Connect with us

Prose & Poetry

Puisi-Puisi Fitrah Anugerah

mm

Published

on

Pengembara yang Malang

 

Untuk siapa saja yang mendengarkan khutbah setiap pagi

Untuk yang memikul beban di punggung dan menderaskan keluhan

Sesungguhnya yang membencimu maka dialah yang terputus tali

Bersembunyi. Menjeburkan diri dalam kolong kegelapan.

 

Untuk siapa saja tak patut mendustakan dan menolak jejak

Sedang semesta lebih sempurna ketimbang kesombongan kata

Menampakkan susunan mempesona tak lebih baik dari cahaya

Hanya gemerisik ketakutan menyeret gelombang buih beriak.

 

Sedang mata adalah kesaksian atas keutuhan nikmat

Menemukan jalan menembus tabir antara kesedihan dan bahagia

Bagai melintasi bayangan kelabu burung dan terang tepian samudra

Melesatkan perasaan yang lahir barangkali menembus segala hakekat

 

Tafsir yang semakin jauh. Hanya menyusuri kekosongan pada jiwa

Yang lalai. Terlupa doa. Sungguh aku renta terkoyak pesona buta

Oh kepedihan pengembara yang malang menumpahkan kembali air mata

Kisahkan rumah yang hilang hanyut dalam luap amarah sungai

Sekiranya berpulang di gelombang kesunyian matahari

 

Bekasi, 2016

 

Obat Nyamuk Bakar

 

Tarian asap sengak di udara pengap. Berkali-kali terbatuk-batuk

Menyadari kemiskinan. Mengakui mimpi masih panjang tergelar

Sepanjang malam membentukan umpatan kosong dan melayang tepuk

Sigap memburu setitik darah yang hilang. Raga kecil itu akan hancur

Menyisakan percik merah kering. Tetapi kejengkelan ini belum tamat

Sejumlah tanda kematian menghiasi dinding. Bagai kengerian membawa

Lebam benturan. Ranjang ini menjadi saksi berjatuhan mayat-mayat

Sekarat yang tak sempat menembus pekat mimpi. Hanya memberikan nyawa

 

Perlahan bara memagut separuh putaran. Asap kian mengepul, menyisakan debu

Putih pucat. Apa yang telah disingkap dari sebuah perjalanan? Sedang angin berderu

Menelusup di antara lobang. Diam-diam membawa kerentaan jauh tak terjangkau

Ini hidung kembang kempis merasakan. Dada yang sesak ajaib seketika mengatur laju

Mendenguskan nafas panjang. Kita membutuhkan kenyamanan tanpa perlu cemburu

Pada tetangga yang menanam lavender di halaman rumah. Mungkin bersabar menunggu

Bebunyian nyaring di telinga. Entah kenapa telinga menjadi tempat ternyaman bersembunyi

Dari asap pembakaran barangkali ada hantu bersemayam yang suka mengambil setiap mimpi

 

Bekasi, 2016

 

 

Nafas Sungai

 

Sungai adalah arus hatimu membaca surat jauh

Mengalir membawa butiran lara atau suka

Terlukis riak gelombang pada permukaan seakan bahasa

Yang menyeret untuk tenggelam lebih dalam

 

Mungkin harus memancing kata dalam gejolak sukma

Menjulurkan lamunan serupa kail ke tempat asing

Atau melemparkan jala angan sejauh-jauhnya

Kita mesti tabah menanti di batas udara lengang

 

Sungai adalah bayang senja menyapa letih petualang

Bening air membasuh bekas luka di punggung

Mereguknya. Mengganti dahaga tak terkira menjadi rona berkembang

Menjelma gurit rindu tempat berpulang di ladang-ladang asing

 

Sungai yang mengalir dan cahaya membisu di antara rahasia

Kehidupan menjelma nafas mimpi menembus kesunyian kota

Kita yang telah menemukan sebuah pintu dan bermukim abadi

Mengganti pakaian, dan menyiapkan kail dan jala untuk esok hari

 

Bekasi, 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 Sungai Cimanuk 

 

Sebuah sungai bersemayam dalam peta kota

Tak henti mengalir dari hulu sejarah masa lalu

Beriring tumpah keringat pembuka lahan dari utara

Menjelma gairah hidup, seakan gerak tarian kidang

Memberi harapan pada pengembara jauh menuntaskan pencarian

Pada sebuah sungai segala letih terpatok di pinggiran seakan tanda

Berdiam untuk waktu tak terhingga, hanya menyaksikan kibaran bendera

Mengiringi arus air seakan memberi salam ke setiap sampan yang berlabuh

Mengundang orang-orang berdatangan dari seberang membawa kesiur kenangan

Pada pesona Dharma Ayu menyematkan benih kehidupan dan harum wangi kisah

 

Tetapi kenangan adalah buaya yang bertapa di tempat tersembunyi

Mungkin harus menghilang dan butuh keberanian mengakrabi,

Atau cukup menjadi pemancing yang menafsirkan kecipak tarian ikan

Pada ketenangan sungai di bawah pancar bulan bersanding tautan bintang orion

Sungguh waktu adalah hitungan sunyi untuk bertanam kembali

Di ladang subur yang terbentang sepanjang pinggir sungai cimanuk

 

Bekasi, 2016

 

 

 

Kampung Kelahiran

 

Keharuan menghanyutkan tujuan ke ujung rindu

Aku mengenangmu menjelma khayalan pengembara yang kasmaran

Pada kampung yang menyimpan rumah dan ingatan tentang kelahiran

Kepulangan ini adalah mimpi menawarkan cuaca indah di alur waktu.

 

Katakanlah kita pernah lahir, dan berdiam dalam rumah kecil

Berlarian di jalanan sempit penuh jemuran. Kita selalu mendengar keributan

Seorang ibu memanggil anak-anaknya pulang dari bermain. Dan kepulangan bapak

Dengan senyum menyambut. Kita pun menggapai tangan kekarnya. Tak peduli keletihan.

 

Katakan saja bila kita pernah melangkahkan kaki menjauhi kampung

Terjauh melangkah menyusuri takdir hidup sebagai perantau.

Kita yang selalu mengibarkan layar di bawah langit berwarna-warni

Hingga terpikat pada senja di seberang alamat. Semakin jauh merana sendiri.

 

Ingatlah kampung kita tak pernah letih menampung yang telah lama pergi

Serasa pertemuan yang menyenangkan dan meneguhkan di antara kumandang rindu

Melabuhkan dan meminang kembali ingatan jalan pulang pada serpihan kenangan

Yang retak terabaikan bagai sobekan kertas catatan harian yang hilang tersembunyi.

 

Pada kampung kelahiran, aku teringat dirimu,  para penghuni silsilah keluarga

Melagukan gairah bercerita turun-temurun di antara tabuhan nada pilu dan isak sedih

Tentang satu persatu tetua pergi menghilang dalam kabar kematian surau kampung

Tinggal beberapa penghuni menunggu senja di halaman masing-masing dan membuat janji

Saling bersalam pelukan yang masih tersisa dan setia menjaga rumah peninggalan terakhir.

 

Bekasi, 2016

 

 

Perjalanan

 

Kesenyapan menggulung dan memuncaki kecemasan

Pohon pinus dan karet mengirim pesan temaram

Angin mendengus dalam rintih cuaca. Menahan awan

Mengaburkan warna bunga-bunga yang tenggelam

Sepanjang perjalanan mengurai udara pegunungan

 

Aku menginsyafi setiap jejak membatu teramat sendu

Menembus hasrat menggebu di dasar jantung

Sedang kabut berdebu menawarkan ngilu yang abadi

Meninggalkan serakan daun dan bayangan puing ranting

 

Aku yang berhayal menyusuri jalanan tanpa tujuan

Menjaga jiwa dari lompatan dan benturan sepanjang perbatasan

Mencari kiblat di setiap pemberhentian hingga menggambar persimpangan

Dalam kebimbangan dan bayangan keletihan yang merambat. Mencari kejelasan

 

Perjalanan ini abadi seakan kekal dalam diam tanpa mengganggu irama

Sungguh aku ingin masuk dan menembus di sela-sela temaram kota sepi

Meski termangu dan risau seakan kehilangan sebuah alamat dan nama

Oh aku harus memagut setiap luka yang pernah tertinggal dan kukenali

 

Bekasi, 2016

 

 

Lingsir Wengi

 

Jangan tidur dulu

Ke sinilah kita habiskan malam ini

Dengan menambah secangkir teh menjelang dini hari

Sebelum pulau ini bangun, mengutuki ego kita, menjadi angkuh batu waktu

Menyeret dan membasuh bekas jejak ke pulau jauh.

Malam ini dengarkan cerita hatiku

 

Kita menghitung abjad yang tersimpan

Menjadikan kalimat dan menyisipkan sebuah nama

Menjelang dini hari. Kita menyudahi pertemuan

Sebelum kita pergi menjauh dan tak memperhatikan

Sebelum melepaskan tali pertautan

Berjanji memberi kesempatan menjeratkan ingatan

 

Kita hanya menggantungkan waktu di sisa cahaya bulan

Dan gigitan mesra serupa gigitan semut rangrang

Tiada terluka hanya mengakhiri dalam diam

Lalu memulai pengembaraan tersendiri

Ke batas nisbi di tepi pulau

 

Malam ini duduklah di sampingku

dan kita bercerita tentang firman Tuhan

yang turun dalam kesunyian pagi

 

Bekasi 2016

 

 

Malam Jumat

 

Tentunya kita tak saling mencintai

Setidaknya kita telah mulai berkhianat

Dari ranjang yang sama mengingkari

Baju dan selimut yang pernah menyingkap kekanakan kita

 

Kita percaya kita telah keliru membaca isyarat

Mungkin terlupa tak menghayati jalan panjang yang terlewat

Atau telah menuangkan air dingin pada bara cinta

Dan cinta ini dingin membuat lelap

 

Pernahkah kita mendengar langkah-langkah asing

Dalam mimpi dan mendengarkan suara-suara mengharukan

Memaksa kita mengikuti hingga ke langit jauh

Tak terasa kita bergandeng tangan

Dalam kengerian kita berdiam pasrah

Bila jatuh menimpa awan atau angin

Terasa manis meski sedikit nyeri tertinggal.

 

Bekasi, 2016

 

Fitrah Anugerah: Lahir di Surabaya, 28 Oktober 1974.  Berkesenian atau berpuisi semenjak menjadi anggota Teater Gapus, Sastra Indonesia, Unair, Kedaiilalang, Kali Malang Bekasi, dan FSB (Forum Sastra Bekasi. Karya-karyanya pernah dimuat di harian Langgam Sumut Pos, Fajar Sumatera, Indo Pos, Media Indonesia, Sastra Sumbar, Padang Ekspress, Minggu Pagi, Surabaya Post, Sinar Harapan, Suara Karya, Bangka Pos, Banjarmasin Post, Mata Banua, Riau Realita, Joglosemar, Jurnal Sarbi, Majalah Jejak, dan Radar Bekasi. Beberapa puisinya dibukukan dalam Kumpulan Puisi Kumpulan Puisi Pasie Karam (2016), Antologi Puisi Wayang “Tancep Kayon”(2016), e-book “Jalan Setapak, (Evolitera : 2009) , Antologi Puisi Kampungan (2015), Antologi Puisi Sakarepmu, Antologi “Surabaya Dalam Lembaran Kenangan” (2015), Antologi Tifa Nusantara2 (2015), Antologi “Saksi Bekasi”(2014), Antologi Puisi Bersama “Kepada Bekasi” (2013), Antologi Puisi Lumbung Puisi I dan II 2014, Antologi “Sang Peneroka”, dan Antologi di Negeri Poci 5 : Negeri Langit (2014),. Sekarang bekerja dan domisili di Bekasi.

Continue Reading

Classic Poetry

Sajak-Sajak Rasul Gamzatov

mm

Published

on

Sajak-Sajak Rasul Gamzatov—Sastrawan dari Dagestan

Penerjemah dari Bahasa Rusia: Ladinata Jabarti

___________

 

BURUNG-BURUNG BANGAU

Kadang kala terasa bagiku, bahwa serdadu-serdadu,

Yang tidak pernah kembali dari ladang-ladang pertempuran berdarah,

Entah pada suatu kapan bukan dibaringkan ke dalam bumi,

Tetapi mereka berubah menjadi kawanan burung bangau berwarna putih.

 

Burung-burung bangau tersebut sampai waktu kini sejak masa yang jauh itu

Berterbangan dan menyampaikan suaranya kepada kita.

Bukan lantaran itu-kah begitu kerap dan lara

Kita terdiam, seraya memandang-mandang langit?

 

Pada hari ini, di kala senja mengejar malam,

Aku melihat, bagaimana burung-burung bangau di tengah kabut

Terbang dengan susun-banjar yang pasti,

Bagaimana mereka mengembara seperti galibnya manusia di ladang-ladang.

 

Burung-burung bangau itu terbang dan menempuh perjalanan yang jauh

Dan mereka memanggil-manggil nama seseorang.

Bukan karena itu-kah bahasa Avar semenjak berabad-abad yang lalu

Serupa dengan teriakan burung-burung bangau?

 

Terbang, terbang melintas langit sebarisan baji yang kelelahan –

Terbang di tengah kabut pada penghujung hari,

Dan di dalam susun-banjar itu ada ruang kecil –

Bolehlah jadi, itu adalah tempat bagiku!

 

Bakal datang hari dan dengan kawanan burung-burung bangau itu

Aku akan berlayar di dalam kabut kelabu serupa,

Dan dari balik langit dengan bahasa para burung, aku memanggil-manggil

Kalian semua, yang telah aku tinggalkan di atas permukaan bumi.

 

 

KAU – SAJAK PERTAMAKU

 

Kepadamu aku kembali jatuh hati dan terpaku…

Yang demikian itu tidak bakalan terjadi – demikiankah yang kau ujarkan?

Tetapi pada setiap kedatanganku, tampak bagiku

Paris itu penuh misteri, magis dan selalu baru.

 

Begitulah yang terjadi. Kau hidup, kau hidup di dalam keberkahan sinar.

Musim semi sedang terjadi – dan seakan buat pertama kalinya

Kau merasakan, betapa belianya angin

Dan kisah tidak konsisten dari butiran salju yang meleleh merupakan sesuatu yang baru.

 

Buat pertama kalinya aku menuliskan sajak-sajak –

Meski aku menulis sajak sudah sedemikian lama.

Biarkanlah begitu banyak kegembiraan yang meriangkan,

Tetapi aku mengingat hanya sajak terakhir – satu sajak saja.

 

Begitulah yang terjadi…Tidak ada yang surut, atau pun yang membusuk

Yang dikenal oleh gairah, yang dilahirkan lagi dan lagi.

Kau – sajak pertamaku

Dan cinta pertama, dan cinta yang tidak bakal pernah mati.

 

 

TIDAK ADA YANG LEBIH INDAH

 

Hidup itu tidak dapat dikira. Kita semua ada di dalam kekuasaannya.

Kita bersungut kepada kehidupan dan menyerapahinya.

Semakin rumit hidup, semakin berbahaya –

Semakin jadi putus asa kita mencintainya.

 

Aku melangkah di jalan yang tidaklah mudah,

Lubang-lubang, kubangan-kubangan – hanya, aku, bertahanlah!

Tetapi tidak ada seorang pun yang memikirkan, sesungguhnya,

Mengenai sesuatu pun, yang lebih indah, dibandingkan kehidupan.

 

 

CINTA, YANG DATANG KEPADAKU PADA MUSIM SEMI ITU

 

Tahun-tahun berlaluan, dengan mengambil dan memberi,

Kadang – melalui hati secara terang-terangan, kadang dengan jalan memutar,

Dan jangan menutup lembaran-lembaran kalender dan

Cinta, yang datang kepadaku pada musim semi itu.

 

Segalanya berubah – kadang mimpi, kadang waktu.

Segalanya berubah – kampungku dan bumi raya.

Segalanya berubah. Hanya satu yang tidak berubah

Cinta, yang datang kepadaku pada musim semi itu.

 

Ke manakah badai telah membawa kalian, kawan-kawanku?

Masih belum begitu lama juga kalian mengadakan pesta denganku.

Kini aku melihat satu-satunya kawan –

Cinta, yang datang kepadaku pada musim semi itu.

 

Baiklah, aku akan tunduk kepada tahun-tahun yang mendatang,

Akan aku berikan segalanya kepada mereka – kemilaunya siang dan sinarnya malam.

Hanyalah satu– biarkan orang-orang tidak memintanya! – yang tidak bakal aku berikan:

Cinta, yang datang kepadaku pada musim semi itu.

 

 

DAGESTAN

 

Manakala aku, yang berpergian ke banyak negara,

Dan kelelahan, kembali dari jalan, pulang ke rumah,

Dagestan bertanya, seraya membungkuk di atasku:

“Tidak adakah pelosok jauh, yang membuatmu jatuh hati?”

 

Aku pun menaiki gunung dan dari ketinggian itu,

Setelah menghela nafas dalam-dalam, kepadanya aku jawab:

“Tidaklah sedikit pelosok yang aku lihat, tetapi kau

Sebagaimana dulu memang tempat yang paling dicintai di muka bumi.”

 

Aku, bisa jadi, memang jarang bersumpah kepadamu dalam soal cinta,

Mencintai bukanlah sesuatu yang baru, tetapi bersumpah juga bukan sesuatu yang baru,

Aku mencintai dengan diam-diam, lantaran aku waswas:

Kata-kata yang diulang ratusan kali bakalan memudar.

 

Dan jika kepadamu, setiap anak laki-laki dari tempat ini

Seraya berteriak, seperti seorang bentara, akan bersumpah dalam soal cinta,

Maka batu-batu karang milikmu akan merasa jemu

Baik mendengar, maupun menjawab gema di dalam kejauhan.

 

Ketika kau tenggelam di dalam airmata dan darah,

Anak-anak lelakimu, yang sedikit berujar,

Pergi ke kematian, dan dengan sumpah diabdikannya perasaan cinta.

Terdengar tembang hebat dari bilah-bilah pisau belati.

 

Dan setelahnya, ketika pertempuran mereda,

Kepadamu, wahai Dagestan, di dalam cinta sejati

Anak-anakmu yang tidak banyak bicara bersumpah

Dengan beliung yang dipukul-pukul dan sabit yang mendencing.

 

Selama berabad-abad kau mengajarkan semua orang dan aku

Untuk bekerja dan hidup tidak dengan berisik, tetapi berani,

Kau mengajarkan, bahwasanya kata-kata lebih berharga dibandingkan kuda,

Dan orang-orang gunung tidak akan memasangkan pelana tanpa urusan.

 

Dan bagaimanapun juga, setelah kembali kepadamu dari tempat-tempat yang asing,

Dari kota-kota yang jauh, baik yang riuh bicara maupun yang penuh akal,

Aku masih saja kesulitan untuk berdiam, manakala mendengarkan suara-suara

Dari ricikanmu yang menembang dan suara gunung-gunungmu yang bermartabat.

 

SANTA CLARA

 

Sampai pagi hari di boulevard aku berjalan-jalan,

Aku masih belum semuanya melihat Santa Clara

Barangkali, Santa Clara dari dongengan kuno –

Kota dengan penamaan yang demikian halus?

 

Semuanya aku ulangi dengan lembut: Santa Clara.

Dan aku memanggil dengan segala harap: Santa Clara.

Dan aku melirih dengan lara: Santa Clara.

Dan aku berdiri di dalam diam: Santa Clara.

 

Siapatah yang mendirikan sebagai kehormatan bagi perempuan kecintaannya

Kota indah yang tak tertiru ini?

Siapatah yang memberikan hadiah kepada pengantin perempuannya

Kota ini – sebagai satu dongengan, kota ini – sebagai satu tembang?

 

Aku mendengar, di kejauhan terdengar suara gitar.

Kepadamu aku akui, Santa Clara:

Hidupku ini indah dan kaya

Dengan nama-nama, yang sakral bagi hati.

 

Itu adalah bunda – kau dengar, Santa Clara

Itu adalah anak perempuan – o, lebih tenanglah, Santa Clara

Dan saudara perempuanku di kampung tua.

Dan istriku, ah, Santa Clara!

 

Kalau saja aku mampu membikin keajaiban –

Aku bakal dirikan kota-kota di mana pun

Kota-kota di seberang sungai, di balik gunung-gunung

Dan aku menamainya dengan nama-nama yang indah.

 

Kalau saja setiap kota ditahbiskan

Dengan nama-nama perempuan yang sangat luar biasa,

Orang-orang akan dapat tidur dengan tenang

Dan perseteruan dan perang akan menghilang.

 

Semua orang akan mengulang pada tiap jamnya

Nama-nama kawan perempuan yang indah –

Serupa, seperti di dalam kesunyian boulevard-mu

Dan sampai pagi hari aku ulang-ulang: Santa Clara…

________________________

*) RASUL GAMZATOV

Rasul Gamzatovich Gamzatov (1923-2003) dilahirkan di desa Tsada, distrik Khunzakhsky, Dagestan, di dalam keluarga sastrawan Gamzat Tsadasa. Ayahnya tersebut merupakan seorang guru dan mentor pertamanya di dalam seni sajak. Sajak pertama Rasul Gamzatov ditulis  ketika dia berumur sebelas tahun.

Setelah lulus dari sekolah setempat, Rasul Gamzatov masuk ke sekolah pedagogi. Kemudian dia menjadi seorang guru, tetapi tidak begitu lama dan beberapa kali dia mengubah profesi: pernah menjadi asisten sutradara di teater keliling Avar, koresponden di surat kabar Bolshevik Mountains, dan bekerja di radio.

Pada tahun 1943 Gamzatov mempublikasikan kumpulan puisi pertamanya di dalam  bahasa Avar, Fiery Love dan Burning Hate.

Pada tahun 1945-1950 Gamzatov belajar di The Maxim Gorky Literature Institute. Setelah menamatkan pendidikannya, Rasul Gamzatov pada tahun 1951 menjadi Chairman of  the Union of Writers of Dagestan, tempat dia mengabdi sampai akhir hayatnya pada tahun 2003.

Karya-karya ternama Gamzatov, antara lain: The Older Brother (1952), Dagestani Spring (1955), Miner (1958), My Heart is in The Hills (1959), Two Shawls, Letters (1963), novel liris My Dagestan (1967-1971), Rosary of Years (1968), By The Hearth (1978), Island of Women (1983), dan Wheel of Life (1987).

Pada tahun 1952 Gamzatov dihadiahi the State Stalin Prize untuk karya kumpulan puisinya The Year of My Birth, tahun 1963 – The Lenin Prize untuk karyanya High Star, dan tahun 1981 –  The International Botev Prize, suatu penghargaan yang didasarkan kepada nama sastrawan ternama Bulgaria dan juga seorang tokoh Revolusioner: Hristo Botev.

Monumen Gamzatov, sebagai suatu penghargaan yang tinggi dari pemerintah Rusia dan orang-orang Dagestan, diresmikan pada 5 Juli 2013 di Yauzsky Boulevard,  Moskow. Monumen tersebut didirikan untuk merayakan 90 tahun kelahiran Rasul Gamzatov.

Sangatlah mungkin, Rasul Gamzatov merupakan satu-satunya sastrawan yang paling dikenal, yang menulis di dalam bahasa Avar atau Avarik, yakni bahasa yang digunakan, terutamanya, di bagian barat dan selatan Republik Kaukasus-Rusia di Dagestan, daerah Balaken, Zaqatala di barat laut Azerbaijan. Penutur bahasa ini diperkirakan hanya sekitar 762.000 orang dan UNESCO mengklasifikasikan bahasa Avar ini sebagai bahasa yang rentan terhadap kepunahan.

Continue Reading

Classic Poetry

Kidung Sajak Nizar Qabbani

mm

Published

on

Sajak

1/

Kawan
Kata-kata lama telah mati.
Buku-buku lama telah mati.
Pembicaraan kita mengenai lubang seperti sepatu usang telah mati.
Mati adalah pikiran yang mengarahkan pada kekalahan.

2/
Puisi-puisi kami sudah basi.
Rambut perempuan, malam hari, tirai, dan sofa
Sudah basi.
Segalanya sudah basi.

3/
Negeri duka-citaku,
Secepat kilat
Kau merubah aku dari seorang penyair yang menulis puisi-puisi cinta
Menjadi seorang penyair yang menulis dengan sebilah pisau.

4/
Apa yang kami rasa lebih dari sekadar kata-kata:
Kami harus malu lantaran puisi-puisi kami.

5/
Dikendalikan oleh omong kosong Oriental,
Oleh sombongnya keangkuhan yang tak pernah membunuh seekor lalat pun,
Oleh biola dan beduk,
Kami pergi berperang,
Lalu menghilang.

6/
Teriakan kami lebih lantang ketimbang tindakan kami,
Pedang kami lebih panjang ketimbang kami,
Inilah tragedi kami.

7/
Pendeknya
Kami mengenakan jubah peradaban
Namun jiwa kami hidup di zaman batu.

8/
Kau tak memenangkan perang
Dengan buluh dan seruling.

9/
Ketaksabaran kami
Membayar kami lima puluh ribu tenda baru.

10/
Jangan mengutuk sorga
Jika ia membuang dirimu,
Jangan mengutuk keadaan,
Tuhan memberi kemenangan pada siapa yang Ia kehendaki
Tuhan bukanlah seorang pandai yang dapat kau minta menaklukan senjata.

11/
Betapa menyakitkan mendengar berita pagi hari
Betapa menyakitkan mendengar salak anjing.

12/
Musuh-musuh kami tak melintasi perbatasan kami
Mereka merayap melalui kelemahan kami seperti semut.

13/
Lima ribu tahun
Janggut tumbuh
Di goa-goa kami.
Mata uang kami tak diketahui,
Mata kami sebuah surga bagi serangga.
Kawan,
Bantinglah pintu,
Cucilah otakmu,
Cucilah pakaianmu.
Kawan,
Bacalah buku,
Tulislah buku,
Tumbuhkan kata-kata, anggur dan delima,
Berlayarkah ke negeri kabut dan salju.
Tak seorang pun tahu kau hidup di goa-goa.
Orang-orang mengambilmu untuk pengembangbiakan anjing liar.

14/
Kami adalah orang berkulit tebal
Dengan jiwa yang kosong.
Kami habiskan hari-hari kami dengan belajar sihir,
Main catur dan tidur.
Adakah kami “Bangsa di mana Tuhan memberkati manusia?”

15/
Minyak gurun kami bisa menjadi
Belati nyala api dan api.
Kamilah aib bagi nenek moyang kami yang mulia:
Kami biarkan minyak kami mengalir lewat jemari kaki para pelacur

16/
Kami berlari serampangan di jalan-jalan
Menarik orang-orang dengan tali,
Menghancurkan jendela dan kunci.
Kami memuji bagai katak,
Mengubah orang kerdil jadi pahlawan,
Dan pahlawan menjadi sampah:
Kami tak pernah berhenti dan berpikir.
Di mesjid
Kami tertunduk malas
Menulis puisi-puisi,
Pepatah-pepatah,
Memohon pada Tuhan untuk kemenangan
Atas musuh kami.

17/
Jika aku tahu aku akan datang tanpa kesalahan,
Dan dapat melihat Sultan,
Inilah yang akan kukatakan:
‘Sultan,
Anjing-anjingmu yang liar merobek pakaianku
Mata-matamu mengintaiku
Mata mereka mengintaiku
Hidung mereka mengintaiku
Kaki mereka mengintaiku
Mereka mengintaiku bagai Takdir
Menginterogasi istriku
Dan mencatat nama-nama kawanku.
Sultan,
Saat aku mendekati dindingmu
Dan bicara mengenai lukaku,
Tentara-tentaramu menyiksaku dengan boot mereka,
Memaksaku memakan sepatu.
Sultan,
Kau kehilangan dua perang,
Sultan,
Setengah rakyat kita tanpa lidah,
Apalah gunanya seorang manusia tanpa lidah?
Setengah rakyat kita
Terjebak bagai semut dan tikus
Di sela dinding.’
Jika aku tahu aku akan datang tanpa kesalahan,
Akan kukatakan padanya:
‘Kau kehilangan dua perang
Kau kehilangan kontak dengan anak-anak.’

18/
Jika kami tak mengubur persatuan kami
Jika kami tak merobek tubuh-tubuh segar dengan bayonet
Jika ia berdiam di mata kami
Anjing-anjing tak kan mencincang daging kami membabi-buta.

19/
Kami tidak menginginkan sebuah generasi yang marah
Untuk membajak langit
Untuk meledakkan sejarah
Untuk meledakkan pikiran-pikiran kami.
Kami menginginkan sebuah generasi baru
Yang tak memaafkan kesalahan
Yang tak membungkuk.
Kami menginginkan sebuah generasi raksasa.

20/
Anak-anak Arab,
Telinga jagung masa depan,
Kalian akan memutuskan rantai kami,
Membunuh opium di kepala kami,
Membunuh ilusi.
Anak-anak Arab,
Jangan membaca generasi kami yang tercekik,
Kami hanyalah sebuah kotak tanpa harapan.
Kami sama tak berharganya dengan kulit semangka.
Jangan baca kami,
Jangan turuti kami,
Jangan terima kami,
Jangan terima pikiran kami,
Kami hanyalah bangsa bajingan dan pemain akrobat.
Anak-anak Arab,
Hujan musim semi,
Telinga jagung masa depan,
Kalian adalah generasi
Yang akan mengatasi kekalahan.

*) Nizar Qabbani lahir di ibukota Suriah Damaskus dari keluarga pedagang kelas menengah. Qabbani dibesarkan di Mi’thnah Al-Shahm, salah satu tetangga Damaskus lama. Qabbani menempuh pendidikan di Scientific College School nasional di Damaskus antara 1930 dan 1941. Sekolah tersebut dimiliki dan dijalankan oleh teman ayahnya, Ahmad Munif al-Aidi. Ia kemudian mempelajari hukum di Universitas Damaskus, yang disebut Universitas Suriah sampai 1958. Ia lulus dengan gelar sarjana dalam hukum pada 1945. (Wikipedia)

Continue Reading

Classic Poetry

Sajak Sajak Sir Allamah Muhammad Allama Iqbal

mm

Published

on

Harapan Kepada Pemuda

Aku harapkan pemuda inilah yang akan sanggup

membangunkan zaman yang baru

memperbaru kekuatan iman

menjalankan pelita hidayat

menyebarkan ajaran khatamul-anbiya’

menancapkan di tengah medan pokok ajaran Ibrahim

Api ini akan hidup kembali dan membakar

jangan mengeluh jua , hai orang yang mengadu

Jangan putus asa , melihat lengang kebunmu

Cahaya pagi telah terhampar bersih

Dan kembang-kembang telah menyebar harum narwastu

 

Khilafatul-Ard akan diserahkan kembali ke tanganmu

Bersedialah dari sekarang

Tegaklah untuk menetapkan engkau ada

Denganmulah Nur Tauhid akan disempurnakan kembali

Engkaulah minyak atar itu , meskipun masih tersimpan dalam

kuntum yang akan mekar

 

Tegaklah, dan pikullah amanat ini atas pundakmu

Hembuslah panas nafasmu di atas kebun ini

Agar harum-harum narwastu meliputi segala

Dan janganlah dipilih hidup ini bagai nyanyian ombak

hanya berbunyi ketika terhempas di pantai

Tetapi jadilah kamu air-bah , mengubah dunia dengan amalmu

 

Kipaskan sayap mu di seluruh ufuk

Sinarilah zaman dengan nur imanmu

Kirimkan cahaya dengan kuat yakinmu

Patrikan segala dengan nama Muhammad

 

 

Nasehat Elang Pada Anaknya

Kau tahu bahwa semua elang hanya pantas bagi sesama elang:

Dengan segenggam sayap, masing-masing memiliki hati singa.

Harus berani dan hormat diri, sergaplah mangsa yang besar saja.

Jangan bersibuk dengan ayam hutan, burung meliwis dan pipit

Kecuali jika kauingin melatih kepandaianmu memburu.

 

Adalah hina, pengecut, tanpa berusaha mengeram

Membersihkan paruh kotor dengan mengambil makanan dari tanah.

 

Elang tolol yang meniru cara hidup burung pipit yang pemalu

Akan menjumpai nasib malang sebab ialah yang menjadi mangsa buruannya

 

Kutahu banyak elang yang jatuh dalam debu di mata mangsanya

Oleh karena mereka memilih jalan hidup burung pemakan gandum.

 

Peliharalah martabatmu hingga hidupmu bahagia

Selalulah geram, keras, berani dan kuat dalam perjuangan hidup.

Biarlah ayam hutan yang malang punya tubuh indah dan langsing

 

Bangunlah dirimu kokoh seteguh tanduk rusa jantan.

Apa pun kesenangan yang berasal dari kehidupan fana di sini

Datang dari hidup yang penuh keberanian, kegiatan dan kecermatan.

 

Nasehat berharga yang telah diberikan elang pada anaknya:

Jadikan tetesan darah kemilaumu berkilat-kilat bagaikan manikam.

Jangan kehilangan diri dalam penggembalaan seperti domba dan kerbau

 

Jadilah dirimu seperti nenek-moyangmu semenjak dulu.

Kuingat dengan baik betapa orangtuaku senantiasa menasehatiku begitu.

“Jangan bangun sarangmu di dahan pohon, “ ujar mereka.

“Kita para elang tak mencari perlindungan di taman dan ladang manusia.

Surga kita di puncak-puncak gunung, gurun luas dan tebing jurang.

Bagi kita haram menjemput bulir-bulir jelai dari tanah

 

Sebab Tuhan telah memberi kita ruang lebih tinggi yang tak terbatas.

Penduduk kelahiran angkasa yang berdiam di bumi

Di mataku lebih buruk dari burung kelahiran bumi.

Bagi elang ladang buruannya adalah karang dan batu jurang

Karang baginya adalah batu gosok untuk mempertajam cakar-cakarnya.

 

Kau adalah salah seorang anak kebuasan yang bermata dingin

Keturunan paling murni dari burung garuda.

Jika seekor elang muda ditantang oleh seekor harimau

Tanpa mengenal takut ia akan membelalakkan matanya.

Terbangmu pasti dan megah seperti terbang malaikat

 

Dalam nadimu mengalir darah raja purba puncak-puncak gunung

Di bawah kolong langit yang luas ini, kau tinggal

Martabatmu terangkat oleh kekuatan, sasaran apa pun tak ditampik oleh matamu

 

Kau tak boleh meminta makanan dari tangan orang lain kapan pun saja.

Baik-baiklah kau membawa diri dan dengarkan selalu nasehat yang baik dan luhur

 

 

Cinta Abadi

 

Cinta itu abadi dan ke dalam keabadian ia pergi

Jika hari pembalasan tiba

Orang berduyun ingin jadi pemburu cinta

Sebab tanpa cinta ia akan terhina

 

Titik cerlang yang bernama peribadi

Api kehidupan dalam tumpukan abu kita

Cinta menggosoknya menjadi lebih abadi lagi

 

Cinta mengangkat insan membumbung tinggi

Hingga tercapai tangga keluhuran dekat ilahi

Jika wujud ini adalah benda belum selesai

Cinta membentuknya hingga sempurna

Wahai muslim, dengar kisahku menjadi manusia

 

Oleh cinta pribadi kian abadi

Lebih hidup, lebih menyala, dan lebih kemilau

Dari cinta menjelma pancaran wujudnya

Dan perkembangan kemungkinan yang tak diketahui semula

Fitrahnya mengumpul api dari cinta

 

Cinta mengajarinya menerangi alam semesta

Cinta tak takut kepada pedang dan pisau belati

Cinta tidak berasal dari air dan bumi

Cinta menjadikan perang dan damai di dunia

Sumber hidup ialah kilau pedang cinta

 

Nyanyian Waktu

 

Aku derita mahupun penawar

Kesederhanaan mahupun kemegahan.

Aku pedang yang menghancurkan

Aku mata air kekekalan

Aku api yang membinasakan

Aku taman kebaqaan

Pertentanganku nyata

(Anggaplah itu tipu-muslihat):

Berubah selalu, diam senantiasa

Tak berubah dalam dada yang berubah.

Seperti jiwa manusia aku tak terikat

Pada lambang-lambang bilangan-

Aku tak terikat pada masa dan keluasan

Pada pergantian dan tahun kabisat

Kau adalah rahasia terpendam dalam dirimu

Aku adalah rahasia dari wujudmu.

Aku hidup karena kau memiliki jiwa

Dan tempat tinggalku adalah kesendirian jiwamu

 

*) Muhammad Iqbal (Urdu: محمد اقبال), (lahir di Sialkot, Punjab, India, 9 November 1877 – meninggal di Lahore, 21 April 1938 pada umur 60 tahun), dikenal juga sebagai Allama Iqbal (Urdu: علامہ اقبال), adalah seorang penyair, politisi, dan filsuf besar abad ke-20.

Ia dianggap sebagai salah satu tokoh paling penting dalam sastra Urdu, dengan karya sastra yang ditulis baik dalam bahasa Urdumaupun Persia. Iqbal dikagumi sebagai penyair klasik menonjol oleh sarjana-sarjana sastra dari Pakistan, India, maupun secara internasional. Meskipun Iqbal dikenal sebagai penyair yang menonjol, ia juga dianggap sebagai “pemikir filosofis Muslim pada masa modern”. Buku puisi pertamanya, Asrar-e-Khudi, juga buku puisi lainnya termasuk Rumuz-i-BekhudiPayam-i-Mashriq dan Zabur-i-Ajam;; dicetak dalam bahasa Persia pada 1915. Di antara karya-karyanya, Bang-i-DaraBal-i-JibrilZarb-i Kalim dan bagian dari Armughan-e-Hijaz merupakan karya Urdu-nya yang paling dikenal. Bersama puisi Urdu dan Persia-nya, berbagai kuliah dan surat dalam bahasa Urdu dan Bahasa Inggris-nya telah memberikan pengaruh yang sangat besar pada perselisihan budaya, sosial, religius dan politik selama bertahun-tahun. Pada 1922, ia diberi gelar bangsawan oleh Raja George V, dan memberinya titel “Sir“.

Ketika mempelajari hukum dan filsafat di Inggris, Iqbal menjadi anggota “All India Muslim League” cabang London. Kemudian dalam salah satu ceramahnya yang paling terkenal, Iqbal mendorong pembentukan negara Muslim di Barat Daya India. Ceramah ini diutarakan pada ceramah kepresidenannya di Liga pada sesi Desember 1930. Saat itu ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Quid-i-Azam Mohammad Ali Jinnah.

Iqbal dikenal sebagai Shair-e-Mushriq (Urdu: شاعر مشرق) yang berarti “Penyair dari Timur”. Ia juga disebut sebagai Muffakir-e-Pakistan(“The Inceptor of Pakistan”) dan Hakeem-ul-Ummat (“The Sage of the Ummah”). Di Iran dan Afganistan ia terkenal sebagai Iqbāl-e Lāhorī (اقبال لاهوری‎ “Iqbal dari Lahore”), dan sangat dihargai atas karya-karya berbahasa Persia-nya. Pemerintah Pakistan menghargainya sebagai “penyair nasional”, hingga hari ulang tahunnya (یوم ولادت محمد اقبال‎ – Yōm-e Welādat-e Muammad Iqbāl) merupakan hari libur di Pakistan. (Wikipedia)

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending