Connect with us

Prose & Poetry

Puisi-Puisi Lailatul Kiptiyah

mm

Published

on

Berjalan Meninggalkan Supermarket
sebaris semut melintas
menuju ujung batas
di mana remah roti dikibaskan

dan setetes chablis menggelincir
pelan dari bibir sebuah gelas

di atas, kabel-kabel listrik serupa
rel-rel hitam memanjang
jalur bagi burung-burung  kecil
hinggap sebelum haribaan

di jalan, sebaris mimpi melintas
menuju gemerlap lampu

dan ketika maghrib tiba
apakah ada batas
antara kepuasan dan kehampaan itu?

Pagesangan, November 2016

 

Tangga
Kau hanya perlu hati-hati dalam mendaki
tangga yang melingkar ini. Lihat! Tubuhnya
yang meliuk bagai ular lapar menggeliat

di ladang penghabisan itu, mampu menciptakan
gentar tak tertakar. Ke sekujur kelenjar tubuhmu.
Maka kau harus yakin sepasang kakimu kuat

dan seimbang. Tidak! Jangan kau biarkan masa
lalu menang, merebut jalanmu di depan. Apa
lagi membikin nyalimu bimbang.

Lalu tangan. Dalam mencakup susuran demi
susuran, tanganmu juga harus tenang, bersih
dari keringat. Dari dusta-dusta tak terlihat.
Sebab ada yang suka melempar tapi tangannya
tak terlihat.

Jangan kau tiru yang seperti itu

Bagaimanapun,  berjalan mendaki tak perlu
buru-buru. Bukankah kerdip cinta lebih abadi
ketimbang kerjap kembang api tahun baru?

Apalagi jika kau membawa penuh
muatan. Pada pundak, pada dada, pada pikiranmu.
Seperti doa yang teratur mengetuk pintu rumahmu
datang dari sebuah alamat;
kamar ibumu.

Pagesangan, November 2016

 

Puisi yang Menunggumu
sebuah puisi berdiri di luar pagar
ia menunggu tanganmu memutar
gagang pintu lalu keluar

: menyapanya dengan senyuman
seorang petani
: menyentuhnya dengan kesedihan
anggun sekali

Pagesangan, November 2016

 

Diwali*
diwali datang di awal musim
nyala dupa harum samosa
meruap diantara kidung kitab-kitab tua

orang tua dan anak-anak berkumpul
ritus doa bagi leluhur
ada yang tumpah ke atas lembar
tikar; serbuk-serbuk merah melingkar

holi, holi diwali
limpahkan berkat sepanjang tahun ini”

diwali datang dalam nyala lilin dan
semangkuk manisan
ada yang selalu tertinggal
dari getar perayaan

;nama-nama yang bersemayam
dalam abu
gemertap di antara jajaran cahaya itu

November 2013 – 2016

*hari raya umat Hindu India

 

Melankoli Januari
kuncup basah di sebuah pagi Januari
serupa bulir embun pecah
menyeka kedua belah pipi

kau tahu,
dulu seseorang kerap datang
menerabas padang ilalang
lalu meneruskan melayari sepi
di sepanjang pematang
di ujung kelam pagi

dan aku selalu menunggu,
musim bediding itu
dimana anak-anak puyuh
riuh berkerumun
di selia batang padi,
di bawah gigilan halimun

hingga tiba musim menuai
di mana bulir-bulir padi
memisah diri dari tubuh
sabar jerami;
seusai petani menggelar kenduri

oh, kini lihatlah,
langit di atas sawah itu redup
dan burung-burung pipit
perih memintal kuyup
lewat sayap-sayapnya yang terkulai

mengitari atap dangau
yang telah masai
hanya kulihat bunga-bunga liar,
mekar di celah pagar
menggantikan aroma jerami
yang dulu kerap meruapi latar

terbasahi pendar hujan Januari
menderas jatuh
di petak-petak kesedihan ini

Jakarta, Januari 2012

Obituari

              : Mei

ada kabar tiba
oh, dukacita masal
berangkat dari sebuah kota;
ribuan kupu-kupu dengan sayap kuning
tanpa daya
tertancap duri-duri luka

selajur sungai berganti warna
kental dan kekal
diam mengarus melintasi Katedral

“tolong, jangan sakiti kami
dalam tubuh kami mengalir
keringat pribumi.”

dari ketinggian mendung rimbun
setelahnya hujan tumpah bagai jarum
membangunkan akar-akar duka
menusuknya dengan marak
dan sejarah;
serupa debu-debu menebar
menutup halaman-halaman merah

2013-2016
Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar, Jawa Timur. Puisi-puisinya dimuat di Indopos, Media Indonesia, Bali Pos, Suara Karya, Suara NTB, Padang Ekpres, Sumut Pos, majalah remaja Story, Dll. Juga tergabung ke dalam beberapa antologi bersama. Pernah diundang menjadi peserta pada; Temu Sastrawan Indonesia ke IV di Ternate (2011), Pertemuan Penyair Nusantara ke VI di Jambi (2012), Tifa Nusantara 1 di Tangerang (2013). Tifa Nusantara 2 di Tangerang (2015), Tifa Nusantara 3 di Marabahan, Barito Kuala (2016). Setelah lama bekerja di Jakarta,  sejak tahun 2014 tinggal menetap di Mataram dan turut bergabung pada komunitas Akarpohon Mataram – NTB.

Continue Reading

Classic Poetry

Kidung Sajak Nizar Qabbani

mm

Published

on

Sajak

1/

Kawan
Kata-kata lama telah mati.
Buku-buku lama telah mati.
Pembicaraan kita mengenai lubang seperti sepatu usang telah mati.
Mati adalah pikiran yang mengarahkan pada kekalahan.

2/
Puisi-puisi kami sudah basi.
Rambut perempuan, malam hari, tirai, dan sofa
Sudah basi.
Segalanya sudah basi.

3/
Negeri duka-citaku,
Secepat kilat
Kau merubah aku dari seorang penyair yang menulis puisi-puisi cinta
Menjadi seorang penyair yang menulis dengan sebilah pisau.

4/
Apa yang kami rasa lebih dari sekadar kata-kata:
Kami harus malu lantaran puisi-puisi kami.

5/
Dikendalikan oleh omong kosong Oriental,
Oleh sombongnya keangkuhan yang tak pernah membunuh seekor lalat pun,
Oleh biola dan beduk,
Kami pergi berperang,
Lalu menghilang.

6/
Teriakan kami lebih lantang ketimbang tindakan kami,
Pedang kami lebih panjang ketimbang kami,
Inilah tragedi kami.

7/
Pendeknya
Kami mengenakan jubah peradaban
Namun jiwa kami hidup di zaman batu.

8/
Kau tak memenangkan perang
Dengan buluh dan seruling.

9/
Ketaksabaran kami
Membayar kami lima puluh ribu tenda baru.

10/
Jangan mengutuk sorga
Jika ia membuang dirimu,
Jangan mengutuk keadaan,
Tuhan memberi kemenangan pada siapa yang Ia kehendaki
Tuhan bukanlah seorang pandai yang dapat kau minta menaklukan senjata.

11/
Betapa menyakitkan mendengar berita pagi hari
Betapa menyakitkan mendengar salak anjing.

12/
Musuh-musuh kami tak melintasi perbatasan kami
Mereka merayap melalui kelemahan kami seperti semut.

13/
Lima ribu tahun
Janggut tumbuh
Di goa-goa kami.
Mata uang kami tak diketahui,
Mata kami sebuah surga bagi serangga.
Kawan,
Bantinglah pintu,
Cucilah otakmu,
Cucilah pakaianmu.
Kawan,
Bacalah buku,
Tulislah buku,
Tumbuhkan kata-kata, anggur dan delima,
Berlayarkah ke negeri kabut dan salju.
Tak seorang pun tahu kau hidup di goa-goa.
Orang-orang mengambilmu untuk pengembangbiakan anjing liar.

14/
Kami adalah orang berkulit tebal
Dengan jiwa yang kosong.
Kami habiskan hari-hari kami dengan belajar sihir,
Main catur dan tidur.
Adakah kami “Bangsa di mana Tuhan memberkati manusia?”

15/
Minyak gurun kami bisa menjadi
Belati nyala api dan api.
Kamilah aib bagi nenek moyang kami yang mulia:
Kami biarkan minyak kami mengalir lewat jemari kaki para pelacur

16/
Kami berlari serampangan di jalan-jalan
Menarik orang-orang dengan tali,
Menghancurkan jendela dan kunci.
Kami memuji bagai katak,
Mengubah orang kerdil jadi pahlawan,
Dan pahlawan menjadi sampah:
Kami tak pernah berhenti dan berpikir.
Di mesjid
Kami tertunduk malas
Menulis puisi-puisi,
Pepatah-pepatah,
Memohon pada Tuhan untuk kemenangan
Atas musuh kami.

17/
Jika aku tahu aku akan datang tanpa kesalahan,
Dan dapat melihat Sultan,
Inilah yang akan kukatakan:
‘Sultan,
Anjing-anjingmu yang liar merobek pakaianku
Mata-matamu mengintaiku
Mata mereka mengintaiku
Hidung mereka mengintaiku
Kaki mereka mengintaiku
Mereka mengintaiku bagai Takdir
Menginterogasi istriku
Dan mencatat nama-nama kawanku.
Sultan,
Saat aku mendekati dindingmu
Dan bicara mengenai lukaku,
Tentara-tentaramu menyiksaku dengan boot mereka,
Memaksaku memakan sepatu.
Sultan,
Kau kehilangan dua perang,
Sultan,
Setengah rakyat kita tanpa lidah,
Apalah gunanya seorang manusia tanpa lidah?
Setengah rakyat kita
Terjebak bagai semut dan tikus
Di sela dinding.’
Jika aku tahu aku akan datang tanpa kesalahan,
Akan kukatakan padanya:
‘Kau kehilangan dua perang
Kau kehilangan kontak dengan anak-anak.’

18/
Jika kami tak mengubur persatuan kami
Jika kami tak merobek tubuh-tubuh segar dengan bayonet
Jika ia berdiam di mata kami
Anjing-anjing tak kan mencincang daging kami membabi-buta.

19/
Kami tidak menginginkan sebuah generasi yang marah
Untuk membajak langit
Untuk meledakkan sejarah
Untuk meledakkan pikiran-pikiran kami.
Kami menginginkan sebuah generasi baru
Yang tak memaafkan kesalahan
Yang tak membungkuk.
Kami menginginkan sebuah generasi raksasa.

20/
Anak-anak Arab,
Telinga jagung masa depan,
Kalian akan memutuskan rantai kami,
Membunuh opium di kepala kami,
Membunuh ilusi.
Anak-anak Arab,
Jangan membaca generasi kami yang tercekik,
Kami hanyalah sebuah kotak tanpa harapan.
Kami sama tak berharganya dengan kulit semangka.
Jangan baca kami,
Jangan turuti kami,
Jangan terima kami,
Jangan terima pikiran kami,
Kami hanyalah bangsa bajingan dan pemain akrobat.
Anak-anak Arab,
Hujan musim semi,
Telinga jagung masa depan,
Kalian adalah generasi
Yang akan mengatasi kekalahan.

*) Nizar Qabbani lahir di ibukota Suriah Damaskus dari keluarga pedagang kelas menengah. Qabbani dibesarkan di Mi’thnah Al-Shahm, salah satu tetangga Damaskus lama. Qabbani menempuh pendidikan di Scientific College School nasional di Damaskus antara 1930 dan 1941. Sekolah tersebut dimiliki dan dijalankan oleh teman ayahnya, Ahmad Munif al-Aidi. Ia kemudian mempelajari hukum di Universitas Damaskus, yang disebut Universitas Suriah sampai 1958. Ia lulus dengan gelar sarjana dalam hukum pada 1945. (Wikipedia)

Continue Reading

Classic Poetry

Sajak Sajak Sir Allamah Muhammad Allama Iqbal

mm

Published

on

Harapan Kepada Pemuda

Aku harapkan pemuda inilah yang akan sanggup

membangunkan zaman yang baru

memperbaru kekuatan iman

menjalankan pelita hidayat

menyebarkan ajaran khatamul-anbiya’

menancapkan di tengah medan pokok ajaran Ibrahim

Api ini akan hidup kembali dan membakar

jangan mengeluh jua , hai orang yang mengadu

Jangan putus asa , melihat lengang kebunmu

Cahaya pagi telah terhampar bersih

Dan kembang-kembang telah menyebar harum narwastu

 

Khilafatul-Ard akan diserahkan kembali ke tanganmu

Bersedialah dari sekarang

Tegaklah untuk menetapkan engkau ada

Denganmulah Nur Tauhid akan disempurnakan kembali

Engkaulah minyak atar itu , meskipun masih tersimpan dalam

kuntum yang akan mekar

 

Tegaklah, dan pikullah amanat ini atas pundakmu

Hembuslah panas nafasmu di atas kebun ini

Agar harum-harum narwastu meliputi segala

Dan janganlah dipilih hidup ini bagai nyanyian ombak

hanya berbunyi ketika terhempas di pantai

Tetapi jadilah kamu air-bah , mengubah dunia dengan amalmu

 

Kipaskan sayap mu di seluruh ufuk

Sinarilah zaman dengan nur imanmu

Kirimkan cahaya dengan kuat yakinmu

Patrikan segala dengan nama Muhammad

 

 

Nasehat Elang Pada Anaknya

Kau tahu bahwa semua elang hanya pantas bagi sesama elang:

Dengan segenggam sayap, masing-masing memiliki hati singa.

Harus berani dan hormat diri, sergaplah mangsa yang besar saja.

Jangan bersibuk dengan ayam hutan, burung meliwis dan pipit

Kecuali jika kauingin melatih kepandaianmu memburu.

 

Adalah hina, pengecut, tanpa berusaha mengeram

Membersihkan paruh kotor dengan mengambil makanan dari tanah.

 

Elang tolol yang meniru cara hidup burung pipit yang pemalu

Akan menjumpai nasib malang sebab ialah yang menjadi mangsa buruannya

 

Kutahu banyak elang yang jatuh dalam debu di mata mangsanya

Oleh karena mereka memilih jalan hidup burung pemakan gandum.

 

Peliharalah martabatmu hingga hidupmu bahagia

Selalulah geram, keras, berani dan kuat dalam perjuangan hidup.

Biarlah ayam hutan yang malang punya tubuh indah dan langsing

 

Bangunlah dirimu kokoh seteguh tanduk rusa jantan.

Apa pun kesenangan yang berasal dari kehidupan fana di sini

Datang dari hidup yang penuh keberanian, kegiatan dan kecermatan.

 

Nasehat berharga yang telah diberikan elang pada anaknya:

Jadikan tetesan darah kemilaumu berkilat-kilat bagaikan manikam.

Jangan kehilangan diri dalam penggembalaan seperti domba dan kerbau

 

Jadilah dirimu seperti nenek-moyangmu semenjak dulu.

Kuingat dengan baik betapa orangtuaku senantiasa menasehatiku begitu.

“Jangan bangun sarangmu di dahan pohon, “ ujar mereka.

“Kita para elang tak mencari perlindungan di taman dan ladang manusia.

Surga kita di puncak-puncak gunung, gurun luas dan tebing jurang.

Bagi kita haram menjemput bulir-bulir jelai dari tanah

 

Sebab Tuhan telah memberi kita ruang lebih tinggi yang tak terbatas.

Penduduk kelahiran angkasa yang berdiam di bumi

Di mataku lebih buruk dari burung kelahiran bumi.

Bagi elang ladang buruannya adalah karang dan batu jurang

Karang baginya adalah batu gosok untuk mempertajam cakar-cakarnya.

 

Kau adalah salah seorang anak kebuasan yang bermata dingin

Keturunan paling murni dari burung garuda.

Jika seekor elang muda ditantang oleh seekor harimau

Tanpa mengenal takut ia akan membelalakkan matanya.

Terbangmu pasti dan megah seperti terbang malaikat

 

Dalam nadimu mengalir darah raja purba puncak-puncak gunung

Di bawah kolong langit yang luas ini, kau tinggal

Martabatmu terangkat oleh kekuatan, sasaran apa pun tak ditampik oleh matamu

 

Kau tak boleh meminta makanan dari tangan orang lain kapan pun saja.

Baik-baiklah kau membawa diri dan dengarkan selalu nasehat yang baik dan luhur

 

 

Cinta Abadi

 

Cinta itu abadi dan ke dalam keabadian ia pergi

Jika hari pembalasan tiba

Orang berduyun ingin jadi pemburu cinta

Sebab tanpa cinta ia akan terhina

 

Titik cerlang yang bernama peribadi

Api kehidupan dalam tumpukan abu kita

Cinta menggosoknya menjadi lebih abadi lagi

 

Cinta mengangkat insan membumbung tinggi

Hingga tercapai tangga keluhuran dekat ilahi

Jika wujud ini adalah benda belum selesai

Cinta membentuknya hingga sempurna

Wahai muslim, dengar kisahku menjadi manusia

 

Oleh cinta pribadi kian abadi

Lebih hidup, lebih menyala, dan lebih kemilau

Dari cinta menjelma pancaran wujudnya

Dan perkembangan kemungkinan yang tak diketahui semula

Fitrahnya mengumpul api dari cinta

 

Cinta mengajarinya menerangi alam semesta

Cinta tak takut kepada pedang dan pisau belati

Cinta tidak berasal dari air dan bumi

Cinta menjadikan perang dan damai di dunia

Sumber hidup ialah kilau pedang cinta

 

Nyanyian Waktu

 

Aku derita mahupun penawar

Kesederhanaan mahupun kemegahan.

Aku pedang yang menghancurkan

Aku mata air kekekalan

Aku api yang membinasakan

Aku taman kebaqaan

Pertentanganku nyata

(Anggaplah itu tipu-muslihat):

Berubah selalu, diam senantiasa

Tak berubah dalam dada yang berubah.

Seperti jiwa manusia aku tak terikat

Pada lambang-lambang bilangan-

Aku tak terikat pada masa dan keluasan

Pada pergantian dan tahun kabisat

Kau adalah rahasia terpendam dalam dirimu

Aku adalah rahasia dari wujudmu.

Aku hidup karena kau memiliki jiwa

Dan tempat tinggalku adalah kesendirian jiwamu

 

*) Muhammad Iqbal (Urdu: محمد اقبال), (lahir di Sialkot, Punjab, India, 9 November 1877 – meninggal di Lahore, 21 April 1938 pada umur 60 tahun), dikenal juga sebagai Allama Iqbal (Urdu: علامہ اقبال), adalah seorang penyair, politisi, dan filsuf besar abad ke-20.

Ia dianggap sebagai salah satu tokoh paling penting dalam sastra Urdu, dengan karya sastra yang ditulis baik dalam bahasa Urdumaupun Persia. Iqbal dikagumi sebagai penyair klasik menonjol oleh sarjana-sarjana sastra dari Pakistan, India, maupun secara internasional. Meskipun Iqbal dikenal sebagai penyair yang menonjol, ia juga dianggap sebagai “pemikir filosofis Muslim pada masa modern”. Buku puisi pertamanya, Asrar-e-Khudi, juga buku puisi lainnya termasuk Rumuz-i-BekhudiPayam-i-Mashriq dan Zabur-i-Ajam;; dicetak dalam bahasa Persia pada 1915. Di antara karya-karyanya, Bang-i-DaraBal-i-JibrilZarb-i Kalim dan bagian dari Armughan-e-Hijaz merupakan karya Urdu-nya yang paling dikenal. Bersama puisi Urdu dan Persia-nya, berbagai kuliah dan surat dalam bahasa Urdu dan Bahasa Inggris-nya telah memberikan pengaruh yang sangat besar pada perselisihan budaya, sosial, religius dan politik selama bertahun-tahun. Pada 1922, ia diberi gelar bangsawan oleh Raja George V, dan memberinya titel “Sir“.

Ketika mempelajari hukum dan filsafat di Inggris, Iqbal menjadi anggota “All India Muslim League” cabang London. Kemudian dalam salah satu ceramahnya yang paling terkenal, Iqbal mendorong pembentukan negara Muslim di Barat Daya India. Ceramah ini diutarakan pada ceramah kepresidenannya di Liga pada sesi Desember 1930. Saat itu ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Quid-i-Azam Mohammad Ali Jinnah.

Iqbal dikenal sebagai Shair-e-Mushriq (Urdu: شاعر مشرق) yang berarti “Penyair dari Timur”. Ia juga disebut sebagai Muffakir-e-Pakistan(“The Inceptor of Pakistan”) dan Hakeem-ul-Ummat (“The Sage of the Ummah”). Di Iran dan Afganistan ia terkenal sebagai Iqbāl-e Lāhorī (اقبال لاهوری‎ “Iqbal dari Lahore”), dan sangat dihargai atas karya-karya berbahasa Persia-nya. Pemerintah Pakistan menghargainya sebagai “penyair nasional”, hingga hari ulang tahunnya (یوم ولادت محمد اقبال‎ – Yōm-e Welādat-e Muammad Iqbāl) merupakan hari libur di Pakistan. (Wikipedia)

 

Continue Reading

Classic Poetry

Kidung Cinta Jalaluddin Rumi

mm

Published

on

Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai

Jika engkau bukan seorang pencinta,

Maka jangan pandang hidupmu adalah hidup

Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan

Dihitung Pada Hari Perhitungan nanti

 

Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta,

Akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapanNya.

Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit

Dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari

 

Mereka merupakan bintang-bintang di langit

Agama yang dikirim dari langit ke bumi

Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah

Dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.

 

Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting

Dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan

Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira

Bagaikan sekumpulan kebahagiaan

 

Tetapi wahai bunga Ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ?

Sang Lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”
Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati.

Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan :

“Bukankah Aku ini Rabbmu ?”

 

Pernyataan Cinta

Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata

Kusimpan kasih-Mu dalam dada

Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu

Segera saja bagai duri bakarlah aku

 

Meskipun aku diam tenang bagai ikan

Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan

Kau yang telah menutup rapat bibirku

Tariklah misaiku ke dekat-Mu

 

Apakah maksud-Mu?

Mana kutahu?

Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan ini selalu

Kukunyah lagi mamahan kepedihan mengenangmu

 

Bagai unta memahah biak makanannya

Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa

Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak bicara

Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata

 

Aku bagai benih di bawah tanah

Aku menanti tanda musim semi

Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat bernafas wangi

Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat membelai kepala lagi…

 

Cinta : Lautan Tak Bertepi

Cinta adalah lautan tak bertepi

Langit hanyalah serpihan buih belaka
Ketahuilah langit berputar karena gelombang Cinta

Andai tak ada Cinta, Dunia akan membeku

 

Bila bukan karena Cinta

Bagaimana sesuatu yang organik berubah menjadi tumbuhan?

Bagaimana tumbuhan akan mengorbankan diri demi memperoleh ruh (hewani)?
Bagaimana ruh (hewani) akan mengorbankan diri demi nafas (Ruh) yang menghamili Maryam?

 

Semua itu akan menjadi beku dan kaku bagai salju

Tidak dapat terbang serta mencari padang ilalang bagai belalang
Setiap atom jatuh cinta pada Yang Maha Sempurna

Dan naik ke atas laksana tunas

Cita-cita mereka yang tak terdengar, sesungguhnya, adalah

Lagu pujian Keagungan pada Tuhan…

 

Kearifan Cinta

Cinta yang dibangkitkan

Oleh khayalan yang salah

Dan tidak pada tempatnya

Bisa saja menghantarkannya

Pada keadaan ekstasi

Namun kenikmatan itu,

Jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih sebenarnya

Kekasih yang sedar akan hadirnya seseorang…

 

Perih Cinta

Perih Cinta inilah yang membuka tabir hasrat pencinta
Tiada penyakit yang dapat menyamai dukacita hati ini
Cinta adalah sebuah penyakit karena berpisah, isyarat
Dan astrolabium rahasia-rahasia Ilahi

Apakah dari jamur langit ataupun jamur bumi
Cintalah yang membimbing kita ke Sana pada akhirnya
Akal ’kan sia-sia bahkan menggelepar ’tuk menerangkan Cinta
Bagai keledai dalam lumpur, Cinta adalah sang penerang Cinta itu sendiri

Bukankah matahari yang menyatakan dirinya matahari
Perhatikanlah ia, Seluruh bukit yang kau cari ada di sana…

 

Cinta

Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya

 

Saya memilih jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya

Setiap orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya

 

Kekasih yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai

Dia begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna

 

Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta

Yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan

 

Dia dan mereka adalah dia.Ini adalah sebuah rahasia

Jika kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya…

 

*) Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad.

Continue Reading

Classic Prose

Trending