Connect with us

Inspirasi

Riwayat Kepengarangan Ahmad Tohari

mm

Published

on

Nama Ahmad Tohari baru muncul setelah pertengahan tahun 1970-an. Mula-mula hanya dikenal lewat sebuah cerpen yang memenangkan penghargaan Kincir Emas dari Radio Hilversum, Belanda. Kemudian naskah novelnya mendapatkan rekomendasi untuk diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Juga sebuah novelnya memenangkan salah satu nomor dalam sayembara yang serupa.

Munculnya nama baru dalam sastra Indonesia lewat sayembara DKJ rupanya merupakan gejala baru dalam periode 1970-an ini. Sayembara semacam itu memang banyak diikuti oleh para pendatang baru. Dan meskipun bukan keluar sebagai pemenang utama, asal di deretan pemenang, atau direkomendasikan buat diterbitkan tanpa nomor, biasanya karyanya cepat mengorbit. Dan itu merupakan dorongan yang baik bagi pengarang. Ia tinggal meneruskan dengan karya-karyanya yang lain. Sayembara roman DKJ adalah pintu gerbang memasuki sastra Indonesia.

Ahmad Tohari adalah contoh dari sastrawan hasil sayembara demikian itu. Riwayat munculnya tak lepas dari beberapa sayembara demikian itu. Dimulai dengan Kincir Emas dan berakhir di DKJ.

Ahmat Tohari adalah kelahiran Banyumas 13 Juni 1948. Menulis sejak SMA dan kini bekerja sebagai wartawan sebuah majalah. Novelnya yang pertama adalah Kubah dan disusul kemudian dengan Di Kaki Bukit Cibalak serta Ronggeng Dukuh Paruk yang keduanya pernah dimuat secara bersambung dalam surat kabar Kompas.

Rupanya pengarang muda yang baru muncul ini menjawab stimulasi sayembaranya. Ia aktif menulis dan punya bobot. Ini merupakan harapan. Pengambilan tema yang bermacam ragam selama ini setidak-tidaknya ia tidak “mabuk” pada hasil sebelumnya. Ia tidak jatuh ke dalam arus penulisan novel populer.

Namun pembentukannya sebagai seorang sastrawan masih harus dibuktikan dengan karya-karyanya yang lain. Sayang bahwa kedua novelnya yang telah pernah dimuat secara bersambung itu belum dibukukan.

Kubah

Pada karya pertama biasanya terlihat kekuatan-kekuatan seorang pemula. Dan pada Tohari tanda-tanda itu juga nampak. Ia memiliki “sesuatu” yang bisa dikembangkan. Sikapnya yang sederhana dalam mengolah materi ceritanya dan kedalaman serta kesungguhannya dalam menilai kehidupan ini merupakan salah satu yang pantas dipelihara dan dikembangkan.

Tidak nampak adanya sikap “aneh-aneh” pada karyanya yang pertama ini. Ia lugu berkisah, apa adanya, bahkan juga tanpa kembang kata-kata. Hanya usahanya untuk menggali lebih dalam materi kisahnya kurang dijalankan. Novelnya ini nampak terlalu tergesa-gesa ditulis. Untuk materi cerita yang penuh dengan pergolakan emosi dan krisis yang diramu oleh sebuah peristiwa sosial besar semacam G-30-S rasanya buku ini terlalu kecil takarannya. Untuk mengabadikan sebuah peristiwa besar dalam ukuran Keluarga Gerilya. Namun untuk seorang pendatang baru harapan yang demikian agak terlalu berlebihan. Untuk mencapai taraf itu saya kira diperlukan suatu usaha besar-besaran di pihak pengarangnya, menilik karyanya yang sekarang ini.

Kubah menceritakan pembebasan Karman dari tahanan selama 12 tahun di pulau B. Ia ragu-ragu untuk pulang. Sebab tak ada keluarga yang ditujunya. Ia memang punya isteri yang manis dan anak-anak yang dilahirkannya, tetapi itu semua bukan lagi miliknya. Isterinya telah kawin lagi. Dan setelah akhirnya Karman sampai di rumah kakaknya diketahuilah bahwa ia disambut secara ramah oleh penduduk dan tetangganya, bahkan juga salah seorang anaknya dan keluarganya sendiri. Bahkan ia menyaksikan anak gadisnya menikah dengan pemuda yang berasal dari keluarga berpengaruh di desanya, Haji Bakir.

Tanda dari penerimaan yang tulus ikhlas dari penduduk desa ini adalah kepercayaan yang diberikan pada Karman untuk membangun kubah mesjid desanya. Ini lambang dan sekaligus kenyataan sosial yang berarti Karman bekas tahanan politik PKI itu telah diterima kembali oleh masyarakatnya.

Tetapi lebih dari separoh buku ini justru mengisahkan secara sorot balik riwayat Karman mengapa ia sampai menjadi tahanan politik. Semula Karman adalah pemuda desa yang rajin sembahyang, bahkan hampir kawin dengan anak Haji Bakir sendiri. Tetapi kesulitan mencari pekerjaan menyebabkan ia jatuh ke tangan agen-agen partai komunis untuk dibina masuk partai. Karman diberi pekerjaan yang baik dan kegagalannya mencintai gadis anak haji Bakir diganti oleh “orang-orang partai” dengan menyodorkan gadis Marni yang kelak jadi isterinya dan melahirkan tiga orang anaknya. Setelah menjadi orang partai (Karman masuk Partindo) Karman harus menerima kenyataan pula ketika partai komunis gagal dalam melakukan kudetanya. Ia diburu-buru. Ia tinggalkan keluarganya dan bersembunyi di sebuah kuburan lebih dari satu bulan. Hanya karena ia sakit perut terpaksa keluar dari sarangnya dan akhirnya ditangkap penduduk. . . .

Nampaknya kisah ini berdasarkan kisah nyata. Artinya ada riwayat yang demikian yang didengar oleh pengarangnya. Kejadian-kejadian yang dipaparkan di dalamnya benar-benar jelas dan teliti. Posisi masing-masing tokoh begitu teguh seperti sebuah biografi. Ada banyak tokoh yang bermain di dalamnya. Hanya sayang pengarang tidak berhasil mengolahnya secara luas. Peristiwa-peristiwa yang kuat kedudukannya dalam cerita, setting cerita yang sangat jelas dan amat dikenal oleh pengarangnya menunjukkan bahwa cerita ini bukan hanya sekedar fiksi mentah belaka. Ada sumber kejadiannya yang dengan sendirinya tak perlu persis seperti kejadian sebenarnya.

Tema utama novel ini adalah kesadaran kembalinya seorang muslim ke dalam agama dan masyarakatnya. Tobat yang penuh dan bersih. Tetapi tema ini seperti saya katakan kurang dikerjakan secara luas. Pengarang hanya terpikat pada plotnya yang memang bagus.

Bagaimana Karman yang ditahan begitu lama di pulau B dapat begitu saja bertobat 100%. Meskipun dalam kenyataan kehidupan kejadian semacam itu ada, tetapi tak cukup hanya dikisahkan belaka. Yang penting pengarang bisa meyakinkan pembaca bahwa kejadi semacam itu secara logis bisa terjadi. Dan pembuktian inilah yang rasanya tak tergarap. Juga jatuhnya Karman ke kelompok orang –orang partai seperti Margo dan Triman kurang mendapat penerangan yang cukup baik. Meskipun pengarang berhasil menuturkan sistimatika komunuis dalam menggarap kader-kadernya, tetapi pergolakan batin Karman sendiri kurang digarap. Bagaimana seorang muslim yang taat, meskipun masih sangat muda yakni berusia sekitar 20 tahun, tiba-tiba bisa beralih pada faham Marxis. Ini tentnya soal pergolakan batin. Dala roman Atheis gejala ini dengan baik sekali dikupas secara panjang lebar. Kita memahami emngapa si tokoh yang santri bisa berubah menjadi seorang atheis. Tetapi pada Kubah penekanan semacam itu tak hadir. Yang ditonjolkan justru taktik orang partai bagaimana menggarap seorang calon korban.

Taktik ini bisa mempan bagi seseorang tetapi juga tidak mempan bagi orang lain. Tetapi rupanya pengarang percaya bahwa pendekatan seperti itu bisa berhasil bagi tiap orang. Alasan memang cukup kuat: Karman masih muda, habis putus cinta dan dendam pada ulama bekas mertuanya yang tak jadi, dan berhutang budi pada partai. Namun pengingkaran Karman yng semula rajin sembahyang dan kini belot kurang terjelaskan secara psikologis.

Yang menonjol dari novel ini adalah nilai informasinya. Kita diberi banyak keterangan “tangan pertama” tentang tragedy G-30-S di desa-desa. Bagaimana orang-orang PKI diciduk dan dihabisi oleh rakyat dan bagaimana mayat banyak dibuang di sungai-sungai. Bagian tentang pengejaran Karman merupakan bagian yang amat bagus dan menegangkan dalam novel ini.

Juga “kearifan” pengarang muda ini dalam menilai kejadian kemanusiaan di dalam ceritanya cukup matang. Tak ada kesan bahwa pengarang ada semangat menggurui atau sok pamer filsuf. Semua aporisma kebijaksanaan muncul begitu wajar dan sederhana seperti layaknya terjadi pada pengarang-pengarang besar.

Saya kira ketekunan dan kesabaran mengolah materi kisah akan mampu mengangkat karyanya ini menjadi karya yang cukup berarti dari jenisnya. Sayang novel ini terlalu pendek dan singkat untuk sebuah tragedy di keluarga yang cukup hebat. Bagaimana seorang suami ditinggalkan oleh isterinya yang setia dan masih dicintai, bagaimana hancur seorang suami mendapatkan bekas isterinya dan bekas anak-anaknya yang masih dirindukannya, bagaimana sebuah jiwa menjadi begitu bersih diterima oleh lingkungan yang dahulu hampir membinasakannya dan sebagainya. Itu semua bisa menggoncangkan jiwa besar bagaimana pun. Dan kejadian-kejadian semacam itu akan mampu melahirkan karya-karya yang monumental pula. (GBJ)

Inspirasi

Joyce Cary: Dari Mana Datangnya Ide Menulis?

mm

Published

on

Seringkali aku tidak mengetahui asal mulanya. Belakangan aku mempunyai pengalaman aneh yang memberiku pandangan sekilas atas prosesnya, sesuatu yang tak pernah kusangka.

Aku sedang berkeliling Manhattan menaiki kapal uap dengan seorang teman dari Amerika, Elizabeth Lawrence dari majalah Harper. Dan aku menyadari seorang gadis duduk sendirian di ujung lain geladak-seorang gadis berusia kira-kira tiga puluh tahun, mengenakan rok yang lusuh. Dia sedang menikmati kesendiriannya. Sebuah ekspresi yang bagus, dengan dahi yang berkerut, kerutan yang banyak sekali. Aku mengatakan pada temanku, “Aku dapat menulis tentang gadis itu—menurutmu dia itu siapa?”

Elizabeth mengatakan bahwa mungkin saja gadis itu seorang guru yang sedang berlibur, dan menanyakanku mengapa aku ingin menulis tentang gadis itu. Aku menjawab sebenarnya aku tak tahu-aku membayangkan gadis itu seorang yang peka dan cerdas, dan mengalami kesulitan karenanya. Mempunyai hidup yang sulit tetapi juga menghasilkan sesuatu darinya. Pada saat-saat seperti itu aku sering membuat catatan. Tapi aku tidak melakukannya—dan aku melupakan seluruh peristiwa itu.

Lalu, kira-kira tiga minggu setelah itu, di San Fransisco, aku bangun di tengah malam, kupikir, dengan sebuah cerita dikepalaku. Aku membuat uraian ceritanya saat itu juga—cerita itu tentang seorang gadis Inggris di negerinya—sebuah dongeng Inggris murni. Hari berikutnya sebuah pertemuan dibatalkan dan aku memiliki sehari penuh yang kosong.

Aku menemukan catatanku dan menuliskan ceritanya-itu adalah peristiwa-peristiwa utama dan sejumlah garis penghubung. Beberapa hari kemudian, di dalam pesawat-waktu yang ideal untuk menulis-aku mulai mengerjakannya, merapikannya, dan aku berpikir, ada apa dengan kerutan-kerutan di wajah itu, itu ketiga kalinya mereka muncul. Dan aku tiba-tiba tersadar bahwa pahlawan Inggrisku adalah gadis di atas kapal Manhattan. Entah bagaimana dia masuk ke dalam alam bawah sadarku, dan muncul kembali dengan sebuah cerita yang utuh.

*) Joyce Cary: Novelis Irlandia

Continue Reading

Inspirasi

Jhon Barth: Bagaimana Saya memulai Menuils?

mm

Published

on

Buku yang berbeda dimulai dengan cara-cara yang berbeda. Aku terkadang berharap bahwa aku semacam penulis yang memulai dengan ketertarikan yang bergairah dengan sesosok karakter dan kemudian, sebagaimana kudengar penulis-penulis lain mengatakan, berikan saja karakter itu sedikit ruang dan lihat apa yang ingin dia lakukan.

Aku bukan penulis semacam itu. Lebih sering aku memulai dengan sebuah bentuk atau wujud, bisa jadi sebuah gambar. Perahu yang mengambang, sebagai contoh, yang menjadi tokoh sentral dalam The Floating Opera, merupakan photo dari sebuah kapal pertunjukkan sesungguhnya yang aku ingat pernah melihatnya saat masih kecil. Namanya ternyata Captain Adams’ Original Unparalleled Floating Opera, dan ketika alam, dengan cara yang tak menyenangkan, menghadiahimu gambar itu, satu-satunya hal mulia yang harus dilakukan adalah menulis sebuah novel tentangnya.

Ini mungkin bukan pendekatan yang paling mulia. Aleksandr Solzhenitsyb, sebagai contoh, hadir dalam media fiksi dengan sebuah tujuan moral yang tinggi; dia ingin, dunia literatur, mencoba untuk mengubah dunia melalui media seperti novel. Aku menghormati dan mengagumi maksud itu, tetapi seringnya seorang penulis besar akan menuliskan novelnya dengan tujuan yang tidak lebih mulia dibandingkan dengan upaya mengecilkan pemerintahan Soviet.

Henry James ingin menulis sebuah buku dalam bentuk sebuah jam pasir. Flaubert ingin menulis sebuah novel tentang nothing. Apa yang kupelajari adalah bahwa keputusan dari inspirasi-inspirasi untuk bernyanyi atau tidak bukan didasarkan pada keluhuran dari tujuan moralmu—mereka akan menyanyi atau tidak, apapun keadaannya.

*) John Barth: Penulis Amerika, dikenal dengan karyanya  “Postmodernist” dan “Metafictional”. 

Continue Reading

Inspirasi

John Ashbery: Menulis Berarti Mengikuti Pergerakan Ide-Ide

mm

Published

on

“Sebenarnya, seringkali saat merevisi; aku akan menghilangkan ide yang merupakan penggagas awalnya. Kukira aku lebih tertarik pada pergerakan di antara ide-ide daripada ide-ide itu sendiri, cara sebuah ide bergerak dari satu titik ke titik yang lain ketimbang tujuannya atau asal mulanya”.

Sebuah ide bisa saja datang padaku, sesuatu yang sangat banal—sebagai contoh, tidakkah aneh rasanya untuk dapat berbicara dan berpikir pada saat yang sama? Itu bisa menjadi ide untuk sebuah puisi. Atau bisa saja kata-kata atau frasa-frasa tertentu menarik perhatianku dengan sebuah makna yang tidak kusadari sebelumnya. Begitu juga, aku sering menyimpan sesuatu yang kudengar orang lain ucapkan, di jalan misalnya.

Sebenarnya, ada sebuah contoh soal itu; di sebuah toko buku aku tak sengaja mendengar seorang bocah laki-laki mengatakan baris terakhir ini pada seorang gadis: “It might give us– what? – some flower soon?”. Aku tidak tahu apa konteksnya, tapi secara tak terduga itu terasa seperti jalan untuk menutup sajakku.

Aku seorang yang yakin pada kebetulan-kebetulan yang tak disengaja. Penutup sajakku yang berjudul “Clepsydra,” dua baris terakhir, datang dari sebuah buku catatan yang kusimpan beberapa tahun sebelumnya, selama kunjungan pertamaku ke Italia. Sesungguhnya aku menulis beberapa sajak selama aku bepergian, yang mana tak biasa kulakukan, tetapi saat itu aku sangat bersemangat atas kunjungan pertamaku disana. Hingga beberapa tahun kemudian, ketika aku sedang berusaha menutup “Clepsydra” dan merasa sangat gugup, aku tiba-tiba saja membuka buku catatan itu dan mememukan kedua baris itu yang telah benar-benar kulupakan; “while morning is still and before the body/ Is changed by the faces of evening.”

Mereka benar-benar apa yang kubutuhkan saat itu. Tapi tak teralu penting seperti apa contoh tunggal ini. Seringkali aku akan mencatat ide-ide dan frasa-frasa, dan kemudian ketika aku siap untuk menulis aku tidak dapat menemukannya. Tapi itu pun tak membuat banyak perbedaan, karena apapun yang muncul pada saat itu akan memiliki kualitas yang sama. Apapun yang ada disana dapat tergantikan. Sebenarnya, seringkali saat merevisi aku akan menghilangkan ide yang merupakan penggagas awalnya. Kukira aku lebih tertarik pada pergerakan di antara ide-ide daripada ide-ide itu sendiri, cara sebuah ide bergerak dari satu titik ke titik yang lain ketimbang tujuannya atau asal mulanya.

*) John Ashbery: Penyair Amerika, meraih hadiah Pulitzer Prize pada 1976

Continue Reading

Classic Prose

Trending