Connect with us

Prose & Poetry

Puisi-Puisi Fitrah Anugerah

mm

Published

on

Pengembara yang Malang

 

Untuk siapa saja yang mendengarkan khutbah setiap pagi

Untuk yang memikul beban di punggung dan menderaskan keluhan

Sesungguhnya yang membencimu maka dialah yang terputus tali

Bersembunyi. Menjeburkan diri dalam kolong kegelapan.

 

Untuk siapa saja tak patut mendustakan dan menolak jejak

Sedang semesta lebih sempurna ketimbang kesombongan kata

Menampakkan susunan mempesona tak lebih baik dari cahaya

Hanya gemerisik ketakutan menyeret gelombang buih beriak.

 

Sedang mata adalah kesaksian atas keutuhan nikmat

Menemukan jalan menembus tabir antara kesedihan dan bahagia

Bagai melintasi bayangan kelabu burung dan terang tepian samudra

Melesatkan perasaan yang lahir barangkali menembus segala hakekat

 

Tafsir yang semakin jauh. Hanya menyusuri kekosongan pada jiwa

Yang lalai. Terlupa doa. Sungguh aku renta terkoyak pesona buta

Oh kepedihan pengembara yang malang menumpahkan kembali air mata

Kisahkan rumah yang hilang hanyut dalam luap amarah sungai

Sekiranya berpulang di gelombang kesunyian matahari

 

Bekasi, 2016

 

Obat Nyamuk Bakar

 

Tarian asap sengak di udara pengap. Berkali-kali terbatuk-batuk

Menyadari kemiskinan. Mengakui mimpi masih panjang tergelar

Sepanjang malam membentukan umpatan kosong dan melayang tepuk

Sigap memburu setitik darah yang hilang. Raga kecil itu akan hancur

Menyisakan percik merah kering. Tetapi kejengkelan ini belum tamat

Sejumlah tanda kematian menghiasi dinding. Bagai kengerian membawa

Lebam benturan. Ranjang ini menjadi saksi berjatuhan mayat-mayat

Sekarat yang tak sempat menembus pekat mimpi. Hanya memberikan nyawa

 

Perlahan bara memagut separuh putaran. Asap kian mengepul, menyisakan debu

Putih pucat. Apa yang telah disingkap dari sebuah perjalanan? Sedang angin berderu

Menelusup di antara lobang. Diam-diam membawa kerentaan jauh tak terjangkau

Ini hidung kembang kempis merasakan. Dada yang sesak ajaib seketika mengatur laju

Mendenguskan nafas panjang. Kita membutuhkan kenyamanan tanpa perlu cemburu

Pada tetangga yang menanam lavender di halaman rumah. Mungkin bersabar menunggu

Bebunyian nyaring di telinga. Entah kenapa telinga menjadi tempat ternyaman bersembunyi

Dari asap pembakaran barangkali ada hantu bersemayam yang suka mengambil setiap mimpi

 

Bekasi, 2016

 

 

Nafas Sungai

 

Sungai adalah arus hatimu membaca surat jauh

Mengalir membawa butiran lara atau suka

Terlukis riak gelombang pada permukaan seakan bahasa

Yang menyeret untuk tenggelam lebih dalam

 

Mungkin harus memancing kata dalam gejolak sukma

Menjulurkan lamunan serupa kail ke tempat asing

Atau melemparkan jala angan sejauh-jauhnya

Kita mesti tabah menanti di batas udara lengang

 

Sungai adalah bayang senja menyapa letih petualang

Bening air membasuh bekas luka di punggung

Mereguknya. Mengganti dahaga tak terkira menjadi rona berkembang

Menjelma gurit rindu tempat berpulang di ladang-ladang asing

 

Sungai yang mengalir dan cahaya membisu di antara rahasia

Kehidupan menjelma nafas mimpi menembus kesunyian kota

Kita yang telah menemukan sebuah pintu dan bermukim abadi

Mengganti pakaian, dan menyiapkan kail dan jala untuk esok hari

 

Bekasi, 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 Sungai Cimanuk 

 

Sebuah sungai bersemayam dalam peta kota

Tak henti mengalir dari hulu sejarah masa lalu

Beriring tumpah keringat pembuka lahan dari utara

Menjelma gairah hidup, seakan gerak tarian kidang

Memberi harapan pada pengembara jauh menuntaskan pencarian

Pada sebuah sungai segala letih terpatok di pinggiran seakan tanda

Berdiam untuk waktu tak terhingga, hanya menyaksikan kibaran bendera

Mengiringi arus air seakan memberi salam ke setiap sampan yang berlabuh

Mengundang orang-orang berdatangan dari seberang membawa kesiur kenangan

Pada pesona Dharma Ayu menyematkan benih kehidupan dan harum wangi kisah

 

Tetapi kenangan adalah buaya yang bertapa di tempat tersembunyi

Mungkin harus menghilang dan butuh keberanian mengakrabi,

Atau cukup menjadi pemancing yang menafsirkan kecipak tarian ikan

Pada ketenangan sungai di bawah pancar bulan bersanding tautan bintang orion

Sungguh waktu adalah hitungan sunyi untuk bertanam kembali

Di ladang subur yang terbentang sepanjang pinggir sungai cimanuk

 

Bekasi, 2016

 

 

 

Kampung Kelahiran

 

Keharuan menghanyutkan tujuan ke ujung rindu

Aku mengenangmu menjelma khayalan pengembara yang kasmaran

Pada kampung yang menyimpan rumah dan ingatan tentang kelahiran

Kepulangan ini adalah mimpi menawarkan cuaca indah di alur waktu.

 

Katakanlah kita pernah lahir, dan berdiam dalam rumah kecil

Berlarian di jalanan sempit penuh jemuran. Kita selalu mendengar keributan

Seorang ibu memanggil anak-anaknya pulang dari bermain. Dan kepulangan bapak

Dengan senyum menyambut. Kita pun menggapai tangan kekarnya. Tak peduli keletihan.

 

Katakan saja bila kita pernah melangkahkan kaki menjauhi kampung

Terjauh melangkah menyusuri takdir hidup sebagai perantau.

Kita yang selalu mengibarkan layar di bawah langit berwarna-warni

Hingga terpikat pada senja di seberang alamat. Semakin jauh merana sendiri.

 

Ingatlah kampung kita tak pernah letih menampung yang telah lama pergi

Serasa pertemuan yang menyenangkan dan meneguhkan di antara kumandang rindu

Melabuhkan dan meminang kembali ingatan jalan pulang pada serpihan kenangan

Yang retak terabaikan bagai sobekan kertas catatan harian yang hilang tersembunyi.

 

Pada kampung kelahiran, aku teringat dirimu,  para penghuni silsilah keluarga

Melagukan gairah bercerita turun-temurun di antara tabuhan nada pilu dan isak sedih

Tentang satu persatu tetua pergi menghilang dalam kabar kematian surau kampung

Tinggal beberapa penghuni menunggu senja di halaman masing-masing dan membuat janji

Saling bersalam pelukan yang masih tersisa dan setia menjaga rumah peninggalan terakhir.

 

Bekasi, 2016

 

 

Perjalanan

 

Kesenyapan menggulung dan memuncaki kecemasan

Pohon pinus dan karet mengirim pesan temaram

Angin mendengus dalam rintih cuaca. Menahan awan

Mengaburkan warna bunga-bunga yang tenggelam

Sepanjang perjalanan mengurai udara pegunungan

 

Aku menginsyafi setiap jejak membatu teramat sendu

Menembus hasrat menggebu di dasar jantung

Sedang kabut berdebu menawarkan ngilu yang abadi

Meninggalkan serakan daun dan bayangan puing ranting

 

Aku yang berhayal menyusuri jalanan tanpa tujuan

Menjaga jiwa dari lompatan dan benturan sepanjang perbatasan

Mencari kiblat di setiap pemberhentian hingga menggambar persimpangan

Dalam kebimbangan dan bayangan keletihan yang merambat. Mencari kejelasan

 

Perjalanan ini abadi seakan kekal dalam diam tanpa mengganggu irama

Sungguh aku ingin masuk dan menembus di sela-sela temaram kota sepi

Meski termangu dan risau seakan kehilangan sebuah alamat dan nama

Oh aku harus memagut setiap luka yang pernah tertinggal dan kukenali

 

Bekasi, 2016

 

 

Lingsir Wengi

 

Jangan tidur dulu

Ke sinilah kita habiskan malam ini

Dengan menambah secangkir teh menjelang dini hari

Sebelum pulau ini bangun, mengutuki ego kita, menjadi angkuh batu waktu

Menyeret dan membasuh bekas jejak ke pulau jauh.

Malam ini dengarkan cerita hatiku

 

Kita menghitung abjad yang tersimpan

Menjadikan kalimat dan menyisipkan sebuah nama

Menjelang dini hari. Kita menyudahi pertemuan

Sebelum kita pergi menjauh dan tak memperhatikan

Sebelum melepaskan tali pertautan

Berjanji memberi kesempatan menjeratkan ingatan

 

Kita hanya menggantungkan waktu di sisa cahaya bulan

Dan gigitan mesra serupa gigitan semut rangrang

Tiada terluka hanya mengakhiri dalam diam

Lalu memulai pengembaraan tersendiri

Ke batas nisbi di tepi pulau

 

Malam ini duduklah di sampingku

dan kita bercerita tentang firman Tuhan

yang turun dalam kesunyian pagi

 

Bekasi 2016

 

 

Malam Jumat

 

Tentunya kita tak saling mencintai

Setidaknya kita telah mulai berkhianat

Dari ranjang yang sama mengingkari

Baju dan selimut yang pernah menyingkap kekanakan kita

 

Kita percaya kita telah keliru membaca isyarat

Mungkin terlupa tak menghayati jalan panjang yang terlewat

Atau telah menuangkan air dingin pada bara cinta

Dan cinta ini dingin membuat lelap

 

Pernahkah kita mendengar langkah-langkah asing

Dalam mimpi dan mendengarkan suara-suara mengharukan

Memaksa kita mengikuti hingga ke langit jauh

Tak terasa kita bergandeng tangan

Dalam kengerian kita berdiam pasrah

Bila jatuh menimpa awan atau angin

Terasa manis meski sedikit nyeri tertinggal.

 

Bekasi, 2016

 

Fitrah Anugerah: Lahir di Surabaya, 28 Oktober 1974.  Berkesenian atau berpuisi semenjak menjadi anggota Teater Gapus, Sastra Indonesia, Unair, Kedaiilalang, Kali Malang Bekasi, dan FSB (Forum Sastra Bekasi. Karya-karyanya pernah dimuat di harian Langgam Sumut Pos, Fajar Sumatera, Indo Pos, Media Indonesia, Sastra Sumbar, Padang Ekspress, Minggu Pagi, Surabaya Post, Sinar Harapan, Suara Karya, Bangka Pos, Banjarmasin Post, Mata Banua, Riau Realita, Joglosemar, Jurnal Sarbi, Majalah Jejak, dan Radar Bekasi. Beberapa puisinya dibukukan dalam Kumpulan Puisi Kumpulan Puisi Pasie Karam (2016), Antologi Puisi Wayang “Tancep Kayon”(2016), e-book “Jalan Setapak, (Evolitera : 2009) , Antologi Puisi Kampungan (2015), Antologi Puisi Sakarepmu, Antologi “Surabaya Dalam Lembaran Kenangan” (2015), Antologi Tifa Nusantara2 (2015), Antologi “Saksi Bekasi”(2014), Antologi Puisi Bersama “Kepada Bekasi” (2013), Antologi Puisi Lumbung Puisi I dan II 2014, Antologi “Sang Peneroka”, dan Antologi di Negeri Poci 5 : Negeri Langit (2014),. Sekarang bekerja dan domisili di Bekasi.

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Leo Tolstoy: Seusai Pesta Dansa

mm

Published

on

Seusai Pesta Dansa

“Sesuatu terjadi, saya sangat jatuh cinta. Jatuh cinta, saya banyak sekali, tetapi ini adalah cinta saya yang paling kuat. Ini urusan di waktu lalu, wanita itu memiliki anak-anak yang telah bersuami sekarang. Itu adalah B, ya, Varenka B.” Ivan Vasilyevich menyebutkan nama keluarga. “Dalam usia lima puluh tahun, dia masih cantik gemilang, tetapi pada masa mudanya, saat berumur delapan belas tahun, dia mempesona: tinggi, ramping, anggun dan mulia, terutama mulia. Dia selalu mempertahankan dirinya luar biasa tegak, seolah-olah tidak dapat membungkuk, mencondongkan kepalanya sedikit ke belakang, dan itu memberikan, dengan kecantikan dan tubuhnya yang jangkung, tanpa melihat pada kekurusannya, bahkan tonjolan tulangnya yang kelihatan, kepadanya perbawa ratu dan perbawa dari dia itu membuat takut, jika saja dia tidak lemah lembut, selalu memiliki senyum riang dan mulutnya, matanya bersinar cemerlang, keseluruhan manusia muda yang memikat.”

Oleh: Leo Tolstoy | Penerjemah: Ladinata

_____

“Jadi kalian berpendapat, bahwa manusia tidak dapat secara mandiri mampu memahami, apa yang baik, apa yang buruk, bahwa segalanya adalah soal lingkungan, bahwa lingkungan mencengkram manusia. Tetapi saya berpikir, bahwa semua itu adalah masalah terjadinya suatu peristiwa. Saya akan bercerita mengenai diri saya sendiri.”

Demikianlah kata Ivan Vasilyevich, laki-laki terhormat, selepas perbincangan yang berlangsung di antara kami tentang, bahwa untuk penyempurnaan diri harus terlebih dulu mengubah keadaan-keadaan, yang di dalamnya manusia hidup. Pada hakikatnya, tidak satu orang pun yang berkata, bahwa tidak mungkin untuk memahami, apa yang baik, apa yang buruk, tetapi Ivan Vasilyevich, mempunyai kebiasaan menjawab atas pikiran-pikirannya sendiri, yang muncul sebagai akibat perbincangan dan dengan alasan pikiran-pikiran tersebut dia memaparkan peristiwa-peristiwa dari dalam hidupnya. Dia sering lupa pada dalih, ketika dia terpikat oleh sebuah kisah, yang membuat dia benar-benar bercerita, apalagi dia bercerita dengan begitu sungguh hati dan berterus terang.

Begitulah, sekarang dia melakukannya.

“Saya akan menceritakan mengenai diri sendiri. Seluruh hidup saya jadi seperti ini, bukan melalui cara lain, bukan lantaran lingkungan, tetapi karena sesuatu yang benar-benar berbeda.”

“Karena apatah itu?” tanya kami.

“Ya, ini adalah cerita yang panjang. Untuk memahami, harus banyak yang diceritakan.”

Ivan Vasilyevich mulai berpikir, menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ya,” katanya. “Seluruh hidup saya berubah pada suatu malam, atau lebih ke arah pagi.”

“Apatah yang terjadi?”

“Sesuatu terjadi, saya sangat jatuh cinta. Jatuh cinta, saya banyak sekali, tetapi ini adalah cinta saya yang paling kuat. Ini urusan di waktu lalu, wanita itu memiliki anak-anak yang telah bersuami sekarang. Itu adalah B, ya, Varenka B.” Ivan Vasilyevich menyebutkan nama keluarga. “Dalam usia lima puluh tahun, dia masih cantik gemilang, tetapi pada masa mudanya, saat berumur delapan belas tahun, dia mempesona: tinggi, ramping, anggun dan mulia, terutama mulia. Dia selalu mempertahankan dirinya luar biasa tegak, seolah-olah tidak dapat membungkuk, mencondongkan kepalanya sedikit ke belakang, dan itu memberikan, dengan kecantikan dan tubuhnya yang jangkung, tanpa melihat pada kekurusannya, bahkan tonjolan tulangnya yang kelihatan, kepadanya perbawa ratu dan perbawa dari dia itu membuat takut, jika saja dia tidak lemah lembut, selalu memiliki senyum riang dan mulutnya, matanya bersinar cemerlang, keseluruhan manusia muda yang memikat.”

“Perian yang bukan main, Ivan Vasilyevich.”

“Memerikan tidak boleh demikian, tetapi bagaimana pun juga perikanlah; itu agar kalian mengerti, bagaimana dia dulu. Tetapi bukan dalam hal itu masalahnya: apa yang akan saya ceritakan, terjadi pada tahun empat puluhan. Saat itu saya adalah seorang mahasiswa di universitas, di suatu provinsi. Saya tidak tahu, baikkah itu atau buruk, tetapi ketika itu kami tidak memiliki kelompok studi, tidak juga teori, di universitas, kami hanyalah manusia muda dan hidup, seperti biasanya orang-orang muda: belajar dan riang gembira. Saya orang muda yang riang dan enerjik dan juga berada. Saya punya seekor kuda kereta yang gesit, saya mengendarainya dari atas gunung dengan para perempuan muda (seluncur ketika itu masih belum jadi kebiasaan), saya pergi melakukan pesta-pesta minum dengan kawan-kawan universitas (saat itu kami tidak minum apa-apa, kecuali sampanye; uang tidak ada, kami tidak minum sesuatu pun, tetapi kami tidak minum, seperti galibnya sekarang, vodka). Kesenangan saya yang utama adalah pesta-pesta dan pesta dansa. Saya menari dengan baik dan tentu saja saya tidaklah jelek.”

“Ayo, jangan terlalu rendah hati,” seorang wanita, dari orang-orang yang mendengarkan, menyelanya. “Kami mengetahui potret daguerrotype[1]Anda. Tidak, Anda tidaklah jelek. Anda adalah seorang laki-laki rupawan.”

“Rupawan, boleh jadi dulunya. Tetapi soalnya bukan itu. Soalnya adalah pada saat cinta yang paling kuat saya kepadanya, saat hari terakhir Shrovetide[2], saya berada di pesta dansa Marshal of Nobility[3], seorang laki-laki tua baik hati, manusia berharta yang murah hati dan seorang kamerger[4]. Sebagaimana sang suami, istrinya juga sangat baik hati, menerima kami, para tamu, mengenakan gaun panjang beludru berwarna merah kecoklatan, di kepalanya ada tiara berlian, bahu dan lehernya yang terbuka, tampak tua, putih dan padat, seperti potret Elizaveta Petrovna[5]. Pesta dansa begitu menakjubkan: ruang dansanya mentereng, dengan paduan suara dan para pemain musik dari kaum hamba sahaya, yang ketika itu terkenal, merupakan milik tuan tanah, pecinta musik, makanan berlimpah dan lautan sampanye mengalir. Meski saya pemburu sampanye, saya tidaklah minum, karena tanpa anggur, saya telah mabuk cinta, meski demikian saya menari sampai saya jatuh, saya berdansa quadrille[6],waltz[7],polonaise[8],dan tanpa perlu dikatakan, sejauh ada kemungkinan, saya ingin melakukan semua itu dengan Varenka. Dia mengenakan baju putih dengan selempang pinggang warna merah muda, sarung tangan halus putih, yang tidak begitu menjangkau siku tangannya yang kurus dan menonjol, dan sepatu satin warna putih. Mazurka[9] saya dirampas: seorang insinyur yang menyedihkan bernama Anisimov, sampai sekarang saya tidak pernah dapat memaafkannya, meminta Varenka untuk berdansa dengannya, saat Varenka baru masuk ke dalam ruang dansa, sedangkan saya ketika itu pergi dulu ke tukang pangkas rambut serta membeli sarung tangan dan saya terlambat. Karena itulah saya tidak menari mazurka dengannya, tetapi dengan seorang perempuan Jerman, yang sebelumnya saya pernah agak kerajingan. Tetapi saya khawatir, pada malam itu, saya sangat tidak santun kepadanya, tetapi saya hanya memandang pada seseorang bertubuh tinggi, ramping, yang mengenakan baju putih dengan selempang pinggang warna merah muda, wajahnya yang berlesung pipi bersinar-sinar, kemerah-merahan, sorot matanya lembut dan sejuk. Bukan hanya saya sendiri, tetapi semua orang melihat kepadanya dan mengaguminya, baik itu laki-laki, maupun perempuan, mengagumi, dengan tidak memandang pada, bahwa dia membelakangi mereka semua. Sangat tidak mungkin untuk tidak mengaguminya.

Menurut aturan, demikianlah yang dilisankan, saya tidak menari mazurka dengannya. Dia, dengan tanpa tersipu, berjalan langsung ke arah saya melewati panjangnya ruang dansa dan saya bangkit, tidak menanti permintaan dan dia berterima kasih melalui senyuman kepada saya atas perkiraan saya tersebut. Ketika kami, para lelaki, diarahkan kepadanya, dia tidak dapat menebak karakter pokok saya[10], dia, seraya mengulurkan tangan bukan kepada saya, tetapi kepada orang lain, mengangkat bahunya yang kurus, sebagai tanda penyesalan dan pelipur lara dan dia memberikan senyuman kepada saya.

Ketika mazurka diganti dengan waltz, begitu lama saya menari waltz dengannya dan dia, sambil sering menghela nafas, tersenyum dan berkata kepada saya: “Encore[11]”. Dan saya terus-menerus menari waltz dan tidak merasakan tubuh sendiri.”

“Mana bisa Anda tidak merasakannya, saya pikir, Anda sangat merasakannya, ketika Anda merengkuh pinggangnya, bukan hanya badan Anda sendiri, tetapi juga tubuhnya,” kata salah seorang dari para tamu.

Ivan Vasilyevich tiba-tiba memerah dan dia dengan marah hampir berteriak:

“Ya, begitulah kalian, orang muda zaman sekarang. Kalian itu, kecuali tubuh, tidak ada sesuatu pun yang dilihat. Pada zaman kami tidaklah demikian. Semakin kuat saya jatuh cinta, semakin dia bagi saya jadi tidak bersifat badaniah. Kalian sekarang hanya melihat kaki, pergelangan kaki dan juga yang lainnya, kalian menelanjangi perempuan, yang kalian cintai, buat saya, seperti yang dikatakan Alphonse Karr[12], seorang penulis yang bagus, selalu ada baju zirah dari perunggu pada objek cinta saya. Kami tidak menanggalkan pakaian, tetapi kami berusaha menyembunyikan ketelanjangan, seperti anak nabi Nuh yang baik hati[13]. Tetapi sudahlah kalian tidak akan memahami hal ini.”

“Jangan dengarkan dia. Selanjutnya bagaimana?” kata seorang dari kami.

“Ya. Begitulah, saya terus berdansa dengannya dan tidak memperhatikan, bagaimana waktu berlalu. Para pemain musik dengan kelelahan yang sangat, kalian tahu, itu selalu terjadi pada setiap akhir pesta dansa, terus memainkan motif mazurka, dari meja kartu di ruang tamu para orang tua beranjak, mempersiapkan diri untuk makan malam, secara lebih kerap pelayan-pelayan berlarian, sambil membawa sesuatu. Sudah pukul tiga; menit-menit yang penghabisan, mestilah, dipergunakan. Sekali lagi saya memintanya untuk berdansa dan kami untuk yang keseratus kalinya melalui panjangnya ruang dansa.”

“Selepas makan malam, bolehkan saya menjadi partner Anda untuk quadrille?” kata saya kepadanya, sambil membawanya kembali ke tempatnya.

“Tentu saja, jika saya tidak dibawa pulang,” katanya sambil tersenyum.

“Tidak akan saya biarkan,” kata saya.

“Kipas tangan saya, tolong berikan,” katanya.

“Menyesal saya harus mengembalikannya,” kata saya, seraya memberikan kepadanya kipas tangan putih yang tidaklah mahal.

“Kalau begitu ini untuk Anda, agar Anda tidak merasa menyesal,” katanya, seraya melepaskan selembar bulu kipas tangan dan memberikannya kepada saya.

“Saya mengambilnya dan hanya dengan tatapan saya mengungkapkan rasa terpaku dan rasa terima kasih. Saya bukan saja riang dan senang, saya bahagia, terberkati, saya dipenuhi kebajikan, saya sudah bukan saya, tetapi saya adalah mahluk di luar bumi, yang tidak mengenal kejahatan dan hanya dapat melakukan kebaikan. Saya menyimpan selembar bulu itu ke dalam sarung tangan dan saya berdiri saja, tidak memiliki kekuatan untuk menjauh darinya.”

“Lihat, ayah diminta untuk berdansa,” katanya kepada saya, sambil menunjuk pada sosok ayahnya yang tinggi dan agung, seorang kolonel dengan tanda pangkatperak[14], yang berdiri di pintu dengan sang nyonya rumah dan beberapa wanita lainnya.

“Varenka, kemarilah,” kami mendengar suara keras sang nyonya rumah, yang memakai tiara berlian dengan bahu bergaya Elizaveta Petrovna.

Varenka mendekat ke arah pintu dan saya berjalan di belakangnya.

Ma chere[15], berbicaralah pada ayahmu, agar dia berdansa denganmu. Pyotr Vladislavich, ayolah berdansa,” kata sang nyonya rumah kepada kolonel tersebut.

Ayah Varenka adalah laki-laki tua yang sangat tampan, agung, tinggi dan terpelihara kesehatannya. Wajahnya begitu kemerah-merahan dengan kumis putih melengkung, seperti Nikolai I[16], jambangnya yang juga putih, menyentuh kumis dan dengan rambut yang disisir ke depan, di atas pelipis; senyumannya yang lembut, yang gembira, seperti yang dimiliki anaknya, tampak pada matanya yang bercahaya dan pada kedua bibirnya. Tubuhnya sangat sempurna dengan dada yang lebar, membusung, khas militer, dihiasi, secara sederhana, oleh tanda jasa; bahunya kekar, kedua kakinya tampak sangat baik dan panjang. Dia adalah seorang perwira dari tipe lama dengan karakter militer akademi Nikolai.

Ketika kami sampai di pintu, sang kolonel menampik seraya mengatakan, bahwa dia telah lupa bagaimana caranya berdansa, tetapi meskipun demikian, sambil tersenyum, setelah mengulurkan tangan ke arah kiri, dia mengeluarkan pedang dari sarungnya, menyerahkannya kepada seorang laki-laki muda yang membantunya dan setelah meletakkan sarung tangan kulit ke tangan kanan, dia berkata, “semua harus menurut aturan,” seraya tersenyum, dia meraih tangan putrinya dan mengambil kedudukan seperempat putaran, sambil menunggu ketukan irama yang tepat.

Setelah permulaan motif mazurka terdengar, dengan tangkas sang kolonel menghentakan salah satu kakinya dan mengayunkan kakinya yang kedua dan kemudian sosoknya yang tinggi besar, kadang senyap dan lembut, kadang berisik dan bergolak, dengan bunyi derap sepatu dan hentakan satu kaki terhadap kaki yang lain, mengarungi sekeliling ruangan dansa, sosok Varenka yang lemah gemulai melayang di samping sang kolonel, dengan tanpa terlihat dan selalu tepat waktu dia terus memendekkan atau memperpanjang langkah kaki mungilnya yang diselimuti sepatu satin warna putih untuk mematutkan gerakan dengan ayahnya.

Semua orang mengikuti setiap gerakan dari pasangan tersebut. Saya bukan hanya mengagumi, tetapi dengan sentuhan kegembiraan memandangi keduanya, saya, terutama, tersentuh oleh sepatu sang kolonel, yang diikat dengan tali pengikat; sepatu dari kulit sapi yang baik, sepatu tersebut tidak fashionable dan tidak lancip, tetapi bergaya lama dengan ujung-ujung yang berbentuk empat sudut dan tanpa hak. Tak pelak lagi, sepatu itu dibuat oleh tukang sepatu batalyon. “Dia tidak membeli sepatu yang fashionable, mengenakan sepatu buatan rumah, agar dapat memakaikan dan membawa putri kecintaannya ke dalam pergaulan masyarakat,” pikir saya dan begitulah utamanya, mengapa saya tersentuh oleh sepatu dengan ujung-ujung yang berbentuk empat sudut tersebut. Semua orang melihat, bahwa sebelumnya sang kolonel berdansa dengan baik sekali, tetapi sekarang dia tampak berat dan kaki-kakinya tidak lagi cukup fleksibel untuk melakukan semua langkah indah dan cepat, yang dia ingin lakukan. Tetapi dia, biarpun demikian, dengan cekatan melewati dua kali putaran ruang dansa. Saat dia dengan cepat melebarkan kakinya, kemudian merapatkannya lagi dan meskipun agak susah, menjatuhkan dirinya dengan bertumpu pada satu lutut, dan Varenka, sambil tersenyum dan memperbaiki gaun bagianbawah, yang dipegang oleh ayahnya, secara anggun melayang menyeputari sang kolonel; semua orang bertepuk tangan dengan gemuruh. Melalui beberapa kekuatan sisa sang kolonel berusaha untuk bangkit sedikit, dengan lembut, halus, merengkuh putrinya lewat kedua tangan yang menyentuh telinga Varenka dan setelah mencium keningnya, kolonel itu membimbingnya ke arahku, karena berpikiran, bahwa saya berdansa dengan anaknya; saya pun mengatakan, bahwa saya bukan partner Varenka dalam berdansa.

“Sama saja, sekarang berdansalah Anda dengannya,” katanya, sambil tersenyum dengan hangat dan memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung.

Seperti biasa terjadi, bahwa tetesan pertama yang keluar dari dalam botol, pada kesudahannya mengalirkan isinya menjadi curahan-curahan yang besar, begitu juga di dalam jiwa saya, cinta terhadap Varenka membebaskan seluruh kemampuan cinta saya yang terselubung. Saya merangkul, pada ketika itu, segenap dunia dengan cinta. Saya menyukai nyonya rumah yang mengenakan tiara berlian dengan gaya potret sedada Elizaveta, suaminya, para tamunya, para pelayannya, dan bahkan pada insinyur Anisimov, yang jelas-jelas marah pada saya. Terhadap ayah Varenka, yang mengenakan sepatu buatan rumah dengan senyum lembut, yang mirip benar dengan senyumnya, saya saat itu menjalani sesuatu rasa kagum yang mempesona.

Mazurka berakhir, tuan dan nyonya rumah meminta para tamu untuk makan malam, tetapi kolonel B menolak, mengatakan, bahwa dia besoknya harus bangun pagi-pagi sekali dan dia berpamitan dengan tuan dan nyonya rumah. Saya ketakutan, Varenka akan dibawa serta. Akan tetapi dia tetap tinggal bersama ibunya.

Setelah makan malam saya menari quadrille, yang telah terjanjikan, dengannya, dan tanpa berpijak pada hal, bahwa, tampaknya, saya tak akan dapat sangat gembira, kebahagiaan saya terus tumbuh dan berkembang. Kami tidak mengatakan apa-apa mengenai cinta. Saya tidak bertanya baik kepadanya, maupun kepada diri sendiri, bahkan mengenai: cintakah dia kepada saya. Bagi saya sudah cukup, saya mencintai dia. Dan saya mencemaskan hanya pada satu hal, akan ada sesuatu yang menghancurkan kebahagiaan saya.

Ketika sampai di rumah, saya menanggalkan pakaian dan memikirkan mengenai tidur nyenyak, tetapi saya melihat, bahwa itu benar-benar tidak mungkin. Pada genggaman tangan saya ada selembar bulu dari kipas tangannya dan sebelah sarung tangan, yang dia berikan kepada saya, saat dia duduk di dalam kereta kuda dan saya ketika itu membimbing ibunya, kemudian Varenka untuk naik ke dalam kereta tersebut. Saya menatapi barang-barang itu dan, karena tidak dapat memejamkan mata, saya melihat Varenka ada di hadapan saya lagi sesaat, ketika dia, memilih salah satu dari dua partner, memperkirakan karakter saya dan saya mendengar suara lembutnya, manakala dia berkata: “Rasa bangga? Benar?” Dan dengan gembira dia mengulurkan tangannya kepada saya atau ketika makan malam dia mereguk sedikit demi sedikit segelas kecil sampanye dan menatap saya sambil mengernyitkan kening dengan mata yang menawan. Tetapi dari semuanya yang terbaik, ketika saya melihat Varenka berpasangan dengan ayahnya, dia melayang dengan anggun di samping sang kolonel dan dengan bangga dan gembira dia melihat pada para penonton yang terkagum-kagum terhadap dirinya dan ayahnya. Dan tanpa disadari saya menggabungkan keduanya di dalam satu perasaan yang lembut dan mengharukan.

Ketika itu saya tinggal dengan saudara laki-laki yang pendiam. Saudara saya itu benar-benar tidak menyukai pergaulan masyarakat dan tidak pernah pergi ke pesta dansa, sekarang dia sedang mempersiapkan ujian kandidat[17] dan menjalani kehidupan yang sangat lurus. Dia tertidur. Saya memandang pada bagian kepalanya yang terpendam bantal dan setengahnya tertutup dengan selimut flanel, dan saya, dengan rasa sayang, mulai jadi kasihan terhadapnya, kasihan karena dia tidak mengetahui dan tidak dapat berbagi kebahagiaan, yang saya alami. Petrusha[18], pembantu saya, menemui saya dengan lilin di tangan dan dia ingin membantu saya melepaskan pakaian, tetapi saya menyuruhnya pergi. Rupa wajah saudara saya yang tertidur dengan rambut tidak karuan membuat saya jadi iba. Dengan berupaya untuk tidak membuat gaduh, saya masuk ke dalam kamar sendiri dengan bersijingkat dan duduk di atas tempat tidur. Tidak, lantaran begitu bahagia, saya tidak dapat tidur. Lain daripada itu, saya merasa kepanasan di dalam kamar, dan saya, dengan tidak menanggalkan pakaian seragam, pelan-pelan keluar ke ruang depan, memakai mantel, membuka pintu masuk dan pergi keluar ke arah jalan.

Saya pulang dari pesta dansa pada pukul lima, ketika saya sampai di rumah, saya duduk di sana, kira-kira dua jam, jadi saat saya keluar, langit sudah terang. Demikianlah udara Shrovetide: berkabut, salju yang dijenuhi oleh air bercairan di jalanan dan dari semua atap rumah bertetesan. Ketika itu keluarga B tinggal di ujung kota dan di dekatnya terdapat lahan luas terbuka, yang pada salah satu sisinya ada ruang untuk berjalan-jalan, sedang pada sisi kedua berdiri sebuah institut untukkaum perempuan[19]. Saya melewati jalanan kecil yang kosong dan keluar menuju ke jalan besar, di sana saya bertemu dengan para pejalan kaki dan para penarik kereta yang membawa kayu di atas kereta luncur, yang berusaha dikeluarkan dari hamparan salju ke jalanan beraspal oleh kuda-kuda penariknya. Dan kuda-kuda tersebut secara berirama mengayun-ayunkan kepalanya yang basah di bawah kayu berbentuk melengkung yang disampang[20] dan ditempatkan pada bagian lehernya, dan para penarik kereta yang mengenakan baju dari kain kasar berjalan lambat melewati lumpur salju dengan sepatunya yang besar di samping kereta kudanya dan rumah-rumah pada sisi jalan yang lain, di dalam cuaca berkabut, tampak sangat tinggi: bagi saya, terutama sekali, segalanya itu begitu memiliki nilai dan sangat signifikan.

Ketika saya keluar menuju ke lahan, yang di atasnya berdiri rumah keluarga B, saya melihat sesuatu yang besar dan hitam di ujung lahan, pada arah ruang untuk berjalan-jalan dan saya mendengar suara flute dan genderang dari sana. Jiwa saya sepanjang waktu berdendang dan terkadang terdengar motif mazurka. Akan tetapi ini adalah irama musik yang lain, parau dan menakutkan.

“Apakah itu?” Saya merasa ingin tahu dan mulai melangkah melalui jalanan licin di tengah tengah lahan ke arah suara tersebut berasal. Setelah berjalan kira-kira seratus langkah, saya mulai melihat dengan jelas, dari balik kabut, sekumpulan orang yang tampak hitam, agaknya itu para serdadu. “Benar, mereka sedang latihan berbaris,” pikir saya dan bersama seorang tukang tempa besi yang mengenakan pakaian kerja yang terkotori minyak dan mantel dari bulu domba, yang membawa sesuatu dan berjalan di depan saya, melangkah lebih mendekat. Para serdadu dengan seragam hitam berdiri membentuk dua barisan, berhadap-hadapan seraya memegang senjata selurus dengan kaki dan sama sekali tidak bergerak. Di belakang mereka berdiri para penabuh genderang dan peniup flute, yang selalu mengulang, tanpa henti-hentinya, irama yang tidak menyenangkan dan melengking.

“Apakah yang mereka perbuat?” tanya saya pada sang penempa, yang berdiri di samping saya.

“Mereka menggiring seorang Tartar karena berusaha melarikan diri,” kata sang penempa dengan marah, sambil memandang ke ujung jauh barisan.

Saya mulai menatap ke sana juga dan melihat sesuatu yang mengerikan di tengah-tengah barisan, berjalan ke arah saya. Sesuatu yang mendekat kepada saya itu adalah seorang laki-laki bertelanjang dada, yang dihimpit senapan oleh dua orang serdadu, yang mengawalnya. Di samping laki-laki tersebut berjalan seorang perwira bertubuh tinggi, mengenakan mantel dan penutup kepala dinas, sosok tersebut tampaknya saya kenal. Sang pesakitan bergerak maju ke arah saya di bawah hujan pukulan yang menghajarnya dari dua sisi, seluruh badannya tersentak dan kakinya menginjak keras-keras salju yang meleleh, kadang dia tersungkur ke belakang dan saat itu serdadu yang mengawalnya dengan senapan, mendorongnya ke depan, kadang dia jatuh menyorong ke depan dan saat itu serdadu tersebut, sambil menahannya agar tidak jatuh, menarik sang pesakitan ke belakang. Dan di sampingnya, perwira yang bertubuh tinggi tak pernah sedikit pun melangkah di belakang, berjalan dengan tegap. Dia adalah ayah Varenka, dengan wajahnya yang merah, jambang pipi dan kumis warna putih.

Pada setiap pukulan, sang pesakitan, seperti orang yang keheranan, memalingkan wajahnya yang meringis karena kesakitan ke arah, dari mana datangnya pukulan dan sambil menyeringaikan gigi-gigi putihnya, dia terus mengulangi kata-kata yang sama. Hanya pada saat dia sangat dekat, saya mendengar kata-kata tersebut. Dia tidak mengatakannya, tetapi lebih kepada melenguh: “Tolonglah, ampuni. Ampunilah saya.” Akan tetapi orang-orang itu tidak mengampuninya dan manakala prosesi itu benar-benar tepat di depan saya, saya melihat, bagaimana serdadu yang berdiri di depan saya tanpa ragu-ragu melangkah maju ke depan dan setelah mengibaskan tongkat pemukul ke udara, hingga terdengar bunyi mendesing, dia memukulkannya keras-keras pada punggung orang Tartar tersebut. Sang pesakitan jatuh ke depan, tetapi serdadu-serdadu itu menahannya dan pukulan yang seperti tadi menghajarnya dari arah yang lain, dan sekali lagi dari arah yang tadi, dan sekali lagi dari arah yang lain. Sang kolonel berjalan di samping orang Tartar, kadang dia melemparkan pandangan ke arah kakinya sendiri, kadang ke arah sang pesakitan, dia menghirup udara, kemudian menggelembungkan pipinya dan pelan-pelan mengeluarkannya melalui bibirnya. Ketika prosesi tersebut melewati tempat, yang di atasnya saya berdiri, selintasan saya melihat, di tengah-tengah barisan serdadu, punggung sang pesakitan, tampak sesuatu yang sulit digambarkan: berbilur-bilur, basah, merah, mengejutkan. Saya hampir tak percaya, jika itu bagian tubuh manusia.

“Ya, Tuhan!” gumam sang penempa, yang berdiri di samping saya.

Prosesi bergerak menjauh. Pukulan-pukulan dari dua arah tetap menghajar mahluk yang terhuyung-huyung dan menggelepar, genderang juga tetap ditabuh, flute pun tetap melengking, dan sosok sang kolonel yang jangkung dan perbawa berjalan di samping orang Tartar dengan langkah yang tegap. Tiba-tiba kolonel tersebut berhenti dan dengan cepat menghampiri salah seorang serdadu.

“Aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana melalaikan perintah,” saya mendengar suaranya yang murka. “Kau ingin melalaikan perintah? Kau ingin begitu?”

Dan saya melihat, bagaimana dia memukul serdadu yang berbadan pendek dan lemah tersebut dengan tangannya yang kuat, yang terbungkus sarung tangan kulit, lantaran serdadu itu tidak cukup kuat menghajarkan tongkat pemukulnya ke punggung orang Tartar yang terlihat sangat merah.

“Berikan tongkat pemukul yang baru!” teriaknya dan berpaling: dia melihat saya. Seraya berpura-pura tidak mengenal saya, dia mengernyitkan dahi dengan keji dan mengerikan, kemudian secepat-cepatnya memalingkan wajah. Sampai pada tingkat ini saya merasa malu, saya tidak tahu harus ke mana melemparkan pandangan, seolah-olah saya tertangkap dalam perbuatan yang mendatangkan malu. Saya jatuhkan pandangan ke bawah dan dengan tergesa-gesa pulang ke rumah. Di sepanjang jalan, di telinga saya terngiang kadang tabuhan genderang dan lengkingan flute, kadang terdengar kata-kata: “Ampunilah saya”, kadang saya mendengar suara murka, yang terlalu percaya diri dari sang kolonel, yang berteriak: “Kau ingin melalaikan perintah? Kau ingin begitu?” Dan pada ketika itu di dalam hati saya ada penderitaan yang hampir-hampir bersifat jasmani, yang membuat saya muak, sehingga untuk beberapa kali saya berhenti, dan kelihatannya, saya harus membuang semua hal yang mengerikan, yang masuk kepada saya melalui tunjukkan yang tadi. Saya tak lagi ingat, bagaimana saya sampai ke rumah dan berbaring. Akan tetapi saya hanya tidur barang sebentar, kemudian mendengar dan melihat lagi segalanya itu dan saya terlonjak bangun.

“Tampaknya, dia mengetahui sesuatu, yang tidak saya ketahui,” saya berpikir mengenai sang kolonel. “Sekiranya saya mengetahui, apa yang dia ketahui, saya akan memahami, dan apa yang saya lihat, tidak akan menyiksa saya.” Akan tetapi beberapa kali pun saya berpikir, saya tidak dapat mengerti, apa yang diketahui oleh sang kolonel dan saya pun jatuh tertidur menjelang malam. Dan setelah itu, saya kemudian berkunjung ke rumah seorang kenalan dan di sana saya minum-minum dengannya sampai saya benar-benar mabuk, untuk melupakan.”

“Apakah kalian mengira, bahwa apa yang saya simpulkan saat itu mengenai apa yang saya lihat adalah sesuatu yang buruk? Sama sekali tidak. Jikalau itu dilakukan dengan penuh keyakinan dan diterima oleh setiap orang sebagai sesuatu yang diperlukan, maka itu artinya mereka mengetahui sesuatu, yang tidak saya ketahui, saya berpikir begitu dan berupaya untuk mengetahui hal tersebut. Akan tetapi seberapa pun saya berusaha, saya kemudian tetap tidak mampu mengetahuinya. Dan karena saya tidak dapat mengetahui, saya pun tidak mampu masuk ke dalam dinas militer, sebagaimana yang saya inginkan dulu. Dan bukan hanya di dalam kedinasan militer, tetapi di mana-mana saya tidak sanggup masuk ke dalam dinas apa pun dan ke manapun, sebagaimana yang kalian lihat, saya telah berubah menjadi seorang manusia yang tak berguna.”

“Ya, kami mengetahui, bagaimana Anda telah berubah menjadi orang yang kehilangan guna,” kata salah seorang tamu. “Lebih baik dikatakan demikian saja: jadi sebelum ada Anda, betapa banyaknya orang, yang telah berubah menjadi manusia yang tidak berguna.”

“Itu adalah sesuatu yang bodoh untuk dikatakan,” kata Ivan Vasilyevich dengan nada yang sangat kesal.

“Baiklah, bagaimanakah dengan cinta Anda?” tanya kami.

“Cinta saya? Sejak hari itu cinta saya jadi meluruh. Ketika Varenka, ini sering terjadi terhadapnya, dengan senyuman di wajah memikirkan sesuatu secara mendalam, dan saya, dengan secepatnya, teringat pada sang kolonel, yang ketika itu berada di atas lahan, dan saya, tidak tahu bagaimana, merasa jadi tidak nyaman dan tidak bahagia, saya pun kemudian jadi lebih jarang bertemu dengannya. Dan cinta saya menghilang menuju pada tidak ada. Begitulah kadang-kadang sesuatu terjadi dan karena apa seluruh hidup manusia bisa berubah dan memiliki tujuan. Sedangkan kalian di sini hanya memperbincangkan mengenai lingkungan,” kata Ivan Vasilyevich mengakhiri. (*)

1903

____
*Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh: Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin.

[1] Merupakan foto yang dikerjakan di atas piring perak. Namanya disesuaikan dengan nama penemu metode ini, L.J.M Daguerre (1787-1851). Pada tahun 1851 diketahui ada daguerreotype Tolstoy

[2] Seminggu sebelum puasa masehi; festival Slavia Kuno untuk mengucapkan selamat jalan pada musim dingin, yang ditandai oleh pekerjaan musim semi di ladang

[3] Dipilih oleh kaum bangsawan di suatu Uyezd atau Guberniya di dalam badan pemilihan kepemerintahan lokal

[4] Gelar senior hukum di Rusia

[5] Anak Peter I. Ratu Rusia (1709-1761), yang memerintah sejak tahun 1741. Di dalam potret resminya terpampang jelas bahunya yang putih dan lembut

[6] Aslinya adalah nama permainan kartu. Pada tahun 1740 diberikan untuk penamaan tarian. Quadrille diperkenalkan di Perancis sekitar tahun 1760. Quadrille dibawakan oleh dua pasang penari; pertama-tama di Perancis hanya diperlukan 4 orang, kemudian dua pasang penari ditambahkan pada masing-masing sisi untuk menggantikan pasangan yang lelah. Tarian ini sangat enerjik

[7] Tarian ini muncul di Wina, Austria pada awal abad 17. Tarian ini berirama ¾, pun musiknya

[8] Tarian rakyat Polandia. Pasangan penari membawakan tarian ini dengan berkeliling ruang dansa. Tempo tarian ini cepat

[9] Tarian nasional Polandia yang dibawakan sejak abad 16. Musiknya berirama ¾. Tarian ini dikarakterisasikan dengan hentakan kaki dan sentakan tumit, saat ada gerakan membalik

[10] Untuk tarian mazurka ada aturan khusus. Para penari pria memilih kualitas konvensional, misalkan rendah hati, rasa bangga, riang, sedih. Seorang penari pria akan memilih dua orang penari lainnya dan meminta sang penari wanita untuk menebak kualitas mereka. Penari wanita akan menari dengan laki-laki yang kualitasnya dapat diterka

[11] Maksudnya’lagi’ (bahasa Perancis)

[12] Penulis Perancis (1808-1890), yang mendirikan majalah satir ‘Wasps’

[13] Di dalam kitab Injil dikisahkan nabi Nuh jatuh tertidur, setelah banyak minum. Ham, anaknya, menertawakan, tetapi Sim dan Japhet, anak lainnya, dengan rasa respek menyelimuti ketelanjangan ayahnya

[14] Tanda pangkat untuk masa seremonial, yang disulam secara khusus pada bagian ujung pundak

[15] Maksudnya ‘sayangku’ (bahasa Perancis)

[16] Kaum militer pada masa Nikolai I (1825-1855) meniru tsar mereka, yang di dalam potret resminya memakai kumis dan jambang

[17] Ujian akhir di universitas dan mahasiswa yang berhasil diberi gelar: kandidat akademik

[18] Nama diminutif Pyotr atau Peter

[19] Institusi pendidikan eksklusif untuk putri-putri kaum bangsawan, yang didirikan oleh Marya Fyodorovna (1759-1828), istri tsar Pavel I

[20] Dipernis, agar kayu jadi berkilat

Continue Reading

Cerpen

Lensa Bertuah

mm

Published

on

Kamu telah menanggalkan semua: kebaya merah marun, sanggul, arloji imitasi, kemben hitam berenda; kecuali beban yang kautanggung. Beban yang telah lama hinggap di pundakmu, membuat hidup yang seharusnya merona semata kuyu. Kamu tersadar kamu tak boleh tidur karena pagi sebentar lagi tiba. Kamu harus menunaikan kewajiban bekerja. Kamu sedikit menyesali ajakan teman untuk menghabiskan malam di bar setelah meninggalkan resepsi pernikahan.

Oleh: Fajar Martha

___

Kamu memasuki pelataran. Sepasang kakimu yang jenjang terlihat melangkah pasti, kanan ke kiri. Namun, dari raut wajahmu, orang akan menebak yang kamu pampangkan semata ketegaran yang dipaksakan.

Kamu berhenti sebentar, melepas pengait berwarna perak yang menjepit rambutmu yang legam. Kauhela napasmu. Bukan hanya udara yang kaucoba embus, namun juga kelu di hati. Setelah bibir bawah kaugigit, kamu menghela napas lagi. Kali ini sambil memejamkan kedua mata yang berlumur maskara.

Kamu pun memasuki kamar apartemen. Tubuhmu toh masih segar seperti dulu. Cobaan hidup tak berhasil membuatmu layu. Lagi, kamu menarik napas panjang dan dalam. Tatapanmu kosong melompong. Kaugumamkan suatu kalimat seraya mendongak ke arah langit-langit kamar yang sekosong tatapan matamu. Kamu lantas menjerit. Pupuslah segala kesabaran yang sejak tadi kautahan. Air mata tumpah subuh ini.

Kamu telah menanggalkan semua: kebaya merah marun, sanggul, arloji imitasi, kemben hitam berenda; kecuali beban yang kautanggung. Beban yang telah lama hinggap di pundakmu, membuat hidup yang seharusnya merona semata kuyu. Kamu tersadar kamu tak boleh tidur karena pagi sebentar lagi tiba. Kamu harus menunaikan kewajiban bekerja. Kamu sedikit menyesali ajakan teman untuk menghabiskan malam di bar setelah meninggalkan resepsi pernikahan.

Sambil tetap menghalau kantuk, kamu termenung di bibir kasur yang semrawut. Sengaja tak kaurapikan karena jika rapi, kamu pasti dikalahkan kantuk. Kamu belum siap kehilangan pekerjaan.

Kamu belum siap kehilangan pekerjaan setelah empat bulan yang lalu kehilangan lelaki yang selama ini membuat hidupmu berpijar.

Namamu Silvia dan aku sungguh-sungguh mencintaimu.

***

 

Aku duduk berpangku tangan di bilik berbentuk oval. Seperti daerah asalku, Sungai Ungu, ruangan ini juga memendarkan warna yang sama. Dingin. Sunyi. Memang ada suara, tetapi hanya dengung konstan dan monoton sehingga seperti tiada.

Telah lama aku berada di ruangan ini, tanpa memedulikan lapar dan kantuk. Sepertinya kebutuhan ragawi sudah tak bisa lagi menyandera diri ini. Kini segalanya semata-mata tertuju padamu, Silvia.

Terdengar derit pintu. Seperti bungker, pintu bilik ini berada di langit-langit. Setelah pintu ditutup aku melihat bayangan seorang pria. Ketika akhirnya ia menapaki tangga turun, wajahku pun bersemu. Akhirnya aku tahu kepada siapa bisa bercerita.

“Namaku Iqbal. Senang bisa jumpa dengan Bung. Di negeri asing, bukankah bertemu dengan rekan senegara adalah berkah? Aku harap Bung setuju. Aku tahu Bung orang baru di sini. Oh iya, nama Bung siapa?”

“Jevandy. Tapi panggil saja Andi. Iya, betul. Senang sekali rasanya. Setelah sekian bulan, akhirnya aku bisa menjumpai orang yang bertutur bahasa yang sama,” jawabku sambil mengguncang-guncangkan tangannya.

“Sepertinya Bung sudah mengalami tuah lensa?”

Percuma saja menyebut nama jika tetap memanggilku Bung. Mungkin di masa lalunya pria ini seorang aktivis. Dia mengambil posisi duduk di hadapanku, meleseh seperti seorang cenayang.

“Iya, Bal. Seru sekali! Lensa itu betul-betul canggih. Rasanya tidak seperti menguntit. Kita bisa terus mengetahui keadaan orang yang kita sayang. Kalau diperkenankan bertemu dengan si pembuat lensa, akan kukecup kedua kakinya!”

Demi mengakrabkan diri, aku pun memutuskan untuk turut memanggilnya dengan tambahan “Bung”. Ini negeri asing, aku harus cepat-cepat mendapat sahabat. Dengung suara tak lagi terdengar monoton dan membosankan.

“Tapi Bung tahu kan konsekuensinya?” ia bertanya sembari menaikkan alis sebelah kiri. “Bung akan terus—“

“Terus menerus melihat orang yang sama?” potongku.

“Iya. Itu maksudku.”

“Tak masalah. Lagipula aku telah membayar mahal. Bung Iqbal sendiri mengintai siapa?”

“Ayah dan ibuku. Sedih sekali memang. Tapi, yaa… kita tak pernah sempat berpikir panjang, kan, sebelum membayarnya?”

Ada keheningan yang tak mengenakkan selama beberapa saat. Sayangnya tidak ada rokok atau camilan sebagai pengalih rasa kikuk. Kami lantas bersitatap ke arah yang berlainan.

“Hhhh,” dengusnya, “yang tidak mengenakkan adalah kita takkan pernah bisa berbuat apa-apa meski tahu orang yang kita intai sedang sedih atau mengalami musibah.”

“Itu juga harga mahal yang telah kita bayar, bukannya?” ucapku mencoba membesarkan hatinya. Bung Iqbal melankolis juga.

“Yah.. Meski kita hidup secara nafsi-nafsi, ikatan antara orang tua dengan anak adalah ikatan gaib yang azali, Bung. Biar kutebak. Orang yang kau pilih bukan orang tuamu, kan?”

***

Aku tak lagi memedulikan hari-hari. Konsep waktu menjadi kehilangan arti jika dirimu bisa merasakan berkah lensa berharga mahal ini.

Selain seratus persen aman, fitur lensa ini sanggup mengamati sasaran dari sudut pandang 360 derajat. Bayangkan saja, lensa ini bisa menjangkau daerah-daerah paling terpencil seperti ketiak atau lipatan paha!

Ah, itu engkau. Kukulum senyum jemawa ketika melihat isi keranjang belanjamu di swalayan: lima kaleng acar. Olala! Kamu pasti sedang merindukanku.

Berkat ajakanku ke Jerman-lah kamu jadi suka menjadikan acar sebagai camilan. Kita ke sana untuk menikmati Oktoberfest, masa di mana kita menjadi pencandu sauerkraut. Setelah masa pelesir tuntas, kita pun menjadikan asinan sebagai pengganti. Namun, asinan gampang basi. Kita kembali berpaling pada acar, meski acar kubis tak dapat kita temukan di supermarket mana pun.

Puluhan lelaki menelanjangimu dengan tatapan-tatapan mereka. Kasihan sekali. Gadisku mengacuhkan semua, memilih sibuk dengan pikirannya. Setelah memasuki gerbong kereta, kamu mengenakan masker. Bukan untuk menghalau debu atau kuman, tapi demi mengusir tatapan liar lelaki. Kamu sungguh gadis yang pintar bersetia.

Ah, iya, aku lupa memberitahumu beberapa kelemahan besar lensa ini. Alat ini tak dilengkapi mikrofon sehingga kita tak bisa mendengar apa pun. Kita juga tak bisa mengendalikan waktu-pakainya seenak hati. Satu sesi lensa bisa berlangsung sampai tiga hari, tapi tak jarang ada yang terjadi hanya selama dua puluh menit.

Sebentar. Kamu tidak turun di stasiun biasa, yang hanya berjarak selemparan batu dari apartemenmu. Kamu baru turun setelah tiga stasiun terlewati.

Setelah menjejakkan kaki di atas peron, kamu menuju kamar mandi. Semoga bukan untuk buang air besar. Aku ingin menggerayangi tubuhmu lagi walau tanpa membelai. Aku ingin mencermati setiap lekuknya walau tanpa mengecup. Untungnya lensa tidak memiliki fitur pengantar bau.

Waktu bergerak cepat dan yang kamu lakukan hanya duduk melamun. Kuatur lensa semakin ke bawah, demi mengetahui apa yang sebenarnya kamu lakukan. Mungkin saja kamu mendadak bergairah, lantas memutuskan untuk bermasturbasi.

Tunggu. Kamu menangis, sambil berupaya keras menahan agar tangisanmu tak terdengar. Ini sungguh menjengkelkan. Seperti yang Bung Iqbal katakan, kita tak bisa menyudahi adegan memilukan seperti ini.

Kamu memutuskan untuk keluar dari bilik toilet. Sebelum membuka selot, kaukeluarkan blus satin berwarna krem dari tas. Wahai jelita, malam mulai larut, apa kau hendak menghadiri pesta?

Tanpa bersusah-susah memperbaiki make-up, kamu bergegas melangkah keluar stasiun. Sembari melaju kauraih ponsel yang bordering dari saku celana.

Kamu berjalan membelah peron yang masih disesaki lautan manusia. Selama itu pula kauladeni suara di balik ponsel dengan riang. Pipimu merah jambu dan jantungku mulai berdegup kencang. Sial!

Kamu membonceng pengojek yang kautemukan di muka stasiun. Motor melaju dengan gesit, meliuk-liuk di antara kendaraan-kendaraan lain. Lensa membuatku terhuyung karena mengikuti gerak motor. Aku kewalahan mengatur posisi pandang. Rasanya seperti berada di atas roller coaster.

Motor berhenti di bibir losmen berarsitektur jengki. Tak jauh dari serambi, terdapat sebuah plang bertuliskan “Sri Rejeki”. Setelah membayar tagihan, kamu melangkah masuk. Aku berteriak supaya sesi kali ini berhenti sampai di sini.

Percuma.

Walau kutahu sia-sia, teriakanku semakin kencang saat kamu memasuki kamar nomor sekian. Di dalamnya telah menunggu seorang lelaki yang amat kukenal.

Dimas.

Lelaki itu kakakku dan kontan kutahu harga yang telah kubayar terlampau mahal, teramat mahal, sekaligus tak berarti.

***

“Kami tahu Anda masih shock. Tapi tolong bantu kami. Kami tak mungkin mengizinkan Anda meninggalkan lokasi sebelum mendapatkan kesaksian Anda. Cuma saudari yang menyaksikan peristiwa ini. Tenang, kami bukan petugas kepolisian. Kami hanya ingin memastikan beberapa hal sebelum jenazah ini kami tangani. Benar Anda mengenal pria ini?”

“I-i-iya, Pak. Saya mengenalnya.”

“Apa yang ia katakan sebelum membakar diri di depan pintu apartemen Anda?”

Silvia kembali bungkam. Ia baru tahu bahwa, salah sikap—meski kita merasa tindakan yang kita ambil bukan suatu kesalahan—bisa memicu reaksi tak terduga. Seperti apa yang diperbuat Jevandy, setelah kemarin Silvia ucap kata perpisahan, memangkas hubungan yang telah lama mereka rajut. Kali ini bunuh diri bukan cuma berita, peristiwa itu melibatkan Silvia.

Kobaran api telah menyisakan bara dan aroma anyir. Lorong apartemen itu pun dikepung asap pekat nan menyesakkan dada. (*)

*) Fajar Martha: Pengarang esai dan cerpen. Cerpen-cerpennya antara lain pernah terbit di Pikiran Rakyat, Radar Surabaya, Lampung Post, Detik dan Jakarta Beat.

Continue Reading

Classic Prose

Truman Capote: Miriam

mm

Published

on

Miriam by Truman Capote | Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

____

Selama beberapa tahun, Bu H. T. Miller tinggal sendirian di sebuah apartemen yang nyaman (dua kamar dengan dapur kecil) di sebuah gedung berbahan batu bata yang sudah direnovasi di dekat East River. Ia adalah seorang janda: Pak H. T. Miller meninggalkan sejumlah asuransi yang layak. Hanya sedikit hal yang menarik minatnya, ia tidak memiliki teman untuk diajak bicara dan jarang berjalan-jalan lebih jauh daripada ke toko kelontong. Para penghuni lain di gedung itu sepertinya tidak pernah memperhatikannya: pakaiannya bernuansa kelabu, rambutnya abu-abu, dijepit dan bergelombang; ia tidak menggunakan kosmetik, wajahnya polos dan tidak mencolok, dan pada hari ulang tahunnya yang terakhir, ia berusia enam puluh satu tahun. Aktivitasnya jarang spontan: ia menjaga kedua kamar itu tak bernoda, merokok sesekali, menyiapkan makanannya sendiri dan merawat burung kenari.

Lalu ia bertemu Miriam. Malam itu turun salju. Bu Miller telah selesai mengeringkan piring-piring usai makan malam dan membolak-balik koran sore saat ia melihat sebuah iklan berisi poster film yang diputar di bioskop setempat. Judulnya terdengar seru, jadi ia berjuang memakai mantel berbulunya, mengikat tali sepatu karetnya, dan meninggalkan apartemen, membiarkan satu cahaya menyala di selasar: tidak ada yang lebih mengganggu daripada sensasi kegelapan.

Salju turun dengan lembut, belum menghiasi trotoar. Angin yang berhembus dari sungai terbelah di persimpangan jalan. Bu Miller bergegas, kepalanya menunduk, tak sadar seperti tikus yang menyusuri jalan dalam kegelapan. Ia berhenti di apotek dan membeli sebungkus pepermin.

Antrean panjang membentang di depan box office; ia mengantre paling belakang. Harus menunggu sebentar (suara kelelahan mengerang) untuk semua kursi. Bu Miller mengaduk-aduk tas kulitnya sampai ia bisa mengumpulkan uang yang cukup untuk tiket masuk. Antrean itu tampak mamakan waktu, dan, ketika sedang melihat sekeliling untuk distraksi, ia tiba-tiba sadar ada seorang gadis kecil berdiri di bawah tenda.

Bu Miller tidak pernah melihat rambut sepanjang dan seaneh itu: benar-benar putih perak, seperti rambut albino. Rambut itu menjulur sepanjang pinggang dengan garis-garis halus dan lentur. Dia kurus dan terlihat rapuh. Ada keanggunan yang sederhana dan spesial dalam cara dia berdiri dengan jempolnya di saku mantel beludru prem yang dibuat penjahit.

Bu Miller merasa sangat senang, dan saat gadis kecil itu melirik ke arahnya, ia tersenyum hangat. Gadis kecil itu berjalan mendekat dan berkata, “Maukah Anda membantuku?”

“Aku akan senang melakukannya,” kata Bu Miller.

“Oh, cukup mudah kok. Aku cuma ingin Anda membelikanku tiket; kalau tidak, mereka tidak akan membiarkanku masuk. Ini, aku ada uangnya.” Dan dia menyerahkan dua koin 10 sen dan 1 koin 5 sen.

Mereka pergi ke bioskop bersama-sama. Petugas mengarahkan mereka ke sebuah ruang duduk; dalam dua puluh menit filmnya akan berakhir.

“Aku merasa seperti penjahat sejati,” kata Bu Miller riang, saat ia duduk. “Maksudku, hal semacam itu melanggar hukum, bukan? Aku berharap aku tidak melakukan hal yang salah. Ibumu tahu kamu di mana, sayang? Maksudku, dia tahu, kan?”

Gadis kecil itu diam saja. Dia membuka kancing mantelnya dan melipatnya di pangkuannya. Gaunnya rapih, berwarna biru tua. Rantai emas menggantung di lehernya, dan jari-jarinya, terlihat sensitif dan seperti jari pemusik, memainkan rantai itu. Memeriksanya saksama, Bu Miller memutuskan bahwa ciri khasnya sebenarnya bukan rambutnya, tapi matanya; mata coklat kekuningan, mantap, tidak seperti mata anak kecil dan, karena ukurannya, seperti mengonsumsi wajah kecilnya.

Bu Miller manawari pepermin. “Siapa namamu, sayang?”

“Miriam,” katanya, seakan, dengan anehnya, nama itu informasi yang sudah familiar.

“Mengapa, lucu sekali- namaku juga Miriam. Dan nama itu bukan nama yang pasaran. Jangan bilang nama belakangmu pun Miller!”

“Cuma Miriam.”

“Tapi, tidakkah itu lucu?”

“Biasa saja,” balas Miriam, dan memainkan pepermin di lidahnya.

Bu Miller merona dan bergerak tak nyaman. “Kosakatamu luas sekali untuk anak perempuan seusiamu.”

“Iya kah?”

“Hm, ya,” kata Bu Miller, dengan tergesa-gesa mengubah topik: “Kamu suka filmnya?”

“Aku tak tahu,” jawab Miriam. “Aku belum pernah menontonnya.”

Para perempuan mulai memenuhi ruangan; gemuruh cuplikan berita meledak di kejauhan. Bu Miller berdiri, menyempilkan dompetnya ke bawah lengan. “Kurasa aku sebaiknya lari sekarang kalau ingin dapat tempat duduk,” katanya. “Senang bertemu denganmu.”

Miriam mengangguk sedikit.

Selama seminggu salju turun.  Roda dan langkah kaki bergerak tanpa suara di jalan, seolah urusan hidup berlangsung diam-diam di balik tirai yang pucat namun tak tertembus. Di tempat yang sunyi sepi tidak ada langit atau bumi, hanya salju yang terangkat angin, membekukan kaca jendela, mendinginkan ruangan, mematikan dan mendiamkan kota. Penting untuk membiarkan lampu menyala di sepanjang jam, dan Bu Miller kehilangan jejak hari-hari: Jumat tidak ada bedanya dengan hari Sabtu, dan di hari Minggu, dia pergi belanja, tentu saja tutup.

Malam itu ia memasak telur dadar dan menyiapkan semangkuk sup tomat. Lalu, setelah mengenakan jubah flanel dan mengoleskan krim dingin di wajahnya, ia menyandarkan tubuhnya ke tempat tidur dengan sebotol air panas di bawah kaki. Ia sedang membaca Times saat bel pintu berdering. Mula-mula ia mengira itu pasti sebuah kesalahan dan siapa pun itu akan pergi nantinya. Tapi, bel terus berdering dan berdering dan semakin menuntut. Ia melihat jam: pukul sebelas lewat sedikit; sepertinya tidak mungkin, ia selalu sudah tertidur pukul sepuluh.

Beranjak dari kasur, ia berderap tanpa alas kaki melintasi ruang tamu. “Aku ke sana, mohon bersabar.” Grendel pintu itu tersangkut; ia mengutak-atiknya begini dan begitu dan bel tidak berhenti barang sebentar saja. “Berhenti,” teriaknya. Bautnya membuka jalan dan ia membuka pintu selebar satu inci. “Siapa gerangan di sana?”

“Halo,” sapa Miriam.

“Oh … kenapa, halo,” jawab Bu Miller, ragu-ragu melangkah ke aula. “Kamu gadis kecil kemarin.”

“Kukira Anda tidak akan menjawab, tapi aku terus memencet bel; aku tahu Anda di rumah. Bukankah Anda senang melihatku?”

Bu Miller kehilangan kata-kata. Miriam, ia lihat, mengenakan mantel beludru prem yang sama dan sekarang dia memakai topi baret melengkapi mantelnya; rambut putihnya dikepang dua lapis dan dililitkan di ujungnya dengan pita putih yang sangat besar.

“Karena aku sudah lama menunggu, Anda setidaknya bisa membiarkanku masuk,” katanya.

“Tapi ini sudah malam sekali …”

Miriam menatapnya kosong. “Apa bedanya? Biarkan aku masuk. Di sini dingin dan aku memakai gaun sutra.” Kemudian, dengan gerakan lembut, dia mendesak Bu Miller ke samping dan masuk ke apartemen.

Dia menjatuhkan mantel dan baretnya di kursi. Dia memang mengenakan gaun sutra. Sutra putih di bulan Februari. Rok itu memiliki lipit yang indah dan panjang; membuat gemersik samar saat dia melangkah memasuki ruangan. “Aku suka tempat Anda,” katanya. “Aku suka permadaninya, warna biru favoritku.” Dia menyentuh sebuah mawar kertas di vas bunga di atas meja kopi. “Imitasi,” komentarnya lemah. “Betapa menyedihkan. Bukankah imitasi itu menyedihkan?” Dia duduk di sofa, dengan lembut melebarkan roknya.

“Apa maumu?” tanya Bu Miller.

“Duduk,” kata Miriam. “Melihat orang berdiri membuatku gugup.”

Bu Miller tenggelam di sebuah kursi kecil. “Apa yang kamu inginkan?” ia mengulangi.

“Kurasa Anda tidak senang aku datang.”

Untuk kedua kalinya Bu Miller tidak menjawab; tangannya bergerak samar. Miriam terkikik dan kembali menekanan dirinya ke tumpukan bantal katun berbunga. Bu Miller memperhatikan bahwa gadis itu tidak sepucat yang ia ingat; pipinya memerah.

“Bagaimana kau tahu tempat tinggalku?”

Miriam mengernyit. “Itu bukan pertanyaan. Siapa namamu? Siapa namaku?”

“Tapi aku tidak terdaftar di buku telepon.”

“Oh, ayo kita bicarakan hal lain.”

Bu Miller berkata, “Ibumu pasti sudah gila karena membiarkan anak sepertimu berkeliaran di malam hari – dan dengan pakaian yang tidak masuk akal. Pasti dia sudah gila.”

Miriam berdiri dan pindah ke ujung ruangan di mana ada sangkar burung yang tertutup kain tergantung dari rantai langit-langit. Dia mengintip ke balik kain. “Burung kenari,” katanya. “Anda keberatan kalau kubangunkan dia? Aku ingin dengar dia bernyanyi.”

“Tinggalkan Tommy sendiri,” jawab Bu Miller, cemas. “Awas kalau kau bangunkan dia.”

“Tentu saja,” kata Miriam. “Tapi aku tak mengerti kenapa aku tidak boleh mendengarnya bernyanyi.” Dan juga, “Anda punya sesuatu yang bisa kumakan? Aku kelaparan! Bahkan susu dan roti lapis selai juga tak apa.”

“Dengar,” kata Bu Miller, bangkit dari bantal, “Dengar – kalau kubuatkan kau roti lapis, maukah kau jadi anak baik dan lari ke rumah? Sudah lewat tengah malam, aku yakin.”

“Di luar bersalju,” bujuk Miriam. “Juga dingin dan gelap.”

“Yah, dari awal kau harusnya tidak ke sini,” balas Bu Miller, berjuang mengontrol suaranya. “Aku kan tidak bisa mengatur cuaca. Kalau mau makanan, kau harus berjanji akan pulang.”

Miriam menyapukan kepangan ke pipinya. Matanya berpikir, seolah menimbang proposisi itu. Dia berbalik ke arah sangkar burung. “Baiklah,” dia berkata. “Aku janji.”

Berapa usianya? Sepuluh? Sebelas? Bu Miller, di dapur, membuka sekaleng stroberi fermentasi dan mengiris empat potongan roti. Dia menuangkan segelas susu dan berhenti sejenak untuk menyalakan rokok. Dan kenapa dia datang? Tangannya terkejut saat memegang korek, tercengang, hingga membakar jarinya. Burung kenari bernyanyi; bernyanyi seperti saat pagi hari dan tidak di waktu lainnya. “Miriam,” panggilnya, “Miriam, sudah kubilang jangan ganggu Tommy.” Tidak ada jawaban. Ia memanggil lagi; yang terdengar hanya suara kenari. Ia menghisap rokok dan menyadari ia membakar ujung gabus penutup anggur dan – oh, sungguh, harusnya ia tidak kehilangan emosi.

Ia menaruh makanan di nampan dan mengaturnya di meja kopi. Yang pertama dilihatnya ialah sangkar burung masih mengenakan kain penutupnya. Dan Tommy sedang bernyayi. Hal itu memberikan sensasi aneh. Dan tidak ada seorang pun di ruangan. Bu Miller melewati sebuah ceruk yang menuju ke kamarnya; di pintu, ia menahan napas.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Miriam.

Miriam melirik ke atas dan matanya memancarkan pandangan yang tidak biasa. Dia sedang berdiri di samping meja tulis, sebuah kotak perhiasan terbuka di depannya. Sejenak dia mengamati Bu Miller, memaksa mata mereka bertemu, dan dia tersenyum. “Tidak ada yang bagus di sini,” katanya. “Tapi aku suka ini,” tangannya memegang bros ukiran. “Menarik sekali.”

“Seandainya-mungkin kau sebaiknya mengembalikannya,” kata Bu Miller, tiba-tiba merasa perlu mendapat dukungan. Ia bersandar pada kusen pintu; kepalanya terasa berat tak tertahankan; sebuah tekanan memberatkan irama detak jantungnya. Cahaya lampu seakan bergetar seperti lampu rusak. “Kumohon, Nak … hadiah dari suamiku.”

“Tapi itu cantik dan aku mau itu,” kata Miriam. “Berikan padaku.”

Selagi ia berdiri, berjuang keras untuk membentuk kalimat yang akan menyelamatkan bros itu, Bu Miller tersadar tidak ada seorang pun yang bisa ia andalkan; ia sendirian; suatu kenyataan yang sudah lama tidak ada di pikirannya. Penegasan itu sungguh menakjubkan. Tapi di sini, di kamarnya sendiri, di kota penuh pertunjukan yang sunyi itu, adalah bukti yang tidak bisa ia abaikan, atau, ia tahu dengan kejelasan yang mencengangkan, tolak.

Miriam makan dengan rakus, dan saat roti lapis dan susunya hilang, jari-jarinya menyisir di atas piring, mengumpulkan remah-remah. Bros itu berkilau pada blusnya, sosok pirang itu seperti bayangan belaka pada pemakainya. “Enak sekali,” dia menghela napas, “Meskipun kue almon atau ceri pasti terasa enak juga. Makanan manis itu menyenangkan, bukan?”

Bu Miller bertengger di atas meja makan, mengisap sebatang rokok. Ikat rambutnya terlepas sebelah dan helai-helai longgar melintang di wajahnya. Tatapannya kosong dan pipinya berbintik-bintik merah, seolah tamparan sengit telah meninggalkan bekas permanen.

“Ada permen – kue?”

Bu Miller menepuk debu di karpet. Kepalanya terayun sedikit saat ia mencoba memusatkan perhatian ke matanya. “Kau berjanji akan pulang kalau kubuatkan roti lapis,” katanya.

“Ya ampun aku ini, masa sih?”

“Kau berjanji dan aku capek dan aku merasa kurang sehat.”

“Jangan jengkel,” kata Miriam. “Aku kan cuma bercanda.”

Dia mengambil jaketnya, menggantungkannya di tangan, dan mengatur topi baretnya di depan kaca. Sekarang dia menunduk mendekat ke Bu Miller dan berbisik, “Berikan aku ciuman perpisahan.”

“Oh – aku tidak mau,” kata Bu Miller.

Miriam mengangkat bahu, melengkungkan alis. “Terserah dirimu,” katanya, dan langsung pergi ke meja kopi, mengambil vas berisi kertas mawar, membawanya ke tempat yang permukaan lantainya keras dan telanjang, dan melemparkannya ke bawah. Kaca tersebar ke segala arah dan dia menancapkan kakinya di atas buket bunga.

Lalu perlahan dia berjalan ke pintu, tapi sebelum menutupnya, dia kembali menatap Bu Miller dengan rasa penasaran yang nampak polos namun licik.

Bu Miller menghabiskan hari berikutnya di tempat tidur, bangun sekali untuk memberi makan burung kenari dan minum secangkir teh; ia mengukur suhu tubuh dan tidak demam, namun mimpinya menggelisahkan; suasana mimpi yang tidak mengenakkan itu tetap bertahan meski ia terbaring menatap lebar ke langit-langit. Satu mimpi beriringan melalui yang lain seperti tema misterius dalam simfoni yang rumit, dan adegan yang ditunjukkan digambarkan dengan tajam, seolah digambar oleh tangan dengan intensitas berbakat: seorang gadis kecil, mengenakan gaun pengantin dan karangan bunga, memimpin sebuah prosesi kelabu ke jalan setapak, dan di antara mereka ada keheningan yang tidak biasa sampai seorang wanita di belakang bertanya, “Ke mana dia membawa kita?” “Tidak ada yang tahu,” kata seorang pria tua yang berbaris di depan. “Tapi, bukankah dia cantik?” balas suara ketiga. “Bukankah dia seperti bunga yang beku … sangat bersinar dan putih?”

Selasa pagi, ia terbangun dengan perasaan lebih baik; sinar matahari yang terang, menembus miring melalui tirai Venesia, melepaskan cahaya yang mengganggu pada mimpi buruknya. Ia membuka jendela dan melihat hari yang mencair dan ringan seperti musim semi; sapuan awan baru yang bersih menggumpal di langit yang sangat biru, langit yang tidak pada musimnya; dan di seberang deretan atap rendah, ia bisa melihat sungai dan asap melengkung dari tumpukan kapal tugboat yang berbaris di antara angin yang hangat. Sebuah truk perak besar menaiki jalan bersalju, suara mesinnya berdengung di udara.

Setelah merapikan apartemen, ia pergi ke toko kelontong, menguangkan cek dan melanjutkan ke Schrafft’s, tempat ia sarapan dan mengobrol gembira dengan pelayannya. Oh, ini adalah hari yang indah, lebih seperti liburan dan bodoh sekali kalau pulang ke rumah.

Ia menaiki bis Lexington Avenue dan pergi ke Eighty-sixth Street; di sinilah ia memutuskan untuk sedikit belanja.

Ia tidak tahu apa yang ia inginkan atau butuhkan, tapi ia terus berjalan, memperhatikan orang yang lewat, bergegas dan sibuk dengan pikirannya sendiri, yang memberinya rasa keterpisahan yang mengganggu.

Saat sedang menunggu di sudut Third Avenue, ia melihat pria itu: seorang pria tua, dengan kaki yang pengkar dan membungkuk ke bawah bungkusan yang menggembung; dia mengenakan mantel cokelat lusuh dan topi kotak-kotak. Tiba-tiba, ia menyadari mereka bertukar senyuman: tidak ada yang ramah tentang senyuman ini, hanya dua emosi dingin. Tapi, ia yakin ia belum pernah melihatnya sebelumnya.

Ia berdiri di samping pilar El, dan saat ia menyeberang jalan, dia berbalik dan mengikuti. Dia terus mendekat; dari sudut matanya, ia melihat bayangan pria itu bergelombang di jendela toko.

Lalu di tengah blok ia berhenti dan menghadap le pria itu. Dia juga berhenti dan memiringkan kepalanya, menyeringai. Tapi apa yang bisa ia katakan? Lakukan? Di sini, di siang bolong, di Eighty-sixth Street? Tidak ada gunanya, dan, membenci ketidakberdayaannya sendiri, ia mempercepat langkahnya.

Sekarang Second Avenue adalah jalan yang suram, terbuat dari sisa-sisa bahan bangunan dan jalan buntu; sebagian jalanan setapak dari batu, sebagian aspal, sebagian semen; dan atmosfer desersinya bersifat permanen. Bu Miller berjalan sejauh lima blok tanpa menemui siapa pun, dan sementara itu, jejak langkah kaki pria tadi di salju tetap dekat. Dan saat ia datang ke toko bunga, suara itu masih bersamanya. Ia bergegas masuk dan melihat melalui pintu kaca saat pria tua itu lewat; dia terus menatap lurus ke depan dan tidak memperlambat langkahnya, tapi dia melakukan hal aneh: dia memiringkan topinya.

“Enam bunga putih, kan?” tanya si penjual bunga. “Ya,” Bu Miller berkata pada pria penjual bunga, “Mawar putih.” Dari sana, ia pergi ke toko barang pecah belah dan memilih vas bunga, mungkin pengganti yang sudah Miriam rusak, meski harganya tidak dapat ditolerir dan vas itu sendiri (menurutnya) tidak istimewa. Tapi, serangkaian pembelian yang tidak masuk akal telah dimulai, seolah-olah dengan rencana yang sudah diatur sebelumnya: rencana yang tidak ia ketahui atau kontrol sedikit pun.

Ia membeli sekantong ceri, dan di tempat yang disebut Knickerbocker Bakery, ia membayar empat puluh sen untuk enam kue almon.

Dalam satu jam terakhir, cuaca berubah menjadi dingin lagi; seperti lensa yang kabur, awan musim dingin menyinari bayangan matahari, dan kerangka senja dini mewarnai langit; kabut lembap bercampur angin dan suara beberapa anak yang berlarian di atas tumpukan salju terasa sepi dan tak ceria. Tak lama, serpihan pertama jatuh, dan saat Bu Miller sampai di gedung berbatu bata, salju turun dengan cepat dan jejak kaki yang tercetak jadi lenyap.

Mawar putih diatur secara dekoratif di dalam vas bunga. Ceri bersinar di piring keramik. Kue almon, ditaburi gula, menunggu dijamah. Burung kenari bergerak-gerak di ayunannya dan mengambil sebatang biji buah.

Tepat pukul lima, bel berbunyi. Miller tahu siapa orang itu. Ujung mantel rumahannya mengikuti langkahnya saat ia melintasi ruangan. “Apakah kau di dalam?” Dia memanggil.

“Sewajarnya,” kata Miriam, kata itu menggema keras dari aula. “Buka pintunya.”

“Pergi sana,” kata Bu Miller.

“Cepatlah … aku bawa bungkusan berat.”

“Sana pergi,” kata Bu Miller. Ia kembali ke ruang tamu, menyalakan rokok, duduk, dan dengan santai mendengarkan bel; terus-terusan. “Kau harusnya pergi saja. Aku tak berniat membiarkanmu masuk.”

Tak lama, bel berhenti berbunyi. Sekitar sepuluh menit Bu Miller tidak bergerak. Lalu, mendengar tidak ada suara, ia mengira Miriam sudah pulang. Ia berjingkat ke pintu dan membuka pintu sedikit; Miriam setengah berbaring di atas kotak kardus dengan boneka Prancis yang indah di pelukannya.

“Sungguh, kukira Anda tidak akan buka pintunya,” katanya, kesal. “Ini, bantu aku membawanya ke dalam, berat sekali.”

Bukan suatu paksaan serupa mantra yang Bu Miller rasakan, namun lebih seperti kepasifan yang aneh; ia membawa masuk kotak itu, Miriam si boneka. Miriam meringkuk di sofa, tidak repot-repot melepas mantel atau baretnya, dan mengawasi dengan tidak acuh ketika Bu Miller menjatuhkan kotak itu dan berdiri gemetar, berusaha menarik napas.

“Terima kasih,” katanya. Di siang hari dia tampak kurus dan letih, rambutnya kurang bercahaya. Boneka Prancis yang dia cintai itu mengenakan wig indah dan mata kacanya yang konyol nampak mencari hiburan di mata Miriam. “Aku punya kejutan,” lanjutnya. “Lihatlah ke dalam kotakku.”

Berlutut, Bu Miller membuka tutupnya dan mengangkat boneka lain; kemudian gaun biru yang ia ingat pernah dikenakan Miriam pada malam pertama di teater; dan ia berkata, “Semuanya pakaian. Kenapa?”

“Karena aku datang untuk tinggal bersama Anda,” kata Miriam, memutar batang ceri. “Bukankah Anda baik sekali sudah membelikanku ceri …?”

“Tapi kau tidak boleh tinggal di sini! Demi Tuhan, pergilah – pergi dan tinggalkan aku sendiri!”

“… dan mawar dan kue almon? Benar-benar luar biasa murah hati. Anda tahu, ceri ini lezat. Tempat terakhir yang kutinggali adalah rumah seorang lelaki tua; dia sangat miskin dan kami tidak pernah makan enak. Tapi aku pikir aku akan senang di sini.” Dia berhenti sejenak untuk merengkuh bonekanya. “Sekarang, kalau Anda tunjukkan di mana aku bisa menaruh barang-barangku …”

Wajah Bu Miller berubah serupa topeng dengan guratan-guratan merah yang jelek; ia mulai menangis, semacam tangisan yang tidak alami, seolah-olah lama tidak menangis dan ia lupa bagaimana caranya. Dengan hati-hati, ia mundur ke belakang sampai menyentuh pintu.

Ia meraba-raba lorong dan menuruni tangga ke bawah. Ia memukul dengan panik pintu apartemen pertama yang ia datangi; seorang pria pendek berambut merah menjawab dan ia mendorong melewatinya. “Apa-apaan ini?” kata pria itu. “Ada yang salah, sayangku?” tanya seorang wanita muda yang muncul dari dapur, mengeringkan tangannya. Dan Bu Miller menghadap wanita itu.

“Dengar,” serunya, “Saya malu berperilaku seperti ini tapi — yah, saya Bu H. T. Miller dan saya tinggal di lantai atas dan …” Ia menekankan tangannya ke wajahnya. “Kedengarannya sangat tidak masuk akal …”

Wanita itu membimbingnya ke kursi, sementara pria itu dengan penuh semangat memainkan uang receh di kantongnya. “Ya?”

“Saya tinggal di lantai atas dan ada seorang gadis kecil yang mengunjungi saya, dan saya kira saya takut padanya. Dia tidak kunjung pergi dan saya tidak bisa membuatnya pergi dan — dia akan melakukan sesuatu yang mengerikan. Dia sudah mencuri bros ukiran milik saya, tetapi dia akan melakukan sesuatu yang lebih buruk — lebih buruk.”

Pria itu bertanya, “Dia kerabatmu?”

Bu Miller menggelengkan kepalanya. “Saya tidak tahu siapa dia. Namanya Miriam, tapi saya tidak tahu pasti dia siapa.”

“Tenanglah, sayang,” kata wanita itu, sambil mengelus lengan Bu Miller. “Harry lah yang akan mengamankan anak itu. Ayo, sayangku.” Dan Bu Miller berkata, “Pintunya sudah terbuka — 5A.”

Setelah pria itu pergi, wanita itu membawa handuk dan mengelap wajah Bu Miller. “Anda baik sekali,” kata Bu Miller. “Maaf saya berperilaku seperti orang bodoh, hanya saja anak jahat ini …”

“Tentu, sayang,” menghibur wanita itu. “Sekarang, lebih baik santai saja.”

Bu Miller mengistirahatkan kepalanya di lekuk lengannya; dia cukup tenang untuk tidur. Wanita itu memutar radio; piano dan suara serak mengisi keheningan dan wanita itu mengetukkan kakinya, memberi jeda waktu yang sangat baik. “Mungkin kita harus naik juga,” katanya.

“Saya tidak ingin melihatnya lagi. Saya tidak ingin berada di dekatnya.”

“Uh-huh, tapi yang seharusnya Anda lakukan, Anda seharusnya memanggil polisi.”

Saat ini mereka mendengar pria tadi di tangga. Dia melangkah ke ruangan sambil mengerutkan dahi dan menggaruk bagian belakang lehernya. “Tidak ada orang di sana,” katanya, dengan jujur merasa malu. “Dia pasti menghabisi anak itu.”

“Harry, kamu keterlaluan,” kata wanita itu. “Kita duduk di sini sepanjang waktu dan kita pasti sudah melihat kalau …” Dia berhenti tiba-tiba, karena pandangan pria itu tajam.

“Saya mencari ke semua tempat,” katanya, “Dan tidak ada orang di sana. Tidak ada orang, mengerti?”

“Katakan pada saya,” kata Bu Miller, sambil berdiri, “Katakan pada saya, apakah Anda melihat kotak besar? Atau boneka?”

“Tidak, Bu, saya tidak lihat.”

Dan wanita itu, seolah memberikan vonis, berkata, “Yah, setelah menangis tersedu-sedu begitu …”

Bu Miller masuk ke apartemennya dengan lembut; ia berjalan ke tengah ruangan dan berdiri diam. Tidak, dalam arti tidak ada yang berubah: mawar, kue, dan ceri berada di tempat masing-masing. Tapi, ini ruang kosong, lebih kosong daripada ketika perabotan belum ada di sini, tak bernyawa dan membatu layaknya pemakaman. Sofa membayang di hadapannya dengan keanehan baru: kekosongannya memiliki makna yang kurang tajam dan mengerikan seandainya saja Miriam pernah meringkuk di atasnya. Ia menatap lekat-lekat ruangan di mana ia ingat pernah mengatur boks, dan, untuk sesaat, bantal kakinya berputar putus asa. Dan ia melihat melalui jendela; tentu saja sungai itu nyata, tentu saja salju turun — tetapi kemudian, seseorang tidak bisa menjadi saksi tertentu untuk hal apa pun: Miriam, begitu jelas di sana — namun, di mana dia? Di mana? Di mana?

Seolah bergerak dalam mimpi, ia tenggelam di kursi. Ruangan itu kehilangan bentuk; hari sudah gelap dan semakin gelap dan tidak ada yang bisa dilakukan tentang hal itu; ia tidak bisa mengangkat tangannya untuk menyalakan lampu.

Tiba-tiba, menutup matanya, ia merasakan lonjakan ke atas, seperti penyelam yang muncul dari kedalaman yang sangat dalam dan hijau. Pada masa penuh kesulitan atau teror, ada saat-saat ketika pikiran menunggu, seolah-olah untuk mendapatkan sebuah wahyu, sementara gumpalan ketenangan ditenun dari pikiran; seperti tidur, atau hipnotis supernatural; dan di masa ini kita menyadari kekuatan penalaran yang tenang: bagaimana jika ia tidak pernah benar-benar mengenal seorang gadis bernama Miriam? Bahwa ia dengan bodohnya ketakutan di jalan? Pada akhirnya, seperti yang lainnya, itu tidak penting. Satu-satunya hal yang hilang dari dirinya untuk Miriam adalah identitasnya, tetapi sekarang ia tahu ia telah menemukan lagi orang yang tinggal di ruangan ini, yang memasak makanannya sendiri, yang memiliki burung kenari, yang merupakan seseorang yang dapat dipercayainya: Bu H. T. Miller.

Sambil mendengarkan dengan perasaan senang, ia sadar ada suara ganda: laci meja terbuka dan tertutup; ia sepertinya mendengarnya lama setelah laci itu selesai — terbuka dan tertutup. Kemudian secara bertahap, suara lantang itu digantikan oleh desiran gaun sutra dan, sesuatu ini, yang gerakannya halus dan lemah, bergerak lebih dekat dan semakin intens hingga dinding gemetar hebat dan ruangan itu runtuh di bawah gelombang bisikan. Bu Miller menegang dan membuka mata dan berpandangan langsung dengan tatapan membosankan itu.

“Halo,” kata Miriam.

 

___

Sumber teks: Literary Fictions

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending