Connect with us

Tips Menulis

Saran Mengarang Dari Fiona Davis: Tentang Mengatasi Draf Pertama

mm

Published

on

Saat Anda terbiasa menulis setiap hari, mudah untuk mengendalikan saat-saat menyakitkan dalam membuat draf pertama, mengetahui bahwa Anda dapat merapihkannya nanti.

Apa rekomendasi anda dalam menciptakan dan memahami karakter-karakter yang anda buat?

Tugas yang paling penting adalah menentukan apa tujuan, sejarah, dan kebiasaan karakter Anda—apa yang paling mereka inginkan dari kehidupan, dan mengapa. Dan untuk karakter yang hidup di periode waktu klasik, ada tugas tambahan untuk menggambarkan seperti apa kehidupan saat itu. Karena sebagian dari buku saya berlatar belakang awal 1950-an, saya pergi ke perpustakaan dan membaca koran dan majalah tua, meneliti iklan serta artikel-artikelnya. Saya juga mendengarkan musik periode itu, dari bebop hingga Rosemary Clooney, untuk merasakan tren popular yang ada saat itu.

Apakah ada sesuatu yang anda lakukan agar mendapatkan suasana hati untuk menulis? pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu untuk memulai berfikir?

Museum Met di New York adalah tempat yang tepat untuk merasa terinspirasi. Saya cukup beruntung untuk bisa hadir dalam pameran perancang Charles James saat mengerjakan The Dollhouse, bahan yang digunakan serta gayanya dengan sempurna menangkap esensi fashion tahun 1950-an. Berlari mengelilingi reservoir di Central Park dapat membantu saya ketika mencoba menyelesaikan masalah alur atau memvisualisasikan adegan selanjutnya. Biasanya saya bermalas-malasan selama berjam-jam sebelum terjun menulis. Kegiatan bermalas-malasan saya termasuk mencuci, memeriksa email, dan membaca koran, sampai rasa bersalah yang ada menjadi tidak terhindarkan. Tetapi begitu saya mulai menulis, saya jatuh ke dalam arus yang mengalir dan tidak sadar akan berlalunya waktu. Saya suka perasaan itu.

Fiona Davis

Apakah Anda selalu ingin menulis? Bagaimana Anda memulai karir Anda sebagai seorang penulis?

Saya mendapat gelar master dalam bidang jurnalisme dari Columbia University, yang mengajarkan saya cara meneliti dan melakukan wawancara dan menulis dalam tenggat waktu, dan semua keterampilan itu berguna dalam penulisan fiksi. Saat Anda terbiasa menulis setiap hari, mudah untuk mengendalikan saat-saat menyakitkan dalam membuat draf pertama, mengetahui bahwa Anda dapat merapihkannya nanti. Hal itu bukan proses yang berharga, tapi sebuah bentuk kerja.

Klise atau kebiasaan buruk apa yang ingin Anda sampaikan kepada penulis pemula untuk dihindari?

Saya memiliki Post-it di papan buletin di atas meja saya dengan tajuk “Kata-Kata Buruk” tertulis di atasnya: isinya termasuk “menyadari, bertanya-tanya, merasa, melihat, berpikir, dan mendengar.” Setelah saya selesai dengan draf pertama, saya mencari setiap kata buruk buruk itu dan menggantinya dengan menggunakan sudut pandang yang mendalam. (Misalnya, mengganti “Dia mendengar kucing itu mengeong,” dengan “Kucing itu mengeong.”) Membuat tulisan saya lebih sederhana dan lebih kuat. Untungnya, saya sampai pada titik di mana saya biasanya menahan diri saya sebelum menggunakannya, tetapi Anda tidak pernah bisa terlalu yakin.

Apa tiga atau empat buku yang mempengaruhi tulisan Anda, atau memiliki pengaruh yang mendalam pada diri Anda?

The Perfume Collector oleh Kathleen Tessaro berlatar belakang dua dekade, 1950-an dan 1920-an, dan perhatiannya terhadap detail dan deskripsi sangat menakjubkan. The Lottery oleh Shirley Jackson, yang diterbitkan tahun 1948, adalah mahakarya abadi, sama seperti People of the Book oleh Geraldine Brooks. Saya bersumpah Brooks menjelajah waktu kembali ke masa lalu untuk menulis buku itu, sangat kaya dalam penggambaran kondisi dan karakter. Di sekolah menengah, saya memiliki seorang guru yang menanamkan kecintaan awal saya pada Shakespeare, dan musikalitas Macbeth jelas melekat pada diri saya.

Continue Reading
Advertisement

Tips Menulis

Caroline Webb : Dari mana saya belajar nilai presisi dan kejelasan dalam menulis non-fiksi

mm

Published

on

Setelah berhubungan kembali dengan kecintaan saya dalam menulis, saya mengambil setiap kesempatan untuk menulis kalimat nyata daripada mengandalkan slide PowerPoint. Dan setelah saya menulis beberapa artikel untuk McKinsey Quarterly, saya menyadari bahwa sudah waktunya untuk meletakkan menulis kembali ke pusat kehidupan saya. Saat itulah saya mulai mengerjakan buku, menulis ikhtisar empat halaman tentang sesuatu yang tidak akan saya selesaikan dalam empat tahun ke depan.

From” Writing Tips from Caroline Webb” | by Penguin Random House

(p) Affan Firmansyah | (e) Sabiq Carebesth

 

Pekerjaan bidang ekonomi menuntutnya menulis sama banyak dan penting. Ia adalah penulis laporan Inflasi Bank of England. Bagaimana hal itu membantunya saat menjadi penulis non-fiksi handal? Moment saat Caroline Webb menyadari sudah waktunya meletakkan dunia menulis ke pusat kehidupannya.

 

Setelah mengembangkan ide, apa yang pertama anda lakukan ketika mulai menulis?

Tulisan saya umumnya menjalin tiga helai ide. Ada informasi penelitian ilmiah yang menurut saya menarik dan berguna—mungkin penelitian yang baru saja saya baca, atau sesuatu yang sejak lama ingin saya tulis. Kemudian, saya juga memasukkan dengan jelas saran praktis yang disarikan dari penelitian ilmiah tersebut. Ada juga cerita atau contoh yang mengilustrasikan topik tersebut. Dan rute masuk saya ke dalam artikel atau bab baru bisa salah satu dari ketiganya; Saya mulai dengan bagian yang terasa paling mudah dan paling menarik untuk ditaruh di atas kertas. Jika yang saya tulis adalah anekdot, pertama saya biasanya fokus pada bahasa lugas yang digunakan orang atau klien yang saya wawancara untuk menggambarkan suatu hal yang sulit. Untuk tulisan tentang sains dan saran, saya biasanya menulis dalam butir-butir terlebih dahulu—yang oleh kolega saya biasa disebut “dot-dash”—untuk melihat alur argumen dan ide sebelum saya mulai mengisi jenjang dan rasa dari Bahasa yang saya gunakan.

Apakah ada sesuatu yang anda lakukan agar mendapatkan suasana hati untuk menulis? pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu untuk memulai berfikir?

Tentu saja. Satu hal yang sangat membantu saya adalah dengan menggunakan headphone yang besar. Headphone dapat meredam kebisingan dari luar dan mengurangi gangguan, memungkinkan saya untuk berpikir lebih jernih. Bagi saya headphone sudah jadi penanda bahwa saya akan masuk ke mode pemikiran mendalam. Jadi cukup dengan menggunakannya bisa memberikan sinyal yang jelas kepada saya bahwa saya akan fokus pada pekerjaan saya—membuat saya lebih mudah untuk terjun ke dalam kegiatan menulis. Dan saya memiliki tiga soundtrack menulis dalam beberapa tahun terakhir. Ada periode di mana satu-satunya musik yang saya dengarkan adalah kuartet string Haydn. Untuk waktu yang lama, saya bekerja dengan musik “deep house” yang instrumental dan sederhana (Saya pikir kedua genre itu memiliki banyak kesamaan). Tetapi kadang-kadang keheningan pun bisa membantu.

Apakah dari awal anda memang tertarik menulis? Bagaimana Anda memulai karir Anda sebagai seorang penulis?

Saya selalu suka menulis sejak kecil—terutama fiksi ilmiah, yang saya rasa adalah kejutan bagi guru bahasa Inggris saya di tahun 1970-an—dan saya adalah editor buku tahunan dan buletin kuliah saya. Saya sempat menjauh dari menulis karena saya membangun karier di bidang ekonomi. Tetapi setelah beberapa tahun, saya memiliki pekerjaan yang kegiatan menulisnya sama penting dan sama banyaknya dengan kegiatan berpikir: menulis Laporan Inflasi Bank of England. Hasilnya adalah publikasi yang menganalisis dan menggambarkan keadaan ekonomi, sehingga tulisannya kering—namun saya tetap menyukainya. Dan saya belajar banyak hal yang telah membantu saya sebagai penulis non-fiksi. Sebagai contoh, publikasi tersebut sangat berpengaruh sehingga sintaksis yang buruk dalam sebuah kalimat kunci dapat berakhir pada pergerakan pasar keuangan ke arah yang salah—jadi saya belajar nilai presisi dan kejelasan, dan saya belajar apa yang membuat kalimat mudah atau sulit dibaca. (Kami bahkan harus memasukkan tulisan kami ke dalam program komputer untuk menguji usia pembaca yang diperlukan untuk memahaminya.)

Setelah berhubungan kembali dengan kecintaan saya dalam menulis, saya mengambil setiap kesempatan untuk menulis kalimat nyata daripada mengandalkan slide PowerPoint. Dan setelah saya menulis beberapa artikel untuk McKinsey Quarterly, saya menyadari bahwa sudah waktunya untuk meletakkan menulis kembali ke pusat kehidupan saya. Saat itulah saya mulai mengerjakan buku, menulis ikhtisar empat halaman tentang sesuatu yang tidak akan saya selesaikan dalam empat tahun ke depan.

Apa saran terbaik yang pernah anda terima?

Lynda Gratton (Profesor Praktik Manajemen di London Business School, dan penulis 8 buku yang sukses) mengatakan kepada saya di awal proses penulisan buku saya bahwa pada akhirnya saya harus menjadikan kegiatan menulis sebagai pekerjaan penuh waktu—setidaknya untuk beberapa bulan. Dia benar; akan datang masa di mana anda harus berhenti melakukan segalanya, dan berkata “sekarang, saya seorang penulis, dan tugas saya adalah menulis.” Dan sarannya membantu saya mengenali ketika tiba waktunya untuk menghilang ke dalam bunker menulis.

Sementara itu, Matt Lieberman (profesor neurosains di UCLA dan penulis Social) mengatakan kepada saya untuk menjaga diri saya secara fisik saat menulis, mengingatkan saya untuk melihat latihan sebagai investasi untuk ketajaman mental dan emosional saya.

Apa tiga atau empat buku yang memengaruhi tulisan Anda, atau memiliki pengaruh yang mendalam pada diri Anda?

Setidaknya ada empat buku yang mendorong saya menulis How to Have a Good Day.

Predictably Irrational, oleh Dan Ariely. Melihat sebuah buku menangkap imajinasi orang-orang seperti itu membuat saya bersemangat melihat perilaku ekonomi sebagai prediksi. Selain itu, saya melihat bahwa mungkin untuk membuat materi akademis menjadi menarik dan menyenangkan.

The Happiness Hypothesis by Jonathan Haidt. Saya menyukai pendekatan lintas disiplin dari buku ini, diambil dari psikologi, neurosains dan bahkan filsafat kuno. Juga, suamiku membujukku dengan itu—ya itu adalah hadiah pertama yang dia belikan untukku. (AF)

Continue Reading

Tips Menulis

Tentang Cerpen—dan Penulisannya

mm

Published

on

Oleh: Sabiq Carebesth *)

Saya baru saja membaca cerita pendek (cerpen) Kanzuburo Oe—Kekasih Himiko—mungkin untuk keempat kalinya atau lebih. Saya menyukai cerpen itu tidak hanya karena paragraph pembukanya yang penuh hasrat, tapi juga metafora yang kaya dalam membuat penggambaran menjadi begitu hidup. Singkatnya romansa aneh yang dibentangkan dalam keseluruhan rasa sakit yang diam-diam telah membius mata saya, perasaan saya, pikiran dan debar!

Sebenarnya tidak hanya karya Oe yang mengesankan saya sedemikian rupa, paling tidak ada empat cerpen lain yang bisa saya katakan sebagai cerita pendek paling mengesankan dan saya sukai dari cerpen karya penulis lain. Empat cerpen itu adalah: “Kisah Cinta” karya Chekov; Monolog Isabel Memandangi Hujan di Macondo karya Marquez, Tegak Lurus Dengan Langit karya Iwan Simatupang, Sukab dan Sepatu milik Seno Gumira, dan—saya lupa judulnya, tentang pemabuk di kafe dan kesunyiannya, mungkin berjudul “Kafe yang bersih dan Nyaman” milik Hemingway.

Tentu saja ada beberapa judul lain yang mengesankan mata baca saya, seperti misalnya cerita tentang seorang yang berusaha mencintai kata-kata/ membuat sajak milik Budi Darma—saya benar-benar lupa judulnya, cerpennya ada dalam kumpulan cerpennya di buku “Orang-Orang Bloomington” dan penulis Jepang lainnya yang berkisah tentang penyair kecil yang tersihir kata-kata yang didapatnya sendiri untuk puisinya—ah saya lupa nama pengarangnya—tapi bagaimana pun, cerpen-cerpen yang terakhir saya sebut berada di tangga kedua daftar cerpen favorit saya untuk beberapa alasan yang tentu saja sangat subjektif dan personal.

Dari cerpen-cerpen yang saya sebutkan, tentu bisa ditengarai cita rasa selera saya atas sebuah cerpen; mengangkat tema dan kisahan absurd, tragis, dan disajikan dalam bahasa yang mengandung ironi, kaya metafora, langsung ke inti kehidupan yang indah tapi berakhir dalam ketiadaan pilihan berhadapan dengan realitas diluar segala kebahagiaan yang diinginkan para tokohnya.

Saya merasa itu semua mewakili sublim rasa dari semua rahasia yang bisa kita sembunyikan sebagai anak manusia—dan cerpen-cerpen yang saya sebut di atas mengeluarkannya dari persembunyian batin yang bisa kita upayakan!

*

 

Oleh karenanya catatan “tentang cerpen—cerpen menurut pengalaman membaca saya–ini, dan bagaimana sebaiknya cerpen ditulis dan disajikan untuk pembaca (yang seleranya seperti saya; berdasar prolog dan latar belakang di atas) sekali lagi bersifat subjektif ketimbang mengacu pada teknika penulisan cerpen yang lebih umum.

Jadi apakah cerpen itu? sekali lagi dalam bahasa, nuansa dan cita rasa selera pribadi saya? Dan mungkin berkesesuaian dengan anda, atau semoga mampu memberi pertimbangan buat anda yang ingin menulis cerpen?

Saya  akan menyusun point-pointnya dalam list, dan sambil lalu mengabaikan struktur relasi antar paragraph, koherensi dan konjungsinya—sebab saya hanya menyalinnya dari catatan dalam buku harian. Saya persilakan anda memungut sari patinya sendiri—jika memang ada:

  • Cerpen adalah berhenti mempercayai kehidupan normal—hidup itu tidak normal!
  • Cerpen adalah rasa “kecut”, masam, terlampau getir dari kuburan rahasia dan masa silam yang ingin dihilangkan jejaknya sama sekali oleh banyak manusia. Maka menulis cerpen seperti menggali kuburan rahasia dan mengeluarkan isinya dengan telanjang bulat!
  • Cerpen adalah keindahan yang meregang tragis untuk pada akhirnya harus diterima sebagai kenyataan—meski memuakkan tapi pada dasarnya wajar—kecuali kita hendak menepis realitasnya.
  • Cerpen adalah hasrat “binatangisme” yang terpendam; terjadilah dalam dunia rekaan—sambil berharap—jangan dalam kehidupan nyata.
  • Cerpen adalah kehidupan yang ingin kita pungkiri—tapi nafsu kita menghasrati salah satu sisinya.
  • Ia bergerak oleh metafora yang dipilih sebagai satu-satunya cara ungkap—sebab deskripsi gagal mengatakannya dengan lebih tepat dan berisi—kareannya metafora yang dipakai haruslah sangat terpilih dan tepat!
  • Cerpen adalah keberanian menerima hidup yang pahit agar sakit sosial kita memiliki penawar.
  • Kadang-kadang cerpen juga sebuah dunia “tanpa pengharapan” dan memang berakhir “nyaris” tanpa harapan.
  • Atau dunia yang tampak normal, nikmat, tetapi memendam ironi dan rasa tragis.
  • Ia menyengat, konstan dan menghentak sejak kalimat pembuka tapi tidak akan membuat “mati” pembaca sampai paragfar penutupnya.
  • Metafora—sekali lagi, memudahkan kerja penggambaran/ deksripsi—juga sekalian memberi rasa nikmat yang mengesankan lebih dari sekedar enak dibaca dari sebuah narasi.
  • Cerpen adalah tentang orang-orang yang “tidak berdaya” menghadapi kenyataan yang tidak ia inginkan terjadi—tapi nyatanya terus berlangsung, menimpa, dan tokohnya mencari jalan untuk mampu menjalani dan menerima; dengan sikap-sikap yang absurd, penuh frustasi—hal itulah yang menggerakkan cerita, plot; suatu konflik kesadaran tentang kenyataan dunia yang memuncak dan pada akhirya, menusia tetap kalah/ dikalahkan.
  • Terakhir, cerpen adalah bahasa batin, rahasia yang ingin dipendam—dan fiksi mewujudkannya sebagai “kenyataan cerita”.

Di atas semua itu saya bukan penulis cerpen, saya belum pernah sekali pun berhasil menulis satu cerpen pun, dan dengan menyusun catatan bebas ini saya mungkin akan mulai belajar menulis cerita pendek. Mulai tahun depan, hehe.

*) Sabiq Carebesth, penyair, editor galeribukujakarta.com dan penulis lepas.

 

Continue Reading

Tips Menulis

Write With Simplicity, Sesederhana Apa?

mm

Published

on

Tulislah dengan baik apa-apa yang anda ketahui. Jika anda tidak dapat menulis dengan baik hal-hal yang akrab dengan anda, bisa dipastikan satu juta persen anda juga tidak dapat menulis dengan baik hal-hal yang tidak anda ketahui.

Brander Matthews adalah orang paling bijak bestari yang pernah saya kenal. Saya beruntung pernah belajar di bawah bimbingannya selama tiga tahun di Universitas Columbia. Sebuah kehormatan pula bagi saya bisa dekat secara pribadi dan bersahabat dengan Matthews.

Suatu hari, ketika Matthews dan saya berbincang di dekat jendela ruang kerjanya, ia tiba-tiba menunjuk ke arah luar. Jarinya mengarah pada seorang pria paruh baya yang tampak berjalan santai.

“Jika aku bisa menulis kisah hidup lelaki itu,” kata Matthews, “Jika aku bisa mengisahkan perjalanan hidup laki-laki itu sejak kecil sampai tua renta, aku akan menulis sebuah buku yang lebih hebat dari semua literatur di dunia, kecuali Alkitab.”

Saya tentu heran dengan pernyataan Matthews yang diucapkan dengan begitu berapi-api itu. Semula saya melirik raut mukanya, memastikan ia sedang bercanda atau tidak. Ternyata, Matthews serius.

Lalu saya melongok ke luar jendela, tapi laki-laki yang dibicarakan Matthews terlihat layaknya orang biasa saja, tak ada istimewanya. Saya pun tak melihat ada hal khusus pada lelaki itu yang mungkin membuat kisah hidupnya akan membuat dunia gempar. Matthews sepertinya tahu saya meragukan ucapannya, ia pun kemudian berkata:

“Saya tidak kenal dia. Saya tidak tahu apa-apa tentang dia. Saya tidak pernah melihat dia sebelumnya. Saya hanya memilih laki-laki tua itu sebagai contoh, karena dia terlihat sangat biasa-biasa saja. Maksud saya adalah….”

“Tidak ada pria atau perempuan yang kisah hidupnya, jika secara jujur dan benar-benar diceritakan, tidak akan menjadi drama yang luar biasa. Tapi drama seperti itu tidak akan pernah benar-benar bisa ditulis.”

“Tak satu pun manusia memiliki visi yang sepenuhnya benar tentang kehidupannya sendiri dan betul-betul bisa melihat secara tepat episode kehidupannya yang merupakan drama sangat menyentuh.”

“Hal-hal dramatis bukan lah seperti perjuangan di bibir tebing atau kebahagiaan saat orang lolos dari masalah berat. Drama menarik yang membawa pesan luhur ada pada hal-hal yang terjadi setiap hari dan reaksi seseorang pada peristiwa seperti itu. ”

Karena saat itu saya masih muda, saya anggap nasihat dosen saya itu keliru. Bagi saya waktu itu, kisah-kisah hidup dan mati, kisah petualangan “Prisoner of Zenda”, cerita tentang detektif Hawkshaw, jauh lebih menarik. Menurut saya, kehidupan sehari-hari sama sekali tidak memuat unsur drama yang menarik sehingga tak berharga untuk ditulis.

Akan tetapi, 30 tahun kemudian, setelah saya lebih banyak belajar dan punya segudang pengalaman menulis, nasihat Brander Matthews terdengar sangat tepat. Jika saya mengikuti nasihat dosen saya itu sejak awal, mungkin saya menjadi penulis hebat sejak usia muda. Sayang sekali, saya sungguh terlambat menyadarinya.

Saya meyakini, jika banyak penulis pemula mau mengikuti nasihat Matthews, mereka mungkin bisa menghindari kekecewaan karena gagal menulis kisah yang menarik dan sukses memikat pembaca. Jadi, lebih baik mereka menulis hal-hal sederhana yang benar-benar diketahuinya, alih-alih menulis fiksi soal cerita yang tidak begitu mereka pahami.

Ray Long (editor salah satu majalah bergengsi di Amerika, “Cosmopolitan,” hidup 1878-1935) mengomentari “teori” Brander Matthews tadi, saat ia bertemu dengan saya dan kami sedang berdiskusi mengenai penyebab banyak penulis pemula gagal mengarang fiksi berkualitas. Ray Long berkata:

“Para pelajar mampu 50 kali lebih baik dalam mengisahkan kejadian biasa-biasa saja dengan cara yang luar biasa, daripada menggambarkan kejadian luar biasa dengan cara biasa-biasa saja!”

Silakan membaca lagi cerpen-cerpen terbaik kalian, saya yakin, anda semua akan menyadari betapa benar pendapat Ray Long itu.

Sebagai contoh: Guy de Maupassant (penulis hebat Perancis di abad ke-19 dan salah satu pencetus cerita pendek modern) adalah pengarang cerita pendek yang tak ada bandingannya. Apa tema dari cerpen-cerpennya yang paling populer?

Berikut adalah tema dari dua cerpen terbaiknya:

Pertama: “Seorang istri panitera yang miskin meminjam sebuah kalung berlian. Tapi, dia menghilangkan perhiasan itu. Dia pun menghabiskan sisa masa mudanya untuk menghemat uang agar bisa mengganti perhiasan yang hilang tadi; –di ujung kisah, ternyata kalung itu Cuma sepuhan, bukan berlian asli.”

Kedua: “Seorang warga desa yang sudah sepuh dan bongkok menemukan sebuah tas. Banyak orang menuduhnya telah mencuri tas itu. Tuduhan itu membebani pikiran orang tua tadi, sampai-sampai ia jatuh sakit.”

Itu adalah tema besar dari dua cerpen abadi Guy de Maupassant. Tak ada melodrama maupun kemewahan di kisah dalam “The Necklace” dan “A Piece of String.” Dan, di daftar karya-karya terbaik Guy de Maupassant, dua cerpen itu wajib ada di dalamnya.

Setiap orang memiliki pengetahuan mendalam tentang cerita kehidupan satu orang atau lebih, yang sangat ia pahami, dan layak menjadi bahan kisah-kisah menakjubkan.

Mungkin seorang penulis pemula itu hanya petugas pos, gadis penjaga toko, buruh tani atau pemulung sampah. Namun, selalu ada drama menarik dan narasi kuat di setiap ribuan detail soal pekerjaan itu; di cara mereka menjalaninya; di jalinan persahabatan yang terbentuk karena pekerjaan mereka; di karakter unik cara mereka menjalani hidup. Kisah-kisah yang ditulis oleh orang-orang seperti ini dapat menjadi luar biasa, jika mereka menjadikannya sebagai cermin kehidupan.

Apakah mereka bisa menuliskannya? Tidak, jika mereka justru menulis kisah soal kejahatan yang sesungguhnya tidak mereka pahami; cerita cinta yang konon romantis; dan topik lain yang sepenuhnya tidak mereka ketahui.

Artikel lengkap dapat dibaca di buku “Memikirkan Kata” (GBJ, 2019) yang akan diterbitkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta tahun depan.

Tak banyak orang mendapat pengalaman menghadapi kematian dalam pertarungan satu lawan satu; menumpangi kapal karam di laut; merebut cinta seorang putri dari pangeran jahat; menggagalkan pencurian permata oleh maling kaliber internasional; menyelamatkan anak perempuan dari jamahan seorang kaya yang tamak; memecahkan kode pada peta lokasi harta karun. Dan ketika kita mencoba menulis kisah-kisah petualangan seperti itu, kebanyakan dari kita gagal dan justru seolah-olah menceritakan kunjungan ke planet Mars!

Tetapi banyak orang, mungkin tahu betul bagaimana manajer kantor bersikap dan berbicara saat tahu si Smithers terlambat masuk kerja untuk ketiga kalinya dalam sepekan; bagaimana trotoar licin saat dilintasi; dan bagaimana angin fajar mengipasi wajah kita agar lekas bangun untuk berangkat bekerja pada pukul 6 pagi.

Ribuan orang lain mungkin juga tahu benar, bagaimana jawaban konyol para penunggak utang saat tagihan sudah jatuh tempo; bagaimana perbedaan karakter ratusan anak di sekolah tempat mereka mengajar; bagaimana obrolan hambar rekan-rekan kerja mereka atau orang-orang yang sedang bersuka ria; bagaimana sikap aneh tetangga apartemen mereka; hingga bagaimana sikap nyeleneh para petugas kebersihan.

Banyak orang tahu semua hal itu dengan sangat baik, karena menjadi bagian langsung dari kehidupan sehari-hari mereka, sehingga tidak berpikir cerita-cerita layak untuk menjadi bahan fiksi yang menarik. Hanya sebagian kecil saja yang menyadarinya dan menuai panen kesuksesan sebagai penulis fiksi.

Maka, tulislah dengan baik apa-apa yang anda ketahui. Jika anda tidak dapat menulis dengan baik hal-hal yang akrab dengan anda, bisa dipastikan satu juta persen anda juga tidak dapat menulis dengan baik hal-hal yang tidak anda ketahui.

Adegan, karakter, tema — semua sebenarnya sudah ada di tangan anda. Manfaatkan hal itu. Jangan justru memalingkan muka dan menyimpang jauh untuk menulis hal-hal yang tidak anda diketahui. (*)

______________

*) Albert Payson Terhune (1872-1942) adalah seorang penulis dan jurnalis asal Amerika Serikat. Ia juga peternak anjing collies di Sunnybank, New Jersey, AS. Terhune populer dengan novel-novelnya yang berkisah soal petualangan anjing-anjing kesayangannya.

Novel pertamanya ialah “Dr. Dale” (terbit 1900), disusun bareng ibunya yang juga seorang novelis. Tapi, yang membuat Terhune terkenal di publik sastra Amerika Utara ialah novel pertamanya soal kehidupan anjing collie miliknya, si Lad. Pada 1919, “Lad, A Dog” terbit dan terus dicetak ulang sebanyak 80an kali hingga Abad 21. Setelah “Lad, A Dog” terbit, Terhune menulis 30an novel soal kisah anjing semasa hidupnya.

Terhune lulus dari Universitas Columbia pada 1893. Di artikelnya ini, ia mengulas nasihat dalam menulis fiksi dari seorang dosennya, James Brander Matthews (1852-1929). Nama terakhir ini merupakan penulis sekaligus akademikus kawakan Amerika di Abad 19. Matthews punya peran signifikan dalam perkembangan studi teater di dunia akademik.

___
Diterjemahkan dari “Write With Simplicity”

By Albert Payson Terhune oleh Addi M Idham

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending