Connect with us

Cerpen

Sebuah Cerita Untuk Anak-Anak

mm

Published

on

Sebuah Cerita Untuk Anak-Anak[1] | Karya: Svava Jakobsdóttir[2] | Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

Sepanjang ingatannya, ia telah menetapkan hati untuk setia pada sifat dasarnya dan mengabdikan seluruh tenaga untuk rumah dan anak-anaknya. Saat ini ada beberapa anak dan dari pagi hingga malam ia dibanjiri pekerjaan, melakukan kegiatan rumah tangga dan mengurus anak. Ia sekarang sedang menyiapkan makan malam dan menunggu kentang mendidih.[3] Majalah wanita Denmark tergeletak di atas bangku dapur seakan dilempar dengan tidak sengaja; kenyataannya, ia memang sengaja menaruh majalah itu disana dan meliriknya ketika ada kesempatan. Tanpa mengacuhkan panci kentang dari pikirannya, ia mengambil majalah dan membaca sepintas kolom nasihat Fru Enson[4].  Bukan berarti kolom itu terlihat paling menarik baginya, namun karena tulisannya pendek-pendek. Mungkin juga akan memakan cukup banyak waktu untuk membacanya sehingga kentang yang dimasak akan mendidih ketika, ia selesai membaca. Surat pertama di kolom itu singkat: Kepada Fru Enson, saya hidup demi anak saya dan selalu melakukan segala sesuatunya untuk mereka. Sekarang saya ditinggal sendiri dan mereka tidak pernah mengunjungi saya. Apa yang harus saya lakukan? Fru Enson membalas: Lakukan lebih untuk mereka.

Tentunya, ini jawaban yang logis. Sangat jelas hingga tidak ada lagi hal yang lebih memungkinkan. Ia berharap tidak akan mulai menulis untuk majalah itu tentang hal yang sudah jelas adanya ketika waktunya tiba. Tidak, kolom ini tempat orang-orang mengerang dan mengeluh bukanlah kesukaannya.  Kolom yang berisi cara pengasuhan anak dan peran ibu – lebih terdengar positif. Aspek fundamental pengasuhan anak tentunya telah familiar baginya sekarang ini, tapi ada saatnya ia merasa lemah dan letih di beberapa waktu. Di saat itu, ia akan buru-buru membalik halaman majalah untuk segera membaca kolom pengasuhan anak demi mencari keteguhan hati dan penegasan bahwa ia memang berada di jalur yang benar dalam hidup. Ia hanya menyesal memiliki sedikit dan semakin sedikit waktu untuk membaca.

Ikan yang belum dibersihkan menunggu dirinya di bak cuci piring dan kali ini ia menahan godaan untuk membaca kolom pengasuhan anak. Ia menutup majalah dan kemudian berdiri. Ia sedikit pincang sejak anak-anaknya memotong satu jari besar di kaki kanannya. Mereka penasaran apa yang akan terjadi jika seseorang hanya memiliki sembilan jari kaki. Di dalam dirinya, ia merasa bangga atas kepincangannya dan atas hasrat belajar anak-anaknya, dan terkadang ia bahkan pincang lebih sering daripada seharusnya. Sekarang ia mendinginkan kentang dan mulai membersihkan ikan. Pintu dapur terbuka dan anak laki-laki kecilnya, yang berusia enam tahun, bermata biru dan berambut agak ikal, menghampirinya.

“Mama,” katanya, dan menusukkan peniti ke tangannya. Ia kaget dan hampir mengiris jarinya dengan pisau.

“Ya, sayang,” jawabnya, dan membentangkan tangannya yang lain sehingga sang anak bisa menusuknya juga.

“Mama, ceritakan aku satu kisah.”

Ia menaruh pisau, mengeringkan tangan dan duduk dengan anaknya di pangkuan untuk menceritakan sebuah kisah. Ia sudah setengah jalan bercerita ketika terpikirkan bahwa salah seorang anaknya bisa menderita gangguan psikologi akibat tidak makan malam tepat waktu. Di wajah anaknya, ia mencoba melihat bagaimana anaknya akan bereaksi ketika ia berhenti bercerita. Ia merasakan keraguan menggenggam tangannya dan menjadi tidak konsentrasi bercerita. Ketidakmampuan dirinya untuk membuat keputusan semakin bertambah beriringan dengan banyaknya anak dan tugas rumah tangga yang tak ada habisnya. Ia mulai mengkhawatirkan hal-hal tadi yang menyela kesibukannya dari pagi hingga malam.  Lebih dan lebih sering ia kehilangan ketenangan jika berhenti membuat keputusan. Kolom pengasuhan anak sedikit sekali, bahkan tidak membantu, pada saat-saat seperti itu, meskipun ia mencoba mengingatnya. Kolom itu hanya membicarakan satu masalah dan satu anak di satu waktu. Masalah-masalah lainnya selalu harus menunggu hingga minggu depan.

Kali ini ia menghindari membuat keputusan. Pintu terbuka dan semua anaknya berbondong masuk ke dapur. Stjani, si sulung, memimpin yang lain. Di usia yang amat dini, dia telah menunjukkan minat mengagumkan akan biologi manusia dan hewan. Anak laki-laki yang sedaritadi mendengarkan cerita sekarang meluncur dari pangkuan dan mengambil posisi di antara saudara-saudara lelaki dan perempuannya. Mereka membentuk setengah lingkaran di sekelilingnya dan ia memandang mereka satu persatu.

“Mama, kami mau tahu rupa otak seseorang.”

Ia melirik jam dinding.

“Sekarang juga?” tanyanya.

Stjani tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dengan anggukan kepala dan pandangan tajam, dia memberikan tanda kepada adik laki-lakinya, dan si adik laki-laki keluar dan kembali dengan tali, sementara Stjani mengencangkan pisau gergaji ke pegangan kursi. Tali kemudian diikatkan disekitar sang ibu. Sang ibu merasakan ketika tangan-tangan kecil meraba punggungnya sementara simpul dikencangkan.  Talinya dibuat longgar dan tidak butuh banyak usaha untuk meloloskan diri. Namun ia berhati-hati agar anak-anak tidak mengetahui hal itu. Stjani selalu sensitif akan kecerobohan tangannya sendiri. Tepat ketika anaknya, Stjani, mengangkat gergaji ke kepalanya, gambaran akan sang ayah dari anak-anak muncul di pikirannya. Ia melihat lelaki itu di hadapannya seperti dia sesekali terlihat: berdiri di ambang pintu dengan tas kerja di satu tangan dan topi di tangan lainnya. Ia tidak pernah melihat lelaki itu kecuali di pintu depan rumah, entah ketika lelaki itu sedang berjalan keluar atau masuk ke rumah. Ia pernah sekali berhasil membayangkan lelaki itu sedang berada di luar rumah di antara orang-orang atau di kantor, tapi sekarang, setelah anak-anak mereka lahir, mereka pindah ke rumah baru dan lelaki itu bekerja di kantor baru, dan ia kehilangan arah.  Lelaki itu akan pulang lebih cepat dan ia bahkan belum mulai menggoreng ikan. Darahnya sekarang mulai menetes dari kepalanya. Stjani sudah selesai dengan gergaji. Operasi itu nampaknya berhasil, dan lumayan singkat.  Lalu dia berhenti seakan sedang mengira-ngira dengan matanya, seberapa besar lubang yang dihasilkan. Darah memuncrat ke seluruh wajahnya dan makian terucap dari mulutnya. Dia menganggukkan kepala dan adik laki-lakinya buru-buru keluar ruangan untuk mengambil ember pel. Mereka menaruh ember itu di bawah lubang dan tak lama ember terisi setengah penuh. Prosedur itu selesai dilaksanakan tepat di saat sang ayah muncul di pintu rumah. Sang ayah berdiri kaku sesaat dan merenungkan pemandangan yang tersuguhkan kepadanya: istrinya terikat, dengan sebuah lubang di kepala, anak laki-laki bungsunya memegang otak berwarna abu-abu di tangan, anak-anak dengan rasa penasaran saling berkerumun membentuk grup, dan hanya ada satu panci di kompor.

“Anak-anak! Bisa-bisanya kalian berpikiran melakukan ini di saat waktunya makan malam?”

Sang ayah mengambil potongan tengkorak istrinya dan memasangnya kembali saat sang istri hampir mati karena pendarahan. Lalu dia mengambil kendali dan segera setelahnya anak-anak sibuk merapihkan diri mereka. Dia mengelap hampir semua noda darah di dinding sebelum memeriksa panci di kompor. Ada suara mencurigakan dari panci itu. Air sudah lama mendidih dan dia memindahkan panci dari kompor dan menaruhnya di meja besi di sebelah bak cuci piring. Saat dia melihat ikan yang setengah bersih di bak cuci piring, dia sadar bahwa istrinya belum bergerak dari kursi. Bingung, dia mengerutkan alis. Tidak biasanya istrinya hanya duduk-duduk ketika ada banyak hal yang harus dikerjakan. Dia menghampiri istrinya dan menatapnya dengan penuh perhatian. Ternyata, anak-anak lupa membuka tali yang mengikat istrinya.

Saat dia telah membebaskan istrinya dari tali, mereka saling menatap mata satu sama lain dan tersenyum. Tidak pernah ada saat harmoni mereka terasa lebih dalam dibanding ketika mata mereka bertemu karena rasa bangga atas anak-anak mereka.

“Anak-anak malang,” katanya, dan suara lelaki itu dipenuhi nada khawatir sekaligus sayang untuk keluarganya.

Tak lama setelahnya mereka duduk di meja. Semuanya kecuali Stjani. Anak laki-laki itu sedang di kamar mempelajari otak dibawah mikroskop. Sementara itu, ibunya menghangatkan makan malamnya di dapur. Mereka semua lapar dan menghabiskan makanan dengan lahap; makan malam kali ini lebih telat dari biasanya. Tidak ada perubahan terlihat pada sang ibu. Ia sudah keramas dan menyisir rambut melewati bekas luka sebelum ia duduk. Ekspresi tenangnya menampakkan kesabaran dan penyangkalan diri yang biasa terlihat pada waktu makan. Ekspresi ini pertama kali muncul bertahun-tahun lalu ketika ia selalu menomorsatukan anaknya dan hanya menyimpan bagian yang teramat kecil bagi dirinya sendiri. Sekarang anak-anaknya sudah cukup besar hingga mereka dapat mengambil potongan terbaik untuk diri mereka sendiri dan ekspresi sebenarnya tidaklah penting, namun sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan makan. Sebelum makan malam berakhir, Stjani masuk ke ruangan dan duduk. Sang ibu segera mengambilkannya makan malam. Di dapur, ia membersihkan ikan dari tulang dengan cermat sebelum meletakkannya di piring. Saat mengambil ember sampah untuk membuang tulang-tulang ikan, ia berteriak kencang. Otaknya ada di bagian paling atas ember itu.

Anggota keluarga lainnya bergegas keluar sesaat setelah teriakannya mencapai ruang makan. Sang ayah memimpin di depan dan segera mengetahui permasalahan ketika dia melihat istrinya menundukkan pandangan ke ember sampah. Teriakan istrinya telah padam, namun masih bisa terlihat di garis wajahnya.

“Kamu malu membuangnya, bukankah begitu, sayang?” dia bertanya.

“Aku tidak tahu,” jawabnya dan menatap dengan penuh rasa maaf. “Aku tidak berpikir.”

“Mama engga berpikir, mama engga berpikir, mama engga berpikir,” ejek salah seorang anaknya yang berselera humor tajam.

Mereka semua tertawa terbahak dan tawa itu nampaknya menyelesaikan masalah. Sang ayah berkata dia punya ide; mereka tidak harus membuang otak itu, mereka bisa merendamnya dalam alkohol.

Maka, sang ayah meletakkan otak itu di toples bening dan menuangkan alkohol di atasnya. Mereka membawa toples itu ke ruang tamu dan menaruhnya di rak pajangan. Mereka semua sepakat otak itu cocok ditaruh disana. Kemudian mereka menyelesaikan makan malam.

Tidak ada perubahan kentara pada rutinitas rumahtangga akibat hilangnya otak. Awalnya, banyak orang berkunjung. Mereka datang ingin melihat otak itu, dan mereka yang membanggakan diri karena memiliki mesin pintal tua nenek mereka yang diletakkan di sudut ruang tamu sekarang tampak iri akan otak yang ditaruh di rak itu. Sang ibu tidak merasakan sedikitpun perubahan pada dirinya bahkan sejak awal. Tidak juga sulit baginya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga atau untuk mengerti majalah Denmark. Banyak hal bahkan menjadi lebih mudah dimengerti dibandingkan sebelumnya, dan situasi yang dahulu sempat membuatnya harus putar otak tidak lagi berlaku sekarang. Namun lama-kelamaan ia mulai merasa sesak di dada. Seakan paru-parunya tidak lagi punya cukup ruang untuk berfungsi dan setelah setahun berlalu ia pergi ke dokter. Melalui pemeriksaan seksama terungkap bahwa di dalam hatinya telah tumbuh usus in naturalis et adsidui causa.[5] Ia meminta maaf pada dokter karena telah melupakan Bahasa Latin yang pernah dipelajarinya di sekolah, dan dengan sabar sang dokter menjelaskan padanya bagaimana hilangnya satu organ bisa berdampak perubahan pada organ lainnya. Sama halnya dengan seorang pria yang kehilangan penglihatan akan menderita gangguan pendengaran akut, hatinya telah mengalami peningkatan aktivitas yang pesat di saat otaknya tidak lagi tersedia. Ini adalah perkembangan yang alami, lex vitae[6], konon begitu katanya – dan karena hal itu, sang dokter tertawa – tidak perlu khawatir karena dalil tersebut pasti adil. Maka ia tidak perlu takut. Ia dalam kondisi primanya.

 Ia merasa lega karena kata-kata itu. Belakangan ini ia khawatir hanya memiliki sedikit waktu tersisa dalam hidup, dan ketakutan ini telah menjadi suara lantang di dalam dadanya yang berkata: Akan jadi apa mereka jika aku mati? Namun sekarang ia menyadari bahwa suara ini, yang kekuatan dan kemurniannya semakin bertumbuh, bukanlah ramalan, melainkan suara hatinya. Hal ini membuatnya senang sebab suara hati seseorang dapat dipercaya.

Tahun demi tahun berlalu dan suara hatinya menunjukkan jalan: mulai dari kamar anak-anaknya dan ruang kerja suaminya hingga ke dapur dan kamar tidur. Rute ini berharga baginya, dan tidak sedikitpun angin yang menghempas dari pintu rumah cukup kuat untuk menyapu jejaknya. Hanya satu hal yang bisa bangkitkan ketakutan dirinya: perubahan yang tidak terduga di dunia ini. Tahun ketika orang-orang lima kali memecat dan mengganti gadis-gadis konter di toko susu, ia tidak pernah merasa baik-baik saja. Namun anak-anak tumbuh. Ia bangun bersamaan dengan mimpi buruk saat anak tertuanya, Stjani, mulai merapihkan kopernya untuk pergi menjelajah dunia. Dengan kekuatan berapi-api yang tak terkontrol ia melemparkan dirinya ke ambang pintu untuk menghadang anaknya keluar. Suara sesapan terdengar saat anak laki-laki itu menginjaknya kala melangkah keluar. Anak laki-laki itu mengira ia sedang merintih dan berhenti sejenak lalu berkata bahwa semua salah dirinya sendiri. Tidak ada yang menyuruhnya untuk berbaring di lantai. Wanita itu tersenyum kala ia bangkit karena apa yang telah dikatakan anak laki-laki itu tidaklah benar. Hatinya berkata untuk berbaring disana. Ia telah mendengar suara itu teramat jelas dan sekarang, saat ia melihat lelaki itu berjalan menyusuri jalanan, suara itu kembali berbicara padanya dan berkata kalau ia masih bisa merasa senang karena telah melunakkan langkah pertama anak laki-lakinya keluar menuju dunia. Setelahnya mereka semua, anak-anaknya, pergi satu per satu dan ia ditinggal sendirian. Ia tidak lagi punya hal untuk dilakukan di kamar anak-anaknya dan ia seringkali duduk di kursi goyang di ruang tamu belakangan ini. Jika ia mendongak, toples di rak terlintas di pandangannya, dimana otaknya berada selama bertahun-tahun ini, dan nyatanya, hampir terlupakan. Budaya membuat hal ini lumrah adanya. Kadang ia merenungkan ini. Sejauh yang ia lihat, otaknya baik-baik saja disana. Namun ia kehilangan kesenangan menatap itu. Membuatnya teringat anak-anaknya. Dan lambat laun ia merasa suatu perubahan sedang terjadi dalam dirinya, namun ia tidak bisa mengatakan hal ini pada suaminya. Ia jarang melihat suaminya akhir-akhir ini, dan kapanpun suaminya muncul di rumah, ia segera beranjak dari kursi, seakan tamu baru saja tiba. Suatu hari suaminya dengan sendirinya bertanya apakah ia tidak baik-baik saja. Puas, ia mendongak, tapi ketika ia lihat suaminya sedang menghitung rekening di saat yang bersamaan, ia jadi bingung menjawab (ia tidak pernah mahir dalam berhitung). Dalam kebingungannya ia berkata tidak punya cukup banyak hal yang bisa dilakukan. Suaminya melihat ke arahnya takjub dan berkata bahwa ada cukup banyak hal yang bisa dilakukan hanya jika orang menggunakan otak mereka. Tentu saja lelaki itu berkata demikian tanpa berpikir. Lelaki itu tahu benar kalau ia tidak punya otak, tapi bagaimanapun juga ia tidak mengartikannya secara harfiah. Ia menurunkan toples dari rak, membawanya ke dokter dan bertanya jikalau otak itu masih bisa digunakan. Dokter tidak meniadakan kemungkinan otak itu masih berfungsi untuk satu dua hal, namun di sisi lain, semua organ akan mengalami penyusutan setelah diawetkan dalam alkohol dengan rentang waktu sedemikian lama. Oleh karena itu, akan menjadi perdebatan apakah sebanding jika harus memindahkannya; sebagai tambahan, nervi cerebrales[7] telah berubah bentuk menjadi memprihatinkan, dan dokter bertanya apakah pernah ada sosok ceroboh yang melakukan operasi sebelumnya.

“Ia masih sangat kecil waktu itu, menyedihkan sekali,” kata si wanita.

“Omong-omong,” kata dokter, “Saya ingat anda pernah punya hati yang tumbuh pesat.”

Sang wanita menghindari tatapan menyelidiki sang dokter dan sebersit samar hati nurani mencengkeramnya. Ia berbisik pada dokter apa yang tidak berani ia ungkapkan pada suaminya:

“Suara hatiku telah bungkam.”

Saat mengatakan ini ia sadar mengapa ia datang ke tempat itu. Ia membuka kancing blusnya, melepaskannya, dan menyampirkannya rapi di belakang bangku. Bra nya juga bernasib sama. Lalu ia berdiri siap di hadapan dokter, telanjang dari pinggang ke atas. Dia mengambil pisau bedah dan menyayat, lalu sesaat kemudian dia menyerahkan hati yang merah juga berkilauan. Hati-hati dia menaruhnya di atas telapak tangan wanita itu dan tangan si wanita lalu mendekapnya. Detak ragu-ragu hati itu serupa kepakan burung dalam sangkar. Ia menawarkan untuk membayar sang dokter, namun dia menggelengkan kepala dan, melihat bahwa ia sedang dilanda kesulitan, dia membantunya berpakaian. Dia lalu menawarkan untuk memanggilkan taksi untuknya mengingat ia memiliki banyak hal untuk dibawa. Ia menolak, menyumpalkan toples berisi otak ke tas belanjanya dan menyampirkan tas itu di lengannya. Kemudian ia pergi dengan membawa hatinya di kedua tangannya.

Sekarang dimulailah long march dari anak yang satu ke yang lainnya. Mulanya ia pergi menemui anak laki-lakinya, tapi tak satupun dari mereka ada di rumah. Mereka telah menemukan tempat berlabuh di kapal Negara dan mustahil untuk berkata kapan mereka akan kembali. Terlebih lagi, mereka tak pernah berlabuh di rumah cukup lama untuk memiliki waktu melakukan hal lain alih-alih mengurus anak. Ia menarik diri dari kegetiran menantu perempuannya dan pergi mengunjungi putri sulungnya, yang membuka pintu rumah. Ekspresi terkejut dan jijik muncul di wajahnya saat melihat hati merah, berlendir, yang berdenyut di telapak tangan ibunya, dan ketakutan, ia membanting pintu. Tentu ini hanya reaksi sesaat dan segera ia membuka pintu kembali, namun ia menekankan pada ibunya bahwa ia sama sekali tidak peduli akan hati ibunya; dan ia tidak yakin hati itu akan cocok dengan furnitur baru di ruang tamu. Sang ibu lalu sadar bahwa sia-sia melanjutkan long march-nya, sebab anak-anak perempuannya yang lebih muda bahkan memiliki furnitur baru. Maka, ia pulang. Di sana ia mengisi toples dengan alkohol dan menjatuhkan hatinya ke dalam toples. Suara sesapan yang dalam, seperti hembusan napas dalam dada manusia, bisa terdengar saat hati itu tenggelam ke dasar. Dan sekarang, mereka berdiri beriringan di rak dalam toples masing-masing, otaknya dan hatinya. Tapi tak ada satupun orang yang datang untuk melihatnya. Dan anak-anaknya tidak pernah datang berkunjung. Mereka selalu beralasan sibuk. Namun kenyatannya, mereka tak suka bau steril yang melekat pada segala hal yang ada di rumah. (*)

______________________________________________

[1] Teks asli berjudul Saga Handa Börnum dalam Bahasa Islandia diterjemahkan oleh Dennis Auburn Hill ke dalam Bahasa Inggris berjudul A Story for Children. Teks diunduh dari http://www.shortstoryguide.com/feminist-short-stories/.  Dalam cerita ini, ia adalah kata ganti untuk perempuan dan dia adalah kata ganti untuk pria.

[2] Svava Jakobsdóttir (1930-2004) ialah seorang penulis, politikus, juga feminis asal Islandia. Ia banyak menyuarakan hak-hak perempuan dalam karyanya. Jane Simmonds (1999) dalam buku berjudul Iceland (1999) menyebutnya sebagai penulis yang berhaluan feminisme surealis.

[3] Dalam cerita ini, ia adalah kata ganti orang ketiga perempuan, dan dia adalah kata ganti orang ketiga lelaki

[4] Fru Enson, Bahasa Denmark: Nyonya Kesepian

[5] Latin: kasus yang melibatkan penggunaan yang tidak wajar dan terus-menerus

[6] Latin: dalil kehidupan

[7] Latin: saraf otak

 

Cerpen

Perempuan yang Pertama-tama Kutemui Dalam Hening

mm

Published

on

*) Aura A. Asmaradana[1]

Aku menemui Klara di dalam bis komuter. Selama tiga minggu berturut-turut, ia memilih duduk di sampingku, seringkali di baris kedua sebelah kiri. Ketika duduk di dalam bis, aku lebih sering membaca apapun yang ada di dalam tas. Buku-buku atau sekadar lembar-lembar rancangan pembelajaran semester atau beberapa kertas bungkus kacang rebus yang terselip.

Selasa pertama, ketika bis berhenti di kompleks perumahan Klara, ia naik dengan memeluk sebuah buku tebal ukuran folio. Esok hari dan hari-hari setelahnya begitu pula. Waktu itu, dalam hati aku menduga Klara memilih duduk denganku karena ia melihatku membaca diktat kuliah—merasa senasib sepenanggungan sebagai mahasiswa.

Kalau sedang tak membaca, di dalam bis, aku tidur. Apalagi ketika penumpang penuh, lampu dalam bis akan dimatikan. Maka aku tak mungkin lagi membaca. Klara pun kuperhatikan begitu. Ia akan mengeluarkan seplastik masker sekali pakai dari dalam tas, mengeluarkan selembar, mengenakannya, dan tidur. Aku tahu ada banyak orang yang tak mau mulutnya terlihat ketika tidur. Bisa jadi mereka tertidur dengan mulut menganga, tak kuasa membendung air liur, atau hanya sekadar perasaan tak nyaman diperhatikan orang lain.

Butuh tiga minggu hingga aku dan Klara berhasil bercakap-cakap secara verbal. Percakapan kami selalu tanpa kata-kata. Sekali waktu, ia ngambek padaku. Dari awal peristiwa hingga akhirnya duduk bersama kembali, kami tak pernah bicara satu sama lain. Cerita ini baru kami bagi setelah berani berbincang lebih jauh.

Waktu itu hari Kamis. Aku duduk di kursi baris kedua sebelah kanan karena baris sebelah kiri sudah ada yang lebih dulu menempati. Klara duduk di sebelah kiriku. Melamun. Mengeluarkan masker. Memasangnya. Tidur. Aku pun tertidur setelah menyelesaikan membaca salah satu bagian introduksi Kritik Atas Rasio Murni dan belum juga memahaminya. Kernet mengumpulkan ongkos, aku terbangun. Membayar dengan uang pas, selembar sepuluh ribu dan selembar lima ribu. Bis naik di jalan layang. Aku terbangun lagi. Kulirik Klara yang masih tertidur. Aku memejamkan mata lagi tanpa benar-benar tidur. Bis terus berada di jalan layang hingga gedung-gedung khas perkotaan terlihat dan penumpang bis berkasak-kusuk. Bis mulai ambil jalur kiri karena hendak keluar tol. Klara masih tidur. Aku tahu tak jauh lagi ia harusnya turun. Keberanianku membangunkannya maju mundur. Di satu sisi aku agak cemas ia tak terbangun, di sisi lain aku percaya bahwa ia tak mungkin abai pada keributan di sekitarnya. Tapi aku pun ragu untuk membangunkannya. Apa kata-kata yang harus kupakai untuk membangunkannya? “Halo, bis sudah mau berhenti.” “Hai, sebentar lagi harusnya turun, kan?”

Aku menegakkan punggung. Klara masih tidur ketika bis turun dari jalan layang. Tepat ketika bis berhenti di tepian jalan, orang-orang mengantri untuk turun di lorong bis, ia tersentak bangun. Setelah sebentar melirik ke arahku yang pura-pura tak lihat, ia menyiapkan ranselnya dan turun. Aku merasa sedikit bersalah. Sedikit saja. Sebab toh ia akhirnya bangun dan tak melewatkan kuliah paginya. Minggu depannya, Selasa hingga Kamis, ia tak mau lagi duduk di sampingku. Ia duduk di seberang lorong, sejajar dengan tempatku.

Selasa berikutnya, ia naik bis tepat ketika aku masih membiarkan inhaler menggantung di lubang hidungku. Ia berdiri sebentar di lorong, melihatku, mungkin merasa iba melihatku yang kalah oleh pendingin ruang, mata sembab dan berair akibat flu. Klara duduk di sampingku. Mengeluarkan sebungkus masker. Mengenakannya dan mulai tidur seakan menyiapkan diri untuk menemaniku, menghangatkanku.

Aku tak pernah bilang pada Klara bahwa aku sangat bersyukur tidak mengajaknya bicara lebih dulu. Gengsi. Klara pun mungkin begitu. Kami hanya berkomunikasi dalam hening. “Kau tahu, keheningan seringkali lebih menyampaikan banyak hal.” Ujarku kemudian, mengingat pembahasan kelas kuliah seminar sore sebelumnya membahas tentang Dasein yang berdiskursus dengan cara schweigen. Klara manggut-manggut.

Pada pagi berjalanan licin di akhir bulan, kami mulai bicara. Kami menyaksikan kecelakaan dari balik jendela bis. Sesaat sebelum Klara turun di dekat kampusnya, seorang pengendara menuntun sepeda motornya melintasi pembatas jalan tinggi bertanaman hias demi menghindari razia oleh Polantas. Ia dengan gesit menurunkan sepeda motor dari atas pembatas jalan, menumpanginya dalam hitungan detik, mengendarainya di busway. Sanggup mengelak dari bis Transjakarta yang membunyikan klakson panjang, ia jatuh tertimpa sepeda motornya sendiri dan tak sanggup mengelak dari hantaman sedan yang melaju kencang di jalur kiri. Aku dan Klara menyaksikannya tersungkur di jalan basah akibat hujan semalaman. Semua terjadi begitu cepat dan tertata. Seperti ada tangan besar tak terlihat yang dengan lincah menata segala gerak serta maut. Pengendara motor itu tak bergerak lagi. Bahkan ketika tubuhnya dibopong ramai-ramai ke tepian.

Aku melirik Klara di samping kiri. Ia menatapku, seolah menanti responku atas peristiwa itu. Aku mengembuskan napas yang lama tertahan. Ia meringis. Padaku. Tadinya kukira bukan. Tapi tak ada siapapun di kursi itu selain aku. Aku menggelengkan kepala sambil menarik napas panjang. “Ngeri.” Akhirnya. Aku mendengar suara Klara bergema di dalam kepalaku. Jenis suara yang selama ini kuduga-duga macamnya; kukira-kira saja dari perawakan badan sekitar seratus enam puluh lima sentimeter dengan wajah oval, lesung pipi, dan rambut silky kuncir kuda. Suara itu lebih tegas dan berat daripada yang kupikirkan selama berminggu-minggu. “Iya.” Penumpang yang sudah berdiri di lorong berisik sekali. Namun aku tak dapat dengar komentar mereka karena telingaku sepenuhnya dikepung suara Klara. “Helmnya lepas.” Kataku. Padahal Klara juga melihatnya. Ia mengangguk. Bibir naik separuh. Ada kekhawatiran di lesung pipinya. Ia bangun dari duduk. Aku melepasnya pergi. Sungguh tak sanggup menunggu Selasa pagi.

Sejak itu, Klara dan aku berbincang banyak. Ia membahas beberapa buku yang pernah kubaca. Ingatannya tentang beberapa yang baru kubaca membuat kembang api meledak di kedua pipiku—ketika ia bilang dengan hati-hati. “Aku tidak mengintip, lho. Siapapun yang duduk di sebelahmu pasti bisa baca.” “Aku tahu. Tapi kau kan yang memilih duduk di sini.” Ia tersipu. “Sesama mahasiswa.” Dan pada masanya, aku akhirnya dapat menuntaskan rasa penasaranku, “Buku babonmu itu, kenapa tidak dimasukkan saja ke dalam tas?” Sebab kulihat tasnya tak penuh-penuh amat. Kutimbang, buku itu sepertinya muat dalam tas.  “Supaya kelihatan terpelajar.” Aku mencibir Klara hingga puas karena jawaban itu.

Usiaku dan Klara terpaut cukup jauh. Aku dua puluh empat, ia di akhir dua puluh satu. Tanpa diminta, aku menjelaskan padanya tentang kemalasanku kembali ke kampus setelah cuti satu semester. Dua semester. Tiga…. “Kamu bodoh.” Aku terhenyak. “Padahal kuliahmu asik.” Aku mengiyakan saja. Iya, kuliah filsafat memang fancy. Iya pula, mungkin aku memang bodoh.

Beberapa pertemuan setelah membicarakan hal-hal di permukaan, aku sering bercerita padanya tentang situasi di kampus. Ia pun begitu. Tentang dosen. Beberapa teman. Beberapa laki-laki. Beberapa laki-laki tampan. Laki-laki tampan beruban di pascasarjana—dalam cerita Klara, “Ia rajin ke Gereja.” Laki-laki tampan urakan berkulit coklat tua—dalam ceritaku, “Ia membiarkan tumbuh jenggot dan kumisnya. Juga mencepol rambutnya yang keriting mengembang.” Klara ber-ih panjang. Tapi mungkin kemudian ia ingat gerombolan uban di kepala calon kekasihnya, maka ia segera diam. “Ia bahkan lebih tua darimu.” “Tidak masalah, kan?” “Iya, karena sampai sekarang dari obrolan-obrolan kami tidak terjadi apa-apa” “Uh, apalagi aku. Bahkan aku sengaja tak mau tahu namanya.” Kubilang pada Klara, kekaguman jenis apapun akan luntur setelah manusia mendapatkan informasi terlalu mendalam. Kupikir, rasa penasaran itu justru bumbu utama. Semakin banyak dapat informasi, pengalaman mencecap rasa itu tidak berkesan lagi. Klara tak selalu sepakat padaku—meski masih mendorongku untuk bercerita tentang laki-laki yang beberapa tahun lebih muda usianya dariku itu. “Ia sama mudanya denganmu.” Kataku.

Obrolan-obrolan aku dan Klara menyentuh segala hal seperti beliung. Ketika aku bercerita tentang tema penelitian redaksi teks, aku baru tahu bahwa ayah Klara ada di penjara. “Kau tahu siapa yang sebetulnya membaptis Yesus di sungai Yordan?” “Yohanes Pembaptis.” “Dalam Injil Lukas, Yohanes sudah dipenjara ketika Yesus dibaptis.” “Tapi ia melihat Roh Kudus turun pada Yesus.” “Itu di teks yang lain.” Klara manggut-manggut. “Terima kasih, ya.” “Apa?” “Bisa jadi bahan obrolanku dengan Wahyu.” Ia menyebut nama laki-laki beruban itu. Aku tertawa saja waktu itu. “Coba kita lihat. Kalau kecenderungan tafsirannya sangat harfiah dan tekstual, itu menandakan dia tak peka. Berarti kamu memang harus bilang cinta duluan.” Kerut di kening Klara. “Tak ada hubungannya tauk!” Aku menguap. Sejak sering berbincang, kami berdua tak pernah tidur lagi di bis. “Aku tidur sebentar, ya.” Matahari naik pelan-pelan di horison. Klara mengangguk. Aku hampir lelap ketika Klara bicara. “Omong-omong soal Roh Kudus, waktu SD, aku pernah diminta menggambarnya oleh seorang frater ketika ret-ret.” Klara tahu aku mendengarkannya meski kedua mata terpejam. “Teman-teman menggambar merpati dan api dan kilatan cahaya. Aku menggambar tiang jemuran.” Aku melek dan langsung memelototinya. Hampir tertawa tapi tak jadi. Raut wajah Klara datar dan dingin. Aku bekerja keras menimbang apa ia akan tersinggung kalau aku tertawa? “Sesaat sebelum dipenjara, ayahku bilang bahwa Roh Kudus adalah tiupan angin keras yang sanggup memenuhi seluruh rumah. Pasti bisa mengeringkan cucian ibu walau segunung.” Aku terkagum-kagum pada sosok separuh asing di hadapanku. Aku berpikir, mungkin suatu hari, ketika Klara tak sedang sentimentil begitu, aku akan bertanya lebih banyak tentang ayahnya. Mungkin pula ada waktu ketika aku dan ia bisa datang mengunjunginya dalam penjara.

Satu hari di April yang basah, aku memberanikan diri mengajak Klara pergi. “Ke toko buku saja.” Kukira yang hendak ia perlihatkan adalah daftar beberapa buku yang ia inginkan, tapi yang kutemukan malah daftar bolpoin gel, stabilo, tipe-x, post-it, pensil mekanik, pensil serut HB, B2, B3, B4, dan seterusnya. “Aku memang tak pernah datang ke toko buku untuk membeli buku.” Ia mengangkat bahu. Kami berjanji untuk pergi hari Minggu sore. Namun aku mendapat telepon dari Klara menjelang pukul sepuluh malam di hari Sabtu. Waktu aku menemuinya di teras rumahnya—setelah bermacet-macet naik angkot sepanjang tiga kilometer saja—aku menemukan lebam besar warna buah manggis dan sedikit kulit dadas dan darah kering di sudut kelopak matanya. “Ini kecelakaan.” Aku agak kesal Klara tak memberitahuku tentang pertemuan dengan Wahyu malam Minggu itu. “Bagaimana ceritanya?” Ia menambahkan prolog sepanjang dan selihai ular sebelum akhirnya sampai di inti cerita. Aku agak terkejut mendengar keberaniannya bertindak. Kalau aku adalah Klara, mungkin aku sibuk menimbang apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan pembelaan seorang pengacara. Kalau Klara adalah aku, tentu ia takkan mendapat luka lebam.

“Aku tidak menyukainya.” Sesal Klara. “Sudah kubilang. Kau harus menciptakan jarak dalam mengagumi seseorang, membiarkannya tetap jadi misteri.” “Seperti Tuhan.” Kami berbincang lagi soal laki-laki dan Tuhan, meski tak banyak-banyak. Padahal kuyakin sekitar mata Klara masih berdenyut pedih. Malam itu adalah kali pertama percakapan kami tidak dibatasi laju bis dan jam kuliah pertama pukul setengah delapan pagi.

Di ujung malam, ketika aku pamit pulang dan memeluk Klara serta berpesan supaya ia menjaga diri, ia mengecup bibirku lama-lama. Pipiku. Baiklah, mungkin bibir. Agak ke pipi. Bibir di bagian ujung. Klara memegangi pipiku selama ciuman itu, seolah tak membiarkan aku pergi, meski sebetulnya kepalaku rasanya hendak lepas dan menggelinding di jalan aspal. Tatapan mata Klara padaku setelahnya terasa seperti ia telah membayar lunas segala sesuatu.

Sebelumnya mungkin aku keliru. Setelah mendapat ciuman di luar persetujuan, aku tidak sibuk mengingat apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan pembelaan seorang pengacara. Klara tak serta merta jadi seorang bajingan. Aku tak menampar seperti yang dilakukan Klara sehingga Wahyu kemudian meledak. Aku malah memikirkan segala teori tentang menjaga jarak—yang runtuh seketika. Aku mendapatkan fakta betapa nikmat tenggelam dalam misteri setelah mendapatkan segala tentangnya; tentang perempuan yang pertama-tama kutemui dalam hening di bis.

Dari sentuhan bibir Klara malam itu, diam-diam aku tak bisa menghapus bayangan laki-laki tampan berkulit coklat bak nelayan yang melaut belasan siang, serta bagaimana ia mengisap-embuskan asap rokoknya. (*)

Cawang, 13-14 April 2018

[1] Aura Asmaradana (Twitter: @aurasmaradana) sedang berusaha menyelesaikan perkuliahan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Gemar menulis cerita pendek, puisi, dan esai. Karyanya yang telah dibukukan adalah Solo Eksibisi (kumpulan cerita, 2015) dan Solilokui (novel, 2018).

Continue Reading

Cerpen

Cinta yang Sulit

mm

Published

on

Kawan pertamanya di semesta ganjil ini adalah seekor ayam jago muda. Dengan suaranya yang tipis dan belum matang benar, si ayam jago muda senantiasa menjadi yang pertama berkokok. Jago-jago yang lain, dengan malas-malasan, kemudian mengikutinya. Sesekali mereka mengeluh apalah gunanya berkokok di semesta yang seperti itu. Sia-sia belaka, tukas yang lain. Namun tak urung, mereka tetap saja berkokok. Jago-jago yang benar-benar labil. Ayam-ayam betina akan bangun dari tidur mereka dan berciap-ciap ribut. Lalu hari yang membosankan pun dimulai. Mereka berkeliaran. Kadang-kadang, mengikuti kebiasaan alami kaum ayam, mereka mematuk-matuk lantai semesta tersebut. Namun tak ada cacing atau remah tanah yang bisa diasin. Bahkan, tak ada partikel apa pun yang masuk melalui paruh-paruh mereka. Semesta ini bersih dan jembar dengan caranya sendiri yang sepertinya tak terdeskripsikan. Bukan hanya umat ayam penghuni semesta tersebut, tentu saja. Banyak. Aneka tetumbuhan seperti bayam dan kangkung, hingga binatang-binatang, mulai sapi hingga kelelawar dan tikus.

“Bagaimana bisa ada tikus dan kelelawar?” ia pernah bertanya seperti itu.

“Menado,” jawab si ayam jago muda. “Mereka masuk ke sini ketika ia berada di Menado.”

“Ia pernah ke Menado? Itu kan jauh,” katanya. “Kukira ia tidak cukup kaya untuk bisa pergi ke Menado.”

“Kau beruntung aku sudah berada di sini cukup lama. Lebih lama ketimbang kelelawar dan tikus itu. Jadi aku bisa tahu dengan pasti bagaimana ia bisa sampai ke Menado, lalu memasukkan kelelawar dan tikus itu ke sini. Jadi begini,” si ayam mendehem sebentar. Ia mengepakkan sayapnya tiga kali, membenahi posisi berdirinya, lalu meneruskan, “dia seorang penyair. Kau pasti tahu itu kan? Sekitar tiga tahun yang lalu, ia pernah dikirim oleh Dewan Kesenian Jawa Timur untuk menghadiri temu sastrawan di sana. Semua biaya ditanggung. Selain itu, ia juga mendapat uang saku yang cukup banyak. Ini akan ada hubungannya denganmu.”

“Ada hubungannya denganku? Apa maksudmu?”

“Dengan uang saku yang ia dapat, ia melamar perempuan itu.”

“Siti?”

“Siti.”

“Oh.”

“Kenapa?”

“Kukira mereka kawin lari.”

“Mereka memang kawin lari.”

“Apa maksudmu? Bukankah katamu ia melamar Siti. Lalu kenapa mereka kawin lari?”

“Lamarannya ditolak. Mereka beda agama. Masa kau tidak tahu itu? Dan karena ditolak itulah, mereka kawin lari. Uang yang sedianya untuk beli peningset itu yang mereka gunakan untuk lari dan mengontrak rumah di tepi kali itu.”

“Begitu?”

“Begitulah. Dan kau sudah tahu apa yang kemudian terjadi.”

Ia memang tahu apa yang kemudian terjadi. Sejak suatu sore tiga tahun yang lalu, hari kedua kepindahan pasangan muda tersebut, ia tahu hampir semua yang terjadi atas mereka. Ia sedang mengintai seekor kodok yang tengah bersantai di pinggir kali sewaktu Siti hendak membuang sampah. Setengah tubuhnya tersembunyi di balik gerumbul semak. Namun ekornya yang panjang menjulur tak terlindung. Jarak mereka tidak begitu jauh, sekitar dua puluh meter. Cahaya matahari sore menimpa sisik-sisik gelapnya. Takdir menumbukkan padangan mata Siti ke ekornya.

“Buaya… buaya…” Siti berteriak seraya menjatuhkan keranjang sampahnya dan berlari balik ke rumah petak kontrakannya. Ia terkejut mendengar teriakan itu dan melesat nyemplung ke dalam kali. Si kodok juga terkejut dan melompat entah ke mana. Tak lama kemudian, seorang laki-laki keluar dari rumah, dengan Siti yang mukanya sepucat mayat mengikuti dan mengintip dari balik bahu.

“Di mana buayanya?” lelaki itu bertanya.

“Di sana. Tadi aku melihat ekornya. Di sana. Mungkin sudah pergi. Tapi hati-hatilah.”

Si lelaki menggenggam sebilah parang. Dengan mantap, ia berjalan menuju semak-semak. Melempar batu ke sana. Lalu diam sebentar dalam jarak lima meter.

“Kalau memang ada buaya, pasti ia sudah keluar,” kata si lelaki.

“Mungkin batunya kurang besar.”

Si lelaki memungut batu yang lebih besar. Lalu melemparkannya ke gerumbul semak.

“Tidak ada,” kata si lelaki. Lalu ia berjalan semakin mendekati gerumbul itu. Dan dengan parangnya, ia tebasi gerumbul itu.

“Tidak ada apa-apa.”

“Tapi aku bersumpah.”

“Mungkin kau hanya salah lihat.”

Ia mengamati adegan itu dengan sepasang mata kecilnya dari bawah permukaan air yang coklat. Itulah saat ia merasa darahnya yang dingin berubah hangat. Ia lupa akan dirinya, akan bahaya yang mengancamnya. Ia berenang ke tepian yang baru saja ia tinggalkan. Seperti ada magnet yang menariknya. Dan ia tahu, perempuan itulah magnet tersebut. Si lelaki sudah membalikkan badan dan mulai melangkah menuju rumah kontraknya ketika ia sampai di tepian. Siti berjalan mengikuti lelaki itu, namun sebelum memasuki halaman rumah, Siti menoleh. Pandangan mereka bertemu. Siti kembali menjerit. Dan ia merasa tubuhnya kaku.

Si lelaki menoleh. Lantas tertawa kencang. “Itu biawak. Bukan buaya. Sama sekali tidak berbahaya,” kata si lelaki di sela-sela tawa.

Sejak itu, satu-satunya hal yang ia ingini adalah melihat si perempuan yang di kemudian hari, dari bagaimana si lelaki memanggil, ia ketahui bernama Siti. Semakin dekat semakin baik. Dan dalam rangka itulah ia kerap menyelinap di antara tumpukan sampah tak jauh dari rumah petak tersebut, kadangkala ia mendekam di antara potongan kayu dan tong-tong yang berada di samping rumah. Namun yang paling ia sukai adalah berada di kolong tempat tidur pasangan baru tersebut.

Beberapa kali Siti memergokinya. Ia gembira ketika tahu bahwa Siti mengetahui kehadirannya. Namun tidak dengan Siti. Perempuan itu selalu berteriak. Dan si lelaki akan segera datang untuk mengusirnya.

“Usir yang jauh supaya dia tidak kembali lagi,” begitu selalu yang dikatakan Siti.

“Jangan takut. Nanti aku akan menangkapnya. Daging biawak enak kalau dimasak rica-rica.”

“Ih… jangan begitu. Menjijikkan.”

Namun si lelaki tak pernah berhasil menangkapnya. Ia terlalu gesit. Sekali waktu, ia hampir tertangkap. Si lelaki bahkan berhasil menyabetkan parang yang merobek punggungnya. Namun ia segera berlari. Kesakitan yang ia rasakan memberi semacam kekuatan ekstra yang tak ia duga sebelumnya. Setelah kejadian itu, ia menjadi lebih berhati-hati.

Namun dua minggu yang lalu, ia memutuskan untuk menyerahkan dirinya. Dan untuk keputusan paling penting dalam keseluruhan takdirnya itu, ia berhutang kepada seekor kodok yang sedianya bakal menjadi menu makan siangnya. Seekor kodok petapa, pikirnya, dan karenanya, telah memperoleh pencerahan yang tidak didapat oleh kebanyakan makhluk. Kodok itu, tanpa ia tahu bagaimana, mengerti bahasanya.

“Aku lebih suka menjadi santapanmu ketimbang mati karena usia tua dan membusuk dalam tanah,” kata si kodok. “Dengan menjadi santapanmu, aku tidak benar-benar mati. Aku akan meneruskan hidupku, hanya saja dalam semesta tubuhmu, menjadi bagian dari dirimu.”

Itu adalah hari ketiga ia tersiksa dalam nelangsa yang tidak karuan besarnya. Itu adalah hari ketiga ia mengetahui bahwa Siti telah meninggalkan si lelaki setelah sebuah pertengkaran atas hal yang sama, namun telah mencapai puncaknya. Ia berada di kolong ranjang ketika pertengkaran tersebut terjadi. Dan karenanya, ia tahu detil-detilnya.

“Kita ini kualat. Karena itu rezeki kita seret. Aku lapar. Dan kita terancam jadi gelandangan kalau tidak bisa membayar kontrakan bulan depan,” rintih Siti terbata, di antara isak tangis yang sedemikian pilu.

“Sabarlah. Aku yakin sebentar lagi tulisanku akan ada yang terbit. Dan itu berarti kita akan dapat honor.”

“Seberapa besar honormu? Tidak. Kau tahu, bukan karena tulisanmu jelek sehingga jarang ada yang mau memuatnya. Tapi karena kualat. Kita sudah melawan orangtua kita. Kita ini durhaka. Ini hukuman.”

“Ada apa denganmu? Kau dulu tidak pernah berkata seperti ini.”

“Dulu aku belum tahu kalau kita akan kualat.”

Keesokan paginya, Siti meninggalkan rumah itu sebelum si lelaki bangun. Pergi untuk selama-lamanya. Dan ia tahu, ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Siti kalau ia tidak melakukan sesuatu. Ucapan si kodoklah yang membuatnya keluar dari persembunyiannya, menampakkan diri pada si lelaki, dan membiarkan lelaki lapar itu menebas kepalanya, lalu mengulitinya, memotong-motong dagingnya, memasaknya, lalu memangsanya.

Dan seperti yang dikatakan si kodok, ia ternyata tidak benar-benar mati. Ia hanya berpindah semesta. Meneruskan hidup dalam diri si lelaki. Dan bertemu serta berkenalan dengan banyak makhluk yang juga meneruskan hidup dalam diri si lelaki.

Ia berharap si lelaki akan menyusul Siti dan membujuknya, dan mereka akan kembali hidup bersama, lalu berbahagia selama-lamanya. Namun ucapan si ayam jago muda membuat semangatnya menyusut.

“Kau tahu apa yang membuat hubungan mereka tidak direstui?”

Ia menggeleng.

“Mereka beda agama. Dan secinta-cintanya mereka satu sama lain, keimanan mereka jauh lebih kuat. Mereka memang bukan orang saleh dan karenanya kau tak akan mendapatkan mereka tengah beribadah. Kekurang salehan mereka, selain cinta tentu saja, yang menyebabkan mereka memutuskan kawin lari. Namun toh, tetap saja, tak ada yang mau mengalah dengan berpindah agama. Mereka pikir itu bukan kendala yang berarti. Dan sekarang kau tahu, yang menjadi kendala adalah kelaparan. Uang. Dan aku yakin, bila ia menyusul Siti, orang tua Siti hanya akan memberi dua pilihan: berpisah atau ia pindah agama.”

“Kemungkinan mana yang lebih besar?”

“Berpisah.”

Tapi si lelaki, ternyata, tak pernah menyusul Siti. Tak pernah. Dan ia, yang merasa pengorbanannya sia-sia, hanya bisa merutuki si lelaki: lelaki terkutuk ini tidak pernah benar-benar mencintai Siti. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

Continue Reading

Cerpen

Ziarah Bit

mm

Published

on

Apa yang akan mereka lakukan bila sungguh-sungguh ketemu? Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore, membeli es krim di Taman Bungkul, atau menyesap kopi di Kafe Cakcuk. Atau mungkin juga mereka akan memutuskan untuk menghabiskan waktu di H20, memilih sebuah meja dan duduk berseberangan, lalu saling diam, saling memandang, tangan mereka bertaut di atas meja, dan penjaga berkacamata akan berkali-kali melirik untuk memastikan mereka tidak melakukan perbuatan mesum. Mereka memang tidak akan berbuat mesum. Tidak. Dari semua kemungkinan yang bisa terjadi, berbuat mesum tidak termasuk di dalamnya. Salah satu dari mereka mungkin akan beranjak ke rak terdekat setelah berpandangan sepuluh detik dan mulai merasa rikuh, mengambil satu buku puisi secara acak, membuka halaman juga secara acak, dan melisankan puisi apa pun yang terpacak di dalamnya lirih-lirih. Setelah itu mereka tertawa tertahan.

“Puisi ini lebih bagus dari puisi Suyitno,” demikian Bit barangkali akan berkata.

“Tapi tidak ada puisi yang lebih penting ketimbang puisi Suyitno,” Aliya menanggapi.

Dan mereka kembali tertawa.

Dunia memang penuh perdebatan, pertentangan, perbedaan, ketidaksetujuan dari satu pihak kepada pihak lain atas satu hal. Agama, politik, penggusuran, drama korea, Tere Liye, Kusala Sastra Khatulistiwa, Jerusalem, tingkat kepahitan kopi, cara menyuguhkan bubur ayam, definisi soto, dan banyak lagi. Namun semua, tidak bisa tidak, akan bersepakat bahwa puisi Suyitno, seseorang yang satu-satunya cita-citanya adalah menjadi penyair namun jelas-jelas tak memiliki kemampuan untuk itu, adalah puisi yang buruk. Buruk sekali, malah. Demi Tuhan, salah satu berkah terbesar yang merungkupi Suyitno adalah ia hidup di zaman media sosial telah melebarkan sayap dan menancapkan cakar-cakarnya sedemikian rupa hingga lelaki ceking dengan kumis melintang dan rambut abu-abu itu sanggup mengumumkan puisi-puisi ciptaannya ke khalayak. Bebas. Tanpa mesti melewati tatapan bengis mata redaktur yang senantiasa dicurigai keobyektifan dan kapasitas keilmuannya. Bertahun-tahun sebelumnya, mati-matian Suyitno mengirim ratusan, kalau tidak ribuan, puisi ke koran-koran dan majalah-majalah, mulai dari yang dianggap memiliki wibawa dan pengaruh dalam bidang kesusatraan hingga yang acak adut dan sama sekali tidak masuk radar halaman bermutu. Dan tak satu pun yang dimuat. Ia juga tak kapok-kapok mengirim manuskrip puisi, yang dilambari pengantar muluk-muluk yang ia tulis sendiri, ke penerbit. Dan tak satu pun penerbit yang membalas kirimannya. Media sosial membuatnya mungkin melakukan apa yang dulu tidak mungkin ia lakukan. Dan dengan kegirangan yang luar biasa, ia mengumumkan siapa dirinya: aku penyair!

Di bawah kuasa ilusi bahwa puisi-puisi yang dihasilkannya adalah puisi-puisi paling adiluhung yang pernah diproduksi manusia sepanjang peradaban, seperti kebanyakan – atau kalau tidak, semua – penyair, Suyitno merasa ia memiliki tanggungjawab untuk memaksa orang lain membaca puisi-puisinya. Tak lega dengan mengunggah puisi-puisinya belaka (khususnya dan terutama di Facebook), ia juga menandai akun-akun orang lain dalam unggahannya. Dan untuk kerja kerasnya, ia setidaknya menuai lima tanda suka dan nol komentar dari empat puluh tanda paksaannya. Itu sudah cukup membuatnya tersenyum puas.

Tak ada pola khusus mengenai bagaimana Suyitno menentukan akun-akun siapa yang akan ia tandai. Dalam seminggu, kadang satu akun ia tandai lima kali, kadang satu kali, dan kadang tidak sama sekali. Dengan lima ribu akun yang berteman dengannya, ia memiliki banyak komposisi kemungkinan. Pada akhir September 2017, murni ketidaksengajaan, ia menandai Bit dan Aliya dalam penandaan yang sama atas puisi singkatnya. Berteman di Facebook, itu judul puisinya. Isinya singkat belaka, hanya dua baris: sejak aku mengenalmu/aku bertambah teman.

Bit dan Aliya bukan orang yang suka puisi. Apalagi pembaca puisi yang baik. Apalagi mengerti teori-teori dalam dunia perpuisian. Namun tak urung, mereka tertawa ngakak sehabis membaca puisi Suyitno. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia dan pernah mengenyam Sekolah Dasar, mereka pernah membaca beberapa puisi Chairil Anwar, Rendra, dan Toto Sudarto Bachtiar. Dan tentu saja puisi-puisi mereka tidak bisa dibandingkan dengan puisi Suyitno. Dan puisi dari ketiga penyair itu, setidaknya, memberi Bit dan Aliya dasar seperti apa puisi itu sebenarnya.

Bit punya waktu berlimpah. Umurnya dua puluh lima dan orangtuanya memperlakukannya laiknya porselen yang gampang retak. Kakaknya meninggal diseruduk motor yang dikendarai pemuda mabuk pada usia sepuluh tahun. Sejak itu, Bit menjadi anak tunggal. Trauma mendalam yang mendera orangtuanya menyebabkan mereka begitu protektif terhadap Bit. Bit, yang berselisih usia lima tahun dari kakaknya, tumbuh dalam begitu banyak larangan. Jangan menyeberang jalan sembarangan. Jangan bermain dengan anak itu.  Jangan lari-larian. Jangan bermain lumpur. Jangan hujan-hujan. Jangan jajan permen. Jangan pulang sekolah telat. Jangan naik sepeda pancal. Jangan lupa pakai sandal. Jangan memanjat pohon. Jangan menyentuh beling. Jangan pergi ke ujung gang. Jangan sampai tisunya ketinggalan. Jangan pakai kaos kaki ungu. Jangan petak umpet, cuma bikin capek. Jangan ikut kasti, nanti kakimu patah. Jangan ini. Jangan itu. Pada akhirnya, tanpa disadari, Bit telah menjelma pemuda tanpa keberanian melakukan apa pun. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di dalam rumah bila tidak ada sesuatu yang memaksanya untuk beraktivitas di luaran. Ia juga cenderung kesulitan dalam pergaulan sosial secara langsung, yang mendorongnya menjauh dari kehidupan sosial semacam itu. Ia, praktis, tak pernah memiliki teman, apalagi teman dekat. Dan orangtuanya, yang masih dihantui tragedi kematian anak sulungnya, menganggap itu yang terbaik bagi Bit. Sebagai kompensasi dari tindak protektif mereka, mereka menyediakan apa pun yang berpotensi membuat Bit nyaman dan krasan di rumah. Mulai dari konsol game hingga akhirnya gawai-gawai termutakhir dengan koneksi internet yang lajak. Selepas kuliah, Bit yang tidak kunjung mendapat pekerjaan menghabiskan waktu dengan berselancar di media sosial. Lalu ia, pada suatu hari, menerima permintaan pertemanan dari Suyitno di Facebook. Dan akhir September itu, ia ditandai dalam sebuah kiriman puisi yang menyedihkan. Keberlimpahan waktu yang dimiliki Bit lah yang menyebabkan pemuda itu secara iseng mengklik tanda reaksi tawa, satu-satunya reaksi yang didapat puisi Suyitno tersebut, dan mendapati nama akun Aliya.

Bit yakin ia jatuh cinta pada saat itu. Gambar profil Aliya menampilkan sosok gadis ideal masa kini: kulit putih, hidung mancung, bibir tipis segar, mata sipit, rambut lurus sepunggung, dan tubuh langsing semampai. Bit mengklik akun itu dan mulai berjalan-jalan di linimasa Aliya. Bit tidak mendapat banyak info dari keterangan akun. Hanya bahwa Aliya tinggal di Surabaya. Di unggahan foto Aliya dan keterangan yang menyertai foto tersebut, Bit mendapat gambaran bagaimana suasana kafe Cakcuk atau bagaimana rak-rak buku berderet-deret di perpustakaan H20. Itu semua adalah tempat-tempat yang asing bagi Bit meski sepanjang hayatnya hingga saat itu ia tinggal di Surabaya.

Dengan gelegak aneh di kedalaman dadanya, Bit menjelajahi waktu yang membeku di linimasa Aliya. Sebelumnya, tentu saja, ia mengajukan permintaan pertemanan. Untung saja akun Aliya diatur publik hingga ia tidak perlu menunggu permintaan pertemanannya disetujui untuk segera memulai perjalanannya membongkar jejak-jejak arkeologis kehidupan Aliya.

“Ia punya banyak teman,” batin Bit setelah beberapa saat. Ia menemukan ratusan reaksi dan komentar yang didapat Aliya dari setiap unggahannya, dan ratusan foto-foto yang menandakan betapa perempuan itu suka dan acap jalan-jalan serta kumpul-kumpul dengan banyak orang. Bit juga kerap bercanda dengan teman-teman media sosialnya, namun itu terbatas di media sosial. Dari tiga ribu teman Facebook-nya – dua ratus di antaranya cukup sering berinteraksi dengannya – ia belum pernah ngopi darat dengan mereka dan ngobrol bertatap muka secara langsung. Ia terlalu pemalu. Beberapa teman mayanya yang berdomisili di Surabaya pernah mengajaknya kopi darat. Namun Bit tak pernah menanggapi permintaan itu. Bukannya tidak ingin, namun ia hanya gentar. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana bila pertemuan langsung itu terjadi. Ia juga tak tahu apa yang akan mereka bicarakan nantinya. Facebook dan platform media sosial lainnya telah menyelamatkannya dari kegagapan semacam itu, namun tak pernah benar-benar membantu menyelesaikan semua masalahnya. Hal pertama yang terlintas di benaknya setiap kali mendapatkan ajakan untuk kopi darat adalah pengalaman-pengalamannya selama sekolah atau kuliah, di mana ia senantiasa menghabiskan waktu sendirian di sudut kelas dan memandang teman-temannya saling bercanda. Beberapa kali ada teman yang mencoba mengajaknya bercakap, namun secara reflek, ia melindungi diri dengan cara membungkam; hanya mengangguk atau menggeleng.

Empat menit setelah mengklik akun Aliya untuk pertama kalinya, Bit merasakan dorongan untuk mengirim pesan pribadi ke kotak pesan Aliya. Namun dengan segera ia mendapati bahwa ia tak tahu apa yang akan ia tulis. Ia tugur. Lalu ia meneruskan menjelajahi linimasa Aliya. Tiga jam setelah permintaan pertemannya terkirim, Aliya menyetujuinya. Dan sepuluh detik kemudian, Aliya memperbaharui statusnya. Siap-siap kopi darat nih, tulis Aliya. Bit merasakan dadanya panas. Mangkel. Cemburu? Bit tidak tahu.

Bit menunggu. Ia ingin mengomentari status itu. Namun baru satu kata ia tulis, buru-buru ia hapus. Begitu berulang-ulang. Tak ada kata atau kalimat yang layak untuk ditulis di kolom komentar, pikir Bit. Hingga akhirnya Bit membanting dirinya sendiri ke atas kasur. Ia berguling-guling seraya membayangkan apa yang akan mereka lakukan bila mereka benar-benar bertemu. Bertemu sebagai sepasang kekasih. Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore. Atau membeli es krim di Taman Bungkul. Atau membaca buku puisi sambil tertawa-tawa di H20.

Namun khayalan Bit tidak akan pernah terjadi. Tiga jam empat puluh lima menit setelah Aliya memperbaharui statusnya, puluhan kiriman menyesaki dinding akun Aliya. Semuanya muram. Semua menyampaikan pernyataan duka cita. Bit tak percaya apa yang jelas-jelas tersurat dari kiriman-kiriman itu, bahwa Aliya ditemukan dengan leher nyaris putus digorok oleh lelaki yang dikenalnya melalui Facebook pada perjumpaan langsung mereka yang pertama. Beberapa akun memacak foto pembunuh, seorang pemuda sepantaran Bit, dengan cambang dan kumis lebat dan model rambut undercut, yang telah berhasil dibekuk polisi setengah jam setelah kejadian.

Bit mengunggah gambar karangan mawar di dinding akun Aliya. Berulang-ulang setiap hari. Sebuah ziarah yang seakan abadi ke kuburan yang dibangun dengan pondasi algoritma dan bit komputer. Akun Aliya terkesan singun.  Begitu singun. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending