Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi Kim Al Ghozali AM

mm

Published

on

Nuh Kecil

Ia mengaduk pasir dan air, membentuk

kapal raksasa dilapisi cahaya kuning.

Di tepi laut.

 

dan menyangka gelombang biru

serta pernak pernik awan di atasnya

bandang Nuh kedua setelah

5000 tahun silam.

 

Terbayang juga lentera bundar sempurna

segera menjurus ke tengah pusaran

menjilati cawan raksasa-merah

dan memberangus kota-kota;

hotel menjulang, tugu peperangan,

turis mabuk, Afro teler yang diiringi

musik reggae dan perempuan tanpa beha.

 

“Dunia harus diselamatkan. Sejarah manusia

tak boleh berakhir sebelum usai makan malam.”

—Di restoran langganan sudah menunggu

menu gurami, ayam panggang dan salad buah.

 

Ia terus mengaduk pasir basah

memilah cangkang kerang

uang kepeng dan kerikil sebundar kelereng

karena ia harus menyelamatkan dunia

dari terkaman bah yang marah

—kutukan kedua dari cinta yang luka.

 

Sedangkan di kejauhan

gunung sombong memamerkan punggungnya

(tempat ekor langit bersandar)

Dan ia percaya bahteranya akan mendarat

di sana, seusai bah tumpah mengganjar

para pendosa.

 

Seekor kepiting pincang mendekati

seakan tahu dunia segera karam

ingin menumpang bahtera-pasir

yang baru usai dibangun.

 

Tapi ia menghalaunya hingga

tubuh rapuh itu terbawa ombak

 

Ia tinggal sendiri di tepi laut

digenangi cahaya temaram yang tumpah

menerjang kokoh bangunan sepanjang pantai

lalu mengapungkan bahtera-pasir

500.000 tahun lamanya.

Menonton Logan

Padang gersang
jalanan berduri
layar lebar
langit tebal
kota yang ganas
cuaca menyala
atmosfer tinggi

Aku terjebak – terjerat
tercabik pagar kawat

cakar adamantium
menghambur tubuhku

ke udara bara

Mati berkali

Dan hidup lagi dalam mencari
gunung hijau, lembah teduh
juga tubuh yang utuh

 

Dadaku yang luka, marah darah
sepi bertubi — 200 tahun diliputi

Bayang-bayang pucat pasi

Tercabik
Tercekik

Hidup di sebuah botol – hampa
diiringi orkestra, denting gelas
mata mata buas dan jubah hitam

“Perkenalkan saya Hugh Jackman
duduk di pojok gedung bioskop
sedang mengamati detak jantungmu
dan membaca kemilau matamu.”

 

Aku berdiri
Aku berlari

Mencari lembah
sebelum tubuh terbelah

menapak dan teriak
merangkak dan sekarat

tergeletak – menggigil
terbujur sekaku kayu
di antara tebing tinggi
kemudian sunyi
tak ada lagi senjata api
di lembah
hanya pusaraku bertanda Cinta
di dasar bebukitan
curam kali
dihimpit celah yang kokoh
rimbun belukar abadi
dalam waktu yang membeku
di atas tubuhMu

April

                                    —  L

/1/

Langit dengan pilar-pilar gaib

tercipta cuaca dingin dan mengalir.

helai-helai rambut fajar

dikibarkan angin binal

dan mata kita menyala saling tantang

dalam peluk basah musim yang bening,

bening dan bening

menyerap seluruh hijau cahaya pagi.

/2/

April, menghampar panjang

di bawah kaki di bawah lengan kita.

bulan lembab, mata tertutup,

jendela-jendela terbuka

kita pun memasuki ruang

dengan nyala dan kesadaran hidup.

/3/

Ciuman-ciuman lembut

sentuhan liar kabut, hatimu pun terbuka

cahaya memancar dari dalam.

Api di fajar hari meremas dadamu

Dan kau tidur di atas kidung

agung seorang penyair,

yang menyanyikan tembang alam

dalam sarang emas bintang-bintang.

/4/

Kau melingkarkan lengan

di bawah mantel malam, membuat

selimut hangat dengan seluruh

awan karib di tubuhmu. Dan kau

tersenyum ringan, begitu ringan

—sebagai tawanan sempurna,

 

“Dan kita tawanan waktu

yang melaju begitu misterius.”

 

Jakarta

Air dan kota dalam siaga. Hampir hitam air dan kota.

Sore sibuk, mobil-mobil berlari di pipa waktu

Orang-orang melambai dari jendela rumah rendah,

Gedung-gedung lunak & bisu. Air di atas, awan mencair.

Cuaca memamerkan tubuhnya. Kau bergegas, mengetuk

satu pintu ruang es bawah tanah

 

Ruang-ruang lengang dan lapar. Kota di luar mabuk petir

dan deru. Keajaiban berjalan sepanjang kabel, sembunyi

di layar & cahaya, atau melalui resonansi yang melewati

celah besi. Air di bawah, air di tengah, di mana-mana air

Jakarta jam 5. Air di mana-mana, waktu di mana-mana

Mereka di dalam dan luar mimpimu

 

Mawar

Hari cantik menikam seluruh murung

kesedihan yang diterbitkan gunung hitam

dan ditabur burung burung kutilang.

Langkah-langkah di taman tertidur
Mawar tegak dan terjaga
bangkit dari mimpi
100 tahun waktu mengalir di tubuhnya
menebar misteri hayat dan rahasia

Mawar-mawar riang

 

Ada tangan bergerak di samping mereka
langkas dan tangkas
sebagai jarit yang sebentar merenggut
segala pada mula disembunyikan kabut
Mawar-mawar putih, memancar cahaya

sampai ke debar altar biru
(getar dalam musim
cuaca jernih dan telanjang)

Masih berdiri dalam mimpi

Tubuh dengan saluran saluran air
di atas bulat bumi
Nafas mereka teratur dan tenang
kecantikan yang pandai menyembunyikan

Kesedihan. Tak bergerak — memandangi

yang tiba

 

Mata memancar
kata kata perpisahan

Mawar-mawar, bintang semak bebukitan
tangan-tangan berkelebat halus
langkas dan tangkas menyentuh mereka

 

Awal Pekan

Kau memulai lagi setelah terjaga dari mimpi:

membentangkan halaman rumah

dan menarik matahari dari kedalaman hutan

Kau menyiapkan satu ruang di telinga

bagi suara yang segera memenuhi angkasa.

 

Senin telah bangkit dari ranjangmu

membuka gerbang depan dan belakang

menciumi jendela tempat kau melempar rahasia

Dan ia berlari di jalan, menukik pada

satu angka hitam di kalender Masehi.

 

Kau kembali diikat baju biru muda itu

pakaian waktu yang tak jemu jemu

dan janji melingkari lenganmu

seperti ular yang membelit, licin dan lihai.

 

Kau tahu, waktu tak pernah berunding

ia hanya setuju jika kau menjadi makin tua

meninggalkan dongeng fantasi

atau mengajakmu berkelana ke hari sepi

Kau tak pernah mengutuknya

meski seringkali menggerutu

ketika melihat wajah lelahmu di cermin

menyaksikan rambutmu gugur satu persatu

dan seorang demi seorang meninggalkanmu

dengan perayaan perpisahan paling kelam.

 

Kau memulai lagi setelah sadar dari mimpi

menyapa Senin yang berlari kecil

di bawah pohon pisang dan menuju jembatan

Kau mengikuti langkahnya sampai tikungan jalan

dan kau tahu minggu depan ia akan

mendatangimu kembali

 

: Mungkin di atas ranjang

atau di bawah angka hitam

dalam kalender terakhirmu

 

Mata

/1/

Mengandung laut biru, badai kemarau,
kilat kilat gelombang dan cakrawala.

 

Adalah ia titik mula
tanda bagi bintang yang berdenyar
dan di padang malam menyeretku

ke pesakitan dan ketakwarasan
Takjub pada wujud cinta
nyanyian gelora dari jiwa
Mabuk dan mabuk anggur yang diperas
kilau bola rembulan, lalu menyerahkan

sepenuhnya ke penjara ketakberdayaan.

Adalah mata, sorot yang menjelma
jadi burung-burung sorga
bahasa purba dan puisi tanpa kata
menyihirku menjadi diri yang lain

/2/

Mata-mata yang terjaga dan waspada
mengintai setiap gerik dan diam
menjadikan aku tawanan bebas
tapi juga terbelenggu dalam bisu.

/3/

Pada mulanya mata
jalan menuju selubung rahasia
dasar danau kedalaman dirimu
cermin yang memantul bayang
suara-suara dari dalam.

Pada mulanya mata
berbicara melalui tanda
anagram-anagram bahasa
dan sandi puisi
atas kalam dalam jiwa.

Pada mulanya mata
tempat mengeja riak gelombang
makna cinta yang tersirat
dan kau hadirkan dalam diam.

*) Kim Al Ghozali AM lahir di Probolinggo, 12 Desember 1991. Kini mukim di Denpasar dan bergiat di Jatijagat Kampung Puisi (JKP 109). Puisi-puisi dan tulisannya yang lain tersebar di pelbagai koran di Indonesia, di media online dan banyak antologi. Buku puisinya yang telah terbit: Api Kata (Basabasi, 2017), menjadi nominasi Kusala Sastra Katulistiwa 2016-2017.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Faris Al Faisal

mm

Published

on

Ritus Pengantin 

di matamu. Embun puisi mengumpul bagai titik-titik

pointillisme memberikan gradasi warna pada pipimu

yang basah. Pekat kabut yang tercipta di malam

rembulan disungut awan sirna diserbu wangi melati

yang bertaburan di mahkotamu. Di depan rumahmu

layur yang dirajut dalam ayaman janur berbentuk

mayang mengucap selamat datang pada setiap tamu

undangan. Dan rasa syukur mengalir dari sungai

doa yang menyeberang bantaran. Kucium gerai

rambutmu yang panjang dan hitam dibasahi

keringat kasih. Seperti puja yang terucap pada

pencipta sebaik-baik wujud. Dan kau menjadi

kelopak yang merekah dihinggapi gemuang

kumbang. Kuseka air mata yang menguras

pada wajah langit yang biru. Merangkak

membawa mahar untukmu. Salamah

 

Indramayu, 2018    

 

Ritus Kelahiran    

tangismu. Memberi senyum pada wajah yang cemas

menunggu dengan doa yang tiada henti. Tapi kau terus

menangis hingga di mulutmu menyatu dengan puting

yang memberi tetes-tetes kasih. Seperti guci menuang

air pada cangkir yang belum terisi. Kini di matamu

langit yang biru memberi warna pada cerah wajah

yang masih begitu polos. Sementara waktu tertatih

menunggu hari tali pusarmu lepas. Merambah jamuan

sekeliling kampung bagai sebuah arus sungai

yang memberi catatan sajak-sajak celoteh

bagi nama yang masih asing. Zamzani

Indramayu, 2018

 

Ritus Kematian

di keranda. Tubuhmu digotong menuju taman

bunga kamboja. Bau tanah tercium seperti dekat

sekali dengan lubang hidung. Seperti tadi pagi

jenazahmu dibasuh, dikafankan dan disalatkan

pada musala. Gerbang langit berderak terbuka

menunggu ruhmu diangkat. Langit yang biru

seketika menitikkan gerimis tangis. Bunga-bunga

merekah di atas gundukan tanah. Menahan hatimu

yang gemetar berjumpa malaikat kubur. Dan kau

menghitung hari-hari berapa lama terbaring

dalam tidur panjangmu. Sebaris doa yang terucap

mengenyahkan mimpi buruk. Kau tersenyum

memeluk indahnya ilustrasi yang tergambar

di kepala. Tentang negeri abadi yang kau puja

akan singgah dan menetap selama. Di sana

Indramayu, 2018

 

Ritus Hujan 

gerimis tangis pada mata langit adalah hujan

yang ditunggu. Angin yang bersuit berirama

membawa pesan. Tentang kemarau yang lelah

menahan haus. Dalam kering kerontang daun

beterbangan. Dan kawanan burung yang migrasi

menjadi penanda ritus ini. Saat Orang-orang mulai

mengolah tanah. Menyebar benih pada setiap

lahan dalam rahim tanah. Musim membawa

air yang mengalir seperti mimpi-mimpi orang

pesisir yang terus mendesir. Pada setiap bau

tanah dan lumpur adalah cinta. Ditabalkan

segala kasih dalam tanah dan air. Seperti

kesetiaan pelangi mewarnai biru langit

hatimu. Dan hujan membungkus kisahku

Indramayu, 2018

 

Ritus Sungai 

mengantarkanmu mencium riak sungai

papan geladak disusun serupa jalan

lelaki-lelaki pesisir mendesir

tangan kekar mencengkeram akar

tujuh bunga dikalungkan pada haluan

beras dan kunyit dipercikkan sampai buritan

asap kemenyan menebar segala harapan

ikan-ikan akan meloncat ke badan perahu

kepada siapa doa dipanjatkan

agar hidup terjaga dari kesengsaraan

nun dikejauhan bunyi gitar dan suling

mengiringi tembang pesisiran

melepas pelaut berlayar

memeluk mesra samudera

Indramayu, 2018    

 

Ritus Laut

dengan sebuah upacara adat

orang-orang pesisir memberi makan

pada ikan-ikan yang telah memberi kehidupan

 

sebab moyang kami mengajarkan

tentang hidup dengan saling berkasih

seperti nuh yang memberi cinta pada manusia

 

Indramayu, 2018

_____________

*) Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), dan Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018) sedangkan karya non fiksinya yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).

Puisi, cerma, cernak, cerpen dan resensinya tersiar berbagai media cetak dan online seperti Kompas, Tempo, Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Radar Cirebon, Radar Surabaya, Radar Sulbar, Radar Banyuwangi, Media Jatim, Merapi, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Bali Post, Bangka Pos, Magelang Ekspres, Malang Post, Solopos, Suara NTB, Joglosemar, Tribun Jabar, Tribun Bali, Bhirawa, Koran Pantura, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Fajar Makasar, Serambi Indonesia, Majalah Simalaba, Majalah Hadila, Majalah Suara Muhammadiyah, Tabloid Nova, IDN Times, Sportourism.id, Puan.co, Nyontong.Com, takanta.id, Jurnal Asia, dan Utusan Borneo Malaysia.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Aghosh Kembara

mm

Published

on

Menolehlah Manis, Menolehlah

menolehlah manis, menolehlah

biar tampak itu wajah serupa Zulaikha

biar tak melulu cermin mendapat berkah

mata ini pula ingin merasakannya

betapa cantik itu tak ada cela

 

tahulah aku bukanlah Yusuf

tak tampan rupawan menggoda-goda

tak mampu menghasut pisau mengiris-giris jari pula

tetapi hati di dalam cangkang ini bolehlah diadu

takkan kalah dengan pujaanmu si blacan itu

 

menolehlah manis, menolehlah

pujian takkan keluar dari cermin

 

menolehlah manis, menolehlah

biar aku saja memujimu

 

menolehlah manis, menolehlah

lelah aku diamuk mimpi

Asoka, 2018

 

Berhentilah Mengeluh, Sayang

berhentilah mengeluh, sayang

hidup hanya perjalanan cerita

tak baik dibuat susah sampai berduka

bulir demi bulir itu usah cuma-cuma dibuang

 

coba lihat mereka, sayang

satu keluarga tak bisa menengok sunyi kota

tak tahu beda malam dan siang

tapi tak pernah aku lihat mereka berduka

si ibu dan ayah tabah mengurusi dua anaknya

betapapun anak susah dijinakkan pula

 

berhentilah mengeluh, sayang

kubur segala prasangka buruk di dalam ceruk

biar segala duka berguguran

biar di bibirmu itu senyum bisa bertumbuhan

biar tersumbat jalan bulir-bulir kesedihan

 

berhentilah mengeluh, sayang

dan berilah mata ini waktu

sejenak sampai di alam mimpi

 

berhentilah mengeluh, sayang

Asoka, 2018

 

Satu-satu Pasti Sampai

satu-satu pasti sampai

tak usah kau ragu-ragu meyakini

tak ada kata mendadak pulang

tak perlu ada kata tak bilang-bilang

 

tak ada beda

disayang atau tak disuka

diharap-harap atau tak berguna

bila daun jatuh apa bisa dikata?

 

kau boleh umbar berimbun tanya

berpuluh-puluh kutuk pun boleh juga

tapi tahulah kau itu tiada guna

Izrail pasti bilang kau itu gila

 

satu-satu pasti sampai

tak ada pilihan ganda

tak ada negosiasi

tak ada bincang-bincang soal puisi

 

satu-satu pasti sampai

kenanglah kelak aku sebagai puisi

Asoka, 2018

 

Lepaslah Buhulmu Untukku

 

lepaslah buhulmu untukku

tak kan pernah aku menghalaunya

soal tidur tak nyenyak atau makan tak enak

percayalah, rela aku sungguh-sungguh!

 

lepaslah buhulmu untukku

biar tidur ditumbuhi bunga-bunga

biar jaga ditumbuhi asa-asa

menjadi gila pun tak mengapa

 

lepaslah buhulmu untukku

tak kan pernah aku menghalaunya

sumpah!

Asoka, 2018

 

Di Bawah Bulan Perahu

di bawah bulan perahu

kau pernah menjadi kupu-kupu

mengepak-ngepak sayap merayuku

berputar-putar seperti lupa malu

 

saat lelah kau hinggap di bahuku

terdengar napasmu seperti dipompa

tahulah aku kau mudah hilang tenaga

maka kubiarkan matamu tidur semaumu

 

sebab bulan perahu tak bisa menyalang

jadilah malam serupa kain hitam

mengaburkan bulu-bulu kehidupan di dua sayapmu

yang mungkin sudah mulai gugur satu-satu

 

ketika bulan perahu bergeser

kau pun bangkit lagi membawa sayapmu

terbang bak peri kahyangan

lagi-lagi demi merayuku

 

tetapi di bawah bulan perahu kala itu

bibirku serupa batu

bergetar-getar menahan bulir getir

hendak menetas-netas di sudut mataku

Asoka, 2018

 

Senja di Bawah Senja Itu

Senja di bawah senja itu

tak terbuat dari jingga

Tetapi coklat tua

kumpulan dosa-dosa

 

Ia memang suka hinggap

di beranda orang diam-diam

Bukan hendak bicara soal senja

yang rentan tenggelam

musnah oleh gelap

Tetapi mengunyah bangkai saudara sendiri

tak malu-malu hingga busa di mulut buncah

tiada terkira

 

Senja di bawah senja itu

suka meratap bila tinggal sendiri

bicara tak keruan soal hidup tak keruan

misuh-misuh dan mengutuk kesunyian

Ia juga suka meramal kematiannya sendiri

yang katanya masih lama dan tak perlu dikhawatiri

 

Senja di bawah senja itu

pernah menenggak hujan berkali-kali

yang netas dari sudut matanya sendiri

Asoka, 2018

 

*) Aghosh Kembara. Lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980. Tinggal di Sumenep. Bergiat di Komunitas Labita. Puisi-puisi saya pernah dimuat di Kabar Madura, Surabaya Post, Suara Karya, Lini Fiksi. Saya bisa dihubungi di nomor 085856524605. Pos-El: aghoshkembara@gmail.com.

 

 

 

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Syafri Arifuddin

mm

Published

on

Di Bentala Rantau

/1/

Langit memecah diri jadi puisi.

Pengembara yang pergi meninggalkan

rumah dan ibu selalu tahu cara memberi

nyawa pada sepi.

 

Hari-hari berlalu tanpa doa.

Sebelum makanan kita lahap

di dasar hati ada rindu kian meluap.

 

Ke mana tiap rindu berlabuh

jika salah satu dari kita

tak ada yang siap dibunuh

 

keadaan.

 

/2/

Kita mulai berpikir

perihal bagaimana rindu itu diukir

di tengah kebingungan yang bimbang

ditelan gelombang cinta

yang pelan-pelan tumbang.

 

Di kubang hati kita yang paling dalam

ada perasaan yang telah lama berkabung.

Kau menamai hujan adalah khianat

sebab ia meninggalkan abu-abu

setelah ia reda

 

tapi kepulanganku adalah bianglala

kendati tak selalu ada, di ingatanmu

ia tumbuh di mana-mana.

 

/3/

Kita duduk menatap gerhana

yang datang setelah beratus-ratus tahun lamanya.

 

Di kejauhan kita mulai memaknai peristiwa alam

dalam sunyi dan senyap, sekaligus meluruhkan

doa-doa agar rindu tiba dengan selamat.

 

Bulan memiliki nama, tapi

kehadirannya tiap malam

tak pernah ada yang peduli,

namun kali ini

kita mencintai hal-hal

yang seharusnya kita cukup

untuk syukuri.

 

Di bawah bulan merah

kita marah ke diri sendiri

menatap bumantara yang ala

dari mata dan rumah kita

yang nestapa.

 

/4/

Tak selalu resah menjadi rusuh

walau rindu di dadaku juga dadamu

berakhir menjadi dua warna air laut

yang tak bisa menyatu di satu samudra.

 

Bukan berarti luka menjadi tak laku

idrak rindu yang selama ini jadi bahaduri

buat kita kuat menahan diri dari perasaan

yang ditusuk-tusuk duri sepi dan sendiri.

 

/5/

Kita kedinginan dan lengan puisi

tak lagi mampu menghangatkannya.

 

Jauh sudah langkah kaki meninggalkan rumah.

Di kepala kita ada ingatan yanng menolak ramah.

Dalam hati kita: ada penghuni yang berontak

dan ingin tumpah.

 

Kata tak lagi naim jadi puisi

sebab puisi tak lagi bisa menjadi sublim.

 

Pengembara yang telah pergi jauh

semoga tak lupa berlabuh dan

menjatuhkan sauh di tempat—

di mana seluruh pengharapan luruh.

 

Di dada ibu:

kita tetap abadi meski belum

menjadi apa-apa.

 

/6/

Kau yang tak bisa lagi kurengkuh

dari rinduku yang semakin ringkih

semoga tetap menyala walau sumbu

api rindu di tubuhku kian gigil memeluk

dirinya sendiri.

 

Masa lalu selalu dan pasti memiliki ruang

semoga ia tak pernah berakhir menjadi raung.

 

/7/

Di bentala rantau

kudekap erat ingatan masa kecilku

kubawa ke mana-mana agar kuat

melawan deras arus kota yang pemarah.

 

Di bentala rantau

kuterkulai ditelan agonia yang parah

di kala kota berubah alasan utama

kenapa aku diserbu ratusan mala.

 

Di belantara rindu

kucari satu pedusi paling syahda

kukirimkan segala munajat terbaik padanya

agar aku dan dia bisa hidup lebih lama.

 

Makassar, 2018

Continue Reading

Classic Prose

Trending