Connect with us

Puisi

Sabiq Carebesth: Tentang cinta yang kehilangan bahasa

mm

Published

on

1

Terkadang cinta kehilangan bahasa
Maka ia berjalan dengan bisu
Terkadang cinta bukan lagi kata
Maka ia menghabiskan hari hari
Dengan berjalan menyusuri kota kota

Dari peron stasiun, melewati kesunyian
Terasing di pasar pasar masa silam
Membenam dan beku di lantai enam apartemen
Di antara gerimis yang ragu,

malam yang enggan, lautan yang membisu—
cinta enggan berhenti
Tapi kita telah kehabisan kata-kata.

 

2

Lalu pada malam yang rapuh
Kita bertanya tentang keindahan;
Tentang cinta yang kehilangan bahasa

Kita pergi dari kota ke kota
Stasiun, kafe kafe,
ruang tunggu bandara—
Lalu kita diam diam mengira,
Cinta seperti kanvas kosong;
Kita telah menuang semua warna;
Malam dan subuh; lelah dan terburu—
Dan kita sama tak tahu
Gambar apa yang kita kehendaki
Musim apa yang kita damba.

 

3

Lalu kita beringsut dari mimpi
Mendapati pagi yang basah oleh hujan
Taksi yang menunggu dalam sepi
Jalanan redup—
Kota yang tiba-tiba hampa
Seakan hanya kita yang terjaga
Hanya kesunyian menghampiri
Tapi kita pun tak sempat bercakap;
Kita harus pergi
Dengan cinta yang tetap tak kita pahami.

 

4

“Cinta adalah waktu yang ingin kita tempuhi
Meniti ujung jalan dan kota kota,
kafe kafe yang beku—
lampu lampu yang merona seperti pipimu,
Sebelum hujan melelapkan kita
dalam mimpi buruk—untuk berjalan sendirian;
Menziarahi kesunyian kota kota, hening kafe kafe,

lampu lampu jalan yang sedan,

jendela apartemen berwarna kabut—dengan cinta
Yang tetap tak kita pahami.”


Sabiq Carebesth, Hong Kong—2019

 

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Puisi Puisi Agust Gunadin

mm

Published

on

Getty Images/ my verson of a great painting by robert-burns

Juni Menggerutu Pada Memilih

Masih seperti yang model kemarin

Kisah tentang waktu yang menggerutu dibahumu

Yang ingin ditepiskan pada suatu masa

Bahwa kau ingin segera memilih

Pada tempat ingin dipijak, pada ruang yang ingin bersahabat

Dan pada masa yang tepat sasar

Aku dan kamu telah menamainya

Namun sedang merajut tentang suatu nama itu

Tentang “berkuliah”

Yang tepat sasar, kata seorang kakek dalam perutusan

Agar kau jangan asal pilih

Sebab memilih sebuah konsekuensi

Sekali pilih “itu sudah”

Cbl:Pau, Juni 09

 

Cukup Meringankan Saja

Jika senja sebelumnya, kami menikmati kelegahan

Namun, senja pada hari itu berubah semburat merah

Sebab ada pilihan yang tersengal

Tak kala pendidikan bisa terapung

Lantas, ada waktu untuk merenung

Bukan! Merenung lalu menikmati

Tetapi merenung karena kami terbirit meraih angan

Angan kami pun jelas!

Menutup lubang yang masih terbuka

Bagaimana kami ke sana

Jika pada kini dan di sini

Menganga dan tercengang, kata mereka ilmu itu mahal

Maka jelas dibayar mahal

Kami pun mulai lunglai, berpikir pun agak meradang

Tatkala ilmu yang ingin dicari

Tergeletak pada ekonomi kami yang masih terpuruk

Mengeluh adalah cara kami

Mungkin yang di seberang sana peduli

Agar kami tersenyum sumringah

Bahwa kami butuh pendidikan yang perlu diringankan

Gnd: San Camillo, Mei 2019

Dilema Sebuah Lilin

Sengaja kudekapkan dengan lilin, sebab ia seringkali indah pada cahaya

Dan hangat untuk asa

Kita yang ingin menjadi (maha….)

Sesekali bertumpu pada lilin

Yang memampukan untuk kehangatan

Yang membawa asa pada cahaya

Menerangi lorong yang masih gelap

Menghangat yang masih peluh

Mengata untuk mewakili yang bisu, sebab seringkali

Kita keenakan untuk menjadi bisu

Lantas, penerangan ditindis api kebisuan

Dan kehangatan ditimpas asa kelesuan

Yang ingin menjadi (maha…)

Menjadi duta untuk menuntaskan

Maumere, 0609: GND

__________

*) Agust Gunadin, Mahasiswa STFK Ledalero, Ketua Kelompok Sastra di Seminari Tinggi St. Kamilus-Maumere. Beberapa puisi pernah dimuat di Pos Kupang, Warta Flobamora, Majalah Simalaba-Lampung, Floresmuda.Com, Gita Sang Surya-OFM dan Media online.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Aditya Ardi N

mm

Published

on

mumu

 

petiklah bianglala di dada ibumu

sebelum bintang mati dan bulan berlayar menjauh

 

ciptakan langitmu sendiri

yang berbeda dari langit marah kota ini

dengan tembakan laser dan merkuri

⎼dikutuk tunduk pada polusi

 

menarilah, mumu

dengan keriangan sebagaimana mustinya

sebelum kau kenali kutukan hari-hari

seperti mahalnya harga susu formula untuk bayi,

dokumen penghilang ingatan

serta agenda kerja yang memangkas usia

 

teruslah tersenyum, mumu

sebab hanya dengan itu hidup yang keras bisa dikalah

hanya dengan tersenyum, mumu

dunia akan dipenuhi belas kasih

dan cahaya cinta yang acap terlupa umat manusia

 

dangdut koplo rapsodi

 

dangdut koplo adalah obat

bagi rakyat melarat

ia beri bunyi bagi sunyi

yang kekal mengendap di lokalisasi

 

di dolly, di dolly

ia nyatakan diri untuk pertama kali

sebuah susunan notasi

mengurapi seluruh pelacur dan mucikari

merasuki seluruh ranjang dan sprei

menggoyang larik-larik larut menuju pagi

 

meski waktu terkutuk kedaluwarsa membungkus dolly

di sini, di jambon gang sempit ini

dangdut koplo bakal abadi

mengorkestrasi kehampaan hari-hari

 

  madah bagi para biduanita orkes

 

/1/ arlida putri

tak hanya berdiam dalam mikrofon

suaramu debur ombak

yang tidur dalam pikiranku

sapuan angin yang kini bersarang

di hulu jantungku

 

o, betapa cantikmu serupa pisau

berkilat dan mengacung ke arahku

 

tanpa bedak—tanpa gincu

kupuisikan namamu

dalam bait sunyi sajak ini

 

/2/ niken yra

 

seluruh isi dadamu adalah puisi

yang tak henti aku bacai

 

o, biduan

kerling nakalmu,

merogoh dalam-dalam lipatan jiwaku

yang selalu ingin menari dan hanyut bersamamu

 

suaramu api yang menjilat-jilat kayu tubuhku

begitu kusaksikan kau bergoyang—berdendang

teror mengambang di puncak siang

terbakar habis aku jadi abu

 

/3/  tasya rosmala

 

gendang telingaku adalah penampung terbaik

bagi pertikel sendu basah suaramu

seluruh getarnya aku rasakan

ia beresonansi menembusi urat nadi

hingga terpicu detak jantung ini

 

lewat larik-larik  yang naif

kita lantas rajin bertemu

di panggung-panggung orkesan

di kaset vcd bajakan dan sesekali di televisi

kemudian begitu saja kau kuakrabi

 

biduan,

barangkali hanya dalam puisi ini

lagu dangdut koplo begitu berarti

dan tak bakal mati

 

penggemar orkes garis keras

 

setelah seliter arak beras tandas

segera kami bergegas

menyerbu gelanggang dangdut

dimana hati dan pikiran kami tertaut

 

kami datang dengan hati riang

meski hidup kian keras meradang

oleh tagihan dan himpitan hutang

seirama kendang kami bergoyang

seturut dendang segala sakit hilang

 

pantat bulat biduan dangdut

bikin kami melupa anak istri

membawa kami jauh terhanyut

menepi dari kutukan hari-hari

 

di altar panggung orkes ini

kami akan terus bejoged, terus berjoged

hingga kami dapati cara  menyiasati

hidup yang telanjur koplo ini

 

saweran

matamu goyah

di hadapan lima ribu rupiah

mengasingkanmu dari pengertian ibu dan ayah

 

cium tangan biduan

 

aku cium tanganmu

dan sedikit terangsang

dan tuhan tahu itu

dan aku malu

tapi mau

_________

*) Aditya Ardi N: Penyair, lahir di Ngoro – Jombang, Jawa Timur 7 Januari 1987. Buku  Puisi  tunggalnya Mobilisasi Warung Kopi  (2011), Mazmur dari Timur (2016) .  Beberapa  karya puisi dan esai dimuat di media online/cetak  lokal maupun nasional serta  beberapa jurnal kebudayaan. Kini tinggal dan berkarya  di  Jl. Musi no 137, RT 02/RW 02, Dusun Gresikan, Desa Ngoro, Kec Ngoro, Kab Jombang,    Jawa Timur  kodepos: 61473. HP 0812-3374-0285 IG: @mas_genjus

 

Continue Reading

Puisi

Puisi: Indonesia Dalam Seribu Luka

mm

Published

on

Indonesia Dalam Seribu Luka

Oleh : Najani Poetri

Selamat datang!
Semoga bertahan
Atau mari bergerak lakukan perlawanan
Kondisi sekarang sangat miris
Empati dan toleransi dalam masa kritis
Hati nurani makin terkikis
Kedamaian eratnya cinta antar bangsa mulai tercerai berai
Pondasi tulusnya kasih kian ringkih
Karena manusia sudah bertemu pamrih dan pilih-pilih
Seumat saja bisa saling menghujat
Bagaimana jika dengan yang tak segolongan?
Oh, tentu saja. Tak usah ditanya
Tentu lebih bahaya dan memilukan
Mereka semakin tertindas karena status minoritas
Ingin beribadah pun tak bebas
Untuk mendapat tempat kematian pun tak diizinkan
Alangkah lucunya negeriku
Jika tak suka, tak setuju, atau terganggu
Lantas menegurnya dengan kekerasan
Membunuhnya dengan hinaan kebencian
Bukankah agama mengajarkan hal-hal baik?
Apakah ada ajaran rohani yang mengajarkan caci maki?
Atau siksa keji hingga hilang jiwa manusiawi?
Apakah religiusitas itu menanamkan moral yang sungguh tak pantas?

Pertikaian,
Perselisihan,
Pendiskriminasian
Tak terhentikan
Seirama dengan derasnya arus perubahan
Yang membawa kita pada perpecahan
Perkembangan tekhnologi semakin pesat
Tapi laju kesadaran tersendat
Bagai kali-kali Jakarta yang dipenuhi ‘sampah’ dan bau menyengat
Modernisasi membuka portal dunia yang seolah tak lagi bersekat
Tapi keterbukaan pola pikiran justru terhambat
Bagai kemacetan yang menghiasi jalan-jalan di ibukota
Atau kota-kota elit lainnya
Apa yang tersisa dalam segala sesak ini?
Resah! Gerah! Lelah! Amarah yang tumpah ruah

Keadilan tak lagi dalam jalur kenetralan
Hukum begitu mudah diperjualbelikan
Selama punya beribu hektar harta
Terbebaslah kau dari jeruji penjara
Atau selama punya status sosial yang ‘istimewa’
Terlindungilah kau dari ketukan palu pengadilan
Hebat bukan cara penggunaan uang di masa sekarang?
Para kapitalis makin bengis
Menyiksa kemiskinan dengan cara-caranya yang lebih kejam dari pembunuhan sadis

Para pemain dari lihainya panggung politik
Tanpa letih berkompetisi meraup simpati
Begitu licik namun diracik sedemikian apik
Sangat picik namun tertutupi topeng cantik
Begitulah manusia
Jika sudah dibelenggu nafsu menggebu
Segala cara dilakukan demi meraih kursi kekuasaan
Atau menjaga singgasana agar tak berganti kepemilikan
Agama semakin disalahgunakan
Dogma-dogma dijadikan senjata
Memusnahkan musuh dengan berbagai kisruh
Menyerang yang ‘tak sama’
Dengan teror yang melumpuhkan keberanian
Untuk bisa bebas bernafas
Harus tunduk dan patuh!

Lihat! Situasi makin memprihatikan
Kebudayaan asli tak lagi asri
Yang tersisa hanya mulut-mulut beracun mematikan dengan segala sumpah serapah
Yang terus meluap adalah sampah-sampah berwujud manusia yang tak jua jengah berlaku serakah
Padahal harta dan kemewahan sudah berlimpah
Sungguh! Kekufuran membawa manusia dalam serba kekurangan

Betapa bumi pertiwi semakin dekat dengan kehancuran
Ketentraman menjelma bagai omong kosong belaka
Kepedulian digerus apatis
Kebaikan diiris jiwa skeptis
Ah, sungguh rindu aku pada suasana dulu
Indahnya multikultural menjadikan negeriku kaya keberagaman
Kini menjadi krusial yang mengancam keselamatan
Ah, tidakkah mereka sadar bahwa
Kemajemukan di sini adalah harta yang begitu berharga
Tak tergantikan dengan kecanggihan apa pun yang dibuat negara adidaya

Sungguh ini perubahan yang menyakitkan
Semakin mundur kita dari peradaban
Semakin sulit mencapai kemajuan
Semakin jauh dalam ketertinggalan
Jangankan untuk menggapai selangkah perkembangan
Untuk menjaga pertahanan kesatuan saja
Nampaknya begitu susah
Pondasi kian goyah
Sebagian kekuatan mulai rapuh
Mendekati runtuh
Sebab cinta antar sesama tak lagi utuh
Belas kasih dibantai belati keegoisan
Kegetiran pekatnya nurani yang mati
Menjelma kehidupan yang tak lagi berarti
Semboyan Bhineka Tunggal Ika
Ideologi Pancasila
Merah putih warna dari bendera yang kita punya
Tak lagi memiliki makna
Indonesia kini
Menyisakan kesedihan yang tak terperi
Menyisakan kepedihan yang tak kunjung pulih
Indonesiaku dalam seribu luka
Seribu duka dan derita
Air mata yang tak kunjung reda
Indonesiaku dalam lorong kegelapan
Dalam seribu luka yang tak menemui kesembuhan.

____

*) Najani Poetri, perempuan berdarah Sunda yang lahir dan dibesarkan di Jakarta 20 tahun lalu. Menyukai kegiatan membaca sejak kali pertama memasuki sekolah melalui perkenalannya dengan cerita-cerita dongeng, puisi dan cerpen dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia. Mulai aktif menggeluti dunia tulis-menulis sejak tahun 2015. Tulisan-tulisannya dapat ditemui melalui laman blog di sini : https://mengukirkanaksara.wordpress.com/ dan di salah satu akun media sosialnya di https://www.instagram.com/mengukirkanaksara/ .

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending