap sebuah rumah yang warna catnya sudah tidak jelas dan ada gambar pedang di dindingnya. Mungkin dulunya gudang atau toko senjata. Langit semakin gelap dan hujan juga semakin ganas. Kilat sudah berganti menjadi gemuruh yang menggelegar seolah membangunkan seluruh negeri di daratan Kimera.

“Tampaknya badai hanya hitungan menit lagi,” ujar si laki-laki bungkuk sambil mencoba peruntungannya mencoba engsel pintu yang sudah tidak bekerja lagi. Kakinya menendang-nendang bagian bawah pintu berwarna jerami. Si penyair ikut menendang-nendang pintu itu dan akhirnya pintu itu terbuka.

“Ah,” wajah si laki-laki bungkuk terlihat senang dan kepalanya dianggukkan lagi.

Di dalam ruangan sangat gelap. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah jendela berbentuk segi empatyang harus dibuka dengan mendorongnya. Karena agak keras untuk didorong dengan tangan, mereka melakukannya dengan sebilah kayudari sebuah lemari besar berwarna cokelat. Di dalam lemari itu, apabila pintunya digeser ke kiri, ada beberapa bilah kayu yang sudah hampir lapuk.

Mereka duduk bersandar di dua tembok yang berhadapan. Petir makin garang menyambar dan daun jendela terus terbuka tertutup dengan suara kencang seperti ditampar-tampar. Suasana tidak terlalu nyaman, tapi bangunan itu adalah satu-satunyatempat berteduh yang aman karena itu satu-satunya bangunan beratap di sana. Tempat lain hanya berupa tembok-tembok yang hancur.

Sadar bahwa ia akan menghabiskan malam di sana, bersama seseorang yang baru ia kenal, laki-laki bungkuk mencoba membuka diri. Ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berwarna cokelat dari sakunya. “Tuan, sekiranya Tuan lapar, aku masih memiliki sisa roti yang cukup untuk kita bagi berdua malam ini.”

Didekatinya si penyair dan dibaginya roti itu. Si penyair berterima kasih. Ia gantian merogoh kantong kecilnya dan mengeluarkan sebuah botol.

“Aku pun masih.. menyimpan persediaan walaupun.. maaf, Tuan, hanya arak.”

Wajah laki-laki bungkuk itu tampak sumringah, karena arak itu dan karena orang asing itu mau membuka diri juga. “Udara badai dan kita punya arak. Apalagi yang harus kita khawatirkan?” kata si bungkuk sambil setengah tertawa saat si penyair meletakkan botol araknya di tengah ruangan.

Sore sudah hampir habis ditelan malam yang terasa lebih gesit dari biasanya. Ruangan itu menjadi lebih gelap lagi, dan saat malam tiba, ruangan itu semakin menumpuk gulita.Di luar badai sudah berembus kencang. Mereka masih saling duduk berseberangan, memeluk kakinya masing-masing untuk menahan dingin yang terasa berputar-putar di ruangan yang hanya terisi sedikit obrolan.

Setelah menghabiskan rotinya, si penyair membuka botol arak dan meminumnya seteguk. Diberikannya botol itu pada si laki-laki bungkuk lalu ia meminumnya seteguk. Mereka duduk semakin dekat agar mudah mengoper botol. Seteguk demi seteguk, obrolan-obrolan mulai mengalir diantar oleh kepala yang mulai mabuk dan ruangan terasa lebih hangat.

“Tuan, kau berjalan dari mana? Selatan?”

“Ya, dari Samduga. Dan.. kukira kau cukup memangilku.. Amar,” jawab si penyair.

“Ah, Amar,” laki-laki itu mengangguk lagi, “kalau begitu, namaku Turas. Kau pasti seniman.”

Penyair itu tersenyum dan memang Samduga adalah kota para seniman. Pelukis, penulis, penyair, banyak yang berasal dari sana. Kalaupun ada seorang seniman yang bukan dari Samduga, ia pasti pernah menetap di Samduga.

“Apa yang hendak kau cari di Almaria?”

Amar berkata dengan gagap seperti ragu-ragu untuk mengatakan, “Tidak.. ada.”

Wajah laki-laki bungkuk itu jelas terlihat bingung tapi ia tidak berani untuk menanyakan lebih. Dan tanpa harus ditanya pun, Amar melanjutkan perkataannya.

“Aku.. tidak mencari apa-apa. Dan sebaiknya.. juga.. tidak menemukan apa-apa,” ia berkata sambil meneguk lagi arak dari botol.

Laki-laki itu masih terdiam. “Ya,” ia tertawa sedikit, “kautahu, aku hanya orang yang tak pernah mengerti seni.” Ia terkekeh. Amar mengerti bahwa laki-laki ini menginginkan penjelasan lebih.

“Tuan.. Maaf, Turas, aku sedang dalam perjalanan.. meninggalkan.. melupakan Samduga,” ia berkata sambil menggerak-gerakkan tangannya di udara, memutar-mutar telapak tangan kanannya.

“Oh, tentu kuyakin ada hal yang berat untuk kepergian yang berat ini,” Turas menaruh botol arak di tengah ruangan lagi setelah meneguknya sedikit. Ia tidak ingin mabuk terlalu berat dulu untuk pembicaraan yang mulai terbangun ini.

“Ya,” Amar malu-malu untuk mengatakannya, “aku meninggalkan.. Samduga.. untuk melupakan cinta.”

“Ah,” Turas menyela sambil, seperti biasa, menganggukkan kepala. “Samduga memang tak pernah kehabisan wanita cantik untuk para seniman itu,” ia berujar dan tertawa sambil merentangkan tangannya lebar-lebar. Sesuatu yang kemudian ia sesali lalu ia meminta maaf.

“Tidak apa.. Tidak apa-apa. Kau benar.. Turas. Wanita ini sangat.. cantik. Tercantik di Samduga.”

Dari mata Amar yang berbinar mengisahkannya, Turas tahu betapa dalam cinta penyair itu.

“Lalu? Apa yang terjadi, temanku?”

Amar bercerita tentang bagaimana ia sangat mencintai wanita itu. Sebagai penyair, ia merangkai beberapa puisi untuknya, namun wanita ini menolaknya. Ia lebih mencintai seorang pelukis berkulit kuning halus seperti kain sutera dan bermata sebening keramik Mongolia.

Amar kecewa dan sakit hatinya. Di saat itu, secercah harapan sempat tumbuh. Laki-laki itu mati dibunuh oleh seseorang dalam perjalanan. Amar sedih melihat sang wanita meratapi kematian kekasihnya, tapi bahagia untuk kemungkinan mekar cintanya.

Sang wanita terus-terusan meratapi luka dan tak lama, membunuh dirinya sendiri karena tak kuat hidup tanpa orang yang dicintainya. Sakit hati Amar bertambah. Bukan hanya dicampakkan, ia juga harus melihat pengorbanan cinta sang wanita yang begitu besar pada kekasihnya.

“Tak ada hati yang lebih patah, Turas.. daripada melihat ia mati.. menyusul cintanya.. yang bukan aku,” ujarnya seraya diteguknya lagi sebuah tegukan besar dari botol arak.

Mata Amar yang hitam terasa makin tak bercahaya setelah mengutarakan cerita ini. Kata-kata yang semula lancar pun seperti kembali dalam kepala dan hatinya, mungkin menunggu waktu untuk kemudian dituliskannya menjadi sebuah aksara berbalut air mata lainnya. Tapi tidak malam ini.

Di hadapan Amar yang merenung, seperti yang ia lihat saat penyair itu duduk di atas batu besar perbatasan, Turas sadar bahwa ia harus membuat keadaan seimbang lagi dengan bercerita juga. Jadi diceritakannya hari-hari di Lantes yang selalu terisi dengan pelajaran-pelajaran dari macam-macam ahli.

“Aku adalah adik dari Pangerang Razam yang..”

“Oh!” Amar memotong dengan suara keras, “seharusnya aku tak bersikap lancang dan tetap memanggilmu ‘Tuan’!”

“Tidak, tidak. Tidak perlu. Ya, sejujurnya, aku hanyalah adik angkat. Dan lagipula kita telah berbagi roti dan arak, mengapa tidak menganggapku teman saja.”

Turas tersenyum ramah. Matanya mengecil sampai terlihat seperti lubang kunci. Ia meneruskan ceritanya.

“Paduka Raja, ayah Pangeran Razam, mengangkatku menjadi anaknya setelah ayahku mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan raja saat terjadi perang dua puluh tahun yang lalu. Kau tentu pernah mendengar soal perang itu.”

Amar tentu tahu soal perang itu seperti juga semua penduduk di daratan Kimera. Empat kerajaan berperang merebutkan wilayah dan kini hanya tersisa dua dari mereka, Lantes dan Dumaka. Keduanya membuat perjanjian damai dan berjanji untuk mengupayakan kemakmuran di seluruh negeri Kimera. Setelah itu, peradaban terbangun dengan lebih baik. Seluruh negeri bertukar ilmu dan kesenian, juga barang dagangan. Pembangunan negeri-negeri kecil melesat dengan cepat dan seluruh penduduk berbahagia.

“Pangeran memiliki tiga adik kandung yang dapat menggantikan jabatannya jika terjadi apa-apa. Tapi, karena kebaikan raja, aku dijanjikan jabatan penasehat, dengan syarat, aku harus belajar seluruh ilmu, bahkan yang tidak pernah dipelajari oleh raja.”

“Turas, aku memohon maaf atas.. segala kemiskinan budiku. Sungguh,” Amar merendahkan kepalanya seperti bagaimana adat Kimera mengajarkannya jika bertemu dengan orang yang dianggap memiliki ilmu lebih luas. Turas melanjutkan cerita.

“Tapi tidak seperti yang kau bayangkan, Amar, kegiatan mencari ilmu itu,” ujar Turas tertawa. Diminumnya lagi arak yang kemudian diberikan pada Amar sebelum diletakkan kembali.

Badai sudah berhenti dan angin juga mereda tapi mereka seolah tidak peduli. Bahkan meskipun cerita-cerita itu mengalir dari tempat gelap yang hanya diterangi oleh ketidaksempurnaan warna hitam di langit, mereka tetap melanjutkannya.

“Aku menghabiskan hampir seluruh hariku dengan belajar dan membaca buku-buku. Sementara itu, laki-laki lain seusiaku, pangeran dan yang lainnya, sibuk bepergian ke pelosok Kimera. Kau tahu, Amar, setiap mereka kembali, wajah mereka selalu dipenuhi kebanggaan dan kepuasan yang tak pernah kudapatkan. Dan selalu, setiap mereka kembali, ada orang-orang yang menyambut dengan wajah bahagia, seperti sudah lama menyimpan rindu lalu bertemu.”

Amar melihat ke dalam wajah Turas yang bulat dan putih. “Memang.. Kita, laki-laki.. selalu dibuat mederita.. karena ketidaktahuan akan wanita.. dan dunia.”

Turas menganggukkan kepala.

“Bahkan.. sejak manusia pertama diciptakan.. ia kehilangan surganya karena.. tidak ketidaktahuan akan wanita,” Amar melanjutkan, “saat terpencar.. dan saling mencari di atas bumi.. ia tersesat karena ketidaktahuannya.. akan dunia.”

Amar menyandarkan tubuhnya ke dinding dan matanya mengelilingi isi ruangan yang gelap seolah ingin menjemput sebuah cahaya kecil yang mungkin dibawa oleh kunang-kunang yang siapa tahu tersesat. Tapi sia-sia,tidak ada kunang-kunang atau apa pun, hanya gelap di rongga mata.

“Suatu hari aku memutuskan pergi dari Lantesuntuk memulai perjalananku sendiri,” lanjut Turas,“begitu kakiku menginjak tanah di luar wilayah dan paru-paruku dipenuhi udara segar yang asing, aku merasa menemukan kepuasan itu, yang kulihat di wajah para laki-laki.”

Wajahnya tersenyum lebar mengenang kepergian pertamanya. Melihat itu Amar ikut tersenyum. “Aku.. bisa membayangkan.. dan merasakannya.”

“Ya, tapi ketika hari berganti dan tanah yang kuinjak semakin tidak kukenali, aku semakin cemas. Dumaka, kota yang kutuju, tampak terlalu jauh untuk diriku. Ditambah lagi, aku menghabiskan makanan lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Aku menjadi panik dan takut. Belumlah aku melihat gerbang Dumaka, aku memutuskan pulang, dan ya, seperti yang kautahu, kita akhirnya bertemu tadi siang,” Turna mengatakannya sambil tertawa.

Mereka mungkin bisa meyakini pertemuannya sebagai takdir atau apapun saat mereka saling membagi arak hingga kandas dan terlelap di atas lantai yang tanpa alas. Ketika pagi menurunkan tirai cahaya keemasan yang silau, merambat masuk melalui jendela segi empat yang terbuka sepanjang malam, mereka meninggalkan kota itu. Keduanya berpisah di depan reruntuhan tempat mereka masuk. Turas melanjutkan perjalanan pulang ke Lantes dan Amar ke Utara. Turas sempat mengajaknya ikut ke Lantes namun Amar memilih melanjutkan mengikuti kesedihannya sampai ke Utara. Pagi itu udara lebih hangat di sekujur tubuh mereka. Hanya dalam hitungan menit berikutnya, bebatuan dan tanah hanya menjadi semestinya dan reruntuhan kota itu seperti tak punya kisah apa-apa.

Di Lantes, Turas melanjutkan pelajarannya hingga kemudian, saat raja wafat dan Pangeran Razam naik tahta, ia betul-betul diangkat menjadi penasehat. Ia memiliki kekayaan pengetahuan dan keluwesan berbicara. Kakak angkatnya, Sang Raja, memberi penghormatan selayaknya: sebuah kuda nan gagah dan pengawal-pengawal yang menemaninya berkeliling kota. Ia selalu gemar melakukannya.

Ketika raja berulang tahun pun, ia ikut mencari bahan makanan untuk pesta bersama para koki istana. Menyusuri gang-gang dan pasar di Lantes yang ia hafal. Membeli sayuran dari seorang wanita tua, buah-buahan di sudut pasar, dan kambing-kambing pada seorang anak kecil yang berjualan sambil membacakan puisi. Turas memperhatikan puisi yang dibacakan. Betapa sedih puisi itu. Ia menambahkan uang melebihi harga kambing kepada laki-laki itu hingga membuat anak laki-laki itu girang sekali.

Turas meninggal lima tahun kemudian akibat penyakit yang gagal diobati. Sebelum meninggal, ia meminta satu permintaan pada raja sebagai permintaan terakhirnya. Ia meminta agar raja mencari laki-laki bernama Amar, dari Samduga, dan mempertemukan mereka. Raja mengabulkannya. Namun, sampai kematiannya tiba, Amar tidak juga ditemukan. Turas mati dalam kesedihan.

Yang tak pernah Turas tahu, bukan hanya dirinya yang mati dalam kesedihan. Tidak lama setelah berpisah dengan Turas, Amar tiba di Almaria. Di kota yang sepi itu ia semakin teringat pada wanita yang dicintainya. Ia terus menangis dalam kesendiriannya. Puluhan puisi yang lirih tak mengobati seiris pun luka hatinya. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukan pengorbanan yang sama seperti yang dilakukan wanita itu: mengakhiri hidupnya dan menyusul cintanya ke alam baka. Saat itu, baginya, hanya kematianlah yang dapat mewujudkan bentuk paling sempurna atas ketulusan dan kepahitan dalam hatinya.

Amar melompat dari tebing Almaria dan menenggelamkan dirinya di Laut Sehluta. Tidak ada jejak yang tertinggal dari kematiannya selain sebuah puisi terakhir yang ia tulis. Puisi itu begitu sedih, seolah menampung semua kesedihan yang tidak bisa ditampung oleh puisi lain selama ini. Amar memberikan puisi itu ke seorang gembala kecil yang sedang memberi makan kambing-kambing. (*)

*Tentang penulis: Rizaldy Yusuf lahir 21 Oktober 1991. Saat ini bekerja di Jakarta.

Continue Reading

Cerpen

Cinta Ayu

mm

Published

on

Dengan langkah kaki cepat, Ayu bergegas menuju gedung Diponegoro untuk mengikuti seminar. Seminar yang mengambil tema “Menyoal Cinta dan Feminisme” bukan hanya memikat hati Ayu, melainkan kebanyakan hati perempuan. Sebab, pembicara dalam seminar ialah seorang feminis laki-laki, sekaligus aktivis “kemanusiaan” yang menjadi diskursusnya. Kendati ia masih berstatus mahasiswa. Namun, ia bagaikan matahari yang menjadi pusat perhatian di kampusnya. Pagi itu, bukan tanpa perjuangan bagi seorang gadis yang hidupnya normal. Ayu memutuskan alpa sarapan pagi beserta Abah dan Umminya. Satu keputusan radikal yang sepanjang usianya belum sekalipun dilakukannya. “Semoga acaranya belum dimulai,” gumamnya dalam hati.

Setelah setengah berlari menaiki tangga sepanjang lima lantai, Ayu mengatur nafasnya sambil sesekali mengipasi wajahnya yang merah setelah mengambil tempat duduk. “Ayu, sini, kamu lama sekali,” kata April sahabat karibnya. “Ia, maaf saya ketiduran sehabis salat Subuh,” jawabnya pelan.

“Raka sudah berbicara?”

“Belum, Ayu.”

Setelah satu jam berlalu, kini giliran pembicara terakhir yang sudah dinanti-nantikan tampil di podium. “Selamat pagi Puan dan Tuan. Baik untuk menghemat narasi saya langsung masuk pada bagian subtansi…”

“Kenapa tidak mengucapkan Assalamualaikum.”

“Entahlah.”

“Apa dia non-Muslim?”

Ayu tak menjawab. Hanya mengangkat kedua bahunya.

Setelah hampir setengah jam Raka menyampaikan pandangannya, kini waktunya berdiskusi: tanya-jawab. Empat orang penanya sudah mendapatkan jawabannya. Dan Ayu memberanikan diri mengangkat tangannya. “Baik, silakan perkenalkan diri Anda sebelum bertanya,” kata moderator. “Nama saya Ayu Arunika. Saya ingin bertanya pada Mas Raka. Sepanjang penjelasan Anda tentang feminisme. Saya merasa bahwa Anda terlalu liberal. Sebab, Islam justru memuliakan perempuan. Perkara peradaban menghendaki perempuan selalu di bawah laki-laki, karena seorang suami adalah pemimpin dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sebagai hamba tentu harus taat pada perintah Allah SWT. Itu yang pertama. Yang kedua, atas dasar apa Anda mengajukan argumen bahwa doktrin teologis adalah penyumbang kerusakan alam? Bahkan berperan dalam mendorong rusaknya lingkungan alam akibat doktrin antoposentrisnya. Terima kasih.”

Pertanyaan yang mengagetkan semua orang yang sedang asyik-masyuk mendengar penjelasan Raka, mahasiswa filsafat yang menjadi bintang di acara itu. Dengan tenang Raka menjawab, “Ayu Arunika. Sebagai fakta nama itu indah untuk dikecupkan. Saya tahu arah pertanyaanmu. Benar-benar pertanyaan teologis. Tadi dikecupkan kata “hamba”. Maka, dengan sendirinya ada hierarki dalam kalimat yang Anda susun: Tuhan dan hamba. Saya mengajukan argumen yang basisnya adalah reasoning. Dan Anda mengajukan pertanyaan yang dibungkus dokumen dari langit. Tidak mungkin saya debat dengan argumen. Itu yang pertama. Yang kedua perihal ekofeminisme…”

“Tunggu sebentar. Apa keyakinan Anda?” Ayu memotong.

Setelah diam sesaat, Raka menjawab. “Anda tahu bahwa diskusi ini mengangkat tema feminisme. Artinya tidak membahas tema teologis. Pertanyaan Anda tidak ethics, kendati dibungkus dengan kesantunan bahasa. Karena Anda bertanya sesuatu yang bersifat privat. Tidak mungkin saya jawab di ruang publik. Tapi tidak jadi soal. Pukul setengah empat nanti saya ada perlu di perpustakaan. Jika Anda masih penasaran dan menuntut jawaban dari saya, silakan temui saya.” Selanjutnya diskusi berjalan lancar. Namun pertanyaan dari Ayu membuat orang-orang mulai berpikir ulang tentang sosok sang pembicara.

***

Pukul empat sore Ayu datang ke perpustakaan. Di ruang kecil, tempat diskusi, seorang pemuda sedang duduk dengan tenang. Di tangannya terlihat Ivan Illich: Deshooling Society. Setelah menarik nafas panjang Ayu memberanikan diri menghampirinya. “Assalamulaikum, maaf saya terlambat datang.”

“Tak apa. Artinya dikau masih orang Indonesia. Silakan duduk.”

Jawaban yang membuat wajah Ayu merah sebab malu. “Maaf, tadi saya habis salat Ashar terlebih dahulu.” Jawabnya pelan. “Mas Raka sudah Salat?”

Setelah meletakan Ivan Illich, Raka menatap mata Ayu dengan tatapan tajam. “Puan, apa dikau tahu siapa nama orangtuaku? Pekerjaannya apa? Apa dikau juga tahu sosio-historisku?”

Ayu menggelengkan kepala.

“Pertanyaan teologismu itu menghukum psikologiku. Semacam hukuman bahwa saya telah divonis dalam perkara privat: agama tertentu. Dan seringkali pertanyaan itu dianggap hal yang wajar hingga berkumandang di telinga setiap orang. “Kamu sudah salat? Apa agamamu? Pertanyaan itu buat saya semacam arogansi karena disponsori suara mayoritasisme. Bahkan hal semacam itu, terjadi di wilayah akademis. Seharusnya seorang akademis bisa lepas dari hal semacam itu. Di ruang akademis yang ada hanya pikiran. Universitas dalam definisi bebas ialah wilayah di mana sikap kritis itu tumbuh. Artinya tidak dikekang oleh doktrin teologis. Yang ada hanya dialektika rasionalisme. Sebab universitas adalah tempat lalu lintasnya pikiran. No road to heaven. Dan sebagai warga negara, kita hanya diikat oleh etika publik. Status agama itu hak. Artinya seseorang boleh tidak menggunakan haknya. Paham Ayu?”

Mendengar jawaban Raka, airmuka Ayu merah padam. Baru kali ini ia diceramahi pelajaran di luar nalar pikirannya. Wajahnya menunduk, seakan-akan tak sanggup melihat matanya yang tajam bagai mata pedang. Barulah ia sadar bahwa pemuda yang sedang menceramahinya adalah pemuda yang setiap hari diperbincangkan teman-temannya sesama mahasiswi: Raka adalah pemuda cerdas. Menyukai sastra, filsafat, sosiologi, psikologi, politik, hukum dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Raka penggila filsuf Immanuel Kant, Sartre, Heidegger hingga Ivan Illich. Juga ada pula yang mengatakan bahwa sudah banyak perempuan yang patah hati. Bukan lantaran disakiti, melainkan karena alasan yang abnormal: Raka tidak ingin menikah. Pikiran yang benar-benar gila bagi anak muda seusianya.

“Saya minta maaf bila pertanyaanku membuat Mas Raka tersinggung,” kata Ayu sebelum meninggalkan Raka. Akan tetapi, sebelum Ayu menghilang ditelan pintu perpustakaan, Raka menyahut, “Ayu, saya yang minta maaf. Senang berkenalan denganmu. Di luar ada cafe yang nyaman untuk menikmati segelas kopi dan sepotong kenangan.” Ayu terseyum mendengarnya. Senyuman yang menawan. Demikianlah perempuan gemar membunuh seorang lelaki dengan senyumannya.

***

Waktu bergulir dengan cepat. Bergantinya nama bulan seperti bergantinya siang dan malam. Demikianlah bagi hati anak muda yang hari-harinya diliputi bahagia bertabur bunga. Begitulah hari-hari Ayu dan Raka. Keduanya semakin akrab, bukan hanya sebagai teman, melainkan sepasang kekasih yang sedang mengepakan sayapnya. Selepas pertemuan itu, Ayu terpesona oleh Raka yang dinilainya berbeda.

Kendati kasak-kusuk berita negatif tentang Raka tersebar luas di lingkungan kampus. Namun, hal itu tidak membuat Ayu membatalkan cintanya. Tidak pula mempengaruhi Ayu untuk memadamkan api cinta yang menyala di hatinya. Masih menggema lonceng cinta di pikiran batinnya, baginya Raka serupa sang pengusik sepi yang membunyikan loncengnya. “Janganlah dikau padamkan matahari cinta yang terbit dari hati seorang pujangga,” kata-kata itu bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya tepat mengenai jantung hati gadis pujaannya. Ujar Raka pada Ayu suatu senja di bukit Mandalawangi.

Dalam cinta selalu ada kegilaan. Orang gila yang rasional adalah orang yang sedang dimabuk cinta. Hari-hari berikutnya, di mana kaki Raka melangkah, di situ jejak Ayu tertinggal. Terlebih Raka selalu membimbing langkah kaki Ayu pada tempat yang tak terduga: gunung, hutan, dan sekolah rakyat yang didirikannya bersama para sahabatnya. Deschooling Society adalah kitab sucinya Raka.

Namun, ada yang ganjil dalam pikiran Ayu yang setiap malam selalu menghantuinya. Sebab, selama menjadi kekasih Raka, sekalipun Ayu tak pernah mendengar kata dari kamus agama diucapkan olehnya. Juga tidak sekalipun Ayu mempergoki sisa-sisa jejak ritual keagamaan yang dilakukan Raka. Baik jejak kakinya di Gereja, Masjid, maupun rumah ibadah lainnya yang tertinggal.

Keganjilan itu membuat Ayu memberanikan diri untuk mencari tahu. Entah sudah berapa banyak teman-teman Raka yang diinterogasi. Namun, semuanya menjawab seragam seperti orang mengucapkan kata “Aamiin”, yakni “tidak tahu”. Hingga pada suatu hari Ayu menanyakan langsung kepada Raka. Sebagaimana kebiasaannya, Raka yang suka merenung di tempat sunyi seorang diri di hutan, tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran Ayu yang sudah mengetahui tempat pelariannya. Lama keduanya bertukar pandangan.

Ayu mulai mencium keganjilan kekasihnya itu. Karena tak tahan sambil bercucuran air mata Ayu bertanya, “Apa agamamu Mas? Banyak orang yang membicarakanmu perihal itu. Apakah Mas percaya akan adanya Tuhan?”

Raka tak menjawab. Lama ia terdiam.

“Sekali lagi saya tanya, apa Mas percaya akan adanya Tuhan?”

“Ayu, dikau menyusulku ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu yang menjadi antitesis kemanusiaan.” Kemudian Raka menjemput tangan Ayu sambil berujar, “Kamu mencintaiku?” Ayu mengangguk diiringi tangisan.

“Jika dikau percaya Sartre adalah seorang atheis, dan Simon de Beauvoir tidak mempermasalahkannya, maka kamu harus percaya bahwa kekasihmu adalah orang yang percaya sebagaimana kepercayaan Sartre.”

Mendengar jawaban itu, tangisan Ayu semakin dera. Segera saja Ayu melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-MU,” ucap Ayu sebelum pergi.

“Jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri. Sebab, cinta sedari dulu kala selalu saja drama. Cinta adalah kesunyian yang panjang, kendati keramaian selalu mengintainya. Namun cinta selalu memilih untuk sendiri,” kata Raka pada dirinya sendiri. (*)

*) Arian Pangestu, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya berupa cerpen, esai, dan puisi dimuat di koran Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bangka Pos, Radar Surabaya, Harian Analisa. Saat ini aktif sebagai mahasiswa sastra.

Continue Reading

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Jika Neraka Itu Ada…

mm

Published

on

Ole: Ferry Fansuri

Terkadang saat kuberdiri diantara senja itu kubisa merasakan hawa dingin yang pekat, bisa kusentuh aliran udara disekitarku. Terasa waktu berhenti seketika, entah ini sebuah ilusi tapi yang kurasakan nyata. Gejala itu selalu terjadi ketika mata ini menemukan burung-burung gereja berkeliaran di sekeliling diriku. Cuma aku tak habis berpikir kenapa burung-burung gereja ini ada disini, apalagi kampung ini tidak ada tradisi atau jejak burung-burung gereja itu.

Mereka begitu jinak berjalan dihamparan sawah kampung kami, melompat-lompat sesekali terbang rendah di dahan-dahan, ranting pada pohon-pohon rindang disana. Munculnya burung-burung gereja ini semenjak pertikaian itu terjadi di kampung kami. Dulu kampung ini yang dibelah sungai yang mengalir di tengah-tengah memberikan penghidupan bagi penduduk disini. Tanah disini bagai melempar sebuah biji akan menghasilkan buah-buahan, tumbuh subur dan tak pernah habis.

Disini dulunya terdapat dua kampung yang saling berdekatan biarpun secara harfiah berbeda. Kampung Maidiling ada diutara sungai ini, disana tengah bangunan kokoh bertahtakan tembok dan diatas tanda salib. Gereja bergaya renaisance menjulang dan dipuja masyarakat Maidiling. Sedangkan bagian selatan dari sungai besar tersebut Kampung Sidempuan setiap senja atau saat ayam belum berkokok, alunan ayat-ayat suci begitu merdu ditelinga. Dua kampung saling berdekatan dan bersahabatan, berabad-abad tak pernah sekalipun bermusuhan atau menumpahkan darah untuk hal yang konyol sekalipun.

Tapi tepat dua ratus abad setelah bulan Oktober yang lalu, masa kelam merudung kedua desa tersebut. Diawali gemuruh awah hitam bukan menandakan hujan, muncul sosok asing yang meracuni kedua desa tersebut. Dia datang entah darimana atau dari dunia antah berantah, mulutnya begitu berbisa dan siapa saja yang mendengarkannya seperti dihipnotis untuk membenarkan semua perkataannya. Berkoar tentang kemurnian ajaran, siapa sesat atau bukan, pilihan neraka atau surga dan hal-hal yang tak bisa dipikirkan oleh akal pikiran.

“Tak maukah engkau janji Surga bagimu jika masih membenarkan Neraka untukmu”

Doktrin-doktrin itu membangkitkan napsu purba dalam penduduk kampung tersebut. Orang asing menuduh bahwa toleransi adalah bahaya laten yang harus diberantas sampai akar-akarnya. Semua perbedaan akan menimbulkan pertikaian di masa depan jika tidak ditekan sejak dini.

“Sesuatu yang murni itu merupakan hal mutlak dan tidak bisa diganggu gugat”

Entah kenapa dari sanalah kemudian muncul wajah-wajah beringas kesetanan yang terus merangsek ke ubun-ubun. Hawa iblis keluar dari cangkang manusianya, saling olok, ejek kemudian adu fisik tak terhindarkan. Aku dulu merasa hawa yang begitu panas melingkupi kampungku ini, Sidempuan dulu berhawa sejuk karena konon kadar oksigen disini tinggi hingga harapan hidup penduduknya tinggi diatas rata-rata. Tak heran disini tak pernah jatuh sakit biarpun sudah berumur lebih 100 tahun.

Tapi saat ini berbeda, pertumpahan darah terus terjadi. Gesekan kecil atas nama agama pun berujung bertikai tak habis-habisan. Aku sendiri tak habis pikir mengapa mereka menumpahkan darah hanya janji-janji surga dan neraka sesuai ajaran yang mereka pegang. Apakah nalar dan logika mereka tak dipakai untuk mencerna semua ini?.

Tiap kali ada hinaan dari kampung sebelah, kumpulan pemuda kampung ini terbakar emosi dan menyulut emosi. Tangan-tangan mereka berkumpul benda-benda tumpul yang dikit demi dikit diasah menjadi tajam. Tapi aku tak bergeming sedikitpun atas ajakan mereka, caci maki dilontarkan dari mulut-mulut mereka yang berbusa dan berbau arak.

“Pengecut !!”

“Penista !!”

“Murtad!!”

Ocehan dan rancuan mereka tan aku gubris sama sekali, lebih baik aku moksa daripada harus menebas orang-orang yang tak sejalan dengan kita. Manusia diciptakan dengan derajat yang sama yang membedakan amalan dan napsunya.

Mereka selalu pulang dengan bersimbah darah apakah itu sebuah kemenangan atau kekalahan, itu sama saja. Andai aku bisa menghentikan semua tanpa kaki ini tetap terjejak masuk kedalam tanah.

Sebenarnya aku membenci mereka yang melakukan ini. Demi apa? demi rancuan-rancuan tak becus menerangkan apa itu Surga atau Neraka.

Aku membenci mereka yang culas menjual agama demi sebuah kemurnian yang omong kosong belaka.

Aku menghujat mereka yang begitu gampang menumpahkan darah saudara-saudara yang tak sejalan atau tidak seiman. Mereka menganggap apa yang dilakukan adalah perang suci yang direstui penguasa langit.

Kuingin melenyapkan mereka !

Memberanggus !

Menggibas !

Menghembuskan topan !

Memporak porandakan !

Tapi aku hanya manusia lemah hati dan pikiran, ada secuil ketakutan yang berkutat dalam rongga dadaku. Menyerah akan keadaanku yang ganjil dan mereka pun mengucilkan dan memasung diriku di tanah antah berantah. Hingga mereka bisa bebas melakukan pekerjaan nistanya itu tanpa diriku.

Hura-hara itu sudah sampai ke titik pedih, kulihat langit mendung berbalut merah jingga hampir semerah darah. Teriakan-teriakan menyayat dari wanita serta bocah kecil membahana beriringan kegelapan menelusup.

Kejadian itu terus bergulir dari hari ke hari, minggu ke mingu sampai berbulan-bulan. Entah aku tak tahu sampai kapan ini akan berakhir, dulu disini gemah lo jinawi berganti gersang sengsara. Tanah disini kering membentuk petak-petak pecah, tak ada juluran padi atau korekan katak, semua hilang kusam.

***

            Kehampaan dan keheningan ini selalu kurasakan saat memasuki kampung ini, udara sekitarnya sekali lagi terhenti. Kaki ini mencoba melangkah dan sejurus mata ini melihat rumah-rumah itu tampak kosong melompong tanpa penghuni. Kemana orang-orang beringas itu, apakah masih trengginas untuk menyerang kampung sebelahnya? Atau semua tewas ditebas parang terbang kiriman dukun sakti milik kampung seberang.

Tidak ada jejak kaki atau saksi mata yang nyata untuk ditanyakan, makhluk hidup tak diijinkan menghirup napas di bumi Sidempuan ini. Sungai disana tampak keruh hitam pekat bak tinta yang akan dikuaskan pada lukisan kesedihan. Langit diatas tidak sejingga dulu, sekarang merah sedarah. Tiba-tiba gemuruh beriringan  kilat berkejaran dengan guntur, awan hitam itu menyemburkan airmata yang tersampaikan hujan. Titik-titik air itu mengenai mata dan mukaku, bau amis dan sangir terasa di hidungku.

Ini darah!!

Guyuran hujan itu berubah menjadi darah mengenangi tanah, kaki telanjangku merasakan gemericik air darah itu. Tapi yang kurasakan beda, rinai hujan perlahan menetes seperti waktu terhenti seketika. Ujung jariku bisa menyentuh bulir-bulir itu, aku bisa menyibak dan menepisnya. Gejala apakah ini?

Bersamaan itu muncul burung-burung gereja berkeliaran di sekitarku. Kasat mata aku melihat ratusan bahkan ribuan burung gereja itu terbang berseliweran tak tentu arah. Berputar-putar diatas kepalaku, kemudian hinggap diatas kubah berujung bintang rembulan itu.

Sunyi dan senyap.

Terkadang ada sebuah pertanyaan yang dalam tempurung otak ini bergeliat saat melihat burung-burung gereja yang nangkring di kubah bulan bintang ini. Agama apakah yang tepat buat mereka? Mereka dikenal burung gereja yang bisa hinggap kemana mereka mau tanpa kuatir. Jika mereka punya agama, tak mungkin rela menjejakkan kakinya diatas kubah itu.

Suara-suara koak-koak itu muncul dari burung-burung gereja itu, menciptakan senandung kematian yang memekakkan telinga ini. Mata bulat hitam itu menatap tajam ke arahku, mereka seperti menginginkan diriku. Sekali kepak berterbangan jingkat diatas ubun-ubun, berputar-putar. Sekali kibas, burung-burung gereja itu menerjang. Mata ini melihat itu dengan terbelalak tak percaya, mereka mengincar mata ini. Paruh burung-burung itu menusuk kedua mata ini, masuk kedalam menyelinap dan melesat hilang dalam pupil bola mata ini. Mereka terus masuk tanpa henti, aku hanya berteriak kesakitan.

“Hentikan !!”

Teriakanku tak membuat mereka berhenti memasuki mataku, tidak hanya satu tapi ribuan terus dan terus. Akhirnya terhenti saat burung gereja terakhir lenyap kedalam kedua mataku. Aku merasakan perih yang amat sangat, disela-sela kelopak mataku meleleh darah hitam pekat. Aku hanya bisa memegangi dan menutupi salah satu mataku, raunganku menggelegar.

Aku pun tertunduk.

Saat kubuka mata ini, kulihat sekitarku bergelimpang mayat-mayat bersimbah darah dan tangan kananku lunglai begitu saja meloloskan sebilah parang belepotan darah segar yang tercecer beku.  (*)

Surabaya, November 2017

Continue Reading

Classic Prose

Trending