Connect with us
mm

Published

on

By Konstantin Paustovsky

 

Potapov tua telah meninggal dunia sebulan yang lewat, ketika Tatyana Petrovna menempati rumahnya. Tatyana Petrovna tinggal bersama Varya, anak perempuannya yang masih kecil, serta seorang pengasuh yang telah berusia lanjut.

Rumah yang memiliki tiga kamar itu terletak di atas bukit, dekat sungai utara, di perbatasan kota. Di belakang rumah, di luar areal taman, tampak hutan pohon berk[1] yang memutih. Di hutan ini dari pagi sampai sore burung-burung gagak riuh rendah mengeluarkan suaranya.

Setelah meninggalkan Moskow cukup lama juga Tatyana Petrovna baru mampu membiasakan dirinya terhadap kota yang sepi, rumah kecil Potapov, pintu pagar yang berderit, malam yang lengang serta merasakan kelap-kelip lampu kerosin.

“Alangkah tololnya aku!” pikir Tatyana Petrovna, “untuk apa aku meninggalkan Moskow, kawan-kawan dan berhenti dari teater![2] Namun Varya harus dibawa ke kota Pushkino[3], ke tempat pengasuhnya – di sana tidak akan ada serangan apapun juga,[4] tetapi seharusnya aku tetap tinggal di Moskow. Alangkah tololnya aku!”

Akan tetapi untuk kembali lagi ke Moskow sudah tidak mungkin. Tatyana Petrovna lalu memutuskan untuk bekerja di rumah sakit yang jumlahnya tidak seberapa di kota kecil tersebut. Dan dia pun merasa tenang kembali. Bahkan kota itu mulai menarik simpatinya, terutama ketika musim dingin tiba dan salju menyelimutinya. Hari-hari menjadi lembut dan kelabu. Sungai-sungai pun membeku.

Tatyana Petrovna sudah merasa terbiasa dengan kota kecil itu dan dengan rumah milik orang lain tersebut. Dia pun sudah terbiasa dengan piano yang rusak, dengan potret-potret di dinding yang warnanya kekuning-kuningan. Potapov tua dulunya adalah seorang ahli mekanik kapal laut. Di atas meja tulisnya yang dilapisi kain laken hijau yang telah luntur, tegak berdiri sebuah jenis kapal penjelajah Gromoboi.[5] Dengan jenis kapal itulah dulu dia pernah berlayar. Varya tidak diijinkan memegang kapal itu. Dan dia sama sekali tidak diperbolehkan memegang barang apapun juga, yang terdapat di dalam ruangan itu.

Tatyana Petrovna mengetahui, bahwa Potapov meninggalkan seorang anak laki-laki, yang bekerja sebagai pelaut dan sekarang sedang bertugas di Laut Hitam. Potretnya ada di samping ‘Gromoboi’, di atas meja, terkadang Tatyana mengambilnya, memperhatikannya dengan saksama, seraya mengerutkan alis tipisnya. Dia tampak berpikir. Rasa-rasanya dia pernah bertemu dengannya di sebuah tempat, tetapi sudah sangat lama, sebelum dia mengalami perkawinan yang kurang beruntung ini. Akan tetapi di mana? Dan kapan?.

Sang pelaut memandangnya dengan tenang dan dengan mata yang sedikit mengejek seakan-akan bertanya: “Hai bagaimana? Masa Anda tidak mengingat di mana kita pernah bertemu?”

“Tidak, saya tak ingat,” jawab Tatyana Petrovna dengan pelan.

“Mama, dengan siapa Mama bicara?” Varya berteriak dari kamar sebelah.

“Dengan piano,” sambil tersenyum Tatyana Petrovna menjawab.

Di pertengahan musim dingin datang surat-surat yang ditujukan kepada Potapov tua, yang ditulis oleh tangan yang sama. Tatyana Petrovna menumpuknya di atas meja tulis. Suatu malam dia terbangun dari tidurnya. Salju di jendela kelihatan kusam. Arhip, kucing abu-abu peninggalan Potapov, tidur mendengkur di atas dipan.

Tatyana Petrovna mengenakan mantel, berjalan ke kamar Potapov dan berdiri di dekat jendela. Seekor burung jatuh dari pohon tanpa suara, di atas salju. Dan salju yang berceceran menjadi debu putih, menempel di kaca.

Tatyana Petrovna menyalakan sebatang lilin di atas meja, duduk di kursi, serta memandangi lidah api lama-lama, tetapi api itu diam saja. Kemudian dengan hati-hati dia mengambil sebuah surat, membukanya dan sambil memandang ke kiri dan ke kanan dia mulai membaca:

“Papa sayang,” Tatyana Petrovna membaca, “sudah sebulan saya berbaring di rumah sakit. Lukanya tidak terlalu berat. Tampaknya mulai sembuh. Jangan cemas dan janganlah merokok terus. Saya mohon!”

“Saya, kerap kali, selalu mengingatmu,” Tatyana Petrovna melanjutkan, “rumah dan kota kecil kita. Jaraknya yang jauh mengerikan, seolah-olah ada di ujung dunia. Saya memejamkan mata, ketika teringat bagaimana saya membuka pintu pagar, masuk ke halaman. Musim dingin, salju, tetapi jalan kecil ke arah huma tua kita di atas tebing curam tampak bersih dan pohon-pohon sireng dilapisi embun beku. Di kamar terdengar bunyi keretak perapian yang ditandai dengan asap kayu berk. Akhirnya piano disetem dan kau memasang lilin berwarna kuning di tempatnya masing-masing – tempat lilin itu saya bawa dari Leningrad. Begitu pula dengan not-not di atas piano, merupakan overture[6] Pikawaya Dama[7] dan nyanyian pujaan Djlya Beregov Otchizne Dalnoi[8]. Apakah bel di pintu masih berbunyi? Saya sangat tidak ingin mengusikmu. Masa hanya sekali itu saya melihat segalanya? Masa saya akan membersihkan muka dengan air sumur dari jolang hanya sekali saja? Kau ingat itu? Ah, sekiranya kau mengetahui, bagaimana saya mencintai semuanya dari sini, dari jauh! Janganlah kau terheran-heran, saya mengatakan hal ini kepadamu dengan sungguh-sungguh. Saya mengenang semuanya pada detik-detik peperangan yang mengerikan. Saya tahu, bahwa saya tidak hanya mempertahankan tanah air, tetapi juga sisinya yang kecil dan paling memikat bagiku dan bagimu, taman kita, semua anak-anak kecil yang berambut ikal, hutan kecil pohon berk di seberang sungai, bahkan Arhip si kucing. Ayolah, jangan ketawa dan jangan menggeleng-gelengkan kepalamu.

Mungkin, jika saya keluar dari rumah sakit, saya akan diijinkan pulang untuk waktu yang tidak terlalu lama. Saya tidak tahu kapan. Akan tetapi lebih baik jika tidak menunggu.”

Lama juga Tatyana Petrovna duduk di bangku, melihat dengan mata yang terbuka lebar ke luar jendela, yang di sana sinar kebiru-biruan mulai tampak. Dia berpikir, bahwa dalam hari-hari ini akan datang dari medan pertempuran seseorang yang tak begitu dikenal ke rumah Potapov tua. Di sini dia akan merasa sulit bertemu dengan orang asing dan akan melihat semuanya benar-benar tidak seperti apa yang ingin dilihatnya.

Pagi harinya Tatyana Petrovna menyuruh Varya mengambil sekop kayu dan membersihkan jalan kecil ke huma di atas tebing terjal. Huma itu sudah sangat tua. Pompa airnya yang terbuat dari kayu telah menjadi kusam kelabu, penuh dengan semak belukar. Tatyana Petrovna sendiri memperbaiki bel serta tulisan di atas pintu yang berbunyi: Saya gantungkan di sini – lonceng yang riang gembira! Tatyana Petrovna menyentuh bel dan suara gemerincing pun terdengar. Bunyi itu serasa menyentak-nyentak di telinga Arhip, dia merasa terusik dan keluar dari kamar depan. Bunyi bel itu tampaknya membuat Arhip kesal.

Dan siang harinya Tatyana Petrovna yang pipinya tampak memerah, dengan penuh semangat menyambut seorang penyetem suara yang datang dari kota. Dia adalah seorang laki-laki tua keturunan Czech, yang sudah lama tinggal di Rusia. Nama keluarganya Nevidal. Kerjanya memperbaiki kompor, mainan anak-anak, harmonika, dan menyetem piano. Laki-laki Czech itu, setelah menyetem piano, berkata bahwa piano tua tersebut masih sangat baik. Dan Tatyana Petrovna tanpa diberitahu pun sudah mengetahuinya.

Sesudah laki-laki itu pergi, Tatyana Petrovna memeriksa semua laci meja tulis dan menemukan satu pak lilin. Dia meletakkan lilin-lilin itu di tempatnya di atas piano. Malam harinya dia menyalakannya dan duduk di depan piano. Maka rumah itu pun dipenuhi oleh bunyi-bunyian yang indah.

Ketika Tatyana Petrovna menghentikan permainan pianonya dan memadamkan lilin, tercium bau asap lilin yang menyenangkan; bagaikan berada di dekat pohon cemara.

Varya sudah tak sabar lagi.

“Untuk apa Mama menyentuh barang-barang orang lain?” katanya kepada Tatyana Petrovna. “Mama melarang Varya, tetapi Mama sendiri menyentuhnya! Lonceng, lilin dan piano, semua Mama sentuh. Malah memainkan piano segala.”

“Karena Mama orang dewasa,” jawab Tatyana Petrovna.

Varya, sambil mengerutkan alisnya, memandang dengan penuh curiga pada ibunya. Memang Tatyana Petrovna sekarang lebih tampak dewasa. Dia, seolah-olah, tampak bercahaya dan mirip seorang gadis dengan rambut yang keemasan; yang kehilangan sepatu kacanya di sebuah istana. Tatyana Petrovna sendiri pernah menceritakan tentang gadis itu kepada Varya.

Di kereta Letnan Nikolai Potapov mengira, bahwa dia akan tiba di rumah orangtuanya tidak lebih dari sehari semalam. Cutinya tidak lama, tetapi perjalanan pulangnya telah menyita banyak waktu.

Kereta tiba siang hari di kota. Dan di saat itu juga, dari kepala stasiun yang dikenalnya, dia mengetahui, bahwa orangtuanya telah meninggal dunia sebulan yang lalu dan rumah mereka telah ditempati oleh seorang penyanyi muda dari Moskow dengan anaknya.

“Dia itu perempuan yang berevakuasi,” kata kepala stasiun. Nikolai Potapov terdiam, melihat ke luar jendela dan di sana para penumpang dengan barang bawaannya: mengenakan pakaian tebal dan bersepatu panjang saling berdesakan. Dia merasa kepalanya jadi pusing.

“Ya,” kata kepala stasiun, “ayahmu adalah orang yang luhur. Meskipun di saat kematiannya, dia tidak sempat melihat anaknya.”

“Kapankah kereta akan kembali?” tanya Potapov.

“Subuh esok hari, jam lima tepat,” jawab kepala stasiun, dia terdiam dan kemudian menambahkan: “Nenek saya akan memberimu air teh dan makanan. Kau bisa tinggal di rumahku. Tidak ada gunanya pulang ke rumah.”

“Terima kasih,” jawab Potapov dan pergi keluar.

Kepala stasiun mengikutinya dengan pandangan mata, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Nikolai Potapov melewati kota, ke arah sungai. Di atas sungai membayang langit yang kelabu kebiru-biruan. Di antara langit dan tanah, salju yang tipis melayang miring. Burung-burung gagak berterbangan di sepanjang jalan. Hanyalah kegelapan yang ada. Angin berhembus dari tepi sungai, dari hutan dan tetesan air mengalir dari pelupuk matanya.

“Ya, baiklah!” kata Potapov, “aku sudah terlambat. Kini segala-galanya seolah-olah menjadi asing bagiku: kota ini, sungai dan rumah.”

Dia memandang tebing terjal di seberang kota. Di sana ada taman, yang dilapisi embun beku, rumah yang kelihatan menghitam. Asap kelabu keluar dari cerobong. Angin membawanya ke hutan kecil pohon berk. Potapov dengan perlahan menuju ke sudut dekat rumah. Dia sudah memutuskan untuk tidak singgah ke rumahnya, tetapi hanya melewatinya, mungkin dia akan melihat taman dan huma yang sudah tua barang sebentar. Perasaannya yang tak mampu ditahan adalah mengenai rumah orangtuanya, yang sudah ditempati oleh orang lain, orang yang tak akan mengurusnya. Adalah lebih baik, jika dia tak melihatnya sama sekali, itu tidak akan memedihkan hatinya, dia akan pergi dan melupakan semua masa silam!

“Ah, baiklah,” pikir Potapov, “karena setiap hari kau melakukan sesuatu secara lebih dewasa, kau melihat semua yang ada di sekeliling menjadi lebih keras,” katanya pada diri sendiri.

Potapov sampai di rumah pada senja hari. Dengan hati-hati dia membuka pintu pagar, tetapi suara berderit masih saja terdengar. Dia memandangi tamannya. Salju jatuh dari ranting, gemerisik suaranya. Potapov memalingkan wajahnya. Jalanan kecil yang sudah dibersihkan dari salju membimbingnya ke huma. Dia berjalan menuju ke sana, tangannya memegangi pegangan tangga yang menua. Di kejauhan, di balik hutan, langit tampak memerah. Tampaknya, bulan mulai muncul dari balik awan. Potapov melepaskan topinya, merapikan rambutnya dengan tangannya. Terasa kesunyian menggigit, hanya di bawah bukit terdengar suara wanita dengan ember kosong, yang mencari air dari lubang es. Potapov menyandarkan sikunya pada pegangan tangga dan berkata dengan lirih: “Bagaimana ini bisa terjadi?”

Seseorang dengan pelan-pelan menyentuh bahu Potapov. Dia menoleh. Di belakangnya berdiri seorang wanita muda, yang wajahnya begitu pucat, kepalanya dilindungi oleh baju hangat. Diam-diam dia memandang Potapov dengan mata hitamnya yang penuh perhatian. Di pipi dan bulu matanya salju mencair, yang tampaknya telah rontok dari ranting.

“Pakailah topi itu,” kata wanita muda itu dengan pelan, “Anda bisa masuk angin. Ayolah ke rumah. Jangan berdiri di sini.”

Potapov terdiam. Wanita itu memegang tangannya dan menuntunnya melewati jalan kecil yang bersih. Potapov berhenti di dekat serambi. Tenggorokannya tercekat, dia tak mampu bernafas. Wanita itu dengan perlahan berkata:

“Tidak apa-apa. Ayolah, Anda tidak perlu merasa malu dengan saya. Itu sekarang mesti dihilangkan.” Dia menghentakkan kakinya, berusaha melepaskan salju dari sepatunya, dan itu menyebabkan pintu masuk ikut bergetar; lonceng pun bergemerincing. Potapov menarik nafas dalam-dalam, mengeluarkannya. Dia masuk ke dalam rumah, sambil bergumam dengan malu, melepaskan mantelnya di ruang depan, mencium harumnya kabut pohon berk yang tipis, dan melihat Arhip. Arhip duduk di atas dipan, menguap. Di dekat dipan seorang anak perempuan berdiri dengan memegang alat pemotong rumput dan memandang Potapov dengan sinar mata yang riang, tetapi bukan di wajahnya, melainkan pada tanda pangkat keemasan, yang ada di lengan.

“Ayo kita ke dapur!” kata Tatyana Petrovna mengajak Potapov. Di sana ada air sumur yang dingin di dalam jolang, handuk yang terbuat dari kain linen yang dibordir dengan gambar daun oak tampak tergantung. Tatyana Petrovna keluar. Anaknya membawakan Potapov sabun dan melihat, bagaimana Potapov tampak berpikir setelah membuka bajunya. Rasa malu Potapov belum juga sirna.

“Siapakah ibumu itu?” tanya Potapov pada anak tersebut dan wajahnya memerah. Dia hanya iseng saja memberikan pertanyaan.

“Dia pikir, dia orang dewasa,” anak itu membisikkan sesuatu yang bersifat rahasia.

“Tetapi dia sama sekali belum dewasa. Dia lebih buruk dari anak-anak, dia lebih buruk dari saya.”

“Mengapa?” tanya Potapov. Akan tetapi anak itu tidak menjawab, sambil tertawa dia berlari keluar dari dapur.

Sepanjang malam itu Potapov tidak mampu menghindari perasaan anehnya – jiwanya seolah lemah, tetapi sebenarnya sangat kuat. Semua yang ada di rumah adalah sesuai dengan apa yang ingin dilihatnya. Partitur-partitur yang sama terletak di atas piano, lilin-lilin yang sama juga menyala menerangi ruangan kecil milik orangtuanya. Bahkan surat-suratnya yang dari rumah sakit tetap tergeletak di atas meja – tergeletak di bawah kompas tua, tempat ayahnya biasa menyimpan surat-surat.

Setelah minum teh Tatyana Petrovna mengantar Potapov berziarah ke makam ayahnya di hutan kecil pohon berk. Bulan yang diselimuti kabut semakin meninggi. Cahayanya yang redup menyinari pohon-pohon berk, memantulkan bayangan yang tipis di atas salju.

Dan kemudian setelah malam semakin larut, Tatyana  Petrovna duduk di dekat piano dan dengan hati-hati menekan tutsnya, setelah itu dia berpaling pada Potapov dan berkata:

“Sepertinya saya pernah melihat Anda di suatu tempat,”

“Ya, boleh jadi,” jawab Potapov. Dia memandangi Tatyana Petrovna. Cahaya lilin yang menerpa dari samping tampak menyinari wajahnya. Potapov bangkit, berjalan dari sudut ke sudut ruangan itu, kemudian berhenti.

“Tidak, saya tidak ingat,” katanya dengan suara meredam. Tatyana Petrovna membalik dan dengan terkejut memandang pada Potapov, tetapi dia tak berkata apa-apa.

Bagi Potapov telah disiapkan sebuah dipan di kamar, tetapi dia tidak dapat tidur. Setiap menit di rumah itu tampaknya sangat berharga baginya dan dia tak mau kehilangan.

Dia berbaring, memasang telinganya untuk mendengarkan langkah Arhip yang mencuri-curi, bunyi tik-tik jam, bisikan Tatyana Petrovna: dia tampaknya tengah mengatakan sesuatu kepada pengasuh Varya di balik pintu. Kemudian suara itu tak terdengar lagi, pengasuh tersebut pergi, tetapi cahaya di bawah pintu tidak menghilang. Potapov seperti mendengar gemersik halaman buku, agaknya Tatyana Petrovna sedang membaca. Potapov sengaja tidak tidur, agar tidak ketinggalan kereta. Dia ingin sekali mengatakan, bahwa dia juga tidak bisa tidur, tetapi dia tidak berani menegur Tatyana Petrovna.

Pukul empat pagi Tatyana Petrovna dengan perlahan-lahan membuka pintu dan memanggil-manggil Potapov. Dia pun mulai bergerak-gerak.

“Ini sudah saatnya Anda bangun,” kata Tatyana Petrovna, “menyesal sekali saya harus membangunkan Anda!”

Tatyana Petrovna mengantarkan Potapov ke stasiun kereta melewati kota yang masih diliputi malam. Setelah bunyi peluit yang kedua, mereka saling mengucapkan selamat tinggal. Tatyana Petrovna mengulurkan kedua tangannya pada Potapov, sambil berkata:

“Tulislah surat. Kita sekarang adalah saudara. Bukankah begitu?”

Potapov tak mengatakan apa-apa, dia hanya mengangguk.

Selang beberapa hari Tatyana Petrovna menerima surat dari Potapov, yang ditulis di dalam perjalanannya.

“Aku ingat, ini pasti, di mana kita pernah bertemu,” tulis Potapov, “tetapi aku tak ingin mengatakannya pada Anda di rumah. Ingatkah Anda pada Krim 27 tahun yang lalu? Pada musim gugur. Batang-batang pohon tua di taman Livadiski. Langit mendung, lautan tampak pucat. Aku berjalan di sepanjang jalan kecil ke Oreanda. Di bangku taman di dekat jalan kecil itu duduk seorang gadis. Dia kira-kira berusia 16 tahun. Memandangku, bangun dan berjalan lurus ke arahku. Jarak kami semakin dekat, aku menatapnya. Dengan bergegas dia melewatiku, begitu lembut, tangannya memegang buku yang terbuka. Aku menghentikan langkah, lama sekali memandanginya dengan tatapan mataku. Gadis itu adalah Anda. Aku tidak mungkin keliru. Aku melihat Anda dan menyadari saat itu, bahwa seorang wanita telah melewatiku, seorang wanita yang mampu membayang-bayangi seluruh hidupku dan memberikan rasa bahagia yang tiada tara. Aku mengerti, bahwa aku mampu mencintai wanita itu dengan mengabaikan impian-impian lain. Ketika itu aku berpikir, bagaimanapun juga aku harus mendapatkan Anda. Akan tetapi aku tak bergerak sejengkal pun dari tempat aku berdiri. Mengapa? Aku tak tahu. Sejak itu aku mencintai Krim dan jalan kecilnya, tempat aku telah melihat Anda, meski hanya selintasan, tetapi kehilangan selama-lamanya. Biarpun begitu hidup masih memperlihatkan keramahannya padaku, aku berjumpa dengan Anda. Dan sekiranya semuanya berakhir dengan baik, hidupku membutuhkan Anda; hidupku itu tentunya menjadi milik Anda. Lagi pula aku menemukan semua surat untuk ayahku masih tertutup di atas meja. Aku memahami segala-galanya dan hanya bisa mengucapkan terima kasih pada Anda dari jauh.”

Tatyana Petrovna meletakkan surat itu, dengan mata berkabut menatap taman yang dilapisi salju putih di balik jendela dan berkata:

“Ya, Tuhan! Saya tidak pernah ada di Krim! Tidak pernah! Tetapi apakah itu sekarang masih begitu berarti? Ada gunanya juga aku tidak berusaha meyakinkan dia! Ada gunanya aku tidak meyakinkan diriku sendiri!”

Tatyana Petrovna tertawa, menutup kedua belah matanya dengan telapak tangannya. Di balik jendela, cahaya matahari yang mulai terbenam masih memancar. Agaknya belum bisa sirna.

 

1943

 

 

*Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

**Biografi Konstantin Paustovsky: Konstantin Georgiyevich Paustovsky (31 Mei 1892-14 Juli 1968) merupakan sastrawan Rusia yang dilahirkan di Moskow, tetapi tumbuh di Kiev dan juga di wilayah pedesaan di Ukraina. Paustovsky belajar di Gymnasium Kiev (semacam sekolah yang menekankan pada pembelajaran akademik dan mempersiapkan pendidikan menengah lanjutan), sekelas dengan Mikhail Bulgakov (pengarang The Master and Margarita). Tahun 1912 Paustovsky masuk ke Universitas Kiev dan belajar di Fakultas Sejarah Alam. Tahun 1914 dia pindah ke Fakultas Hukum Univesitas Negeri Moskow, tetapi Perang Dunia I membuat Paustovsky menghentikan kuliahnya dan beralih melakukan berbagai pekerjaan.

Semasa masih di Gymnasium, Paustovsky mulai menulis sajak. Tetapi dia pun akhirnya menulis prosa dan menghasilkan On the Water (1911) dan The Four (1912). Selama Perang Dunia I Paustovsky menulis Sea Sketches, yang dipublikasikan tahun 1925. Kemudian Minetoza (1927), novel Shining Clouds (1929), Kara-Bugaz (1932), Kolkhida (1934), Summer Days (1937), Tale of the North (1938) dan Meshcherskaya Storona (1939). Selama Perang Dunia II, Paustovsky menghasilkan screenplay film Lermontov (pengarang A Hero of Our Time) yang disutradarai Gendelshtein untuk Gorky Film Studio, The Rainy Dawn (1946) dan kemudian pada tahun 1948 dia menulis Tale of the Woods.

Dari tahun 1948 sampai tahun 1955 Paustovsky mengajar di Maxim Gorky Literature Institute dan mengedit beberapa koleksi kesusastraan.

Karya monumental Paustovsky adalah The Story of A Life (1945-1963), yang terdiri dari 6 buku: Childhood and Schooldays (1946), Slow Approach of Thunder (1954), In That Dawn (1956), Years of Hope (1958), Southern Adventure (1959—1960), dan The Restless Years (1963).

Pada paruh kedua abad 20 karya-karya Paustovsky mulai diajarkan di sekolah-sekolah Rusia di dalam program pelajaran kesusastraan Rusia.

Pada tahun 1965 Paustovsky menjadi kandidat penerima Hadiah Nobel, tetapi menurut Wolfgang Kazak di dalam Leksikon Kesusastraan Rusia Abad XX, otoritas pemerintahan Soviet mengancam menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Swedia, dan akhirnya Hadiah Nobel pun dianugrahkan kepada fungsionaris kesusastraan Soviet, Mikhail Sholokhov (pengarang And Quiet Flows the Don).

Konstantin Georgiyevich Paustovsky wafat pada tanggal 14 Juli 1968 di Moskow, tetapi berdasarkan pada kemauannya sendiri, dia dimakamkan di kota Tarusa, di atas sebuah bukit, yang dikelilingi banyak pohon. (*)

[1] Pohon dengan kulit kayu yang licin dan rantingnya tipis

[2] Nama teater tidak dijelaskan. Akan tetapi ada data, misalnya saja, yang menunjukkan pada tanggal         14 Oktober 1941 para seniman teater Bolshoi berevakuasi ke Kuibyshev (Samara) selama 21 bulan

[3] Pushkino (Rusia: Пушкино) adalah sebuah kota dan pusat administrasi Pushkinsky District di Moskow Oblast, Rusia, terletak di pertemuan sungai Ucha dan Serebryanka, 30 kilometer (19 mil) timur laut dari Moskow

[4] Perang melawan Jerman

[5] Dari kata grom yang artinya petir dan boi bermakna perang, pukulan atau sambaran. Jadi kurang lebih artinya adalah sambaran petir

[6] Tembang pembuka

[7] Queen of  Spades, prosa karya Alexander Pushkin yang ditulis tahun 1833 dan dipublikasikan tahun 1834. Operanya ditulis oleh Tchaikovsky dan ditampilkan pada tanggal 19 Desember 1890 di Maryinsky Theatre – Saint Petersburg

[8] For Shores of Home, sajak karya Alexander Pushkin yang ditulis tahun 1830

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Classic Prose

Valentin Rasputin: Pelajaran Bahasa Perancis

mm

Published

on

Kejadian ini berlangsung pada tahun 1948. Perang[1] belum lama usai, orang-orang ketika itu hidup dengan penuh kesulitan dan kelaparan.

Pada  tahun itu saya pergi dari  desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, lantaran sekolah di desa kami hanya sampai kelas 4.[2]

Di kota saya masuk ke kelas 5. Saya belajar dengan begitu baiknya, di semua mata pelajaran saya memperoleh nilai pyatyorka,[3] kecuali bahasa Perancis.

Dengan bahasa Perancis persoalan yang terjadi pada saya adalah karena pelafalan yang buruk. Untuk membenarkan pelafalan itu, Lidia Mikhailovna, guru bahasa Perancis, kerap menjelaskan, di manakah harusnya menempatkan lidah untuk mendapatkan bunyi yang benar. Tetapi semua kelihatannya sia-sia, lidah saya tidak mematuhi saya. Dan ada sedih yang lain. Ketika saya pulang dari sekolah dan tinggal sendirian, saya berpikiran mengenai rumah di desa. Saya merindukan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, juga kawan-kawan. Saya sangatlah kurus, dan ibu, ketika datang melihat, dengan penuh kesulitan mengenali saya.

Akan tetapi saya kurus bukan hanya lantaran rindu kepada rumah. Saya pada sepanjang waktu merasa kelaparan. Ibu kadang-kadang mengirimkan roti dan kentang lewat orang-orang, yang pergi ke kota, tetapi itu tidaklah banyak. Dan saya tidak mampu meminta lebih kepada ibu, karena di rumah masih ada saudara laki-laki dan saudara perempuan saya. Kira-kira ada dua kali ibu mengirimkan kepada saya 50 kopek,[4] agar saya dapat membeli susu. Saya membeli susu di tetangga.

Dan pada suatu hari, pemuda sebelah, bernama Fedka[5] bertanya kepada saya:

“Kau main uang?”

“Apa? Main uang?”

“Ya, kalau kau punya uang, mari kita pergi untuk main.”

“Tidak, saya tak punya uang.”

“Ya, kalau begitu mari kita pergi untuk melihat, bagaimana mereka bermain.”

Kami pergi menuju ke sekolah. Di belakang sekolah semua anak-anak berdiri.

“Buat apa kau bawa dia?” seorang yang paling tua di antara kami bertanya kepada Fedka.

“Tidak apa-apa, Vadik,[6] biarkan dia melihat, dia orang kita sendiri,” jawab Fedka.

“Kau akan main?” tanya Vadik kepada saya.

“Saya tidak punya uang.”

“Baiklah, kalau begitu kau lihatlah, jangan bilang kepada siapapun juga, kalau kami main di sini.”

Lebih jauh lagi tidak ada yang memperhatikan saya dan saya mulai melihat. Memahami permainan tersebut tidaklah sukar. Anak-anak menggambar kuadrat[7]di atas tanah yang tidak begitu besar dan meletakkan uang di dalam kuadrat, setiap orang 10 kopek. Kemudian mereka menjauh kira-kira dua meter dan mulai melemparkan koin. Kalau koin jatuh di dalam kuadrat, maka orang yang melempar tersebut mengambil semua, yang ada di dalam kuadrat.

Kelihatannya bagi saya, jika saya ikut main, saya juga akan mampu memenangkannya. Dan demikianlah ketika ibu mengirimkan 50 kopek kepada saya untuk kali ketiga, saya tidak pergi untuk membeli susu. Saya pergi untuk ikut bermain. Mula-mulanya saya kalah 30 kopek, kemudian menang 20 kopek, kemudian menang lagi 50 kopek. Hari tampak sudah malam, saya ingin pulang, tetapi Vadik berkata:

“Main!”

Dia melemparkan koin dan koin tersebut agak tidak sampai ke dalam kuadrat. Dan saya melihat bagaimana Vadik mendorong koin tersebut.

“Kau mendorong koinnya!” kata saya.

“Apa? Coba, kau ulangi!” teriaknya.

“Kau mendorong koinnya!”

Vadik memukul saya. Saya pun terjatuh dan dari hidung saya keluar darah.

“Kau mendorongnya, kau mendorongnya!”

Vadik memukul saya dan saya ketika itu tidak menangis. Kemudian dia meninggalkan saya sendirian. Dengan susah payah saya bangun dan pulang ke rumah.

Di pagi hari saya dengan rasa khawatir melihat diri sendiri di  dalam cermin: hidung jadi membesar, di bawah mata kiri terlihat lebam kebiru-biruan.

“Hari ini di kelas kita ada yang terluka,” kata Lidia Mikhailovna, ketika saya masuk ke dalam kelas. “Apakah yang terjadi?”

“Tidak ada yang terjadi,” jawab saya.

“Hah, tidak ada yang terjadi!” teriak Fedka secara tiba-tiba. “Kemaren dia dipukul Vadik. Mereka main uang!”

Saya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Kami semua tahu dengan jelas, bahwa karena main uang, orang bisa dikeluarkan dari sekolah dan Fedka mengatakan semuanya kepada Lidia Mikhailovna!

“Saya tidak bertanya kepadamu, tetapi jika kau ingin menceritakan mengenai sesuatu, mendekatlah ke papan tulis dan ceritakanlah suatu teks pelajaran.” Lidia Mikhailovna menghentikan kata-kata Fedka. Dan kepada saya, dia berkata: “Kau tunggulah setelah mata pelajaran.”

Setelah mata pelajaran Lidia Mikhailovna menghampiri saya.

“Itu benar, bahwa kau main uang?” tanyanya.

“Benar.”

“Dan bagaimana, kau menang atau kalah?”

“Menang.”

“Berapakah?”

“40 kopek.”

“Dan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?”

“Saya akan membeli susu.”

“Susu?” Lidia Mikhailovna dengan penuh perhatian memandangi saya. “Tetapi tetap saja tidak boleh bermain uang. Kau tahu mengapa? Kita mesti belajar bahasa Perancis. Datanglah ke rumah saya nanti malam,” katanya mengakhiri percakapan.

Begitulah pelajaran bahasa Perancis dimulai untuk saya. Hampir setiap malam saya datang ke rumah Lidia Mikhailovna untuk belajar. Dan setelah belajar, dia mengundang saya untuk makan malam. Tetapi saya seketika itu juga bangun, berkata, bahwa saya tidaklah lapar dan dengan sesegeranya saya berlari pulang. Begitulah berulang beberapa kali, dan kemudian Lidia Mikhailovna berhenti mengundang saya untuk makan.

Pada suatu hari saya diberitahu untuk datang ke sekolah mengambil bingkisan. Saya berpikir, bahwa ibu sekali lagi mengirimkan saya kentang melalui seseorang, tetapi di dalam bingkisan tersebut terdapat makaroni. Makaroni! Di manakah ibu membeli makaroni? Di desa kami makaroni tidak pernah dijual. Surat di dalam bingkisan juga tidak ada. Jika ibu yang mengirimkan bingkisan, maka ibu pasti akan menggeletakkan surat di dalamnya dan di  dalam surat tersebut ibu akan mengisahkan, dari mana kekayaan tersebut bermuasal. Artinya, ini bukanlah ibu. Saya mengambil bingkisan tersebut dan menuju kepada Lidia Mikhailovna.

“Apakah yang  kau bawa itu? Untuk apa?” tanyanya, manakala dia melihat bingkisan.

“Ibu guru yang melakukan ini, ibulah yang mengirimkan ini kepada saya,” kata saya.

“Mengapa kau berpikir, bahwa sayalah yang melakukannya?’

“Karena di desa kami makaroni tidak ada, ibu harusnya  tahu itu.”

Dengan seketika Lidia Mikhailovna tertawa: “Ya, seharusnya lebih dulu saya tahu. Dan apakah yang kalian punya di desa?”

“Kentang.”

“Kami di Ukraina memiliki apel. Di sana sekarang banyak apel. Yah, baiklah, ambillah makaroni tersebut. Kau harus banyak makan, agar bisa belajar.”

Tetapi saya sudah lari menjauh.

Di dalam perkara yang demikian, pelajaran belumlah berakhir, saya masih melanjutkan untuk pergi ke rumah Lidia Mikhailovna. Patutlah diceritakan, bahwa saya telah melakukan keberhasilan dan oleh karenanya saya belajar bahasa Perancis dengan senang hati. Mengenai bingkisan kami tidaklah lagi mengingatnya.

Suatu hari Lidia Mikhailovna berkata kepada saya: “Nah, bagaimana, kau tidak lagi bermain uang?”

“Tidak,” jawab saya.

“Dan bagaimanakah permainan tersebut? Ceritakanlah!”

“Buat ibu, untuk apakah?”

“Itu menarik! Di dalam masa kanak-kanak saya juga bermain-main. Ceritakanlah, tidak perlu takut!”

“Untuk apa saya takut!”

Saya pun menjelaskan aturan permainan kepada Lidia Mikhailovna.

“Mari kita bermain,” tiba-tiba dia menawarkan.

Saya tidak mempercayai pendengaran saya sendiri. “Ibu kan seorang guru!”

“Lantas apa? Guru – mahluk lainkah? Hanya jangan sampai direktur sekolah tahu, bahwa kita main. Nah, mari kita mulai, jika tidak tertarik, kita tidak akan main.”

“Baiklah,” kata saya dengan penuh keraguan.

Kami mulai main. Lidia Mikhailovna tidak beruntung, dan tiba-tiba saya jadi faham, bahwasanya  dia memang tidak ingin memenangkan! Dia sengaja membuang koin, agar koin tersebut sejauh-jauhnya jatuh dari titik tujuan.

“Sudahlah,” kata saya, “kalau caranya demikian saya tidak bermain. Untuk apa ibu justru mengalah?”

“Sama sekali tidak, lihatlah!” kata Lidia Mikhailovna dan dia melemparkan koin. Sekali lagi koin jatuh cukup jauh dan pada ketika itu juga saya melihat, bahwa Lidia Mikhailovna mendorong koin!

“Apa yang ibu lakukan?” teriak saya.

“Apa?”

“Buat apa ibu mendorong koinnya?”

“Tidak, koinnya memang tergeletak di sini,” dengan riang Lidia Mikhailovna menjawab.

Saya langsung tidak ingat, bahwa dia secara khusus memang mengalah pada saya. Saya memandang dengan hati-hati, agar dia tidak mengelabui saya.

Semenjak itu kami bermain hampir pada setiap sore. Sekali lagi saya memiliki uang dan sekali lagi saya membeli susu.

Akan tetapi pada suatu hari segalanya berakhir. Seperti biasanya, pada setiap sore kami bermain dan berbantahan dengan kencang.

“Apakah yang sedang terjadi di sini?” tiba-tiba saja kami mendengar suara yang berat. Di depan kami berdiri direktur sekolah.

“Saya pikir, Anda akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk,” dengan perlahan Lidia Mikhailovna berkata.

“Saya sudah mengetuknya, tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Apakah yang sedang terjadi di sini? Saya punya hak untuk mengetahui sebagai direktur sekolah.”

“Kami main uang,” dengan tenang Lidia Mikhailova menjelaskan.

“Anda main uang?…Dengan murid sendiri?!”

“Benar.”

“Anda tahu, saya…saya telah dua puluh tahun mengajar di sekolah, tetapi yang demikian ini…Ini perbuatan kriminal!”

“Selang tiga hari Lidia Mikhailovna pergi. Menjelang keberangkatannya dia berkata kepada saya: “Saya akan pergi ke Ukraina, ke tempat saya sendiri. Dan kau belajarlah dengan tenang. Tidak seorang pun yang akan mengeluarkanmu dari sekolah. Di sini sayalah yang bersalah. Belajarlah.”

Dia pun pergi dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Pada musim dingin, selepas waktu liburan, saya menerima bingkisan. Di dalamnya ada makaroni dan tiga buah apel merah yang besar-besar. Dulu kala saya hanya melihat apel di dalam gambar-gambar, tetapi sekarang saya langsung mengerti, beginilah apel-apel itu.

 

*Biografi Valentin Rasputin

Valentin Grigorevich Rasputin (15 Maret 1937-14 Maret 2015) lahir di desa Atalanka, Rusia dan wafat di Moskow, Rusia. Valentin Rasputin menamatkan Universitas Irkutsk pada tahun 1959 dan dalam beberapa tahun beliau bekerja di surat kabar di Irkutsk dan Krasnoyarsk. Buku pertamanya “The Edge Near The Sky” dipublikasikan tahun 1966 di Irkutsk dan “Man from This World” dikeluarkan tahun 1967 di Krasnoyarsk. Pada tahun yang sama “Money for Maria” dimuat di Angara No. 4 dan pada tahun 1968 “Money for Maria” diterbitkan sebagai buku terpisah di Moskow. Karya-karyanya yang lain: The Last Term (1970), Live and Remember (1974), Farewell to Matyora (1976), You Live and Love (1982), Ivan’s daughter, Ivan’s mother (2004).

Valentin Rasputin sangat dekat dikaitkan dengan gerakan kesusastraan Soviet Pasca Perang yang disebut dengan village prose atau rural prose. Karya village prose biasanya berfokus pada kesulitan kaum tani Soviet, pada gambaran ideal tentang kehidupan desa tradisional, dan secara implisit atau eksplisit mengkritik proyek modernisasi.

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

[1] Великая Отечественная Война (Velikaya Otechestvennaya Voina) atau Great Patriotic War adalah perang  antara Rusia dan Republik-republik yang tergabung di dalam Uni Soviet (kecuali negara-negara Baltik, Georgia, Azerbaijan dan Ukraina) melawan invasi Jerman dengan aliansinya Hungaria, Italia, Rumania, Slovakia, Finlandia, dan Kroasia. Perang berlangsung dari tanggal 22 Juni 1941 sampai tanggal 9 Mei 1945

[2] Primary general education merupakan tingkatan pertama dan berlangsung  selama 4 tahun, basic general education adalah tingkatan kedua berlangsung selama 5 tahun, dari kelas 5 sampai kelas  9, dan secondary (complete) general education yang merupakan tingkatan terakhir, berlangsung selama 2 tahun, dari kelas 10 sampai kelas 11

[3] Sistem penilaian di dalam pendidikan Rusia: единица yedinitsa = 1, двойка dvoika = 2, тройка troika = 3, четвёркa chetvorka = 4 dan пятёрка pyatyorka = 5

[4] Satuan terkecil mata uang Rusia

[5] Berasal dari nama Fyodor

[6] Beberapa sumber  menyebutkan berasal dari nama Vadim

[7] Persegi

Continue Reading

Classic Prose

Chingiz Aitmatov: Mankurt

mm

Published

on

Ini terjadi pada berabad-abad yang lalu. Di antara suku-suku nomaden, yang hidup di tanah Kazakhstan, berlangsung perang yang permanen. Para pemenang perang mengubah orang-orang taklukan menjadi budak. Zhuanzhuan, yang pada suatu waktu menguasai sebagian besar tanah Kazakhstan, merupakan orang-orang yang terutama sangat keji. Mereka mengubah para tawanan menjadi mankurt, manusia yang kehilangan ingatan. Untuk itu ke kepala para tawanan dilekatkan kulit unta yang lembab dan mereka ditinggal  tanpa air, tanpa roti, dalam beberapa hari di atas tanah lapang terbuka. Matahari memanaskan kulit unta yang lembab dan kulit itu pun menjadi mengkerut, dan manusia bisa mati lantaran rasa sakit atau bisa menjadi gila, kehilangan ingatan. Baru pada hari ke lima Zhuanzhuan datang melihat, siapakah di antara tawanan yang bertahan hidup. Biasanya yang bertahan hidup hanyalah 1-2 orang dari lima. Mereka merupakan budak-mankurt, yang harganya sangat mahal, karena mereka adalah manusia tanpa ingatan, manusia, yang melupakan ayah dan ibunya dan hanya mengetahui tuannya. Budak yang demikian tidak memimpikan kebebasan, dia mampu mengerjakan pekerjaan yang paling hitam dan berat, dan tidak menginginkan apa-apa. Dan tidak ada seorang dari para kerabat atau kawan yang berupaya membebaskan mankurt, manusia, yang melupakan segala.

Tetapi ada seorang ibu, bernama Naiman-Ana, tidak mampu berdamai dengan hal tersebut. Anak laki-lakinya, yang ikut di dalam pertempuran dengan Zhuanzhuan, jatuh ke dalam tawanan. Naiman-Ana ingin menemukan anaknya. Dia memimpikan hanya satu hal: semoga anaknya masih hidup, meskipun menjadi seorang mankurt, yang kehilangan ingatan, tetapi anaknya tetap hidup, tetap hidup! Naiman-Ana mengambil selembar selendang putih dan mulai berjalan ke padang stepa. Begitu lama dia berjalan di atas padang stepa dan akhirnya dia bertemu dengan seorang pemuda rupawan dan dia mengetahui, bahwa itu adalah anaknya.

“Anakku, anak kandungku! Aku mencarimu!” teriaknya, “aku ibumu!” Dan dengan seketika Naiman-Ana memahami semuanya dan dia pun mulai menangis, dan dia memandangi wajah anaknya yang beku, yang berdiri di sampingnya. Tetapi anaknya bahkan tidak bertanya, siapakah dia dan mengapa juga dia menangis. Kedua mata anaknya tampak kosong dan wajahnya tidak pedulian.

“Kau tidak mengenalku?” tanya sang ibu, akhirnya.

“Tidak,” jawab mankurt.

“Siapakah namamu?”

“Mankurt.”

“Begitulah sekarang kau dipanggil. Dan bagaimanakah dulunya kau dipanggil? Ingatlah namamu sendiri!”

Mankurt terdiam.

“Dan siapakah nama ayahmu? Dan kau sendiri siapa, dari mana, di manakah kau dilahirkan? Kau ingatkah?”

Tidak, anaknya tidak ingat apa-apa dan dia tidak mengenali.

“Apakah yang mereka lakukan terhadapmu!” kata sang ibu dengan lirih. “Kau dengar? Namamu Zholaman. Ayahmu bernama Donenbai. Kau ingat ayahmu? Dialah yang mengajari kau memanah. Dan aku adalah ibumu, kau dengar?”

Akan tetapi semua, apa yang dikatakan sang ibu, tidaklah menarik baginya.

“Marilah aku lihat, apa yang mereka lakukan dengan kepalamu?” kata Naiman-Ana.

“Tidak,” jawab mankurt dan dia tidak ingin lebih jauh lagi berbicara dengan Naiman-Ana. Dan Naiman-Ana memutuskan untuk membawa pulang anaknya. Lebih baik anaknya tinggal di rumah sendiri, dibandingkan di padang stepa, menjadi budak Zhuanzhuan.

Naiman-Ana dengan begitu lama meminta anaknya untuk pulang ke rumah, tetapi anaknya tidak memahami, bagaimanakah harus pergi, jika sang tuan tidak mengijinkan. Dan kembali, dan kembali lagi Naiman-Ana mengulangi:

“Ayahmu Donenbai, dan namamu bukan Mankurt, tetapi Zholaman. Ketika kau dilahirkan di dalam keluarga kita ada perayaan yang demikian besar.”

Dan tiba-tiba saja Naiman-Ana melihat seseorang, yang berjalan ke arah mereka di atas seekor unta.

“Siapakah dia?” tanyanya.

“Itu sang tuan.”

Naiman-Ana mestilah pergi.

“Jangan katakan apa-apa kepadanya, aku akan segera datang kembali.” Kata Naiman-Ana. Anaknya tidak menjawab. Baginya semua sama saja.

Tetapi sang tuan telah melihat sang perempuan tersebut. “Siapakah dia?” tanyanya kepada mankurt.

“Dia berkata, bahwa dia adalah ibuku.”

“Dia bukan ibumu! Kau tidak punya ibu! Kau tahu, apa yang dia inginkan? Dia ingin mengambil kepalamu!” teriak Zhuanzhuan.

Mankurt ketakutan. Wajahnya menjadi suram.

“Jangan khawatir!” kata sang tuan, “bukankah kau bisa memanah? Nah, ambillah!” Dan dia memberikan mankurt busur beserta anak panahnya.

Ketika Zhuanzhuan pergi, Naiman-Ana menghampiri anaknya. Dia tidak melihat, bahwa anaknya, mankurt, telah bersiap-siap memanah. Sinar matahari mengganggu mankurt, dan dia menantikan momen yang tepat.

“Zholaman, anakku!” panggil Naiman-Ana kepada anaknya. Tetapi terlambat: anak panah telah menghantam tepat di jantung Naiman-Ana. Itu adalah hantaman yang mematikan. Naiman-Ana pelan-pelan terjatuh, tetapi dari bagian kepalanya selendang putih terlebih dulu jatuh, berubah menjadi seekor burung dan terbang dengan teriakan: “Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai! Donenbai!”

Orang-orang mengatakan, bahwa sekarang pejalan yang berjalan di padang stepa masih bisa mendengar, bagaimana burung tersebut berteriak:

“Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai!” (*)

 

*Biografi Chingiz Aitmatov

Chingiz Torekulovich Aitmatov lahir pada tanggal 12 Desember 1928, di Sheker, Kyrgyzstan dan meninggal pada tanggal  10 Juni 2008, di Nürnberg, Jerman. Karyanya antara lain: “Jamila” (1958), “Farewell, Gulsary” (1966), “The White Ship” (1970), “The Day Last More Than a Hundred Years” (1980), “Mother Earth and Other Stories” (2011). Chingiz Aitmatov juga pernah berkaris sebagai ambassador Uni Soviet dan kemudian Kyrgyzstan untuk European Union, NATO, UNESCO dan negara-negara Benelux. Karya-karya Chingiz Aitmatov memiliki elemen-elemen yang unik, khususnya pada proses kreatifnya dan karya-karyanya menggambarkan folklore, bukan dalam cita  rasa kuno, tetapi Chingiz berupaya mengkreasi kembali dan mensintesiskan karya-karya lisan ke dalam kehidupan kontemporer.

Dalam arti kiasan, kata mankurt digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang telah kehilangan kontak dengan akar sejarah dan kenasionalan mereka, dan melupakan hubungan mereka. Kata mankurt telah menjadi identik dan telah digunakan di dalam jurnalisme. Di Rusia muncul neologisme: mankurtismmankurtizatsiya, dan  demankurtizatsiya.

Kata mankurt bisa jadi diderivasi dari bahasa Mongolia мангуурах (manguurah, yang bermakna bodoh), atau mungkin bahasa Turki mengirt (manusia yang memorinya dirampas) atau man kort (suku yang jelek, buruk atau jahat).

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

Continue Reading

Classic Prose

Camilo Jose Cela : Tukang Foto Keliling Bernama Sanson Garcia

mm

Published

on

SANSON GARCIA CERCEDA Y EXPOSITO DE ALBACETE menggunakan mata kenangannya ketika mengintip lewat corong dalam kerudung alat pemotretnya. Mata kirinya, karena suatu kejadian tak terelakkan, tercampak di Sorihuela Provinsi Jaen pada hari San Claudio di awal maas kediktatoran, dalam pertengkaran dengan seorang Prancis tak berprinsip—Juanito Clermond—yang dijuluki orang Aristides Briand II.

Sejak kecil Sanson Garcia sudah menyenangi fotografi yang menyebabkan ayahnya, Don Hibrido Garcia Exposito Y Machado Coscuelluela, memukulnya sampai lebam sambil berkata—tentulah karena ia tahu kenapa—bahwa fotografi bukanlah pekerjaan yang layak buat laki-laki.

“Tapi Ayah, saya ragu,” sanggah Sanson untuk mengatasi rasa sedihnya, “Mana ada tukang foto perempuan yang bergerak dari satu kota ke kota lainnya.”

“Diam, kataku! Lebih hormatlah pada bapakmu, anak cacing! Lebih hormatlah pada orangtua!”

Dan Don Hibrido, seorang penganut dialektika, tak pernah beranjak dari pendiriannya. Melihat ayahnya bersikeras seperti keledai, Sanson diam, karena kalau tidak keadaan akan bertambah buruk.

“Tenang, Ayah, tenang! Saya akan memikirkan usul Ayah.”

“Bagus begitu…..”

Don Hibrido Garcia Exposito dulu seorang pemilik penginapan. Selama kurang lebih empat puluh tahun ia memiliki sebuah penginapan yang hasilnya kecil tapi teratur di Cabezarados, daerah La Mancha di kaki Sierra Gorda, tidak jauh dari Telaga Carrizoca dan Perdiguera. Pada masa itu Don Hibrido adalah seorang bos yang mandiri, seperti yang selalu dibanggakannya.

“Aku senantiasa menyukai orang mandiri, yang jika bilang begini diikuti semua orang, baik mereka senang atau tidak. Orang seperti itulah yang kusebut lelaki sejati. Sialnya sekarang tak ada lagi orang seperti itu. Contoh telaki sejati adalah kardinal Cisneros dan Agustine de Aragon. Bandingkan dengan cacing-cacing yang sudah jatuh pingsan hanya karena menyaksikan setengah lusin orang yang luka. Tak tahulah aku mau jadi apa dunia ini.”

Dengan sikap mandiri yang tegar itulah Don hibrido mengaggap enteng semua orang, kecuali istrinya yang berasal dari lalin, yang satu hari setelah kawin menggosok satu telinga suaminya dengan setrika, hingga telinga itu keriput seperti kol Brussel.

Sanson yang agak urakan—sehingga terus-menerus menggelisahkan Don hibrido—banyak menderita. Setelah perang berakhir ia membaca pernyataan Sekretaris Departemen Industri dan Perdagangan tentang kewajiban mandiri yang membuatnya gemetar, gelisah, dan sedih.

Apa jadinya kita ini, pikirnya. Air sudah sampai ke leher!

            Sanson Garcia yang sangat alergi pada kata mandiri, dengan mata sebelah, kamera berkaki tiga dan kerudung seperti akordion itu, telah melengkapi klub fotografi Spanyol dengan gambar anak-anak manis berambut-jurai memakai sandal, anggota pasukan infanteri yang menyerahkan tanda mata pada buah hati, para babu berambut kelabu di kuduk, dan sekelompok gadis kota kecil yang kecantikan alamiahnya tiba-tiba bertukar dengan terima kasih pada segelas anggur putih dan pawai perkawinan yang sumbang.

Sanson Garcia sebenarnya sangat liris; ia penyair sejati yang merasa sangat bahagia dengan pekerjaannya yang terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

“Aku puas,” kadang-kadang ia berpikir setelah menyantap makanan hangat, “dapat bekerja sambil melihat orang-orang tersenyum. Aku pikir tak ada pekerjaan seperti ini di seluruh dunia. Bahkan tidak tukang goreng pastel!”

Sansom menyukai alam, anak-anak kecil laki-perempuan, hewan dan pohon-pohon. Matanya hilang dalam pertengkaran dengan Aristides Briand II, karena orang Prancis itu hendak mencoba guillotine tipe barunya pada beberapa ekor kucing yang malang.

Aristides Briand Ii berkata, “Aku menyukai kemajuan dan aku gembira dapat menyumbangkan sesuatu pada evolusi teknik. Lagi pula aku ini orang asing dan memerintah diriku menurut hukum Prancis.”

Sanson Garcia menjawab, meskipun Aristides orang asing tapi kucing-kucing itu tetap Spanyol, dan ia tak akan tenggang rasa terhadap kezaliman. Sebagai jawabannya, Aristides menghardik, “Babi! Keledai kampung tak makan sekolah!” Dan sanson langsung menyambung dengan dua kali babi, dua kali keledai kampung dan dua kali tak makan sekolah. Lalu si Perancis memberi tinju yang menyebabkan mata sanson tingggal satu untuk seumur hidupnya.

Setelah sembuh, Sanson menempelkan kain hitam pada bagian matanya yang hilang, sedangkan Aristides Briand II kabur bersama guillotine tipe barunya untuk bereksperimen di tempat lain, karena kecuali beberapa orang, penduduk Sorihuela memihak Sanson Garcia dan hendak menghukum orang Perancis itu.

***

“YANG Anda lihat ini,” kata Sanson sambil memperlihatkan foto seorang gadis sintal pada saya, “Genovevita Munoz, penyanyi asal Valencia del Mombuey, provinsi Badajos dekat sempa dan Portugal, tepat di depan Cerro Mentiras, Saya mencintai nona ini sedikit.”

Dengan gaya seorang Don Juan yang berpengalaman, Sanson meneguk anggur dan melanjutkan, “Meskipun menggairahkan kalau ia mau, Genovevita agak cepat naik darah, kenyal-liat seperti tak bertulang-tengkorak, sehingga kalau lagi datang anginnya—biasanya sebulan sekali—hindarilah dia seperti menghindari wabah. Sungguh, siapa pun yang dekat akan celaka, karena Genovevita menyimpan penyodok tukang sepatu dalam tasnya. Coba lihat ini!”

Lekukan yang ditunjukkan Sanson di tengkuknya cukup untuk sebuah mata uang logam.

“Tetapi perlu juga anda tahu, Genovevita sangat memikat dan berbakat, perempuan yang selalu dirindukan lelaki. Tak pernah dipersoalkannya berapa tebal dompet Anda seperti yang biasa dilakukan perempuan lain, tapi yang pertama dia tanyakan adalah lelaki macam apa Anda. Sebelum mulai bicara, dia memastikan dulu apakah lawan bicaranya itu orang Spanyol atau bukan. Dia selalu bilang, ‘Saya ini Spanyol, seperti Sang Perawan dari Pilar. Dan saya tak mau tahu tentang orang Prancis.’ Barangkali dia benar.”

Sanson meneguk habis anggur di gelasnya dan memanggil pelayan.

“Dua anggur putih.”

“Baik, baik!”

Apabila Sanson merasa sedih dan sentimentil, penutup hitam matanya berubah dari warna sayap terkembang menjadi hijau berkabung.

“Dan lanjutan ceritanya, Genovevita Munoz pada usia sangat muda sudah menjadi pembantu rumah tangga di Barcarrota, tempat arena pertandingan sapi yang berada dalam puri seperti kaki di dalam kaus. Karena gajinya kecil, banyak kerja dan tafsiran sang majikan untuk istilah babu-penuh sudah melampaui batas, Genovevita pun terbang pada kesempatan pertama; ia terdampar di Valverde del Carmino di wilayah Huelva, di bawah naungan bukit-bukit Sedundaralejo, tempat dia bergabung dengan kelompok Seni Pertunjukan Rakyat Oriflamas de Andalucia yang menyebabkan dia terombang-ambing antara berkeringat dan menahan lapar dari satu peristiwa ke peristiwa lain sepanjang ciptaan Tuhan. Karena pada mulanya ia tidak pandai menyanyi  dan menari, sang manajer menyuruhnya berjalan hilir-mudik di atas panggung memakai rok dalam. Baru dalam lakon Para Pemandi New York, La Genovevita menjadi tenar dan disukai umum, sehingga terbukalah harapan pekerjaan yang lebih baik.”

Pelayan berkemeja kotor, celana cururoy dan celemek bergaris hijau dan hitam meletakkan dua gelas anggur putih di atas meja, dan sebuah piring kecil berisi dua butir limau yang sudah kisut.

“Saya berjuma La Genovevita di San Martin de Valdeiglesias, sebuah kota subur-makmur di antara Avila dan Toledo. Dia sudah menjadi anggota paduan suara dalam lakon Gema Panas Karibia, menarikan rumba dan danzon sedikit sebelum bagian kedua berakhir. Sebenarnya dia mencoba meniru Suara Api Camaguey yang dinyanyikan Belan Baracoa, gadis mulatto dari Betanzoz yang terkenal dengan aksen Galisia itu. Menonton La Genovevita dan jatuh cinta padanya, saya lalu bersumpah demi semua yang penting dalam hidup ini. Itu saya katakan degnan cara terbaik menurut saya, dan dia menjawab dengan ya yang penuh gairah; dan karena tak ada tempat buah saya dalam Gema Panas Karibia kami pun pergi ke ibukota, tinggal di alam terbuka seperti pasukan jalan-kaki, sambil berpikir alangkah malangnya kami, karena di ibukota anjing-anjing ditambat dengan sosis. Segera kami menyadari kekhilafan itu—jika anjing-anjing ditambat dengan sosis, sosis itu tentu rapat di perut majikannya—lalu setelah berpikir masak-masak, kami pun pergi dari situ dengan kesimpulan lebih baik mati di hutan seperti kelinci daripada seperti kucing di tempat terbuka. Dua anggur putih!”

“Apa?”

“Bukan, bukan kepada Anda. Saya memanggil pelayan. Ia tidur. Oi, dua anggur putih!”

“Ya, ya.”

“Seperti sudah kukaktakan tadi, saya ini berbakat pencemburu dan tidak terlalu ambil pusing soal profesi La Genovevita sebagai artis, sebab seperti Anda tahu para artis biasanya punya reputasi buruk—begitulah pada suatu hari saya bangkitkan keberanian, pergi kepadanya dan berkata, ‘Dengarkan, Genovevita sayang. Cinta dalam kehidupan tak boleh disamakan dengan yang di atas panggung.’ Dia lalu menggeliat, siap menyerang. Darahnya mendidih, lalu menghamburkan diri sambil menghadiahkan satu pukulan yang kalau tak segera dihentikan—saya tidak malu mengakui ini—pastilah menyebabkan saya tak dapat mengisahkan cerita ini pada Anda.”

Wajah Sanson bersinar dengan senyuman tipis.

“Bukan main cantiknya La Genovevita dengan rambut merebang dan mata seperti harimau! Maafkan saya karena tak dapat mengingat hal itu tanpa rasa pilu. Jika Anda punya perasaan sama seperti saya, kita lanjutkan cerita ini lain kali.”

“Terserah.”

“Terima kasih. Hari ini saya tak bisa melanjutkannya. Pelayan, empat ya.!”

***

ESOKNYA, Sanson Garcia tampak seperti enggan melanjutkan cerita tentang La Genovevita.

“Bagaimana sambungan cerita perempuan kemarin?”

Sanson menyeringai.

“Lebih baik kita tinggalkan saja kisah itu. Penutupnya tidak bagus, artinya cerita itu buruk di ujung. La Genovevita memang cantik, itu tidak saya sangkal, tapi rasa pemarahnya tak tertanggungkan. Dia sendiri heran dan selalu bertanya pada saya, ‘Sanson, tololkah saya ini?” Tentu saja saya menyangkal, “Tidak, Sayang. Kau sama seperti orang lain. ‘Tapi itu tidak benar. Percayalah, La Genovevita lebih tolol dari kebanyakan orang. Lebih baik kita cerita yang lain saja.”

“Terserah.”

Sanson Garcia terdiam.

“Terima kasih. Maukah Anda jika saya ceritakan tentang Senorita Tiburcia del Oro Y Gomis, juru rawat lautan kasih yang menggantikan tempat la Genovevigta di hati saya?”

“Ceritakan saja.”

Sanson menggeser kursinya ke belakang sedikti dan berkata, “Ya, begitulah. La Tiburcia del Oro, meskipun namanya seperti matador perempuan, adalah seorang gadis yang punya prinsip, terdidik, rajin, terpelajar. La Tiburcia del Oro—maaf, menyebutnya Tiburcia saja rasanya kurang sopan—saya jumpai di Cuenca, ibukota provinsi tempat dia mengurus anak-anak orang kaya, yang makan sup dengan tangan dan sehari suntuk berjingkrak di atap rumah. ‘Tak ada yang dapat melarang mereka,’ kata Tiburcia pada saya. ‘Paling-paling hanya membiarkan dan melihat mereka jatuh. ‘Beberapa hari sesudah itu saya bertemu dia dengan rasa iman yang mendalam. Anda dengar tidak?”

“Ya, tentu. Teruskan!”

“Begitulah. Beberapa hari setelah berkenalan, seorang di antara anak-anak yang diurusnya, bernama Julito, jatuh dari atap dan meninggal. Ah, si bandel cilik!”

Sanson diam sebentar.

“Lalu orangtua si anak menendang La Tiburcia del oro sampai ke jalan raya dan tidak membayarnya satu sen pun. Kemudian, setelah terlunta-lunta sendirian, La Tiburcia del oro tiba di tempat saya menginap di gang del Clavel; di situlah kami bertemu; saya, La Tiburcia del oro, ibu pemilik penginapan bernama Donna Ester, dan pedagang keliling berwajah bopeng bekas cacar. Simeoncito namanya, yang meskipun tubuhnya seperti raksasa, ia sudah berpisah dengan istrinya dan diam bersama kami. Dengan bersimbah airmata, La Tiburcia del oro hanya dapat berkata, ‘Malapetaka! Malapetaka!’ Untuk menenangkan dia, kami semua berkata, ‘Jangan berduka. Julito itu memang bandel.’ Anda pasti tahu tak banyak kata-kata yang dapat kami keluarkan dibanding sedih-pedih yang ditanggung La Tiburcia del Oro.”

Sanson Garcia berhenti dan melihat orang-orang yang naik ke atas atap.

“Mereka seperti anak-anak kecil, bukan? Anak-anak yang jatuh dari atap.”

“Hah?”

Sanson melanjtukan ceritanya.

“Polisi, yang banyak tahu soal hukum, menyarankan jalan terbaik bagi la Tirbucia; lari dari situ. ‘Kalau kau suka, kau boleh pergi bersamanya,’ kata polisi itu, ‘tapi yang penting dia harus segera bergi sebelum keadaan bertambah buruk.’ Ibu pemilik penginapan dan Simeoncito setuju pada usul itu. Begitulah. La Tirbucia dan saya membeli dua karcis kereta kelas tiga dan tiba di Calencia, sebuah kota di Turia kata orang, tempat saya mendapat pekerjaan di studio foto El Arco Iris; dan membuat foto-foto besar dan berwarna tentang orang-orang yang meninggal dalam perang. Ketika itu perang baru saja usai dan kenangan pada si mati masih mencengkeram banyak keluarga, dan pesanan pun banyak dan saya mendapat banyak keuntungan.”

“Ck, ck, ck.”

“Demikianlah, di kota Turia itu, seperti saya katakan tadi, La Tiburcia del oro dan saya sangat bahagia. Dia menjajakan saputangan dan renda, dan hasilnya disatukan dengan pendapatan saya hingga banyak; sehingga kadang-kadang kami dapat pergi ke bioskop, meneguk berliter anggur putih tanpa meminta potongan harga yang merendahkan derajat. Itulah hari-hari bahagia itu. Setiap detik menjadi kenangan. Percayalah, badan saya menggelenyar oleh ingatan terhadap dia.”

“Apa yang kemudian terjadi dengan Tiburcia del oro?”

“Apa yang terjadi? Saya tak mau mengingatnya. Kami sedang berada di puncak bahagia; tak seorang pun, tak satu pun yang dapat merusak cinta kami, tapi tiba-tiba La Tiburcia dipukul seorang bajingan busuk—terkutuklah bajingan yang penuh jumbai di bahu itu—tapi orang busuk itu kemudian jadi fanatikus sukses, sendangkan La Tiburcia justru meninggal di rumah sakit karena dijangkiti penyakit yang obatnya ditemukan oleh Pasteur. Perempuan malang, sangat memalukan akhir hidupmu!”

“Betul. Maafkan saya, saya sudah mengingatkan Anda pada cerita sedih ini.”

“Oh, tak apa. Semuanya sama saja akhirnya.”

Sanson Garcia berdiri, meraih tasnya, dan meletakkan tiga lusin lebih foto Tiburcia del Oro di atas meja.

“Lihat, begitu bergaya, alangkah tenang pandangan matanya!”

***

ESOKNYA Sanson Garcia mengais-ngais lagi foto-foto miliknya.

“Lelaki ini lucu sekali Ha, ha, ha. Orang bisa mati ketawa karena ulahnya. Anda kenal orang ini?”

“Mana saya tahu. Siapa?”

“Anda benar-benar tidak mengenalnya?”

“Sama sekali tidak. Siapa orang ini?”

Sanson meneguk anggurnya perlahan-lahan, mengecap lidahnya beberapa kali dan berkumur sedikit.

“Baiklah kalau begitu, akan saya ceritakan …….” (*)

 

| Penerjemah: Fransiskus Asmana

______________________

CAMILO JOSE CELA (Nobel Prize for Literature 1989)

Lahir di Madrid, Spanyol tahun 1917, Cela pernah  menjadi anggota parlemen Spanyol, menggeluti pekerjaan sebagai matador, pengawai negeri, pelukis, dan aktor sebelum mencurahkan perhatiannya pada dunia sastra. Sebagai sastrawan, ia dikenal biasa bicara blak-blakan, dengan logat yang khas, bahasa yang lugas dan mudah dicerna; di mana di dalam karya-karyanya ditemukan “situasi” yang kelabu, yang ditulis dengan simpati sangat besar terhadap orang-orang “terkutuk” (pelacur, orang-orang miskin, dan bodoh).

Cela lebih dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis puisi. Karya-karyanya yang banyak dibicarakan antara lain La Familia de Pascual Duarte (1942), La Colmena (1951), Viaje a la Alcarria (1958), San Camilo 1939 (1969), dan Mazurca Para Dos Muertos (1984).

Dalam keterangan pers-nya Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusastraan pada Cela dengan pertimbangan: “…untuk kekayaan dan intensitas prosanya yang dengan bentuk rasa kasih yang tertahan, menghasilkan visi yang menantang atas integritas kemanusiaan ….

Cela adalah sastrawan kelima Spanyol (setelah Jose Echegaray Y Eizaguirre tahun 1904, Jacinto Benavente tahun 1922, Juan Ramon Jimenez tahun 1956, dan Vicente Aleixandre tahun 1977) yang memperoleh penghargaan tersebut. (*)

Continue Reading

Trending