Connect with us

Prose & Poetry

Puisi-Puisi Sabiq Carebesth

mm

Published

on

Cikini Telah Berlalu

 

Hujan hampir reda

Tapi kadung aku terjebak

 

Betapa usang cinta

Betapa memabukkan kenangan

 

Penyair telah menguburkan rindu

Dalam sajak-sajak daging

atau cinta yang menjengkelkan

 

Kita telah sama terjebak

Dalam kurun kegelapan

Di mana puisi tak lagi bisa

Dilukiskan atau diperdengarkan

 

Puisi telah jadi basah kuyup

Oleh deras hujan

Atau dipentaskan bersama lagu disko

 

Musim semi puisi takkan kembali

Bagi tanah keterasingan

Kita hanya akan tersesat

Kita telah dikutuk

Oleh dingin dan kesunyian

Sebab mengira puisi

Bisa hadir dari kesemuan

 

Tak  ada puisi di Cikini

Puisi telah sembunyi

Di lorong-lorong hotel

Atau di antara lidah-lidah

Puisi telah jadi kelu

Sebab Cikini kini telah berlalu.

 

Cikini, 2016

 

Sajak Cinta Dalam Es Kopi

Di kota ini cinta seperti es, beku

Terpelanting ke dalam segelas kopi

Kita menyesap buihnya

Lalu ia pergi—kita tertinggal

Tapi ia membawa serta dingin

Menggigilkan kalbunya

Bila malam nanti kembali

Ia bertanya:

 

“Cinta hadir setiap hari

Di jalan-jalan, di kafe-kafe

Tiap kali kita lelah dan bertanya:

Bagaimana kita akan menghabiskan waktu?

Cinta hadir setiap hari

Cinta berpaling setiap hari—

Atau kita yang memilih pergi?”

 

Kulihat bibir seorang dara

Menyesap masa silam

Menggodaku kian terbenam

Aku telan sendiri bagianku

Kehilangan-kehilangan;

 

Demikianlah setiap kali kita terjatuh

Tanpa bercium atau merengkuh

Hanya bibir yang lagut

Hanya kelopak mata melambai

 

Cinta di kota ini—

Berakhir ketika senja jadi kuyuh.

 

CIkini, 31 Mei 2016

 

Larung Jiwa

Aku sudah di akhir kata-kataku
Tapi hujan tak kunjung berlalu
Maka kusudahi dan kularungkan
Surat cintaku dalam gelombang
Tanpa kartu pos dan namamu
Tapi aku yakin kan sampai juga padamu
Sebab memang kutulis surat-suratku
Untuk engkau yang sudi mencari jiwaku

Kalibata, 2016

 

Dalam Segelas Kopi di Cikini

 

Duka di antara rambutmu yang keemasan

Tubuhku gigil dalam balut kemuraman

Aku tersungkur di antara ceruk punggungmu

Aku telah habis dalam sajak kengerian

Lantaran pernah; hujan dan kita tertinggal

Menjadi asing—sampai ketika

Aku merasuk ke dalam matamu;

Lalu bibirmu memagut kaku—

 

Esok kita akan kembali pada sepi

Kita bukan kekasih atau tak perlu

Tiap malam kita kesepian

Batin kita terjerembab dalam senja khayalan

Atau pada malam dan segelas kopi

O tapi tiada pertolongan, untuk lukanya jiwa

 

Apa yang kita punya adalah masa silam

Yang kengeriannya telah menjelma dinding

Atau meja atau asbak atau gelas di kafe-kafe

Di mana padanya kita saling bicara

Menemukan sepi yang sama

Hanya untuk jeda sejenak

Menuju sepi yang lain…

 

Cikini, 9 Juni 2016

 

Kepada Lampu-Lampu di Cikini

 

Sebentar lagi aku harus berjalan

Tinggal kau sendirian—bersama bayangan

Aku tak persis tahu apa masih ada

Seorang peduli pada kemuramanamu—lebih dariku.

 

Lampu-lampu di Cikini

Aku tahu kita pernah bersekutu

Pada malam-malam lalu

Kau yang menyaksi—

Seakan segala hal akan berakhir

Hanya kita saling menopang

Agar tak terjatuh dari jendela hotel

Dan seorang penyair mengira

Ada lautan di bawahnya

Hanya karena ia tak sanggup

Meneruskan sajak yang ia tulis untukmu

 

Cikini adalah mimpi-mimpi

Di mana para penyair memulai

Di mana para penyair mengakhiri

 

Tapi Cikini adalah kengerian kini

Orang-orang berpesta

Di antara gelak tawa dan segelas coca-cola

Tak ada cinta di Cikini

Selain percumbuan sepi

Antara para tuan dan hidup yang nyeri

 

Seorang selalu tak mengerti

Apa yang akan terjadi esok pagi

Di Cikini—kehidupan dirayakan

Di atas panggung kepalsuan

Dari hidup yang terus menjauh

Dari asal mula penderitaan.

 

Cikini, 2016

*Sabiq Carebesth: Pecinta Puisi. Chief Editor “Galeri Buku Jakarta” (GBJ). Buku kumpulan sajaknya “Memoar Kehilangan” (2011). Kumpulan sajak terbarunya akan segera terbit,  “Seperti Para Penyair” (2016). Twitter: @sabiqcarebesth

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Cerita Pedagang Buku

mm

Published

on

Dia telah memimimpikannya begitu lama sejak ia tahu kata-kata telah membuat kekasihnya jatuh cinta; tidak ada impian lainnya, ia hanya ingin berkisah tentang hari-harinya bersama kata-kata—di sanalah dunia sungguh-sungguh nyata, dengan kemurnian yang entah di mana orang-orang dalam kata-kata menjelmakan dirinya yang asli sekalian sunyi; berkisah tentang diri mereka sendiri yang mengurung diri di kamar pengap dalam jiwanya yang lagut; tanpa bekal tidak juga tujuan. Sungai-sungai, gurun, senja dan lautnya, membeku dalam kamarnya; di dalam kata-kata miliknya, orang-orang itu memendam rindu; mengubur cinta dan lukanya; tentang seseorang yang mereka mengira sebagai surga; tetapi lantas seperti surga—Ia tak pernah nyata meski ada.

Kehadiran demi kehilangan berlaku sebagai peristiwa beku. Hingga jendela kamarnya terbuka dan di luar sana tak ada sesiapa, maka ia bertanya: apakah ini kehidupan? Tapi ia telah memimpikan sejak begitu lama: sejak kakasihnya mencintai kata-kata. Dan ia  telah mengira betapa bahaya cinta yang melarung di atas sampan kata-kata; ia rapuh dan terbelah, sekali akan terbakar dan seluruh luruh, jadi abu, hening dalam kedalaman sunyi laut mati. Asapnya akan mengepul perlahan; memadamkan nyala kerinduan yang dulu menghangatkan. Sungguh malang saat segala tak ingin dikenang; tapi kata-kata rupanya tidak terbakar atau hancur, sebab ia tinggal jauh di dinding kalbu, yang terbuat dari waktu; dilekatkan oleh sunyi yang saban pagi kembali tetapi setiap kali meresmikan diri sebagai masa lalu. Lalu suatu pagi ia berhenti mencintai kata-kata.

Sabiq Carebesth, penulis lepas, editor. Sajak ‘Cerita Pedagang Buku’ akan terbit dalam kumpulan sajak terbarunya ‘Samsara Duka’ (Galeri Buku Jakarta, Juni-Juli 2020). Penyair Afrizal Malna dalam prolog untuk Samsara Duka menulis: “Puisi Sabiq Carebesth menggunakan banyak kata yang berfungsi menebar berbagai asosiasi dalam menjaring kerja representasi untuk mendapatkan gambaran leksikalnya. Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat–ekspresionis.
Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar; duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi. Konsep duka pada gilirannya membawa bagaimana lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan”.

Semua kata-kata menjadi sama saja, mengaduh dalam peperangan sunyi tentang dirinya sendiri—untuk memenangi nama-nama dari keterbelahan antara waktu dan nafsu—dan ia berhenti menghunus senjata; ia hanya ingin menjadi pedagang buku.

Seorang yang serupa kekasihnya dahulu menghampiri; “Sudah berapa petang kau menungguku? Apa aku seperti kekasihmu dahulu? Untuk apa menunggu bahkan bila kini aku datang padamu; aku tetap bukan kekasihmu yang dulu?”.

Sekali waktu aku hanya ingin kau tahu—jika saja kau adalah kekasihku yang dulu—bahwa cinta telah merebahkan bayanganmu; kaku dalam kalbuku, dan dengan itu aku menunggu. Tahu kau sekarang bahwa aku tak pernah benar-benar menunggu—sebab kepergianmu tak pernah nyata bagiku. Pergilah jika kau masih juga tak memahami segala yang kucari dalam dirimu; cintaku sendiri. Di mana kita telah memilih dari yang lain kala itu, jiwa kita pada petang hari itu jika saja kau ingat, kau tahu betapa indah untuk tahu bahwa jiwa kita dimiliki, dan ada seorang yang menanti? Meski saban pagi tak pernah lagi kudapati tubuhmu yang sunyi dengan gaun tidur warna tanah basah—tak pernah lagi kau di ranjang lusuhku; tubuhmu yang ayu, nafasmu yang ragu, birahimu yang ngilu, lelap dalam rapuh—tetapi dulu, semua itu milikku.

Sekali malam kita sudahi, segala yang tak lagi sanggup kita miliki; meski kutahu tatapan itu dulu dan kini selalu untukku. Saban malam kau cari bayangku, kau peluk luka dukaku, jiwaku menyelinap di antara payudaramu; tempat abadi jiwaku yang kanak-kanak. Oh Tuhan, sudah berapa abad waktu membeku—kini di halaman terakhir bukuku; kutuliskan sekali lagi nama kekasihku dan namaku—sejak kali itu aku tak menulis apa-apa lagi.

Kini aku hanya pedagang buku, saban petang kularungkan buku-buku kegemaranmu, di telan gelombang, hanyut bersama ombak biru. Apa kau terima paket buku-buku itu? Selalu kutulis nama dan alamatmu: gadis jelitaku—di tengah laut biru di dalam mimpiku.  

Sabiq Carebesth

30 April 2020

Continue Reading

Cerpen

Di Antara

mm

Published

on


Galeh Pramudianto lahir tahun 1993. Bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) diterjemahkan ke bahasa Inggris lewat beasiswa Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020.

Karena kamu telah memutuskan untuk memainkan gim ini, maka kamu harus memilih: 1) menjadi tidak terlihat atau 2) bisa membaca pikiran seseorang dari masa kelahiran hingga berakhir di liang lahat? Kamu harus memilih satu. Jika kamu mengabaikan perintah ini maka permainan tidak bisa berlanjut dan hanya bertahan di pilihan menu—sembari menatap karakter yang terus bergerak ke sana ke mari dalam hamparan bit di layar.

Kamu memutuskan untuk memiliki kemampuan membaca pikiran. Kamu memilih itu karena kamu fobia dengan kesepian dan kesendirian. Kalau kamu mendaratkan pada pilihan pertama maka kamu akan stres. Sementara di pilihan kedua nampaknya kamu lebih rileks karena ramai pergumulan dan arus kesadaran di lalu lintas pikiran orang-orang.

Kamu awalnya tidak menyangka dengan ini semua. Gim video di zaman sekarang ternyata bisa begitu ekstrem polahnya. Kamu membeli gim tersebut karena penasaran dengan ragam fitur yang diperbincangkan di forum-forum terjauh, terpinggir dan tergelap di belantara maya. Kamu ingin lari dari kenyataan yang berantakan ini dan menemukan ekstase dan fantasi yang lain di petualangan virtual.

Dan ekstase serta fantasi itu ternyata mewujud nyata. Tuas kendali atau stik yang kamu genggam bergetar hebat. Layar tiba-tiba mati dan gelap. Pandanganmu memudar dan semua nampak buram. Televisi di ruang tengah itu bergoyang-goyang lalu terlepas dari etalase dan menyusut ke dalam lubang matamu.

Seketika itu dunia yang kamu tinggali tak lagi sama. Ketika kamu mampu membaca pikiran orang awalnya kamu nampak baik-baik saja. Tapi ternyata kamu lupa bahwa kamu memiliki masalah dengan penghakiman dan perundungan yang dilakukan orang-orang. Dan itu semakin bekerja dengan baik tatkala kamu mendapati seseorang di hadapanmu, di suatu entah di mana, sekarang dapat membaca pikiranmu.

Kamu ingin berteriak dan menghajar orang-orang yang merundungmu lewat pikirannya. Kamu sudah tidak tahan dengan itu semua. Kamu ingin segera mengambil batu yang ada di sebelah kiri lalu menghantamnya ke kepala si lelaki ini. Ketika kamu memutarbalikan badan dan hendak membungkuk, kamu mendengar ucapan yang tak kamu kira sebelumnya. Ucapan itu tak terdengar lewat bising suara, tetapi berdengung di membran tempani dan berputar-putar terus seperti pita kaset rusak.

“Jangan lakukan! Kita sama-sama memiliki kemampuan ini. Aku ingin menghilangkan Bakat Besar yang mengganggu mentalku ini. Tapi aku tak tahu caranya. Tolong!” ia berbicara denganmu tanpa mengeluarkan suara.

“Maksudmu Bakat Besar?” kamu terheran dengannya.

“Aku telah memiliki kemampuan membaca pikiran ini sejak masih kanak-kanak. Ayahku membelikan gim video itu saat dunia pernah mengalami pagebluk yang terjadi 20 tahun silam. Tahun di mana seharusnya perhelatan sepak bola termegah di Eropa dan Olimpiade terjadi. Ayahku membelikan itu maksudnya agar aku ada hiburan dan tidak stres ketika terlalu lama belajar di rumah. Setelah aku memilih karakter dan kemampuan khusus yang bernama Bakat Besar laknat itu.”

“Jadi kamu berasal dari dua dekade yang lalu?” kamu coba mengingat-ingat masa lalu yang sempat membuatmu ingin mengakhiri hidup.

Apa maksudmu?” ia bertanya keheranan.

“Ketika aku memainkan gim video itu, usiaku sekitar 40 tahun dan tubuhku gampang sakit-sakitan. Tapi sekarang aku merasa lebih bugar dan muda. Aku tak tahu, apa itu hanya efek placebo dari gim ini.” kamu menjelaskan.

“Heh, aku bilang kamu bukan berada di gim lagi! Kamu sudah masuk di dunia baru. Jadi, tubuh dan jiwamu masih tetap ada di dunia sebelumnya, di Bumi atau apalah itu. Tapi setelah itu ia membelah dirinya sendiri dan ada replika dirimu di dunia Antara.” ia menerangkan dengan menggerak-gerakkan bahumu, berusaha meyakinkan.

“Maksudmu di dunia Antara?” kamu menjadi bingung.

“Betul. Orang-orang otomatis akan menggandakan diri dari dunia nyata atau fisik atau apalah itu namanya dan berpindah ke semesta baru yang dinamakan dunia Antara. Maaf maksudku bukan berpindah, tapi ada paralel yang berjalan bersamaan.”

“Jadi, aku yang saat itu berusia 40 tahunan masih hidup? Dan aku yang saat ini lebih muda menjalankan hidup di sini? Di dunia gim video ini?” kamu mencoba mencerna itu semua.

“Kira-kira, begitulah.”

Kamu semakin sadar bahwa sekarang semakin banyak pengguna gim video tersebut di dunia ini. Impian dan harapanmu akan dunia yang lebih baik telah sirna. Impian yang berbasis eskapisme semata ternyata malah menelanmu mentah-mentah. Dirimu masuk ke semesta bernama Antara dan terciptalah Bakat Besar itu. Kamu masih berusaha mengulik ini semua: dunia yang baru, ketika batas kesadaran, realitas dan fantasi telah memudar.

Dunia yang kamu harapkan hanya ada di gim video dan malah membuatmu menjadi cemas karena banyak yang memiliki kemampuan seperti awal kisah ini dimulai: menjadi tidak terlihat atau 2) bisa membaca pikiran seseorang dari masa kelahiran hingga berakhir di liang lahat? Kamu sekarang bingung antara bahagia atau tidak dengan usiamu yang lebih muda 20 tahun ini. Tapi setidaknya, kamu bisa memberi tahu kepadanya dan orang-orang yang memiliki privilese di pemerintahan. Kalau 20 tahun setelah pagebluk itu usai, dunia harus bersiap-siap untuk 20 tahun berikutnya. (*)

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi H.P. Lovecraft

mm

Published

on

Misteri Hidup

Hidup! O, Hidup!

H.P. Lovecraft lahir di Providence, Amerika Serikat 20 Agustus 1890. Seorang penulis horor, fantasi dan fiksi ilmiah. Kredo dari Lovecraft adalah apa yang ia sebut sebagai “cosmicism” atau “horor kosmis”, gagasan bahwa kehidupan tidak dapat dipahami oleh akal manusia dan alam semesta bermusuhan dengan kepentingan umat manusia. Karyanya The Call of Cthulhu telah menjadi rujukan horor modern oleh berbagai penulis dunia dan telah diangkat ke berbagai produk budaya populer seperti komik, film dan serial televisi.

Apalah arti dari pertunjukan indah yang berpendar?

Apakah ingatan itu cepat berlalu?

Ia yang telah mati adalah kunci Kehidupan—

hilang sudah tanda, dalamnya liang kubur

Manusia adalah nafas, dan Hidup adalah api;

Kelahiran adalah kematian, dan paduan suara telah bungkam.

Peraslah keabadian jantung duniawi!

airmata dari utas tua

Hidup! O, Hidup!

Rumah

Ini adalah hunian yang dikelilingi hutan

          dekat dengan bukit-bukit,

     Di mana dahan pohon mengatakan

          Legenda ajaib yang sakit;

     Kayu terlalu tua

          Bahwa mereka bernapas dari kematian,

     Merayapi tanaman merambat, pucat dan dingin,

          Tumbuh dengan keganjilan;

Dan tak ada yang tahu nektar yang mereka sesap itu dari kebun lembap dan berlumpur

     Di kebun itu tumbuh

          bunga mekar yang alami,

     Bertukar pucat dengan tangkap

          wewangian di udara;

     Rupanya matahari sore

          Dengan sinar merah yang bersinar

     Sedang menenun warna buram

          Pada pandangan ganjil,

Dan pada aroma bunga-bunga itu berpendar hari-hari yang tak terhitung jumlahnya.

     Deretan rerumputan melambai

          Di teras dan halaman,

     Kenangan yang redup

          Dari hal-hal yang telah raib;

     Batu-batu jalan

          terhampar dan basah,

     Serta ruh garib mengintai

          saat matahari merah telah terbenam,

Ruh itu disesaki gambar samar yang akan ia segera lupakan.

     Di bulan Juni yang hangat

          Aku bertahan dengan itu semua,

     Saat terpaan surya di siang hari

          Berdenyutlah masa muda

     Rupanya aku menggigil kedinginan,

          Tebersit oleh kilauan,

     Pada sebuah gambar, kubuka gulungannya—

          Terpancarlah rupa usiaku

Menatap waktu sebelum kilat itu keluar dari malam-malamku yang berlimpah.

Arkade

-dengan kepala terangkat

O beri aku kehidupan di desa,

      Tanpa rintangan, bebas, dan jelita;

Tempat di mana semua seni berkembang,

      Grove Court dan Christopher Street.

Aku muak dengan kebiasaan lama,

      Dan kritik yang tak membangun,

Jadi bernyanyilah untuk ruang yang lapang,

      Biar estetikus bekerja dengan bebas.

Di sini setiap penyair adalah seorang jenius,

      Dan para seniman seperti Raphaels,

Lalu di atas atap Patchin Place

      Bakat-bakat itu terdiam dan merenung.

Sebuah Kota

Dahulu begitu cerah dan indah,

          Kota Cahaya itu;

     Sebuah wahyu ditangguhkan

          Di kedalaman malam;

Sebuah kawasan penuh keajaiban dan kemuliaan, di mana kuil-kuilnya seterang pualam.

     Aku ingat musimnya

          Terbit di pandanganku;

     Zaman edan tak beralasan,

          Hari-hari yang menumpulkan otak

Saat musim dingin berjubah putih dan pucat pasi, datang untuk menyiksa dan menggila.

  Lebih indah dari bukit Sion

          Memancar di langit,

     Ketika sinar Orion

          Menggelapkan mataku,

Tidur jadi dipenuhi memori kelam dan berlalu begitu saja.

 Di rumah mewah nan megah

          Dengan ukiran indah,

     Suasana tenang dan teduh

          Di sudut beranda,

Sekeliling taman harum dan keajaiban mekar di sana.

     Bulevar itu memikatku

          Pada lanskap luhur;

     Meyakinkanku dan membusur

          Pada suatu waktu

Aku berkelana dengan penuh kegembiraan dan bersukacita dalam damai.

Dari kejauhan, di alun-alun itu terpampang

          Patung-patung;

     Berjanggut panjang, berwibawa,

          Makam seorang lelaki di sebuah zaman—

Rupanya patung itu rapuh dan janggut pada wajahnya kian hancur.

     Di kota yang berkilauan itu

          Aku tak melihat manusia;

     Tapi itu fantastis, dan bersahabat

          Pada himpunan kenangan,

Dapat bertahan di alun-alun, dan menatapnya dengan penuh kekaguman.

     Aku menemukan bara yang mulai redup

          Bersinar dalam pikiranku,

     Dan berupaya keras mengingat

          Keabadian di masa lampau;

Untuk menjelajah tanpa batas, dan menuju masa lalu yang lepas dari kurungan

     Lalu peringatan menggetarkan itu

          Buat jiwaku menyatu

     Bagai pagi yang merisaukan

          Terbit spektrum kemerahan,

Dan dalam kegugupan aku melayang lewat dongeng mencekam yang terlupa dan hilang.

Ketika Menerima Gambar Angsa

Angsa yang melankolis dengan anggun termenung

Merapati makam delman yang tak beruntung;

Di kawanan rerumputan, pepohonan poplar menangis,

Kuncen dengan sabar merawat makam yang basah.

Seandainya kubisa, haruskah aku menggugat

Bapa surgawi, atau Yang Maha Mulia,

Ketika pernah berkibar begitu tinggi, lalu terempas jauh ke dalam

Menyambut Cygnus yang berduka dengan persembahan!

Kawanan burung dengan dungu masih berhamburan di udara

Merintih perih untuk terus menyanyikan sebuah ode.

Matahari Terbenam

Hari-hari tak berawan datang semakin dekat;

      Keagungan kencana mengendap di ladang;

Lintuh, mencuri bayangan dengan nyaman

      Untuk menenangkan daratan dan lautan.

Dan dalam pelita yang luhur, lembut dan permai,

      Ada jiwa yang jelita, kebahagiaan yang megah;

Melepaskan silau tengah hari, pemandangan nan indah

      Kian berkat dan rahmat di bumi dan langit.

Tak lama pelita paling luhur itu memahkotai masa mudaku,

      Atau kilau paling terang merawat belukar itu,

Senja mengental, dan nampak adegan kilat

      Meninggalkan kenangan akan sucinya cinta!

____

Referensi dan Biodata

1. Misteri Hidup diterjemahkan dari Life’s Mystery

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p353.aspx

2. Rumah diterjemahkan dari The House

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p181.aspx

3. Arkade diterjemahkan dari Arcadia

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p337.aspx

4. Sebuah Kota diterjemahkan dari The City

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p184.aspx

5. Ketika Menerima Gambar Angsa diterjemahkan dari On Receiving a Picture of Swans

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p051.aspx

6. Matahari Terbenam diterjemahkan dari Sunset

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p124.aspx

Selain dari tautan tersebut, puisi-puisi tersebut juga terdapat di buku To a Dreamer: Best Poems of H. P. Lovecraft (Necronomicon Press: 2019) yang dikumpulkan dan disunting oleh S. T. Joshi.

Penerjemah:

Galeh Pramudianto, kelahiran 1993. Bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) diterjemahkan ke bahasa Inggris lewat beasiswa Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020.

Puisi-puisi di atas diterjemahkan dari buku To a Dreamer: Best Poems of H. P. Lovecraft (Necronomicon Press: 2019) by S. T. Joshi oleh Galeh Pramudianto. Ia bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya “Asteroid dari Namamu” (2019) menerima beasiswa penerjemahan dari Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending