Connect with us

Prose & Poetry

Puisi-Puisi Fitrah Anugerah

mm

Published

on

Pengembara yang Malang

 

Untuk siapa saja yang mendengarkan khutbah setiap pagi

Untuk yang memikul beban di punggung dan menderaskan keluhan

Sesungguhnya yang membencimu maka dialah yang terputus tali

Bersembunyi. Menjeburkan diri dalam kolong kegelapan.

 

Untuk siapa saja tak patut mendustakan dan menolak jejak

Sedang semesta lebih sempurna ketimbang kesombongan kata

Menampakkan susunan mempesona tak lebih baik dari cahaya

Hanya gemerisik ketakutan menyeret gelombang buih beriak.

 

Sedang mata adalah kesaksian atas keutuhan nikmat

Menemukan jalan menembus tabir antara kesedihan dan bahagia

Bagai melintasi bayangan kelabu burung dan terang tepian samudra

Melesatkan perasaan yang lahir barangkali menembus segala hakekat

 

Tafsir yang semakin jauh. Hanya menyusuri kekosongan pada jiwa

Yang lalai. Terlupa doa. Sungguh aku renta terkoyak pesona buta

Oh kepedihan pengembara yang malang menumpahkan kembali air mata

Kisahkan rumah yang hilang hanyut dalam luap amarah sungai

Sekiranya berpulang di gelombang kesunyian matahari

 

Bekasi, 2016

 

Obat Nyamuk Bakar

 

Tarian asap sengak di udara pengap. Berkali-kali terbatuk-batuk

Menyadari kemiskinan. Mengakui mimpi masih panjang tergelar

Sepanjang malam membentukan umpatan kosong dan melayang tepuk

Sigap memburu setitik darah yang hilang. Raga kecil itu akan hancur

Menyisakan percik merah kering. Tetapi kejengkelan ini belum tamat

Sejumlah tanda kematian menghiasi dinding. Bagai kengerian membawa

Lebam benturan. Ranjang ini menjadi saksi berjatuhan mayat-mayat

Sekarat yang tak sempat menembus pekat mimpi. Hanya memberikan nyawa

 

Perlahan bara memagut separuh putaran. Asap kian mengepul, menyisakan debu

Putih pucat. Apa yang telah disingkap dari sebuah perjalanan? Sedang angin berderu

Menelusup di antara lobang. Diam-diam membawa kerentaan jauh tak terjangkau

Ini hidung kembang kempis merasakan. Dada yang sesak ajaib seketika mengatur laju

Mendenguskan nafas panjang. Kita membutuhkan kenyamanan tanpa perlu cemburu

Pada tetangga yang menanam lavender di halaman rumah. Mungkin bersabar menunggu

Bebunyian nyaring di telinga. Entah kenapa telinga menjadi tempat ternyaman bersembunyi

Dari asap pembakaran barangkali ada hantu bersemayam yang suka mengambil setiap mimpi

 

Bekasi, 2016

 

 

Nafas Sungai

 

Sungai adalah arus hatimu membaca surat jauh

Mengalir membawa butiran lara atau suka

Terlukis riak gelombang pada permukaan seakan bahasa

Yang menyeret untuk tenggelam lebih dalam

 

Mungkin harus memancing kata dalam gejolak sukma

Menjulurkan lamunan serupa kail ke tempat asing

Atau melemparkan jala angan sejauh-jauhnya

Kita mesti tabah menanti di batas udara lengang

 

Sungai adalah bayang senja menyapa letih petualang

Bening air membasuh bekas luka di punggung

Mereguknya. Mengganti dahaga tak terkira menjadi rona berkembang

Menjelma gurit rindu tempat berpulang di ladang-ladang asing

 

Sungai yang mengalir dan cahaya membisu di antara rahasia

Kehidupan menjelma nafas mimpi menembus kesunyian kota

Kita yang telah menemukan sebuah pintu dan bermukim abadi

Mengganti pakaian, dan menyiapkan kail dan jala untuk esok hari

 

Bekasi, 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 Sungai Cimanuk 

 

Sebuah sungai bersemayam dalam peta kota

Tak henti mengalir dari hulu sejarah masa lalu

Beriring tumpah keringat pembuka lahan dari utara

Menjelma gairah hidup, seakan gerak tarian kidang

Memberi harapan pada pengembara jauh menuntaskan pencarian

Pada sebuah sungai segala letih terpatok di pinggiran seakan tanda

Berdiam untuk waktu tak terhingga, hanya menyaksikan kibaran bendera

Mengiringi arus air seakan memberi salam ke setiap sampan yang berlabuh

Mengundang orang-orang berdatangan dari seberang membawa kesiur kenangan

Pada pesona Dharma Ayu menyematkan benih kehidupan dan harum wangi kisah

 

Tetapi kenangan adalah buaya yang bertapa di tempat tersembunyi

Mungkin harus menghilang dan butuh keberanian mengakrabi,

Atau cukup menjadi pemancing yang menafsirkan kecipak tarian ikan

Pada ketenangan sungai di bawah pancar bulan bersanding tautan bintang orion

Sungguh waktu adalah hitungan sunyi untuk bertanam kembali

Di ladang subur yang terbentang sepanjang pinggir sungai cimanuk

 

Bekasi, 2016

 

 

 

Kampung Kelahiran

 

Keharuan menghanyutkan tujuan ke ujung rindu

Aku mengenangmu menjelma khayalan pengembara yang kasmaran

Pada kampung yang menyimpan rumah dan ingatan tentang kelahiran

Kepulangan ini adalah mimpi menawarkan cuaca indah di alur waktu.

 

Katakanlah kita pernah lahir, dan berdiam dalam rumah kecil

Berlarian di jalanan sempit penuh jemuran. Kita selalu mendengar keributan

Seorang ibu memanggil anak-anaknya pulang dari bermain. Dan kepulangan bapak

Dengan senyum menyambut. Kita pun menggapai tangan kekarnya. Tak peduli keletihan.

 

Katakan saja bila kita pernah melangkahkan kaki menjauhi kampung

Terjauh melangkah menyusuri takdir hidup sebagai perantau.

Kita yang selalu mengibarkan layar di bawah langit berwarna-warni

Hingga terpikat pada senja di seberang alamat. Semakin jauh merana sendiri.

 

Ingatlah kampung kita tak pernah letih menampung yang telah lama pergi

Serasa pertemuan yang menyenangkan dan meneguhkan di antara kumandang rindu

Melabuhkan dan meminang kembali ingatan jalan pulang pada serpihan kenangan

Yang retak terabaikan bagai sobekan kertas catatan harian yang hilang tersembunyi.

 

Pada kampung kelahiran, aku teringat dirimu,  para penghuni silsilah keluarga

Melagukan gairah bercerita turun-temurun di antara tabuhan nada pilu dan isak sedih

Tentang satu persatu tetua pergi menghilang dalam kabar kematian surau kampung

Tinggal beberapa penghuni menunggu senja di halaman masing-masing dan membuat janji

Saling bersalam pelukan yang masih tersisa dan setia menjaga rumah peninggalan terakhir.

 

Bekasi, 2016

 

 

Perjalanan

 

Kesenyapan menggulung dan memuncaki kecemasan

Pohon pinus dan karet mengirim pesan temaram

Angin mendengus dalam rintih cuaca. Menahan awan

Mengaburkan warna bunga-bunga yang tenggelam

Sepanjang perjalanan mengurai udara pegunungan

 

Aku menginsyafi setiap jejak membatu teramat sendu

Menembus hasrat menggebu di dasar jantung

Sedang kabut berdebu menawarkan ngilu yang abadi

Meninggalkan serakan daun dan bayangan puing ranting

 

Aku yang berhayal menyusuri jalanan tanpa tujuan

Menjaga jiwa dari lompatan dan benturan sepanjang perbatasan

Mencari kiblat di setiap pemberhentian hingga menggambar persimpangan

Dalam kebimbangan dan bayangan keletihan yang merambat. Mencari kejelasan

 

Perjalanan ini abadi seakan kekal dalam diam tanpa mengganggu irama

Sungguh aku ingin masuk dan menembus di sela-sela temaram kota sepi

Meski termangu dan risau seakan kehilangan sebuah alamat dan nama

Oh aku harus memagut setiap luka yang pernah tertinggal dan kukenali

 

Bekasi, 2016

 

 

Lingsir Wengi

 

Jangan tidur dulu

Ke sinilah kita habiskan malam ini

Dengan menambah secangkir teh menjelang dini hari

Sebelum pulau ini bangun, mengutuki ego kita, menjadi angkuh batu waktu

Menyeret dan membasuh bekas jejak ke pulau jauh.

Malam ini dengarkan cerita hatiku

 

Kita menghitung abjad yang tersimpan

Menjadikan kalimat dan menyisipkan sebuah nama

Menjelang dini hari. Kita menyudahi pertemuan

Sebelum kita pergi menjauh dan tak memperhatikan

Sebelum melepaskan tali pertautan

Berjanji memberi kesempatan menjeratkan ingatan

 

Kita hanya menggantungkan waktu di sisa cahaya bulan

Dan gigitan mesra serupa gigitan semut rangrang

Tiada terluka hanya mengakhiri dalam diam

Lalu memulai pengembaraan tersendiri

Ke batas nisbi di tepi pulau

 

Malam ini duduklah di sampingku

dan kita bercerita tentang firman Tuhan

yang turun dalam kesunyian pagi

 

Bekasi 2016

 

 

Malam Jumat

 

Tentunya kita tak saling mencintai

Setidaknya kita telah mulai berkhianat

Dari ranjang yang sama mengingkari

Baju dan selimut yang pernah menyingkap kekanakan kita

 

Kita percaya kita telah keliru membaca isyarat

Mungkin terlupa tak menghayati jalan panjang yang terlewat

Atau telah menuangkan air dingin pada bara cinta

Dan cinta ini dingin membuat lelap

 

Pernahkah kita mendengar langkah-langkah asing

Dalam mimpi dan mendengarkan suara-suara mengharukan

Memaksa kita mengikuti hingga ke langit jauh

Tak terasa kita bergandeng tangan

Dalam kengerian kita berdiam pasrah

Bila jatuh menimpa awan atau angin

Terasa manis meski sedikit nyeri tertinggal.

 

Bekasi, 2016

 

Fitrah Anugerah: Lahir di Surabaya, 28 Oktober 1974.  Berkesenian atau berpuisi semenjak menjadi anggota Teater Gapus, Sastra Indonesia, Unair, Kedaiilalang, Kali Malang Bekasi, dan FSB (Forum Sastra Bekasi. Karya-karyanya pernah dimuat di harian Langgam Sumut Pos, Fajar Sumatera, Indo Pos, Media Indonesia, Sastra Sumbar, Padang Ekspress, Minggu Pagi, Surabaya Post, Sinar Harapan, Suara Karya, Bangka Pos, Banjarmasin Post, Mata Banua, Riau Realita, Joglosemar, Jurnal Sarbi, Majalah Jejak, dan Radar Bekasi. Beberapa puisinya dibukukan dalam Kumpulan Puisi Kumpulan Puisi Pasie Karam (2016), Antologi Puisi Wayang “Tancep Kayon”(2016), e-book “Jalan Setapak, (Evolitera : 2009) , Antologi Puisi Kampungan (2015), Antologi Puisi Sakarepmu, Antologi “Surabaya Dalam Lembaran Kenangan” (2015), Antologi Tifa Nusantara2 (2015), Antologi “Saksi Bekasi”(2014), Antologi Puisi Bersama “Kepada Bekasi” (2013), Antologi Puisi Lumbung Puisi I dan II 2014, Antologi “Sang Peneroka”, dan Antologi di Negeri Poci 5 : Negeri Langit (2014),. Sekarang bekerja dan domisili di Bekasi.

Continue Reading

Cerpen

Cinta Ayu

mm

Published

on

Dengan langkah kaki cepat, Ayu bergegas menuju gedung Diponegoro untuk mengikuti seminar. Seminar yang mengambil tema “Menyoal Cinta dan Feminisme” bukan hanya memikat hati Ayu, melainkan kebanyakan hati perempuan. Sebab, pembicara dalam seminar ialah seorang feminis laki-laki, sekaligus aktivis “kemanusiaan” yang menjadi diskursusnya. Kendati ia masih berstatus mahasiswa. Namun, ia bagaikan matahari yang menjadi pusat perhatian di kampusnya. Pagi itu, bukan tanpa perjuangan bagi seorang gadis yang hidupnya normal. Ayu memutuskan alpa sarapan pagi beserta Abah dan Umminya. Satu keputusan radikal yang sepanjang usianya belum sekalipun dilakukannya. “Semoga acaranya belum dimulai,” gumamnya dalam hati.

Setelah setengah berlari menaiki tangga sepanjang lima lantai, Ayu mengatur nafasnya sambil sesekali mengipasi wajahnya yang merah setelah mengambil tempat duduk. “Ayu, sini, kamu lama sekali,” kata April sahabat karibnya. “Ia, maaf saya ketiduran sehabis salat Subuh,” jawabnya pelan.

“Raka sudah berbicara?”

“Belum, Ayu.”

Setelah satu jam berlalu, kini giliran pembicara terakhir yang sudah dinanti-nantikan tampil di podium. “Selamat pagi Puan dan Tuan. Baik untuk menghemat narasi saya langsung masuk pada bagian subtansi…”

“Kenapa tidak mengucapkan Assalamualaikum.”

“Entahlah.”

“Apa dia non-Muslim?”

Ayu tak menjawab. Hanya mengangkat kedua bahunya.

Setelah hampir setengah jam Raka menyampaikan pandangannya, kini waktunya berdiskusi: tanya-jawab. Empat orang penanya sudah mendapatkan jawabannya. Dan Ayu memberanikan diri mengangkat tangannya. “Baik, silakan perkenalkan diri Anda sebelum bertanya,” kata moderator. “Nama saya Ayu Arunika. Saya ingin bertanya pada Mas Raka. Sepanjang penjelasan Anda tentang feminisme. Saya merasa bahwa Anda terlalu liberal. Sebab, Islam justru memuliakan perempuan. Perkara peradaban menghendaki perempuan selalu di bawah laki-laki, karena seorang suami adalah pemimpin dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sebagai hamba tentu harus taat pada perintah Allah SWT. Itu yang pertama. Yang kedua, atas dasar apa Anda mengajukan argumen bahwa doktrin teologis adalah penyumbang kerusakan alam? Bahkan berperan dalam mendorong rusaknya lingkungan alam akibat doktrin antoposentrisnya. Terima kasih.”

Pertanyaan yang mengagetkan semua orang yang sedang asyik-masyuk mendengar penjelasan Raka, mahasiswa filsafat yang menjadi bintang di acara itu. Dengan tenang Raka menjawab, “Ayu Arunika. Sebagai fakta nama itu indah untuk dikecupkan. Saya tahu arah pertanyaanmu. Benar-benar pertanyaan teologis. Tadi dikecupkan kata “hamba”. Maka, dengan sendirinya ada hierarki dalam kalimat yang Anda susun: Tuhan dan hamba. Saya mengajukan argumen yang basisnya adalah reasoning. Dan Anda mengajukan pertanyaan yang dibungkus dokumen dari langit. Tidak mungkin saya debat dengan argumen. Itu yang pertama. Yang kedua perihal ekofeminisme…”

“Tunggu sebentar. Apa keyakinan Anda?” Ayu memotong.

Setelah diam sesaat, Raka menjawab. “Anda tahu bahwa diskusi ini mengangkat tema feminisme. Artinya tidak membahas tema teologis. Pertanyaan Anda tidak ethics, kendati dibungkus dengan kesantunan bahasa. Karena Anda bertanya sesuatu yang bersifat privat. Tidak mungkin saya jawab di ruang publik. Tapi tidak jadi soal. Pukul setengah empat nanti saya ada perlu di perpustakaan. Jika Anda masih penasaran dan menuntut jawaban dari saya, silakan temui saya.” Selanjutnya diskusi berjalan lancar. Namun pertanyaan dari Ayu membuat orang-orang mulai berpikir ulang tentang sosok sang pembicara.

***

Pukul empat sore Ayu datang ke perpustakaan. Di ruang kecil, tempat diskusi, seorang pemuda sedang duduk dengan tenang. Di tangannya terlihat Ivan Illich: Deshooling Society. Setelah menarik nafas panjang Ayu memberanikan diri menghampirinya. “Assalamulaikum, maaf saya terlambat datang.”

“Tak apa. Artinya dikau masih orang Indonesia. Silakan duduk.”

Jawaban yang membuat wajah Ayu merah sebab malu. “Maaf, tadi saya habis salat Ashar terlebih dahulu.” Jawabnya pelan. “Mas Raka sudah Salat?”

Setelah meletakan Ivan Illich, Raka menatap mata Ayu dengan tatapan tajam. “Puan, apa dikau tahu siapa nama orangtuaku? Pekerjaannya apa? Apa dikau juga tahu sosio-historisku?”

Ayu menggelengkan kepala.

“Pertanyaan teologismu itu menghukum psikologiku. Semacam hukuman bahwa saya telah divonis dalam perkara privat: agama tertentu. Dan seringkali pertanyaan itu dianggap hal yang wajar hingga berkumandang di telinga setiap orang. “Kamu sudah salat? Apa agamamu? Pertanyaan itu buat saya semacam arogansi karena disponsori suara mayoritasisme. Bahkan hal semacam itu, terjadi di wilayah akademis. Seharusnya seorang akademis bisa lepas dari hal semacam itu. Di ruang akademis yang ada hanya pikiran. Universitas dalam definisi bebas ialah wilayah di mana sikap kritis itu tumbuh. Artinya tidak dikekang oleh doktrin teologis. Yang ada hanya dialektika rasionalisme. Sebab universitas adalah tempat lalu lintasnya pikiran. No road to heaven. Dan sebagai warga negara, kita hanya diikat oleh etika publik. Status agama itu hak. Artinya seseorang boleh tidak menggunakan haknya. Paham Ayu?”

Mendengar jawaban Raka, airmuka Ayu merah padam. Baru kali ini ia diceramahi pelajaran di luar nalar pikirannya. Wajahnya menunduk, seakan-akan tak sanggup melihat matanya yang tajam bagai mata pedang. Barulah ia sadar bahwa pemuda yang sedang menceramahinya adalah pemuda yang setiap hari diperbincangkan teman-temannya sesama mahasiswi: Raka adalah pemuda cerdas. Menyukai sastra, filsafat, sosiologi, psikologi, politik, hukum dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Raka penggila filsuf Immanuel Kant, Sartre, Heidegger hingga Ivan Illich. Juga ada pula yang mengatakan bahwa sudah banyak perempuan yang patah hati. Bukan lantaran disakiti, melainkan karena alasan yang abnormal: Raka tidak ingin menikah. Pikiran yang benar-benar gila bagi anak muda seusianya.

“Saya minta maaf bila pertanyaanku membuat Mas Raka tersinggung,” kata Ayu sebelum meninggalkan Raka. Akan tetapi, sebelum Ayu menghilang ditelan pintu perpustakaan, Raka menyahut, “Ayu, saya yang minta maaf. Senang berkenalan denganmu. Di luar ada cafe yang nyaman untuk menikmati segelas kopi dan sepotong kenangan.” Ayu terseyum mendengarnya. Senyuman yang menawan. Demikianlah perempuan gemar membunuh seorang lelaki dengan senyumannya.

***

Waktu bergulir dengan cepat. Bergantinya nama bulan seperti bergantinya siang dan malam. Demikianlah bagi hati anak muda yang hari-harinya diliputi bahagia bertabur bunga. Begitulah hari-hari Ayu dan Raka. Keduanya semakin akrab, bukan hanya sebagai teman, melainkan sepasang kekasih yang sedang mengepakan sayapnya. Selepas pertemuan itu, Ayu terpesona oleh Raka yang dinilainya berbeda.

Kendati kasak-kusuk berita negatif tentang Raka tersebar luas di lingkungan kampus. Namun, hal itu tidak membuat Ayu membatalkan cintanya. Tidak pula mempengaruhi Ayu untuk memadamkan api cinta yang menyala di hatinya. Masih menggema lonceng cinta di pikiran batinnya, baginya Raka serupa sang pengusik sepi yang membunyikan loncengnya. “Janganlah dikau padamkan matahari cinta yang terbit dari hati seorang pujangga,” kata-kata itu bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya tepat mengenai jantung hati gadis pujaannya. Ujar Raka pada Ayu suatu senja di bukit Mandalawangi.

Dalam cinta selalu ada kegilaan. Orang gila yang rasional adalah orang yang sedang dimabuk cinta. Hari-hari berikutnya, di mana kaki Raka melangkah, di situ jejak Ayu tertinggal. Terlebih Raka selalu membimbing langkah kaki Ayu pada tempat yang tak terduga: gunung, hutan, dan sekolah rakyat yang didirikannya bersama para sahabatnya. Deschooling Society adalah kitab sucinya Raka.

Namun, ada yang ganjil dalam pikiran Ayu yang setiap malam selalu menghantuinya. Sebab, selama menjadi kekasih Raka, sekalipun Ayu tak pernah mendengar kata dari kamus agama diucapkan olehnya. Juga tidak sekalipun Ayu mempergoki sisa-sisa jejak ritual keagamaan yang dilakukan Raka. Baik jejak kakinya di Gereja, Masjid, maupun rumah ibadah lainnya yang tertinggal.

Keganjilan itu membuat Ayu memberanikan diri untuk mencari tahu. Entah sudah berapa banyak teman-teman Raka yang diinterogasi. Namun, semuanya menjawab seragam seperti orang mengucapkan kata “Aamiin”, yakni “tidak tahu”. Hingga pada suatu hari Ayu menanyakan langsung kepada Raka. Sebagaimana kebiasaannya, Raka yang suka merenung di tempat sunyi seorang diri di hutan, tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran Ayu yang sudah mengetahui tempat pelariannya. Lama keduanya bertukar pandangan.

Ayu mulai mencium keganjilan kekasihnya itu. Karena tak tahan sambil bercucuran air mata Ayu bertanya, “Apa agamamu Mas? Banyak orang yang membicarakanmu perihal itu. Apakah Mas percaya akan adanya Tuhan?”

Raka tak menjawab. Lama ia terdiam.

“Sekali lagi saya tanya, apa Mas percaya akan adanya Tuhan?”

“Ayu, dikau menyusulku ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu yang menjadi antitesis kemanusiaan.” Kemudian Raka menjemput tangan Ayu sambil berujar, “Kamu mencintaiku?” Ayu mengangguk diiringi tangisan.

“Jika dikau percaya Sartre adalah seorang atheis, dan Simon de Beauvoir tidak mempermasalahkannya, maka kamu harus percaya bahwa kekasihmu adalah orang yang percaya sebagaimana kepercayaan Sartre.”

Mendengar jawaban itu, tangisan Ayu semakin dera. Segera saja Ayu melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-MU,” ucap Ayu sebelum pergi.

“Jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri. Sebab, cinta sedari dulu kala selalu saja drama. Cinta adalah kesunyian yang panjang, kendati keramaian selalu mengintainya. Namun cinta selalu memilih untuk sendiri,” kata Raka pada dirinya sendiri. (*)

*) Arian Pangestu, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya berupa cerpen, esai, dan puisi dimuat di koran Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bangka Pos, Radar Surabaya, Harian Analisa. Saat ini aktif sebagai mahasiswa sastra.

Continue Reading

Classic Poetry

Rendra Sajak Sepatu Tua dan Lautan

mm

Published

on

MANCURIA

Di padang-padang yang luas

Kuda-kuda liar berpacu

Rindu dan tuju selalu berpacu.

 

Di rumput-rumput yang tinggi

Angin menggosokkan punggungnya yang gatal.

Di padang yang luas aku ditantang.

 

Hujan turun di atas padang

Wahai, badai dan hujan di atas padang!

 

Dan di cakrawala, di dalam hujan

Kulihat diriku yang dulu hilang.

 

LAUTAN

Daratan adalah rumah kita

Dan lautan adalah kebebasan.

Langit telah bersatu dengan samudera

Dalam jiwa dan dalam warna

 

Ke segenap arah

Berlaksa-laksa hasta

Di atas dan di bawah

Membentang warna biru muda.

Tanpa angin mentari terpancang

Bagai kancing dari tembaga.

 

Tiga buah awan yang kecil dan jauh

Berlayar di langit dan di air

Bersama dua kapal layar

Bagai sepasang burung camar

Dari arah yang berbeda.

Sedang lautan memandang saja.

Lautan memandang saja.

 

Di hadapan wajah lautan

Nampak diriku yang pendusta.

 

Di sini semua harus telanjang

Bagai ikan di lautan

Dan burung di udara.

Tak usah bersuara!

Janganlah bersuara !

Suara dan kata terasa dena.

 

Daratan adalah rumah kita,

Dan lautan adalah rahasia.

 

SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTRINYA

Aku tulis sajak ini

Untuk menghibur hatimu.

Sementara kukenangkan encokmu

Kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang.

Dan juga masa depan kita

Yang hampir rampung

Dan dengan lega akan kita lunaskan.

 

Kita tidaklah sendiri

Dan terasing dengan nasiib kita.

Karena soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.

Suka dan duka kita bukanlah istimewa

Karena setiap orang mengalaminya.

 

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh

Hidup adalah untuk mengolah hidup

Bekerja membalik tanah

Memasuki rahasia langit dan samudera

Serta mencipta dan mengukir dunia

Kita menyandang tugas,

Karena tugas adalah tugas

Bukannya demi surga atau neraka

Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

 

Karena sesungguhnyalah kita bukan debu

Meski kita telah reyot, tua renta, dan kelabu.

Kita adalah kepribadian

Dan harga kita adalah kehormatan kita

Tolehlah lagi ke belakang

Ke masa silam yang

Tak seorang pun kuasa menghapusnya.

 

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna

Sembilan puluh tahun yang  dibelai nafas kita

Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit

Melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda

Dan kenangkan lah pula

Bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa

Menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

 

Kita tersenyum bukanlah karena bersandiwara

Bukan karena senyuman adalah suatu kedok

Tetapi karena senyuman adalah suatu sikap

Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,

Nasib dan kahidupan.

 

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna !

Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma

Kita menjadi goyah dan bongkok

Karena usia nampaknya lebih kuat dari kita

Tapi bukan karena kita terkalahkan.

 

Aku tulis sajak ini

Untuk menghibur hatimu

Sementara kau kenangkan encokmu

Kenangkanlah pula

Bahwa kita ditantang serratus dewa.

 

*) Rendra, penyair dan dramwan terkemuka ini dilahirkan di Solo, 7 November 1935. Mula-mula ia bernama Willibrodus Surendra Broto, namun setelah masuk Islam namanya menjadi Wahyu Sulaiman Rendra. Sajak-sajak dalam bukunya “Sajak-Sajak Sepatu Tua” ini merupakan sajak-sajak dalam masa paling intens dan produktif kepenyairan sang Burung Merak.

Continue Reading

Puisi

Puisi Faris Al Faisal

mm

Published

on

Ritus Barikan  

jika hasil bumi dan laut melimpah ruah

orang-orang pesisir pantai utara berkenduri

menggelar tumpeng dan nasi kuning

hasil kebun dan ladang tiada terbilang

berjejer di simpang jalan desa

orang-orang kampung berkerumun

tiada yang merasa lebih tinggi

menghadap ke meja panjang tanpa kaki

hiruk-pikuk riuh rendah saban cerita

bulir-bulir padi yang kuning membunting

ikan-ikan di perahu yang menggunung

petani menanam padi memanen rembulan

nelayan melempar jala menjaring matahari

butir-butir garam diremas jadi gemintang

syukur diungkapkan dengan barikan

memanjat ke pohon doa

batangnya menyentuh langit

 

Indramayu, 2018

 

Ritus Jathilan

di kampung pesisir yang ditumbuhi pohon mangga

anak-anak bermain jathilan di pekarangan

kuda-kudaan yang dianyam dari bilah bambu

kulit sapi atau kerbau hitam bertanduk

menari dengan jiwa yang tak takut mati

dipandu pawang sebagai panglima perang

pecahan beling berguling-guling

ujung-ujung paku diinjak tak berjejak

jaranne jan thil-thilan tenan, sebut mereka

diceritakan dalam permainan rakyat

sebagai mengenang kisah heroik

raden fatah dan wali sepasukan kuda

kocar-kacirkan serdadu belanda

maka kami tiada berhenti meneladani

berkuda menjaga domba-domba di ladang

dari serigala berbulu domba

 

Indramayu, 2018

 

 

Ritus Bersih Desa 

 

pagi pukul tujuh —saat embun yang menempel di dedaunan

terlerai hangat mentari— lelaki-lelaki desa

membawa cangkul, pedang panjang, dan peralatan lain

menuju ke jalan, selokan, sungai

pekuburan, masjid dan kantor kepala desa

bersih-besih desa

di halamannya tikar-tikar digelar

dengan sejumlah makanan

setelah semalam perempuan-perempuan desa terjaga

seperti dibangunkan dayang sumbi

menyalakan api dalam tungku-tungku berisi periuk nasi

memerahkan wajah langit

menyedekahkan hasil bumi yang melimpah ruah

kepada segenap orang sekampung

 

di sini kami menghayati pemberi kesuburan tanah

orang-orang menyebutnya dewi sri

 

Indramayu, 2018

 

 

Ritus Wayang 

 

di kantor kepala desa atau di rumah hajat

bunyi gamelan sayup terdengar hingga jauh

tembang kiser pesisiran mendayu-dayu

menebal dan menipis dalam orkestra klasik

bertalu-talu mencipta tetalu waktu

 

dari kulit-kulit sapi yang dikeringkan

tokoh pewayangan dibuat bayangan

sebagai pagelaran di kelir layar

sekotak kisah dilakonkan dalang

 

ada pengajaran tentang darma

cerita ramayana dan mahabharata

pitutur tuntunan dalam tontonan

 

dengan lakon-lakon kisah yang diperankan

manusia adalah wayang di tangan dalang

 

Indramayu, 2018

 

 

Ritus Ruwat 

pada jiwa-jiwa yang berlelehan ceceran dosa

rambut sukerta dipotong sebagai umpama

dari kemalangan badan

kesialan terputus

 

cerita murwa kala digelar semalam suntuk

pementasan pewayangan oleh sang dalang

batara kala sang raksasa

mencari mangsa

 

anak-anak sukerta dijaga dengan perlindungan

diruwat pada hari telah menjadi siang

dalam perhitungan hari

dan pasaran

 

sebab kasih dan sayang menguar

moyang tiada ingin membiar

bahaya datang mengular

selamat anak dan cucu

 

Indramayu, 2018

*) Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), dan Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018) sedangkan karya non fiksinya yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).

Continue Reading

Classic Prose

Trending