Connect with us

Buku

Sekilas Riwayat Hidup dan Ajaran Carl Gustav Jung

mm

Published

on

CARL, Gustav adalah seorang psikiater berkebangsaan Swiss, pendiri Sekolah Psikologi Analitis. Ia lahir tanggal 26 Juli 1875 di Kesswil dekat Danau Constance, Switzerland, sebagai putra tunggal dari seorang pendeta Protestan. Dalam usia empat tahun keluarganya pindah ke Basel, di mana anak ini dididik dan belajar kedokteran. Nenek-moyang ibunya banyak yang menjadi teolog. Nenek-moyang ayahnya adalah seorang anggota Dewan Katolik di kota Mainz; kakeknya masuk Protestan karena dipengaruhi oleh Friedrich Schleiermacher tahun 1813. Warisan religious ini, boleh jadi mempengaruhi interesenya dengan persoalan-persoalan religious dalam karya Jung. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh warisan medis, khususnya dari nenek-moyang ayahnya yang menjadi dekan pada Fakultas Kedokteran di Universitas Basel (1822) dan mendirikan rumah sakit jiwa yang pertama dan sebuah rumah bagi anak-anak lemah mental (feeble-minded).

Sebelum Jung memutuskan untuk masuk kedokteran, ia belajar biologi, zoology, paleontology, dan arkeologi. Penyeledikannya dalam bidang filsafat, mitologi, literature Kristen dari abad-abad pertama, mistisisme, Ghotisisme, dan alkimia diteruskan sepanjang hidupnya, bersamaan dengan minatnya dalam perkembangan-perkembangan ilmiah. Pikirannya dengan interese yang besar dapat mempersatukan pikiran-pikiran yang sangat berbeda-beda ke dalam satu kesatuan yang erat dan menyebabkan ajarannya memiliki (mengandung) dua aspek, yang menghubungkannya dengan ilmu eksakta dan ilmu kemanusiaan, sehingga menurut pandangannya ini dapat mengungkapkan dengan paling baik banyak segi dari struktur psike.

Jung menjadi asisten dokter pada Klinik Psikiatri di Burgholzli pada Universitas Zurich dibawah Wugen Bleuler tahun 1900. Tahun 1902 dia memperoleh gelar doctor dengan disertasinya: “Zur Psychologie und Pathologie sogenannteer okkulter Phanomene” (“On the Psychology and Pathology of So-Called Occult Phenomena”). Di dalam disertasi ini, dia mengemukakan salah satu dari konsep dasar yakni keutuhan fundamental dari psike yang merupakan dasar semua gejala psikis. Sementara mengobservasi keadaan kesurupan seorang anak muda, Jung yakin bahwa dia dapat melihat usaha-usaha dari satu kepribadian yang lebih lengkap, dan yang masih tersembunyi dalam alam ketaksadaran untuk masuk ke dalam alam kesadaran.

Tahun 1902 Jung berangkat ke luar negeri, mula-mula ke Paris di mana ia menghadiri kuliah dari Pierre Janet, kemudian ke London. Tahun 1903, Jung nikah dengan Emma Rauschenbach, yang merupakan pendamping dan kawan kerjanya dalam bidang ilmu sampai kematiannya tahun 1955.

Hasil-hasil penyelidikan eksperimental yang pertama dipimpinnya dalam kerja sama dengan Franz Riklin dan orang-orang lain, muncul dalam tahun 1904 dengan judul “Diagnostische Assoziationsstudien” (1918; Studies in Word Association). Penyelidikannya ini menyajikan suatu metoda untuk menemukan kelompok-kelompok isi “psikis emosional” (feeling-toned) yang ditekan. Untuk itu ia menciptakan term baru yang terkenal yaitu “Kompleks”, Karya ini menjadikannya tenar dan menyebabkan pertemuannya dengan Sigmund Freud tahun 1907; dalam tulisannya mengenai interpretasi mimpi, Jung mendapat konfirmasi (pengesahan) atas penyelidikannya sendiri.

Jung biasanya dipandang sebagai seorang murid, dan dimata pengikut dari Sekolah Freud (Freudian School), Jung dianggap sebagai murid yang telah mengingkari agama. Akan tetapi ini sama sekali tidak benar. Bahkan walaupun Jung menyokong ide-ide dan metoda-metoda Freud dalam tahun-tahun kerja sama mereka yang membangkitkan semangat dan membawa hasil, namun banyak konsep fundamental dari ajarannya sendiri dapat ditemuinya beberapa tahun sebelum bertemu dengan Freud. Terlebih lagi periode kerja sama mereka berlangsung hanya dari tahun 1907-1913. Perbedaan-perbedaan dalam titik tolak psikologis dan seluruh pandangan dunia segera menjadi jelas. Jung dua puluh tahun lebih muda dari Freud; karena kepribadian Jung yang kuat dan mempunyai kehendak sendiri, akhirnya hubungan bapak-anak tidak dapat bertahan lama. Jung sendiri juga tidak dapat menganuti banyak doktrin Freud seperti teori tentang pemenuhan keinginan atau seksualitas infantile. Terutama sekali Jung menentang prinsip-prinsip analitis Freud yang dalam pandangannya terlalu berat sebelah, terlalu konkret, dan personalistis. Jung juga membantah pandangan Freud tentang karakter anak yang bersifat polymorphous-perverse (yang belum mempunyai satu bentuk tertentu dan bersikap tidak wajar) sambil mengemukakan konsepnya sendiri tentang suatu disposisi yang polyvalent. Disposisi polyvalent ini tidak didominir oleh prinsip kenikmatan (lust-prinzip) dan juga tidak didominir oleh suatu keinginan untuk diterima, melainkan lebih memperlihatkan kecenderungan khusus fantasi anak untuk membuat suatu “interpretasi simbolis lebih daripada satu tafsiran ilmiah rasional”; fantasi simbolis anak adalah aktivitas natural dan spontan yang menurut Jung bukan merupakan hasil dari penekanan saja (repression).

Sesudah memberi kuliah di Amerika Serikat bersama dengan Freud tahun 1911, Jung menghentikan karirnya sebagai penerbit dari majalah Jahrbuch fur psychologische und psychopathologische Forschungen (Yearbook for Psychological and Psychopathological Research), yang telah didirikan oleh Bleuler dan Freud. Jung juga berhenti sebagai ketua dari Perkumpulan Psikoanalitis Internasional (“International Psychoanalytic Society”) yang mana Jung sendiri dirikan, dan masih merupakan organisasi professional Freudian (Pengikut Freud). Jung menjelaskan pandangan-pandangan baru yang berbeda dengan pandangan Freud dalam buku-bukunya yang mungkin paling terkenal dari semua buku Jung yaitu Symbole und Wandlungen der Libido (1912; Synbols and Transformation of the Libido). Kemudian diterbitkan lagi dengan judul Symbole and Wandlung (1952; Symbols of Transformation). Dengan bantuan bahan fantasi dari seorang gadis dalam tahap-tahap permulaan schizophrenia. Jung berusaha menyingkapkan arti simbolis isi dari alam ketaksadaran dan menginterpretasinya dengan parallel-paralel yang diambil dari bidang sejarah dan mitologi. Kemudian keterpisahannya dari Freud tak dapat dielakkan lagi. Untuk bisa membedakan ajarannya dari sekolah-sekolah yang lain itu, Jung memberinya nama “Psikologi Analitis” (analytical psichology) , yang berbeda dengan psikoanalisa Freud dan psikologi individual Alfred Adler.

Dalam tahun 1909, Jung berhenti dari pekerjaanya di Burgholzli, dan tahun 1913 melepaskan jabatannya sebagai dosen pada Universitas Zurich yang telah dipegangnya sejak tahun 1905. Jung makin lama makin menjadi lebih terpikat untuk studi tentang symbol-simbol mitologis dan symbol-simbol religious. Pada awal pecahnya Perang Dunia I, mulailah suatu periode introspeksi yang tergabung dengan penyelidikan empiris, suatu periode kosong (belum ada publikasi) yang berakhir sampai diterbitkannya Psychological Types tahun 1921. Dalam karyanya ini, Jung membedakan posisinya dari Freud dan meletakkan dasar psikologi analitis. Dalam tahun 1920, Jung pergi ke Tunisia dan Algeria; dari tahun 1924-1925 ia menyelidiki orang Indian Pueblo di New Mexico dan Arizona dan dalam tahun 1925-1926 ia menyelidiki penduduk-penduduk Mount Elgon di Kenya. Jung terutama berminat dalam mencari analogi antara isi dari alam ketaksadaran dalam manusia Barat dan mite-mite, kultus-kultus, dan ritus-ritus manusia primitive. Ia melakukan beberapa perjalanan ke Amerika Serikat dan dua kali mengunjungi India (yang terakhir kali tahun 1937). Simbol-simbol religious dari Hinduisme dan Budhisme, khususnya ajaran dari Budhisme Zen dan filsafat Konfusius, memainkan peranan penting dalam penyelidikan psikologisnya.

Pada tahun 1948, Institut C.G. Jung didirikan di Zurich untuk meneruskan ajarannya dan sebagai pusat latihan bagi analisis-analisis. Karyanya dilanjutkan di Inggris oleh “Society of Analytical Psychology” (Perkumpulan Psikologi Analitis), dan dia beberapa perkumpulan lain di New York, San Francisco, dan Los Angeles, serta di beberapa negara Eropa.

Jung adalah ketua Perkumpulan Swiss untuk Psikologi Praktis, yang didirikannya tahun 1935. Tahun 1933-1942 ia menjadi professor pada Federal Technical College di Zurich, dan pada tahun 1949 menjadi professor psikologis medis di Basel. Ia menerbitkan majalah Zentralblatt fur Psychotherapie und ihre Grenzgebiete (Central Journal for Psychoterapy and Related Fields) dari tahun 1933-1939. Jung meninggal di Kusnacht di Danau Zurich pada tanggal 6 Juni 1961.

Ketika ditanya tentang data biografinya, Jung menegaskan bahwa ia hanya mempunyai “kehidupan batin saja” (He has an inner life). Segala sesuatu yang ia alami dalam dunia luar menjadi sebuah pengalaman pribadiah.

Psikologi Analitis

Individuasi adalah inti ajaran Jung: Individuasi adalah kemungkinan yang terdapat dalam species-species manusia dan pada setiap orang dengan mana psike individual dapat mencapai perkembangan yang lengkap dan utuh. Proses individuasi berpangkal dari keseluruhan psike, suatu organism yang bagian-bagian individualnya dikoordinir oleh system relasi komplementer dan saling mengimbangi dan memperkembangkan kematangan kepribadian. Jung menekankan pentingnya fungsi religious dari psike. Penekanan relasi fungsi religious ini dapat membawa gangguan psikis, sedangkan perkembangan religious adalah satu komponen integral dari proses individuasi.

`Jung menganggap neurosis bukan hanya sebagai satu gangguan, tetapi juga sebagai satu dorongan hati yang penting untuk meluaskan kesadaran yang terlalu sempit dan karena itu sebagai stimulus bagi pendewasaan yang terlambat, yang berarti dorongan untuk menjadi sembuh. Dari sudut pandang positif ini, suatu gangguan psikis dianggap bukan sebagai satu kegagalan, keadaan sakit, atau perkembangan yang terhenti, tetapi sebagai suatu dorongan menuju realisasi diri dan keutuhan, yang untuk sementara waktu dihalangi.

Metoda terapi dari Jung berbeda dengan metoda Freud. Si analis tidak selalu tinggal pasif tetapi sering kali memainkan sebuah peranan aktif. Tafsirannya atas mimpi-mimpi dibuatnya dengan tingkat (level) yang berbeda. Lebih daripada asosiasi bebas, Jung menggunakan apa yang ia namakan “Amplifikasi” (perluasan), ini berarti suatu asosiasi yang terarah, yang mempergunakan motif-motif dan simbol-simbol dari sumber-sumber lain untuk mengerti isi mimpi itu.

Jung memperkenalkan konsep alam ketaksadaran kolektif. Isi dari alam ketaksadaran kolektif adalah apa yang dinamakan arketipe-arketipe. Arketipe-arketipe adalah bentuk-bentuk pembawaan lahir dari psike, pola dari kelakukan psikis yang selalu ada secara potensial sebagai kemungkinan, dan apabila diwujudkan, nampak sebagai gambaran spesifik. Sebab dalam psike manusia tergabung sifat-sifat khas yang umum, yang ditentukan oleh species-species manusia, ras, bangsa, keluarga, dan mental zaman dengan sifat-sifat khas, unik, dan personal. Sebab itu fungsi natural dari psike ini hanya dapat diperoleh dari hubungan timbal-balik dua alam ketaksadaran (personal dan kolektif), dan relasi mereka dengan alam kesadaran.

Jung juga memperkenalkan teori yang terkenal mengenai tipe-tipe. Ia membedakan antara tingkah laku ekstrovert dan introvert menurut sikap individu terhadap obyek.

Bidang-bidang Studi yang lain

Penelitian Jung diperluas ke bidang-bidang yang rupanya tidak ada hubungannya dengan psikologi. Dalam percobaan-percobaan alkimia abad pertengahan untuk mengubah inti logam, ia melihat satu proyeksi dari proses penghalusan batin yang analog dengan perubahan bentuk yang disebabkan oleh proses individuasi. Studinya mengenai yoga dan Gnostisisme membawa dia kepada penemuan paralel-paralel yang interesan dalam psike, setelah tersentuh/tercapai lapisan arkais/yang paling mendalam. Penyelidikannya dalam para-psikologi juga membuka horizon-horizon baru. Beberapa fenomen tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, seperti telepati, clairvoyance (tukang tenung/sihir), dan mujijat-mujijat yang jelas, yang diistilahkannya “gejala-gejala sinkronis” (Synchronistic phenomena). Gejala-gejala ini oleh Jung didefinisikan sebagai koinsiden yang bersifat kebetulan tetapi “berarti/penuh dengan arti” (meaningful), antara peristiwa batin misalnya (mimpi, premosi/pertanda, penglihatan, keadaan batin) dengan satu peristiwa lahiriah dan real. Koinsiden ini terjadi entah dalam waktu sekarang atau dalam waktu yang baru lewat atau dalam waktu yang akan datang. Kedua macam peristiwa ini (yang batiniah dan yang lahiriah) tidak mempunyai hubungan kausal. Gejala sinkronis ini disebut pengetahuan langsung yang “rupanya ada lebih dulu” (apparently-pre-existent) dalam alam ketaksadaran.

Arti dari Psikologinya

Perbedaan antara psikoanalisa Freud dan psikoanalitis Jung diwarnai oleh dua abad yang pada titik pertemuannya melahirkan dua system psikologis yang berbeda. Freud membongkar ideal-ideal dari periode Victorian (yang bersifat munafik ) dan menyoroti dengan terang pada bagian bawah dari periode dengan memperlihatkan “kemesuman” (filth) yang telah ditekan ke dalam alam ketaksadaran. Meskipun penyelidikannya tentang alam ketaksadaran psike personal, ia toh tetap terikat pada materialism dan rasionalisme dari zaman yang terdahulu. Daya irasional tiba-tiba muncul sejak peralihan zaman, dan mewujudkan diri sendiri dalam dua perang dunia, yang sekarang mengancam dunia dengan teror-teror yang tidak dapat dibayangkan. Justru daya irasional ini dapat dijelaskan dalam teori-teori Jung. Ia menunjukkan daya irasional ini sebagai kekuatan asli yang tidak personal atau superpersonal yang mana muncul dari alam ketaksadaran kolektif yaitu dasar dari kehidupan psikis, sebagai jin-jin gelap dari mitologi.

Jung menulis “Saya yakin bahwa penyelidikan mengenai psike merupakan ilmu yang paling penting dalam masa depan ….. Itu adalah ilmu yang sangat kita butuhkan sebab berangsur-angsur menjadi jelas bahwa bahaya yang terbesar bagi manusia adalah bukan kelaparan, bukan pula gempa bumi, bukan juga kuman-kuman, bukan kanker, tetapi manusia itu sendiri ……”

Karya-karyanya

Hasil karya Jung sangat banyak jumlahnya, kira-kira dua ratus karangan. Satu edisi dari semua karyanya (Collected Works) dalam terjemahan bahasa Inggris sekarang sedang diterbitkan oleh Bollingen Foundation di New York dan Routledge juga Kegan Paul di London.

Judul-judul dari volume-volume adalah sebagai berikut: Psychiatric Studies, Experimental Researches (Penelitian-penelitian Eksperimental), Psychogenesis and Mental Disease, Freud and Psychoanalisis (Freud dan Psikoanalisa), Symbol of Transformation, Psychological Types, Two Essays on Analytical Psychology, The Structure and Dinamics of the Psyche, The Archetypes and the Collective Unconscious and Aion (two parts), Civilization in Transition, Psychology and Religion, West and East, Psychology and Alchemy, Alchemical Studies, Mysterium Conjunctions, The Spirit in Man, Art and Literature, The Practice of Psychotherapy, The Development of Personality.

Beberapa volume tambahan memuat seminar-seminar ekstensif dari Jung. Kita juga harus menyebutkan karya-karya yang dipublisir dalam kerjasama dengan orang lain: ahli kebudayaan Cina (sinologist) Richard Wilhelm, The Secret of the Golde Flower; ahli mitologi Karl Kerenyi, Essays on a Science of Mythology; ahli fisika Wolfgang Pauli, Interpretation of Nature and Psyche.(*)

* Terjemahan dari bahas Jerman ke dalam bahasa Inggris: R.F.C. Hull. Diterjemahkan dari: Collier’s Encyclopedia, Vol.13, 1968. Terjemahan Indonesia oleh Thoby M. Kraeng.

**Dari berbagai sumber, tim redaksi Galeri Buku Jakarta/ 2016.

Continue Reading
Advertisement

Buku

Afrizal Malna: Puisi Sabiq, tik-tok dinamika dualisme dari identitas yang tak pernah lengkap dan tuntas

mm

Published

on

Oleh Afrizal Malna

Buku kumpulan puisi Sabiq Carebesth ini dilengkapi dengan epilog yang ditulis Sabiq. Di dalamnya dijembrengkan pantulan utama kenapa buku puisi ini ditulis dan berapa lama waktu yang digunakan untuk menulisnya.

SAMSARA DUKA
By Sabiq Carebesth
ISBN 978-623-93949-0-5


Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat. Konspirasi arbitrer antara bahasa dan kenyataan dialihkan atau dibelokkan ke arah “pengujar”, seolah-olah bahasa bisa dilihat, digenggam atau dipeluk melalui semacam internalisasi atas “jiwa bahasa” yang dilakukan penyair. Eksprsionisme semcam itu merupakan konstruksi utama bagaimana Sabiq membangun tubuh-puisi dalam kumpulan puisi “Samsara Duka”. Sabiq menggunakan tubuh dan jiwa sebagai “tik-tok” dinamika dualisme dalam berbagai penurunan paradoks-paradoksnya. Pada dunia senirupa hal semacam itu tampak misalnya pada karya-karya S. Sudjojono, Affandi, Van Gogh atau lukisan Screm karya Edvard Munch yang terkenal itu.
Afrizal Malna—Penyair

__
Berisi 32 sajak dalam desain buku full colour 82 halaman. Buku ini akan dirilis pada pekan pertama September 2020

Dalam platform supermarket di sekitar kita (di kota-kota besar), ada kebiasaan ruang kasir tidak hanya berfungsi sebagai tempat membayar barang yang kita beli. Beberapa produk masih ikut didisplay di sekitar meja kasir. Salah satu di antaranya adalah buku catatan berwarna merah. Sabiq mengambil buku ini, warna dan baunya alih-alih menjadi pemicu utama untuknya mengambil keputusan pasti untuk menulis buku puisi ini, dan Sabiq menyelesaikannya dalam waktu satu minggu dengan judul buku: Samsara Duka. Bagaimana “warna” dan “bau” memberi aura spesifik dan membawanya untuk menulis.

Epilog itu merupakan catatan penting untuk mengerti bahwa asal-usul sebuah karya bisa sangat tidak terduga. Mengingatkan novelis Haruki Murakami yang tiba-tiba mendadak memutuskan bahwa dirinya akan menjadi seorang novelis setelah menonton sebuah pertandingan baseball. Tidak ada hubungan langsung antara baseball dengan novel, atau bau kertas dengan puisi. Peristiwa ini adalah sebuah saat di suatu tempat di mana sesuatu, apa pun itu, tiba-tiba membuat kita tercerahkan. Atau membuat kita “menemukan sesuatu yang hilang”, walau kita tidak tahu apa “yang hilang” itu.

Beberapa orang di antara kita, atau banyak orang, merasa tumbuh sebagai “identitas yang tidak lengkap”. Kemudian ada konsep pasangan “perempuan dan lelaki” atau konsep “persahabatan”. Kita merasa lengkap bersama seseorang yang kita cintai atau bersama seorang sahabat. Ketika salah satu di antaranya putus, kerangka “identitas yang tidak lengkap” dari “yang hilang” itu terkesan definitif, kerja metafornya berhenti.

Dalam kumpulan puisi Sabiq ini, proposisi “identitas yang tidak lengkap” dari “yang hilang” itu diposisikan dalam beberapa kategori: perempuan dan lelaki, tubuh dan jiwa, rumah dan jalan, cahaya dan bayangan, kopi dan gelasnya, buku dan pedagang buku yang semuanya berelasi untuk saling melengkapi, bahkan “malam yang tidak punya maghrib dan subuh”:

Perjalanan tanpa maksud

Tanpa timur dan barat

Magrib dan subuhnya

Adalah dunia asing bagi malam

Sebutir debu tak jadi sejarah

Hingga ia menjadi badai

Sabiq menghubungkan beberapa konsep yang berjauhan dan tidak berada dalam satu rumah tangga leksikal, menjadi jalinan struktur yang padat dan meledak. Dalam kutipan di atas, tema yang diluncurkan Sabiq berada dalam spektrum “badai di antara debu dan sejarah”. Kerja metafor dalam kutipan puisi ini tampak tuntas, tidak menyisakan pertanyaan yang tak perlu.

Selamat jalan

Bungkuskan segelas kopiku

Yang penghabisan—

Konsep “yang hilang” juga dituntaskan sebagai “perpisahan”. Momen kreatif kadang mengungkapkan sebuah drama di mana seseorang berada dalam momen “menemukan”, “tercerahkan” kemudian kembali “berlalu”. Lingkaran ini tepat berada dalam doktrin “samsara” dari korpus filsafat India di sekitar Hindu, Budha maupun Jainisme sebagai pusaran spiritual yang kompleks dialami manusia. Dalam konsep ini berlangsung siklus reinkarnasi, karma, pelepasan dan pembebasan ke konsep immaterial. Tetapi apakah kumpulan puisi ini tentang sebuah kisah patah hati dalam hubungan percintaan? Tunggu dulu. Sebentar.

Sabiq menyelesaikan karyanya dalam waktu sepekan. Sebuah durasi yang bisa menjadi perbincangan antara “kerja panjang” atau “kerja singkat” dalam berkarya. Kerja panjang mengandaikan proses produksi dengan ketelitian pada setiap matarantainya dari A hingga Z. Mungkin juga berlangsung proses evaluasi atas sebuah karya sebelum diluncurkan ke publik, mempertimbangkannya berdasarkan beberapa tantangan baru yang dihadapkan ke karya, bahkan mengintervensinya secara brutal untuk menguji puisi yang kita buat.

Kerja singkat, seperti yang dilakukan Sabiq, umumnya mengandaikan keserentakan antara padat, spontan dan intens. Seingat saya, Putu Wijaya juga berada dalam metode kerja seperti ini. Bahkan mungkin editing tidak perlu. Editing membuat nafas karya menjadi tidak lagi organik, terasa artifisial, lebih tepat menjadi kerja studio atau pabrik dengan berbagai prosedur produksi yang harus dilalui. Bahkan salah ketik bisa dilihat sebagai tubuh-organik puisi.

SABIQ CAREBESTH
Lahir Pada 10 Agustus 1985. Pernah Sebentar Merupakan Penulis Lepas/ Kolumnis Untuk Beberapa Koran Dan Media Nasional. Merupakan Pendiri Dan Editor Utama Untuk Laman Galeribukujakarta. Com. Buku Kumpulan Sajaknya Terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012) Dan “Seperti Para Penyair” (2017). Saat Ini Tinggal Di Antara Kota-Kota Itu, Duduk Mengeja Waktu Di Kafe Kafe Itu.

Dalam kerja singkat, ketiganya (padat, spontan dan intens) masih dijadikan metode maupun konsep penulisan yang tetap digunakan hingga kini dan terbuka untuk dikembangkan para penulis. Ketiganya juga bisa dikaitkan dengan denyut nafas maupun jantung yang bekerja konstan dan intens dalam tubuh kita, bahwa menulis mengikuti mekanisme biologis tubuh kita. Dan seperti meditasi, pusat mekanisme biologis ini sering dilihat pada gerak nafas yang konstan. Dalam kerja sastra, biasanya terkait langsung dengan genre Haiku dalam tradisi puisi Jepang: puisi sebagai satu tarikan nafas.

Pacu kuda jiwa sejauh jalan

Sabiq tentu tidak memaksudkan puisinya sebagai Haiku. Puisinya bagian dari kegelisahan manusia modern yang traumatik atas bahasa, dan karena itu menggunakan banyak kata yang berfungsi menebar berbagai asosiasi dalam menjaring kerja representasi untuk mendapatkan gambaran leksikalnya. Api, gunung, jiwa, tuak, mabuk, badai, tali ikatan, pilihan kata-kata ini dapat kita temukan dalam salah satu bait puisi Sabiq Carebesth:

Api unggun di gunung jiwa padamkan

Tenggak tuak hidup hingga mabuk

Biar kepayang biar badai menerjang

Kita bertahan atau lepas tali ikatan

Baris itu merupakan konstruksi utama bagaimana Sabiq membangun tubuh-puisi dalam kumpulan puisinya. Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat. Umumnya disebut sebagai ekspresionisme. Konspirasi arbitrer antara bahasa dan kenyataan dialihkan atau dibelokkan ke arah “pengujar”, seolah-olah bahasa bisa dilihat, digenggam atau dipeluk melalui semacam internalisasi atas “jiwa bahasa” yang dilakukan penyair. Ujaran (produk narasi dalam puisi) mendapatkan bentuknya melalui bagaimana pengujar menempatkan hubungan-hubungan dalam puisinya.

Puisi-puisi karya Charles Baudelaire, naskah teater atau cerpen August Streindberg maupun para penyair sufi, sering digunakan sebagai rujukan untuk ekspresionisme. Penyair seolah-olah menjelajahi bahasa melalui jiwa, bukan melalui tubuh. Dalam senirupa misalnya tampak pada karya-karya S. Sudjojono, Affandi, Van Gogh atau lukisan Screm karya Edvard Munch yang terkenal itu.

Sabiq menggunakan tubuh dan jiwa sebagai “tik-tok” dinamika dualisme dalam berbagai penurunan paradoks-paradoksnya. “Tik-Tok” merupakan platform internet yang muncul dalam media sosial berbasis video. Platform ini seperti pantun yang bekerja dalam prinsip-prinsip visual medium video. Pelaku masuk ke dalam dinding templete yang sudah tersedia dalam aplikasi yang digunakan. Para tiktokker (sebutan untuk kalangan pemakai Tik-Tok) bekerja baik melalui instagram, FB maupun youtube. Tradisi ini pada puisi bisa kita temukan dalam praktik pantun maupun rima di mana puisi diproduksi melalui dinamika persamaan bunyi pada kata, terutama melalui elemen bunyi huruf vokal.

Sekujur tubuhku telah

Membebani sukmaku yang lara

Nafas ini menenggelamkan

Rinduku yang lagut, sungguh

Aku ingin pulang ke rumah

Di mana rumahku, Mas?

Sudah dikubur—begitu jauh

Kenapa aku harus di sini

Di atas ranjang aneh

Birahiku telah mati—untukmu

Bagaimana kau akan

Bercumbu dengan kematian?

Kebutuhan atas rujukan leksikal agar puisi tetap terhubung dengan wilayah aposteriori yang bisa dialami, membawa Sabiq melakukan personifikasi tik-tok melalui representasi “perempuan dan lelaki, rumah dan kubur”. Pointnya berada pada kebutuhan menggemakan hubungan aktif antara kehidupan dan kematian, atau membuat hubungan indeksikal antara kehidupan dan kematian. Pada sebagian besar puisinya, kerja personifikasi ini menjadi bagian dari konstruksi gender pada umumnya: perempuan dan elemen-elemen performativitas di sekitar lipstik, celana dalam, punggung dan telanjang.

Kematian, kehidupan, cinta, birahi, dendam, maupun duka merupakan lingkaran utama yang berkelindan dalam puisi-puisinya:

Berkilat luka-luka masa lalu

Bagai belati dari timur

Dikubur pasir gurun

Terik tanpa musim

Berabad luka berabad duka

Berabad-abad dusta

Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar untuk melihat apakah kumpulan ini memang berbicara tentang putusnya hubungan cinta perempuan dan lelaki. Samsara dan duka di sini menjadi tidak terpisahkan antara “yang-menggerakkan” dan “yang-digerakan”. Duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi.

Dalam gelap kulihat bayang dukamu

Sekali itu kutahu

Dukamu bukan lagi tentangku

Gelap tetap digunakan sebagai setting agar duka seolah-olah bisa dilihat bahkan hanya sebagai bayangan. Konsep duka pada gilirannya membawa bagaimana lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan: Sejak itu dukamu— Bukan lagi sajak-sajakku. Dan melepasnya kembali: Kita menua dan tak sengaja menderita.

Bukan kesimpulan. Melainkan kilas balik: Sabiq melihat buku catatan dengan kertas berwarna merah dengan bau khas dijual di meja kasir sebuah supermarket. Buku dengan kertas kosong itu memang memprovokasi untuk menuliskan sesuatu di atasnya. Kertas itu memprovokasi “identitas yang tidak lengkap” sebelum menuliskan sesuatu di dalamnya.

Dalam kumpulan puisi Sabiq itu, tetap tertinggal sebuah pertanyaan: di manakah tersisa warna merah dan bau khas dari kertas itu? Dan saya menutup pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban ini, terutama dalam konteks dinamika identitas yang tidak lengkap dan tidak pernah tuntas dengan kutipan puisi Sabiq ini:

Yang tak kau tahu kekasihku

Bahwa aku tak tahu siapa aku

Meski saban waktu

Kutimang jiwaku

Surabaya, 11 Mei 2020

POSTER: SAMSARA DUKA–Printed on acid-free book paper with full colour, in a limited edition, available exclusively from Galeri Buku Jakarta, with all proceeds going to support the galeribukujakarta.com
Continue Reading

Buku

The Alchemist: Mimpi adalah Nasib, Nasib adalah Mimpi

mm

Published

on

Nasib, satu kata yang seringkali jadi alasan paling mutakhir untuk bertahan dalam kenyamanan, ialah yang kadangkala menggoda Santiago dan kita semua untuk bertahan dengan gembalaan, berakhir jadi saudagar kristal, menikah dengan Fatimah, hidup nyaman….

Oleh: Faris Ibrahim *)

Seperti bertemu kenalan di perjalanan. Rasanya tidak ada kebetulan yang paling memuaskan selain pertemuan yang seperti itu; seakan segenap alam semesta bersatu membantu kita untuk saling bertemu. Itulah yang saya rasakan saat membaca The Alchemist: kemujuran. Kemujuran pemula seorang yang baru pertama kali membaca karya Paulo Coelho, kemudian berpapasan dengan seorang kenalan. Santiago namanya, membaca kisahnya seperti bertemu teman seperjalanan.

The Alchemist by Paulo Coelho continues to change the lives of its readers forever. With more than two million copies sold around the world, The Alchemist has established itself as a modern classic, universally admired.
Paulo Coelho’s masterpiece tells the magical story of Santiago, an Andalusian shepherd boy who yearns to travel in search of a worldly treasure as extravagant as any ever found.
The story of the treasures Santiago finds along the way teaches us, as only a few stories can, about the essential wisdom of listening to our hearts, learning to read the omens strewn along life’s path, and, above all, following our dreams.

Tepatnya di karavan, saat Santiago bilang: “aku mau ke Mesir,” saat itulah saya tahu, bahwa Paulo Coelho mempertemukan kami secara kebetulan di jalan. Setelah berjabat tangan, alangkah senangnya berbincang tentang mimpi yang sama- sama kami yakini: kemilau harta di (negeri) piramida. Jauh memang, untungnya ada sang Alkemis yang menuntun kami ke sana, buntungnya kami juga jadi bertemu dengan pedagang kristal di pasar Tangier.

Ituloh pedagang yang bilang: “piramida- piramida itu hanyalah tumpukan batu. Kamu dapat membuatnya di halaman rumahmu.”Agaknya saat mendengar ungkapan itulah, saya, kamu, dan kita semua bertemu secara kebetulan dengan Santiago. Mungkin piramida tidaklah jadi mimpi kita bersama, namun kita sama karena sama- sama bermimpi, dan dalam meraih mimpi, pastilah kita akan berpapasan dengan pedagang kristal, yang meremehkan mimpi kita.

Sang pedagang tentu tidak melakukan itu semata- mata karena membenci kita. Ia hanya membenci dirinya sendiri yang punya mimpi berhaji ke Makkah, namun tak sanggup menutup toko kristalnya. “Dia harus memilih antara apa yang dia telah menjadi terbiasa dengannya dan apa yang ingin dimilikinya,” sebagai pemimpi, kita pasti pernah mengalami apa yang Santiago dan pedagang kristal itu lalui: tarik menarik antara zona nyaman dan hasrat untuk meraih impian.

Kenyamanan dan impian, di antara persimpangan itulah kadangkala sebagian kita berpisah dengan Santiago, lebih memilih jalan hidup si pedagang kristal: “tak pernah pergi ke Mekkah, dan hanya menjalani hidupnya dengan menginginkan hal itu.” Itulah dusta terbesar yang dimaksud oleh pak tua Melchizedek sang raja Salem: ketika kita menyerah dengan mimpi, kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada diri, dan hidup lalu dikendalikan oleh nasib.

Nasib, satu kata yang seringkali jadi alasan paling mutakhir untuk bertahan dalam kenyamanan, ialah yang kadangkala menggoda Santiago dan kita semua untuk bertahan dengan gembalaan, berakhir jadi saudagar kristal, menikah dengan Fatimah, hidup nyaman sebagai penasehat para tetua di gurun.

Nasib kadangkala salah terjemah jadi pelarian, padahal nasib seharusnya senada dengan suara hati yang selalu menyeru kita untuk pergi meraih mimpi.

Sebab hati tidak pernah berkhianat, di tengah gurun keraguan kadang kala kita lupa kenyataan yang satu itu. Sang Alkemis padahal berkuda bersama dengan kita, begitu dekat, namun terkadang nasehatnya begitu jauh dari telinga kita: “ingatlah bahwa di mana pun hatimu berada, di sanalah akan kau temukan hartamu.”  Hati adalah kompas para pemimpi, ialah yang mengenalkan kita pada tanda- tanda sang pencipta yang menggiring kita pada piramida mimpi kita semua.

Hatilah yang membuat kita terus berjalan bersama kafilah sang pemimpi ke sana. Domba- domba, kristal yang berkilau, dan Fatimah yang jelita, itu semua juga harta, namun benar kata sang Alkemis: “tapi tak satu pun dari itu semua yang berasal dari piramida.” Itu semua tak sebanding dengan mimpi yang kita terbangun karena memikirkannya, susah tidur karena belum juga mewujudkannya. Pemimpi sejati tidak akan pernah tawar- menawar untuk mewujudkan mimpinya.

Di tengah perjalanan, kita selalu bisa pulang ke Andalusia, Indonesia, kapan pun kita mau, namun begitu mimpi adalah nasib, nasib adalah mimpi, kalau cita- cita untuk tiba di (negeri) piramida belum terwujud, kita belum bisa menyebutnya nasib, pantang pulang sebelum datang; karena hati para pemimpi sejati selalu mendambakan langit, tidak pernah sedikit pun terbesit keinginan untuk jatuh di antara bintang- bintang, lalu dengan menyedihkan menyebutnya sebagai nasib. (*)

*) Faris Ibrahim, sekarang mahasiswa jurusan Akidah- Filsafat di Universitas al- Azhar, Kairo. Penulis buku Diary Azhari. Aktif di kajian pemikiran al- Hikmah PCIM Mesir, kuliah pemikiran Islam di IIIT (International Institute  of Islamic Thought) Zamalek, dan lulus dari WISE (Worldview of Islam Series) tahun 2019.

Continue Reading

Buku

Keniscayaan Meruang(i)

mm

Published

on

Setyaningsih, Esais dan penulis Kitab Cerita (2019)

Kita meruangi ruang secara spasial dan esensial atau guna dan citra, seperti pernah dibentangkan rohaniawan, arsitek, dan penulis Y.B. Mangunwijaya dalam pengantar buku Pengantar Fisika Bangunan (2000). Pengaturan elemen-elemen dasar arsitektural dibangun berbarengan dengan citra atau pantulan jiwa primordial seseorang meruangi. Ruang-ruang yang dibangun tidak berhenti untuk memenuhi tugas fungsional. Penghuninya menentukan seberapa emosional laku meruang diciptakan.


Judul: Mengaduk Ruang: Tafsir Merakyat atas Bangunan | Penulis: Rifai Asyhari | Penerbit: Hatopma | Cetak : Pertama, Oktober 2019 | Tebal: xviii+122 halaman

Begitu bangunan selesai dirancang seorang arsitek atau perancang paling amatir sekalipun dan diwujudkan oleh para tukang, penghuni barangkali adalah pihak paling otoritatif membentangkan pengalaman meruang. Inilah yang dilakukan oleh Rifai Asyhari lewat buku kumpulan esai Mengaduk Ruang: Tafsir Kerakyatan atas Bangunan (2019). Setidaknya dari penuturan ke penuturan yang kentara menonjolkan penghadiran raga diri, Rifai juga membawa pembaca untuk seolah saat ini juga menghadapi bentangan arsitektural. Rifai menempatkan mata pada sekat, tembok, lantai, atap, seng, tanah, udara, kepengapan, kelonggaran, himpitan, jarak, atau kelegaan.

Kita cerap, “Ukuran tiap kamar hanya 3×3.5 meter. Cukup kecil, cukup buat selonjor atau berbaring seorang manusia dewasa. Setiap kamar dipisahkan dinding tripleks yang tipis. Penghuni kos terbiasa mendengar dengkuran halus seorang yang tidur lebih dulu […] Selain dinding tripleks, lantainya tak dipasangi kramik. Hanya lantai semen berlapis plastik. Tidak ada kamar mandi khusus anak kos selain sebuah kamar mandi yang digunakan secara bersamaan oleh keluarga sang pemilik dan anak kos,” (hal. 5). Di esai pertama berjudul “Rasanya Tinggal di Kos Termurah Se-Yogyakarta”, Rifai cukup percaya diri mengajukan kos sebagai ruang spasial yang “dikuasai”, menautkan dengan harga, nilai guna, dan peristiwa para penghuninya.

Namun meski Rifai tidak mengungkapkan secara tersurat dan frontal, kos termurah se-Yogyakarta di Nologaten yang sedemikian sederhana itu, sebenarnya menghadapi hal tidak sederhana. Ada kekuatan pertumbuhan properti di luar dinding batako. “Di sekitar lokasi indekosku, terdapat dua hotel yang ramai dikunjungi orang dari pelbagai daerah. Nologaten makin ramai dan maju. Namun, cerita tentang sepasang orangtua yang kesulitan membangun sebuah rumah kecil nyatanya masih ada,” begitu keniscayaan pertarungan ruang industrial dan rumah saling dinegasikan Rifai. Hotel hanya salah satunya saat komersialisme begitu kuat mempengaruhi pertumbuhan bangunan.

Sebagai efeknya, Rifai memang tidak menampik bahwa kos memang “sebatas untuk tidur” bagi para penghuni yang berstatus mahasiswa mahasiswa semester atas. Mobilitas berkegiatan di luar ruang kos sempit dan sering kurang nyaman cenderung menonjolkan nilai guna daripada citra. Karena sering kos tidak dipersepsikan sebagai rumah, ia tidak dipersiapkan menjadi ruang transisi ke hal-hal lebih emosional.

Bahkan di esai berjudul “Mengingat Rumah dari Episode Kepulangan yang Singkat”, ada perasaan dilematis justru saat Rifai membentangkan peta ingatan masa kecil sekaligus penghadiran masa dewasa atas jalan, pemandangan, ruang-ruang (dalam) rumah, kolam ikan, atau halaman. Pulang ke Jawar, Wonosobo, seperti berpindah ke keterasingan. Kepulangan demi meruang itu cukup sebagai episode “mampir” daripada “singgah” karena perpindahan geografis sekaligus pergantian ruang desa ke kota. Momentum yang diakui Rifai, “Bagiku, mengingat rumah berarti mengingat masa kecil. Kenanganku di Jawar berhenti pada usia 11 tahun. Setelah itu, hanya episode-episode kepulangan dalam jeda yang singkat.”

Namun dari jeda singkat ini, kita bisa menyepakati bahwa kepulangan tidak hanya berarti memulangkan raga, tapi juga emosionalitas yang pernah bertumbuh dalam lipatan arsitektural ataupun peristiwa komunal manusianya. Rifai mengatakan, “Meski jarang kusambangi, itu tetap rumahku. Sejauh apa pun aku pergi, alamat rumah itulah satu-satunya yang kutuju.”

Kerakyatan

Sejak kecil, kita sepertinya kurang diajari cara mempersepsikan diri di hadapan ruang. Kita lebih dituntut untuk tahu fungsi-manfaat suatu tempat. Seringnya, tempat-tempat begitu berjarak dari kehidupan personal kita, apalagi bukan milik kita. Seberapa lama seseorang “mendiami” suatu tempat, ia belum tentu merasa memiliki “meruangi”. “Kerakyatan” yang menjadi istilah kelihatan sepele tapi cukup sakral di judul buku, terutama tidak dihadirkan untuk menunjukkan kelemahan secara ekonomi. Istilah mengalihkan dari kesan monopolistik bahwa arsitektur dalam bentuk secara material, perasaan, sekaligus keilmuan cenderung menjadi hak arsitek, kaum perkotaan pembaca majalah lifestyle dan desain interior, atau mahasiswa arsitektur.  

Bisa jadi, obrolan arsitektur di Galeri Lorong, Tirtonirmolo, Yogyakarta, bersama Anas Hidayat, dosen jurusan Arsitektur dan Desain Komunikasi Visual UPN “Veteran” Surabaya di Galeri Lorong, Tirtonirmolo, menjadikan salah satu pondasi menafsir secara  kerakyatan. Setidaknya sebelum bermimpi memiliki rumah, Rifai percaya untuk terlibat membicarakan tukang, modal, arsitektur berwawasan lingkungan, alienasi ruang perkotaan, atau hunian alternatif. Rifai mencatat, “Setiap individu sebaiknya menafsir karya arsitektur dengan bebas. Meski pemahamannya mungkin berbeda jauh dengan maksud arsitek. Dengan memahami secara bebas, karya arsitektur akan kian beragam dan tidak monoton” (hal. 58).

Pengalaman kerakyatan dipilih Rifai memang cenderung membuat gaya penuturan menjadi lempeng. Boleh dikatakan Rifai sangat percaya pada tafsir yang mendasari subjudul otoritatifnya. Tapi setidaknya paling kuat tampak dalam dua esai enerjik berjudul “Peradaban yang Kebingungan” dan “Wastu Citra: Melampaui Urusan Teknis Arsitektur”, Rifai tidak hanya bertungkus lumus dengan apa yang dilihat dan diruanginya. Masih tetap secara kerakyatan, ada upaya turut dalam polemik tata ruang dan lingkungan yang terjadi sejak masa 70-an ataupun jati diri arsitektur lokal ke-Nusantaraan yang mendapat momentumnya sejak masa kolonial serta begitu dipikirkan oleh Y.B. Mangunwijaya. 

Lantas, pengalaman meruangi “Imajinasi Ruang Rumah Mikro” semacam melengkapi peradaban ruang yang kebingungan di tengah bersikap pada alam. Rifai menjumpai rumah mikro atau rumi yang ditawarkan oleh Studio Akanoma rintisan arsitek muda Bandung, Yu Sing, yang tidak hanya menawarkan hunian alternatif bagi masyarakat perkotaan, tapi juga cara membangun sekaligus menghuni yang berusaha tidak melukai ekologi.

Percayalah, sebelum memasuki ruang-ruang dinamis rumi, kita turut merasakan suguhan paha kambing dan ayam berbumbu rahasia yang menyambut Rifai saat bertandang. Kembali pada cara kerakyatan, Rifai meruangi, “Detail ruangan rumi benar-benar diperhatikan. Aku tidak menganggap rumi seperti garasi yang gelap meski berukuran sama. Banyak laci dan ruang kecil untuk menyimpan barang. Kamar mandinya yang memanjang seluas 1×2.5 meter terasa sangat nyaman. Satu sisi untuk toilet. Sisi lainnya shower dan wastafel. Bersih dan sejuk. Jenis kamar mandi yang memungkinkanmu untuk melamun atau memikirkan persoalan hidup” (hal. 97).

Setiap yang ditangkap mata Rifai adalah upaya memenangkan raga dan emosionalitas meruang dengan merdeka dan merakyat. Memang, perkara memiliki rumah misalnya, tidak hanya dibangun dari impian atau rencana. Betapa Kita membutuhkan material untuk mewujudkan setiap elemen arsitektural mewujud. Rifai telah memulainya dengan mengaduk cara mempersepsikan dan alternatif-alternatif arsitektural bertaut dengan masalah finansial dan ekologi. 

Suatu sepele nan penting, Mengaduk Ruang sedikit mematahkan pakem bahwa buku bertema arsitektur harus mewah dan (sebaiknya) mahal. Begitu pun hunian kita di masa depan.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending