Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi H.P. Lovecraft

mm

Published

on

Misteri Hidup

Hidup! O, Hidup!

H.P. Lovecraft lahir di Providence, Amerika Serikat 20 Agustus 1890. Seorang penulis horor, fantasi dan fiksi ilmiah. Kredo dari Lovecraft adalah apa yang ia sebut sebagai “cosmicism” atau “horor kosmis”, gagasan bahwa kehidupan tidak dapat dipahami oleh akal manusia dan alam semesta bermusuhan dengan kepentingan umat manusia. Karyanya The Call of Cthulhu telah menjadi rujukan horor modern oleh berbagai penulis dunia dan telah diangkat ke berbagai produk budaya populer seperti komik, film dan serial televisi.

Apalah arti dari pertunjukan indah yang berpendar?

Apakah ingatan itu cepat berlalu?

Ia yang telah mati adalah kunci Kehidupan—

hilang sudah tanda, dalamnya liang kubur

Manusia adalah nafas, dan Hidup adalah api;

Kelahiran adalah kematian, dan paduan suara telah bungkam.

Peraslah keabadian jantung duniawi!

airmata dari utas tua

Hidup! O, Hidup!

Rumah

Ini adalah hunian yang dikelilingi hutan

          dekat dengan bukit-bukit,

     Di mana dahan pohon mengatakan

          Legenda ajaib yang sakit;

     Kayu terlalu tua

          Bahwa mereka bernapas dari kematian,

     Merayapi tanaman merambat, pucat dan dingin,

          Tumbuh dengan keganjilan;

Dan tak ada yang tahu nektar yang mereka sesap itu dari kebun lembap dan berlumpur

     Di kebun itu tumbuh

          bunga mekar yang alami,

     Bertukar pucat dengan tangkap

          wewangian di udara;

     Rupanya matahari sore

          Dengan sinar merah yang bersinar

     Sedang menenun warna buram

          Pada pandangan ganjil,

Dan pada aroma bunga-bunga itu berpendar hari-hari yang tak terhitung jumlahnya.

     Deretan rerumputan melambai

          Di teras dan halaman,

     Kenangan yang redup

          Dari hal-hal yang telah raib;

     Batu-batu jalan

          terhampar dan basah,

     Serta ruh garib mengintai

          saat matahari merah telah terbenam,

Ruh itu disesaki gambar samar yang akan ia segera lupakan.

     Di bulan Juni yang hangat

          Aku bertahan dengan itu semua,

     Saat terpaan surya di siang hari

          Berdenyutlah masa muda

     Rupanya aku menggigil kedinginan,

          Tebersit oleh kilauan,

     Pada sebuah gambar, kubuka gulungannya—

          Terpancarlah rupa usiaku

Menatap waktu sebelum kilat itu keluar dari malam-malamku yang berlimpah.

Arkade

-dengan kepala terangkat

O beri aku kehidupan di desa,

      Tanpa rintangan, bebas, dan jelita;

Tempat di mana semua seni berkembang,

      Grove Court dan Christopher Street.

Aku muak dengan kebiasaan lama,

      Dan kritik yang tak membangun,

Jadi bernyanyilah untuk ruang yang lapang,

      Biar estetikus bekerja dengan bebas.

Di sini setiap penyair adalah seorang jenius,

      Dan para seniman seperti Raphaels,

Lalu di atas atap Patchin Place

      Bakat-bakat itu terdiam dan merenung.

Sebuah Kota

Dahulu begitu cerah dan indah,

          Kota Cahaya itu;

     Sebuah wahyu ditangguhkan

          Di kedalaman malam;

Sebuah kawasan penuh keajaiban dan kemuliaan, di mana kuil-kuilnya seterang pualam.

     Aku ingat musimnya

          Terbit di pandanganku;

     Zaman edan tak beralasan,

          Hari-hari yang menumpulkan otak

Saat musim dingin berjubah putih dan pucat pasi, datang untuk menyiksa dan menggila.

  Lebih indah dari bukit Sion

          Memancar di langit,

     Ketika sinar Orion

          Menggelapkan mataku,

Tidur jadi dipenuhi memori kelam dan berlalu begitu saja.

 Di rumah mewah nan megah

          Dengan ukiran indah,

     Suasana tenang dan teduh

          Di sudut beranda,

Sekeliling taman harum dan keajaiban mekar di sana.

     Bulevar itu memikatku

          Pada lanskap luhur;

     Meyakinkanku dan membusur

          Pada suatu waktu

Aku berkelana dengan penuh kegembiraan dan bersukacita dalam damai.

Dari kejauhan, di alun-alun itu terpampang

          Patung-patung;

     Berjanggut panjang, berwibawa,

          Makam seorang lelaki di sebuah zaman—

Rupanya patung itu rapuh dan janggut pada wajahnya kian hancur.

     Di kota yang berkilauan itu

          Aku tak melihat manusia;

     Tapi itu fantastis, dan bersahabat

          Pada himpunan kenangan,

Dapat bertahan di alun-alun, dan menatapnya dengan penuh kekaguman.

     Aku menemukan bara yang mulai redup

          Bersinar dalam pikiranku,

     Dan berupaya keras mengingat

          Keabadian di masa lampau;

Untuk menjelajah tanpa batas, dan menuju masa lalu yang lepas dari kurungan

     Lalu peringatan menggetarkan itu

          Buat jiwaku menyatu

     Bagai pagi yang merisaukan

          Terbit spektrum kemerahan,

Dan dalam kegugupan aku melayang lewat dongeng mencekam yang terlupa dan hilang.

Ketika Menerima Gambar Angsa

Angsa yang melankolis dengan anggun termenung

Merapati makam delman yang tak beruntung;

Di kawanan rerumputan, pepohonan poplar menangis,

Kuncen dengan sabar merawat makam yang basah.

Seandainya kubisa, haruskah aku menggugat

Bapa surgawi, atau Yang Maha Mulia,

Ketika pernah berkibar begitu tinggi, lalu terempas jauh ke dalam

Menyambut Cygnus yang berduka dengan persembahan!

Kawanan burung dengan dungu masih berhamburan di udara

Merintih perih untuk terus menyanyikan sebuah ode.

Matahari Terbenam

Hari-hari tak berawan datang semakin dekat;

      Keagungan kencana mengendap di ladang;

Lintuh, mencuri bayangan dengan nyaman

      Untuk menenangkan daratan dan lautan.

Dan dalam pelita yang luhur, lembut dan permai,

      Ada jiwa yang jelita, kebahagiaan yang megah;

Melepaskan silau tengah hari, pemandangan nan indah

      Kian berkat dan rahmat di bumi dan langit.

Tak lama pelita paling luhur itu memahkotai masa mudaku,

      Atau kilau paling terang merawat belukar itu,

Senja mengental, dan nampak adegan kilat

      Meninggalkan kenangan akan sucinya cinta!

____

Referensi dan Biodata

1. Misteri Hidup diterjemahkan dari Life’s Mystery

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p353.aspx

2. Rumah diterjemahkan dari The House

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p181.aspx

3. Arkade diterjemahkan dari Arcadia

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p337.aspx

4. Sebuah Kota diterjemahkan dari The City

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p184.aspx

5. Ketika Menerima Gambar Angsa diterjemahkan dari On Receiving a Picture of Swans

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p051.aspx

6. Matahari Terbenam diterjemahkan dari Sunset

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p124.aspx

Selain dari tautan tersebut, puisi-puisi tersebut juga terdapat di buku To a Dreamer: Best Poems of H. P. Lovecraft (Necronomicon Press: 2019) yang dikumpulkan dan disunting oleh S. T. Joshi.

Penerjemah:

Galeh Pramudianto, kelahiran 1993. Bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) diterjemahkan ke bahasa Inggris lewat beasiswa Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020.

Puisi-puisi di atas diterjemahkan dari buku To a Dreamer: Best Poems of H. P. Lovecraft (Necronomicon Press: 2019) by S. T. Joshi oleh Galeh Pramudianto. Ia bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya “Asteroid dari Namamu” (2019) menerima beasiswa penerjemahan dari Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud.

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Cerita Pedagang Buku

mm

Published

on

Dia telah memimimpikannya begitu lama sejak ia tahu kata-kata telah membuat kekasihnya jatuh cinta; tidak ada impian lainnya, ia hanya ingin berkisah tentang hari-harinya bersama kata-kata—di sanalah dunia sungguh-sungguh nyata, dengan kemurnian yang entah di mana orang-orang dalam kata-kata menjelmakan dirinya yang asli sekalian sunyi; berkisah tentang diri mereka sendiri yang mengurung diri di kamar pengap dalam jiwanya yang lagut; tanpa bekal tidak juga tujuan. Sungai-sungai, gurun, senja dan lautnya, membeku dalam kamarnya; di dalam kata-kata miliknya, orang-orang itu memendam rindu; mengubur cinta dan lukanya; tentang seseorang yang mereka mengira sebagai surga; tetapi lantas seperti surga—Ia tak pernah nyata meski ada.

Kehadiran demi kehilangan berlaku sebagai peristiwa beku. Hingga jendela kamarnya terbuka dan di luar sana tak ada sesiapa, maka ia bertanya: apakah ini kehidupan? Tapi ia telah memimpikan sejak begitu lama: sejak kakasihnya mencintai kata-kata. Dan ia  telah mengira betapa bahaya cinta yang melarung di atas sampan kata-kata; ia rapuh dan terbelah, sekali akan terbakar dan seluruh luruh, jadi abu, hening dalam kedalaman sunyi laut mati. Asapnya akan mengepul perlahan; memadamkan nyala kerinduan yang dulu menghangatkan. Sungguh malang saat segala tak ingin dikenang; tapi kata-kata rupanya tidak terbakar atau hancur, sebab ia tinggal jauh di dinding kalbu, yang terbuat dari waktu; dilekatkan oleh sunyi yang saban pagi kembali tetapi setiap kali meresmikan diri sebagai masa lalu. Lalu suatu pagi ia berhenti mencintai kata-kata.

Sabiq Carebesth, penulis lepas, editor. Sajak ‘Cerita Pedagang Buku’ akan terbit dalam kumpulan sajak terbarunya ‘Samsara Duka’ (Galeri Buku Jakarta, Juni-Juli 2020). Penyair Afrizal Malna dalam prolog untuk Samsara Duka menulis: “Puisi Sabiq Carebesth menggunakan banyak kata yang berfungsi menebar berbagai asosiasi dalam menjaring kerja representasi untuk mendapatkan gambaran leksikalnya. Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat–ekspresionis.
Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar; duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi. Konsep duka pada gilirannya membawa bagaimana lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan”.

Semua kata-kata menjadi sama saja, mengaduh dalam peperangan sunyi tentang dirinya sendiri—untuk memenangi nama-nama dari keterbelahan antara waktu dan nafsu—dan ia berhenti menghunus senjata; ia hanya ingin menjadi pedagang buku.

Seorang yang serupa kekasihnya dahulu menghampiri; “Sudah berapa petang kau menungguku? Apa aku seperti kekasihmu dahulu? Untuk apa menunggu bahkan bila kini aku datang padamu; aku tetap bukan kekasihmu yang dulu?”.

Sekali waktu aku hanya ingin kau tahu—jika saja kau adalah kekasihku yang dulu—bahwa cinta telah merebahkan bayanganmu; kaku dalam kalbuku, dan dengan itu aku menunggu. Tahu kau sekarang bahwa aku tak pernah benar-benar menunggu—sebab kepergianmu tak pernah nyata bagiku. Pergilah jika kau masih juga tak memahami segala yang kucari dalam dirimu; cintaku sendiri. Di mana kita telah memilih dari yang lain kala itu, jiwa kita pada petang hari itu jika saja kau ingat, kau tahu betapa indah untuk tahu bahwa jiwa kita dimiliki, dan ada seorang yang menanti? Meski saban pagi tak pernah lagi kudapati tubuhmu yang sunyi dengan gaun tidur warna tanah basah—tak pernah lagi kau di ranjang lusuhku; tubuhmu yang ayu, nafasmu yang ragu, birahimu yang ngilu, lelap dalam rapuh—tetapi dulu, semua itu milikku.

Sekali malam kita sudahi, segala yang tak lagi sanggup kita miliki; meski kutahu tatapan itu dulu dan kini selalu untukku. Saban malam kau cari bayangku, kau peluk luka dukaku, jiwaku menyelinap di antara payudaramu; tempat abadi jiwaku yang kanak-kanak. Oh Tuhan, sudah berapa abad waktu membeku—kini di halaman terakhir bukuku; kutuliskan sekali lagi nama kekasihku dan namaku—sejak kali itu aku tak menulis apa-apa lagi.

Kini aku hanya pedagang buku, saban petang kularungkan buku-buku kegemaranmu, di telan gelombang, hanyut bersama ombak biru. Apa kau terima paket buku-buku itu? Selalu kutulis nama dan alamatmu: gadis jelitaku—di tengah laut biru di dalam mimpiku.  

Sabiq Carebesth

30 April 2020

Continue Reading

Puisi

Sabiq Carebesth: Samsara Duka

mm

Published

on

Kirab malam dengan panji-panji hitam di malam larut dan hujan dengan lolongan serigala berusia berabad yang terkutuk oleh nasibnya sendiri sebagai penjaga gerbang sunyi antara malam dan larut; onggokan jiwanya telah melihat cahaya dan mentari terindah yang tak mungkin lagi jadi bagiannya.  Ia telah tahu ke mana kembara—hanya berujung laut mati bagi matanya: ia telah tahu kelana hanya memperpanjang usia duka—tetapi tinggal tiada siapa juga datang—tidak duka tidak cintanya yang dulu, waktu telah memasungnya sebagai tugu peradaban dalam lalu lalang keriuhan. O hendak bagaimana ia tuju lautan dalam jiwanya? Embun dan kabut, terik dan sunyi tak akan menjelmakan apa-apa, sungai-sungai kering, danau-danau bisu, dan gunung-gunung hanya lintasan beku, sedang malam penuh rembulan; dan tak satu lagu pun dapat dikenang. Jiwanya akan mati sebagai penjaga malam dengan lolongan timur dan barat yang gemanya menari-narikan angin, dan pohon-pohon purba sama birunya dengan lumut-lumut waktu yang tak lagi bisa ditakar; usia kerinduan yang telah jadi abadi dalam kefanaan saban hari; begitulah akhir cerita semua cinta sejati; membenam dalam kepurbaan, menjadi langit dan gemintang, perjalanan dan duka cinta, genangan kenangan tentang ranum bibir belia, dan pipi merah jambu yang terbakar terik mentari pertama di laut timur, atau payudara yang bercahaya atau botol-botol bir di redup hotel-hotel, jendela kereta, tempat-tempat dan kesunyian yang tak sempat dikunjungi atau apa saja dalam segala rupa samsara yang tak mungkin dimiliki kecuali dukanya; atau segala rupa panji-panji hitam waktu yang tak mungkin diulang Kembali; sebagai gelak tawa atau percumbuan penuh duka yang mengantar kita ke puncak kekosongan. (*)

__

Jakarta, 28 April 2020

Sabiq Carebesth

Continue Reading

Puisi

Puisi Badruddin Emce: Dermaga Zuhdi

mm

Published

on


Badruddin Emce, 57 tahun–adalah sastrawan  berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal secara luas melalui karya-karyanya berupa esai  dan puisi yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar dan terhimpun dalam berbagai antologi puisi. Badruddin tercatat pernah menjabat sebagai anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Tengah selama dua periode. Beberapa kali, Badruddin Emce diundang dalam perhelatan sastra antara lain Forum Puisi Indonesia 87 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Festival Seni Surabaya 1996. dan Temu 18 Penyair Jawa Tengah 2006. Badruddin kini tinggal di Kroya, Cilacap. Kumpulan puisinya yang telah terbit, Binatang Suci Teluk Penyu (Olongia, 2007) dan Diksi Para Pendendam (Akar Indonesia, 2012). Saat ini berhidmat di Lesbumi PCNU Cilacap.

Prolog :

“Tahun itu kami sibuk dengan tanduran!” –

Mungkin begitu orang Kalikudi, jika ditanya, “seperti apa waktu itu?”

Jika dari mulut ke mulut ini kita tawarkan –

Bayi-abang hingga para renta, bergegas ke arah kota sana.

Konon, siapa entah, dengan lilin meredup di tangan,

meredam sendiri yang terbersit – dosa apa kami? –”

Dunia kita malah seperti ditertawakan.

“Keruwetan apalagi melucuti mereka?”

Tapi orang Kalikudi juga senang mendengar

dari yang tak dikenal sekalipun–

‘Berombong-rombong itu’ konon hendak

memenuhi panggilan Ratunya sekaligus

menghindari yang kelak disebut-sebut sebagai kerja paksa.

Adakah begini? Bahkan, saya tak mampu menampik

yang dituturkan suargi guru ngaji,

“dari timur merunduk – sementara di kita, ada :

Dari jendela rumah, hanya termangu memandang.

Di pucuk kelapa, hanya menghisapgigiti

rokok linthingan belum dinyalakan.

Di perahu mancung berguncang,

hanya memilin-milin tali jaring arad-pinggir

mungkin sudah tersangkut akar.

Di sawah meruapkan anyir lintah rawa,

hanya mengelus-elus doran pacul

sementara keringat wajahnya telah sampai plakangan

selepas jembatan kereta Maos ke Kesugihan,

melintasi desa ini, ‘berombong-rombong itu’

membawa apa saja yang gampang dibawa!”

Terkadang ingin ngaji turutan lagi.

Selesai satu dua surat pendek, tanya –

“Dari perkebunan apa saja mereka turun?”

“Dari bangunan-bangunan dekat stasiun mana saja

mereka keluar?”

“Barak nyaris ambruk, apa masih menyengatkan bau tir

mereka tinggalkan?”

Tentu saya berusaha yakin –

Setelah desa ini, yang kehausan segera menemu air.

Beberapa teguk –

bisa dari pangon bebek yang telah berminggu buara.

Sedang yang terkilir – sekalian dipijit –

dari dukun bayi barusan ndhadhah putri seorang lurah!

Mungkin, andai jauh sebelumnya orang desa ini tahu,

layaknya hari raya yang setiap tahun menghambur,

‘berombongan-rombong itu’ bakal mereka sambut peluk

dengan pujian bertalu-talu bunyi bedug.

Tak ketinggalan ber-tampah-tampah jajan pasar.

Mana ada orang jahat di desa ini?

Bahkan jin-jin penunggu pohon,

sumur-sumur tua dan ceruk-ceruk tebing sungai,

usai ledakan-ledakan besar itu

bertahun berpadu menyangga jembatan itu dari runtuh!”

|a.| Jembatan itu :

Di timur laut sana, di atas Serayu, setelah puluhan tahun

ditinggal ‘berombong-rombong itu’ ke dermaga ini,

beberapa menit lalu bahkan kita lewati.

Jika adalah saksi, mustikah dulu mengikuti

‘berombong-rombong itu’ mencapai dermaga ini?

Lalu menggores begitu rupa –

bagaimana di bawah pesawat pembom meliuk-liuk,

di antara ledakan-ledakan menenggelamkan,

kapal bergantian merapat, menjemput

‘berombong-rombong itu’ di dermaga ini!

Bahagianya, suatu hari nanti di bilangan Pasar Senen

kita mendapati, di antara tumpukan buku loak,

komik si tak kuasa melangkah lebih dari semestinya itu.

Beberapa halaman saja, engkau seperti ditinggalkan –

Menyeruak dari rerimbun epilogmu,

kawanan perompak Afrika seolah menggiring

12 sisa kapal penjemput ke keluasan lebih purba samudera.

“Saat dulu labuh di sini, kawanan itu sejatinya

hendak berdagang!”

Ujar seseorang tercetak dalam balon.

“Sebelum leluasa menyusuri gua-gua,

safari di kebun-kebun makna,

memetiki simbul-simbul yang tak tumbuh kembang

di hati-hati suku mereka, pada keluarga dan sahabat raja

menghadiahkan keunggulan mantra-mantra,

tergores di gelang akar, taring babon tua bandul kalung

dan kulit rusa makar.”

|b.| Tembini :

Kemeriahannya jadi lebih terasa, bukan?

Kemeriahan yang tak sekedar bagaimana Pulebahas

meraih 1 putri Ciptarasa

dengan 40 adik perempuan kebanggaan.

Teman saya bahkan masih mengira, kala itu teluknya

belum banyak laguna –

Bolehlah, di timur laut sana, Kalikudi dan silsilah sada siji-nya

baru berkas-berkas kemambang belalang dan capung

hinggap berdekatan.

Bolehlah, di sana kota Medang tua sudah menunggu

pertanyaan-pertanyaan kita.

Jika suka, cukup setengah hari berperahu mencapainya.

Jika ombak menjadi ganas, bolehlah,

di ceruk-ceruk dinding utara bukit kini bertajuk Selok

kita berlindung.

Lepas itu, dari perahu segera tampak,

nyala obor berjajar sepanjang pantai.

Bolehlah, siapa bermalam bakal menemu

betapa tak kuasanya menolak kegelapan,

betapa pentingnya terang.

Maka, demi baca-tulis, demi menemu paham,

siapa yang bermalam perlu mempertahankan nyala.

Bolehlah, di keramaian pasarnya akhirnya menemu,

anjing-anjing yang tak diikat

membiarkan pendatang-pendatang nakal macam kita,

kulakan : memilih yang tampak wah, namun murah.

“Tidak, kami tidak perlu bermalam!” Sela lelaki hitam kekar

tertera dalam balon lain.

“Secukupnya saja, lalu balik lagi istirahat di sini.

Kami sudah ada janji ketemu tuan ratu Brantarara, besok!”

Rembugan sambil menyisir kemolekan pesisir

hanya di sini, bukan?”

Bersama jalan malam memang mengasyikan.

Tapi teman saya suka mengingatkan

pentingnya nyala panduan.

Tertawan nyala terang Tembini,

bagaimana terbersit yang bukan Tembini? –

Bolehlah, sementara nakhoda.

Juga beberapa nelayan arad-tengah, pernah terlintas –

Sesekali, jika segugus bintang yang ditata rapih kupu-kupu

dan sekawanan tikus sawah disembunyikan bebintang

ribut meraih bentuk, nyala itu padam.

Tetapi mereka juga pernah, dengan sukaria,

mengantar sekolah anaknya. Nyangking oleh-oleh buat istri.

Memiliki keluarga besar serta kampung kebanggaan.

Belum lupa dengan dinginnya sebuah kota.

Suatu hari, saat menyusuri sudut-sudutnya, memergoki :

Di depan tokonya, sambil bercerita dan menyimak cerita,

seorang cina memijit seorang tukang parkir keriput tua.”

Kenapa tersenyum?

Adakah engkau di antara sosok-sosok itu?

                        |c.| Mungkin nyala saja tak cukup :

Teman saya pernah mereka-reka –

Sebelum bertolak ke Medang, di selembar bidang

mereka titikkan dulu nyala Tembini sebagai pusat perjumpaan.

Lalu dari sisi atas, merambat jalur orang Pasir Luhur awal

menawarkan jasa pandai logam.

Dari sisi kiri atas, menjuntai jejak terburu-buru orang Galuh

memikul berbumbung madu tawon gung, susu kerbau dan nira aren.

Sedang di sisi bawah, titik-titik kapal menurunkan aneka perhiasan

dipaku dengan tinta kuning.

Meruap amis lautan,

tapi segera, dari gua-gua merebak aroma gaharu –

Bolehlah, maha karya peta digelar selebar-lebar,

hingga paran-paran bak dilihat

dari ceruk tersembunyi langit nan jauh.

Tetapi tak sumua butuh memilih paran.

Paran ada di mana-mana.

Terdampar setelah berhari-hari pasrah, di situlah paran.

Sayangnya begitu dibilang cuma bocah dolan kesasar,

mereka langsung nglokro.

                        |d.| Laguna saling mendekat, bersemilah rawa-rawa :

Hendak membisu, pelarian Batavia malah menebar gabah.

Jadilah rawa-rawa hamparan sawah. Tembini pun pasrah.

Berbahagialah, teman saya masih menyimpan lembaran lapuk itu –

Bolehlah si pencipta, bersama kapalnya,

akhirnya dilemparkan badai ke tebing yang dijauhi.

Bolehlah, titik-titik tersembunyi tak kunjung tegas

sebagai yang tiada lagi di bumi.

Bolehlah, lagi suntuk mengikuti arah goresan

sebuah mural gua, tiba-tiba tergoda curiga –

jika rancang jalang sudah di tangan,

mana ada tempat menakutkan.

Setelah lengkap peralatan, datang tengah malam,

segera, di balik rimbun persembunyian babi hutan,

menatahkan seolah peninggalan.

Bolehlah, ingin selalu dipercaya raja,

lepas dari hisapan pusar Sapu Regel,

para cerdik bergegas ke utara.

Menyusuri Citanduy-Cijolang. Meloncat dari batu ke batu.

Setelah Datar dan Hanum,

ngatepus di makam tua Tejakembang.

                        |f.| Pituduh para sepuh :

Jika engkau ragu, benar sudah engkau butuh –

Bolehlah, karena tak bersama kita,

mereka tak harus kita percaya.

Tak harus kita ikuti,

meski terus mencermati hari-hari lahir batin kita.

Meski lebih mengenali kita ketimbang diri kita sendiri.

Meski terus meyakinkan kita –

Setelah meraba-raba, sampai juga kalian

di yang kalian yakini sebagai sisa dermaga Tembini.

Begitu merasa tiba, tawa kalian tak kunjung reda.

Riuh, mirip air berebut balik ke titik mula di lautan sana.

                        |g.| Pantai yang berabad ditinggalkan nyala Tembini :

Arahnya sudah engkau temukan?

Bolehlah, yang asyik bersama jalan malam

memikirlakukannya di lautan sana.

Jika bentangan siang besok menyilaukan, bolehlah,

kepul asap cerobong pantai Karangkandri di tengah,

julang bukit kapur Karangbolong di timurnya,

dan ujung timur Nusakambangan di baratnya

adalah seregupandupenuhbhakti!

Bolehlah, sibuk dengan untung-rugi

kita tak sempat mencatatnya.

Bolehlah, mungkin cuma iseng, kelak ada yang tanya –

apakah Bapak-Ibu lebih muda dari saya?

                        |h.| Anak muda kita :

Diam-diam teman saya coba mengikuti mereka.

Bolehlah, bagaimana mencapai sebuah dermaga,

mereka bayangkan sambil meraih poin liwat game online.

Tapi bayangan itu kemudian mereka robek-robek.

Bolehlah, udara bertabur pelabuhan-pelabuhan kecil

tak tertera pada peta.

Bolehlah, tanpa harus kembali,

dari sana ke mana-mana bisa!

__

Kroya, 2019/2020

Continue Reading

Trending