Connect with us

Essay

Relasi Perempuan dan Laki-Laki dalam Film Posesif

mm

Published

on

Adipati Dolken dan Putri Marino terbilang apik dalam memerankan karakter dalam film Posesif. Keduanya dipasangkan sebagai kekasih yang menjalani roman percintaan pada masa putih abu-abu. Adipati didapuk menjadi tokoh Yudhis Ibrahim, sedangkan Putri bermain sebagai Lala Anindita. Cinta yang terbangun antara Yudhis dan Lala bukan semata-mata cinta monyet anak SMA. Bumbu-bumbu relasi gender terbingkai dalam cerita yang berlatar di kota metropolitan, Jakarta. Setting waktu yang diambil menggambarkan zaman sekarang. Bisa dikatakan film ini adalah cerminan kejadian pada era kids zaman now.

Lala dikisahkan baru saja memenangkan penghargaan dalam Pekan Olahraga Nasional mewakili provinsi DKI Jakarta. Ia merupakan atlet lompat indah yang membanggakan. Yudhis sendiri merupakan murid baru di sekolah Lala. Pertemuan Lala dan Yudhis dimulai di lorong sekolah. Alur cerita di babak awal masih mudah ditebak. Lala dan Yudhis terjebak dalam hubungan pacaran anak remaja. Fase ini adalah pengalaman pacaran pertama kali bagi Lala.

Rupanya, film ini tidak mengumbar cinta menye-menye yang penuh drama kegalauan layaknya tren dalam ftv. Cinta yang dialami tokoh utama dalam film ini menemukan liku yang menantang. Penulis naskah piawai membawa penonton untuk merasa dekat dengan problem yang dihadapi Lala dan Yudhis. Isu yang diangkat sarat dengan fenomena yang memang lumrah dijumpai di masyarakat, yakni ketimpangan gender.

Yudhis pelan-pelan mulai menampakkan tabiat aslinya. Ia adalah sosok cowok yang sangat khawatir terhadap pasangannya. Kekhawatirannya tersebut sudah dalam tahap berlebihan. Statusnya yang masih dalam tahap pacar, sudah berani melarang-larang Lala untuk menghentikan aktivitas latihan lompat indah. Padahal, menekuni lompat indah merupakan cita-cita yang didamba dan dielu-elukan di keluarga Lala. Lala menuruti permintaan Yudhis, karena ia terpanggil menjadi atlet bukan dari kehendak hati.

Ketika Lala sudah meninggalkan atribut atletnya demi menemani Yudhis, perangai Yudhis justru semakin memburuk. Temperamen Yudhis yang kasar semakin membuat jalinan asmara yang dijalaninya bersama Lala menjadi tidak sehat. Yudhis hanya menginginkan Lala selalu berada di sampingnya. Ia tidak memperbolehkan Lala intens berinteraksi dengan teman-temannya. Rasa cemburu tingkat tinggi menguasai pikiran Yudhis setiap kali ada teman yang perhatian ke Lala. Hari-hari Lala kian tidak karuan. Ia mulai terkekang dan sulit melepaskan diri. Sebab Yudhis pandai mengombang-ambingkan perasaan Lala. Seusai bertengkar dan menyakiti Lala dengan tindak kekerasan seperti mencekik dan menjambak, Yudhis selalu memasang tampang memelas dan merengek minta maaf. Penonton lalu digiring pada suguhan relasi perempuan dan laki-laki yang dipengaruhi tekanan batin yang menimpa kedua tokoh sentral tersebut.

Gender, Cinta, dan Ketakutan

Komunikasi yang tercipta di antara Yudhis dan Lala menandakan adanya cinta yang tumbuh. Keduanya akan rela dan berani melakukan apapun demi pasangannya. Apa yang dilakoni Lala dan Yudhis juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan Knapp, Ellis, dan Williams (1980). Penelitian tersebut mengungkap, kebaikan pasangan akan lebih besar bobotnya, sementara kesalahan yang dibuat pasangan tidak akan dianggap oleh mereka yang tengah dimabuk cinta.

Panggilan sayang yang dilontarkan Lala dan Yudhis semakin mempertegas hubungan special di antara keduanya. Mereka juga menciptakan dan menggunakan idiom personal, kata-kata, frasa, dan gestur yang membawa makna hanya untuk hubungan tertentu.  Unsur-unsur tersebut mengantarkan penonton kepada pemahaman bahwa keduanya memiliki bahasa spesial yang menandakan ikatan mereka (Hopper, Knapp dan Scott 1981).

Relasi interpersonal yang dibangun Lala dan Yudhis menerapkan teori pertukaran sosial. Ketika pasangan memasuki relasi interpersonal yang menggunakan model pertukaran sosial, maka konflik yang timbul berasal dari ketidakseimbangan antara input dan outputyang didapat. Maksudnya di sini adalah apabila seseorang mencurahkan seluruh hidupnya kepada pasangan namun pasangan hanya bersikap cuek tanpa ada balasan yang setimpal hal ini rawan berujung konflik.

Yudhis tergolong dalam tipe cinta mania. Ia begitu tergila-gila dengan pasangannya. Tergila-gila dikarakteristikan dengan ketinggian ekstrem dan kerendahan ekstrem. Pecinta yang tergila-gila mencintai berlebihan dan pada waktu yang sama sangat khawatir kehilangan cintanya. Ketakutan ini sering mencegah pencinta yang tergila-gila mengalami penurunan rasa suka yang mungkin timbul dalam suatu hubungan. Dengan sedikit provokasi, pencinta yang tergila-gila kemungkinan berpengalaman untuk cemburu secara berlebihan. Yudhis bahkan meneror Lala dengan pesan pendek, telepon, hingga menanyakan keberadaan Lala ke temannya. Padahal Lala sudah izin bermain dengan teman-temannya. Yudhis berlebihan dalam menanggapi Lala yang tidak ada kabar.

Pencintayang tergila-gila itu obsesif (tergila-gila); pencinta yang tergila-gila harus menguasai/memiliki pasangannya seutuhnya secara sempurna. Sebaliknya, pencinta yang tergila-gila berharap untuk dimiliki, dicintai secara berlebihan. Pencinta yang tergila-gila adalah bayangan pribadi yang kasihan, melihat kemampuan berkembang hanya dari cinta; harga diri datang dari dicintai daripada perasaan puas yang timbul dari dalam diri. Karena cinta itu sangat penting, tanda bahaya di sebuah hubungan seringkali diabaikan; pencinta yang tergila-gila percaya bahwa jika ada cinta, kemudian lainnya itu bukan masalah.

Yudhis juga mengombinasikan tipe cinta mania dengan eros. Para penganut cinta eros ini sangat memperhatikan daya tarik fisik orang yang dicintai. Saat sudah menjalin hubungan asmara, mereka memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap orang yang dicintainya tersebut. Rasa cinta yang dimilikinya itu berdasarkan daya tarik fisik pada saat pertama jumpa. Cinta eros ini menggebu dan berani mengambil risiko. Saat sudah menjalin hubungan asmara, mereka menganggap penting ciuman dan pelukan.

Pernyataan-pernyataan yang disebutkan sebelumnya terwakili oleh kenekatan Yudhis melaser saingan Lala dalam lompat indah. Yudhis juga sama sekali tidak takut ketika sengaja menyerempet motor yang dikendarai teman cowok, sahabat Lala. Semua itu dengan dalih demi memperjuangkan cintanya ke Lala. Dia takut Lala direbut orang lain. Yudhis juga sangat mendewakan sentuhan dalam hubungannya dengan Lala. Adegan itu tergambar ketika ia lancang menyelinap masuk kamar Lala dengan kunci curian. Ia menciumi Lala.

Rupanya, ada faktor keluarga yang menyebabkan Yudhis bertingkah psikopat dalam merajut hubungan dengan Lala. Yudhis menjadi korban atas ketidakharmonisan hubungan sang ayah dan sang ibu. Sang ayah meninggalkan Yudhis dan ibunya sejak kecil. Ibunya menyimpan trauma. Ibunya memiliki emosi yang meledak-ledak dan selalu memaksakan kehendaknya ke Yudhis. Yudhis tidak punya kuasa untuk melawan sebab sang ibu adalah tipe yang ringan tangan, suka memukulinya. Meskipun setelah itu, sang ibu meminta maaf dan menyesal. Begitu terus dan berulang. Menurut ibunya, tidak ada orang yang memahami Yudhis selain ibunya. Rupanya sikap buruk itu turun ke Yudhis.

Lala yang terlalu tunduk pada Yudhis adalah akibat dari tekanan yang selama ini ia peroleh dari sang ayah. Ayahnya menaruh harapan besar kepada Lala untuk dapat meneruskan prestasi sang ibu yang telah meninggal, sebagai atlet lompat indah kenamaan. Lala juga berniat membantu Yudhis melepaskan diri dari jerat siksaan sang mama. Lala percaya, cinta bisa mengatasi semua masalah. Lala ingin Yudhis berubah, sebab ia tahu, Yudhis aslinya baik.

Apa yang menimpa Lala dan Yudhis bisa dijelaskan melalui feminism psikoanalitis. Pandangan ini berpatokan bahwa pengalaman seksualitas masa kanak-kanak hingga dewa mempengaruhi cara berpikir seseorang. Itulah mula lahirnya ketidaksetaraan gender. Laki-laki memandang dirinya sebagai maskulin, perempuan menganggap ia sebagai feminim. Masyarakat puun menilai demikian. Maskulinitas menduduki posisi superior, sedangkan feminism diletakkan sebagai inferior (Tong, 2006:190). Itulah yang membuat Lala mendengarkan perkataan Ega, sahabatnya. Ega melarang Lala putus dari Yudhis karena melepaskan Yudhis membuat rugi Lala. Mencari pacar setampan Yudhis tidak mudah.

Feminisme psikoanalitis turut menyoal tahapan oedipal yang dilalui anak-anak. Anak laki-laki mengerti bahwa ia dan ibunya tidak sama secara fisik. Perbedaan itu melatari timbulnya masalah. Anak laki-laki lalu terdorong mencari kekuasaan lewat identifikasi dirinya dengan laki-laki yakni ayahnya. Anak laki-laki tahu bahwa ia harus bebas dari ketergantungan terhadap ibunya. Sedangkan Yudhis mungkin tidak mendapati itu, sebab sang ayah pergi dan menelantarkannya.

Tahapan oedipal yang dijalani anak perempuan merumuskan hasil bahwa simboisis ibu dengan anak perempuan akan berkurang kekuatannya. Hasrat itu dialihkan kepada otonomi dan kemandirian yang dilambangkan lewat sang ayah. Lala tercurahi kemandirian yang terlalu besar sebab sang ibu telah meninggal. Ayahnyalah yang bertugas mengawal perkembangan Lala. Sang ayah bertindak sebagai orang tua tunggal yang harus bisa menjadi ayah sekaligus ibu.

Lala dan Yudhis sama-sama korban atas pincangnya kasih sayang dari orang tua. Keluarga mereka sama-sama penganut prinsip protektif. Tipe ini umumnya condong dalam konformitas yang tinggi namun minim percakapan. Ada banyak peraturan yang harus ditaati anak namun tanpa adanya komunikasi. Orang tua merasa tidak ada gunanya berdiskusi apapun dengan anak. Anak dianggap tidak perlu tahu apa yang orang tua putuskan.

Film ini menampar penonton dengan cara meramu cinta, gender, cita-cita, dan ketakutan dalam satu paduan. Ada pelajaran yang bisa dipetik yakni cinta tidak mesti harus membahas untung rugi. Boleh berkorban untuk cinta asal tetap rasional. Selamat menertawakan diri atau pasangan yang posesif! (*)

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

 

 

 

Continue Reading

Essay

Ingatan, Sejarah, dan Mitos

mm

Published

on

Taufik Abdullah*)

Mengapakah demikian mudah suara saya menaik dan bergetar menahan marah, ketika beberapa orang mahasiswa dengan nada yang sinis menanyakan fungsi perayaan 50 tahun Kemerdekaan? Mula-mula memang saya bisa menjawab dengan tenang tentang makna simbolik dari perayaan ini. Bergaya sebagai seorang guru yang baik, saya menerangkan bahwa dalam usaha melangkah ke depan – ke masa yang tanpa peta itu – kita perlu juga sekali-sekali merenung dan mengingat lagi hasrat dan tekad yang pernah dipatrikan serta langkah-langkah yang telah diayunkan. Akan tetapi ketika seorang mahasiswa, lagi-lagi dengan suara sinis, malahan cenderung sarkastik, dengan gaya seorang oposan, berkomentar, “oh, sekedar merenung saja!” hampir saja kesabaran saya hilang. Suara saya menaik. Akan tetapi untunglah, kenakalan asli saya segera tampil dan saya pun bisa menjadikan jawabannya yang diiringi humor. Maka, semakin sadarlah saya bahwa saya bukan seorang pendidikan. Begitu mudah saya terkena provokasi.

Belum lama peristiwa itu terjadi. Baru beberapa hari berselang. Kalau saya pikir-pikir kembali peristiwa itu saya rasa tak pantas suara saya menaik dan bergetar menahan marah. Apa salahnya kalau hal yang dianggap “hebat” itu sekali-kali dihadapkan pada kesangsian akan keabsahannya? Bukankah dinamika dunia ilmu praktis ditentukan oleh letupan-letupan kesangsian terhadap apa yang telah diangap benar? Para mahasiswa itu memang memperlakukan saya sebagai seorang ilmuwan yang diharapkan dapat menjawab masalah keilmuan. Kebetulan saja masalah keilmuan itu, kali ini berkisar di sekitar perayaan Proklamasi Kemerdekaan. Akan tetapi, apa salahnya?

Masalah sesungguhnya bukan terletak pada pertanyaan mahasiswa yang sinis itu, tetapi pada diri saya. Saya pikir hal ini juga dirasakan sebagian mereka yang sebaya dengan saya dan yang lebih tua daripada saya. Seperti yang dialami mereka juga Proklamasi Kemerdekaan dan Revolusi Nasional adalah bagian dari otobiografi saya. Tak mungkin bagi saya untuk mengingat pertumbuhan kedirian saya di luar konteks itu. Revolusi Nasional adalah bagian dari otobiografi saya. Tak mungkin bagi saya untuk mengingat pertumbuhan kedirian saya di luar konteks itu. Revolusi Naional bagi saya bukanlah sesuatu “yang ada di sana,” yang dengan mudah bisa dilihat secara objektif, tanpa melibatkan perasaan. Saya tak mengatakan bahwa saya ikut ke medan perang menyambung nyawa demi tanah air dan saya pun tak bisa berbicara bahwa saya, dengan berbagai cara, ikut membantu perjuangan kita. Sama sekali tidak. Akan tetapi bagaimanakah saya bisa melupakan kesedihan yang saya rasakan karena tak bisa ikut melompat-lompat dan bersorak-sorak, seperti anak-anak lain ketika ulang tahun pertama proklamasi dirayakan di kota kecil saya? Baru beberapa hari sebelumnya saya dikhitan. Babagaimana pula saya tak akan ingat akan kegembiraan saya ikut berlari-lari di belakang para pemuda yang membawa Sutan Sjahrir di atas bahu mereka, ketika mantan Perdana Menteri itu berkunjung ke kota saya? Atau, melupakan perasaan yang mencekam ketika melihat mayat seorang pejuang yang tewas, setelah sebelumnya patroli tentara Belanda menembaki sekolah saya. Berbagai slide kenangan kadang-kadang tampil bergantian, jika saja gugatan terhadap masa lalu itu datang. Memang Revolusi Nasional bagi saya bukanlah “something out there” tetapi adalah sesuatu yang berbeda dalam diri saya. Tak bisa saya mengelak kehadirannya. Betapa pun mungkin saya ingin melupakannya, atau bisa juga, mengubah bentuknya yang sesuai dengan hasrat saya sekarang. Ia adalah kenangan saya. Ia adalah ingatan saya. Ia adalah bagian dari subjektivisme saya, betapa pun mungkin saya ingin menyembunyikannya. Saya pun tak bisa pula bersembunyi dari ingatan ini. Entah kalau amnesia telah menghidapi diri saya.

Jadi, suara saya yang menaik dan bergetar menahan marah semoga bisa juga dimaafkan. Mungkin para mahasiswa itu hanya bermaksud bertanya tentang sejarah yang konon objektif – “ sesuatu yang ada di sana,” di kelampauan – tetapi saya rasakan sebagai gugatan terhadap ingatan saya yang subjektif dan yang merupakan bagian dari kehadiran saya. Atau, barangkali pula mereka hanya menyangsikan keabsahan sebuah initos yang dirasakan semakin bercorak hegemonik. Bisa jadi demikian halnya, tetapi, mana mereka tahu bahwa yang langsung terkena adalah ingatan saya yang pribadi, bebas, dan otentik. Mereka mahasiswa itu, tak bisa mempertanyakan, apalagi menggugat, ingatan saya, yang riil pada diri dan kesendirian saya ini.

Harus saya akui, bahwa dalam suasana peringatan dan perayaan yang ketiganya – ingatan, yang pribadi sejarah, yang dihasilkan oleh pencarian akademis yang kritis, dan mitos, yang tumbuh dari sebuah corak keprihatinan atau kepentingan (entah kultural, kekuasaan, atau ideologi) – bisa saja bercampur baur menjadi satu lagi, di manakah sesungguhnya batas ketiganya? Bukankah sejarah bisa juga dianggap sebagai “rekaman ingatan kolektif” dan ingatan atau kenangan mungkin juga diperlukan sebagai “sejarah yang dialami sendiri”.

Dan mitos? Mitos boleh juga dianggap sebagai peristiwa “sejarah” yang harus selalu diingat dan diingatkan, sebagai pelajaran dan alat pemersatu.

Hanya saja, pencampuradukan dari ketiga kategori ini dengan mudah dapat menyebabkan kita kehilangan makna yang sesungguhnya dari peringatan peristiwa dramatis yang telah mengubah corak kehadiran kita sebagai bangsa itu. Sejarah tidaklah ada dengan sendirinya.  Sejarah adalah hasil dari sebuah usaha untuk merekam, melukiskan, dan menerangkan peristiwa di masa lalu. Bisa jadi sejarah adalah sebuah hasil yang sejujur mungkin ingin merekam dan “merekonstruksi” ingatan, baik yang kolektif maupun yang pribadi, tetapi mungkin juga sejarah bermaksud “menemukan kembali” peristiwa (apa, siapa, di mana, dan bila) yang telah terkibur impitan zaman. Sejarah adalah hasil yang didapatkan dengan sengaja ketika berbagai pertanyaan tentang masa lalu telah dirumuskan. Kalau demikian, bukankah “sejarah” sesungguhnya sangat ditentukan oleh jenis pertanyaan yang telah dirumuskan? Memang, demikian halnya dan inilah unsur yang paling subjektif dalam sejarah. Maka, dapat jugalah dibayangkan bahwa pertanyaan itu bukan saja beranjak dari rasa ingin tahu belaka, tetapi dapat pula dirangsang oleh kepentingan tertentu, apa pun mungkin coraknya.

Betapapun kejujuran adalah landasannya yang paling esensial, sejarah mau tak mau bersifat selektif. Tak semua kebenaran atau kenyataan historis bisa dan perlu dikatakan. Hanyalah yang penting dan yang relevan saja yang perlu dilukiskan. Kalau demikian, herankah kita karena yang sifatnya selektif ini, sejarah bisa juga memantulkan kisah atau pesan yang mempunyai tingkat penting dan relevan yang berbeda-beda? Bukan itu saja, tingkat penting dan relevan itu bisa pula ditentukan oleh golongan sosial yang berbeda-beda pula. Fungsi sosial sejarah malah ditentukan oleh pemahaman terhadap kisah dan pesan itu. Mungkin karena itulah, saya kira, pernah ada yang berkata,

“Sejarah tak memberikan pelajaran apa-apa, kitalah yang belajar dariapdanya”. Jadi kitalah – kita yang menghadapkan diri pada kisah sejarah – yang merupakan unsur yang aktif.

Begitulah, kadang-kadang kisah dan pesan tertentu kita perbesar-besar karena memberikan sesuatu yang bersifat integratif, inspiratif, atau apa saja yang dianggap berfaedah. Kadang-kadang kisah tertentu kita ulang-ulang, malah kita peringati dan kita rayakan, dengan berbagai macam corak ritual dan seremoni. Dari kisah tersebut kita mendapatkan sesuatu yang bermanfaat. Tetapi, pemilihan kisah atau pesan itu terjadi dalam proses kompetisi. Ketika pilihan akhirnya ditentukan, maka hal itu adalah akibat dari proses hegemonisasi yang telah dimenangkan. Dalam sistem kenegaraan yang sangat ideologis, seperti negara kita ini, sudah bisa dipahami bahwa kekuasaan mempunyai kecenderungan yang sangat tinggi melakukan hegemoni makna terhadap sejarah dan simbol. Dengan berbagai sistem rujukan dan informasi, serta pemakaian sistem kekuasaan, maka semakin membesarlah bentukan hasil pilihan itu dan semakin jauhlah ia dari sejarah yang pernah menghasilkannya. Analisis akademis mengatakan bahwa pilihan itu telah berubah menjadi sebuah mitos. Kalau ini telah terjadi, sejarah hampir tak berdaya untuk menuntutnya kembali ke pangkuannya – ke pangkuan dunia yang kritis dan “obyektif”. Mitos pun telah menjadi “realitas – sejarah”. Hanya saja ia bukan sesuatu yang “out there”, yang dingin dan yang telah berlalu, tetapi sesuatu yang ada “di sini”, hangat dan bagian dari kehidupan sosial. Kredibilitas mitos pun semakin menaik jika ia mendapat dukungan, apalagi kalau berawal dari ingatan, kolektif ataupun individual. Didukung oleh kecenderungan teologis, yang menjadikan situasi hari kini sebagai pembenaran dari keabsahan gambaran hari lalu, mitos pun semakin kokoh berdiri. Dengan begini, maka sistem hegemoni pun telah membentuk masa lalu berdasarkan skenario kepentingan hari kini.

Semua ikatan sosial memerlukan mitos, karena ia mengajukan jawaban bagi kemungkinan terdapatnya ketimpangan antara realitas dengan logika, memberi suasana kredibilitas bagi keberlakuan tata yang berlaku dan bisa pula merupakan unsur integratif yang diperlukan. Kalau saya tak salah, adalah Ernest Renan, yang mengatakan bahwa kehadiran “bangsa”, yang bermula dari “keinginan untuk hidup bersama”, bisa berlanjut jika komunitas itu bersedia “mengingat banyak hal” dan “melupakan hal”. Mengingat dan melupakan yang selektif inilah yang melahirkan mitos. Hanya saja seleksi yang hegemonik tidaklah sekedar berusaha menjauhkan kita dari sejarah yang dingin dan kritis, tetapi juga mengingkari keabsahan ingatan sendiri yang pribadi dan otentik.

Peristiwa besar, seperti Revolusi Nasional dan Perang Kemerdekaan kita, adalah lahan pengalaman yang dengan tajam menancapkan kehadirannya dalam ingatan, pribadi dan kolektif. Peristiwa ini adalah pula “sesuatu yang ada di sana”, yang bisa memberikan kisah tentang pergumulan sebuah bangsa mempertahankan kehadiranna dan kegelisahan manusia menghadapi hari-hari tanpa kepastian, selain harapan yang tak kunjung padam. Kekinian kita yang dihasilkannya – sebuah bangsa yang dulu berjuang kini telah mempunyai negara yang berdaulat – menjadikannya pula sebuah sumber inspirasi bagi tumbuhnya mitos.

Mitos bermain dalam wilayah publik. Ia adalah bagian dari kehidupan sosial. Kehadirannya membayangkan suasana integratif. Perayaan dan peringatan bisa pula dilihat sebagai peneguhan dari keberlakuan mitos. Dalam suasana perayaan – sebuah karnaval – siapa pun akan terlarut di dalamnya. Akan tetapi, sebuah pertanyaan kadang-kadang tertanyakan juga. “Siapakah yang menentukan corak mitos itu?” Kini, saya sadar, jangan-jangan pertanyaan sarkastis dan sinis dari mahasiswa yang saya ceritakan itu adalah pantulan dari penolakan mereka terhadap mitos integratif yang mereka anggap sebagai sesuatu yang hegemonik. Mungkin, demikianlah halnya tetapi andaipun bukan, mitos yang memperlihatkan wajahnya dalam wilayah publik, tidak saja mempunyai kemungkinan yang tinggi untuk memperteguh keakraban sosial dan sejarah, melainkan juga, dapat menjauhkan kita dari ingatan kita yang pribadi, murni, dan otentik. Yang tampil adalah wajah publik, bukan diri kita dalam kesendirian dan kepolosan yang tak bisa ditutupi.

Karena itulah saya kira pada saat kita mensyukuri kemerdekaan tanah air kita, semestinyalah kita menggali lagi ingatan yang pribadi dan otentik itu. Pengalaman apakah yang pernah dipatrikan ketika perjuangan dimasuki dan di saat antusiasme kemerdekaan dirasakan? Ingatan adalah penghadapan kita dengan kesendirian kita. Ia tak membiarkan kita untuk bertopeng dalam segala macam kepura-puraan. Dalam ingatan yang murni pribadi ini kita pun bisa mengingat dan mengenang kembali tangisan ibu yang meratapi kepergian abadi anak tercinta atau derai air mata sang istri melepas suami ke medan perang. Untuk apa? Kita mungkin bisa membohongi publik, tetapi tak bisa menghindar dari ingatan sendiri.

Kita rayakan hari kemerdekaan dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur, tetapi kita gali lagi ingatan dan kenangan dengan segala kepolosan yang hanya mungkin tampil dalam kesendirian kita masing-masing. Dalam kesendirian kita dengan ingatan ini, langkah yang telah diayunkan bisa dinilai lagi dan niat yang pernah dipatrikan dalam diri tinjauan kembali. Masihkah idealisme dan pengorbanan yang dipancarkan Proklamasi dan Revolusi Nasional menyinari kehidupan kita bernegara? Ataukah sesuatu yang lain – yang dulu tak terimpikan, malah dinista sebagai penyimpangan – telah menyelinap dalam kehidupan kita? Hanya ingatan kita dalam kesendirian kita masing-masing yang bisa menjawab. (*)

____________________________________

*)Taufik Abdullah lahir: Bukittinggi, Sumatra Barat, 3 Januari 1936, adalah ahli peneliti utama pada LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Ia lulus dari Jurusan sejarah Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (drs., 1961) dan Cornell University (M.A., 1967; Ph.D., 1970). Sejak  April 2000 ia menjadi ketua LIPI. Tulisan-tulisannya diterbitkan di dalam dan luar negeri; di antaranya “Adat dan Islam; An Examination of Conflicty in Minangkabau Indonesia” (1966); “Modernization in the Minangkabau World West Sumatra” dalam Claire Holt, et.al., (eds.); Culture and Politics in Indonesia (1972); Sejarah Lokal di Indonesia (1979, 1985); Islam dan Masyarakat, Pantulan Sejarah Indonesia (1987) ; “Islam and the Formation of Tradition in Indonesia A Comparative Perspective”, Itinerario (1989). Prof. Dr. Taufik Abdullah menjadi editor serta konsultan majalah Prisma, anggota dewan redaksi jurnal Sejarah, editor Ensiklopedi Islam Indonesia dan Ensiklopedi Indonesia. Pengalaman akademiknya dimulai dengan menjadi asisten pengajar Sejarah barat (1959-61) di Universitas Gadjah Mada, Fulbright Visiting Professor di University Wisconsin (1975), Post-Doctoral Fellow di University of Chicago (1977), Visiting Professor di Cornell University (1985), University of Kyoto (1989-90), Australian National University 91990), Mc Gill University, Montreal (1991-92) dan Thammasat University (1997). Aktivitas profesionalnya antara lain menjadi Member of Council for the Study of Malay Culture UNESCO (1971), Presiden International Association of Historians of Asia (IAHA) (1996-98); Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Pusat (dari 1995), Ketua Himpunan Indonesia Untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (1974-1978), anggota KITLV (1968-1978). Dari lembaga yang disebut terakhir ia juga memperoleh penghargaan sebagai anggota kehormatan.

Sumber: Taufik Abdullah, Nasionalisme dan Sejarah, Satya Historika, Bandung, 2001.

***

Continue Reading

Editor's Choice

Ketjelakaan Sedjarah Sastra

mm

Published

on

Oleh Joss Wibisono*

Penulis India Amitav Ghosh menarik novelnja The Glass Palace dari nominasi Hadiah Sastra Persemakmuran tahun 2001 karena ia menolak ikut “merajakan kebesaran Kekaisaran Britania Raya” (Tempo 24 djuli 2016, halaman 58). Novel tentang penaklukan Burma ini dengan rintji menggambarkan betapa pendjadjahan Inggris telah menelan begitu banjak korban, bukan sadja di Burma tapi djuga di India. Maklum penaklukan Burma berlangsung dari India, negara tetangganya jang pada abad 19 itu sudah terlebih dahulu didjadjah Inggris. “Saja bertemu dengan begitu banjak orang jang menolak kekuasaan Keradjaan Britania Raya,” tutur Ghosh. Ia hanja menjatakan penolakannja bertudjuan untuk menghindari ironi, tapi djelas betapa ia menolak bersikap munafik. Maka keputusan tidak mengikutkan karjanja bukan semata dapat dimengerti, tetapi patut pula diatjungi djempol.

Tak terbajangkan langkah Ghosh ini terdjadi di Indonesia. Berbeda dengan Inggris jang mewariskan bahasanja kepada pelbagai bekas djadjahan —bahkan tidak sedikit negara memberlakukan Inggris sebagai bahasa nasional— Belanda tidak mewariskan bahasanja kepada Indonesia. Memang generasi bapak (dan ibu) bangsa kita dulu masih fasih berbahasa Belanda, tetapi anak2 mereka sudah tidak lagi, kita sudah sepenuhnja berbahasa Indonesia. Tidaklah mengherankan djika tak ada lagi penulis Indonesia zaman sekarang jang berkarja dalam bahasa (bekas) pendjadjah itu.

Walau begitu tidaklah berarti kita lajak membatasi sastra Indonesia hanja se-mata2 karja jang ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Sebagaimana India tidak bisa membatasi sastra India hanja pada karja2 jang ditulis dalam pelbagai bahasa negeri itu —karena tidak sedikit sastrawan India jang menulis dalam bahasa Inggris, bekas pendjadjah— maka tidaklah arif pula djika kita berani membatasi sastra Indonesia hanja pada karja2 jang ditulis dalam bahasa2 jang ada di bumi Nusantara. Alasannja berkaitan dengan sedjarah, tapi sebelum itu berikut ini perlu terlebih dahulu diuraikan mengapa bahasa Belanda tidak berakar di Nusantara, padahal Hindia Belanda adalah djadjahan terbesarnja.

Banjak orang menganggap bahasa Belanda tersingkir tatkala para pemuda anti kemapanan pada achir 1928 bersumpah untuk, selain bertanah air dan berbangsa satu, masih pula berbahasa satu jaitu bahasa Indonesia. Walau begitu tetap patut ditindjau politik bahasa pendjadjah Belanda, karena tidak berarti bahwa menjusul Soempah Pemoeda, maka semua orang Indonesia langsung tidak lagi berbahasa atau menulis dalam bahasa pendjadjah. Bahkan sampai 1950an, ketika Belanda sudah mengakui kemerdekaan kita, masih ada sadja buku jang terbit dalam bahasa Belanda.

Berawal dengan perusahaan dagang, VOC menguasai Hindia Timur (begitulah mereka mendjuluki Indonesia) dengan prinsip menekan biaja serendah mungkin. Itulah prinsip dunia usaha, kapanpun dan di manapun ongkos harus selalu ditekan serendah mungkin, bukan hanja untuk menghindari rugi, tapi terutama djuga untuk meningkatkan laba.

Bahasa Belanda tidak mereka sebarkan, itu makan biaja besar. Lebih murah mewadjibkan pegawai VOC untuk beladjar bahasa Melajoe, tjikal bakal bahasa Indonesia. Akibatnja Hindia Timur merupakan satu2nja koloni di dunia jang diperintah bukan dalam bahasa Eropa. Sekali lagi, ini karena Hindia pada awal mulanja didjadjah oleh perusahaan dagang, bukan oleh negara. Ketika VOC bangkrut pada achir abad 18, baru Belanda sebagai negara mengambil alih Hindia, tapi ini dilakukan Den Haag (pusat pemerintahan Belanda) hanja dengan enak melandjutkan politik bahasa VOC. Sekali lagi itu adalah politik bahasa jang murah. Lebih murah mengadjarkan bahasa Melajoe kepada orang Belanda, ketimbang sebaliknja: mengadjarkan bahasa Belanda kepada penduduk koloni.

Alhasil tjalon amtenar kolonial wadjib beladjar bahasa Melajoe, sedangkan bahasa Djawa (bahasa kedua jang paling banjak penggunanja di wilajah djadjahan) merupakan pilihan. Ketika masih berupa pendidikan kedjuruan pada abad 19 kedua bahasa diadjarkan di Delft, dan ketika sudah berubah mendjadi pendidikan akademis kedua bahasa (termasuk hukum adat dan pelbagai pengetahuan lain tentang wilajah koloni) diadjarkan di universitas Leiden, pada fakultas jang bernama Indologie, bisa disebut sebagai tjikal bakal kadjian Indonesia zaman sekarang.

Sebagai pendjadjah extraktif jang artinja terus2an menguras, Belanda tidak pernah mewadjibkan Hindia menggunakan bahasanja. Dalihnja kita sudah punja lingua franca jaitu bahasa pengantar dan itu adalah bahasa Melajoe. Padahal, Prantjis tetap mewadjibkan Maroko, Aldjazair dan Tunisia —dikenal sebagai Maghreb— jang sudah memiliki lingua franca bahasa Arab, untuk djuga menggunakan bahasa pendjadjah itu.

Wilajah djadjahan harus berbudaja seperti negeri induk, demikian makna politik pendjadjahan Paris jang mereka sebut l’œuvre civiliçatrice atau mission civiliçatrice alias karja atau missi pembudajaan jang berarti penjelenggaraan pendidikan termasuk penjebaran bahasanja. Paris mulai meluntjurkan politik ini pada 1874. Bahasa Prantjis djuga harus dipergunakan di wilajah koloni. Karena itu sampai sekarang bahasa Prantjis tetap merupakan bahasa kedua di Maghreb, sesudah bahasa Arab. Itulah bahasa penghubung Maghreb dengan dunia internasional.

Hal serupa djuga dilakukan Inggris, Spanjol dan Portugal pada djadjahan2 mereka di manapun djuga di bumi ini. Bahkan bahasa2 Spanjol dan Portugis mendjadi bahasa nasional di negara2 Amerika Latin. Di Asia Tenggara ada Indochine (Vietnam, Laos dan Kambodja) jang berbahasa Prantjis, Filipina jang berbahasa Spanjol (tapi pada 1898 berubah mendjadi djadjahan Amerika sehingga sampai sekarang berbahasa Amerika), Semenandjung Malaja (mentjakup Singapura) jang berbahasa Inggris serta Timor Portugis jang sudah tentu berbahasa Portugis.

Belanda jang tak henti2nja mengeruk Hindia, antara lain melalui Tanam Paksa pada abad 19, baru pada awal abad 20 sadar perlunja menjebarkan bahasa, tatkala kolonialisme mereka bertjorak Politik Etis. Saat itulah mereka melihat bahwa bahasa2 Prantjis, Inggris, Spanjol sudah mendjadi bahasa pengantar di banjak wilajah dan benua. Den Haag tergugah dan bertanja2 mengapa wilajah koloni terbesar mereka tidak berbahasa Belanda? Djelas mereka tidak mau ketinggalan! Maka bahasa Belanda mulai diadjarkan di HIS (Hollandsch Inlandsche School) sekolah dasar untuk bumi putra jang dibuka tahun 1914 menjusul dibukanja HCS (Hollandsch Chinese School), sekolah dasar untuk kalangan Tionghoa pada 1908. Djelas ini langkah jang terlambat, lagipula ternjata upaja penjebaran itu tjuma setengah hati.

Buku karangan Kartini (1879-1904), Door duisternis tot licht. Selama ini diterdjemahkan mendjadi Habis gelap terbitlah terang, seperti dilakukan oleh Armijn Pane. Djudul bahasa Belanda itu sebenarnya lebih mengisjaratkan upaja mati2an jang harus ditempuh sebelum gelap itu bisa berlalu dan terang lahir. Mungkin djudulnja lebih tepat diterdjemahkan Mengarungi gelap demi mentjapai terang.

Bahasa Belanda hanja diadjarkan kepada kalangan elit, itupun tjuma sebagai bahasa kedua, bukan bahasa pengantar di sekolah. Di lain pihak ELS (Europeesche Lagere School), sekolah dasar untuk anak2 keturunan Eropa jang sudah dibuka pada 1817 sepenuhnja berlangsung dalam bahasa Belanda. Harus ditjatat, kadang2 memang ada perketjualian, ELS menerima murid pribumi jang sepenuhnja dididik dalam bahasa Belanda. Tentu sadja dia bukan pribumi djelata, melainkan anak bangsawan terpandang dan punja koneksi dengan pedjabat kolonial. Salah satunja adalah Kartini jang berkat didikan ELS mendjadi begitu mahir berbahasa Belanda, seperti terbukti dalam surat2 jang dikirimja kepada sahabat pena di Belanda. Djelas Kartini merupakan perketjualian, djuga karena dia begitu berbakat dan tidak mengalami kesulitan untuk beladjar bahasa asing. Di luar Kartini dan adik2nja, bahasa Belanda tetap merupakan bahasa elit di hadapan massa inlanders, bumiputra Hindia.

Maka terlihat bahwa sampai proklamasi kemerdekaan 1945, bahasa Belanda paling banter baru diadjarkan selama 30 tahun kepada bumiputra Nusantara. Karena itu bahasa pendjadjah tidak pernah mengakar di Indonesia. Setjuil lapisan elit jang fasih bertutur kata dalam bahasa Belanda berlalu ditelan zaman, mereka djuga tidak menurunkan bahasa pendjadjah ini kepada generasi berikut. Presiden Sukarno pernah menegaskan tidak mengadjari anak2nja bahasa Belanda, karena itu Megawati djuga tidak lagi berbahasa jang digunakan ajahnja se-hari2. Bahkan bermimpipun Sukarno mengaku dalam bahasa Belanda! Begitu merdeka, dunia pendidikan Indonesia tidak lagi mengenal bahasa Belanda. Betapa berbeda dengan dunia pendidikan tinggi Maroko, misalnja, jang sampai sekarang masih tetap berlangsung dalam dua bahasa, jaitu bahasa2 Arab dan Prantjis.

Menariknja, di djadjahan lain jang lebih ketjil, jaitu Suriname di Amerika Latin, Belanda malah menjebarkan bahasanja. Dalihnja lantaran berbeda dengan Hindia Timur, Hindia Barat (begitu sebutan Suriname dan Antila) tidak memiliki lingua franca. Itu bisa sadja benar, tapi seandainja penduduk Hindia Barat sama banjaknja dengan Hindia Timur, sangat patut dipertanjakan Belanda akan bermurah hati untuk tetap menjebarkan bahasanja. Bisa2 wilajah ini malah didorong untuk berbahasa Spanjol sadja, seperti negara2 Amerika Latin lain.

Jang djelas politik bahasa tanpa visi masa depan ini telah gagal mendjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa internasional. Hanja digunakan di Belanda, Vlaanderen (wllajah Belgia) dan Suriname, pengguna bahasa Belanda sekarang tidak sampai 25 djuta orang. Bajangkan kalau Indonesia djuga menggunakan bahasa Belanda (seperti Maroko, Aldjazir dan Tunisia jang tetap berbahasa Prantjis) maka pengguna bahasa ini bisa mentjapai 300 djuta orang, djumlah jang tidak ketjil bahkan orang Belanda bisa berbangga memiliki bahasa internasional. Kesempatan untuk itu pernah ada, tapi sajang mentalitas VOC tidak menjebabkan orang2 Belanda punja wawasan djangka pandjang atau masa depan.

Merdeka dari pendjadjah pelit seperti itu kita patut bersjukur tidak perlu menggunakan bahasa Belanda. Karja sastra Indonesia selalu tampil dalam bahasa Indonesia, atau bahasa daerah, berbeda misalnja dengan sastrawan Maroko Bensalem Himmich jang menulis roman setjara ber-ganti2 dalam bahasa2 Prantjis dan Arab; berbeda pula dengan sastrawan India Amitav Ghosh jang berkarja dalam bahasa Inggris. Berani taruhan tidak ada seorangpun pengarang Indonesia zaman sekarang jang berkarja dalam bahasa Belanda, atau, seperti sastrawan Maroko di atas, menulis buku selang seling bahasa Indonesia kemudian bahasa Belanda.

Kalau begitu patutkah kita memproklamasikan sastra Indonesia sebagai melulu karja sastra jang ditulis dalam bahasa Indonesia serta bahasa daerah jang digunakan di negeri ini? Bukankah tidak ada penulis kita jang, seperti Amitav Ghosh, menulis dalam bahasa bekas pendjadjah?

Buku karya Han Resink (1911-1997) jang menulis beberapa kumpulan puisi, antara lain Transcultureel (Lintas budaja) dan Op de breuklijn (pada garis batas). Han Resink jang namanja disebut oleh Pramoedya Ananta Toer pada halaman awal Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa adalah penulis berdarah Indo, tjampuran Indonesia Belanda dan memilih warga negara Indonesia

Di sini kita dituntut untuk beladjar sedjarah dan lebih dari itu, djika sudah paham dan chatam, djuga sadar sedjarah. Maklum, paling sedikit ada empat penulis kita jang berkarja dalam bahasa Belanda, dan salah satunja adalah seorang pahlawan nasional. Tadi sudah disebut nama Kartini (1879-1904), dia terkenal berkat kumpulan suratnja jang dihimpun (oleh seorang pedjabat kolonial) dalam buku berdjudul Door duisternis tot licht. Tidak terlalu tepat kalau djudul itu diterdjemahkan mendjadi Habis gelap terbitlah terang, seperti dilakukan oleh Armijn Pané dan akibatnja dikenal banjak orang. Kalau itu digunakan maka kesannja adalah perubahan terdjadi setjara otomatis dan pasti. Padahal djudul bahasa Belanda itu mengisjaratkan upaja mati2an jang harus ditempuh sebelum gelap itu bisa berlalu dan terang lahir. Mungkin djudulnja lebih tepat Mengarungi gelap demi mentjapai terang.

Sebagai pelopor bumiputra jang menulis dalam bahasa Belanda, djedjak2 Kartini diikuti oleh Noto Soeroto (1888-1951). Putra Mangkunegaran jang sekakek dengan Soewardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) ini berangkat ke Belanda pada tahun 1906 ketika berusia 18 tahun untuk beladjar di negeri pendjadjah. Tapi achirnja dia menetap di Den Haag selama sekitar 25 tahun dan berkembang mendjadi penulis jang menghasilkan tudjuh kumpulan puisi berbahasa Belanda, antara lain De geur van moeders haarwrong (harum kondé ibunda) dan Melatiknoppen alias kuntum2 melati. Lalu masih ada Soewarsih Djojopoespito (1912-1977), seorang guru jang menulis novel Buiten het gareel, artinja di luar batas jang terbit tahun 1940, 12 tahun sesudah Soempah Pemoeda. Kemudian djuga Han Resink (1911-1997) jang menulis beberapa kumpulan puisi, antara lain Transcultureel (Lintas budaja) dan Op de breuklijn (pada garis batas). Han Resink jang namanja disebut oleh Pramoedya Ananta Toer pada halaman awal Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa adalah penulis berdarah Indo, tjampuran Indonesia Belanda dan memilih warga negara Indonesia. Dunia sastra Belanda menjebut Kartini, Soewarsih, Soeroto dan Resink sebagai sastrawan Indonesia jang berkarja dalam bahasa Belanda.

Buku karya Soewarsih Djojopoespito (1912-1977)

Siapa berani membantah bahwa karja mereka bukan sastra Indonesia, walaupun tidak ditulis dalam bahasa Indonesia? Kalaupun ada jang berani melakukannja pasti bantahan seperti itu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin bisa menjangkal bahwa Buiten het gareel bukan karja sastra Indonesia, sementara dalam novel itu Soewarsih jang naskahnja ditolak oleh Balai Poestaka, berkisah tentang perdjuangan Indonesia merdeka dengan mendidik murid2 supaja berpikiran lepas, bebas, dan merdeka?

Buku De geur van moeders haarwrong (harum kondé ibunda) karya Noto Soeroto (1888-1951). Putra Mangkunegaran jang sekakek dengan Soewardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara). Selain buku ini ia menulis 6 karangan antologi puisi lainnya.

Di lain pihak djuga tidak mungkin menganggap keempat pengarang itu sebagai perketjualian dan selandjutnja karja sastra Indonesia harus selalu dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Empat penulis itu (pasti djuga lebih) adalah ketjelakaan sedjarah, dan konsekuensinja tidaklah ketjil. Artinja penulis2 zaman sekarang djuga bebas berkarja dalam bahasa apapun, tanpa perlu dihinggapi kechawatiran karja mereka akan tidak diakui atau diasingkan dari sastra Indonesia.

Tak pelak lagi, kita memang harus bisa berlapang dada. Artinja kita harus bisa merangkul, harus inklusif dan tidak exklusif. Karja2 penulis kita jang ditulis dalam bahasa apapun tetap merupakan karja sastra Indonesia, apalagi kalau karja itu berkisah tentang negeri ini. (*)

| Amsterdam, kampung de Jordaan, musim semi 2017

________________________

Joss Wibisono: penulis dan peneliti lepas, menetap di Amsterdam. Tulisan2nja terbit pada pelbagai media tanah air, seperti Tempo, Koran Tempo, Historia dan Suara Merdeka (Semarang). Buku2nja adalah: Saling Silang Indonesia Eropa (non-fiksi 2012), Rumah tusuk sate di Amterdam selatan (kumpulan tjerpen, 2017) dan Nai Kai: sketsa biografis (novel pendek, 2017).

 

Continue Reading

Editor's Choice

Ki Hadjar Dewantoro: Permainan Kanak-kanak

mm

Published

on

 

Pendidikan Diri dari Kodrat ke Arah Adab Bentuk dan Isi Alam Kanak-kanak

PERMAINAN kanak-kanak itu sebenarnya sudah lama menarik dan menjadi pusat perhatian para ahli pendidik diseluruh dunia. Sebelum Friedrich Firobel memasukan permainan kanak-kanak di dalam “Kindergarten”-nya, sebagai anasir mutlak dalam pendidikan anak-anak di bawah umur 7 tahun, sebelum itu sudah ada perhatian terhadap soal tersebut. Mungkin karena Pestolozzi – “bapak” dari pada “sistem sekolah” (yang “modern” pada jamannya pertengahan dan akhir abad XVIII, jadi jaman hidupnya Frobel juga) – dengan tegas menganjurkan pengembalian sistem pendidikan yang tatkala itu membeku dalam bentuk, isi dan lakunya, ke arah “natuurlijkheid,” yaitu kodrat keadaan dalam umumnya dan kodrat hidup tubuh kanak-kanak pada khususnya. Sebetulnya pelopor pembaharuan hidup, pelopor “revolte” Jean Jacques Rousseau (yang berhasrat membebaskan hidup manusia dari segala ikatan adat yang mati), pun di dalam dunia pendidikan pula dianggap pelopor, ialah pelopor pendidikan merdeka. Salah satu tuntutan Rousseau ialah kemerdekaan jiwa kanak-kanak, membebaskan dia dari kekangan dan mengemukakan kodrat hidup kanak-kanak. Dan kodrat jiwa kanak-kanak. Itulah yang terkandung dalam bentuk dan isi segala macam permainan kanak-kanak.

Apabila kita meninjau segala gerak-gerik kanak-kanak, menilik segala sikapnya, kesedihan dan kesenangannya, langkah-lakunya, maka dapatlah kita lihat, bahwa semua itu nampak di dalam berbagai permainan-permainannya. Ini disebabkan anak-anak itu selama mereka tidak tidur atau sedang melakukan sesuatu pekerjaan yang penting (dan ini biasanya terlaksana secara sambil-lalu) tentulah mereka itu bermain-main. Boleh dikatakan, bahwa permainan itu mengisi sepenuhnya hidup kanak-kanak, mulai ia bangun pada waktu pagi-pagi, sampai ia tidur lagi pada malam hari; sehari terus. Beristirahat ….. hanya kadang-kadang bila ia sungguh lelah – dan ini keharusan untuk makan atau minum, untuk mengasingkan diri sebenar, atau dipanggil ayah ibunya. Persayalah, bahwa semua pemutusan waktu bermain itu oleh anak-anak sendiri dianggap sebagai “gangguan” yang mengecewakan. Biasanya kalau anak itu sungguh lelah, ia berganti bermain yang serba ringan; dan ini berlalu secara “spontan” dengan sendiri.

Jumlah dan Jenis Permainan

Jumlah permainan kanak-kanak itu banyak sekali dan boleh dibilang tak terhitung banyaknya. Ini disebabkan, selain permainan-permainan yang lama, senantiasa dan tambahan permainan-permainan baru, yang dibawa oleh kanak-kanak, baik anak-anak yang berasal dari tempat lain, maupun oleh anak-anak setempat, yang meniru permainan-permainan yang berasal dari golongan-golongan lain. Kadang-kadang permainan-permainan baru tadi timbul karena spontanitas kanak-kanak, atau merupakan ciptaan pihak orang tua, yang bisanya  dengan segala senang hati diterima oleh anak-anak. Pendek kata, segala permainan baru dari manapun asalnya, selalu diterima oleh kanak-kanak sebagai tambahan yang sangat dihargai; barang tentu asalkan sesuai dengan jiwa kanak-kanak.

Permainan-permainan yang lama biasanya tidak dilepaskan oleh kanak-kanak, yang dalam hal itu seringkali menunjukkan sikap konservatif. Kerapkali kejadian pula anak-anak memperbaharui permainan lama, yaitu sifat permainan lama masih nampak, tetapi dengan bentuk yang agak baru, atau bentuknya tak berubah, namun isinyalah yang baru. Dengan begitu maka di samping permainan-permainan lama selalu timbul permainan-permainan baru, hingga jumlahnya banyak sekali. Barang tentu di sesuatu tempat dan dalam sesuatu waktu ada juga permainan-permainan yang akan dilakukan lagi oleh kanak-kanak, akan tetapi pada lain waktu timbullah dengan sendiri permainan-permainan, yang tadinya sudah tak pernah dimainkan oleh kanak-kanak.

Kalau kita menengok bentuk dan isi permainan-permainan itu, maka banyak sekali terdapat anasir-anasir atau bahan-bahan, yang berasal dari hidup kemasyarakatan yang mengelilingi hidup kanak-kanak. Segala pengaruh alam dan jaman, yang memperbaharui masyarakat, dalam instansi kedua memperbaharui pula bentuk dan isi permainan kanak-kanak. Berhubungan dengan itu hendaknyalah diingat bahwa konservatisme kanak-kanak, seperti telah disebut di muka, menyebabkan terus hidupnya permainan-permainan kuno, seolah-olah terhindar dari pengaruh alam dan jaman baru. Keadaan ini nampak dalam hidup kanak-kanak kita, yang masih mempunyai peremainan-permainan berasal dari jaman feodal, jaman permainan primitif, di zamannya masih ada perdagangan anak-anak dan lain sebagainya. Hal ini tidak saja amat berhubungan dengan sifat “statis” daripada masyarakat kita (dan ini berhubungan pula dengan tidak adanya hidup tumbuh secara bebas dan merdeka dalam sejarah kebudayaan kita sejak adanya penjajahan asing), tetapi ada lagi pertaliannya dengan sifat activisme, yang antara lain diuraikan dalam teori atavisme oleh seorang ahli ilmu-jiwa Amerika Stanley Hall.

Sifat permainan kanak-kanak

Sejak timbulnya “paedalogy”, ilmu pengetahuan tentang hidup kanak-kanak pada umumnya dan khususnya sebagai akibat perkembangan ilmu pendidikan (paedagogy), maka para ahli biologi menaruh minat dan perhatian pula terhadap soal permainan kanak-kanak, terpandang dari sudut ilmu-ilmu yang luas. Stanley Hall, yang baru kita sebut tadi, menghubungkan dengan sifat-sifat permainan kanak-kanak dengan “hukum biogenese,” pelajaran Ernst Haeckel, mengenai asalnya segala gerak-gerik di dalam hidup manusia, yang dikatakan: selalu mempunyai sifat ulangan pendek dari hidupnya jenis manusia dalam jaman-jaman yang lampau, mulai jaman purbakala. Hidup tumbuhnya “ontogenese,” adalah ulangan singkat dari kemajuan “phylogenese.” Begitu segala tingkah laku kanak-kanak bermain-main dengan batu, dengan tanah, dengan air, dengan hewan atau permainan perang-perangan, pertanian, perdagangan, beradu kekuatan, dll, sebagainya menurut Haeckel tadi boleh dipandang sebagai ulangan jaman batu, jaman pertanian, pelajaran, penggembalaan, keprajuritan dan sebagainya, yang terdapat di seluruh dunia. Inilah sebabnya, menurut Stanley Hall, segala permainan kanak-kanak itu di segala pelosok di seluruh dunia mempunyai sifat yang sama dalam pokoknya ialah ulangan atavistis.

Baiklah di sini diingat adanya sikap manusia, yang “onbewust” biasanya, untuk mengganti atau mengubah sifat-sifat “keinginan instinctif” (berasal dari teori atavisme dari Stanley Hall tadi) dengan sifat-sifat yang untuk jaman yang berlaku sekarang ini tidak diharamkan, atau bertentangan dengan syarat-syarat kesusilaan dalam jalan ini. Sikap inilah yang menurut Karl Groos dan Dr. Maria Montessori disebut “katharsis,” yang sebenarnya berarti; “memurnikan,” yaitu menghilangkan sifat-sifatnya yang kasar atau tak senonoh. Katharsis itu sebenarnya, “permainan” yang dilakukan oleh orang-orang dewasa, untuk menuruti dorongan-dorongan dari macam-macam insting, hanya saja diberi bentuk yang sesuai atau dibolehkan oleh moralnya jaman yang berlaku. Contoh-contohnya misalnya; perjudian, menyembelih hewan dan menanam kepalanya di bawah bangunan-bangunan yang didirikan, lain-lain macam bersaji, dsb.; untuk orang-orang muda misalnya mengadakan pesta dengan berdansa-dansa, berdarmawisata dan melakukan sport bercampur, laki-laki dan perempuan, dsb. Demikian teori atavisme tentang permainan kanak-kanak (dan orang dewasa) menurut Stanley Hall.

Sifat-sifat biologis

Ada pandangan lain tentang permainan kanak-kanak yagn disandarkan pada spontanitas dalam hidupnya kanak-kanak. Dibuktikan oleh Montessori, secara eksperimental, bahwa tumbuhnya jasmani kanak-kanak itu menimbulkan keinginan-keinginan yang kuatnya dorongan atau tuntutan jiwa, yang sering kali berlau secara tiba-tiba atau “spontan” (tak dengan dipikir-pikir sebelumnya). Anak-anak kecil suka merangkak, suka bersandar pada tongkat atau barang lain, merambat pagar dan lain sebagainya, itu adalah tuntutan jasmani, guna mendapat gambaran kekuatan atau pengurangan beban, yang perlu untuk berjalannya serta segala gerak-gerik badan kanak-kanak yang menurut kodratnya masih kekurangan kekuatan. Permainan kanak-kanak pada umumnya boleh dipandang sebagai tuntutan jiwanya yang menuju ke arah kemajuan hidup jasmani maupun rohani. Lihatlah caranya kanak-kanak bermain-main.

            Banyak permainan-permainan itu merupakan tiruan gerak-gerik orang tua; misalnya permainan yang meniru orang bercocok tanam, berdagang, menerima tamu, mengejar pencuri dsb. “Meniru” ini sangat berguna, karena mempunyai sifat mendidik diri pribadi dengan jalan orientasi serta mengalami, walaupun hanya secara khayal atau fantasi. Dalam hal ini sama faedahnya dengan sandiwara.

Kerapkali permainan kanak-kanak itu bersifat mencoba kekuatan atau kepandaian (kecerdikan, kecakapan dan sebagainya). Ia selalu berhasrat mengalahkan temannya, merasa amat senang kalau menang, susah kalau kalah; sama dengan semangat orang-orang yang bertanding dalam keolahragaan. Ini mendidik kanak-kanak pula, tidak saja untuk selalu memperbaiki kecakapannya, tetapi juga untuk menebalkan tekadnya, kepercayaannya atas dirinya sendiri. Dalam hubungan ini ada baiknya disebutkan pula, bahwa kanak-kanak seringkali mematahkan atau memcahkan barang-barang itu karena keinginan mencoba kekuatannya. Menyakiti hewan atau anak lain boleh termasuk dalam pandangan ini.

Mencoba kekuatan atau kepandaian itu jika tidak dengan beradu, yaitu dilakukan sendirian, lalu bersifat “demonstrasi” memperlihatkan kejadiannya, dan ini adalah salah satu corak perangai manusia yang umum, yang dapat pula dianggap ada faedahnya, misalnya berhubungan dengan tumbuhnya rasa diri, rasa bertanggung-jawab, rasa tidak “minderwaardig” (kurang berharga), dan sebagainya.

Permainan kanak-kanak itu umumnya sama dengan caranya anak-anak belajar melatih diri, berupa persiapan untuk hidupnya kelak. Anak-anak kucing gemar bermain-main dengan segala barang yang mudah digerakkan, dan sesudah digerakkan sendiri, lalu ditubruk-tubruk, secara kucing tua menubruk tikus. Karena inilah Montessori menetapkan pula, bahwa permainan kanak-kanak itu semata-mata latihan daripada segala laku, yang kelak perlu bagi hidup manusia. Caranya kanak-kanak terus menerus mengulangi sesuatu permainan. Tidak dengan bosan-bosan, menunjukkan sifatnya latihan itu pada umumnya.

Sebabnya Kanak-kanak Gemar Bermain

Bahwa kanak-kanak itu gemar sekali akan segala permainan, tak usah diterangkan dengan panjang lebar. Kita semua dapat menyaksikannya sendiri. Apabila ada seorang anak tidak suka bermain-main, bolehlah dipastikan bahwa anak itu sedang sakit, jasmaninya ataupun rohaninya. Di muka sudah diterangkan, bahwa sehari terus, mulai bangun pagi-pagi sampai tidur pula pada waktu malam, anak-anak itu tentu bermain-main. Anak yang tak berbuat apa-apa, dalam bahasa Jawa “nganggur”, boleh dikatakan tidak ada. Apakah kitanya yang menyebabkan terus menerus bergeraknya anak-anak itu? Jawab pertanyaan ini kita serahkan kepada Herbert Spencer, seorang ahli ilmu-ilmu jiwa dan filsuf bangsa Inggris. Sepencer mengajarkan, bahwa sifat dinamis dalam hidup tumbuhnya kanak-kanak itu adalah akibat dari adanya sisa kekuatan (krachtoverschot) di dalam jiwa dan tumbuhnya kanak-kanak, yang sedang ada dalam keadaan bertumbuh itu. Produksi kekuatan dalam kanak-kanak, lahir dan batin, sehingga lalu ada “sisa” tadi. Dan sisa kekuatan ini menuntut secara organis, agar dipakainya, supaya lalu ada imbangan lagi antara kekuatan lahir dan batin di dalam hidupnya anak-anak, imbangan mana bersifat rasa enak, semuanya karena danya “penyaluran.” Sisa kekuatan itulah yang mengakibatkan anak-anak secara spontan terus bergerak, dinamis lahir dan batin, tak berhenti secara istirahat. Dalam keadaan begitu maka anak-anak yang terpaksa diam, merasa terhukum, kadang-kadang menyebabkan terganggunya kesehatan jasmaninya, karena “overspanning.” Alangkah baiknya, bila tiap-tiap orang tua menginsyafi kebenaran pelajaran Spencer ini, dan memberi kesempatan sebanyak-banyaknya dan sebebas-bebasnya kepada anak-anaknya, untuk bermain-main dan bergerak badan, yang sangat perlu bagi kesehatan roh dan badannya. Untuk kepentingan ini tak usah diterangkan, bahwa permainan-permainan yang bersfiat “sport” (barang tentu disesuaikan dengan kekuatan kanak-kanak), patut diperhatikan secukupnya.

Latihan Panca Indra

Salain kepentingan fisiologis, yang bertali dengan kesehatan badan (yang sangat perlu untuk tumbuhnya jasmani dengan sebaik-baiknya), ada pula kepentingan yang mengenai kemajuan hidup rohaninya kanak-kanak. Permainan kanak-kanak yang dalam bentuk dan isinya boleh dikata semuanya mempunyai sifat latihan panca-panca indera” ala Montessori. Dan sebagai diketahui maka latihan panca-indra itu oleh Montessori dimaksudkan sebagai gerak lahir secara teratur, yang besar pengaruhnya kepada tumbuh serta yang bermacam-macam, seperti menggambar, mengancam, melempar barang ke arah jarak yang tertentu, mengatur tertibnya urutan-urutan barang ke arah jarak yang tertentu, mengatur tertibnya urut-urutan suatu atau barang-barang menurut panjangnya, besarnya atau beratnya, dan lain sebagainya, maka rasa dan pikiran kanak-kanak, pula kemauannya, dapat terdidik dengan sendiri. Di sinilah dengan tegas dibuktikan adanya hubungan yang amat erat antara kemajuan jasmani dengan rohani, dan teranglah bahwa permainan kanak-kanak, juga yang spontan keluar dari kemauannya sendiri, jadi tidak ditatur oleh gurunya (atau “pembantu”-nya menurut istilah Montessori) benar-benar mengandung faktor psychologis.

Dengan sendiri kita di sini pada nama Frobel, yang sangat mementingkan permainan kanak-kanak bagi “kindergardfen”-nya. Pokok perbedaan antara Montessori dengan Frobel ialah, karena pencipta Kindergarden yang terkenal di seluruh dunia itu memandang kanak-kanak dari sudut totalitet kejiwaan dan memandang permainan tadi sebagai gerak kondratnya kanak-kanak. Kegembiraan kanak-kanak tadi sebagai gerak kodratnya kanak-kanak. Kegembiraan kanak-kanak dan segarnya jiwa serta semangatnya, yang menggetar dan berseri-seri, selama kanak-kanak bermain di dalam “taman kanak-kanak,” itulah syarat mutlak menurut Frobel, guna memupuk perkembangan jiwa kanak-kanak. “Taman” dalam nama perguruan Frobel itu, bukan perkataan hampa, bukan hanya perlambang pula, tetapi memang dimaksudkan oleh si pencipta harus bersatunya jiwa kanak-kanak dengan tumbuh-tumbuhan pula, yang harus dipelihara menurut syarat-syarat keindahan. Demikianlah anjuran Frobel.

Montessori menunjukkan corak lain, ialah corak yang “zakelijk,” yang jauh dari maksud “puisi” atau “romantik.” Seperti nampak dalam sistem “Kindergartden,” Montessori menciptakan untuk sekolahnya pelbagai “permainan” yang bertujuan memasukan pancaindera pada instansi pertama, sedangkan menyenangkan kanak-kanak itu jatuh nomor dua. Itulah sebabnya para pegikut Frobel secara mengejek menamakan “Montessorischool” itu bukan ruang pendidikan, melainkan “laboratoriun” untuk meng”ekkerimentir” penyeleidikan “analitis psikologis” berasal dari doktor medika Montessori. Anak-anak yang menjadi “proefkonijn”-nya (alat percobaan).

            Bagaimanapun juga nyatalah, bahwa permainan kanak-kanak itu sungguh besar sekali paedahnya terhadap hidup tumbuhnya jasmani dan rohani kanak-kanak, karena sangat sesuai dengan dasar kodratnya kanak-kanak, baik dipandang biologis, psikologis maupun pedagogis.

Permainan dalam Kebudayaan Kita

Apabila kita pada waktu senja suka meninjau ke dalam kampung-kampung atau desa-desa, maka pastilah tertangkap dalam telinga kita bermacam-macam nyanyian-nyanyian kanak-kanak. Jika kebetulan terang bulan, maka sampai agak malam suara lagu-lagu itu terdengar, biasanya berbarengan dengan suara “gejong,” yaitu permainan memukul-mukul “lesung” (penumbuk padi) yang dilakukan dengan penuh irama. Pula pembacaan buku dengan “lagu-lagu” macapat di sana sini masuk ke dalam pendengaran kita. Di Pasundan kerapkali suara seruling atau kecapi mengisi suasana desa. Semuanya itu membuktikan adanya “musikalitas” pada bangas kita, yaitu adanya dasar seni-suara dalam hidup kebudayaan kita. Bukan itulah kini yang kita bicarakan. Yang sekarang menarik perhatian kita ialah kedudukan permainan kanak-kanak dalam hidup kebudayaan kita. Dalam pada itu bolehlah di sini diketahui, bahwa sebagian besar daripada permainan-permainan kanak-kanak kita itu disertai nyanyian-nyanyian yang membuktikan adanya “musikalitas” tadi juga pada anak-anak kita.

Pada permulaan karangan ini sudah saya kemukakan, bahwa jumlah permainan kanak-kanak itu besar sekali; ada yang timbul dari spontanitas kanak-kanak sendiri, ada yang rupa-rupanya ciptaan orang tua yang berbudi seniman. Dalam buku besar karangan dan himpunan H. Overbeck, penerbit “Java Institut” (Javaansche meisjesspelen en kinderliedjes) dapatlah kita menghintung 690 permainan dan nyanyian. Ini hanya permainan anak-anak perempuan saja. Rangkaian perkataan “permainan dan nyanyian” menunjukkan adanya hubungan yang erat antara kedua-duanya. Ada yang pokonya berwujud “permainan” tetapi dengan diantar lagi, ada pula yang pokoknya “nyanyian” tetapi disertai gerak-gerik yang berirama.

Barang tentu kita semua tahu adanya siaran-siaran radio, yang menyebutkan acara: permainan kanak-kanak (dolanan anak). Dan kita mengerti, bahwa kita akan mendengar nyanyian-nyanyian, yang dilagukan biasanya untuk mengantar permainan-permainan kanak-kanak. Juga dalam acara “klenengan” atau “uyon-uyon”, yang berati konser-gamelan, kadang-kadang diberitahukan adadnya “dolanan kanak-kanak.” Ini berarti para “niaga” akan memainkan dan “pesinden” akan melagukan nyanyian-nyanyian kanak-kanak. Bukti pula bersatunya permainan dan nyanyian. Tidak itu saja; dimainkannya lagu permainan kanak-kanak menunjukkan pula, bahwa lagu-lagu dolanan itu banyak yang cukup baik, cukup bernilai kesenian, hingga patut untuk didengarkan dan diraskan merdunya oleh orang-orang tua, sebagai seni-suara. (*)

Mimbar Indonesia No. 2-25 Desember 1948.

————————————-

Ki Hadjar Dewntoro adalah tokoh peletak dasar pendidikan nasional. Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, di Yogyakarta, 2 Mei 1889. Pada tanggal 25 Desember 1912 dia bersama dr. Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo mendirikan Indische Partij. Setelah aktif di bidang politik dan sempat dibuang Pemerintah Kolonial Belanda, sekembalinya di tanah air pada tahun 1918, ia mencurahkan perhatiannya di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan. Bersama rekan-rekan seperjuanganya ia mendirikan National Onderwijs Instituut Tamansiswa atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional Tamansiswa, 3 Juli 1922. Dalam zaman pendudukan Jepang, kegiatannya di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hadjar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur, jabatan yang pernah dipegang setelah Indonesia merdeka ialah sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Tokoh dan pahlawan pendidikan ini tanggal kelahirannya 2 Mei oleh bangsa Indonesia dijadikan hari Pendidikan Nasional. Selain itu, melalui surat keputusan Presiden RI no. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959 Ki Hadjar ditetapkan sebagai Pahwalan Pergerakan Nasional. Penghargaan lainnya yang diterima oleh Ki Hadjar Dewantara adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada di tahun 1957. Dia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta.

Sumber: Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan Taman Siswa, Jogyakarta, 1962.

Continue Reading

Classic Prose

Trending