Connect with us

Cerpen

Sekarang Aku, Besok Kamu

mm

Published

on

Dini hari, seorang lelaki terbangun, beranjak dari tempat tidurnya. Jemarinya merayap di permukaan meja. Pandangannya belum kembali normal seperti seharusnya. Matanya remang kunang-kunang. tapi keadaan segera membaik. Lelaki itu beringsut ke atas kursi. Kini ia duduk sempurna menghadap meja. Tangannya mantap menggenggam pena. Di sampingnya, secarik kertas tergeletak begitu saja. Seperti rela digagahi tinta-tinta.

*

Stasiun Gambir. Aku bukan orang bodoh. Jauh-jauh hari sebelum berangkat menuju Ibu kota, aku sudah melayangkan kabar kepada Adi, kawan lamaku di bangku sekolah menengah pertama yang lebih dulu mengadu nasib di Ibu kota. Adi menjemputku di stasiun dan untuk sementara, ia bersedia menampungku di tempat kosnya.
Jalanan padat, orang-orang di sini-sana, deru mesin kendaraan beradu dan wajah-wajah kelelahan setelah seharian bekerja keras adalah potret pemandangan setiap hari yang aku jumpai di Ibu kota. Di sini, manusia bagai mesin. Mereka bergerak dinamis hampir 24 jam non stop. Otak mereka dipenuhi hasrat-ambisi duniawi, wajah mereka lusuh tak bahagia, bahkan bibir mereka seakan berat untuk sekedar melempar senyum. Mereka menjadi budak dari pekerjaannya sendiri. Pola hidup orang Ibu kota juga sangat monoton dan jauh dari kesan menyenangkan. Bangun tidur – kerja – pulang kerja (malam) – tidur – bangun lagi, begitu seterusnya. Muak dan tentu saja kurang sentuhan seni.
Untunglah aku seorang bohemian. Hidup dari jalan ke jalan. Setiap kata adalah kelakar, setiap langkah adalah kemerdekaan. Tidak terikat aturan-aturan, tidak terjerat campur tangan berbagai hal yang memasung kebebasan. Hidup sehidup-hidupnya. Hidup semau-maunya. Bukankah sedari dulu kita mendamba-perjuangkan kemerdekaan? Maka berbahagialah mereka yang hidupnya benar-benar merdeka.

*

Waktu berlalu dengan cepat. Takdir tereksekusi dengan singkat. Kini aku bukan sekedar gelandangan biasa. Kawan-kawan se-pergelandangan menyebutku sebagai gelandangan profesional. Friend list-ku tidak melulu mereka yang mewarnai kehidupan jalanan. Mereka yang berdasi rapi dan menyebut diri sebagai politisi juga sedikit banyak mulai aku kenal. Beberapa di antara mereka bahkan tak jarang memintaku agar datang ke rumahnya untuk sekedar join kopi dan memperbincangkan hal-ihwal teraktual. Bahkan sesekali mereka juga tanpa merasa sungkan meminta pendapat dan pandanganku terkait langkah politis yang harus dilakukan.
Sebagai seniman –aku akhir-akhir ini sering disebut begitu– tentu saja aku mengagumi segala jenis keindahan. Aku jatuh cinta pada puisi, prosa, novel, syair-syair, aforisme, seni dan termasuk, tentu saja, lukisan. Jujur, honor dari berbagai tulisanku yang dimuat diberbagai media massa itulah yang membuatku tetap survive di tengah hedonisme Ibu kota.
Khusus lukisan, meski hingga hari ini aku belum dikaruniai kemampuan mumpuni, entah kenapa, aku tetap jatuh cinta. Padahal, umumnya seseorang akan membenci hal-hal yang tidak dikuasainya. Dalam berbagai kesempatan, aku sering kali mengajak Adi menyatroni pameran lukis. Terkadang aku heran kepada diriku sendiri. Percaya tidak percaya, setiap kali menatap sebuah lukisan, aku mampu menghabiskan waktu hampir satu jam. Ya, satu lukisan saja dan hanya mematung!

*

Aku seniman dan aku bukan orang bodoh. Enam tahun sudah peraduan nasibku di Ibu kota terlalui. Enam tahun bukan waktu yang singkat. Enam tahun mampu menciptakan banyak perubahan. Gubernur lama berwajah Jawa sudah naik pangkat menjadi Kepala Negara. Kursi yang ditinggalkannya diberikan cuma-cuma kepada seorang lelaki berwajah Cina. Enam tahun juga sanggup merubah nasib dan gaya hidupku di Ibu kota.
Aku memang ditakdirkan menjalani kehidupan yang progresif. Setiap tahun, Tuhan selalu menaikkan grade kesejahteraan hidupku. Dari gelandangan biasa menjadi gelandangan profesional, dari seniman ala kadarnya menjadi seniman paling bertalenta. Aku adalah salah satu anugerah terbesar yang Tuhan karuniakan dalam dunia seni –begitu kata seorang profesor dalam sebuah kolom di koran lokal. Pujian yang berlebihan? Aku rasa tidak. Aku sebenarnya tidak suka menyombongkan diri, tapi aku lebih tidak suka lagi jika harus menutup-sembunyikan fakta yang sebenarnya. Begini, harap diketahui, hampir setiap hari karya tulisku bisa kalian jumpai di berbagai macam surat kabar ternama. Tulisan-tulisanku selalu dinanti. Karya tulisku adalah sumbangsih intelektual penting bagi peradaban bangsa ini. Puisi-puisiku digandrungi berbagai kalangan. Namaku dibicarakan di mana-mana. Dan kau masih menganggap pujian itu berlebihan? Aku tidak suka menyombongkan diri, tapi kali ini aku harus memaksamu berkata tidak.
Aku bukan orang bodoh. Aku tidak mungkin bertahan hidup dari honor tulisan-tulisanku. Bagi seorang seniman besar sekaliber diriku, bergantung hidup kepada tulisan adalah bentuk pengkhianatan terhadap karya tulis itu sendiri. Kalau kalian masih mengharapkan pamrih atas tulisan yang terpublikasikan, itu tandanya kalian belum benar-benar mencintai tulisan. Tulisan-tulisanmu masih diback-up hasrat materialis menggebu. Tulisanmu tidak ditulis dengan tulus. Tulisanmu hampa tak bernyawa. Tidak ada ruh di dalamnya. Tulisanmu cacat!
Maka kuputuskan untuk menggeluti dunia bisnis. Aku menyuntikkan investasi di sana-sini. Lain itu, aku juga seorang pengusaha ayam berpenghasilan ratusan juta per bulan. Sederhananya, aku sudah sangat sehat secara finansial meski usiaku masih sangat muda.
O, iya. Aku hampir lupa menceritakan sobat karibku, Adi. Empat tahun lalu, Adi putus kerja sebagai tukang ojek. Ia lebih memilih mengadu nasib di tanah rantau, di negeri orang, di Arab sana. Adi kini berprofesi sebagai Tenaga Kerja Indonesia alias TKI. Menjelang hari-hari terakhirnya di Indonesia, kami banyak menghabiskan waktu bersama. Kusingkirkan dulu rutinitas bohemianku demi menemani saat-saat terakhirnya menghirup udara Indonesia, sebelum nantinya ia pergi meninggalkan Ibu pertiwi. Bahkan akulah orang satu-satunya yang melepas kepergian Adi di bandara. Aku masih ingat betul nasihat Adi sesaat sebelum ia berangkat. “Jangan lupa Tuhan, Dre.”
Adi tipikal seseorang yang musti kalian jadikan sebagai sahabat begitu kalian mengenalnya. Tidak hanya religius, Adi juga sangat loyal dan terkadang jenius. Aku mengenal banyak orang dengan latar belakang bermacam rupa. Dan, dari sekian banyak orang yang kukenal, hanya Adi-lah satu-satunya orang yang masih sudi merangkul dan memapah langkahku saat aku terpuruk. Adi juga motivator ulung. Kata-katanya api, membakar. Di saat orang lain menjelma fatamorgana, Adi mengulurkan tangan dengan tulus dan nyata. Itulah mengapa sebabnya aku tetap respek dan segan terhadap Adi meski profesinya tak lebih dari sekedar tukang ojek online belaka. Hingga hari ini-pun, empat tahun setelah kepergiannya, aku tetap menghormati Adi. Aku sadar sepenuhnya, dalam kesuksesan yang aku rasakan, ada banyak sentuhan tangan Adi berperan.

*

Aku bukan orang bodoh. Tapi aku bukan orang baik. Sebagaimana seniman berlatar belakang bohemian lainnya, aku tidak begitu mengindahkan aturan-aturan. Sebab aku merdeka. Sebab aku memiliki kuasa penuh terhadap kendali hidupku. Aku bebas, lepas dan tidak mengenal batas-batas. Meski agama melarang mengkonsumsi minuman beralkohol -dan aku mengetahuinya- mejaku selalu dipenuhi bir berbotol-botol. Aku juga kerap mengunjungi nite club dan tak jarang berakhir di kamar hotel, dengan seorang wanita tentunya.
Selama tidak ada yang tersakiti dan dirugikan, menurutku sah-sah saja berkencan dengan wanita-wanita penghibur itu. Aku memperoleh pelayanan dari mereka dan hasrat biologisku tertunaikan. Sebagai gantinya, selain dapat menyalurkan hasrat biologis, mereka bahkan juga mendapatkan ‘ongkos’ servis. Aku sudah memberi nafkah terhadap mereka dan keluarganya. Aku sudah menyediakan lapangan pekerjaan bagi mereka. Aku sudah menjadi warga negara yang baik dengan berperan aktif dan langsung dalam mengentaskan kemiskinan. Dan tentu saja mereka bahagia. Bukankah membahagiakan orang lain adalah puncak kebahagiaan tertinggi? Lantas, di mana letak kesalahannya? Persetan dengan halal-haram. Aku tidak peduli selama itu tetap memanusiakan manusia.

*

Meskipun Adi tidak lagi tinggal di Ibu kota, aku tetap merawat hubungan baik dengannya. Kami tetap menjalin komunikasi seperti biasanya. Kecanggihan tekhnologi memudahkan kami bertukar sapa. Semua jadi dekat dan terjangkau. Rasanya seperti Adi tak pergi ke mana-mana saja.
Aku sering bercerita berbagai hal dengan Adi. Mulai kabar politik dalam Negeri, bisnis-bisnisku, hingga gaya hidup dan rutinitasku di dunia remang-remang. Aku tidak pernah menutup-nutupi. Aku terbuka. Aku telanjang. Dan seperti biasanya, Adi tanpa pernah bosan terus menasihatiku agar aku menjauhi perbuatan-perbuatan yang ia sebut tak beretika itu. Sebenarnya aku punya banyak argumen untuk berdebat dan menyangkal nasihat-nasihat Adi, tapi seperti yang pernah kukatakan, aku masih menaruh respek terhadap Adi. Aku tidak ingin persahabatan yang sudah terjalin bertahun-tahun ini rusak begitu saja hanya gara-gara perbedaan persepsi. Aku tidak pernah tega menentang nasihat Adi, meskipun aku juga tidak pernah mengindahkannya. Jadilah nasihat-nasihat itu masuk telinga kanan dan segera keluar dari telinga kiri. Hanya lewat.

*

Pagi ini aku mengucap syukur dua kali kepada Tuhan atas nikmat ganda yang dikirimNya. Setelah sekian lama gonta-ganti rumah kontrakan dan menjalani kehidupan ala nomaden, hari ini akhirnya aku menempati rumah pribadiku yang belum lama kubeli. Yang kedua, pagi-pagi sekali, via media elektronik, Adi mengabarkan kepulangannya ke Indonesia. Sayang, saat kubujuk untuk mampir di Ibu kota, Adi menolak. Ia langsung menuju kampung. Katanya sudah rindu emak.
“Salam… Adi, apa kabar? Sehat, kan?” Aku menelepon Adi sesaat setelah ia memberi kabar bahwa pesawatnya sudah mendarat di Tanah Air.
“Salam… Alhamdulillah, Dre. Aku sehat. Sehat sekali malah. Kamu sendiri punya kabar seperti apa? Wah, tampaknya si bohemian sudah menjelma menjadi jutawan Ibu kota, nih,” Adi terkekeh.
“Haha, bisa aja kamu, Di. Jangan lupa doanya aja lah. Biar temanmu ini bisa jadi orang bener di Ibu kota. Kabar baik semua.”
“O.. pasti itu. Tentu saja. Jadi nempatin rumah baru hari ini, Dre?”
“Iya, Di. Jadi hari ini. Mungkin nanti agak siangan aku ke rumah. Ini perabot juga sudah sebagian dipindahin ke sana. Ayolah ke Ibu kota. Main-main ke rumah baru. Sekalian kita bikin acara syukuran kecil-kecilan.”
“Oh gitu.. iya, iya. Sebenarnya aku juga pengen mampir dulu di Ibu kota. Ingin nyobain sofa empuk jutawan Ibu kota. Tapi ya gimana lagi, Dre, ini si emak udah kepalang rindu dengan anak lakinya yang tak pulang-pulang. Udah kayak bang Toyib saja aku ini. Hehe…”
“Haha… Iya gak masalah, Di. Kapan-kapan lah kamu main ke sini. Salam buat emak di kampung.”
“Ok. Gampang, bisa diagendakan. O iya, Dre, aku punya sesuatu buat kamu.”
“Sesuatu apa ini? Special something-kah?”
“Barang remeh aja sih. Tapi ya cocok lah buat dipajang di ruang tamu rumah jutawan.”
“Hahaha. Pasti lukisan! Ya kan? Kamu memang sahabat yang paling tahu seleraku, Di. Terima kasih lho.”
“Oke lah. Nanti barangnya biar aku kirim lewat jasa pengiriman aja. Mungkin tiga hari lagi sampai di rumahmu.”
“Siap, bos. Laporan diterima. Hehe.”
“Udah dulu, Dre. Sampai ketemu lain waktu. Salam…”
“Salam…,” panggilan terputus.

*

Tepat tiga hari kemudian, ‘barang remeh’ dari Adi sampai ke tanganku. Tadi malam Adi berpesan untuk tidak membukanya lebih dulu. Dalam instruksinya via SMS, Adi mengatakan, “Bukanya nanti saja setelah kamu gantungkan di dinding. Kalau bisa dibuka saat kamu lupa Tuhan.”
Aku tersenyum kecil membaca SMS dari Adi. Aku tahu sekali selera humor Adi yang suka mendramatisir hal-hal kecil seperti itu. Namun saran Adi untuk tidak membuka barang itu terlebih dahulu tetap aku patuhi. Lagipula aku cukup lelah untuk memasangnya sekarang. Alhasil barang itu kubiarkan saja tergeletak di atas sofa ruang tamu depan.
Rupanya Tuhan masih enggan menyetop kucuran rezekiku. Sore itu, uang ratusan juta masuk ke rekeningku. Bisnis salah seorang rekan yang usahanya aku modali sedang panen besar. Demi mengungkapkan rasa syukur bertubi-tubi ini, aku mentraktir beberapa kolega bisnis dan menghabiskan sepanjang malam di nite club. Sembari kuniati syukuran rumah, aku party.
Malam itu aku mabuk berat. Entah sudah berapa botol bir yang aku tenggak. Bourbon, gin, vodka, dan rum berbotol-botol memenuhi tubuhku. Mataku seperti rabun. Pandanganku tiba-tiba kabur. Dengan langkah sempoyongan, aku meninggalkan nite club. Untungnya aku tidak sendiri. Aku dipapah Lolita, gadis penghibur yang bersedia menemaniku malam ini. Lolita juga yang mengendarai mobilku sampai rumah.
“Mas Andre, bangun. Sudah sampai…” Segera kukenali pemilik suara halus mendesah ini. Betul, itu suara Lolita.
“Ah, kita sudah sampai rumah ya…” Aku bangkit. Perlahan, pengelihatanku beranjak normal.
“Mas, Lolita mandi dulu yah. Biar seger…” Lolita tersenyum nakal. Aku membalas dengan anggukan kecil.
Sembari menanti Lolita mandi, aku merebahkan tubuh di sofa. Agh! Kepalaku membentur sesuatu. O, ternyata barang kiriman Adi.
Dengan pikiran yang masih belum seutuhnya normal, aku bangkit dari sofa. Pikirku, Lolita pasti lama sekali mandinya. Tidak ada salahnya kalau aku memasang hadiah dari Adi terlebih dahulu.
Sebenarnya tadi pagi aku sudah mengukur panjang lebar lukisan itu. Jadi tugasku malam ini tidak berat. Hanya menggantungkan lukisan itu di tempatnya saja. Finishing touch.
“Sreek…” Aku membuka kertas yang menutupi lukisan.
“Blaaaar!”
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku mendadak bisu tanpa mampu berkata-kata. Alih-alih berbicara, mulutku justru gemetaran. Dan, pasca sepersekian detik, gemetar di mulutku menjalar cepat ke seluruh tubuh. Sendi-sendi tubuhku rontok satu per satu. Darahku seperti cuti mengalir. Jantungku seperti lupa cara berdetak. Tubuhku menggigil hebat. Aku seperti tersambar petir. Tak ada daya, yang tersisa hanya getir.
Aku keliru. Barang itu ternyata bukan sebuah lukisan seperti yang aku kira. Ia lebih mirip sebuah foto ketimbang lukisan.
Foto itu menyuguhkan potret pedesaan yang asri. Tampak sebuah gunung mengakar kokoh dengan balutan awan-awan tipis di sekitarnya. Hijau sawah terhampar luas hingga ke cakrawala. Jalanan kecil bebatuan non aspal khas pedesaan membelah sawah tepat di tengah-tengah.
Potret yang menyambarkan petir ke tubuhku adalah sesuatu di atas jalanan kecil itu: terlihat puluhan orang dengan ekspresi muka beragam. Ada yang menangis tersedu, ada yang mengernyitkan dahi yang dipenuhi peluh, ada yang menghujamkan pandangan ke bumi, ada yang tampak seperti melafalkan sesuatu dengan setengah teriak dan ada juga yang tampak polos dan tak bergairah. Pandangannya kosong. Orang-orang itu memikul keranda mayat, lengkap dengan kain hijau penutupnya yang khas. Foto kiriman Adi adalah potret prosesi pemakaman.
Mendadak bayangan tindakan-tindakan tak terpuji yang pernah kulakukan melintas di langit-langit, satu per satu. Pesta bir, kencan gelap dengan Lisa, cumbu nafsu dengan Nanda, tidur berdua dengan Lolita….
Kemudian terdengar olehku suara tanpa rupa, “Aku Izrail pencabut nyawa. Aku ditugaskan untuk memisahkan suami dari istrinya. Aku ditugaskan untuk memutus hubungan ibu dan anak-anaknya. Aku ditugaskan untuk melerai manusia dengan segala hal yang dicintainya semasa hidup di dunia. Aku Izrail pencabut nyawa, yang akan mencerabut otot-otot manusia sebagaimana mereka mencabuti rumput liar yang tumbuh di pekarangan rumahnya. Aku Izrail pencabut nyawa, yang memisahkan ruh dan raga manusia dengan tega sebagaimana mereka mengkuliti kambing dan sapi dengan paksa. Aku Izrail pencabut nyawa yang ditugaskan Tuhan untuk menjemputmu, Andre.”
Aku bukan orang bodoh. Tapi waktu itu, aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.
Dengan sisa-sisa energi yang ada, aku menyeret tubuhku ke dalam kamar. Aku tergeletak lemas dengan tubuh menggigil dahsyat. Samar-samar, kulihat Lolita berdiri di hadapanku tanpa sehelai benang-pun di tubuhnya.
“Mas Andre…” Lolita menggelayutkan lengannya dengan manja di bahuku dan segera mendaratkan ciuman bergairah di sekitar tengkuk leherku.
Demi Tuhan! Aku sudah tidak bernafsu lagi meniduri Lolita malam itu. Meski Lolita terus menerus memberi rangsangan liar, secuilpun aku tidak terangsang sama sekali. Sebab bayangan keranda mayat itu terus menerus mengusik pikiranku.
“Pergi Lolita! Pergi, pulang sana!” Lolita tampak kebingungan dengan hardikanku yang menyuruhnya pergi. Namun setelah aku melemparkan segepok uang kepadanya, ia akhirnya pergi begitu saja.
Lalu yang tersisa hanya bayangan keranda, keranda dan keranda, sebelum tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

____________________

Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari saat lelaki itu menyudahi tulisannya. Ia beranjak dari kursi-mejanya dan keluar meninggalkan kamar.
Di ruang tamu depan, lelaki itu mematung menatap sebuah foto yang terbingkai megah seperti sebuah lukisan. Lelaki itu terbelalak, seperti ada sesuatu yang telat ia sadari. Ada secarik kertas di sudut kiri-bawah foto. Lelaki itu menyambarnya dengan tergesa.
“Andre, setiap kita pasti akan mati. Entah kapan terjadinya, kita tak pernah tahu dan akan terus seperti itu. Sebab ia memang misteri ilahi yang tiada seorang makhluk-pun mengetahui kapan datangnya. Ingatlah bahwa meski kita tidak bisa memilih untuk kelahiran kita, dilahirkan dalam keadaan seperti apa, dari rahim ibu yang mana, dari ayah yang bagaimana, namun Tuhan masih memberi kita pilihan untuk mati dalam keadaan seperti apa. Hidup adalah tentang pilihan kita untuk mati dengan bagaimana. Kalau ingin mati dalam keadaan baik, hiduplah dengan baik. Kalau ingin mati dalam keadaan tercela, hiduplah semau-maunya. Setiap jenazah yang terbujur di dalam keranda seolah berpesan kepada orang-orang yang masih hidup, calon penumpang keranda selanjutnya: ‘Sekarang aku, besok kamu’. Selagi Izrail belum menyapa, masih ada waktu untuk memperbaiki segalanya. Cukuplah kematian itu sebagai nasehat yang paling baik. Aku tahu kamu masih bisa. Dari sahabatmu, Adi, yang kelak juga akan mati.”
Lelaki itu membaca tulisan di secarik kertas dengan bibir bergetar. Air matanya tanpa diperintah luruh begitu saja, membasahi kedua pipinya. “Terima kasih, Di. Terima kasih.”
Lelaki itu bukan orang bodoh. Dan ia tahu harus berbuat apa. (*)
*Muhammad Imdad, lahir di Banyuwangi, 06 Juni 1992. Blogger di midadwathief@blogspot.co.id. Santri di Pondok Pesantren Alfalah Ploso Kediri, PP. Darus Sholah Jember dan PP. Bustanul Makmur Banyuwangi. Sekarang tinggal di Depok.

 

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Di Antara

mm

Published

on


Galeh Pramudianto lahir tahun 1993. Bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) diterjemahkan ke bahasa Inggris lewat beasiswa Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020.

Karena kamu telah memutuskan untuk memainkan gim ini, maka kamu harus memilih: 1) menjadi tidak terlihat atau 2) bisa membaca pikiran seseorang dari masa kelahiran hingga berakhir di liang lahat? Kamu harus memilih satu. Jika kamu mengabaikan perintah ini maka permainan tidak bisa berlanjut dan hanya bertahan di pilihan menu—sembari menatap karakter yang terus bergerak ke sana ke mari dalam hamparan bit di layar.

Kamu memutuskan untuk memiliki kemampuan membaca pikiran. Kamu memilih itu karena kamu fobia dengan kesepian dan kesendirian. Kalau kamu mendaratkan pada pilihan pertama maka kamu akan stres. Sementara di pilihan kedua nampaknya kamu lebih rileks karena ramai pergumulan dan arus kesadaran di lalu lintas pikiran orang-orang.

Kamu awalnya tidak menyangka dengan ini semua. Gim video di zaman sekarang ternyata bisa begitu ekstrem polahnya. Kamu membeli gim tersebut karena penasaran dengan ragam fitur yang diperbincangkan di forum-forum terjauh, terpinggir dan tergelap di belantara maya. Kamu ingin lari dari kenyataan yang berantakan ini dan menemukan ekstase dan fantasi yang lain di petualangan virtual.

Dan ekstase serta fantasi itu ternyata mewujud nyata. Tuas kendali atau stik yang kamu genggam bergetar hebat. Layar tiba-tiba mati dan gelap. Pandanganmu memudar dan semua nampak buram. Televisi di ruang tengah itu bergoyang-goyang lalu terlepas dari etalase dan menyusut ke dalam lubang matamu.

Seketika itu dunia yang kamu tinggali tak lagi sama. Ketika kamu mampu membaca pikiran orang awalnya kamu nampak baik-baik saja. Tapi ternyata kamu lupa bahwa kamu memiliki masalah dengan penghakiman dan perundungan yang dilakukan orang-orang. Dan itu semakin bekerja dengan baik tatkala kamu mendapati seseorang di hadapanmu, di suatu entah di mana, sekarang dapat membaca pikiranmu.

Kamu ingin berteriak dan menghajar orang-orang yang merundungmu lewat pikirannya. Kamu sudah tidak tahan dengan itu semua. Kamu ingin segera mengambil batu yang ada di sebelah kiri lalu menghantamnya ke kepala si lelaki ini. Ketika kamu memutarbalikan badan dan hendak membungkuk, kamu mendengar ucapan yang tak kamu kira sebelumnya. Ucapan itu tak terdengar lewat bising suara, tetapi berdengung di membran tempani dan berputar-putar terus seperti pita kaset rusak.

“Jangan lakukan! Kita sama-sama memiliki kemampuan ini. Aku ingin menghilangkan Bakat Besar yang mengganggu mentalku ini. Tapi aku tak tahu caranya. Tolong!” ia berbicara denganmu tanpa mengeluarkan suara.

“Maksudmu Bakat Besar?” kamu terheran dengannya.

“Aku telah memiliki kemampuan membaca pikiran ini sejak masih kanak-kanak. Ayahku membelikan gim video itu saat dunia pernah mengalami pagebluk yang terjadi 20 tahun silam. Tahun di mana seharusnya perhelatan sepak bola termegah di Eropa dan Olimpiade terjadi. Ayahku membelikan itu maksudnya agar aku ada hiburan dan tidak stres ketika terlalu lama belajar di rumah. Setelah aku memilih karakter dan kemampuan khusus yang bernama Bakat Besar laknat itu.”

“Jadi kamu berasal dari dua dekade yang lalu?” kamu coba mengingat-ingat masa lalu yang sempat membuatmu ingin mengakhiri hidup.

Apa maksudmu?” ia bertanya keheranan.

“Ketika aku memainkan gim video itu, usiaku sekitar 40 tahun dan tubuhku gampang sakit-sakitan. Tapi sekarang aku merasa lebih bugar dan muda. Aku tak tahu, apa itu hanya efek placebo dari gim ini.” kamu menjelaskan.

“Heh, aku bilang kamu bukan berada di gim lagi! Kamu sudah masuk di dunia baru. Jadi, tubuh dan jiwamu masih tetap ada di dunia sebelumnya, di Bumi atau apalah itu. Tapi setelah itu ia membelah dirinya sendiri dan ada replika dirimu di dunia Antara.” ia menerangkan dengan menggerak-gerakkan bahumu, berusaha meyakinkan.

“Maksudmu di dunia Antara?” kamu menjadi bingung.

“Betul. Orang-orang otomatis akan menggandakan diri dari dunia nyata atau fisik atau apalah itu namanya dan berpindah ke semesta baru yang dinamakan dunia Antara. Maaf maksudku bukan berpindah, tapi ada paralel yang berjalan bersamaan.”

“Jadi, aku yang saat itu berusia 40 tahunan masih hidup? Dan aku yang saat ini lebih muda menjalankan hidup di sini? Di dunia gim video ini?” kamu mencoba mencerna itu semua.

“Kira-kira, begitulah.”

Kamu semakin sadar bahwa sekarang semakin banyak pengguna gim video tersebut di dunia ini. Impian dan harapanmu akan dunia yang lebih baik telah sirna. Impian yang berbasis eskapisme semata ternyata malah menelanmu mentah-mentah. Dirimu masuk ke semesta bernama Antara dan terciptalah Bakat Besar itu. Kamu masih berusaha mengulik ini semua: dunia yang baru, ketika batas kesadaran, realitas dan fantasi telah memudar.

Dunia yang kamu harapkan hanya ada di gim video dan malah membuatmu menjadi cemas karena banyak yang memiliki kemampuan seperti awal kisah ini dimulai: menjadi tidak terlihat atau 2) bisa membaca pikiran seseorang dari masa kelahiran hingga berakhir di liang lahat? Kamu sekarang bingung antara bahagia atau tidak dengan usiamu yang lebih muda 20 tahun ini. Tapi setidaknya, kamu bisa memberi tahu kepadanya dan orang-orang yang memiliki privilese di pemerintahan. Kalau 20 tahun setelah pagebluk itu usai, dunia harus bersiap-siap untuk 20 tahun berikutnya. (*)

Continue Reading

Cerpen

Sakit

mm

Published

on

The-Sick-Child-Marc-Aurele-de-Foy-Suzor-Cote-Oil-Painting


Mycel Pancho—Penikmat kopi pahit. Sudah satu dekade menjadi pekerja teks komersial. Lahir di Jakarta, bertumbuh dewasa di Pulau Dewata dan kembali di ibu kota untuk menjadi tua. Sejak sekolah, pecinta teater ini gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Satu puisinya pernah terbit dalam buku antologi puisi Tentang Angin (2007), produksi Teater Angin SMA 1 Denpasar.

Aku sakit. Sakitnya sudah lama. Akhirnya terbaring di rumah sakit sejak hari ini. Gejala sakitnya aneh. Tidak ada demam, tidak ada batuk apalagi pilek. Pusing tak ada, apalagi sakit kepala. Tapi anehnya, seluruh sendi dan tulangku ngilu. Sakitnya seperti sedang terserang demam menahun. Ngilunya persis seperti cucian diperas berulang-ulang. Kadang telapak kaki dan tangan rasanya seperti ditusuk jarum pentul yang biasa nenek gunakan untuk merapikan seprai ranjang tuannya.

Selain itu, sewaktu-waktu kepalaku juga kliyengan. Rasanya limbung mau jatuh terus. Tapi tidak pusing, tidak sakit kepala. Rasanya hanya berputar terus seperti bianglala yang kebanyakan tamu di akhir pekan. Rasanya juga seperti ditarik kanan kiri tak pakai berhenti.

Pagi ini aku ke rumah sakit bersama ibuku. Setelah dokter sibuk memegang dahiku, mendengar detak jantung dan suara paru-paruku lewat stetoskopnya, mengetuk-ngetuk lututku dengan palu kecil dan menggosok telapak-telapakku dengan tongkat besi. Dokter itu berpikir keras. Ia membuka buku-buku kedokteran dan membolak-balik catatan kesehatanku. Secara tiba-tiba, dokter itu bilang …

“Kamu harus opname hari ini. Nanti kita observasi. Ada asuransi tidak?”

“Ada, Dok. Memang saya sakit apa, Dok?

“Masih belum jelas, makanya kita perlu observasi dulu selama beberapa hari ini”.

Jadilah aku berada di kamar kelas tiga ini. Aku tidur di bangsal paling ujung dekat jendela. Aku tidur dalam satu ruangan dengan lima pesakitan lainnya. Aku tidak sempat sensus siapa saja yang dirawat bersamaku dan sakit apa saja mereka. Kukira besok juga saat bibiku datang, hal itu pasti bisa langsung kuketahui darinya yang bercita-cita jadi ibu RT.

Belum satu hari aku dirawat di rumah sakit, sanak saudara dari ibuku sudah tiba. Mulut cerewetnya sudah pasti ikut serta. Belum apa-apa sudah berkomentar dan memberi diagnosa, lagak macam dokter kelas dunia saja. Mulai pun belum observasiku di rumah sakit itu, sanak saudara sudah bisa beri hasil.

Bibi bilang aku sakit ringan. Paling hanya kolesterol naik. Cukup masuk akal kalau aku ingat-ingat lagi apa saja yang sering kumasukkan ke dalam mulut dan lanjut ke perut. Tak heran juga itu terjadi karena udang rebus kemerahan memang salah satu favoritku sejak anak-anak. Apalagi daging merah adalah idolaku selama tiga tahun belakangannya ini. Semua yang merah lah pokoknya aku suka.

Belum selesai soal kolestrol, suami bibiku menyergah dan berkomentar. Katanya aku mungkin juga kena gula. Diabetes memang ada dalam garis darah keluarga kami. Apalagi, kakekku yang luar biasa sakti dan kuat itu akhirnya malah mati karena gula darahnya naik dalam dua tahun terakhir sebelum dia lepas usia. Tapi aku langsung bilang tidak tidak tidak padanya. Aku yakin aku tidak diabetes karena aku tidak suka manis. Satu-satunya manis yang bisa kusukai hanya wajahmu dan senyumanmu saja.

Aku sakit. Malam ini malam pertama aku menjalani waktu tidur di ranjang rumah sakit. Aku ingin tidur tapi sulit karena keberisikan. Berisik suara tetesan infus, suara AC, suara pasien sebelah yang mengorok, suara pasien di ranjang seberang yang susah nafas, suara pasien di dekat pintu yang kentut melulu, suara suster bolak balik mengecek pasien, suara ibuku yang terus bergerak karena sakit tidur di kursi, sampai suara di kepalaku yang terus memikirkan dan merindukan kamu.

Hari ini teman-teman ibu membesukku. Mereka datang bergerombolan sambil ketawa-ketiwi layaknya orang akan pergi piknik ke pantai. Pakaian mereka pun luar biasa cantik seperti mau peragaan busana. Beberapa ada yang membawa makanan banyak sekali, kurasa mungkin ada yang sungguhan sekalian membawa tikar.

Aku sakit dan teman-teman ibuku ini berkicau tak berhenti soal mistis. Melihat kondisiku, mereka malah cerita soal kawan mereka yang terkena ilmu hitam. Mereka bilang ada temannya yang salah ucap di suatu tempat ke seseorang, besoknya sakit tak jelas, masuk rumah sakit dan tak lama mati. Ada lagi yang cerita bahwa kenalannya tak sengaja melangkahi tangga yang ternyata ada setannya. Seketika orang itu jatuh, kakinya patah dan tidak sembuh sampai setengah usianya lewat.

“Bener lho, Dik. Teman saya sakit nggak jelas kenapa dan tidak sembuh-sembuh. Sudah berobat sana-sini, akhirnya bisa hidup tenang setelah berobat ke orang pintar. Coba saja, Dik. Daripada buang uang di rumah sakit tapi ndak sehat-sehat. Ke orang pintar cuma bayar seikhlasnya, Dik. Dijamin langsung bisa hidup tenang!”

Orang pintar katanya.. Magis katanya. Apa iya aku bisa percaya dengan yang seperti itu saat ini? Orang pintar yang kukenal hanya kamu. Magis yang kupercaya hanya berupa pesonamu yang membuatku tidak bisa tidak melayang kalau sedang kamu pandang.

Lagi pula, jika kuingat-ingat, beberapa waktu belakangan aku tidak pernah salah ucap ke orang lain, apalagi melangkahi tangga. Aku juga tidak suka berbuat aneh-aneh di tempat asing karena keluar rumah pun aku jarang sekali. Kecuali untuk menjumpai kamu.

Hari ini adalah hari ke dua ratus aku di rumah sakit. Asuransiku sudah menyerah menanggung biaya sejak hari ke tiga puluh. Orang tuaku sudah kehabisan barang untuk dijual. Aku pun tak punya aset macam-macam lain yang bisa kugadaikan untuk bayar rumah sakit. Kami semua makin pucat, aku makin sakit. Sementara dokter dan perawat di rumah sakit, cuma mereka yang wajahnya semakin berseri-seri.

Sudah hampir 365 hari aku di rumah sakit, hasil observasi tidak juga keluar. Aku masih saja sakit sendi dan sakit tulang. Sakit yang membuatku tidak bisa pulang. Sakit yang membuat tagihan rumah sakit gendut, sementara rekeningku ikut mengkerut. Sakit yang membuatku ingin kamu datang.

Hari itu akhirnya kamu datang. Kamu datang setelah satu tahun pergi entah untuk menemukan apa. Kamu datang dengan senyumanmu yang selalu kumimpikan setiap malam. Kamu datang dengan kelembutan tanganmu yang dulu mengusapku setiap hari. Kamu datang dengan kehangatan pelukanmu yang dulu membalutku setiap beberapa jam sekali.

Kamu datang, melepas infusku. Saat itu juga aku pulang karena sakitku hilang.

Dan semua dokter di rumah sakit itu..

“Ternyata hanya rindu.. Dasar, bikin kerjaan orang saja”.

Continue Reading

Cerpen

Pencarian

mm

Published

on

Setibanya di rumah, Thaleb tak menemukan kedua anak dan istrinya. Bumi terus berguncang dengan hebatnya. Beton-beton retak dan rubuh, pohon kelapa berayun-ayun ke kiri dan kanan, semua orang memadati jalanan dan berteriak histeris. Ia terus mencari istri dan kedua anaknya. Ia lihat ke belakang rumah, istrinya tidak ada di sana. Thaleb terus memanggil-manggil mereka, tapi tak ada yang menjawab. Ia pun keluar dari rumah, berdiri terpaku di jalannan. Ia melihat ke kiri dan kanan, orang-orang berlari kocar-kacir dan kalimat suci terus terucap lewat mulut mereka.

Tiba-tiba seorang tetangga melintas di hadapannya.

“Uneng, lihat istri dan anakku?” tanya Thaleb pada perempuan tua itu.

“Tadi istrimu membawa anakmu lari pakai sepeda motor,” jawab orang itu. “Menuju arah kota.”

Tanpa pikir panjang, Thaleb pun menyetop seseorang pengendara motor.

“Bang! Bang!” Thaleb menghadangi jalannya. “Boleh aku numpang ke kota?”

“Naiklah!” jawab si pengendara motor.

Thaleb pun langsung naik, dan motor berlalu menuju kota. Di jalanan, banyak anak-anak menangis ketakutan. Bumi terus berguncang tak henti-hentinya. Motor melaju cepat seolah tak mempedulikan guncangan itu.

Setibanya di jalan raya, banyak motor, becak dan mobil mamadati jalan raya, melaju tak tentu arah, sampai-sampai ada yang tertabrak. Suara tangisan anak-anak masih terdengar memadati kuping Thaleb. Ia terus melihat kiri dan kanan, mencari anak dan istrinya. Tiba-tiba motor yang ditumpanginya menabrak sebuah becak yang melaju melawan arah. Mereka pun jatuh.

Lalu ia lihat orang-orang yang ada di dalam becak, kira-kira ada delapan orang, Thaleb langsung menyadari kedua anaknya ada di antara meraka. Ia pun langsung bangun dan menghampiri becak itu. Ternyata yang membawa becak adalah Wak Kasem, orang kampungnya sendiri.

“Ibu di mana?” tanya Thaleb pada kedua anaknya.

“Istrimu tadi tertabrak di jalan raya sana,” jawab Wak Kasem sambil menunjuk tempat istri Thaleb tertabrak. “Tadi istrimu menyuruhku membawa kedua anakmu pergi. Sedangkan dia dibawa mobil yang menabraknya. Kalau aku tidak salah, mobil itu membawanya ke rumah sakit terdekat. Segeralah cari istrimu!”

Kendaraan lain sudah antri panjang di belakang becak dan membunyikan klakson. Thaleb mengelus kedua kepala anaknya, lalu menciumnya.  Becak pun berlalu meninggalkannya.

Ia segera pergi ke tempat istrinya tertabrak. Ia menyetop pengendara lain yang melintas menuju arah itu dan kembali menumpang. Jalan raya padat, suara klakson tak henti-hentinya dibunyikan.

Setiba Thaleb di tempat istrinya tertabrak, ia mendapati motor yang dipakai istrinya tergeletak di pinggir jalan. Motornya hancur dan bannya gembos. Kepala Thaleb tiba-tiba pusing, matanya berkunang-kunang membayangkan bagaimana keadaan istrinya. Bunyi klakson dan suara tangisan anak kecil menyadarkannya dari lamunan.

Guncangan bumi sudah berhenti sesaat. Tanpa pikir panjang, ia pun segera melangkah mencari rumah sakit terdekat. Ia terus berjalan cepat di tengah-tengah kerumunan orang dan kendaraan yang melaju tak tentu arah. Sesekali ia bertabrakan dengan orang lain yang juga terlihat panik.

Tiba-tiba saja, orang-orang yang lari dari arah pantai berteriak mengabarkan sesuatu. Ia dengarkan teriakan itu hati-hati, ternyata orang-orang itu mengatakan bahwa air laut sudah naik setinggi pohon kelapa. Orang-orang dari arah pantai terus berlari menuju kota. Thaleb pun juga ikut berlari menuju kota, sambil mencari istrinya. Ia lihat bangunan roboh, seseorang terjepit di sana terkena reruntuhan beton. Hatinya bergidik ngeri. Di antara yang terjepit reruntuhan itu, hanya kakinyalah yang terlihat, sedangkan separuh badannya terjepit beton besar.

Tiba-tiba dari arah pantai terdengar suara yang cukup berisik. Suara patahan pepohonan, suara seng-seng dan kayu-kayu bangunan. Dari kejauhan, Thaleb melihat air hitam besar datang menggulung semua yang menghalanginya. Ia berlari menuju kota. Sebentar lagi akan sampai di Masjid Raya, pikirnya.

Suara air mengerikan itu membuat hati semua orang takut. Thaleb terus lari berdesak-desakan dengan orang lain. Suara tangisan anak kecil terus memadati pendengaran, berlomba-lomba dengan suara air besar itu. Di tengah-tengah perlariannya, ia menemukan jeringen plastik dan mengambilnya, mungkin ini akan diperlukan nanti, pikirnya. Ia terus berlari menjauh dari air hitam yang terus mengejarnya di belakang sana. Tiba-tiba ia pun terjatuh, tubuhnya terinjak oleh orang-orang. Satu dua orang juga ikut jatuh. Tanpa disadari, air itu pun menyapu dirinya. Air itu menggulung tubuhnya, membenturkannya ke tembok ruko. Jerigen itu masih dipegangnya kuat-kuat. Ia membuka mata ketika di dalam air, tak satu pun yang dapat ia lihat. Tanpa ia sadari, sepotong kayu menghantam kepalanya. Di sisi lain, sebuah seng membelah betisnya. Ia terus digulung air hitam yang mengerikan itu.

Dalam keadaan lemah di dalam air, ia berdoa: “Jika saya masih dibutuhkan di dunia ini, selamatkanlah saya dari bencana ini, ya Allah!” Di dalam hati ia tak henti-hentinya berdoa dan bersalawat.

Tiba-tiba tubuhnya tersangkut di sebuah mobil, lalu ia terangkat ke permukaan karena jerigen yang ada ditangannya. Ia lihat ke atas, banyak orang di atas ruko melihat ke arahnya. Ia meminta tolong pada orang-orang itu. Mereka pun mengulurkan tali ke bawah. Thaleb menyambut tali itu. Ia ikatkan tali itu ke badannya, dan ia pegang kuat-kuat. Orang-orang yang ada di atas ruko pun menarik tubuhnya ke atas.

Thaleb selamat dari bencana tsunami yang menakutkan.

Ia lihat betisnya, ternyata sudah terkoyak lebar dihantam seng saat di dalam air. Ia raba kepalanya, ia temukan darah di sana.

Seseorang yang melihat kejadian itu membuka bajunya dan merobeknya menjadi dua bagian. Orang itu langsung membalut betis dan kepala Thaleb. Darah pun berhenti.

***

Selama dua harmal Thaleb menginap di ruko itu, makan seadanya bersama orang yang menolongnya. Di hari ketiga, air mulai surut, Thaleb pun memberanikan diri untuk turun. Di jalanan, terlihat satu-dua orang berjalan di antara tumpukan sampah dan puing-puing. Ia pun keluar dari ruko dan berjalan terpincang-pincang. Ia melihat mayat sejauh mata memandang. Puing-puing bangunan, mobil, motor, sepeda, pohon-pohon dan lain-lainnya berserakan di jalanan. Bercampur dengan ratusan mayat, bahkan ribuan. Hati Thaleb kembali bergidik ngeri.

Bantuan pun mulai datang, para tentara mengevakuasi para korban. Bantuan makanan, kesehatan dan posko-posko pun mulai didirikan. Thaleb terus menyusuri jalanan dengan kaki pincang mencari istri dan kedua anaknya. Orang-orang juga banyak mencari saudaranya. Satu-dua orang anak kecil terlihat menangis di sudut kota, karena tak menemukan ayah dan ibunya.

Kaki Thaleb terus melangkah tak tentu arah. Sampai di sudut kota lainnya, ia melihat seorang anak sedang menangis, kira-kira berumur tiga tahun. Ia hampiri anak itu. Ia elus kepalanya. Lalu anak itu digendongnya. Anak itu terus menangis sejadi-jadinya. Thaleb membawa anak itu melanjutkan pencarian istri dan anaknya. Sampai matahari mau tenggelam, istri dan kedua anaknya tidak juga ditemukan.

Ia pun memutar haluan menuju posko bantuan. Ia melangkah di antara puing-puing bangunan, pohon, dan mayat. Mega merah menyapu permukaan bumi yang luluh-lantak dihantam air besar. Hari mulai gelap, dan ia terus melangkah pelan dan pasti. Anak itu sudah terlelap dipelukannya.

Tak lama kemudian, Thaleb pun sampai di posko. Ia berikan anak itu pada seorang perempuan pengurus posko.

“Anak Bapak?” tanya perempuan itu.

“Bukan.” Kepalanya menggeleng. “Aku temukan di sudut kota.”

Perempuan itu melirik ke kakinya, ia lihat betis Thaleb mulai mengeluarkan darah. Kain yang menutupi luka itu sudah kotor terkena air di jalanan.

“Kaki Bapak kenapa?” tanya perempuan itu. Lalu ia berikan anak itu pada temannya. Setelah itu ia mendekati kaki Thaleb dan memandangi betis itu. Ia buka kain pengikat, dan betisnya yang terkoyak lebar itu pun ternganga. Perempuan itu kaget bukan main. Ia segera membawa Thaleb ke tempat medis. Ia bersihkan luka itu, lalu luka itu pun dijahit.

Thaleb tertidur karena keletihan berjalan seharian mencari kedua anak dan istrinya. Dalam tidurnya, ia berjumpa dengan istri dan kedua anaknya sedang bermain di sebuah taman. Karena mimpi itu, tepat jam tiga malam, ia terbangun. Ia lihat di sekitar, banyak orang terluka sedang tidur di sekelilingnya.

Ia pun keluar dari posko, dan seseorang mencegatnya. “Bapak mau ke mana? Istirahatlah dulu, Pak. Luka kaki Bapak belum sembuh benar.”

“Mau mencari anak-anak dan istriku.”

“Istirahatlah dulu, Pak, besok akan saya bantu mencari istri dan anak-anak Bapak. Mungkin mereka ada di posko ini. Kalau tidak ada di posko ini, mungkin ada di posko lainnya.”

Mendengar kata pemuda itu, Thaleb pun kembali masuk ke dalam tenda dan kembali beristirahat.

***

Keesokan harinya, setelah makan, Thaleb pun menuju tempat informasi posko itu bersama pemuda semalam. Ia mencari daftar nama pengungsi, ia berharap nama istri dan anak-anaknya ada dalam daftar. Tetapi, nama itu tak ditemukannya.

Ia pergi ke posko kedua, ia lihat orang-orang di sana dalam keadaan murung. Ia pergi ke tempat informasi untuk menanyakan daftar nama pengungsi, tapi nama istri dan kedua anaknya tidak juga ketemu.

Ia tak putus asa, dengan ditemani pemuda itu, ia pergi ke posko lainnya. Dan nama anak dan istrinya juga tidak ada di sana. Begitu juga dengan posko-posko selanjutnya, ia tidak menemukan anak dan istrinya.

Setelah itu, Thaleb menyuruh pemuda itu untuk pulang ke posko. “Pulanglah ke posko. Saya akan cari istri dan anak saya di tempat lain. Mudah-mudahan ketemu.”

Thaleb segera memberikan nama istri dan kedua anaknya pada pemuda itu, berangkali ada laporan dari posko-posko lain. Tidak lama kemudian, pemuda itu pun berlalu pergi.

Setelah berjalan beberapa langkah tak tentu arah, ia menemukan sebuah dompet yang ia kenal betul. Ya, dompet itu adalah milik istrinya. Ia ambil dompet itu, lalu ia buka. Thaleb mendapatkan KTP istrinya dan dua lembar foto anaknya yang sudah kusam, basah terkena air tsunami. Saat itu kali pertama ia meneteskan air mata. (*)

Surabaya, 2020 | Tsunami Aceh, 26 Desember 2004

___
Puji M. Arfi, lahir di Aceh 19 Februari 1999. Sekarang sedang menempuh pendidikan S-1 jurusan Sejarah Peradaban Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya. Alumni Pesantren Dayah Modern Darul Ulum, Banda Aceh. Sekarang sedang mempelajari seni di (BMS) Bengkel Muda Surabaya. Menjadi salah seorang penggagas komunitas Cangkruk Rasa: Komunitas literasi Surabaya. Buku yang telah terbit: novel Dilema Penjara Suci: Sebuah Catatan Harian Santri Bodoh, (2019) dan Kumpulan Cerpen Perahu Pinggiran Kota, (2019).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending