Connect with us

Puisi

Sajak-sajak Alexander Robert Nainggolan

mm

Published

on

 

Memasuki Ramadhan

– halasan nainggolan

memasuki ramadhan, kerapkali aku terkenang ayah. ia yang tabah seperti cahaya doa. hanya sepiring nasi saat sahur. namun aku hambur. dering telepon yang kering, ayah di rumah sakit ruang gawat darurat. tak sempat kusuapkan nasi, beranjak pergi. belum ada embun subuh, jalanan sauh dengan gelambir malam. di jalan, orang-orang bernapas bersama imsyak. aku memacu mobil, membelah gelap malam. jalanan dipalang. ingatan meradang. usia yang terjemput di muka ramadhan. dan hujan turun di hari kedua. tubuhku mendadak dipenuhi lumut.

memasuki ruang gawat darurat. hanya ada dingin lantai, aku yang menjelma masa kecil. ingin terus memanggil namanya. namun sajak dan prosa yang kutulis tak akan mampu membangunkannya. membuatnya tertawa untuk sekadar membaca. hanya bau obat, ayah yang sekarat. napas yang terjerat. genangan air mata. ayah terpejam, tak bisa kuajak bicara. dan azan bergema sepanjang jalan. seperti magrib yang berkarib dengan makamnya.

setiap kali memasuki ramadhan, ada sumbat yang menacncap di kornea. aku yang bertuba, tak bisa menjelaskan apa-apa. bahkan saat kuingat baris sajak yang abadi, mengerucut di kepala. dan ayah hanya terdiam, dalam pejam  yang panjang. selalu tak bisa kutempuh jalan sakitnya, batuknya yang rejan, setiap kata yang pernah menguncup dari bibirnya. ayah terus terpejam, lingkaran air mata, kantuk yang menguap.

*

semestinya acap kupanggil masa kecil. agar aku tak menjelma lelaki yang tengil. betapa ayah terus memanggil. ringkih tubuhku yang meriang kenangan. dan aku tak bisa melegakan napasnya yang terus tersengal, matanya yang telah redup. memasuki ramadhan, aku berjalan sepanjang koridor rumah sakit. azan subuh menyepuh langit.

ayah tertinggal, di muka ramadhan. ini puasa pertama. dan napas ayah memang telah sampai pada saat berbuka. dalam jasadnya yang dipenuhi doa. aku berbuka dengan tangis yang acap beku.

memasuki ramadhan, ayang yang tekenang. seperti gema azan berkumandang.

di tubuh. di pintu bulan-Mu.

Poris Plawad, Tangerang, 2015

 

Pada Namamu

– hammad ramadhan

namamu, ramadhan. bukankah telah kau pasangkan sarung dan kopiah. memasuki barisan masjid. sujudkan keningmu, seperti masa pesantren. memahami segala ayat yang pernah kaubaca. namun engkau berkisah tentang sebuah selat, yang kerap memenggal langkahmu. menjauhi usia yang kehilangan musim hujan.

namamu, ramadhan. setidaknya ada banyak pintu untuk kaumasuki. seperti takbir yang terucap. menjadi gema bercahaya.  berharap berdiam di tubuhmu.

2015

Sinabung

– erik sitepu

kabarkanlah, debu gunungmu. sesak yang berteriak, sepanjang parit pengungsian. anak lelakimu yang bergumul dalam kepul. tenda-tenda yang berbaris, menerjang gerimis. namun engkau sudah terbiasa, bukan? setiap gemuruh yang rapuh. hujan abu yang menyisa di atap rumahmu. kisahkanlah, kawan. katakanlah, jika engkau baik-baik saja. setiap kali gunung merenung. dan engkau tergulung dalam waktu. dentum bunyi yang menembus labirin sunyi. medanmu jadi kumpulan tanah. cuaca yang panas, sengat keringat, atau jejak orang yang terus berangkat. menjauhi desa.

kawan, betapa engkau kuat. di liat tanah. bahkan ketika sinabung terbelah. menanak doa dan air mata, menyimpan remah ingatan. jika engkau memang lelaki yang perkasa.

teriakan orang yang menunggu remah roti. sementara pagi selalu mendung, tak nampak cahaya matahari.

tahun demi tahun. sinabung menabung. guntur yang berkabung.

2015

Surat Keterangan Domisili

bukankah telah kuhimpun setiap riwayatmu? agar kau tak menjadi rayap bagi arsip negara. dengan kerumun data yang menjejak, mungkin tentang sedikit tanggal kelahiranmu. atau domisilimu. ah, ya telah kucatat juga engkau dengan segala kode dan nomor agar tak sukar melacak. menjadi rambu bagi masa lalu. setiap kali identitasmu terbaca di arsip, hanya penggalan nama atau sekadar jenis kelamin.

namun aku tak kunjung hapal jalan menuju rumahmu. kelokan yang panjang, bagi tahun yang rapuh. kerap mengganggu, bahkan saat kutelusuri setiap rekaman peristiwa. saat kau kembali memasu,ki kantor, dan menulisi setiap lembar kertas. menjadi dokumen yang kelak diawetkan.

barangkali aku mesti berkunjung kepadamu. bukan sekadar mengetahui alamat rumah atau nomor telepon. tapi, bukankah engkau sibuk. maka hanya namamu yang kekal. menjadi arsip yang berdebu.

Gondangdia, 2015

 

Agustus

: assyifa chalisa nainggolan

sembilan tahun, agustus berkemah di tubuhmu. dibangunkannya engkau dengan belajar angka dan aksara. lalu tahun-tahun akan meletus, memunguti setiap duri kaktus yang membungkus. “tapi perih memang tak bisa dibagi,” sementara aku menjadi tua di jalanan. tergesa-gesa di pagi hari, luput membaca pelajaran sekolahmu. pulang ke rumah di temaram malam, tak sempat memilah.

sembilan tahun, bersama kita lintasi agustus. memilah beberapa hari yang tandus. dan engkau begitu lekas menjadi besar. lalu tubuhku hanya dipenuhi sesumbar, yang tak kunjung mekar. aku yang hambar.

sembilan tahun, suaramumu terus melecut diriku yang sering termangu. pula panggilan ayah untuk lekas tiba di rumah.

2015

Mata Hujan

kau adalah mata hujan. yang kerap tumbuh di sisi pagi. aku yang terkunci. dipeluk dingin anginmu. menjerat bekas kemarau, agar selesai sebagai mantra. bagi masa lalu. bagi kenangan beku. kau adalah mata hujan, yang mengawasi para peneduh di seberang jalan. memunguti waktu yang menggelinding. di setiap tapak langkah. di remah-remah tubuh yang lelah. hanya suara kota. derum sirine atau suara klakson. denyar lagu pop yang serak. atau televisi yang menjadi coklat. kau adalah mata hujan. begitu sendu. menyimpan segala gasal derita. di jemuran pakaian lembab yang apak. di dinding kamar yang buram. namun kau kembali sebagai embun yang berkerumun di pangkal mataku.

yang sembuh

lalu berharap sembunyi

dari kata abadi

2015

Alexander Robert Nainggolan: Dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Jurnal Sajak, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Berita Harian Minggu (Singapura), Sabili, Annida, Matabaca, Majalah Basis, Minggu Pagi, Koran Merapi, Indo Pos, Minggu Pagi, Bali Post, News Sabah Times (Malaysia), Surabaya News, Suara  Merdeka, Pikiran Rakyat (Bandung), Tribun Jabar, Radar Surabaya, Lampung Post, Sriwijaya Post, Riau Pos, Suara Karya, Bangka Pos, NOVA, Tabloid Cempaka (Semarang), Rakyat Sumbar, Padang Ekspres, Medan Bisnis, Analisa, On/Off, Majalah e Squire, Majalah Femina—juga beberapa kali memenangkan lomba penulisan artikel, sajak, cerpen, karya ilmiah di antaranya: Radar Lampung  (Juara III, 2003), Majalah Sagang-Riau (Juara I, 2003), Juara III Lomba Penulisan cerpen se-SumbagSel yang digelar ROIS FE Unila (2004), nominasi Festival Kreativitas Pemuda yang digelar CWI Jakarta(2004 & 2005).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Puisi

Dalam Tungku Waktu Sajak-Sajak Membakarku

mm

Published

on

I

Angin dari ujung waktu

Menyergapku—oleng aku

Oleh hampa

Luruh dalam waktu

 

Hanya dentang lonceng

Membawaku pada segala berlalu

Jembatan fana yang menghubungkan derita

 

Dalam sendiri kini kupagut

Cinta yang maha…

 

Lagu-lagu mengalun

Menghilangkan bahasa

Dari tiap jengkal sisa jiwa

Hanya bunyi-bunyi tersunyi

Menyergapku dalam ria tanpa umpama

 

Dewa-dewa dan dewi-dewi

Menaburkan daun-daun asmara

Membungkus sukmaku yang telanjang

Aku beringsut seakan tenggelam

Dalam lautan paling jauh

 

II

 

Kutunggu kapal-kapal berlabuh

Kapal-kapal kekosongan

Yang tersesat dari dermaga

Didorong angin dari ujung waktu

Buat menyusulku kembali

Menjemputku pada derita sehari-hari

 

O betapa takut sukmaku

Terdampar dalam riuh kota

Yang dindingnya terbuat dari sajak palsu

Dari para penyair yang sibuk

Memantaskan diri dalam bianglala

Sementara lampu-lampu kota

Telah jadi kesepian

Ditinggalkan para penyair

Dilupakan para pelacur kota

Entah ke mana mereka…

 

Aku sendiri telah lupa

Cara bicara dengan lampu-lampu kota

Sejak berumah dalam dingin AC

Gorden-gorden dirapatkan

Jendela dimatikan

Tak serintik pun lembab hujan

Dapat kujadikan kanvas

Untuk melukis kehilanganku

 

III

 

Malam kembali lagi—malam yang lain

Pada bulan dan gemintang yang lain

Tapi siapa masih peduli

Pada cahayanya?

 

Telah berganti menjadi gambar belaka

Maka dengan kepedihan kumakamkan

Rembulan dan gemintang dalam pikiranku

Kutaburi dengan kembang kemuakkan

Aku terjatuh pada rasa iba

Pada hasrat manusia kota

 

Seperti air terjun gemuruh dimataku

Sukmaku terlempar

Dalam pusaran keriuhan

Beserta segenap omong kosong

Yang tak satu kembang pun

Tumbuh mekar karenanya

IV

 

Dari sunyi ke sepi

Orang-orang berlari

Aku tertinggal sendiri

Duduk di kursi sunyi

Ragu buat turut berlari

Menuju entah

 

V

 

Malam kembali lagi—malam yang lain

Pada bulan dan gemintang yang lain

Tapi siapa masih peduli

Pada cahayanya?

 

Kuhunus sajakku

Jika mungkin kan kubelah sunyi

Yang ditinggalkan penyair musim

 

Kesunyian adalah buah anggur

Atau kursi dari kayu eboni

Di malam perjamuan, atau

Lampu-lampu di jembatan New York

Atau sedu bocah kecil

Yang mengira ibunya pergi dengan terluka

 

Tapi taka da kesunyian di New York

Tak ada sunyi dalam perjamuan

Atau dalam anggur khayalan

Yang telah berganti menjadi sorgum—

Tak ada kesunyian dalam tangis bocah lelaki

yang kalah main gundu

Kesunyian telah dibawa lari

Oleh Don Quixote—

Tapi bukan oleh kudanya.

 

“Kesunyian selalu berlari sendirian

Membelah lautan terjauh

Dalam bola mata para pecinta

Yang ratapnya menjelma kuda-kuda

Dan rindunya menerbangkan rajawali

Ke dalam ruh orang-orang terhukum

Mesti menanggung ganti

Dari tiap jengkal jantung Prometheus.”

 

VI

 

Aku sudah menunggu tiga hari

Ketika langit hilang warna

Pucat seperti kesunyian yang terabaikan

Tapi kulihat rambutmu berwarna kemerahan

 

Kukira… tapi itu telah jauh sekali

Aku tak ingin mengatakannya

Tapi coba lihat dalam jiwaku

Segala telah kukuburkan hari ini

Kau yang membunuh segala yang kanak-kanak

Dan aku dalam kegugupan

Menghadapi surga dan neraka tanpa perjanjian

 

VII

 

Lalu pada punggungmu kurebahkan amarahku

Kota-kota marah—atau memendamnya

Di antara omong kosong dan lampu malam

Siapa begitu perduli pada lukanya jiwa?

 

Kita terbenam pada segelas kopi

Terisi penuh oleh dendam

Tapi ada kekasih jiwaku

Mengajakku pulang dari rasa muak

 

Tapi sungguh aku ingin pergi

Menyusuri sungai dalam belantara sepi

Seolah di sana kita telah pergi begitu jauh

Seolah kita kelana dalam dunia kabut

Di mana batu-batu berlumut

Dan harimau paling ganas—

Sama mengadu tentang kesunyiannya

 

Tapi aku hanya tergolek dalam kamarku

Menunggu subuh yang dingin

Subuh yang suci—berumur hanya sejenak

Dari deru pertama kereta;

Segera memboyong derita dari peraduan

Melemparkan setiap orang ke dalam

Ruang-ruang paling terasing

Untuk kembali membisu

menahan derita sendiri-sendiri—

Seperti subuh yang suci.

 

VIII

 

Kini seakan dermaga terbelah cahaya pertama

Seekor burung tergagap dari ingatan-ingatan

Tentang wadag nun jauh

 

Aku menepi dari tengah gelombang

Dengan perahu yang terbuat dari sajak derita:

 

“Kita telah terkutuk wahai penyair,

Siapa masih peduli pada burung-burung?

Juga pada penyair?

Kita lelah memeluk gelombang

Menerjang malam hanya untuk

Kesunyian yang asing—

Tapi orang-orang lelap

Mengubur dunianya sendiri

Hanya untuk berlari, mengejar kereta pagi

Atau berebut saling melewati

Untuk sampai pada segala benda-benda

Mereka tak mengerti omong kosong

Atau merayakan kesia-siaan, lantaran

Mereka tak punya impian apa pun

Kecuali gaji bulanan, yang segera berganti rupa

Menjadi hiburan atau kepandiran.”

 

O betapa pandir para penyair?

Mengira surga seperti taman paling sepi

Bagi hasrat yang berlari

 

O malam yang lain kembali

Seakan kita terjebak lagi

Dalam keterpisahan yang jauh

Kita duduk lagi, lalu berusaha

Menggambar kengerian

Kengerian yang rapuh

Kerapuhan yang halus

Seperti aroma kopi;

Lalu segala jadi sepi;

Seperti angin dingin kala subuh suci.

 

IX

 

Dari lembah-lembah Merapi dalam ingatanku

Kabut dan dingin;

Orang-orang bicara pada rumput dan ranting

Pada sepi dan anjing

Mereka bicara pada diri sendiri

Seakan Tuhan tengah

Menatap dari balik kabut, menjelmakan

Dingin dan juga sepi—

 

Tak ada lagu-lagu atau balada

Segala yang hidup, hidup dalam sunyi,

Cahaya mentari adalah waktu

Senja berwarna merah tomat

Adalah penanda musim bercinta

Bagi lelaki renta dan perempuan senja usia;

Keduanya duduk menghadap tungku

Api membakar; kayu membakar

Jiwa-jiwa terbakar

Mereka dalam batas-batas terdekat

Dari kehidupan dan juga kematian—

Cinta begitu dingin

Asmara alangkah hangatnya

 

Sementara gelap telah menjadi gelap

Aku menghisap sebatang rokok

Seketika menjadi seonggok dingin

Membeku, aku menjadi kabut menjadi dingin;

Aku mencari lembah di antara bayangan dadamu

Seketika seakan dingin dan api

Tiada berbeda, dalam dadaku

Kehilangan-kehilangan membakarku.

 

Aku telah berlalu dan tak pernah kembali lagi

Kabut dan dingin, tungku api dan rindu yang purba

Tarian debu dan ranting-ranting

Kesunyian di antara hutan jati dan

Sungai paling sunyi—kubawa serta

Kupikul di pundakku: seperuh kesedihan

separuh tarian paling ceria, seakan tida beda

Bagi hidup yang terus menjauh…

 

X

 

Di depanku kini segelas kopi

Atau tuak—

Setiap kali hanya membenamkan

Ingatan yang kureguk

Di antara lagu-lagu disko atau

Bunyi klakson yang menghancurkan

Setiap kesunyian—

Lagu-lagu tentang waktu

Yang tak bisa kumengerti

Aku duduk sendiri;

mencarimu dalam kabut di dadaku

Lalu kutemukan kau

Di antara waktu; kita duduk bersama

Di antara lampu-lampu yang kau sukai

Segelas air putih dan gelak tawa

Aku memastikan diri, bahwa

Kau akan juga mengajakku pulang

Sebab jika tidak aku akan lagi

Terpelanting dalam kabut dan dingin

Tertinggal sendiri—tersesat di antara

Belukar rasa bosan dan sungai-sungai

Yang hanya berupa bayangan:

 

Lelaki tua dan perempuan senja usia itu

Memandangku kembali dari kejauhan

Seperti bayangan-bayangan atau hanya ingatan;

“Setiap jiwa memendam lukanya;

Seorang memilih pergi, yang lain tinggal

Itulah kenapa kita menyalakan tungku

Sendiri-sendiri membakar kengerian

Sebab hanya dalam sunyi

Luka-luka menjadi kembang

Yang mekar dalam kabut dan dingin

Sisanya sepi…”

 

Kabut menelan hamparan cerita

Habis juga pandangku

Kunyalakan sebatang rokok

Meraih tanganmu yang dingin

Sepanjang jalan di Jakarta

Tak ada kabut dan dingin

Lalu kupandangi bola matamu

Aku tersesat lagi…

 

Sabiq Carebesth | Kalibata, 10-14 Juni 2016

 

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi Ahmad Radhitya Alam

mm

Published

on

PENA-PENA LITERA

 

Pena-pena menari di atas kanvas litera

dengan tinta yang terus menggulirkan asa

menyusun kata imaji, emosi jiwa

sambil mewarna dunia menuju senja perenungan

yang penuh dengan temaram angan

 

Doa-doa ritus terus berkumandang

menggantungkan asa pengharapan

menjadi lentera dari kekosongan

guna meraih jiwa-jiwa yang tenang

 

Menggapai sinar gemintang adalah tujuan kita

Seperti lentera yang terus membara

bakar semangat yang tak pernah padam

sebelum sauh pengharapan menghujam

menorehkan aksara jiwa

mencetak sastra semesta

 

Aksara adalah lentera

Dan buku adalah jendela dunia

Di situ kita akan mengarunginya

Bersama mendayung kata-kata

Menuju dermaga literasi

guna berbakti, berkarya

serta mengabdi di muka bumi

 

Blitar, 22 Februari 2017

 

DIORAMA PUISI

 

Puisi adalah bahasa jiwa

larik-larik kata imaji

yang berdesakan mencari arti

menebas segala ambigu dan persepsi

dari setiap kegamangan yang nyata adanya

 

Puisi adalah kejujuran

makna yang tak pernah berdusta

diantara kepicikan kata yang diumbar bebas

menari-nari bertebaran tanpa batas

 

Puisi juga adalah perempuan

menyimpan rahasia yang tak terpecahkan

sembunyi dibalik kata-kata yang menggoda

hingga hilang diantara rima-rima tak berpola

 

Dan puisi juga adalah kau

yang tanpa lelah melahirkan karya

dengan berbakti serta berarti

kepada negeri ibu pertiwi

 

Blitar, 28 Februari 2017

 

ULANG TAHUN

 

Telah kau lalu jutaan detik

waktu-waktu dari masa lampau

yang tak tersisa untuk kata sia-sia

telah kau isi dengan bakti, karya, dan arti

melukiskan pelangi kehidupan

dalam lingkaran pena

 

Telah berapa lama ku tunggu

Kuhabisi milyaran detik

Ditemani guguran rintik

Guna menunggu ulang tahunmu

 

Gapai tanganku

Kita langkah bersama

Kepakkan sayap-sayap indah

Dan semoga usiamu selalu berkah

 

Kita adalah sepasang merpati

putih bersih dan akan selalu berati

menapaki mimpi-mimpi pengharapan asa

untuk taklukan dunia

 

Blitar, 22 Februari 2017

 

TENTANG WANITA DYSANIA

 

Pagi ini langit begitu pekat

Menyiratkan kabut yang begitu rekat

Aku terbayang akan rona rupamu

Namun telah buta tentang namamu

 

Kau wanita dysania

Yang senantiasa berwatak degil

Rautmu tampak niskala

Pada fajar yang mencipta gigil

 

Rindu ini telah sasar pada keniscayaan

Tentangmu yang memberikan harapan

Perihal kasih dan impian cita

Sebab cinta bukan hanya soal nama

 

Gubuk Niskala, 2017

 

SEBUAH LUKA

 

Luka ini menganga

terbuka semakin nyata

menyiksa relung-relung jiwa

sampai hancur tak karuan, berkat janji

mimpi tinggi yang nian tak terealisasi

 

Janji-janji suci telah ternodai

Kebohongan publik, korupsi, bahkan politik dinasti

Telah menjamur di daerah yang tak terjamah

Oleh penguasa yang beratas nama kepala daerah

 

Sogok-menyogok menjadi satu

malih rupa kekuasaan berkarakter bebal

sambil menelikung amanah otda

bermain mata dengan sanak saudara

mencipta politik dinasti untuk memanipulasi

harapan rakyat yang telah lama pupus dan

nyaris hangus

 

Negeri Mimpi, 29 Maret 2017

 

RANTAU

 

Al, kenapa orang pada pergi ke kota

dengan alibi sembukan nestapa

Padahal dunia punya luka yang sama

Kaweron, 17 Juli 2017

SILAM TENGGELAM

Zam, kau boleh saja memaafkan

Tapi tidak untuk melupakan

Niskala, 2017

Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar, pada tanggal 2 Maret 2001. Siswa SMAN 1 Talun dan santri di PP Mambaul Hisan Kaweron. Penulis bergiat di FLP Blitar, Awalita, dan Teater Bara SMANTA untuk belajar menjadi pengecer jasa peran dan perakit kata.

Continue Reading

Literature

Kita yang kesepian takkan mengerti

mm

Published

on

Puisi Sederhana

Jika kita kalah malam ini penyairku

Sebelum anjing di langit melolong

Sebelum tikus-tikus merayakan rembulan

Dan kita terus gagal menjadi waktu

Kita harus tunduk dan bunuh diri

 

Puisi adalah detak jantung

Yang mempercepat malam

Menggiring kesunyian kita

Ke peraduan di mana kita

Menggambar cinta dengan penuh nafsu

 

Puisi adalah langkah kaki

Yang menuntun jiwa kita

Mengarungi lautan paling dalam

Di sana matanya

Membawa kita kembali

Ke meja-meja kopi

Kepada jendela-jendela hotel

Pada jalan-jalan berembun

Pada kereta terakhir

Yang tiba dari kejauhan subuh

Kepada sajak-sajak ngeri

Kepada nisan-nisan waktu

Di mana kita menemukan rindu

Di mana luka-luka jadi prasasti

Dengan taman bunga kehilangan

 

Di laut di laut penyairku

Di lautan dalam segelas kopi yang lalu

Kita mungkin menyerah sekali lagi..

Jakarta, 2017

 

Puisi Pendek

 

Ratapku bersama segelas kopi

Tentang malam yang hingar

Tentang nasib kita yang tambah sunyi

 

Dua dara dengan kaki selembut ombak

Duduk dalam kerapuhan

Ia sepertiku juga

Tak tahu ke mana hendak pulang

Selain menepi pada malam

Dengan lagu-lagu panjang

Tentang hari-hari kelu

 

Tapi siapa peduli

Kita hanya mahluk asing

Lelah pada zaman

Tapi kita tak lebih

Dari potret diri

Dalam hingar bingar

Mencari jalan pulang

Sementara kita tahu

Di rumah tak siapa menanti..

Jakarta, 2017

 

Penyair Zaman Kita

 

Para penyair kehilangan lagunya

Para penyair kehilangan bahasa

Para penyair terkapar

Di belantara malam

Di pintu-pintu pagi

Benar-benar tak berdaya

 

Penyair zaman kita

Benar-benar tak berdaya

Terkutuk oleh hayalannya sendiri

Tak tahu rasanya kebebasan

Menari dalam kesepian

Bercinta dengan bayangan

 

Penyair zaman kita

Menua dan sia-sia

Benar-benar tak berdaya

Siapa hendak dihiburnya

Setiap orang tenggelam

Dalam keterasingan sendiri-sendiri

Dan penyair tahu nasibnya

Di belantara malam

Dipintu-pintu pagi

Benar-benar tak berdaya

 

Kita adalah lelucon

Bagi zaman yang semu.

Jakarta, 2017

 

Puisi dan Penyairnya

 

Kita adalah tubuh masa silam

Telah menjadi kenangan

Seperti kereta tua melaju

Ke stasiun terakhir

Tak ke mana-mana lagi

 

Katakana padaku

Kenapa kau berhenti menulis puisi?

Kita mungkin kalah, tapi tidak puisi

Kita mungkin tak ke mana-mana lagi

Tapi puisi jarak abadi

Dan kita peziarah yang malang

 

Kau tahu di mana senja waktu itu istirah?

Di mata puisi !

Jakarta, 2017

 

Kita Adalah Jarak

 

Mataku terbenam di lautan

Dalam malam yang membosankan

 

Aku ingin menari aku ingin menunggang kuda

Betapa omong kosong telah begitu lama

Betapa larut untuk menyadari sia-sia

 

Orang-orang menderita

Orang-orang lupa

Waktu hanya catatan pendek

Dari halaman segala yang pergi

 

Kita memandang malam

Mendengar anjing melolong kesepian

Suara AC, tikus-tikus resah

Dan kita yang nyaris tak berdaya

 

Kita pendosa tanpa sebab

Kita menjadi bodoh ketika larut

Kita begitu kecil dan hampa

Kita seperti juga malam

Seperti sepi seperti ombak

Seperti laut—kita menelan

Kesunyian sendiri-sendiri

 

Kita harus terlahir setiap hari

Tapi kita hampa setiap hari

Kita mahluk fana setiap kali malam

 

Musik yang mengalun dalam jiwa

Datang dari penjuru kejauhan

Kita selalu dalam jarak

Kita dalam waktu yang berdenting

Menjadi bunyi, lagu, musik

Menjadi kenangan, hilang…

 

Kita sama dengan segala ketiadaan

Kita hanya meminjam cahaya

Untuk melihat setiap kegelapan

Kita meminjam keindahan

Untuk melihat segala hampa

Kita akan berhenti

Dan saat itu kerinduan menjadi nyawa

Kita kedinginan, seperti berdiri sendirian

Di hadapan lautan

Kita mungkin menyeberangi

Segala yang tak kita tahu di kejauhan

Kita mungkin terhempas

Dan tak satu benang pun

Menghubungkan kita dengan masa silam

 

Tak satu jiwa pun bebas dari hampa

Apa yang kita punya?

Jakarta, 2017

 

Kita yang kesepian takkan mengerti

 

Jubah malam merenggut hasrat

Membenamkan kita dalam tiada

Sekan kemarin tiada

Seakan esok tinggal hampa

 

Kita akan pergi juga

Menjauh dari segala

Entah kenapa kita tiada

Atau malam telah sia-sia

 

Para pecinta berhenti mabuk

Tapi tiada kuasa merenggut anggur

Dari bibir kekasihnya dahulu

Dan mawar yang ia tanam

Kini jadi belantara hampa

 

Siapa akan menemukan jalan

Dalam belantara

Mawar tumbuh merekah pada matahari

Kita yang kesepian takkan mengerti

 

Oh jiwa-jiwa hampa

Malam adalah lelucon paling ngilu

Tentang cinta yang tersesat

Malam adalah leucon paling ngilu

Hanya mungkin bagi mereka

Yang jiwanya penuh lara.

Jakarta, 2017

*SABIQ CAREBESTH: Lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Editor pada Halaman Kebudayaan “Galeri Buku Jakarta” (GBJ). Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Kumpulan sajak terbarunya “Seperti Para Penyair” (2017)

**Puisi ini sebelumnya terbit di Koran Media Indonesia (2017)

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending