Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi Halim Bahriz

mm

Published

on

Pagi yang Tak Lagi Seperti Ibu

Larut malam mirip warisan ayah tiri dan sore hari

mirip wajah perawan yang mati dalam dekapan.

 

Kota seperti sebuah lantai dengan tumpahan liur vagina

yang sempoyongan merangkai kalimat sebab mabuk berat.

Akulah si piatu sintetis yang lahir dari rahim yang amnesia.

 

Cuma asbak penuh putung rokok yang mendengarku

bergumam, ketika kantuk menyederhanakan waktu.

 

Hidup seperti mimpi; cerita usai setelah tubuh terjaga.

 

O, kematian—yang terus berulang. O, adegan-adegan

tanpa sebuah pagi yang membuatku merasa kanak kembali

sebentar: menatap sulur cahaya, bingkai pintu atau jendela

seperti menonton telur menetas dalam adegan lamban.

 

Hari-hari membagi panggung untuk peran-peran aneh,

mirip akar-akar tanaman dalam pot di persimpangan jalan

: harus hijau dan mesti riang berbunga, meski harga diri

dan warna kata telah terlepas dari jalinan semesta.

Bahagia tubuh telah etalase di luar habitat manusia

H.B. 2017

10 Tahun Usia Percintaan Kami

Malam ini, setelah komuter ini berhenti di Cikini

dan tubuhku terlepas dari pintu, maka 10 tahun sudah

kereta dan diriku berbagi cerita dan kebosanan.

Orang-orang itu lagi. Orang-orang itu lagi.

Si pembaca renta dan lelaki belia yang jakunnya

kini telah menggiurkan. Tubuh-tubuh lelah yang lupa

di mana harus meletakan dirinya. Mata-mata marah

yang gagal mencari-cari bidikan. Pula anak-anak kecil

yang selalu tampak piatu di pangkuan ibunya.

 

Merk-merk segar pada penumpang, sajak-sajak iklan

pada bilah pintu, bergilir memberi pemandangan baru.

Di luar, gelap kian gemerlap dan sebingkai kaca jendela

mirip televisi mati; 15 meter kesunyian mengambang

di udara kota.

 

Pernahkah kaulihat wajah sendiri dalam monitor mati,

berlama-lama? Seperti menonton mimpi sesosok mayat,

ruh yang menunggu. Atau, rindu sebuah makam yang

terlalu lama tak diziarahi calon pemiliknya.

 

Sebentar lagi, ketika komuter telah berhenti di Cikini,

setelah kaki-kakiku menapak pinggir jalan dan telingaku

benar-benar mendengar syahdu kesombongan bunyi sepatu,

maka selain angka yang bertambah—sungguh aku tak tahu

: apakah akan ada yang terasa wajar dan tak berulang

setelah ini, pada malam-malam berikutnya.

 

Maksudku, benar-benar berubah.

H.B. 2017

Menyewa Kepulangan

Kami berpulang kepada malam; di bangku taman,

emperan toko, atau losmen pemberian suami orang.

Rumah serupa kondom. Tidur selengang genangan.

***

Hampir tiap subuh, aku terjaga mirip orang berkemas

dari bencana. Seringkali lupa membenarkan letak tulang,

pula terbiasa abai membersihkan sisa-sisa bangkai sejarah

di sela-sela gigi; di dalam rahang tempat mimpi-mimpi

cepat menjadi basi dan darah daging menjelma fosil.

 

Aku seperti tak bisa mencintai apapun di kota ini.

 

Orang-orang melihatku seperti melihat kain sobek dan

melihat kain sobek seperti melihat kain sobek. Orang-orang

melihat caraku berjalan seperti melihat pembalut yang hanyut

dan melihat pembalut yang hanyut seperti melihat pembalut

yang hanyut. Seolah diriku pewarisi arus sungai yang tenang.

 

Ingin kulihat mata; orang-orang yang melihatku seperti melihat

lubang knalpot mobil mewah yang melindas sisa kubangan hujan

dari siklus musim yang mereka lupakan. Tapi mata orang-orang

tak pernah melihatku yang sedang melihat mereka yang juga

sedang melihatku. Melihat diriku seperti pembalut sobek

untuk sejarah yang dilanda menstruasi abadi.

 

Aku tertimpa siklus keharuan buatan partai politik!

 

Mereka membuatku melihat diri seperti tetesan air melubangi

arus sungai yang tenang di bawah malam. Tubuhku menyimpan

seluruh jenis bau toilet umum yang dimiliki pemerintah, serupa

cara orang buta menampung seluruh kosakata percakapan tentang

kota tempatnya tinggal.

Aku tak pernah tahu siapa yang berulang mengencingiku

dan mewariskan perasaan terlantar sebusuk ini.

Mataku melihat waktu mirip lubang sanitasi dalam adegan

bunyi dari keran yang tak sempurna dimatikan.

 

Tapi malam ini tubuhku telah disewa seorang lelaki, yang

kedalaman mata dan dagingnya menyimpan doa-doa tua tak

dikabulkan. Degup jantungnya mirip kebenaran yang menangis,

menahan isak dan bisik. Aku lupakan diriku, sebab lebih dulu

khusuk mendengar bekas jerit kemiskinan yang jauh.

 

“Kelelakianku berabad-abad difermentasi pembangunan,”

katanya. Aku tak mengerti. Lalu ia bilang, aku telah lebih

dari sekadar mengerti. Tapi aku makin tak mengerti. Ia

memandangku seperti megah monumen dan mulai bicara

seperti pidato pemabuk kepada patung pendiri kota.

 

Menjadi miskin adalah kesialan. Menjadi miskin dan

terdidik sekaligus adalah kutukan! Tapi menjadi miskin

dan terdidik dan memiliki istri berlidah alarm adalah

ketololan yang tak mungkin sepenuhnya direncanakan

tuhan. 17 tahun menghuni rumah berlantai seng!

 

“Takkah kau merasa lahir kembali di losmen ini?” ujarnya,

mirip sungai yang telah lama dan bosan jadi milik para pelupa.

“Bukankah pintu itu seperti vagina Ibu; yang memberikan

tubuhmu kepada dunia baru, sekaligus menyediakan

rasa kepulangan paling purba?” Aku diam.

Aku tidak mengerti! Sampai lelaki itu tidur di sampingku

seperti bayi—dan pagi; datang seperti menagih hutang,

aku tetap tidak mengerti.

2017

Dongeng Sebotol Irisan Lemon

Irisan lemon bergoyang-goyang dalam genggaman. Tangan

yang pada hari itu menerima dering kematian akhirnya terbebas

dari gestur basa-basi di sebuah hotel tempat orang-orang hebat

membicarakan rancangan-rancangan rahasia terbodohnya.

 

Tapi ia masih harus menunggu; dua jam menatap pesawat

lalu lalang—dan merapikan kata-kata terakhir yang tercecer

dalam suatu pertengkaran. Lima purnama sebelum sore itu

memaksa diam merangkumnya kembali jadi hadiah natal.

 

“Maaf, ingkar janji, dan penyesalan mesti terjadwal di kota ini.

 Juga jatuh cinta. Selain kematian, semua harus direncanakan!”

 

Jingga senja melapisi bilah kaca. Silau memasuki ruang tunggu

Lalu turun gerimis. Seperti hujan yang berbisik. Ia meminjam aura

langit dan lukisan angin pada awan-awan dari luar jendela; lantas

mengalihkan pandangan pada botol yang ia genggam. Matanya

seakan melihat dasar laut yang tertidur dalam rahim perempuan.

 

Irisan lemon bergoyang-goyang, “Kematian seharga dua hari cuti!”

gumamnya. “Kerja seperti mengunyah permen karet seumur hidup.”

 

23 menit dari kalimat itu, ia sadar: bahwa sesal tak banyak gunanya

dan pesawat yang akan ditumpanginya telah meninggalkan bandara.

2017

Subuh di Sekitar Stasiun Senen

Jika kamu lelaki, kamu boleh mencintai lelaki atau perempuan.

Jika kamu perempuan, kamu boleh mencintai perempuan atau lelaki.

Kaya atau miskin. Seiman atau yang kafir. Tapi jika kamu miskin,

kamu hanya boleh mencintai sesamamu.

***

Ujarnya, subuh itu. Sembari mengemasi barang ke dalam gerobak,

ia mengeluh seperti menyatakan simpulan filsafat untuk terakhir kali

dan tak akan mengatakannya lagi kepada siapapun.

 

Tubuh lelaki itu legam dan dagingnya seolah selalu mengenakan balsam,

tatapannya mengerikan; menyerupai segelas anggur putih yang merendam

sebilah pisau. Matanya seolah jadi gudang fermentasi bagi dusta, dendam,

dan kesulitan memahami kegunaan tuhan dan negara.

 

Ia suguhkan teh hangat, lalu berkata: “Kamu pelanggan terakhirku.”

Kudengar kalimat itu seperti bisikan seorang pemalak di ujung gang.

 

Langit timur memutih ketika ia selesai beres-beres kemudian duduk

di sebelahku. Bokongnya mengeluarkan suara krak cocacola yang jatuh.

Aku terkejut dalam sebuah mode silent. Lalu menjadi getar ketika ia

menebak merek parfumku; dan tepat!

 

Sepasang suami-istri bersarung dan bermukena tiba-tiba melintas,

menyadap ke arah masa depan. Tatapan mereka seperti memergoki

pembalut yang lepas dari sepasang mata kami yang saling sipilis.

2017

Halim Bahriz lahit di Lumajang, 1989. Buku puisinya yang telah terbit, Punggung-Dada (2012). Meraih juara pertama Festival Sastra UGM kategori cipta puisi (2015). Menerima Piala Jendral Polisi Hoegeng dalam acara Proyek Seni Indonesia Berkabung kategori puisi (2015). Mengikuti Penulisan Kritik Seni Rupa dan Kurator Muda (DKJ-Ruangrupa: 2014) dan Bengkel Riset Penulisan Naskah Drama (DKJ: 2015). Buku kumpulan cerpennya yang baru saja terbit, Kolektor Mitos (Langgam Pustaka: 2017). Twitter [@] silakedua

 

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Sajak Sajak Angga Wijaya

mm

Published

on


Lidah Dimana-mana


Langit sampaikan pesan, seakan berkata
“Aku meniup nyawa, menumbuhkan lidah

di tubuh, bukan semata hanya percuma.

Lidah untuk berkata yang baik, bukan untuk

bergunjing, bak cerita sinetron menjelma

racun pagi hingga malam hari”

Namun terjadi sebaliknya; dimana-mana,

orang kerap gunakan lidah untuk hal buruk.

Gemar bicara tak benar, kaum munafik di

kitab suci yang hanya jadi sesembahan.

Jangan terlalu berharap pada gerombolan,

mereka membunuh kita dengan kata pedas. 

Mata yang berbinar seiring percakapan yang

makin panas. Seperti dalam film, kumpulan

makhluk malas tak berguna. Ada yang

kurang jika tak membicarakan orang lain.

Seakan mereka paling utama dan sempurna

Kuman di seberang lautan tampak begitu jelas

Lidah menjulur dari segala tempat; layar ponsel

pintar, pintu, jendela bahkan dari lubang kemaluan

manusia itu. Hingga pada suatu waktu, di alam

setelah kematian, lidah mereka terbagi menjadi

potongan kecil, tumbuh di sekujur tubuh yang

terpanggang api abadi neraka. Cerita itu

kudengar berkali-kali beberapa hari ini.


2020

Penyair Melihat Hujan


Dari kamar lantai dua kontrakan, penyair itu melihat hujan

Suara air jatuh di atap rumah sebelah yang baru dibangun

Ia kehilangan langit tempat awan berarak, sumber inspirasi

ketika ia menulis puisi. Kini di depannya hanya hamparan

tembok. Tapi tak apa, semua akan menjadi biasa oleh hal itu

Hujan ternyata tak lama, hanya mampir sebentar basahi malam

yang amat gerah.Istrinya tertidur pulas, setelah seharian  bekerja

di toko bangunan sebagai tenaga administrasi. Kucing tak tampak

di kamar, mereka beranjak setelah mendapat makanan.Pergi malam

hari dan kembali di pagi hari sesuka hati bagai raja di istana.

Penyair itu belum juga tertidur, ia bahagia kini bisa bekerja lagi.

Kemarin kawan di ibu kota menelponnya, ia ditawari menjadi

Wartawan budaya. Istri juga ikut senang, setidaknya

bebannya berkurang karena kini ada pemasukan baru

Tak risau ketika melihat saldo tabungan terus berkurang

Terlalu bahagia juga tak baik, sebab itu bisa membuat senyawa

dalam otak tak seimbang. Penyair itu ingin meminum obat tidur,

tapi ia menundanya. Biarlah malam ini ia merayakan kebahagiaan

dengan duduk di beranda memandangi sisa hujan dan udara dingin

Ia bersyukur telah diberi ruang untuk menjadi dirinya. Sudah enam

buku ia tulis dalam dua tahun ini. Tak pernah terpikir sebelumnya,

kini ia menjadi penulis. Mencintai hidup dengan segala upaya,

seperti hujan selalu tepat janji, datang saat amat dirindukan.

2020

Beranda Rumah Sakit Jiwa


Bisa keluar ruangan bangsal begitu

membahagiakan. Bagai raja sehari,

duduk menonton berita di televisi.

Tapi hati-hati, benda itu bisa bicara
Bercakap-cakap dengan kegilaan
Mengajakmu berbincang berdua

Pengatur saluran terus kau ganti
Perawat tersenyum lalu melarang
Mengajakmu kembali ke bangsal

“Coba ramal saya, kamu indigo?
kudengar kabar tentang dirimu
akhir-akhir ini saya sering lelah”

Aku menjawab dengan tuntas
Di matanya kulihat rasa cemas
Kebosanan jelang menopause

Kami berpisah saat senja tiba
Berbisik ia pada teman sejawat
Tepat saat pintu terali dibuka

“Skizofrenia Paranoid. Kasihan.
Kudengar ia mahasiswa pintar,
ditinggal kekasih amat dicinta”

Aku tersenyum mendengarnya
Batas kewarasan sangat tipis
Tak ada cermin untuk berkaca



2020

Belajar Bercinta

Sepasang anak muda itu hidup bersama. Berbagi banyak hal;

cinta, uang, air mata. Pelaminan selalu dinanti, tapi apa daya

kantong lebih sering kosong. Biaya hidup mesti dipenuhi;

kontrakan, listrik, air, pulsa juga kuota internet untuk bekerja

dan hiburan pelepas lelah selepas rutinitas.

Jangan kalian pikir ini hanya soal asmara atau hubungan ranjang.

Mereka telah lama beranjak dari hal itu. Cinta tak hanya seks,

ia lebih agung dari naluri rendah ini. Bisa jadi, mereka telah lama

belajar bercinta. Tahun-tahun awal kamar menjadi saksi percintaan

di ujung senja yang muram.

Pertengkaran beberapa kali menghiasi hari dalam babak hidup

membara,waktu demi waktu. Ada saatnya mereka bersedih

kehilangan seekor kucing, ada kala tawa penuhi ruang hati tak

sepi oleh kesunyian. Cinta menjadi dasar  rumah jiwa yang

merdeka. Aku adalah saksi apa yang mereka alami.


2020

___

I Ketut Angga Wijaya, lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Belajar menulis puisi sejak SMA saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya asuhan penyair Nanoq da Kansas. Buku kumpulan puisi terbarunya, Tidur di Hari Minggu (2020). Selain penulis,sehari-hari ia bekerja sebagai wartawan di Denpasar.

.

Continue Reading

COFFEESOPHIA

Tak Ada Sajak di Kafe-Kafe

mm

Published

on

I

Samsara Duka
(Aug, 2020)
by Sabiq Carebesth

ISBN 978-623-93949-0-5
____
Puisi Sabiq Carebesth dalam buku ini menggunakan banyak kata yang berfungsi menebar berbagai asosiasi.Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat—Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar; duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi—dan lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan.
-Afrizal Malna, Penyair.
__
Buku ini bisa dipesan via kontak whatsapp 082111450777 atau tokopedia bookcoffeeandmore
Rp. 100.000

Aku tak menulis sajak untuk pembaca

Mereka mudah murka dan kecewa

Sajak-sajakku bukan pelipur lara

Aku menulis sajak untuk angin

Mereka hening dan luas.

Di sana

Sajak-sajakku bisa rebah istirah

Sebab kerap

Ia lelah menempuh jalan panjang

Melewati tiap hampa dan sia-sia;

Ia rapuh dan lambat

Tapi senantiasa mencari puncak;

Di sana hanya hening

Di sana hanya kekosongan;

Selalu hanya sejenak

Tapi sajakku memahami

Terjalnya jalan kembali ke mula

Ingatan dari mana ia lahir

Merepih jalan memuncak.

II

Aku pernah mengira sajakku terbuat dari waktu

Mengira tersusun dari sore yang menderita

Dengan bunyi senja yang beringsut pada gelap

Dangan tatakan dari kayu di mana jiwa dibelah;

Sementara kuncup bunga tetap mekar tak iba—

pada sajakku.

Tapi sajakku tak dibuat untuk pembaca

Sajakku memang bukan sajak

Ia hanya sajak—memenuhi takdirnya

Untuk memapah jiwa-jiwa

Keluar dari sekam hampa

Agar senantiasa berdetak

Meski dengan suara jauh

Meski dengan kebisuan serigala

Serupa kepak rajawali di pucuk langit

Atau suara kesunyian tempat ibadah

Yang ditinggalkan hasrat para penyembah

Karena kematian yang tak memberi aba

III

Sajakku

Sajak-sajak rapuh

Yang tak sanggup bertahan

Untuk sampai pada pembacanya

Ia lahir lalu mendaki

Kembali pada sepi sebelum sempat

Duduk di antara pengunjung kafe

Yang tak pernah sempat menuntaskan

Menulis sajak tentang sajak-sajak

Tapi kini tak ada sajak di kafe-kafe

Sebab di luar hujan membadai

Orang-orang berlindung dalam kaca

Senantiasa sia-sia dan mengulanginya

Mereka membayar gairah

Dengan cinta yang ditambatkan sejenak

dan terburu;

Tak sempat bercumbu

Sibuk mengulur waktu

Seolah waktu segera habis

Dan kebisuan pun tak sempat memakna

IV

Aku menulis sajakku di kafe

Tapi sajakku bukan sajak

Sajakku tidak ditulis

Untuk dibaca para pembaca

Aku menulis sajak di kafe

Tapi tak ada sajak di kafe-kafe

Dan kau menunggu akhir sajakku?

Aku tidak menulis sajak untukmu

Aku telah menghapus dendam sukmaku

Sebelum sempat menjadi sajak

Maka sajakku tak punya kekuatan

Untuk meledak dan menulis sejarah

Waktu selalu lekas

Tapi sajak-sajak tidak

Sebab ia kedinginan

Seperti rumah yang ditinggalkan

Seperti pendaki di ujung petang

Ia hanya ingin istirah

Atau pohon-pohon kepurbaan akan menelannya

Hilang dalam gerbang sepi

Membeku bersama dingin

yang tak mungkin dipahaminya.

V

Kenapa sajak-sajak harus ditulis untuk pembaca?

Sajakku tak kutulis untuk pembaca!

Aku tak ingin sajakku dibaca

Sajakku bukan sajak

Aku ingin sajakku dibentangkan

Dalam sukma sehingga jiwamu membahana

Atau biarkan sajakku

Menjadi lumut pepohonan

Yang mewarnai jiwa

Menjadi selimut bagi tubuh waktu

Dan ketika para serigala menjadi sepi

Sajakku menjulang mengabarkan nyanyian

Agar sang rajawali kembali

Menemui kekasihnya yang tersesat

Di antara belantara kesepian

Di antara pepohonan purba

Dan para pendaki masih mencari

Nyanyian bagi jiwanya yang duka

Maka kutulis sajakku

Untuk menjadi kabut

Selimut bagi jiwa yang beku

Agar penantiannya menumbuhkan dedaunan rindu

Yang berguguran di hutan-hutan waktu

Menjadi api bagi peziarah puncak

Dengannya kehangatan menyerta

Peziarah tiba di puncaknya

Dan sajakku merayakan kenangannya

Sendirian..

VI

Sementara di kafe aku memesan kopi

Sambil melihat matahari berwarna putih

Aku tak juga mendapati sajak-sajak

Tak mendapati dedaunan dan peziarah

Tidak serigala kedinginan

Tidak juga rajawali yang kesepian

Kekasihku pun tak ada

Aku mencari sajak-sajakku

Tak ada yang membacakannya

Di kafe hanya pendusta

Yang membual tentang mimpi

Menebus hasrat dengan cinta

Yang sebentar dan tak berbalas

Masing-masing menjauh dari jiwanya

Kehilangan sajak-sajak milik jiwanya

Dan sajakku tak kunjung berhenti

Bernyayi ria dalam tarian kalbuku

Ia ingin berkisah tapi aku mulai lelah

VII

Aku harus pulang

Membawakan sisa sajakku

Anak gadisku telah menunggu

Di ranjang dengan ribuan malaikat

Menantiku membacakan sajak-sajakku

Di rumah kubacakan sajakku

Untuknya entah ratusan malaikat:

“Tak ada sajak di kafe-kafe

Pergilah pada jauh

Mendakilah pada hasrat

Sebab cinta membawa para ksatria

Pergi berperang sebagai martir

Untuk menaklukkan kesepiannya sendiri

Maka jadikan tanganmu perisai

Dan hatimu martir.”

___

Sabiq Carebesth, 2019

Continue Reading

Puisi

Samsara Duka

mm

Published

on

Samsara Duka
(Aug, 2020)
by Sabiq Carebesth

Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat–ekspresionis. Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar; duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi— dan lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan.
____
Afrizal Malna, dalam pengantar untuk buku Samsara Duka

Kirab malam dengan panji-panji hitam di malam larut; hujan dengan lolongan serigala berusia berabad yang terkutuk oleh nasibnya sendiri—sebagai penjaga gerbang sunyi antara malam dan larut; onggokan jiwanya telah melihat cahaya dan mentari terindah yang tak mungkin lagi jadi bagiannya. Ia telah tahu ke mana kembara—hanya berujung laut mati bagi matanya: ia telah tahu kemana kelana hanya memperpanjang usia dukanya—tetapi tinggal tiada siapa datang—tidak duka tidak cintanya yang lalu, waktu telah memasungnya sebagai tugu kesunyian di kota dengan lampu-lampu warna rembulan atau di antara dinding-dinding kafe dan galak tawa muram dari jiwa-jiwa yang diburu ingatan pada luka dan kepalsuan . O hendak bagaimana ia tuju lautan dalam jiwanya? Embun dan kabut, terik dan sunyi tak menjelmakan apa-apa; sungai-sungai kering, danau-danau bisu, dan gunung-gunung hanya lintasan beku—sedang malam penuh rembulan; dan tak satu lagu pun dapat dikenang. Jiwanya akan mati sebagai penjaga malam dengan lolongan timur dan barat yang gemanya menari-narikan angin, dan pohon-pohon purba sama birunya dengan lumut-lumut waktu yang tak lagi bisa ditakar; seperti usia kerinduan yang telah jadi abadi dalam kefanaan saban hari; begitulah akhir cerita semua cinta sejati; membenam dalam kepurbaan, menjadi langit dan gemintang; menjadi perjalanan dan duka cinta, genangan kenangan tentang ranum bibir belia, atau pipi merah jambu yang terbakar terik mentari pertama di laut timur, atau payudara yang bercahaya; atau botol-botol bir di redup hotel-hotel, jendela kereta yang membekukan gerak dan batin, tempat-tempat dan kesunyian yang tak sempat dikunjungi atau apa saja dalam segala rupa samsara—yang tak mungkin dimiliki kecuali dukanya; atau segala rupa panji-panji hitam waktu yang tak mungkin diulang kembali; sebagai gelak tawa atau percumbuan penuh duka—yang mengantar pecinta ke puncak kekosongan. (*)

Jakarta, 28 April 2020

Sabiq Carebesth

___

*) Buku sajak ini akan diterbitan Galeri Buku Jakarta pada pekan ke 4 Agustus 2020. Untuk info pemesanan silakan kontak whatsapp +62 813-1684-2110 (Book Coffee and More )

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending