Connect with us

Cerpen

Senja dan Sebuah Dendam

mm

Published

on

Oleh: Ivanasha*

 

Aku menatap langit di atas kepala sedang berwarna ungu. Kukira, ia habis bertengkar dengan waktu, hingga lebam seluruh wajahnya. Aku sedang berusaha mengingat seseorang dengan bertanya kepada langit, apakah warna yang disebut senja ini sampai juga di langitnya yang terpaut begitu jauh dari tempatku berdiri?

 

Aku tidak bisa menebak rupanya, bagaimana kepala seseorang itu berisi. Apakah serumit pikiranku yang dipenuhi tatapan mata dan senyumannya, atau bahkan memang tidak pernah serumit itu. Sementara, puisi senja pernah kukirimkan kepadanya—sepenuh keberanian. Tetapi tak sampai sekarang pun seseorang itu menjawab apa yang kutuliskan kepadanya. Dan aku lagi-lagi berusaha mencari jawaban dengan bertanya-tanya sendiri sambil menatap langit jauh-jauh. Meski aku tahu tidak ada gunanya, tetapi perasaan ringan yang kurasakan setelahnya tidak pernah gagal menghibur gelisah. Sebab langit selalu mampu menampung apapun yang orang-orang tak bisa menampungnya. Seperti pertanyaanku. Seperti perasaanku.

 

Sore sebentar lagi pergi dan aku masih perlu mengeluarkan banyak pertanyaan. Kakiku rasanya ingin melangkah dan lalu berlari tak berarah. Mungkin aku hanya butuh udara lebih banyak masuk ke rongga paru-paru, sebab merindukannya, membuat sesak. Sementara aku tidak rela malam datang terlalu cepat dan menutup mataku dengan hanya gelap. Sebab kusadari ketika seseorang itu tiada di sini, aku bukan siapa-siapa, dan aku tidak memiliki cahaya apa-apa. Aku hanyalah setitik yang hilang karena memikirkannya, kata orang, begitu butanya.

 

Sebuah pohon berdiri menjulang di hadapanku. Dahan-dahannya meninggi dan rindang dipenuhi daun yang hijau dan banyak juga yang kuning—mungkin penanda gantinya musim. Sepenuh harap kubayangkan daun-daunnya itu ialah rambut seseorang yang melingkar-lingkar, dan tubuh pohon itu ada tubuh seseorang yang selalu ingin kupeluk. Aku menganggap langit sedang menghadiahkanku teduhnya untuk mengingat lebih lapang lagi. Mungkin juga sebenarnya langit sedang mencarikan seseorang itu untukku, tetapi tidak menemukannya, sebab aku tahu ia sedang bersembunyi di balik kesunyiannya.

 

Tiba-tiba angin yang sangat kencang datang dan membuat seluruh pertanyaanku berantakan terserak di jalan raya yang ramai. Aku bahkan tak sempat memungut kata-katanya yang terurai untuk kembali ke dalam kepalaku, sebab kemudian aku merasa lelah untuk mencoba. Kemudian aku menyadari bahwa pertanyaan tidaklah ada arti jika yang ditanya tidak pernah menjawab. Kemudian kuketahui kalau rasa penasaranku ini sudah tersesat terlalu jauh. Aku tidak lagi mencari untuk lepas dari sendiri, karena aku telah mencuri jawaban dengan berkhayal dalam-dalam. Sekali lagi kusadari angin beserta gunanya yang tiba-tiba; aku tidak perlu bertanya jika bisa kurangkai jawabannya.

 

Sebab kata-kata bisa kumiliki seluruhnya dan seutuhnya, aku bisa menulis apa saja dan menjadikan diriku sendiri tuhan di dalamnya. Aku bisa membuat seseorang bersedih membawa isi kepalanya yang sangat berat karena ia tidak bisa berhenti bertanya dan merasa penasaran. Aku bisa juga membunuhnya karena rindu membuat ia ingin menyerah. Aku akan membuat seolah-olah ia sedang terjebak senja yang panjang usia, hingga ia mencari keberadaan waktu di lain hari. Aku tahu aku bisa merangkai kenyataan apa saja.

 

Maka aku menulis seperti sedang membalas dendam.

 

 

***

 

Pagi ini saya terbangun menemukan langit berwarna ungu. Saya kira, ada yang mengganti tirai saya tiba-tiba. Tetapi mana mungkin begitu. Saya selalu berangkat tidur sendiri, pula terbangun disapa sepi. Tidak mungkin ada orang lain berjingkat malam-malam hanya untuk mengganti tirai jendela kamar orang asing. Tidak mungkin itu. Tetapi tetap saja saya memikirkan kemungkinan lainnya, sembari mengumpulkan nyawa dan berusaha bangkit dari kasur.

 

Saya menduga-duga akan ada berita apa hari ini. Langit pagi warnanya keungu-unguan. Tidak terlalu mendung, cenderung teduh, seperti sesaat ketika hujan akan datang. Mungkin memang begini karena hujan akan datang. Mungkin datangnya akan sangat deras dan orang-orang bisa tersapu ke entah. Kalau begitu, mungkin saya perlu mengunci diri di dalam kamar. Atau sebaiknya saya pergi mencari dataran tinggi?

 

Tubuh ini berat sekali rasanya untuk bangun dan mencari tahu. Seperti ada kesedihan yang murung. Saya tidak tahu apakah kemalasan sedang bertamu, atau saya terlalu nyaman memendam diri di atas kasur. Yang saya pikirkan sekarang adalah tentang pagi yang asing. Saya ingin segera berangkat mencari tahu dan mendapatkan jawaban. Tiba-tiba saya khawatir kalau-kalau saya akan telat menyelamatkan diri saya sendiri. Duh!

 

Saya mencoba sekali lagi bertanya kepada pikiran. Mungkinkah subuh tadi ada hujan deras jatuh dari langit dan menyisakan pelangi yang begitu terang dan panjang. Siluet yang biasa samar kini menjadi fenomenal. Orang-orang sehabis beribadah di masjid berbondong-bondong mengambil kameranya di rumah dan memotret angkasa yang semakin siang waktu menjulang, semakin terang pelanginya benderang. Kemudian mereka memanggil tetangganya yang lain untuk ikut menikmati apa yang mereka sebut-sebut sebagai keajaiban dari Tuhan.

 

“Lihatlah ke luar! Pagi melukis pelangi yang aneh! Terang sekali!”

 

“Maha Kuasa Tuhan!”

 

“Potret yang banyak! Abadikan keajaiban usia kita sebagai kaum yang beruntung!”

 

Tiba-tiba saya keluar dari labirin pikiran saya sendiri. Dunia masih terlalu lengang untuk suatu keributan. Dari balik jendela yang bercahaya ungu itu sama sekali tidak terdengar suara seorang pun. Saya justru mendengar napas saya sendiri semakin menderu, yang saya yakin dipicu oleh rasa resah dan penasaran saya di pagi yang asing ini. Bagaimana tidak, pagi ini langit berwarna ungu terang! Meski sebagian hati saya seperti mengatakan kalau cahaya di balik jendela itu sungguh indah, tetapi kepala saya tetap menganggapnya sebagai hal yang ganjil.

 

Setelah beberapa saat, saya akhirnya mengalahkan beban berat yang menimpa tubuhku. Saya perlahan bangkit dari kasur dan berjalan ke arah jendela untuk menyibak tirai di hadapan cahaya ungu itu. Kepala saya mulai lelah dituding pertanyaan dan rasa penasaran yang tidak sudah-sudah. Saya menjulurkan tangan dan meraih kain tirai untuk kemudian menyibaknya ke samping. Kemudian, saya tidak menyangka apa yang saya lihat di hadapan mata saya.

 

Cahaya ungu itu benar-benar terlukis di langit di atas bumi ini. Garis melintang berwarna merah dan oranye tergores di sana-sini, menghiasi keseluruhan warna ungu tersebut. Saya tahu, ini adalah langit senja. Saya pernah melihatnya sewaktu saya kecil dan masih senang bermain-main di lapangan dekat rumah sebelum maghrib. Tetapi ini senja yang berbeda. Senja ini begitu indah. Sangat indah hingga sepasang mata saya enggan memercayainya. Sinarnya memantul di balik awan teduh, memanjakan mata saya dengan pemandangan yang mencuri napas saya perlahan-lahan.

 

Tetapi, senja apakah yang datang di pagi hari? Ataukah saya masih bermimpi dan belum terbangun dari tidur saya? Saya mencubit lengan sendiri. Nyeri. Ini bukan mimpi. Tetapi lantas ini apa?

 

Langit yang begitu indah masih terlukis di atas sana, sementara saya masih terkagum-kagum dan bertanya-tanya. Keindahan ini sepantasnya saya nikmati ketika tidak terasa asing. Keindahan ini sepantasnya terpapar ketika sore hendak menjemput malam. Keindahan ini begitu ganjil, tetapi saya tetap mencintainya. Seakan sengaja membuat saya jatuh di dalam cantiknya yang begitu janggal. Terpesona sejadi-jadi, tanpa berhati-hati.

 

Di dalam ruang kamar saya tergantung sebuah jam dinding. Saya ingat, saya belum melihatnya sejak saya membuka mata pagi ini. Sekejap kupalingkan kepala dari senja ke arah jarum jam yang berdetak. Jam setengah tujuh pagi. Saya kemudian merasa semakin aneh. Waktu seperti terbalik! Seharusnya senja belum datang sampai setidaknya sebelas jam lagi. Seharusnya tidak ada warna ungu, merah, dan oranye yang bersinar di langit pagi hari. Seharusnya tidak ada. Ini tidak nyata!

 

Sudahlah, nikmati saja senja itu. Sebut saja hadiah dariku.

 

Suara apa barusan? Saya seperti mendengar dengung lembut yang mampu kupahami. Seperti kalimat, tetapi tak bersuara. Sementara tidak ada siapa-siapa di dalam kamar ini.

 

Tahukah kau seorang perempuan yang pernah mencintaimu dengan terlalu, tetapi tak pula kaulihat sedikit pun perasaannya?

 

Saya semakin bingung. Tetapi kalimat-kalimat ini terdengar semakin jelas. Saya seperti mendengarnya dari dalam kepala. Kemudian saya mencoba mencerna arti dari  kata-katanya. Saya mengingat seorang perempuan yang pernah mengirimkan saya sepotong puisi. Di dalam puisi itu, ia mengemas senja begitu teduh dengan bait-baitnya. Tetapi betapa pun indah kata-katanya, tak satu huruf pun mampu membuatku membalas puisinya. Saya tidak bisa menulis puisi untuk seseorang yang tidak saya cintai.

 

Aku tahu. Maka kini aku menuliskanmu.

 

Tiba-tiba air mata saya jatuh. Kurasakan kesedihan membalut hangat dan perlahan memanas di dalam dadaku. Saya ingat ia pernah menangis di dalam sepotong puisi. Puisi itu mencintai saya, tetapi saya memutuskan untuk tidak memedulikannya. Saya kira, sebaiknya saya tidak memberikannya harapan sama sekali jika saya tidak bisa mempertanggungjawabkannya. Tetapi kali ini, bagaimana ia bisa masuk ke dalam kepala saya? Tangis saya jatuh semakin basah. Saya pun tidak tahu kenapa saya menangis. Saya tidak seharusnya sedang bersedih. Ada masalah lain yang harus saya pikirkan jalan keluarnya. Senja di hadapan jendela semakin ungu, saya harus menemukan pagi yang sebenarnya. Segera.

 

Ya, kau memang tidak pernah membalas sepatah kata pun yang telah aku tangiskan untukmu. Puisi itu, adalah puisi yang kutulis dengan senja agar indah dan cantik rupanya; agar bisa menarik perhatianmu meski hanya sedetik saja. Tetapi, kau tetap menjadi seseorang yang dingin tanpa hati. Kaupatahkan kecintaanku dengan kejamnya sikapmu. Kau bahkan tak menjawab sama sekali setelah kaubaca puisi yang kutangiskan itu. Tanpa kau sadari, kau telah melukai hati yang sungguh, mencintaimu dengan terlalu.

 

Saya berusaha tidak mendengar kalimat-kalimat yang berdengung di kepala saya kian tajam. Meski akhirnya saya sadari itu tidak mungkin. Sebab semakin saya berusaha, semakin dalam saya terjebak ke dalam arti yang terlalu saya pahami.

 

Saya mengenal perempuan itu. Saya pernah membaca senja yang ia kirimkan. Begitu indah, begitu cantik. Senja yang kemudian saya sadari terbaca seperti senja yang sedang saya lihat ini. Senja itu cinta di hatinya. Cinta yang berwarna ungu dengan semburat merah dan oranye. Cinta yang begitu tabah menahan lebam, sebab tak sekali pun saya menjawab pertanyaan-pertanyaanya. Lalu mata saya kembali meneteskan airnya semakin deras. Kini saya sadari mengapa saya bersedih. Saya merasakan apa yang perempuan itu rasakan.

 

Saya menangis seakan air mata yang pernah dijatuhkan perempuan itu mengalir di mata saya. Jatuhnya kemudian membasahi dada saya yang kian sesak. Mungkinkah ini sebentuk sesak yang pernah perempuan itu rasakan? Saya semakin terisak. Sambil menatap senja, saya mengenang kata-kata di dalam puisi yang pernah perempuan itu kirimkan. Tetapi sayang sekali, sungguh, sungguh sayang sekali—saya menyesal—tak satu kata pun mampu saya ulangi bunyinya. Saya tidak mengingat puisi perempuan itu, sama sekali. Tetapi kesedihannya semakin tajam menusuk kekhawatiran saya. Saya menangis sejadi-jadi.

 

Lihatlah senja di hadapanmu, kekasih. Langit yang kuhadiahkan kepada kau, agar mampu kau rasakan duka yang palung yang bersandar lama di penantianku. Bukankah cahayanya begitu indah? Membuatmu menyempatkan sedikit waktumu untuk mengenang seseorang. Sementara kenangan diciptakan untuk mengulang sesuatu yang tak pernah kembali, baik dengan kebahagiaan atau dengan penyesalan. Dan kuhadiahkan pagi ini, senja yang begitu silau, yang membuatmu bertanya-tanya dan merasa takut karena tak kau ketahui jawaban dari pertanyaanmu.

 

Begitulah aku. Perempuan yang pernah tenggelam di dalam senjanya sendirian. Tak lama setelah kau berlalu, aku menunggu jawaban darimu. Tetapi kutemukan diriku tidak akan pernah mendapatkan jawaban. Dan aku bertambah resah setiap hari. Seiring senja berganti senja, aku terbakar oleh rasa penasaranku sendiri. Aku mengutukmu sebab cinta tak lain hanyalah sebagian dari benci yang belum tumbuh. Jika dulu pernah kutuliskan kepadamu sebuah senja, kini aku menuliskanmu kepada senja. Aku ingin kau terbunuh seperti aku membunuh perasaanku sendiri. Dan kau tahu, kematian setitik perasaan tidaklah pernah menjadi hal yang mudah. Dan itu semua kutanggung sendirian.

 

Saya tertegun dan menahan napas. Sesak semakin membakar di dalam dada saya. Kemudian, meskipun saya tahu saya akan terdengar gila, akhirnya saya bersuara dan bertanya, seakan sedang berbicara dengan diri saya sendiri.

 

“Apa yang kaulakukan kepadaku? Apa yang kaulakukan kepada langit?”

 

Lalu saya menunggu jawaban.

 

Saya menunggu dan menunggu.

 

***

 

Setahun sudah berlalu. Senja masih menyala-nyala di hadapan jendela kamarku. Ungunya masih sama seperti awal saya menemukannya setelah bangun dari tidur. Cahaya yang indah itu kini seperti penjara bagi saya. Saya tidak pernah menemukan jawaban dari pertanyaan yang saya katakan satu tahun yang lalu. Saya mulai kehilangan waras. Mungkinkah pada waktu itu saya memang sudah gila, sehingga mengajak bicara diri saya sendiri?

Saya tidak bisa keluar dari keindahan senja ini. Dan kesedihan seperti membangun rumah mewah di dalam dada saya, hingga sesak tak pernah hilang, dan air mata saya seperti telah kering.

 

Saya tidak pernah mendapatkan jawaban. Senja masih begitu nyala di hadapan jendela kamar saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tali dan mengaitkannya di kayu yang melentang di atap kamar saya. Saya menaiki sebuah meja dan melilitkan tali itu di leher saya. Lalu perlahan tapi pasti, saya tinggalkan pijakan kaki saya dari atas meja tersebut.

 

Kemudian, saya merasakan air mata terakhir perempuan itu jatuh di pipi saya.  (*)

*Ivanasha, cerpenis. Twitter @Ivanasha

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Tiara

mm

Published

on

by Widya Yustina *)

“Mas Edi menelepon tadi.”

“Apa, Bu?” tanyaku.

“Iya, Mas Edi menelepon Ibu.”

“Oh, ya?”

“Nyariin kamu.”

Untuk apa dia mencariku?

“Dia bilang nomor handphone-mu tak bisa lagi dihubungi, makanya itu mungkin dia nelepon kemari.”

“Begitu ya? Lain kali, kalau Mas Edi telepon, ndak usah diangkat saja ya, Bu,”

“Lho?”

“Iya, pokoknya nanti kalau Mas Edi telepon lagi, langsung tutup saja sama Ibu.”

“Hhmm… Sebenarnya bukan sekali ini saja dia kontak Ibu, minggu lalu juga Mas Edi telepon, nanya kabar Tiara, mungkin kangen.”

Kangen? Tumben kangen.

Nduk… Mungkin sudah saatnya kalian bicara, biar bagaimana keadaannya, pikirkan masa depan anakmu, Tiara.”

Apakah selama ini dia memikirkannya?

 “Genduk… Ibumu ini bicara serius.”

Inggih, Ibu, tapi sekarang Lastri pergi kerja dulu ya.”

“Kamu ini… Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya.”

Suara Ibu bergetar terdengar waswas. Tiara, bayi perempuanku, beringsut nyaman dalam dekapan neneknya. Usianya belum genap 2 tahun, rambutnya keriwil, hidungnya lumayan bangir. Manis kalau tersenyum. Kugenggam jari-jemarinya yang montok dan menggemaskan. Kucium keningnya lalu pamit pada ibuku.

Tetangga dan handai tolan bilang, Tiara sangat persis mirip bapaknya ketimbang denganku. Sorot matanya acapkali mengingatkanku pada sesosok lelaki yang dulu sangat kuhormati, Mas Edi Wibowo, atau haruskah kusebut saja namanya tanpa panggilan hormat ‘Mas’? Ingin rasanya kuenyahkan dia dari ingatan. Namun, setiap kali menatap Tiara, mustahil melakukannya.

Pria itu begitu memesona waktu awal jumpa. Pintar dan tampak bersahaja. Posturnya tak terlalu tinggi namun kesan wibawa terpancar kuat darinya. Setelan kemejanya rapi. Rambutnya disisir klimis. Sepatu pantofelnya mengilat. Menjinjing tas kulit berwarna cokelat. Kami bertemu muka di bus kota.

Alih-alih bersikap cuek, aku terkejut melihatnya tersenyum padaku. Tunggu, apa benar ia tersenyum padaku? Kutengok kanan dan kiri, benar pandangannya tertuju padaku saja. Jantungku tersendat, dihunjam ratusan anak panah. Sepersekian detik terbang ke langit ketujuh. Pipiku memerah, dibuatnya jadi salah tingkah.

“Kenalkan, namaku Edi, Edi Wibowo.”

“Ah iya, saya… Ayu Lastri, panggil saja Lastri, Mas.”

Silir angin menembus celah jendela kaca tempat duduk kami berdampingan. Semerbak aroma wangi parfum segar tercium hidungku seketika membuat harga diriku terhempas karena cuma pakai deodoran. Harga parfumnya pasti mahal, pikirku kala itu.  Mas Edi terpaksa naik bus karena motor bebek yang dikendarainya mendadak mogok di tengah jalan. Ia hendak pergi mengajar di salah satu universitas tinggi negeri di Yogyakarta.

Pertemuan itu kukenang sebagai tengara bahwa hidup selalu memberi kejutan. Enam bulan setelah perkenalan, kami menggelar pesta pernikahan kecil-kecilan. Mas Edi, seorang Pegawai Negeri Sipil, mengenyam pendidikan doktoral di Amerika, melabuhkan petualangan cintanya padaku. Seorang gadis biasa-biasa saja, bahkan hanya lulusan diploma. Mungkinkah itu benar disebut cinta jika akhirnya membuatku sengsara?

 “Mbak, Mbak, ojek Mbak…,” lamunanku seketika buyar oleh seruan tukang ojek pangkalan.

“Oh iya, tolong antar saya ke Belo Garmen Industri di Jalan Mergo sari ya pak.”

“Ah, siap!” ujarnya sambil menyodorkan helm.

Matahari menggeliat bersinar garang. Bunyi klakson menggemuruh. Kabut udara dari asap kendaraan bercampur dengan butiran semangat dan keringat. Deru mesin motor melaju kencang di jalanan. Membelai rambutku yang panjang terurai, terkena imbasan angin. Jalanan yang sama kutempuh selama dua tahun ini menuju tempat perusahaanku bekerja di bagian administrasi.

Gajinya tak terlalu besar tetapi paling tidak dapat menyelamatkan harga diriku ketimbang menagih janji tanggung jawab dari ayah Tiara, seolah-olah itu utang. Tiara masih berumur 6 bulan waktu bapaknya itu menjatuhkan talak. Mas Edi rupanya kecantol cinta lain, sesama kolega.

Entah kapan dan di mana mereka bertemu, hanya Tuhan yang tahu. Perempuan itu tak mau mengaku ketika kuhubungi. Jejak perselingkuhan mereka tetap tercium meski suamiku berusaha menutupinya. Saat itu pula, harga diriku sebagai istri telah lenyap. Perselingkuhan itu seketika mematikan sumbu cinta di dalam hatiku. Menghancurkan keyakinanku akan ikatan suci sebuah perkawinan.

Gelora hasrat puber kedua telah membuatnya mati rasa. Tugasnya menjadi tugasku. Menjadi seorang ayah sekaligus menjadi seorang ibu. Demi anakku, rela kulakukan segala. Kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala. Kini laki-laki itu mencari-cariku setelah dia nyatakan urusan kami selesai bertahun-tahun lalu. Hidup tak sebercanda itu.

“Pak, pak, berhenti di sini ya.” Motor berhenti di lajur jalanan beraspal, khusus karyawan pabrik.

“Berapa, Pak?” ujarku sambil membuka helm.

“Eeh, itu, gak apa-apa, Mbak, gak usah bayar.”

“Lho?” ucapannya membuat keningku seketika berkerut.

“Jangan, bener gak apa-apa.”

“Masa gratis? Kan jadi gak enak saya.”

“Bener gak apa-apa, itu tapi, nganu, begini, saya kepengin ngobrol sama Mbak, sebentar saja, boleh ya?”

“Mau ngobrol apa?”

“Eehhmm…, gini, anu…, saya sering perhatikan Mbak kalau pulang kerja malam, pergi ke mana-mana juga sendirian, apa ndak takut begitu?” Bola matanya menyipit. Alisnya tegak. Sudut bibirnya merruncing, menampak seringai serigala.

“Dengar kabar, Mbak janda ya? Apa ndak kesepian? Boleh sekali-kali saya temani? Nanti pulang kerja, kita jalan-jalan dulu ya, gimana? Mau?”

Wajahku sontak terasa panas bagai ditampar bara. Sekelebat bayangan pedang muncul menghunjam dada pria paruh baya bertubuh gempal itu. Tubuhnya ambruk, menggelepar-gelepar di atas tanah. Mulutnya mesem-mesem sembari terus mengeluarkan celotehan busuk. Perutku mual ketika jari-jemarinya mencoba menyentuhku.

Kurogoh kocek lima puluh ribuan, kulemparkan kehadapannya lalu beranjak pergi. Pandanganku kabur, tergenang air mata. Hati remuk bagai gelas retak berdebu. Sepagi ini menanggung malu. Duh Gusti Mahasuci yang Maha menyaksikan segala, harus berapa lamakah lagi menahan diri dari fitnah, bujuk rayu dari segala penjuru?

Belumlah reda gemuruh di dalam dadaku. Langkah kakiku mendadak terhenti. Terlihat kerumunan karyawan berjejalan di depan pintu pabrik. Selembar kertas pengumuman tertempel di pintu gerbang yang tertutup rapat itu. Aku bergegas menghampiri Marni, seorang teman yang kukenal bekerja di bagian operator.

“Ada apa ini ribut-ribut, Mar?”

“Oh kamu, Las, ini perusahaan ngasih pengumuman, kegiatan operasional pabrik kita ditutup, katanya hasil tes beberapa karyawan kita positif kena corona.”

“Apa?!” Ucapan Marni seketika membuat mulutku menganga.

“Yang benar? Siapa, Mar?”

“Iya benar. Mulai hari ini kita ndak usah datang ke pabrik lagi. Tuh! kamu baca saja sendiri,” ujar Marni sambil berlalu pergi. Aku pun bergegas mendekat ke arah kerumunan, bergesek beradu, membaca sendiri isi pengumuman itu. Ternyata benar yang dikatakan Marni. Pabrik ditutup sementara waktu.

Suasana semakin ricuh. Sebagian karyawan berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tangan. Seseorang kemudian merusak kertas pengumuman itu lalu melemparkannya ke tanah. Petugas keamanan menyuruh kami mundur dan bersabar menunggu instruksi lanjutan dari pimpinan. Marni tampak diam berdiri di seberang jalan, mata kami saling bertatapan.

Seluruh kejadian beruntun pagi ini pun membuat dadaku sesak, jantungku berdetak kencang tak karuan. Kepalaku mendadak pening alang bukan kepalang. Bagaimana akan kuberi makan anakku? Apa yang harus kulakukan sekarang?  Hanya pekerjaan ini yang kuandalkan. Hidup berhemat agar mampu bertahan. Kuabaikan keinginan serta kebutuhan pribadiku agar Tiara bisa hidup layak.

Sekumpulan ojek terlihat berada di tikungan tampak asyik mengobrol, salah seorang dari mereka tertawa terbahak-bahak. Langkah kakiku otomatis berbelok, memutar arah, berjalan lebih jauh menuju persimpangan, menaiki angkutan umum, kembali menuju tempat ibuku sebagai karyawan yang dirumahkan. Dalam perjalanan, pikiranku kembali menerawang. Berita pagi ini sulit kuterima, dan sejujurnya aku pun belum tahu akan bagaimana. Akan tetapi, aku harus mampu menghadapinya, karena aku adalah seorang ibu. Ibu yang bahkan rela mati demi anaknya.

Selesai.

__
*) Widya Yustina lahir di Ciamis, 1986. Menyelesaikan studi Ilmu Jurnalistik di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Selain hobi menulis, ia juga gemar menonton dan jalan-jalan. Karyanya yang lain diantaranya, Buku Dongeng Fabel 2019 Jilid 1 (2019), Menenun Rinai Hujan (2019) bersama Sapardi Djoko Damono, Orakadut Jadi Tokoh (2020) kumpulan antologi cerpen bersama Golagong.

Continue Reading

Cerpen

Asmara Lembah Silikon

mm

Published

on

Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

Damhuri Muhammad *)

Di mata orang-orang yang lemah daya ingat, Hafiz Imtiaz adalah hard disk drive  (HDD)  bernyawa.  Seolah-olah ada ribuan folder  penyimpan ingatan dalam big storage  yang tertanam di jantungnya. Di gudang penyimpanan itulah rupa-rupa ingatan dikandangkan. Mulai dari ingatan remeh, seperti hari pertama bisa pipis sendiri, hari pertama bisa menyalakan korek api, hari pertama pakai seragam sekolah, atau hari pertama bisa mengendarai sepeda tanpa bantuan dua roda samping.

            Ada pula folder berisi memori-memori yang terklasifikasi pada level medium, semacam rahasia perempuan yang ternyata berjodoh dengan laki-laki yang dulu kerap ia hina dengan kata-kata yang lebih menyakitkan dari kematian, jawaban atas rasa penasaran kenapa gadis ayu level dewa rela menerima pinangan duda seusia bapaknya, termasuk ingatan atas hari pertama melihat tubuh perempuan tanpa busana dari pengalaman mengintip orang mandi. Tersedia pula folder khusus dengan berlapis-lapis kata kunci, berisi koleksi ingatan berkategori kelas berat. Misalnya, jawaban akurat atas tanda tanya besar perihal kematian mendadak seorang jaksa tinggi yang lazimnya dibereskan dengan dalih serangan jantung. Atau jawaban tak tersangkal atas  kenyinyiran netizen kenapa seorang Presiden yang dulu dibela mati-matian oleh pendukungnya, kini menjadi penguasa kesepian dan tinggal menunggu momentum derita post power syndrome.

            Sebelum total berkhidmat sebagai penggenggam ingatan, Hafiz Imtiaz pernah menyebut dirinya sebagai pemulung. Pekerjaannya mengais-ngais sampah di belantara big data, seperti pemulung yang berkeliling dari gang ke gang di permukiman padat, mencari kardus atau botol plastik bekas. Di jagat maya, sampah yang ia bereskan tentu meme sisa TwitWar, politisi berkepala lembu hasil olah photoshop, diagram palsu, hingga infografis berisi statistik yang sudah ketahuan halu.

            “Sampah doyannya sampah juga,” sindir netizen, saat Hafiz Imtiaz sempat mengunggah meme kadaluarsa berjudul dibuang sayang.

Tapi ketika sebuah isu baru memerlukan sokongan konten lama itu, meme milik si penggenggam ingatan sudah lenyap. Sampah yang melesap ke dalam big storage-nya hilang tak berbekas, dan tak bakal terlacak search engine secanggih Google sekalipun. Piranti lunak bikinan Hafiz Imtiaz bagai mesin pengisap hoaks, kebencian, dan  bacot unfaedah. Akibat pekerjaan si pemulung, ruang interaksi media sosial tidak lagi bergairah. Konten yang tersisa hanya buku-buku teori yang bikin ngantuk, nasihat-nasihat jaim berbungkus basa-basi, dan video-video kultum yang lebih buruk dari pidato politisi.

            “Hai Pemulung. Algoritmamu itu, mukjizat dari rasul mana?” tanya seorang pakar datamining  bernama Irman Gugelman, yang kemudian diketahui sebagai utusan khusus penguasa Lembah Silikon.

            “Kau mau kemewahan seperti apa, anak muda? Jangan menganggu tatanan  kekacauan informasi bikinan kami!” lanjut Irman Gugelman, yang terdengar seperti bujukan.

            “Saya memulung yang tak berguna. Mukjizat itu datang dari jazirah Bantar Gebang. Seperti langit dan bumi bedanya dengan Lembah Silikon,” balas Hafiz Imtiaz. Santai.

Meski dapat menembus big storage milik pemulung, misi penting utusan khusus dari Lembah Silikon gagal. Jutaan gigabyte limbah, aset penting penguasa Lembah Silikon, sudah terlanjur menjadi fosil di big storage si pemulung.

            “Secara visual, timbunan fosil itu membentuk anatomi makhluk yang sedang membungkuk, seolah-olah ia sedangmenyembah Dajjal itu!” kata Irman Gugelman, melaporkan kegagalan misinya.

            “Rekomendasi Anda?” tanya pejabat ring satu Lembah Silikon.

Irman Gugelman diam. Ia hanya membayangkan algoritma baru, yang dapat menciptakan kecerdasan buatan sekaliber kecerdasan Nabi, terutama yang  punya mukjizat dapat menghidupkan data mati.

***

            Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

            “Yang sudah hilang tak bisa kalian temukan. Tapi, saya akan berhenti sebagai pemulung!” kata Hafiz Imtiaz setelah menolak semua iming-iming dari Lembah Silikon.

            “Sekadar simpanan guna mengamankan hidupmu di usia senja, tak berminat juga, Pemulung?” tanya Irman Gugelman, yang ia maklumatkan sebagai peluang penghabisan.

            “Saya tidak akan pernah tua! Saya menolak ketuaan. Ndak usah repot-repot, Sodara!” balas Hafiz Imtiaz.

            Sejak itulah si pemulung beralihrupa menjadi penggenggam ingatan. Itupun hanya untuk membuat piranti lunak bikinannya tetap bekerja, sekadar bertahan untuk tidak berakhir sebagai barang rongsokan. Portofolio Hafiz Imtiaz yang pernah mengguncang kedigdayaan para inventor dan inovator Lembah Silikon, membuat ia begitu mudah mendapatkan klien. Si penggenggam ingatan seperti gula yang dikerubungi kawanan semut. Banyak tawaran yang mengandung ajakan agar ia kembali berkiprah sebagai pemulung dalam wajah baru, misalnya menghisap data pribadi dari sebuah platform percakapan daring yang disebut-sebut telah meraup 7 juta user. Tangkapan besar yang sangat berharga bagi saudagar ruang iklan, dan potensi tak ternilai  incaran para kontestan pemilihan Walikota.

            “Kami bisa membantu penyempurnaan piranti lunak Anda. Setelah itu kita bergembira ria di pesta kemenangan Walikota,” kata perwakilan tim sukses salah satu kandidat.

            “Tiga kali tawaran macam ini mendatangi saya, dan saya sudah menolaknya empat kali. Saya alergi politik. Bila kambuh, antibiotiknya kurang ampuh!” kata Hafiz Imtiaz.

            Penggenggam ingatan tak tergoyahkan. Ia hanya ingin bekerja atas nama kemanusiaan. Menyimpan dan mengonservasi ingatan yang di masa datang mungkin akan berguna, terutama bagi kaum yang sudah tumpul daya ingatnya. Hafiz Imtiaz tahu betul, sampah-sampah digital yang ia musnahkan, telah membuat banyak orang abai menjaga ingatan. Terlalu banyak bicara, ketagihan bergunjing, dan hobi berkelahi di linimasa, bisa membuat orang tidak lagi mampu menghapal nomor ponsel sendiri.

            “Ini tentang letak tahi lalat Miftahul Hayati, mantan nomor delapan. Kelak saya akan mengambilnya,” kata pelanggan mula-mula bernama Aulad Mustaqbal. “Jangan sekali-kali berpikir untuk kembali mengaktifkan fitur pemusnahan di perkakas rongsokmu itu!”  tambah Aulad dengan sorot mata mengandung ancaman.

            “Soal imbalan atas jasa ini, tak perlu kuatir.  Sesuai tarif yang tertera, dan tak bakal ditawar.”  

            Bagi Aulad Mustaqbal, mantan nomor delapan itu istimewa. Sekali waktu, pernah menyelamatkan mukanya di hadapan ibu mertua. Masa itu ia sedang jalan berduaan dengan Miftahul Hayati di sebuah mal. Celakanya, ibu mertua sedang berbelanja di mall yang sama. Mereka berpapasan di pintu masuk sebuah toko pakaian dalam. Beruntung ada kawan laki-laki bernama Untung di antara dirinya dan Miftahul Hayati. “Ini siapa, Ananda?” tanya ibu mertua, curiga. Aulad Mustaqbal berkeringat dingin, tapi Miftahul Hayati lekas bertindak. “Saya istri Mas Untung!” balasnya, sambil merangkul sahabat kekasihnya itu. Ibu mertua lega. Curiga yang menyala-nyala padam seketika.

            “Titipan saya hanya berisi angka-angka. Tapi kalau hilang, percayalah, saya akan menderita sebagai tua bangka tanpa nostalgia,” kata pelanggan selanjutnya.

            Di folder itu tersimpan nomor punggung pesepak bola idola ayahnya, saat pelanggan itu berusia 9 tahun. Begitu juga nomor celana dalam pertama, yang dibelikan ibunya beberapa hari setelah ia disunat. Nomor rumah tempat ia dirawat sebagai bayi prematur sebelum kemudian pindah dari kota ke kota, dari negara ke negara. Nomor sepatu olah raga pertama hadiah paman, pada hari ulang tahun yang tak didampingi ayah-ibu lantaran keduanya sedang menjalani sidang perceraian di pengadilan agama.  Dan, yang paling berharga adalah nomor kursi yang tertera pada lembaran tiket bioskop, pada kesempatan mula-mula ia memberanikan diri menonton dengan pacar perdana.

            Jangan dikira mereka tidak berlangganan platform dengan teknologi komputasi awan semacam I-Cloud atau Google Drive. Tapi menurut analisa si penggenggam ingatan, mereka tidak mau lagi bertelanjang dalam jerat raksasa bikinan orang-orang culas di Lembah Silikon. Perisai privasi mereka sudah bolong di sana-sini, lantaran terlalu sering mengunggah data pribadi dalam ekosistem digital. Mereka ingin melarikan diri dari intaian algoritma yang memperlakukan mereka sebagai mangsa di belantara big data.

            “Bagaimana kita bisa mempercayai penggenggam ingatan?” tanya Aulad Mustaqbal pada sejawat-sejawat sesama pelanggan.

            “Semua jejaknya mengandung perlawanan atas kuasa Lembah Silikon. Ia belum punya pengalaman berkhianat!” balas pelanggan bernama Maya Rumantir.

            “Lagi pula, titipan kita cuma remah-remah yang tak mungkin laku dijual.”

            “Apa kau bilang? Remah-remah? Aku sudah lama mencari mantan kedelapan. Hanya saja aku sedang sibuk untuk beberapa tahun ke depan, makanya kunci pencarian kutitipkan sementara. Jaga bicaramu, Nyonya!”

            “Ahai, kau pikir letak tahi lalat tak bergeser pasca revolusi kosmetik?”

            “Berhentilah menakut-nakutiku seperti anak kecil!”

            “Penggenggam ingatan peluang kita satu-satunya. Juru selamat dari penjarahan ingatan besar-besaran yang dikendalikan dari Lembah Silikon. Percayai Hafiz Imtiaz! Oke?”

            “Yups. I have no choice!

****

            Lantaran berbagai kesibukan, kotak surel milik Aulad Mustaqbal telah melewatkan tiga pesan yang seharusnya masuk secara otomatis. Artinya, sudah tiga bulan penggenggam ingatan me-nonaktifkan fitur notifikasi. Setelah berkali-kali diperiksa, dikontak berulang-ulang, Aulad Mustaqbal berkesimpulan; penggenggam ingatan telah menghilang!  Begitu pula bunyi pesan berantainya ke seluruh pelanggan. Kepanikan tak terhindarkan.

            “Celaka! Kita akan berakhir sebagai manula tanpa nostalgia!”

            “Bedebah kunyuk! Ia pikir ingatan bisa dilelang, hah?” umpat Maya Rumantir.

            “Tenang, Sodara-sodara. Bukankah kita punya asuransi kehilangan?”

            “Tai kucing! Asuransi macam apa yang mau mengganti ingatan yang hilang?”  

            Selepas kabar buruk itu, Aulad Mustaqbal adalah pelanggan yang sudah lupa letak tahi lalat mantan kekasihnya. Di dagu, pipi kanan, bawah pusar, atau bahu kiri? Entahlah. Oh, Miftahul Hayati. Satu-satunya yang bisa memastikannya adalah serbuk ingatan dalam  folder  yang sudah raib.

            “Lapor polisi aja gimana, Bro?”

            “Sejak kapan Polsek punya detektif  bagi maling ingatan?”

            “Kalau begitu, kita umumkan saja di Twitter.”

            “No! Itu yang diharapkan rejim Lembah Silikon,” kata Aulad Mustaqbal.   

            Sementara para pelanggan sudah di berada ambang putus asa dan hampir mengikhlaskan hidup mereka sebagai calon manula paling menderita, nun di Lembah Silikon, persisnya di sebuah klinik mewah dengan perkakas medik super canggih, pasien atas nama Miftahul Hayati, baru selesai menjalani operasi ringan; membuang tahi lalat di punggungnya, tepat di bawah tato kupu-kupu biru.

            “Kau bebas sekarang, Sayang! Ia tak mungkin lagi menemukanmu,” bisik Hafiz Imtiaz, dalam senyum bahagia, sambil mendekap perempuan itu erat-erat.

Damhuri Muhammad: Menulis cerpen, esai budaya, artikel politik, dan resensi buku  di  sejumlah media nasional.  Buku fiksi terkininya Anak-anak Masa Lalu (2015). Buku nonfiksi terbarunya, Takhayul Milenial (2020). Associate editor Galeri Buku Jakarta. 

Continue Reading

Cerpen

Pagi Ini, Ada Burung yang Mati

mm

Published

on

By Ruly R *)

Pukul tujuh lebih delapan belas. Masih pagi untuk merutuki nasib, namun Sarju sudah melakukan itu. Dua lembar lima ribuan habis disekali putaran dadu permainan pasar.

“Kirik!” umpat Sarju entah untuk siapa. Wajahnya penuh kesal. Uang yang didambakan berlipat seperti dalam mimpinya kemarin malam justru menguap.

Memang setiap pagi lelaki itu hobi menyambangi meja putaran dadu. Kalau siang kerjanya kalau tidak nongkrong di warung tuak tentu tidur di rumah. Jika waktu malam tiba, dia suka mengendap untuk mengambil barang yang laku dijual.

Pagi ini setelah kalah di meja putaran, Sarju memutuskan untuk menyusuri panjangnya trotoar. Kaki dan fisik Sarju masih saja segar, meski usianya sudah tidak bisa dikatakan muda.

Sarju mengedar pandang ke jalan raya. Cepat dan ugal-ugalan kendaraan yang melintas, saking cepatnya seakan nyawa para pengendara itu lebih dari satu. Tampak kepanikan dan terburu-buru bertumpuk di pagi hari. Ada juga bocah sekolah dengan wajah cemas karena telat berangkat, tampak resah menunggu datangnya angkot.

Sayup suara burung, lalu semakin jelas. Cericit burung beradu dengan bisingnya deru kendaraan. Burung itu terbang melintang di atas kepala Sarju, hinggap dari satu pohon di sebelah utara jalan ke sisi selatan jalan. Sarju saksama melihat burung itu.

Memang, saat ini jarang sekali burung di jalanan kota, sama jarangnya dengan pohon-pohon di sisi kanan-kiri jalan. Gedung-gedung lebih subur tumbuh di kabupaten tempat tinggal Sarju, utamanya di kompleks perkantoran kabupaten, yang hanya berjarak tidak lebih dari dua ratus meter dengan jarak pasar.

Burung terus bercericit. Nyaring terdengar meski terus ditingkahi suara motor dan mobil. Mata Sarju masih saksama melihat burung itu, seakan tak ada hal lain yang ingin ditatapnya pagi ini. Suara burung memanggil ingatan Sarju. Dia ingat desanya. Rindu menyelusup halus pada hati Sarju.

Di waktu yang telah lalu—sebelum dia pindah ke kabupaten ini, cuitan burung menjadi hal akrab bagi Sarju. Membelah dan merentang waktu, nasib dan keadaan berubah seiring zaman, namun ingatan Sarju menjadi bola-bola yang utuh karena suara burung dan desanya. Ingatan yang sebenarnya tidak sempurna bahkan cacat dan bopeng di sana-sini. Hal yang tidak bisa ditambalnya sampai sekarang.

***

Sarju tinggal dan tumbuh bersama kakeknya di desa. Tanpa teman, kecuali keadaan alam sekitarnya saja. Sarju masih ingat betapa itu memedihkan dan memilukan. Satu anak sepantaran saja tak ada yang mau berkawan dengannya. Hanya satu kawan yang ada, yaitu kakeknya sendiri.

“Gak masalah. Ayo melu golek kayu wae,”[1] ucap kakeknya yang langsung mengambil parang ketika melihat raut wajah Sarju yang sedih. Kakeknya memang pandai mengalihkan perasaan Sarju yang sedang berduka. Bukan sekadar mencari kayu saja, kadang Sarju diajak ke sawah, atau tiga bulan sekali pergi ke kota untuk menjual hasil panen. Di pasca panen itu, Sarju benar-benar senang, segala permintaannya pasti akan dipenuhi kakeknya, kecuali satu yaitu teman.

Sarju tidak pernah belajar di bangku sekolah. Ketika bocah sepantarannya mengenyam pendidikan formal, Sarju justru lebih giat membantu kakeknya ke sawah atau main sendiri ke kuburan. Pernah suatu kali kakeknya marah, ketika Sarju membawa kemboja yang begitu banyak.

Nggo opo?!”[2]

“Dolanan,” jawab Sarju ragu.

Setelah peristiwa itu Sarju tidak berani lagi membawa kamboja, bahkan dia takut main ke kuburan. Kakeknya pasti akan marah kalau tahu dirinya main di sana. Tidak ada orang atau teman yang dimilikinya selain kakeknya sendiri.

Penah suatu kali Sarju juga bertanya kenapa dia tak memilik teman. Kakeknya hanya tersenyum. Senyum yang getir dan penuh kepahitan, tumpukan beban datang dari senyum itu. Kakek justru mengajak Sarju ke kreteg Mojo. Di sana kakek menunjuk tempuran sungai dan menyebut Geger Boyo. Sarju hanya diam, tak ada tanya miliknya.

Semua diketahui Sarju seiring usianya yang terus bertambah dan kakeknya mulai sakit-sakitan. Satu waktu, ketika malaikat maut sudah membayang dalam benak kakek, Sarju baru mengetahui yang sebenarnya. Permintaan maaf keluar dari lelaki yang tinggal lunglit itu. Maaf karena selama ini banyak yang disembunyikan kakeknya, terutama kenapa Sarju tidak punya kawan atau lebihnya warga desa mengasingkan mereka untuk tinggal di kaki bukit. Terbata kakek menceritakan itu pada Sarju.

“Aku muk melu-melu, Ju,”[3] ucap kakek. Semua terang diceritakan kakek ketika dia ikut partai palu-arit. Satu malam di musim bediding, beberapa orang bertubuh tegap, berseragam, dan berwajah garang mendobrak pintu rumah kakek yang lama. Tubuh kakek diseret paksa ke Geger Boyo.[4] Kebengisan di depan mata, tidak ada warga yang berani melihat apalagi sampai meningkah saat itu, kecemasan dan ketakuan seakan menyatu dalam benak warga. Kepercayaan berubah menjadi kecurigaan, keluarga kakek mulai dikucilkan. Saat itu hanya ada satu hal untuk keluarga kakek—menyingkir dari desa.

Bertahun kejadian itu berlalu, namun kesepian abadi dalam keluarga Sarju. Usia selalu ada batasnya, banyak cara atau juga sebab untuk mati. Sarju lahir. Hanya tinggal ibunya, ayah Sarju bunuh diri saat ibu Sarju mengandung. Dan saat belum genap usia Sarju empat tahun kakeknya pulang dari pengasingan di Nusakambangan. Kakeknya tak dibunuh di Geger Boyo, namun dibawa ke Nusakambangan setelah dari tempat itu.

Seperti Tuhan telah menggariskan nasib, kesunyian dan kesepian lekat dalam diri Sarju. Karena sakit yang entah apa, ibu Sarju meninggal. Satu keberuntungan, kakeknya sudah ada di rumah waktu itu.

Kakeknya bercerita bagaimana dia bertahan karena Sarju. Bulir halus keluar dari dua mata Sarju. Tidak berhenti sampai beberapa hari karena kakeknya meninggal. Segala menyesakan bagi Sarju yang sudah bukan lagi bocah. Tidak ada warga yang melayat, bahkan untuk tanah seukuran 2×1 meter, Sarju harus mencangkul sendiri. Terbayang wajah kakek, terngiang permintaan maaf dari kakek, semakin waktu, semakin Sarju merasakan kedegilan dan kesepian yang nyata. Bagi Sarju tidak ada cara membunuh kesepian kecuali memang pergi jauh meninggalkan desa. Begitu yang dilakukannya.

***

Bunyi klakson dari motor yang ugal-ugalan membuyarkan lamunan Sarju. Burung yang dilihatnya dari tadi hanya meloncat-loncat kecil tanpa meninggalkan ranting pohon. Lalu lintas masih ramai. Bunyi klakson kembali berulang, kali ini burung itu terbang berpindah pohon. Burung itu melintas di atas kepala Sarju lagi.

Kembali, suara klakson dari satu kendaraan melintas. Tidak lama burung itu hinggap di pohon lalu terbang lagi. Menukik dan terlalu rendah burung itu melayang di atas jalan, mobil bercat putih melintas cepat. Dada Sarju tiba-tiba sesak. Matanya tajam menatap jalan. Pagi ini, ada burung yang mati. Sarju menjadi saksi, tapi tidak ada yang bisa dituntut karena matinya burung itu, sama seperti ingatan dan kata-kata kakenya yang mengiang dalam benak Sarju hingga sekarang.

“Opo pancen kudu nyalahke kahanan?”[5] begitu yang pernah diucap kakeknya dulu.

Bagi Sarju, dulu dan saat ini masih tetap sama saja, karena dia hanya bisa menangis. (*)

______

*) Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo. Novel terbarunya berjudul Kalah (Rua Aksara, 2020). Surat-menyurat: riantiarnoruly@gmail.com


[1] Tidak masalah. Ayo ikut cari kayu saja.

[2] Buat apa?

[3] Aku hanya ikut-ikut, Ju.

[4] Dua tempuran sungai di Sungai Mojo (Sungai yang terletak di antara Solo dan Sukoharjo). Saat tragedi kemanusiaan tahun 1965, tempat itu dijadikan salah satu ladang pembantaian orang yang dianggap Komunis.

[5] Apa memang harus menyalahkan keadaan?

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending