Connect with us

Prose & Poetry

Puisi-Puisi Fitrah Anugerah

mm

Published

on

Pengembara yang Malang

 

Untuk siapa saja yang mendengarkan khutbah setiap pagi

Untuk yang memikul beban di punggung dan menderaskan keluhan

Sesungguhnya yang membencimu maka dialah yang terputus tali

Bersembunyi. Menjeburkan diri dalam kolong kegelapan.

 

Untuk siapa saja tak patut mendustakan dan menolak jejak

Sedang semesta lebih sempurna ketimbang kesombongan kata

Menampakkan susunan mempesona tak lebih baik dari cahaya

Hanya gemerisik ketakutan menyeret gelombang buih beriak.

 

Sedang mata adalah kesaksian atas keutuhan nikmat

Menemukan jalan menembus tabir antara kesedihan dan bahagia

Bagai melintasi bayangan kelabu burung dan terang tepian samudra

Melesatkan perasaan yang lahir barangkali menembus segala hakekat

 

Tafsir yang semakin jauh. Hanya menyusuri kekosongan pada jiwa

Yang lalai. Terlupa doa. Sungguh aku renta terkoyak pesona buta

Oh kepedihan pengembara yang malang menumpahkan kembali air mata

Kisahkan rumah yang hilang hanyut dalam luap amarah sungai

Sekiranya berpulang di gelombang kesunyian matahari

 

Bekasi, 2016

 

Obat Nyamuk Bakar

 

Tarian asap sengak di udara pengap. Berkali-kali terbatuk-batuk

Menyadari kemiskinan. Mengakui mimpi masih panjang tergelar

Sepanjang malam membentukan umpatan kosong dan melayang tepuk

Sigap memburu setitik darah yang hilang. Raga kecil itu akan hancur

Menyisakan percik merah kering. Tetapi kejengkelan ini belum tamat

Sejumlah tanda kematian menghiasi dinding. Bagai kengerian membawa

Lebam benturan. Ranjang ini menjadi saksi berjatuhan mayat-mayat

Sekarat yang tak sempat menembus pekat mimpi. Hanya memberikan nyawa

 

Perlahan bara memagut separuh putaran. Asap kian mengepul, menyisakan debu

Putih pucat. Apa yang telah disingkap dari sebuah perjalanan? Sedang angin berderu

Menelusup di antara lobang. Diam-diam membawa kerentaan jauh tak terjangkau

Ini hidung kembang kempis merasakan. Dada yang sesak ajaib seketika mengatur laju

Mendenguskan nafas panjang. Kita membutuhkan kenyamanan tanpa perlu cemburu

Pada tetangga yang menanam lavender di halaman rumah. Mungkin bersabar menunggu

Bebunyian nyaring di telinga. Entah kenapa telinga menjadi tempat ternyaman bersembunyi

Dari asap pembakaran barangkali ada hantu bersemayam yang suka mengambil setiap mimpi

 

Bekasi, 2016

 

 

Nafas Sungai

 

Sungai adalah arus hatimu membaca surat jauh

Mengalir membawa butiran lara atau suka

Terlukis riak gelombang pada permukaan seakan bahasa

Yang menyeret untuk tenggelam lebih dalam

 

Mungkin harus memancing kata dalam gejolak sukma

Menjulurkan lamunan serupa kail ke tempat asing

Atau melemparkan jala angan sejauh-jauhnya

Kita mesti tabah menanti di batas udara lengang

 

Sungai adalah bayang senja menyapa letih petualang

Bening air membasuh bekas luka di punggung

Mereguknya. Mengganti dahaga tak terkira menjadi rona berkembang

Menjelma gurit rindu tempat berpulang di ladang-ladang asing

 

Sungai yang mengalir dan cahaya membisu di antara rahasia

Kehidupan menjelma nafas mimpi menembus kesunyian kota

Kita yang telah menemukan sebuah pintu dan bermukim abadi

Mengganti pakaian, dan menyiapkan kail dan jala untuk esok hari

 

Bekasi, 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 Sungai Cimanuk 

 

Sebuah sungai bersemayam dalam peta kota

Tak henti mengalir dari hulu sejarah masa lalu

Beriring tumpah keringat pembuka lahan dari utara

Menjelma gairah hidup, seakan gerak tarian kidang

Memberi harapan pada pengembara jauh menuntaskan pencarian

Pada sebuah sungai segala letih terpatok di pinggiran seakan tanda

Berdiam untuk waktu tak terhingga, hanya menyaksikan kibaran bendera

Mengiringi arus air seakan memberi salam ke setiap sampan yang berlabuh

Mengundang orang-orang berdatangan dari seberang membawa kesiur kenangan

Pada pesona Dharma Ayu menyematkan benih kehidupan dan harum wangi kisah

 

Tetapi kenangan adalah buaya yang bertapa di tempat tersembunyi

Mungkin harus menghilang dan butuh keberanian mengakrabi,

Atau cukup menjadi pemancing yang menafsirkan kecipak tarian ikan

Pada ketenangan sungai di bawah pancar bulan bersanding tautan bintang orion

Sungguh waktu adalah hitungan sunyi untuk bertanam kembali

Di ladang subur yang terbentang sepanjang pinggir sungai cimanuk

 

Bekasi, 2016

 

 

 

Kampung Kelahiran

 

Keharuan menghanyutkan tujuan ke ujung rindu

Aku mengenangmu menjelma khayalan pengembara yang kasmaran

Pada kampung yang menyimpan rumah dan ingatan tentang kelahiran

Kepulangan ini adalah mimpi menawarkan cuaca indah di alur waktu.

 

Katakanlah kita pernah lahir, dan berdiam dalam rumah kecil

Berlarian di jalanan sempit penuh jemuran. Kita selalu mendengar keributan

Seorang ibu memanggil anak-anaknya pulang dari bermain. Dan kepulangan bapak

Dengan senyum menyambut. Kita pun menggapai tangan kekarnya. Tak peduli keletihan.

 

Katakan saja bila kita pernah melangkahkan kaki menjauhi kampung

Terjauh melangkah menyusuri takdir hidup sebagai perantau.

Kita yang selalu mengibarkan layar di bawah langit berwarna-warni

Hingga terpikat pada senja di seberang alamat. Semakin jauh merana sendiri.

 

Ingatlah kampung kita tak pernah letih menampung yang telah lama pergi

Serasa pertemuan yang menyenangkan dan meneguhkan di antara kumandang rindu

Melabuhkan dan meminang kembali ingatan jalan pulang pada serpihan kenangan

Yang retak terabaikan bagai sobekan kertas catatan harian yang hilang tersembunyi.

 

Pada kampung kelahiran, aku teringat dirimu,  para penghuni silsilah keluarga

Melagukan gairah bercerita turun-temurun di antara tabuhan nada pilu dan isak sedih

Tentang satu persatu tetua pergi menghilang dalam kabar kematian surau kampung

Tinggal beberapa penghuni menunggu senja di halaman masing-masing dan membuat janji

Saling bersalam pelukan yang masih tersisa dan setia menjaga rumah peninggalan terakhir.

 

Bekasi, 2016

 

 

Perjalanan

 

Kesenyapan menggulung dan memuncaki kecemasan

Pohon pinus dan karet mengirim pesan temaram

Angin mendengus dalam rintih cuaca. Menahan awan

Mengaburkan warna bunga-bunga yang tenggelam

Sepanjang perjalanan mengurai udara pegunungan

 

Aku menginsyafi setiap jejak membatu teramat sendu

Menembus hasrat menggebu di dasar jantung

Sedang kabut berdebu menawarkan ngilu yang abadi

Meninggalkan serakan daun dan bayangan puing ranting

 

Aku yang berhayal menyusuri jalanan tanpa tujuan

Menjaga jiwa dari lompatan dan benturan sepanjang perbatasan

Mencari kiblat di setiap pemberhentian hingga menggambar persimpangan

Dalam kebimbangan dan bayangan keletihan yang merambat. Mencari kejelasan

 

Perjalanan ini abadi seakan kekal dalam diam tanpa mengganggu irama

Sungguh aku ingin masuk dan menembus di sela-sela temaram kota sepi

Meski termangu dan risau seakan kehilangan sebuah alamat dan nama

Oh aku harus memagut setiap luka yang pernah tertinggal dan kukenali

 

Bekasi, 2016

 

 

Lingsir Wengi

 

Jangan tidur dulu

Ke sinilah kita habiskan malam ini

Dengan menambah secangkir teh menjelang dini hari

Sebelum pulau ini bangun, mengutuki ego kita, menjadi angkuh batu waktu

Menyeret dan membasuh bekas jejak ke pulau jauh.

Malam ini dengarkan cerita hatiku

 

Kita menghitung abjad yang tersimpan

Menjadikan kalimat dan menyisipkan sebuah nama

Menjelang dini hari. Kita menyudahi pertemuan

Sebelum kita pergi menjauh dan tak memperhatikan

Sebelum melepaskan tali pertautan

Berjanji memberi kesempatan menjeratkan ingatan

 

Kita hanya menggantungkan waktu di sisa cahaya bulan

Dan gigitan mesra serupa gigitan semut rangrang

Tiada terluka hanya mengakhiri dalam diam

Lalu memulai pengembaraan tersendiri

Ke batas nisbi di tepi pulau

 

Malam ini duduklah di sampingku

dan kita bercerita tentang firman Tuhan

yang turun dalam kesunyian pagi

 

Bekasi 2016

 

 

Malam Jumat

 

Tentunya kita tak saling mencintai

Setidaknya kita telah mulai berkhianat

Dari ranjang yang sama mengingkari

Baju dan selimut yang pernah menyingkap kekanakan kita

 

Kita percaya kita telah keliru membaca isyarat

Mungkin terlupa tak menghayati jalan panjang yang terlewat

Atau telah menuangkan air dingin pada bara cinta

Dan cinta ini dingin membuat lelap

 

Pernahkah kita mendengar langkah-langkah asing

Dalam mimpi dan mendengarkan suara-suara mengharukan

Memaksa kita mengikuti hingga ke langit jauh

Tak terasa kita bergandeng tangan

Dalam kengerian kita berdiam pasrah

Bila jatuh menimpa awan atau angin

Terasa manis meski sedikit nyeri tertinggal.

 

Bekasi, 2016

 

Fitrah Anugerah: Lahir di Surabaya, 28 Oktober 1974.  Berkesenian atau berpuisi semenjak menjadi anggota Teater Gapus, Sastra Indonesia, Unair, Kedaiilalang, Kali Malang Bekasi, dan FSB (Forum Sastra Bekasi. Karya-karyanya pernah dimuat di harian Langgam Sumut Pos, Fajar Sumatera, Indo Pos, Media Indonesia, Sastra Sumbar, Padang Ekspress, Minggu Pagi, Surabaya Post, Sinar Harapan, Suara Karya, Bangka Pos, Banjarmasin Post, Mata Banua, Riau Realita, Joglosemar, Jurnal Sarbi, Majalah Jejak, dan Radar Bekasi. Beberapa puisinya dibukukan dalam Kumpulan Puisi Kumpulan Puisi Pasie Karam (2016), Antologi Puisi Wayang “Tancep Kayon”(2016), e-book “Jalan Setapak, (Evolitera : 2009) , Antologi Puisi Kampungan (2015), Antologi Puisi Sakarepmu, Antologi “Surabaya Dalam Lembaran Kenangan” (2015), Antologi Tifa Nusantara2 (2015), Antologi “Saksi Bekasi”(2014), Antologi Puisi Bersama “Kepada Bekasi” (2013), Antologi Puisi Lumbung Puisi I dan II 2014, Antologi “Sang Peneroka”, dan Antologi di Negeri Poci 5 : Negeri Langit (2014),. Sekarang bekerja dan domisili di Bekasi.

Continue Reading

Cerpen

Doa Kang Suto

mm

Published

on

Ahmad Tohari *)

Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini?

Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, “Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh.” Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.

Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, “Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia.”

Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

“Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit. “Ngain,” kata Kang Suto.
“Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad. Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

“Al-kham-du …,” tuntun guru barunya. “Al-kam-ndu …,” Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, “Salah.”
“Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.
“Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran. Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.

Kang Suto tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah saya, minta pandangan keagamaan saya.

“Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.

Kang Suto mengangguk-angguk.

Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Nabi Musa langsung ditegur Tuhan. “Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya.”

“Sira guru nyong,” (kau guruku) kata Kang Suto, gembira.

Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Saya pun tak keberatan ia zikir, “Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).

Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

“Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini? Salahkah hamba? duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas …”

Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi …

*) Ahmad Tohari, 1971 

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Muhammad Lutfi

mm

Published

on

Kota Pati

Padi menghampar luas di setiap jalanan

Menghijau setiap mata memandang

Menari-nari bagai gelombang laut diterpa angin

Gunung-gunung tinggi tertusuk dingin, tertutupi kabut pagi hari

Burung-burung bertengger di pucuk ranting pengharapan

Menyanyikan lagu merdu sebuah kedamaian

Bagi para petani yang bekerja turun ke sawah

Bumiku Mina Tani,

Melimpah ruah kekayaan Ibu Pertiwi

Ikan-ikan sumber kehidupan para nelayan pesisir

Teruslah hidup rukun dan damai,

Masih selalu lugu dan sopan

Simbol orang kelahiran Pati

Nasi gandul dan bandeng presto terasa lezat bagi pesona asing

Di hulu kenikmatan bagi para pengunjung

Aku merasakan kenikmatan dari kota kelahiranku,

Tempatku tumbuh dan berjuang

Pati Bumi Mina Tani,

Warisan kita dari amanat Ibu Pertiwi

Surakarta, 23 April 2016

 

Tahun Baru

Suara petasan terdengar nyaring dari balik suasana hati

Yang sedang merdeka

Merdeka dari perjuangan sengit

Melawan nafsu-nafsu yang mengejar

Melawan diri yang terus jatuh

Karena kehilangan sebuah semangat

Di halaman rumah, kita melihat jauh ke atas awan

Ada sebuah bulan yang bersinar terang

Dua bintang berkedip ke arah mata kita

Kemudian kubisikkan sesuatu kalimat kedalam telinga bulan

“Turunlah, kenapa sendiri di atas sana?”

Bulan hanya tersenyum manis,

sedangkan dua bintang muda itu terus berkedip manja

Harap-harap ingin selalu diperhatikan

Kita turuti permintaan mereka

Ku temani mereka dalam malam

Tiba-tiba, terompet berbunyi nyaring, serempak bagai serdadu

Telingaku berdiri dan tubuhku terangkat dari tempat duduk

Kupandangi kota yang bersinar dari kejauhan,

Kulupakan bulan dan bintang sejenak saja

Tapi apadaya suatu keramaian tanpa kegunaan

Kuputuskan untuk berteman

dengan malam dan bercerita

tentang tahun ini kepada mereka

Surakarta, 23 April 2016

Continue Reading

Cerpen

Perempuan yang Pertama-tama Kutemui Dalam Hening

mm

Published

on

*) Aura A. Asmaradana[1]

Aku menemui Klara di dalam bis komuter. Selama tiga minggu berturut-turut, ia memilih duduk di sampingku, seringkali di baris kedua sebelah kiri. Ketika duduk di dalam bis, aku lebih sering membaca apapun yang ada di dalam tas. Buku-buku atau sekadar lembar-lembar rancangan pembelajaran semester atau beberapa kertas bungkus kacang rebus yang terselip.

Selasa pertama, ketika bis berhenti di kompleks perumahan Klara, ia naik dengan memeluk sebuah buku tebal ukuran folio. Esok hari dan hari-hari setelahnya begitu pula. Waktu itu, dalam hati aku menduga Klara memilih duduk denganku karena ia melihatku membaca diktat kuliah—merasa senasib sepenanggungan sebagai mahasiswa.

Kalau sedang tak membaca, di dalam bis, aku tidur. Apalagi ketika penumpang penuh, lampu dalam bis akan dimatikan. Maka aku tak mungkin lagi membaca. Klara pun kuperhatikan begitu. Ia akan mengeluarkan seplastik masker sekali pakai dari dalam tas, mengeluarkan selembar, mengenakannya, dan tidur. Aku tahu ada banyak orang yang tak mau mulutnya terlihat ketika tidur. Bisa jadi mereka tertidur dengan mulut menganga, tak kuasa membendung air liur, atau hanya sekadar perasaan tak nyaman diperhatikan orang lain.

Butuh tiga minggu hingga aku dan Klara berhasil bercakap-cakap secara verbal. Percakapan kami selalu tanpa kata-kata. Sekali waktu, ia ngambek padaku. Dari awal peristiwa hingga akhirnya duduk bersama kembali, kami tak pernah bicara satu sama lain. Cerita ini baru kami bagi setelah berani berbincang lebih jauh.

Waktu itu hari Kamis. Aku duduk di kursi baris kedua sebelah kanan karena baris sebelah kiri sudah ada yang lebih dulu menempati. Klara duduk di sebelah kiriku. Melamun. Mengeluarkan masker. Memasangnya. Tidur. Aku pun tertidur setelah menyelesaikan membaca salah satu bagian introduksi Kritik Atas Rasio Murni dan belum juga memahaminya. Kernet mengumpulkan ongkos, aku terbangun. Membayar dengan uang pas, selembar sepuluh ribu dan selembar lima ribu. Bis naik di jalan layang. Aku terbangun lagi. Kulirik Klara yang masih tertidur. Aku memejamkan mata lagi tanpa benar-benar tidur. Bis terus berada di jalan layang hingga gedung-gedung khas perkotaan terlihat dan penumpang bis berkasak-kusuk. Bis mulai ambil jalur kiri karena hendak keluar tol. Klara masih tidur. Aku tahu tak jauh lagi ia harusnya turun. Keberanianku membangunkannya maju mundur. Di satu sisi aku agak cemas ia tak terbangun, di sisi lain aku percaya bahwa ia tak mungkin abai pada keributan di sekitarnya. Tapi aku pun ragu untuk membangunkannya. Apa kata-kata yang harus kupakai untuk membangunkannya? “Halo, bis sudah mau berhenti.” “Hai, sebentar lagi harusnya turun, kan?”

Aku menegakkan punggung. Klara masih tidur ketika bis turun dari jalan layang. Tepat ketika bis berhenti di tepian jalan, orang-orang mengantri untuk turun di lorong bis, ia tersentak bangun. Setelah sebentar melirik ke arahku yang pura-pura tak lihat, ia menyiapkan ranselnya dan turun. Aku merasa sedikit bersalah. Sedikit saja. Sebab toh ia akhirnya bangun dan tak melewatkan kuliah paginya. Minggu depannya, Selasa hingga Kamis, ia tak mau lagi duduk di sampingku. Ia duduk di seberang lorong, sejajar dengan tempatku.

Selasa berikutnya, ia naik bis tepat ketika aku masih membiarkan inhaler menggantung di lubang hidungku. Ia berdiri sebentar di lorong, melihatku, mungkin merasa iba melihatku yang kalah oleh pendingin ruang, mata sembab dan berair akibat flu. Klara duduk di sampingku. Mengeluarkan sebungkus masker. Mengenakannya dan mulai tidur seakan menyiapkan diri untuk menemaniku, menghangatkanku.

Aku tak pernah bilang pada Klara bahwa aku sangat bersyukur tidak mengajaknya bicara lebih dulu. Gengsi. Klara pun mungkin begitu. Kami hanya berkomunikasi dalam hening. “Kau tahu, keheningan seringkali lebih menyampaikan banyak hal.” Ujarku kemudian, mengingat pembahasan kelas kuliah seminar sore sebelumnya membahas tentang Dasein yang berdiskursus dengan cara schweigen. Klara manggut-manggut.

Pada pagi berjalanan licin di akhir bulan, kami mulai bicara. Kami menyaksikan kecelakaan dari balik jendela bis. Sesaat sebelum Klara turun di dekat kampusnya, seorang pengendara menuntun sepeda motornya melintasi pembatas jalan tinggi bertanaman hias demi menghindari razia oleh Polantas. Ia dengan gesit menurunkan sepeda motor dari atas pembatas jalan, menumpanginya dalam hitungan detik, mengendarainya di busway. Sanggup mengelak dari bis Transjakarta yang membunyikan klakson panjang, ia jatuh tertimpa sepeda motornya sendiri dan tak sanggup mengelak dari hantaman sedan yang melaju kencang di jalur kiri. Aku dan Klara menyaksikannya tersungkur di jalan basah akibat hujan semalaman. Semua terjadi begitu cepat dan tertata. Seperti ada tangan besar tak terlihat yang dengan lincah menata segala gerak serta maut. Pengendara motor itu tak bergerak lagi. Bahkan ketika tubuhnya dibopong ramai-ramai ke tepian.

Aku melirik Klara di samping kiri. Ia menatapku, seolah menanti responku atas peristiwa itu. Aku mengembuskan napas yang lama tertahan. Ia meringis. Padaku. Tadinya kukira bukan. Tapi tak ada siapapun di kursi itu selain aku. Aku menggelengkan kepala sambil menarik napas panjang. “Ngeri.” Akhirnya. Aku mendengar suara Klara bergema di dalam kepalaku. Jenis suara yang selama ini kuduga-duga macamnya; kukira-kira saja dari perawakan badan sekitar seratus enam puluh lima sentimeter dengan wajah oval, lesung pipi, dan rambut silky kuncir kuda. Suara itu lebih tegas dan berat daripada yang kupikirkan selama berminggu-minggu. “Iya.” Penumpang yang sudah berdiri di lorong berisik sekali. Namun aku tak dapat dengar komentar mereka karena telingaku sepenuhnya dikepung suara Klara. “Helmnya lepas.” Kataku. Padahal Klara juga melihatnya. Ia mengangguk. Bibir naik separuh. Ada kekhawatiran di lesung pipinya. Ia bangun dari duduk. Aku melepasnya pergi. Sungguh tak sanggup menunggu Selasa pagi.

Sejak itu, Klara dan aku berbincang banyak. Ia membahas beberapa buku yang pernah kubaca. Ingatannya tentang beberapa yang baru kubaca membuat kembang api meledak di kedua pipiku—ketika ia bilang dengan hati-hati. “Aku tidak mengintip, lho. Siapapun yang duduk di sebelahmu pasti bisa baca.” “Aku tahu. Tapi kau kan yang memilih duduk di sini.” Ia tersipu. “Sesama mahasiswa.” Dan pada masanya, aku akhirnya dapat menuntaskan rasa penasaranku, “Buku babonmu itu, kenapa tidak dimasukkan saja ke dalam tas?” Sebab kulihat tasnya tak penuh-penuh amat. Kutimbang, buku itu sepertinya muat dalam tas.  “Supaya kelihatan terpelajar.” Aku mencibir Klara hingga puas karena jawaban itu.

Usiaku dan Klara terpaut cukup jauh. Aku dua puluh empat, ia di akhir dua puluh satu. Tanpa diminta, aku menjelaskan padanya tentang kemalasanku kembali ke kampus setelah cuti satu semester. Dua semester. Tiga…. “Kamu bodoh.” Aku terhenyak. “Padahal kuliahmu asik.” Aku mengiyakan saja. Iya, kuliah filsafat memang fancy. Iya pula, mungkin aku memang bodoh.

Beberapa pertemuan setelah membicarakan hal-hal di permukaan, aku sering bercerita padanya tentang situasi di kampus. Ia pun begitu. Tentang dosen. Beberapa teman. Beberapa laki-laki. Beberapa laki-laki tampan. Laki-laki tampan beruban di pascasarjana—dalam cerita Klara, “Ia rajin ke Gereja.” Laki-laki tampan urakan berkulit coklat tua—dalam ceritaku, “Ia membiarkan tumbuh jenggot dan kumisnya. Juga mencepol rambutnya yang keriting mengembang.” Klara ber-ih panjang. Tapi mungkin kemudian ia ingat gerombolan uban di kepala calon kekasihnya, maka ia segera diam. “Ia bahkan lebih tua darimu.” “Tidak masalah, kan?” “Iya, karena sampai sekarang dari obrolan-obrolan kami tidak terjadi apa-apa” “Uh, apalagi aku. Bahkan aku sengaja tak mau tahu namanya.” Kubilang pada Klara, kekaguman jenis apapun akan luntur setelah manusia mendapatkan informasi terlalu mendalam. Kupikir, rasa penasaran itu justru bumbu utama. Semakin banyak dapat informasi, pengalaman mencecap rasa itu tidak berkesan lagi. Klara tak selalu sepakat padaku—meski masih mendorongku untuk bercerita tentang laki-laki yang beberapa tahun lebih muda usianya dariku itu. “Ia sama mudanya denganmu.” Kataku.

Obrolan-obrolan aku dan Klara menyentuh segala hal seperti beliung. Ketika aku bercerita tentang tema penelitian redaksi teks, aku baru tahu bahwa ayah Klara ada di penjara. “Kau tahu siapa yang sebetulnya membaptis Yesus di sungai Yordan?” “Yohanes Pembaptis.” “Dalam Injil Lukas, Yohanes sudah dipenjara ketika Yesus dibaptis.” “Tapi ia melihat Roh Kudus turun pada Yesus.” “Itu di teks yang lain.” Klara manggut-manggut. “Terima kasih, ya.” “Apa?” “Bisa jadi bahan obrolanku dengan Wahyu.” Ia menyebut nama laki-laki beruban itu. Aku tertawa saja waktu itu. “Coba kita lihat. Kalau kecenderungan tafsirannya sangat harfiah dan tekstual, itu menandakan dia tak peka. Berarti kamu memang harus bilang cinta duluan.” Kerut di kening Klara. “Tak ada hubungannya tauk!” Aku menguap. Sejak sering berbincang, kami berdua tak pernah tidur lagi di bis. “Aku tidur sebentar, ya.” Matahari naik pelan-pelan di horison. Klara mengangguk. Aku hampir lelap ketika Klara bicara. “Omong-omong soal Roh Kudus, waktu SD, aku pernah diminta menggambarnya oleh seorang frater ketika ret-ret.” Klara tahu aku mendengarkannya meski kedua mata terpejam. “Teman-teman menggambar merpati dan api dan kilatan cahaya. Aku menggambar tiang jemuran.” Aku melek dan langsung memelototinya. Hampir tertawa tapi tak jadi. Raut wajah Klara datar dan dingin. Aku bekerja keras menimbang apa ia akan tersinggung kalau aku tertawa? “Sesaat sebelum dipenjara, ayahku bilang bahwa Roh Kudus adalah tiupan angin keras yang sanggup memenuhi seluruh rumah. Pasti bisa mengeringkan cucian ibu walau segunung.” Aku terkagum-kagum pada sosok separuh asing di hadapanku. Aku berpikir, mungkin suatu hari, ketika Klara tak sedang sentimentil begitu, aku akan bertanya lebih banyak tentang ayahnya. Mungkin pula ada waktu ketika aku dan ia bisa datang mengunjunginya dalam penjara.

Satu hari di April yang basah, aku memberanikan diri mengajak Klara pergi. “Ke toko buku saja.” Kukira yang hendak ia perlihatkan adalah daftar beberapa buku yang ia inginkan, tapi yang kutemukan malah daftar bolpoin gel, stabilo, tipe-x, post-it, pensil mekanik, pensil serut HB, B2, B3, B4, dan seterusnya. “Aku memang tak pernah datang ke toko buku untuk membeli buku.” Ia mengangkat bahu. Kami berjanji untuk pergi hari Minggu sore. Namun aku mendapat telepon dari Klara menjelang pukul sepuluh malam di hari Sabtu. Waktu aku menemuinya di teras rumahnya—setelah bermacet-macet naik angkot sepanjang tiga kilometer saja—aku menemukan lebam besar warna buah manggis dan sedikit kulit dadas dan darah kering di sudut kelopak matanya. “Ini kecelakaan.” Aku agak kesal Klara tak memberitahuku tentang pertemuan dengan Wahyu malam Minggu itu. “Bagaimana ceritanya?” Ia menambahkan prolog sepanjang dan selihai ular sebelum akhirnya sampai di inti cerita. Aku agak terkejut mendengar keberaniannya bertindak. Kalau aku adalah Klara, mungkin aku sibuk menimbang apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan pembelaan seorang pengacara. Kalau Klara adalah aku, tentu ia takkan mendapat luka lebam.

“Aku tidak menyukainya.” Sesal Klara. “Sudah kubilang. Kau harus menciptakan jarak dalam mengagumi seseorang, membiarkannya tetap jadi misteri.” “Seperti Tuhan.” Kami berbincang lagi soal laki-laki dan Tuhan, meski tak banyak-banyak. Padahal kuyakin sekitar mata Klara masih berdenyut pedih. Malam itu adalah kali pertama percakapan kami tidak dibatasi laju bis dan jam kuliah pertama pukul setengah delapan pagi.

Di ujung malam, ketika aku pamit pulang dan memeluk Klara serta berpesan supaya ia menjaga diri, ia mengecup bibirku lama-lama. Pipiku. Baiklah, mungkin bibir. Agak ke pipi. Bibir di bagian ujung. Klara memegangi pipiku selama ciuman itu, seolah tak membiarkan aku pergi, meski sebetulnya kepalaku rasanya hendak lepas dan menggelinding di jalan aspal. Tatapan mata Klara padaku setelahnya terasa seperti ia telah membayar lunas segala sesuatu.

Sebelumnya mungkin aku keliru. Setelah mendapat ciuman di luar persetujuan, aku tidak sibuk mengingat apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan pembelaan seorang pengacara. Klara tak serta merta jadi seorang bajingan. Aku tak menampar seperti yang dilakukan Klara sehingga Wahyu kemudian meledak. Aku malah memikirkan segala teori tentang menjaga jarak—yang runtuh seketika. Aku mendapatkan fakta betapa nikmat tenggelam dalam misteri setelah mendapatkan segala tentangnya; tentang perempuan yang pertama-tama kutemui dalam hening di bis.

Dari sentuhan bibir Klara malam itu, diam-diam aku tak bisa menghapus bayangan laki-laki tampan berkulit coklat bak nelayan yang melaut belasan siang, serta bagaimana ia mengisap-embuskan asap rokoknya. (*)

Cawang, 13-14 April 2018

[1] Aura Asmaradana (Twitter: @aurasmaradana) sedang berusaha menyelesaikan perkuliahan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Gemar menulis cerita pendek, puisi, dan esai. Karyanya yang telah dibukukan adalah Solo Eksibisi (kumpulan cerita, 2015) dan Solilokui (novel, 2018).

Continue Reading

Classic Prose

Trending