Connect with us

Buku

Sekilas Karl Marx dan Bukunya Das Kapital

mm

Published

on

Dalam duka-pidato penguburan Karl Marx, Friedrich Engels menyimpulkan bahwa “diatas segala-galanya Karl marx adalah seorang revolusioner, dan tujuan besar dalam hidupnya ialah memberikan sumbangan dengan salah satu cara untuk menghancurkan masyarakat kapitalis dan lembaga-lembaga negara yang telah diciptakan masyarakat ini”. Dengan kata-kata ini, pembantu, murid dan sahabat marx yang terdekat ringkas menyimpulkan tenaga penggerak dari kehidupan pemberontak sosial yang termasyur ini.

Marx terlahir dalam suatu jaman yang gaduh. Pemberontakan dan kekacauan selalu mengancam. Kenangan pada revolusi Perancis yang pertama masih segar sedangkan yang lain sudah mengancam lagi. Jaman-jaman berikutnya ditandai oleh kegetiran dan ketidak-puasan rakyat yang luas, dan pengeritikan terhadap lembaga-lembaga yang ada. Dalam tahun 1848, perasaan ini telah bertumpuk menjadi suatu tenaga yang bisa meledak. Lalu meletuslah revolusi diseluruh Eropa. Bahkan di Inggris, Gerakan Chartis mengancam pemerintahan yang ada. Tekanan-tekanan untuk mengurangi salah-guna yang terlahir dari industrialisme baru, dan penghancuran pertahanan-pertahanan terakhir feodalisme terasa dimana-mana. Jaman ini memang cocok betul buat temperamen Marx yang subversif dan non-conformistis.

Marx dilahirkan dalam tahun 1818 di Trier di Rheinland Jerman sebagai anak seorang ahli hukum yang kaya. Dari kedua belah pihak orang tuanya. Karl adalah keturunan rabbi-rabbi Yahudi, tapi waktu ia masih kanak-kanak seluruh keluarga itu telah masuk agama Nasrani. Dalam hidupnya, barangkali sebagai reaksi terhadap halangan-halangan yang ditimbulkan latar belakang rasialnya, Marx selalu bersikap anti-semit.

Marx muda belajar ilmu-ilmu hukum dan filsafat di Bonn dan Berlin, dengan cita-cita akhirnya akan mencapai kedudukan seorang guru-besar. Tapi pendiriannya yang makin lama makin bertentangan dengan faham-faham kuno telah menutupkan pintu baginya jabatan ini lalu ia mengarahkan diri pada pekerjaan kewartawanan. Sebuah berkala bru Rheinische Zeitung baru saja dimulai penerbitannya dalam tahun 1842, dan Marx menjadi penyumbang yang pertama dan kemudian dalam waktu singkat menjadi pemimpin redaksinya. Serangan-serangan terhadap pemerintah Prusia dan nada suara berkala itu yang umumnya radikal, menyebabkan berkala ini dilarang setelah setahun lebih.

Marx pindah ke Paris untuk mempelajari sosialisme dan menulis untuk sebuah berkala yang juga singkat umurnya. Buku-buku Tahunan Franco-Jerman (Franco-German Year Books). Disana ia berkenalan dengan wakil-wakil terkemuka dan pemikiran-pemikiran sosialis dan komunis. Dilihat dari sudut perjalanan hidup Marx dimasa datangnya, maka saat yang penting dari msa itu ialah, permulaan dari persahabatannya seumur hidup dengan Friedrich Engels. Engels adalah seorang kawan senegeri Marx. Sebagai anak dari seorang pembuat kain, ia boleh dianggap berkemampuan juga dan pengambdiannya kepada cita-cita sosialis sama besarnya dengan Marx sendiri. Dasar-dasar dari kitab Marx yang kemudian akan terbit Das Kapital telah dibangunkan oleh Engels dalam tahun 1845 dengan penerbitan karangannya Keadaan Kelas Buruh di Inggris (Condition of the Working Classs in England).

Agitasi yang dilanjutkan oleh Marx terhadap pemerintah Prusia telah menyebabkan pembesr-pembesar Perancis mengusir dia sebagai seorang asing yang tidak dikehendaki. Ia mencari perlindungan di Brussel selama tiga tahun, dan kemudian untuk waktu singkat ia kembali ke Jerman. Setelah dibuang kembali, ia kembali ke Paris semasa revolusi tahun 1848. Dalam tahun itu dengan bekerja sama dengan Engels ia telah menulis dan menerbitkan Manifes to Komunis yang termasyur. Pamflet ini adalah salah sebuah dri karangan-karangan radikal yang paling garang dn paling berpengaruh yang pernah dicetak Pamflet ini berakhir dengan semboyan yang menggerakkan:

Kaum komunis merasa tidak perlu untuk menyembunyikan pendapat dan maksudnya. Dengan terus terang mereka mengumumkan bahwa tujuan mereka hanya dapat dicapai dengan merubuhkan seluruh susunan masyarakat ini dengan kekerasan. Biarlah klas-klas pemerintahan gemetar depan reolusi komunis. Kaum buruh tidak akan kehilangan apa-apa kecuali berlenggu mereka. Mereka hanya akan memenangi seluruh dunia.

Buruh sedunia bersatulah!

Kemana saja Marx pergi ia adalah seorang tukang pidato yang garang dan aktif; ia mengorganisir gerakan-gerakan buruh; ia memimpin penerbitan-penerbitan komunis dan menganjurkan pemberontakan.

Kekandasan revolusi-revolusi Eropa 1848 sampai 1849 menyebabkan benua ini jadi sempit bagi Marx. Ia pindah ke Inggris dalam musim panas tahun 1849, tatkala mana ia berumur 31 tahun, dan tinggal di Londok untuk seumur hidup. Sebelum itu ia telah menikah dengan Jenny von Westfalen, anak seorang pembesar Prusia, dan istrinya ini tetap setia sebagai kawan sejawatnya untuk hampir selama 40 tahun, menyertainya dalam suatu masa kemelaratan yang amat sangat, kekurangan dan keburukan nasib. Dari keenam anak mereka, hanya tiga yang  hidup dan menjadi dewasa, dan dari yang tiga, dua orang kemudian membunuh diri. Tak sangsi lagi, tahun-tahun kemelaratan ini telah mewarnai pandangan Marx dan menjadi sumber dari begitu banyak kebencian dan kegetiran dalam tulisannya. Hanya bantuan-bantuan keuangan yang sering dari Friedrich Engels yang telah menyelamatkan keluarga Marx dari pada kelaparan. Satu-satunya penghasilan Marx ialah se-guinea seminggu, diterima dari surat kabar Tribune New York sebagai imbuhan terhadap surat-surat tentang soal-soal Eropa, dan pembayaran yang tak tetap buat karangan-karangan yang semata ditulis untuk mencari makan.

Tapi biarpun menderita kemelaratan, buruan penagih-penagih hutang-hutang, penyakit dan kekurangan yang tak putus-putusnya melingkungi Marx didistrik Soho yang guram, dimana ia berdiam. Marx tetap tak lelah-lelahnya dalam usahanya memajukan alasan-alasan sosialis. Dari tahun ke tahun, sering kali sampai 16 jam sehari, ia bekerja di Museum British untuk mengumpulkan bahan yang besar jumlahnya  untuk sebuah karya yang kelak akan diberi nama Das Kapital. Jika tidak dihitung lowong-lowong yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan lain dan penyakit, maka buku ini telah memakan waktu persiapan selama 18 tahun. Engels yang sementara itu menyokong keluarga Marx sudah putus harapan bahwa buku itu akan selesai. “Pada hari naskah itu dimasukkan kepercetakan saya akan minum sampai mabuk dengan segala kebersaran,” katanya. Kedua mereka,Engels dan Marx menyebut buku itu sebagai “buku laknat”, dan Marx mengakui bahwa buku itu adalah sebuah “mimpi ngeri yang sempurna.”

Suatu kejadian besar dalam kehidupan Marx dalam tahun-tahun ini ialah terbentuknya Perhimpunan Kaum Pekerja Internasional yang sekarang dikenal sebagai Internasional Pertama, dalam tahun 1864. Usah aini adalah suatu percobaan. Biarpun telah menarik diri dari kehidupan umum. Marx adalah tenaga yang berdiri dibelakang layar dan ialah yang menulis hampir semua dokumen-dokumen perserikatan ini, pidato-pidato, peraturan-peraturan dan programma. Tapi percekcokan didalam dan persaingan untuk menduduki kursi pimpinan bersamaan dengan ketidak-populeran yang dialami organisasi ini setelah kandasnya Commune Paris dalam tahun 1871, telah menyebabkan Perserikatan ini dibubarkan. Kemudian ia diikuti oleh Internasional Kedua, yang mewakili golongan-golongan sosialis barat dan Internasional Ketiga atau Comintern yang mewakili dunia komunis.

Masa pengandungan yang panjang dari Das Kapital akhirnya berakhir. Diakhir tahun 1866, naskah lengkap dari jilid pertama dikirimkanke Hamburg, dan dalam musim gugur tahun berikutnya buku ini keluar dari percetakan. Buku ini ditulis dalam bahasa Jerman, sedangkan terjemahan dalam bahasa Inggris baru akan terbit kira-kira duapuluh tahun sesudahnya. Terjemahan pertama kedalam bahasa lain – tepat sekali jika dilihat dalam sinar kejadian-kejadian yang akan terjadi sesudahnya – ialah kedalam bahasa Rusia dalam tahun 1872.

Dalam masa Marx, Inggris adalah contoh utama dari cara-cara bekerja sistim kapitalis. Karena itu contoh yangia pakai untuk menjelaskan teori-teori ekonominya hampir semuanya dipungut dari negeri itu. Contoh-contoh yang kejam cukup banyak, karena lembaga kapitalisme dalam masa Victoria pertengahan itu berada dalam keadaannya yang paling kejam. Keadaan-keadaan sosial diperkampungan-perkampungan pabrik tak dapat dikatakan buruknya. Marx yang mendasarkan pendapat-pendapatnya atas laporan-laporan resmi penyelidikan-penyelidikian pemerintah, telah menjanjikan fakta-fakta itu dengan teliti dalam Das Kapital. Perempuan menarik kapal-kapal terusan sepanjang pinggir terusan itu dengan tali dibahu mereka. Perempuan-perempuan dipasang sebagai hewan-hewan pembawa beban, depan kereta-kereta yang membawa batu arang dari tambang-tambang Inggris. Kanak-kanak mulai bekerja dikilang-kilang tekstil semenjak mereka mulai berumur 9 atau 10 tahun selama 12 sampai 15 jam sehari. Dan waktu peraturan giliran malam menjadi kebiasaan, dikatakan bahwa ranjang-ranjang tempat anak-anak tidak pernah dingin karena dipakai bergiliran. Tuberculosis dan penyakit-penyakit lain yang disebabkan pekerjaan telah membunuh mereka dalam jumlah yang tinggi.

Protes-protes mengenai keadaan yang buruk ini sekali-kali tidak hanya terbatas pada Marx saja. Orang-orang yang berperikemanusiaan seperti pengarang-pengarang Charles Dickens, John Ruskin dan Thomas Carlyle telah menulis berjilid-jilid buku dengan penuh semangat, menyerukan perobahan. Parlemen digoncang kearah perwakilan yang korektif.

Marx bangga sekali dengan penelaahan “ilmiah”nya tentang masalah-masalah ekonomi dan sosial. Seperti dikatakanoleh Engels, “Seperti Darwin menemui hukum evolusi dalam salam organik begitu Marx menemui hukum evolusi dalam sejarah manusia. Gejala-gejala ekonomi”, demikian Marx menegaskan, “dapat diamati dan dicatat dengan ketelitian yang sama seperti ilmu alam.” Seringkali ia menunjukkan kekarya-karya ahli-ahli ilmu hayat, kimia dan tabii (ahli ilmu alam), dan nyata sekali bahwa ia beringin untuk menjadi seorang Darwin sosiologi atau barangkali seorang Newton ekonomi. Dengan jalan analisa ilmiah dari masyarakat. Marx yakin bahwa ia telah menemui bagaimana caranya merubah suatu dunia kapitalis menjadi dunia sosialis.

Metodos “ilmiah” Marx telah banyak sekali menolong diterimanya pikirannya dengan luas, karena konsep evolusi dalam semua lapangan telah memukau alam pikiran abad ke-XIX. Dengan jalan menghubungkan teori perjuangan klasnya dengan teori evolusi Darwing. Marx telah memberikan tempat yang terhormat pada pikiran-pikirannya, dan serentak, demikian ia yakin, telah membuat pikiran-pikiran ini tidak bisa diingkari.

Dalam pandangan Marx dan pengikut-pengikutnya, sumbangan Marx yang terpenting dalamsoal penelaahan ekonomi, sejarah dan ilmu-ilmu pengetahuan masyakat yang lain ialah pengembangan sebuah prinsip yang disebut “materialisme dialektika” suatu sebutan yang sukar dimengerti dan mempunyai arti yang ganda. Biarpun sebutan ini diterangkan lebih lengkap dalam tulisan-tulisannya sebelumnya. Das Kapital mempergunakan teori ini sampai kedetail-detailnya.

Metodos dialektika ini telah diambil oleh Marx dari ahli filsafat Jerman Hegel. Dalam hakekatnya, teori ini menytakan, bahwa segala didunia ini berada dalam pergantian yng terus-menerus. Kemajuan diperoleh berkat reaksi terhadap masing-masing yang lahir dari dua tenaga yng bertentangan. Jadi, misalnya sistim penjajahan Inggris yang ditentang oleh Revolusi Amerika telah menghasilkan negara Amerika Serikat. Sebagai disebutkan oleh Laski. “Hukum kehidupan ialah peperangan dari pertentangan-pertentangan dengan pertumbuhan sebagai akibatnya.”

Premise ini telah menyebabkan Marx merumuskan teorinya tentang materialisme sejarah, atau tafsiran ekonomi dari sejarah. “Sejarah dari setiap masyarakat yang ada,” demikian Marx dan Engels membela, “adalah sejarah dari perjuangan kelas. Orang merdeka dan budak-budak, patricier dan plebeier, tuan dan chadam, kepala tukang dan ahli yang pindah-pindah, pendeknya yang menindas dan yang ditindas, berada dalam perentangan yang tajam. Mereka melangsungkan peperangan yang tak ada akhirnya. (*)

*Dari berbagai Sumber. Oleh Tim Redaksi Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Budaya

Mengembalikan Kedigdayaan Maluku

mm

Published

on

Tak ada yang memungkiri, Tiongkok merupakan penguasa ekonomi awal abad XXI. Bahkan, tingkat pertumbuhan Tiongkok merupakan yang tertinggi kedua di dunia. Tiongkok dapat mengancam kedigdayaan ekonomi Amerika Serikat (AS). Padahal, hingga akhir abad XX AS merupakan penguasa ekonomi dunia, jauh meninggalkan Tiongkok.

Tak pelak, pencapaian yang diraih Tiongkok menimbulkan persaingan dengan AS. Bahkan, untuk menahan laju perekonomian Tiongkok, AS membangun jalur perdagangan transpasifik Trans Pacific Partnership (TPP) pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama 2009 lalu. Sedangkan, Tiongkok, membangkitkan kembali jalur sutera yang pernah dirintis oleh pedagang-pedagangnya pada awal masehi, untuk kembali menguasai perekonomian dunia.

Lalu di manakah posisi Indonesia? Sebagai negara yang memiliki posisi geografis yang sangat strategis, Indonesia dapat masuk dalam kedua kutub persaingan dua jalur perekonomian dunia. Tapi apakah Indonesia harus memilih salah satu diantaranya atau Indonesia dapat membuat poros baru perdagangan dunia?

Melalui buku ini, Komarudin Watubun mencoba menawarkan sebuah gagasan agar Indonesia untuk dapat membuat poros perekonomian dunia yang baru? Di mana, bagaimana, dan mengapa, Indonesia mesti membangun poros perekonomian itu?

Komarudin menawarkan gagasan bahwa Maluku dapat dijadikan sebagai poros perekonomian Indonesia abad XXI. Pertanyaan yang kemudian muncul, kenapa harus Maluku? Kenapa poros perdagangan dunia tidak dimulai di bagian Barat Indonesia yang sudah memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dibandingkan wilayah Timur Indonesia seperti Maluku?

Secara umum, buku ini terdiri atas tiga bagian yakni kondisi Maluku dan Indonesia saat ini, sejarah Maluku, dan strategi untuk mewujudkan Maluku sebagai pusat perekonomian Indonesia dan dunia. Penulis mengungkapkan empat tesis untuk memperkuat alasan pemilihan Maluku menjadi titik perdagangan Indonesia dan dunia.

Pertama, tentu nilai historis dan ekonomis Maluku bagi Nusantara sejak abad XII hingga abad XX. Layaknya Tiongkok yang membangkitkan kembali jalur sutera, sejarah semestinya tidak menjadi benda mati dan hanya menjadi pelajaran menghafal di sekolah. Sebab, dalam perjalanan sejarah nusantara, Indonesia terutama Maluku pernah memiliki jalur perekonomian sendiri. Jalur tersebut dinamakan jalur rempah, Maluku menjadi titik pusatnya.

Dalam catatam sejarah, Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbaik dunia yang merupakan komoditas perdagangan termahal mengalahkan harga emas di dunia pada abad XVI. Bahkan, selama abad XVI—XVIII Maluku memasok kebutuhan rempah-rempah dunia yang melahirkan globalisasi, jaringan maritim dunia, inovasi, dan revolusi sistem keuangan dan korporasi global pertama kali di dunia (hlm.247).

Bahkan, karena kekayaannya, Spanyol dan Portugal sebagai kekuatan imperialis kuno memperebutkan Maluku. Perselisihan tersebut bahkan  menghasilkan Perjanjian Zaragoza yang membagi belahan bumi barat di antara Spanyol dan Portugal dan diprakarsai oleh Paus pada 7 Juni 1494.

Judul Buku : Maluku, Staging Point RI Abad ke-21 Penulis : Komarudin Watubun Penerbit : Yayasan Taman Pustaka Tahun Terbit : Cetakan I, November 2017 Tebal : vi + 431 halaman Harga : Rp.120.000

Namun, tak hanya dua negara tersebut yang memperebutkan Maluku, Belanda pun pada Dua abad setelahnya, ikut dalam persaingan memperebutkan Maluku. Sebab, siapa yang dapat menguasai rempah-rempah Maluku, maka akan dapat menguasai perdagangan Eropa (hlm.274) Hal itu merupakan nilai historis dan strategis Maluku.

Kedua, Geostrategis Maluku dan Indonesia. Posisi Maluku dan sekitarnya memiliki jalur-jalur terbuka yang sangat banyak, khususnya bila zona Maluku dan sekitarnya dijadikan basis produksi, penyedia, dan transit arus komoditi jasa, mineral strategis, manuisa, barang, jasa, uang dan informasi. Sebab, wilayah Maluku sangat terbuka ke Filipina, Brunei, Australia, Papua Nugini, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok hingga Australia.

Maluku dapat menjadi opsi lain sebagai titik pusat jalur perdagangan Indonesia. Sebab, bila mengikuti rute yang dibangun oleh Belanda yang berpusat pada Jakarta dan melalui commercial hub atau transit di Singapura yang dibangun oleh Inggris, maka komoditas dari Indonesia sangat terbatas. Tak hanya itu, jalur itu hanya menguntungkan Singapura (hlm.129).

Ketiga, faktor mineral strategis Maluku. Maluku memiliki kekayaan alam selain rempah-rempah yaitu ladang gas Blok Masela. Blok Masela merupakan ladang gas abadi yang dimiliki oleh Indonesia dengan cadangan gasnya yang bisa bertahan selama 70 tahun ke depan. Cadangan gasnya mencapai 10,73 triliun cubic feet (tcf).

Selain itu, produk dari gas dapat diolah kembali menjadi 200 produk turunan (hlm.74). Bahkan, Rizal Ramli saat masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan, apabila dikelola dengan baik, maka ladang Blok Masela dapat mengalahkan penghasilan gas dan minyak Qatar.

Keempat, seleksi alam dan segitiga arus alam Maluku selama ini pada tiga tingkat global.  Secara historis ratusan tahun sejak pramasehi, kebutuhan masyarakat dunia dapat dipasok dari kawasan arus alam Papua, Maluku, dan Nusa tenggara Timur (NTT). Zona tersebut merupakan satu garis alam (hlm.395).

Pola hubungan alam zona-zona tersebut saling terkait, saling mendukung, dan saling melindungi. Oleh sebab itu, penerapan strategi sosial, ekonomi, dan lingkungan pada zona tersebut akan perubahan signifikan dan bersamaan pada seluruh sektor yaitu pertanian, kehutanan, perikanan, kelautan, peternakan, dan perhubungan baik secara nasional maupun internasional.

Posisi Indonesia—terutama Maluku—yang sangat strategis semestinya dapat dijadikan untuk membangun poros perekonomian baru, bukan harus memilih antara jalur transpasifik AS dan jalur sutera Tiongkok. Tentu saja, pembangunan Maluku menjadi poros ekonomi baru Indonesia harus dapat menyejahterahkan rakyat Maluku dan Indonesia.

Sebab, hingga saat ini, dibalik kekayaan alam yang melimpah, Provinsi Maluku menjadi salah satu provinsi miskin di Indonesia. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 7,04 juta orang atau naik 10 ribu orang dari bulan sebelumnya yang tercatat 7,03 juta. Dengan demikian, Provinsi Maluku menjadi daerah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi (TPT) dengan persentasi 9,29 persen.

Oleh sebab itu, buku ini sangat layak untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama pemerintah dan rakyat Indonesia khususnya Maluku. Bagi pemerintah, buku ini dapat dijadikan sebagai pedoman untuk membangun perekonomian yang berpihak pada rakyat. Sedangkan, bagi rakyat Maluku, buku ini mengingatkan agar kita tak lengah atau terlena dengan kekayaan alam yang dimiliki. Kita tentu tak ingin mengulangi kesalahan pengelolaan kekayaan alam yang kita miliki di Papua yang tak memberi dampak bagi rakyat Indonesia. Selain itu, buku ini banyak memiliki data-data yang sangat lengkap, baik data sejarah maupun data ekonomi dan geostrategis politik dunia.

Kita tentu tak ingin terus membenarkan sebuah adagium bahwa kekayaan alam suatu negara adalah kutukan. Kekayaan alam hanya menghasilkan konflik dan kemiskinan bagi sebuah negara. Kita tentu ingin membuktikan bahwa kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia dapat menyejahterakan rakyatnya. Sehingga, sila kelima dalam pancasila bukan lagi sebuah cita-cita, melainkan sebuah realitas dan keniscayaan bagi rakyat Indonesia.

*) Virdika Rizky Utama, Penulis dan Wartawan Majalah GATRA

Continue Reading

Milenia

Marlina dan Perlawanan Perempuan

mm

Published

on

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, film yang masih tayang di bioskop ini menghadirkan perempuan dan penindasan. Tokoh perempuan yang diceritakan dalam film ini merupakan sebuah upaya pembuat film dalam menyebarkan pesan keberanian. Film ini memuat semangat juang para perempuan yang akhirnya keluar dari penindasan yang mereka alami selama ini. Perempuan yang acap kali dicap sebagai sosok yang lemah berhasil dipatahkan lewat adegan demi adegan di film ini.

Marsha Timothy sukses memainkan karakter Marlina. Ini dibuktikan dengan penghargaan tingkat dunia yang berhasil ia gondol. Marlina digambarkan sebagai perempuan yang tidak cuma diam membisu saat dirinya diopresi oleh sekelompok laki-laki. Ia dengan gagah melawan perlakuan semena-mena dari para lelaki. Tidak mudah bagi Marlina untuk lepas dari cengkeram kuasa jahat para lelaki.

Marlina, seorang janda yang ditinggal mati suami dan anaknya harus rela rumahnya didatangi sekawanan pria. Gerombolan laki-laki itu menyatroni rumahnya dengan maksud mengambil hewan ternak kepunyaan Marlina sebagai pengganti hutang yang belum terbayar. Pada awalnya, Marlina menuruti permintaan demi permintaan para perampok dari mulai menyuruh dibuatkan minum, makan, hingga pasrah ketika sapi, babi, dan binatang lain miliknya digiring naik ke atas truk. Namun ia sangat cerdik rupanya. Ia telah membubuhi racun ke dalam makanan yang akan disajikan kepada para laki-laki tak tahu diri itu. Satu persatu para laki-laki itu tumbang dan tak berdaya dengan racun yang merasuki tubuh.

Tersisa tiga dari tujuh laki-laki yang belum meregang nyawa. Salah satunya Markus, pria berumur separuh abad ini merupakan yang tertua di antara rekan-rekan perampok. Markus tak sampai teracuni sup ayam buatan Marlina karena mangkuk supnya jatuh dan pecah. Peran pria uzur ini diperagakan oleh Egi Fedly. Nafsu birahi Markus tersalurkan dengan memperkosa Marlina. Sayangnya nasib malang tak dapat ditolak. Kepuasan Markus harus ditukar dengan hilang nyawanya. Marlina terus memberontak saat disetubuhi, hingga parang pun melayang menebas kepala Markus.

Perwujudan Perempuan yang Tampil Bertindak

Alur kisah dalam film ini pun berlanjut. Marlina yang mencari keadilan segera menuju ke kantor polisi. Kepala Markus yang sudah terpenggal ia tenteng ke mana-mana. Marlina tak gentar menuntut hukuman setimpal bagi para bandit yang masih hidup atas apa yang menimpa dirinya. Potongan tubuh Markus yang kadang kala membuntutinya pun tidak menyurutkan niat Marlina.

Marsha Timothy, Pemeran Utama Film “Marlina the Murderer in Four Acts”

Marlina sukses melampaui anggapan dari aliran feminism eksistensialis. Feminisme eksistensialis memandang perempuan sebagai jenis kelamin kedua atau the second sex yang mendefinisikan dirinya liyan. Sedangkan laki-laki melabeli dirinya sebagai Sang Diri. Ia ada untuk dirinya. Liyan bertugas melayani Sang Diri. Wanita disimbolkan sebagai objek yang dikuasi Diri atau subjeknya. Ada relasi kuasi superioritas dan inferioritas.

Marlina unggul pada tamatnya cerita, meski di permulaan sempat beradu dan tunduk sementara pada laki-laki. Penggiat feminism eksistensialis, Simone de Beauvoir menegaskan, dalam dunia patriarki, perempuan tidak bisa lepas dari jerat dunia laki-laki, perangkap ini merupakan tanda penguasaan laki-laki terhadap perempuan. Para bandit-bandit sepertinya menerapkan pemikiran itu.

Bentang alam Sumba menjadi latar perjalanan Marlina ke polsek terdekat dari rumahnya. Film ini juga menggambarkan betapa ketersediaan sarana transportasi masih jarang di Sumba. Untuk mendapat tumpangan bus truk, warga harus menanti selama satu jam. Begitu pula Marlina. Bahkan ia harus menyambung perjalanannya dengan menunggangi kuda.

Fakta tersebut sangat kontras dengan mudahnya akses komunikasi, yang ditunjukkan dengan adanya interaksi antar tokoh yang sedang berkomunikasi lewat telepon seluler. Film ini pun tak sepenuhnya menikam penonton dengan terus-menerus meneror lewat bayangan seram dan berdarah-darah. Kejadian-kejadian menggelitik mengundang tawa dimunculkan lewat dialog khas Sumba.

Lagi-lagi, pemahaman mengenai perempuan  punya kekuatan untuk menantang sekaligus menentang ketakberpihakan yang menimpa ingin ditularkan kepada penonton dari film ini. Tokoh Mama dan Novi turut mengokohkan film ini sebagai propaganda agar perempuan jangan mau diinjak nasibnya oleh laki-laki.

Mama di sini diperankan sebagai wanita yang tak menampakkan rasa takut sama sekali meski melihat Marlina membawa kepala Markus tanpa dibungkus kain. Berbeda dengan penumpang lelaki yang justru ketakutan dan berusaha menghindar dari Marlina. Mama juga memiliki andil besar dalam perkawinan keponakannya. Ia ditugasi untuk segera mengirim tambahan kuda sebagai semacam mahar bagi ponakan laki-lakinya yang akan menikahi seorang perempuan. Adegan ini merefleksikan bagaimana laki-laki seolah-olah bisa menebus perempuan dengan harta sebagai penggantinya.

Novi, teman Marlina ikut menambah gambaran betapa kuatnya perempuan Sumba. Novi yang tengah mengandung 10 bulan ikut membantu Marlina dalam mengatasi kisruh dengan para bandit laki-laki. Novi bahkan tanpa ragu-ragu memenggal kepala Frans yang memerkosa Marlina pada babak akhir. Kondisinya yang sedang hamil besar tidak menghalangi langkahnya dalam menghadapi ulah para lelaki yang semena-mena, termasuk Umbu, suaminya. Setiap detil percakapan atau laku dalam film ini benar-benar mencerminkan usaha untuk memberi panduan kepada masyarakat tentang bagaimana memandang perempuan dan laki-laki secara setara. Status janda, kemiskinan, kehamilan, harta, pernikahan, pemerkosaan, dan aparat hukum merupakan sedikit dari banyak hal yang coba ditonjolkan lewat film ini.

Kehamilan perempuan begitu diatur sedemikian rupa oleh konstruksi pikiran masyarakat. Novi menanggung akibat dari masyarakat yang terlalu menyetir urusan reproduksi perempuan itu. Suami Novi menyimpan rasa ketidakpercayaan kepada Novi yang konon hamil sungsang, tak kunjung melahirkan. Umbu termakan hasutan masyarakat dan orang lain, daripada memilih yakin dengan istrinya.

Novi menyepakati kepercayaan yang dipegang para penganut paham feminism radikal. Feminisme radikal libertarian berprinsip bahwa orang lain tidak perlu mencampuri urusan reproduksi perempuan. Seksualitas adalah ranah pribadi yang tak usah diganggu oleh omongan masyarakat. Dominasi atas lingkup privat berarti pelanggaran yang lebih luas dan berbahaya hingga ke wilayah publik. Novi tak mengambil pusing dengan desas-desus orang-orang mengenai kehamilannya yang tak kunjung lahir. Baginya, tubuh perempuan adalah milik perempuan itu sendiri. Perempuan bebas menentukan apapun yang berhubungan dengan raganya termasuk urusan reproduksi dan kesehatan.

Marlina terpaksa mendapat kesialan yakni diperkosa karena status jandanya. Markus bahkan berujar, Marlina akan menjadi perempuan paling beruntung karena akan tidur bergilir dengan para lelaki. Kehebatan Marlina pun terpapar, ia tidak diam dan sanggup menampik perkataan Markus. Menyandang status janda sangat riskan saat hidup di masyarakat. Apalagi diperparah dengan perkosaan yang dilakukan Markus dan Frans. Penderitaan Marlina sungguh bertumpuk.

Aparat hukum pun lemah dan tak kunjung menyelesaikan aduan pemerkosaan yang dilaporkan Marlina. Polisi justru sibuk bermain ping-pong. Aparat kepolisian malah mengutarakan berbagai alasan seperti tidak ada kendaraan operasional, dan ketiadaan fasilitas kesehatan saat Marlina membutuhkan penuntasan dan pengusutan kasusnya segera.

Apa yang disuguhkan dalam film ini menunjukkan sebuah kegagalan dari sistem patriarki dan dampak buruk dari dominasi laki-laki. Perempuan yang terkena masalah kekerasan seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, dan kekerasan dalam rumah tangga tampak dibiarkan saja. Perempuan dinilai pantas memeroleh itu semua dan tak berhak protes karena seperti itu garis hidupnya. Gejala yang mengkhawatirkan bagi kehidupan masyarakat apabila praktik penindasan diabaikan tanpa penyelesaian.

Film ini juga mengulas secara satir bagaimana sarana sanitasi masih minim di daerah pedalaman. Novi dan Marlina terlihat dalam secuil adegan tengah kencing di padang sabana. Mereka seakan lumrah dengan kebiasaan tersebut karena memang terbatas fasilitas.

Akting para artis dalam film ini sangat memukau dan berkesan. Diputarnya film ini, diharapkan bisa mengembalikan kejayaan dunia sineas Indonesia. Dan semoga opresi terhadap perempuan bisa terhenti. Baik perempuan dan laki-laki sama-sama menyadari kedudukan mereka setara, tidak ada yang tinggi atau rendah. (*)

 

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

Continue Reading

Buku

Melawan Klise, Menghampiri Kesegaran

mm

Published

on

Simon Dentith dalam bukunya tentang Bakhtinian Thought: Antroductory Reader (1995) mengatakan sebuah kamus adalah sebentuk makam bagi bahasa. Temuan Dentith ini sungguh mengejutkan, mengingat definisi kamus pada umumnya merupakan penanda (kata/frase/idiom) secara sangat general, terlepas dari konteks sosial saat penanda itu diungkapkan atau dipakai.

Dengan pemahaman tersebut berarti sebuah kamus malah seringkali menjadi sarana untuk meringkus dan membatasi makna suatu penanda, dan bukan justru dijadikan wadah atau penampung ketakterbatasan kemungkinan makna sebuah penanda dalam konteks-konteks sosial tertentu. Akibatnya, justru kamuslah yang menjadikan suatu (makna) bahasa menjadi terhimpit dan terbelenggu oleh serangkaian daftar istilah yang termaktub dalam sebuah kamus.

Namun, maklumat Dentith di atas nampaknya kurang tepat—untuk tidak mengatakan tidak berlaku—bagi Tesaurus Bahasa Indonesia yang disusun oleh Eko Endarmoko ini. Kamus bukannya menjadi makam bagi bahasa sebagaimana dikhawatirkan Dentith, tetapi justru kamus-kamus sinonim semacam ini memungkinkan bisa menjadi sarana yang amat penting bagi siapapun, khususnya mereka yang setiap hari bergulat dengan bahasa atau dunia tulis-menulis sebagai wahana untuk memperkaya dan menghidupkan (makna) bahasa.

Dalam dunia tulis-menulis sesungguhnya bukan sekedar menyusun kata, kalimat, paragraf lantas menjadi tulisan yang utuh. “Dalam menulis”, begitu kata Goenawan Mohamad dalam sampul belakang, “saya selalu ingin menghindari satu kata yang sama berulang dalam satu kalimat—bahkan kalau mungkin dalam satu paragraf. Bagi saya”,  begitu lanjut Mas Goen biasa disapa, “tiap karya tulis yang bersungguh-sungguh ibarat sebuah ukiran. Prosesnya memerlukan kreativitas dan ketekunan, inovasi terus-menerus, dan kemauan meneliti pelbagai anasir untuk memasukkan yang ‘baru’ itu”. Itulah dunia tulis-menulis. Ia membutuhkan kecergasan dan ketangkasan mengunyah kata-kata.

JUDUL : Tesaurus Bahasa Indonesia PENULIS : Eko Endarmoko PENERBIT : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta TAHUN TERBIT : Pertama, 2006 TEBAL : xxii + 715 halaman

Dalam bahasa Inggris, misalnya avontur dalam merangkai kata-kata semacam itu mungkin tidaklah terlalu sulit. Seorang penulis siap dibantu oleh “kamus” seperti Merriam-Webster’s Collegiate Thesaurus (1993), Collins English Thesaurus in A-Z Form (1993) atau The Concise Roget’s International Thesaurus (2003). Di sana kekayaan sinonim bahasa didaftar dengan begitu rapi dan tangkas.

Dalam bahasa Indonesia, paling tidak sudah ada dua kamus sinonim yang menjadi umum dikenal publik. Pertama, Kamus Sinonim Bahasa Indonesia (1988) karya Harimurti Kridalaksana. Kedua, Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia (2000) disusun oleh Nur Arifin Chaniago dkk. Namun, keduanya kurang begitu lengkap dalam menyusun lema atau entri, dan nampak cara penyajiannya pun belum sungguh-sungguh digarap secara sistematis.

Menjadi penting untuk disadari, seperti dalam bahasa lain juga, bahwa tidak ada kesamaan makna yang mutlak dalam bahasa Indonesia. Itu disebabkan oleh adanya perbedaan-perbedaan dialek regional (contoh: menurut dan manut), dialek sosial (contoh: kebatinan, mistik dan tasawuf), dialek temporal (contoh: abdi dan pelayan), nuansa makna (contoh: dongkol, geram, dan marah), serta perbedaan ragam bahasa (contoh: mampus dan meninggal). Semua perbedaan itu menegaskan bahwa makna kata senantiasa ditentukan atau terkait oleh konteksnya dalam kalimat (hlm. viii). Inilah satu kelebihan Tesaurus garapan Eko Endarmoko ini. Pembaca bisa leluasa memilih makna kata-kata yang sesuai bersama konteksnya.

Di samping itu, Tesaurus ini juga sungguh membantu bagi orang-orang yang setiap saat berjibaku dengan bahasa atau tulisan. Hal ini dimungkinkan untuk menghindari klise dalam penggunaan suatu kata, frase, dan idiom tertentu dalam satu kalimat atau sebuah ungkapan. Penggunaan sebuah kata, frase, atau idiom akan menjadi tumpul, kurang segar, dan nampak kehilangan makna, jika sudah amat sangat sering digunakan, sehingga tanpa disadari sebenarnya mereka sudah terjerembab dalam klise.

Bagi orang yang berhasrat membahasakan pikiran atau perasaannya dengan tepat, cermat atau elok dan santun, Tesaurus ini merupakan tambang emas kata yang sangat diperlukan. Buku inilah yang saya kira dinanti-nantikan oleh para penulis, penyair, pengajar, dan pelajar untuk memperagakan serta memperkaya bahasa Indonesia yang narum dan bernas. Sungguh kita dapat menimba dari karya Eko Endarmoko ini sebagai sebuah hasil dari ikhtiar yang patut dicatat sejarah.***

 

*)Ahmad Jauhari, Founder Jivaloka Cakra Pustaka; Mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending