Connect with us

Cerpen

Senja dan Sebuah Dendam

mm

Published

on

Oleh: Ivanasha*

 

Aku menatap langit di atas kepala sedang berwarna ungu. Kukira, ia habis bertengkar dengan waktu, hingga lebam seluruh wajahnya. Aku sedang berusaha mengingat seseorang dengan bertanya kepada langit, apakah warna yang disebut senja ini sampai juga di langitnya yang terpaut begitu jauh dari tempatku berdiri?

 

Aku tidak bisa menebak rupanya, bagaimana kepala seseorang itu berisi. Apakah serumit pikiranku yang dipenuhi tatapan mata dan senyumannya, atau bahkan memang tidak pernah serumit itu. Sementara, puisi senja pernah kukirimkan kepadanya—sepenuh keberanian. Tetapi tak sampai sekarang pun seseorang itu menjawab apa yang kutuliskan kepadanya. Dan aku lagi-lagi berusaha mencari jawaban dengan bertanya-tanya sendiri sambil menatap langit jauh-jauh. Meski aku tahu tidak ada gunanya, tetapi perasaan ringan yang kurasakan setelahnya tidak pernah gagal menghibur gelisah. Sebab langit selalu mampu menampung apapun yang orang-orang tak bisa menampungnya. Seperti pertanyaanku. Seperti perasaanku.

 

Sore sebentar lagi pergi dan aku masih perlu mengeluarkan banyak pertanyaan. Kakiku rasanya ingin melangkah dan lalu berlari tak berarah. Mungkin aku hanya butuh udara lebih banyak masuk ke rongga paru-paru, sebab merindukannya, membuat sesak. Sementara aku tidak rela malam datang terlalu cepat dan menutup mataku dengan hanya gelap. Sebab kusadari ketika seseorang itu tiada di sini, aku bukan siapa-siapa, dan aku tidak memiliki cahaya apa-apa. Aku hanyalah setitik yang hilang karena memikirkannya, kata orang, begitu butanya.

 

Sebuah pohon berdiri menjulang di hadapanku. Dahan-dahannya meninggi dan rindang dipenuhi daun yang hijau dan banyak juga yang kuning—mungkin penanda gantinya musim. Sepenuh harap kubayangkan daun-daunnya itu ialah rambut seseorang yang melingkar-lingkar, dan tubuh pohon itu ada tubuh seseorang yang selalu ingin kupeluk. Aku menganggap langit sedang menghadiahkanku teduhnya untuk mengingat lebih lapang lagi. Mungkin juga sebenarnya langit sedang mencarikan seseorang itu untukku, tetapi tidak menemukannya, sebab aku tahu ia sedang bersembunyi di balik kesunyiannya.

 

Tiba-tiba angin yang sangat kencang datang dan membuat seluruh pertanyaanku berantakan terserak di jalan raya yang ramai. Aku bahkan tak sempat memungut kata-katanya yang terurai untuk kembali ke dalam kepalaku, sebab kemudian aku merasa lelah untuk mencoba. Kemudian aku menyadari bahwa pertanyaan tidaklah ada arti jika yang ditanya tidak pernah menjawab. Kemudian kuketahui kalau rasa penasaranku ini sudah tersesat terlalu jauh. Aku tidak lagi mencari untuk lepas dari sendiri, karena aku telah mencuri jawaban dengan berkhayal dalam-dalam. Sekali lagi kusadari angin beserta gunanya yang tiba-tiba; aku tidak perlu bertanya jika bisa kurangkai jawabannya.

 

Sebab kata-kata bisa kumiliki seluruhnya dan seutuhnya, aku bisa menulis apa saja dan menjadikan diriku sendiri tuhan di dalamnya. Aku bisa membuat seseorang bersedih membawa isi kepalanya yang sangat berat karena ia tidak bisa berhenti bertanya dan merasa penasaran. Aku bisa juga membunuhnya karena rindu membuat ia ingin menyerah. Aku akan membuat seolah-olah ia sedang terjebak senja yang panjang usia, hingga ia mencari keberadaan waktu di lain hari. Aku tahu aku bisa merangkai kenyataan apa saja.

 

Maka aku menulis seperti sedang membalas dendam.

 

 

***

 

Pagi ini saya terbangun menemukan langit berwarna ungu. Saya kira, ada yang mengganti tirai saya tiba-tiba. Tetapi mana mungkin begitu. Saya selalu berangkat tidur sendiri, pula terbangun disapa sepi. Tidak mungkin ada orang lain berjingkat malam-malam hanya untuk mengganti tirai jendela kamar orang asing. Tidak mungkin itu. Tetapi tetap saja saya memikirkan kemungkinan lainnya, sembari mengumpulkan nyawa dan berusaha bangkit dari kasur.

 

Saya menduga-duga akan ada berita apa hari ini. Langit pagi warnanya keungu-unguan. Tidak terlalu mendung, cenderung teduh, seperti sesaat ketika hujan akan datang. Mungkin memang begini karena hujan akan datang. Mungkin datangnya akan sangat deras dan orang-orang bisa tersapu ke entah. Kalau begitu, mungkin saya perlu mengunci diri di dalam kamar. Atau sebaiknya saya pergi mencari dataran tinggi?

 

Tubuh ini berat sekali rasanya untuk bangun dan mencari tahu. Seperti ada kesedihan yang murung. Saya tidak tahu apakah kemalasan sedang bertamu, atau saya terlalu nyaman memendam diri di atas kasur. Yang saya pikirkan sekarang adalah tentang pagi yang asing. Saya ingin segera berangkat mencari tahu dan mendapatkan jawaban. Tiba-tiba saya khawatir kalau-kalau saya akan telat menyelamatkan diri saya sendiri. Duh!

 

Saya mencoba sekali lagi bertanya kepada pikiran. Mungkinkah subuh tadi ada hujan deras jatuh dari langit dan menyisakan pelangi yang begitu terang dan panjang. Siluet yang biasa samar kini menjadi fenomenal. Orang-orang sehabis beribadah di masjid berbondong-bondong mengambil kameranya di rumah dan memotret angkasa yang semakin siang waktu menjulang, semakin terang pelanginya benderang. Kemudian mereka memanggil tetangganya yang lain untuk ikut menikmati apa yang mereka sebut-sebut sebagai keajaiban dari Tuhan.

 

“Lihatlah ke luar! Pagi melukis pelangi yang aneh! Terang sekali!”

 

“Maha Kuasa Tuhan!”

 

“Potret yang banyak! Abadikan keajaiban usia kita sebagai kaum yang beruntung!”

 

Tiba-tiba saya keluar dari labirin pikiran saya sendiri. Dunia masih terlalu lengang untuk suatu keributan. Dari balik jendela yang bercahaya ungu itu sama sekali tidak terdengar suara seorang pun. Saya justru mendengar napas saya sendiri semakin menderu, yang saya yakin dipicu oleh rasa resah dan penasaran saya di pagi yang asing ini. Bagaimana tidak, pagi ini langit berwarna ungu terang! Meski sebagian hati saya seperti mengatakan kalau cahaya di balik jendela itu sungguh indah, tetapi kepala saya tetap menganggapnya sebagai hal yang ganjil.

 

Setelah beberapa saat, saya akhirnya mengalahkan beban berat yang menimpa tubuhku. Saya perlahan bangkit dari kasur dan berjalan ke arah jendela untuk menyibak tirai di hadapan cahaya ungu itu. Kepala saya mulai lelah dituding pertanyaan dan rasa penasaran yang tidak sudah-sudah. Saya menjulurkan tangan dan meraih kain tirai untuk kemudian menyibaknya ke samping. Kemudian, saya tidak menyangka apa yang saya lihat di hadapan mata saya.

 

Cahaya ungu itu benar-benar terlukis di langit di atas bumi ini. Garis melintang berwarna merah dan oranye tergores di sana-sini, menghiasi keseluruhan warna ungu tersebut. Saya tahu, ini adalah langit senja. Saya pernah melihatnya sewaktu saya kecil dan masih senang bermain-main di lapangan dekat rumah sebelum maghrib. Tetapi ini senja yang berbeda. Senja ini begitu indah. Sangat indah hingga sepasang mata saya enggan memercayainya. Sinarnya memantul di balik awan teduh, memanjakan mata saya dengan pemandangan yang mencuri napas saya perlahan-lahan.

 

Tetapi, senja apakah yang datang di pagi hari? Ataukah saya masih bermimpi dan belum terbangun dari tidur saya? Saya mencubit lengan sendiri. Nyeri. Ini bukan mimpi. Tetapi lantas ini apa?

 

Langit yang begitu indah masih terlukis di atas sana, sementara saya masih terkagum-kagum dan bertanya-tanya. Keindahan ini sepantasnya saya nikmati ketika tidak terasa asing. Keindahan ini sepantasnya terpapar ketika sore hendak menjemput malam. Keindahan ini begitu ganjil, tetapi saya tetap mencintainya. Seakan sengaja membuat saya jatuh di dalam cantiknya yang begitu janggal. Terpesona sejadi-jadi, tanpa berhati-hati.

 

Di dalam ruang kamar saya tergantung sebuah jam dinding. Saya ingat, saya belum melihatnya sejak saya membuka mata pagi ini. Sekejap kupalingkan kepala dari senja ke arah jarum jam yang berdetak. Jam setengah tujuh pagi. Saya kemudian merasa semakin aneh. Waktu seperti terbalik! Seharusnya senja belum datang sampai setidaknya sebelas jam lagi. Seharusnya tidak ada warna ungu, merah, dan oranye yang bersinar di langit pagi hari. Seharusnya tidak ada. Ini tidak nyata!

 

Sudahlah, nikmati saja senja itu. Sebut saja hadiah dariku.

 

Suara apa barusan? Saya seperti mendengar dengung lembut yang mampu kupahami. Seperti kalimat, tetapi tak bersuara. Sementara tidak ada siapa-siapa di dalam kamar ini.

 

Tahukah kau seorang perempuan yang pernah mencintaimu dengan terlalu, tetapi tak pula kaulihat sedikit pun perasaannya?

 

Saya semakin bingung. Tetapi kalimat-kalimat ini terdengar semakin jelas. Saya seperti mendengarnya dari dalam kepala. Kemudian saya mencoba mencerna arti dari  kata-katanya. Saya mengingat seorang perempuan yang pernah mengirimkan saya sepotong puisi. Di dalam puisi itu, ia mengemas senja begitu teduh dengan bait-baitnya. Tetapi betapa pun indah kata-katanya, tak satu huruf pun mampu membuatku membalas puisinya. Saya tidak bisa menulis puisi untuk seseorang yang tidak saya cintai.

 

Aku tahu. Maka kini aku menuliskanmu.

 

Tiba-tiba air mata saya jatuh. Kurasakan kesedihan membalut hangat dan perlahan memanas di dalam dadaku. Saya ingat ia pernah menangis di dalam sepotong puisi. Puisi itu mencintai saya, tetapi saya memutuskan untuk tidak memedulikannya. Saya kira, sebaiknya saya tidak memberikannya harapan sama sekali jika saya tidak bisa mempertanggungjawabkannya. Tetapi kali ini, bagaimana ia bisa masuk ke dalam kepala saya? Tangis saya jatuh semakin basah. Saya pun tidak tahu kenapa saya menangis. Saya tidak seharusnya sedang bersedih. Ada masalah lain yang harus saya pikirkan jalan keluarnya. Senja di hadapan jendela semakin ungu, saya harus menemukan pagi yang sebenarnya. Segera.

 

Ya, kau memang tidak pernah membalas sepatah kata pun yang telah aku tangiskan untukmu. Puisi itu, adalah puisi yang kutulis dengan senja agar indah dan cantik rupanya; agar bisa menarik perhatianmu meski hanya sedetik saja. Tetapi, kau tetap menjadi seseorang yang dingin tanpa hati. Kaupatahkan kecintaanku dengan kejamnya sikapmu. Kau bahkan tak menjawab sama sekali setelah kaubaca puisi yang kutangiskan itu. Tanpa kau sadari, kau telah melukai hati yang sungguh, mencintaimu dengan terlalu.

 

Saya berusaha tidak mendengar kalimat-kalimat yang berdengung di kepala saya kian tajam. Meski akhirnya saya sadari itu tidak mungkin. Sebab semakin saya berusaha, semakin dalam saya terjebak ke dalam arti yang terlalu saya pahami.

 

Saya mengenal perempuan itu. Saya pernah membaca senja yang ia kirimkan. Begitu indah, begitu cantik. Senja yang kemudian saya sadari terbaca seperti senja yang sedang saya lihat ini. Senja itu cinta di hatinya. Cinta yang berwarna ungu dengan semburat merah dan oranye. Cinta yang begitu tabah menahan lebam, sebab tak sekali pun saya menjawab pertanyaan-pertanyaanya. Lalu mata saya kembali meneteskan airnya semakin deras. Kini saya sadari mengapa saya bersedih. Saya merasakan apa yang perempuan itu rasakan.

 

Saya menangis seakan air mata yang pernah dijatuhkan perempuan itu mengalir di mata saya. Jatuhnya kemudian membasahi dada saya yang kian sesak. Mungkinkah ini sebentuk sesak yang pernah perempuan itu rasakan? Saya semakin terisak. Sambil menatap senja, saya mengenang kata-kata di dalam puisi yang pernah perempuan itu kirimkan. Tetapi sayang sekali, sungguh, sungguh sayang sekali—saya menyesal—tak satu kata pun mampu saya ulangi bunyinya. Saya tidak mengingat puisi perempuan itu, sama sekali. Tetapi kesedihannya semakin tajam menusuk kekhawatiran saya. Saya menangis sejadi-jadi.

 

Lihatlah senja di hadapanmu, kekasih. Langit yang kuhadiahkan kepada kau, agar mampu kau rasakan duka yang palung yang bersandar lama di penantianku. Bukankah cahayanya begitu indah? Membuatmu menyempatkan sedikit waktumu untuk mengenang seseorang. Sementara kenangan diciptakan untuk mengulang sesuatu yang tak pernah kembali, baik dengan kebahagiaan atau dengan penyesalan. Dan kuhadiahkan pagi ini, senja yang begitu silau, yang membuatmu bertanya-tanya dan merasa takut karena tak kau ketahui jawaban dari pertanyaanmu.

 

Begitulah aku. Perempuan yang pernah tenggelam di dalam senjanya sendirian. Tak lama setelah kau berlalu, aku menunggu jawaban darimu. Tetapi kutemukan diriku tidak akan pernah mendapatkan jawaban. Dan aku bertambah resah setiap hari. Seiring senja berganti senja, aku terbakar oleh rasa penasaranku sendiri. Aku mengutukmu sebab cinta tak lain hanyalah sebagian dari benci yang belum tumbuh. Jika dulu pernah kutuliskan kepadamu sebuah senja, kini aku menuliskanmu kepada senja. Aku ingin kau terbunuh seperti aku membunuh perasaanku sendiri. Dan kau tahu, kematian setitik perasaan tidaklah pernah menjadi hal yang mudah. Dan itu semua kutanggung sendirian.

 

Saya tertegun dan menahan napas. Sesak semakin membakar di dalam dada saya. Kemudian, meskipun saya tahu saya akan terdengar gila, akhirnya saya bersuara dan bertanya, seakan sedang berbicara dengan diri saya sendiri.

 

“Apa yang kaulakukan kepadaku? Apa yang kaulakukan kepada langit?”

 

Lalu saya menunggu jawaban.

 

Saya menunggu dan menunggu.

 

***

 

Setahun sudah berlalu. Senja masih menyala-nyala di hadapan jendela kamarku. Ungunya masih sama seperti awal saya menemukannya setelah bangun dari tidur. Cahaya yang indah itu kini seperti penjara bagi saya. Saya tidak pernah menemukan jawaban dari pertanyaan yang saya katakan satu tahun yang lalu. Saya mulai kehilangan waras. Mungkinkah pada waktu itu saya memang sudah gila, sehingga mengajak bicara diri saya sendiri?

Saya tidak bisa keluar dari keindahan senja ini. Dan kesedihan seperti membangun rumah mewah di dalam dada saya, hingga sesak tak pernah hilang, dan air mata saya seperti telah kering.

 

Saya tidak pernah mendapatkan jawaban. Senja masih begitu nyala di hadapan jendela kamar saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tali dan mengaitkannya di kayu yang melentang di atap kamar saya. Saya menaiki sebuah meja dan melilitkan tali itu di leher saya. Lalu perlahan tapi pasti, saya tinggalkan pijakan kaki saya dari atas meja tersebut.

 

Kemudian, saya merasakan air mata terakhir perempuan itu jatuh di pipi saya.  (*)

*Ivanasha, cerpenis. Twitter @Ivanasha

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Janin Badai

mm

Published

on

Oleh Ken Hanggara

Di perutku badai asing tumbuh dan beranak-pinak. Hitam, garang, dan liar. Jika ia mengamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki melayang. Ketika badai itu reda, hidupku hambar. Dan saat ia marah, aku mau mati saja.

“Badai asing melukaiku,” ujarku tersengal-sengal, “jadi kubunuh dia.”

Tapi, kata Ibu, kalau kamu bunuh badai di perutmu, bisa saja kamu yang mati. Aku takut dan belum tentu Tuhan menaruhku di surga kalau aku mati. Tapi badai ini sudah keterlaluan. Di perutku ia menggila. Tak tahu apa yang badai itu mau atau bagaimana ia beraktivitas hingga seolah-olah kulihat gambaran: lumatan nasi di lambung campur baur dengan cairan asam berlebih akibat derasnya badai.

Selama badai marah, aku melingkar di kasur, berputar-putar mirip gasing. Kadang diam dan memejamkan mata, atau mengejan dengan maksud mengusir badai itu, dengan harapan bisa kentut, meski ternyata tidak. Sakit luar biasa!

Ibu melarangku mengejan begitu, karena badai dikhawatirkan keluar lewat lubang kentut dengan kekuatan superbesar dan membikin gubuk kami roboh. Kalau rumah ini hancur, mau tinggal di mana kita? Mau menggelandang, ha?

Kubantah kata-kata Ibu. Kita tidak akan menggelandang dan rumah jelek ini tidak mungkin roboh hanya karena kentut. Tidak masuk akal. Bagaimana bisa badai dari perut gadis kurus sepertiku membuat bangunan ini roboh?

Tapi, untuk satu kata ‘logis’, badai yang tumbuh dan beranak-pinak di perut saja tidak bisa dibilang logis. Ia antara ada dan tiada. Bagi orang waras yang tidak tahu, aku pasti dianggap sinting.

“Kamu yakin ada badai di perutmu?” tanya temanku.

“Tidak sih. Di saat tertentu aku tenang. Tapi di saat lain aku mengejan-ngejan, atau berputar-putar seperti gasing. Kukira itu pertanda bahwa badai asing ini mengamuk.”

“Bagaimana kamu menyimpulkan kalau itu adalah badai?”

“Soalnya perutku seperti diputar, digiling. Kamu tahu digiling, nggak?”

Temanku tidak bisa berkata lain selain menyuruhku ke dokter. Anak ini sudah tidak beres, begitu katanya berulang-ulang, diam-diam, bisik-bisik ke yang lain; sayangnya aku dengar, Tolol!

Kataku, pergi ke dokter bukan solusi, meskipun Ibu menyarankan hal yang sama. Barangkali ahli meteorologi bisa memberiku penjelasan mengapa ada badai di perut manusia, sebuah badai yang tidak diketahui asal usulnya, yang tumbuh, berkembang, mengamuk, dan beranak-pinak di sana. Itulah kenapa kusebut dia ‘badai asing’.

Pertanyaan lain, yang sesungguhnya juga kutanyakan: Bagaimana aku yakin badai asing beranak-pinak di perutku? Aku tidak tahu. Aku semakin bingung setelah ada satu malam di mana badai itu menangisi anak-anaknya. Dia tenang dalam kondisi menangis, seperti danau di tengah hutan tanpa seekor binatang atau manusia atau pengaruh musim yang menimbulkan riak di permukaan air. Sikap menangis wanita lemah.

“Kalau badai itu menangis, aku ikut menangis. Tapi aku bingung, buat apa badai menangis? Apa badai asing ini bernyawa? Apa dia makhluk, seperti hewan, tumbuhan, manusia, jin, malaikat…”

Kurasa ini petunjuk Tuhan. Mungkin badai di perutku termasuk makhluk semacam malaikat—atau jin, tapi beda jenis. Kalau benar, ini penemuan besar. Mungkin sudah takdirnya begitu, sehingga aku lega karena ada alasan di balik misteri badai di perutku. Secara teori, badai ini tidak cuma bisa menembus benda material sebagaimana malaikat atau jin, tetapi juga memiliki akal dan nafsu dalam dirinya.

Saat pertama kuberi tahu soal badai di perutku, Ibu diam. Beberapa jam Ibu tidak bicara dan sekalinya bersuara, dia bilang tidak terima saat kukatakan badai asing bisa beranak-pinak karena dia satu dari sekian jenis makhluk di dunia ini.

“Kamu bicara apa? ‘Kan sudah Ibu bilang, kamu bawa saja ke dokter!”

“Ibu tidak tahu badai asing ini makhluk berbahaya! Dokter tidak bisa melawannya. Kalau bisa, tidak satu pun dokter di dunia ini yang meninggal!”

“Kamu ini kacau, ya!”

“Memang, Bu. Kalau badai ini ngamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki di atas. Ibu tahu, nggak? Benar-benar biadab! Beraninya main di perut. Coba berhadapan langsung, sudah kubunuh dia!”

“Ya Tuhan, cobaan apa ini!”

Ibu pergi dan membanting pintu.

Setelah itu Ibu jarang bicara denganku dan aku bergelut dengan sakit luar biasa akibat badai dalam perut yang aneh dan lama-lama menakutkan. Ini pasti ada akhirnya. Tapi, betapapun kuatnya keyakinan bahwa si badai asing makhluk bernyawa dan kelak akan mati sebagaimana janji Tuhan bahwa setiap yang berjiwa pasti akan diambil, aku tidak tenang. Badai ini, jika beranak-pinak, suatu saat memenuhi seluruh bagian perut; ini juga ada waktunya. Kubayangkan lambung, usus, dan sebagainya, tak lagi cukup menampung hal lain selain badai asing dan anak turunnya. Dan badanku mungkin meledak!

Yang paling kuingat dari malam penemuanku, badai ini menangis dan memohon agar anak-anaknya tidak nakal dan kabur. Dia rela berbagi tubuh dengan mereka: “Satu sisi di puncak untukmu, Mata, Akal, Telinga. Sisi di samping untuk kalian, Jantung, Hati, Perasaan. Dan bawah badanku bagimu, Nafsu, Bencana, Aib…”

Dasar sinting! Ibu macam apa itu? Akal, perasaan, nafsu…? Jangan sok bijak, Setan! Tujuan dia menetap di perutku karena ingin menyiksaku. Mungkin badai ini semacam benalu, yang numpang hidup dalam tubuh makhluk lain, tapi tak sedikit pun memberi manfaat.

