Connect with us

Puisi

Puisi Puisi Zulfikar A.S

mm

Published

on

Yang Ada Selalu Ada

 

            1

Seperti teriakan malam:

Ada yang melangkah pulang tanpa beban

Ada yang menangis hingga pagi datang

 

2

Sepertinya aku sudah tak mencintainya

Aku lebih menyukai secangkir kopi

Yang sedang kuajak kencan pagi ini

 

Walau dingin menguasai tubuhku

Aku berusaha memanaskannya

Tanpa melibatkan dinginnya kepalaku

 

3

Untuk kegelapan itu:

Tak lagi suara yang berbicara

Tubuhku masih saja membatu

Dalam hening napas tak beraroma

 

Pengulangan waktu

Mendekatkanku kepada tubuh itu

Ternyata nurani

Membutuhkan kekasih agar ia tak lagi berdiri sendiri

 

Malam pun menyatakan,

Kata dan bahasa

Akan ia hilangkan dalam suara

Dan menepis upacara perpisahan

Waktu

Membunuh kegembiraan

Gema azan

Menidurkan malam dengan haru

 

Aku tertawa

Saat kesepian menghilang

Dan menantang malam

Dengan suara yang menggema

 

Untuk kesendirian itu:

Aku minta kau membangunkanku

Agar kutahu,

Sampai kapan kau menunda kepulanganmu

 

4

Barangtentu ada satu atau dua

Lelaki yang memujamu

Di antara mata dan telinga

Tapi kau lupa akan tahu

Doa yang disampaikan melalui senja

Oleh pujangga yang berhenti bersuara

 

            5

Akhir cerita:

Salah tak melulu berulah

Malam tak mesti terpejam

Sebab,

Lelaki itu menunggu desah

Dari penjual, kesepian.

 

2017

 

Heningnya Ledakan

(untuk manusia yang ─ selalu ─ menjadi korban)

 

rabu mengejutkan diriku

juga telinga, mata dan perasaanmu.

 

ledakan terjadi

pada bagian terkecil bumi.

 

mesin-mesin berhenti menderu

manusia-manusia tergeletak.

 

aku begitu malu

menjadi bagian tempat yang bergejolak.

 

katanya, ini adalah sambutan untuk bulan yang suci

begitu suci hingga harus dinodai.

 

langit berhenti tertawa

pekat menyelimuti wajahnya.

 

hujan tak lagi menghunjam

petang itu kata-kata tak begitu tajam.

 

dalam hening menuju keramaian

pikiran tidak diijinkan berjalan.

 

2017

 

La Mar*

 

Kudengar nyanyian dari kedua matamu,

kubenamkan diriku pada setiap bagian tubuhmu.

 

Kubertanya kepada Rabu,

mengapa ia harus menjadi hari tidak menjadi dirimu.

 

Sedangkan saja, cintaku terlihat mata

ada di hari Rabu kepada buku-buku.

 

Bukan kepada Rabu

 

Barangkali untuk dirimu

yang masih berserakan di dalam buku-buku naif bekas kekasihmu.

 

Dan aku akan sangat mencintainya di hari Rabu.

 

Aku memiliki beberapa mimpi

yang diasingkan ke dalam hati tanpa diadili.

 

Sebab Rabu mencegahku jika ingin membunuh mimpi-mimpi.

 

Dan satu hal harus kau ketahui.

Aku dan Rabu sudah lama bersekutu.

 

Rabu memberi kebebasan tanpa syarat kepada mimpi-mimpi itu,

yang di antaranya adalah mencintaimu.

 

Januari 2018

Cinta yang Kelelahan

 

Di hadapan malam, aku bercerita tentang keindahan bunga-bunga yang tumbuh liar di dalam kepalaku. Kau menanam, sementara aku menyiram agar tak layu. Aku tak mau kalah. Kubuat sebuah altar di dalam dirimu. Kau selalu kusibukkan dengan kata-kata yang tersusun menjadi cerita. Ceritaku dalam mengadu. Kita pernah tidak sengaja bertemu di antara bunga-bunga yang durinya melukai hati kecilmu. Aku tak berani bergerak karena sebagian isi kepalaku adalah hati kecilmu. Aku berhenti menyiram agar matilah bunga yang kau tanam. Juga pikiranku yang tajam. Suatu ketika di tengah percakapan kita, kata-kata mengejawantah jadi sebuah gunung merapi. Dan telingamu mengubah dirinya menjadi sumur tanpa dasar yang siap menampung letusan lahar. Sepi kembali. Kata-kata luruh menjadi abu. Langit menjadi semu, menyelubungi diri kita yang angkuh.

 

Mei 2018

Kenalan Lama Bernama Pagi

Pernahkah kau berpikir, pagi tak dikenali oleh manusia? Aku pernah berpikir seperti itu. Ketukan detik, tamparan menit dan ribuan pukulan jam melupakan perkenalanku dengan pagi. Aku pernah merasakan menjadi bagian dari kota. Kecemasan, kemarahan dan kepura-puraan tanpa alasan menghantuiku hingga hantu itu bersetubuh dengan jiwaku. Ketika itu aku sangat mengenal pagi, seperti aku mengenalmu dalam kecemasan. Seperti aku mengeluarkan kepura-puraan untuk berkenalan. Dan, seperti aku yang menyesali perkenalan dengan kemarahan karena menyadari akan adanya perpisahan. Begitulah pagi ketika dahulu kala yang masih aku kenali melalui kota.

Setiap ketika aku berpelukan dengan pagi, aku sudah bersolek rapi dari ujung kaki sampai ke dalam hati. Aku pikir, hatiku juga mesti kurapikan. Ya, walau setelah pelukanku dilepas pagi dan lantas aku terbirit berlari-lari melalui kemacetan jalan, teriakan juru parkir untuk mempercepat laju kendaraan karena ada kendaraan dari arah lain sudah melambai-lambaikan selembar uang agar dipersilakan duluan. Atau, menyaksikan tukang gorengan yang sibuk memanaskan gorengannya karena tidak habis terjual hingga tengah malam. Pagi itu selalu menyenangkan ketika kota menyediakan sedikitnya ruang kepada orang-orang yang memangku kepentingan terkait kepentingan orang-orang lain, orang-orang asing, perusahaan, pemerintahan dan bahkan bangsa. Dan aku pernah berpikir, aku harus menjadi orang dengan prototipe seperti itu agar pagiku selalu menyenangkan.

Aku sudah duduk di kursi dalam ruang kelas dan menyadari hatiku kembali berantakan. Ya, kau sudah tahu bahwa kecemasan, kemarahan dan kepura-puraan sudah menjadi bagian dari jiwaku. Apalagi setelah aku menemukan sebuah tulisan dari sebuah catatan seseorang yang tergeletak di jalanan.

Apa? Kau ingin tahu tulisannya? Apakah kau tidak akan menyesali jika setelah ini kau tidak ingin mengenal pagi lagi? Baiklah aku bacakan.

“alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun yang tidak seberapa. – Seno Gumira Ajidarma-”

Kemudian aku keluar dari ruang kelas setelah hanya duduk beberapa saat dan berkata pada guru yang membuat aku banyak menguap, bahwa aku akan menunggu makan siang dan menghianati sarapan pagi.

10 Desember 2018

 

*La Mar adalah Bahasa Spanyol yang berarti sesuatu yang sangat dicintai.

 

*) Zulfikar A.S., lahir dan tinggal di Bogot. Pecinta Sastra.

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Puisi Puisi B.B. Soegiono

mm

Published

on

PINTU KAMAR

 

pintu kamar       adalah hati

yang mempersilahkan siapa saja masuk

kecuali              kamu;

yang pernah tinggal

jadi                   penghuni

akan dijadikannnya abadi

namun             tak sampai.

terseret arus kehidupan

bahkan            tak kembali,

bukan karena mati

bukan karena di makam

bukan karena di penjara

ataupun          disekap

tapi karena telah nyaman

dengan pintu kamar yang baru.

lebih              mewah,

megah,

bersih,

dan tanpa aroma busuk masa depan.

 

Probolinggo, 6 Juni 2019

 

AKU DAN WANITA ITU

 

yang mengganggu pikiranku

semenjak berusia 22 tahun

yang memenjara tubuhku

sampai jadi mayat

adalah kamu

wanita malaikat

yang membunuhku

tanpa menyentuh

urat-urat saraf, seketika macet

ruas-ruas tubuh jadi sumbat

dan selonjor kaki dan tangan

tiba-tiba kaku

tak berani bergerak

atau sebatas berjingkrak

merayakan luka dan duka

jadi darah dan nanah kehidupan

 

kau, wanita itu

kau, yang disebut

sebagai malaikat

ganti profesi

jadi pembantai

 

aku, lelaki itu

aku, yang dimaksud

sebagai korban

tindak kejam

pembantaian

 

ketika darah mengalir cepat

napas hidung masih mengedus

ketika luka kian melebar

tidak kuasa:

badan,

nadi,

dan jantung bergejolak;

memberontak

sampai menodong telinga

yang berdetak, yang berdebar.

 

Probolinggo, 9 Juni 2019

 

KEMATIAN CINTA  I

 

kulihat setiap laju matamu mengintai

dalam arus air dan busa kali watuewu

kadangkala juga memburuku dari sela-sela

rumput yang tenggelam di dasar

dengan batu-batu

ikan-ikan menatapi

saat tengah beranjangsana

mencari sepi

 

lalang-lalang air kau biarkan mati

bahkan sampai membusuk

kicauan burung

dan sayap-sayap tuanya, jatuh perlahan

mengiringi terjun air ke dasar kali

asap dan api jadi tidur di puncak gunung

 

inilah aku di antara itu

dengan cinta yang kini tergusur waktu

dijarah;

dan tak pernah kokoh meski dihimpit

bantaran-bantaran kali

 

daun-daun jati berserakan

batang tinggi menjulang

kupu-kupu kecil

mondar mandir

menatap penuh gelisah

bertegur padaku

yang menangis karenamu

 

matahari membantu membuat hangat

meski tubuh terbaring lemah

karena cinta, kasih, sayang lebur;  jadi masalah

bahkan mencekik pada setiap urat nadi

dan hendak ingin membawa segenap jiwa

melayang-layang di udara

meski akan tersapu juga dengan gibasan angin

dari pohon-pohon sengon

serta sayup kecil

memberontak keluar dari kebun jagung

 

menjadi jarum

menusuk;

menjadi pisau

merombek,

mengiris,

memotong,

urat pembungkus jantung

bahkan sampai ke dasar dada,

ingin menculik namamu

yang telah sekian tahun mengakar

bahkan jadi museum cinta

“ya, itulah yang ingin direbut,

nama dan kasih sayang untuk dipersembahan kepadanya.”

 

tergeletak

mayat hidup

yang kini kosong tanpamu.

meski tetap ditunggu burung-burung pipit

sambil melepas beraknya

di tengah wajah.

 

Resongo, 6 Juni 2019

 

*) B. B. Soegiono, lahir di Tempuran, Bantaran, Probolinggo, tanggal 11 Oktober 1996. Kini mengembara di Singaraja—

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Melki Deni

mm

Published

on

Oil Painting on Canvas, Sleeping Woman by Anonymous Via http://www.artnet.com

Doa Seorang Pelacur

 

Kecewa memang ekor terkeren dari perjuangan keras.

Ia selalu menari dari belakang,

Mengejar cela-cela perjuangan sang teguh.

Kecewa ialah dosen tergratis dalam memberikan kuliah-kuliah kehidupan.

Sebab hidup selalu bergerak, berkembang dan bermaju.

Kematian hanyalah tempat bagi yang tak mau menerima perubahan dan perkembangan.

Tiada yang bisa memaksa tuk bertandang dalam medan pertempuran yang sama.

dan tak ada yang berhak tuk mengurungi kehidupan ini.

Tak boleh ciptakan sangkar sehingga aku dipenjarakan di dalamnya.

Aku hanya mau memupuk tanaman kejujuran dan kesetiaan.

dan setiap pagi aku berusaha mencabut kebohongan, gombalan, munafik dan tipu daya sampai ke akar-akarnya.

Tapi tetaplah di-tumbuh-kan dengan siraman air yang mengalir dalam hati itu.

Tak apalah, yang sia-sia bukanlah sia-sia atau terakhir.

Memang kita tidak lebih dari dua orang yang tidak berpikir tentang hal yang sama,

kendati menggunakan bahasa yang sama.

 

Mengapa Aku Tanya!

 

Sedari kecil aku bertanya tentang yang tidak bisa dijawab lengkap.

Memang pertanyaan adalah jawaban yang harus ditanya terus-menerus.

Mengapa harus ada peperangan di dunia yang dihuni oleh daging-daging murahan dari debu tanah?

ada bahasa yang dilahirkan nenek moyang kita!

Mengapa tidak berpikir suci, bertutur manis, dan berlaku lembut.

Bibir-bibir sudah dilas dengan aluminium murahan di bengkel pinggir jalan.

Aku tetap bertanya,

Mengapa ada ayahanda bertuhan memerkosa anak gadisnya?

Ibunda dibunuh anak kandung di tempat tidur?

Otak-otak sudah dicemar oleh puing-puing elektromagnetik di depan emperan maya.

Mengapa ada manusia mengobral murah manusia lain di tangan manusia tidak bermoral?

Aku haus akan jawaban yang jujur, tanpa melilit ngawur.

Atau jika sudah dijawab dengan analogi dan metafora,

aku tetap bertanya.

Mengapa harus ada yang rela gugur di kota-kota besar demi Tuhan,

kekuasaan, nama, kepentingan, melayani tuan nafsu dan nafsu tuan-tuan monster?

Aku tetap bertanya kepada siapa saja yang rela mendengar.

Mengapa ada Tuhan yang haus akan pujian dan belaan?

Mengapa aku harus bertanya!

 

*) Melki Deni, mahasiswa semester III STFK Ledalero Maumere, berasal dari Reo Manggarai. Penyair aktif menulis pada beberapa media.

 

Continue Reading

Puisi

(Terj) Puisi-Pusi David Lehman

mm

Published

on

David Lehman--The book consists of daily poems he combined into one bigger poem, and he said it is inspired by songs he heard on the radio. (Courtesy of David Lehman)/ Getty Image Via dailybruin

Puisi-Puisi David Lehman | Diterjemahkan oleh A. Nabil Wibisana *)

 

Seksisme

Momen terindah dalam hidup seorang perempuan

Adalah ketika ia mendengar suara suaminya

Memutar kunci pintu, sementara ia pura-pura terlelap

Saat lelaki itu memasuki ruangan—diam-diam

Tapi ceroboh, sehingga menabrak barang-barang—

Ia bisa mencium bau alkohol dari napas si lelaki

Tapi ia memaafkannya karena senang lelaki itu kembali

Dan ia tidak harus tidur sendiri.

 

Momen terindah dalam hidup seorang lelaki

Adalah ketika ia bangkit dari ranjang

Seorang perempuan—setelah satu jam tidur bersama,

Sehabis bercinta begitu rupa—dan memakai

Celana panjangnya, kemudian berjalan keluar

Dan kencing di semak-semak, sambil melihat

Langit bulan Agustus yang penuh bintang

Lalu masuk ke mobilnya dan beranjak pulang.

*) Dari Valentine Place (Scribner, 1996), dipublikasikan ulang di laman Academy of American Poets.

 

 

Ketika Perempuan Mencintai Lelaki

Ketika perempuan itu berkata margarita, yang ia maksud ialah daiquiri.

Ketika ia bilang majenun, yang ia maksud ialah temperamen.

Dan ketika ia berujar, “Aku tak akan pernah bicara denganmu lagi,”

yang ia maksud sebenarnya, “Peluk aku dari belakang

saat aku berdiri merana di depan jendela.”

 

Lelaki itu seharusnya paham.

 

Ketika lelaki mencintai perempuan, ia di New York dan perempuan itu di Virginia

atau ia membaca di Boston dan si perempuan menulis di New York,

atau perempuan itu memakai sweter dan kacamata hitam di Taman Balboa

sedangkan ia sibuk menyapu daun-daun di Ithaca

atau ia menyetir mobil ke East Hampton dan perempuan itu berdiri getir

di depan jendela yang menghadap ke arah teluk,

di mana perahu layar warna-warni meluncur dengan tenang

sementara ia terjebak kemacetan di jalur cepat Long Island.

 

Ketika perempuan mencintai lelaki, pada pukul satu dini hari

ia terlelap dan lelaki itu menatap skor bola di televisi

makan setumpuk pretzel dan minum segelas limun

dan dua jam kemudian si lelaki bangkit dan terhuyung-huyung ke ranjang,

di mana ia masih terbaring pulas dengan tubuh sehangat wol.

 

Ketika perempuan itu berkata besok, yang ia maksud ialah tiga atau empat minggu.

Ketika ia berujar, “Kita sedang membahas diriku sekarang,”

lelaki itu berhenti mengoceh. Sahabatnya berkunjung dan bertanya,

“Apa ada seseorang yang mati?”

 

Ketika perempuan mencintai lelaki, mereka pergi

berenang telanjang di satu sungai kecil

pada suatu hari cemerlang di bulan Juli

bahana air terjun bagaikan gelak

air deras di batu-batu halus,

dan tak ada apa pun yang asing dalam semesta itu.

 

Apel masak jatuh di sekitar mereka.

Apa lagi yang bisa dilakukan selain memakannya?

 

Ketika lelaki itu bersaksi, “Era kita adalah masa peralihan.”

“Pikiranmu memang tak bisa ditebak,” sahut si perempuan,

kering seperti martini yang ia sesap.

 

Mereka bertengkar sepanjang waktu

Cekcok yang kocak

Memang aku berutang apa?

Mulailah dengan permintaan maaf

Baiklah, maafkan aku, berengsek.

Sebuah tanda terangkat, mempertontonkan “Tawa.”

Sebuah gambar bisu.

“Aku begitu kacau tanpa ciuman,” kata si perempuan,

“dan kau boleh percaya seratus persen,”

yang terdengar keren dalam aksen orang Inggris.

 

Dalam setahun mereka putus tujuh kali

dan mengancam akan berpisah sembilan kali lagi.

 

Ketika perempuan mencintai lelaki, ia meminta lelaki itu menjemputnya

di satu bandara di negara asing, mengendarai jip pula.

Ketika lelaki mencintai perempuan, ia benar-benar berada di sana.

Ia tak mengeluh meski perempuan itu terlambat dua jam

dan tak ada makanan sedikit pun di lemari es.

 

Ketika perempuan mencintai lelaki, ia ingin tetap terjaga

sepanjang malam, menangis layaknya bocah kecil

karena ia sungguh-sungguh tak ingin hari itu berakhir.

 

Ketika lelaki mencintai perempuan, ia mengawasi perempuan itu tidur,

seraya berpikir: tengah malam bagi bulan adalah tidur bagi kekasih.

Seribu kunang-kunang berkedip padanya.

Suara kawanan katak bagaikan kuartet gesek

dalam sebuah geladi orkestra.

Bintang-bintang berjuntai serupa anting-anting anggur.

*) Dari Columbia: Journal of Literature and Art (1996), dipublikasikan ulang di laman Academy of American Poets.

 

 

Perintah Kesepuluh

Perempuan itu berkata ya, ia mau pergi ke Australia bersamanya

Kecuali si lelaki salah dengar dan perempuan itu berkata Argentina

Di mana mereka bisa belajar Tango dan memburu janda-janda

Penjahat perang Nazi yang tidak sudi bertobat sampai akhir.

Tapi tidak, perempuan itu meyebut Australia. Ia lahir di Selandia Baru.

Perbedaan antara dua wilayah itu sama dengan perbedaan antara

Setangkup hamburger dan segelas malt cokelat, ujarnya.

Di toko permen di seberang gedung sekolah dasar,

Mereka merencanakan kencan. Perempuan itu melafalkan Australia,

Yang artinya ia bersedia diajak bercinta, dan semua peristiwa itu terjadi

Sebelum suaminya kena serangan jantung koroner, pada masa ketika

Seorang perempuan tak akan melepas celana dalamnya

kecuali untuk orang yang ia sukai. Perempuan itu berkata

Australia, lantas si lelaki melihat koleksi kerang musim panas

Tahun lalu dalam sebuah kantong plastik di ruangan kotor

Yang dipenuhi lumpur pasir. Siklus tawanan seksual

Dimulai dari romansa dan berakhir dengan perzinahan

Apakah era kiwari merupakan fase paruh akhir, cara Amerika

Meluncur dari barbarisme ke amnesia tanpa diselingi

Periode keruntuhan moral dahsyat, yang mestinya bermakna

Sesuatu, tapi apa? Rakit di tengah jeram? Pemain biola

Di depan gerbang? Oh, absolutisme adalah hukum biologi.

Untuk seminar pornografi, busana apa yang mesti perempuan itu pakai?

*) Dari Valentine Place (Scribner, 1996), dipublikasikan ulang di laman American Poems.

 

Dua Puluh Pertanyaan

Mengapa ngengat terbang menuju nyala api? Apa sama dengan alasan

Mengapa Achilles mati muda? Siapa yang memperoleh lebih banyak kenikmatan

Dari seks, lelaki atau perempuan? (Jelaskan bagaimana kau bisa tahu pasti.)

Mana yang lebih nyata bagimu, surga atau neraka?

 

Mengapa para pendosa hidup sejahtera? Apa penyebab kematian cinta—

Atau cinta akan kematian? Apa Adam dan Eva punya pilihan?

Apa Perawan Maria punya pilihan? Apa yang kita takutkan sebenarnya?

Bahkan kaum agnostik punya hak untuk berkata terima kasih tuhan, bukan?

 

Menatap atom-atom itu menari, mestikah aku bersaksi aku melihat cincin

Cahaya murni yang tak berujung? Atau aku hanya memimpikan semuanya?

Siapa yang harus kupanggil? Apa kau akan ikut jika orang itu adalah istrimu?

Apa kau bersedia pindah? Apa kau menyukai hidupmu?

 

Apa yang membedakan malam ini dengan malam-malam lain?

Apa kau akan berkata bahwa memang sudah nasibmu untuk selalu,

Tanpa kecuali, terlambat lima menit? Jika kau tiba

Pada pukul 9:10, acara ternyata dimulai pukul 9:05

 

Padahal jelas-jelas dijadwalkan pukul 9:15? Saat kau melintasi

Lorong, dan orang-orang memaku perhatian mereka padamu,

Apa kau bertanya pada diri sendiri apa yang akan kaulakukan,

Seolah-olah semua itu penting, seolah-olah kau memang paham?

*) Dari An Alternative to Speech (Princeton University Press, 1986), dipublikasikan kembali di laman Poetry Foundation.

 

Film Prancis

Aku hanyut dalam sebuah film Prancis

dan hanya punya sembilan jam sisa hidup

dan aku tahu benar

bukan karena aku berencana mencabut nyawaku

atau menelan racun mematikan yang bekerja lambat,

jenis ramuan yang biasa ditujukan untuk para juri

dalam persidangan pembunuhan oleh mafia,

aku pun tak berharap akan dihabisi

seperti pakar kimia yang keliru

ditarget sebagai seorang penting di Milan

atau jurnalis Yahudi yang diculik di Pakistan;

tidak, tidak satu pun; tak ada dasar untuk

curiga, tak ada plot pembunuhan

atas diriku, dengan pesan telepon rahasia

dan petunjuk semacam syal atau lipstik

yang tertinggal di kursi depan sebuah mobil;

tapi aku tahu aku akan mati

di ujung hari itu

aku tahu, dengan kepastian paripurna,

sewaktu aku melintas di jalan itu

dan mata kami bersirobok

saat perempuan itu melangkah ke arahku,

aku tahu belaka bahwa ia pun tahu,

dan meski kami belum pernah bertemu sebelumnya,

aku tahu ia akan menghabiskan sisa hari itu

bersamaku, sembilan jam berjalan bersisian,

bertualang, pergi ke toko buku di Roma,

merokok Gitane, berjalan dan

terus berjalan di London, naik kereta

ke Oxford dari Paddington atau ke Cambridge

dari Liverpool, lantas berjalan

di sepanjang tepi sungai dan melewati jembatan,

berjalan dan berbincang, sampai jatah sembilan jam

habis dan film hitam-putih itu

berakhir dengan satu kata TAMAT,

dalam huruf kapital putih di layar hitam pekat.

*) Dari Yeshiva Boys (Scribner, 2009), dipublikasikan ulang di laman Academy of American Poets.

 

_____________________

TENTANG PENYAIR

David Lehman adalah penyair, editor, dan kritikus sastra terpandang. Lahir di New York tahun 1948, ia meraih PhD dari Universitas Columbia. Menulis sejumlah buku puisi, di antaranya New and Selected Poems (Scribner, 2013), Yeshiva Boys (Scribner, 2009), When a Woman Loves a Man (Scribner, 2005), The Daily Mirror: A Journal in Poetry (Scribner, 2000), Valentine Place (Scribner, 1996), dan An Alternative to Speech (Princeton University Press, 1986). Editor buku antologi penting The Oxford Book of American Poetry (Oxford University Press, 2006) dan editor seri antologi tahunan The Best American Poetry sejak 1988 sampai sekarang. Ia menerima berbagai penghargaan dari beberapa lembaga terkemuka, di antaranya National Endowment for the Arts, Guggenheim Foundation, Academy of Arts and Letters, dan Lila Wallace-Reader’s Digest Writer’s Award.

TENTANG PENERJEMAH

Nabil Wibisana bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Kupang – NTT. Menulis puisi dan esai yang telah dipublikasikan di berbagai media massa. Penerjemah lepas, dengan minat khusus pada penerjemahan prosa dan puisi Amerika kontemporer.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending