Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi H.P. Lovecraft

mm

Published

on

Misteri Hidup

Hidup! O, Hidup!

H.P. Lovecraft lahir di Providence, Amerika Serikat 20 Agustus 1890. Seorang penulis horor, fantasi dan fiksi ilmiah. Kredo dari Lovecraft adalah apa yang ia sebut sebagai “cosmicism” atau “horor kosmis”, gagasan bahwa kehidupan tidak dapat dipahami oleh akal manusia dan alam semesta bermusuhan dengan kepentingan umat manusia. Karyanya The Call of Cthulhu telah menjadi rujukan horor modern oleh berbagai penulis dunia dan telah diangkat ke berbagai produk budaya populer seperti komik, film dan serial televisi.

Apalah arti dari pertunjukan indah yang berpendar?

Apakah ingatan itu cepat berlalu?

Ia yang telah mati adalah kunci Kehidupan—

hilang sudah tanda, dalamnya liang kubur

Manusia adalah nafas, dan Hidup adalah api;

Kelahiran adalah kematian, dan paduan suara telah bungkam.

Peraslah keabadian jantung duniawi!

airmata dari utas tua

Hidup! O, Hidup!

Rumah

Ini adalah hunian yang dikelilingi hutan

          dekat dengan bukit-bukit,

     Di mana dahan pohon mengatakan

          Legenda ajaib yang sakit;

     Kayu terlalu tua

          Bahwa mereka bernapas dari kematian,

     Merayapi tanaman merambat, pucat dan dingin,

          Tumbuh dengan keganjilan;

Dan tak ada yang tahu nektar yang mereka sesap itu dari kebun lembap dan berlumpur

     Di kebun itu tumbuh

          bunga mekar yang alami,

     Bertukar pucat dengan tangkap

          wewangian di udara;

     Rupanya matahari sore

          Dengan sinar merah yang bersinar

     Sedang menenun warna buram

          Pada pandangan ganjil,

Dan pada aroma bunga-bunga itu berpendar hari-hari yang tak terhitung jumlahnya.

     Deretan rerumputan melambai

          Di teras dan halaman,

     Kenangan yang redup

          Dari hal-hal yang telah raib;

     Batu-batu jalan

          terhampar dan basah,

     Serta ruh garib mengintai

          saat matahari merah telah terbenam,

Ruh itu disesaki gambar samar yang akan ia segera lupakan.

     Di bulan Juni yang hangat

          Aku bertahan dengan itu semua,

     Saat terpaan surya di siang hari

          Berdenyutlah masa muda

     Rupanya aku menggigil kedinginan,

          Tebersit oleh kilauan,

     Pada sebuah gambar, kubuka gulungannya—

          Terpancarlah rupa usiaku

Menatap waktu sebelum kilat itu keluar dari malam-malamku yang berlimpah.

Arkade

-dengan kepala terangkat

O beri aku kehidupan di desa,

      Tanpa rintangan, bebas, dan jelita;

Tempat di mana semua seni berkembang,

      Grove Court dan Christopher Street.

Aku muak dengan kebiasaan lama,

      Dan kritik yang tak membangun,

Jadi bernyanyilah untuk ruang yang lapang,

      Biar estetikus bekerja dengan bebas.

Di sini setiap penyair adalah seorang jenius,

      Dan para seniman seperti Raphaels,

Lalu di atas atap Patchin Place

      Bakat-bakat itu terdiam dan merenung.

Sebuah Kota

Dahulu begitu cerah dan indah,

          Kota Cahaya itu;

     Sebuah wahyu ditangguhkan

          Di kedalaman malam;

Sebuah kawasan penuh keajaiban dan kemuliaan, di mana kuil-kuilnya seterang pualam.

     Aku ingat musimnya

          Terbit di pandanganku;

     Zaman edan tak beralasan,

          Hari-hari yang menumpulkan otak

Saat musim dingin berjubah putih dan pucat pasi, datang untuk menyiksa dan menggila.

  Lebih indah dari bukit Sion

          Memancar di langit,

     Ketika sinar Orion

          Menggelapkan mataku,

Tidur jadi dipenuhi memori kelam dan berlalu begitu saja.

 Di rumah mewah nan megah

          Dengan ukiran indah,

     Suasana tenang dan teduh

          Di sudut beranda,

Sekeliling taman harum dan keajaiban mekar di sana.

     Bulevar itu memikatku

          Pada lanskap luhur;

     Meyakinkanku dan membusur

          Pada suatu waktu

Aku berkelana dengan penuh kegembiraan dan bersukacita dalam damai.

Dari kejauhan, di alun-alun itu terpampang

          Patung-patung;

     Berjanggut panjang, berwibawa,

          Makam seorang lelaki di sebuah zaman—

Rupanya patung itu rapuh dan janggut pada wajahnya kian hancur.

     Di kota yang berkilauan itu

          Aku tak melihat manusia;

     Tapi itu fantastis, dan bersahabat

          Pada himpunan kenangan,

Dapat bertahan di alun-alun, dan menatapnya dengan penuh kekaguman.

     Aku menemukan bara yang mulai redup

          Bersinar dalam pikiranku,

     Dan berupaya keras mengingat

          Keabadian di masa lampau;

Untuk menjelajah tanpa batas, dan menuju masa lalu yang lepas dari kurungan

     Lalu peringatan menggetarkan itu

          Buat jiwaku menyatu

     Bagai pagi yang merisaukan

          Terbit spektrum kemerahan,

Dan dalam kegugupan aku melayang lewat dongeng mencekam yang terlupa dan hilang.

Ketika Menerima Gambar Angsa

Angsa yang melankolis dengan anggun termenung

Merapati makam delman yang tak beruntung;

Di kawanan rerumputan, pepohonan poplar menangis,

Kuncen dengan sabar merawat makam yang basah.

Seandainya kubisa, haruskah aku menggugat

Bapa surgawi, atau Yang Maha Mulia,

Ketika pernah berkibar begitu tinggi, lalu terempas jauh ke dalam

Menyambut Cygnus yang berduka dengan persembahan!

Kawanan burung dengan dungu masih berhamburan di udara

Merintih perih untuk terus menyanyikan sebuah ode.

Matahari Terbenam

Hari-hari tak berawan datang semakin dekat;

      Keagungan kencana mengendap di ladang;

Lintuh, mencuri bayangan dengan nyaman

      Untuk menenangkan daratan dan lautan.

Dan dalam pelita yang luhur, lembut dan permai,

      Ada jiwa yang jelita, kebahagiaan yang megah;

Melepaskan silau tengah hari, pemandangan nan indah

      Kian berkat dan rahmat di bumi dan langit.

Tak lama pelita paling luhur itu memahkotai masa mudaku,

      Atau kilau paling terang merawat belukar itu,

Senja mengental, dan nampak adegan kilat

      Meninggalkan kenangan akan sucinya cinta!

____

Referensi dan Biodata

1. Misteri Hidup diterjemahkan dari Life’s Mystery

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p353.aspx

2. Rumah diterjemahkan dari The House

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p181.aspx

3. Arkade diterjemahkan dari Arcadia

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p337.aspx

4. Sebuah Kota diterjemahkan dari The City

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p184.aspx

5. Ketika Menerima Gambar Angsa diterjemahkan dari On Receiving a Picture of Swans

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p051.aspx

6. Matahari Terbenam diterjemahkan dari Sunset

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p124.aspx

Selain dari tautan tersebut, puisi-puisi tersebut juga terdapat di buku To a Dreamer: Best Poems of H. P. Lovecraft (Necronomicon Press: 2019) yang dikumpulkan dan disunting oleh S. T. Joshi.

Penerjemah:

Galeh Pramudianto, kelahiran 1993. Bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) diterjemahkan ke bahasa Inggris lewat beasiswa Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020.

Puisi-puisi di atas diterjemahkan dari buku To a Dreamer: Best Poems of H. P. Lovecraft (Necronomicon Press: 2019) by S. T. Joshi oleh Galeh Pramudianto. Ia bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya “Asteroid dari Namamu” (2019) menerima beasiswa penerjemahan dari Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud.

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Sajak Sajak Angga Wijaya

mm

Published

on


Lidah Dimana-mana


Langit sampaikan pesan, seakan berkata
“Aku meniup nyawa, menumbuhkan lidah

di tubuh, bukan semata hanya percuma.

Lidah untuk berkata yang baik, bukan untuk

bergunjing, bak cerita sinetron menjelma

racun pagi hingga malam hari”

Namun terjadi sebaliknya; dimana-mana,

orang kerap gunakan lidah untuk hal buruk.

Gemar bicara tak benar, kaum munafik di

kitab suci yang hanya jadi sesembahan.

Jangan terlalu berharap pada gerombolan,

mereka membunuh kita dengan kata pedas. 

Mata yang berbinar seiring percakapan yang

makin panas. Seperti dalam film, kumpulan

makhluk malas tak berguna. Ada yang

kurang jika tak membicarakan orang lain.

Seakan mereka paling utama dan sempurna

Kuman di seberang lautan tampak begitu jelas

Lidah menjulur dari segala tempat; layar ponsel

pintar, pintu, jendela bahkan dari lubang kemaluan

manusia itu. Hingga pada suatu waktu, di alam

setelah kematian, lidah mereka terbagi menjadi

potongan kecil, tumbuh di sekujur tubuh yang

terpanggang api abadi neraka. Cerita itu

kudengar berkali-kali beberapa hari ini.


2020

Penyair Melihat Hujan


Dari kamar lantai dua kontrakan, penyair itu melihat hujan

Suara air jatuh di atap rumah sebelah yang baru dibangun

Ia kehilangan langit tempat awan berarak, sumber inspirasi

ketika ia menulis puisi. Kini di depannya hanya hamparan

tembok. Tapi tak apa, semua akan menjadi biasa oleh hal itu

Hujan ternyata tak lama, hanya mampir sebentar basahi malam

yang amat gerah.Istrinya tertidur pulas, setelah seharian  bekerja

di toko bangunan sebagai tenaga administrasi. Kucing tak tampak

di kamar, mereka beranjak setelah mendapat makanan.Pergi malam

hari dan kembali di pagi hari sesuka hati bagai raja di istana.

Penyair itu belum juga tertidur, ia bahagia kini bisa bekerja lagi.

Kemarin kawan di ibu kota menelponnya, ia ditawari menjadi

Wartawan budaya. Istri juga ikut senang, setidaknya

bebannya berkurang karena kini ada pemasukan baru

Tak risau ketika melihat saldo tabungan terus berkurang

Terlalu bahagia juga tak baik, sebab itu bisa membuat senyawa

dalam otak tak seimbang. Penyair itu ingin meminum obat tidur,

tapi ia menundanya. Biarlah malam ini ia merayakan kebahagiaan

dengan duduk di beranda memandangi sisa hujan dan udara dingin

Ia bersyukur telah diberi ruang untuk menjadi dirinya. Sudah enam

buku ia tulis dalam dua tahun ini. Tak pernah terpikir sebelumnya,

kini ia menjadi penulis. Mencintai hidup dengan segala upaya,

seperti hujan selalu tepat janji, datang saat amat dirindukan.

2020

Beranda Rumah Sakit Jiwa


Bisa keluar ruangan bangsal begitu

membahagiakan. Bagai raja sehari,

duduk menonton berita di televisi.

Tapi hati-hati, benda itu bisa bicara
Bercakap-cakap dengan kegilaan
Mengajakmu berbincang berdua

Pengatur saluran terus kau ganti
Perawat tersenyum lalu melarang
Mengajakmu kembali ke bangsal

“Coba ramal saya, kamu indigo?
kudengar kabar tentang dirimu
akhir-akhir ini saya sering lelah”

Aku menjawab dengan tuntas
Di matanya kulihat rasa cemas
Kebosanan jelang menopause

Kami berpisah saat senja tiba
Berbisik ia pada teman sejawat
Tepat saat pintu terali dibuka

“Skizofrenia Paranoid. Kasihan.
Kudengar ia mahasiswa pintar,
ditinggal kekasih amat dicinta”

Aku tersenyum mendengarnya
Batas kewarasan sangat tipis
Tak ada cermin untuk berkaca



2020

Belajar Bercinta

Sepasang anak muda itu hidup bersama. Berbagi banyak hal;

cinta, uang, air mata. Pelaminan selalu dinanti, tapi apa daya

kantong lebih sering kosong. Biaya hidup mesti dipenuhi;

kontrakan, listrik, air, pulsa juga kuota internet untuk bekerja

dan hiburan pelepas lelah selepas rutinitas.

Jangan kalian pikir ini hanya soal asmara atau hubungan ranjang.

Mereka telah lama beranjak dari hal itu. Cinta tak hanya seks,

ia lebih agung dari naluri rendah ini. Bisa jadi, mereka telah lama

belajar bercinta. Tahun-tahun awal kamar menjadi saksi percintaan

di ujung senja yang muram.

Pertengkaran beberapa kali menghiasi hari dalam babak hidup

membara,waktu demi waktu. Ada saatnya mereka bersedih

kehilangan seekor kucing, ada kala tawa penuhi ruang hati tak

sepi oleh kesunyian. Cinta menjadi dasar  rumah jiwa yang

merdeka. Aku adalah saksi apa yang mereka alami.


2020

___

I Ketut Angga Wijaya, lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Belajar menulis puisi sejak SMA saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya asuhan penyair Nanoq da Kansas. Buku kumpulan puisi terbarunya, Tidur di Hari Minggu (2020). Selain penulis,sehari-hari ia bekerja sebagai wartawan di Denpasar.

.

Continue Reading

COFFEESOPHIA

Tak Ada Sajak di Kafe-Kafe

mm

Published

on

I

Samsara Duka
(Aug, 2020)
by Sabiq Carebesth

ISBN 978-623-93949-0-5
____
Puisi Sabiq Carebesth dalam buku ini menggunakan banyak kata yang berfungsi menebar berbagai asosiasi.Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat—Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar; duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi—dan lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan.
-Afrizal Malna, Penyair.
__
Buku ini bisa dipesan via kontak whatsapp 082111450777 atau tokopedia bookcoffeeandmore
Rp. 100.000

Aku tak menulis sajak untuk pembaca

Mereka mudah murka dan kecewa

Sajak-sajakku bukan pelipur lara

Aku menulis sajak untuk angin

Mereka hening dan luas.

Di sana

Sajak-sajakku bisa rebah istirah

Sebab kerap

Ia lelah menempuh jalan panjang

Melewati tiap hampa dan sia-sia;

Ia rapuh dan lambat

Tapi senantiasa mencari puncak;

Di sana hanya hening

Di sana hanya kekosongan;

Selalu hanya sejenak

Tapi sajakku memahami

Terjalnya jalan kembali ke mula

Ingatan dari mana ia lahir

Merepih jalan memuncak.

II

Aku pernah mengira sajakku terbuat dari waktu

Mengira tersusun dari sore yang menderita

Dengan bunyi senja yang beringsut pada gelap

Dangan tatakan dari kayu di mana jiwa dibelah;

Sementara kuncup bunga tetap mekar tak iba—

pada sajakku.

Tapi sajakku tak dibuat untuk pembaca

Sajakku memang bukan sajak

Ia hanya sajak—memenuhi takdirnya

Untuk memapah jiwa-jiwa

Keluar dari sekam hampa

Agar senantiasa berdetak

Meski dengan suara jauh

Meski dengan kebisuan serigala

Serupa kepak rajawali di pucuk langit

Atau suara kesunyian tempat ibadah

Yang ditinggalkan hasrat para penyembah

Karena kematian yang tak memberi aba

III

Sajakku

Sajak-sajak rapuh

Yang tak sanggup bertahan

Untuk sampai pada pembacanya

Ia lahir lalu mendaki

Kembali pada sepi sebelum sempat

Duduk di antara pengunjung kafe

Yang tak pernah sempat menuntaskan

Menulis sajak tentang sajak-sajak

Tapi kini tak ada sajak di kafe-kafe

Sebab di luar hujan membadai

Orang-orang berlindung dalam kaca

Senantiasa sia-sia dan mengulanginya

Mereka membayar gairah

Dengan cinta yang ditambatkan sejenak

dan terburu;

Tak sempat bercumbu

Sibuk mengulur waktu

Seolah waktu segera habis

Dan kebisuan pun tak sempat memakna

IV

Aku menulis sajakku di kafe

Tapi sajakku bukan sajak

Sajakku tidak ditulis

Untuk dibaca para pembaca

Aku menulis sajak di kafe

Tapi tak ada sajak di kafe-kafe

Dan kau menunggu akhir sajakku?

Aku tidak menulis sajak untukmu

Aku telah menghapus dendam sukmaku

Sebelum sempat menjadi sajak

Maka sajakku tak punya kekuatan

Untuk meledak dan menulis sejarah

Waktu selalu lekas

Tapi sajak-sajak tidak

Sebab ia kedinginan

Seperti rumah yang ditinggalkan

Seperti pendaki di ujung petang

Ia hanya ingin istirah

Atau pohon-pohon kepurbaan akan menelannya

Hilang dalam gerbang sepi

Membeku bersama dingin

yang tak mungkin dipahaminya.

V

Kenapa sajak-sajak harus ditulis untuk pembaca?

Sajakku tak kutulis untuk pembaca!

Aku tak ingin sajakku dibaca

Sajakku bukan sajak

Aku ingin sajakku dibentangkan

Dalam sukma sehingga jiwamu membahana

Atau biarkan sajakku

Menjadi lumut pepohonan

Yang mewarnai jiwa

Menjadi selimut bagi tubuh waktu

Dan ketika para serigala menjadi sepi

Sajakku menjulang mengabarkan nyanyian

Agar sang rajawali kembali

Menemui kekasihnya yang tersesat

Di antara belantara kesepian

Di antara pepohonan purba

Dan para pendaki masih mencari

Nyanyian bagi jiwanya yang duka

Maka kutulis sajakku

Untuk menjadi kabut

Selimut bagi jiwa yang beku

Agar penantiannya menumbuhkan dedaunan rindu

Yang berguguran di hutan-hutan waktu

Menjadi api bagi peziarah puncak

Dengannya kehangatan menyerta

Peziarah tiba di puncaknya

Dan sajakku merayakan kenangannya

Sendirian..

VI

Sementara di kafe aku memesan kopi

Sambil melihat matahari berwarna putih

Aku tak juga mendapati sajak-sajak

Tak mendapati dedaunan dan peziarah

Tidak serigala kedinginan

Tidak juga rajawali yang kesepian

Kekasihku pun tak ada

Aku mencari sajak-sajakku

Tak ada yang membacakannya

Di kafe hanya pendusta

Yang membual tentang mimpi

Menebus hasrat dengan cinta

Yang sebentar dan tak berbalas

Masing-masing menjauh dari jiwanya

Kehilangan sajak-sajak milik jiwanya

Dan sajakku tak kunjung berhenti

Bernyayi ria dalam tarian kalbuku

Ia ingin berkisah tapi aku mulai lelah

VII

Aku harus pulang

Membawakan sisa sajakku

Anak gadisku telah menunggu

Di ranjang dengan ribuan malaikat

Menantiku membacakan sajak-sajakku

Di rumah kubacakan sajakku

Untuknya entah ratusan malaikat:

“Tak ada sajak di kafe-kafe

Pergilah pada jauh

Mendakilah pada hasrat

Sebab cinta membawa para ksatria

Pergi berperang sebagai martir

Untuk menaklukkan kesepiannya sendiri

Maka jadikan tanganmu perisai

Dan hatimu martir.”

___

Sabiq Carebesth, 2019

Continue Reading

Puisi

Samsara Duka

mm

Published

on

Samsara Duka
(Aug, 2020)
by Sabiq Carebesth

Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat–ekspresionis. Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar; duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi— dan lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan.
____
Afrizal Malna, dalam pengantar untuk buku Samsara Duka

Kirab malam dengan panji-panji hitam di malam larut; hujan dengan lolongan serigala berusia berabad yang terkutuk oleh nasibnya sendiri—sebagai penjaga gerbang sunyi antara malam dan larut; onggokan jiwanya telah melihat cahaya dan mentari terindah yang tak mungkin lagi jadi bagiannya. Ia telah tahu ke mana kembara—hanya berujung laut mati bagi matanya: ia telah tahu kemana kelana hanya memperpanjang usia dukanya—tetapi tinggal tiada siapa datang—tidak duka tidak cintanya yang lalu, waktu telah memasungnya sebagai tugu kesunyian di kota dengan lampu-lampu warna rembulan atau di antara dinding-dinding kafe dan galak tawa muram dari jiwa-jiwa yang diburu ingatan pada luka dan kepalsuan . O hendak bagaimana ia tuju lautan dalam jiwanya? Embun dan kabut, terik dan sunyi tak menjelmakan apa-apa; sungai-sungai kering, danau-danau bisu, dan gunung-gunung hanya lintasan beku—sedang malam penuh rembulan; dan tak satu lagu pun dapat dikenang. Jiwanya akan mati sebagai penjaga malam dengan lolongan timur dan barat yang gemanya menari-narikan angin, dan pohon-pohon purba sama birunya dengan lumut-lumut waktu yang tak lagi bisa ditakar; seperti usia kerinduan yang telah jadi abadi dalam kefanaan saban hari; begitulah akhir cerita semua cinta sejati; membenam dalam kepurbaan, menjadi langit dan gemintang; menjadi perjalanan dan duka cinta, genangan kenangan tentang ranum bibir belia, atau pipi merah jambu yang terbakar terik mentari pertama di laut timur, atau payudara yang bercahaya; atau botol-botol bir di redup hotel-hotel, jendela kereta yang membekukan gerak dan batin, tempat-tempat dan kesunyian yang tak sempat dikunjungi atau apa saja dalam segala rupa samsara—yang tak mungkin dimiliki kecuali dukanya; atau segala rupa panji-panji hitam waktu yang tak mungkin diulang kembali; sebagai gelak tawa atau percumbuan penuh duka—yang mengantar pecinta ke puncak kekosongan. (*)

Jakarta, 28 April 2020

Sabiq Carebesth

___

*) Buku sajak ini akan diterbitan Galeri Buku Jakarta pada pekan ke 4 Agustus 2020. Untuk info pemesanan silakan kontak whatsapp +62 813-1684-2110 (Book Coffee and More )

Continue Reading

Trending