“Ya! Itulah dirimu, wahai badai asing!”

Aku sering berputar. Tubuhku tak lagi melingkar. Aku bergelinjang seperti belut di penggorengan. Aku mengejan sekuat tenaga seperti membuang tinja sebesar buaya. Ketika badai reda, tubuhku normal, tetapi pikiranku lari ke mana-mana. Aku tidak bisa menebak bagaimana mulanya badai asing tumbuh. Sesuatu yang ada pasti datang dari ketiadaan. Dulu tidak ada badai di perutku, tapi sejak lima bulan lalu, sejak badai itu datang, hidupku mulai berbeda.

“Kukira kamu perlu ke ahli meteorologi,” kata teman yang sama. “Karena asal-usul badai bisa dilacak. Badai di perutmu mungkin sama dengan badai umumnya. Mungkin ada perubahan atmosfer dalam tubuhmu, meski aku tidak yakin.”

“Dia bukan badai biasa. Dia makhluk seperti jin dan malaikat.”

“Kamu selalu sok tahu!”

“Ya.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Aku tahu karena dia beranak-pinak dan menangis, dan aku juga tahu dia ingin membagi raganya untuk anak-anaknya.”

“Tak masuk akal!”

“Memangnya masuk akal, ada badai dalam perutku? Bisa bayangkan?!”

Aku mencoba cara lain, yang sudah jadi keputusan akhir. Aku tidak tahan lebih lama. Setiap badai asing mengamuk, badanku tidak lagi berputar seratus delapan puluh derajat, atau mengejan, atau menggelinjang, atau melingkar dan mengerang di kasur, tapi aku lari ke sana kemari persis orang gila, karena amukan badai sangat menyakitkan!

Aku harus bunuh badai itu.

Aku tidak yakin diriku tidak terluka oleh rencana ini, tapi badai itu bisa mati kalau aku tahu titik pusatnya.

Jadi begini, saat badai tenang, kuraba perutku, kupijat, lalu kuremas bagian-bagian tertentu. Di sanalah titik pusatnya. Aku tidak menunggu badai mengamuk. Selagi ada kesempatan, ia kubunuh pada detik itu. Bisa dengan pisau atau pedang panjang, sehingga aku menusuknya melalui pusarku dan tembus sampai punggung. Aku tak punya pedang dan tak perlu berpikir rumit untuk sekadar membunuh badai dalam perutmu, bukan?

Aku hanya perlu mencari tempat di mana ia bisa kukubur, setelah kubunuh nanti. Aku percaya kematian badai membuatnya mudah kukeluarkan. Tidak lewat lubang anus, karena anak-anak badai sungguh amat sangat banyak. Hampir tiap malam ia melahirkan anak dan membagi dalam kelompok sesuai kebutuhan fisiknya: bagian atas, samping, bawah…. Tidak heran, hari ini anak-anak itu membuatnya lebih ganas. Aku bahkan tidak yakin selamat usai membunuh badai asing itu. Tapi satu yang pasti: percobaan ini jelas membunuhnya.

Kiranya ada hal yang membuat Tuhan tersinggung, aku minta maaf. Aku penemu sekaligus pembasmi makhluk jenis baru serupa jin dan malaikat yang bisa hidup dan beranak-pinak dalam perut seorang gadis tanpa diketahui bagaimana ia bermula.

Maka dengan tenang kuucap, “Badai asing kurang ajar yang masuk ke perutku, beranak-pinak tanpa peduli betapa susah fisikku karena menampung bobotmu yang kian hari kian berat, kuucapkan selamat tinggal.”

Dalam pandangan lamur, pisauku berlumuran darah. Tidak ada makhluk serupa jin atau malaikat, atau tiupan angin hingga gubuk roboh.

Setelah perut terbelah, yang ada seonggok daging, segumpal rambut, dua bola mata, dan bau amis. Tuhan bercanda. Terbuat dari apa badai yang tumbuh dan beranak-pinak dalam perutku sih? [ ]

Gempol, 2015-2019

 

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya tersebar di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

 

Continue Reading

Cerpen

Evolusi Homo Sapiens

mm

Published

on

Oleh: Sasti Gotama

 Seekor Homo sapiens terjatuh begitu saja dari langit. Untung saja ia terjatuh di atas tumpukan rumput kalanjana. Meskipun begitu, tetap saja ia merasa kesakitan lalu menguik    –yang bunyinya lebih mirip suara bekantan di rimba Kalimantan. Jika saja ia tidak terlalu berkonsentrasi dengan nyeri di pantatnya, tentu ia akan sadar bahwa suaranya  mengejutkan sepasang kupu-kupu hitam yang hinggap di pucuk ilalang hingga keduanya terbang berpencar, tak jadi melakukan ritual perkawinan.

Homo sapien itu bangkit sambil berusaha mengingat-ingat, bagaimana ia bisa terjatuh di tumpukan rumput ini. Seingatnya, terakhir kali yang  ia lakukan –beserta kawanannya– adalah mengejar seekor kukang tanah setinggi pohon yang melarikan diri menuju rimbunan  pakis haji raksasa. Ia mengejarnya sambil mengayunkan tombak batu yang baru diasahnya tadi malam. Ujung daun-daun itu sempat menggores kulit lengan sebelum ia merasa kakinya menginjak sesuatu yang lembut dan lunak.  Rawa. Tanah lembek itu mengisapnya ke dalam. Semakin dalam, hingga ia tak sempat berteriak ketika tanah hitam lembap itu masuk ke dalam lubang hidung dan mulutnya –terasa pahit dan asin– sebelum akhirnya ia melihat kegelapan yang berganti cahaya menyilaukan. Kemudian ia terjatuh begitu saja.

Ia melihat ke sekelilingnya. Dunia yang asing. Ia melihat tanaman  sejenis rerumputan yang dikumpulkan dalam berpetak-petak tanah. Ia pernah melihat tanaman sejenis rumput ini yang berbuah biji-bijian di suatu tempat di tengah hutan sebelum ia dan kawanannya berpindah tempat di musim kemarau panjang. Namun, rumput yang pernah dilihatnya hanya  serumpun, bukannya hamparan   kuning keemasan yang sepertinya sengaja ditanam dan terlihat seperti rimbunan bulu-bulu kukang terbentang di bawah kaki bukit.

Ia mendongak dan melihat langit sudah mulai terang. Bola api  raksasa merayap keluar dari balik bukit. Homo sapiens itu  memutuskan berjalan menuju ke arah sinar  dengan menyusuri parit buatan.

***

Sementara itu, seorang Homo sapiens lainnya berjenis kelamin laki-laki dan berbaju hitam  bernama Toha sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah. Ia menunggu Imron, sepupunya, yang berjanji akan datang secepatnya setelah selesai nyabis ke Kyai Soleh.   Toha tak menghiraukan istrinya – Maemunah—juga kopi panas yang diletakkan di atas meja. Ia juga tak  peduli  kelopak mata istrinya bengkak karena menangis semalaman. Yang ada dalam pikirannya adalah harga diri yang harus dibela.

Seminggu yang lalu, Bukad  –pamannya– baru saja memenangkan pemilihan  klebun   di alun-alun Wirakrama. Sayangnya, Sugali, klebun yang lama menolak menyerahkan tanah percaton  karena menganggap sudah melakukan tukar guling dengan tanah miliknya di pinggir desa.  Bukad tidak terima, karena tanah percaton hasil tukar guling terletak jauh dari pusat desa dan tanahnya tidak begitu subur. Sugali berkilah bahwa ini sudah disahkan oleh pemerintah pusat. Ia menunjukkan berbagai macam surat yang menetapkan perihal ini. Tentu saja, Bukad tak terima. Ia mencium adanya persekongkolan dan  mencurigai bahwa tanda-tangan yang tertera di surat-surat itu dipalsukan. Ia lalu mengajak pendukungnya untuk beramai-ramai menyerbu rumah Sugali.

Sebagai kerabat yang baik, tentu saja Toha merasa berkewajiban membela pamannya. Ini masalah kehormatan. Bagi sukunya, kehormatan harus dijunjung tinggi. Lebih baik putih tulang daripada putih mata.

Tepat pukul delapan lebih lima belas menit, Toha melihat Imron datang. Segera diraihnya celurit –berukuran enam puluh sentimeter dengan ujung melengkung– yang telah diasahnya tadi malam . Ia menghampiri Imron yang juga membawa senjata yang sama. Tekad mereka bulat. Membela kebenaran.

Maemunah melepas keduanya dengan mata  sembab. Percuma saja meminta seorang lelaki sukunya yang sudah bertekad bulat untuk mengurungkan niat. Seperti halnya yang terjadi pada kisah-kisah sebelumnya, hal-hal seperti ini  –perihal membela kebenaran–  sering berujung pada carok masal. Padahal entah itu memang sebuah kebenaran atau kepentingann seseorang, Maemunah tak yakin. Sama tak yakinnya ia  bahwa Toha akan pulang selamat. Perlahan ia menutup sepasang pintu jati rumahnya, lalu jatuh terduduk dan bersandar pada pintu. Ia menangis tanpa suara.

Sementara itu pasukan pembela Bukad, termasuk Toha dan Imron,  sudah berkumpul di depan rumah Sugali. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan celurit yang mereka bawa. Sebagian dari mereka memanggil nama Sugali. Sisanya memaki-maki.

Sugali terdiam di balik pintu. Bukannya ia gentar, tapi ia merasa melakukan hal yang benar. Akhir bulan Mei, lima tahun yang lalu, ia melihat atap salah satu sekolah dasar di pinggir desa tampak miring. Pemandangan yang lebih mengenaskan terlihat saat ia masuk ke dalam ruangan kelas. Dinding banyak yang rusak dan kayu-kayu penyangga rapuh dimakan rayap. Seolah-olah, jika ia bersin, maka bangunan ini akan rubuh begitu saja. Belum lagi letak sekolah ini jauh dari pusat desa. Anak-anak yang bersekolah harus menempuh jalan yang cukup jauh, melewati bukit kapur dan persawahan warga. Sugali berpikir, seandainya saja tanah pecaton di tengah desa bisa ia tukar dengan tanahnya di pinggir desa, mungkin bisa ia bangun sekolah yang lebih bagus.

Teriakan-teriakan semakin keras terdengar. Sugali sempat berpikir untuk keluar dan menjelaskan, tapi sesuatu berbisik di telinganya bahwa itu sama saja dengan bunuh diri dengan sadar. Jadi, ia memutuskan menunggu. Pendukungnya akan segera datang. Rencana Bukad untuk menyerbu rumahnya sudah bocor sejak tadi malam sehingga ia dan pendukungnya sudah menyiapkan taktik balasan. Tadi malam, ia gelorakan semangat pendukungnya. “Mereka melakukan fitnah sistematis. Mengatakan saya melakukan persekongkolan dan tipu muslihat. Padahal saya melakukan kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan. Dibela sampai titik darah penghabisan!” Tentu saja ia tak mengatakan darah siapa yang harus dialirkan. Yang pasti bukan darahnya sendiri.

Ketika masa Bukad semakin beringas dan hendak merobohkan pagar rumah Sugali, dari arah belakang, ratusan masa pendukung Sugali menyerbu. Di tangan mereka ada celurit dan kelewang. Carok! Ujung-ujung celurit itu mulai liar. Menghujam kulit, menyobek daging, memenggal leher, hingga darah mengalir deras. Tak ubahnya  medan perang Kurukshetra.

Semuanya sibuk berperang hingga tak memperhatikan seekor Homo sapiens telanjang yang terdiam di pinggir jalan. Ia telah  menempuh empat puluh lima menit menyusuri jalan makadam dan terhenyak ketika melihat sekumpulan makhluk yang mirip dirinya saling menghujamkan senjata tajam.

Homo sapiens itu terheran-heran. Selama hidupnya, tak pernah kawanannya saling melukai seperti itu. Biasanya  mereka memburu bison atau kukang tanah raksasa bersama-sama. Menombak, memenggal kepala, dan mengulitinya, tapi tak pernah kawanannya saling memburu sesama. Ia bertanya-tanya, apakah mereka berperang karena memperebutkan daging  bison atau kambing liar atau kukang raksasa. Tetapi ia melihat  di sekitar mereka  tak ada bangkai binatang yang diperebutkan. Lagipula perut mereka membulat dan otot-otot mereka tampak pejal. Yang pasti mereka tak tampak kelaparan.

Homo sapiens itu tak pernah tahu, bahwa berpuluh-puluh tahun yang lalu, seorang Homo sapiens lain bernama Sigmund Freud telah menemukan  hal penting yang membuat Homo sapiens saling berperang. Ego. Ego yang tunduk pada id. Tentu saja ini adalah hasil evolusi otak dari seekor Homo sapiens. Jika saja Homo sapiens dari masa lalu itu tahu, bahwa ini hasil evolusi dari otak besarnya, mungkin ia akan menolak berevolusi dan tetap memilih menjadi lutung jantan.

***

Sebelas orang meninggal dan puluhan luka berat. Dan berminggu-minggu kemudian, dari kedua belah pihak –baik Bukad maupun Sugali—mengatakan bahwa masing-masing dari masa mereka disusupi oleh pembuat onar. Begitu kata mereka saat diwawancarai oleh reporter wanita cantik berambut pendek yang datang dari ibu kota. Tak  ada satu pun dari mereka menyebutkan keberadaan seekor Homo sapiens telanjang yang melenggang di tengah desa dengan wajah heran.

SELESAI

___

Keterangan:

Keterangan:

Nyabis: diisi tenaga dalam

Klebun: kepala desa

Percanton: tanah bengkok

Continue Reading

Cerpen

Tentang Maria, Gedung Bioskop, dan Buku Harian yang Tertinggal

mm

Published

on

Getty Images/ The Lovers by Rene Magritte

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

 

Oleh Ken Hanggara *)

Pada sore hari setelah Maria pergi, aku duduk di teras dan membuka-buka sebuah buku harian. Di sampul depan buku harian tersebut terdapat suatu cap yang dahulu aku buat di sana untuk kenang-kenangan agar Maria tak melupakanku.

“Ini hadiah dariku, Bung,” kataku kepada seorang tetangga.

“Kau yakin kalian benar-benar saling mencintai?”

Aku berdiri dan mengajaknya masuk ke ruang tamu. Toni tetangga baruku, dan ia belum pernah menyapa Maria. Tiga hari yang lalu Toni datang dengan membawa mobil pick up berisi berbagai perabot, dan kepadaku yang kebetulan berada di teras rumahku, ia mengaku semua benda tersebut warisan. Ia akan tinggal di rumah sebelah yang sudah sepuluh tahun lebih kosong.

Aku mengenal Toni sejak itu, dan karena ia bujangan, aku bisa mengajak pemuda itu mengobrol apa saja sampai larut malam. Maria tidak pernah mau kuajak bercumbu sebelum tidur dan itu tidak kuceritakan pada Toni.

Karena tidak pernah kuungkit-ungkit soal Maria, dan begitu tahu pasanganku pergi tanpa pamit, Toni berpikir Maria tidak benar-benar mencintaiku. Ia berkata, sambil kami melangkah ke dalam, “Kalau tidak begitu, ada sesuatu yang salah.”

Aku berhenti dan bermenung di depan foto diriku dan Maria yang berdiri sambil berpelukan di depan gedung bioskop tujuh tahun lalu, waktu kami pengantin baru. Aku tidak berkata apa-apa sampai akhirnya sadar ada Toni di sini, dan kujawab, “Sebetulnya tidak ada yang salah.”

Aku tahu ada yang beda di wajah Toni, dan kukira dia tidak enak saja padaku yang lebih tua beberapa tahun, tapi sudah dituduh macam-macam. Soal asmara bagi beberapa orang bisa jadi sensitif. Mungkin karena itu Toni memutuskan diam.

Kami tidak berkata apa-apa sampai kuajak Toni ke ruang tengah. Ada lebih banyak fotoku dan Maria dari tahun ke tahun. Ada beberapa yang sengaja dibuat khusus untuk mengenang bahwa kami tidak akan berubah soal cinta.

“Foto-foto macam ini,” jelasku pada Toni, yang terlihat agak lega, karena aku bisa bersikap santai, “dimulai dari ketidaksengajaan. Itu foto waktu kami pertama jadian.”

Kutunjuk sebuah foto, dan kemudian jariku beralih ke foto lain di samping kanan foto tadi.

“Ini setahun pertama kami jadian. Posisiku dan Maria terlihat sama seperti di hari ketika kami bersumpah akan terus bersama. Dia di kanan dan aku di kiri. Kami tetap berpelukan. Lihat, senyum kami juga sama. Ketika itu Maria bilang, ‘Aku tidak mau kita pacaran, dan kelak selesai begitu saja tanpa ada yang bisa dikenang.’ Maka kusodorkan ide foto dengan pose yang sama dari tahun ke tahun, dan perempuanku itu setuju. Dan kini, kamu lihat hasilnya!”

Toni mengangguk-angguk selagi kujelaskan itu. Ia sesekali bicara soal keakuratan senyum kami.

Senyumku dan Maria dari tahun ke tahun nyaris tak pernah terlihat beda dari foto di tahun sebelum dan sesudahnya. Bagi Toni, merancang foto seperti ini tidak semudah yang orang pikir, apalagi yang kami lakukan melebihi dari foto dengan pose tunggal. Yang kami lakukan membeku untuk urusan asmara. Ada beberapa yang beda di wajahku, yang jadi agak bulat, tapi senyumku dan Maria tak pernah beda.

Lalu kami melompat ke topik lain soal ayah dan anak di suatu belahan bumi, yang berfoto dengan pose tunggal setiap tahunnya, dan ketika si bocah semakin lama semakin besar, posisi ayah yang menggendong anaknya dapat dibalik sewaktu-waktu.

“Di foto kalian, tidak ada yang bakal terbalik, sebab kalian saling berpelukan, dan kita bisa memeluk siapa pun tanpa harus menjadi kuat. Apa yang tadi sempat kukatakan soal kalian yang sama-sama saling mencintai, harus kutarik dan aku menyesal sudah mengatakannya,” tutur Toni dengan memandangku lesu.

Aku mengangguk. Urusan percintaan saat manusia sudah berusia tiga puluh ke atas, atau empat puluhan, atau bahkan lima puluh hingga seratus tahun, sangat berbeda dari kisah cinta yang pada umumnya orang percayai.

“Aku dan Maria sering bertengkar dari waktu ke waktu setelah tahun keenam kami. Bayangkan, itu baru enam tahun kami menikah. Aku menikahi Maria pada saat umurku dua puluh delapan, dan dia dua puluh tujuh. Jadi, sekarang ini kami masih cukup muda, padahal kenyataannya aku dan Maria merasa sama-sama menua.”

Aku tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Kuajak Toni berjalan lagi ke depan setelah puas melihat hampir semua fotoku dan Maria yang ada di ruang tengah.

Begitu aku ingat sudah menunjukkan foto-foto kami dengan pose tunggal kepada seorang tetangga baru, aku berbelok ke kamar dan mencari sesuatu di sana.

“Kau tunggu di depan,” kataku pada Toni.

Tak butuh waktu lama untuk tahu betapa Maria sudah membawa kamera dan setiap file dalam laptopku yang menyimpan seluruh foto dengan pose tunggal tadi. Itu adalah bukti untuk, paling tidak, dua kemungkinan. Pertama, Maria tidak ingin melupakanku sehingga foto-foto yang kami buat akan ia simpan selamanya meski kami tak bersama. Kedua, ia hapus seluruh file tersebut sehingga tidak ada lagi yang tahu bagaimana cara kami menyimpan cinta yang dulu begitu kami agungkan.

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

Di gedung bioskop,” desisku.

Itulah potongan kalimat pertama di buku harian Maria. Ia pernah bilang bahwa ia sengaja memindah catatan hariannya ke buku baru, setelah ada lelaki yang memenuhi kebutuhan cintanya, yakni aku. Jadi, hari ketika kami berdua bertemu itu Maria jadikan halaman pertama di buku harian barunya yang tebal.

Aku pernah bertanya, “Kamu menyiapkan buku setebal itu untuk tahun-tahun yang manis bersama orang paling beruntung, ya?”

“Aku yakin buku ini tidak akan pernah putus, karena ketika dia sudah kehabisan halaman kelak, akan kutambah dengan buku harian yang juga tebal, lalu mereka berdua kujahit, begitu seterusnya. Bisa dibayangkan? Kelak anak cucu kita akan tahu betapa nenek moyang mereka adalah penulis yang romantis!”

Aku bahagia dan merasa terhormat mendapat tempat seistimewa itu di hati Maria. Dia pernah dikhianati lelaki sewaktu masih SMA, dan sejak itu hingga berumur dua puluh tujuh, tidak sekali pun jatuh cinta. Dengan kata lain, akulah pria pertama yang ia cintai setelah bertahun-tahun membenci cinta.

Di gedung bioskop, seorang lelaki datang menyapaku, dan dia bertanya film apa yang bagus ditonton seorang diri? Kalimat pertama itulah yang ditulis Maria, dan aku ingat betapa dengan konyolnya aku bertanya soal film yang baik ditonton oleh orang yang kesepian. Waktu itu pilihan filmnya hanya romansa. Aku dan Maria dengan senang hati menonton bersama. Ia mudah menerima teman baru sepertiku, yang baginya lucu. Memang ketika itu aku merasa bodoh dan lucu.

Pulang dari bioskop kami mengobrol seperti teman biasa yang baru berkenalan. Ia kumintai nomor telepon, dan sejak itu, kami sering pergi ke bioskop. Sering juga kami menonton film yang dibuat untuk mereka yang tidak punya pasangan. Film-film macam superhero dan hal-hal tak masuk akal yang cenderung kekanak-kanakan. Aku tahu film semacam itu tidak benar-benar dibuat khusus untuk mereka yang single, tetapi tentu saja aku dan Maria ketika itu senang bercanda.

Begitulah, aku membaca halaman demi halaman buku harian Maria yang ditinggal, entah sengaja atau tidak. Buku harian itu kutemukan di lantai ruang tengah, tergeletak begitu saja bersama beberapa brosur liburan murah ke luar negeri serta beberapa buah buku bacaan yang Maria sukai. Benda-benda ini tersimpan di salah satu tas yang kukira harus Maria bawa, namun tak sengaja ditinggalkan. Aku tahu dia pergi dari rumahku dengan tergesa-gesa. Tidak ada alasan lain selain karena takut aku melarangnya.

Memikirkan Maria yang merasa tidak akan ada gunanya kami hidup tanpa pernah ada calon bayi di perutnya, membuatku sedih dan mungkin baiknya aku juga berkemas malam ini dan pergi dari rumah. Aku pergi untuk mencari Maria, atau mungkin pergi ke tempat mana pun yang kusuka untuk menghibur diri. Tapi, tubuhku lemas dan tak ada kemauan mewujudkan pikiran gila apa pun.

Mungkin esok keputusan itu ada. Mungkin juga tidak. Tapi, untuk saat ini tak ada hal apa pun yang ingin kulakukan selain tetap di sini. (*)

Gempol, 2017-2019

 _______________

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending