Connect with us

Art & Culture

Sejarah Sunyi Neruda

mm

Published

on

Oleh: Agus Hernawan*

Pernikahan Ferdinand of Aragon dengan Isabella of Castile menyatukan dua dominasi, melahirkan Spanyol sebagai bangsa dalam satu kesatuan dan realitas. Granada direbut kembali melalui pembantaian orang Moor atas nama perang suci Abad Pertengahan. Sang Ratu Isabella pun ditasbihkan oleh Pope Alexander VI sebagai ”pemilik dan tuan” Dunia Baru setelah Columbus bersama armadanya  merapat di pulau karang berbentuk cincin yang dinamai San Salvador.

Tetapi, bagi Neruda, Granada telah hilang untuk selamanya. Kematian Lorca, perang saudara di Spanyol, dan simpatiknya ke kaum Republiken, membawa Neruda kembali ke Cile. Ia mengakhiri mimpi buruk: memanggul beban kesunyian 550 tawanan Indian yang diangkut Columbus, persembahan bagi Sang Ratu, the patroness of the Holy Inquisition.  Neruda—seorang yang ingin berterima di tanah beradab—mendapati dirinya memikul beban kesunyian budak Indian yang mati kedinginan dan dicampakkan ke laut.

”Kami menenggelamkan mereka, tidak jauh dari daratan Spanyol,” tulis Michele de Cuneo (dalam Journal and Other Documents on the life and Voyages of Christopher Columbus (ed) Morison, 1963). Sementara sisanya, tulis Galeano, dijual sebagai budak di Sevilla dan mati sengsara. Tetapi, saat kembali Neruda mendapati  Amerika Latin bukan ”the New World” yang eksotik seperti termuat dalam peta perjalanan ke Dunia Timur di Biblioteca Marciana sejak pangkal Abad ke-16. Ia mendapati sejarah yang menghampar di atas kekejaman pelatuk senapan. Dengan nada geram, dalam Explico Algunas Cosas, Neruda menulis:

Dan kau akan bertanya: mengapa puisi-puisinya tidak berbicara  tentang anggur mimpi dan dedaun gugur dan kemegahan jubah gunung emas tanah asalnya? Datang dan lihat kematian menggenang di jalan-jalan. Datang dan lihat darah di jalan-jalan. Datang dan lihat darah menggenang di jalan-jalan!

Sejarah modernitas adalah sejarah benua yang hilang. The primitive accumulation of capital di balik serbuan Barat, buruh-buruh imigran Irlandia yang dimiskinkan, budak-budak Asia dan Afrika yang diangkut kapal Portugis menuju Brasil, dan 90 juta kaum pribumi yang musnah dalam 500 tahun kolonialisme. Neruda pun mendatangi sebuah pangkal, sebelum waktu imperial. Ia berziarah  ke ketinggian Pegunungan Andes, ke reruntuhan kota kuno. Ia mendatangi Macchu Picchu untuk menemukan akarnya.

Ziarah ke Macchu Picchu mengawali kemunculan puisi-puisi Neruda yang memanggul kewajiban dan etis pada hidup.  Suara untuk kematian masa lalu, untuk bebatu, dan di atas segalanya, untuk sejarah yang ditenggelamkan. Pedro Orgambide menyebut Neruda dalam Ganto General-nya menyuguhkan suara yang sangat politis, suara Amerika Latin dengan sejarah yang drastis dan penuh lubang peluru.

Amerika Latin adalah tempat sastra menafsir ”realitas” sekaligus mentransformasikannya. Ia menjadi kesastraan yang penuh risiko karena menempatkan bahasa bukan melodi, melainkan ”suara dan gema” di dalam sistem komunikasi yang dimonopoli kekuasaan. Di keseluruhan Amerika Latin, kediktatoran militer yang didukung Barat meletakkan kebebasan berpikir di bawah bayang-bayang bayonet. Monopoli atas ”kata” (the monopoly of the world) membuat bahasa menjadi properti kekuasaan. Neruda jauh lebih beruntung dibandingkan Otto Rene Castilio, penyair paling menjanjikan dari Guatemala yang  dibakar di Zacapa oleh rezim militer—layaknya serdadu Portugis dan Spanyol yang membuat unggun dari tubuh laki-laki, perempuan, dan anak-anak Indian yang jadi kayu bakar.

Akibat surat terbuka berisi kritik pedas ke Presiden Gonzalez Videla, Neruda terpaksa bersembunyi, menyusuri Pegunungan Andes, dan menuju Argentina. Eksil adalah jarak, satu kemewahan di tengah ketiadaan lagi alternatif. Eksil menjadi semacam takdir sastrawan dan intelektual Amerika Latin, ujar Galeano. Masa bersembunyi di rumah-rumah petani itu membawa puisi-puisi Neruda menjadi ledakan dari ruang sejarah orang-orang yang diabaikan. Puisi-puisi Neruda lebih sederhana, tetapi sangat politis. Satu utang budi  ke compesinos yang melindunginya, satu kemurnian protogonisme pada kediktatoran yang mengakuisisi bahasa sebagai properti dan kata sebagai kutukan.

Dalam Deber del Poeta, Neruda menulis:

…untuk siapa pun yang dibungkam

di rumah atau di gedung-gedung pemerintah,

buruh atau perempuan, yang terlempar di jalanan

di lubang lubang tambang, atau dinistakan di balik sel penjara panas

untuk mereka aku datang…

Di tahun 1970, melalui pemilihan yang paling demokratis dalam sejarah Cile, Salvador Allende terpilih sebagai presiden. Tiga tahun kepemimpinannya, Cile menasionalisasi industri tembaga, perbankan, dan sistem telekomunikasi. Menggulirkan program pendidikan bagi semua, jaminan kesehatan, distribusi tanah, dan menerbitkan undang-undang yang mengakui hak-hak perempuan dan kaum pekerja. Di masa Allende, Neruda menduduki pos duta besar di Perancis. Itulah masa kegemilangan Neruda melayani Cile baik sebagai penyair  dengan mempersembahkan Nobel Kesastraan (1971). Juga sebagai politisi, ia ikut mendirikan satu pemerintahan demokratis yang dibayangkannya akan kekal.

Kesehatan yang memburuk membawa Neruda,  di tahun 1973, kembali ke Cile. Di rumahnya, di Isla Negra, Neruda terbaring sakit. Di Luar,  Santiago de Chile dikepung junta militer dipimpin Augusto Pinochet—didukung oleh CIA lewat sandi operasi bernama Operasi Djakarta. Allende gugur dalam  kudeta 11 September 1973 dan Cile pun kembali penuh lubang peluru dalam 17 tahun kediktatoran Augusto Pinochet. Sepanjang 1973-1990,  sekitar 3.000 orang tewas atau hilang. Dalam Descubridores de Chile,  Neruda menulis …kesunyian terbaring di sepanjang garis.

Tema kesunyian muncul tetapi lebih getir dibandingkan Amor America atau Los Rios Acuden. Bahkan, dijajarkan dengan the Heights of Macchu Picchu (alturas de Macchu Picchu) yang penuh gairah dan kedalaman puitis yang politis, Descubridores de Chile terbaca kesunyian yang sangat muram. Di puisi yang hanya beberapa baris itu setiap kata seperti kesunyian yang terbaring abadi jalur sempit pantai barat. Kesunyian yang membawa Cile, negeri ujung daratan Benua Amerika itu, berhadapan langsung dengan lautan sejarah yang tidak pernah tenang, dengan Samudra Pasifik yang penuh badai dan gejolak.

Pinochet, dengan tangan besinya, membawa Cile menjadi kelinci percobaan pasar bebas dan agenda neoliberal. Kediktatoran dan ekonomi liberal yang diterapkan Pinochet, tulis Orlando Letelier, adalah dua sisi dari satu keping koin. Separuh industri yang sudah dinasionalisasi Allende dikembalikan Pinochet ke pemiliknya, separuh lagi dijual. Restorasi Pinochet ini telah mengembalikan ekonomi Cile dimonopoli segelintir elite.

Duncan Green dalam Silent Revolution: The Rise and Crisis of Market Economics in Latin America mengisahkan bagaimana tak lama setelah berkuasa, Pinochet mengundang para ekonom University of Chicago (Milton Friedman, Friedrich von Hayek, dan Arnold Harberger) untuk mengarsiteki ekonomi Cile. Mereka yang dijuluki ”Chicago Boys” itu  merekomendasi prinsip-prinsip ekonomi liberal. Sebanyak 400 lebih perusahaan negara diprivatisasi, diikuti PHK 10.000 pekerja publik. Prinsip ekonomi liberal dari Chicago dipaksakan dengan mata penuh kebencian dan kecurigaan ke serikat pekerja dan organisasi politik.

Agenda pasar bebas telah membuat negara kehilangan kontrol untuk berbagai produk. Susu yang jadi perhatian khusus masa Allende, sejak 1975, mengikuti mekanisme pasar. Hasilnya, harga ke konsumen menaik sampai ke 40 persen, sebaliknya  harga ke produsen terjun 22 persen. Dan, kematian bayi meningkat drastis, tulis Galeano dalam Sevent Years After. Hanya satu kuarter setelah kejatuhan Allende, program charity asing membanjiri kaum miskin Cile. Satu cara cuci tangan sekaligus menciptakan dependensi baru. Neruda, dalam Demasiodas Nombres, demikian liris, ”…semua kita debu atau pasir/semua kita berkubur sunyi tangis…”.

*Pekerja Kebudayaan yang Lahir di Palembang. Esai ini pernah terbit di Harian Kompas, (2015). Photo by http://www.journalgazette.net

Continue Reading

Editor's Choice

Batik, Riwayat Identitas Yang Mencari Generasi

mm

Published

on

“Sudah semestinya kecintaan terhadap batik mulai ditumbuhkan sedari dini, bukan hanya sekedar sebagai laku fashion and style, atau suatu komoditas ekonomis, tapi sebagai dokumen sejarah dan pakain identitas kebudayaan. Apa jadinya bangsa besar yang mengabaikan identitas budaya dan sejarahnya bahkan malah tak mengenalnya?”

| Oleh: Gui Susan*

Tiga orang perempuan sedang tekun dengan kain putih di hadapannya. Tangan mereka sesekali turun ke bawah, dan canting pun memulai sihirnya yang mengesankan.

Bau khas malam langsung tercium seketika kaki kita menginjakkan langkah pertama di depan pintu. Ruangan ini dipenuhi dengan kain-kain yang akan dibatik, banyak diantaranya sudah di berikan gambar motif, seperti motif Bokong Semar, Ayam Jago, Ikan Etong, Kereta Kencana, atau pun Pentil Kuista.

Ruangan ini tidak besar, seperti industri rumahan batik pada umumnya, hanya berukuran 4×3 dan diisi oleh empat orang perempuan “seniman” batik. Mata saya melirik ke sana ke mari, jeli dan kagum melihat warna-warni di atas kain, melihat ketekunan 3 orang seniman pembatik tengah bekerja. Melihat pemandangan itu saya langsung merasa beruntung bisa berada di sini. Lebih-lebih satu dari perempuan lantas bergegah ramah menyambut saya sebagai tamu. Keberuntungan saya datang lantaran ia mengiyakan untuk ngobrol-ngobrol lebih dalam. Ibu Esih namanya, dialah pemimpin produksi sekaligus empunya usaha batik industri “Paoman” yang saya singgahi malam itu (7/4) di Indramayu.

Aktifitas perempuan buruh pembatik sendiri disebut Ngobeng, mereka duduk di atas dingklik dan sesekali mereka berbagi cerita tentang politik, gosip artis dan tentu saja harga beras.

Sambil terus mengobrol saya mengamati dengan antusias sekeliling ruangan; di samping ruangan membatik terdapat ruangan kecil berukuran 3×2, jendelanya berukuran kecil dan berada di bagian atas. Ruangan itu digunakan sebagai tempat mewarnai kain batik, terdapat dua meja besar dengan kotak besar dan pewarna batik. Bau menyengat tercium, biasanya ada dua orang yang mengerjakan pewarnaan. Namun sudah beberapa bulan terakhir, ibu Esih, pemilik home industry Batik tulis di Indramayu, menuturkan ia kesulitan mendapatkan orang baru untuk membantu mewarnai batik.

Home Industry Batik itu diberi nama Batik Silva. Penamaan batik Silva diambil dari anak pertama ibu Esih, ia percaya pemberian nama anaknya akan memanggil rezeki baik untuk keluarganya.

Corak Pesisir

Batik Silva berada di keluarahan Paoman, Indramayu, Jawa Barat. Paoman merupakan daerah pesisir Pantai Utara, tidak heran jika motif dari batik Paoman didominasi dengan corak pesisiran. Sama halnya seperti Cirebon yang terkenal dengan batik Trusmi, Indramayu pun dikenal dengan batik Paoman.

Batik Paoman juga dikenal dengan nama batik Dermayon, banyak juga yang mengenalnya dengan batik pesisir.  Perempuan-perempuan di Paoman biasanya membatik ketika nelayan tidak bisa melaut karena cuaca buruk. Hal inilah yang menjadi kendala dari pemasaran batik Paoman, masalah kontinuitas dan promosi menjadi tantangan bagi para industri rumahan yang ingin mengembangkan batik Paoman.

Batik Paoman pun beradaptasi dengan perkembangan zaman, tidak sedikit industri rumahan yang mengembangkan batik cap dan batik print. Proses panjang membuat batik tulis menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang masih memilih cara konvensional.

Setidaknya ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh batik tulis. Diawali dengan Nyoret atau menggambar pola batik di atas kain mori. Sebagian orang yang mendengar kata mori mungkin sedikit bertanya-tanya, apakah yang dimaksud adalah kain mori yang sering digunakan untuk membungkus mayat. Terdapat banyak jenis kain mori, dalam membatik biasanya jenis kain mori yang digunakan adalah Prima dan Primis. Pola dasar dari batik dibuat di atas kain mori dengan menggunakan pinsil.

Pada tahapan kedua, perempuan-perempuan mulai Nglowongi yaitu melukis pola batik menggunakan malam/lilin. Tahapan ini merupakan tahapan yang paling panjang, biasanya akan memakan waktu kurang lebih 1  minggu untuk satu kain. Jika satu kain ingin punya lebih dari satu warna dasar, seperti warna merah dan biru maka satu bagian harus ditutupi oleh malam terlebih dulu. Para pembatik menyebut proses ini dengan istilah nembok yaitu memberikan blok pada bagian tertentu untuk kemudian lanjut pada proses pewarnaan.

Tahapan ketiga adalah mewarnai kain batik. Terdapat dua teknik mewarnai, yaitu Teknik Soga dimana kain batik akan dicelup di dalam bak besar berbentuk kotak yang telah diberi pewarna. Teknik mewarnai lainnya adalah Teknik Colet, yaitu dengan cara kain batik dibentangkan dan dicolet pewarna menggunakan kuas atau alat lainnya. Adapun pewarnaan kain batik dengan teknik Colet banyak dilakukan oleh pengrajin yang ingin kain batiknya dirancang dengan banyak warna.

Terakhir, pengrajin harus melewati proses Ngelorod malam yang ada di kain batik. Malam tidak tahan dengan panas, untuk itu kain batik direndam di kuali besar berisi air yang mendidih. Malam di atas kain batik akan luntur ke bawah, dan untuk itulah disebut Melorot/Melorod.

Lintas Batas Muasal Batik

Pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Penemuan seni pewarnaan kain dengan menggunakan malam berasal dari Mesir Kuno/Sumeria pada abad ke-4 SM, yaitu dengan ditemukannya kain pembungkus mumi yang dilapisi oleh malam dan membentuk pola tertentu. Sedangkan di Asia, perkembangan yang serupa dengan batik ditemukan di Tiongok, yaitu semasa Dinasi T’ang (618-907) dan di India serta Jepang semasa Periode Nara (645-794).

Batik di Indonesia erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Dalam beberapa catatan sejarah, batik dikembangkan pada zaman kesultanan Mataram dan berlanjut pada zaman Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Namun, seorang arkeolog Belanda bernama J.L.A.Brandes dan F.S Sutjipto seorang sejarawan Indonesia percaya bahwa tradisi batik adalah asli berasal dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Daerah-daerah tersebut merupakan wilayah yang tidak dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki traidisi kuno membuat batik.

Batik tulis terus berkembang hingga pada abad ke-20. Sedangkan batik cap baru mulai diperkenalkan setelah perang dunia 1 berakhir atau sekitar tahun 1920. Di Indonesia, kegiatan membatik merupakan aktifitas yang terbatas dalam lingkup keraton saja.

Batik yang dibuat pun digunakan sebagai pakaian raja dan keluarga raja, pemerintahan dan keluarganya. Seiiring dengan perkembangan zaman, banyaknya pembesar dan pejabat pemerintahan yang tinggal di luar keraton maka aktifitas batik pun dibawa keluar dari keraton. Semenjak saat itu, kesenian membatik mulai dilakukan di rumah masing-masing dan mulai diperkenalkan kepada masyarakat.

Perempuan Membatik

Dalam industri rumahan Batik Silva, rata-rata pengrajin adalah perempuan. Ibu Esih sendiri memiliki lebih dari 3 orang pengrajin perempuan yang datang ke rumahnya setiap hari. Perempuan menjadi dekat dengan aktifitas membatik, karena perempuan memiliki ketekunan dan ketelitian yang tinggi.

Para Pembatik di rumah batik “Silva” Indramayu. (foto by; Gui Susan)

Di Paoman, akfititas membuat batik merupakan pekerjaan sampingan perempuan nelayan selagi menunggu suami pulang dari melaut. Pada saat bersamaan, membatik merupakan salah satu upaya meneruskan tradisi yang telah dijalankan oleh warga Paoman dari turun temurun.

Namun, batik pesisir memiliki ciri khas tersendiri. Berdasarkan beberapa catatan bahwa di daerah pesisir, laki-laki pun membatik. Hal tersebut dapat dilihat dari garis maskulin dan tegas yang terdapat di corak “Mega Mendung”, artinya pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum laki-laki di daerah pesisir.

Di masa lampau, perempuan-perempuan Jawa menjadikan membatik sebagai keterampilan sekaligus mata pencaharian. Hal inilah yang membuat membatik menjadi pekerjaan ekslusif perempuan. Hingga akhirnya ‘Batik Cap’ mulai ditemukan pada tahun 1920 dan membuka peluang bagi laki-laki masuk ke dalam bidang ini. Tidak ada catatan yang mengungkap sejak kapan pekerjaan membatik menjadi pekerjaan untuk perempuan.

Riwayatmu Kini

Munculnya batik cap sejak tahun 1920 perlahan merubah tradisi dari batik tulis. Batik cap yang dinilai lebih cepat diproduksi dengan harga yang murah menyebabkan batik tulis mulai terkikis perlahan-lahan.

Untuk memproduksi satu kain batik, para pengrajin membutuhkan waktu kurang lebih 1 bulan agar warna dan hasilnya memuaskan. Panjangnya proses yang dilewati membuat harga batik tulis lebih mahal. Di Paoman harga satu lembar kain batik tulis berkisar Rp 300.000 sampai dengan Rp 350.000 dengan menggunakan kain dari Mori Primis dan Rp 200.000 sampai dengan Rp 300.000 untuk kain Mori Prima.

Sedangkan untuk batik cap, harga satu lembar kain berkisar Rp 50.000 sampai dengan Rp 100.000. Perbedaan harga yang cukup tinggi membuat banyak konsumen lebih memilih membeli batik cap.

“Orang yang membeli batik tulis biasanya mereka yang mengerti bahwa batik tulis itu adalah bentuk karya seni tinggi dan biasanya yang membeli itu sudah masuk dalam kolektor.” Tutur Ibu Esih.

Hari ini batik tulis menghadapi masalah besar, regenerasi merupakan masalah utama yang dihadapi oleh industri batik tulis. Para Pengrajin di desa Paoman rata-rata adalah perempuan di atas 35 tahun. Pun jika ada yang muda, jumlahnya bisa terhitung dengan jari.

Di Paoman sendiri, anak-anak muda banyak yang memilih bekerja sebagai buruh di luar daerah. Pengembangan sentra batik dirasa masih terkendala dengan modal dan pemasaran yang kreatif. Batik Paoman dianggap masih belum mengimbangi Batik Trusmi di Cirebon, untuk itulah Ibu Esih mengharapkan semua pihak mau bersama-sama mengembangkan batik Paoman.

Batik merupakan identitas masyarakat Indonesia. Hampir semua wilayah negeri ini memiliki ciri khas batiknya, sebagai pengejewantahan nilai masyarakat dan sejarah yang dikandung dan telah melahirkan peradaban masyarakat itu sendiri. Maka sudah semestinya kecintaan terhadap batik mulai ditumbuhkan sedari dini, bukan hanya sekedar sebagai laku fashion and style, atau suatu komoditas ekonomis, tapi sebagai dokumen sejarah dan pakain identitas kebudayaan. Apa jadinya bangsa besar yang mengabaikan identitas budaya dan sejarahnya bahkan malah tak mengenalnya? (*)

———————–

*Susan Gui, Pecinta Batik.

Continue Reading

Milenia

Memulung Inspirasi di Pasar Santa

mm

Published

on

Pasar identik dengan kesan kumuh, becek, berantakan, dan bau. Tapi tidak dengan Pasar Santa yang terletak di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pasar Santa ini bersih, rapi, dan well organized. Asyiknya lagi, pasar yang dibangun sejak tahun 1971 itu dihuni stand-stand unik nan kreatif. Sampai sekarang, lebih dari 100 kios di lantai satu diisi berbagai macam stand modern. Mulai dari stand makanan, kudapan, fesyen, musik (vinyl, CD, dan kaset), jasa cuci sepatu, pangkas rambut, toko buku, hingga tukang jahit.

Sebagian besar kios-kios itu dikelola oleh entrepreneur muda. Sehingga produk-produknya pun inovatif. Misalnya, kios DOG (Dudes of Gourmet) yang berada tepat di depan tangga utama. Di sana, kita bisa merasakan sensasi hotdog hitam yang lezat. Ada juga kios Substore yang menyediakan koleksi piringan hitam. Keunikan stand-stand itulah yang membuat Pasar Santa selalu ramai dikunjungi kawula muda. Apalagi ketika weekend, Pasar Santa pasti berjubel dengan pengunjung yang ingin nongkrong sembari ngemil atau pengunjung yang ingin sekaadar berbelanja.

Suasana di dalam Pasar Santa. di Kafe-kafe dalamnya banyak generasi muda Jakarta melangsungkan agenda seni dan budaya seperti membaca puisi dan diskusi buku.

 

Meski dihuni stand modern, Pasar Santa tidak mengubah fungsi utamanya sebagai pasar tradisional. Pihak pengelola pasar tetap memertahankan pedagang konvensional di lantai dasar. Pengunjung pasar bisa tetap membeli kebutuhan sehari-hari seperti sembako, alat-alat rumah tangga, di Pasar Santa. Sebelum direnovasi setahun lalu, Pasar Santa nyaris menjadi pasar yang mati. Kehadiran stand-stand unik dari berbagai komunitas diharapkan bisa mendongkrak pula penjualan di toko-toko konvensional.

Konsep tradisional dan modern yang ditawarkan Pasar Santa terbilang sangat unik. Sebetulnya, perpaduan konsep tersebut telah banyak diaplikasikan di pasar-pasar Australia dan beberapa negara di Eropa. Kehadiran Pasar Santa diharapkan mengubah mindset masyarakat terutama kalangan anak muda supaya mau datang ke pasar. Hal itu sangat bagus untuk menghidupkan kembali denyut perekonomian pengusaha kecil dan menengah yang ada di pasar.

Oh ya, setiap minggunya Pasar Santa selalu menggelar acara yang asyik. Kalau tidak ingin ketinggalan infonya, silakan cek Instagram Pasar Santa. Selamat bersenang-senang di Pasar Santa!!

—————————————-

*Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Continue Reading

Milenia

Ke Taman Ismail Marzuki Yuk…

mm

Published

on

Kamu menggemari seni dan budaya? Sudah pernah berkunjung ke Taman Ismail Marzuki (TIM)? Jika belum pernah, maka kamu belum resmi mendapat gelar anak artsy. Berlokasi di Jl Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, TIM merupakan salah satu pusat kesenian ternama di Jakarta. Sejak diresmikan pada tahun 1968, TIM menjadi kiblat para seniman di Indonesia. Dari dulu hingga sekarang, para seniman berbondong-bondong untuk menggelar pertunjukan di tempat yang dulunya bernama Taman Raden Saleh (TRS) itu.

Segala jenis kesenian mulai dari seni rupa, seni tari, drama, musik, dan cabang seni lainnya mendapatkan tempat istimewa di TIM. Ragam seninya pun bervariasi dari yang tradisional hingga kontemporer. Asyiknya lagi, kita tidak hanya menonton tetapi juga bisa mempelajari jenis seni yang kita minati. Sebab. ada puluhan sanggar seni yang rutin menggelar workshop di sana.

Jika ditilik dari sisi historisnya, TIM merupakan ruang ekspresi yang pembangunannya diinisiasi oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin atau karib disapa Bang Ali. Sebelum menjadi pusat kesenian, TIM merupakan Kebun Binatang Jakarta yang sudah dipindahkan daerah Ragunan. Pemberian nama Ismail Marzuki tidak lain juga sebagai bentuk apresiasi terhadap komponis legendaris yang telah menciptakan lebih dari 200 lagu tersebut.

Di dalam TIM ada berbagai macam galeri pertunjukan. Mulai dari skala kecil hingga besar. Selain itu ada juga gedung Planetarium dan Obeservatorium Jakarta.  Di sana, kita bisa melihat pertunjukan Teater Bintang dan multimedia atau citra ganda. Jika beruntung, kita juga bisa melihat fenomena di atas langit yang menakjubkan seperti gerhana, komet, dan lainnya. Untuk yang mencintai sastra, harus mampir ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jasin. Ada sekitar 50 ribu dokumentasi sastra Indonesia yang disimpan di sana.

Salah satu sudut ruang pamer dan instalasi di TIM, Jakarta

Di sekitar area seluas sembilan hektare itu pula dibangun sebuah sekolah seni yang termasyhur di Indonesia yakni, Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tak terhitung, jumlah sineas dan seniman hebat dan kreatif yang lahir dari IKJ. Sebut saja seperti Slamet Rahardjo, Didi Petet, Garin Nugroho, Mira Lesmana, Naif, White Shoes and The Couples Company dan masih banyak lagi.

Setiap minggunya, TIM selalu menyajikan penampilan para seniman berkualitas. Jadi, pengunjung tidak akan bosan datang ke TIM. Menariknya lagi, di TIM juga ada bioskop 21 Cineplex yang memutarkan film-film terkini. Namun bagi yang suka film indie atau film-film festival yang tidak diputar di bioskop mainstream, jangan kuatir! Ada Kineforum! Apa itu Kineforum? Kineforum merupakan bioskop mini berkapasitas kurang lebih 30 penonton yang sering memutarkan film indie. Letaknya di belakang persis 21 Cineplex.

Saya sendiri paling suka dengan gedung Teater Jakarta yang megah. Jika Australia punya Sydney Opera House dan Inggris punya Royal Albert Hall, maka saya bangga dengan gedung Teater Jakarta. Kendati tidak seluas gedung di luar negeri, Teater Jakarta mampu menampung 1200 penonton dan sudah didukung dengan teknologi mutakhir yang memungkinkan perhelatan akbar digelar di sini.

Komplek TIM memang menyajikan ruang hiburan dan edukasi seni budaya terlengkap di Jakarta. Jadi, kalau mampir ke Jakarta, jangan lupa mampir di TIM, ya!! (*)

——————————————–

*Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Continue Reading

Classic Prose

Trending