Connect with us

Art & Culture

Rekki Zakkia: Dalam Kehilangan dan Jalan Ketuhanan nun Indah

mm

Published

on

Saya memutuskan menapaki jalan sepiritual sambil berharap Tuhan masih memeberi kesempatan untuk saya dapat menulis keindahan-keindahanya.

Oleh : Doel Rohim *)

Malam itu, saya berkesempatan bertemu Rekki Zakkia. Generasi saat ini tentu bertanya siapa nama dan sosok itu? Tapi pada akhir 90an atau awal tahun 2000an dia adalah salah satu sastrawan yang namanya juga turut beredar mengisi ruang sastra generasi saat itu.

Dia eorang sastrawan yang hampir kehilangan imaji sastranya, bahkan semangat hidupnya setelah sekian lama memerangi penyakit Skizofrenia yang di deritanya. Baru-baru ini ia seperti menemukan gairah hidupnya kembali,  setelah mengeluarkan sebuah kumpulan sajaknya yang sudah lama hilang. Kumpulan puisi yang ia sebut sebagai anak ruhaninya ini baru saja ia temukan, yang ternyata disimpan oleh sahabatnya yang ia pikir sudah tidak bisa diselamatkan.

Beberapa kumpulan puisi ini, merupakan catatan dirinya dalam menghayati dinamika sosial politik, agama hingga identitas dirinya sebagai manusia dalam priode tahun 1998-2009.

Waktu yang cukup menguras energinya dalam menapaki pergulatan batin yang lebih sering terbentur hingga akhirnya ia tak lagi punya daya untuk sekedar menulis sajak, yang pernah menjadi jalan sunyi yang digelutinya.

Kali ini saya ingin mengajak Rekki untuk menyusuri ingatannya kembali terkait proses kepenulisan dan kesustraanya kembali. Di temani segelas kopi dan sebungkus rokok saya pelan-pelan masuk dengan beberapa pertanyaan. Ia bicara pelan, tapi sepenuhnya masih sastrawan.

Sejak kapan anda mulai menulis?

Saya menulis sejak SMP, orang tua saya seorang seniman juga, bisa dikatakan pendakwah, akses buku di rumah sudah lumayan banyak, dari sana saya suka menulis. Begitupun orang tua saya tidak pernah mendorong untuk menjadi penulis, tetapi dengan apa yang dikerjakan ayah saya dengan pergaulanya bersama para kiai dan seniman, itu mendorong saya. Gairah menulis saya mulai muncul.

Apakah anda punya pengalaman terkait kepenulisan

di masa awal anda menggeluti dunia tulis menulis?

Ada, saat itu ketika saya masih SMP ada mahasiswa KKN dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang datang ke rumah saya, ia seorang sastrawan dari Teater Eska, saya memberanikan untuk tanya menggenai puisi, dan jawabanya hanya “pertanyaanmu itu puisi”, jawaban itu seperti petir yang menyambar kepalaku, dari sanalah saya yakin menulis menjadi jalan hidupku. Dari situ juga mulai mendalami kepenulisan mulai dari, puisi, esai dan cerpen.

Bisa di ceritakan peran ayah anda dalam proses kepenulisan anda?

Bapak saya sangat berperan dalam proses kepenulisan saya, beliau memberi kebebasan pada anak-anaknya dan memberi akses yang luas terhadap ilmu pengetahuan, menyediakan banyak buku dan jaringan para sastrawan yang bisa saya kenal dari bapak saya. Selain itu bapak saya juga memberi tauladan dalam membicarakan gerakan sosial kepada masyarakat yang bagi saya luar biasa, ia selama hampir 30 tahun memasukan kultur santri yang sebelumnya sangat jauh dari masyarakat saya, hingga perubahanya bisa dirasakan sampai sekarang. Dari sanalah saya mulai tertarik dengan gerakan sosial sejak kecil, hingga waktu SMA saya menjadi aktifis Frond Perjuangan Pemuda Indonesia, basis pelajar di Yogyakarta.

Anda masuk sebuah basis gerakan sosial sejak SMA, apa yang anda fikirkan saat itu?

Saya tidak tahu itu mengalir saja, awalnya ketika saya memilih sekolah SMA 8 di Yogyakarta. Kondisi sosial politik di masa akhir orde baru saat itu sangat bergejolak termasuk di Yogya, hampir setiap hari ada demonstrasi, berbekal pengetahuan dari buku yang saya baca panggilan untuk terlibat dalam aksi-aksi itu tak bisa dihindarkan, dan akhirnya saya masuk ke forn pelajar Yogya bergabung dengan mahasiswa ikut aksi-aksi menggulingkan Soeharto.

Apakah kondisi seperti itu berpengaruh dalam beberapa puisi yang anda tulis?

Masa puncak priode kepenulisan saya terhitung sangat pendek, tahun 96 sampai 98. Saat itu tulisan saya banyak di muat media di Indonesia, bahkan esai saya pernah menjadi yang terbaik di majalah Horison. Jelas, dalam rentang waktu yang pendek dengan latar kondisi sosial politik yang panas seperti itu, saya juga meresponya dengan beberapa puisi. Namun saat puncak demonstrasi sekitar tahun 98, saya lebih sibuk ke gerakan hingga saya sudah jarang menulis kembali.

Saya membaca beberapa puisi dalam buku yang anda cetak,

bernuansa spiritual dan itu sekitar tahun 98, apakah ada hubungannya dengan situasi saat itu?

Secara langsung tidak, itu moment bulan puasa saja, dimana saat itu saya mengalami situasi batin yang teramat rumit, mempertanyakan identitas diri begitupan eksistensi Tuhan dan munculah beberapa puisi yang bisa anda baca tersebut.

Adakah pengalaman tragis yang bisa anda ceritakan terkait proses kepenulisan anda?

Ini yang saya katakan saya kehilangan anak ruhani saya. Saat itu saya sedang mencintai seorang wanita, cinta yang tidak hanya sekedar cinta monyet seperti anak SMA. Tapi lebih dalam dari pada itu, seperti getaran batin yang hanya ada untuknya, kalau anda pernah dengar kisah cinta penyair besar Umbu Landu Paranggi kira-kira seperti itulah gambaranya. Hingga akhirnya saya menuliskan beberapa surat puisi untuknya,  terhitung hampir ratusan yang saya berikan padanya. Dalam surat tersebut tidak hanya sekedar puisi cinta tapi termasuk catatan saya terkait sosial politik yang saya kemas melalui bait-bait sajak. Saat beberapa kali saya kasih tahu pada teman yang bergelut di dunia sastra terkait karya tersebut, ia merekomendasikan untuk menerbitkanya. Dan saya sendiri yakin itu master pice dari proses kepenulisan saya, saat itu juga saya sudah ingin menerbitkanya menjadi buku, bahkan sudah ada judulnya.

Namun naas, bebarengan perempuan yang saya cintai itu menikah, dan akhirnya karya itu juga tidak terselamatkan. Ketika saya tanyakan, ia tak pernah bisa menjawab, mungkin sudah di bakar. Mulai dari sana hancurlah sebagian dari hidup saya, seperti halnya kehilangan anak ruhani yang saya persiapkan kelahiranya, namun hal tersebut tak pernah terjadi. Semenjak itu saya tak sanggub menulis puisi lagi.

Saat menceritakan prihal di atas, anda begitu haru dan emosional,

apa pengaruhnya dalam hidup anda?

Setelah kejadian itu, saya tak punya daya lagi untuk sekedar menulis, aktifitas gerakan setelah jatuhnya rezim Soeharto pun berhenti, para aktivis tercerai berai. Di masa awal kejatuhan Soharto saya masih berusaha bangkit Bersama kawan-kawan saya menghidukan dan menjalani agenda gerakan social bersama FFPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia). Secara otomatis aktifitas menulis saya sudah tidak saya lakukan lagi. Tahun 2002 saya terkena sakit Skizofrenia, saat-saat seperti itu kegiatan intelektual saya berhenti karna takut mengganggu proses penyembuhan. Tahun  2009 saya berusaha bangkit dengan masuk kampus UNY jurusan sastra, baru dapat satu semester kondisi tidak setabil kembali.

Akhirnya saya memutuskan menapaki jalan sepiritual sambil berharap Tuhan masih memeberi kesempatan untuk saya dapat menulis keindahan-keindahanya. (*)

____

Pewawancara: Doel Rohem—penulis lepas, menempa proses kreatif dunia menulis di LPM ARENA Yogyakarta. | Editor: Sabiq Carebesth.

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading
Advertisement

Art & Culture

Meracik Akulturasi di Sepiring Makanan

mm

Published

on

Oleh Setyaningsih
Penulis Kitab Cerita (2020)

Perseteruan sangat bisa terjadi karena makanan, tapi perdamaian yang manis juga hadir lewat makanan. Kolumnis dan pakar boga, Bondan Winarno, mengatakan (2005), “Makanan adalah sesuatu yang netral dan tidak mengandung prasangka, karena itu paling mudah diterima sebagai sajian atau hadiah yang bersahabat.” Di momentum Imlek, perayaan tidak hanya menunjukkan ketunggalan etnisitas yang tengah merayakan pergantian tahun. Perayaan membawa banyak pihak berbaur dalam keragamanan makanan.

Harian Kompas, 23 Januari 2020, mewartakan ikan jenis bandeng yang banyak dicari menjelang Imlek. Bandeng dianggap membawa keberuntungan. Di sini, para pembeli tidak saja warga keturunan Tionghoa. Mereka menjadikan bandeng di musim Imlek sebagai bagian dari tradisi makan bersama keluarga. Di Jakarta, menu pindang bandeng di warung-warung Betawi menjadi bukti akulturasi yang tenang. Olahan beragam jenis pindang dan semur tahu atau semur jengkol yang mafhum menggunakan kecap menunjukkan akulturasi hadir dalam kebutuhan santap keseharian.

Makanan memang mukjizat. Sejarah kolektif umat manusia dibentuk dan diramu oleh makanan. Dalam hal ini, pengemasan cerita makanan tidak pakem didominasi oleh para tetua lewat pesan bijak dan sakral. Di buku bacaan bergambar berjudul Cap Go Meh (2017) garapan Sofie Dewayani dan digambari oleh Eugenia Gina, hadir dua tokoh bocah mewakili dua etnisitas dan agama sekaligus. Nisa yang seorang Muslim mengatakan, “Lili, cobalah ini, makanan Lebaran buatan ayahku sendiri. Ada lontong, telur pindang opor ayam, sambal goreng ati, kelapa sangrai, bubuk kedelai dan sayur sambal goreng. Semua namanya Lontong Cap Go Meh.”

Lili, seorang peranakan Tionghoa, merasa tidak terima, “Lontong Cap Go Meh itu makanan Imlek, Nisa! Cap  itu sepuluh, Go artinya lima, Meh itu malam. Begitu, Nisa! Malam kelima belas di bulan pertama, setelah Tahun Baru Imlek. Jadi, perayaan tahun baru kami juga lama. Lima belas hari lamanya! Ada arak-arakan naga, kilin, dan barongsai keliling kota […] Kami memakai baju Cheongsam, menjinjing lampion dan turun ke jalan. Selain lontong Cap Go Meh, ada juga kacang, dan kue keranjang.” Perseteruan terjadi meski lekas reda. “Tapi, lontong Cap Go Meh itu makanan Lebaran. Makanan Imlek juga, Nisa! Imlek atau lebaran, makanan favorit kita ternyata sama.”

Justru, lontong Cap Go Meh tidak dikenal di perayaan di tanah leluhur Tiongkok. Aji ‘Chen’ Bromokusumo dalam buku Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara (2013) menduga bahwa lontong Cap Go Meh sama tuanya dengan imigran Tionghoa di Nusantara. Resep dari negeri asal bertemu dengan negeri baru disesuaikan dengan lidah, keragaman bumbu setempat, dan kultur, “Komunikasi yang paling gampang adalah komunikasi dengan universal language, yaitu bahasa makanan atau urusan mulut dan perut.”

Dalam proses panjang asimiliasi meski manusianya tumbuh dan berganti, makanan yang diciptakan akan terus awet, berubah, dan terbentuk sesuai kondisi sosial-kultural. Hal ini juga menunjukkan bahwa kebudayaan negeri yang baru bukanlah sesuatu yang pakem, seram, pasti, dan menolak keterbukaan untuk membentuk identitas kolektif orang-orang dari pelbagai latar.

Asin dan Manis

Di majalah Bobo edisi 11 Februari 2010, memuat tampil cerita berjudul “Kacang Imlek Mei-Mei” garapan Widya Suwarna. Demi menyambut Imlek, Mei-Mei mengusulkan menambah camilan kacang bawang dengan alasan sederhana, biar ada makanan asin karena Imlek lekat dengan makanan manis. Mei-Mei selalu dijamu kacang bawang setiap berkunjung Lebaran di rumah teman-temannya. Usulan menyuguhkan kacang bawang di saat Imlek pun disepakati, bahkan disambut dengan sukacita. Mei-Mei telah membawa tradisi baru. Asin dan manis tidak saja soal rasa, secara tersirat mewakili cara hidup berdampingan, penuh rasa, dan saling melengkapi.

Ada cerita alegoris ihwal perdamaian dan pembauran yang sangat bagus berjudul “Semangkuk Susu”, diceritakan kembali oleh David Self dengan ilustrasi oleh Christina Balit (The Lion Book of Wisdom Stories from Around the World, 2011). Dikisahkan, pengungsi dari Persia tiba di Sanjan, India, yang diperintah pangeran bijaksana, Jadi Rana. Jadi Rana ingin menolak para pengungsi dengan halus tanpa kekejaman karena ia khawatir negerinya tidak ada cukup tempat. Jadi Rana mengirimkan semangkuk penuh susu yang berarti, “isyarat bahwa tanah di sekeliling Sanjan sudah penuh: tak ada tempat bagi orang-orang Persia.”

Pemimpin orang Persia yang juga bijaksana tidak berkata-kata. Dia hanya mengambil gula dan membubuhkannya ke dalam susu. Gula pun larut tanpa harus meluapkan susu, dan susu menjadi manis. Jadi Rana mengerti bahwa, “Seperti halnya gula dapat mudah bercampur dengan susu tanpa tumpah, maka rakyatnya akan dapat berbaur dengan rakyat Sanjan. Mereka bisa hidup bersama dalam satu negeri—dan menjadikan negeri itu tempat yang lebih manis. Tak ada yang perlu ditakutkan.”

Serupa itulah pembauran warga Tionghoa dengan pelbagai etnis untuk hidup bersama sebagai orang Indonesia yang terangkum lewat makanan. Memang ada konflik tidak terelakkan dan bahkan tidak akan mudah dimaafkan. Tapi, ada perdamaian diramu dan dipertukarkan meski kata kerukunan tidak secara tersurat dikatakan, cukup dirawat serta dicecap dalam sepiring makanan.

Continue Reading

Art & Culture

Perjumpaan Iman dan Arsitektural

mm

Published

on

Oleh Setyaningsih
Penulis Kitab Cerita (2020)

Presiden Joko Widodo menamainya terowongan silaturahim. Sebuah tanda persetujuan dari bakal terowongan penghubung Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang tercetus dari dialog antar pemangku kedua rumah ibadah. Dua rumah Tuhan saling bertetangga harus semakin diharmonikan oleh infrastruktur fisik yang secara simbolik menopang gairah toleransi dan keberagaman dalam naungan kebangsaan (Republika, 14 Februari 2020). Bakal terowongan sudah tentu mencipta kesetujuan dan ketidaksetujuan. Yang mempertanyakan dengan istilah “apa urgensinya” atau “nilai strategis” menganggap (manusia) Indonesia lebih butuh infrastruktur sosial atau pembangunan di sektor (mental) ekonomi.

Pertanyaan tentang urgensi dengan penekanan sikap ‘mengabaikan’ pengagungan materialitas adalah ironi ketika hari ini semakin memasuki masa materialisme masjid. Inilah masa benar-benar membangun secara fisik menuju Indonesia jutaan masjid dari tingkat RT. Dalam radius beberapa meter, kita dengan mudah bisa bertemu masjid, termasuk lembaga-lembaga pemerintah atau non-pemerintah yang memiliki masjid atau musala sendiri di kompleks kerjanya. Sepertinya tidak ada elite-agamawan yang berani bertanya “apa urgensinya” karena berpura-pura tidak melihat sikap fanatik berpunya bangunan masjid. Fanatisme kepemilikan ini tidak jarang memicu konflik yang melukai iman.   

Sejak digagas dan dikembangkan pada 1954-1955 lewat sayembara perancangan masjid nasional, Masjid Istiqlal menaungi perjumpaan dan bahkan pergolakan iman. Inilah proyek monumental Sukarno yang dilanjutkan pembangunannya di masa Soeharto. Sang arsitek, Friedrich Silaban, adalah seorang Batak Kristen. Dalam buku biografi arsitektur mewah berjudul Friedrich Silaban (2017), Setiadi Sapandi membabarkan kerja Silaban secara arsitektural sekaligus rohani-psikologis. Silaban menekuni bentuk demi menemukan jiwa dari ruang teologis yang kelak menaungi sembahyang orang-orang Islam. Silaban pun sempat resah karena merancang tempat ibadah yang bukan agamanya.

Perjumpaan iman dalam arsitektural jelas tidak bisa mengabaikan material-duniawi untuk sampai pada hal yang transendental. Di sini, rancangan Silaban berhasil menjembatani dua hal ini dengan kelegaan sekaligus kekudusan tidak saja bagi pemeluk Islam. Kita cerap, “Emper kelililing inilah yang mendefinisikan “emper raksasa”. Di area ini umat dihadapkan pada suatu pemandangan spektakuler komposisi arsitektural yang telah “dibersihkan” dari berbagai elemen kota; hiruk-pikuk jalanan, pepohonan, dan berbagai gangguan visual lainnya telah ditiadakan di luar “bingkai”. Yang disaksikan di hamparan raksasa ini adalah pucuk kubah, menara yang menjulang, deretan kolom jangkung agung, bingkai emper keliling, dan langit berawan Jakarta. Emper ini mempersiapkan kita memasuki ruang utama melalui celah-celah gelap di antara kolom-kolom raksasa, melewati batas suci, hingga bersujud menghadap kiblat di bawah kubah raksasa.”

Meruang

Di masa kolonial, nama CP. Wolff Schoemaker menempati lembaran penting dalam perancangan arsitektur tropis modern. Schoemaker turut dalam gairah perdebatan akademis tentang identitas-tropikalitas arsitektur Indonesia yang ditandai oleh dua hal penting; pembukaan sekolah arsitektur pertama di THS (Technische Hoogeschool) pada 1921 di Bandung dan pembentukan NIAK (Nederlandsch Indischen Architecten Kring atau Lingkar Arsitek Hindia Belanda) pada 1923. Di buku Arsitektur Tropis Modern (2018) garapan C.J. van Dullemen, Schoemaker tanpa sebab yang diketahui, berpindah dari agama Katolik ke Islam pada 1915.

Meski pilihan iman tidak terlalu tercermin dalam garapan arsitektural, Schoemaker sangat tertarik dengan seni serta arsitektur Hindu dan Islam. Menurutnya, arsitektur Barat yang modern dengan India klasik adalah adaptasi pas untuk lingkungan tropis. Schoemaker hanya pernah merancang tiga rumah ibadah; dua gereja dan satu masjid. Dibangun pada 1934, Masjid Nijlandweg di Bandung menjadi salah satu bangunan penting dalam pencarian jati diri arsitektur di Hindia Belanda dan satu-satunya ekspresi perjumpaan Schoemaker dengan iman yang “baru” dikenalnya.

Kita cerap, “Orientasi masjid Nijlandweg sempurna, seperti yang diharapkan dari seorang arsitek Muslim. Wolff Schoemaker memasukkan semua elemen yang secara tradisional ada di masjid karena “pada kedua sisi masigit terdapat dua tempat wudu segi delapan yang dilapisi dengan ubin berglasir untuk ritual pembersihan diri”. Adapun masjid tidak memiliki menara minaret tempat azan dikumandangkan. Walaupun demikian, bagian tengah dinaikkan di atap piramida untuk memanggil jemaahnya melaksanakan salat. Puncak atap dihias dengan bola dunia dan bulan sabit dari keramik.” Tidak ada kubah, konstruksi masjid memang mirip pendopo Jawa.

Tubuh meruang memang peristiwa yang sangat ragawi. Di sini, para arsitek menentukan keruangan yang akan menaungi pengalaman teologis-personal banyak orang. Segala elemen arsitektural, entah pintu, jendela, lantai, dinding, langit-langit, atau atap yang membawa potensi menaungi dan meruangi, adalah sarana menuju pelukan ilahiah yang hening, hangat-bercahaya, dan hening. Tepat seperti yang dikatakan oleh arsitek sekaligus penyair Avianti Armand (2017), “…sesungguhnya sebuah rumah ibadah, lengkap dengan simbol-simbol dan kualitas sakralnya, hanyalah sebuah ruang transisi yang dimaksudkan untuk membantu kita pergi ke satu ruang yang lebih pribadi. Lebih sakral. Suwung.” Ruang dan Tuhan mengajari momentum kefanaan sekaligus kekekalan, yang material sekaligus spiritual.

Tidak banyak masjid yang semakin berhasil mengantarakan dua hal fundamental. Kita tidak tahu apakah setiap orang yang beribadah di masjid menyadari momentum bersujud itu sebagai peristiwa amat personal atau sekadar suatu rutinitas yang kolektif. Begitu banyak hari ini masjid dibangun, orang-orang dibuat melihatnya sebagai bangunan sangat material saja. Sedang di era wisata (bangunan) masjid ini, bentangan sajadah di pematang sawah atau alas di tanah lapang yang jelas tidak dinaungi secara spasial tidak lagi memiliki arti. Era wisata bangunan butuh memotret, berpose, dan mematri di Instagram. Ruang tinggal ruang untuk didatangi, lalu ditinggalkan.

Saya teringat adegan di film The Ottoman Lieutenant (Joseph Ruben, 2017). Pada sebuah masjid di Istanbul masa kejayaan dinasti Ottoman, secara sederhana terjadi pertemuan iman dari seorang perempuan Kristen di naungan arsitektural Muslim. Ada rengkuhan ilahiah bercampur takjub meski di balik arsitektural itu tersembunyi biografi perang, penaklukan, kuasa-menguasai. Saat menatap langit-langit masjid, perempuan Kristen itu berkata, “Seperti berada di dalam pikiran Tuhan.”     

Ah, kita memang butuh masjid, tapi tidak perlu sampai jutaan jumlahnya!

Continue Reading

Art & Culture

Puisiku untuk Mereka yang Tak Menyukai Puisi

mm

Published

on

May Sarton *)

May Sarton is best known for her poetry and novels, but I really love her journals and memoirs best. The House By the Sea covers a period from 1975-1976 during her years in a house on the New England shore.

Banyak dari sajak-sajakku merupakan sajak-sajak cinta. Aku hanya mampu menuils puisi, sebagian besar, saat aku mempunyai sebuah inspirasi, seorang perempuan yang memfokuskan dunia untukku. Dia mungkin saja seorang kekasih, mungkin saja bukan.

Dalam satu kasus dia adalah seseorang yang hanya kulihat satu kali, saat makan siang di dalam sebuah ruangan penuh dengan banyak orang lain, dan aku menulis satu buku penuh sajak-sajak. Banyak dari sajak-sajak itu belum dipublikasikan. Tapi inilah misterinya. Sesuatu terjadi yang menyentuh sumber dari puisi dan menyalakannya. Terkadang itu merupakan hasil dari hubungan percintaan yang panjang, seperti halnya dengan sajak-sajak “The Divorce of Lovers”, rangkaian sonata itu. Akan tetapi tidak selalu. Jadi siapa hadirin untuk puisiku? Hadirinku adalah orang yang kucintai. Tetapi biasanya “orang yang kucintai” tidak benar-benar tertarik pada sajak-sajak.

Continue Reading

Trending