Connect with us

Art & Culture

Rekki Zakkia: Dalam Kehilangan dan Jalan Ketuhanan nun Indah

mm

Published

on

Saya memutuskan menapaki jalan sepiritual sambil berharap Tuhan masih memeberi kesempatan untuk saya dapat menulis keindahan-keindahanya.

Oleh : Doel Rohim *)

Malam itu, saya berkesempatan bertemu Rekki Zakkia. Generasi saat ini tentu bertanya siapa nama dan sosok itu? Tapi pada akhir 90an atau awal tahun 2000an dia adalah salah satu sastrawan yang namanya juga turut beredar mengisi ruang sastra generasi saat itu.

Dia eorang sastrawan yang hampir kehilangan imaji sastranya, bahkan semangat hidupnya setelah sekian lama memerangi penyakit Skizofrenia yang di deritanya. Baru-baru ini ia seperti menemukan gairah hidupnya kembali,  setelah mengeluarkan sebuah kumpulan sajaknya yang sudah lama hilang. Kumpulan puisi yang ia sebut sebagai anak ruhaninya ini baru saja ia temukan, yang ternyata disimpan oleh sahabatnya yang ia pikir sudah tidak bisa diselamatkan.

Beberapa kumpulan puisi ini, merupakan catatan dirinya dalam menghayati dinamika sosial politik, agama hingga identitas dirinya sebagai manusia dalam priode tahun 1998-2009.

Waktu yang cukup menguras energinya dalam menapaki pergulatan batin yang lebih sering terbentur hingga akhirnya ia tak lagi punya daya untuk sekedar menulis sajak, yang pernah menjadi jalan sunyi yang digelutinya.

Kali ini saya ingin mengajak Rekki untuk menyusuri ingatannya kembali terkait proses kepenulisan dan kesustraanya kembali. Di temani segelas kopi dan sebungkus rokok saya pelan-pelan masuk dengan beberapa pertanyaan. Ia bicara pelan, tapi sepenuhnya masih sastrawan.

Sejak kapan anda mulai menulis?

Saya menulis sejak SMP, orang tua saya seorang seniman juga, bisa dikatakan pendakwah, akses buku di rumah sudah lumayan banyak, dari sana saya suka menulis. Begitupun orang tua saya tidak pernah mendorong untuk menjadi penulis, tetapi dengan apa yang dikerjakan ayah saya dengan pergaulanya bersama para kiai dan seniman, itu mendorong saya. Gairah menulis saya mulai muncul.

Apakah anda punya pengalaman terkait kepenulisan

di masa awal anda menggeluti dunia tulis menulis?

Ada, saat itu ketika saya masih SMP ada mahasiswa KKN dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang datang ke rumah saya, ia seorang sastrawan dari Teater Eska, saya memberanikan untuk tanya menggenai puisi, dan jawabanya hanya “pertanyaanmu itu puisi”, jawaban itu seperti petir yang menyambar kepalaku, dari sanalah saya yakin menulis menjadi jalan hidupku. Dari situ juga mulai mendalami kepenulisan mulai dari, puisi, esai dan cerpen.

Bisa di ceritakan peran ayah anda dalam proses kepenulisan anda?

Bapak saya sangat berperan dalam proses kepenulisan saya, beliau memberi kebebasan pada anak-anaknya dan memberi akses yang luas terhadap ilmu pengetahuan, menyediakan banyak buku dan jaringan para sastrawan yang bisa saya kenal dari bapak saya. Selain itu bapak saya juga memberi tauladan dalam membicarakan gerakan sosial kepada masyarakat yang bagi saya luar biasa, ia selama hampir 30 tahun memasukan kultur santri yang sebelumnya sangat jauh dari masyarakat saya, hingga perubahanya bisa dirasakan sampai sekarang. Dari sanalah saya mulai tertarik dengan gerakan sosial sejak kecil, hingga waktu SMA saya menjadi aktifis Frond Perjuangan Pemuda Indonesia, basis pelajar di Yogyakarta.

Anda masuk sebuah basis gerakan sosial sejak SMA, apa yang anda fikirkan saat itu?

Saya tidak tahu itu mengalir saja, awalnya ketika saya memilih sekolah SMA 8 di Yogyakarta. Kondisi sosial politik di masa akhir orde baru saat itu sangat bergejolak termasuk di Yogya, hampir setiap hari ada demonstrasi, berbekal pengetahuan dari buku yang saya baca panggilan untuk terlibat dalam aksi-aksi itu tak bisa dihindarkan, dan akhirnya saya masuk ke forn pelajar Yogya bergabung dengan mahasiswa ikut aksi-aksi menggulingkan Soeharto.

Apakah kondisi seperti itu berpengaruh dalam beberapa puisi yang anda tulis?

Masa puncak priode kepenulisan saya terhitung sangat pendek, tahun 96 sampai 98. Saat itu tulisan saya banyak di muat media di Indonesia, bahkan esai saya pernah menjadi yang terbaik di majalah Horison. Jelas, dalam rentang waktu yang pendek dengan latar kondisi sosial politik yang panas seperti itu, saya juga meresponya dengan beberapa puisi. Namun saat puncak demonstrasi sekitar tahun 98, saya lebih sibuk ke gerakan hingga saya sudah jarang menulis kembali.

Saya membaca beberapa puisi dalam buku yang anda cetak,

bernuansa spiritual dan itu sekitar tahun 98, apakah ada hubungannya dengan situasi saat itu?

Secara langsung tidak, itu moment bulan puasa saja, dimana saat itu saya mengalami situasi batin yang teramat rumit, mempertanyakan identitas diri begitupan eksistensi Tuhan dan munculah beberapa puisi yang bisa anda baca tersebut.

Adakah pengalaman tragis yang bisa anda ceritakan terkait proses kepenulisan anda?

Ini yang saya katakan saya kehilangan anak ruhani saya. Saat itu saya sedang mencintai seorang wanita, cinta yang tidak hanya sekedar cinta monyet seperti anak SMA. Tapi lebih dalam dari pada itu, seperti getaran batin yang hanya ada untuknya, kalau anda pernah dengar kisah cinta penyair besar Umbu Landu Paranggi kira-kira seperti itulah gambaranya. Hingga akhirnya saya menuliskan beberapa surat puisi untuknya,  terhitung hampir ratusan yang saya berikan padanya. Dalam surat tersebut tidak hanya sekedar puisi cinta tapi termasuk catatan saya terkait sosial politik yang saya kemas melalui bait-bait sajak. Saat beberapa kali saya kasih tahu pada teman yang bergelut di dunia sastra terkait karya tersebut, ia merekomendasikan untuk menerbitkanya. Dan saya sendiri yakin itu master pice dari proses kepenulisan saya, saat itu juga saya sudah ingin menerbitkanya menjadi buku, bahkan sudah ada judulnya.

Namun naas, bebarengan perempuan yang saya cintai itu menikah, dan akhirnya karya itu juga tidak terselamatkan. Ketika saya tanyakan, ia tak pernah bisa menjawab, mungkin sudah di bakar. Mulai dari sana hancurlah sebagian dari hidup saya, seperti halnya kehilangan anak ruhani yang saya persiapkan kelahiranya, namun hal tersebut tak pernah terjadi. Semenjak itu saya tak sanggub menulis puisi lagi.

Saat menceritakan prihal di atas, anda begitu haru dan emosional,

apa pengaruhnya dalam hidup anda?

Setelah kejadian itu, saya tak punya daya lagi untuk sekedar menulis, aktifitas gerakan setelah jatuhnya rezim Soeharto pun berhenti, para aktivis tercerai berai. Di masa awal kejatuhan Soharto saya masih berusaha bangkit Bersama kawan-kawan saya menghidukan dan menjalani agenda gerakan social bersama FFPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia). Secara otomatis aktifitas menulis saya sudah tidak saya lakukan lagi. Tahun 2002 saya terkena sakit Skizofrenia, saat-saat seperti itu kegiatan intelektual saya berhenti karna takut mengganggu proses penyembuhan. Tahun  2009 saya berusaha bangkit dengan masuk kampus UNY jurusan sastra, baru dapat satu semester kondisi tidak setabil kembali.

Akhirnya saya memutuskan menapaki jalan sepiritual sambil berharap Tuhan masih memeberi kesempatan untuk saya dapat menulis keindahan-keindahanya. (*)

____

Pewawancara: Doel Rohem—penulis lepas, menempa proses kreatif dunia menulis di LPM ARENA Yogyakarta. | Editor: Sabiq Carebesth.

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading
Advertisement

Art & Culture

Irfan Afifi dalam Kejawaan dan Keislaman Yang Gelisah

mm

Published

on

Kondisi keberislaman kita hari ini, sebenarnya bukan suatu yang tiba-tiba terjadi, bahasa jawane ujug-ujug ana. Ada proses sejarah panjang yang sering kali, kita luput untuk memperhatikanya. Bahwa apa yang disebut sebagai “Islam” sering kali dikatakan oleh para orientalis hanya sebagai “lapisan tipis” dari kebudayaan Jawa. Ada beberapa orientalis yang kurang lebih berkata sama seperti karya-karya Geertz, Snock Hurgronje, Pigued, De Graff dan  juga yang lainya, setidaknya memberi label Islam yang ada di Nusantara mereka sebut sebagai “Islam sinkretis” dengan seluruh kandungan peyoratif yang dikandungnya yakni bercampur aduknya dalam sebuah adukan yang kurang lebih tidak jelas. Kira-kira seperti itu banyak dari para orientalis memposisikan Islam di kebudayaan Jawa. –Irfan Afifi

Oleh; Doel Rohim *)

Baru-baru ini penulis Irfan Afifi mengeluarkan sebuah buku yang di bicarakan oleh banyak orang. Buku yang diberi judul Saya, Jawa, dan Islam ini, mengulas pergulatan batin Irfan mengenai identitas kejawaan dan keberislaman yang mulai luntur bahkan hilang dalam dirinya.

Sejak itulah ia mencari, membangun batu bata pengetahuanya kembali, untuk menemukan jawaban atas kegelisahanya tersebut. Buku Saya, Jawa dan Islam, merekam dengan baik perjalanan pencarian diri yang hilang, yang sampai buku ini diterbitkan  sebenarnya belum selesai ia susun. Lelaki yang keseharianya tinggal di Yogyakarya ini, sampai hari ini masih bergelut dengan pencarian dirinya, sambil terus menulis di media yang ia gawangi Langgar.co ia mendokumentasikan catatan perjalanan pencarianya yang filosofis.

Saya berkesempatan menemui Irfan secara langsung di rumahnya Kamis (30/4/2019), untuk mencari tahu bagaimana proses kreatif kepenulisan hingga kegelisahan semacam apa hingga buku ini dapat respon positif dari banyak kalangan. Berikut ‘obrolan’ lengkapnya:

Bisa anda jelaskan konteks personal kenapa anda menulis buku Saya, Jawa, dan Islam?

Awalnya tulisan yang ada di buku itu adalah kumpulan dari tulisan saya di beberapa kesempatan yang semuanya berasal dari kegelisahan saya atas ke Islaman dan  ke Jawa-an dalam diri saya, yang seperti hilang dalam hidup ini.  Rasa kehilangan yang begitu dalam membuat diri saya merasa kurang lengkap, jiwa saya kering, hingga akhirnya saya mulai mencari dan mengidentifikasi ulang diri saya. Dari sanalah peoses awal saya mendalami identitas Jawa dan Islam saya yang hilang, yang ternyata selama ini dikaburkan oleh proses pajang sejarah bangsa ini terutama masa kolonialisme.

Sebelum jauh membicarakan buku anda, anda sekarang tergolong produktif menulis di media termasuk media anda sendiri Langgar.co mungkin juga yang lainya, bisa ceritakan kapan anda pertama kali menggenal dunia tulis menulis?

Haha saya belajar menulis sejak kuliah tepatnya saat saya masuk di Lembaga Pers Mahasiswa Balairung UGM tahun 2000-an. Kalau ingget dulu, kelihatanya saat itu saya tergolong paling aktif di LPM, bahkan hampir separo masa kuliah di kampus saya habiskan di bilik kantor Balairung, berangkat ke kantor mulai sore, hingga menjelang subuh saya baru pulang ke kontrakan dan gak jadi kuliah (tertawa lepas). Mungkin itu, pertama kali saya bersingungan dengan dunia tulis menulis. Saya masih ingat sejak SMA bahkan sampai masuk kuliah saya tidak banyak punya uang untuk sekedar membeli buku. Paling-paling pinjam buku, tapi karna saya tumbuh di tradisi pesantren budaya literasi saya terbantu dengan terbiasa membaca kitab kuning ayah saya.

Sebelum anda menulis biasanya mempunyai ritual khusus atau tidak, sebelum menggoreskan kata pertama?

Apa ya, saya terbiasa menulis setiap pagi setelah habis shubuh. Selain itu harus minimal dua bungkus rokok gudang garam yang menemani. Hahah biasannya baru bisa mulai nulis, di saat yang tepat biasanya saya seperti kejatuhan ilmu Tuhan dari langit , hahah.

Saya akan masuk lebih dalam buku yang anda tulis, dalam bab pertama buku Saya Jawa dan Islam, tulisan anda terlihat begitu emosional menceritakan proses awal kepenulisan buku ini hingga bisa diterbitkan, bisa anda jelaskan?

Haha iya memang, dalam bab pertama tersebut sebenarnya saya sedikit banyak menceritakan bagaimana proses awal saya menemukan identitas kultural saya yang hilang, yang sebenarnya sudah lama saya gelisahkan.  Pada awal tahun 2007 saat saya dipertemukan dengan salah seorang tukang pijat disekitar kontrakan saya dekat UGM, tiba-tiba saya di beri wejangan untuk mulai mandeg pribadi, mengatur empat pribadi dalam diri sedulur papat limo pancer, agar juga tidak hanya keseimbangan diri yang terpenuhi melainkan juga menemukan “makna” atau “diri “ itu sendiri. Wejangan tersebut membuat saya terperangah. Selain juga menyentil identitas ke Jawaan saya. Hal itu juga setidaknya meruntuhkan seluruh bangunan filsafat yang saya pelajari secara kukuh saat berada di bangku kuliah filsafat UGM. Dari sanalah saya mulai putar arah, menengok kembali identitas ke Jawaan dan ke Islaman saya, dengan mulai masuk dan tenggelam ke dalam wacana yang tersimpan dalam kesustraan lama Jawa seperti serat, suluk, dan babad. Bagi saya pilihan tersebut sungguh tidak mudah, saya perlu menata bangunan pengetahuan saya dari awal kembali menyusun sedikit demi sedikit, mencarinya di berbagai tempat di tengah posisi saya sudah mulai memikirkan kebutuhan keluarga. Itu sungguh pilihan sulit bagi saya saat itu.

Anda sering menggatakan bahwa proses yang anda lakukan saat ini sebagai “suluk” kira-kira apa makna kata tersebut dalam perjalanan pencarian anda?

Kata suluk sebenarnya kata kunci dalam tradisi tasawuf yang mempunyai arti “berjalan” atau “perjalanan”.  Dan perjalanan yang dimaksut di sini adalah menuju sangkan paran, jadi dalam kerangka keber “ada” an hidup manusia Jawa ia sedang melakukan perjalanan besar dari Allah menuju Allah. Atau bisa dikatakan sebuah gerak yang di “ada” kan (dumadi/maujud) menuju yang “ada” atau yang meng ”ada”kan (dadai wujud). Gampangnya sebuah perjalanan manusia dari sejak ia dalam sebuah kandungan menuju kematian, atau perjalanan dari Nya menuju Nya. Konsep sebuah “perjalanan”  tersebut oleh para wali atau ulama di tanah Jawa dahulu dalam bhasa Jawanya sepadan dengan ata laku, mlaku, lelaku, lelakon yang mempunyai arti harfiah “berjalan” atau “perjalanan”. Lha kata tersebut sering diterjemahkan dalam sebuah istilah baru sebagai “suluk” yang juga kata kunci dalam tradisi tasawuf Islam. Saya memposisikan proses perjalanan saya saat ini kira-kira seperti itu, sebuah perjalanan besar yang nantinya juga akan kembali kepadaNya.

Dalam buku yang anda tulis ini, anda berusaha mendekonstruksi wacana Islam Jawa yang sudah mapan. Selain itu anda juga sering menggatakan bahwa pangkal permasalahan besar keberislaman kita hari ini adalah konstruksi para orientalis  terkait  Islam Jawa lebih jauh kebudayaan kita. Bagaimana anda menjelaskan itu semua?

Sebelumnya saya ingin mengatakan bahwa kondisi keberislaman kita hari ini, sebenarnya bukan suatu yang tiba-tiba terjadi, bahasa jawane ujug-ujug ana. Ada proses sejarah panjang yang sering kali, kita luput untuk memperhatikanya. Bahwa apa yang disebut sebagai “Islam” sering kali dikatakan oleh para orientalis hanya sebagai “lapisan tipis” dari kebudayaan Jawa. Ada beberapa orientalis yang kurang lebih berkata sama seperti karya-karya Geertz, Snock Hurgronje, Pigued, De Graff dan  juga yang lainya, setidaknya memberi label Islam yang ada di Nusantara mereka sebut sebagai “Islam sinkretis” dengan seluruh kandungan peyoratif yang dikandungnya yakni bercampur aduknya dalam sebuah adukan yang kurang lebih tidak jelas. Kira-kira seperti itu banyak dari para orientalis memposisikan Islam di kebudayaan Jawa.

Dari sana saya mencari penjelasan lain dengan sudut pandang “rasa” keislaman saya. Mulai dari para pemikir muslim Indonesia seperti Hamka, Rasyidi, hingga karya-karya  Simuh Islam Mistis Ranggawarsita, ternyata juga tidak bisa memuaskan saya dengan penjelasan yang kurang lebih hampir sama memposisikan Islam Jawa bercampur aduk, tidak jelas bahkan saling kontradiktif.

Dari hal tersebut saya tersuruk untuk kedua kalinya, identitas yang membentuk saya, Jawa dan Islam saat ini ternyata saling menegasikan. Ada perselisihan atau tepatnya saling berhadap-hadapan yang sempat mengguncang diri saya. Dari sana juga saya mulai menyadari bahwa ada narasi kolonialisme, yang sejak lama tertimbun dan membentuk bingkai keislaman kita, yang sayangnya hingga hari ini terus menerus menjadi narasi besar para sarjana maupun akademisi kita yang selalu direproduksi sedemikian rupa hingga Islam Jawa tak pernah menemukan esensinya.

Secara umum buku anda membicarakan problem identitas yang banyak di alami oleh anak muda saat ini, ada pesan bagi anak muda kayak saya ini?

Memang banyak anak muda hari ini gagal mendefinisikan identitas kulturalnya sendiri. Sehingga cendrung terjebak pada pola pikir Barat yang menawarkan kebebasan, universalitas, yang menggaburkan identitas dirinya sebagai orang Jawa, Nusantara dan Indonesia. Cara berfikir barat yang lebih dominan masuk ke alam fikir kita saat ini, yang diharapkan membawa kemajuan dan akan semakin menemukan esensi kemanusiaan, ternyata menggiring kita untuk hanya menjadi manusia mekanik robot-robot berjalan. Dan apa yang kita sebut sebagai kemajuan di sisi lain juga secara tidak sadar beriringan dengan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan. Hal tersebut secara tidak langsung bukan malah menuntun jalan kita untuk menemukan esensi kemanusiaan kita seutuhnya. Tapi kebalikanya kontraproduktif dengan jalan yang sebenarnya sudah digariskan oleh para leluhur kita melalui ekspresi tradisi budaya yang menyimpan pengetahuan untuk menemukan hakikat kemanusia kita. Temukan pancer dalam diri agar tegak, dapat menciptakan keseimbangan dalam diri, tahu dengan sangkan paran asal usul manusia dan akan dikembalikan kemana. Lha untuk menemukan pancer dalam diri di tradisi Jawa orang harus melakukan proses lelaku, laku, (suluk), dengan memaksimalkan semua potensi fakultas dirinya, dari lahir hingga batin mulai hati, jiwa, dan raganya. Dari sanalah manusia akan ketemu dengan hakikat hidup dan akan kemana hidup ini berjalan.

Kira-kira seperti itulah, doakan saya bisa istiqomah menjalankan proses lelaku perjalanan ini, yang entah sampai kapan dan dimana nanti ujungnya.

 

*) Doel Rohim: Penghuni Pondok Pesantren Kaliopak Yogyakarta dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

 

 

 

Continue Reading

Milenia

Mary Wollstonecraft: Pikiran Tidak Memliki Jenis Kelamin

mm

Published

on

Let women share the rights and she will emulate the virtues of man—dalam sebagian besar sejarah yang tercatat, perempuan dilihat sebagai bawahan laki-laki.

Tetapi pada abad ke-18, keadilan atas stigma ini mulai ditantang secara terbuka. Di antara suara-suara yang paling menonjol dalam membongkar paradigma tentang ketertindasan perempuan adalah Mary Wollstonecraft (17591797)—seorang perempuan radikal, penulis dan filsuf berkebangsaan Inggris.

Banyak pemikir sebelumnya telah menyebutkan perbedaan fisik antara kedua jenis kelamin untuk membenarkan ketidaksetaraan sosial antara perempuan dan laki-laki. Namun, dalam masa pencerahan, yaitu selama abad ke-17, beberapa pemikir telah merumuskan pandangan dan gagasan yang mencoba mendobrak diskriminasi kepada perempuan.

Contohnya Filsuf besar John Locke yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dan pendidikan, validitas pemikiran memang dipertanyakan tapi tidak gender dari si pemikir. Artinya, sebuah gagasan atau hasil dari pemikiran dan perenungan tidak memiliki gender, bisa saja datang dari laki-laki ataupun perempuan.

Pendidikan Setara

Wollstonecraft berpendapat bahwa jika laki-laki dan perempuan diberikan pendidikan yang sama, baik laki-laki dan perempuan akan mendapatkan karakter yang sama dan pendekatan rasional yang sama terhadap kehidupan, karena pada dasarnya mereka memiliki otak dan pikiran yang sama secara mendasar.

Buku karya Wollstonecraft berjudul A Vindication of the Rights of Woman diterbitkan pada tahun 1792, isi dari karya Wollstonecraft merupakan tanggapan terhadap karya Jean-Jacques Rousseaus’s berjudul Emile (1762), yang merekomendasikan bahwa anak perempuan dididik secara berbeda dari pendidikan yang diberikan kepada anak laki-laki, dan pada akhirnya mereka akan belajar tentang rasa hormat.

Tuntutan Wollstonecraft bahwa perempuan harus diperlakukan sebagai warga negara yang setara—dengan hak hukum, sosial, dan politik—masih ditanggapi dengan penuh ejekan hingga akhir abad ke-18. Tapi hal itu akhirnya menabur benih-benih hak pilih dan gerakan feminis yang akan berkembang di abad ke-19 dan ke-20.

Wollstonecraft terus mengajak perempuan untuk menyuarakan hak politik mereka, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan yang sebelumnya suara perempuan tidak pernah dihitung. Gagasan Wollstonecraft tentang keadilan bagi perempuan telah menabur benih-benih hak politik bagi perempuan, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan.

Nama Wollstonecraft mungkin tidak seterkenal Simone de Beauvoir, namun Wollstonecraft secara tegas dan telah menginspirasi sedari mulanya, menyatakan jika gagasan dan sebuah pemikiran tidak memiliki gender. Gagasan yang baik bisa lahir dari seorang perempuan ataupun laki-laki, dan perempuan sejatinya diberikan hak yang sama dengan laki-laki baik dalam politik dan pendidikan, hingga pada akhirnya kebaikan untuk semua manusia lahir; tanpa harus menegasikan yang lain. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Mary Wollstonecraft  and A Vindication of the Rights of Woman” (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Interview

Edmund Husserl: “Pengalaman Itu Sendiri Bukan Sains”

mm

Published

on

Menjelang akhir karirnya, Husserl menulis bahwa impiannya untuk meletakkan sains di atas pondasi yang kuat; telah berakhir! Apa yang terjadi? Sementara filsafat fenomenologi karyanya bahkan telah menjadi salah satu paling diminati dan menjadi pondasi bagi kemajuan filsafat sejak abad 20?

Edmund Husserl adalah filsuf yang dihantui mimpi yang latarnya telah dipenuhi oleh para pemikir sejak zaman Socrates: mimpi tentang kepastian!

Untuk Socrates, masalahnya seperti ini: meskipun kita mudah mencapai kesepakatan tentang pertanyaan yang berkaitan dengan hal-hal yang dapat kita ukur (misalnya, “berapa banyak zaitun yang ada di botol ini?”), namun ketika sampai pada pertanyaan filosofis seperti “apakah keadilan itu?” atau “apa itu kecantikan?”, sepertinya tidak ada cara yang jelas untuk mencapai kesepakatan definisi atas pertanyaan itu. Dan jika kita tidak tahu pasti apa itu keadilan, lalu bagaimana kita bisa berbicara tentang keadilan itu?

Masalah Kepastian

Husserl adalah seorang filsuf yang memulai “keheranannya” sebagai seorang matematikawan. Dia bermimpi dan terus memikirkannya; permasalahan seperti “apa itu keadilan?” bisa diselesaikan seperti bagaimana seorang menyelesaikan masalah matematika “berapa banyak zaitun yang ada di toples?” dengan kata lain, Husserl berharap untuk menempatkan semua ilmu pengetahuan—apapun cabang pengetahuan dan aktifitas manusia, dari matematika, kimia dan fisika hingga etika dan politik–dalam dasar yang lebih utuh.

Teori-teori ilmiah didasarkan pada pengalaman. Tetapi Husserl percaya bahwa pengalaman saja tidak menambah ilmu pengetahuan, karena sebagaimana diketahui oleh semua ilmuwan, pengalaman penuh dengan semua jenis asumsi, bias, dan kesalahpahaman.

Husserl ingin melepaskan semua ketidakpastian ini untuk memberikan kepada ilmu pengetahuan suatu pondasi dasar yang pasti.

Untuk melakukan ini, Husserl menelaah pemikiran filsafat dari seorang filsuf abad ke-17; Rene Descartes. Seperti Husserl, Descartes ingin membebaskan filsafat dari semua asumsi, bias, dan keraguan. Descartes menulis bahwa meskipun hampir semuanya bisa diragukan, ia tidak dapat meragukan bahwa ia meragukannya—layaknya adagium cogito ergo sum—saya berpikir maka saya ada.

Fenomenologi

Husserl mengambil pendekatan yang mirip dengan Descartes, tetapi menggunakannya secara berbeda. Dia menyarankan bahwa jika kita mengadopsi sikap ilmiah untuk mengalami, mengesampingkan setiap asumsi yang kita miliki (bahkan termasuk asumsi bahwa dunia eksternal ada di luar kita), maka kita dapat memulai filsafat dengan bersih, bebas dari semua asumsi.

Husserl menyebut pendekatannya ini dengan “fenomenologi”: penyelidikan filosofis tentang fenomena pengalaman. Kita perlu melihat pengalaman dengan sikap ilmiah, meletakkan ke satu sisi (atau “mengurung keluar” sebagaimana Husserl menyebutnya) setiap asumsi kita. Dan jika kita melihat dengan hati-hati dan cukup sabar, kita dapat membangun landasan pengetahuan yang dapat membantu kita mengatasi masalah filosofis yang telah ada bersama kita sejak awal filsafat.

Namun, para filsuf yang berbeda mengikuti metode Husserl dan mendapatkan hasil yang berbeda, dan ada sedikit perbedaan tentang apa sebenarnya metode itu, atau bagaimana seseorang mempraktikkannya.

Menjelang akhir karirnya, Husserl menulis bahwa impiannya untuk meletakkan sains di atas pondasi yang kuat; telah berakhir!

Tetapi meskipun fenomenologi Husserl gagal mendorong filsafat dengan pendekatan ilmiah untuk pengalaman, atau untuk memecahkan masalah filsafat yang telah bertahan lama, tetapi pemikiran Husserl bagaimana pun telah melahirkan salah satu tradisi terkaya dalam pemikiran abad ke-20. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Edmund Husserl and Phenomenology  (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Trending