Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi Iyut Fitra

mm

Published

on

Puisi Zelfeni Wimra

PERCINTAAN HULU DAN MUARA

 

jangan pernah kau ragukan. ini bukan sajak terakhirku, kekasih

sebagaimana hulu. ia selalu menyimpan rindu pada muara

sebuah pertemuan yang tak pernah. hanya tumpukan dari gelisah

lalu desir air. potongan-potongan ranting yang tersangkut

“sampaikan salam pada muara. aku hulu yang berkabung rindu!”

demikianlah senantiasa ia nyanyikan di senja-senja lembab

juga taring waktu yang runcing

 

kisah apa yang tak kuceritakan kepadamu. meski parasmu samar

dan aku hanya melukismu di tebing-tebing batu

kubayangkan seekor belibis putih membasuh paruhnya di tepi sungai

ikan-ikan menggoda. hari begitu saja menjadi penjadi petang

“bukan. aku hanya akar tua yang lapuk direndam musim!”

sesungguhnya suara yang tak ingin kudengar. kau akan berlari

di antara ilalang dan batang-batang

 

sajak ini akan terus kukirim untukmu, kekasih

meski ceritanya selalu saja tentang perih

 

Payakumbuh

 

PENUMPANG

 

bukan tentang lengang. tapi perihal yang membuat mimpi terbelah

sebagaimana burung-burung seolah terusir karena pohon tinggal

canggah-canggah patah. maka berangkatlah!

jika tanah tinggal telah menggali kubur untukmu. dan kebun-kebun

kau tanam tak pernah berbuah. titipkan saja perpisahan pada tepian

bukankah pergi adalah gelang yang melekat di tangan lelaki

 

lalu berbondong-bondong lelaki pun pergi. memesan keberangkatan

menciptakan rantau atau tujuan. simpang-simpang, kedai kopi, stasiun,

juga terminal tengah malam. berangkatlah! sebagai penumpang

lupakan ayunan kanak-kanak yang masih tersimpan. lupakan musim kering

dan lapar yang liar. lupakan juga sengketa tapal-tapal. lupakan!

semakin jauh langkah terayun pergi semakin berarti seorang lelaki

 

bukan tentang lengang. tapi rantau telah dibangun dalam diri

dan mereka yang berangkat, adakah yang memesan tiket untuk kembali

 

Payakumbuh, Januari, 2011

 

PENARI PIRING

 

aku telah datang sebelum jemari di sembahkan. mulai talempong

serta tambur yang diguguh di hampar kaca-kaca ruruh

kusambut senyum jambu muda sewarna baju kurung itu. menarilah!

sebelum malam jadi. dan puput batang padi yang kita sebut serunai

bertingkah berubah lengang. menarilah!

di panggung waktu yang terburu. cawan gelisah yang tersimpan di rumah

hentakan segala sampai derai.o, menarilah!

 

malam lalu

waktu begitu laju

 

cicin gemeretak di antara kaki yang menghentak

lingkaran usia. langit luas kehidupan

dari panggung ke panggung kampung halaman diusung

elok-elok manjek kemauniang, jang sampai dahannyo patah

elok-elok menari piriang, jang sampai piriangnyo pacah

dan di puncak ketika kaca-kaca berhamburan. saat dua piring pecah

ada luka yang tak bisa ia ceritakan

 

Payakumbuh, Juni 2011

(Koran Tempo, 1 April 2012)

Continue Reading
Advertisement

Puisi

(Puisi) Peluklah Lukaku yang menua

mm

Published

on

Peluklah Lukaku yang menua

Betapa jauh waktu

Aku lelah dan takut

Dingin dan menua

Kutuntun langkah setapak

Tiada malam atau siang

Aku hanya ingin pulang

Melihat wajah-wajah

Jadi penunjuk arah

Ke rumah di mana aku ingin rebah

Istirah yang penghabisan

 

Aku tak ingin mencari apa-apa lagi

Aku tak ingin kemana-mana lagi

Aku lelah dan takut..

 

Kekasihku

Peluklah Lukaku yang menua..

November, 2019

 

Karafan Duka

Di luar hujan dan dingin

Malam membusungkan dadanya

Menantang Lukaku yang jadi serigala

 

Aku menembus hutan-hutan jauh

Pohon-pohon telah jadi purba

Senja telah jadi salju beku

Aku seorang diri

Menangis dan takut

 

Melayap dan memburu

Kekosongan demi kehampaan

Duka-duka sepanjang jalan

Luka kupapah sendiri

Tiada siapa lagi kunanti

 

Jika kekasihku tak kembali malam ini

Esok pagi aku telah jadi tanah merah

Hanya bisa menunggu

Karafan duka mengantar

Kekasihku kembali

Sebagai sunyi abadi

 

Biar kukisahkan kekasihku:

Ia gulungan ombak lazuardi

Biru nun kaswah

Pada sampanku ia  melayut

Sekali malam kan juga melagut

 

Bila aku tenggelam

Dukanya kan jadi laut gelap

Hujan datang melayangkan duka

Aku sekali takkan hidup lagi

 

Takdir yang menyeru

Seperti sangkakala diujung waktu

Membangunkanku dari dingin

Dan kekasihku menjelma api

 

Aku letakkan jiwaku

Sebagai arang nasib

Agar terbakar api lukanya

 

Kelak jika kau lihat lukanya

Itulah cintaku yang terbakar

Dan kita tak lagi punya rumah

 

Aku lelah mengungkai

Temali yang melipat jiwaku

Rinduku telah jadi abu

Semalam membakar rumahku

 

2019

*) Meera Sabina,  

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Fr. Alex Sehatang, SVD

mm

Published

on

Fana sefana diri kita

Selalu saja tawa dan tangis beriak tentang kefanaan.
Sefananya diri kita.

Acapkali aku mengintip matamu yang mengutip banyak pertanyaan tentang kefanaan.
Sefananya diri kita.

Tak pernah matamu pandai bermain ilusi selagi selapus polos masih berucap tentang kefanaan.
Sefananya diri kita.

Hei… fana!
Haruskah aku mengajakmu untuk menemui kekal?
Agh…
Memangnya di mana kekal?
Tak ada?
Ya…
Aku fana.
Sefana diri kita.

Bello, 03 Juni 2019


Siapakah aku ini?

Lidya..
Sebersit tanya untukmu perihal nama yang aku sematkan kepada sayap-sayap kicau;
Siapakah aku ini?
Aku tidak tahu siapakah aku, tapi yang aku tahu bahwa kamu tahu siapa aku.
Jadi, aku adalah yang kamu tahu.
Kamu boleh bahkan bisa saja menumpahkan stigma yang bagiku adalah sesuatu misterius.
Mengapa?
Tapi, mungkin itu caramu untuk berkata bahwa itulah aku.
Aku biarkan itu terjadi.
Karna aku percaya yang kamu tahu itulah yang pantas aku yakini tentang pertanyaanku tadi;
siapa aku?

Ledalero, 03 Oktober 2019

Manifestasi 

Aku sementara bertapa bersama Sang Ada bahkan menapak bersama-Nya.
Sementara syahdu di jemari-Nya.

Tetapi, bersama yang ada aku merasa seperti bersama Sang Ada.

Mengapa aku perlu Teduh dan Sunyi bersama yang ada?

Sebab aku melihat Sang Ada hadir dalam yang ada.

Ledalero, 03 September 2019

Toreh

Sss…
Perlu dan haruskah katakan mendiang pada pohon tak bernama.
Ia masih menunggu nama darimu sekadar agar tidak dibilang mendiang.
Sekonyong-konyong agar tidak dikata anker.

Ooo…
Lekaslah agar rayap tidak menggerotinya atau burung enggan melukis peluh pada rantingnya.

Baa…
Tentunya ketika langit memanggil untuk bertanya jawab sudah ada nama pada dirinya
Apalagi di atas sana angin, hujan, panas mengajakmu untuk bersandiwara.

Ttt…
Sigaplah!
Jangan candu dengan semuanya karna kapak sudah di pohon menunggu untuk siap ditebang.

Kuwu, 12 Februari 2019

Fr. Alex Sehatang, SVD

Ledalero-Maumere

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi Sonny Kelen

mm

Published

on

Kopi Yang Lupa Di Teguk

Berhentilah menawarkan janji

Menjadi wanita yang selau tersenyum

Ketika duka di jadikan mesbah tempat segala rahasi di ungkapkan

Entah. Ingin sekali aku mengutuki kepergianmu

Dan tak ingin mengingatmu sebagai luka

Atau sesuatu semacamnya

Sebab kopi tidak lagi menjadi tegukan dari setiap cerita yang di bicarakan

Atau sesuatu semacamnya yang sering menemanimu

Telah kulihat meski di sudut jendela senyummu yang menyerupai surat undangan

Yang berisikan masa depan yang tertunda

Biarlah sajak tentang kopi berakhir di sini

Tempat di mana kau kan mengerti bahwa kopi juga ingin di sapa

Seperti dirimu yang selalu bertanya perihal kabar yang selalu kau rindu

Ledalero, 2019

 

Menunggumu Pulang

Aroma tubuhmu masih tergenang di sini

Tempat di mana aku melihat tubuhmu hilang di tikungan rumah ini

Setiap detik pada tebingnya yang curam

Ada keyakinan selalu hadir sebagai teman baik dalam percaya

“Dia kan pulang untukmu”

Bunyi tik tok jam dinding menjadi akrab denganku

Sebab tidak ada yang mampu di benah sebagai hadirmu yang di tunggu

Bayangkan jika berkali-kali aku menunggu adalah harapan

Kau tak pernah melihat air mata jatuh dari mataku yang pedih

Karena itu kau tidak pernah bosan-bosan membuatku menunggu

Aku akhirnya mengerti

Menunggu seperti belati sebuah janji jika harus aku pilih

(Barangkali menunggu seperti menyisahkan jejak yang dalam

Semacam luka yang tak kunjung kering)

Ledalero, 2019

 

*) Penulis Sekarang Tinggal di Unit Gabriel Ledalero

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending