Connect with us

Puisi

Puisi Puisi Syafri Arifuddin

mm

Published

on

Di Bentala Rantau

/1/

Langit memecah diri jadi puisi.

Pengembara yang pergi meninggalkan

rumah dan ibu selalu tahu cara memberi

nyawa pada sepi.

 

Hari-hari berlalu tanpa doa.

Sebelum makanan kita lahap

di dasar hati ada rindu kian meluap.

 

Ke mana tiap rindu berlabuh

jika salah satu dari kita

tak ada yang siap dibunuh

 

keadaan.

 

/2/

Kita mulai berpikir

perihal bagaimana rindu itu diukir

di tengah kebingungan yang bimbang

ditelan gelombang cinta

yang pelan-pelan tumbang.

 

Di kubang hati kita yang paling dalam

ada perasaan yang telah lama berkabung.

Kau menamai hujan adalah khianat

sebab ia meninggalkan abu-abu

setelah ia reda

 

tapi kepulanganku adalah bianglala

kendati tak selalu ada, di ingatanmu

ia tumbuh di mana-mana.

 

/3/

Kita duduk menatap gerhana

yang datang setelah beratus-ratus tahun lamanya.

 

Di kejauhan kita mulai memaknai peristiwa alam

dalam sunyi dan senyap, sekaligus meluruhkan

doa-doa agar rindu tiba dengan selamat.

 

Bulan memiliki nama, tapi

kehadirannya tiap malam

tak pernah ada yang peduli,

namun kali ini

kita mencintai hal-hal

yang seharusnya kita cukup

untuk syukuri.

 

Di bawah bulan merah

kita marah ke diri sendiri

menatap bumantara yang ala

dari mata dan rumah kita

yang nestapa.

 

/4/

Tak selalu resah menjadi rusuh

walau rindu di dadaku juga dadamu

berakhir menjadi dua warna air laut

yang tak bisa menyatu di satu samudra.

 

Bukan berarti luka menjadi tak laku

idrak rindu yang selama ini jadi bahaduri

buat kita kuat menahan diri dari perasaan

yang ditusuk-tusuk duri sepi dan sendiri.

 

/5/

Kita kedinginan dan lengan puisi

tak lagi mampu menghangatkannya.

 

Jauh sudah langkah kaki meninggalkan rumah.

Di kepala kita ada ingatan yanng menolak ramah.

Dalam hati kita: ada penghuni yang berontak

dan ingin tumpah.

 

Kata tak lagi naim jadi puisi

sebab puisi tak lagi bisa menjadi sublim.

 

Pengembara yang telah pergi jauh

semoga tak lupa berlabuh dan

menjatuhkan sauh di tempat—

di mana seluruh pengharapan luruh.

 

Di dada ibu:

kita tetap abadi meski belum

menjadi apa-apa.

 

/6/

Kau yang tak bisa lagi kurengkuh

dari rinduku yang semakin ringkih

semoga tetap menyala walau sumbu

api rindu di tubuhku kian gigil memeluk

dirinya sendiri.

 

Masa lalu selalu dan pasti memiliki ruang

semoga ia tak pernah berakhir menjadi raung.

 

/7/

Di bentala rantau

kudekap erat ingatan masa kecilku

kubawa ke mana-mana agar kuat

melawan deras arus kota yang pemarah.

 

Di bentala rantau

kuterkulai ditelan agonia yang parah

di kala kota berubah alasan utama

kenapa aku diserbu ratusan mala.

 

Di belantara rindu

kucari satu pedusi paling syahda

kukirimkan segala munajat terbaik padanya

agar aku dan dia bisa hidup lebih lama.

 

Makassar, 2018

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Puisi Puisi Elang Ade Iswara

mm

Published

on

Jendela, Halaman, dan Bayang-bayang

 

di luar sana 22 tahun kau tak terjangkau kaca-kaca jendelaku

22 pasang sayap yang mengepak-ngepak membuat gemetar tubuh kau

membawa pergi ke lubang galian kau sendiri

 

ijinkan aku bertanya,

mengapa kau begitu takut menghadapi sesuatu yang tidak bisa dihindari?

takut menghadapi tubuh kau sendiri?

menghadapi tanya yang kau sudah tau jawabanya dari guru-guru agama

 

22 sayap itu gugur dua di ruang tamuku

dan pertanyaan-pertanyaan perihal dirimu patah di halaman rumah

dan pertanyaan-pertanyaan baru bertamu

kulihat ia di depan jendela termangu

aku menatapnya seperti aku menatap bait pertama

denyutku kian mengencang ketika ia mengetuk pintu

 

di kaca jendela yang mulai basah

dan halaman rumah tempat bermain kenangan

gagang pintu terbuka lagi tanya masuk melalui celah

 

kenapa kau begitu bodoh menunggu yang sudah ada pada dirimu

serta mencari yang sudah menjadi kepunyaanmu

 

 

Tiada

adalah riuh

yang merintih

di dada kita

 

kita tahu

apa yang kita tak tahu

 

angin adalah sunyi

deru laut adalah tuli

daun memukul angin

ranting yang patah

langit yang menyerah

 

kita tak tahu

karena hati ada dua

kuncir yang lepas

dan kita asik

mengusik diri sendiri

, kata kau

 

pekalongan, 2019

(*bait ani as)

 

Raung

sebuah dongeng merajah sendi-sendi waktu

tentang orang-orang tua  dan muda yang dibawa paksa

di sarang rusa itu kakak dari nenekku

menaruh angka di meja perjudian kuasa

 

terdengar siut angin menghembuskan luka

ia berpesan, di kota pemburu sudah membredel rusa-rusa berbulu merah itu

tidak lama lagi pemburu akan datang kemari.

kakak dari nenekku tak perlu merenung untuk ketawa

 

udara malam begitu panas

langit memerah

kakak dari nenekku melipat selembar kertas

dan tetes peluh

ia tak memberi pesan

sebelum ke hutan

dua malam di gubuk lusuh

ia tertelan kembali oleh tubuh

 

sementara adiknya diam seribu pertanyaan

dalam raung suara yang tak jelas arahnya

kakaknya hilang ditelan cerita-cerita hantu purba

 

(untuk mengabadikan simbah kakung Rasmadi,  dalam peristiwa berdarah ’65)

 

Menghabiskan Malam

kita belum tahu nama-nama arah mata angin

bagai selembar daun yang entah ke mana jatuh

pukul enam langit bersuara

adalah di mana langgar kecil menemukan jalan ke dalam

 

kita bagai koma di barisan shaf aksara

sering kali tak baku lagi tentu

berputar mencari jalan kalimat

 

panjang lagi lantang kita bersuara

saat imam mentitikan al-fatihah

amiiinnnnn…!

beberapa wajah orang tua kesal

dari sembunyi kita tertawa tanpa suara

 

pada sandal

terukir sajak

mengikis jejak lelah dari pintu sawah

 

pada sarung lusuh

kita ikatkan di kepala menjelma ninja

menaklukan kerut orang-orang dewasa

 

sebuah hujan

menahan kita lebih lama

sambil berpura-pura menjadi orang dewasa

kita bertanya,

kau tadi baca doa apa?

___

Elang Ade Iswara, lahir di Pekalongan 15 Mei 1998. Menempuh pendidikan di Universitas Muria Kudus jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Berkomunitas di Tapa Ngeli dan Omah Aksi. Saat ini berdomisili di Kota Kretek.

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi Melki Deni

mm

Published

on

Catatan Kecil

 

Aku hanyalah catatan kecil pada kaki halaman-halaman hidupmu.

Entah sebagai ibidem,

Tidak peduli hanya sebagai opere citato,

dan bisa jadi sebagai loco citato.

Semoga tidak lupa.

 

Balada Bayi di dalam Plastik

Duduk di beranda rumah pada malam jumat,

anjing-anjing galak kelaparan mondar-mandir di pinggiran jalan,

mencari tulang-belulang dan bangkai di got-got.

Bulan sabit memberitakan setan-setan berkeliaran di dunia,

menyabit ibu-ibu hamil yang dibuang lelaki brutal di ruang pilu.

 

Seorang ibu hamil mengecam kenerakaan napsu masa silam,

digoyang-goyang tubuhnya dengan tempo yang tidak teratur,

dimandikannya dengan cairan-cairan putih ke seluruh tubuh molek.

Rahim membunting, anak para lelaki semalaman di kosnya.

 

Ditelannya obat-obatan di bilik kosnya,

Binatang-binatang malam tiba-tiba tiada bersuara lagi.

Membubung nyanyi polifoni sampai ke sudut-sudut dusun,

Rerumputan malam menggigil kedinginan dahsyat,

bayi melitanikan elegi tragisnya kehidupan di balik perut besar.

 

Tertangkap segerombolan anjing merebut mangsa di sekitar rumah,

Matilah bayi sebelum mengenal dunia manusia.

Bayi disabit-sabit seusai dikeluarkan sendirian di tolilet tadi malam.

 

Demikianlah dicincang-cincangnya bayi mungil sayang,

tanpa memungut satu pun dosa manusia.

Tiada sebutir pun debu.

 

* Melki Deni, Mahasiswa semester II STFK Ledalero Maumere, dari Reo-Manggarai.

Aktif menulis pada pelbagai media dan beberapa tulisan pada buku jurnal kampus.

 

Continue Reading

Puisi

Tak Ada Sajak di Kafe-Kafe

mm

Published

on

Aku tak menulis sajak untuk pembaca

Mereka mudah murka dan kecewa

Sajak-sajakku bukan pelipur lara

Aku menulis sajak untuk angin

Mereka hening dan luas.

 

Di sana

Sajak-sajakku bisa rebah istirah

Sebab kerap

Ia lelah menempuh jalan panjang

Melewati tiap hampa dan sia-sia

Ia rapuh dan lambat

Tapi senantiasa mencari puncak;

Di sana hanya hening dan kekosongan;

Selalu hanya sejenak

Tapi sajakku memahami

Terjalnya jalan kembali ke mula

Ingatan dari mana ia lahir

Merepih jalan memuncak.

 

*

Aku pernah mengira sajakku terbuat dari waktu

Mengira tersusun dari sore yang menderita

Dengan bunyi senja yang beringsut pada gelap

Dangan tatakan dari kayu di mana jiwa dibelah;

Sementara kuncup bunga tetap mekar tak iba—

pada sajakku

 

Tapi sajakku tak dibuat untuk pembaca

Sajakku memang bukan sajak

Ia hanya sajak—memenuhi takdirnya

Untuk memapah jiwa-jiwa

Keluar dari sekam hampa

Agar senantiasa berdetak

Meski dengan suara jauh

Meski dengan kebisuan serigala

Serupa kepak rajawali di pucuk langit

Atau suara kesunyian tempat ibadah

Yang ditinggalkan hasrat para penyembah

Karena kematian yang tak memberi aba

*

Sajakku

Sajak-sajak rapuh

Yang tak sanggup bertahan

Untuk sampai pada pembacanya

Ia lahir lalu mendaki

Kembali pada sepi sebelum sempat

Duduk di antara pengunjung kafe

Yang tak pernah sempat menuntaskan

Menulis sajak tentang sajak-sajak

 

Tapi kini tak ada sajak di kafe-kafe

Sebab di luar hujan membadai

Orang-orang berlindung dalam kaca

Senantiasa sia-sia dan mengulanginya

Mereka membayar gairah

Dengan cinta yang ditambatkan sejenak

dan terburu;

Tak sempat bercumbu

Sibuk mengulur waktu

Seolah waktu segera habis

 

Dan kebisuan pun tak sempat memakna

*

Aku menulis sajakku di kafe

Tapi sajakku bukan sajak

Sajakku tidak ditulis

Untuk dibaca para pembaca

Aku menulis sajak di kafe

Tapi tak ada sajak di kafe-kafe

Dan kau menunggu akhir sajakku?

Aku tidak menulis sajak untukmu

Aku telah menghapus dendam sukmaku

Sebelum sempat menjadi sajak

 

Maka sajakku tak punya kekuatan

Untuk meledak dan menulis sejarah

 

Waktu selalu lekas

Tapi sajak-sajak tidak

Sebab ia kedinginan

Seperti rumah yang ditinggalkan

Seperti pendaki di ujung petang

Ia hanya ingin istirah

Atau pohon-pohon kepurbaan akan menelannya

Hilang dalam gerbang sepi

Membeku bersama dingin

yang tak mungkin dipahaminya.

*

Kenapa sajak-sajak harus ditulis untuk pembaca?

Sajakku tak kutulis untuk pembaca!

Aku tak ingin sajakku dibaca

Sajakku bukan sajak

 

Aku ingin sajakku dibentangkan

Dalam sukma sehingga jiwamu membahana

Atau biarkan sajakku

Menjadi lumut pepohonan

Yang mewarnai jiwa

Menjadi selimut bagi tubuh waktu

Dan ketika para serigala menjadi sepi

Sajakku menjulang mengabarkan nyanyian

Agar sang rajawali kembali

Menemui kekasihnya yang tersesat

Di antara belantara kesepian

Di antara pepohonan purba

 

Dan para pendaki masih mencari

Nyanyian bagi jiwanya yang duka

Maka kutulis sajakku

Untuk menjadi kabut

Selimut bagi jiwa yang beku

Agar penantiannya menumbuhkan dedaunan rindu

Yang berguguran di hutan-hutan waktu

Menjadi api bagi peziarah puncak

Dengannya kehangatan menyerta

 

Peziarah tiba di puncaknya

Dan sajakku merayakan kenangannya

Sendirian..

 

*

Sementara di kafe aku memesan kopi

Sambil melihat matahari berwarna putih

Aku tak juga mendapati sajak-sajak

Tak mendapati dedaunan dan peziarah

Tidak serigala kedinginan

Tidak juga rajawali yang kesepian

Kekasihku pun tak ada

 

Aku mencari sajak-sajakku

Tak ada yang membacakannya

Di kafe hanya pendusta

Yang membual tentang mimpi

Menebus hasrat dengan cinta

Yang sebentar dan tak berbalas

 

Masing-masing menjauh dari jiwanya

Kehilangan sajak-sajak milik jiwanya

Dan sajakku tak kunjung berhenti

Bernyayi ria dalam tarian kalbuku

Ia ingin berkisah tapi aku mulai lelah

 

Aku harus pulang

Membawakan sisa sajakku

Anak gadisku telah menunggu

Di ranjang dengan ribuan malaikat

Menantiku membacakan sajak-sajakku

 

Di rumah kubacakan sajakku

Untuknya entah ratusan malaikat:

 

“Tak ada sajak di kafe-kafe

Pergilah pada jauh

Mendakilah pada hasrat

Sebab cinta membawa para ksatria

Pergi berperang sebagai martir

Untuk menaklukkan kesepiannya sendiri

Maka jadikan tanganmu perisai

Dan hatimu martir.”

 

*) High Camp—Mardihimal 2019 | Sabiq Carebesth

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending