Connect with us

Puisi

Puisi-puisi Melki Deni

mm

Published

on

Seni Menjelajah Hening

 

Yang disembunyikan dari penghujung bibir-bibir,

dan yang ditampik dari tapal batas antara daging dan kulit.

dijelaskan oleh malam panjang di beranda rumah bayang-bayang.

Tentang kita yang menjelajah melampaui dunia bukan-bukan milik setan-setan.

Tak terjumpai sejawat diri merenung diri di atas perahu peronda di tengah samudra.

Kita adalah perselingkuhan huruf-huruf membentuk peradaban baru tanpa cacat warna.

Yang dibungkus dari gumpalan nafas,

dan yang disaring oleh alis-alis mata telanjang.

diceritakan oleh lembayung senja di panggung pondok nenek moyang.

Tentang kita yang terlampau lupa wasiat-wasiat di dalam kotak-kotak kecil.

Barangkali kebijaksanaan kita sudah dimakan oleh pebangkai jinak atau oleh rayap-rayap sisaan perang Holocaust.

Yang ditelan hidup-hidup oleh telinga, gerbang kehilangan kunci sedari ciptaan.

dan diperangi oleh bulu-bulu roma sepanjang sejarah.

direnungi dan dijelajahi  jiwa dalam kecekaman hening yang riuh rendah.

Demikian hening membunuh jiwa-jiwa liar di panggung seni dunia.

Kita akan menemukan diri tak berpakaian sehelai pun di terminal kota.

Kiranya kita diundang merayakan pesta di padang mahsyar.

 

Ludah selalu Telanjang

 

Kami menari dansa di pinggiran jalan,

Anak-anak melayangkan layang-layang plastik ke atas udara.

Menyaingi awan gemawan dan para alien mendirikan bendera kemenangan di atas langit.

Kemenangan dahsyat tidak perlu dibungkus pakaian kemewahan dan sorak-sorak membela Tuhan.

dan kekalahan tidak perlu memoles hukum Tuhan dan merobek Pancasila.

Sebab pakaian seberapa pun mewahnya,

Tetap tempat persembunyian tubuh-tubuh berlumur karat-karat dan gudang para zombi.

Seperti ludah-ludah telanjang sepanjang keabadian dibuang di tempat jorok,

kami dicekik mati demi kepentingan di atas kepentinga .

Ludah-ludah memang harus dicuci bersih dari mulut-mulut buaya darat,

sebab hanya menimbulkan bauh apak.

Ludah-ludah jangan dibuang di sumur kota.

 

*Melki Deni, Mahasiswa Semester II STFK Ledalero-Maumere- NTT,  berasal dari Reo-Manggarai. Penyair sering menulis pada beberapa koran lokal, dan media daring lokal dan nasional.

 

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Puisi Puisi Firza Yasmina

mm

Published

on

Perjalanan Pulang

 

Dalam rangkaian singkat waktu, masa berlalu cepat,

Jam jam dalam perjalanan pulang

Penat mengarung; aku bertahan.

 

Berdiri dempet dalam bis; waktu melambat begitu lambat

Orang berbondong mendahului satu sama lain

Bergegas beringas, batinku terasa guncang

 

Pulo Gadunggg, Cibuburrr, Kotaaa

Entah suara panggilan untuk siapa?

Seringkali aku hanya terdiam dalam barisan para penumpang,

Nanti waktu membawaku juga pulang,

Lalu sekejap dunia menari berdendang

dalam gemerlap lampu lampu remang.

 

Perjalanan pulangku terasa seperti waktu tak bergerak

Sebuah tindakan serupa, namun selalu saja dengan tempo yang tak berirama,

Muka asing yang lelah membeku dengan banyak koma,

Melukis kotaku sekaan ia sendiri ingin pulang.

 

Kamu tahu ada sekitar 135 langkah kecil

Kita telusuri di jembatan transjakarta,

Ada sekitar 49 anak tangga yang kita panjat untuk naik kereta cepat

15 garis putih dan hitam sepanjang jalan sudirman.

 

Tapi sekejap mata langit merah muda itu menjelma menjadi kehitaman,

merindu rembulan yang akhirnya kembali ke pemukiman.

Perjalanan ku pulang rasanya mudah dan sulit,

seperti menuangkan nya dalam barisan tulisan

yang sekarang kau tengah membacanya

dengan umpama-umpama yang terbata.

_

Zayasmina, 19/09/19

 

Patahan Hati

Maafkan saya yang setengah hati

Menanggapi dialog antara kita yang kian basi,

Tapi saya bisa apa,

Biar aku kembali terbenam

Dalam cinta yang fiksi;

……………………………………

Zayasmina, 09/23/2019

*) Firza Yasmina, terlahir di Ibu Kota Jakarta tepat 23 tahun yang lalu. Duta Bahasa DKI Jakarta 2017. Tinggal di Utan Kayu.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Ozi Marzuki

mm

Published

on

Kotamu Ingin Bunuh Diri

 

Ular naga panjang –Kata nyanyian kita waktu kecil

Menuju ke kotamu

Tapi tidak dengan kotaku

Mengangkut pikiran yang ingin pulang

Tapi raga memutuskan untuk tetap tinggal

Ada apa dengan kotaku dan kotamu?

keduanya penuh dengan persetujuan yang tidak disetujui

 

Kotaku tidak habis pikir pada dirinya

Terlalu banyak kesamaan dalam rupanya

Kata kotaku, kotamu juga demikian

Dia punya noda yang terlalu banyak

Hingga kotamu dianggap tidak suci

Meski sudah mencoba wudhu berkali-kali

 

Kabar terbaru; kotamu ingin bunuh diri

Tapi kotaku bilang lebih baik mengasingkan diri

Karena sendiri untuk sementara layak dicoba

Dibanding sendiri untuk selamanya

 

Satu kesempatan kota kita berbincang

Tentang Ibu yang dalam waktu dekat akan hilang

Memang selama ini Ibu merepotkan

Tapi pelukannya yang menghangatkan juga dirindukan

 

Ayah bilang Ibu pergi karena sayang

Tapi mana ada sayang tanpa kasih

Keduanya saling membutuhkan

Seperti kotamu butuh kotaku.

 

Tiga Pagi

 

Dari dengkur yang tersungkur di telinga

Kau telah berdua menindih aku yang ke-tiga

Kesendirianmu menemukan kesendirian lain;

Bukan kesendirianku

 

Bukan maksud ingin punya kesunyianmu

Tapi aku benci

Sunyimu berisik bukan dengan sunyiku.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Zulfikar A.S

mm

Published

on

MENGERANGNYA SEORANG PEMABUK

Hujan merayu bumi

merayu manja dalam sunyi.

Terdengar sayup-sayup rembulan,

ketakutan.

Cahaya-cahaya lampu merajam kematian,

seperti sedang berlari

meraba-raba, apakah ini?

kematian?

jiwa yang hilang?

atau ketakutan akan kesadaran?

Kegelapan melumat habis pikiran.

Dalam lorong yang panjang

di antara mereka ada yang sedang melawan kematian.

Tidak tahu pasti

mereka benar-benar terpejam

atau sedang terbenam.

Melonglong seperti serigala di malam hari

barangkali menakuti mereka yang terpejam bersama mimpi.

Ah….

Sepertinya aku sedang mabuk

ditelan ilusi.

 

KATA YANG HILANG DARI KOSAKATA

hari-hari berbicara kepadaku

angin-angin mengabarkan berita penuh haru

langit sudah enggan membuka matanya di pagi hari

burung-burung tidak lagi bernyanyi dengan syair-syair selamat pagi

ia berkidung

dalam aroma busuk yang menyengat hidung

apakah kaki-kaki sudah tak bergerak

dan, barangkali tangan-tangan pun sudah terikat

mulut dijadikannya peluru

pikiran dijadikannya meriam

jiwa-jiwa yang terbunuh

berpuluh-puluh dalam peluh

hati sudah berhati-hati memberi kasih

benar dan salah hilang dalam kamus bahasa

yang ada hanya

benar dan benar

salah dan salah

benar dibungkam

salah kalah

tanpa mengalah

 

PELARIAN

Baru saja waktu merampas diriku

dari hingar bingar lekukan tubuh wanita itu.

Aku menemukan angka satu sembilan

di balik sebuah lukisan.

 

Ada yang terjatuh,

ada yang melihat.

Manusia menjadi hadiah

dalam sekantong perayaan.

 

Di dalam ruang dan waktu

di antara sudut dinding berlumut

tubuh-tubuh yang bernyala api,

terbakar─

 

hingga kalian bersembunyi

juga mereka yang melarikan diri.

 

*) Zulfikar A.S., lahir dan tinggal di Bogor

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending