Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi Halim Bahriz

mm

Published

on

Pagi yang Tak Lagi Seperti Ibu

Larut malam mirip warisan ayah tiri dan sore hari

mirip wajah perawan yang mati dalam dekapan.

 

Kota seperti sebuah lantai dengan tumpahan liur vagina

yang sempoyongan merangkai kalimat sebab mabuk berat.

Akulah si piatu sintetis yang lahir dari rahim yang amnesia.

 

Cuma asbak penuh putung rokok yang mendengarku

bergumam, ketika kantuk menyederhanakan waktu.

 

Hidup seperti mimpi; cerita usai setelah tubuh terjaga.

 

O, kematian—yang terus berulang. O, adegan-adegan

tanpa sebuah pagi yang membuatku merasa kanak kembali

sebentar: menatap sulur cahaya, bingkai pintu atau jendela

seperti menonton telur menetas dalam adegan lamban.

 

Hari-hari membagi panggung untuk peran-peran aneh,

mirip akar-akar tanaman dalam pot di persimpangan jalan

: harus hijau dan mesti riang berbunga, meski harga diri

dan warna kata telah terlepas dari jalinan semesta.

Bahagia tubuh telah etalase di luar habitat manusia

H.B. 2017

10 Tahun Usia Percintaan Kami

Malam ini, setelah komuter ini berhenti di Cikini

dan tubuhku terlepas dari pintu, maka 10 tahun sudah

kereta dan diriku berbagi cerita dan kebosanan.

Orang-orang itu lagi. Orang-orang itu lagi.

Si pembaca renta dan lelaki belia yang jakunnya

kini telah menggiurkan. Tubuh-tubuh lelah yang lupa

di mana harus meletakan dirinya. Mata-mata marah

yang gagal mencari-cari bidikan. Pula anak-anak kecil

yang selalu tampak piatu di pangkuan ibunya.

 

Merk-merk segar pada penumpang, sajak-sajak iklan

pada bilah pintu, bergilir memberi pemandangan baru.

Di luar, gelap kian gemerlap dan sebingkai kaca jendela

mirip televisi mati; 15 meter kesunyian mengambang

di udara kota.

 

Pernahkah kaulihat wajah sendiri dalam monitor mati,

berlama-lama? Seperti menonton mimpi sesosok mayat,

ruh yang menunggu. Atau, rindu sebuah makam yang

terlalu lama tak diziarahi calon pemiliknya.

 

Sebentar lagi, ketika komuter telah berhenti di Cikini,

setelah kaki-kakiku menapak pinggir jalan dan telingaku

benar-benar mendengar syahdu kesombongan bunyi sepatu,

maka selain angka yang bertambah—sungguh aku tak tahu

: apakah akan ada yang terasa wajar dan tak berulang

setelah ini, pada malam-malam berikutnya.

 

Maksudku, benar-benar berubah.

H.B. 2017

Menyewa Kepulangan

Kami berpulang kepada malam; di bangku taman,

emperan toko, atau losmen pemberian suami orang.

Rumah serupa kondom. Tidur selengang genangan.

***

Hampir tiap subuh, aku terjaga mirip orang berkemas

dari bencana. Seringkali lupa membenarkan letak tulang,

pula terbiasa abai membersihkan sisa-sisa bangkai sejarah

di sela-sela gigi; di dalam rahang tempat mimpi-mimpi

cepat menjadi basi dan darah daging menjelma fosil.

 

Aku seperti tak bisa mencintai apapun di kota ini.

 

Orang-orang melihatku seperti melihat kain sobek dan

melihat kain sobek seperti melihat kain sobek. Orang-orang

melihat caraku berjalan seperti melihat pembalut yang hanyut

dan melihat pembalut yang hanyut seperti melihat pembalut

yang hanyut. Seolah diriku pewarisi arus sungai yang tenang.

 

Ingin kulihat mata; orang-orang yang melihatku seperti melihat

lubang knalpot mobil mewah yang melindas sisa kubangan hujan

dari siklus musim yang mereka lupakan. Tapi mata orang-orang

tak pernah melihatku yang sedang melihat mereka yang juga

sedang melihatku. Melihat diriku seperti pembalut sobek

untuk sejarah yang dilanda menstruasi abadi.

 

Aku tertimpa siklus keharuan buatan partai politik!

 

Mereka membuatku melihat diri seperti tetesan air melubangi

arus sungai yang tenang di bawah malam. Tubuhku menyimpan

seluruh jenis bau toilet umum yang dimiliki pemerintah, serupa

cara orang buta menampung seluruh kosakata percakapan tentang

kota tempatnya tinggal.

Aku tak pernah tahu siapa yang berulang mengencingiku

dan mewariskan perasaan terlantar sebusuk ini.

Mataku melihat waktu mirip lubang sanitasi dalam adegan

bunyi dari keran yang tak sempurna dimatikan.

 

Tapi malam ini tubuhku telah disewa seorang lelaki, yang

kedalaman mata dan dagingnya menyimpan doa-doa tua tak

dikabulkan. Degup jantungnya mirip kebenaran yang menangis,

menahan isak dan bisik. Aku lupakan diriku, sebab lebih dulu

khusuk mendengar bekas jerit kemiskinan yang jauh.

 

“Kelelakianku berabad-abad difermentasi pembangunan,”

katanya. Aku tak mengerti. Lalu ia bilang, aku telah lebih

dari sekadar mengerti. Tapi aku makin tak mengerti. Ia

memandangku seperti megah monumen dan mulai bicara

seperti pidato pemabuk kepada patung pendiri kota.

 

Menjadi miskin adalah kesialan. Menjadi miskin dan

terdidik sekaligus adalah kutukan! Tapi menjadi miskin

dan terdidik dan memiliki istri berlidah alarm adalah

ketololan yang tak mungkin sepenuhnya direncanakan

tuhan. 17 tahun menghuni rumah berlantai seng!

 

“Takkah kau merasa lahir kembali di losmen ini?” ujarnya,

mirip sungai yang telah lama dan bosan jadi milik para pelupa.

“Bukankah pintu itu seperti vagina Ibu; yang memberikan

tubuhmu kepada dunia baru, sekaligus menyediakan

rasa kepulangan paling purba?” Aku diam.

Aku tidak mengerti! Sampai lelaki itu tidur di sampingku

seperti bayi—dan pagi; datang seperti menagih hutang,

aku tetap tidak mengerti.

2017

Dongeng Sebotol Irisan Lemon

Irisan lemon bergoyang-goyang dalam genggaman. Tangan

yang pada hari itu menerima dering kematian akhirnya terbebas

dari gestur basa-basi di sebuah hotel tempat orang-orang hebat

membicarakan rancangan-rancangan rahasia terbodohnya.

 

Tapi ia masih harus menunggu; dua jam menatap pesawat

lalu lalang—dan merapikan kata-kata terakhir yang tercecer

dalam suatu pertengkaran. Lima purnama sebelum sore itu

memaksa diam merangkumnya kembali jadi hadiah natal.

 

“Maaf, ingkar janji, dan penyesalan mesti terjadwal di kota ini.

 Juga jatuh cinta. Selain kematian, semua harus direncanakan!”

 

Jingga senja melapisi bilah kaca. Silau memasuki ruang tunggu

Lalu turun gerimis. Seperti hujan yang berbisik. Ia meminjam aura

langit dan lukisan angin pada awan-awan dari luar jendela; lantas

mengalihkan pandangan pada botol yang ia genggam. Matanya

seakan melihat dasar laut yang tertidur dalam rahim perempuan.

 

Irisan lemon bergoyang-goyang, “Kematian seharga dua hari cuti!”

gumamnya. “Kerja seperti mengunyah permen karet seumur hidup.”

 

23 menit dari kalimat itu, ia sadar: bahwa sesal tak banyak gunanya

dan pesawat yang akan ditumpanginya telah meninggalkan bandara.

2017

Subuh di Sekitar Stasiun Senen

Jika kamu lelaki, kamu boleh mencintai lelaki atau perempuan.

Jika kamu perempuan, kamu boleh mencintai perempuan atau lelaki.

Kaya atau miskin. Seiman atau yang kafir. Tapi jika kamu miskin,

kamu hanya boleh mencintai sesamamu.

***

Ujarnya, subuh itu. Sembari mengemasi barang ke dalam gerobak,

ia mengeluh seperti menyatakan simpulan filsafat untuk terakhir kali

dan tak akan mengatakannya lagi kepada siapapun.

 

Tubuh lelaki itu legam dan dagingnya seolah selalu mengenakan balsam,

tatapannya mengerikan; menyerupai segelas anggur putih yang merendam

sebilah pisau. Matanya seolah jadi gudang fermentasi bagi dusta, dendam,

dan kesulitan memahami kegunaan tuhan dan negara.

 

Ia suguhkan teh hangat, lalu berkata: “Kamu pelanggan terakhirku.”

Kudengar kalimat itu seperti bisikan seorang pemalak di ujung gang.

 

Langit timur memutih ketika ia selesai beres-beres kemudian duduk

di sebelahku. Bokongnya mengeluarkan suara krak cocacola yang jatuh.

Aku terkejut dalam sebuah mode silent. Lalu menjadi getar ketika ia

menebak merek parfumku; dan tepat!

 

Sepasang suami-istri bersarung dan bermukena tiba-tiba melintas,

menyadap ke arah masa depan. Tatapan mereka seperti memergoki

pembalut yang lepas dari sepasang mata kami yang saling sipilis.

2017

Halim Bahriz lahit di Lumajang, 1989. Buku puisinya yang telah terbit, Punggung-Dada (2012). Meraih juara pertama Festival Sastra UGM kategori cipta puisi (2015). Menerima Piala Jendral Polisi Hoegeng dalam acara Proyek Seni Indonesia Berkabung kategori puisi (2015). Mengikuti Penulisan Kritik Seni Rupa dan Kurator Muda (DKJ-Ruangrupa: 2014) dan Bengkel Riset Penulisan Naskah Drama (DKJ: 2015). Buku kumpulan cerpennya yang baru saja terbit, Kolektor Mitos (Langgam Pustaka: 2017). Twitter [@] silakedua

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Puisi

Puisi-Puisi Muhammad Husein Heikal

mm

Published

on

Kita Mengetahui Cara Keluar untuk Mendekat ke Paris

__untuk The Chainsmokers

 

mendekatlah

aku tak dapat berhenti memikirkan betapa menariknya dirimu

anugrah apa yang diberikan pencipta padamu

dan keajaiban apa pula yang diberikan padaku

tubuh kita yang menyatu meluruh segala detak waktu

kita memutuskan untuk berpindah kota demi kota

tak bisa berhenti, setiap sudut habis kita jelajahi

kita meyakini tak pernah bertambah tua bila terus berkelana

dan terus bersama

 

jangan pernah meninggalkan tubuhku

disaat gigil yang membutuhkan pelukanmu

masuklah dalam diriku dan keluarkan segala gelisah

dan kegelapan yang memerangkap resah

bawalah aku menuju kerlap-kerlip lantai dansa

aku pikir itu akan membahagiakan

bagi pengelana seperti kita

 

ayo, kita lakukan semua secara perlahan

setiap belokan tak menjadi kesulitan

bila kita memahami diri kita masing-masing

seperti menyadari merahnya mawar

senantiasa lebih indah dan lebih mekar

bila disematkan diatas telingamu

 

semua yang kita ketahui

hanyalah tentang kita berdua

dan kota demi kota yang kita lalui bersama

hingga kita memutuskan untuk tinggal dikota yang sama

pada Paris, kita berikan seluruh cinta

kau tak meninggalkanku

aku tak meninggalkanmu

senantiasa

2017

Liburan ke Amsterdam

 

ketika argometer taksi yang kita naiki rusak

kita memutuskan untuk menjadi pejalan kaki

menghirup aroma malam Amsterdam

lampu gas sepanjang jalan, dan embun yang

menetas dimekar bebunga satu persatu

kita terhenti sejenak

 

menikmati titik-titik cahaya dari jembatan

mencoba mengingat masa lalu masing-masing

dalam genggaman tangan

dan merasakan cincin yang dingin

nafas kita yang berasap

dan kita berciuman

diujung malam

Amsterdam

 

2017

 

Kamera

__untuk Ed Sheeran

 

secangkir kenangan bisa membuatmu tidak bisa tidur

dirimu menjadi teman bagi malam yang tenang

 

serta teman bagi hewan-hewan nocturnal

pemangsa bagi siapa saja yang lewat didepannya

 

kau mengambil kamera yang diberikan kekasihmu

sebagai hadiah ulang tahun, yang kau sendiri

 

tidak ingat: apa aku pernah dilahirkan?

kau potret bulan, kau potret malam

 

pepohonan, tanah, udara, air, rumah vertikal

hewan kecil yang lupa pulang

 

semua masuk kedalam memori kamera

maka itu kau sebut sebagai kenangan

 

esok paginya, matamu merah kekasihmu datang

ia mengecup bibirmu berulang dan membuka baju

 

kau diam seperti seorang pesuci

kekasihmu tak peduli dan ia mengambil kamera

 

pergi kekamar mandi untuk mengecek kenangan

sampai malam menjelang matanya tidak berkedip

 

sebelum ia menyadari kekasihnya telah mati

karena terlalu banyak melihat kelamnya kenangan

2017

 

Efek Hibernasi Hari Sabtu

aku sudah terlalu bosan dengan masa lalu

hanya berisi kenangan yang tak dapat diulang

aku ingin masa depan sebagai masa akan datang

dan akan ku isi masa depan dengan puisi

untuk menjadi pelindung dingin dihari tua

sebab aku tahu diriku akan mati

 

akan meninggalkan dirimu dan puisi

mungkin juga sebuah rumah sederhana

dengan taman bunga dan sepasang anggora

untuk kau nikmati setelah aku tiada

semestinya aku takut dengan masa depan

sedikit pun aku tidak punya persiapan

 

setiap hari aku hanya berkeliling

menjajakan kata-kata dibeberapa kantor media massa

ada yang tertarik, dan aku memaknai itu

sebagai kemenangan, meski lebih banyak yang tertawa

menuduh aku adalah bagian masa silam yang terlupa oleh sejarah

 

ya, hanya itu masa sekarang yang dapat kulakukan

pernah aku mencoba untuk mencari beasiswa masa depan

betapa sayang umur harus dihitung dengan tahun, kata mereka

sedang aku telah setia menjadi detak bagi setiap detik

pernah pula kulihat ditelevisi seorang peramal

yang bisa melacak masa depan

 

aku bergegas melompat masuk kedalam televisi

mengejar peramal yang langsung lari begitu melihatku

aku tak ingin memaksanya, aku kembali keluar dari televisi

ketika suasana telah malam, kabut telah mengelam

entah mengapa, tiba-tiba aku ingin belajar cara merenovasi waktu

2017

Penyair Kelana

[titimangsa menjadikanmu pengelana

bagi kota demi kota

dan

puisi menjadikanmu petarung

menakluk kata demi kata]

 

ketika kau berada di Djibouti kau teringat

gadis-gadis kecil berkerudung letih

 

berlarian untuk pergi mengaji ke surau

tapi di Palestina mereka memanggul luka

 

sedang ayahnya menjadi mortir dan senjata

darah menyemerbakkan amisnya

 

sampai ke Tanah Suci

tanah damai yang riuh makhluk pemuja Tuhan

 

ayat-ayat suci dilantun mendengung hingga ke Selatan

tempat hewan berbulu tebal mendekap lembut anaknya

 

seperti orang Amerika yang cinta pada tanah airnya

setelah merdeka dari tuan tanah Inggris

 

kau menyadari ketika mentari menyapa pagi

perang adalah kodrat bagi manusia

 

agar bumi tidak terlalu sempit

dan pedang Izrail tak perlu ditebaskan

 

seperti orang Prancis yang menebang tiang bendera

negara dan kaum sendiri sebangsanya

 

airmata menumpah dilayar televisi

seorang anak berkulit hitam berumur lima tahun

 

melemparkan topinya hingga ke Aljazair

semestinya dibulan rajab Raja Arab

 

harus menemui Nebukadnezar

untuk bercerita tentang Ratu Balqis menyantap kurma

 

dari kota Spinx, patung berkepala singa

kau terlanjur meyakini perkataan ilmuwan

 

dunia itu berputar, sedang jiwamu bergetar

ketika mengangkat telepon dari ibumu

 

Tanah Air, tanah tempat kau mengais masa kecil

bersama sekumpulan anak bugil

 

menceburkan diri pada kedalaman makna kehidupan

yang kini kau saksikan diseberang samudera

 

memisahkan berbagai pengetahuan

meski di Berlin kau baru menyadari

 

hidup terlalu penuh kekesalan dan kekejaman

nyawa bisa kehilangan arti

 

bahkan kata bisa kehilangan makna

dan barangkali kau telah kehilangan Dia

 

seperti grizzly yang buta

kau memutuskan terjun ke dasar lembah

2017

______________________

Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Saat ini tengah menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara. Menulis puisi, terkadang cerpen dan esai, yang termuat Horison, The Jakarta Post, Kompas, Utusan Malaysia, Media Indonesia, Koran Sindo, Koran Jakarta, Republika, Investor Daily, Analisa, Waspada, Medan Bisnis, Mimbar Umum, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Lampung Post, Riau Pos, Rakyat Sumbar, Merapi, Haluan, Sumut Pos, Suara Karya, Rakyat Sultra, Koran Amanah, Koran Madura, Koran Pantura, Tanjungpinang Post, Pontianak Post, Tribun Bali, Malang Pos, Lombok Post, Kabar Madura, Tribun Jateng, Harian Fajar, Aksara, Majalah Puisi, Majalah Sagang, Jejak. Selain itu termuat pula dalam buku antologi Merindu Tunjuk Ajar Melayu (Esai Pilihan Riau Pos, 2015), Merenda Hari Esok (Aksara, 2016), Perayaan Cinta (Puisi Inggris-Indonesia Poetry Prairie, 2016), Ketika Tubuhmu Mawar (Puisi Terbaik Sabana Pustaka, 2016), Menenggak Rindu (Puisi Pilihan Sabana Pustaka, 2016), Pulang (Sajak-sajak Anak Negeri, 2016), Perempuan yang di Pinang Malam (Puisi Pemenang Negeri Kertas, 2016), Mengais Makna (Puisi Pilihan Stepa Pustaka, 2016), Pasie Karam (Temu Penyair Nusantara, 2016), Matahari Cinta Samudra Kata (Hari Puisi Indonesia 2016), 1550 MDPL (Pesta Penyair Kopi Dunia, 2016), Cinta yang Terus Mengalir (Ta’aruf Penyair Muda Indonesia, 2016), Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata (Festival Puisi Bangkalan II, 2017) dan Antologi Rupa Sastra (Negeri Kertas, 2017).

 

 

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi Armen S. Doang

mm

Published

on

Awal Larik

kita duduk di atas waktu yang sama-sama tidak pernah ditunggu
saling membaca puisi dengan judul yang berbeda
karena memang kita tak pernah ada dalam bait yang sama
namun waktu tak berpaling ke arah hati yang saling berpandang
walau kita takut untuk saling mendekat
namun jarak terasa semakin hangat
hingga percakapan menggantikan cahaya bulan
pertemuan berakhir di awal larik perpisahan

Bekasi, 18-Juni-2017

Berjarak

kau adalah jarak
di mana aku tidak dapat menapak di tanah yang kau pijak
namun bumi tetap mengabarkan pesan yang sama
putaran jam kita berbeda
pertemuan mustahil akan tiba

sejak waktu menutup pintu percakapan
dua puluh empat jam yang lalu
aku mulai hidup bersama harapan
jalan-jalan berubah asing
malam-malam terasa lebih dingin
dan kau tetap jarak yang dititipkan angin
kepada ingin

Bekasi, 18-Juni-2017

Membaca Tanda

aku tidak pernah paham
yang ingin disampaikan lambaian tangan
seperti memaksa waktu berhutang dengan kepergian
dan pagi ini angin menyapa daun-daun
yang jatuh di antara ingin
menjadi rindu yang dingin
di dada kota menetap
di mata engkau semakin gelap
aku membesar-besarkan harap

Bekasi, 18-Juni-2017

Memanggil Rindu

aku memanggil
kau tak juga bersahut
aku mengetuk
waktu telah mengutuk
ruang ini bisu
lampu kamar yang bulan telah padam
kehangatan ditinggal percakapan

hingga aku tanya kembali
berapa lagi kerinduan harus mati
sepasang cecak membusuk
tak sanggup bertahan

dan ruang masih bisu
sekali lagi aku mengetuk
tak ada suara menyahut
setelah daun dibangunkan embun
setelah kicau burung berciuman
aku menjadi penyair yang dibungkam perasaan

Bekasi, 29-Juni-2017

Sandera Kenangan

di kiri dan kanan kemudi
kerap aku bercermin ke belakang
sebagian wajahmu menghilang
sebagian lagi menjadi bayang
demikianlah perjalanan
berkejar-kejar harap sepanjang jarak
kepulangan merupakan arah terakhir
di mana biasa aku melaju
di atas tubuhmu
bibir saling berpegangan
aku bumi yang tenggelam
di kiri dan kanan
lampu penerang
seperti kunang-kunang
cahayanya membelah malam
dengan jaring di tangan
waktu berlari mengejar
kita tertangkap
dibawa sebagai
sandera bagi kenangan

Bekasi, 30-Juni-2017

__________________

Armen S. Doang  Lahir di Jakarta 05 September 1980. Tinggal di Bekasi. Beberapa karyanya pernah di muat dalam Buletin Jejak FSB, Buku Tifa Nusantara 3 serta Litera.com, Galeri Buku jakarta. Pernah pula dibacakan dalam acara Sastra Reboan. Aktif bergiat di PFI ( Puisi Film Indonesia )

 

Continue Reading

Editor's Choice

Alangkah Kanak-Kanaknya Cinta

mm

Published

on

Alangkah Kanak-Kanaknya Cinta

Kabut menggelayuti sepanjang punggungmu, sisa hujan masih menggenang di antara jalan-jalan yang menyembunyikan jejak tari-tarian paling sublim dari jiwamu yang hendak menyongsong sedalamnya getaran yang tak pernah dapat kau pahami bagaimana sebuah puisi tiba-tiba menjelma keheningan sebuah rumah dimana kau hanya ingin bersandar pada jendelanya; memandangi hujan kian lagut.

“Bagaimana jika kabut dingin itu berlalu dari kebun bunga yang kutanam di pematang kalbumu? Apa masih kau ingat bunyi dari setiap angin yang membawakan aroma asing tentang masa depan?”

Betapa takutnya kita dengan masa depan; sebab di sana lingkaran tanganmu pada punggungku hanya tinggal kenangan; di pundak ringkihku hanya tersisa halus bekas bibirmu dahulu.

Aduh bagaimana aku harus memohon untuk sebuah kenangan? Agar tetap tinggal di antara reruntuhan waktu yang telah memilih berduka waktu itu? Oh jika saja waktu tak pernah terbelah; sebagaimana sebauh usia muda menghamparkan keluasan dan getaran; sebelum sebuah nyanyian mengambilmu dari keriangan. Oh, alangkah kanak-kanaknya cinta;

Jakarta, 2013

Tentang Kenangan Di Buku Harian

Kutemukan kenangan di buku harian, tentang malam dan kesunyian: tentang penantian tanpa musim dan angin, hanya sebuah waktu, yang terlalu pendek untuk akhirnya tahu sepucuk surat cintamu urung terkirim; melapuk dan menua, sepertiku sekarang, sepertimu sekarang. Kamu di mana, sekarang?

Kelam menengadah muka di ujung malam; menjadi halaman-halaman kosong dari buku harian yang gagal membangunkan rumah bagi waktu kita yang enggan menjelmakan kuda pacu agar bisa kita melaju ke dalam waktu; di mana kita akan duduk, sambil menganyam kerudungmu agar bila nanti turun hujan bisa kusembunyikan wajahmu dari kebekuan yang menarikmu ke dalam masa silam sewaktu sekuntum bunga seroja menengadahkan kekelaman dari hujan yang menjelma air matamu.

Di gurun yang tiada terik, hujan tiba sepanjang senja, akankah pada kalbumu merentang kelambu dari benang paling halus kerudung kalbumu? Kerudung kenangan terbuat dari helaian bulu matamu yang telah jadi kaku sebab dingin dari hujan; kau resapi dengan pandangan penuh duka di antara suara-suara malam yang mengabarkan keberangkatan? bahwa hari itu kita berpisah. Pada hujan sewaktu kita gagal melukis nama kita di kaca jendela. Kita lalu sama beringsut dalam dingin kaku, ingatkah kau?

Aku mencarimu di antara hujan yang merobohkan pohon-pohon, merobohkan pula jembatan-jembatan waktu—itu yang kutakutkan; dadaku menyesak luruh lunglai, terhuyung menembus kabut mencari sepanjang batas gapai, alangkah rindu kalbuku.

Oh di mana jalan agar petang mengantarkan kelam dan bisa lagi kutempuh jalan ketika puisi menjelma hujan sewaktu wajah kita memadahkan asmara di kabut kelam kota saat sekuntum bunga seroja menengadahkan kekelaman dari hujan yang menjelma air matamu usai membaca surat terakhir yang urung mengatakan–aku cinta padamu.

Di Kamar, Kalibata, Desember 2012

Tentang Kenangan

Kalbuku di tengah awan mencari sebuah kenangan yang tercuri dari hening masa silam; apakah ini sudah berakhir? Dan bumi meluruhkan sebuah impian yang menunggu waktu ketika seorang akan berdiri lebih tegak untuk mimpinya. Oh..oh.. sebuah suara melandakan keintiman dalam dirinya; sebuah janji tentang waktu yang menunggu: benarkah kau takkan menggenggam kalbuku walau seribu nama–nama kau hapuskan dari keningku?

Ke mana kau akan pergi nanti? haruskan kuturut pada matamu; tersesat lebih dalam ke inti kalbumu tanpa jembatan yang menghubungkan dengan sebuah genta dari bunyi nama-nama yang kau serukan sebagai pemujaan pada kenihilan?

Bawalah kalbuku diam-diam menarikan bunyi dari nama-nama yang dinyanyikan dengan dentuman kenangan akan waktu yang tak mengenal bahasa; bawalah kalbuku diam-diam ke tempat tanpa bahasa-bahasa; tanpa nama-nama; di sana kau mungkin menemukan kenangan–seolah-olah kita pernah bersama…

Maret, 2012

Tentang Waktu Yang Ketika Sore Hari Tiba Seorang Penyair Gagal Menitipkan Rindunya Pada Masa Lalu

Memanggili hari dengan tahun-tahun dimana sore yang kita lewatkan telah menyadarkan betapa jauhnya kita telah berlalu dari waktu; tentang waktu yang ketika sore hari tiba seorang penyair gagal menitipkan rindunya pada masa lalu.

“Aku tahu apa artinya senja yang berakhir hari itu? Betapa kita tak pernah sanggup menyandingkan senja dengan hujan yang melanda kota; di mana kita pernah ingin menangis sebeb cinta rupanya adalah kerinduan abadi senja kepada hujannya. Ah..”

Kenapa hatimu begitu tertutup? Adakah ketakutan pada rindu mencegahmu lelap di bantal masa lalu? Seperti penyair yang tak akan pernah memahami puisinya sendiri.

Sesekali seorang penyair boleh gagal menulis puisi. Dan ia akan lagi teringat kepada anak kecil yang mengira ranjang tidurnya adalah panggung dimana semua orang siap melemparinya dengan bahasa sampai ia terbakar; dan seorang penyair menulis sajak untuk puisinya hari itu:

“Adakah ketakutan pada rindu mencegahmu lelap di bantal masa lalu? Seperti penyair yang tak akan pernah memahami puisinya sendiri.”

Jakarta, 2012

__________________

SABIQ CAREBESTH, buku kumpulan sajak terbarunya akan segera terbit “Seperti Para Penyair” (Juni, 2017)

Continue Reading

Trending