Connect with us

Classic Poetry

Rendra Sajak Sepatu Tua dan Lautan

mm

Published

on

MANCURIA

Di padang-padang yang luas

Kuda-kuda liar berpacu

Rindu dan tuju selalu berpacu.

 

Di rumput-rumput yang tinggi

Angin menggosokkan punggungnya yang gatal.

Di padang yang luas aku ditantang.

 

Hujan turun di atas padang

Wahai, badai dan hujan di atas padang!

 

Dan di cakrawala, di dalam hujan

Kulihat diriku yang dulu hilang.

 

LAUTAN

Daratan adalah rumah kita

Dan lautan adalah kebebasan.

Langit telah bersatu dengan samudera

Dalam jiwa dan dalam warna

 

Ke segenap arah

Berlaksa-laksa hasta

Di atas dan di bawah

Membentang warna biru muda.

Tanpa angin mentari terpancang

Bagai kancing dari tembaga.

 

Tiga buah awan yang kecil dan jauh

Berlayar di langit dan di air

Bersama dua kapal layar

Bagai sepasang burung camar

Dari arah yang berbeda.

Sedang lautan memandang saja.

Lautan memandang saja.

 

Di hadapan wajah lautan

Nampak diriku yang pendusta.

 

Di sini semua harus telanjang

Bagai ikan di lautan

Dan burung di udara.

Tak usah bersuara!

Janganlah bersuara !

Suara dan kata terasa dena.

 

Daratan adalah rumah kita,

Dan lautan adalah rahasia.

 

SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTRINYA

Aku tulis sajak ini

Untuk menghibur hatimu.

Sementara kukenangkan encokmu

Kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang.

Dan juga masa depan kita

Yang hampir rampung

Dan dengan lega akan kita lunaskan.

 

Kita tidaklah sendiri

Dan terasing dengan nasiib kita.

Karena soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.

Suka dan duka kita bukanlah istimewa

Karena setiap orang mengalaminya.

 

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh

Hidup adalah untuk mengolah hidup

Bekerja membalik tanah

Memasuki rahasia langit dan samudera

Serta mencipta dan mengukir dunia

Kita menyandang tugas,

Karena tugas adalah tugas

Bukannya demi surga atau neraka

Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

 

Karena sesungguhnyalah kita bukan debu

Meski kita telah reyot, tua renta, dan kelabu.

Kita adalah kepribadian

Dan harga kita adalah kehormatan kita

Tolehlah lagi ke belakang

Ke masa silam yang

Tak seorang pun kuasa menghapusnya.

 

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna

Sembilan puluh tahun yang  dibelai nafas kita

Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit

Melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda

Dan kenangkan lah pula

Bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa

Menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

 

Kita tersenyum bukanlah karena bersandiwara

Bukan karena senyuman adalah suatu kedok

Tetapi karena senyuman adalah suatu sikap

Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,

Nasib dan kahidupan.

 

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna !

Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma

Kita menjadi goyah dan bongkok

Karena usia nampaknya lebih kuat dari kita

Tapi bukan karena kita terkalahkan.

 

Aku tulis sajak ini

Untuk menghibur hatimu

Sementara kau kenangkan encokmu

Kenangkanlah pula

Bahwa kita ditantang serratus dewa.

 

*) Rendra, penyair dan dramwan terkemuka ini dilahirkan di Solo, 7 November 1935. Mula-mula ia bernama Willibrodus Surendra Broto, namun setelah masuk Islam namanya menjadi Wahyu Sulaiman Rendra. Sajak-sajak dalam bukunya “Sajak-Sajak Sepatu Tua” ini merupakan sajak-sajak dalam masa paling intens dan produktif kepenyairan sang Burung Merak.

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Georg Trakl

mm

Published

on

Musim Gugur Yang Cerah

Begitu akhir tahun; penuh megah.

Bertanggar kencana dan buahan ditaman

Sekitar, ya aneh, membisu rimba.

Yang bagi orang sepi menjadi taman.

Lalu petani berkata: nah, sukur.

Kau bermain dengan senja Panjang dan pelan

Masih menghibur dibunyi terakhir

Burung-burung di tengah perjalanan.

 

Inilah saat cinta yang mungil

Berperahu melayari sungi biru

Indahnya gambaran silih berganti

Semua ditelah istirah membisu.

 

*) Georg Trakl (3 February 1887 – 3 November 1914) Penyair Austria.  Salah satu penyair liris terpenting berbahasa Jerman di abad 21. Ia tak banyak menulis karena meninggal. Overdosis kokain menjadi penyebabnya. | Editorial Team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Rainer Maria Rilke

mm

Published

on

Hari Musim Gugur

Tuhan: sampai waktu. Musim panas begitu megah.

Lindungkan bayanganmu pada jarum hari

Dan atas padang anginmu lepaslah.

 

Titahkan buahan penghabisan biar matang:

Beri padanya dua hari dari selatan lagi

Desakkan mereka kemurnian dan baru jadi

Gulang penghabisan dalam anggur yang garang.

 

Yang kini tidak berumah, tidak kan menegak tiang.

Yang kini sendiri, akan lama tinggal sendiri.

Kan berjaga, membaca, menyurat Panjang sekali

Dan akan pulang kembali melewati gang

Berjalan gelisah, jika dedaunan mengalun pergi.

 

Musim Gugur

Dedaunan berguguran bagai dari kejauhan,

Seakan di langit berlajuan taman-taman nun jauh;

Gerak-geriknya menampikkan tak rela jatuh.

 

Dan dalam gulingan malam dunia berat—jatuh

Lepas dari galau gemintang masuk kesunyian.

 

Kita semua jatuh. Ini tangan bergulingan

Dan padang Akumu itu: tak satu pun luput!

Betapa pun, ada orang yang sambut

Maha lembut ini jatuh di lengan kasihan.

 

Lagu Asmara

Betapa beta  akan tahan jiwaku, supaya

Jangan meresah dikau? Betapa nanti ia

Kuntandai lintas dirimu ke benda lain?

Ah, aku ingin, semoga dapat ia kupisah

Ke dekat suatu sungai di tengah kegelapan

Disuatu tempat, sepi dan asing, nan tidaklah

Lanjut berdesing, bila kalbumu berdesingan.

Tapi semua yang menyentuh kita, kau dan aku,

Bagai penggesek menyatukan; kau dan aku.

 

Menarik bunyi tunggal dari sepasang tali

Pada bunyian mana kita ini terpasang

Dan ditangan pemain mana kita terpegang?

Wahai lagu berseri.

 

Dari buku ketika

Kau hari nanti, nyala pagi berkilau

Yang mencerah ranah keabadian

Kau kokok ayam disubuh akhir zaman

Embun, misa pagi dan perawan

Orang asing, sang ibu dan maut.

 

Kaulah sosok yang berubah-ubah

Yang menjulang dari nasib, selalu sepi

Yang tinggal tak dipuji dan tak diwelasi

Dan belum dipetakan bagai rimbaraya

 

 

Kau hakikat benda yang dalam nian

Yang menyimpan kata-kata wujudnya

Dan bagi yang lain selalu lain menyata;

Dipantai bagai kapal, di kapal; daratan.

 

*) Rainer Maria Rilke (1875-1926): ia kelahiran Praha, Ceko.Dianggap penyair bahasa Jerman terbesar dari abad 20. Karyanya yang terkenal antara lain Sonnets to Orpheus, Duino Elegies, Letters to a Young Poet, dan The Notebooks of Malte Laurids Brigge. | Editorial Team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Friedrich Nietzsche

mm

Published

on

Eco homo (lihat, manusia)

 

Ya! Aku tahu asalku dimana

Tak terpuaskan, nyala laiknya

Aku membubus menelan diri

Terang jadinya segala kupegang

Sisa kutinggal; semua arang

Memang nyala hakikat diri.

 

Mentari Silam

 

Hari hidupku!

Mentari silam.

Sepuh emas meliputi laut yang rata

Bukit batu panas bernafas; istanakah di atasnya:

Bahagia, dalam nikmat tidur petangnya?

Dalam cahaya hijau

Masih main-main

Bahagia mendaki jurang nan jingga.

 

Hari hidupku !

Senja telah dibatas

Telah hampir padam nyala matamu

Telah mulai turun rinai tangis embunmu

Telah merata di laut putih;

Merahmu mesra,

Nikmat bimbangmu yang penghabisan….

 

Dilamun Sepi

 

Gagak-gagak riuh

Berisik terbang menuju kota

Sebentar… salju turun—

Bahagia orang, yang kini masih—ada kampungnya!

 

Kini kau kelu

Menoleh, ah, sekian lamanya!

Yang lari kedunia sebelum waktunya!

 

 

Duna—gerbang

Keribuan gurun dingin dan bisu

Jang kehilangan,

Bagai kau kehilangan, tak kunjung lesu.

 

Kini kau lagut

Ternasib kelana dimusim dingin

Ya—asap, tak henti

Mencaari langit-langit lebih dingin

 

Terbanglah burung

Kumandangkan lagu ala burung gurunmu!

Sembunyikan, anakku

Dalam es dan cerita, hatimu yang luka.

 

Gagak-gagak riuh.

Berisik terbang menuju kota:

Sebentar… salju turun—

Celaka orang, yang tiada kampugnya.

 

*) Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900), selain penyar adalah seorang filsuf Jerman dan seorang ahli ilmu filologi yang meneliti teks-teks kuno, filsuf, kritikus budaya, dan juga komposer. | editorial team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Prose

Trending