Connect with us
Iwan Simatupang Iwan Simatupang

Classic Poetry

Puisi-Puisi Iwan Simatupang

mm

Published

on

Apa Kata Bintang Di Laut

Cerita buat Bayu Suseno, bayi Bu Tono

 

Jauh di pulau

ada seorang lanun

penguasa dari suatu selat

tak berbatas tak bertepi

tak bernama tak bersebut

 

Ia tuan tak bernobat

dari daerah tak berpunya

di mana kesunyian dan kegemuruhan

bersipongah dalam suatu kisah

tak berawal tak berakhir

 

Siap dekat siapa rapat

tujuh kali tiarap ditimba ruang

siapa lupa siapa alpa

nakhoda, pala dan janda-janda

kena angin pusaran

atau pitam

 

Ia panglima dari suatu pasukan

tak berbilang tak bernegeri

ia sekutu dari segala hantu

datu badai pengasuh pelangi

 

Ia berasal dari pegunungan

dari puncak mengabut selalu

– di mana jurang, tebing dan bukit

berkisah seharian dalam sepi menggelepar

tentang bayang mengejar sinar

tentang redup memagut cuaca

 

– di mana air terjun dari tinggi menjulang

menghempas diri dalam suatu hisak

tentang titik yang demi titik

tiada jemu cari butir perhentian

 

– di mana bulbul sayu berseru

menghari siamang sepi kerinduan

dan angin lautan swara-swara

di suatu swarga tiada bidari

 

Ah, ini semua ia telah tinggalkan

ketika ia pada suatu hari

dapati orang pantai depan pintunya

bawa kabar:

“Ibumu tiada akan pulang lagi, kawan,

ia telah dibawa pergi oleh orang-orang

datang merompak ke pekan nelayan

dan bawa segala gadis dan janda

dalam kapal layar berpanji hitam

berlambang tengkorak”

 

Sejak itu –

ia telah tempuh

jalan curam menungging pantai

yang ia selama ini hanya pandangi

bila ia terdiri curam atas tebing menghunjam

memagut sinar-sinar terakhir

dari mentari membenam diri

– yang ia selama ini tiada berani jalani

takut bertemu bota-bota

dari dongeng-dongeng ibunya

 

Sejak itu –

ia telah tinggalkan puncak kelabu

dan pergi ke laut lepas

segala selat ia telah harungi

segala teluk ia telah masuki

segala nakhoda ia telah tanya

segala nelayan ia telah sapa

tiada berita

tiada ibu

 

Sejak itu –

ia telah tetapkan

menjadi pencari larut

dari suatu pencarian tak berkedapatan

dalam suatu bumi tak bermentari

– menjadi pelalu sunyi

dari suatu jalan tak berkeakhiran

dalam suatu gurun tak berkelengangan

 

Sejak itu –

ia telah putuskan

jadi ahli waris dari

ayah tiri yang ia tak kenal

pembawa lari ibunya dari pantai

dalam kapal layar berpanji hitam

berlambang tengkorak

 

Jauh di pulau

ada seorang lanun

anak orang utas di pegunungan

pencari kesunyian dalam kegemuruhan

pencari kegemuruhan dalam kesunyian

 

 

 

Requiem

 

Mengenang manusia perang I.H. Simandjuntak: Let., bunuh diri!

 

Aku tiada dapat katakan

apakah pergimu pada fajar atau senja

aku hanya tahu

kau pergi berlangit merah mencerah

 

Sejak kau pergi, prajurit-kematian,

kami berkesulitan menghalau gagak-gagak

ingin berhinggapan di lembah kami

dan berseru seharian dalam suatu lagu

yang bikin kami pada bergelisahan

 

Langit kami kini bertambah mendung

bukan oleh arakan mega yang bawa rintik-rintik

tapi oleh kawanan gagak

yang kian tutupi celah-celah terakhir

dari kebiruan langit jernih

dan kecuacaan mentari

 

Kawan

kami kini memikirkan

pengerahan gadis-gadis dan orang tua kami

untuk menghunus segala tombak dan keris hiasan

yang berpacakan di dinding ruang-ruang tamu kami

sebab

sejak kau pergi

pemuda-pemuda gembala dan petani kami

berlomba-lomba meninggalkan lembah

dan pergi lari ke kota

jadi penunggu taman-taman pahlawan

atau pembongkar mayat-mayat

 

Saksikanlah

di sini ada tantangan dari suatu kemuraman

yang ingin pudarkan segala irama dan kehijauan

dengar

di sini ada kesediaan dari nafas demi nafas

yang ingin pertahankan keluasaan jantung berdetak

dalam deretan detik demi detik

 

Tidak kawan

kami tiada akan mencari pelarian kami

ke dunia tempat mantera berserakan

walau kami tahu

bahwa mantera ditakuti gagak-gagak

dan akan buat langit kami

kembali cerlang

 

Kami benci mantera-mantera

kami benci semua yang bukan datang

dari kelenjar dan darah kami

sebab kami tahu

kekuatan yang dalam tanggapan

adalah jua kelemahan

 

Tidak kawan

kami akan tantang pertarungan ini

tanpa sikap dan gita kepahlawanan

sebab kami tahu

pahlawan berkehunian

bukan di bumi ini.

 

Kami tiada berani ramalkan

kesudahan dari pertarungan ini

kebenaran bukan lagi dalam

ramal, tenung ataupun renung

 

Tapi

andaikata lembah kami

menjadi lembah dari gagak-gagak

dan belulang kami mereka jadikan

bagian dari sarang-sarang mereka

ketahuilah

di sini telah rebah

manusia-manusia yang tiada akan

memikul tanda-tanda tanya lagi

 

Tapi

andaikata gagak dapat kami tiwaskan satu demi satu

dan haruman langit dapat kami hirup dengan luasa kembali

o, kegembiraan kami tiada akan kami unjukkan

dengan sesaat pun jatuh bertiarap di puncak bukit-bukit

kami

sambil menatap kerinduan ke udara kosong

dan membacakan mantera-mantera …

 

Pun tiada akan kami kutuki

pemuda-pemuda kami yang lari ke kota

mencari kegemuruhan dalam menunggui kelengangan

sebab

kami mengibai semua mereka

yang tiada tahu dengan diri

pada kesampaian di tiap perbatasan

 

Inilah langkah pertama kami

kepenginjakan suatu bumi baru

di mana kami bukan lagi tapal

dari kelampauan dan keakanan

tapi

kamilah kelampauan dan keakanan!

 

Inilah tarikan-nafas kami yang pertama

dalam penghirupan udara di suatu jagat baru

di mana nilai-nilai ketakberhinggaan

bukan lagi terletak dalam

ramal, tenung ataupun renung

tapi:

dalam kesegaran dan keserta-mertaan!

 

Aku tiada dapat katakan

apakah pergimu pada fajar atau senja

aku hanya tahu

kau pergi berlangit merah mencerah,

pahlawan!

 

Surabaya, 29 Januari 1953

 

Pengakuan

 

Aku ingin memberi pengakuan:

 

Bulan yang gerhana esok malam

telah kutukar pagi ini

dengan wajah terlalu bersegi

pada kaca yang retak oleh

tengadah derita kepada esok

 

Kulecut hari berbusa merah

 

Jambangan di depan jendela terbuka

menyiram kesegaran pagi dengan

pengakuan:

 

esok adalah bulan purnama

 

Sungai Batanghari, 13 Agustus 1961

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Putri Tidur Dan Pesawat Terbang

mm

Published

on

Oleh GABRIEL GARCIA MARQUEZ

Ia cantik dan luwes, dengan kulit lembut warna roti dan mata seperti buah badam hijau dan rambut hitam lurus menyentuh bahu, dan ia memiliki paras antik yang se-Indonesia orang Andes. Ia mengenakan pakaian sangat halus: jaket bulu lynx, blus sutra alami dengan bunga-bunga lembut, celana panjang katun, dan sepatu bergaris tipis warna bugenvil. “Ini perempuan tercantik yang pernah kulihat,” pikirku saat melihat gadis itu melintas dengan langkah singa betina yang mengendap-endap. Saat itu aku sedang berada di dalam antrian check-in di Bandara Charles de Gaulle, Paris, untuk tujuan New York. Ia sosok adikodrati yang muncul sekelebat dan menghilang di tengah keriuhan terminal.

Pukul sembilan pagi saat itu. Salju turun sepanjang malam, dan lalu lintas lebih padat dari biasanya di jalan-jalan kota, dan lebih merambat di jalur antarkota, di mana truk-truk trailer berbaris di bahu jalan dan mobil-mobil mengalir di permukaan salju. Namun, di dalam bandara tetaplah musim semi.

Aku berdiri di belakang perempuan Belanda tua yang menghabiskan hampir satu jam untuk berdebat tentang berat sebelas kopernya. Saat mulai bosan itulah aku melihat sosok sekelebat yang membuat nafasku tertahan, dan karenanya aku tidak tahu bagaimana percekcokan berakhir. Kemudian petugas tiket menyadarkan lamunanku dengan suara sengitnya. Sambil meminta maaf, aku menanyakan kepadanya apakah ia mempercayai cinta pada pandangan pertama. “Tentu saja,” kata perempuan itu. “Mustahil ada cinta jenis lainnya.” Ia terus mengarahkan matanya ke layar komputer dan menanyakan apakah aku lebih suka di tempat merokok atau yang bebas asap rokok.

“Yang mana saja,” kataku dengan suara yang kubuat sengit, “asalkan tidak bersebelahan dengan sebelas koper.”

Ia menyampaikan rasa terima kasihnya dengan senyum komersial tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.

“Pilih mana,” katanya, “tiga, empat, atau tujuh.”

“Empat.”

Ia tersenyum penuh kemenangan.

“Selama lima belas tahun saya bekerja di sini,” katanya, “Anda orang pertama yang tidak memilih tujuh.”

Ia menulis nomor kursi di boarding pass-ku dan mengembalikannya bersama dokumen-dokumenku, lalu memandangku untuk kali pertama dengan matanya yang berwarna anggur, sebuah hiburan sampai aku bisa melihat si Cantik lagi. Kemudian ia memberi tahu bahwa bandara baru saja ditutup dan semua penerbangan ditunda.

“Berapa lama?”

“Terserah Tuhan,” katanya sambil tersenyum. “Radio mengabarkan tadi pagi bahwa ini akan merupakan badai salju terbesar tahun ini.”

Ia keliru: Ini yang terbesar abad ini. Tapi di ruang tunggu kelas satu, musim semi begitu murni sehingga mawar-mawar tiruan di vas dan bahkan musik kacangan terasa luhur dan menenteramkan sebagaimana yang diinginkan penciptanya. Tiba-tiba terpikir olehku bahwa mestinya inilah tempat yang cocok untuk si Cantik, dan aku mencarinya di ruang tunggu lain, sempoyongan oleh kenekatanku sendiri. Tetapi hanya kujumpai orang-orang biasa, kebanyakan para lelaki yang membaca koran berbahasa Inggris sementara istri-istri mereka memikirkan orang lain sembari memandangi pesawat-pesawat yang mampus di tengah salju, es di mana-mana, dan landasan pacu yang kocar-kacir. Menjelang tengah hari tidak ada tempat duduk tersisa dan udara gerah tak tertahankan. Aku keluar untuk mencari hawa segar.

Di luar kulihat pemandangan yang mengerikan. Segala macam orang memadati ruang tunggu dan mereka berserakan di koridor yang penuh sesak dan bahkan di tangga, berbaring di lantai dengan hewan mereka, anak-anak mereka, dan barang bawaan mereka. Hubungan dengan kota juga terganggu, dan istana plastik ini, yang menyerupai kapsul ruang angkasa sangat besar, teronggok di tengah badai. Aku tidak habis-habisnya memikirkan bahwa si Cantik juga pasti berada di suatu tempat di tengah gerombolan orang-orang yang lesu, dan fantasi tersebut mengilhamiku dengan keberanian baru untuk menunggu.

Ketika tiba makan siang kami menyadari bahwa kami karam. Antrian memanjang tak berkesudahan sampai keluar dari tujuh restoran, kafetaria, bar-bar kecil, dan dalam waktu tak sampai tiga jam semuanya tutup karena makanan dan minuman ludes. Anak-anak, yang untuk sesaat tampak tak ada bedanya dengan semua anak lain di muka bumi, mulai menangis bersamaan, dan bau ternak mulai meruap dari kerumunan orang-orang. Inilah waktu untuk naluri. Di tengah orang-orang yang berebut, satu-satunya yang aku bisa dapatkan adalah dua cangkir terakhir es krim panili di toko anak-anak. Para pelayan menaruh kursi-kursi di atas meja begitu para pelanggan pergi, sementara aku pelan-pelan saja menikmati es krim di dekat konter, memandangi diri sendiri di cermin dengan cangkir karton kecil es krim terakhir dan sendok karton terakhir, dan berpikir tentang si Cantik.

Pesawat ke New York, yang dijadwalkan pukul sebelas siang, baru berangkat pukul delapan malam. Saat aku masuk pesawat, para penumpang kelas satu sudah duduk di tempat masing-masing, dan seorang pramugari menunjukkan kursiku. Di dekat jendela, si Cantik sedang mengatur duduknya dengan kecakapan seorang pelancong yang berpengalaman. “Kalau sampai kutuliskan hal ini, pastilah tak akan ada yang percaya,” pikirku. Dan aku mengucapkan salam terbata-bata yang ia tidak dengar.

Ia mengatur tempat duduknya seolah-olah akan menetap di sana bertahun-tahun, meletakkan segala sesuatu secara rapi dan tertata, sampai-sampai tempat duduknya tampak begitu teratur seperti rumah idaman, yang segala sesuatu berada di tempat semestinya. Sementara itu, seorang pelayan membawakan untuk kami sampanye pembuka. Aku mengambil segelas dan akan menyodorkannya kepada si Cantik, tetapi kupikir waktunya tidak tepat. Karena ia hanya meminta segelas air putih, dan ia berpesan kepada pelayan, mula-mula dalam bahasa Perancis yang tak terpahami dan kemudian dalam bahasa Inggris yang sedikit lebih lancar, agar tidak membangunkannya selama perjalanan dengan alasan apa pun. Suaranya yang serius dan hangat terdengar sangat murung.

Saat pelayan memberinya air, si Cantik meletakkan kotak kosmetika dengan tembaga di sudut-sudutnya, mirip koper nenek-nenek, di atas pangkuan, dan mengambil dua butir pil keemasan dari tempatnya yang juga berisi pil-pil lain berbagai warna. Ia melakukan segala sesuatunya secara tertib dan khidmat, seolah-olah tidak pernah mengalami kejadian tak terduga sejak lahir. Akhirnya ia menurunkan penutup jendela, merendahkan sandaran kursi, menyelimuti dirinya sampai pinggang tanpa melepas sepatu, mengenakan masker tidur, mengubah posisinya jadi memunggungiku, dan kemudian tidur tanpa jeda sama sekali, tanpa menghela nafas, tanpa berubah posisi sedikit pun, selama delapan jam nonstop ditambah dua belas menit waktu penerbangan ke New York.

Ini penerbangan yang menggairahkan. Aku selalu meyakini bahwa tidak ada yang lebih indah di alam ini selain wanita cantik, dan mustahil bagiku untuk berpaling sesaat saja dari sihir makhluk dongeng yang tidur di sebelahku. Pelayan lenyap begitu kami mulai terbang dan digantikan oleh pramugari kaku yang mencoba membangunkan si Cantik untuk menyerahkan kepadanya kotak perlengkapan cuci muka dan earphone untuk mendengarkan musik. Aku mengulangi pesan yang disampakan oleh si Cantik kepada pelayan, tetapi pramugari ini berkeras ingin mendengar sendiri dari mulut si Cantik apakah ia juga tidak menginginkan makan malam. Pramugari harus memastikan pesan tersebut, dan dengan nada meremehkan ia mengatakan kepadaku bahwa si Cantik tidak mengalungkan tanda “Jangan Mengganggu” di lehernya.

Aku makan makan sendirian, mengatakan dalam hati semua ucapan yang akan kusampaikan kepadanya seandainya ia terjaga. Tidurnya tidak berubah sama sekali sehingga sempat terlintas di benakku rasa cemas jangan-jangan pil yang ditelannya tadi bukan pil untuk tidur melainkan pil untuk mati. Setiap kali meneguk minuman aku mengangkat gelas dan bersulang.

“Untuk kesehatanmu, Cantik.”

Ketika makan malam usai lampu-lampu diredupkan dan film diputar tidak untuk siapa pun dan kami berdua terpisah di dunia gelap. Badai terbesar abad ini sudah berakhir, dan kami menembus malam yang amat besar dan jernih di atas Atlantik, dan pesawat seperti tak bergerak di antara bintang-bintang. Kemudian aku menekurinya, sangat teliti, selama beberapa jam, dan satu-satunya tanda kehidupan yang bisa kukenali adalah baying-bayang mimpi yang melintas di dahinya seperti awan di atas perairan. Di lehernya terlilit kalung sangat halus sehingga nyaris tak tampak di kulitnya yang keemasan, telinganya yang sempurna tidak ditindik, kuku-kukunya memerah segar, dan di tangan kirinya ada cincin polos. Karena ia paling banter baru dua puluh tahun, aku menenteramkan diri dengan pikiran bahwa itu bukan cincin kawin melainkan tanda ikatan sementara saja. “Melihatmu tidur, tenteram, damai, setia menolak, murni, sedekat itu dengan tanganku yang terbelenggu,” pikirku di puncak buih sampanye, menirukan puisi apik Gerardo Diego. Kemudian kuturunkan sandaran kursiku sejajar dengan sandaran kursinya, dan kami berbaring bersama, lebih dekat ketimbang suami istri di ranjang. Suhu nafasnya sehangat suaranya, dan kulitnya menghembuskan nafas sangat halus sehingga hanya tercium aroma kecantikannya. Rasanya luar biasa: di musim semi lalu aku membaca novel bagus Yasunari Kawabata tentang para borjuis kuno dari Kyoto yang membayar mahal untuk melewatkan waktu semalaman mengamati gadis-gadis paling cantik di kota mereka, telanjang dan terbius, sementara di ranjang yang sama para borjuis itu disiksa oleh cinta. Mereka tidak boleh membangunkan atau menyentuh gadis-gadis itu, bahkan mencoba pun tidak boleh, karena inti dari kesenangan tersebut adalah melihat mereka tidur. Malam itu, saat aku memandangi si Cantik sedang pulas, tidak hanya aku jadi memahami kesenangan orang-orang pikun itu, tetapi benar-benar mengalaminya.

“Siapa sangka,” pikirku, keterpurukanku diperburuk oleh sampanye, “bahwa aku akan menjadi orang Jepang kuno di masa sekarang?”

Kupikir aku tertidur beberapa jam, dihajar oleh sampanye dan ledakan tanpa suara di film, dan kepalaku sedikit pening ketika aku bangun. Aku pergi ke kamar kecil. Dua kursi di belakangku wanita tua dengan sebelas koper berbaring berantakan, seperti mayat di medan perang. Kacamata bacanya, dengan rantai manik-manik berwarna-wani, jatuh di lantai, dan sesaat aku menikmati perasaan dengki untuk tidak mengambilkannya.

Setelah terbebas dari pengaruh sampanye, aku memandangi diriku sendiri, tampak buruk dan hina, di cermin, dan takub bahwa kehancuran oleh cinta bisa sedemikian mengerikan. Pesawat tiba-tiba terguncang dan kemudian meluruskan jalannya dan terus melaju dengan kecepatan penuh. Tanda “Kembali ke Tempat Duduk Anda” menyala. Aku bergegas keluar dengan harapan bahwa turbulensi yang dikirimkan Tuhan itu bisa membangunkan si Cantik dan ia perlu mencari perlindungan kepadaku untuk mengatasi ketakutannya. Dalam langkah tergesa-gesa, hampir saja aku menginjak kacamata si wanita Belanda dan alangkah gembiranya jika itu terjadi. Namun aku kembali lagi, memungut kacamata itu, dan meletakkannya di pangkuan sang pemilik dengan rasa syukur yang muncul tiba-tiba karena ia tidak mendahuluiku memilih tempat duduk nomer empat.

Tidur si Cantik tak tertaklukkan. Ketika pesawat kembali stabil, aku sangat tergoda untuk mengguncangnya dengan dalih tertentu, karena yang kuinginkan pada satu jam terakhir penerbangan adalah melihatnya bangun, bahkan sekalipun ia akan sangat marah, sehingga aku bisa merasa lega, dan mungkin kembali muda. Tetapi aku tidak sanggup melakukannya. “Sialan,” aku mencemooh diriku sendiri dalam hati. “Kenapa aku tidak terlahir sebagai Taurus!”

Ia terbangun sendiri pada saat lampu pendaratan menyala, dan ia cantik dan segar seolah-olah baru saja tidur di kebun mawar. Saat itulah aku menyadari bahwa, seperti pasangan yang sudah lama menikah, orang-orang yang duduk berdampingan di pesawat bisa tidak saling mengucapkan selamat pagi satu sama lain ketika mereka bangun. Begitu pula si Cantik. Ia melepas maskernya, membuka matanya yang cemerlang, menegakkan sandaran kursi, menyingkirkan selimut, mengibaskan rambutnya, meletakkan kotak kosmetika ke pangkuannya, dan berdandan secara cepat yang sesungguhnya tidak diperlukan, yang menghabiskan cukup waktu untuk tidak melihatku sampai pintu pesawat dibuka. Kemudian ia mengenakan jaket bulunya, nyaris jatuh saat melewatiku dan mengucapkan maaf ala kadarnya dalam bahasa Spanyol Amerika Latin, berlalu tanpa mengucapkan selamat tinggal atau setidaknya terima kasih atas segala yang telah kulakukan untuk membuat perjalanan kami menyenangkan, dan menghilang di terik matahari hutan Amazon New York. (*)

—————————-

*Gabriel José de la Concordia García Márquez adalah seorang novelis, jurnalis, penerbit, dan aktivis politik Kolombia. Ia dilahirkan di kota Aracataca di departemen Magdalena, namun hidupnya kebanyakan dijalaninya di Meksiko dan Eropa.

**Cerita pendek ini diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari terjemahan berbahasa Inggris Edith Grossman “Sleeping Beauty and the Airplane”, dalam kumpulan cerpen STRANGE PILGRIMS.

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi-Puisi Alexander Pushkin

mm

Published

on

Alexander Pushkin

Kucintai Kau

 

Engkau kucintai; cinta, barangkali;

Belum begitu sirna di jiwaku;

Tetapi biarkanlah ia lebih banyak tidak mengusikmu;

Aku tak mau mendukakanmu sebintik pun

Engkau kucintai dengan diam-diam, dengan tanpa pengharapan,

Kadang dengan ketakutan, kadang dengan hasad

kita menyiksanya

Kucintai kau dengan tulus yang sangat,

dengan lembut yang sangat

Demikianlah Tuhan menganugrahimu

untuk dicintai oleh yang lain

 

1829

 

Arrivederci

 

Dengan seberaninya, buat yang penghabisan kalinya

Aku membelai-belai wajahmu yang kekasih di dalam pikiran,

Membangkitkan impian dengan kekuatan hati

Dan dengan rasa takut yang lemah dan

Dengan kemuraman mengenang cinta bagimu.

Tahun-tahun kita saling silih berganti berkejaran

Mengubah segalanya, mengubah kita

Tentunya engkau dengan pakaian gelap perkabungan

Diperuntukkan bagi penyairmu

Dan sahabatmu ini telah mati untukmu.

Damaikanlah sahabatku yang jauh

Rasa berpisah hatiku

Bagaikan seorang istri yang tanpa suami

Bagaikan seorang sahabat,

Yang memeluk sahabatnya dengan diam-diam

Menjelang pemenjaraannya

 

1830

 

Aku Di Sini, Inesilla

 

Aku di sini, Inesilla,

Aku di sini di bawah jendela.

Sevilla direngkuh

Kegelapan dan mimpi.

Kegagahan menjejali aku,

Aku diselubungi jubah hujan,

Dengan sebilah gitar dan pedang

Aku di sini di bawah jendela.

Kau tidurkah? Dengan bunyi gitar

Kau bakal aku bangunkan.

Lelaki tua-kah yang bangkit dari tidurnya,

Dengan pedang aku akan baringkan dia.

Tingkap sutra

Pasangkan di jendela…

Mengapa kau berlama?.. Tidakkah ada

Orang lain di sini?..

Aku di sini, Inesilla,

Aku di sini di bawah jendela.

Sevilla direngkuh

Kegelapan dan mimpi.

 

1830

 

 

Persembahan Kepada Seseorang

 

Aku ingat keselintasan yang memberi takjub:

Engkau muncul di hadapanku

Bagai pemandangan yang sepintas lalu

Bagai rupawanan sejati yang begitu pintar.

Dalam kelelahan kesedihan yang tanpa pengharapan,

Dalam kecemasan kesia-siaan yang ramai,

Suara yang lembut lama memanggilku

Dan sifat-sifat yang jelita saling mengimpikan.

Tahun-tahun berlalu.

Tiupan angin badai melawan

Menghilangkan impian-impian yang dulu,

Dan aku melupakan suaramu yang lembut,

Sifat-sifat surgamu.

Di pelosok yang sudut, di dalam kegelapan pemenjaraan

Dasar hatiku menggeliat lirih.

Tanpa kedewaan, tanpa inspirasi,

Tanpa butiran air mata, tanpa kehidupan,

Tanpa kecintaan.

Rasa untuk bangun mulai datang kembali di dalam jiwa

Dan sekali lagi engkau muncul

Bagai pemandangan yang sepintas lalu

Bagai kebagusan cerah yang begitu pintar.

Dan hati dihempas dalam kegiuran yang sangat

Dan kedewaan, dan inspirasi

Dan hidup, dan butiran air mata

Dan cinta

Menghidupkan kembali hati sekali lagi.

 

1825

 

Malam Hari

 

Untukmu, suaraku yang halus dan lelah

Mengusik kebisuan larut dari malam gelap

Lilin yang sedih di dekat peraduanku

Bersinaran; sajak-sajakku, bersenyawaan dan berdeburan,

Beraliran, anak sungai kasih sayang, beraliran, dijejali olehmu

Dalam kegulitaan matamu bercahayaan di depanku,

Bersenyuman padaku – dan aku mendengar suara-suara:

Karibku yang lembut, karibku … kau aku asmarai

Dan aku adalah milikmu

adalah milikmu

 

1813

 

Demi Tepian Pantai Tanah Negeri Yang Jauh

 

Demi tepian pantai tanah negeri yang jauh

Kau tinggalkan tempat lain;

Di detik-detik yang tak terlupakan, di detik-detik yang menyedihkan

Aku menangis begitu lama di depanmu.

Tanganku yang terasa dingin

Berusaha menahankanmu;

Keluh rintihku memohon-mohon kepadamu untuk tidak menghentikan

Rasa ngilu berpisah yang mengerikan.

Tetapi kau, lantaran ciuman yang menyusahkan hati

Mengatupkan kedua bibirmu;

Dari tempat pelarian yang suram

Kau memanggilku ke tempat yang lain.

Kau katakan: “Di hari bersua

Di bawah langit biru yang kekal,

Di dalam bayangan pohon-pohon zaitun dan ciuman cinta

Kita sekali lagi, kawanku, akan bersatu.”

Tetapi di sana, di mana lengkung langit

Bercahayaan di dalam kilauan membiru,

Di mana bayang pohon-pohon zaitun jatuh di atas air,

Kau tertidur dengan mimpimu yang penghabisan.

Kecantikanmu, penderitaanmu

Lenyap di dalam jambangan abu mayat –

Dan dengan kecantikan dan derita, ciuman pertemuan sirna

Tetapi aku menantikan sentuh cium itu; yang memanggil-manggilmu

 

1830

 

Bukit Georgia

 

Di bukit-bukit Georgia kegelapan malam merentang;

Aragva mericik lirih di hadapanku.

Aku merasa sayu dan mudah; kedukaanku berpancaran;

Kedukaanku dipenuhi olehmu,

Kecuali olehmu; olehmu seorang

Tidak ada yang menyiksa kemurunganku,

Tidak ada yang mengusik,

Dan hati sekali lagi kembali menyala

Dan mencintai – sebab itulah,

Hati tidak sanggup tidak mencintai.

1829

 

 

 

*Puisi-Puisi Alexander Sergeyevich Pushkin ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti. Penerjemah pernah menimba bahasa Rusia langsung dari negeri Beruang Merah. Kini ia mengajar Sastra dan Bahasa di Universitas Padjajaran, Bandung.

 

**Alexander Sergeyevich Pushkin, dipandang sebagai sastrawan besar Rusia bukan hanya karena sejumlah karya yang dia hasilkan seperti puisi The Bronze Horseman, The Stone Guest, Mozart and Salieri, atau karya favoritnya Eugene Onegin.  Lebih dari itu, dia diakui sebagai peletak dasar bahasa Rusia modern. Bahasa yang digunakan dalam berbagai karya Pushkin menjadi benchmark yang diikuti sastrawan-sastrawan Rusia yang hidup setelahnya, seperti Ivan Turgenev, Ivan Goncharov dan Leo Tolstoy. Muridnya, Nikolai Gogol begitu mengagungkan Pushkin.

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi-Puisi W.S Rendra

mm

Published

on

Puisi-Puisi W

Pamflet Cinta

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Aku menyaksikan zaman berjalan kalang-kabutan.
Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
Aku merindui wajahmu.
Dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
Kenapa keamanan justeru menciptakan ketakutan dan ketegangan.
Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sihat.
Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan.

Suatu malam aku mandi di lautan.
Sepi menjadi kaca.
Bunga-bungaan yang ajaib bertebaran di langit.
Aku inginkan kamu, tetapi kamu tidak ada.
Sepi menjadi kaca.

Apa yang bisa dilakukan oleh penyair
Bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan?
Udara penuh rasa curiga.
Tegur sapa tanpa jaminan.

Air lautan berkilat-kilat.
Suara lautan adalah suara kesepian
Dan lalu muncul wajahmu.

Kamu menjadi makna.
Makna menjadi harapan.
Sebenarnya apakah harapan?

*

Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.
Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.
Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.
Aku tertawa, Ma!
Angin menyapu rambutku.
Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.

Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.
*

Punggungku karatan aku seret dari warung ke warung.
Perutku sobek di jalan raya yang lenggang
Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.
Aku menulis sajak di bordes kereta api.
Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.

Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,
Aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.

Lalu muncullah kamu,
Nongol dari perut matahari bunting,
Jam dua belas seperempat siang.
Aku terkesima.
Aku disergap kejadian tak terduga.
Rahmatku turun bagai hujan
Membuatku segar,
Tapi juga menggigil bertanya-tanya.
Aku jadi bego, Ma!

Yaaahhhh, Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.
Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,
Dan sedih karena kita sering terpisah.
Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.

Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih?
Bahagia karena nafas mengalir dan jantung berdetak.
Sedih karena fikiran diliputi bayang-bayang.
Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

W.S. Rendra
Sajak Matahari

Matahari bangkit dari sanubariku.
Menyentuh permukaan samodra raya.
Matahari keluar dari mulutku,
menjadi pelangi di cakrawala.

Wajahmu keluar dari jidatku,
wahai kamu, wanita miskin !
kakimu terbenam di dalam lumpur.
Kamu harapkan beras seperempat gantang,
dan di tengah sawah tuan tanah menanammu !

Satu juta lelaki gundul
keluar dari hutan belantara,
tubuh mereka terbalut lumpur
dan kepala mereka berkilatan
memantulkan cahaya matahari.
Mata mereka menyala
tubuh mereka menjadi bara
dan mereka membakar dunia.

Matahri adalah cakra jingga
yang dilepas tangan Sang Krishna.
Ia menjadi rahmat dan kutukanmu,
ya, umat manusia !

 

Yogya, 5 Maret 1976
Dalam: Potret Pembangunan dalam Puisi

Continue Reading

Trending