Connect with us
mm

Published

on

By Konstantin Paustovsky

 

Potapov tua telah meninggal dunia sebulan yang lewat, ketika Tatyana Petrovna menempati rumahnya. Tatyana Petrovna tinggal bersama Varya, anak perempuannya yang masih kecil, serta seorang pengasuh yang telah berusia lanjut.

Rumah yang memiliki tiga kamar itu terletak di atas bukit, dekat sungai utara, di perbatasan kota. Di belakang rumah, di luar areal taman, tampak hutan pohon berk[1] yang memutih. Di hutan ini dari pagi sampai sore burung-burung gagak riuh rendah mengeluarkan suaranya.

Setelah meninggalkan Moskow cukup lama juga Tatyana Petrovna baru mampu membiasakan dirinya terhadap kota yang sepi, rumah kecil Potapov, pintu pagar yang berderit, malam yang lengang serta merasakan kelap-kelip lampu kerosin.

“Alangkah tololnya aku!” pikir Tatyana Petrovna, “untuk apa aku meninggalkan Moskow, kawan-kawan dan berhenti dari teater![2] Namun Varya harus dibawa ke kota Pushkino[3], ke tempat pengasuhnya – di sana tidak akan ada serangan apapun juga,[4] tetapi seharusnya aku tetap tinggal di Moskow. Alangkah tololnya aku!”

Akan tetapi untuk kembali lagi ke Moskow sudah tidak mungkin. Tatyana Petrovna lalu memutuskan untuk bekerja di rumah sakit yang jumlahnya tidak seberapa di kota kecil tersebut. Dan dia pun merasa tenang kembali. Bahkan kota itu mulai menarik simpatinya, terutama ketika musim dingin tiba dan salju menyelimutinya. Hari-hari menjadi lembut dan kelabu. Sungai-sungai pun membeku.

Tatyana Petrovna sudah merasa terbiasa dengan kota kecil itu dan dengan rumah milik orang lain tersebut. Dia pun sudah terbiasa dengan piano yang rusak, dengan potret-potret di dinding yang warnanya kekuning-kuningan. Potapov tua dulunya adalah seorang ahli mekanik kapal laut. Di atas meja tulisnya yang dilapisi kain laken hijau yang telah luntur, tegak berdiri sebuah jenis kapal penjelajah Gromoboi.[5] Dengan jenis kapal itulah dulu dia pernah berlayar. Varya tidak diijinkan memegang kapal itu. Dan dia sama sekali tidak diperbolehkan memegang barang apapun juga, yang terdapat di dalam ruangan itu.

Tatyana Petrovna mengetahui, bahwa Potapov meninggalkan seorang anak laki-laki, yang bekerja sebagai pelaut dan sekarang sedang bertugas di Laut Hitam. Potretnya ada di samping ‘Gromoboi’, di atas meja, terkadang Tatyana mengambilnya, memperhatikannya dengan saksama, seraya mengerutkan alis tipisnya. Dia tampak berpikir. Rasa-rasanya dia pernah bertemu dengannya di sebuah tempat, tetapi sudah sangat lama, sebelum dia mengalami perkawinan yang kurang beruntung ini. Akan tetapi di mana? Dan kapan?.

Sang pelaut memandangnya dengan tenang dan dengan mata yang sedikit mengejek seakan-akan bertanya: “Hai bagaimana? Masa Anda tidak mengingat di mana kita pernah bertemu?”

“Tidak, saya tak ingat,” jawab Tatyana Petrovna dengan pelan.

“Mama, dengan siapa Mama bicara?” Varya berteriak dari kamar sebelah.

“Dengan piano,” sambil tersenyum Tatyana Petrovna menjawab.

Di pertengahan musim dingin datang surat-surat yang ditujukan kepada Potapov tua, yang ditulis oleh tangan yang sama. Tatyana Petrovna menumpuknya di atas meja tulis. Suatu malam dia terbangun dari tidurnya. Salju di jendela kelihatan kusam. Arhip, kucing abu-abu peninggalan Potapov, tidur mendengkur di atas dipan.

Tatyana Petrovna mengenakan mantel, berjalan ke kamar Potapov dan berdiri di dekat jendela. Seekor burung jatuh dari pohon tanpa suara, di atas salju. Dan salju yang berceceran menjadi debu putih, menempel di kaca.

Tatyana Petrovna menyalakan sebatang lilin di atas meja, duduk di kursi, serta memandangi lidah api lama-lama, tetapi api itu diam saja. Kemudian dengan hati-hati dia mengambil sebuah surat, membukanya dan sambil memandang ke kiri dan ke kanan dia mulai membaca:

“Papa sayang,” Tatyana Petrovna membaca, “sudah sebulan saya berbaring di rumah sakit. Lukanya tidak terlalu berat. Tampaknya mulai sembuh. Jangan cemas dan janganlah merokok terus. Saya mohon!”

“Saya, kerap kali, selalu mengingatmu,” Tatyana Petrovna melanjutkan, “rumah dan kota kecil kita. Jaraknya yang jauh mengerikan, seolah-olah ada di ujung dunia. Saya memejamkan mata, ketika teringat bagaimana saya membuka pintu pagar, masuk ke halaman. Musim dingin, salju, tetapi jalan kecil ke arah huma tua kita di atas tebing curam tampak bersih dan pohon-pohon sireng dilapisi embun beku. Di kamar terdengar bunyi keretak perapian yang ditandai dengan asap kayu berk. Akhirnya piano disetem dan kau memasang lilin berwarna kuning di tempatnya masing-masing – tempat lilin itu saya bawa dari Leningrad. Begitu pula dengan not-not di atas piano, merupakan overture[6] Pikawaya Dama[7] dan nyanyian pujaan Djlya Beregov Otchizne Dalnoi[8]. Apakah bel di pintu masih berbunyi? Saya sangat tidak ingin mengusikmu. Masa hanya sekali itu saya melihat segalanya? Masa saya akan membersihkan muka dengan air sumur dari jolang hanya sekali saja? Kau ingat itu? Ah, sekiranya kau mengetahui, bagaimana saya mencintai semuanya dari sini, dari jauh! Janganlah kau terheran-heran, saya mengatakan hal ini kepadamu dengan sungguh-sungguh. Saya mengenang semuanya pada detik-detik peperangan yang mengerikan. Saya tahu, bahwa saya tidak hanya mempertahankan tanah air, tetapi juga sisinya yang kecil dan paling memikat bagiku dan bagimu, taman kita, semua anak-anak kecil yang berambut ikal, hutan kecil pohon berk di seberang sungai, bahkan Arhip si kucing. Ayolah, jangan ketawa dan jangan menggeleng-gelengkan kepalamu.

Mungkin, jika saya keluar dari rumah sakit, saya akan diijinkan pulang untuk waktu yang tidak terlalu lama. Saya tidak tahu kapan. Akan tetapi lebih baik jika tidak menunggu.”

Lama juga Tatyana Petrovna duduk di bangku, melihat dengan mata yang terbuka lebar ke luar jendela, yang di sana sinar kebiru-biruan mulai tampak. Dia berpikir, bahwa dalam hari-hari ini akan datang dari medan pertempuran seseorang yang tak begitu dikenal ke rumah Potapov tua. Di sini dia akan merasa sulit bertemu dengan orang asing dan akan melihat semuanya benar-benar tidak seperti apa yang ingin dilihatnya.

Pagi harinya Tatyana Petrovna menyuruh Varya mengambil sekop kayu dan membersihkan jalan kecil ke huma di atas tebing terjal. Huma itu sudah sangat tua. Pompa airnya yang terbuat dari kayu telah menjadi kusam kelabu, penuh dengan semak belukar. Tatyana Petrovna sendiri memperbaiki bel serta tulisan di atas pintu yang berbunyi: Saya gantungkan di sini – lonceng yang riang gembira! Tatyana Petrovna menyentuh bel dan suara gemerincing pun terdengar. Bunyi itu serasa menyentak-nyentak di telinga Arhip, dia merasa terusik dan keluar dari kamar depan. Bunyi bel itu tampaknya membuat Arhip kesal.

Dan siang harinya Tatyana Petrovna yang pipinya tampak memerah, dengan penuh semangat menyambut seorang penyetem suara yang datang dari kota. Dia adalah seorang laki-laki tua keturunan Czech, yang sudah lama tinggal di Rusia. Nama keluarganya Nevidal. Kerjanya memperbaiki kompor, mainan anak-anak, harmonika, dan menyetem piano. Laki-laki Czech itu, setelah menyetem piano, berkata bahwa piano tua tersebut masih sangat baik. Dan Tatyana Petrovna tanpa diberitahu pun sudah mengetahuinya.

Sesudah laki-laki itu pergi, Tatyana Petrovna memeriksa semua laci meja tulis dan menemukan satu pak lilin. Dia meletakkan lilin-lilin itu di tempatnya di atas piano. Malam harinya dia menyalakannya dan duduk di depan piano. Maka rumah itu pun dipenuhi oleh bunyi-bunyian yang indah.

Ketika Tatyana Petrovna menghentikan permainan pianonya dan memadamkan lilin, tercium bau asap lilin yang menyenangkan; bagaikan berada di dekat pohon cemara.

Varya sudah tak sabar lagi.

“Untuk apa Mama menyentuh barang-barang orang lain?” katanya kepada Tatyana Petrovna. “Mama melarang Varya, tetapi Mama sendiri menyentuhnya! Lonceng, lilin dan piano, semua Mama sentuh. Malah memainkan piano segala.”

“Karena Mama orang dewasa,” jawab Tatyana Petrovna.

Varya, sambil mengerutkan alisnya, memandang dengan penuh curiga pada ibunya. Memang Tatyana Petrovna sekarang lebih tampak dewasa. Dia, seolah-olah, tampak bercahaya dan mirip seorang gadis dengan rambut yang keemasan; yang kehilangan sepatu kacanya di sebuah istana. Tatyana Petrovna sendiri pernah menceritakan tentang gadis itu kepada Varya.

Di kereta Letnan Nikolai Potapov mengira, bahwa dia akan tiba di rumah orangtuanya tidak lebih dari sehari semalam. Cutinya tidak lama, tetapi perjalanan pulangnya telah menyita banyak waktu.

Kereta tiba siang hari di kota. Dan di saat itu juga, dari kepala stasiun yang dikenalnya, dia mengetahui, bahwa orangtuanya telah meninggal dunia sebulan yang lalu dan rumah mereka telah ditempati oleh seorang penyanyi muda dari Moskow dengan anaknya.

“Dia itu perempuan yang berevakuasi,” kata kepala stasiun. Nikolai Potapov terdiam, melihat ke luar jendela dan di sana para penumpang dengan barang bawaannya: mengenakan pakaian tebal dan bersepatu panjang saling berdesakan. Dia merasa kepalanya jadi pusing.

“Ya,” kata kepala stasiun, “ayahmu adalah orang yang luhur. Meskipun di saat kematiannya, dia tidak sempat melihat anaknya.”

“Kapankah kereta akan kembali?” tanya Potapov.

“Subuh esok hari, jam lima tepat,” jawab kepala stasiun, dia terdiam dan kemudian menambahkan: “Nenek saya akan memberimu air teh dan makanan. Kau bisa tinggal di rumahku. Tidak ada gunanya pulang ke rumah.”

“Terima kasih,” jawab Potapov dan pergi keluar.

Kepala stasiun mengikutinya dengan pandangan mata, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Nikolai Potapov melewati kota, ke arah sungai. Di atas sungai membayang langit yang kelabu kebiru-biruan. Di antara langit dan tanah, salju yang tipis melayang miring. Burung-burung gagak berterbangan di sepanjang jalan. Hanyalah kegelapan yang ada. Angin berhembus dari tepi sungai, dari hutan dan tetesan air mengalir dari pelupuk matanya.

“Ya, baiklah!” kata Potapov, “aku sudah terlambat. Kini segala-galanya seolah-olah menjadi asing bagiku: kota ini, sungai dan rumah.”

Dia memandang tebing terjal di seberang kota. Di sana ada taman, yang dilapisi embun beku, rumah yang kelihatan menghitam. Asap kelabu keluar dari cerobong. Angin membawanya ke hutan kecil pohon berk. Potapov dengan perlahan menuju ke sudut dekat rumah. Dia sudah memutuskan untuk tidak singgah ke rumahnya, tetapi hanya melewatinya, mungkin dia akan melihat taman dan huma yang sudah tua barang sebentar. Perasaannya yang tak mampu ditahan adalah mengenai rumah orangtuanya, yang sudah ditempati oleh orang lain, orang yang tak akan mengurusnya. Adalah lebih baik, jika dia tak melihatnya sama sekali, itu tidak akan memedihkan hatinya, dia akan pergi dan melupakan semua masa silam!

“Ah, baiklah,” pikir Potapov, “karena setiap hari kau melakukan sesuatu secara lebih dewasa, kau melihat semua yang ada di sekeliling menjadi lebih keras,” katanya pada diri sendiri.

Potapov sampai di rumah pada senja hari. Dengan hati-hati dia membuka pintu pagar, tetapi suara berderit masih saja terdengar. Dia memandangi tamannya. Salju jatuh dari ranting, gemerisik suaranya. Potapov memalingkan wajahnya. Jalanan kecil yang sudah dibersihkan dari salju membimbingnya ke huma. Dia berjalan menuju ke sana, tangannya memegangi pegangan tangga yang menua. Di kejauhan, di balik hutan, langit tampak memerah. Tampaknya, bulan mulai muncul dari balik awan. Potapov melepaskan topinya, merapikan rambutnya dengan tangannya. Terasa kesunyian menggigit, hanya di bawah bukit terdengar suara wanita dengan ember kosong, yang mencari air dari lubang es. Potapov menyandarkan sikunya pada pegangan tangga dan berkata dengan lirih: “Bagaimana ini bisa terjadi?”

Seseorang dengan pelan-pelan menyentuh bahu Potapov. Dia menoleh. Di belakangnya berdiri seorang wanita muda, yang wajahnya begitu pucat, kepalanya dilindungi oleh baju hangat. Diam-diam dia memandang Potapov dengan mata hitamnya yang penuh perhatian. Di pipi dan bulu matanya salju mencair, yang tampaknya telah rontok dari ranting.

“Pakailah topi itu,” kata wanita muda itu dengan pelan, “Anda bisa masuk angin. Ayolah ke rumah. Jangan berdiri di sini.”

Potapov terdiam. Wanita itu memegang tangannya dan menuntunnya melewati jalan kecil yang bersih. Potapov berhenti di dekat serambi. Tenggorokannya tercekat, dia tak mampu bernafas. Wanita itu dengan perlahan berkata:

“Tidak apa-apa. Ayolah, Anda tidak perlu merasa malu dengan saya. Itu sekarang mesti dihilangkan.” Dia menghentakkan kakinya, berusaha melepaskan salju dari sepatunya, dan itu menyebabkan pintu masuk ikut bergetar; lonceng pun bergemerincing. Potapov menarik nafas dalam-dalam, mengeluarkannya. Dia masuk ke dalam rumah, sambil bergumam dengan malu, melepaskan mantelnya di ruang depan, mencium harumnya kabut pohon berk yang tipis, dan melihat Arhip. Arhip duduk di atas dipan, menguap. Di dekat dipan seorang anak perempuan berdiri dengan memegang alat pemotong rumput dan memandang Potapov dengan sinar mata yang riang, tetapi bukan di wajahnya, melainkan pada tanda pangkat keemasan, yang ada di lengan.

“Ayo kita ke dapur!” kata Tatyana Petrovna mengajak Potapov. Di sana ada air sumur yang dingin di dalam jolang, handuk yang terbuat dari kain linen yang dibordir dengan gambar daun oak tampak tergantung. Tatyana Petrovna keluar. Anaknya membawakan Potapov sabun dan melihat, bagaimana Potapov tampak berpikir setelah membuka bajunya. Rasa malu Potapov belum juga sirna.

“Siapakah ibumu itu?” tanya Potapov pada anak tersebut dan wajahnya memerah. Dia hanya iseng saja memberikan pertanyaan.

“Dia pikir, dia orang dewasa,” anak itu membisikkan sesuatu yang bersifat rahasia.

“Tetapi dia sama sekali belum dewasa. Dia lebih buruk dari anak-anak, dia lebih buruk dari saya.”

“Mengapa?” tanya Potapov. Akan tetapi anak itu tidak menjawab, sambil tertawa dia berlari keluar dari dapur.

Sepanjang malam itu Potapov tidak mampu menghindari perasaan anehnya – jiwanya seolah lemah, tetapi sebenarnya sangat kuat. Semua yang ada di rumah adalah sesuai dengan apa yang ingin dilihatnya. Partitur-partitur yang sama terletak di atas piano, lilin-lilin yang sama juga menyala menerangi ruangan kecil milik orangtuanya. Bahkan surat-suratnya yang dari rumah sakit tetap tergeletak di atas meja – tergeletak di bawah kompas tua, tempat ayahnya biasa menyimpan surat-surat.

Setelah minum teh Tatyana Petrovna mengantar Potapov berziarah ke makam ayahnya di hutan kecil pohon berk. Bulan yang diselimuti kabut semakin meninggi. Cahayanya yang redup menyinari pohon-pohon berk, memantulkan bayangan yang tipis di atas salju.

Dan kemudian setelah malam semakin larut, Tatyana  Petrovna duduk di dekat piano dan dengan hati-hati menekan tutsnya, setelah itu dia berpaling pada Potapov dan berkata:

“Sepertinya saya pernah melihat Anda di suatu tempat,”

“Ya, boleh jadi,” jawab Potapov. Dia memandangi Tatyana Petrovna. Cahaya lilin yang menerpa dari samping tampak menyinari wajahnya. Potapov bangkit, berjalan dari sudut ke sudut ruangan itu, kemudian berhenti.

“Tidak, saya tidak ingat,” katanya dengan suara meredam. Tatyana Petrovna membalik dan dengan terkejut memandang pada Potapov, tetapi dia tak berkata apa-apa.

Bagi Potapov telah disiapkan sebuah dipan di kamar, tetapi dia tidak dapat tidur. Setiap menit di rumah itu tampaknya sangat berharga baginya dan dia tak mau kehilangan.

Dia berbaring, memasang telinganya untuk mendengarkan langkah Arhip yang mencuri-curi, bunyi tik-tik jam, bisikan Tatyana Petrovna: dia tampaknya tengah mengatakan sesuatu kepada pengasuh Varya di balik pintu. Kemudian suara itu tak terdengar lagi, pengasuh tersebut pergi, tetapi cahaya di bawah pintu tidak menghilang. Potapov seperti mendengar gemersik halaman buku, agaknya Tatyana Petrovna sedang membaca. Potapov sengaja tidak tidur, agar tidak ketinggalan kereta. Dia ingin sekali mengatakan, bahwa dia juga tidak bisa tidur, tetapi dia tidak berani menegur Tatyana Petrovna.

Pukul empat pagi Tatyana Petrovna dengan perlahan-lahan membuka pintu dan memanggil-manggil Potapov. Dia pun mulai bergerak-gerak.

“Ini sudah saatnya Anda bangun,” kata Tatyana Petrovna, “menyesal sekali saya harus membangunkan Anda!”

Tatyana Petrovna mengantarkan Potapov ke stasiun kereta melewati kota yang masih diliputi malam. Setelah bunyi peluit yang kedua, mereka saling mengucapkan selamat tinggal. Tatyana Petrovna mengulurkan kedua tangannya pada Potapov, sambil berkata:

“Tulislah surat. Kita sekarang adalah saudara. Bukankah begitu?”

Potapov tak mengatakan apa-apa, dia hanya mengangguk.

Selang beberapa hari Tatyana Petrovna menerima surat dari Potapov, yang ditulis di dalam perjalanannya.

“Aku ingat, ini pasti, di mana kita pernah bertemu,” tulis Potapov, “tetapi aku tak ingin mengatakannya pada Anda di rumah. Ingatkah Anda pada Krim 27 tahun yang lalu? Pada musim gugur. Batang-batang pohon tua di taman Livadiski. Langit mendung, lautan tampak pucat. Aku berjalan di sepanjang jalan kecil ke Oreanda. Di bangku taman di dekat jalan kecil itu duduk seorang gadis. Dia kira-kira berusia 16 tahun. Memandangku, bangun dan berjalan lurus ke arahku. Jarak kami semakin dekat, aku menatapnya. Dengan bergegas dia melewatiku, begitu lembut, tangannya memegang buku yang terbuka. Aku menghentikan langkah, lama sekali memandanginya dengan tatapan mataku. Gadis itu adalah Anda. Aku tidak mungkin keliru. Aku melihat Anda dan menyadari saat itu, bahwa seorang wanita telah melewatiku, seorang wanita yang mampu membayang-bayangi seluruh hidupku dan memberikan rasa bahagia yang tiada tara. Aku mengerti, bahwa aku mampu mencintai wanita itu dengan mengabaikan impian-impian lain. Ketika itu aku berpikir, bagaimanapun juga aku harus mendapatkan Anda. Akan tetapi aku tak bergerak sejengkal pun dari tempat aku berdiri. Mengapa? Aku tak tahu. Sejak itu aku mencintai Krim dan jalan kecilnya, tempat aku telah melihat Anda, meski hanya selintasan, tetapi kehilangan selama-lamanya. Biarpun begitu hidup masih memperlihatkan keramahannya padaku, aku berjumpa dengan Anda. Dan sekiranya semuanya berakhir dengan baik, hidupku membutuhkan Anda; hidupku itu tentunya menjadi milik Anda. Lagi pula aku menemukan semua surat untuk ayahku masih tertutup di atas meja. Aku memahami segala-galanya dan hanya bisa mengucapkan terima kasih pada Anda dari jauh.”

Tatyana Petrovna meletakkan surat itu, dengan mata berkabut menatap taman yang dilapisi salju putih di balik jendela dan berkata:

“Ya, Tuhan! Saya tidak pernah ada di Krim! Tidak pernah! Tetapi apakah itu sekarang masih begitu berarti? Ada gunanya juga aku tidak berusaha meyakinkan dia! Ada gunanya aku tidak meyakinkan diriku sendiri!”

Tatyana Petrovna tertawa, menutup kedua belah matanya dengan telapak tangannya. Di balik jendela, cahaya matahari yang mulai terbenam masih memancar. Agaknya belum bisa sirna.

 

1943

 

 

*Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

**Biografi Konstantin Paustovsky: Konstantin Georgiyevich Paustovsky (31 Mei 1892-14 Juli 1968) merupakan sastrawan Rusia yang dilahirkan di Moskow, tetapi tumbuh di Kiev dan juga di wilayah pedesaan di Ukraina. Paustovsky belajar di Gymnasium Kiev (semacam sekolah yang menekankan pada pembelajaran akademik dan mempersiapkan pendidikan menengah lanjutan), sekelas dengan Mikhail Bulgakov (pengarang The Master and Margarita). Tahun 1912 Paustovsky masuk ke Universitas Kiev dan belajar di Fakultas Sejarah Alam. Tahun 1914 dia pindah ke Fakultas Hukum Univesitas Negeri Moskow, tetapi Perang Dunia I membuat Paustovsky menghentikan kuliahnya dan beralih melakukan berbagai pekerjaan.

Semasa masih di Gymnasium, Paustovsky mulai menulis sajak. Tetapi dia pun akhirnya menulis prosa dan menghasilkan On the Water (1911) dan The Four (1912). Selama Perang Dunia I Paustovsky menulis Sea Sketches, yang dipublikasikan tahun 1925. Kemudian Minetoza (1927), novel Shining Clouds (1929), Kara-Bugaz (1932), Kolkhida (1934), Summer Days (1937), Tale of the North (1938) dan Meshcherskaya Storona (1939). Selama Perang Dunia II, Paustovsky menghasilkan screenplay film Lermontov (pengarang A Hero of Our Time) yang disutradarai Gendelshtein untuk Gorky Film Studio, The Rainy Dawn (1946) dan kemudian pada tahun 1948 dia menulis Tale of the Woods.

Dari tahun 1948 sampai tahun 1955 Paustovsky mengajar di Maxim Gorky Literature Institute dan mengedit beberapa koleksi kesusastraan.

Karya monumental Paustovsky adalah The Story of A Life (1945-1963), yang terdiri dari 6 buku: Childhood and Schooldays (1946), Slow Approach of Thunder (1954), In That Dawn (1956), Years of Hope (1958), Southern Adventure (1959—1960), dan The Restless Years (1963).

Pada paruh kedua abad 20 karya-karya Paustovsky mulai diajarkan di sekolah-sekolah Rusia di dalam program pelajaran kesusastraan Rusia.

Pada tahun 1965 Paustovsky menjadi kandidat penerima Hadiah Nobel, tetapi menurut Wolfgang Kazak di dalam Leksikon Kesusastraan Rusia Abad XX, otoritas pemerintahan Soviet mengancam menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Swedia, dan akhirnya Hadiah Nobel pun dianugrahkan kepada fungsionaris kesusastraan Soviet, Mikhail Sholokhov (pengarang And Quiet Flows the Don).

Konstantin Georgiyevich Paustovsky wafat pada tanggal 14 Juli 1968 di Moskow, tetapi berdasarkan pada kemauannya sendiri, dia dimakamkan di kota Tarusa, di atas sebuah bukit, yang dikelilingi banyak pohon. (*)

[1] Pohon dengan kulit kayu yang licin dan rantingnya tipis

[2] Nama teater tidak dijelaskan. Akan tetapi ada data, misalnya saja, yang menunjukkan pada tanggal         14 Oktober 1941 para seniman teater Bolshoi berevakuasi ke Kuibyshev (Samara) selama 21 bulan

[3] Pushkino (Rusia: Пушкино) adalah sebuah kota dan pusat administrasi Pushkinsky District di Moskow Oblast, Rusia, terletak di pertemuan sungai Ucha dan Serebryanka, 30 kilometer (19 mil) timur laut dari Moskow

[4] Perang melawan Jerman

[5] Dari kata grom yang artinya petir dan boi bermakna perang, pukulan atau sambaran. Jadi kurang lebih artinya adalah sambaran petir

[6] Tembang pembuka

[7] Queen of  Spades, prosa karya Alexander Pushkin yang ditulis tahun 1833 dan dipublikasikan tahun 1834. Operanya ditulis oleh Tchaikovsky dan ditampilkan pada tanggal 19 Desember 1890 di Maryinsky Theatre – Saint Petersburg

[8] For Shores of Home, sajak karya Alexander Pushkin yang ditulis tahun 1830

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Naguib Mahfouz: Surga Anak-anak

mm

Published

on

“BAPAK!”

“Ya?”

“Saya dan teman saya Nadia selalu bersama-sama.”

“Tentu, Sayang. Dia kan sahabatmu.”

“Di kelas, pada waktu istirahat, dan waktu makan siang.”

“Bagus sekali. Ia anak yang manis dan sopan.”

“Tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas yang lain.”

Terlihat ibunya tersenyum, meskipun sedang sibuk menyulam seprai. Dan ia berkata sambil juga tersenyum:

“Itu hanya pada pelajaran agama saja.”

“Kenapa, Pak?”

“Karena kau punya agama sendiri dan ia punya gama lain.”

“Bagaimana sih, pak?”

“Kau Islam dan ia Kristen.”

“Kenapa?”

“Kau masih kecil, nanti akan mengerti.”

“Saya sudah besar sekarang.”

“Masih kecil sayangku.”

“Kenapa saya seorang Islam?”

Ia harus lapang dada dan harus hati-hati. Juga tidak mempersetankan pendidikan modern yang baru pertama kali diterapkan. Dan ia berkata:

“Bapak dan Ibu orang Islam. Sebab itu kau juga orang Islam.”

“Dan Nadia?”

“Bapak dan ibunya Kristen. Sebab itu ia juga Kristen.”

“Apa karena bapaknya berkacamata?”

“Bukan. Tak ada urusannya kacamata dalam hal ini. Dan juga karena kakeknya Kristen.”

Ia berusaha mengikuti silsilah kakek-kakeknya sampai entah tak ada batasnya, agar anak itu bosan dan mengalihkan pecakapan ke arah lain. Tapi sang anak bertanya:

“Siapa yang lebih baik?”

Ia berpikir sejenak, lalu berkata:

“Orang Islam baik dan orang Kristen juga baik.”

“Tentu salah satu ada yang lebih baik.”

“Ini baik dan itu juga baik.”

“Apa boleh saya berlaku seperti Kristen, agar kami bisa selalu bersama-sama?”

“Oo tidak, Sayang, itu tidak bisa. Tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya.”

“Tapi, kenapa?”

Memang betul, pendidikan modern itu keji juga! Dan ia bertanya:

“Apa tidak tunggu saja sampai kau besar nanti?”

“Tidak.”

“Baiklah, kau tahu mode kan? Seseorang bisa menyenangi mode tertentu, dan orang lain menyenangi mode lain. Bahwa kau orang Islam, itu artinya mode terakhir. Sebab itu kau harus tetap Islam.

“Jadi, Nadia itu mode lama?”

Hmm, jangan-jangan Tuhan akan menjewermu bersama Nadia pada hari yang sama. Tampaknya ia telah melakukan kesalahan, betapapun ia sudah berhati-hati. Dan ia meraa seperti didorong tanpa ampun ke sebuah leher botol. Katanya:

“Masalahnya adalah selera. Tapi tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya.”

“Apakah dapat saya katakan pada Nadia, bahwa ia mode lama dan saya mode baru?”

Segera ia memotong:

“Tiap agama baik. Orang Islam menyembah Allah, dan orang Kristen menyembah Allah juga.”

“Kenapa ia menyembah Allah di satu kelas dan saya di kelas yang lain?”

“Di sini Allah disembah dengan cara tertentu, dan di sana dengan cara lain?”

“Apa bedanya, Pak?”

“Nanti tahun depan kau akan mengetahuinya, atau tahun berikutnya lagi. Sekarang kau cukup tahu saja, bahwa orang Islam itu menyembah Allah dan orang Kristen juga menyembah Allah.”

“Siapa sih Allah, Pak?”

Jadinya ia berpikir agak lama juga. Lantas ia bertanya untuk sekadar mengulur waktu:

“Apa kata Bu Guru di sekolah?”

“Ia membaca surat-surat dari Al-Quran dan mengajari kami sembahyang. Tapi saya tidak tahu siapa Allah itu.”

Ia berpikir lagi, sambil tersenyum agak remang. Katanya:

“Ia yang menciptakan dunia seluruhnya.”

“Seluruhnya?”

“Ya, seluruhnya.”

“Apa artinya mencipta?”

“Yang membuat segala sesuatu.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengan kekuasaan yang agung sekali.”

“Dimana Ia tingal?”

“Di dunia seluruhnya.”

“Dan sebelum ada dunia?”

“Di atas.”

“Di langit?”

“Ya.”

“Saya ingin melihat-Nya.”

“Tidak bisa.”

“Meski melalui televisi?”

“Ya, tidak bisa juga.”

“Tak seroang pun bisa melihat-Nya?”

“Tak seorang pun.”

“Bagaimana Bapak tahu Ia ada di atas?”

“Begitulah.”

“Siapa yang kasih tahu ia di atas?”

“Para nabi.”

“Para nabi?”

“Ya, seperti nabi kita Muhammad.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengan kesanggupan yang khas ada padanya.”

“Kedua matanya tajam sekali?”

“Ya.”

“Kenapa begitu?”

“Allah menciptakannya begitu.”

“Kenapa?”

Dan ia menjawab sambil menahan kesabarannya:

“ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”

“Dan bagaimana nabi melihat-Nya?”

“Agung sekali, kuat sekali, dan berkuasa atas segala sesuatu.”

“Seperti Bapak?”

Ia menjawab sambil menahan tawanya:

“Ia tak ada bandingannya.”

“Kenapa Ia tinggal di atas?”

“Bumi tak bisa memuat-Nya. Tapi Ia bisa melihat segala sesuatu.”

Anak kecil itu diam sebentar, lalu katanya:

“Tapi Nadia bilang, Ia tinggal di bumi.”

“Karena Ia tahu dan melihat segala sesuatu, maka seolah-olah Ia tinggal di mana-mana.”

“Dan ia juga bilang, orang-orang telah membunuh-Nya.”

“Tapi Ia hidup dan tidak mati.”

Nadia bilang, orang-orang itu telah membunuh-Nya.”

“Tidak, Sayang. Mereka mengira telah membunuh-Nya. Tapi Ia hidup dan tidak mati.”

“Dan kakekku masih hidup juga?”

“Kakekmu sudah meninggal.”

“Apa orang-orang juga telah membunuhnya?”

“Tidak, ia meninggal sendiri.”

“Bagaimana?”

“Ia sakit, dan kemudian meninggal.”

“Dan adikku juga akan meninggal karena ia sakit?”

Keningnya mengernyit sebentar, sementara ia melihat gerak semacam protes dari arah istrinya.

“Tidak, insya Allah ia akan sembuh.”

“Dan kenapa Kakek meninggal?”

“Sakit dalam ketuaannya.”

“Bapak pernah sakit dan Bapak juga sudah tua. Kenapa tidak meninggal?”

Tiba-tiba ibunya menghardiknya. Anak itu jadi heran tak mengerti, sebentar matanya ditujukan pada ibunya, sebentar lagi pada ayahnya. Kata sang ayah:

“Kita semua akan mati kalau Tuhan menghendakinya.”

“Kenapa Tuhan menghendaki agar kita semua mati?”

“Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”

“Apa mati itu menyenangkan?”

“Tidak, Sayang.”

“Kenapa Tuhan menghendaki sesuatu yang tidak menyenangkan?”

“Selama Tuhan yang menghendaki begitu, itu artinya baik dan menyenangkan.”

“Tapi tadi Bapak bilang, itu tidak menyenangkan.”

“Hmm, Bapak keliru tadi.”

“Dan kenapa Ibu marah waktu saya bilang bahwa Bapak akan mati?”

“Karena Tuhan belum menghendaki begitu.”

“Kenapa Ia menghendaki begitu, Pak?”

“Dialah yang membawa kita ke dunia, dan Dia pula yang membawa kita pergi.”

“Kenapa?”

Agar ita berbuat baik di dunia sebelum kita pergi.”

“Kenapa kita tidak tinggal saja terus di dunia?”

“Nanti tak akan muat dunia kalau semua orang tinggal.”

“Dan kita tinggalkan hal-hal yang baik?”

“Kita akan pergi ke hal-hal yang lebih baik lagi.”

“Di mana?”

“Di atas.”

“Si sisi Tuhan?”

“Ya.”

“Dan kita bisa melihat-Nya?”

“Ya.”

“Tentunya itu bagus kan?”

“Tentu.”

“Kalau begitu, kita harus pergi.”

“Tapi sekarang kita belum melakukan hal-hal yang baik.”

“Dan kakek sudah melakukannya?”

“Ya.”

“Apa yang ia lakukan?”

“Ia telah membangun rumah dan menanam kebun.”

“Dan Tutu, sepupuku, apa yang sudah ia lakukan?”

Wajahnya jadi merengut sebentar, kemudian pandangannya ia tujukan ke arah istrinya seperti minta kasihan.

“Ia juga telah bikin sebuah rumah kecil sebelum ia pergi.”

“Tapi Lulu, tetangga kita, ia pernah memukulku dan tak pernah berbuat baik.”

“Ia anak nakal.”

“Tapi ia tidak akan mati.”

“Kecuali kalau Tuhan menghendakinya.”

“Meskipun ia tidak berbuat hal-hal yang baik?”

“Semua akan mati. Siapa yang berbuat baik, ia akan pergi ke sisi Tuhan. Dan siapa yang berbuat jahat, ia akan ke neraka.”

Anak kecil itu menarik napas seraya kemudian diam. Sang ayah tiba-tiba merasa dirinya begitu capek. Tak tahu ia, berapa dari kata-katanya tadi yang benar dan berapa yang salah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah menggerakkan tanda-tanya, yang kemudian mengendap di dalam dirinya. Namun si kecil tiba-tiba berseru:

“Saya ingin selalu bersama Nadia!”

Ditolehkannya kepalanya seperti ingin tahu. Si kecil itu berseru lagi:

“Meski pada pelajaran agama sekalipun!”

Dan ia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Istrinya juga ketawa. Sambil menguap mengantuk, ia kemudian berkata:

“Tak bisa kubayangkan, pertanyaan-pertanyaan ini bisa didiskusikan pada taraf umur begitu!”

Istrinya menyahut:

“Nanti ia akan besar, dan kau akan bisa menjelaskan hal-hal itu padanya.”

Cepat ia menoleh ke perempuan itu, untuk mengetahui apa memang betul kata-katanya atau hanya sekadar cemoohan berlaka. Namun dilihatnya perempuan itu sudah sibuk lagi dengan sulamannya. (Penerjemah: M. Fudoli Zaini)

_______________________________________

*) Naguib Mahfouz: Lahir di Kairo, Mesin tahun 1911. Mahfouz dianggap sebagai pengarang besar berbahasa Arab, bahkan ia dianggap yang terbesar dalam sastra modern Mesir yang belum berusia satu abad itu. Sebagai pengarang, mula-mula ia menulis dengan gaya romantis, kemudian realistis, simbolis, filosofis, dan terakhir simbolis-filosofis dengan kecenderungan sufistis. Ia meraih Nobel Prize for Literature 1988.

Mahfouz terutama dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis cerita pendek. Karya-karyanya meliputi 32 novel, 14 kumpulan cerita, dan 30 naskah film. Di antara karya-karyanya adalah Khan Al-Khalili (1946), Zuqaq Al-Midag (1947), trilogi Bain Al-Qasrain, Qasr Asy-Syauq, As-Sukkariyah (1956-1957), Al-Liss Wa al-Kilab (1962), Al-Tariq (1964), Asy-Syahhadz (1965), dan Pentalogi Aulad Haratina (1969).

Dalam keterangan pers-nya Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusastraan pada Mahfouz sebagai pengakuan untuk: “…ketajaman nuansa realistik, kadang ambigu, yang dibentuk dalam seni kisahan Arab yang diaplikasikan bagi semesta kemanusiaan….”

Mahfouz adalah sastrawan pertama Mesir yang memperoleh penghargaan tersebut.

Continue Reading

Cerpen

Ernest Hemingway: Bila Dara Jatuh Cinta

mm

Published

on

Jim Gilmore datang ke Hortons Bay dari Kanada. Dia membeli toko pandai besi dari seorang tua bernama Horton. Jim bertubuh pendek dan berkulit gelap dengan kumis besar melintang dan tangan yang gempal. Ia jago membuat sepatu kuda, namun begitu penampilannya tak tampak seperti seorang tukang besi biarpun dia sedang mengenakan seragam kerja dari kulit. Jim tinggal di loteng di atas bengkel pandai besi miliknya dan biasanya makan di kedai milik D.J.Smith.

Liz Coates bekerja di kedai milik D.J. Smith. Nyonya Smith adalah perempuan bertubuh subur yang amat memperhatikan kebersihan. Menurutnya Liz adalah gadis paling rapi yang pernah ia kenal. Liz memiliki sepasang kaki yang indah. Ia selalu memakai pakaian seragam kerja yang bersih dan Jim memperhatikan bahwa rambutnya selalu digelung rapi di belakang kepalanya. Jim menyukai wajahnya yang tampak segar, namun ia tak pernah memikirkan sesuatu yang berlebihan tentang gadis itu.

Liz sangat menyukai Jim. Dia menyukai cara berjalan dan sering mengintipnya dari balik pintu dapur kala lelaki itu berjalan melintasi jalanan ke arah kedai. Dia menyukai kumisnya. Dia menyukai barisan gigi putih yang kelihatan saat Jim tersenyum. Dia suka Jim karena lelaki itu tak tampak seperti seorang tukang besi. Dia menyukai betapa pasangan Smith begitu menyenangi Jim. Suatu hari ia menyadari betapa ia pun menyukai rambut hitam Jim sat lelaki itu sedang mencuci rambut di sebuah bak di depan rumahnya. Menyukai hal itu membuatnya merasa lucu.

Hortons Bay, kota itu, hanya terdiri dari lima rumah di jalan utama yang menghubungkan Boyne City dengan Charlevoix. Ada sebuah toko kelontong dan kantor pos yang di depannya sering diparkir sebuah mobil pos, lalu rumah Smith, rumah Stroud, rumah Dilworth, rumah Horton, dan rumah milik Van Hoosen. Jalanan di muka rumah-rumah itu amat berpasir. Berhadapan dengan rumah-rumah itu terdapat sebuah gereja Methodis dan di sisi lainnya ada sebuah sekolah lokal. Bengkel pandai besi milik Jim terletak di seberang sekolahan dan bercat merah.

Ada sebuah jalanan curam berpasir melintasi lereng bukit ke arah teluk. Dari pintu belakang kedai Smith kita bisa memandang barisan pepohonan di sepanjang jalan yang melintasi pinggiran danau menuju ke teluk. Pemandangan di sana sangat indah di musim semi dan musim panas, teluk yang terang dan kebiruan biasanya dihiasi awan putih yang dibawa angin dari Charlevoix  dan Danau Michigan. Dari pintu belakang kedai Smith, Liz bisa melihat pemandangan di sekitar danau dan jalan menuju Boyne City. Saat melihat pemandangan itu sama sekali dia tak ingin pergi ke sana, namun ia selalu memandang ke arah sana jika sedang mengeringkan piring selesai dicuci.

Setiap saat kini Liz melamunkan Jim Gilmore. Tapi lelaki itu tampaknya tak terlalu peduli padanya. Jim sering ngobrol tentang kedai itu dengan D.J. Smith atau tentang Partai Republik dan James Blaine. Di senja hari biasanya lelaki itu membaca The Toledo Blade diterangi sinar lampu di depan kamarnya atau kadang-kadang memancing ikan di teluk bersama D.J. Smith.

Di musim gugur dia dan Smith serta Charley Wyman pergi membawa mobil, tenda, kapak, senapan, dan dua ekor anjing untuk berburu rusa dan hutan pinus dekat V anderbilt. Liz dan Nyonya Smith memasak makanan untuk persediaan empat hari buat mereka. Liz sebetulnya ingin memasak sesuatu yang istimewa buat Jim, namun akhirnya dibatalkannya karena ia segan meminta telur dan tepung pada Nyonya Smith. Untuk membelinya ia was-was jika Nyonya Smith memergokinya saat ia memasak. Sebetulnya Nyonya Smith tak akan keberatan, namun tetap saja Liz merasa takut.

Ketika Jim pergi berburu, Liz selalu gelisah memikirkannya. Baginya kepergian Jim adalah sesuatu yang menyedihkan. Dia tak bisa tidur dengan enak karena memikirkan lelaki itu terus-menerus, namun ia menutupinya dengan berkata pada dirinya sendiri bahwa memikirkan Jim adalah suatu hal yang konyol. Pada malam mereka akan pulang, Liz benar-benar tak bisa tidur. Dia seolah-olah sedang bermimpi, namun kenyataannya dia tak bisa tidur sama sekali. Ketika mobil mereka mulai tampak di jalan raya, ia merasa deg-degan. Ia tak sabar menunggu Jim kelihatan. Semuanya jadi serba menyenangkan jika lelaki itu tiba dengan selamat. Saat mobil itu berhenti di depan rumah, Nyonya Smith dan Liz segera memburunya. Ketiga orang itu tampak brewokan dan ada tiga ekor rusa di bak belakang mobil. Kaki-kakinya yang ramping mencuat kaku dari pinggiran bak yang terbuka. Nyonya Smith mencium D.J. lalu suaminya balas memeluknya. Jim menyapa, “Hai, Liz,” dan meringis padanya. Liz tak tahu apa yang terjadi, namun dia merasa ada sesuatu yang menyenangkan saat Jim kembali. Dia senang mereka semua pulang dengan selamat. Liz memperhatikan Jim menyeret hasil buruan mereka dari mobil. Salah satunya amat besar. Tampaknya rusa-rusa itu berat sekali.

“Kamu yang menembaknya, Jim?” tanya Liz.

“Yeah. Bagus kan?” Jim memanggul rusa itu di punggungnya.

Malam itu Charley Wyman masih ada di rumah Smith saat makan malam. Sudah terlalu larut untuk kembali ke Charlevoix. Mereka membersihkan badan dan menunggu saat makan malam sambil duduk-duduk di beranda.

“Ada yang ketinggalan di mobil, Jim?” D.J.Smith bertanya. Jim berjalan ke mobil dan kembali dengan membawa gentong wiski yang mereka bawa waktu berburu. Ada empat gallon wiski dalam gentong itu. Jim membawanya ke dalam rumah. Gentong itu tampaknya cukup berat, susah untuk membawanya sendirian. Sebagian wiski tumpah membasahi kemeja Jim. Dua orang kawannya tersenyum melihat Jim membawa wiski itu. D.J. meminta gelas dan Liz membawakannya. D.Z. menuangkan wiski itu ke dalam tiga gelas besar.

“Rusa itu menatapmu, D.J.,” kata Charley Wyman sambil melirik bangkai rusa.

“Rusa yang besar, Jimmy,” kata D.J.

“Ini dia yang ketinggalan, D.J.,” kata Jim sambil menenggak minumannya.

“Rasanya lezat.”

Jim merasa nyaman. Dia menyukai rasa wiski itu. Dia senang telah pulang kembali dan dibayangkannya betapa kasur empuk serta makanan hangat telah menunggunya. Jim minum segelas lagi. Mereka menuju meja makan dengan riang gembira. Liz duduk setelah menyiapkan makanan. Makan malam yang menyenangkan. Para lelaki itu makan dengan lahap. Setelah makan mereka kembali ke ruang depan sementara Liz membersihkan bekas makan malam bersama Nyonya Smith. Tak lama kemudian Nyonya Smith naik ke lantai atas dan suaminya segera menyusulnya. Jim dan Charley masih ada di ruang depan. Liz duduk di dapur di depan perapian berpura-pura membaca sebuah buku padahal ia sedang melamunkan Jim. Dia belum ingin tidur karena ia tahu Jim akan pulang dan ia ingin melihat Jim saat lelaki itu pulang.

Liz sedang melamun tentang Jim saat lelaki itu datang. Matanya bersinar-sinar dan rambutnya agak berantakan. Liz menunduk pada buku yang dipegangnya. Jim menuju ke belakang kursi yang diduduki oleh gadis itu dan berdiri di situ hingga Liz bisa merasakan bunyi tarikan napasnya. Lalu di rasakannya tangan Jim melingkari tubuhnya. Buah dadanya terasa membesar dan mengencang dan putingnya mengeras karena sentuhan lelaki itu. Liz merasa amat takut, tak seorang pun pernah menyentuhnya sebelum itu. Tapi ia berkata dalam hati, “Akhirnya dia datang juga. Dia benar-benar datang padaku.”

Liz merasa tubuhnya kaku karena ia begitu takut dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya, kemudian Jim memeluknya dengan erat dari belakang kursi dan menciumnya. Dia merasakan semacam rasa sakit yang menusuk saat ia sadar bahwa ia tak mampu menahan perasaannya. Dia merasakan Jim di belakang tubuhnya dan sesuatu dalam dirinya bergolak, perasannya menjadi hangat dan lembut. Jim masih memeluknya erat dan dia menyukainya. Jim berbisik, “Ayo kita jalan-jalan.”

Liz mengambil mantelnya dari gantungan di dinding dapur dan mereka pergi lewat pintu dapur. Jim melingkarkan tanganya di tubuh Liz dan sesekali mereka berhenti berjalan, tubuh mereka saling menekan dan Jim menciumnya. Tak ada rembulan di langit saat mereka berjalan melalui jalanan berpasir di sepanjang barisan pepohonan yang menurun ke arah teluk. Air danau begitu tenang dan bagian tengahnya tampak gelap di seberang teluk. Udara begitu dingin, namun Liz merasa hangat karena Jim ada di dekatnya. Mereka duduk di depan sebuah gudang dan Jim menarik menarik Liz agar lebih mendekat padanya. Liz merasa takut. Salah satu tangan Jim menyusup di balik gaunnya dan meraba payudaranya, tangannya yang lain bergerak di pangkuan Liz. Perempuan itu amat takut dan tak tahu apa yang akan dilakukan Jim padanya, namun ia meringkuk rapat ke tubuh lelaki itu. Kemudian tangan yang terasa besar di pangkuannya itu bergerak liar ke arah sepasang kakinya.

“Jangan, Jim,” kata Liz. Jim bergerak makin liar. Tangannya menyusup kian ke atas

“Kamu tak boleh, Jim. Jangan. “Jim maupun tangannya yang besar itu tak mempedulikannya.

Jim menyingkapkan rok Liz dan berusaha melakukan sesuatu padanya. Liz merasa takut, namun diam-diam dia menyukainya. Dia menginginkannya, namun ia takut.

“Jangan, Jim. Jangan…”

“Aku ingin. Kita menginginkannya.”

“Kita tidak boleh, Jim. Belum waktunya. Oh, ini salah… Kamu tak boleh, Jim. Oh, Jim. Oh…”

Angin berhembus keras di sekitar teluk itu dan udara begitu dingin. Jim begitu bernafsu di atas tubuh perempuan itu dan dia membuatnya kesakitan. Liz mendorongnya. Dia merasa tidak nyaman dan kaku. Sesaat kemudian Jim tertidur di atas tubuh Liz, diam tak bergerak. Liz mencoba melepaskan diri dari himpitan tubuh Jim dan berusaha duduk sambil merapikan rok dan mantelnya. Dirapikannya juga rambutnya yang acak-acakan. Jim tertidur dengan mulut agak terbuka. Liz menyentuhnya sekilas dan mencium pipinya. Dia mengangkat kepala Jim lalu menggoyang-goyangkannya. Jim hanya menggerakkan kepalanya sedikit. Liz mulai menangis. Dia berjalan ke ujung dermaga dan menatap kilatan air di bawah. Sebaris kabut bergerak beriringan dari arah teluk. Liz merasa kedinginan dan sedih. Dia kembali ke arah Jim terbaring dan menggoyangkan tubuh lelaki itu sekali lagi agar benar-benar terjaga. Perempuan itu menangis.

“Jim,” katanya. “Jim. Bangun, Jim.”

Jim bergerak sejenak lalu meringkuk lebih dalam. Liz membuka mantelnya dan menyelimutkannya ke tubuh Jim yang terbaring diam. Dia melingkarkannya di sekeliling tubuh Jim dengan rapi dan hati-hati. Lalu ia berjalan melintasi dermaga menaiki jalanan curam berpasir menuju ke rumah. Dari arah teluk, kabut dingin merayapi sela-sela pepohonan di sepanjang jalan itu. (*)

________________________________

*) Ernest Miller Hemingway adalah salah satu penulis terkemuka di abad 20. Dia memulai karirnya sebagai jurnalis sebelum sukses menjadi pengarang. Pria kelahiran Oak Park, Illinois, pada 21 Juli 1899 ini tak kalah menarik dengan karya-karyanya. Ia adalah sosok kontroversial sejak usia muda. Dia mulai menulis untuk koran sekolahnya saat SMA.

Walaupun cukup berhasil dalam hampir seluruh aktivitasnya di sekolah, ia sempat dua kali berhenti sekolah dan kabur dari rumah sebelum bergabung sebagai reporter magang di sebuah koran lokal yang terbit di Kansas City pada umur 17 tahun. Ia lalu menjadi sopir ambulan pasukan Sekutu di Italia dalam Perang Dunia I dan pulang dalam keadaan terluka sebagai seorang pahlawan perang. Kemudian, sebagai wartawan muda ia menulis feature secara teratur untuk mingguan Star Weekly yang terbit di Toronto, Kanada.

Pengalaman hidupnya yang luas dituangkan dalam karya-karyanya, antara lain novel The Old Man and the Sea (1952) ini yang berkisah tentang perjuangan seorang nelayan tua Kuba untuk menangkap seekor ikan marlin raksasa. Novel yang ditulis saat dia tinggal di Kuba ini memenangi Hadiah Pulitzer 1953 dan Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters. Novel ini juga kemudian mengantarnya meraih penghargaan bergengsi Hadiah Nobel Sastra pada 1954. Novelnya juga berulang kali dijadikan film.

 

Continue Reading

Cerpen

Juan Rulfo : Karena Kami Sangat Miskin

mm

Published

on

Juan Rulfo *)

Semua berubah dari buruk menjadi semakin buruk di sini. Minggu lalu Bibi Jacinta meninggal, dan di hari Sabtu, setelah kami menguburnya dan kesedihan mulai memudar, hujan mulai turun deras. Hal itu membuat ayahku murung karena seluruh panen barley[1] di rumah kaca baru saja mulai mengering. Hujan lebat turun tiba-tiba, dalam gelombang besar air, tidak memberikan kami waktu bahkan untuk menyimpan segenggam penuh barley; satu-satunya hal yang bisa dilakukan semua orang yang berada di rumah pada saat itu adalah berkerumun di dalam rumah kaca dan menyaksikan saat air yang dingin itu jatuh dari langit dan membakar barley kuning yang baru saja kami panen.

Dan kemarin, hari ulang tahun kedua belas saudara perempuanku Tacha, kami menemukan sapi yang diberikan ayahku padanya untuk hari kudus terbawa arus sungai.

Air sungai mulai naik tiga hari lalu saat tengah malam. Meskipun aku tidur pulas, suara gemuruh membangunkanku. Aku melompat kaget dengan selimut masih di tanganku, seakan-akan aku mengira atapnya rubuh. Lalu aku tertidur lagi, karena aku menyadari itu hanyalah suara sungai dan suara itu meninabobokanku.

Ketika aku bangun tidur, langit pagi penuh dengan kumpulan awan besar dan segalanya terlihat seakan telah hujan terus-menerus. Gemuruh sungai tidak pernah sebising ini sebelumnya dan semakin lama semakin mendekat. Kau bisa menciumnya seperti ketika kau mencium api, bau busuk air yang keruh.

Saat aku keluar rumah, air telah membanjiri bantaran sungai dan perlahan mendekati jalan utama. Air itu dengan cepatnya menerobos masuk ke rumah seorang perempuan yang orang-orang sebut La Tambora. Kau bisa dengar air memercik kala mencapai kandang ternak dan keluar melalui gerbang di anak sungai yang luas. La Tambora berjalan mondar-mandir di tempat yang kemudian menjadi bagian dari sungai, melemparkan ayam-ayam betinanya ke jalan sehingga mereka bisa bersembunyi di suatu tempat di mana arusnya tidak akan sampai ke mereka.

Di sisi lain, di tikungan, sungai pasti sudah menghanyutkan, entah kapan, pohon tamarin yang ada di rumah kaca Bibi Jacinta, karena saat ini tidak ada lagi pohon tamarin di sana. Pohon itu satu-satunya di kota ini, dan itulah mengapa orang-orang berpikir kalau inilah puncak luapan sungai itu selama bertahun-tahun.

Aku dan saudariku kembali ke rumah pada siang hari untuk melihat jeram air yang dengan mantapnya menjadi lebih kental dan gelap dan telah melewati batas di mana jembatan seharusnya berada. Kami tinggal di sana selama berjam-jam tanpa bosan dengan segalanya. Setelahnya, kami memanjat jurang karena kami ingin mendengar apa yang orang-orang perbincangkan, sebab di bawah sana, dekat sungai, sangat berisik sampai-sampai kau hanya bisa melihat mulut-mulut yang terbuka dan tertutup seakan mereka mengucapkan sesuatu; tapi kau tidak bisa mendengar satu kata pun. Maka kami memanjat jurang tempat orang-orang melirik sungai dan menilai kerusakan yang terjadi. Pada saat itulah kami tahu kalau sungai telah menghanyutkan La Serpentina, sapi milik saudariku Tacha, karena ayahku menghadiahinya sapi itu sebagai kado ulang tahun dan sapi itu memiliki satu telinga putih dan satunya lagi merah, juga mata yang sangat indah.

Aku tak benar-benar tahu kenapa La Serpentina memilih untuk menyebrangi sungai itu ketika ia tahu benar kalau itu bukan sungai yang biasa dilaluinya setiap hari. La Serpentina tidak sedungu itu. Membiarkan dirinya terbunuh seperti itu pastinya ia berjalan dalam tidurnya. Seringkali aku yang membangunkannya saat aku membuka pintu kandang untuk membiarkannya keluar. Jika tidak, maka ia mungkin menghabiskan hari di sana dengan mata tertutup, tidak bergerak dan hanya mendesau, seperti halnya desauan sapi saat mereka tidur.[2]

Sesuatu pasti telah terjadi hingga membuatnya tetap tertidur. Mungkin saja ia bangun saat ia merasakan bobot air memukul-mukul panggulnya. Mungkin itu menakutkannya dan ia mencoba kembali, tapi saat ia berputar ia terjebak dan tak bisa bergerak di air yang keras, hitam, dan kotor itu. Mungkin ia meraung meminta pertolongan. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana ia meraung.

Aku bertanya pada pria yang melihat sapi itu terseret ke hilir apakah dia tidak melihat anak sapi bersama sapi itu. Tapi pria itu berkata dia tidak tahu apa dia melihatnya atau tidak. Yang dia katakan hanya sapi itu terseret dengan kakinya berada di udara, dekat sekali dengan tempat dia berdiri dan lalu sapi itu terbalik dan kau tidak bisa melihat tanduk atau kaki atau tanda-tanda lain dari sapi itu sama sekali. Pada saat itu ada banyak batang pohon yang mengambang di sungai, beserta akar-akarnya, dan pria itu sedang sangat sibuk mengumpulkan kayu bakar, jadi dia tidak dapat melihat apakah hewan atau batang pohon yang terseret arus.

Jadi kami tidak tahu apakah anak sapi itu hidup atau dia terseret arus sungai bersama ibunya. Jika dia bersama ibunya, semoga Tuhan menolong mereka berdua.

Masalah yang timbul di rumah adalah apa yang akan terjadi sekarang pada saudariku Tacha yang tak punya apa-apa lagi. Banyak hal yang harus dikorbankan ayahku untuk merawat La Serpentina sejak awal, mulai dari saat ia masih seekor anak sapi, agar saudariku bisa memiliki sedikit modal dan tak akan kabur dari rumah untuk menjadi pelacur seperi halnya dua kakak perempuanku dulu.

Dari cara ayahku bercerita, mereka berdua memilih jalan yang salah sebab keluarga kami sangat miskin dan sudah takdirnya begitu. Mereka mencemooh ayah sejak mereka kecil. Dan begitu beranjak remaja, mereka mulai bergaul dengan pria-pria brengsek yang mengajari mereka berbagai hal mengerikan. Mereka cepat belajar dan mengerti siulan lelaki di setiap jam di malam hari. Mereka akan berada di luar rumah hingga dini hari. Kadang kala ketika mereka seharusnya mengambil air di sungai, tiba-tiba mereka malah berada di kandang ternak, menggeliat di lantai, telanjang, dengan pria di atas tubuh mereka masing-masing.

Akhirnya ayahku mengusir mereka. Dia telah berusaha sebisa mungkin dan ketika dia tak sanggup lagi maka dia menunjukkan pintu bagi mereka. Mereka pergi ke Ayutla[3] atau ke tempat lain yang tak kuketahui, dan sekarang mereka menjadi pelacur.

Itulah mengapa ayahku takut Tacha akan berakhir seperti kedua kakak perempuannya, kalau ia mungkin merasa miskin karena tidak memiliki sapi itu dan menyadari ia tak lagi punya apa-apa untuk bertahan hidup sedangkan ia masih terus beranjak dewasa dan masih tetap bisa menikah dengan pria baik-baik yang akan selalu mencintainya. Semuanya akan menjadi sulit sekarang. Ketika ia punya sapi itu segalanya berbeda. Tentunya akan ada seseorang yang berani untuk menikahinya, kalau saja ia punya sapi yang sangat cantik itu.

Harapan kami satu-satunya adalah agar anak sapi itu tetap hidup. Mungkin dia tidak berpikir untuk menyeberangi sungai di belakang ibunya. Sebab kalau dia melakukannya, hanya tinggal menunggu waktu sampai Tacha menjadi pelacur. Dan ibuku tidak menginginkan hal itu terjadi.

Ibuku tidak tahu mengapa Tuhan menghukumnya dengan memberinya anak-anak perempuan seperti itu, sebab di keluarganya, sejak nenekku dan seterusnya, tidak pernah ada orang-orang jahat. Semua orang dibesarkan dengan ketakutan akan Tuhan, dan sangat patuh, juga tidak melukai hati orang lain. Semuanya seperti itu. Siapa yang tahu dari mana kedua anak perempuannya mempelajari perilaku buruk seperti itu? Ia pun juga tak habis pikir. Ia memutar otak dan tidak tahu di mana tepatnya ia berbuat salah atau dosa macam apakah yang ia perbuat hingga beruntun melahirkan anak-anak perempuan yang sebegitu buruknya. Ia tak habis pikir. Dan setiap ia memikirkan mereka, ia mengucurkan air mata dan berkata: “Semoga Tuhan menolong mereka.”

Ayahku bilang tak ada lagi yang bisa dilakukan saat ini. Yang beresiko adalah anak perempuan yang masih di sini, Tacha, yang terus tumbuh dan berkembang dan payudaranya sudah mulai terlihat, dan yang berjanji akan menjadi seperti kedua saudara perempuannya: tidak sopan dan pemabuk dan centil dan haus perhatian.

“Ya,” katanya, “para lelaki akan meliriknya ke mana pun ia pergi. Semuanya akan berakhir buruk. Aku sudah bisa melihat semuanya akan berakhir buruk.” Itulah mengapa ayahku ketakutan.

Tacha menangis ketika ia memikirkan sapinya tidak akan kembali karena sungai telah membunuhnya. Ia ada di sampingku, mengenakan gaun merah mudanya, menatap sungai dari atas jurang, tidak bisa berhenti menangis. Arus air yang kotor mengalir di wajahnya, seakan sungai itu ada di dalam dirinya.

Aku memeluknya, mencoba menenangkannya, tapi ia tidak mengerti. Ia malah menangis lebih kencang. Suara yang mirip dengan suara yang menyapu sepanjang tepian sungai keluar dari bibirnya, membuatnya menggigil, dan ia gemetar di sekujur tubuh. Volume air semakin meningkat. Bau busuk dari bawah menodai wajah basah Tacha. Kedua payudaranya yang kecil berayun ke atas dan ke bawah, terus-menerus, seakan tiba-tiba mulai membengkak, membuatnya semakin dekat dengan kehancuran. (*)

| Penterjemah: Regina N. Helnaz | Editor: Sabiq Carebesth

_________________________________________

Juan Nepomuceno Carlos Pérez Rulfo Vizcaíno, atau yang lebih dikenal Juan Rulfo (1917–1986), adalah salah satu penulis paling penting abad ke-20 Meksiko. Dia mempublikasikan dua buku: novel Pedro Páramo (1955) dan kumpulan cerita El llano en llamas (1953).

Cerita pendek ini diterjemahkan oleh Ilan Stavans dari bahasa Spanyol ke bahasa Inggris berjudul It’s Because We’re So Poor. Stavans ialah Profesor Amerika Latin dan Budaya Latin di Amherst College, Massachusetts, Amerika Serikat. Teks sumber berasal dari http://www.bu.edu/agni/fiction/print/2010/71-rulfo.html

[1] Sejenis biji-bijian yang tampilannya mirip gandum

[2] Dalam cerpen ini, ia adalah kata ganti untuk perempuan dan dia adalah kata ganti untuk laki-laki.

[3] Sebuah kota di Meksiko

Continue Reading

Classic Prose

Trending