Connect with us

Puisi

Puisi Puisi Faris Al Faisal

mm

Published

on

Ritus Pengantin 

di matamu. Embun puisi mengumpul bagai titik-titik

pointillisme memberikan gradasi warna pada pipimu

yang basah. Pekat kabut yang tercipta di malam

rembulan disungut awan sirna diserbu wangi melati

yang bertaburan di mahkotamu. Di depan rumahmu

layur yang dirajut dalam ayaman janur berbentuk

mayang mengucap selamat datang pada setiap tamu

undangan. Dan rasa syukur mengalir dari sungai

doa yang menyeberang bantaran. Kucium gerai

rambutmu yang panjang dan hitam dibasahi

keringat kasih. Seperti puja yang terucap pada

pencipta sebaik-baik wujud. Dan kau menjadi

kelopak yang merekah dihinggapi gemuang

kumbang. Kuseka air mata yang menguras

pada wajah langit yang biru. Merangkak

membawa mahar untukmu. Salamah

 

Indramayu, 2018    

 

Ritus Kelahiran    

tangismu. Memberi senyum pada wajah yang cemas

menunggu dengan doa yang tiada henti. Tapi kau terus

menangis hingga di mulutmu menyatu dengan puting

yang memberi tetes-tetes kasih. Seperti guci menuang

air pada cangkir yang belum terisi. Kini di matamu

langit yang biru memberi warna pada cerah wajah

yang masih begitu polos. Sementara waktu tertatih

menunggu hari tali pusarmu lepas. Merambah jamuan

sekeliling kampung bagai sebuah arus sungai

yang memberi catatan sajak-sajak celoteh

bagi nama yang masih asing. Zamzani

Indramayu, 2018

 

Ritus Kematian

di keranda. Tubuhmu digotong menuju taman

bunga kamboja. Bau tanah tercium seperti dekat

sekali dengan lubang hidung. Seperti tadi pagi

jenazahmu dibasuh, dikafankan dan disalatkan

pada musala. Gerbang langit berderak terbuka

menunggu ruhmu diangkat. Langit yang biru

seketika menitikkan gerimis tangis. Bunga-bunga

merekah di atas gundukan tanah. Menahan hatimu

yang gemetar berjumpa malaikat kubur. Dan kau

menghitung hari-hari berapa lama terbaring

dalam tidur panjangmu. Sebaris doa yang terucap

mengenyahkan mimpi buruk. Kau tersenyum

memeluk indahnya ilustrasi yang tergambar

di kepala. Tentang negeri abadi yang kau puja

akan singgah dan menetap selama. Di sana

Indramayu, 2018

 

Ritus Hujan 

gerimis tangis pada mata langit adalah hujan

yang ditunggu. Angin yang bersuit berirama

membawa pesan. Tentang kemarau yang lelah

menahan haus. Dalam kering kerontang daun

beterbangan. Dan kawanan burung yang migrasi

menjadi penanda ritus ini. Saat Orang-orang mulai

mengolah tanah. Menyebar benih pada setiap

lahan dalam rahim tanah. Musim membawa

air yang mengalir seperti mimpi-mimpi orang

pesisir yang terus mendesir. Pada setiap bau

tanah dan lumpur adalah cinta. Ditabalkan

segala kasih dalam tanah dan air. Seperti

kesetiaan pelangi mewarnai biru langit

hatimu. Dan hujan membungkus kisahku

Indramayu, 2018

 

Ritus Sungai 

mengantarkanmu mencium riak sungai

papan geladak disusun serupa jalan

lelaki-lelaki pesisir mendesir

tangan kekar mencengkeram akar

tujuh bunga dikalungkan pada haluan

beras dan kunyit dipercikkan sampai buritan

asap kemenyan menebar segala harapan

ikan-ikan akan meloncat ke badan perahu

kepada siapa doa dipanjatkan

agar hidup terjaga dari kesengsaraan

nun dikejauhan bunyi gitar dan suling

mengiringi tembang pesisiran

melepas pelaut berlayar

memeluk mesra samudera

Indramayu, 2018    

 

Ritus Laut

dengan sebuah upacara adat

orang-orang pesisir memberi makan

pada ikan-ikan yang telah memberi kehidupan

 

sebab moyang kami mengajarkan

tentang hidup dengan saling berkasih

seperti nuh yang memberi cinta pada manusia

 

Indramayu, 2018

_____________

*) Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), dan Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018) sedangkan karya non fiksinya yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).

Puisi, cerma, cernak, cerpen dan resensinya tersiar berbagai media cetak dan online seperti Kompas, Tempo, Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Radar Cirebon, Radar Surabaya, Radar Sulbar, Radar Banyuwangi, Media Jatim, Merapi, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Bali Post, Bangka Pos, Magelang Ekspres, Malang Post, Solopos, Suara NTB, Joglosemar, Tribun Jabar, Tribun Bali, Bhirawa, Koran Pantura, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Fajar Makasar, Serambi Indonesia, Majalah Simalaba, Majalah Hadila, Majalah Suara Muhammadiyah, Tabloid Nova, IDN Times, Sportourism.id, Puan.co, Nyontong.Com, takanta.id, Jurnal Asia, dan Utusan Borneo Malaysia.

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Tak ada Vodka di Jakarta

mm

Published

on

“Tak ada Vodka di Jakarta”

 

Dalam perjamuan siang

Memakan domba

Sambil memamah luka

 

Aku memesan vodka

Untuk melarutkan duka

Menenggelamkannya diam-diam

Ke dasar jiwa

 

Hidup yang kecut

Waktu yang getir

Dengan itu kita kepayang

Dalam perjamuan siang itu

 

Waktu segera senja

Aku memesan lagi vodka

Tak kusangka aku tenggelam

Di lautan sajak yang malam

 

Pernahkah laut menjadi malam?

Dan sajak sajak mabuk kepayang?

Pada siapa ia memesan luka

Pada siapa ia bercerita

Tentang dukanya pada senja

Tentang kecewanya pada malam

 

Lautan tak punya kata-kata

Meski ia terbuat dari kata-kata

Lautan tak punya cinta

Meski ia dibuat dari asmara

 

Sajakku sajak kepayang

Dibuat dari vodka dan derita

Yang bergumul di awal malam

Lalu telanjang di kala subuh

Sendirian dan kedinginan

 

Aku memesan kopi

Untuk jamuan malamku

Tapi tak kubuat sajakku dengan kopi

 

Aku tak mau menulis sajak lagi

Aku ingin membuat laut

Aku ingin membuat malam

Dengan vodka dan duka

 

“Sudah malam, tidur.” Katamu

“Aku lelah berusaha tidur.” Balasku

 

Aku ingin memesan vodka

“tak ada vodka di Jakarta!”

__

“Sajak Cinta”

 

Telah kutulis sajak cinta

Tapi sajakku tenggelam

Di dasar kepahitan

 

Orang menyelam mengambilnya

Sebagai sublim

Tapi mereka tak membacanya

 

Maka aku ingin menulis sajak lagi

Sebagai dendam jiwa

Agar aku tak gila sendiri

 

Oh manisku

Sejak kapan sajak sajak itu

Berganti rupa jadi candu

Di mana orang-orang

Berpesta dengannya

Sementara kita

Tenggelam dalam kepahitan

__

*) Sabiq Carebesth: Penulis lepas, atau semacamnya. 

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Firza Yasmina

mm

Published

on

Perjalanan Pulang

 

Dalam rangkaian singkat waktu, masa berlalu cepat,

Jam jam dalam perjalanan pulang

Penat mengarung; aku bertahan.

 

Berdiri dempet dalam bis; waktu melambat begitu lambat

Orang berbondong mendahului satu sama lain

Bergegas beringas, batinku terasa guncang

 

Pulo Gadunggg, Cibuburrr, Kotaaa

Entah suara panggilan untuk siapa?

Seringkali aku hanya terdiam dalam barisan para penumpang,

Nanti waktu membawaku juga pulang,

Lalu sekejap dunia menari berdendang

dalam gemerlap lampu lampu remang.

 

Perjalanan pulangku terasa seperti waktu tak bergerak

Sebuah tindakan serupa, namun selalu saja dengan tempo yang tak berirama,

Muka asing yang lelah membeku dengan banyak koma,

Melukis kotaku sekaan ia sendiri ingin pulang.

 

Kamu tahu ada sekitar 135 langkah kecil

Kita telusuri di jembatan transjakarta,

Ada sekitar 49 anak tangga yang kita panjat untuk naik kereta cepat

15 garis putih dan hitam sepanjang jalan sudirman.

 

Tapi sekejap mata langit merah muda itu menjelma menjadi kehitaman,

merindu rembulan yang akhirnya kembali ke pemukiman.

Perjalanan ku pulang rasanya mudah dan sulit,

seperti menuangkan nya dalam barisan tulisan

yang sekarang kau tengah membacanya

dengan umpama-umpama yang terbata.

_

Zayasmina, 19/09/19

 

Patahan Hati

Maafkan saya yang setengah hati

Menanggapi dialog antara kita yang kian basi,

Tapi saya bisa apa,

Biar aku kembali terbenam

Dalam cinta yang fiksi;

……………………………………

Zayasmina, 09/23/2019

*) Firza Yasmina, terlahir di Ibu Kota Jakarta tepat 23 tahun yang lalu. Duta Bahasa DKI Jakarta 2017. Tinggal di Utan Kayu.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Ozi Marzuki

mm

Published

on

Kotamu Ingin Bunuh Diri

 

Ular naga panjang –Kata nyanyian kita waktu kecil

Menuju ke kotamu

Tapi tidak dengan kotaku

Mengangkut pikiran yang ingin pulang

Tapi raga memutuskan untuk tetap tinggal

Ada apa dengan kotaku dan kotamu?

keduanya penuh dengan persetujuan yang tidak disetujui

 

Kotaku tidak habis pikir pada dirinya

Terlalu banyak kesamaan dalam rupanya

Kata kotaku, kotamu juga demikian

Dia punya noda yang terlalu banyak

Hingga kotamu dianggap tidak suci

Meski sudah mencoba wudhu berkali-kali

 

Kabar terbaru; kotamu ingin bunuh diri

Tapi kotaku bilang lebih baik mengasingkan diri

Karena sendiri untuk sementara layak dicoba

Dibanding sendiri untuk selamanya

 

Satu kesempatan kota kita berbincang

Tentang Ibu yang dalam waktu dekat akan hilang

Memang selama ini Ibu merepotkan

Tapi pelukannya yang menghangatkan juga dirindukan

 

Ayah bilang Ibu pergi karena sayang

Tapi mana ada sayang tanpa kasih

Keduanya saling membutuhkan

Seperti kotamu butuh kotaku.

 

Tiga Pagi

 

Dari dengkur yang tersungkur di telinga

Kau telah berdua menindih aku yang ke-tiga

Kesendirianmu menemukan kesendirian lain;

Bukan kesendirianku

 

Bukan maksud ingin punya kesunyianmu

Tapi aku benci

Sunyimu berisik bukan dengan sunyiku.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending