Connect with us

Buku

Sekilas Riwayat Hidup dan Ajaran Carl Gustav Jung

mm

Published

on

CARL, Gustav adalah seorang psikiater berkebangsaan Swiss, pendiri Sekolah Psikologi Analitis. Ia lahir tanggal 26 Juli 1875 di Kesswil dekat Danau Constance, Switzerland, sebagai putra tunggal dari seorang pendeta Protestan. Dalam usia empat tahun keluarganya pindah ke Basel, di mana anak ini dididik dan belajar kedokteran. Nenek-moyang ibunya banyak yang menjadi teolog. Nenek-moyang ayahnya adalah seorang anggota Dewan Katolik di kota Mainz; kakeknya masuk Protestan karena dipengaruhi oleh Friedrich Schleiermacher tahun 1813. Warisan religious ini, boleh jadi mempengaruhi interesenya dengan persoalan-persoalan religious dalam karya Jung. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh warisan medis, khususnya dari nenek-moyang ayahnya yang menjadi dekan pada Fakultas Kedokteran di Universitas Basel (1822) dan mendirikan rumah sakit jiwa yang pertama dan sebuah rumah bagi anak-anak lemah mental (feeble-minded).

Sebelum Jung memutuskan untuk masuk kedokteran, ia belajar biologi, zoology, paleontology, dan arkeologi. Penyeledikannya dalam bidang filsafat, mitologi, literature Kristen dari abad-abad pertama, mistisisme, Ghotisisme, dan alkimia diteruskan sepanjang hidupnya, bersamaan dengan minatnya dalam perkembangan-perkembangan ilmiah. Pikirannya dengan interese yang besar dapat mempersatukan pikiran-pikiran yang sangat berbeda-beda ke dalam satu kesatuan yang erat dan menyebabkan ajarannya memiliki (mengandung) dua aspek, yang menghubungkannya dengan ilmu eksakta dan ilmu kemanusiaan, sehingga menurut pandangannya ini dapat mengungkapkan dengan paling baik banyak segi dari struktur psike.

Jung menjadi asisten dokter pada Klinik Psikiatri di Burgholzli pada Universitas Zurich dibawah Wugen Bleuler tahun 1900. Tahun 1902 dia memperoleh gelar doctor dengan disertasinya: “Zur Psychologie und Pathologie sogenannteer okkulter Phanomene” (“On the Psychology and Pathology of So-Called Occult Phenomena”). Di dalam disertasi ini, dia mengemukakan salah satu dari konsep dasar yakni keutuhan fundamental dari psike yang merupakan dasar semua gejala psikis. Sementara mengobservasi keadaan kesurupan seorang anak muda, Jung yakin bahwa dia dapat melihat usaha-usaha dari satu kepribadian yang lebih lengkap, dan yang masih tersembunyi dalam alam ketaksadaran untuk masuk ke dalam alam kesadaran.

Tahun 1902 Jung berangkat ke luar negeri, mula-mula ke Paris di mana ia menghadiri kuliah dari Pierre Janet, kemudian ke London. Tahun 1903, Jung nikah dengan Emma Rauschenbach, yang merupakan pendamping dan kawan kerjanya dalam bidang ilmu sampai kematiannya tahun 1955.

Hasil-hasil penyelidikan eksperimental yang pertama dipimpinnya dalam kerja sama dengan Franz Riklin dan orang-orang lain, muncul dalam tahun 1904 dengan judul “Diagnostische Assoziationsstudien” (1918; Studies in Word Association). Penyelidikannya ini menyajikan suatu metoda untuk menemukan kelompok-kelompok isi “psikis emosional” (feeling-toned) yang ditekan. Untuk itu ia menciptakan term baru yang terkenal yaitu “Kompleks”, Karya ini menjadikannya tenar dan menyebabkan pertemuannya dengan Sigmund Freud tahun 1907; dalam tulisannya mengenai interpretasi mimpi, Jung mendapat konfirmasi (pengesahan) atas penyelidikannya sendiri.

Jung biasanya dipandang sebagai seorang murid, dan dimata pengikut dari Sekolah Freud (Freudian School), Jung dianggap sebagai murid yang telah mengingkari agama. Akan tetapi ini sama sekali tidak benar. Bahkan walaupun Jung menyokong ide-ide dan metoda-metoda Freud dalam tahun-tahun kerja sama mereka yang membangkitkan semangat dan membawa hasil, namun banyak konsep fundamental dari ajarannya sendiri dapat ditemuinya beberapa tahun sebelum bertemu dengan Freud. Terlebih lagi periode kerja sama mereka berlangsung hanya dari tahun 1907-1913. Perbedaan-perbedaan dalam titik tolak psikologis dan seluruh pandangan dunia segera menjadi jelas. Jung dua puluh tahun lebih muda dari Freud; karena kepribadian Jung yang kuat dan mempunyai kehendak sendiri, akhirnya hubungan bapak-anak tidak dapat bertahan lama. Jung sendiri juga tidak dapat menganuti banyak doktrin Freud seperti teori tentang pemenuhan keinginan atau seksualitas infantile. Terutama sekali Jung menentang prinsip-prinsip analitis Freud yang dalam pandangannya terlalu berat sebelah, terlalu konkret, dan personalistis. Jung juga membantah pandangan Freud tentang karakter anak yang bersifat polymorphous-perverse (yang belum mempunyai satu bentuk tertentu dan bersikap tidak wajar) sambil mengemukakan konsepnya sendiri tentang suatu disposisi yang polyvalent. Disposisi polyvalent ini tidak didominir oleh prinsip kenikmatan (lust-prinzip) dan juga tidak didominir oleh suatu keinginan untuk diterima, melainkan lebih memperlihatkan kecenderungan khusus fantasi anak untuk membuat suatu “interpretasi simbolis lebih daripada satu tafsiran ilmiah rasional”; fantasi simbolis anak adalah aktivitas natural dan spontan yang menurut Jung bukan merupakan hasil dari penekanan saja (repression).

Sesudah memberi kuliah di Amerika Serikat bersama dengan Freud tahun 1911, Jung menghentikan karirnya sebagai penerbit dari majalah Jahrbuch fur psychologische und psychopathologische Forschungen (Yearbook for Psychological and Psychopathological Research), yang telah didirikan oleh Bleuler dan Freud. Jung juga berhenti sebagai ketua dari Perkumpulan Psikoanalitis Internasional (“International Psychoanalytic Society”) yang mana Jung sendiri dirikan, dan masih merupakan organisasi professional Freudian (Pengikut Freud). Jung menjelaskan pandangan-pandangan baru yang berbeda dengan pandangan Freud dalam buku-bukunya yang mungkin paling terkenal dari semua buku Jung yaitu Symbole und Wandlungen der Libido (1912; Synbols and Transformation of the Libido). Kemudian diterbitkan lagi dengan judul Symbole and Wandlung (1952; Symbols of Transformation). Dengan bantuan bahan fantasi dari seorang gadis dalam tahap-tahap permulaan schizophrenia. Jung berusaha menyingkapkan arti simbolis isi dari alam ketaksadaran dan menginterpretasinya dengan parallel-paralel yang diambil dari bidang sejarah dan mitologi. Kemudian keterpisahannya dari Freud tak dapat dielakkan lagi. Untuk bisa membedakan ajarannya dari sekolah-sekolah yang lain itu, Jung memberinya nama “Psikologi Analitis” (analytical psichology) , yang berbeda dengan psikoanalisa Freud dan psikologi individual Alfred Adler.

Dalam tahun 1909, Jung berhenti dari pekerjaanya di Burgholzli, dan tahun 1913 melepaskan jabatannya sebagai dosen pada Universitas Zurich yang telah dipegangnya sejak tahun 1905. Jung makin lama makin menjadi lebih terpikat untuk studi tentang symbol-simbol mitologis dan symbol-simbol religious. Pada awal pecahnya Perang Dunia I, mulailah suatu periode introspeksi yang tergabung dengan penyelidikan empiris, suatu periode kosong (belum ada publikasi) yang berakhir sampai diterbitkannya Psychological Types tahun 1921. Dalam karyanya ini, Jung membedakan posisinya dari Freud dan meletakkan dasar psikologi analitis. Dalam tahun 1920, Jung pergi ke Tunisia dan Algeria; dari tahun 1924-1925 ia menyelidiki orang Indian Pueblo di New Mexico dan Arizona dan dalam tahun 1925-1926 ia menyelidiki penduduk-penduduk Mount Elgon di Kenya. Jung terutama berminat dalam mencari analogi antara isi dari alam ketaksadaran dalam manusia Barat dan mite-mite, kultus-kultus, dan ritus-ritus manusia primitive. Ia melakukan beberapa perjalanan ke Amerika Serikat dan dua kali mengunjungi India (yang terakhir kali tahun 1937). Simbol-simbol religious dari Hinduisme dan Budhisme, khususnya ajaran dari Budhisme Zen dan filsafat Konfusius, memainkan peranan penting dalam penyelidikan psikologisnya.

Pada tahun 1948, Institut C.G. Jung didirikan di Zurich untuk meneruskan ajarannya dan sebagai pusat latihan bagi analisis-analisis. Karyanya dilanjutkan di Inggris oleh “Society of Analytical Psychology” (Perkumpulan Psikologi Analitis), dan dia beberapa perkumpulan lain di New York, San Francisco, dan Los Angeles, serta di beberapa negara Eropa.

Jung adalah ketua Perkumpulan Swiss untuk Psikologi Praktis, yang didirikannya tahun 1935. Tahun 1933-1942 ia menjadi professor pada Federal Technical College di Zurich, dan pada tahun 1949 menjadi professor psikologis medis di Basel. Ia menerbitkan majalah Zentralblatt fur Psychotherapie und ihre Grenzgebiete (Central Journal for Psychoterapy and Related Fields) dari tahun 1933-1939. Jung meninggal di Kusnacht di Danau Zurich pada tanggal 6 Juni 1961.

Ketika ditanya tentang data biografinya, Jung menegaskan bahwa ia hanya mempunyai “kehidupan batin saja” (He has an inner life). Segala sesuatu yang ia alami dalam dunia luar menjadi sebuah pengalaman pribadiah.

Psikologi Analitis

Individuasi adalah inti ajaran Jung: Individuasi adalah kemungkinan yang terdapat dalam species-species manusia dan pada setiap orang dengan mana psike individual dapat mencapai perkembangan yang lengkap dan utuh. Proses individuasi berpangkal dari keseluruhan psike, suatu organism yang bagian-bagian individualnya dikoordinir oleh system relasi komplementer dan saling mengimbangi dan memperkembangkan kematangan kepribadian. Jung menekankan pentingnya fungsi religious dari psike. Penekanan relasi fungsi religious ini dapat membawa gangguan psikis, sedangkan perkembangan religious adalah satu komponen integral dari proses individuasi.

`Jung menganggap neurosis bukan hanya sebagai satu gangguan, tetapi juga sebagai satu dorongan hati yang penting untuk meluaskan kesadaran yang terlalu sempit dan karena itu sebagai stimulus bagi pendewasaan yang terlambat, yang berarti dorongan untuk menjadi sembuh. Dari sudut pandang positif ini, suatu gangguan psikis dianggap bukan sebagai satu kegagalan, keadaan sakit, atau perkembangan yang terhenti, tetapi sebagai suatu dorongan menuju realisasi diri dan keutuhan, yang untuk sementara waktu dihalangi.

Metoda terapi dari Jung berbeda dengan metoda Freud. Si analis tidak selalu tinggal pasif tetapi sering kali memainkan sebuah peranan aktif. Tafsirannya atas mimpi-mimpi dibuatnya dengan tingkat (level) yang berbeda. Lebih daripada asosiasi bebas, Jung menggunakan apa yang ia namakan “Amplifikasi” (perluasan), ini berarti suatu asosiasi yang terarah, yang mempergunakan motif-motif dan simbol-simbol dari sumber-sumber lain untuk mengerti isi mimpi itu.

Jung memperkenalkan konsep alam ketaksadaran kolektif. Isi dari alam ketaksadaran kolektif adalah apa yang dinamakan arketipe-arketipe. Arketipe-arketipe adalah bentuk-bentuk pembawaan lahir dari psike, pola dari kelakukan psikis yang selalu ada secara potensial sebagai kemungkinan, dan apabila diwujudkan, nampak sebagai gambaran spesifik. Sebab dalam psike manusia tergabung sifat-sifat khas yang umum, yang ditentukan oleh species-species manusia, ras, bangsa, keluarga, dan mental zaman dengan sifat-sifat khas, unik, dan personal. Sebab itu fungsi natural dari psike ini hanya dapat diperoleh dari hubungan timbal-balik dua alam ketaksadaran (personal dan kolektif), dan relasi mereka dengan alam kesadaran.

Jung juga memperkenalkan teori yang terkenal mengenai tipe-tipe. Ia membedakan antara tingkah laku ekstrovert dan introvert menurut sikap individu terhadap obyek.

Bidang-bidang Studi yang lain

Penelitian Jung diperluas ke bidang-bidang yang rupanya tidak ada hubungannya dengan psikologi. Dalam percobaan-percobaan alkimia abad pertengahan untuk mengubah inti logam, ia melihat satu proyeksi dari proses penghalusan batin yang analog dengan perubahan bentuk yang disebabkan oleh proses individuasi. Studinya mengenai yoga dan Gnostisisme membawa dia kepada penemuan paralel-paralel yang interesan dalam psike, setelah tersentuh/tercapai lapisan arkais/yang paling mendalam. Penyelidikannya dalam para-psikologi juga membuka horizon-horizon baru. Beberapa fenomen tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, seperti telepati, clairvoyance (tukang tenung/sihir), dan mujijat-mujijat yang jelas, yang diistilahkannya “gejala-gejala sinkronis” (Synchronistic phenomena). Gejala-gejala ini oleh Jung didefinisikan sebagai koinsiden yang bersifat kebetulan tetapi “berarti/penuh dengan arti” (meaningful), antara peristiwa batin misalnya (mimpi, premosi/pertanda, penglihatan, keadaan batin) dengan satu peristiwa lahiriah dan real. Koinsiden ini terjadi entah dalam waktu sekarang atau dalam waktu yang baru lewat atau dalam waktu yang akan datang. Kedua macam peristiwa ini (yang batiniah dan yang lahiriah) tidak mempunyai hubungan kausal. Gejala sinkronis ini disebut pengetahuan langsung yang “rupanya ada lebih dulu” (apparently-pre-existent) dalam alam ketaksadaran.

Arti dari Psikologinya

Perbedaan antara psikoanalisa Freud dan psikoanalitis Jung diwarnai oleh dua abad yang pada titik pertemuannya melahirkan dua system psikologis yang berbeda. Freud membongkar ideal-ideal dari periode Victorian (yang bersifat munafik ) dan menyoroti dengan terang pada bagian bawah dari periode dengan memperlihatkan “kemesuman” (filth) yang telah ditekan ke dalam alam ketaksadaran. Meskipun penyelidikannya tentang alam ketaksadaran psike personal, ia toh tetap terikat pada materialism dan rasionalisme dari zaman yang terdahulu. Daya irasional tiba-tiba muncul sejak peralihan zaman, dan mewujudkan diri sendiri dalam dua perang dunia, yang sekarang mengancam dunia dengan teror-teror yang tidak dapat dibayangkan. Justru daya irasional ini dapat dijelaskan dalam teori-teori Jung. Ia menunjukkan daya irasional ini sebagai kekuatan asli yang tidak personal atau superpersonal yang mana muncul dari alam ketaksadaran kolektif yaitu dasar dari kehidupan psikis, sebagai jin-jin gelap dari mitologi.

Jung menulis “Saya yakin bahwa penyelidikan mengenai psike merupakan ilmu yang paling penting dalam masa depan ….. Itu adalah ilmu yang sangat kita butuhkan sebab berangsur-angsur menjadi jelas bahwa bahaya yang terbesar bagi manusia adalah bukan kelaparan, bukan pula gempa bumi, bukan juga kuman-kuman, bukan kanker, tetapi manusia itu sendiri ……”

Karya-karyanya

Hasil karya Jung sangat banyak jumlahnya, kira-kira dua ratus karangan. Satu edisi dari semua karyanya (Collected Works) dalam terjemahan bahasa Inggris sekarang sedang diterbitkan oleh Bollingen Foundation di New York dan Routledge juga Kegan Paul di London.

Judul-judul dari volume-volume adalah sebagai berikut: Psychiatric Studies, Experimental Researches (Penelitian-penelitian Eksperimental), Psychogenesis and Mental Disease, Freud and Psychoanalisis (Freud dan Psikoanalisa), Symbol of Transformation, Psychological Types, Two Essays on Analytical Psychology, The Structure and Dinamics of the Psyche, The Archetypes and the Collective Unconscious and Aion (two parts), Civilization in Transition, Psychology and Religion, West and East, Psychology and Alchemy, Alchemical Studies, Mysterium Conjunctions, The Spirit in Man, Art and Literature, The Practice of Psychotherapy, The Development of Personality.

Beberapa volume tambahan memuat seminar-seminar ekstensif dari Jung. Kita juga harus menyebutkan karya-karya yang dipublisir dalam kerjasama dengan orang lain: ahli kebudayaan Cina (sinologist) Richard Wilhelm, The Secret of the Golde Flower; ahli mitologi Karl Kerenyi, Essays on a Science of Mythology; ahli fisika Wolfgang Pauli, Interpretation of Nature and Psyche.(*)

* Terjemahan dari bahas Jerman ke dalam bahasa Inggris: R.F.C. Hull. Diterjemahkan dari: Collier’s Encyclopedia, Vol.13, 1968. Terjemahan Indonesia oleh Thoby M. Kraeng.

**Dari berbagai sumber, tim redaksi Galeri Buku Jakarta/ 2016.

Continue Reading
Advertisement

Buku

Dunia Tidak Selalu Baik Baik Saja

mm

Published

on

Sesuai dengan judulnya, dongeng Voltaire ini menceritakan pengalaman Candide setelah diusir dari Istana Baron Thunder-ten-Tronckh, tempat nyaman masa kecil, di mana ia mendapat pendidikan dari guru filsafat Pangloss. Ia diusir gara-gara hal sepele saja, yaitu karena ia berani mencium Cunégonde, putri sang Baron.

Candide adalah sebuah novel satir yang ditulis oleh filsuf Voltaire. Novel ini diterbitkan pertama kali pada 1759 di Jenewa, Swiss. Namun sebelum menyerahkan naskahnya untuk dicetak di Jenewa, Voltaire telah sebelumnya mengirimkan naskah (dengan versi yang berbeda) kepada John Nourse, seorang penerbit di London dan kemungkinan Voltaire juga mengirimkan naskahnya kepada penerbit lain. Karena itu hanya dalam waktu beberapa minggu setelah novelnya terbit di Jenewa, edisi lainnya juga diterbitkan di Paris. London dan Amsterdam. Dalam tahun yang sama, setidaknya tujuh belas edisi Bahasa Prancis dari novel Candide.

Novel ini bercerita tentang seorang anak muda dari Westphalia bernama Candide dan kisahnya bepergian ke banyak tempat untuk menyelamatkan kekasihnya, Cunegonde. Candide merupakan seorang yang sangat optimis meskipun dalam perjalanannya ia selalu menghadapi bencana dan musibah. Sifat optimistiknya itu didapat dari Pangloss yang adalah mentornya.

Melalui novel ini, Voltaire ingin menyatakan ketidaksetujuannya dengan filosofi yang dianut oleh Goofried Leibniz dan Alexander Pope. Leibniz berpendapat bahwa dunia yang diciptakan oleh Tuhan adalah dunia yang terbaik yang mungkin ada dengan aturan dan alasan yang sempurna. Alexander Pope pun berpendapat sama, ia menyatakan dalam esainya bahwa manusia merupakan bagian dari rancangan Tuhan yang besar dan rasional. Dalam novel ini, bencana dan musibah yang dialami Candide secara bertubi-tubi membuatnya tidak percaya lagi bahwa dunia merupakan dunia yang terbaik. Secara tidak langsung Voltaire menyatakan bahwa dunia merupakan sebuah distopia dan meskipun ia percaya Tuhan menciptakan dunia namun ia berpendapat bahwa kekejaman manusia telah membuat dunia ini menjadi tidak sempurna.

*

Sesuai dengan judulnya, dongeng Voltaire ini menceritakan pengalaman Candide setelah diusir dari Istana Baron Thunder-ten-Tronckh, tempat nyaman masa kecil, di mana ia mendapat pendidikan dari guru filsafat Pangloss. Ia diusir gara-gara hal sepele saja, yaitu karena ia berani mencium Cunégonde, putri sang Baron.

Candide yang lugu dan polos sesuai dengan namanya, sangat penurut dan menyerap ajaran gurunya yang fanatic secara membabi buta: bahwa semuanya terbaik dalam dunia terbaik yang mungkin diciptakan. Ia berpetualang dari satu negeri ke negeri lain dan mengalami berbagai masalah:  direkrut menjadi tentara Bulgaria dan dipaksa berperang menyaksikan pembantaian manusia, dan kemudian di negeri Belanda melihat berbagai bentuk kemunafikan manusia. Dalam perjalanan ia bertemu lagi dengan Pangloss, yang bertampang mengerikan karena menjadi korban penyakit kotor. Gurunya menceritakan bahwa keluarga sang Baron porak-poranda: baron dan istri serta putranya dibunuh, dan Cunégonde juga diperkosa dan dibunuh.

Dalam kisah selanjutya, tokoh-tokoh itu dipertemukan dan kemudian dipisahkan lagi dalam kondisi yang tidak menggembirakan karena mengalami berbagai bencana.Terkadang masuk tokoh-tokoh baru yang membawa pikiran yang bertolak belakang, misalnya tokoh Martin. Ia berpendapat bahwa di dunia ini segalanya jelek, demikian juga si Nenek yang melayani Cunégonde. Jadi berlawanan dengan Pangloss yang, di tengah bencana yang paling mengerikan, tetap berpendapat bahwa semuanya baik di dunia terbaik yang mungkin diciptakan.

Bentuk dongeng memungkinkan sang pengarang untuk membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Sebetulnya Voltaire, sebagai salah seorang pengarang terbesar Prancis pada abad ke-18, telah menulis banyak karya drama dan karya ilmiah. Dongeng-dongeng seperti Candide, Si Lugu, dan Suratan Takdir ditulisnya pada masa tua untuk menghibur teman-temannya dalam pertemuan silaturahmi. Namun justru dongengnyalah yang hidup sampai sekarang, bahkan Candide misalnya, telah difilmkan. Jika dibaca secara sepintas lalu, Candide hanyalah dongeng petualangan biasa. Namun jika disimak secara mendalam, kisah ini penuh renungan filsafat dan kritik Voltaire tentang perilaku dan kondisi manusia sepanjang zaman. (*)

Continue Reading

Buku

Berkisah (ke) Sejarah

mm

Published

on

Sejarah identitas memang mengandung perdebatan dan anggapan-anggapan bertaburan dilema.

Oleh: Bandung Mawardi | Esais 

“Saya seperti utang budi kepada Raden Saleh karena lahir banyak sekali cerpen berlatar tahun 1811 sampai seterusnya,” kata Iksaka Banu seperti dimuat dalam Kompas, 23 Januari 2020. Sejak lama, ia bersekutu bareng Kurnia Effendi mengerjakan novel mengenai Raden Saleh. Novel berjudul Pangeran dari Timur bakal terbit. Masa lalu saat bergairah mencari data-data, Iksaka Banu keranjingan menulis cerita pendek: terbit menjadi dua buku.

Pada 2014, Iksaka Banu dengan buku berjudul Semua untuk Hindia meraih Kusala Khatulistiwa Award. Ia memang memberi prosa apik dan merangsang ke pengisahan dan pewartaan sejarah. Tahun-tahun berlalu, ia tampil lagi dengan buku berjudul Teh dan Pengkhianat (2019). Buku masih berisi cerita-cerita merangsang ke renungan sejarah. Di kategori prosa, buku itu menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2019. Cerita-cerita pantas terbaca dan teringat. Persembahan “unik” di kesusastraan Indonesia mutakhir.

Kita mulai simak cerita berjudul “Di Atas Kereta Angin”. Kita diperkenalkan dengan tokoh-tokoh berwatak kolot dan moderat menanggapi “kemadjoean” dan persaingan identitas di tanah jajahan. Dua tokoh berseberangan memahami identitas diri sebagai manusia Eropa. Si kolot ingin terus menjadi “toean” dihormati, ditakuti dengan rajin memerintah si bumiputra. Larangan-larangan diberikan di perkara busana dan sepeda. Si moderat mengerti situasi zaman, memperkenankan si bumiputra selaku bujang (pembantu di rumah) menaiki sepeda. “Toean” tetap berpikiran lebih beradab itu memberikan pula hak pada si bujang mengenakan pantalon Eropa saat di atas sepeda mengerjakan tugas-tugas.

Latar cerita di Jogjakarta. Si bumiputra mengendarai sepeda dengan busana rapi menjadi polemik. Dua tokoh Belanda itu tak pernah membuat bandingan bahwa sepeda tak melulu bukti kuasa “toean” berkulit putih ke orang-orang terjajah. Di Solo, awal abad XX bumiputra  pun “bersepeda” tapi bermisi berbeda. Di novel berbahasa Jawa gubahan Jasawidagda berjudul Kirti Junjung Drajat (1924), diceritakan sepeda menentukan gairah nasionalisme melalui Boedi Oetomo. Tokoh penggerak di organisasi “modern” itu pemilik toko-bengkel sepeda. Penghasilan besar digunakan untuk hidup dan diberikan ke pembesaran Boedi Oetomo. Sepeda bertokoh kaum bumiputra, berbeda arah dari cerita menguak sejarah buatan Iksaka Banu.

Tokoh bumiputra di cerita Iksaka Banu tetap di posisi rendah. Penjelasan “toean” berlagak mengerti kemajuan dan bersikap etis pada si bujang: “Ia tetap masih mengenakan sarung yang digulung sepinggang… Ia pun memakai ikat kepala. Pendeknya, secara keseluruhan penampilannya masih Jawa seperti warga lainnya. Orang tidak akan keliru mengira ia Eropa.” Sejarah identitas memang mengandung perdebatan dan anggapan-anggapan bertaburan dilema.

Tokoh-tokoh ciptaan Iksaka Banu mengalami gejolak dan kisruh menjalani sekian hal di Nusantara. Pada masa lalu, Nusantara itu rempah-rempah. Cerita berjudul “Kalabaka” mengisahkan perdagangan, moral, tanaman, perang, dan keluarga. Iksaka Banu bukan pemberi sifat-sifat mutlak membedakan nasib kaum Eropa dan bumiputra. Tokoh di cerita itu berkebangsaan Belanda, mati berdalih memberi penghormatan atas hak-hak penghuni Banda. Kematian bersurat untuk membagi derita dan mengingatkan petaka VOC.

Pesan di surat terbaca si putra: “Bila kelak engkau menjadi pengusaha, jangan pernah tergiur bujukan VOC untuk pergi ke Hindia dengan iming-iming menjadi jutawan melalui perdagangan pala atau fuli. Sebab, pada setiap keping sen yang kau simpan, ada darah dan air mata penduduk Banda yang kehilangan asal-usul dan jati diri karena gugur membela tanah air, atau dibawa ke Batavia sebagai budak belian.” Berpihak! Tokoh-tokoh di cerita dan sejarah berhak berpihak meski sadar risiko. Si penulis surat dihukum oleh bangsa sendiri, Eropa mengaku beradab dan membawa pesan Tuhan. Kaum Eropa di Nusantara justru khianat dan pencipta petaka berkepanjangan. Di buku-buku sejarah bertema rempah-rempah, kita semakin mengerti perdagangan dunia membinasakan bumiputra dan membangkrutkan Nusantara sebagai negeri subur.

Cara bercerita di dua cerpen itu terasa “mengejutkan” asal kita mau membandingkan dengan kemahiran dan kepekaan para pengarang Belanda mengisahkan Hindia Belanda masa lalu. Buku berisi cerita-cerita Iksaka Banu itu bakal senewen jika bersanding dengan buku berjudul Bianglala Sastra: Bunga Rampai Sastra Belanda tentang Kehidupan di Indonesia (1979) ditulis kembali oleh Dick Hartoko berdasarkan buku Oost Indische Spiegel susunan Rob Nieuwenhuys. Dulu, kita sering mengacu ke teks-teks sastra gubahan pengarang Belanda atau Indonesia saat ingin mengetahui sejarah Nusantara dan watak manusia-manusia berbeda peran selaku: penjajah dan terjajah. Pada abad XXI, Iksaka Banu menempuh jalan jauh ke waktu silam untuk menggarap cerita-cerita, belum perlu menumpuk warta atau pamer di daftar pustaka puluhan halaman. Cerita memang tak bermaksud menjadi teks sejarah seperti diajarkan di ruang-ruang kuliah. Iksakan Banu menjelaskan: “Bila terlalu banyak memasukkan fakta sejarah, unsur fiksinya bisa hilang, dan cerita akan bergulir dari awal hingga akhir dengan sangat membosankan, seperti buku diktat.”

Dua buku buatan Iksaka Banu berjudul Semua untuk Hindia dan Teh dan Pengkhianat tak sempat terbaca oleh Subagio Sastrowardoyo. Kita menduga buku-buku itu menjadi “bandingan” dan “ledekan” atas segala warisan sastra dari masa lalu bercerita Hindia Belanda. Di buku berjudul Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983), Subagio Sastrowardoyo sudah menderet pikat kesusastraan di situasi sejarah terselenggara di Nusantara. Ketekunan Iksaka Banu menulis “fiksi sejarah kolonial” mungkin terpaut jauh dari album sastra sudah mendapat pembahasan dari Rob Nieuwenhuys dan Subagio Sastrowardoyo. Kini, suguhan cerita-cerita itu diganjar penghargaan tanpa ada jaminan memberi rangsang kesejarahan bagi pembaca tak memperoleh daftar pustaka atau daftar warta dari Iksaka Banu.

Di cerita berjudul “Tegak Dunia”, kita masih mungkin membaca sambil membuka buku-buku garapan Denys Lombard dan Nirwan Ahmad Arsuka. Cerita mengenai globe dan Karaeng Pattingalloang. Bumiputra itu fasih sekian bahasa dan keranjingan sains. Ia memesan globe dari Eropa. Manusia-manusia Eropa kaget dan kagum mendapatkan kabar bahwa Karaeng Pattingalloang rajin membaca buku-buku dan memiliki selera sains mungkin saja mengalahkan kaum Eropa di Nusantara. Si Eropa cukup memberi keterangan atas benda pesanan bumiputra berpikiran maju: “Ini sebuah globe! Tiruan bumi. Lengkap dengan relief benua, pulau, samudra, serta keterangan dalam bahasa Spanyol, Portugis, dan Latin. Sesuai permintaan pemesannya.” Kemenangan serasa terbaca di biografi pemesan untuk mengingatkan kepongahan intelektual kaum Eropa.

Kita khatam cerita-cerita dalam Teh dan Pengkhianat mungkin terangsang berjalan ke sejarah. Buku perlu bersanding dengan setumpuk buku sejarah berbahasa Inggris, Belanda, dan Indonesia agar membaca cerita seperti di tebakan atau keterkejutan. Buku menggemaskan di seruan sejarah kolonial. Begitu.

Continue Reading

Buku

Ilustrasi: Imajinasi dan Ideologis

mm

Published

on

Buku Roesdi djeung Misnem memiliki tautan antara Belanda dengan tanah jajahan bersumber kebijakan-kebijakan di pendidikan-pengajaran dasar bagi bumiputra. Pandangan-pandangan politik pihak Belanda teranggap diwakili di pembuatan buku dan penampilan ilustrasi-ilustrasi WK de Bruin.

Bandung Mawardi *)

____

Angan dan pengejawantahan “kemadjoean” di tanah jajahan turut dipengaruhi penerbitan bacaan-bacaan bocah, sejak awal abad XX. Buku-buku diterbitkan menjadi penuntun bocah-bocah bumiputra menapaki jalan kemajuan. Sekian bocah malah sampai ke hasrat menempuhi “jalan ke Barat” gara-gara pikat buku-buku bacaan diajarkan di sekolah. Di buku, mereka membaca cerita dan menikmati ilustrasi merangsang imajinasi mengandung jalinan estetika-ideologis.

Peran penerbit, penulis, dan ilustrator menentukan corak bacaan bagi bocah-bocah dengan pelbagai bahasa: Belanda, “Melajoe”, Jawa, Sunda, Madura, Batak, dan lain-lain. Penerbitan buku untuk bocah memang agak belakangan, belum terlalu menjadi misi besar. Penerbit milik pemerintah kolonial Belanda dan partikelir bersaing di pengadaan buku bacaan bocah. Commisie voor de Volkslectuur mengawali terbitan buku berjudul Serat Kantjil Tanpa Sekar (1909) garapan Wirapoestaka. Sekian buku berlanjut diterbitkan dalam sekian bahasa: Dongeng-Dongeng Soenda (1910) oleh M Saleh dan Ardiwinata, Hikajat Pelandoek Djenaka (1914), Boekoe Pangadjharan (1914), dan Doewa Toeri-Toerian (1917) oleh Arsenius Loemban Tobing (Chritantiowati, Bacaan Anak Indonesia: Tempo Doeloe: Kajian Penduluan Periode 1908-1945, 1996).

Buku-buku untuk bacaan bocah terus terbit, disebarkan ke pelbagai tempat di Taman Poestaka bentukan pemerintah kolonial. Buku-buku berbahasa Jawa dan Sunda mendapat perhatian besar di misi pengajaran dan keaksaraan awal abad XX. Christantiowati mencatat buku berbahasa Sunda digemari bocah-bocah di masa lalu: Genep Belas TjaritaSoeltan Abdoellah djeung HassanPetikaneunManoek Hiber koe DjangdjangnaTjarita Si Kate, dan lain-lain. Kita tak mendapat informasi mengenai sekian buku cuma berisi kata-kata atau digenapi ilustrasi-ilustrasi. Kita menduga buku-buku untuk bocah tentu memikat dengan adonan kata dan gambar.

Masa lalu diundang lagi oleh Hawe Setiawan di buku berjudul Bocah Sunda di Mata Belanda: Interpretasi atas Ilustrasi Buku Roesdi djeung Misnem (2019). Pilihan buku untuk kajian itu mengacu pengenalan bocah-bocah Sunda pernah bersekolah di taraf pendidikan masa awal abad XX. Buku berjudul Roesdi djeung Misnem digarap oleh AC Deenik dan R Djajadiredja digenapi gambar-gambar oleh WK de Bruin. Selama puluhan tahun, buku itu nostalgia dalam cerita dan rupa. Orang-orang masih membincangkan pikat buku lawas itu sampai abad XXI.

Hawe Setiawan menilai buku Roesdi djeung Misnem memiliki tautan antara Belanda dengan tanah jajahan bersumber kebijakan-kebijakan di pendidikan-pengajaran dasar bagi bumiputra. Pandangan-pandangan politik pihak Belanda teranggap diwakili di pembuatan buku dan penampilan ilustrasi-ilustrasi WK de Bruin. Muatan ideologis tebaca berbarengan dengan pengisahan-pengisahan khas di Sunda. Buku 4 jilid dari masa lalu membentuk imajinasi menguak jalinan sastra, pendidikan-pengajaran, identitas, adab, dan kolonialisme.

WK de Bruin lahir di Den Haag, Belanda, 14 Desember 1871. Ia menjadi ilustrator untuk buku-buku pelajaran atau bacaan bocah di Belanda dan tanah jajahan (Hindia Belanda). Dua buku memuat ilustrasi-ilustrasi WK de Bruin memberi pikat ke bocah-bocah bumiputra adalah Kembang SetamanRoesdi djeung Misnem, dan Panggelar Boedi. Hawe Setiawan menghitung ada 158 gambar WK de Bruin di buku Roesdi djeung Misnem. Sekian gambar ingin mengisahkan situasi kehidupan bumiputra di keseharian. Hawe Setiawan belum berani memastikan dalam menggambar WK de Bruin pernah berkunjung ke Hindia Belanda atau mengandalkan foto-foto.

Kita mendapat informasi tambahan dalam tulisan Hermanu di Kitab Si Taloe: Gambar Watjan Botjah 1909-1961 (2008). Ilustrasi-ilustrasi WK de Bruin juga dimuat di buku berjudul Matahari Terbit. Judul itu tak tercantum di buku garapan Hawe Setiawan. Puluhan buku lawas memuat ilustrasi WK de Bruin dan para ilustrator Belanda diamati Hermanu dengan pemberian konklusi: “Kesan bahwa orang-orang pribumi hanya sebagai pembantu atau warga negara kelas dua sangat kental pada gambar di buku-buku yang dicetak untuk pelajaran bagi murid-murid bangsa Belanda, sedangkan bangsa Belanda digambarkan sangat superior.” Sejak mula, maksud menampilkan ilustrasi memang ideologis, selain capaian estetika.

Hawe Setiawan memberi perhatian besar untuk gambar Roesdi, bocah berusia tujuh tahun, saat tangan kanan memegang pisang dan tangan kiri memegang tongkat. Di mata selidik Hawe Setiawan, gambar itu dianggap representasi tatapan-diskriminasi bentukan nalar Eropa sebagai negara kolonial. Pisang berkesan “penistaan” ke bocah pribumi. Gambar itu mungkin mengukuhkan pendefinisian Eropa melihat bocah jajahan seperti kera. Pisang itu makanan kegemaran kera. Gambar di buku terasa bergelimang pamrih kolonial atau Eropa sentris.

Kekhasan Hindia Belanda tampak pula di gambar rumah dan suasana di desa. Gambar-gambar kadang memicu ragu mengenai maksud-maksud WK de Bruin. Di buku bacaan, kuasa Eropa masih ditonjolkan dalam mendefinisikan manusia, peristiwa, dan tempat di tanah jajahan. Hawe Setiawan menilai sekian gambar WK de Bruin cukup “turut memberikan informasi perihal beberapa perubahan dalam tata kehidupan masyarakat Sunda dari masa ke masa.” WK de Bruin berjarak dari realitas kehidupan keseharian di Sunda. Kelemahan tentu ada dan “terlihat” di puluhan ilustrasi. Kelemahan akibat tiada pengamatan mendalam. WK de Bruin tentu berpikiran itu semain imajinasi di buku terbaca bocah, bukan ilustrasi untuk buku-buku ilmu atau riset dengan kaidah-kaidah ketat.

Ilustrasi garapan WK de Bruin tak sememikat atau semengena dengan hasil “pengamatan” Cornelis Jetses. Hermanu di buku berjudul Djalan ke Barat: Jawa di Mata C Jetses (2014) menilai: “Jetses berhasil menghadirkan suasana pedesaan, perkotaan, maupun dalam rumah tangga, sepertinya dia hadir di sana dan memindahkan objek secara detail ke dalam selembar kertas. Di samping itu, dia secara tepat dapat menggambarkan karekater masing-masing tokoh yang digambarkannya dengan sangat luar biasa.” Pujian itu berlebihan tapi mengingatkan kita di perbandingan kekuatan para ilustrator Belanda  dalam terbitan buku-buku pelajaran atau bacaan bocah di tanah jajahan. Hawe Setiawan cuma memberi sekali singgungan ke Jetses sebagai teman WK de Bruin dalam pengerjaan pelat gambar di sekolah rendah di Den Haag, Belanda, 1885. Pembandingan ke Jetses memang tak wajib tapi memungkinkan kita semakin mengerti mutu ilustrasi WK de Bruin dalam pesona dan kelemahan. Begitu. (BM)

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending