Connect with us

Kolom

Sastra Kreatif dan Kreativitas Sastra

mm

Published

on

Perjalanan dan perkembangan kehidupan  karya sastra sangat diwarnai oleh  dinamika perkembangan zaman.  Gerak hidup yang setiap saat terjadi dalam kehidupan masyarakat di negeri tercinta ini tidak bisa tidak pasti  berpengaruh terhadap perkembangan sastra Indonesia dan daerah. Kalau Karl Marx mengatakan bahwa materi begerak sesuai dengan zamannya, peristiwa yang sama juga berlaku bagi dunia sastra. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila  terjadi geliat  kehidupan sastra di Indonesia, baik sastra Indonesia maupun sastra tradisional yang terdapat di dalam khazanah sastra daerah.

Perkembangan atau perubahan  yang dimaksud  mencakup  pergeseran  nilai yang hidup  dalam dunia sastra berkat pemahaman  sang pengarang atau sastrawan  terhadap kehidupan itu sendiri. Dalam kaitan itu,  sang sastrawan diharuskan bagaimana bersikap dan menempatkan diri terhadap perkembangan  sosial, ekonomi,  politik, dan spiritualitas di tengah-tengah masyarakat yang terus berbenah. Dalam konteks itulah, setiap karya yang dihasilkan oleh sastrawan   akan  menceminkan banyak hal yang mengitari  kehidupannya.

Karya sastra  bagaikan anak panah bagi pengarang yang dilesatkan dari busurnya untuk mencapai sasaran yang dituju.  Sastra bagi pengarang adalah alat ampuh untuk menyuarakan kepedulian dan/atau pengalaman estetiknya dalam memberikan asupan-asupan  segar kepada warga masyarakat.

Harus diakui pula bahwa pada masa sekarang ini arti sastra sudah dapat ditempatkan pada posisi yang lebih proporsional. Di kalangan umat beragama, misalnya,  sastra sudah menjadi konsumsi sehari-hari untuk kehidupan dan keperluan dakwah. Keterlibatan ulama dalam dunia sastra bukan fenomena baru. Jauh sebelum  Indonesia merdeka gejala semacam itu sudah tampak, bahkan sejak zaman Wali Songo. Dalam alam dunia modern, sekadar contoh,  Hamka adalah ulama pertama yang menjadi pelopor  keterlibatan tokoh agama   di dunia sastra. Lihat saja    dalam dua novelnya yang bertajuk   Di Bawah Lidungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal van der Wijik. Hal yang sama juga dapat disaksikan dalam kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami buah tangan A.A. Navis.  Begitu kentalnya nuansa islami dalam ketiga karya tersebut.

Setakat ini jenis sastra yang paling digemari di Indonesia ialah   puisi (syair, pantun, puisi bebas), disusul cerpen.  Melalui puisi modern, penyair menuangkan gagasannya   dengan gaya yang berbeda dengan gaya bentuk  prosa. Pilihan kata, permainan  bunyi, dan majas-majas baru seperti tampak bercengkrama tidak seperti di  dalam pantun, syair, atau puisi klasik lainnya. Perubahan tersebut terus-menerus memengaruhi berbagai perkembangan, seperti dalam bidang pendidikan, perfilman, hingga aspirasi masyarakat.  Perihal puisi ini acap pula dibacakan oleh banyak pihak sebagai penyalur aspirasi anggota masyarakat dalam  kegiatan orasi sosial-politik.

Sebagai karya kreatif, seni pergelaran, khususnya pergelaran  tradisional,  lahir dari kehidupan budaya daerah dan terbina oleh suatu tradisi yang khas daerah.  Sebagai buah kesenian, teater tradisional   yang berakar dan terpelihara di dalam masyarakat daerah memiliki ciri  spesifik sesuai dengan warna kedaerahannya.

Kendati perkembangan teater tradisional terkesan lamban, dalam kenyataannya ada kalanya  merambah dan saling bersentuhan  dengan kebudayaan daerah  lain. Wayang, misalnya, yang selama ratusan tahun silam hanya menampilkan cerita “Ramayana” atau  “Mahabrata”,  kini juga berperan sebagai wadah  penyampaian teknik bercocok tanam, pemeliharaan lingkungan, atau peningkatan taraf kehidupan masyarakat pedesaan.  Fenomena itu tentu saja merupakan proses integrasi dan hasil sentuhan modernisasi. Teater produk ”kampung” ini, selain berfungsi sebagai hiburan, juga berperan sebagai sarana pendidikan, pemertebal rasa solidaritas kolektif,  dan sarana  kritik sosial.

Dalam kenyataan bahwa ada  penilaian masyarakat  dewasa ini mengenai segala sesuatu yang tidak modern, apalagi yang bersifat pribumi, termasuk teater tradisional,  kurang mendapat sambutan sebagaimana diharapkan. Agaknya mereka kurang menyadari bahwa sastra tradisional itu mencerminkan alam pikiran, pandangan hidup, serta ekspresi rasa komunitas tertentu.

Kini muncul pertanyaan seberapa jauh eksistensi sastra Indonesia dan daerah memasuki alam globlasai dipandang  dari segi peran, esetika,  dan perwujudannya sebagai wahana budaya? Masihkah terasa—surut atau berkembang–keindahan yang melatarbelakangi sistem nilai budaya masyarakat pemiliknya? Tentu saja semua bidang kehidupan atau sektor kebudayaan memerlukan  manusia kreatif yang mampu memajukan peradaban sesuai dengan  bidangnya. Dalam hubungan  itu, setiap temuan baru menuntut adanya peranan imajinasi. Hal itu berarti setiap orang dalam profesi apa pun seyogianya menjadi manusia kreatif untuk menciptakan alternatif baru bagi kemaslahatan kehidupan. Baru berarti inovatif, belum ada sebelumnya, menarik, uinik, atau mencuatkan kejutan. Berguna berarti lebih bagus, lebih praktis, lebih mudah, atau lebih cepat untuk  mengatasi setiap persoalan kehidupan.

Seni Pertunjukan dan Industri Kreatif

Dalam dunia bisnis dikenal hukum bahwa  suatu produk makin lama akan makin kurang peminatnya karena ada perubahan kebutuhan dan selera pasar serta munculnya produk pesaing yang lebih baik. Perlu dipahami bahwa suatu produk memiliki masa lahir, tumbuh, dewasa, tua, dan mati. Oleh karena itu,  masyarakat pemilik kebudayaan itu, dalam hal ini sastra modern dan sastra tradisional,  dituntut senantiasa  melakukan inovasi. Seni tradisional itu sendiri dalam kenyataannya memang terus mengalami perubahan. Patut pula diketahui bahwa teristimewa  karya seni tradisional yang dikenal pada saat ini adalah hasil inovasi atau perubahan dari karya seni tradisional sebelumnya. Sebagai kegiatan kreatif yang bersifat nonbendawi (intengible), seni pertunjukan berhubungan  erat dengan usaha pengembangan konten dan  produksi pertunjukan itu sendiri:  tarian tradisional, tarian kontemporer, drama, musik tradisional, musik teater, termasuk tur musik etnik, desain dan pembuatan busana pertunjukan, tata panggung, dan tata pencahayaan.  Karena tuntutan ekonomi, komersialisasi seni tradisional telah menjadi suatu realitas di dalam kehidupan masyarakat. Penanganan komersialisasi seni tradisional   dengan baik berpotensi membawa dampak positif, baik  bagi seni tradisional   yang menjadi komoditas itu sendiri maupun  para pihak yang terkait, seperti halnya tari klasik, musik klasik, dan seni pergelaran  yang dikelola dan dibisniskan secara baik di negara maju. Namun, sesuatu yang tidak terpungkiri  adanya realitas bahwa komersialisasi seni tradisional juga berakibat pada pendangkalan dan pelecehan terhadap seni tradisional   tersebut. Dalam hal ini, sastrawan dan para penggiat sastra atau seni pertunjukan ditantang untuk merekayasanya demikian rupa, lalu menampilkannya dalam rupa yang baru dengan tetap mengusung misinya yang semula sesuai dengan tuntutan kehidupan masyarakat modern.

Setelah konsep ekonomi kreatif dan industri kreatif bergulir satu dekade terakhir ini di Indonesia, Pemerintah telah menerbitkan  Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2009  tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif dengan menunjuk organisasi  kementerian/lembaga, baik sebagai koordinator maupun sebagai instansi pendukung. Para gubernur dan bupati/wali kota di seluruh wilayah Indonesia wajib mendukung kebijakan  pemerintah tersebut. Dalam  instruksi presiden itu ada empat belas subsektor industri kreatif yang  akan dan perlu dikembangakan. Salah satu di antaranya adalah  seni pertunjukan.

Sastra Siber

Perkembangan ilmu dan teknologi, khususnya teknologi informasi, berkorelasi  dengan meningkatnya berbagai logika dan pemikiran manusia. Kehidupan sastra turut pula makin berkembang, termasuk  jumlah dan kalangan peminatnya. Semuanya itu memperlihatkan  tingginya kesadaran, kemampuan, serta   kemauan para peminat dan   pihak penggiat sastra.

Kemunculan sastra siber  seputar tahun 2001 seiring dengan merebaknya internet di Indonesia adalah sebuah keniscayaan.  Sastra siber adalah aktivitas sastra yang memanfaatkan fasilitas komputer dan internet, yang dapat dikatakan suatu revolusi, sekaligus transformasi dalam dunia sastra.  Sebelum dikenal sastra siber, publikasi karya sastra sebenarnya sudah memanfaatkan teknologi yang ada. Kita   mengenalnya dengan sebutan sastra koran, sastra majalah, atau    sastra buku, yang menggunakan koran, majalah, atau buku sebagai media penyebarannya.

Kehadiran jenis sastra siber  ditengarai dengan terbitnya buku Graffiti Gratitude pada  2001. Kemunculan sastra elektronik—lazim juga disebut sastra digital–yang mewarnai perjalanan sastra di Indonesia banyak kalangan yang serta-merta menerimanya dengan tangan terbuka meskipun  ada pula yang menyikapinya dengan sebelah mata. Disambut secara positif karena kehadiran sastra siber dapat dengan mudah dan cepat diakses oleh kalangan yang lebih luas, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Selain itu, kehadiran sastra siber melalui media internet memberi peluang bagi penulis yang bergiat di bidang sastra untuk memberikan sumbangsihnya, baik berupa karya maupun pemikiran atau tanggapan terhadap karya sastra.  Disambut negatif karena sastra siber dianggap tidak lebih dari sekadar upaya main-main saja.  Sastra siber itu  juga dikatakan sebagai sastra yang kualitasnya sangat kurang dan tidak memberikan kemajuan yang berarti dalam khazanah sastra Indonesia. Bagaimanapun harus diakui, misalnya dalam mengapresisi puisi atau sajak, sastra siber menyajikan tambahan aksesori yang dalam sastra cetak tidak ditemukan. Dalam puisi digital yang berbasis teknologi internet, misalnya,  para peserta didik atau penikmat lainnya bisa lebih akrab dan lebih intens menghayatinya karena  ada rajikan baru berupa, antara lain  tampilan latar panggung yang menarik, berkas cahaya warna-warni, kostum atau busana yang menawan, juga iringan musik semisal bunyi tetabuhan etnik tertentu.

Berdasarkan ulasan di atas,  perkembangan teknologi  moden sekarang ini pasti  akan berpengaruh besar terhadap budaya suatu bangsa, tidak terkecuali sastra. Seperti disebut di atas, tentunya berkembangnya teknologi di satu sisi akan berdampak positif, tetapi   di sisi lain bisa berdampak   negatif.  Begitu juga terhadap kehadiran sastra melalui media elektronik.  Namun,  kita tidak perlu merisaukan sastra siber yang  bagi   sebagian pemerhati sastra mengatakannya sesuatu yang tidak bermutu,   yang kelak akan tersingkir dengan sendirinya. Hal yang jelas adalah bahwa perjalanan waktulah yang akan menentukan apakah karya  sastra digital tersebut akan tetap eksis dan/atau berterima atau tidak.

*Saut Raja H. Sitanggang (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) 

DAFTAR PUSTAKA

Alisjabana, S. Takdir.  Editor. “Kreativitas Dilihat dari Keperluan Sekarang dan Masa yang akan Datang”.  Dalam S. Takdir Alisjabana. Editor. 1983. Kreativitas. Jakarta: Dian Rakyat.

Asmadi, T.D. 2008. “Merintis Bahasa Jurnalistik Baku untuk Mencerdaskan Bangsa”. Makalah dalam Kongres IX Bahasa Indonesia. 28 Oktober – 1 November 2008.  Jakarta: Pusat Bahasa, Depdiknas.

Instruksi Presiden RI No. 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif.

Kayam, Umar. 1981. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 2008. “Pemberdayaan Masyarakat Seni Tradisi dalam Industri Pariwisata Budaya”. www.budpar.go.id. Diunduh 2 September 2012.

Rahman,  Jamal D. 2002.  Sastra, Majalah, Koran, Cyber.  Catatan Kebudayaan Majalah Sastra Horison, Februari 2002.

Sambodja, Asep.  2003.  ”Peta Politik Sastra Indonesia (1908-2008)”. Makalah dalam Kongres Bahasa Indonesia VIII, Jakarta, 14—17 Oktober 2003. Jakarta:  Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,  Kemdiknas.

Situmorang, Saut (Ed.).  2004.  Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyberpunk.  Bandung: Angkasa.

Syahrul, Ninawati. “Optimalisasi  Peran Media Massa dalam Upaya Pemberdayaan Sastra Indonesia: Fenomena Sastra Siber dalam Menjelajah Sastra Dunia”. Makalah dalam Kongres Bahasa Indonesia, Jakarta, 28–31 Oktober 2013. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud.

Winanda, Enda Alfaro. “Makna dan Peranan Teater Tradisional”. kompasiana, 22 Oktober 2011.

www. blogdetik.com “Ekonomi Kreatif: Definisi Ekonomi Kreatif”, 4 Juni 2010

http//:katarsis2011.wordpress. “Cybersastra (Bukan) Sastra Era 2010”. Diunduh pada 5 Juli 2013.

www.kompas.com. “Era Ekonomi Kreatif”. 3 November 2011

www. rumpunnektar. “Dilema dan Fenomena Sastra Islam di Indonesia”.   Diunduh pada 22 Agustus 2014.

Continue Reading
Advertisement

COLUMN & IDEAS

Mereka Berpuisi Batu

mm

Published

on

Batu-batu dengan pelbagai sebutan adalah tanda peradaban, bukti kesanggupan manusia mengejawantahkan seni dan arsitektur sampai ke pemujaan pada Tuhan. Para penyair pun menyusun batu-batu dalam sajak-sajaknya.

Bandung Mawardi

Di jagat sastra Indonesia, kita bertemu tiga buku puisi mengandung batu. Sitor Situmorang memberi Bunga di Atas Batu (1989), Radhar Panca Dahana suguhkan Lalu Batu (2003), dan Sapardi Djoko Damono mempersembahkan Babad Batu (2016). Mereka pengisah batu, bertaut ke mitos, ritual, arsitektur, asmara, bahasa, modernitas, kekuasaan, dan identitas. Batu ada di arus peradaban manusia, berperan sebagai material dan simbolik. Batu-batu bercerita pelbagai kejadian dan bergelimang makna, terwariskan selama ribuan tahun. Batu pun cerita bergerak, tak melulu diam dan mengeras. Pada batu, biografi manusia dan tata dunia mengalami pembentukan, perubahan, dan penghilangan.

Sebelum ke tiga buku, kita sempat ingat puisi gubahan Sutardji Calzoum Bachri berjudul “Batu”. Puisi bersandar mantra, mengajak pembaca melafalkan: batu mawar/ batu langit/ batu duka/ batu rindu/ batu jarum/ batu bisu… Pengulangan batu terasa penguatan atas kata, benda, dan pukau imajinasi. Batu tak sendirian. Ia hadir dengan bentukan bersama, kejutan metafora saat bersanding mawar, langit, duka, rindu, jarum, dan bisu. Pembaca merasa berhadapan dengan batu, perlahan ada bersama batu. Diri pun mungkin mem-batu. Puisi itu jarang teringat pembaca, tersimpan di buku merindu pembaca keranjingan batu.

Jejak-jejak peradaban manusia di batu disajikan dalam puisi berjudul “Bunga Batu” oleh Sitor Situmorang. Batu itu perlambang atas cerita pertemuan manusia. Pada batu, tokoh dan kejadian masih teringat. Sitor Situmorang menulis: Seribu tahun sebelum kita dan nanti/ Dari dalam tanah orang menggali/ Wajah tertera pada lapisan batu/ Bergaris cerita mati – masih terharu. Batu memang membisu tapi “kebisuan lebih berkata dari duka.” Sitor mundur ke masa lalu, ingat pengetahuan-pengetahuan lama tercantum dan tersimpan di batu-batu. Manusia bercerita diri dan dunia bereferensi batu. Pada gerak waktu, seratus sampai seribu tahun, batu-batu enggan kapok menceritakan manusia dan masa lalu meski duka.

Pada masa berbeda, Sitor Situmorang menggubah puisi berjudul “Batu-Batu Sungai Indus.” Batu di titik peradaban dunia, ribuan tahun silam. Batu-batu masih ada, menampik punah. Batu itu bercerita religiositas: Biksu khayalanku lalu merunduk/ mengamati batu-batu bertebaran/ Aku pun ikut membungkuk/ memungut batu-batu yang/ terlalu halus dalam jamah/ dibentuk oleh asahan arus waktu/ berujud sungai tak kenal hulu dan muara/ menjelma dalam sentuhan jari-jariku. Batu dan waktu, dua perkara mempengaruhi cara manusia mendefinisikan diri, bermula urusan-urusan duniawi sampai ke ritual suci. Di sungai, batu-batu “mengalirkan” pesan dan mengundang manusia insaf atas alam dan kedirian. Batu telah melintasi waktu. Batu menandai usaha manusia mengerti segala saat waktu berlalu.

Pengalaman dan suasana religius terus mengacu ke batu. Radhar Panca Dahana dalam puisi berjudul “Menara Cinta Bernama Batu” berkesadaran batu, perlambang usaha manusia menemukan diri. Puisi mirip ikhtisar manusia menggerakkan ide dan imajinasi, mengartikan hidup pada masa-masa berbeda dengan pelbagai teknologi dan arsitektur. Pada masa berbeda, makna bersumber batu tetap bergerak dan terkandung dalam kedirian manusia. Radhar Panca Dahana dengan kelembutan bercerita manusia dan batu: berhasilkah kau keluar dari itu menara,/ lalu membangun sendiri di hatimu/ sebuah menara batu, batu-batu cahaya/ yang tak berhasil dipenjara waktu/ di situ, aku segera datang padamu/ membawa pintu yang akan membuka/ hati bagimu setiap aku,/ aku yang datang selalu/ datang selalu sebagai tentu/ sebagai batu. Puisi seperti serial “sambungan” dari ketekunan para pujangga Indonesia menulis batu bergelimang makna religius dan penentu peradaban dunia. Manusia tak cuma melihat dan menghadapi batu. Ia telah batu. Akhir dari puisi menjadi penjelasan keberadaan manusia: dulu dan sekarang.

   Batu belum selesai ditulis oleh pujangga-pujangga di Indonesia. Pada 2016, pujangga tua bernama Sapardi Djoko Damono mengeluarkan buku puisi berjudul angker dan gagah, Babad Batu. Ia memilih bercerita batu, tak melemah akibat usia atau melembut mengacu ke tumpukan nostalgia. Batu itu pusat pengisahan. Sapardi Djoko Damono sanggup menggubah puisi berjudul panjang demi bercerita batu. Pada puisi “Berbicara tentang Perkara yang Meskipun Mungkin Tidak Ada Kait-mengaitnya dengan Kami dan Tidak Berguna tetapi Kalau Tidak Dijalani Tidak Akan Pernah Diketahui Berguna atau Tidaknya”, pembaca bertemu pengakuan atas sejarah dan makna batu bagi manusia:  Masih kokoh bongkah-bongkah batu itu bayang-bayang ketuaan/ dan kebajikan dan kebijakan tumbuh di lumut sekujurnya. Batu tak ingin sirna atau telantar dalam bisu. Batu justru pengingat dan pengisah.

Sapardi Djoko Damono juga bercerita Nusantara. Batu-batu dengan pelbagai sebutan adalah tanda peradaban, bukti kesanggupan manusia mengejawantahkan seni dan arsitektur sampai ke pemujaan pada Tuhan. Warisan-warisan terpenting berupa batu, mulai prasasti sampai candi. Di buku Babad Batu, kita mengembara ke masa lalu memberi pujian dan pengandaian ke para leluhur saat bercerita dengan batu-batu. Pengembaraan itu bekal untuk sadar lakon batu abad XXI. Batu mulai mengeras makna, menjauh dari mitos dan sakralitas dalam teks-teks kuno. Batu telah berarti uang, metropolitan, pelesiran, kriminalitas, dan demonstrasi. Religiositas batu terlupakan saat orang-orang tak lagi menjenguk puisi atau memegang batu dengan tangan berjari makna. Begitu.

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Menuju Kematian Demokrasi

mm

Published

on

Populisme adalah salah satu jalan utama menuju kematian demokrasi. Tetapi bukan satu-satunya. Para politisi yang sengaja memanfaatkan sentimen sosial yang ada di masayarakat seperti Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) untuk meraup dukungan elektoral, berkelindan dalam kerumitan yang memperparah sakit kronis demokrasi di banyak negara di dunia.

Populisme, Oposisi dan Oligarki—
Juru Jagal Demokrasi

Virdika Rizky Utama & Sabiq Carebesth

Saat ini, demokrasi merupakan sebuah sistem pemerintahan yang banyak dianut oleh negara-negara yang ada di dunia, terutama setelah berakhir perang dingin pada 1990. Demokrasi dinilai sebagai sebuah sistem yang ideal, karena sistem yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Selain itu, demokrasi juga menganut prinsip pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Akan tetapi, menurut Karl Popper dalam Masyarakat Terbuka dan Musuh-Musuhnya (1945) satu hal yang menjadi daya tarik dalam sistem demokrasi adalah adanya jaminan terhadap hak-hak individu sebagai makhluk yang otonom dalam berpikir dan menyampaikan pendapat. Dalam konteks pemerintahan, pemerintahan dinilai berjalan dengan baik bila pemerintah dan para pemimpin senantiasa membuka diri dan bersikap rendah hati terhadap masukan dan kritik, baik kritik publik baik dari oposisi maupun rakyat biasa. Tujuannya tak lain adalah perbaikan untuk menyejahterakan rakyat.

Namun, satu dekade terakhir muncul gejala populisme secara global di dunia. Populisme merupakan paham yang mengutamakan kepentingan rakyat kecil dalam rupa ragam bentuk penguatan identitasnya, ketimbang kalangan elite. Populisme muncul karena demokrasi dianggap gagal mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Isu ini kerap dimanfaatkan untuk memunculkan rasa nasionalisme dalam arti sempit, yang menolak semangat perubahan dan keterbukaan. Dengan kata lain, populisme merupakan salah satu jalan untuk kematian demokrasi.

Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt

Fenomena populisme abad ke-21, terjadi di Amerika Serikat dengan terpilihnya Donald Trump yang dalam janji kampanyenya menyiratkan sosok populis dan patriotis (hlm.61). Namun, tentu bukan hanya populisme saja yang menjadikan jalan bagi matinya demokrasi secara global. Hal itu dijabarkan dalam buku yang ditulis oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt “How Democracies Die”

Menurut dua professor dari Universitas Harvard, Amerika Serikat tersebut, jalan kematian demokrasi suatu negara dapat terjadi pada dua pihak yakni pihak internal—pemerintah atau penguasa— dan pihak eksternal—oposisi. Biasanya, pihak oposisi akan memulai kritik dengan gagalnya pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Lantas, pihak oposisi akan mengkritiknya dan menyalahkan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat kecil dan mendukung pihak asing.

Judul Buku : How Democracies Die Penulis : Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt Penerbit : Crown Publishing Tahun Terbit : Cetakan I, Maret 2018 Tebal : 312 halaman, ISBN 978-1-5247-6293-3

Oposisi akan mengkritik keras dan vokal guna mendapatkan perhatian dari rakyat. Tak hanya itu, demi mengakumulasi dukungan dari rakyat, oposisi melalui politisinya akan memanfaatkan sentimen sosial yang ada di masayarakat seperti Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).

Menurut Cherian George (2016), isu SARA saja kerap tak cukup, para politisi biasanya akan melakukan pemelintiran kebencian di masyarakat. Mereka akan memanfaatkan emosi massa, seperti penolakan pembangunan masjid di Ground Zero, Amerika Serikat yang dekat dengan serangan Gedung World Trade Centre (WTC) pada 11 September 2001. Hal itu digunakan oleh partai Republik untuk meraup dukungan dari adanya sentimen terhadap kelompok Islam. Cara ini tentu akan membuat polarisasi di masyarakat, kepanikan, permusuhan, dan saling tidak percaya (hlm.76).

Sedangkan, dari pihak pemerintah, matinya demokrasi ditandai dengan memilih penegak-pengegak hukum yang berasal dari partainya atau koalisi pemerintahan. Dengan demikian, penguasa akan dengan mudah membuat regulasi atau aturan-aturan yang dapat melindungi kekuasaannya dari kritik pihak oposisi (hlm.87-92).

Faktor berikutnya adalah pihak pemerintah atau pendukung pemerintah akan terus menganggap oposisi sebagai musuh.  Biasanya pihak oposisi akan menganggap pemerintah tidak demokratis. Sedangkan, pemerintah akan menganggap oposisi sebagai benih-benih chauvinism atau fasis (hlm.115) Dengan begitu, akan ada terus kekhawatiran dari pemerintah untuk membatasi setiap gerak dan gagasan oposisi. Disadari atau tidak, cara berpikir ini tentu akan semakin membuat polarisasi di masyarakat meruncing. Jadi pihak pemerintah dan oposisi sama-sama berperan atas terjadinya polarisasi di masyarakat.

Penulis mencontohkan, oposisi yang memanfaatkan hal-hal SARA kemungkinan besar akan menjadi diktator yang mengerikan dan justru mematikan demokrasi. Contoh nyata menurut penulis adalah Adolf Hitler di Jerman, dan Benito Mussolini di Italia.

Bagaimana Demokrasi Sekarat
dan Apa Alternatifnya?

Ada jarak antara pemerintah dan rakyat yang kian tak terjembatani di banyak negara demokrasi. Bagaimana jika Demokrasi benar-benar sekarat? Adakah alternatif di tengah politik modern yang kian mekanis dan artifisial, kian alienatif sebab pada saat bersamaan krisisnya di topang revolusi teknologi yang mengambil alih kehidupan seluruh kehidupan, khususnya politik. Bisakah peradaban politik dibangun dan demokrasi diselamatkan?

_____

Kenyataan dan tak dapat dimungkiri bahwa politik identitas sedang marak digunakan oleh para politisi hampir di seluruh dunia. Masifnya gerakan politik identitas disinyalir akan membawa dampak buruk bagi kelangsungan hidup demokrasi di suatu negara. Pertanyannya, salahkah politik identitas hadir di tengah demokrasi? Apakah politik identitas merupakan faktor utama akan matinya demokrasi? Lantas, apakah kita harus khawatir kalau demokrasi benar-benar berakhir?

Sementara Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt “How Democracies Die”  menengari politik identitas sebagai salah satu jalan utama menuju sekaratnya demokrasi, David Runciman dalam bukunya “How Democracy Ends” mengungkapkan bahwa politik identitas merupakan sebuah konsekuensi yang tak dapat dihindari dalam demokrasi. Dosen Oxford University ini menyebut, politik identitas sesungguhnya merupakan suatu upaya pengakuan akan eksistensi sebuah kelompok yang frustrasi dalam suatu negara.

Kenapa frustrasi? Karena demokrasi dianggap gagal mewujudkan dua fase tujuannya. Pertama, fase jangka pendek yaitu pengakuan martabat atau hak-hak individu. Kedua, fase jangka panjang yaitu memiliki kesempatan untuk berbagi stabilitas, kemakmuran, dan kedamaian atau disebut martabat kolektif (hlm. 169-170).

Politik identitas menjadi kekuatan politik riil karena hak-hak pribadinya sebagai warga negara, tergerus oleh tujuan kolektif kelompok dominan yang berkuasa. Dalam politik identitas, sebenarnya individu-individu hanya mencari pengakuan atas eksistensi keberadaannya. Padahal, politik pengakuan merupakan perpanjangan dari daya tarik demokrasi dan bukan sebagai antitesisnya (hlm.175). Mestinya, ini dapat diwadahi dan diselesaikan dengan demokratis, tapi urung terjadi.

David Runciman

Musababnya, negara adalah representasi kelas dominan baik secara ekonomi maupun politik dalam masyarakat (Antonio Gramsci: 1971). Akibatnya, sistem demokrasi yang representatif suatu negara dianggap tak efektif karena mewadahi kelompok dominan. Kebutuhan mayoritas rakyat tak pernah benar-benar terwakili oleh para politisi dan penyelenggara negara. Kendati sudah mengadakan pemilihan umum (pemilu) untuk memilih politisi yang mewakili aspirasi rakyat dari berabagai macam golongan.

Pemilu pun, akhirnya, dianggap sekadar bagi-bagi kue kelas dominan di suatu negara. Terlebih pemilu hanya menjadikan rakyat sebagai objek. Runciman meyakini, meningkatnya politik identitas adalah sebuah indikasi bahwa terlibat dalam sebuah pemilihan umum tak lagi memuaskan (hlm.177).

Kenapa hal itu dapat terjadi? Runciman meyakini arus politik modern yang terjadi di dunia saat ini sangat mekanis dan artifisial. Akibatnya, kita sangat bergantung pada kesenangan-kesenangan dan kenyamanan artifisial yang menandai gagalnya sebuah peradaban politik.

Runciman mengutip Mahatma Gandhi yang mengungkapkan kecemasannya akan teknologi yang mengambil alih kehidupan seluruh kehidupan, khususnya politik. Gandhi mengkhawatirkan kesalahan yang terjadi pada sistem demokrasi representatif modern yang amat mirip cara kerjanya dengan mesin.

Men will not need the use of their hands and
feet. They will press a button and they will have their clothing by their
side.  They will press another and they
will have their newspaper. A third and a motorcar will be waiting for them.
They will have a variety of delicately dished up food. Everything will be done
by machinery (hlm.121).

Ini layaknya sebuah sistem yang mempasrahkan diri pada sebuah pemerintahan terpilih yang akan mengambil keputusan atas nama rakyat, tapi tak pernah bisa menyelamatkan rakyat dari eksistensi artifisial. Rakyat tak ubahnya penghamba dihadapan mesin.

Politik dijalankan melalui mesin partai, mesin birokrasi, dan mesin uang. Rakyat hanya menjadi konsumen pasif dari cita-cita atau harapan politiknya. Rakyat hanya mencoblos atau layaknya menekan tombol dan rakyat berharap pemerintah akan merespons. Sebenarnya jika pemerintah tak merespons, maka demokrasi sungguh memungkinkan bagi rakyat untuk mengganti politisi atau pemerintah. Namun, cara itu juga tak membuat demokrasi menjadi lebih baik.


Judul Buku: How Democracy Ends Penulis: David Runciman | Penerbit: Profile Book Ltd
Tahun Terbit : Cetakan I, Desember 2018 | Tebal: 249 Halaman, ISBN 978 1-78125-9740

Ada jarak antara pemerintah dan rakyat yang tak terjembatani. Selain itu, terdapat ketidakadilan akses untuk mendapatkan informasi antara rakyat dan politisi. Semakin rakyat menginginkan keterbukaan, semakin banyak juga informasi yang coba ditutupi oleh politisi.

Sebaliknya, politisi dapat dengan mudah “bertemu” dan mencari tahu apa yang sedang digemari oleh rakyat. Politisi dapat dengan mudah membeli dan mengakses seluruh data-data manusia. Contohnya nyata penjualan data manusia dalam sebuah pemilu adalah kemenangan Donald Trump pada pemilu 2016 dan Referendum Brexit (hlm.159).

Itu semua dapat terpenuhi dengan cepat dan mudah melalui perusahaan teknologi seperti Facebook. Facebook dan perusahaan sejenisnya merekam semua kegiatan dan perhatian rakyat termasuk apa yang disukai dan tidak disukai. Disadari atau tidak, hal itu menunjukkan bahwa manusia sedang dan terus dikontrol oleh teknologi yang terus berjejaring dan terakumulasi dalam Big Data.

Data menjadi komoditas penting dalam kapitalisme abad ke-21. Seperti dijelaskan oleh Tim Wu (2016) dngan data yang terkumpul, Facebook akan tahu apa keinginan penggunanya, mereka lantas membuat produk yang diinginkan oleh pengguna, dan terus mengulangi fase itu. Jadi, tak salah kalau saat ini demokrasi layaknya sebuah kompetisi di antara tim sales untuk mendapatkan pemilih untuk membeli produk mereka (hlm.158).

Hal-hal artifisial dalam demokrasi dan didukung dengan kuasa teknologi diyakini Runciman sebagai penyebab dan cara bagaimana demokrasi mati.

Adakah alternatif?





Runciman mengungkapkan setidaknya ada tiga alternatif sistem politik yang dapat digunakan apabila demokrasi benar-benar mati. Pertama, adalah otoritariansime representatif. Sistem ini merupakan sebuah sistem antara otoriter dan demokrasi representatif. Sistem ini dianggap berhasil dijalankan oleh Tiongkok. Mereka terbukti berhasil menurunkan angka kemiskinan, memajukan pendidikan, dan menjadi raksasa ekonomi dunia. Konsekuensinya, hak-hak rakyatnya dibatasi dan diawasi. Sistem ini jauh lebih baik daripada India yang menjamin hak rakyat, tapi gagal membangun martabat kolektif (hlm. 172).

 

Kedua, epistokrasi. Ini adalah sebuah sistem oleh orang-orang tahu yang terbaik, tapi bukan teknokrasi. Dasarnya adalah tak menyetujui one man, one vote untuk seluruh kalangan masyarakat. Mesti ada perbedaan jumlah hak suara antara seorang ahli atau professional dan orang awam. (hlm.181).

 

Ketiga, anarkisme. Terkesan aneh karena dianggap sangat utopis akan gagasannya tentang kesetaraan yang ingin tak ada subjek dan objek sesama manusia. Tapi, gagasan ini berkembang kembali di abad ke-21 karena sistem masyarakat saat ini dinilai tak lagi menawarkan harapan baru (hlm.193).

 

Buku yang terdiri dari empat bagian ini sangat penting untuk siapa saja yang tertarik dengan politik. Runciman berhasil menawarkan sudut pandang baru tentang perkembangan demokrasi dunia. Tak hanya itu, risetnya pun lebih mengglobal daripada yang dilakukan dan ditulis oleh dan Steven Levitsky dalam bukunya How Democracy Dies (2018) yang sangat Amerika-sentris.

 

Kematian demokrasi bukan kematian manusia. Analogi antara kehidupan manusia dan kehidupan sebuah sistem politik merupakan sebuah kekeliruan. Kita tak bisa untuk terus menyibukkan diri tentang kematian demokrasi. Politik demokratis sedang dihambat oleh kepalsuan-kepalsuan yang sudah mulai terdeteksi.

 

Merasa percaya diri akan masa depan mungkin akan terlihat konyol pada tahap krisis demokrasi saat ini. Sebab, kita memiliki lebih banyak rasa takut daripada rasa takut itu sendiri. Tetapi kita juga harus mengakui, selagi demokrasi masih berkutat pada masalah-masalahnya, ia tetap harus dijalani. Jika pada sampai tahap akhir kita masih habiskan untuk mengkhawatirkan akhir demokrasi, maka waktu hanya akan berlalu dengan sia-sia.

Kita hanya memiliki dua pilihan. Kita bisa pesimis, menyerah, dan membantu keberlangsungan yang terburuk akan terjadi. Atau kita juga bisa optimis, menangkap kesempatan yang masih ada, dan mungkin dapat membuat dunia menjadi lebih baik. Dengan atau pun tanpa demokrasi.

Menjaga Demokrasi

Sementara itu bagaimana untuk menjaga demokrasi agar tetap hidup? Steven dan Daniel dalam buku “How Democracies Die” tersebut menawarkan dua elemen untuk menjaga demokrasi. Pertama, adalah menghormati norma sosial. Para politisi baik pemerintah maupun oposisi saling menahan diri untuk tidak melakukan segala cara untuk melakukan segala cara untuk meraih kekuasaan. Apalagi membuat sentimen SARA (hlm.106). Meski terkesan naif, cara ini dinilai akan menciptakan suasana kondusif dalam jalannya pemerintahan.

Elemen kedua adalah media sebagai pilar keempat dalam demokrasi. Media diharapkan untuk tetap independen, tidak menjadi partisan pemerintah, oposisi, atau kelompok politik tertentu. Hal tersebut tentu menjadi tantangan bagi media menjaga indepensi, di tengah pemodal yang berafiliasi dengan kepentingan politik tertentu. Sebab, pers yang independen adalah benteng terakhir demokrasi, tak ada demokrasi yang bisa hidup tanpa pers yang independen (hlm.199).

Buku yang terdiri dari sembilan bab ini tentu sangat Amerika sentris. Hanya sedikit studi kasus yang ditulis di negara lain terkait masalah demokrasi.

Meski begitu, buku ini cukup layak untuk dibaca oleh berbagai kalangan masyarakat, terutama para politisi. Sebab, penting bagi politisi untuk tidak membuat polarisasi dan konflik horizontal di masyarakat, hanya untuk meraih kekuasaan. Kondisi Indonesia toh tak jauh berbeda?

Kita tentu menyadari, tidak ada sebuah sistem yang sempurna, termasuk demokrasi. Namun, hanya dengan demokrasi kita dapat menjunjung tinggi prinsip-prinsip humanisme yang menjamin hak serta kewajiban setiap individu tanpa membedakan SARA. Sebab, hanya dengan seperti itu, demokrasi dapat menjadi  alat untuk mencapai tujuan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. (*)

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Apakah Kita Benar-benar Memahami “Berita Palsu”?

mm

Published

on

Kita berpikir bahwa kita sedang membagikan fakta, tapi sebenarnya kita sedang mengekspresikan emosi kita di sebuah pabrik amarah. Jadi bisa dipahami bahwa media sosial adalah pabrik amarah. Dan secara paradoksal, itu bisa terjadi karena kebanyakan orang tak menyadari, dan tak ingin menyadari, tentang hal ini.

by: Oleh Michael P. Lynch | Agus Tegus (p) Sabiq Carebesth (ed)

____

Dengan begitu seringnya diobrolkan, ditwitkan, dan dipermasalahkan, pasti Anda berpikir Anda tahu banyak tentang berita palsu. Untuk beberapa hal memang begitu. Kita tahu ada artikel-artikel dari lembaga jurnalisme terlegitimasi yang digunakan untuk mengatur hasil pemilu. Kita tahu tulisan-tulisan itu menyebarluaskan teori konspirasi, bahkan menciptakan bias memori di benak kita. Dan kita tahu bahwa istilah “berita palsu” menjadi klise, terlampau banyak diucapkan dan disalahartikan sampai tak lagi sesuai dengan maknanya yang semula.

Kenapa demikian? Dan mengapa berita palsu–sebagai fenomena aktual—masih efektif disebarkan? Cerminan dari pada emosi-emosi kita, ditambah sedikit acuan dari filsafat kebahasaan dan neuroscience yang sekarang berlaku, menawarkan jawaban untuk kedua pertanyaan itu.

Kita sering bingung tentang peran emosi dalam kehidupan kita. Satu hal, kita suka berpikir, mirip Plato, bahwa alasan menjadi pendorong kereta nalar kita dan menjaga agar kuda-kuda liar emosi tak keluar dari jalur. Tapi kebanyakan orang mungkin mengakui bahwa seringkali pernyataan Hume lebih mendekati kenyataan, bahwa: alasan itu budaknya nafsu. Kita pun seringkali mencampuradukkan antara apa yang kita rasa dengan kenyataan yang sebenarnya: jika sesuatu membuat kita jengkel, maka  kita bilang itu menjengkelkan.

Akibatnya, tanpa kita sadari, perilaku komunikasi kita sehari-hari ditunggangi oleh emosi. Inilah yang digarisbawahi oleh para filosof bahasa pada pertengahan abad ke-20 sebagai “ekspresivis”. Mereka menunjuk bahwa terkadang orang mengira bahwa mereka sedang bicara tentang fakta-fakta, sementara kenyataannya mereka sedang mengekspresikan diri secara emosional. Para ekspresivis menerapkan pemikiran tersebut secara meluas pada semua laku komunikasi etis tentang benar atau salah, baik atau buruk. Bahkan kalaupuan kita belum sampai sejauh itu, pemahaman mereka menggambarkan tentang apa yang terjadi saat kita membagikan atau meretwit postingan baru–palsu ataupun tidak—secara online.

Saat membagikan atau meretwit, kita suka membayangkan diri kita menjalani apa yang disebut para filosof sebagai perilaku testimoni–mencoba menyampaikan atau mendukung (meng-endorse) sebuah pengetahuan. Tentu saja tak selalu seperti itu; masih ada ironi. Meski begitu, membagikan atau meretwit sesuatu padahal tak sepakat dengan isinya itu melanggar kelaziman–terlihat juga dalam fakta bahwa kebanyakan orang merasa wajib memperlihatkan bahwa retwit mereka bukanlah endorsement. Dengan demikian jadi tak masuk akal jika dibilang bahwa default-nya bukan bahwa membagikan dan meretwit adalah perilaku meng-endorse.

Tapi bagaimana jika kita sekadar bingung tentang bagaimana sebenarnya komunikasi menjalani fungsinya secara online? Petunjuknya bisa ditemukan dalam apa yang kita lakukan dan kita hindari saat membagikan konten secara online.

Mari kita mulai dengan yang tak kita lakukan. Riset baru-baru ini memperkirakan bahwa setidaknya 60 persen berita yang dibagikan secara online itu bahkan tak dibaca sama sekali oleh orang yang membagikannya. Seorang peneliti menyimpulkan, “Orang lebih suka membagikannya ketimbang membacanya sendiri.” Di lain pihak, yang kita lakukan adalah membagikan konten yang membikin orang meradang.

Riset telah menemukan bahwa prediktor paling baik untuk berbagi sesuatu adalah emosi yang kuat–baik emosi berupa kasih sayang (misalnya postingan tentang anak kucing) maupun emosi-emosi semacam gejolak moral. Penelitian membeberkan bahwa emosi yang menyangkut moral itu luar biasa efektif: setiap sentimen moral meningkatkan 20 persen kemungkinan sebuah twit dibagikan. Dan media sosial pun berlaku menggejolakkan perasaan-perasaan kita. Berbagai perilaku yang di dunia nyata tak begitu membangkitkan kemarahan, misalnya, bisa lebih berdampak di online, karena bisa jadi manfaat sosial dari kemarahan itu bisa tetap ada tanpa ada risiko-risiko yang yang biasanya timbul.

Mau tak mau, ini memperlihatkan kepada kita bahwa menyampaikan pengetahuan bukan menjadi alasan utama berita dibagikan. Sebagaimana disebut oleh filosof kontemporer Ruth Millikan, fungsi stabilisasi dari komunikasilah yang menjelaskan kenapa tindakan itu terus dilakukan. Fungsi stablisasi teriakan “Air ball!” (meleset) kepada seorang pemain basket yang sedang melakukan lemparan bebas adalah untuk mengalihkan perhatiannya. Orang yang baru bermain basket bisa jadi menganggapnya sebaliknya. Mereka mengira orang-orang sedang mengingatkan pemain itu atau memprediksi bahwa lemparannya bakal meleset. Interpretasi semacam ini bisa membuat orang menyalahartikan sebuah fungsi stabilisasi.

Hal seperti ini dalam skala besar terjadi di media sosial. Kita mirip dengan orang seperti itu, yang baru dalam permainan basket. Kita berpikir sedang membagikan berita untuk sebuah hal, semisal transfer pengetahuan, tapi sering kali sebenarnya sama sekali tak melukan hal itu –betapapun kita memikirkannya dengan sadar. Seandainya itu, bisa dibilang kita memang sudah membaca berita yang kita bagikan. Tapi kebanyakan kita tak melakukannya. Jadi, kita sebenarnya sedang apa?

Selengkapnya dalam edisi majalah “Book, Review and More”

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending