Connect with us

Cerpen

Seorang Penyair dan Musafir Karbitan

mm

Published

on

Seorang Penyair dan Musafir Karbitan

Bertahun-tahun nanti, seseorang sungguh-sungguh mencari penyair itu dan ingin bertemu dengannya lagi. Tapi saat ini, ia lebih tenang berpikir bahwa kepergiannya tak akan dicari oleh siapapun. Langkahnya gontai mengimbangi tubuhnya yang kurus berlapis baju panjang semata kaki yang membuatnya terlihat seperti dewa kehilangan penyembahnya, menyedihkan. Ia memandangi langit yang merubuhkan gelap sambil menahan wajahnya dari sapuan angin yang terus-terusan berembus. Janggutnya yang agak lebat berkibar-kibar pelan dan matanya terpaksa dipejamkan. Ia menengok ke belakang, ke arah selatan, seperti sedang memastikan seberapa jauh jalan yang sudah ia tempuh. Anak-anak rumput yang tumbuh berjarak dan batu-batu yang merebah sepanjang pandangan mata adalah jawaban bahwa ia sudah seharusnya bisa melupakan segala yang terjadi di belakangnya.

Ia duduk di atas batu besardi bawah pohon. Sebuah kantong kecil yang ia selendangkan di pundaknya diturunkan dan diletakkan di tanah.Dari arah timur, seorang laki-laki dengan tubuh bungkuk dan rambut tipis di kepalanya yang bulat, mendekat. Di hadapan si penyair, laki-laki itu membungkuk memberi hormat.

“Kiranya Tuan sedang beristirahat, bolehkah aku ikut duduk di samping Tuan?”

Si penyair menggeser tubuhnya dan laki-laki bungkuk itu duduk di sebelahnya. Keduanya memandang lurus ke depan, ke arah pertemuan langit dan ujung daratan yang tak terlihat. Laki-laki bungkuk itu menoleh dengan wajahnya yang putih dan jenaka.

“Tuan sedang menuju kemana?”

Setiap bicara, pipinya yang gemuk terlihat seperti karet yang ditarik-tarik. Si penyair hanya menjawab, “Utara.”

Laki-laki itu mengangguk-ngangguk. “Betapa luas daratan di Utara,” katanya sambil memandang ke Utara.

“Almaria. Aku.. menuju Almaria,” si laki-laki mendengarkan dengan seksama dan menyadari bahwa gaya bicara si penyair selalu diselingi jeda setelah beberapa kata seakan memikirkan kata yang harus ia lontarkan berikutnya.

“Ah,” dianggukkannya lagi kepalanya dengan lebih pelan, “kota yang indah dan sepi.”

Penyair itu tidak menggubris penilaiannya. Ia sudah tahu seperti apa tempat yang ia tuju. “Tuan dari.. timur?”

“Ya, benar sekali,” jawab si laki-laki bungkuk sambil menepuk-nepuk pahanya yang dihinggapi debu dari deburan angin yang terus-terusan berembus. “Menuju Barat. Lantes,” tambahnya lagi.

“Kota yang makmur,” si penyair tersenyum pada laki-laki itu.

Langit semakin tidak menampakkan secuil pun celah untuk matahari padahal hari masih siang. Angin masih terus merengek manja tanpa henti, meniup-niup rumput-rumput kecil di sepanjang daratan berbatu itu. Dan kemudian, seperti remah-remah roti yang dilemparkan burung-burung, hujan turun disertai kilat-kilat yang menyalak di balik himpitan awan gelap.

Kedua laki-laki itu mengangkat kepalanya ke langit dan segera sadar bahwa mereka tidak bisa terus duduk di sana. Hujan deras mengguyur lebih cepat dari dugaan. Si penyair, diikuti laki-laki bungkuk itu, lari menuju reruntuhan kota yang sudah tak berpenghuni, beberapa meter dari tempat mereka duduk.

Mereka berteduh di bawah atap sebuah rumah yang warna catnya sudah tidak jelas dan ada gambar pedang di dindingnya. Mungkin dulunya gudang atau toko senjata. Langit semakin gelap dan hujan juga semakin ganas. Kilat sudah berganti menjadi gemuruh yang menggelegar seolah membangunkan seluruh negeri di daratan Kimera.

“Tampaknya badai hanya hitungan menit lagi,” ujar si laki-laki bungkuk sambil mencoba peruntungannya mencoba engsel pintu yang sudah tidak bekerja lagi. Kakinya menendang-nendang bagian bawah pintu berwarna jerami. Si penyair ikut menendang-nendang pintu itu dan akhirnya pintu itu terbuka.

“Ah,” wajah si laki-laki bungkuk terlihat senang dan kepalanya dianggukkan lagi.

Di dalam ruangan sangat gelap. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah jendela berbentuk segi empatyang harus dibuka dengan mendorongnya. Karena agak keras untuk didorong dengan tangan, mereka melakukannya dengan sebilah kayudari sebuah lemari besar berwarna cokelat. Di dalam lemari itu, apabila pintunya digeser ke kiri, ada beberapa bilah kayu yang sudah hampir lapuk.

Mereka duduk bersandar di dua tembok yang berhadapan. Petir makin garang menyambar dan daun jendela terus terbuka tertutup dengan suara kencang seperti ditampar-tampar. Suasana tidak terlalu nyaman, tapi bangunan itu adalah satu-satunyatempat berteduh yang aman karena itu satu-satunya bangunan beratap di sana. Tempat lain hanya berupa tembok-tembok yang hancur.

Sadar bahwa ia akan menghabiskan malam di sana, bersama seseorang yang baru ia kenal, laki-laki bungkuk mencoba membuka diri. Ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berwarna cokelat dari sakunya. “Tuan, sekiranya Tuan lapar, aku masih memiliki sisa roti yang cukup untuk kita bagi berdua malam ini.”

Didekatinya si penyair dan dibaginya roti itu. Si penyair berterima kasih. Ia gantian merogoh kantong kecilnya dan mengeluarkan sebuah botol.

“Aku pun masih.. menyimpan persediaan walaupun.. maaf, Tuan, hanya arak.”

Wajah laki-laki bungkuk itu tampak sumringah, karena arak itu dan karena orang asing itu mau membuka diri juga. “Udara badai dan kita punya arak. Apalagi yang harus kita khawatirkan?” kata si bungkuk sambil setengah tertawa saat si penyair meletakkan botol araknya di tengah ruangan.

Sore sudah hampir habis ditelan malam yang terasa lebih gesit dari biasanya. Ruangan itu menjadi lebih gelap lagi, dan saat malam tiba, ruangan itu semakin menumpuk gulita.Di luar badai sudah berembus kencang. Mereka masih saling duduk berseberangan, memeluk kakinya masing-masing untuk menahan dingin yang terasa berputar-putar di ruangan yang hanya terisi sedikit obrolan.

Setelah menghabiskan rotinya, si penyair membuka botol arak dan meminumnya seteguk. Diberikannya botol itu pada si laki-laki bungkuk lalu ia meminumnya seteguk. Mereka duduk semakin dekat agar mudah mengoper botol. Seteguk demi seteguk, obrolan-obrolan mulai mengalir diantar oleh kepala yang mulai mabuk dan ruangan terasa lebih hangat.

“Tuan, kau berjalan dari mana? Selatan?”

“Ya, dari Samduga. Dan.. kukira kau cukup memangilku.. Amar,” jawab si penyair.

“Ah, Amar,” laki-laki itu mengangguk lagi, “kalau begitu, namaku Turas. Kau pasti seniman.”

Penyair itu tersenyum dan memang Samduga adalah kota para seniman. Pelukis, penulis, penyair, banyak yang berasal dari sana. Kalaupun ada seorang seniman yang bukan dari Samduga, ia pasti pernah menetap di Samduga.

“Apa yang hendak kau cari di Almaria?”

Amar berkata dengan gagap seperti ragu-ragu untuk mengatakan, “Tidak.. ada.”

Wajah laki-laki bungkuk itu jelas terlihat bingung tapi ia tidak berani untuk menanyakan lebih. Dan tanpa harus ditanya pun, Amar melanjutkan perkataannya.

“Aku.. tidak mencari apa-apa. Dan sebaiknya.. juga.. tidak menemukan apa-apa,” ia berkata sambil meneguk lagi arak dari botol.

Laki-laki itu masih terdiam. “Ya,” ia tertawa sedikit, “kautahu, aku hanya orang yang tak pernah mengerti seni.” Ia terkekeh. Amar mengerti bahwa laki-laki ini menginginkan penjelasan lebih.

“Tuan.. Maaf, Turas, aku sedang dalam perjalanan.. meninggalkan.. melupakan Samduga,” ia berkata sambil menggerak-gerakkan tangannya di udara, memutar-mutar telapak tangan kanannya.

“Oh, tentu kuyakin ada hal yang berat untuk kepergian yang berat ini,” Turas menaruh botol arak di tengah ruangan lagi setelah meneguknya sedikit. Ia tidak ingin mabuk terlalu berat dulu untuk pembicaraan yang mulai terbangun ini.

“Ya,” Amar malu-malu untuk mengatakannya, “aku meninggalkan.. Samduga.. untuk melupakan cinta.”

“Ah,” Turas menyela sambil, seperti biasa, menganggukkan kepala. “Samduga memang tak pernah kehabisan wanita cantik untuk para seniman itu,” ia berujar dan tertawa sambil merentangkan tangannya lebar-lebar. Sesuatu yang kemudian ia sesali lalu ia meminta maaf.

“Tidak apa.. Tidak apa-apa. Kau benar.. Turas. Wanita ini sangat.. cantik. Tercantik di Samduga.”

Dari mata Amar yang berbinar mengisahkannya, Turas tahu betapa dalam cinta penyair itu.

“Lalu? Apa yang terjadi, temanku?”

Amar bercerita tentang bagaimana ia sangat mencintai wanita itu. Sebagai penyair, ia merangkai beberapa puisi untuknya, namun wanita ini menolaknya. Ia lebih mencintai seorang pelukis berkulit kuning halus seperti kain sutera dan bermata sebening keramik Mongolia.

Amar kecewa dan sakit hatinya. Di saat itu, secercah harapan sempat tumbuh. Laki-laki itu mati dibunuh oleh seseorang dalam perjalanan. Amar sedih melihat sang wanita meratapi kematian kekasihnya, tapi bahagia untuk kemungkinan mekar cintanya.

Sang wanita terus-terusan meratapi luka dan tak lama, membunuh dirinya sendiri karena tak kuat hidup tanpa orang yang dicintainya. Sakit hati Amar bertambah. Bukan hanya dicampakkan, ia juga harus melihat pengorbanan cinta sang wanita yang begitu besar pada kekasihnya.

“Tak ada hati yang lebih patah, Turas.. daripada melihat ia mati.. menyusul cintanya.. yang bukan aku,” ujarnya seraya diteguknya lagi sebuah tegukan besar dari botol arak.

Mata Amar yang hitam terasa makin tak bercahaya setelah mengutarakan cerita ini. Kata-kata yang semula lancar pun seperti kembali dalam kepala dan hatinya, mungkin menunggu waktu untuk kemudian dituliskannya menjadi sebuah aksara berbalut air mata lainnya. Tapi tidak malam ini.

Di hadapan Amar yang merenung, seperti yang ia lihat saat penyair itu duduk di atas batu besar perbatasan, Turas sadar bahwa ia harus membuat keadaan seimbang lagi dengan bercerita juga. Jadi diceritakannya hari-hari di Lantes yang selalu terisi dengan pelajaran-pelajaran dari macam-macam ahli.

“Aku adalah adik dari Pangerang Razam yang..”

“Oh!” Amar memotong dengan suara keras, “seharusnya aku tak bersikap lancang dan tetap memanggilmu ‘Tuan’!”

“Tidak, tidak. Tidak perlu. Ya, sejujurnya, aku hanyalah adik angkat. Dan lagipula kita telah berbagi roti dan arak, mengapa tidak menganggapku teman saja.”

Turas tersenyum ramah. Matanya mengecil sampai terlihat seperti lubang kunci. Ia meneruskan ceritanya.

“Paduka Raja, ayah Pangeran Razam, mengangkatku menjadi anaknya setelah ayahku mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan raja saat terjadi perang dua puluh tahun yang lalu. Kau tentu pernah mendengar soal perang itu.”

Amar tentu tahu soal perang itu seperti juga semua penduduk di daratan Kimera. Empat kerajaan berperang merebutkan wilayah dan kini hanya tersisa dua dari mereka, Lantes dan Dumaka. Keduanya membuat perjanjian damai dan berjanji untuk mengupayakan kemakmuran di seluruh negeri Kimera. Setelah itu, peradaban terbangun dengan lebih baik. Seluruh negeri bertukar ilmu dan kesenian, juga barang dagangan. Pembangunan negeri-negeri kecil melesat dengan cepat dan seluruh penduduk berbahagia.

“Pangeran memiliki tiga adik kandung yang dapat menggantikan jabatannya jika terjadi apa-apa. Tapi, karena kebaikan raja, aku dijanjikan jabatan penasehat, dengan syarat, aku harus belajar seluruh ilmu, bahkan yang tidak pernah dipelajari oleh raja.”

“Turas, aku memohon maaf atas.. segala kemiskinan budiku. Sungguh,” Amar merendahkan kepalanya seperti bagaimana adat Kimera mengajarkannya jika bertemu dengan orang yang dianggap memiliki ilmu lebih luas. Turas melanjutkan cerita.

“Tapi tidak seperti yang kau bayangkan, Amar, kegiatan mencari ilmu itu,” ujar Turas tertawa. Diminumnya lagi arak yang kemudian diberikan pada Amar sebelum diletakkan kembali.

Badai sudah berhenti dan angin juga mereda tapi mereka seolah tidak peduli. Bahkan meskipun cerita-cerita itu mengalir dari tempat gelap yang hanya diterangi oleh ketidaksempurnaan warna hitam di langit, mereka tetap melanjutkannya.

“Aku menghabiskan hampir seluruh hariku dengan belajar dan membaca buku-buku. Sementara itu, laki-laki lain seusiaku, pangeran dan yang lainnya, sibuk bepergian ke pelosok Kimera. Kau tahu, Amar, setiap mereka kembali, wajah mereka selalu dipenuhi kebanggaan dan kepuasan yang tak pernah kudapatkan. Dan selalu, setiap mereka kembali, ada orang-orang yang menyambut dengan wajah bahagia, seperti sudah lama menyimpan rindu lalu bertemu.”

Amar melihat ke dalam wajah Turas yang bulat dan putih. “Memang.. Kita, laki-laki.. selalu dibuat mederita.. karena ketidaktahuan akan wanita.. dan dunia.”

Turas menganggukkan kepala.

“Bahkan.. sejak manusia pertama diciptakan.. ia kehilangan surganya karena.. tidak ketidaktahuan akan wanita,” Amar melanjutkan, “saat terpencar.. dan saling mencari di atas bumi.. ia tersesat karena ketidaktahuannya.. akan dunia.”

Amar menyandarkan tubuhnya ke dinding dan matanya mengelilingi isi ruangan yang gelap seolah ingin menjemput sebuah cahaya kecil yang mungkin dibawa oleh kunang-kunang yang siapa tahu tersesat. Tapi sia-sia,tidak ada kunang-kunang atau apa pun, hanya gelap di rongga mata.

“Suatu hari aku memutuskan pergi dari Lantesuntuk memulai perjalananku sendiri,” lanjut Turas,“begitu kakiku menginjak tanah di luar wilayah dan paru-paruku dipenuhi udara segar yang asing, aku merasa menemukan kepuasan itu, yang kulihat di wajah para laki-laki.”

Wajahnya tersenyum lebar mengenang kepergian pertamanya. Melihat itu Amar ikut tersenyum. “Aku.. bisa membayangkan.. dan merasakannya.”

“Ya, tapi ketika hari berganti dan tanah yang kuinjak semakin tidak kukenali, aku semakin cemas. Dumaka, kota yang kutuju, tampak terlalu jauh untuk diriku. Ditambah lagi, aku menghabiskan makanan lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Aku menjadi panik dan takut. Belumlah aku melihat gerbang Dumaka, aku memutuskan pulang, dan ya, seperti yang kautahu, kita akhirnya bertemu tadi siang,” Turna mengatakannya sambil tertawa.

Mereka mungkin bisa meyakini pertemuannya sebagai takdir atau apapun saat mereka saling membagi arak hingga kandas dan terlelap di atas lantai yang tanpa alas. Ketika pagi menurunkan tirai cahaya keemasan yang silau, merambat masuk melalui jendela segi empat yang terbuka sepanjang malam, mereka meninggalkan kota itu. Keduanya berpisah di depan reruntuhan tempat mereka masuk. Turas melanjutkan perjalanan pulang ke Lantes dan Amar ke Utara. Turas sempat mengajaknya ikut ke Lantes namun Amar memilih melanjutkan mengikuti kesedihannya sampai ke Utara. Pagi itu udara lebih hangat di sekujur tubuh mereka. Hanya dalam hitungan menit berikutnya, bebatuan dan tanah hanya menjadi semestinya dan reruntuhan kota itu seperti tak punya kisah apa-apa.

Di Lantes, Turas melanjutkan pelajarannya hingga kemudian, saat raja wafat dan Pangeran Razam naik tahta, ia betul-betul diangkat menjadi penasehat. Ia memiliki kekayaan pengetahuan dan keluwesan berbicara. Kakak angkatnya, Sang Raja, memberi penghormatan selayaknya: sebuah kuda nan gagah dan pengawal-pengawal yang menemaninya berkeliling kota. Ia selalu gemar melakukannya.

Ketika raja berulang tahun pun, ia ikut mencari bahan makanan untuk pesta bersama para koki istana. Menyusuri gang-gang dan pasar di Lantes yang ia hafal. Membeli sayuran dari seorang wanita tua, buah-buahan di sudut pasar, dan kambing-kambing pada seorang anak kecil yang berjualan sambil membacakan puisi. Turas memperhatikan puisi yang dibacakan. Betapa sedih puisi itu. Ia menambahkan uang melebihi harga kambing kepada laki-laki itu hingga membuat anak laki-laki itu girang sekali.

Turas meninggal lima tahun kemudian akibat penyakit yang gagal diobati. Sebelum meninggal, ia meminta satu permintaan pada raja sebagai permintaan terakhirnya. Ia meminta agar raja mencari laki-laki bernama Amar, dari Samduga, dan mempertemukan mereka. Raja mengabulkannya. Namun, sampai kematiannya tiba, Amar tidak juga ditemukan. Turas mati dalam kesedihan.

Yang tak pernah Turas tahu, bukan hanya dirinya yang mati dalam kesedihan. Tidak lama setelah berpisah dengan Turas, Amar tiba di Almaria. Di kota yang sepi itu ia semakin teringat pada wanita yang dicintainya. Ia terus menangis dalam kesendiriannya. Puluhan puisi yang lirih tak mengobati seiris pun luka hatinya. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukan pengorbanan yang sama seperti yang dilakukan wanita itu: mengakhiri hidupnya dan menyusul cintanya ke alam baka. Saat itu, baginya, hanya kematianlah yang dapat mewujudkan bentuk paling sempurna atas ketulusan dan kepahitan dalam hatinya.

Amar melompat dari tebing Almaria dan menenggelamkan dirinya di Laut Sehluta. Tidak ada jejak yang tertinggal dari kematiannya selain sebuah puisi terakhir yang ia tulis. Puisi itu begitu sedih, seolah menampung semua kesedihan yang tidak bisa ditampung oleh puisi lain selama ini. Amar memberikan puisi itu ke seorang gembala kecil yang sedang memberi makan kambing-kambing. (*)

*Tentang penulis: Rizaldy Yusuf lahir 21 Oktober 1991. Saat ini bekerja di Jakarta.

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Janin Badai

mm

Published

on

Oleh Ken Hanggara

Di perutku badai asing tumbuh dan beranak-pinak. Hitam, garang, dan liar. Jika ia mengamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki melayang. Ketika badai itu reda, hidupku hambar. Dan saat ia marah, aku mau mati saja.

“Badai asing melukaiku,” ujarku tersengal-sengal, “jadi kubunuh dia.”

Tapi, kata Ibu, kalau kamu bunuh badai di perutmu, bisa saja kamu yang mati. Aku takut dan belum tentu Tuhan menaruhku di surga kalau aku mati. Tapi badai ini sudah keterlaluan. Di perutku ia menggila. Tak tahu apa yang badai itu mau atau bagaimana ia beraktivitas hingga seolah-olah kulihat gambaran: lumatan nasi di lambung campur baur dengan cairan asam berlebih akibat derasnya badai.

Selama badai marah, aku melingkar di kasur, berputar-putar mirip gasing. Kadang diam dan memejamkan mata, atau mengejan dengan maksud mengusir badai itu, dengan harapan bisa kentut, meski ternyata tidak. Sakit luar biasa!

Ibu melarangku mengejan begitu, karena badai dikhawatirkan keluar lewat lubang kentut dengan kekuatan superbesar dan membikin gubuk kami roboh. Kalau rumah ini hancur, mau tinggal di mana kita? Mau menggelandang, ha?

Kubantah kata-kata Ibu. Kita tidak akan menggelandang dan rumah jelek ini tidak mungkin roboh hanya karena kentut. Tidak masuk akal. Bagaimana bisa badai dari perut gadis kurus sepertiku membuat bangunan ini roboh?

Tapi, untuk satu kata ‘logis’, badai yang tumbuh dan beranak-pinak di perut saja tidak bisa dibilang logis. Ia antara ada dan tiada. Bagi orang waras yang tidak tahu, aku pasti dianggap sinting.

“Kamu yakin ada badai di perutmu?” tanya temanku.

“Tidak sih. Di saat tertentu aku tenang. Tapi di saat lain aku mengejan-ngejan, atau berputar-putar seperti gasing. Kukira itu pertanda bahwa badai asing ini mengamuk.”

“Bagaimana kamu menyimpulkan kalau itu adalah badai?”

“Soalnya perutku seperti diputar, digiling. Kamu tahu digiling, nggak?”

Temanku tidak bisa berkata lain selain menyuruhku ke dokter. Anak ini sudah tidak beres, begitu katanya berulang-ulang, diam-diam, bisik-bisik ke yang lain; sayangnya aku dengar, Tolol!

Kataku, pergi ke dokter bukan solusi, meskipun Ibu menyarankan hal yang sama. Barangkali ahli meteorologi bisa memberiku penjelasan mengapa ada badai di perut manusia, sebuah badai yang tidak diketahui asal usulnya, yang tumbuh, berkembang, mengamuk, dan beranak-pinak di sana. Itulah kenapa kusebut dia ‘badai asing’.

Pertanyaan lain, yang sesungguhnya juga kutanyakan: Bagaimana aku yakin badai asing beranak-pinak di perutku? Aku tidak tahu. Aku semakin bingung setelah ada satu malam di mana badai itu menangisi anak-anaknya. Dia tenang dalam kondisi menangis, seperti danau di tengah hutan tanpa seekor binatang atau manusia atau pengaruh musim yang menimbulkan riak di permukaan air. Sikap menangis wanita lemah.

“Kalau badai itu menangis, aku ikut menangis. Tapi aku bingung, buat apa badai menangis? Apa badai asing ini bernyawa? Apa dia makhluk, seperti hewan, tumbuhan, manusia, jin, malaikat…”

Kurasa ini petunjuk Tuhan. Mungkin badai di perutku termasuk makhluk semacam malaikat—atau jin, tapi beda jenis. Kalau benar, ini penemuan besar. Mungkin sudah takdirnya begitu, sehingga aku lega karena ada alasan di balik misteri badai di perutku. Secara teori, badai ini tidak cuma bisa menembus benda material sebagaimana malaikat atau jin, tetapi juga memiliki akal dan nafsu dalam dirinya.

Saat pertama kuberi tahu soal badai di perutku, Ibu diam. Beberapa jam Ibu tidak bicara dan sekalinya bersuara, dia bilang tidak terima saat kukatakan badai asing bisa beranak-pinak karena dia satu dari sekian jenis makhluk di dunia ini.

“Kamu bicara apa? ‘Kan sudah Ibu bilang, kamu bawa saja ke dokter!”

“Ibu tidak tahu badai asing ini makhluk berbahaya! Dokter tidak bisa melawannya. Kalau bisa, tidak satu pun dokter di dunia ini yang meninggal!”

“Kamu ini kacau, ya!”

“Memang, Bu. Kalau badai ini ngamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki di atas. Ibu tahu, nggak? Benar-benar biadab! Beraninya main di perut. Coba berhadapan langsung, sudah kubunuh dia!”

“Ya Tuhan, cobaan apa ini!”

Ibu pergi dan membanting pintu.

Setelah itu Ibu jarang bicara denganku dan aku bergelut dengan sakit luar biasa akibat badai dalam perut yang aneh dan lama-lama menakutkan. Ini pasti ada akhirnya. Tapi, betapapun kuatnya keyakinan bahwa si badai asing makhluk bernyawa dan kelak akan mati sebagaimana janji Tuhan bahwa setiap yang berjiwa pasti akan diambil, aku tidak tenang. Badai ini, jika beranak-pinak, suatu saat memenuhi seluruh bagian perut; ini juga ada waktunya. Kubayangkan lambung, usus, dan sebagainya, tak lagi cukup menampung hal lain selain badai asing dan anak turunnya. Dan badanku mungkin meledak!

Yang paling kuingat dari malam penemuanku, badai ini menangis dan memohon agar anak-anaknya tidak nakal dan kabur. Dia rela berbagi tubuh dengan mereka: “Satu sisi di puncak untukmu, Mata, Akal, Telinga. Sisi di samping untuk kalian, Jantung, Hati, Perasaan. Dan bawah badanku bagimu, Nafsu, Bencana, Aib…”

Dasar sinting! Ibu macam apa itu? Akal, perasaan, nafsu…? Jangan sok bijak, Setan! Tujuan dia menetap di perutku karena ingin menyiksaku. Mungkin badai ini semacam benalu, yang numpang hidup dalam tubuh makhluk lain, tapi tak sedikit pun memberi manfaat.

“Ya! Itulah dirimu, wahai badai asing!”

Aku sering berputar. Tubuhku tak lagi melingkar. Aku bergelinjang seperti belut di penggorengan. Aku mengejan sekuat tenaga seperti membuang tinja sebesar buaya. Ketika badai reda, tubuhku normal, tetapi pikiranku lari ke mana-mana. Aku tidak bisa menebak bagaimana mulanya badai asing tumbuh. Sesuatu yang ada pasti datang dari ketiadaan. Dulu tidak ada badai di perutku, tapi sejak lima bulan lalu, sejak badai itu datang, hidupku mulai berbeda.

“Kukira kamu perlu ke ahli meteorologi,” kata teman yang sama. “Karena asal-usul badai bisa dilacak. Badai di perutmu mungkin sama dengan badai umumnya. Mungkin ada perubahan atmosfer dalam tubuhmu, meski aku tidak yakin.”

“Dia bukan badai biasa. Dia makhluk seperti jin dan malaikat.”

“Kamu selalu sok tahu!”

“Ya.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Aku tahu karena dia beranak-pinak dan menangis, dan aku juga tahu dia ingin membagi raganya untuk anak-anaknya.”

“Tak masuk akal!”

“Memangnya masuk akal, ada badai dalam perutku? Bisa bayangkan?!”

Aku mencoba cara lain, yang sudah jadi keputusan akhir. Aku tidak tahan lebih lama. Setiap badai asing mengamuk, badanku tidak lagi berputar seratus delapan puluh derajat, atau mengejan, atau menggelinjang, atau melingkar dan mengerang di kasur, tapi aku lari ke sana kemari persis orang gila, karena amukan badai sangat menyakitkan!

Aku harus bunuh badai itu.

Aku tidak yakin diriku tidak terluka oleh rencana ini, tapi badai itu bisa mati kalau aku tahu titik pusatnya.

Jadi begini, saat badai tenang, kuraba perutku, kupijat, lalu kuremas bagian-bagian tertentu. Di sanalah titik pusatnya. Aku tidak menunggu badai mengamuk. Selagi ada kesempatan, ia kubunuh pada detik itu. Bisa dengan pisau atau pedang panjang, sehingga aku menusuknya melalui pusarku dan tembus sampai punggung. Aku tak punya pedang dan tak perlu berpikir rumit untuk sekadar membunuh badai dalam perutmu, bukan?

Aku hanya perlu mencari tempat di mana ia bisa kukubur, setelah kubunuh nanti. Aku percaya kematian badai membuatnya mudah kukeluarkan. Tidak lewat lubang anus, karena anak-anak badai sungguh amat sangat banyak. Hampir tiap malam ia melahirkan anak dan membagi dalam kelompok sesuai kebutuhan fisiknya: bagian atas, samping, bawah…. Tidak heran, hari ini anak-anak itu membuatnya lebih ganas. Aku bahkan tidak yakin selamat usai membunuh badai asing itu. Tapi satu yang pasti: percobaan ini jelas membunuhnya.

Kiranya ada hal yang membuat Tuhan tersinggung, aku minta maaf. Aku penemu sekaligus pembasmi makhluk jenis baru serupa jin dan malaikat yang bisa hidup dan beranak-pinak dalam perut seorang gadis tanpa diketahui bagaimana ia bermula.

Maka dengan tenang kuucap, “Badai asing kurang ajar yang masuk ke perutku, beranak-pinak tanpa peduli betapa susah fisikku karena menampung bobotmu yang kian hari kian berat, kuucapkan selamat tinggal.”

Dalam pandangan lamur, pisauku berlumuran darah. Tidak ada makhluk serupa jin atau malaikat, atau tiupan angin hingga gubuk roboh.

Setelah perut terbelah, yang ada seonggok daging, segumpal rambut, dua bola mata, dan bau amis. Tuhan bercanda. Terbuat dari apa badai yang tumbuh dan beranak-pinak dalam perutku sih? [ ]

Gempol, 2015-2019

 

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya tersebar di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

 

Continue Reading

Cerpen

Evolusi Homo Sapiens

mm

Published

on

Oleh: Sasti Gotama

 Seekor Homo sapiens terjatuh begitu saja dari langit. Untung saja ia terjatuh di atas tumpukan rumput kalanjana. Meskipun begitu, tetap saja ia merasa kesakitan lalu menguik    –yang bunyinya lebih mirip suara bekantan di rimba Kalimantan. Jika saja ia tidak terlalu berkonsentrasi dengan nyeri di pantatnya, tentu ia akan sadar bahwa suaranya  mengejutkan sepasang kupu-kupu hitam yang hinggap di pucuk ilalang hingga keduanya terbang berpencar, tak jadi melakukan ritual perkawinan.

Homo sapien itu bangkit sambil berusaha mengingat-ingat, bagaimana ia bisa terjatuh di tumpukan rumput ini. Seingatnya, terakhir kali yang  ia lakukan –beserta kawanannya– adalah mengejar seekor kukang tanah setinggi pohon yang melarikan diri menuju rimbunan  pakis haji raksasa. Ia mengejarnya sambil mengayunkan tombak batu yang baru diasahnya tadi malam. Ujung daun-daun itu sempat menggores kulit lengan sebelum ia merasa kakinya menginjak sesuatu yang lembut dan lunak.  Rawa. Tanah lembek itu mengisapnya ke dalam. Semakin dalam, hingga ia tak sempat berteriak ketika tanah hitam lembap itu masuk ke dalam lubang hidung dan mulutnya –terasa pahit dan asin– sebelum akhirnya ia melihat kegelapan yang berganti cahaya menyilaukan. Kemudian ia terjatuh begitu saja.

Ia melihat ke sekelilingnya. Dunia yang asing. Ia melihat tanaman  sejenis rerumputan yang dikumpulkan dalam berpetak-petak tanah. Ia pernah melihat tanaman sejenis rumput ini yang berbuah biji-bijian di suatu tempat di tengah hutan sebelum ia dan kawanannya berpindah tempat di musim kemarau panjang. Namun, rumput yang pernah dilihatnya hanya  serumpun, bukannya hamparan   kuning keemasan yang sepertinya sengaja ditanam dan terlihat seperti rimbunan bulu-bulu kukang terbentang di bawah kaki bukit.

Ia mendongak dan melihat langit sudah mulai terang. Bola api  raksasa merayap keluar dari balik bukit. Homo sapiens itu  memutuskan berjalan menuju ke arah sinar  dengan menyusuri parit buatan.

***

Sementara itu, seorang Homo sapiens lainnya berjenis kelamin laki-laki dan berbaju hitam  bernama Toha sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah. Ia menunggu Imron, sepupunya, yang berjanji akan datang secepatnya setelah selesai nyabis ke Kyai Soleh.   Toha tak menghiraukan istrinya – Maemunah—juga kopi panas yang diletakkan di atas meja. Ia juga tak  peduli  kelopak mata istrinya bengkak karena menangis semalaman. Yang ada dalam pikirannya adalah harga diri yang harus dibela.

Seminggu yang lalu, Bukad  –pamannya– baru saja memenangkan pemilihan  klebun   di alun-alun Wirakrama. Sayangnya, Sugali, klebun yang lama menolak menyerahkan tanah percaton  karena menganggap sudah melakukan tukar guling dengan tanah miliknya di pinggir desa.  Bukad tidak terima, karena tanah percaton hasil tukar guling terletak jauh dari pusat desa dan tanahnya tidak begitu subur. Sugali berkilah bahwa ini sudah disahkan oleh pemerintah pusat. Ia menunjukkan berbagai macam surat yang menetapkan perihal ini. Tentu saja, Bukad tak terima. Ia mencium adanya persekongkolan dan  mencurigai bahwa tanda-tangan yang tertera di surat-surat itu dipalsukan. Ia lalu mengajak pendukungnya untuk beramai-ramai menyerbu rumah Sugali.

Sebagai kerabat yang baik, tentu saja Toha merasa berkewajiban membela pamannya. Ini masalah kehormatan. Bagi sukunya, kehormatan harus dijunjung tinggi. Lebih baik putih tulang daripada putih mata.

Tepat pukul delapan lebih lima belas menit, Toha melihat Imron datang. Segera diraihnya celurit –berukuran enam puluh sentimeter dengan ujung melengkung– yang telah diasahnya tadi malam . Ia menghampiri Imron yang juga membawa senjata yang sama. Tekad mereka bulat. Membela kebenaran.

Maemunah melepas keduanya dengan mata  sembab. Percuma saja meminta seorang lelaki sukunya yang sudah bertekad bulat untuk mengurungkan niat. Seperti halnya yang terjadi pada kisah-kisah sebelumnya, hal-hal seperti ini  –perihal membela kebenaran–  sering berujung pada carok masal. Padahal entah itu memang sebuah kebenaran atau kepentingann seseorang, Maemunah tak yakin. Sama tak yakinnya ia  bahwa Toha akan pulang selamat. Perlahan ia menutup sepasang pintu jati rumahnya, lalu jatuh terduduk dan bersandar pada pintu. Ia menangis tanpa suara.

Sementara itu pasukan pembela Bukad, termasuk Toha dan Imron,  sudah berkumpul di depan rumah Sugali. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan celurit yang mereka bawa. Sebagian dari mereka memanggil nama Sugali. Sisanya memaki-maki.

Sugali terdiam di balik pintu. Bukannya ia gentar, tapi ia merasa melakukan hal yang benar. Akhir bulan Mei, lima tahun yang lalu, ia melihat atap salah satu sekolah dasar di pinggir desa tampak miring. Pemandangan yang lebih mengenaskan terlihat saat ia masuk ke dalam ruangan kelas. Dinding banyak yang rusak dan kayu-kayu penyangga rapuh dimakan rayap. Seolah-olah, jika ia bersin, maka bangunan ini akan rubuh begitu saja. Belum lagi letak sekolah ini jauh dari pusat desa. Anak-anak yang bersekolah harus menempuh jalan yang cukup jauh, melewati bukit kapur dan persawahan warga. Sugali berpikir, seandainya saja tanah pecaton di tengah desa bisa ia tukar dengan tanahnya di pinggir desa, mungkin bisa ia bangun sekolah yang lebih bagus.

Teriakan-teriakan semakin keras terdengar. Sugali sempat berpikir untuk keluar dan menjelaskan, tapi sesuatu berbisik di telinganya bahwa itu sama saja dengan bunuh diri dengan sadar. Jadi, ia memutuskan menunggu. Pendukungnya akan segera datang. Rencana Bukad untuk menyerbu rumahnya sudah bocor sejak tadi malam sehingga ia dan pendukungnya sudah menyiapkan taktik balasan. Tadi malam, ia gelorakan semangat pendukungnya. “Mereka melakukan fitnah sistematis. Mengatakan saya melakukan persekongkolan dan tipu muslihat. Padahal saya melakukan kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan. Dibela sampai titik darah penghabisan!” Tentu saja ia tak mengatakan darah siapa yang harus dialirkan. Yang pasti bukan darahnya sendiri.

Ketika masa Bukad semakin beringas dan hendak merobohkan pagar rumah Sugali, dari arah belakang, ratusan masa pendukung Sugali menyerbu. Di tangan mereka ada celurit dan kelewang. Carok! Ujung-ujung celurit itu mulai liar. Menghujam kulit, menyobek daging, memenggal leher, hingga darah mengalir deras. Tak ubahnya  medan perang Kurukshetra.

Semuanya sibuk berperang hingga tak memperhatikan seekor Homo sapiens telanjang yang terdiam di pinggir jalan. Ia telah  menempuh empat puluh lima menit menyusuri jalan makadam dan terhenyak ketika melihat sekumpulan makhluk yang mirip dirinya saling menghujamkan senjata tajam.

Homo sapiens itu terheran-heran. Selama hidupnya, tak pernah kawanannya saling melukai seperti itu. Biasanya  mereka memburu bison atau kukang tanah raksasa bersama-sama. Menombak, memenggal kepala, dan mengulitinya, tapi tak pernah kawanannya saling memburu sesama. Ia bertanya-tanya, apakah mereka berperang karena memperebutkan daging  bison atau kambing liar atau kukang raksasa. Tetapi ia melihat  di sekitar mereka  tak ada bangkai binatang yang diperebutkan. Lagipula perut mereka membulat dan otot-otot mereka tampak pejal. Yang pasti mereka tak tampak kelaparan.

Homo sapiens itu tak pernah tahu, bahwa berpuluh-puluh tahun yang lalu, seorang Homo sapiens lain bernama Sigmund Freud telah menemukan  hal penting yang membuat Homo sapiens saling berperang. Ego. Ego yang tunduk pada id. Tentu saja ini adalah hasil evolusi otak dari seekor Homo sapiens. Jika saja Homo sapiens dari masa lalu itu tahu, bahwa ini hasil evolusi dari otak besarnya, mungkin ia akan menolak berevolusi dan tetap memilih menjadi lutung jantan.

***

Sebelas orang meninggal dan puluhan luka berat. Dan berminggu-minggu kemudian, dari kedua belah pihak –baik Bukad maupun Sugali—mengatakan bahwa masing-masing dari masa mereka disusupi oleh pembuat onar. Begitu kata mereka saat diwawancarai oleh reporter wanita cantik berambut pendek yang datang dari ibu kota. Tak  ada satu pun dari mereka menyebutkan keberadaan seekor Homo sapiens telanjang yang melenggang di tengah desa dengan wajah heran.

SELESAI

___

Keterangan:

Keterangan:

Nyabis: diisi tenaga dalam

Klebun: kepala desa

Percanton: tanah bengkok

Continue Reading

Cerpen

Tentang Maria, Gedung Bioskop, dan Buku Harian yang Tertinggal

mm

Published

on

Getty Images/ The Lovers by Rene Magritte

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

 

Oleh Ken Hanggara *)

Pada sore hari setelah Maria pergi, aku duduk di teras dan membuka-buka sebuah buku harian. Di sampul depan buku harian tersebut terdapat suatu cap yang dahulu aku buat di sana untuk kenang-kenangan agar Maria tak melupakanku.

“Ini hadiah dariku, Bung,” kataku kepada seorang tetangga.

“Kau yakin kalian benar-benar saling mencintai?”

Aku berdiri dan mengajaknya masuk ke ruang tamu. Toni tetangga baruku, dan ia belum pernah menyapa Maria. Tiga hari yang lalu Toni datang dengan membawa mobil pick up berisi berbagai perabot, dan kepadaku yang kebetulan berada di teras rumahku, ia mengaku semua benda tersebut warisan. Ia akan tinggal di rumah sebelah yang sudah sepuluh tahun lebih kosong.

Aku mengenal Toni sejak itu, dan karena ia bujangan, aku bisa mengajak pemuda itu mengobrol apa saja sampai larut malam. Maria tidak pernah mau kuajak bercumbu sebelum tidur dan itu tidak kuceritakan pada Toni.

Karena tidak pernah kuungkit-ungkit soal Maria, dan begitu tahu pasanganku pergi tanpa pamit, Toni berpikir Maria tidak benar-benar mencintaiku. Ia berkata, sambil kami melangkah ke dalam, “Kalau tidak begitu, ada sesuatu yang salah.”

Aku berhenti dan bermenung di depan foto diriku dan Maria yang berdiri sambil berpelukan di depan gedung bioskop tujuh tahun lalu, waktu kami pengantin baru. Aku tidak berkata apa-apa sampai akhirnya sadar ada Toni di sini, dan kujawab, “Sebetulnya tidak ada yang salah.”

Aku tahu ada yang beda di wajah Toni, dan kukira dia tidak enak saja padaku yang lebih tua beberapa tahun, tapi sudah dituduh macam-macam. Soal asmara bagi beberapa orang bisa jadi sensitif. Mungkin karena itu Toni memutuskan diam.

Kami tidak berkata apa-apa sampai kuajak Toni ke ruang tengah. Ada lebih banyak fotoku dan Maria dari tahun ke tahun. Ada beberapa yang sengaja dibuat khusus untuk mengenang bahwa kami tidak akan berubah soal cinta.

“Foto-foto macam ini,” jelasku pada Toni, yang terlihat agak lega, karena aku bisa bersikap santai, “dimulai dari ketidaksengajaan. Itu foto waktu kami pertama jadian.”

Kutunjuk sebuah foto, dan kemudian jariku beralih ke foto lain di samping kanan foto tadi.

“Ini setahun pertama kami jadian. Posisiku dan Maria terlihat sama seperti di hari ketika kami bersumpah akan terus bersama. Dia di kanan dan aku di kiri. Kami tetap berpelukan. Lihat, senyum kami juga sama. Ketika itu Maria bilang, ‘Aku tidak mau kita pacaran, dan kelak selesai begitu saja tanpa ada yang bisa dikenang.’ Maka kusodorkan ide foto dengan pose yang sama dari tahun ke tahun, dan perempuanku itu setuju. Dan kini, kamu lihat hasilnya!”

Toni mengangguk-angguk selagi kujelaskan itu. Ia sesekali bicara soal keakuratan senyum kami.

Senyumku dan Maria dari tahun ke tahun nyaris tak pernah terlihat beda dari foto di tahun sebelum dan sesudahnya. Bagi Toni, merancang foto seperti ini tidak semudah yang orang pikir, apalagi yang kami lakukan melebihi dari foto dengan pose tunggal. Yang kami lakukan membeku untuk urusan asmara. Ada beberapa yang beda di wajahku, yang jadi agak bulat, tapi senyumku dan Maria tak pernah beda.

Lalu kami melompat ke topik lain soal ayah dan anak di suatu belahan bumi, yang berfoto dengan pose tunggal setiap tahunnya, dan ketika si bocah semakin lama semakin besar, posisi ayah yang menggendong anaknya dapat dibalik sewaktu-waktu.

“Di foto kalian, tidak ada yang bakal terbalik, sebab kalian saling berpelukan, dan kita bisa memeluk siapa pun tanpa harus menjadi kuat. Apa yang tadi sempat kukatakan soal kalian yang sama-sama saling mencintai, harus kutarik dan aku menyesal sudah mengatakannya,” tutur Toni dengan memandangku lesu.

Aku mengangguk. Urusan percintaan saat manusia sudah berusia tiga puluh ke atas, atau empat puluhan, atau bahkan lima puluh hingga seratus tahun, sangat berbeda dari kisah cinta yang pada umumnya orang percayai.

“Aku dan Maria sering bertengkar dari waktu ke waktu setelah tahun keenam kami. Bayangkan, itu baru enam tahun kami menikah. Aku menikahi Maria pada saat umurku dua puluh delapan, dan dia dua puluh tujuh. Jadi, sekarang ini kami masih cukup muda, padahal kenyataannya aku dan Maria merasa sama-sama menua.”

Aku tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Kuajak Toni berjalan lagi ke depan setelah puas melihat hampir semua fotoku dan Maria yang ada di ruang tengah.

Begitu aku ingat sudah menunjukkan foto-foto kami dengan pose tunggal kepada seorang tetangga baru, aku berbelok ke kamar dan mencari sesuatu di sana.

“Kau tunggu di depan,” kataku pada Toni.

Tak butuh waktu lama untuk tahu betapa Maria sudah membawa kamera dan setiap file dalam laptopku yang menyimpan seluruh foto dengan pose tunggal tadi. Itu adalah bukti untuk, paling tidak, dua kemungkinan. Pertama, Maria tidak ingin melupakanku sehingga foto-foto yang kami buat akan ia simpan selamanya meski kami tak bersama. Kedua, ia hapus seluruh file tersebut sehingga tidak ada lagi yang tahu bagaimana cara kami menyimpan cinta yang dulu begitu kami agungkan.

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

Di gedung bioskop,” desisku.

Itulah potongan kalimat pertama di buku harian Maria. Ia pernah bilang bahwa ia sengaja memindah catatan hariannya ke buku baru, setelah ada lelaki yang memenuhi kebutuhan cintanya, yakni aku. Jadi, hari ketika kami berdua bertemu itu Maria jadikan halaman pertama di buku harian barunya yang tebal.

Aku pernah bertanya, “Kamu menyiapkan buku setebal itu untuk tahun-tahun yang manis bersama orang paling beruntung, ya?”

“Aku yakin buku ini tidak akan pernah putus, karena ketika dia sudah kehabisan halaman kelak, akan kutambah dengan buku harian yang juga tebal, lalu mereka berdua kujahit, begitu seterusnya. Bisa dibayangkan? Kelak anak cucu kita akan tahu betapa nenek moyang mereka adalah penulis yang romantis!”

Aku bahagia dan merasa terhormat mendapat tempat seistimewa itu di hati Maria. Dia pernah dikhianati lelaki sewaktu masih SMA, dan sejak itu hingga berumur dua puluh tujuh, tidak sekali pun jatuh cinta. Dengan kata lain, akulah pria pertama yang ia cintai setelah bertahun-tahun membenci cinta.

Di gedung bioskop, seorang lelaki datang menyapaku, dan dia bertanya film apa yang bagus ditonton seorang diri? Kalimat pertama itulah yang ditulis Maria, dan aku ingat betapa dengan konyolnya aku bertanya soal film yang baik ditonton oleh orang yang kesepian. Waktu itu pilihan filmnya hanya romansa. Aku dan Maria dengan senang hati menonton bersama. Ia mudah menerima teman baru sepertiku, yang baginya lucu. Memang ketika itu aku merasa bodoh dan lucu.

Pulang dari bioskop kami mengobrol seperti teman biasa yang baru berkenalan. Ia kumintai nomor telepon, dan sejak itu, kami sering pergi ke bioskop. Sering juga kami menonton film yang dibuat untuk mereka yang tidak punya pasangan. Film-film macam superhero dan hal-hal tak masuk akal yang cenderung kekanak-kanakan. Aku tahu film semacam itu tidak benar-benar dibuat khusus untuk mereka yang single, tetapi tentu saja aku dan Maria ketika itu senang bercanda.

Begitulah, aku membaca halaman demi halaman buku harian Maria yang ditinggal, entah sengaja atau tidak. Buku harian itu kutemukan di lantai ruang tengah, tergeletak begitu saja bersama beberapa brosur liburan murah ke luar negeri serta beberapa buah buku bacaan yang Maria sukai. Benda-benda ini tersimpan di salah satu tas yang kukira harus Maria bawa, namun tak sengaja ditinggalkan. Aku tahu dia pergi dari rumahku dengan tergesa-gesa. Tidak ada alasan lain selain karena takut aku melarangnya.

Memikirkan Maria yang merasa tidak akan ada gunanya kami hidup tanpa pernah ada calon bayi di perutnya, membuatku sedih dan mungkin baiknya aku juga berkemas malam ini dan pergi dari rumah. Aku pergi untuk mencari Maria, atau mungkin pergi ke tempat mana pun yang kusuka untuk menghibur diri. Tapi, tubuhku lemas dan tak ada kemauan mewujudkan pikiran gila apa pun.

Mungkin esok keputusan itu ada. Mungkin juga tidak. Tapi, untuk saat ini tak ada hal apa pun yang ingin kulakukan selain tetap di sini. (*)

Gempol, 2017-2019

 _______________

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending