Connect with us

Puisi

Puisi Puisi Vitra Fhill Ardy

mm

Published

on

Gigil 

ia biarkan tubuhnya menggigil

oleh luapan angin

 

halte bus sekolah pukul 3 pagi.

ia sengaja pundaknya

jadi sandaran perempuan itu

 

kedua tangan saling menggenggam

amarah basah dari kelopak mata.

 

bulan temaram, langit pucat pasi

kematian lebih dari puisi patah hati.

 

2018

 

Berangkat

isi lemari itu berantakan seperti jam dinding

tua yang berdebu

 

baju-baju terserak, tas kosong minta diisi

 

lengang jalan bukanlah tanda kesunyian

untukmu

kita mesti ingat detik itu lagi

 

kau, ringkih bulan

dan aku angin dingin yang senantiasa

berpaling

 

jangan pergi, katamu

padahal kau bilang dadamu lapang

dan siap menerima segala kangenku

 

Jakarta, 2018

 

Pindah Rumah

semuanya masih milikmu, sayang.

masa tua dan bertambahnya usia, balsem

gosok dan kalender,

 

udara panas, gorden jendela, uban, hafalan

doa-doa

 

malam dan sedih dan senangmu.

 

kau bilang bakal repot tapi adakah yang

sederhana?

 

di hadapan puing-puing, semuanya masih

tetap milikmu.

 

meski jejak kaki akan selalu tertinggal di

sana.

2018

 

Depan Ranjang Ayah Saya

 

ia lupa mengucapkan namanya

sebab rasa sakit terlalu

banyak menyerap kata-kata

 

kedua kakinya bergetar dan

dengkul bergemeletuk

 

ingatannya mulai seperti ayah yang

merantau tetapi lupa pulang

 

udara dingin

udara dingin

 

ia ingin dipeluk sekali lagi

 

2018

 

Buat Elis

ketika aku tahu apa itu cinta

aku mengenalmu

mengenal getar dan debar

detak jantung itu

pada hujan pertama

yang membasahi raga kita

 

maka saat kau seka kening

dan rambut tipismu

yang panjang,

 

aku jadi ingat

 

aku jadi ingat senyum

yang kau selipkan untukku

di pertemuan sebentar dengan

teman-teman kita ketika dulu

 

namun apa arti masa dulu, lis

jika sekarang aku tak tahu

di mana engkau punya suara?

Jakarta, 2017

*) Vitra Fhill Ardy: Lahir di Tangerang, 8 April 1997. Mail: vitrafardy@gmail.com

 

 

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Tak ada Vodka di Jakarta

mm

Published

on

“Tak ada Vodka di Jakarta”

 

Dalam perjamuan siang

Memakan domba

Sambil memamah luka

 

Aku memesan vodka

Untuk melarutkan duka

Menenggelamkannya diam-diam

Ke dasar jiwa

 

Hidup yang kecut

Waktu yang getir

Dengan itu kita kepayang

Dalam perjamuan siang itu

 

Waktu segera senja

Aku memesan lagi vodka

Tak kusangka aku tenggelam

Di lautan sajak yang malam

 

Pernahkah laut menjadi malam?

Dan sajak sajak mabuk kepayang?

Pada siapa ia memesan luka

Pada siapa ia bercerita

Tentang dukanya pada senja

Tentang kecewanya pada malam

 

Lautan tak punya kata-kata

Meski ia terbuat dari kata-kata

Lautan tak punya cinta

Meski ia dibuat dari asmara

 

Sajakku sajak kepayang

Dibuat dari vodka dan derita

Yang bergumul di awal malam

Lalu telanjang di kala subuh

Sendirian dan kedinginan

 

Aku memesan kopi

Untuk jamuan malamku

Tapi tak kubuat sajakku dengan kopi

 

Aku tak mau menulis sajak lagi

Aku ingin membuat laut

Aku ingin membuat malam

Dengan vodka dan duka

 

“Sudah malam, tidur.” Katamu

“Aku lelah berusaha tidur.” Balasku

 

Aku ingin memesan vodka

“tak ada vodka di Jakarta!”

__

“Sajak Cinta”

 

Telah kutulis sajak cinta

Tapi sajakku tenggelam

Di dasar kepahitan

 

Orang menyelam mengambilnya

Sebagai sublim

Tapi mereka tak membacanya

 

Maka aku ingin menulis sajak lagi

Sebagai dendam jiwa

Agar aku tak gila sendiri

 

Oh manisku

Sejak kapan sajak sajak itu

Berganti rupa jadi candu

Di mana orang-orang

Berpesta dengannya

Sementara kita

Tenggelam dalam kepahitan

__

*) Sabiq Carebesth: Penulis lepas, atau semacamnya. 

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Firza Yasmina

mm

Published

on

Perjalanan Pulang

 

Dalam rangkaian singkat waktu, masa berlalu cepat,

Jam jam dalam perjalanan pulang

Penat mengarung; aku bertahan.

 

Berdiri dempet dalam bis; waktu melambat begitu lambat

Orang berbondong mendahului satu sama lain

Bergegas beringas, batinku terasa guncang

 

Pulo Gadunggg, Cibuburrr, Kotaaa

Entah suara panggilan untuk siapa?

Seringkali aku hanya terdiam dalam barisan para penumpang,

Nanti waktu membawaku juga pulang,

Lalu sekejap dunia menari berdendang

dalam gemerlap lampu lampu remang.

 

Perjalanan pulangku terasa seperti waktu tak bergerak

Sebuah tindakan serupa, namun selalu saja dengan tempo yang tak berirama,

Muka asing yang lelah membeku dengan banyak koma,

Melukis kotaku sekaan ia sendiri ingin pulang.

 

Kamu tahu ada sekitar 135 langkah kecil

Kita telusuri di jembatan transjakarta,

Ada sekitar 49 anak tangga yang kita panjat untuk naik kereta cepat

15 garis putih dan hitam sepanjang jalan sudirman.

 

Tapi sekejap mata langit merah muda itu menjelma menjadi kehitaman,

merindu rembulan yang akhirnya kembali ke pemukiman.

Perjalanan ku pulang rasanya mudah dan sulit,

seperti menuangkan nya dalam barisan tulisan

yang sekarang kau tengah membacanya

dengan umpama-umpama yang terbata.

_

Zayasmina, 19/09/19

 

Patahan Hati

Maafkan saya yang setengah hati

Menanggapi dialog antara kita yang kian basi,

Tapi saya bisa apa,

Biar aku kembali terbenam

Dalam cinta yang fiksi;

……………………………………

Zayasmina, 09/23/2019

*) Firza Yasmina, terlahir di Ibu Kota Jakarta tepat 23 tahun yang lalu. Duta Bahasa DKI Jakarta 2017. Tinggal di Utan Kayu.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Ozi Marzuki

mm

Published

on

Kotamu Ingin Bunuh Diri

 

Ular naga panjang –Kata nyanyian kita waktu kecil

Menuju ke kotamu

Tapi tidak dengan kotaku

Mengangkut pikiran yang ingin pulang

Tapi raga memutuskan untuk tetap tinggal

Ada apa dengan kotaku dan kotamu?

keduanya penuh dengan persetujuan yang tidak disetujui

 

Kotaku tidak habis pikir pada dirinya

Terlalu banyak kesamaan dalam rupanya

Kata kotaku, kotamu juga demikian

Dia punya noda yang terlalu banyak

Hingga kotamu dianggap tidak suci

Meski sudah mencoba wudhu berkali-kali

 

Kabar terbaru; kotamu ingin bunuh diri

Tapi kotaku bilang lebih baik mengasingkan diri

Karena sendiri untuk sementara layak dicoba

Dibanding sendiri untuk selamanya

 

Satu kesempatan kota kita berbincang

Tentang Ibu yang dalam waktu dekat akan hilang

Memang selama ini Ibu merepotkan

Tapi pelukannya yang menghangatkan juga dirindukan

 

Ayah bilang Ibu pergi karena sayang

Tapi mana ada sayang tanpa kasih

Keduanya saling membutuhkan

Seperti kotamu butuh kotaku.

 

Tiga Pagi

 

Dari dengkur yang tersungkur di telinga

Kau telah berdua menindih aku yang ke-tiga

Kesendirianmu menemukan kesendirian lain;

Bukan kesendirianku

 

Bukan maksud ingin punya kesunyianmu

Tapi aku benci

Sunyimu berisik bukan dengan sunyiku.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending