Connect with us

Puisi

Puisi Zelfeni Wimra

mm

Published

on

Puisi Zelfeni Wimra

ode liris inyiak guru

 

jalan ini tak lagi sunyi, nyiak

langkah kami kadang mirip derap duka perang yang berlari kencang

tapi jiwa kami, entah mengapa, memendam rintihnya sendiri

meredam ringkihnya sendiri

 

melengkapi hidup di sini adalah menyulam wajah iba guru tuo

menggenggam gigil di ujung jarinya

denyut yang canggung

kitab-kitab kuning telah memutih

gema suara debat mengabu di rusuk surau

tahlil dan kunut ditabukan

segalanya bertaburan jadi bid’ah

memenuhi udara bagi paru-paru kami yang sesak

dan dongeng tentang surau yang roboh menjadi dendang

menghiasi irama siul menjelang kami membuka pintu toko

 

seperti eskalator yang kami tapaki setiap berkunjung ke pusat perbelanjaan

madrasahmu berputar-putar mengantar santri mengaji laba-rugi

gambar mihrab hangus terbakar menato kuduk kami

lalu namamu terukir di buah kalung yang kami pakai ketika bernyanyi

dari panggung ke panggung

dari televisi ke televisi

di dada dan punggung kaos oblong kami

dari situs ke situs

dari dinding ke dinding

dari halaman ke halaman akun sosial kami

 

ya, jalan ini memang tak lagi sunyi, nyiak

kami sudah pandai meramaikannya

dengan desiran rintih dan ringkik

pada artefak akal kami

 

2014

 

 

 

menu kandang tiga binatang

 

kucing tanahdata:

di ranahku, menu ayam berserakan

menu itik dalam peraku

menu anjing tersaji depan pintu

menu kelinci langsung ke dipan

hanya menu untukku yang bisa berdekatan

dengan wajah makanan majikan

 

harimau agam:

sejak dikandangkan, aku kehilangan petualangan

aku tak lagi sempat menunjukkan martabat raja hutan

bertarung di rimba raya memburu santapan

di kandang kebun berbintang ini makananku selalu disediakan

aku tinggal meladani pengunjung dengan auman dan taring disunggingkan

agar mereka mengira itulah senyuman

 

kambing limapuluh kota:

mengumpulkan makanan bagiku gampang

tanah di ranah ini menumbuhkan seribu satu daun untukku

daun di ladang, daun di hutan,

daun di jalanan bahkan daun di halaman

tidak pantas ada cemas, selama masih mampu mengayuh tubuh

sedikit pun aku tiada ragu

aku akan terus menjelajah

mencari dan mencuri daun demi daun

 

2014

 

 

Zelfeni Wimra lahir di Sungai Naniang, Luak Limopuluah kota Minangkabau, Sumatera Barat, 26 Oktober 1979. Buku puisinya berjudul Air Tulang Ibu (2012).

 

Sumber: PUISI KOMPAS, MINGGU, 8 JUNI 2014

Continue Reading
Advertisement

Puisi

(Puisi) Peluklah Lukaku yang menua

mm

Published

on

Peluklah Lukaku yang menua

Betapa jauh waktu

Aku lelah dan takut

Dingin dan menua

Kutuntun langkah setapak

Tiada malam atau siang

Aku hanya ingin pulang

Melihat wajah-wajah

Jadi penunjuk arah

Ke rumah di mana aku ingin rebah

Istirah yang penghabisan

 

Aku tak ingin mencari apa-apa lagi

Aku tak ingin kemana-mana lagi

Aku lelah dan takut..

 

Kekasihku

Peluklah Lukaku yang menua..

November, 2019

 

Karafan Duka

Di luar hujan dan dingin

Malam membusungkan dadanya

Menantang Lukaku yang jadi serigala

 

Aku menembus hutan-hutan jauh

Pohon-pohon telah jadi purba

Senja telah jadi salju beku

Aku seorang diri

Menangis dan takut

 

Melayap dan memburu

Kekosongan demi kehampaan

Duka-duka sepanjang jalan

Luka kupapah sendiri

Tiada siapa lagi kunanti

 

Jika kekasihku tak kembali malam ini

Esok pagi aku telah jadi tanah merah

Hanya bisa menunggu

Karafan duka mengantar

Kekasihku kembali

Sebagai sunyi abadi

 

Biar kukisahkan kekasihku:

Ia gulungan ombak lazuardi

Biru nun kaswah

Pada sampanku ia  melayut

Sekali malam kan juga melagut

 

Bila aku tenggelam

Dukanya kan jadi laut gelap

Hujan datang melayangkan duka

Aku sekali takkan hidup lagi

 

Takdir yang menyeru

Seperti sangkakala diujung waktu

Membangunkanku dari dingin

Dan kekasihku menjelma api

 

Aku letakkan jiwaku

Sebagai arang nasib

Agar terbakar api lukanya

 

Kelak jika kau lihat lukanya

Itulah cintaku yang terbakar

Dan kita tak lagi punya rumah

 

Aku lelah mengungkai

Temali yang melipat jiwaku

Rinduku telah jadi abu

Semalam membakar rumahku

 

2019

*) Meera Sabina,  

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Fr. Alex Sehatang, SVD

mm

Published

on

Fana sefana diri kita

Selalu saja tawa dan tangis beriak tentang kefanaan.
Sefananya diri kita.

Acapkali aku mengintip matamu yang mengutip banyak pertanyaan tentang kefanaan.
Sefananya diri kita.

Tak pernah matamu pandai bermain ilusi selagi selapus polos masih berucap tentang kefanaan.
Sefananya diri kita.

Hei… fana!
Haruskah aku mengajakmu untuk menemui kekal?
Agh…
Memangnya di mana kekal?
Tak ada?
Ya…
Aku fana.
Sefana diri kita.

Bello, 03 Juni 2019


Siapakah aku ini?

Lidya..
Sebersit tanya untukmu perihal nama yang aku sematkan kepada sayap-sayap kicau;
Siapakah aku ini?
Aku tidak tahu siapakah aku, tapi yang aku tahu bahwa kamu tahu siapa aku.
Jadi, aku adalah yang kamu tahu.
Kamu boleh bahkan bisa saja menumpahkan stigma yang bagiku adalah sesuatu misterius.
Mengapa?
Tapi, mungkin itu caramu untuk berkata bahwa itulah aku.
Aku biarkan itu terjadi.
Karna aku percaya yang kamu tahu itulah yang pantas aku yakini tentang pertanyaanku tadi;
siapa aku?

Ledalero, 03 Oktober 2019

Manifestasi 

Aku sementara bertapa bersama Sang Ada bahkan menapak bersama-Nya.
Sementara syahdu di jemari-Nya.

Tetapi, bersama yang ada aku merasa seperti bersama Sang Ada.

Mengapa aku perlu Teduh dan Sunyi bersama yang ada?

Sebab aku melihat Sang Ada hadir dalam yang ada.

Ledalero, 03 September 2019

Toreh

Sss…
Perlu dan haruskah katakan mendiang pada pohon tak bernama.
Ia masih menunggu nama darimu sekadar agar tidak dibilang mendiang.
Sekonyong-konyong agar tidak dikata anker.

Ooo…
Lekaslah agar rayap tidak menggerotinya atau burung enggan melukis peluh pada rantingnya.

Baa…
Tentunya ketika langit memanggil untuk bertanya jawab sudah ada nama pada dirinya
Apalagi di atas sana angin, hujan, panas mengajakmu untuk bersandiwara.

Ttt…
Sigaplah!
Jangan candu dengan semuanya karna kapak sudah di pohon menunggu untuk siap ditebang.

Kuwu, 12 Februari 2019

Fr. Alex Sehatang, SVD

Ledalero-Maumere

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi Sonny Kelen

mm

Published

on

Kopi Yang Lupa Di Teguk

Berhentilah menawarkan janji

Menjadi wanita yang selau tersenyum

Ketika duka di jadikan mesbah tempat segala rahasi di ungkapkan

Entah. Ingin sekali aku mengutuki kepergianmu

Dan tak ingin mengingatmu sebagai luka

Atau sesuatu semacamnya

Sebab kopi tidak lagi menjadi tegukan dari setiap cerita yang di bicarakan

Atau sesuatu semacamnya yang sering menemanimu

Telah kulihat meski di sudut jendela senyummu yang menyerupai surat undangan

Yang berisikan masa depan yang tertunda

Biarlah sajak tentang kopi berakhir di sini

Tempat di mana kau kan mengerti bahwa kopi juga ingin di sapa

Seperti dirimu yang selalu bertanya perihal kabar yang selalu kau rindu

Ledalero, 2019

 

Menunggumu Pulang

Aroma tubuhmu masih tergenang di sini

Tempat di mana aku melihat tubuhmu hilang di tikungan rumah ini

Setiap detik pada tebingnya yang curam

Ada keyakinan selalu hadir sebagai teman baik dalam percaya

“Dia kan pulang untukmu”

Bunyi tik tok jam dinding menjadi akrab denganku

Sebab tidak ada yang mampu di benah sebagai hadirmu yang di tunggu

Bayangkan jika berkali-kali aku menunggu adalah harapan

Kau tak pernah melihat air mata jatuh dari mataku yang pedih

Karena itu kau tidak pernah bosan-bosan membuatku menunggu

Aku akhirnya mengerti

Menunggu seperti belati sebuah janji jika harus aku pilih

(Barangkali menunggu seperti menyisahkan jejak yang dalam

Semacam luka yang tak kunjung kering)

Ledalero, 2019

 

*) Penulis Sekarang Tinggal di Unit Gabriel Ledalero

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending