Connect with us

Cerpen

Sekarang Aku, Besok Kamu

mm

Published

on

Dini hari, seorang lelaki terbangun, beranjak dari tempat tidurnya. Jemarinya merayap di permukaan meja. Pandangannya belum kembali normal seperti seharusnya. Matanya remang kunang-kunang. tapi keadaan segera membaik. Lelaki itu beringsut ke atas kursi. Kini ia duduk sempurna menghadap meja. Tangannya mantap menggenggam pena. Di sampingnya, secarik kertas tergeletak begitu saja. Seperti rela digagahi tinta-tinta.

*

Stasiun Gambir. Aku bukan orang bodoh. Jauh-jauh hari sebelum berangkat menuju Ibu kota, aku sudah melayangkan kabar kepada Adi, kawan lamaku di bangku sekolah menengah pertama yang lebih dulu mengadu nasib di Ibu kota. Adi menjemputku di stasiun dan untuk sementara, ia bersedia menampungku di tempat kosnya.
Jalanan padat, orang-orang di sini-sana, deru mesin kendaraan beradu dan wajah-wajah kelelahan setelah seharian bekerja keras adalah potret pemandangan setiap hari yang aku jumpai di Ibu kota. Di sini, manusia bagai mesin. Mereka bergerak dinamis hampir 24 jam non stop. Otak mereka dipenuhi hasrat-ambisi duniawi, wajah mereka lusuh tak bahagia, bahkan bibir mereka seakan berat untuk sekedar melempar senyum. Mereka menjadi budak dari pekerjaannya sendiri. Pola hidup orang Ibu kota juga sangat monoton dan jauh dari kesan menyenangkan. Bangun tidur – kerja – pulang kerja (malam) – tidur – bangun lagi, begitu seterusnya. Muak dan tentu saja kurang sentuhan seni.
Untunglah aku seorang bohemian. Hidup dari jalan ke jalan. Setiap kata adalah kelakar, setiap langkah adalah kemerdekaan. Tidak terikat aturan-aturan, tidak terjerat campur tangan berbagai hal yang memasung kebebasan. Hidup sehidup-hidupnya. Hidup semau-maunya. Bukankah sedari dulu kita mendamba-perjuangkan kemerdekaan? Maka berbahagialah mereka yang hidupnya benar-benar merdeka.

*

Waktu berlalu dengan cepat. Takdir tereksekusi dengan singkat. Kini aku bukan sekedar gelandangan biasa. Kawan-kawan se-pergelandangan menyebutku sebagai gelandangan profesional. Friend list-ku tidak melulu mereka yang mewarnai kehidupan jalanan. Mereka yang berdasi rapi dan menyebut diri sebagai politisi juga sedikit banyak mulai aku kenal. Beberapa di antara mereka bahkan tak jarang memintaku agar datang ke rumahnya untuk sekedar join kopi dan memperbincangkan hal-ihwal teraktual. Bahkan sesekali mereka juga tanpa merasa sungkan meminta pendapat dan pandanganku terkait langkah politis yang harus dilakukan.
Sebagai seniman –aku akhir-akhir ini sering disebut begitu– tentu saja aku mengagumi segala jenis keindahan. Aku jatuh cinta pada puisi, prosa, novel, syair-syair, aforisme, seni dan termasuk, tentu saja, lukisan. Jujur, honor dari berbagai tulisanku yang dimuat diberbagai media massa itulah yang membuatku tetap survive di tengah hedonisme Ibu kota.
Khusus lukisan, meski hingga hari ini aku belum dikaruniai kemampuan mumpuni, entah kenapa, aku tetap jatuh cinta. Padahal, umumnya seseorang akan membenci hal-hal yang tidak dikuasainya. Dalam berbagai kesempatan, aku sering kali mengajak Adi menyatroni pameran lukis. Terkadang aku heran kepada diriku sendiri. Percaya tidak percaya, setiap kali menatap sebuah lukisan, aku mampu menghabiskan waktu hampir satu jam. Ya, satu lukisan saja dan hanya mematung!

*

Aku seniman dan aku bukan orang bodoh. Enam tahun sudah peraduan nasibku di Ibu kota terlalui. Enam tahun bukan waktu yang singkat. Enam tahun mampu menciptakan banyak perubahan. Gubernur lama berwajah Jawa sudah naik pangkat menjadi Kepala Negara. Kursi yang ditinggalkannya diberikan cuma-cuma kepada seorang lelaki berwajah Cina. Enam tahun juga sanggup merubah nasib dan gaya hidupku di Ibu kota.
Aku memang ditakdirkan menjalani kehidupan yang progresif. Setiap tahun, Tuhan selalu menaikkan grade kesejahteraan hidupku. Dari gelandangan biasa menjadi gelandangan profesional, dari seniman ala kadarnya menjadi seniman paling bertalenta. Aku adalah salah satu anugerah terbesar yang Tuhan karuniakan dalam dunia seni –begitu kata seorang profesor dalam sebuah kolom di koran lokal. Pujian yang berlebihan? Aku rasa tidak. Aku sebenarnya tidak suka menyombongkan diri, tapi aku lebih tidak suka lagi jika harus menutup-sembunyikan fakta yang sebenarnya. Begini, harap diketahui, hampir setiap hari karya tulisku bisa kalian jumpai di berbagai macam surat kabar ternama. Tulisan-tulisanku selalu dinanti. Karya tulisku adalah sumbangsih intelektual penting bagi peradaban bangsa ini. Puisi-puisiku digandrungi berbagai kalangan. Namaku dibicarakan di mana-mana. Dan kau masih menganggap pujian itu berlebihan? Aku tidak suka menyombongkan diri, tapi kali ini aku harus memaksamu berkata tidak.
Aku bukan orang bodoh. Aku tidak mungkin bertahan hidup dari honor tulisan-tulisanku. Bagi seorang seniman besar sekaliber diriku, bergantung hidup kepada tulisan adalah bentuk pengkhianatan terhadap karya tulis itu sendiri. Kalau kalian masih mengharapkan pamrih atas tulisan yang terpublikasikan, itu tandanya kalian belum benar-benar mencintai tulisan. Tulisan-tulisanmu masih diback-up hasrat materialis menggebu. Tulisanmu tidak ditulis dengan tulus. Tulisanmu hampa tak bernyawa. Tidak ada ruh di dalamnya. Tulisanmu cacat!
Maka kuputuskan untuk menggeluti dunia bisnis. Aku menyuntikkan investasi di sana-sini. Lain itu, aku juga seorang pengusaha ayam berpenghasilan ratusan juta per bulan. Sederhananya, aku sudah sangat sehat secara finansial meski usiaku masih sangat muda.
O, iya. Aku hampir lupa menceritakan sobat karibku, Adi. Empat tahun lalu, Adi putus kerja sebagai tukang ojek. Ia lebih memilih mengadu nasib di tanah rantau, di negeri orang, di Arab sana. Adi kini berprofesi sebagai Tenaga Kerja Indonesia alias TKI. Menjelang hari-hari terakhirnya di Indonesia, kami banyak menghabiskan waktu bersama. Kusingkirkan dulu rutinitas bohemianku demi menemani saat-saat terakhirnya menghirup udara Indonesia, sebelum nantinya ia pergi meninggalkan Ibu pertiwi. Bahkan akulah orang satu-satunya yang melepas kepergian Adi di bandara. Aku masih ingat betul nasihat Adi sesaat sebelum ia berangkat. “Jangan lupa Tuhan, Dre.”
Adi tipikal seseorang yang musti kalian jadikan sebagai sahabat begitu kalian mengenalnya. Tidak hanya religius, Adi juga sangat loyal dan terkadang jenius. Aku mengenal banyak orang dengan latar belakang bermacam rupa. Dan, dari sekian banyak orang yang kukenal, hanya Adi-lah satu-satunya orang yang masih sudi merangkul dan memapah langkahku saat aku terpuruk. Adi juga motivator ulung. Kata-katanya api, membakar. Di saat orang lain menjelma fatamorgana, Adi mengulurkan tangan dengan tulus dan nyata. Itulah mengapa sebabnya aku tetap respek dan segan terhadap Adi meski profesinya tak lebih dari sekedar tukang ojek online belaka. Hingga hari ini-pun, empat tahun setelah kepergiannya, aku tetap menghormati Adi. Aku sadar sepenuhnya, dalam kesuksesan yang aku rasakan, ada banyak sentuhan tangan Adi berperan.

*

Aku bukan orang bodoh. Tapi aku bukan orang baik. Sebagaimana seniman berlatar belakang bohemian lainnya, aku tidak begitu mengindahkan aturan-aturan. Sebab aku merdeka. Sebab aku memiliki kuasa penuh terhadap kendali hidupku. Aku bebas, lepas dan tidak mengenal batas-batas. Meski agama melarang mengkonsumsi minuman beralkohol -dan aku mengetahuinya- mejaku selalu dipenuhi bir berbotol-botol. Aku juga kerap mengunjungi nite club dan tak jarang berakhir di kamar hotel, dengan seorang wanita tentunya.
Selama tidak ada yang tersakiti dan dirugikan, menurutku sah-sah saja berkencan dengan wanita-wanita penghibur itu. Aku memperoleh pelayanan dari mereka dan hasrat biologisku tertunaikan. Sebagai gantinya, selain dapat menyalurkan hasrat biologis, mereka bahkan juga mendapatkan ‘ongkos’ servis. Aku sudah memberi nafkah terhadap mereka dan keluarganya. Aku sudah menyediakan lapangan pekerjaan bagi mereka. Aku sudah menjadi warga negara yang baik dengan berperan aktif dan langsung dalam mengentaskan kemiskinan. Dan tentu saja mereka bahagia. Bukankah membahagiakan orang lain adalah puncak kebahagiaan tertinggi? Lantas, di mana letak kesalahannya? Persetan dengan halal-haram. Aku tidak peduli selama itu tetap memanusiakan manusia.

*

Meskipun Adi tidak lagi tinggal di Ibu kota, aku tetap merawat hubungan baik dengannya. Kami tetap menjalin komunikasi seperti biasanya. Kecanggihan tekhnologi memudahkan kami bertukar sapa. Semua jadi dekat dan terjangkau. Rasanya seperti Adi tak pergi ke mana-mana saja.
Aku sering bercerita berbagai hal dengan Adi. Mulai kabar politik dalam Negeri, bisnis-bisnisku, hingga gaya hidup dan rutinitasku di dunia remang-remang. Aku tidak pernah menutup-nutupi. Aku terbuka. Aku telanjang. Dan seperti biasanya, Adi tanpa pernah bosan terus menasihatiku agar aku menjauhi perbuatan-perbuatan yang ia sebut tak beretika itu. Sebenarnya aku punya banyak argumen untuk berdebat dan menyangkal nasihat-nasihat Adi, tapi seperti yang pernah kukatakan, aku masih menaruh respek terhadap Adi. Aku tidak ingin persahabatan yang sudah terjalin bertahun-tahun ini rusak begitu saja hanya gara-gara perbedaan persepsi. Aku tidak pernah tega menentang nasihat Adi, meskipun aku juga tidak pernah mengindahkannya. Jadilah nasihat-nasihat itu masuk telinga kanan dan segera keluar dari telinga kiri. Hanya lewat.

*

Pagi ini aku mengucap syukur dua kali kepada Tuhan atas nikmat ganda yang dikirimNya. Setelah sekian lama gonta-ganti rumah kontrakan dan menjalani kehidupan ala nomaden, hari ini akhirnya aku menempati rumah pribadiku yang belum lama kubeli. Yang kedua, pagi-pagi sekali, via media elektronik, Adi mengabarkan kepulangannya ke Indonesia. Sayang, saat kubujuk untuk mampir di Ibu kota, Adi menolak. Ia langsung menuju kampung. Katanya sudah rindu emak.
“Salam… Adi, apa kabar? Sehat, kan?” Aku menelepon Adi sesaat setelah ia memberi kabar bahwa pesawatnya sudah mendarat di Tanah Air.
“Salam… Alhamdulillah, Dre. Aku sehat. Sehat sekali malah. Kamu sendiri punya kabar seperti apa? Wah, tampaknya si bohemian sudah menjelma menjadi jutawan Ibu kota, nih,” Adi terkekeh.
“Haha, bisa aja kamu, Di. Jangan lupa doanya aja lah. Biar temanmu ini bisa jadi orang bener di Ibu kota. Kabar baik semua.”
“O.. pasti itu. Tentu saja. Jadi nempatin rumah baru hari ini, Dre?”
“Iya, Di. Jadi hari ini. Mungkin nanti agak siangan aku ke rumah. Ini perabot juga sudah sebagian dipindahin ke sana. Ayolah ke Ibu kota. Main-main ke rumah baru. Sekalian kita bikin acara syukuran kecil-kecilan.”
“Oh gitu.. iya, iya. Sebenarnya aku juga pengen mampir dulu di Ibu kota. Ingin nyobain sofa empuk jutawan Ibu kota. Tapi ya gimana lagi, Dre, ini si emak udah kepalang rindu dengan anak lakinya yang tak pulang-pulang. Udah kayak bang Toyib saja aku ini. Hehe…”
“Haha… Iya gak masalah, Di. Kapan-kapan lah kamu main ke sini. Salam buat emak di kampung.”
“Ok. Gampang, bisa diagendakan. O iya, Dre, aku punya sesuatu buat kamu.”
“Sesuatu apa ini? Special something-kah?”
“Barang remeh aja sih. Tapi ya cocok lah buat dipajang di ruang tamu rumah jutawan.”
“Hahaha. Pasti lukisan! Ya kan? Kamu memang sahabat yang paling tahu seleraku, Di. Terima kasih lho.”
“Oke lah. Nanti barangnya biar aku kirim lewat jasa pengiriman aja. Mungkin tiga hari lagi sampai di rumahmu.”
“Siap, bos. Laporan diterima. Hehe.”
“Udah dulu, Dre. Sampai ketemu lain waktu. Salam…”
“Salam…,” panggilan terputus.

*

Tepat tiga hari kemudian, ‘barang remeh’ dari Adi sampai ke tanganku. Tadi malam Adi berpesan untuk tidak membukanya lebih dulu. Dalam instruksinya via SMS, Adi mengatakan, “Bukanya nanti saja setelah kamu gantungkan di dinding. Kalau bisa dibuka saat kamu lupa Tuhan.”
Aku tersenyum kecil membaca SMS dari Adi. Aku tahu sekali selera humor Adi yang suka mendramatisir hal-hal kecil seperti itu. Namun saran Adi untuk tidak membuka barang itu terlebih dahulu tetap aku patuhi. Lagipula aku cukup lelah untuk memasangnya sekarang. Alhasil barang itu kubiarkan saja tergeletak di atas sofa ruang tamu depan.
Rupanya Tuhan masih enggan menyetop kucuran rezekiku. Sore itu, uang ratusan juta masuk ke rekeningku. Bisnis salah seorang rekan yang usahanya aku modali sedang panen besar. Demi mengungkapkan rasa syukur bertubi-tubi ini, aku mentraktir beberapa kolega bisnis dan menghabiskan sepanjang malam di nite club. Sembari kuniati syukuran rumah, aku party.
Malam itu aku mabuk berat. Entah sudah berapa botol bir yang aku tenggak. Bourbon, gin, vodka, dan rum berbotol-botol memenuhi tubuhku. Mataku seperti rabun. Pandanganku tiba-tiba kabur. Dengan langkah sempoyongan, aku meninggalkan nite club. Untungnya aku tidak sendiri. Aku dipapah Lolita, gadis penghibur yang bersedia menemaniku malam ini. Lolita juga yang mengendarai mobilku sampai rumah.
“Mas Andre, bangun. Sudah sampai…” Segera kukenali pemilik suara halus mendesah ini. Betul, itu suara Lolita.
“Ah, kita sudah sampai rumah ya…” Aku bangkit. Perlahan, pengelihatanku beranjak normal.
“Mas, Lolita mandi dulu yah. Biar seger…” Lolita tersenyum nakal. Aku membalas dengan anggukan kecil.
Sembari menanti Lolita mandi, aku merebahkan tubuh di sofa. Agh! Kepalaku membentur sesuatu. O, ternyata barang kiriman Adi.
Dengan pikiran yang masih belum seutuhnya normal, aku bangkit dari sofa. Pikirku, Lolita pasti lama sekali mandinya. Tidak ada salahnya kalau aku memasang hadiah dari Adi terlebih dahulu.
Sebenarnya tadi pagi aku sudah mengukur panjang lebar lukisan itu. Jadi tugasku malam ini tidak berat. Hanya menggantungkan lukisan itu di tempatnya saja. Finishing touch.
“Sreek…” Aku membuka kertas yang menutupi lukisan.
“Blaaaar!”
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku mendadak bisu tanpa mampu berkata-kata. Alih-alih berbicara, mulutku justru gemetaran. Dan, pasca sepersekian detik, gemetar di mulutku menjalar cepat ke seluruh tubuh. Sendi-sendi tubuhku rontok satu per satu. Darahku seperti cuti mengalir. Jantungku seperti lupa cara berdetak. Tubuhku menggigil hebat. Aku seperti tersambar petir. Tak ada daya, yang tersisa hanya getir.
Aku keliru. Barang itu ternyata bukan sebuah lukisan seperti yang aku kira. Ia lebih mirip sebuah foto ketimbang lukisan.
Foto itu menyuguhkan potret pedesaan yang asri. Tampak sebuah gunung mengakar kokoh dengan balutan awan-awan tipis di sekitarnya. Hijau sawah terhampar luas hingga ke cakrawala. Jalanan kecil bebatuan non aspal khas pedesaan membelah sawah tepat di tengah-tengah.
Potret yang menyambarkan petir ke tubuhku adalah sesuatu di atas jalanan kecil itu: terlihat puluhan orang dengan ekspresi muka beragam. Ada yang menangis tersedu, ada yang mengernyitkan dahi yang dipenuhi peluh, ada yang menghujamkan pandangan ke bumi, ada yang tampak seperti melafalkan sesuatu dengan setengah teriak dan ada juga yang tampak polos dan tak bergairah. Pandangannya kosong. Orang-orang itu memikul keranda mayat, lengkap dengan kain hijau penutupnya yang khas. Foto kiriman Adi adalah potret prosesi pemakaman.
Mendadak bayangan tindakan-tindakan tak terpuji yang pernah kulakukan melintas di langit-langit, satu per satu. Pesta bir, kencan gelap dengan Lisa, cumbu nafsu dengan Nanda, tidur berdua dengan Lolita….
Kemudian terdengar olehku suara tanpa rupa, “Aku Izrail pencabut nyawa. Aku ditugaskan untuk memisahkan suami dari istrinya. Aku ditugaskan untuk memutus hubungan ibu dan anak-anaknya. Aku ditugaskan untuk melerai manusia dengan segala hal yang dicintainya semasa hidup di dunia. Aku Izrail pencabut nyawa, yang akan mencerabut otot-otot manusia sebagaimana mereka mencabuti rumput liar yang tumbuh di pekarangan rumahnya. Aku Izrail pencabut nyawa, yang memisahkan ruh dan raga manusia dengan tega sebagaimana mereka mengkuliti kambing dan sapi dengan paksa. Aku Izrail pencabut nyawa yang ditugaskan Tuhan untuk menjemputmu, Andre.”
Aku bukan orang bodoh. Tapi waktu itu, aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.
Dengan sisa-sisa energi yang ada, aku menyeret tubuhku ke dalam kamar. Aku tergeletak lemas dengan tubuh menggigil dahsyat. Samar-samar, kulihat Lolita berdiri di hadapanku tanpa sehelai benang-pun di tubuhnya.
“Mas Andre…” Lolita menggelayutkan lengannya dengan manja di bahuku dan segera mendaratkan ciuman bergairah di sekitar tengkuk leherku.
Demi Tuhan! Aku sudah tidak bernafsu lagi meniduri Lolita malam itu. Meski Lolita terus menerus memberi rangsangan liar, secuilpun aku tidak terangsang sama sekali. Sebab bayangan keranda mayat itu terus menerus mengusik pikiranku.
“Pergi Lolita! Pergi, pulang sana!” Lolita tampak kebingungan dengan hardikanku yang menyuruhnya pergi. Namun setelah aku melemparkan segepok uang kepadanya, ia akhirnya pergi begitu saja.
Lalu yang tersisa hanya bayangan keranda, keranda dan keranda, sebelum tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

____________________

Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari saat lelaki itu menyudahi tulisannya. Ia beranjak dari kursi-mejanya dan keluar meninggalkan kamar.
Di ruang tamu depan, lelaki itu mematung menatap sebuah foto yang terbingkai megah seperti sebuah lukisan. Lelaki itu terbelalak, seperti ada sesuatu yang telat ia sadari. Ada secarik kertas di sudut kiri-bawah foto. Lelaki itu menyambarnya dengan tergesa.
“Andre, setiap kita pasti akan mati. Entah kapan terjadinya, kita tak pernah tahu dan akan terus seperti itu. Sebab ia memang misteri ilahi yang tiada seorang makhluk-pun mengetahui kapan datangnya. Ingatlah bahwa meski kita tidak bisa memilih untuk kelahiran kita, dilahirkan dalam keadaan seperti apa, dari rahim ibu yang mana, dari ayah yang bagaimana, namun Tuhan masih memberi kita pilihan untuk mati dalam keadaan seperti apa. Hidup adalah tentang pilihan kita untuk mati dengan bagaimana. Kalau ingin mati dalam keadaan baik, hiduplah dengan baik. Kalau ingin mati dalam keadaan tercela, hiduplah semau-maunya. Setiap jenazah yang terbujur di dalam keranda seolah berpesan kepada orang-orang yang masih hidup, calon penumpang keranda selanjutnya: ‘Sekarang aku, besok kamu’. Selagi Izrail belum menyapa, masih ada waktu untuk memperbaiki segalanya. Cukuplah kematian itu sebagai nasehat yang paling baik. Aku tahu kamu masih bisa. Dari sahabatmu, Adi, yang kelak juga akan mati.”
Lelaki itu membaca tulisan di secarik kertas dengan bibir bergetar. Air matanya tanpa diperintah luruh begitu saja, membasahi kedua pipinya. “Terima kasih, Di. Terima kasih.”
Lelaki itu bukan orang bodoh. Dan ia tahu harus berbuat apa. (*)
*Muhammad Imdad, lahir di Banyuwangi, 06 Juni 1992. Blogger di midadwathief@blogspot.co.id. Santri di Pondok Pesantren Alfalah Ploso Kediri, PP. Darus Sholah Jember dan PP. Bustanul Makmur Banyuwangi. Sekarang tinggal di Depok.

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Gao Xingjian: Bayangan Kematian

mm

Published

on

Getty Images/ google

Kau tak lagi hidup dalam bayang-bayang orang lain dan tak lagi menganggapnya sebagai musuh khayalan. Kau meninggalkan bayangan itu, berhenti berkhayal dan melamunkan hal-hal aneh, dan kini terpuruk dalam kehampaan yang damai. Kau datang ke dunia dengan telanjang, tiada yang membutuhkanmu dan andaikan kau menginginkan sesuatu, kau tak akan mampu melakukannya. Satu-satunya rasa takutmu hanyalah pada maut yang datang tiba-tiba.

Kau ingat rasa takutmu pada maut berawal di masa kecil. Saat itu rasa takut itu lebih besar dari kini. Kesedihan sepele membuatmu begitu cemas, seolah-olah itu adalah penyakit tak terobati dan saat kau jatuh sakit kau akan mengigau ketakutan.

Kau telah bertahan melalui berbagai penyakit dan bencana yang kau lewati dengan kemujuran. Kehidupan itu sendiri adalah keajaiban yang tak bisa dijelaskan dan hidup di dalamnya adalah perwujudan sebuah keajaiban. Tak cukupkah bahwa sesosok tubuh yang sadar bisa merasakan sakit dan senang dalam hidup ini? Apalagi yang mesti dicari?

Ketakutanmu pada kematian muncul saat kau rapuh jiwa dan raga. Kau merasa sesak dan cemas, khawatir keburu mati sebelum sempat menghela napas berikutnya. Seolah-olah kau terlempar ke dasar jurang, perasaan keterpurukan ini sering muncul dalam mimpi-mimpi masa kecilmu dank au akan terbangun dengan napas terengah-engah, ketakutan. Saat itu ibumu akan membawamuke rumah sakit, namun kini, sebuah permintaan dokter untuk melakukan pemeriksaan pun kau tunda berkali-kali.

Jelas sekali bagimu kehidupan berakhir dengan sendirinya dan saat akhir itu tiba rasa takutmu memudar, karena rasa takut itu sendiri adalah perwujudan kehidupan. Saat kehilangan kesadaran dan keinsyafan, hidup tiba-tiba berakhir tanpa menyisakan makna dan pemikiran.

Penderitaanmu adalah pencarian makna bagimu. Saat kau mulai membincangkan arti kesejatian hidup manusia dengan teman-teman masa mudamu, kau hidup dengan susah payah, seolah-olah kini kau telah menikmati segala kesemuan hidup dank au menertawakan kesia-siaanmu dalam pencarian makna. Yang terbaik adalah mengalami keberadaan dan menjaganya.

Kau merasa melihat makna hidup dalam kehampaan, cahaya samar yang muncul dari antah berantah. Ia tak berdiri di tempat tertentu di atas bumi. Ia seperti dahan pohon tanpa bayangan, sementara ufuk yang memisahkan langit dan bumi telah lenyap. Atau, ia bagaikan seekor burung di sebuah tempat berselimut salju yang memandang berkeliling. Terkadang, ia menatap ke depan, menghunjam dalam pikiranmu, walaupun tak jelas benar apa yang ia renungi. Itu hanyalah isyarat tubuh sederhana, isyarat tubuh yang indah. Keberadaan pun senyatanya adalah sebuah isyarat tubuh, mencoba mencari rasa nyaman, merentangkan lengan, menekuk lutut, berbalik, memandang ke belakang di atas relung kesadaran. Dari situ ia mampu menggapai kebahagiaan sekejap. Tragedi, komedi, dan lelucon. Penghakiman atas keindahan hidup manusia yang berbeda bagi masing-masing orang, waktu, dan tempat. Perasaan pun mungkin seperti ini. Kesedihan yang timbul di saat ini di waktu yang lain bisa jadi sebuah kekonyolan dan penyucian diri. Hanya isyarat tubuh yang tenang bisa memperpanjang hidup ini dan bersusah payah menyimpulkan misteri kekinian di saat kebebasan tercapai. Menyendiri, meneliti pendapat diri melalui kekalahan-kekalahan orang lain.

Kau tak tahu apa lagi yang akan dilakuan, apa pun yang bisa kau lakukan tak penting lagi. Jika kau ingin melakukan sesuatu, lakukanlah. Tapi tak kau lakukan pun tak jadi soal. Dan kau tak perlu ngotot melakukan sesuatu jika kau merasa lapar dan haus, lebih baik kau makan dan minum. Tentu saja kau bebas berpendapat, menafsir apapun, punya keinginan, dan bahkan marah, biarpun kau telah sampai pada usia di mana tenagamu tak cukup lagi untuk marah. Secara alamiah, kau bisa naik darah, namun tanpa gairah amarah. Perasaan dan inderamu tetap bekerja, namun tak seperti dulu. Tak akan ada lagi penyesalan. Penyesalan itu sia-sia dan merusak diri.

Bagimu hanyalah kehidupan yang bernilai. Kau telah melekat dan terserap padanya seolah-olah masih ada hal menakjubkanyang bisa kau temukan di dalamnya. Seolah-olah hanya kehidupan yang bisa membuatmu senang. Bukankah itu yang kau rasakan? (*)

Gao Xingjian (高行健, pinyin: Gāo Xíngjiàn, lahir di Ganzhou, Jiangxi, Republik Rakyat Tiongkok, 4 Januari 1940; umur 77 tahun), ialah penulis seorang novelis, dramawan, dan kritikus Tiongkok seberang lautan. Ia juga seorang penerjemah, sutradara, dan pelukis terkenal.

Continue Reading

Cerpen

Valentin Rasputin: Pelajaran Bahasa Perancis

mm

Published

on

Kejadian ini berlangsung pada tahun 1948. Perang[1] belum lama usai, orang-orang ketika itu hidup dengan penuh kesulitan dan kelaparan.

Pada  tahun itu saya pergi dari  desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, lantaran sekolah di desa kami hanya sampai kelas 4.[2]

Di kota saya masuk ke kelas 5. Saya belajar dengan begitu baiknya, di semua mata pelajaran saya memperoleh nilai pyatyorka,[3] kecuali bahasa Perancis.

Dengan bahasa Perancis persoalan yang terjadi pada saya adalah karena pelafalan yang buruk. Untuk membenarkan pelafalan itu, Lidia Mikhailovna, guru bahasa Perancis, kerap menjelaskan, di manakah harusnya menempatkan lidah untuk mendapatkan bunyi yang benar. Tetapi semua kelihatannya sia-sia, lidah saya tidak mematuhi saya. Dan ada sedih yang lain. Ketika saya pulang dari sekolah dan tinggal sendirian, saya berpikiran mengenai rumah di desa. Saya merindukan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, juga kawan-kawan. Saya sangatlah kurus, dan ibu, ketika datang melihat, dengan penuh kesulitan mengenali saya.

Akan tetapi saya kurus bukan hanya lantaran rindu kepada rumah. Saya pada sepanjang waktu merasa kelaparan. Ibu kadang-kadang mengirimkan roti dan kentang lewat orang-orang, yang pergi ke kota, tetapi itu tidaklah banyak. Dan saya tidak mampu meminta lebih kepada ibu, karena di rumah masih ada saudara laki-laki dan saudara perempuan saya. Kira-kira ada dua kali ibu mengirimkan kepada saya 50 kopek,[4] agar saya dapat membeli susu. Saya membeli susu di tetangga.

Dan pada suatu hari, pemuda sebelah, bernama Fedka[5] bertanya kepada saya:

“Kau main uang?”

“Apa? Main uang?”

“Ya, kalau kau punya uang, mari kita pergi untuk main.”

“Tidak, saya tak punya uang.”

“Ya, kalau begitu mari kita pergi untuk melihat, bagaimana mereka bermain.”

Kami pergi menuju ke sekolah. Di belakang sekolah semua anak-anak berdiri.

“Buat apa kau bawa dia?” seorang yang paling tua di antara kami bertanya kepada Fedka.

“Tidak apa-apa, Vadik,[6] biarkan dia melihat, dia orang kita sendiri,” jawab Fedka.

“Kau akan main?” tanya Vadik kepada saya.

“Saya tidak punya uang.”

“Baiklah, kalau begitu kau lihatlah, jangan bilang kepada siapapun juga, kalau kami main di sini.”

Lebih jauh lagi tidak ada yang memperhatikan saya dan saya mulai melihat. Memahami permainan tersebut tidaklah sukar. Anak-anak menggambar kuadrat[7]di atas tanah yang tidak begitu besar dan meletakkan uang di dalam kuadrat, setiap orang 10 kopek. Kemudian mereka menjauh kira-kira dua meter dan mulai melemparkan koin. Kalau koin jatuh di dalam kuadrat, maka orang yang melempar tersebut mengambil semua, yang ada di dalam kuadrat.

Kelihatannya bagi saya, jika saya ikut main, saya juga akan mampu memenangkannya. Dan demikianlah ketika ibu mengirimkan 50 kopek kepada saya untuk kali ketiga, saya tidak pergi untuk membeli susu. Saya pergi untuk ikut bermain. Mula-mulanya saya kalah 30 kopek, kemudian menang 20 kopek, kemudian menang lagi 50 kopek. Hari tampak sudah malam, saya ingin pulang, tetapi Vadik berkata:

“Main!”

Dia melemparkan koin dan koin tersebut agak tidak sampai ke dalam kuadrat. Dan saya melihat bagaimana Vadik mendorong koin tersebut.

“Kau mendorong koinnya!” kata saya.

“Apa? Coba, kau ulangi!” teriaknya.

“Kau mendorong koinnya!”

Vadik memukul saya. Saya pun terjatuh dan dari hidung saya keluar darah.

“Kau mendorongnya, kau mendorongnya!”

Vadik memukul saya dan saya ketika itu tidak menangis. Kemudian dia meninggalkan saya sendirian. Dengan susah payah saya bangun dan pulang ke rumah.

Di pagi hari saya dengan rasa khawatir melihat diri sendiri di  dalam cermin: hidung jadi membesar, di bawah mata kiri terlihat lebam kebiru-biruan.

“Hari ini di kelas kita ada yang terluka,” kata Lidia Mikhailovna, ketika saya masuk ke dalam kelas. “Apakah yang terjadi?”

“Tidak ada yang terjadi,” jawab saya.

“Hah, tidak ada yang terjadi!” teriak Fedka secara tiba-tiba. “Kemaren dia dipukul Vadik. Mereka main uang!”

Saya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Kami semua tahu dengan jelas, bahwa karena main uang, orang bisa dikeluarkan dari sekolah dan Fedka mengatakan semuanya kepada Lidia Mikhailovna!

“Saya tidak bertanya kepadamu, tetapi jika kau ingin menceritakan mengenai sesuatu, mendekatlah ke papan tulis dan ceritakanlah suatu teks pelajaran.” Lidia Mikhailovna menghentikan kata-kata Fedka. Dan kepada saya, dia berkata: “Kau tunggulah setelah mata pelajaran.”

Setelah mata pelajaran Lidia Mikhailovna menghampiri saya.

“Itu benar, bahwa kau main uang?” tanyanya.

“Benar.”

“Dan bagaimana, kau menang atau kalah?”

“Menang.”

“Berapakah?”

“40 kopek.”

“Dan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?”

“Saya akan membeli susu.”

“Susu?” Lidia Mikhailovna dengan penuh perhatian memandangi saya. “Tetapi tetap saja tidak boleh bermain uang. Kau tahu mengapa? Kita mesti belajar bahasa Perancis. Datanglah ke rumah saya nanti malam,” katanya mengakhiri percakapan.

Begitulah pelajaran bahasa Perancis dimulai untuk saya. Hampir setiap malam saya datang ke rumah Lidia Mikhailovna untuk belajar. Dan setelah belajar, dia mengundang saya untuk makan malam. Tetapi saya seketika itu juga bangun, berkata, bahwa saya tidaklah lapar dan dengan sesegeranya saya berlari pulang. Begitulah berulang beberapa kali, dan kemudian Lidia Mikhailovna berhenti mengundang saya untuk makan.

Pada suatu hari saya diberitahu untuk datang ke sekolah mengambil bingkisan. Saya berpikir, bahwa ibu sekali lagi mengirimkan saya kentang melalui seseorang, tetapi di dalam bingkisan tersebut terdapat makaroni. Makaroni! Di manakah ibu membeli makaroni? Di desa kami makaroni tidak pernah dijual. Surat di dalam bingkisan juga tidak ada. Jika ibu yang mengirimkan bingkisan, maka ibu pasti akan menggeletakkan surat di dalamnya dan di  dalam surat tersebut ibu akan mengisahkan, dari mana kekayaan tersebut bermuasal. Artinya, ini bukanlah ibu. Saya mengambil bingkisan tersebut dan menuju kepada Lidia Mikhailovna.

“Apakah yang  kau bawa itu? Untuk apa?” tanyanya, manakala dia melihat bingkisan.

“Ibu guru yang melakukan ini, ibulah yang mengirimkan ini kepada saya,” kata saya.

“Mengapa kau berpikir, bahwa sayalah yang melakukannya?’

“Karena di desa kami makaroni tidak ada, ibu harusnya  tahu itu.”

Dengan seketika Lidia Mikhailovna tertawa: “Ya, seharusnya lebih dulu saya tahu. Dan apakah yang kalian punya di desa?”

“Kentang.”

“Kami di Ukraina memiliki apel. Di sana sekarang banyak apel. Yah, baiklah, ambillah makaroni tersebut. Kau harus banyak makan, agar bisa belajar.”

Tetapi saya sudah lari menjauh.

Di dalam perkara yang demikian, pelajaran belumlah berakhir, saya masih melanjutkan untuk pergi ke rumah Lidia Mikhailovna. Patutlah diceritakan, bahwa saya telah melakukan keberhasilan dan oleh karenanya saya belajar bahasa Perancis dengan senang hati. Mengenai bingkisan kami tidaklah lagi mengingatnya.

Suatu hari Lidia Mikhailovna berkata kepada saya: “Nah, bagaimana, kau tidak lagi bermain uang?”

“Tidak,” jawab saya.

“Dan bagaimanakah permainan tersebut? Ceritakanlah!”

“Buat ibu, untuk apakah?”

“Itu menarik! Di dalam masa kanak-kanak saya juga bermain-main. Ceritakanlah, tidak perlu takut!”

“Untuk apa saya takut!”

Saya pun menjelaskan aturan permainan kepada Lidia Mikhailovna.

“Mari kita bermain,” tiba-tiba dia menawarkan.

Saya tidak mempercayai pendengaran saya sendiri. “Ibu kan seorang guru!”

“Lantas apa? Guru – mahluk lainkah? Hanya jangan sampai direktur sekolah tahu, bahwa kita main. Nah, mari kita mulai, jika tidak tertarik, kita tidak akan main.”

“Baiklah,” kata saya dengan penuh keraguan.

Kami mulai main. Lidia Mikhailovna tidak beruntung, dan tiba-tiba saya jadi faham, bahwasanya  dia memang tidak ingin memenangkan! Dia sengaja membuang koin, agar koin tersebut sejauh-jauhnya jatuh dari titik tujuan.

“Sudahlah,” kata saya, “kalau caranya demikian saya tidak bermain. Untuk apa ibu justru mengalah?”

“Sama sekali tidak, lihatlah!” kata Lidia Mikhailovna dan dia melemparkan koin. Sekali lagi koin jatuh cukup jauh dan pada ketika itu juga saya melihat, bahwa Lidia Mikhailovna mendorong koin!

“Apa yang ibu lakukan?” teriak saya.

“Apa?”

“Buat apa ibu mendorong koinnya?”

“Tidak, koinnya memang tergeletak di sini,” dengan riang Lidia Mikhailovna menjawab.

Saya langsung tidak ingat, bahwa dia secara khusus memang mengalah pada saya. Saya memandang dengan hati-hati, agar dia tidak mengelabui saya.

Semenjak itu kami bermain hampir pada setiap sore. Sekali lagi saya memiliki uang dan sekali lagi saya membeli susu.

Akan tetapi pada suatu hari segalanya berakhir. Seperti biasanya, pada setiap sore kami bermain dan berbantahan dengan kencang.

“Apakah yang sedang terjadi di sini?” tiba-tiba saja kami mendengar suara yang berat. Di depan kami berdiri direktur sekolah.

“Saya pikir, Anda akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk,” dengan perlahan Lidia Mikhailovna berkata.

“Saya sudah mengetuknya, tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Apakah yang sedang terjadi di sini? Saya punya hak untuk mengetahui sebagai direktur sekolah.”

“Kami main uang,” dengan tenang Lidia Mikhailova menjelaskan.

“Anda main uang?…Dengan murid sendiri?!”

“Benar.”

“Anda tahu, saya…saya telah dua puluh tahun mengajar di sekolah, tetapi yang demikian ini…Ini perbuatan kriminal!”

“Selang tiga hari Lidia Mikhailovna pergi. Menjelang keberangkatannya dia berkata kepada saya: “Saya akan pergi ke Ukraina, ke tempat saya sendiri. Dan kau belajarlah dengan tenang. Tidak seorang pun yang akan mengeluarkanmu dari sekolah. Di sini sayalah yang bersalah. Belajarlah.”

Dia pun pergi dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Pada musim dingin, selepas waktu liburan, saya menerima bingkisan. Di dalamnya ada makaroni dan tiga buah apel merah yang besar-besar. Dulu kala saya hanya melihat apel di dalam gambar-gambar, tetapi sekarang saya langsung mengerti, beginilah apel-apel itu.

 

*Biografi Valentin Rasputin

Valentin Grigorevich Rasputin (15 Maret 1937-14 Maret 2015) lahir di desa Atalanka, Rusia dan wafat di Moskow, Rusia. Valentin Rasputin menamatkan Universitas Irkutsk pada tahun 1959 dan dalam beberapa tahun beliau bekerja di surat kabar di Irkutsk dan Krasnoyarsk. Buku pertamanya “The Edge Near The Sky” dipublikasikan tahun 1966 di Irkutsk dan “Man from This World” dikeluarkan tahun 1967 di Krasnoyarsk. Pada tahun yang sama “Money for Maria” dimuat di Angara No. 4 dan pada tahun 1968 “Money for Maria” diterbitkan sebagai buku terpisah di Moskow. Karya-karyanya yang lain: The Last Term (1970), Live and Remember (1974), Farewell to Matyora (1976), You Live and Love (1982), Ivan’s daughter, Ivan’s mother (2004).

Valentin Rasputin sangat dekat dikaitkan dengan gerakan kesusastraan Soviet Pasca Perang yang disebut dengan village prose atau rural prose. Karya village prose biasanya berfokus pada kesulitan kaum tani Soviet, pada gambaran ideal tentang kehidupan desa tradisional, dan secara implisit atau eksplisit mengkritik proyek modernisasi.

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

[1] Великая Отечественная Война (Velikaya Otechestvennaya Voina) atau Great Patriotic War adalah perang  antara Rusia dan Republik-republik yang tergabung di dalam Uni Soviet (kecuali negara-negara Baltik, Georgia, Azerbaijan dan Ukraina) melawan invasi Jerman dengan aliansinya Hungaria, Italia, Rumania, Slovakia, Finlandia, dan Kroasia. Perang berlangsung dari tanggal 22 Juni 1941 sampai tanggal 9 Mei 1945

[2] Primary general education merupakan tingkatan pertama dan berlangsung  selama 4 tahun, basic general education adalah tingkatan kedua berlangsung selama 5 tahun, dari kelas 5 sampai kelas  9, dan secondary (complete) general education yang merupakan tingkatan terakhir, berlangsung selama 2 tahun, dari kelas 10 sampai kelas 11

[3] Sistem penilaian di dalam pendidikan Rusia: единица yedinitsa = 1, двойка dvoika = 2, тройка troika = 3, четвёркa chetvorka = 4 dan пятёрка pyatyorka = 5

[4] Satuan terkecil mata uang Rusia

[5] Berasal dari nama Fyodor

[6] Beberapa sumber  menyebutkan berasal dari nama Vadim

[7] Persegi

Continue Reading

Cerpen

Chingiz Aitmatov: Mankurt

mm

Published

on

Ini terjadi pada berabad-abad yang lalu. Di antara suku-suku nomaden, yang hidup di tanah Kazakhstan, berlangsung perang yang permanen. Para pemenang perang mengubah orang-orang taklukan menjadi budak. Zhuanzhuan, yang pada suatu waktu menguasai sebagian besar tanah Kazakhstan, merupakan orang-orang yang terutama sangat keji. Mereka mengubah para tawanan menjadi mankurt, manusia yang kehilangan ingatan. Untuk itu ke kepala para tawanan dilekatkan kulit unta yang lembab dan mereka ditinggal  tanpa air, tanpa roti, dalam beberapa hari di atas tanah lapang terbuka. Matahari memanaskan kulit unta yang lembab dan kulit itu pun menjadi mengkerut, dan manusia bisa mati lantaran rasa sakit atau bisa menjadi gila, kehilangan ingatan. Baru pada hari ke lima Zhuanzhuan datang melihat, siapakah di antara tawanan yang bertahan hidup. Biasanya yang bertahan hidup hanyalah 1-2 orang dari lima. Mereka merupakan budak-mankurt, yang harganya sangat mahal, karena mereka adalah manusia tanpa ingatan, manusia, yang melupakan ayah dan ibunya dan hanya mengetahui tuannya. Budak yang demikian tidak memimpikan kebebasan, dia mampu mengerjakan pekerjaan yang paling hitam dan berat, dan tidak menginginkan apa-apa. Dan tidak ada seorang dari para kerabat atau kawan yang berupaya membebaskan mankurt, manusia, yang melupakan segala.

Tetapi ada seorang ibu, bernama Naiman-Ana, tidak mampu berdamai dengan hal tersebut. Anak laki-lakinya, yang ikut di dalam pertempuran dengan Zhuanzhuan, jatuh ke dalam tawanan. Naiman-Ana ingin menemukan anaknya. Dia memimpikan hanya satu hal: semoga anaknya masih hidup, meskipun menjadi seorang mankurt, yang kehilangan ingatan, tetapi anaknya tetap hidup, tetap hidup! Naiman-Ana mengambil selembar selendang putih dan mulai berjalan ke padang stepa. Begitu lama dia berjalan di atas padang stepa dan akhirnya dia bertemu dengan seorang pemuda rupawan dan dia mengetahui, bahwa itu adalah anaknya.

“Anakku, anak kandungku! Aku mencarimu!” teriaknya, “aku ibumu!” Dan dengan seketika Naiman-Ana memahami semuanya dan dia pun mulai menangis, dan dia memandangi wajah anaknya yang beku, yang berdiri di sampingnya. Tetapi anaknya bahkan tidak bertanya, siapakah dia dan mengapa juga dia menangis. Kedua mata anaknya tampak kosong dan wajahnya tidak pedulian.

“Kau tidak mengenalku?” tanya sang ibu, akhirnya.

“Tidak,” jawab mankurt.

“Siapakah namamu?”

“Mankurt.”

“Begitulah sekarang kau dipanggil. Dan bagaimanakah dulunya kau dipanggil? Ingatlah namamu sendiri!”

Mankurt terdiam.

“Dan siapakah nama ayahmu? Dan kau sendiri siapa, dari mana, di manakah kau dilahirkan? Kau ingatkah?”

Tidak, anaknya tidak ingat apa-apa dan dia tidak mengenali.

“Apakah yang mereka lakukan terhadapmu!” kata sang ibu dengan lirih. “Kau dengar? Namamu Zholaman. Ayahmu bernama Donenbai. Kau ingat ayahmu? Dialah yang mengajari kau memanah. Dan aku adalah ibumu, kau dengar?”

Akan tetapi semua, apa yang dikatakan sang ibu, tidaklah menarik baginya.

“Marilah aku lihat, apa yang mereka lakukan dengan kepalamu?” kata Naiman-Ana.

“Tidak,” jawab mankurt dan dia tidak ingin lebih jauh lagi berbicara dengan Naiman-Ana. Dan Naiman-Ana memutuskan untuk membawa pulang anaknya. Lebih baik anaknya tinggal di rumah sendiri, dibandingkan di padang stepa, menjadi budak Zhuanzhuan.

Naiman-Ana dengan begitu lama meminta anaknya untuk pulang ke rumah, tetapi anaknya tidak memahami, bagaimanakah harus pergi, jika sang tuan tidak mengijinkan. Dan kembali, dan kembali lagi Naiman-Ana mengulangi:

“Ayahmu Donenbai, dan namamu bukan Mankurt, tetapi Zholaman. Ketika kau dilahirkan di dalam keluarga kita ada perayaan yang demikian besar.”

Dan tiba-tiba saja Naiman-Ana melihat seseorang, yang berjalan ke arah mereka di atas seekor unta.

“Siapakah dia?” tanyanya.

“Itu sang tuan.”

Naiman-Ana mestilah pergi.

“Jangan katakan apa-apa kepadanya, aku akan segera datang kembali.” Kata Naiman-Ana. Anaknya tidak menjawab. Baginya semua sama saja.

Tetapi sang tuan telah melihat sang perempuan tersebut. “Siapakah dia?” tanyanya kepada mankurt.

“Dia berkata, bahwa dia adalah ibuku.”

“Dia bukan ibumu! Kau tidak punya ibu! Kau tahu, apa yang dia inginkan? Dia ingin mengambil kepalamu!” teriak Zhuanzhuan.

Mankurt ketakutan. Wajahnya menjadi suram.

“Jangan khawatir!” kata sang tuan, “bukankah kau bisa memanah? Nah, ambillah!” Dan dia memberikan mankurt busur beserta anak panahnya.

Ketika Zhuanzhuan pergi, Naiman-Ana menghampiri anaknya. Dia tidak melihat, bahwa anaknya, mankurt, telah bersiap-siap memanah. Sinar matahari mengganggu mankurt, dan dia menantikan momen yang tepat.

“Zholaman, anakku!” panggil Naiman-Ana kepada anaknya. Tetapi terlambat: anak panah telah menghantam tepat di jantung Naiman-Ana. Itu adalah hantaman yang mematikan. Naiman-Ana pelan-pelan terjatuh, tetapi dari bagian kepalanya selendang putih terlebih dulu jatuh, berubah menjadi seekor burung dan terbang dengan teriakan: “Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai! Donenbai!”

Orang-orang mengatakan, bahwa sekarang pejalan yang berjalan di padang stepa masih bisa mendengar, bagaimana burung tersebut berteriak:

“Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai!” (*)

 

*Biografi Chingiz Aitmatov

Chingiz Torekulovich Aitmatov lahir pada tanggal 12 Desember 1928, di Sheker, Kyrgyzstan dan meninggal pada tanggal  10 Juni 2008, di Nürnberg, Jerman. Karyanya antara lain: “Jamila” (1958), “Farewell, Gulsary” (1966), “The White Ship” (1970), “The Day Last More Than a Hundred Years” (1980), “Mother Earth and Other Stories” (2011). Chingiz Aitmatov juga pernah berkaris sebagai ambassador Uni Soviet dan kemudian Kyrgyzstan untuk European Union, NATO, UNESCO dan negara-negara Benelux. Karya-karya Chingiz Aitmatov memiliki elemen-elemen yang unik, khususnya pada proses kreatifnya dan karya-karyanya menggambarkan folklore, bukan dalam cita  rasa kuno, tetapi Chingiz berupaya mengkreasi kembali dan mensintesiskan karya-karya lisan ke dalam kehidupan kontemporer.

Dalam arti kiasan, kata mankurt digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang telah kehilangan kontak dengan akar sejarah dan kenasionalan mereka, dan melupakan hubungan mereka. Kata mankurt telah menjadi identik dan telah digunakan di dalam jurnalisme. Di Rusia muncul neologisme: mankurtismmankurtizatsiya, dan  demankurtizatsiya.

Kata mankurt bisa jadi diderivasi dari bahasa Mongolia мангуурах (manguurah, yang bermakna bodoh), atau mungkin bahasa Turki mengirt (manusia yang memorinya dirampas) atau man kort (suku yang jelek, buruk atau jahat).

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

Continue Reading

Trending