Connect with us

Cerpen

Senja dan Sebuah Dendam

mm

Published

on

Oleh: Ivanasha*

 

Aku menatap langit di atas kepala sedang berwarna ungu. Kukira, ia habis bertengkar dengan waktu, hingga lebam seluruh wajahnya. Aku sedang berusaha mengingat seseorang dengan bertanya kepada langit, apakah warna yang disebut senja ini sampai juga di langitnya yang terpaut begitu jauh dari tempatku berdiri?

 

Aku tidak bisa menebak rupanya, bagaimana kepala seseorang itu berisi. Apakah serumit pikiranku yang dipenuhi tatapan mata dan senyumannya, atau bahkan memang tidak pernah serumit itu. Sementara, puisi senja pernah kukirimkan kepadanya—sepenuh keberanian. Tetapi tak sampai sekarang pun seseorang itu menjawab apa yang kutuliskan kepadanya. Dan aku lagi-lagi berusaha mencari jawaban dengan bertanya-tanya sendiri sambil menatap langit jauh-jauh. Meski aku tahu tidak ada gunanya, tetapi perasaan ringan yang kurasakan setelahnya tidak pernah gagal menghibur gelisah. Sebab langit selalu mampu menampung apapun yang orang-orang tak bisa menampungnya. Seperti pertanyaanku. Seperti perasaanku.

 

Sore sebentar lagi pergi dan aku masih perlu mengeluarkan banyak pertanyaan. Kakiku rasanya ingin melangkah dan lalu berlari tak berarah. Mungkin aku hanya butuh udara lebih banyak masuk ke rongga paru-paru, sebab merindukannya, membuat sesak. Sementara aku tidak rela malam datang terlalu cepat dan menutup mataku dengan hanya gelap. Sebab kusadari ketika seseorang itu tiada di sini, aku bukan siapa-siapa, dan aku tidak memiliki cahaya apa-apa. Aku hanyalah setitik yang hilang karena memikirkannya, kata orang, begitu butanya.

 

Sebuah pohon berdiri menjulang di hadapanku. Dahan-dahannya meninggi dan rindang dipenuhi daun yang hijau dan banyak juga yang kuning—mungkin penanda gantinya musim. Sepenuh harap kubayangkan daun-daunnya itu ialah rambut seseorang yang melingkar-lingkar, dan tubuh pohon itu ada tubuh seseorang yang selalu ingin kupeluk. Aku menganggap langit sedang menghadiahkanku teduhnya untuk mengingat lebih lapang lagi. Mungkin juga sebenarnya langit sedang mencarikan seseorang itu untukku, tetapi tidak menemukannya, sebab aku tahu ia sedang bersembunyi di balik kesunyiannya.

 

Tiba-tiba angin yang sangat kencang datang dan membuat seluruh pertanyaanku berantakan terserak di jalan raya yang ramai. Aku bahkan tak sempat memungut kata-katanya yang terurai untuk kembali ke dalam kepalaku, sebab kemudian aku merasa lelah untuk mencoba. Kemudian aku menyadari bahwa pertanyaan tidaklah ada arti jika yang ditanya tidak pernah menjawab. Kemudian kuketahui kalau rasa penasaranku ini sudah tersesat terlalu jauh. Aku tidak lagi mencari untuk lepas dari sendiri, karena aku telah mencuri jawaban dengan berkhayal dalam-dalam. Sekali lagi kusadari angin beserta gunanya yang tiba-tiba; aku tidak perlu bertanya jika bisa kurangkai jawabannya.

 

Sebab kata-kata bisa kumiliki seluruhnya dan seutuhnya, aku bisa menulis apa saja dan menjadikan diriku sendiri tuhan di dalamnya. Aku bisa membuat seseorang bersedih membawa isi kepalanya yang sangat berat karena ia tidak bisa berhenti bertanya dan merasa penasaran. Aku bisa juga membunuhnya karena rindu membuat ia ingin menyerah. Aku akan membuat seolah-olah ia sedang terjebak senja yang panjang usia, hingga ia mencari keberadaan waktu di lain hari. Aku tahu aku bisa merangkai kenyataan apa saja.

 

Maka aku menulis seperti sedang membalas dendam.

 

 

***

 

Pagi ini saya terbangun menemukan langit berwarna ungu. Saya kira, ada yang mengganti tirai saya tiba-tiba. Tetapi mana mungkin begitu. Saya selalu berangkat tidur sendiri, pula terbangun disapa sepi. Tidak mungkin ada orang lain berjingkat malam-malam hanya untuk mengganti tirai jendela kamar orang asing. Tidak mungkin itu. Tetapi tetap saja saya memikirkan kemungkinan lainnya, sembari mengumpulkan nyawa dan berusaha bangkit dari kasur.

 

Saya menduga-duga akan ada berita apa hari ini. Langit pagi warnanya keungu-unguan. Tidak terlalu mendung, cenderung teduh, seperti sesaat ketika hujan akan datang. Mungkin memang begini karena hujan akan datang. Mungkin datangnya akan sangat deras dan orang-orang bisa tersapu ke entah. Kalau begitu, mungkin saya perlu mengunci diri di dalam kamar. Atau sebaiknya saya pergi mencari dataran tinggi?

 

Tubuh ini berat sekali rasanya untuk bangun dan mencari tahu. Seperti ada kesedihan yang murung. Saya tidak tahu apakah kemalasan sedang bertamu, atau saya terlalu nyaman memendam diri di atas kasur. Yang saya pikirkan sekarang adalah tentang pagi yang asing. Saya ingin segera berangkat mencari tahu dan mendapatkan jawaban. Tiba-tiba saya khawatir kalau-kalau saya akan telat menyelamatkan diri saya sendiri. Duh!

 

Saya mencoba sekali lagi bertanya kepada pikiran. Mungkinkah subuh tadi ada hujan deras jatuh dari langit dan menyisakan pelangi yang begitu terang dan panjang. Siluet yang biasa samar kini menjadi fenomenal. Orang-orang sehabis beribadah di masjid berbondong-bondong mengambil kameranya di rumah dan memotret angkasa yang semakin siang waktu menjulang, semakin terang pelanginya benderang. Kemudian mereka memanggil tetangganya yang lain untuk ikut menikmati apa yang mereka sebut-sebut sebagai keajaiban dari Tuhan.

 

“Lihatlah ke luar! Pagi melukis pelangi yang aneh! Terang sekali!”

 

“Maha Kuasa Tuhan!”

 

“Potret yang banyak! Abadikan keajaiban usia kita sebagai kaum yang beruntung!”

 

Tiba-tiba saya keluar dari labirin pikiran saya sendiri. Dunia masih terlalu lengang untuk suatu keributan. Dari balik jendela yang bercahaya ungu itu sama sekali tidak terdengar suara seorang pun. Saya justru mendengar napas saya sendiri semakin menderu, yang saya yakin dipicu oleh rasa resah dan penasaran saya di pagi yang asing ini. Bagaimana tidak, pagi ini langit berwarna ungu terang! Meski sebagian hati saya seperti mengatakan kalau cahaya di balik jendela itu sungguh indah, tetapi kepala saya tetap menganggapnya sebagai hal yang ganjil.

 

Setelah beberapa saat, saya akhirnya mengalahkan beban berat yang menimpa tubuhku. Saya perlahan bangkit dari kasur dan berjalan ke arah jendela untuk menyibak tirai di hadapan cahaya ungu itu. Kepala saya mulai lelah dituding pertanyaan dan rasa penasaran yang tidak sudah-sudah. Saya menjulurkan tangan dan meraih kain tirai untuk kemudian menyibaknya ke samping. Kemudian, saya tidak menyangka apa yang saya lihat di hadapan mata saya.

 

Cahaya ungu itu benar-benar terlukis di langit di atas bumi ini. Garis melintang berwarna merah dan oranye tergores di sana-sini, menghiasi keseluruhan warna ungu tersebut. Saya tahu, ini adalah langit senja. Saya pernah melihatnya sewaktu saya kecil dan masih senang bermain-main di lapangan dekat rumah sebelum maghrib. Tetapi ini senja yang berbeda. Senja ini begitu indah. Sangat indah hingga sepasang mata saya enggan memercayainya. Sinarnya memantul di balik awan teduh, memanjakan mata saya dengan pemandangan yang mencuri napas saya perlahan-lahan.

 

Tetapi, senja apakah yang datang di pagi hari? Ataukah saya masih bermimpi dan belum terbangun dari tidur saya? Saya mencubit lengan sendiri. Nyeri. Ini bukan mimpi. Tetapi lantas ini apa?

 

Langit yang begitu indah masih terlukis di atas sana, sementara saya masih terkagum-kagum dan bertanya-tanya. Keindahan ini sepantasnya saya nikmati ketika tidak terasa asing. Keindahan ini sepantasnya terpapar ketika sore hendak menjemput malam. Keindahan ini begitu ganjil, tetapi saya tetap mencintainya. Seakan sengaja membuat saya jatuh di dalam cantiknya yang begitu janggal. Terpesona sejadi-jadi, tanpa berhati-hati.

 

Di dalam ruang kamar saya tergantung sebuah jam dinding. Saya ingat, saya belum melihatnya sejak saya membuka mata pagi ini. Sekejap kupalingkan kepala dari senja ke arah jarum jam yang berdetak. Jam setengah tujuh pagi. Saya kemudian merasa semakin aneh. Waktu seperti terbalik! Seharusnya senja belum datang sampai setidaknya sebelas jam lagi. Seharusnya tidak ada warna ungu, merah, dan oranye yang bersinar di langit pagi hari. Seharusnya tidak ada. Ini tidak nyata!

 

Sudahlah, nikmati saja senja itu. Sebut saja hadiah dariku.

 

Suara apa barusan? Saya seperti mendengar dengung lembut yang mampu kupahami. Seperti kalimat, tetapi tak bersuara. Sementara tidak ada siapa-siapa di dalam kamar ini.

 

Tahukah kau seorang perempuan yang pernah mencintaimu dengan terlalu, tetapi tak pula kaulihat sedikit pun perasaannya?

 

Saya semakin bingung. Tetapi kalimat-kalimat ini terdengar semakin jelas. Saya seperti mendengarnya dari dalam kepala. Kemudian saya mencoba mencerna arti dari  kata-katanya. Saya mengingat seorang perempuan yang pernah mengirimkan saya sepotong puisi. Di dalam puisi itu, ia mengemas senja begitu teduh dengan bait-baitnya. Tetapi betapa pun indah kata-katanya, tak satu huruf pun mampu membuatku membalas puisinya. Saya tidak bisa menulis puisi untuk seseorang yang tidak saya cintai.

 

Aku tahu. Maka kini aku menuliskanmu.

 

Tiba-tiba air mata saya jatuh. Kurasakan kesedihan membalut hangat dan perlahan memanas di dalam dadaku. Saya ingat ia pernah menangis di dalam sepotong puisi. Puisi itu mencintai saya, tetapi saya memutuskan untuk tidak memedulikannya. Saya kira, sebaiknya saya tidak memberikannya harapan sama sekali jika saya tidak bisa mempertanggungjawabkannya. Tetapi kali ini, bagaimana ia bisa masuk ke dalam kepala saya? Tangis saya jatuh semakin basah. Saya pun tidak tahu kenapa saya menangis. Saya tidak seharusnya sedang bersedih. Ada masalah lain yang harus saya pikirkan jalan keluarnya. Senja di hadapan jendela semakin ungu, saya harus menemukan pagi yang sebenarnya. Segera.

 

Ya, kau memang tidak pernah membalas sepatah kata pun yang telah aku tangiskan untukmu. Puisi itu, adalah puisi yang kutulis dengan senja agar indah dan cantik rupanya; agar bisa menarik perhatianmu meski hanya sedetik saja. Tetapi, kau tetap menjadi seseorang yang dingin tanpa hati. Kaupatahkan kecintaanku dengan kejamnya sikapmu. Kau bahkan tak menjawab sama sekali setelah kaubaca puisi yang kutangiskan itu. Tanpa kau sadari, kau telah melukai hati yang sungguh, mencintaimu dengan terlalu.

 

Saya berusaha tidak mendengar kalimat-kalimat yang berdengung di kepala saya kian tajam. Meski akhirnya saya sadari itu tidak mungkin. Sebab semakin saya berusaha, semakin dalam saya terjebak ke dalam arti yang terlalu saya pahami.

 

Saya mengenal perempuan itu. Saya pernah membaca senja yang ia kirimkan. Begitu indah, begitu cantik. Senja yang kemudian saya sadari terbaca seperti senja yang sedang saya lihat ini. Senja itu cinta di hatinya. Cinta yang berwarna ungu dengan semburat merah dan oranye. Cinta yang begitu tabah menahan lebam, sebab tak sekali pun saya menjawab pertanyaan-pertanyaanya. Lalu mata saya kembali meneteskan airnya semakin deras. Kini saya sadari mengapa saya bersedih. Saya merasakan apa yang perempuan itu rasakan.

 

Saya menangis seakan air mata yang pernah dijatuhkan perempuan itu mengalir di mata saya. Jatuhnya kemudian membasahi dada saya yang kian sesak. Mungkinkah ini sebentuk sesak yang pernah perempuan itu rasakan? Saya semakin terisak. Sambil menatap senja, saya mengenang kata-kata di dalam puisi yang pernah perempuan itu kirimkan. Tetapi sayang sekali, sungguh, sungguh sayang sekali—saya menyesal—tak satu kata pun mampu saya ulangi bunyinya. Saya tidak mengingat puisi perempuan itu, sama sekali. Tetapi kesedihannya semakin tajam menusuk kekhawatiran saya. Saya menangis sejadi-jadi.

 

Lihatlah senja di hadapanmu, kekasih. Langit yang kuhadiahkan kepada kau, agar mampu kau rasakan duka yang palung yang bersandar lama di penantianku. Bukankah cahayanya begitu indah? Membuatmu menyempatkan sedikit waktumu untuk mengenang seseorang. Sementara kenangan diciptakan untuk mengulang sesuatu yang tak pernah kembali, baik dengan kebahagiaan atau dengan penyesalan. Dan kuhadiahkan pagi ini, senja yang begitu silau, yang membuatmu bertanya-tanya dan merasa takut karena tak kau ketahui jawaban dari pertanyaanmu.

 

Begitulah aku. Perempuan yang pernah tenggelam di dalam senjanya sendirian. Tak lama setelah kau berlalu, aku menunggu jawaban darimu. Tetapi kutemukan diriku tidak akan pernah mendapatkan jawaban. Dan aku bertambah resah setiap hari. Seiring senja berganti senja, aku terbakar oleh rasa penasaranku sendiri. Aku mengutukmu sebab cinta tak lain hanyalah sebagian dari benci yang belum tumbuh. Jika dulu pernah kutuliskan kepadamu sebuah senja, kini aku menuliskanmu kepada senja. Aku ingin kau terbunuh seperti aku membunuh perasaanku sendiri. Dan kau tahu, kematian setitik perasaan tidaklah pernah menjadi hal yang mudah. Dan itu semua kutanggung sendirian.

 

Saya tertegun dan menahan napas. Sesak semakin membakar di dalam dada saya. Kemudian, meskipun saya tahu saya akan terdengar gila, akhirnya saya bersuara dan bertanya, seakan sedang berbicara dengan diri saya sendiri.

 

“Apa yang kaulakukan kepadaku? Apa yang kaulakukan kepada langit?”

 

Lalu saya menunggu jawaban.

 

Saya menunggu dan menunggu.

 

***

 

Setahun sudah berlalu. Senja masih menyala-nyala di hadapan jendela kamarku. Ungunya masih sama seperti awal saya menemukannya setelah bangun dari tidur. Cahaya yang indah itu kini seperti penjara bagi saya. Saya tidak pernah menemukan jawaban dari pertanyaan yang saya katakan satu tahun yang lalu. Saya mulai kehilangan waras. Mungkinkah pada waktu itu saya memang sudah gila, sehingga mengajak bicara diri saya sendiri?

Saya tidak bisa keluar dari keindahan senja ini. Dan kesedihan seperti membangun rumah mewah di dalam dada saya, hingga sesak tak pernah hilang, dan air mata saya seperti telah kering.

 

Saya tidak pernah mendapatkan jawaban. Senja masih begitu nyala di hadapan jendela kamar saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tali dan mengaitkannya di kayu yang melentang di atap kamar saya. Saya menaiki sebuah meja dan melilitkan tali itu di leher saya. Lalu perlahan tapi pasti, saya tinggalkan pijakan kaki saya dari atas meja tersebut.

 

Kemudian, saya merasakan air mata terakhir perempuan itu jatuh di pipi saya.  (*)

*Ivanasha, cerpenis. Twitter @Ivanasha

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Kamera Tua

mm

Published

on

lelaki itu melepaskan fantasinya. Ia mulai menelepon seseorang disana, yang ia catat sendiri. Ya, seorang pelacur cantik yang ia idamkan. Ia memintanya untuk datang ke rumah.

 Aflaha Rizal *)


Desas-desus terdengar dari ruang dapur lelaki itu, yang masih amat muda, dan belum menikah. Tak perlu kau tahu namanya, hanya yang perlu kau tahu, ia adalah lelaki muda yang sedang mencuci piring, dengan hidupnya yang belum menikah. Lelaki itu selalu berkata, “Menikah itu sebenarnya seperti pembayaran untuk memuaskan nafsu birahi semata kepada perempuan. Serupa pembayaran uang untuk menyewa pelacur. Tetapi ditutupi lewat perayaan kebahagiaan dari kedua mempelai, dua antar mertua, dan undangan tamu yang berbahagia.” Apa bedanya? Ya, hanya pesta kebahagiaan selepas membayar uang kepada pelacur lewat pernikahan. Perkataan itu pernah ia lontarkan kepada seorang kawannya, yang bekerja sebagai penulis cerita pendek dan kini sudah tidak menulis lagi. Lantaran tidak ada ide yang baru untuk menulis.

Hidupnya kini menjadi seorang petani, juga membangun perpustakaan tua yang ada di desa Kepala Tiga. Desa yang tidak pernah ditemukan di peta negara, dan tentunya, tak pernah dipedulikan oleh seorang presiden yang duduk di istana, beserta jajaran dan juga menteri yang hidup bermewahan. Mencuci piring, bagi lelaki itu, katanya, seperti sedang membersihkan sebuah dosa manusia selama hidup. Dan kau mendengarnya itu bagai tubuhnya yang ganjil. Ya, lelaki muda itu memang amat ganjil. Dengan kepalanya, hidupnya, juga waktu-waktunya.

Namun ia masih bekerja di sebuah instansi, tetapi ia merasa muak dengan pekerjaan itu. Tetapi, hidup perlu makan dan perlu pakaian. Meski kau tahu, pekerjaan dimana-mana, akan selalu timbul muak dan kebosanan dari sebuah keharusan dan kewajiban. Apakah tidak patut bila bermasalan di saat memiliki istri dan anak yang mesti dihidupi? Kau tentu akan tetap melakukannya, di saat kau muak dan bosan dalam hidup ini.

Piring-piring yang menumpuk, kini semua bersih dari kotoran dosa yang berasal dari makanan. Tempat cucian piring telah bersih. Kini, lelaki muda itu menuju ruang tamu dan memutar piringan hitam. Sebuah lagu romantis yang mengingatkan dirinya pada mantan kekasihnya, yang pernah ia minta untuk tidur bersama. Kekasihnya itu menolak, dengan alasan, “Aku tak mau diriku direnggut kau sebelum menikahiku.” Sebenarnya, kau melihat wajah lelaki itu yang tertawa ketika mengingat masa lalunya itu. Perempuan itu, yang diberi nama Tenun, memiliki hasrat seksual yang harus dibuangnya, demi untuk menjaganya sebelum menikah. Apapun perihal cinta maupun percintaan dari seorang kekasih, hasrat seksual atau berhubungan badan tak bisa dilepas. Dan akan tetap dilakukannya.

“Aku takut bila kita dipergok warga,” ucap Tenun saat itu.

“Kau tahu, warga sini seperti menjaga kesucian mereka dan moral mereka. Padahal, mereka juga sebenarnya tidak bermoral. Aku melihat mereka menebar fitnah kepada warga lain, dengan alasan yang tidak kuketahui. Dan mereka selalu menyebut diri mereka bermoral.”

“Kau selalu menceritakan ini dengan persepsimu. Kau tak harus menilai mereka bahwa apa yang dilakukan oleh mereka adalah bejat.”

“Tetapi, manusia memang memiliki bejatnya bukan?” tanya lelaki itu, yang kau dengar bagai manusia yang sama sekali tidak ada pegangan aturan dan juga agama.

Lelaki muda itu sebenarnya beragama, ia selau menunaikan agamanya. Tetapi, orang-orang selalu meragukan agama lelaki muda itu sendiri. Namun kau tak perlu melihat apa agama lelaki itu, selain punya cinta dan hasrat untuk bertahan hidup. Tentu, sebagian masa lalunya yang pahit, terekam dalam kamera tua-nya. Ia merekam secara sembunyi perihal ayahnya yang memukuli ibunya di ruang tamu, saat lelaki muda itu masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Kecakapan dalam bermain kamera yang diajarkan oleh ibunya sudah tertanam, dan kelak pada cita-citanya, ia ingin menjadi seorang kameramen, tetapi tidak tercapai.

Pekerjaan di instansi ini berkat dari ayahnya yang punya kenalan. Dengan perkataan, “Anak muda ini harus punya masa depan yang baik, biar tidak susah mencari uang. Apalagi, pensiun masa tua-nya juga menjamin.” Dengan berat hati, lelaki muda itu menerimanya, melepas cita-citanya sebagai kameramen. Suatu ketika, saat masih di ruang tamu, kau mendengar lelaki muda itu mengucap kata, “Bajingan!” seolah kata-kata itu ia maki kepada ayahnya yang kolot dan tidak punya pikiran terbuka. Sepanjang kuliah, ia tentu dibatasi pertemanannya. Selain harus belajar, lulus cepat, dan dapat pekerjaan serta mencari uang yang banyak. “Jangan lah jadi mahasiswa aktivis yang tiada gunanya itu. Memaki pemerintah karena tidak adil, padahal mereka juga menikmati hasil yang dibangun pemerintah. Mereka itu sama kayak komunis tahu! Liberal, tidak ada pegangan aturan serta agama.” Ucap ayahnya suatu ketika, yang kali ini, kau mendengar bahwa lelaki itu dendam akan masa lalunya.

“Apakah menjadi aktivis itu salah?” lelaki muda itu mengucap pertanyaan di ruang tamu, sendirian, mengenai masa lalunya yang kau dengar. Ya, saat lelaki muda itu melontarkan pertanyaan kepada ayahnya yang sedang minum kopi, ayahnya menjawab. “Salah besar! Mengungkapkan pendapat itu boleh, tapi ada jelasnya gitu loh. Bukan hanya menebar, ‘Wah pemerintah ini tidak adil’, ‘Kasus ini harus dituntaskan’. Padahal, salah mereka juga yang menolak pembangunan. Dan itu baik untuk kesejahteraan mereka.”

Saat ini, ketika lelaki muda itu sudah bekerja, ia hanya menertawakan ayahnya yang sama sekali bodoh. Padahal, kau tahu, lelaki muda itu punya ayah yang berpendidikan hingga gelar doktor. Tetapi masalah nalar logika dan kritis, sama sekali tidak ada. Selain kritis yang dibangun oleh orang-orang yang meremehkan kaum orang bawah yang menentang itu.

Lelaki muda itu kini mulai merasakan hasrat ingin bercinta. Tentu kau melihat gerakannya yang kini menuju kelaminnya sendiri, yang perlahan-lahan berdiri. “Mantan kekasihku yang kini telah menikah, kini juga merasakan rasanya bercinta. Tetapi menutupi dirinya lewat pernikahan.” Ia naik turunkan kelaminnya itu, dengan kau yang melihat matanya yang memejam, dengan suara musik dari piringan hitam yang perlahan membangkitkan rasa birahinya.

“Ah!” lelaki itu melepaskan fantasinya. Ia mulai menelepon seseorang disana, yang ia catat sendiri. Ya, seorang pelacur cantik yang ia idamkan. Ia memintanya untuk datang ke rumah.

__________

 

Kamera tua itu, tentu, berisi kekerasan ayahnya kepada ibunya. Tidak ada yang lain. Ia ingin menjual kamera tua itu, kepada orang-orang yang tahu akan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Kepada kawannya yang seorang penulis cerita pendek, yang bernama Garcia, yang seolah-olah kau teringat pengarang yang bernama Gabriel Garcia Marquez itu, untuk menawarkan kamera tua untuk dijual lewat tulisannya sebagai promosi. Kawannya yang datang ke rumah itu berkata, “Aku tidak bisa menulis untuk membuat orang lain tertarik pada barang yang kau jual, selain menulis cerita pendek.” Lelaki muda itu kau dengar tertawa keras, bahkan kepalanya menghadap wajah kawannnya itu.

“Kau tolol!” umpatnya. “Hidupmu lebih parah dari aku. Kau hidup berkubang dengan fantasi yang tolol. Apakah kau tak pernah merasakan realitas yang membuatmu tahu, seperti, bercinta salah satunya?”

“Aku sudah punya istri, dan sudah merasakannya. Memangnya engkau yang tak menikah?”

“Hahahhahaha.” Lelaki muda itu tertawa. “Kukira kau belum mencoba. Baiklah, bisakah kau kerja keras dulu untuk menjual barang ini?”

“Memangnya berisi apa?” tentu, Garcia yang kau dengar pertanyaannya itu, tidak tahu apa isinya.

“Tentang ayahku, yang selalu memukul ibuku.”

“Apa?” Garcia seolah tercengang akan pernyataan kawan anehnya itu.

“Ya, ayahku bejat tahu! Ia menyiksa ibuku hingga mati. Dan kini, ayahku masih hidup. Aku mau setelah ini, kameraku yang terjual dengan rekaman yang tersembunyi, bisa menimbulkan keadilan dan menghukum kejahatan ayahku.”

“Apakah selama ini tak ada kepolisian yang tahu?”

Lelaki muda itu kau dengar berteriak, bahkan wajahnya yang berubah seperti mengejek seseorang. Ayahnya juga dekat dengan jenderal kepolisian, sudah pasti kasus ini telah ditutup dengan uang tunai besar yang diberikan kepadanya, agar tidak terkuak kasus ini. “Kau tahu, uang itu mempermudah segalanya. Aku muak dengan uang. Uang bisa membuat seseorang tahu keburuan dan bejatnya mereka. Bahkan juga seorang perempuan sekalipun.”

“Bukankah uang memang kebutuhan manusia dan juga perempuan, apalagi dalam hubungan asmara?”

“Memang. Aku tahu, tetapi, banyak rasa cinta yang kemudian tak nyata, selain uang yang berbicara.”

Di dunia ini, kau pun tahu, dengan uang adalah barang yang bisa membuat segalanya mudah. Kau juga muak dengan uang, tetapi kau selalu melakukannya untuk hidup. Bahkan kekasihmu sekalipun, yang ditinggalkan karena alasan uangmu sudah tidak ada di saat kau susah. Padahal, kekasihmu pernah berkata, ‘Aku akan mencintai kau dalam suka dan duka, bahkan badai yang menerjang’. Garcia yang memandang wajah kawannya itu bertanya lagi, “Apa langkah untukmu selanjutnya?” tentu, kau mendengar lelaki muda itu menjanjikan sebagian uang dari kamera yang terjual.

“Dan uang sebagian itu, bisa kau beli buku-buku baru. Atau bibit baru untuk menanam padimu.” Ucap lelaki muda.

Maka, lelaki muda itu sepakat kepada Garcia untuk menulis barang promosi perihal kamera tua, yang dibutuhkan seorang pakar kasus kriminal yang harus melaporkan kejadian yang ditutupi ayahnya selama beberapa tahun.

___________

 

“Kamera ini seperti punya kamu dulu,” ucap ayahnya yang sedang membaca koran, tentu, promosi barang yang dijual dengan sebuah tulisan milik kawannya itu terbit di koran. Lelaki muda itu berancang-ancang mencari argumen untuk membalas kepada ayahnya, bila ia tahu, bahwa kamera tua milik lelaki muda itulah yang ia jual. “Ah, kemana, ya, kamera itu?”

“Tidak tahu. Rusak sepertinya, Yah,” ucap lelaki muda itu.

“Masa rusak?”

“Ya, namanya barang. Seperti juga kematian. Manusia akan mati, pun barang begitu. Mau usaha sekeras apapun, kalau sudah berakhir, ya akan berakhir.”

“Bijak juga kata-katamu, tak sia-sia ayah menyekolahkan kamu. Itu namanya anak pemuda negara yang membangun bangsa. Bukan seperti aktivis yang menentang pemerintah, yang mirip komunis itu.”

Dalam hati lelaki muda itu, kau dengar seruan tawa yang paling keras untuk menghina argumen ayahnya yang semakin hari semakin tolol. Jika kamera itu terjual hanya khusus bagi orang-orang kriminolog dan juga pakar kasus pembunuhan, maka ayahnya suatu hari akan ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Dalam diri lelaki itu, ada dendam kesumat bagai binatang yang lepas dari sangkar, yang dikurung sang tuan agar tidak kabur dan mengamuk. Lelaki muda itu duduk manis, sambil mendengarkan ayahnya bercerita mengenai kekasih barunya yang paling cantik. Ia perlihatkan fotonya itu kepada lelaki muda itu, dan juga kau lihat wajah perempuan yang cantik itu.

“Wah, montok.” Kata lelaki muda itu.

“Siapa dulu? Ayah!” ucapnya bagai membanggakan dirinya.

Namun, sebentar lagi, dendam itu akan tiba. Ayahnya akan mati di dalam penjara, seperti yang diinginkan lelaki muda itu.

__________

 

Kamera tua itu kemudian terjual, lima hari kemudian setelah promosi dengan tulisan yang ciamik milik kawannya terbit di koran. Para kriminolog dan pakar permasalahan kasus pembunuhan saling berlomba-lomba menawarkan harga lewat kawannya itu. Disitu tertulis di koran, ‘Di kamera ini, ada jejak rekaman manusia biadab yang menyiksa istrinya sendiri, yang selama ini ditutup-tutupi dan tidak terungkap’. Sayangnya, ayah lelaki muda itu, tolol dan tidak tahu. Selain hanya menatap kamera tua yang barangkali, begitu ia kenal.

Barang itu jatuh kepada seorang kriminolog yang masih satu pekerjaan di kantor kepolisian. Uang tunai itu diberikan kepada kawannya lalu mulai dibagi-bagi dari lelaki muda itu. Tentu, uang itu banyak, barangkali bisa membeli mobil atau rumah mewah di kota. Dan uang itu, ia pakai dengan kawannya untuk bersenang-senang di dalam kamarnya. Membelanjakan sebagian uang untuk membeli makanan ringan dan minuman alkohol dingin di minimarket. Lalu menonton film di laptop dengan remang lampu kamar yang menyala. Hidup sesederhana itu, selepas dendam untuk ayahnya sendiri.

            Maka, ayahnya itu kini tertangkap, saat sedang berduaan di dalam kamar hotel bersama kekasih cantiknya. Tentu, mereka berdua sedang telanjang bulat dan berhubungan badan, tetapi kepergok oleh kepolisian untuk menangkapnya atas kasus penyiksaan terhadap istrinya yang membuatnya mati. Untuk membuatnya malu, sang kepolisian membopong ayahnya yang masih dalam keadaan telanjang bulat. Hingga kelamin itu tertampak dan dilihat oleh pengunjung hotel. Para perempuan yang ada di hotel, terutama di lobi, menutup matanya. Kekasihnya itu kini sendirian di kamar, ia tidak tahu dan tiba-tiba, kekasihnya ditangkap.

Untuk perihal perempuan cantik itu, tampaknya kekagetan itu hanya selintas. Ia kembali tenang, dengan memakai pakaiannya kembali dan menikmati barang semalam di hotel mewah eksekutif ini, sekali lagi.

__________

 

“Bajingan kamu!” teriak ayah lelaki muda itu, dan kau mendengarnya bagai kemarahan kesumat bercampur kesetanan.

“Kau yang bajingan!” balas anaknya.

“Akan kupastikan, kau dipecat dari kantor instansi kawan ayah!”

“Silahkan, tak mengapa. Aku muak dengan pekerjaan dan hidupku yang dikendalikan ayah. Sekarang, mampus lah sebagai pengkhianat di penjara. Ini hutang yang telah lunas atas kematian ibuku.”

Ayahnya memukul besi penjara. Tak terima akan perlakuan anaknya. Dan lelaki muda yang masih kau dengar itu, tertawa begitu keras. Telah puas membuat dendam itu telah selesai. Dan ayahnya menderita di dalam penjara. Semoga cepat mati dan berada di neraka, tentu, Tuhan tak sudi menerima surga untukmu ayah. Hanya ibu yang pantas, yang dimatikan atas siksaanmu. Setelah berucap, lelaki muda itu pergi. Ayahnya berteriak dengan tangisan yang merongrong. Polisi yang berjaga, memukul penjara untuk tenang.

Lelaki muda itu pulang, melangkah pelan di tengah kota. Tentu dengan mobil peninggalan ayahnya yang kini sekarang miliknya. Lalu menelepon nomor kontak yang tersimpan disana, menunggu panggilan tersambung. Terangkat kemudian dari seorang perempuan, yang kau kenal suaranya itu, bermanja-manja bahkan serak-serak yang dapat membuat birahi seseorang menaik seketika. “Kamu dimana? Jadi hari ini?” bertanya seorang perempuan itu.

“Jadi dong, sayang,” lelaki muda itu tampak senang. Sebab telah puas ia sekarang.

“Di tempat biasa, ya,” ucap seorang perempuan.

Mobil melintasi kendaraan yang berjalan pelan, mengitari kota dengan gedung-gedung tinggi. Orang-orang di dalam gedung juga serupa, banyak pengkhianat dan juga bangsatnya. Lelaki muda itu juga telah muak tinggal di kota, ia ikut dengan kawannya yang menjadi petani, sekaligus membuat tempat lumbung padi agar padi tetap berkembang dan terjual banyak. Lelaki muda itu meyakinkan dirinya, bahwa menjadi petani ia bisa hidup dan kaya.

Perempuan yang sedang menunggu itu, tentu, adalah bekas kekasih ayahnya sendiri, yang kau temukan ketika ayahnya sedang telanjang bulat bersamanya di kamar hotel saat penangkapan itu terjadi. (*)

*) AFLAHA RIZAL, Penulis. Karya yang telah diterbitkan berupa kumpulan cerpen secara indie: Cuaca Sama(2016), Cuaca Sama II(2017). Puisi yang lain, masuk pada antologi, media online, dan pernah terbit di Radar Selatan(2019), dan Koran Tempo(2019). Cerpen terbarunya kini sedang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris tahun ini, oleh Inter Sastra. Juga pernah diundang di Festival Sastra Bengkulu 2019 sebagai penulis terbaik.

 

Continue Reading

Cerpen

Petualangan Singkat Tokoh Aneh yang Keluar dari Novel Roberto Bolaño

mm

Published

on

The Athenaeum - Surrealist Composition/ Getty Images

Dia meringis. Seperti bagal. Pistolnya kembali disiapkan… Aku bagai menghadapi orang yang tak sebenar-benarnya ada namun terasa kehadirannya. Bukan hantu, melainkan jiwa berparadoks. Entah, memikirkan istilah yang kutempelkan pada sosok ini membuat kepalaku pusing sendiri. Aku tetap membujuknya dengan kalimat-kalimat penegasan yang tak kunjung membuahkan hasil.

 

Oleh: Bagus Dwi Hananto *)

Pancho Monje tiba-tiba menodongkan pistolnya ke mukaku. Anak Maria Exposito kesekian itu tak salah lagi adalah karakter novel Roberto Bolaño yang tadi kubaca. Yang langsung kupikirkan saat dia muncul di hadapanku adalah perasaannya atas kutukan nama yang dia sandang. Kalau dia tahu dan mampu membalik waktu, pasti dia akan membunuh seorang pemabuk yang di tahun 1880 bernyanyi dengan nenek buyutnya di atas kuda pada saat hari perayaan Santo Dismas.

Ini bukan mimpi, kan? Sebab aku benar-benar yakin orang di hadapanku ini memang Francisco Monje Exposito. Badan kurus dengan celana drill kebesaran yang dibalut sabuk kulit hitam dan tatapan kosong yang dia layangkan padaku membuatku takut dan takjub. Anak hasil dari tiga orang mahasiswa kiri yang tak benar-benar meneriakkan revolusi agraria, menyandang takdir yang tak dinyana: Muncul dari sebuah buku. Hidup.

Untuk menyelamatkan diriku sendiri dari semua hal yang rasanya tak betul-betul nyata ini, aku menggunakan kalimat-kalimat afirmatif padanya.

“Maaf aku masih tidur,” desisku.

Tapi dia sepertinya tak mengerti apa yang kukatakan. Pancho Monje masih menodongkan pistol. Kali ini moncong senjatanya menekan pipi kiriku.

Selama tiga puluh tahun aku tinggal di rumah ini belum pernah kulihat demit paling halus maupun kasar sekalipun. Jika pun sosok yang muncul di depanku ini adalah setan, tentunya aku tak bisa menerima ini bulat-bulat. Aku tetap bertanya-tanya dalam hati meski sia-sia. Dia benar-benar muncul dari buku.

Senapan Smith & Wesson itu terdengar enak saat diucap berulang-ulang. Bolaño bahkan memberi detail tentang senjata itu dalam narasi di novelnya. Aku pun menggeleng, bukan saatnya terpana melainkan aku harus membujuknya untuk tidak menembakkan peluru melubangi pipiku.

“Dengarlah, sobat. Kau baru bangun tidur, sekarang kau bisa kembali ke buku ini!”

Pancho masih membisu.

Tiba-tiba terasa kuat aku tahu semua hal yang dia pikir meski bibirnya tak berucap apa pun. Pancho sudah lama kubayangkan sebab seminggu berlalu aku membaca dan menghayati novel itu.

“Musuhmu sudah mati, sedang dua kawanmu tak perlu lagi kautemui. Ini tempat yang berbeda dengan yang selama ini kau datangi. Tak ada bar yang bagus dan tak ada perampok yang jago.”

Pancho Monje tampak kebingungan dan aku rasa dia mengerti apa yang kukatakan selaras dengan apa yang dia pikir. Dikira dua kawan dungunya yang lari lintang pukang  setelah ditantang dua jagoan yang telah dia habisi, ada dalam dimensi hidup ini, masa ini, dan di waktu kini. Aku terus meyakinkan dirinya bahwa dia salah masuk panggung. Namun Pancho Monje tetap ngotot. Matanya yang bengis bagiku tak cocok dengan tubuh kurusnya. Meski begitu dari tadi dia tak hendak menyarungkan kembali pistol itu.

Untuk mengulur-ulur waktu tanpa tujuan berarti, kukatakan padanya bahwa ini Jakarta, bukan Sonora. Keduanya tempat yang keras memang. Namun di sini orang-orang menjual segala hal berbau suci dan mengeramatkan badut, sementara di sana orang asyik minum mescal. Dia tersenyum tapi tak ada niat untuk menyarungkan lagi pistol yang rasanya kian menekan pipiku ini. Kalimat moralis yang kuucapkan barangkali sama seperti ceramah membosankan baginya.

Aku bagai menghadapi orang yang tak sebenar-benarnya ada namun terasa kehadirannya. Bukan hantu, melainkan jiwa berparadoks. Entah, memikirkan istilah yang kutempelkan pada sosok ini membuat kepalaku pusing sendiri. Aku tetap membujuknya dengan kalimat-kalimat penegasan yang tak kunjung membuahkan hasil.

“Hei, sobat, pacarmu tak ada di sini. Begitu pula mobil yang kaubanggakan.”

Dalam waktu yang terus berjalan ini, aku kembali membayangkan mobil Pancho Monje diparkir di halaman depan apartemen Colonia El Milagro, Santa Teresa. Ford Mustang yang selalu dia banggakan dan setelah jadi polisi pada usia muda dia pamerkan mobil itu ke mana-mana. Tapi Pancho tetap tak menarik pistol di hadapanku ini. Niatku ingin melucu dan mengingatkan dia pada harta-harta yang ditinggalkannya di dalam buku tak menggerakkan dirinya barang sesenti.

Aku masih mengangkat tangan dan suhu udara mulai dingin, langit tampak mendung kelam, aku mesti mengambil jemuranku. Kukatakan padanya ada hal penting yang harus kulakukan. Aku menjanjikan pada Pancho Monje dia bisa menodongkan pistolnya lagi usai aku mengangkat jemuran. Aku tak ingin mengenakan sempak yang sama dua hari berturut-turut. Setidaknya itikad menjemur celana dalamku ini mesti dia hargai walau aku tak mengatakan itu semua.

Anehnya dia mau menurutiku. Aku senang dia pengertian pada akhirnya.

Satu per satu aku angkat jemuran. Kehidupan selibat yang telah bertahan empat tahun ini membuatku jadi malas mencuci baju. Dulu kalau ada pembantu segalanya mudah. Kini aku mesti menghemat uang. Pekerja grafis serabutan sepertiku hanya mampu menghibur diri dengan buku. Dan kali ini ilusi berhasil menjamah diriku dan jadi kenyataan. Usai mengangkat seluruh jemuran, aku kembali duduk di kursi depan desk dan menawarkan lagi pipi kiriku untuk Pancho Monje todong.

Dia meringis. Seperti bagal. Pistolnya kembali disiapkan.

Tapi semenit kemudian segalanya berubah. Perut Pancho Monje berbunyi. Dia tak lagi menodongkan pistol. Lapar telah mengganti perannya jadi anak baik bak anjing peliharaan. Dia menyudahi drama dungu yang membuatku bisa bernapas panjang. Aku pun lega selega-leganya dan tertawa tanpa kusadari sebelumnya. Namun dia tak tersinggung.

Dia menunjuk Impala putih yang terparkir di garasi rumah. Itu mobil almarhum bapakku. Dan sepeninggal bapak, aku tak betul-betul telaten merawat mobil tua itu.

“Pizza!” serunya. Aku terkejut. Bisa omong pula dia akhirnya.

Sementara aku memanaskan mesin dan mengeluarkan mobil tua itu dengan susah payah, Pancho Monje duduk di beranda, nikmat merokok. Lalu kami berangkat.

Pancho Monje membuka jendela mobil dan menjulurkan kepalanya keluar. Sepanjang jalan orang-orang menahan tawa karena melihat topi lebar yang sedari tadi dikenakan Pancho Monje. Anehnya aku baru sadar. Mungkin saking takutnya diriku hingga tak memerhatikan detail yang bertengger dekat di hadapanku selama satu setengah jam kami bercakap-cakap walau cuma satu arah.

Kami bermobil selama lima belas menit. Pancho Monje tersenyum-senyum dan terus menerus menepuk bahuku. Aku senang dia senang. Begitu sampai di restoran pizza, dia bergegas masuk tanpa menunjukkan tanda-tanda keheranan seperti saat tadi dirinya tiba-tiba muncul di hadapanku.

Usai memesan empat paket besar pizza dan membuat dompetku bobol seketika, kami pulang dan hujan pertama sudah terkumpul di bubungan rumah dan jatuh dengan intensitas yang deras saat mobil mulai memasuki garasi. Pancho tampak senang akan menyantap pizza dalam keadaan cuaca yang sedingin ini. Dia keluar terlalu semangat dan tak bisa menjaga keseimbangan saat sepatu kulitnya menyentuh lantai licin karena basah. Pancho Monje terpeleset dan tak pernah sadar untuk selamanya. Ingatanku tentang dia setelah itu adalah betapa maut tak pernah tebang pilih sasaran.

Kemudian segalanya jadi seperti mimpi. Aku kembali membaca novel itu dan pada mulanya Pancho muncul dengan pistol siap ditodongkan dan aku tertidur lagi. Kisah novel itu kian membekas di otakku, bak kabut tebal menggumpal dan tak dapat aku gusah. Maka sebelum ini semua kulupakan, aku pun menulis cerita pertama sebagai seorang pembaca yang mengalami petualangan aneh. Sebuah cerita penuh basa-basi dengan kalimat pembuka begini: Pancho Monje tiba-tiba menodongkan pistolnya ke mukaku….

 *) Bagus Dwi Hananto, lahir di Kudus, 31 Agustus 1992. Menulis cerpen dan novel.

 

 

Continue Reading

Cerpen

Api Diana

mm

Published

on

Aku ingin bercinta sampai mati, tetapi acara bedah buku itu sudah berakhir. Diana dan aku harus bergegas, dan kepada tuan rumah yang juga sekaligus pembicara utama di bedah buku kali ini, kukatakan dengan wajah tanpa dosa: “Sering-seringlah menerbitkan karya dan undang aku seperti malam ini.”

Oleh Ken Hanggara *)

Aku hanya bercanda. Penulis yang juga sahabatku itu pacar Diana, dan aku bukan jenis pemain yang suka menantang bahaya. Berhubungan intim dengan pacar sahabatmu pada waktu bersamaan, di bangunan yang seatap dengan suatu acara penting yang mana sahabatmu itu menjadi rajanya, adalah kekurang-ajaran yang pantas mendapat ganjaran. Aku tidak berharap ganjaran berat kelak menimpaku.

Orang bilang aku sinting, tetapi Diana diam-diam menggilai kesintinganku. Sudah berkali-kali kumohon kepadanya agar berhenti merayuku dan berhenti memesan kamar hotel diam-diam untuk kami berdua.

Diana bilang, “Dia tidak seistimewa kamu.”

Pertama kali bertemu Diana, kukira gadis ini bahagia. Sahabatku pengarang yang sukses dengan buku-buku fiksi yang luar biasa. Dia layak mendapat penghargaan dan uang dan ketenaran. Dia juga pantas menggaet perempuan seindah Diana, dan keduanya terlihat bahagia dengan semua yang mereka miliki.

Aku yang bukan siapa-siapa menyadari itu.

Pada satu kesempatan aku turut datang merayakan kemenangan sahabatku di jagat literasi tanah air. Dia memang tidak pernah melupakan keberadaanku yang dulu sering membantu ketika sedang kesulitan. Aku dulu beruntung dengan bisnis rumah makanku, dan sahabatku mendapat manfaat dari bisnis itu sebelum suatu telepon datang untuknya, mengabarkan jika karyanya yang tempo hari dikirim ke sebuah penerbit diterima untuk diterbitkan. Sejak itu sahabatku bukan lagi penulis muda yang miskin.

Roda berputar. Akulah yang kemudian sering kena masalah. Bisnisku naik-turun dan lama-lama bangkrut. Utang menumpuk sampai kujual beberapa aset, dan kini yang tersisa hanya rumah kecil dan pekerjaan yang tak kuinginkan. Aku tidak perlu menyebut pekerjaan itu. Aku malu. Jelas aku tak seberuntung sahabatku.

Dalam undangan-undangan bedah buku atau sekadar bincang sastra yang diadakan sahabatku, atau di mana dia menjadi narasumbernya, aku selalu melihat sosok lain di panggungnya. Aku melihat perwujudan manusia sukses dengan masa depan cerah. Jauh berbeda dariku yang merana dengan pakaian yang sering kali sengaja tak kucuci sampai seminggu lebih demi menghemat deterjen.

Pertemuanku dengan Diana dimulai di salah satu pesta, dan itu terjadi secara tidak sengaja. Diana tidak benar-benar lebur ke acara-acara yang menjadikan pacarnya raja dalam semalam. Itu karena dia sibuk mengurus bisnisnya dan dia juga masih kuliah. Ketika Diana benar-benar ikut dan aku juga kebetulan di sana, sahabatku mengenalkan gadis itu sebagai masa depan keduanya.

“Diana masa depan keduaku setelah semua yang kucapai hari ini,” katanya waktu itu.

Aku ingat kalimat tersebut. Suatu kalimat yang seorang sahabat dari masa kecil katakan, di acara yang membawa nama besarnya, sementara tidak jauh dari kami berdiri perempuan anggun yang mirip sebagai mimpi di siang bolong. Aku benar-benar merasa ditarik ke alam mimpi, tetapi tidak diizinkan masuk, sebab tiket yang disediakan untuk istana masa depan hanya tersedia untuk sahabatku dan gadis bernama Diana itu.

Aku tidak berpikir ingin merebut Diana atau apa. Sejak awal pikiranku cuma satu: betapa beruntung sahabatku. Kurasa dia layak mendapat semuanya. Tapi, Diana datang padaku suatu sore. Dia bilang, dia bisa mencari info soal di mana tempat tinggalku atau di mana aku bekerja, meski saat kami berjabat tangan dulu, aku tidak menjabarkan siapa diriku dengan mendetail.

Aku tidak tahu kenapa Diana datang ke tempatku, tetapi mendadak aku ditarik ke celah antara sepasang kekasih ini. Aku diajak bermain api oleh Diana dalam percintaan yang membuat jantungku nyaris copot setiap mendapat telepon dari sahabatku.

Diana cantik. Setiap lelaki tidak akan tahan oleh godaan yang dia lakukan. Tidak perlu keahlian khusus untuknya demi melakukan dosa semacam itu. Ia jauh lebih cantik dari bayangan bidadari yang dapat kuimajinasikan seumur hidupku.

Awalnya aku merasa sangat berdosa. Terkadang diam-diam kupukul pipiku sendiri, lalu kukecap darah dari bagian dalam mulutku, sehingga asinnya mengingatkanku pada masa lalu sahabatku yang belum sukses. Aku sering memandangi wajahku lama-lama di depan cermin sebelum tidur. Di sana kubayangkan akulah yang berdiri dengan gagah di podium tempat sahabatku selama ini menyapa para pengagum karyanya.

“Ya, doakan saja karya terbaru saya segera terbit,” katanya selalu, ketika menutup perjumpaan di setiap acara.

Kubayangkan, bibirku yang tebal yang mengucap kalimat basi macam itu di depan penonton. Sayangnya, aku bukan pengarang sukses. Aku hanya lelaki biasa yang sedang kehilangan masa jayanya saat usiaku masih terbilang muda. Betapa menyedihkan. Aku bahkan tak pernah sekalipun bercita-cita menjadi pengarang.

“Tidak ada yang menyedihkan, Dakir,” sangkal Diana. “Kamu masih bisa membuat kisah suksesmu. Dari nol. Tak ada yang tak mungkin. Kamu mampu, kalau kamu mau. Aku bisa bantu, dan pacarku tidak keberatan membantumu, karena dia pernah bercerita kalau dulu kamulah satu-satunya yang membantunya.”

Aku tak benar-benar yakin hidupku akan membaik setelah perselingkuhan dengan pacar sahabatku berlangsung dan justru kami nikmati, karena tidak ketahuan dan sebab tak ada yang curiga. Pertemuan-pertemuan kami tidak terendus karena saking sibuknya sahabatku, dan jarangnya jadwal mereka bertemu. Aku sendiri bisa menggunakan waktu luangku yang banyak.

Saat perselingkuhan ini kupikir akan menjadi penyakit akut yang tak tersembuhkan, aku bayangkan Diana milikku seutuhnya. Aku bayangkan Diana tidak punya hubungan dengan sahabatku. Aku bayangkan kelak akulah yang menjadi suami gadis itu. Bahkan, perlahan dan pasti, beberapa teman kerjaku tahu permainan ini. Tentu aku tidak bodoh. Tidak ada di antara mereka yang mengenal sahabatku, tetapi kemudian oleh tiap orang di tempat kerja, aku disebut-sebut sebagai orang tersinting yang pernah ada.

Itu bukan sekadar julukan. Aku mungkin sinting saat menerima rayuan Diana demi membuat sensasi tersendiri di antara kami. Maksudku, dalam acara bedah buku waktu itu; di bangunan yang sama di mana acara sahabatku dimulai, kami malah asyik bercinta di antara rak-rak buku. Semua itu terjadi begitu saja.

Hanya saja, rasa takut tetap ada di dadaku. Diana tidak pernah terlihat benar-benar takut, tetapi dia bilang, “Setiap orang punya rasa takut. Aku juga takut kalau sampai dia tahu. Bagaimana hubungan kalian? Bagaimana rencana pernikahanku? Di sini, sekarang, aku merasa sahabatmu mengintip, padahal kamu dengar sendiri dia sedang berbicara di ruang tengah.”

Biasanya, selesai kami berbuat gila di tempat-tempat tak terduga, yang berjarak tak terlalu jauh dari sahabatku, aku langsung menjauh dari Diana dan kadang berpikir amat lama tentang bagaimana semua ini berakhir. Sahabatku, barangkali tetap berjaya dengan karyanya. Diana jadi istri yang baik, atau barangkali menolak semua yang mereka telah rencanakan? Kukira itu bisa terjadi. Diana mengaku tak bahagia dengan sahabatku.

Aku sendiri?

Bertahun-tahun setelah ini, yang muncul di pikiranku hanya satu: apa sahabatku itu masih menganggapku sahabat? Jawabannya tergantung dari apa dia tahu permainanku dan Diana atau tidak sama sekali. (*)

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending