Connect with us
Taufik Ikram Jamil Taufik Ikram Jamil

Puisi

Puisi Taufik Ikram Jamil

mm

Published

on

KEPADA JAWA

 

mungkin kita jumpa lagi pada malam empat persegi

langsung saja bersalin terang dalam bayang

di antara remang-remang bumbung melayang

di samping embun menjingjing dingin

sambil melupakan rama dan sinta

yang berpagut peluk entah di mana

dan mengacuhkan kurawa maupun pundawa

saling berebutan entah untuk apa

betapapun kalimasada kita tatap

dengan seluruh pinta dan segenap harap

 

saya selalu rindu padamu katamu saat sua itu kelak

tapi engkau menjawabnya dengan kleningan gamelan

hingga aku terpancing untuk menjadi dalang

menghabiskan cerita ke puncak angin

kemudian melesat dalam lirik sinden

yang pada gilirannya meliuk dalam serimpi

dengan getar yang lebih besar dari merapi

 

sungguh ingin kusaksikan lagi

saat kau bentangkan rambutmu di pantai selatan

sedangkan kakimu di banyuwangi

dengan tangan terkulai di ujungkulon

bengawan solo melilit pinggangmu ramping

jemput aku bermain alun di muaranya

 

dan bagaikan homo erectus paleojavanicus

sekelip mata mengembara sampai eropa

tapi kau memangilku sebagai arjuna

dengan panah asmara yang sudah memiliki tuju

 

sempat lama bertatapan di dataran dieng

dengan ketinggian yang tak terpahami

menjadikan kita jadi begitu gelisah

lalu kuhumban pandangan ke kawah bromo

tapi kau mengiringinya dengan lengking

karena khawatir seperti gatotkaca

resah kita akan bertulang baja berkulit besi

kokoh bagai borobudur dan kalasan sekaligus

lalu dengan gusar kau lari menghindar

hinggap tersingkap betismu pada bunting

yang jangan-jangan membuat iri dewi sri

untunglah aku sadar bahwa engkau bukan ken dedes

dan aku tak pula ken arok dengan dada membidang

kita akan terkenang babad tanah jawi

bergenggam ingat antara carik braja dengan adilangu

biarkan hj de graaf menggapai lupa

menadah serat pramono sidhi dengan hampa

ketika kala demi kala berlepas pergi

sebelum akhirnya kita sama-sama manangisi dara petak

sebab oleh kisah salah yang tak sudah-sudah

menjadi lahar yang dipendam empat puluh kepundan

dijinakkan laku berpuluh ribu tahun mengeram

 

di jepara yang kusebut kalingga kita berjumpa kelak

bukan hanya karena di sana sempat dipesan keranda

bagi raja ali haji yang berimbang nyawa di usia belia

tapi tempat pertama sua kitalah yang menjadi sebabnya

tanpa mengurangi rasa takzim kepada gersik dan tuban

menerima utusan khalifah usman dengan gempita

agar dapat menyadari diri sebagai manusia

sehingga mampu memahami makna syukur tanpa ukur

dan begitulah selanjutnya nafas terhela ke tanah aceh

di pajang dan demak dan mataram sampai tidore bertukar ukir

kemudian memenuhi armada pati unus mara ke Melaka

bahkan terhadap fatahillah dan ratu kalinyamat

disamping menyelinap dalam kitab-kitab kuning

menjadi santri bagi harga diri

juga meregang kekang kuda diponegoro

sebelum tiba saatnya mematut lidah di serantau riau

sampai menggiring soekarno-hatta di rengasdengklok

pun tak serak suara bersama bung tomo

 

betapa cepat waktu pergi

sementara datang bukan bagian dari dirinya

(Kompas, 25 Maret 2012)

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Angga Wijaya

mm

Published

on

Lorong

/1/

Aku datang, senantiasa. Bicara tentang hari terlewati,

juga kenangan yang berlalu seperti angin. Terluka oleh

waktu yang menelikung diam-diam. Nasib? Entahlah

Kita adalah penulis takdir, terpatri di kening seperti

para tetua katakan. Jangan bersedih, cinta masih ada

selama kau percaya padanya. Di rumah sakit ini,

kesedihan merayapi lorong bagai hantu gentayangan

air  mata tumpah, kematian begitu menakutkan

ia bisa datang kapan saja tak kenal waktu.

 

/2/

Tiga tahun aku mengenalmu, setiap bulan datang

meminta penawar sakitku, penyakit yang hancurkan

mimpi dan harapan. Aku tak menyerah, masih banyak

kawan bernasib lebih buruk, terbuang dan dikurung

dalam kamar sempit berterali, terpasung dengan sorot

mata nanar penuh amarah. Kau bebaskan mereka,

melepas rantai yang mengikat kaki. Masih ada harapan,

seperti Wayan yang kini bebas dan bersemangat

 

/3/

Kulihat pasien menunggu di lorong

Terpancar harapan di matanya

Duka-lara sirna perlahan

Berganti suka-cita, tertawa hadapi

hidup yang kadang bagai lelucon

Seperti juga aku, kutulis puisi

Untuk sembuhkan luka di dada

Masa lalu berlalu bagai kuda pacu

Berlari dan menerjang segala kelu

2018

Gang Pipit, Sesetan

 

I see skies of blue
And clouds of white
The bright blessed day
The dark sacred night
And I think to myself
What a wonderful world

   -Louis Armstrong

 

Ambil gitar itu, nyanyikan lagu

Seperti dulu saat kau remaja

Bernyanyilah, agar beban sirna

Hidup makin terjal dan berat

Kau jalani dengan senyum

 

Apa lagi tersisa, air mata

menetes di malam sepi

Teringat kampung halaman

Kawan-kawan sepermainan

Langgar adalah tempat setia

Pelarian dari segala duka

Saat ibu marah memukulimu

Ayah tak bekerja, sementara

anak-anak lapar ingin makan

 

Lagu lama mengalun pelan

Ditingkahi suara gitar

Di siang yang panas

Segelas kopi temani

Percakapan kita

Adakah yang lebih bahagia

Kita bertemu di ruang tamu

Berbagi kisah masa lalu

Kenanglah! Hapus air matamu

Jangan bersedih. Tuhan bersama

kita, orang-orang terlupakan

Digilas waktu yang nisbi

 

2018

Suara

Kututup pintu, agar suara-suara tak terdengar

Menghina dan merendahkan, berasal dari

tetangga yang berbincang di kamar sebelah

 

Mereka tak paham aku penulis

Tak bekerja seperti orang normal

Pergi pagi dan pulang di sore hari

Aku jarang keluar kamar

Kuhabiskan hari dengan membaca

dan menulis, kukirim ke koran

mendapat honor untuk bertahan

hidup. Mereka tak tahu penulis itu apa

Mengapa lebih sering di  kamar

Tenggelam dalam imajinasi

Kutulis puisi dengan segenap daya

Idealisme kujaga bertahun-tahun

Tak menyerah pada hidup, di negeri

yang menganggap sastra hanya

khayalan dan bualan.

 

Suara-suara itu tetap kudengar

Masuk lewat lubang angin

Aku mencoba tak peduli

Kutelan obat redakan itu

Berharap semua tak nyata

Berasal dari pikiranku sendiri

Seperti dikatakan psikiater

“Skizofrenia paranoid,” sebutnya

Tak ada yang membicarakanmu

Tak ada yang peduli padamu 

Sepatu dari Kawan

Aku bekerja dengan pakaian sederhana; jeans lusuh dan kemeja pemberian kakaku, juga sepatu yang juga pemberian orang.

Sepatuku robek dan bagian bawahnya hampir terlepas. Waktu itu aku baru bekerja di kota setelah bertahun-tahun mendekam di kampung halaman akibat skizofrenia. Aku belum mendapat gaji sehingga belum mampu membeli sepatu baru.

Kawanku prihatin melihatnya. Suatu hari ia memberikanku sepatu miliknya. Aku memakainya dengan perasaan sedih; betapa buruk hidupku, tak ada yang bisa mengubahnya selain diriku sendiri. Aku berjanji pada diriku untuk giat bekerja, agar bisa membeli jeans, kemeja dan sepatu baru.

 

2018

 

Jaket dari Ayah

Dulu sekali, sewaktu aku remaja ayah membelikanku jaket berwarna cokelat. “Ini jaket dari Korea,” katanya. Aku senang sekali, tiap hari jaket itu kupakai,saat itu aku jatuh cinta pada puisi dan merasa menjadi penyair tiap kali pergi memakai jaket itu.

Aku tahu ayah membelinya di toko pakaian bekas di kota, loakan menjadi pilihan bagi orang miskin seperti kami. Aku tak mau menanyakannya lebih dalam, kepedulian ayah merupakan hal luar biasa bagiku.

Jaket itu menemaniku hingga bertahun-tahun kemudian, merantau dan bekerja di kota sambil terus menulis, puisi-puisiku menghiasi koran dan dibaca banyak orang.  Aku memakai jaket dari ayah saat diundang membaca puisi di festival sastra kenamaan yang dihadiri  penyair terkenal. Jaket itu juga menemaniku saat ayah dirawat berminggu-minggu di rumah sakit sebelum akhirnya dibawa pulang dan meninggal beberapa hari kemudian.

Kini jaket pemberian ayah telah rusak, lapuk dan robek di sana-sini. Aku tak memakainya lagi dan menyimpannya di lemari. Jaket penuh kenangan, dibeli dari keringat dan kebanggaan ayah sebagai sopir taksi di kota, jarang pulang untuk memastikan kami bisa makan dan tak kelaparan di kampung halaman.

 

2018

 

kenangan di rumah sakit jiwa

kopi di sini nikmat sekali

dibawakan tiap pagi menjelang

“kopi, kopi, kopi,” suaranya

bangunkanku dari mimpi

kami minum bersama

ada yang meminumnya

saat panas, tanpa takut

terbakar

 

orang-orang menyebut

kami gila, dan kami

menyangka merekalah

penyebab kami berada

di rumah sakit ini

di ruangan berterali

bersama orang lain

yang juga disebut gila

 

matahari meninggi

saatnya mandi

lalu makan

dan minum obat

sementara ruangan

dibersihkan dari

segala kotoran dan

serapah, juga

tangis kami semalam

 

aku tak tahu

sampai kapan di sini

rinduku pada rumah

semakin menebal

ingin sekali menelpon

“kapan ke sini menjemputku,

kalian membiarkanku

membusuk bertahun-tahun

di tempat asing ini”

 

kudengar kabar

pasien yang lari

atau bunuh diri

sebab hidup tak

penting lagi

tak ada cinta

untuk kami

 

2017

 

Buku-Buku Tak Bisa Menolongmu

Akhir bulan saat kantongmu menipis kau gelisah

Pulang ke rumah kau temui anak-istri terdiam

Tabungan tak ada lagi, habis untuk makan dan

pengeluaran lain. Juga untuk rokokmu, membuat

istrimu kesal dan sering marah padamu.

 

“Pilih aku atau rokokmu!”  bentak istrimu

Kau hanya diam lalu pergi berlalu. Kau mencintai

rokok sebelum mengenal istrimu. Penuhi paru-paru

dengan asap nikotin dan tak bisa lepas darinya

 

Menuju kamar, tumpukan buku temani harimu

Bertahun-tahun kau kumpulkan, jadi amunisi

kala menulis bagi penulis-seniman sepertimu.

Tak semua buku kau baca, ada yang bertahun-

tahun tak kau sentuh hingga berdebu dan kusam

Saat seperti ini buku-buku menjadi benda mati

Mereka tak bisa menolongmu. Pengarang mati

sebelum kau membacanya. Tak ada lagi yang

berharga. Hanya tumpukan debu dan kelu.

 

“Jual saja buku-bukumu. Koleksimu langka”

Temanmu berkata suatu malam. Kau bimbang.

“Masih ada uang?” istrimu selalu bertanya

Kau makin gelisah kemudian setengah berbisik

meracau tentang nama-nama yang kau ingat

Dostoyevsky, Nietzsche, Camus, Virginia Woof,

Pramoedya, Wiji Thukul, Rusmini, Cok, Nanoq

Bibirmu bergetar menyebut mereka, kau berteriak

dan berlari ke jalan, hingga orang-orang memanggil

polisi pamong praja untuk meringkus-membawamu

ke rumah sakit jiwa. Kau mengidap skizofrenia!

 

Di kamarmu tak ada buku-buku dan kau bukan

penulis. Sewaktu kecil kau ingin menjadi penulis

Orang tuamu menjadikanmu pegawai bank

Di bank kau kerap membaca puisi keras-keras

Kau dipecat dan dianggap sakit jiwa. Kau belum

menikah dan tak punya kekasih. Tak ada perempuan

yang mau dekat denganmu. Kau menjadi pemurung,

sering menyendiri di kamar bersama bayanganmu.

2018

*) Angga Wijaya: Bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya. Lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Belajar menulis puisi sejak SMA saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya asuhan penyair Nanoq da Kansas. Puisi-puisinya pernah dimuat di Warta Bali, Jembrana Post, Independent News, Riau Pos, Bali Post, Jogja Review, Serambi Indonesia, Denpost, Tribun Bali, tatkala.co, balebengong.id, qureta.com dan Antologi Puisi Dian Sastro for President! End of Trilogy (INSIST Press, 2005) serta Mengunyah Geram (Seratus Puisi Melawan Korupsi) yang diterbitkan oleh Yayasan Manikaya Kauci, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Jatijagat Kampung Puisi (2017). Buku kumpulan puisinya berjudul “Catatan Pulang” diluncurkan Januari 2018 lalu. Bekerja sebagai wartawan lepas di Denpasar. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi Kim Al Ghozali AM

mm

Published

on

Nuh Kecil

Ia mengaduk pasir dan air, membentuk

kapal raksasa dilapisi cahaya kuning.

Di tepi laut.

 

dan menyangka gelombang biru

serta pernak pernik awan di atasnya

bandang Nuh kedua setelah

5000 tahun silam.

 

Terbayang juga lentera bundar sempurna

segera menjurus ke tengah pusaran

menjilati cawan raksasa-merah

dan memberangus kota-kota;

hotel menjulang, tugu peperangan,

turis mabuk, Afro teler yang diiringi

musik reggae dan perempuan tanpa beha.

 

“Dunia harus diselamatkan. Sejarah manusia

tak boleh berakhir sebelum usai makan malam.”

—Di restoran langganan sudah menunggu

menu gurami, ayam panggang dan salad buah.

 

Ia terus mengaduk pasir basah

memilah cangkang kerang

uang kepeng dan kerikil sebundar kelereng

karena ia harus menyelamatkan dunia

dari terkaman bah yang marah

—kutukan kedua dari cinta yang luka.

 

Sedangkan di kejauhan

gunung sombong memamerkan punggungnya

(tempat ekor langit bersandar)

Dan ia percaya bahteranya akan mendarat

di sana, seusai bah tumpah mengganjar

para pendosa.

 

Seekor kepiting pincang mendekati

seakan tahu dunia segera karam

ingin menumpang bahtera-pasir

yang baru usai dibangun.

 

Tapi ia menghalaunya hingga

tubuh rapuh itu terbawa ombak

 

Ia tinggal sendiri di tepi laut

digenangi cahaya temaram yang tumpah

menerjang kokoh bangunan sepanjang pantai

lalu mengapungkan bahtera-pasir

500.000 tahun lamanya.

Menonton Logan

Padang gersang
jalanan berduri
layar lebar
langit tebal
kota yang ganas
cuaca menyala
atmosfer tinggi

Aku terjebak – terjerat
tercabik pagar kawat

cakar adamantium
menghambur tubuhku

ke udara bara

Mati berkali

Dan hidup lagi dalam mencari
gunung hijau, lembah teduh
juga tubuh yang utuh

 

Dadaku yang luka, marah darah
sepi bertubi — 200 tahun diliputi

Bayang-bayang pucat pasi

Tercabik
Tercekik

Hidup di sebuah botol – hampa
diiringi orkestra, denting gelas
mata mata buas dan jubah hitam

“Perkenalkan saya Hugh Jackman
duduk di pojok gedung bioskop
sedang mengamati detak jantungmu
dan membaca kemilau matamu.”

 

Aku berdiri
Aku berlari

Mencari lembah
sebelum tubuh terbelah

menapak dan teriak
merangkak dan sekarat

tergeletak – menggigil
terbujur sekaku kayu
di antara tebing tinggi
kemudian sunyi
tak ada lagi senjata api
di lembah
hanya pusaraku bertanda Cinta
di dasar bebukitan
curam kali
dihimpit celah yang kokoh
rimbun belukar abadi
dalam waktu yang membeku
di atas tubuhMu

April

                                    —  L

/1/

Langit dengan pilar-pilar gaib

tercipta cuaca dingin dan mengalir.

helai-helai rambut fajar

dikibarkan angin binal

dan mata kita menyala saling tantang

dalam peluk basah musim yang bening,

bening dan bening

menyerap seluruh hijau cahaya pagi.

/2/

April, menghampar panjang

di bawah kaki di bawah lengan kita.

bulan lembab, mata tertutup,

jendela-jendela terbuka

kita pun memasuki ruang

dengan nyala dan kesadaran hidup.

/3/

Ciuman-ciuman lembut

sentuhan liar kabut, hatimu pun terbuka

cahaya memancar dari dalam.

Api di fajar hari meremas dadamu

Dan kau tidur di atas kidung

agung seorang penyair,

yang menyanyikan tembang alam

dalam sarang emas bintang-bintang.

/4/

Kau melingkarkan lengan

di bawah mantel malam, membuat

selimut hangat dengan seluruh

awan karib di tubuhmu. Dan kau

tersenyum ringan, begitu ringan

—sebagai tawanan sempurna,

 

“Dan kita tawanan waktu

yang melaju begitu misterius.”

 

Jakarta

Air dan kota dalam siaga. Hampir hitam air dan kota.

Sore sibuk, mobil-mobil berlari di pipa waktu

Orang-orang melambai dari jendela rumah rendah,

Gedung-gedung lunak & bisu. Air di atas, awan mencair.

Cuaca memamerkan tubuhnya. Kau bergegas, mengetuk

satu pintu ruang es bawah tanah

 

Ruang-ruang lengang dan lapar. Kota di luar mabuk petir

dan deru. Keajaiban berjalan sepanjang kabel, sembunyi

di layar & cahaya, atau melalui resonansi yang melewati

celah besi. Air di bawah, air di tengah, di mana-mana air

Jakarta jam 5. Air di mana-mana, waktu di mana-mana

Mereka di dalam dan luar mimpimu

 

Mawar

Hari cantik menikam seluruh murung

kesedihan yang diterbitkan gunung hitam

dan ditabur burung burung kutilang.

Langkah-langkah di taman tertidur
Mawar tegak dan terjaga
bangkit dari mimpi
100 tahun waktu mengalir di tubuhnya
menebar misteri hayat dan rahasia

Mawar-mawar riang

 

Ada tangan bergerak di samping mereka
langkas dan tangkas
sebagai jarit yang sebentar merenggut
segala pada mula disembunyikan kabut
Mawar-mawar putih, memancar cahaya

sampai ke debar altar biru
(getar dalam musim
cuaca jernih dan telanjang)

Masih berdiri dalam mimpi

Tubuh dengan saluran saluran air
di atas bulat bumi
Nafas mereka teratur dan tenang
kecantikan yang pandai menyembunyikan

Kesedihan. Tak bergerak — memandangi

yang tiba

 

Mata memancar
kata kata perpisahan

Mawar-mawar, bintang semak bebukitan
tangan-tangan berkelebat halus
langkas dan tangkas menyentuh mereka

 

Awal Pekan

Kau memulai lagi setelah terjaga dari mimpi:

membentangkan halaman rumah

dan menarik matahari dari kedalaman hutan

Kau menyiapkan satu ruang di telinga

bagi suara yang segera memenuhi angkasa.

 

Senin telah bangkit dari ranjangmu

membuka gerbang depan dan belakang

menciumi jendela tempat kau melempar rahasia

Dan ia berlari di jalan, menukik pada

satu angka hitam di kalender Masehi.

 

Kau kembali diikat baju biru muda itu

pakaian waktu yang tak jemu jemu

dan janji melingkari lenganmu

seperti ular yang membelit, licin dan lihai.

 

Kau tahu, waktu tak pernah berunding

ia hanya setuju jika kau menjadi makin tua

meninggalkan dongeng fantasi

atau mengajakmu berkelana ke hari sepi

Kau tak pernah mengutuknya

meski seringkali menggerutu

ketika melihat wajah lelahmu di cermin

menyaksikan rambutmu gugur satu persatu

dan seorang demi seorang meninggalkanmu

dengan perayaan perpisahan paling kelam.

 

Kau memulai lagi setelah sadar dari mimpi

menyapa Senin yang berlari kecil

di bawah pohon pisang dan menuju jembatan

Kau mengikuti langkahnya sampai tikungan jalan

dan kau tahu minggu depan ia akan

mendatangimu kembali

 

: Mungkin di atas ranjang

atau di bawah angka hitam

dalam kalender terakhirmu

 

Mata

/1/

Mengandung laut biru, badai kemarau,
kilat kilat gelombang dan cakrawala.

 

Adalah ia titik mula
tanda bagi bintang yang berdenyar
dan di padang malam menyeretku

ke pesakitan dan ketakwarasan
Takjub pada wujud cinta
nyanyian gelora dari jiwa
Mabuk dan mabuk anggur yang diperas
kilau bola rembulan, lalu menyerahkan

sepenuhnya ke penjara ketakberdayaan.

Adalah mata, sorot yang menjelma
jadi burung-burung sorga
bahasa purba dan puisi tanpa kata
menyihirku menjadi diri yang lain

/2/

Mata-mata yang terjaga dan waspada
mengintai setiap gerik dan diam
menjadikan aku tawanan bebas
tapi juga terbelenggu dalam bisu.

/3/

Pada mulanya mata
jalan menuju selubung rahasia
dasar danau kedalaman dirimu
cermin yang memantul bayang
suara-suara dari dalam.

Pada mulanya mata
berbicara melalui tanda
anagram-anagram bahasa
dan sandi puisi
atas kalam dalam jiwa.

Pada mulanya mata
tempat mengeja riak gelombang
makna cinta yang tersirat
dan kau hadirkan dalam diam.

*) Kim Al Ghozali AM lahir di Probolinggo, 12 Desember 1991. Kini mukim di Denpasar dan bergiat di Jatijagat Kampung Puisi (JKP 109). Puisi-puisi dan tulisannya yang lain tersebar di pelbagai koran di Indonesia, di media online dan banyak antologi. Buku puisinya yang telah terbit: Api Kata (Basabasi, 2017), menjadi nominasi Kusala Sastra Katulistiwa 2016-2017.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Vitra Fhill Ardy

mm

Published

on

Gigil 

ia biarkan tubuhnya menggigil

oleh luapan angin

 

halte bus sekolah pukul 3 pagi.

ia sengaja pundaknya

jadi sandaran perempuan itu

 

kedua tangan saling menggenggam

amarah basah dari kelopak mata.

 

bulan temaram, langit pucat pasi

kematian lebih dari puisi patah hati.

 

2018

 

Berangkat

isi lemari itu berantakan seperti jam dinding

tua yang berdebu

 

baju-baju terserak, tas kosong minta diisi

 

lengang jalan bukanlah tanda kesunyian

untukmu

kita mesti ingat detik itu lagi

 

kau, ringkih bulan

dan aku angin dingin yang senantiasa

berpaling

 

jangan pergi, katamu

padahal kau bilang dadamu lapang

dan siap menerima segala kangenku

 

Jakarta, 2018

 

Pindah Rumah

semuanya masih milikmu, sayang.

masa tua dan bertambahnya usia, balsem

gosok dan kalender,

 

udara panas, gorden jendela, uban, hafalan

doa-doa

 

malam dan sedih dan senangmu.

 

kau bilang bakal repot tapi adakah yang

sederhana?

 

di hadapan puing-puing, semuanya masih

tetap milikmu.

 

meski jejak kaki akan selalu tertinggal di

sana.

2018

 

Depan Ranjang Ayah Saya

 

ia lupa mengucapkan namanya

sebab rasa sakit terlalu

banyak menyerap kata-kata

 

kedua kakinya bergetar dan

dengkul bergemeletuk

 

ingatannya mulai seperti ayah yang

merantau tetapi lupa pulang

 

udara dingin

udara dingin

 

ia ingin dipeluk sekali lagi

 

2018

 

Buat Elis

ketika aku tahu apa itu cinta

aku mengenalmu

mengenal getar dan debar

detak jantung itu

pada hujan pertama

yang membasahi raga kita

 

maka saat kau seka kening

dan rambut tipismu

yang panjang,

 

aku jadi ingat

 

aku jadi ingat senyum

yang kau selipkan untukku

di pertemuan sebentar dengan

teman-teman kita ketika dulu

 

namun apa arti masa dulu, lis

jika sekarang aku tak tahu

di mana engkau punya suara?

Jakarta, 2017

*) Vitra Fhill Ardy: Lahir di Tangerang, 8 April 1997. Mail: vitrafardy@gmail.com

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending