Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi Muhammad Luthfi

mm

Published

on

Rabu

Jika kita tak bertemu di hari Rabu,
mungkin semua takkan jadi abu,
takkan ada yang beradu,
bahkan mungkin langit enggan kelabu.

Semua kini serba terbelah dua,
antara bujangga dan pujangga,
antara yang ulama dan yang cina,
semua terbelah dalam lautan kuasa.

Salahkanlah waktu yang mencipta hari rabu,
walau ia menjadi misteri semesta,
namun tak dicipta agar kita menunggu,
tapi untuk memilah setiap kata,
dalam kalimat padu, atau paragraf nyala.
Dan kini kita terpaksa memilih; antara yang nyata atau fana,
di atas panas tungku waktu.

Otak yang hangus dalam tungku mencipta sikap yang bulus,
Dan itulah yang kini ada di atas horizon salihara,
atau muncul di atas sorban sang imam plus.
yang tiap detiknya selalu menerkam dalam kejaran kuasa.

Hai,
Rabu sudah usai,
sudah saatnya kita saling melambai,
dalam nikmat kopi yang santai,
atau dalam hirup asap yang ramai.

 

Malam Berlinang

Ada getir dalam tiap desir,
Melalang dalam gelap gerimis,
Seolah diterkam oleh cahaya petir,
Yang dibuai oleh sang penyihir.

Tanpa nama, tapi berasa.
Dengan nama tapi tak berasa.
Inikah yang disebut sihir?
Dengan mantra kau jelma asa.
Kau ubah ia menjadi duka.

Lenggak asap secair ombak,
Decit cangkir selengking kilat,
Kau jelma semua dengan mantra,
Menjadi linangan air mata.
Tak lain tak bukan untuk bersua,
Mengadu luka atau tuk menggagas suka.

Sempatkah kita berjumpa?
Setidaknya bertatap mata.

 

Senjalina

Kupandang senja,

Bergelora seperti burung camar yang pulang ke sarangnya.

saling berkejar ataupun bercakap diudara.

menerpa awan dalam jalannya.

 

Kuingat si Lina, sang pembawa asa,

penghapus derita, penyapu luka.

Diam menggetar dalam kesunyian,

Namun ribut berbisik dalam percakapan.

 

Pembenci senja, pembenci pagi.

baginya hanya ada malam,

karena ia dewi cahaya dalam kegelapan.

 

sambil kutatap senja kurapal malam dalam doa,

agar sang dewi mendengar dalam mutiara kata,

tariklah aku menuju malam, seperti kau seret matahari dalam rendaman.

Doronglah aku menerangi bumi, sebagaimana kau dorong matahari ke atas pagi.

 

Lelapalelap

Tiapku berbaring,

hanyalah tuk tertidur harapku.

Tiapku merebah,

hanyalah tuk terlelap mimpiku.

 

Tidur dan lelap semakin lama semakin langka,

bersembunyi dibalik tirai derita.

Kadang terserak dalam air mata.

Tercerai berai dalam luka.

 

Kutungkup semua Indera,

menangkal setiap gelombang dalam otak,

yang beriak-riak merangkai masa,

demi mengukuh tidur dan lelap dalam pangku malamku.

 

Salam dari bulan pada cahaya tak kunjung sampai,

begitu pun nikmat kantuk yang enggan sampai.

Padahal kuumpan cita untuk mengail lelap,

Atau ku sesap harap untuk memburu bengap.

 

Pesanku pada tiap malaikat,

yang berdiam pada sudut-sudut malam,

Kembalikan kantukku agar tidur terlelap.

 

Sekerat Kretek

Sempurna sudah,

sempurna sudah hilang jiwa di dalam sebatang kretek.

Ditiupkan api ke dalam udara tanpa jejak,

membawa pesan kehidupan yang selalu retak.

 

Ke mana kesempurnaan kretek akan kucari lagi?

Batang-batang selanjutnya pasti akan mati,

Diuntai api hingga jasad kecil bernama puntung,

yang sigap untuk terbuang dan mengapung.

 

Kretek yang sempurna melampaui samudera derita,

Samudera yang dalam, bahkan berbahaya untuk diarungi para pujangga.

Kretek selalu mau menemani dengan sesapnya,

Sigap menggerus garam, menghantam karang, dengan sempurna.

Memberi daya pada pujangga melalui lika-liku pena,

Dalam menyampaikan pesan nikotin cinta.

 

Sekerat, tinggal sekerat.

harus kubagi-kah sekerat ini dengan panjangnya malam?

 

Bujuk Rasa

Pipimu memerah
seolah marah, seolah resah.

rambutmu tergerai,
mengingatkanku ketika kau melambai,
saat aku pergi ke tanah landai.

tangan dan kakimu,
kau gerakkan tanpa lelah. padahal kau sedang menahan lelah.

Tiap malam kau sediakan waktumu melepas lelah.
Menghindar dari terkaman resah.
Tiap siang kau tahan bosan dan kantuk.
Hanya untuk membiarkan harap.

Tiap hari langit tak mampu lagi cerah,
namun kau tetap membujuk matahari agar tak sendu.

kau tunggang bumi untuk rujuk dengan matahari.
kau kumpulkan kupu-kupu agar kau lukis langit,
membujuk rayu awan yang malu.

lalu kau lari terburu-buru. Melukis langit agar tak kelabu.

 

 

Mencintaimu Tanpa Frasa

Aku berbicara padamu tanpa kata.

Aku melihatmu tanpa tatapan mata,

Aku menyapamu tanpa kalimat-kalimat sapa,

dan Aku mencintaimu tanpa frasa.

 

Gerakmu, adalah gerik lirihmu,

yang selalu memandang dunia dengan semu,

Dalam genggammu kau selalu menggambar fana,

setidaknya gambar-gambar wajah sedih yang penuh luka.

Bolehkah aku membantumu mencabut duka?

agar aku mencintaimu tanpa frasa yang tak akan butuh klausa.

 

Aku tahu.
Pagi itu kau menangis sendu,

siang itu kau tertawa menahan duka,

petang itu kau habiskan marah membara,

agar malam itu kau dapat melagu,
Dalam lagumu kau bilang padaku;

“jangan kau cintai aku tanpa frasa.”

 

Ada lusinan manusia, tapi kenapa dirimu yang selalu?

Ada ribuan nama, tapi selalu namamu yang merdu?

Ada ratusan wajah, tapi kenapa wajahmu?

Apa ini ilusi yang kan kuingat selalu, yang kurapal selalu?

bolehkah aku mencintaimu tanpa frasa tanpa cela?

 

Aku mencintaimu tanpa frasa,

agar kau berbahagia.

 

Langit Kelabu

Langit kelabu
Aku menyesap asap dan debu
sesambil menghitung kendaraan berlalu
yang berkejaran menyusuri gundah dan ragu

Langit kelabu,
Angin berembus macam puasnya nafsu,
sesejuk suara yang penuh rayu,
yang bersiap-siap ditipu waktu.

Langit kelabu,
Aku terduduk dibangku kayu,
tengah merapal lagu janji-janjimu,
yang terus tersingkap dari bibirmu.

Langit kelabu,
mungkin hendak meramu rasa haru,
ntah kedatanganmu, ntah kepergianmu
yang akan menitik serupa air mata ibu.

Sudah setitik demi setitik
Gerimis semakin menitik,
siap untuk membasahi wajahmu yang cantik
hingga larut di setiap detik.

Detik itu semakin berdetak,
Tanah itu semakin retak,
hidup semakin mendesak,
yang akan tinggal hanya jejak.

Wajahmu kan semakin keriput,
Darahmu kan semakin kecut,
Tenagamu pun akan semakin ciut,
Hanya tinggal kenangan yang larut.

Jejak apakah yang telah kau tinggalkan dalam perjalananmu menyusuri waktu?

Manusia dilahirkan dengan tangis,
telahkah kau mengubahnya dengan senyum?
setidaknya sekali dalam perjalanannya yang penuh kehendak untuk melawan kehendak?

Manusia dilahirkan dengan tak memiliki apa pun,
telahkah kau mengubahnya dengan memberinya sesuatu untuk dimiliki?
Sedikitnya memberi waktu.

Langit kelabu,
Di kota biru,
di tepi jalan enam ruas laju,
menunggu, merindu.

 

Pulang Kemana?

Pulang ke mana?
Jika aku hidup dalam perantauan,
selalu dan selamanya.
Jika rumah bukanlah rumah,
hanya sepetak tanah untuk rebah.

Pulang ke mana?
Jika asap dimana-mana,
jalan sebidang-pun tak tampak menunjuk arah.
Jika panas dan kering mengganti sejuk hujan,
setia menjebak orang dalam lindungan.

Pulang ke mana?
Hatimu, katamu,
Janjimu, katamu.
Sukamu, katamu.
Dukamu, katamu.
Itu tempat pulangku menurutmu?

Itu bukan pulang!
Itu hanya singgah, persinggahan yang menarik.
Persinggahan yang indah yang kadang merunduk kadang menukik.
Yang kadang mengapung kadang tenggelam.
Itukah yang kau sebut rumah?

Rumah itu kokoh,
Tempat saksi lahir dan mati.
Halamannya tempat bertumbuh,
ruangnya tempat berteduh,
kamarnya tempat bersungguh,
dapurnya tempat menyeduh.

Seperti itukah hatimu?

 

Menebus Hujan

Masih belum berlabuh,

masih jauh,

tidak ada angin,

layar berkembang tapi tak menggerakkan sauh sejengkal-pun,

laut masih mengapungkan sauh,

tak bergerak,

badai datang tapi tak berangin,

cerah merah membakar tapi tak berangin.

 

Terlalu lama terombang-ambing.

Mana angin?

Gerakkan sauh ini mesti sedikit.

mestikah aku turun ke laut lalu kudorong sauh?

baik, ku lakukan itu.

 

Aku berenang mendorong sauh,

Sejengkal-pun sauh tak bergerak,

sauh ini terlalu besar.

mereplika sauh Nuh.

kaki keram, sauh karam.

aku tenggelam,

Ah, tidur sejenak didasar laut dalam.

Mati, lalu bangun lagi sebagai ikan.

—————–

Muhammad Luthfi (David Nomicu) adalah Civitas Akademik Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Twitter: @luthfinomics

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Faris Al Faisal

mm

Published

on

Ritus Pengantin 

di matamu. Embun puisi mengumpul bagai titik-titik

pointillisme memberikan gradasi warna pada pipimu

yang basah. Pekat kabut yang tercipta di malam

rembulan disungut awan sirna diserbu wangi melati

yang bertaburan di mahkotamu. Di depan rumahmu

layur yang dirajut dalam ayaman janur berbentuk

mayang mengucap selamat datang pada setiap tamu

undangan. Dan rasa syukur mengalir dari sungai

doa yang menyeberang bantaran. Kucium gerai

rambutmu yang panjang dan hitam dibasahi

keringat kasih. Seperti puja yang terucap pada

pencipta sebaik-baik wujud. Dan kau menjadi

kelopak yang merekah dihinggapi gemuang

kumbang. Kuseka air mata yang menguras

pada wajah langit yang biru. Merangkak

membawa mahar untukmu. Salamah

 

Indramayu, 2018    

 

Ritus Kelahiran    

tangismu. Memberi senyum pada wajah yang cemas

menunggu dengan doa yang tiada henti. Tapi kau terus

menangis hingga di mulutmu menyatu dengan puting

yang memberi tetes-tetes kasih. Seperti guci menuang

air pada cangkir yang belum terisi. Kini di matamu

langit yang biru memberi warna pada cerah wajah

yang masih begitu polos. Sementara waktu tertatih

menunggu hari tali pusarmu lepas. Merambah jamuan

sekeliling kampung bagai sebuah arus sungai

yang memberi catatan sajak-sajak celoteh

bagi nama yang masih asing. Zamzani

Indramayu, 2018

 

Ritus Kematian

di keranda. Tubuhmu digotong menuju taman

bunga kamboja. Bau tanah tercium seperti dekat

sekali dengan lubang hidung. Seperti tadi pagi

jenazahmu dibasuh, dikafankan dan disalatkan

pada musala. Gerbang langit berderak terbuka

menunggu ruhmu diangkat. Langit yang biru

seketika menitikkan gerimis tangis. Bunga-bunga

merekah di atas gundukan tanah. Menahan hatimu

yang gemetar berjumpa malaikat kubur. Dan kau

menghitung hari-hari berapa lama terbaring

dalam tidur panjangmu. Sebaris doa yang terucap

mengenyahkan mimpi buruk. Kau tersenyum

memeluk indahnya ilustrasi yang tergambar

di kepala. Tentang negeri abadi yang kau puja

akan singgah dan menetap selama. Di sana

Indramayu, 2018

 

Ritus Hujan 

gerimis tangis pada mata langit adalah hujan

yang ditunggu. Angin yang bersuit berirama

membawa pesan. Tentang kemarau yang lelah

menahan haus. Dalam kering kerontang daun

beterbangan. Dan kawanan burung yang migrasi

menjadi penanda ritus ini. Saat Orang-orang mulai

mengolah tanah. Menyebar benih pada setiap

lahan dalam rahim tanah. Musim membawa

air yang mengalir seperti mimpi-mimpi orang

pesisir yang terus mendesir. Pada setiap bau

tanah dan lumpur adalah cinta. Ditabalkan

segala kasih dalam tanah dan air. Seperti

kesetiaan pelangi mewarnai biru langit

hatimu. Dan hujan membungkus kisahku

Indramayu, 2018

 

Ritus Sungai 

mengantarkanmu mencium riak sungai

papan geladak disusun serupa jalan

lelaki-lelaki pesisir mendesir

tangan kekar mencengkeram akar

tujuh bunga dikalungkan pada haluan

beras dan kunyit dipercikkan sampai buritan

asap kemenyan menebar segala harapan

ikan-ikan akan meloncat ke badan perahu

kepada siapa doa dipanjatkan

agar hidup terjaga dari kesengsaraan

nun dikejauhan bunyi gitar dan suling

mengiringi tembang pesisiran

melepas pelaut berlayar

memeluk mesra samudera

Indramayu, 2018    

 

Ritus Laut

dengan sebuah upacara adat

orang-orang pesisir memberi makan

pada ikan-ikan yang telah memberi kehidupan

 

sebab moyang kami mengajarkan

tentang hidup dengan saling berkasih

seperti nuh yang memberi cinta pada manusia

 

Indramayu, 2018

_____________

*) Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), dan Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018) sedangkan karya non fiksinya yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).

Puisi, cerma, cernak, cerpen dan resensinya tersiar berbagai media cetak dan online seperti Kompas, Tempo, Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Radar Cirebon, Radar Surabaya, Radar Sulbar, Radar Banyuwangi, Media Jatim, Merapi, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Bali Post, Bangka Pos, Magelang Ekspres, Malang Post, Solopos, Suara NTB, Joglosemar, Tribun Jabar, Tribun Bali, Bhirawa, Koran Pantura, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Fajar Makasar, Serambi Indonesia, Majalah Simalaba, Majalah Hadila, Majalah Suara Muhammadiyah, Tabloid Nova, IDN Times, Sportourism.id, Puan.co, Nyontong.Com, takanta.id, Jurnal Asia, dan Utusan Borneo Malaysia.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Aghosh Kembara

mm

Published

on

Menolehlah Manis, Menolehlah

menolehlah manis, menolehlah

biar tampak itu wajah serupa Zulaikha

biar tak melulu cermin mendapat berkah

mata ini pula ingin merasakannya

betapa cantik itu tak ada cela

 

tahulah aku bukanlah Yusuf

tak tampan rupawan menggoda-goda

tak mampu menghasut pisau mengiris-giris jari pula

tetapi hati di dalam cangkang ini bolehlah diadu

takkan kalah dengan pujaanmu si blacan itu

 

menolehlah manis, menolehlah

pujian takkan keluar dari cermin

 

menolehlah manis, menolehlah

biar aku saja memujimu

 

menolehlah manis, menolehlah

lelah aku diamuk mimpi

Asoka, 2018

 

Berhentilah Mengeluh, Sayang

berhentilah mengeluh, sayang

hidup hanya perjalanan cerita

tak baik dibuat susah sampai berduka

bulir demi bulir itu usah cuma-cuma dibuang

 

coba lihat mereka, sayang

satu keluarga tak bisa menengok sunyi kota

tak tahu beda malam dan siang

tapi tak pernah aku lihat mereka berduka

si ibu dan ayah tabah mengurusi dua anaknya

betapapun anak susah dijinakkan pula

 

berhentilah mengeluh, sayang

kubur segala prasangka buruk di dalam ceruk

biar segala duka berguguran

biar di bibirmu itu senyum bisa bertumbuhan

biar tersumbat jalan bulir-bulir kesedihan

 

berhentilah mengeluh, sayang

dan berilah mata ini waktu

sejenak sampai di alam mimpi

 

berhentilah mengeluh, sayang

Asoka, 2018

 

Satu-satu Pasti Sampai

satu-satu pasti sampai

tak usah kau ragu-ragu meyakini

tak ada kata mendadak pulang

tak perlu ada kata tak bilang-bilang

 

tak ada beda

disayang atau tak disuka

diharap-harap atau tak berguna

bila daun jatuh apa bisa dikata?

 

kau boleh umbar berimbun tanya

berpuluh-puluh kutuk pun boleh juga

tapi tahulah kau itu tiada guna

Izrail pasti bilang kau itu gila

 

satu-satu pasti sampai

tak ada pilihan ganda

tak ada negosiasi

tak ada bincang-bincang soal puisi

 

satu-satu pasti sampai

kenanglah kelak aku sebagai puisi

Asoka, 2018

 

Lepaslah Buhulmu Untukku

 

lepaslah buhulmu untukku

tak kan pernah aku menghalaunya

soal tidur tak nyenyak atau makan tak enak

percayalah, rela aku sungguh-sungguh!

 

lepaslah buhulmu untukku

biar tidur ditumbuhi bunga-bunga

biar jaga ditumbuhi asa-asa

menjadi gila pun tak mengapa

 

lepaslah buhulmu untukku

tak kan pernah aku menghalaunya

sumpah!

Asoka, 2018

 

Di Bawah Bulan Perahu

di bawah bulan perahu

kau pernah menjadi kupu-kupu

mengepak-ngepak sayap merayuku

berputar-putar seperti lupa malu

 

saat lelah kau hinggap di bahuku

terdengar napasmu seperti dipompa

tahulah aku kau mudah hilang tenaga

maka kubiarkan matamu tidur semaumu

 

sebab bulan perahu tak bisa menyalang

jadilah malam serupa kain hitam

mengaburkan bulu-bulu kehidupan di dua sayapmu

yang mungkin sudah mulai gugur satu-satu

 

ketika bulan perahu bergeser

kau pun bangkit lagi membawa sayapmu

terbang bak peri kahyangan

lagi-lagi demi merayuku

 

tetapi di bawah bulan perahu kala itu

bibirku serupa batu

bergetar-getar menahan bulir getir

hendak menetas-netas di sudut mataku

Asoka, 2018

 

Senja di Bawah Senja Itu

Senja di bawah senja itu

tak terbuat dari jingga

Tetapi coklat tua

kumpulan dosa-dosa

 

Ia memang suka hinggap

di beranda orang diam-diam

Bukan hendak bicara soal senja

yang rentan tenggelam

musnah oleh gelap

Tetapi mengunyah bangkai saudara sendiri

tak malu-malu hingga busa di mulut buncah

tiada terkira

 

Senja di bawah senja itu

suka meratap bila tinggal sendiri

bicara tak keruan soal hidup tak keruan

misuh-misuh dan mengutuk kesunyian

Ia juga suka meramal kematiannya sendiri

yang katanya masih lama dan tak perlu dikhawatiri

 

Senja di bawah senja itu

pernah menenggak hujan berkali-kali

yang netas dari sudut matanya sendiri

Asoka, 2018

 

*) Aghosh Kembara. Lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980. Tinggal di Sumenep. Bergiat di Komunitas Labita. Puisi-puisi saya pernah dimuat di Kabar Madura, Surabaya Post, Suara Karya, Lini Fiksi. Saya bisa dihubungi di nomor 085856524605. Pos-El: aghoshkembara@gmail.com.

 

 

 

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Syafri Arifuddin

mm

Published

on

Di Bentala Rantau

/1/

Langit memecah diri jadi puisi.

Pengembara yang pergi meninggalkan

rumah dan ibu selalu tahu cara memberi

nyawa pada sepi.

 

Hari-hari berlalu tanpa doa.

Sebelum makanan kita lahap

di dasar hati ada rindu kian meluap.

 

Ke mana tiap rindu berlabuh

jika salah satu dari kita

tak ada yang siap dibunuh

 

keadaan.

 

/2/

Kita mulai berpikir

perihal bagaimana rindu itu diukir

di tengah kebingungan yang bimbang

ditelan gelombang cinta

yang pelan-pelan tumbang.

 

Di kubang hati kita yang paling dalam

ada perasaan yang telah lama berkabung.

Kau menamai hujan adalah khianat

sebab ia meninggalkan abu-abu

setelah ia reda

 

tapi kepulanganku adalah bianglala

kendati tak selalu ada, di ingatanmu

ia tumbuh di mana-mana.

 

/3/

Kita duduk menatap gerhana

yang datang setelah beratus-ratus tahun lamanya.

 

Di kejauhan kita mulai memaknai peristiwa alam

dalam sunyi dan senyap, sekaligus meluruhkan

doa-doa agar rindu tiba dengan selamat.

 

Bulan memiliki nama, tapi

kehadirannya tiap malam

tak pernah ada yang peduli,

namun kali ini

kita mencintai hal-hal

yang seharusnya kita cukup

untuk syukuri.

 

Di bawah bulan merah

kita marah ke diri sendiri

menatap bumantara yang ala

dari mata dan rumah kita

yang nestapa.

 

/4/

Tak selalu resah menjadi rusuh

walau rindu di dadaku juga dadamu

berakhir menjadi dua warna air laut

yang tak bisa menyatu di satu samudra.

 

Bukan berarti luka menjadi tak laku

idrak rindu yang selama ini jadi bahaduri

buat kita kuat menahan diri dari perasaan

yang ditusuk-tusuk duri sepi dan sendiri.

 

/5/

Kita kedinginan dan lengan puisi

tak lagi mampu menghangatkannya.

 

Jauh sudah langkah kaki meninggalkan rumah.

Di kepala kita ada ingatan yanng menolak ramah.

Dalam hati kita: ada penghuni yang berontak

dan ingin tumpah.

 

Kata tak lagi naim jadi puisi

sebab puisi tak lagi bisa menjadi sublim.

 

Pengembara yang telah pergi jauh

semoga tak lupa berlabuh dan

menjatuhkan sauh di tempat—

di mana seluruh pengharapan luruh.

 

Di dada ibu:

kita tetap abadi meski belum

menjadi apa-apa.

 

/6/

Kau yang tak bisa lagi kurengkuh

dari rinduku yang semakin ringkih

semoga tetap menyala walau sumbu

api rindu di tubuhku kian gigil memeluk

dirinya sendiri.

 

Masa lalu selalu dan pasti memiliki ruang

semoga ia tak pernah berakhir menjadi raung.

 

/7/

Di bentala rantau

kudekap erat ingatan masa kecilku

kubawa ke mana-mana agar kuat

melawan deras arus kota yang pemarah.

 

Di bentala rantau

kuterkulai ditelan agonia yang parah

di kala kota berubah alasan utama

kenapa aku diserbu ratusan mala.

 

Di belantara rindu

kucari satu pedusi paling syahda

kukirimkan segala munajat terbaik padanya

agar aku dan dia bisa hidup lebih lama.

 

Makassar, 2018

Continue Reading

Classic Prose

Trending