Connect with us

Prose & Poetry

Sajak-Sajak Alexander Robert Nainggolan

mm

Published

on

Di dalam Puisi

 

barangkali. hanya di dalam puisi, sunyi begitu teduh dan tenang untuk sembunyi. menguliti segala bonyok duka– merintih sedirian. diam dan cuma bisa mengeram. ia, sosok waktu yang tak pernah sempat engkau rapikan. sekalipun tubuhmu telah wangi oleh busa sabun dan menyisir rambut sehabis mandi pagi. dengan tertatih, ia menyulam debu-debu sepi yang kian rindang. mungkin, engkau bahagia. seperti bertemu dengan ingatan yang usang, terbaring. seperti ibu yang menunggu di rumah besar, berharap anak-anaknya segera pulang. sebelum senja datang dan matahari menghilang. di gelap langit.

 

2016

 

 

Domino

 

pada cerah warna angkaku, engkau telah lungkrah. setiap biji yang menyambung mirip barisan peluh yang keruh. maka engkaupun lihai membaca ruang, atau sekadar menunggu waktu. atau barangkali berhitung, siapa yang keluar lebih dulu. serupa barisan antrian di pangkal lelah. balok-balok yang berkubah, angka enam kembar siam. sebetulnya cuma siasat sebelum pikiranmu menjadi berat. hanya hitungan yang alpa, seperti kita yang tak utuh membaca prakiraan cuaca.

 

di kedalaman warna merah bijiku, engkau akan bertunas. tumbuh bersama setiap kemungkinan.

 

2016

 

 

Jam Satu Malam

 

ia berdiam. jam satu malam. hanya gema percakapan atau suara dengkur. insomnia seperti kuntum bunga pada cuaca. rekah yang terlanjur muda. ia berdiam. barangkali ingin menanam biji puisi di beranda. angin mengetuk tubir pagar. seperti menelusup ke dadanya. tapi kesedihan tak melulu indah untuk dikenang.

 

di beranda, masalalu cuma remah. yang sulit dikubur atau sekadar dikumpulkan.

 

2016

 

Seperti Isak

 

seperti isak yang tak kelihatan. tangisan itu bertahan. sebentar lagi menjelma jadi amuk hujan. tidak kentara bercampur udara, tapi perihnya mencekik leher, seperti sayat pecahana kaca pada biru nadi. lalu jendela, hanya ada rangka kepala, memandang langit yang tak lagi jernih. didapatinya kedua bola mata yang kelabu.

 

seperti isak. bertahan di setiap gigir tanah negeri. semakin di pinggir. tergelincir.

 

2016

 

 

Gerhana

 

mungkin di sebuah gerhana, engkau memelukku dengan erat. kenyal susu dan kelenjar rambutmu bergetar. di sebuah kegelapan, dengan napas panjang. pendingin ruangan, hujan di luar. seperti bayangan pekat. cahaya tubuhmu menjadi gelap. mendekat dan melumat. kita mengayuh. seperti jangat keringat yang lekat. menyatu. memutar gundah waktu.

 

di luar, memang gerhana terjadi. bayangan hari tiba-tiba tunduk. hanya kegelapan merasuk. bergumul.

 

oh!

 

2016

 

 

Akhir Februari

; torang nainggolan

 

di pangkal tangismu yang bayi, sudah terlewat. remah yang membuatku tercekat, empat tahun yang memberat di badanmu. aku, ayah bagi usiamu. mungkin selalu abai di sepanjang harap. tapi di langkah kakimu menuju taman, hanya asa isyarat riang. kanak-kanak yang menetas dari kedua matamu.

 

akhir februari menyentuh bilangan usiamu. merebut kecut tahun. kau yang terus bernyanyi nama-nama hari. kalimat ajaib yang merekah dari bibirmu. menggelembung di tubuhku. ah, seketika aku teringat ayah.

 

2016

 

 

Jalan Jambu Gondangdia

 

kerumun pohon, memeluk langit. hanya pagar besar yang sejajar. sepanjang jalan orang-orang yang bersenandung. begitu sulit tuan rumah untuk ditemui. selebihnya sepi. gegas roda atau langkah. menjauh. sehimpun bangunan dan pohon yang kekar. tak lagi menyisakan debar. hanya sebuah pagi yang berjalan tergesa. seterusnya sepi.

 

2016

 

Setiap Ayah

 

di tubuh setiap ayah

akan ada jalan pulang

rumah yang bagai selimut

dari kepala yang kusut

 

telah kugali-gali

tangis yang kecut

dan terduduk di sudut

segala sesal yang sampai sekarang

hanya tertunduk

 

maka aku ingat ayah

setiap percakapan

yang abai kutafsirkan

 

lalu ayah mengerubung

di setiap hari

bahkan bertahun setelah dirinya pergi

 

di mata setiap ayah

selalu ada kegembiraan

meski hanya sebentar

bertemu

atau percakapan yang biasa saja

dengan anaknya

 

2016

 

 

Muara Keluh

 

suara dari kejauhan. berenang melintasi hujan. seperti gumpalan lumpur. namun harapan hanya seberkas remang. begitu penuh kubang. di sana, orang-orang meludah. menyimpan kata-kata yang pekat. membangun kota yang dipenuhi asap. hanya ada suara mengaduh, sementara jejalan makin terjal dan goyah. kerumun mimpi yang tak kunjung beranak.

 

lamat mendekat. potret pejabat dengan senyum memikat. gegas hari merekam candu dari mimpi televisi yang wangi. lalu kitapun mengalir, berharap ada muara jenuh. menyobek kalender dari tahun yang busuk dan berat. namun suara itu kembali sekarat. sebuah keranda mereguk luka.

 

“seperti suara keputusasaan,” terdengar bisik yang halus. entah dari mana. samar.

 

2016

 

 

Di Rumah Ibu

 

di rumah ibu, waktu menjauh. menarik aku dengan lengannya yang kekar. lalu wajah ayah tertawa. tapi yang tergambar hanya sisa karat pada pagar dengan cat kusam. di rumah ibu, percakapan terus berjalan. seperti langkah kaki yang tergesa, memberi kabar pada remang tangisanku yang kanak. tak pernah tanak.

 

dan ibu cuma sendiri. ia begitu kuat, menahan semua ingin yang terasa jadi dingin. lantai keramik putih, kayu yang keropos. tapi ibu bertahan sebagaimana nafas pada hujan. yang membersihkan debu di jangat tubuh.

 

2016

 

Berkas-berkas yang Terus Kausingkap

 

kau menelusuri kalimat. mengingat beberapa riwayat. menandai tempat. alamat yang berkerat. ada pelepah gundah yang lupa. seperti sketsa. betapa biografi hanya sekumpulan sunyi. menimang segala aturan. tapi kau terus memberi tanda. seperti menghitung potret diri. atau masalalu yang terikat dengan selamat. engkau membaca lagi. setiap kalimat yang menarikmu dalam sebuah ingatan gelap.

 

2016

 

 

Jalan ke Tanjungkarang

 

jalan ke tanjungkarang kini memadat. kerumun tubuh liat yang tercekat. cahaya lampu yang membakar keriap sunyi. namun  kau terus memasuki kota, membelah-belah ingatan yang mulai buram. menyimpan jantung masa belia. di geliat cahaya, hanya ada desir angin menjilat tubir patung gajah. sebuah bundaran yang berkilat hujan.

 

jalan ke tanjungkarang meneguhkan bisik. sisik pakaian para perempuan muda, menujah matamu. payung terbentang penuh warna. terang benderang dihantam merkuri. menghadap jalan besar yang melingkar. remah langkah perempuan menerjang hujan. sekejap kau disergap ilusi, atau kota ini memang hanya imajinasi sebuah puisi?

 

2016

 

Alexander Robert Nainggolan: Alexander Robert Nainggolan (Alex R. Nainggolan) lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bekerja sebagai staf Satlak Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kelurahan Gondangdia Kec. Menteng Kota Adm. Jakarta Pusat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Jurnal Sajak, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Seputar Indonesia, Berita Harian Minggu (Singapura), Sabili, Annida, Matabaca, Majalah Basis, Minggu Pagi, Koran Merapi, Indo Pos, Minggu Pagi, Bali Post, News Sabah Times (Malaysia), Surabaya News, Suara  Merdeka, Pikiran Rakyat (Bandung), Tribun Jabar, Radar Surabaya, Lampung Post, Sriwijaya Post, Riau Pos, Suara Karya, Bangka Pos, NOVA, Tabloid Cempaka (Semarang), Rakyat Sumbar, Padang Ekspres, Medan Bisnis, Analisa, On/Off, Majalah e Squire, Majalah Femina, www.sastradigital.com, www.angsoduo.net, Majalah Sagang Riau, dll. Pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi di LPM PILAR FE Unila. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi Ini Sirkus Senyum…(Bumi Manusia, 2002), Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002), Grafitti Imaji (YMS, 2002), Puisi Tak Pernah Pergi (KOMPAS, 2003), Muli (DKL, 2003), Dari Zefir Sampai Puncak Fujiyama (CWI, Depdiknas, 2004), La Runduma (CWI & Menpora RI, 2005), 5,9 Skala Ritcher (KSI & Bentang Pustaka, 2006), Negeri Cincin Api (Lesbumi NU, 2011), Akulah Musi (PPN V, Palembang 2011), Sauk Seloko (PPN VI, Jambi 2012), Negeri Abal-Abal (Komunitas Radja Ketjil, Jakarta, 2013). Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012).

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Menulis Puisi

mm

Published

on

1/

Kopi dari kabut nun jauh

Menghadirkan beku

Dingin di lembah

Kau terperosok jatuh

Tak ada sesiapa

Apakah kehidupan mati?

 

Kini  kau tahu artinya

Kenangan dan waktu

Masa lalu yang ditakdirkan

Masa depan yang purba

 

2/

Sebatang rokok yang menggerus waktu

Kau meminta dan mengakrabi

Agar dari apinya menyala cahaya

Menerangi sukmamu yang mengepulkan kabut

Mencari dalam kegelapannya—bayangan-bayangan

“Bisakah kita tidak saling menyakiti?” Jiwamu bergumam.

 

3/

Buku harian di akhir tahun

Putih tandus seperti lembah mati

Bagaimana kau bertahan

Dalam ketandusan?

Menanam kata-kata

Dalam tandusnya sukma

Bila darinya mekar

Kembang-kembang jiwa

Kau mengiranya sajak-sajak

 

Siapa yang menghidupkan sajak?

Kembang jiwa—padi dan anggur

Untuk para penggembala

Yang kembara memboyong

Serigala dalam kalbunya

 

Kita tidak membuat puisi untuk dibaca

Kita tidak menulis puisi untuk dengan kata-kata

Kita menyusun dunia

Menulisnya dengan mantera!

 

4/

Kita adalah domba sekalian gembala

Kita mahluk terkutuk sekalian sufi terkasih

Kita serigala yang lolongnya menandai larut

Membangunkan para penggembala dari kematian

Agar kelana mencari dunia mati

Menyiram bebatuan dengan air mata

Hanya kekasihnya yang jauh mengirim mawar

Yang tangkainya terbuat dari sayap rajawali

Mengambilnya ke tempat tinggi, entah puncak sunyi.

 

Sabiq Carebesth,

Desember, 2018  

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi Novia Rika Perwitasari

mm

Published

on

DALAM PERJALANAN KE STASIUN KERETA

Dalam perjalananku ke stasiun kereta, matahari telah luput
udara dingin menembus—kulit terbuka
kebisingan, kemacetan demi kemacetan
melenyapkan suara batin langit
wajah-wajah asing melintas
lampu jalan yang suram dan muram
di bawah grafiti sayap
menyulap siluet napasku

udara dingin menembus—kulit terbuka
kebisingan, kemacetan demi kemacetan
melenyapkan suara batin langit
wajah-wajah asing melintas
lampu jalan yang suram dan muram
di bawah grafiti sayap
menyulap siluet napasku

Dalam cermin hitam di bangunan dan mobil-mobil
aku melihat bayangan diriku yang tak sempurna;
pantulanku yang tak sempurna di jendela
mengumumkan adanya manusia di dalam diriku
mengintip jiwaku di antara orang-orang asing
dan percakapan yang hilang
dalam perjalanan ke stasiun kereta

Ini adalah perjalanan pulangku
di antara wajah-wajah yang merindukan rumah
menatah langit yang suram
pada baja kereta yang dingin
dan ruang di antara kursi-kursi kosong
dengan kelupaan yang selalu kulakukan
pada diriku dan jiwaku

Aku selalu sendirian
hingga kau datang hanya untuk menambah keheningan
keheningan yang tiba-tiba, sungguh lebih dari cukup
untuk memperbaiki setengah hatiku yang rusak
Diam-diam aku berharap, lebih lama
tiba di rumah
untuk menghirup udara tanpa batas ini

Jakarta, April 2018

TIBA DI STASIUN

Inginku memeluk bayangmu
di kaca kereta yang berganti-ganti cerita
namun kesunyian mengaburkan waktu
dan pintu terbuka di pemberhentian selanjutnya
Selamat tinggal, itu saja kataku

Akasia, 21 April 2018

JALAN HIDUP

Kita berdiri di beranda rumah, pagi-pagi sekali
Menanti pertanda arah hari dalam cahaya matahari
Perlahan merambati tubuh kita yang sekaku batang pepohonan
Kabar apa yang kita nanti, kita cari
Selain ingatan hangat yang mengepul di dekat secangkir teh hangat
Semakin mengental, semakin melekat tanpa perlu disuarakan

Setiap pagi aku menunggu matahari
Menelanjangi diri dari rasa sakit yang terkikis
Selapis demi selapis di bawah gradasi langit fajar
Sekali lagi hidup memberikan kesempatan mencicip luka
Yang terus kita obati dengan cara-cara rahasia
Goresan-goresan itu seringkali menyala di kala malam
Ketika kita fasih berbicara bahasa kalbu
Lalu, saat matahari menapak cakrawala maka hidup kita kembali menyala
Berjalan dengan kekuatan sederhana dan menjadi manusia

Apakah yang kita punya itu kepalsuan?
Bagiku, itulah kehidupan di bawah debu-debu matahari
Berlimpah cahaya, penuh bayangan dan pada saatnya pun tenggelam
Kita punya cara untuk memilih menjaga hati
yang kita cintai, dan mengikhlaskan hati kita sendiri
Terkadang cahaya akan hilang, lorong gelap menemui jalan terang
Cinta akan ditantang cobaan dan rasa benci mendadak hambar

Tak ada yang akan memilihkannya untuk kita
Jalan ini hanya kita yang mampu laluinya
Dengan kekuatan yang tersisa dalam napas

Jakarta, 29 Agustus 2018

BULAN TENGGELAM DI MATAMU

Aku melihat bulan tenggelam di matamu
Entah berapa lama, sinarnya merasuki
dan aku mulai melihat bayanganmu
berjalan melintasi lampu-lampu jalan,
pohon-pohon yang dimakan temaram,
asap-asap kendaraan dan riuh jalanan
Aku tak mengira akan mencari jejakmu
di tengah asing riuh malam

Di bawah bulan yang tenggelam di matamu
aku melihat kilas cahaya, saat kau menoleh
dari atas jembatan penyeberangan
mungkin saja, kau sama sepertiku
mencari jejak yang ditinggalkan bulan
Meski saat kita saling menemukan
kita sudah terbiasa pada cahaya bulan yang tak bersuara

Aku melihatnya di matamu, bulan yang tenggelam itu
mengisi kesunyian yang kita rahasiakan
dan aku tahu, tak ada jalan untuk membuka rahasia
kecuali pada angin jalanan ketika kita berjalan bersama

Malam ini
bulan menerangi setengah bagian bumi,
menerangi mata kita,
menerangi kesunyian yang timbul tenggelam,
dan sebelum ucapan selamat tinggal
sekali lagi aku melihat bulan tenggelam di matamu

Akasia, 17 April 2018


KOTA TANPA NAMA

Bila hati adalah kota yang kehilangan nama
tumbuh semarak dari ingatan yang berpijar
melingkar dan berpendar di sudut-sudut kota
Dan kota yang sibuk mencatat setiap perjalanan
tumbuh dari bumi, turun dari langit,
bertemu di persimpangan mata hati

Rombongan pejalan kaki menyusuri jalan berdebu;
sementara kita mencari jalan sendiri
yang terus bersisian, bersinggungan
namun tak akan pernah menjadi tujuan
tak akan mungkin, meski betapa dahsyat
hati ini berdetak di sampingmu

Kita telah menjadi bagian perjalanan,
fragmen yang berserakan di sudut kota
Di setiap keramaian dan ritme yang tak terkejar
sejenak waktu menghadirkan ruang temu
tempat kita bersandar tanpa saling bersentuhan,
tanpa saling bertatapan, tanpa saling mengungkapkan perasaan

Semua ingatan menjadi satu di dinding-dinding kota
mekar di setiap pergantian siang-malam
Bila suatu saat nanti,
aku menghentikan langkah di tengah jalan pulang
mungkin aku tengah mengingatmu
mungkin aku menyebut namamu dalam sepi
mungkin aku menahan luka ini sendiri

Akasia, 4 November 2018

*) Novia Rika Perwitasari. Berasal dari Malang, Jawa Timur. Saat ini tinggal di Tangerang Selatan. Senang menulis puisi untuk menghidupkan jiwanya. Karya puisinya masuk dalam berbagai buku antologi puisi nasional serta beberapa media puisi internasional seperti Dying Dahlia Review, The Murmur House, Haiku Masters NHK Japan, Optimum Poetry Zine. Pernah meraih juara 1 nasional lomba puisi Penerbit Oksana (2015), juara 1 nasional lomba puisi Majelis Sastra Bandung (2016), juara 1 nasional lomba puisi “Pindul Bersajak” (2017), juara 2 nasional Sayembara Pena Kita (2017), dll.

Continue Reading

Puisi

Sajak Cinta Sepanjang Malam

mm

Published

on

1/

Cinta adalah masa yang menjadi silam

Yang terbakar menjadi api unggun

Di antara orang-orang mabuk

Kepayang dan kedinginan

Menahan pilu dan menari

Hasrat yang terkburu dan pedih yang menjulang

Dewi kasmaran memadahkan kidung dan lara

Janji yang silam

Tangismu dan ratapku bangkit

Dari kedalaman

Membisu dalam nyanyian

Tersesat dalam tarian yang asing

 

2/

“Mabuklah dalam cinta—

Kenapa tak kau nyanyikan lagu jiwamu?—

Beritahu seluruh dunia

Cinta yang tak sanggup berhenti

Ia berlari memburu

Lagu-lagu telah dikidungkan

Kenapa tak kau miliki cintamu

Yang telah menjadi lagu burung-burung malam

Dinyanyikan sepanjang pesta

Saat semua perindu

Merayakan keheningan.”

 

3/

Detak jantungmu

Pejam matamu

Ratap dan pilimu

Lelahmu yang menunggu

Bersekutulah bersama

Mabuk dan menyanyilah

Cinta adalah sajak panjang

Milik penyair dan penari

Yang tak pernah menulis sajak cintanya

Yang tak pernah menyanyikan lagu kasmaran

Detak jantungmu lagu ratapmu

Telah menjadi serigala

Yang melolong ke puncak dan jauh

Ratap cinta yang memanggil…

 

4/

Cinta ini akan kehilangan bahasa

Lagu ini akan kehilangan irama

Rembulan akan menjadi api

Seorang akan tetap menari

Perindu akan tetap bernyanyi

Kata-kata pulang ke surga

 

Yang tidak mabuk tidak mengerti

Yang bukan penyair takkan mendengar

Ratap cinta yang memanggil..

 

5/

“Lagu-lagu akan berakhir

Penyair akan berhenti

Api kan padam

Waktu segera berlalu

Pesta dan sunyi kan jadi pagi

Jika jiwa tak juga berpeluk

Takkan ada kisah cinta

Takkan ada lagu dan tari

Tak ada kesunyian dan hening

Juga tidak ratap dalam duka kata

Cintalah yang melahirkan bahasa

Cinta yang membakar semua

Cinta yang menyusun sajak ini

Cinta yang membakar

Sajak cintaku sepanjang malam”

 

6/

 

Peluk cintamu sebelum

Lampu-lampu kota ini dipadamkan

Dan orang-orang menggantinya

Dengan kata-kata tak bermakna

Berhamburan di jalan-jalan

Di kafe-kafe

 

O kekasihku, tak ada sajak dikafe-kafe

Tak ada sajak di jalan-jalan

Kita semua telah terlambat

Kehilangan lagu-lagu

Ditinggalkan dan Lelah

O kekasihku

Aku mabuk—senidirian!

Sepanjang malam—dalam sajak-sajak cinta

Yang gagal kutulis untukmu.

 

Jakarta, 23 Oktober 2018

Sabiq Carebesth

 

Continue Reading

Trending