Connect with us

Puisi

Puisi Puisi Zulfikar A.S

mm

Published

on

Yang Ada Selalu Ada

 

            1

Seperti teriakan malam:

Ada yang melangkah pulang tanpa beban

Ada yang menangis hingga pagi datang

 

2

Sepertinya aku sudah tak mencintainya

Aku lebih menyukai secangkir kopi

Yang sedang kuajak kencan pagi ini

 

Walau dingin menguasai tubuhku

Aku berusaha memanaskannya

Tanpa melibatkan dinginnya kepalaku

 

3

Untuk kegelapan itu:

Tak lagi suara yang berbicara

Tubuhku masih saja membatu

Dalam hening napas tak beraroma

 

Pengulangan waktu

Mendekatkanku kepada tubuh itu

Ternyata nurani

Membutuhkan kekasih agar ia tak lagi berdiri sendiri

 

Malam pun menyatakan,

Kata dan bahasa

Akan ia hilangkan dalam suara

Dan menepis upacara perpisahan

Waktu

Membunuh kegembiraan

Gema azan

Menidurkan malam dengan haru

 

Aku tertawa

Saat kesepian menghilang

Dan menantang malam

Dengan suara yang menggema

 

Untuk kesendirian itu:

Aku minta kau membangunkanku

Agar kutahu,

Sampai kapan kau menunda kepulanganmu

 

4

Barangtentu ada satu atau dua

Lelaki yang memujamu

Di antara mata dan telinga

Tapi kau lupa akan tahu

Doa yang disampaikan melalui senja

Oleh pujangga yang berhenti bersuara

 

            5

Akhir cerita:

Salah tak melulu berulah

Malam tak mesti terpejam

Sebab,

Lelaki itu menunggu desah

Dari penjual, kesepian.

 

2017

 

Heningnya Ledakan

(untuk manusia yang ─ selalu ─ menjadi korban)

 

rabu mengejutkan diriku

juga telinga, mata dan perasaanmu.

 

ledakan terjadi

pada bagian terkecil bumi.

 

mesin-mesin berhenti menderu

manusia-manusia tergeletak.

 

aku begitu malu

menjadi bagian tempat yang bergejolak.

 

katanya, ini adalah sambutan untuk bulan yang suci

begitu suci hingga harus dinodai.

 

langit berhenti tertawa

pekat menyelimuti wajahnya.

 

hujan tak lagi menghunjam

petang itu kata-kata tak begitu tajam.

 

dalam hening menuju keramaian

pikiran tidak diijinkan berjalan.

 

2017

 

La Mar*

 

Kudengar nyanyian dari kedua matamu,

kubenamkan diriku pada setiap bagian tubuhmu.

 

Kubertanya kepada Rabu,

mengapa ia harus menjadi hari tidak menjadi dirimu.

 

Sedangkan saja, cintaku terlihat mata

ada di hari Rabu kepada buku-buku.

 

Bukan kepada Rabu

 

Barangkali untuk dirimu

yang masih berserakan di dalam buku-buku naif bekas kekasihmu.

 

Dan aku akan sangat mencintainya di hari Rabu.

 

Aku memiliki beberapa mimpi

yang diasingkan ke dalam hati tanpa diadili.

 

Sebab Rabu mencegahku jika ingin membunuh mimpi-mimpi.

 

Dan satu hal harus kau ketahui.

Aku dan Rabu sudah lama bersekutu.

 

Rabu memberi kebebasan tanpa syarat kepada mimpi-mimpi itu,

yang di antaranya adalah mencintaimu.

 

Januari 2018

Cinta yang Kelelahan

 

Di hadapan malam, aku bercerita tentang keindahan bunga-bunga yang tumbuh liar di dalam kepalaku. Kau menanam, sementara aku menyiram agar tak layu. Aku tak mau kalah. Kubuat sebuah altar di dalam dirimu. Kau selalu kusibukkan dengan kata-kata yang tersusun menjadi cerita. Ceritaku dalam mengadu. Kita pernah tidak sengaja bertemu di antara bunga-bunga yang durinya melukai hati kecilmu. Aku tak berani bergerak karena sebagian isi kepalaku adalah hati kecilmu. Aku berhenti menyiram agar matilah bunga yang kau tanam. Juga pikiranku yang tajam. Suatu ketika di tengah percakapan kita, kata-kata mengejawantah jadi sebuah gunung merapi. Dan telingamu mengubah dirinya menjadi sumur tanpa dasar yang siap menampung letusan lahar. Sepi kembali. Kata-kata luruh menjadi abu. Langit menjadi semu, menyelubungi diri kita yang angkuh.

 

Mei 2018

Kenalan Lama Bernama Pagi

Pernahkah kau berpikir, pagi tak dikenali oleh manusia? Aku pernah berpikir seperti itu. Ketukan detik, tamparan menit dan ribuan pukulan jam melupakan perkenalanku dengan pagi. Aku pernah merasakan menjadi bagian dari kota. Kecemasan, kemarahan dan kepura-puraan tanpa alasan menghantuiku hingga hantu itu bersetubuh dengan jiwaku. Ketika itu aku sangat mengenal pagi, seperti aku mengenalmu dalam kecemasan. Seperti aku mengeluarkan kepura-puraan untuk berkenalan. Dan, seperti aku yang menyesali perkenalan dengan kemarahan karena menyadari akan adanya perpisahan. Begitulah pagi ketika dahulu kala yang masih aku kenali melalui kota.

Setiap ketika aku berpelukan dengan pagi, aku sudah bersolek rapi dari ujung kaki sampai ke dalam hati. Aku pikir, hatiku juga mesti kurapikan. Ya, walau setelah pelukanku dilepas pagi dan lantas aku terbirit berlari-lari melalui kemacetan jalan, teriakan juru parkir untuk mempercepat laju kendaraan karena ada kendaraan dari arah lain sudah melambai-lambaikan selembar uang agar dipersilakan duluan. Atau, menyaksikan tukang gorengan yang sibuk memanaskan gorengannya karena tidak habis terjual hingga tengah malam. Pagi itu selalu menyenangkan ketika kota menyediakan sedikitnya ruang kepada orang-orang yang memangku kepentingan terkait kepentingan orang-orang lain, orang-orang asing, perusahaan, pemerintahan dan bahkan bangsa. Dan aku pernah berpikir, aku harus menjadi orang dengan prototipe seperti itu agar pagiku selalu menyenangkan.

Aku sudah duduk di kursi dalam ruang kelas dan menyadari hatiku kembali berantakan. Ya, kau sudah tahu bahwa kecemasan, kemarahan dan kepura-puraan sudah menjadi bagian dari jiwaku. Apalagi setelah aku menemukan sebuah tulisan dari sebuah catatan seseorang yang tergeletak di jalanan.

Apa? Kau ingin tahu tulisannya? Apakah kau tidak akan menyesali jika setelah ini kau tidak ingin mengenal pagi lagi? Baiklah aku bacakan.

“alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun yang tidak seberapa. – Seno Gumira Ajidarma-”

Kemudian aku keluar dari ruang kelas setelah hanya duduk beberapa saat dan berkata pada guru yang membuat aku banyak menguap, bahwa aku akan menunggu makan siang dan menghianati sarapan pagi.

10 Desember 2018

 

*La Mar adalah Bahasa Spanyol yang berarti sesuatu yang sangat dicintai.

 

*) Zulfikar A.S., lahir dan tinggal di Bogot. Pecinta Sastra.

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Sabiq Carebesth: Tentang cinta yang kehilangan bahasa

mm

Published

on

1

Terkadang cinta kehilangan bahasa
Maka ia berjalan dengan bisu
Terkadang cinta bukan lagi kata
Maka ia menghabiskan hari hari
Dengan berjalan menyusuri kota kota

Dari peron stasiun, melewati kesunyian
Terasing di pasar pasar masa silam
Membenam dan beku di lantai enam apartemen
Di antara gerimis yang ragu,

malam yang enggan, lautan yang membisu—
cinta enggan berhenti
Tapi kita telah kehabisan kata-kata.

 

2

Lalu pada malam yang rapuh
Kita bertanya tentang keindahan;
Tentang cinta yang kehilangan bahasa

Kita pergi dari kota ke kota
Stasiun, kafe kafe,
ruang tunggu bandara—
Lalu kita diam diam mengira,
Cinta seperti kanvas kosong;
Kita telah menuang semua warna;
Malam dan subuh; lelah dan terburu—
Dan kita sama tak tahu
Gambar apa yang kita kehendaki
Musim apa yang kita damba.

 

3

Lalu kita beringsut dari mimpi
Mendapati pagi yang basah oleh hujan
Taksi yang menunggu dalam sepi
Jalanan redup—
Kota yang tiba-tiba hampa
Seakan hanya kita yang terjaga
Hanya kesunyian menghampiri
Tapi kita pun tak sempat bercakap;
Kita harus pergi
Dengan cinta yang tetap tak kita pahami.

 

4

“Cinta adalah waktu yang ingin kita tempuhi
Meniti ujung jalan dan kota kota,
kafe kafe yang beku—
lampu lampu yang merona seperti pipimu,
Sebelum hujan melelapkan kita
dalam mimpi buruk—untuk berjalan sendirian;
Menziarahi kesunyian kota kota, hening kafe kafe,

lampu lampu jalan yang sedan,

jendela apartemen berwarna kabut—dengan cinta
Yang tetap tak kita pahami.”


Sabiq Carebesth, Hong Kong—2019

 

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Agust Gunadin

mm

Published

on

Getty Images/ my verson of a great painting by robert-burns

Juni Menggerutu Pada Memilih

Masih seperti yang model kemarin

Kisah tentang waktu yang menggerutu dibahumu

Yang ingin ditepiskan pada suatu masa

Bahwa kau ingin segera memilih

Pada tempat ingin dipijak, pada ruang yang ingin bersahabat

Dan pada masa yang tepat sasar

Aku dan kamu telah menamainya

Namun sedang merajut tentang suatu nama itu

Tentang “berkuliah”

Yang tepat sasar, kata seorang kakek dalam perutusan

Agar kau jangan asal pilih

Sebab memilih sebuah konsekuensi

Sekali pilih “itu sudah”

Cbl:Pau, Juni 09

 

Cukup Meringankan Saja

Jika senja sebelumnya, kami menikmati kelegahan

Namun, senja pada hari itu berubah semburat merah

Sebab ada pilihan yang tersengal

Tak kala pendidikan bisa terapung

Lantas, ada waktu untuk merenung

Bukan! Merenung lalu menikmati

Tetapi merenung karena kami terbirit meraih angan

Angan kami pun jelas!

Menutup lubang yang masih terbuka

Bagaimana kami ke sana

Jika pada kini dan di sini

Menganga dan tercengang, kata mereka ilmu itu mahal

Maka jelas dibayar mahal

Kami pun mulai lunglai, berpikir pun agak meradang

Tatkala ilmu yang ingin dicari

Tergeletak pada ekonomi kami yang masih terpuruk

Mengeluh adalah cara kami

Mungkin yang di seberang sana peduli

Agar kami tersenyum sumringah

Bahwa kami butuh pendidikan yang perlu diringankan

Gnd: San Camillo, Mei 2019

Dilema Sebuah Lilin

Sengaja kudekapkan dengan lilin, sebab ia seringkali indah pada cahaya

Dan hangat untuk asa

Kita yang ingin menjadi (maha….)

Sesekali bertumpu pada lilin

Yang memampukan untuk kehangatan

Yang membawa asa pada cahaya

Menerangi lorong yang masih gelap

Menghangat yang masih peluh

Mengata untuk mewakili yang bisu, sebab seringkali

Kita keenakan untuk menjadi bisu

Lantas, penerangan ditindis api kebisuan

Dan kehangatan ditimpas asa kelesuan

Yang ingin menjadi (maha…)

Menjadi duta untuk menuntaskan

Maumere, 0609: GND

__________

*) Agust Gunadin, Mahasiswa STFK Ledalero, Ketua Kelompok Sastra di Seminari Tinggi St. Kamilus-Maumere. Beberapa puisi pernah dimuat di Pos Kupang, Warta Flobamora, Majalah Simalaba-Lampung, Floresmuda.Com, Gita Sang Surya-OFM dan Media online.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Aditya Ardi N

mm

Published

on

mumu

 

petiklah bianglala di dada ibumu

sebelum bintang mati dan bulan berlayar menjauh

 

ciptakan langitmu sendiri

yang berbeda dari langit marah kota ini

dengan tembakan laser dan merkuri

⎼dikutuk tunduk pada polusi

 

menarilah, mumu

dengan keriangan sebagaimana mustinya

sebelum kau kenali kutukan hari-hari

seperti mahalnya harga susu formula untuk bayi,

dokumen penghilang ingatan

serta agenda kerja yang memangkas usia

 

teruslah tersenyum, mumu

sebab hanya dengan itu hidup yang keras bisa dikalah

hanya dengan tersenyum, mumu

dunia akan dipenuhi belas kasih

dan cahaya cinta yang acap terlupa umat manusia

 

dangdut koplo rapsodi

 

dangdut koplo adalah obat

bagi rakyat melarat

ia beri bunyi bagi sunyi

yang kekal mengendap di lokalisasi

 

di dolly, di dolly

ia nyatakan diri untuk pertama kali

sebuah susunan notasi

mengurapi seluruh pelacur dan mucikari

merasuki seluruh ranjang dan sprei

menggoyang larik-larik larut menuju pagi

 

meski waktu terkutuk kedaluwarsa membungkus dolly

di sini, di jambon gang sempit ini

dangdut koplo bakal abadi

mengorkestrasi kehampaan hari-hari

 

  madah bagi para biduanita orkes

 

/1/ arlida putri

tak hanya berdiam dalam mikrofon

suaramu debur ombak

yang tidur dalam pikiranku

sapuan angin yang kini bersarang

di hulu jantungku

 

o, betapa cantikmu serupa pisau

berkilat dan mengacung ke arahku

 

tanpa bedak—tanpa gincu

kupuisikan namamu

dalam bait sunyi sajak ini

 

/2/ niken yra

 

seluruh isi dadamu adalah puisi

yang tak henti aku bacai

 

o, biduan

kerling nakalmu,

merogoh dalam-dalam lipatan jiwaku

yang selalu ingin menari dan hanyut bersamamu

 

suaramu api yang menjilat-jilat kayu tubuhku

begitu kusaksikan kau bergoyang—berdendang

teror mengambang di puncak siang

terbakar habis aku jadi abu

 

/3/  tasya rosmala

 

gendang telingaku adalah penampung terbaik

bagi pertikel sendu basah suaramu

seluruh getarnya aku rasakan

ia beresonansi menembusi urat nadi

hingga terpicu detak jantung ini

 

lewat larik-larik  yang naif

kita lantas rajin bertemu

di panggung-panggung orkesan

di kaset vcd bajakan dan sesekali di televisi

kemudian begitu saja kau kuakrabi

 

biduan,

barangkali hanya dalam puisi ini

lagu dangdut koplo begitu berarti

dan tak bakal mati

 

penggemar orkes garis keras

 

setelah seliter arak beras tandas

segera kami bergegas

menyerbu gelanggang dangdut

dimana hati dan pikiran kami tertaut

 

kami datang dengan hati riang

meski hidup kian keras meradang

oleh tagihan dan himpitan hutang

seirama kendang kami bergoyang

seturut dendang segala sakit hilang

 

pantat bulat biduan dangdut

bikin kami melupa anak istri

membawa kami jauh terhanyut

menepi dari kutukan hari-hari

 

di altar panggung orkes ini

kami akan terus bejoged, terus berjoged

hingga kami dapati cara  menyiasati

hidup yang telanjur koplo ini

 

saweran

matamu goyah

di hadapan lima ribu rupiah

mengasingkanmu dari pengertian ibu dan ayah

 

cium tangan biduan

 

aku cium tanganmu

dan sedikit terangsang

dan tuhan tahu itu

dan aku malu

tapi mau

_________

*) Aditya Ardi N: Penyair, lahir di Ngoro – Jombang, Jawa Timur 7 Januari 1987. Buku  Puisi  tunggalnya Mobilisasi Warung Kopi  (2011), Mazmur dari Timur (2016) .  Beberapa  karya puisi dan esai dimuat di media online/cetak  lokal maupun nasional serta  beberapa jurnal kebudayaan. Kini tinggal dan berkarya  di  Jl. Musi no 137, RT 02/RW 02, Dusun Gresikan, Desa Ngoro, Kec Ngoro, Kab Jombang,    Jawa Timur  kodepos: 61473. HP 0812-3374-0285 IG: @mas_genjus

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending