Connect with us

Prose & Poetry

Puisi-Puisi Dedy Yudha Christian

mm

Published

on

Pintu

 

Gigil pagi masih memeluk sendi

Tetapi tangan penuh mimpi

Telah tersemat di antara jemari

Selepas firman-firman ku telan dari kitab suci

 

Malaikat kecil pun masih tertidur pulas

Terbungkus kain agar tetap hangat

Sambil sesekali menggeliat

Sebab kecup rindu telah mendarat

 

Di depan pintu mataku terpana

Kepada cahaya yang melulu gelisah

Terangi langkah tinggalkan cerita-cerita lama

Sebelum waktu memagut sisa usia

 

(2016)

 

 

Di Beranda Rumah

 

Di beranda sebuah rumah

Aku menanti tergesa

Sampai habis cuitan rencana

Hanya sendiri saja

 

Sesekali kubaca mantra

Dari lot-lot batu merah delima

Di sana tergambar paras tak sempurna

Aku: tetap sendiri saja

 

(2016)

 

 

 

Sumpah Serapah

 

Aku sebut kau dengan menyumpah serapah

Saat aku mulai melepas genggam tangan mereka

Pasrahkan angin membawa kantung-kantung rahasia

Mengisi peluh yang tak terencana

Karena susah payah memilih pada akhirnya

Mencerai satu karena beda

Takut jika dunia tak sepadan pinta

Rasanya Ingin kuucap kata-kata kotor

Tapi ini bukan meja kantor

Yang berisi otak dan kepala gelisah

Menjilat pemimpin empunya kuasa

Telan ludah yang telah di tadah

Dari tangan pemuja-pemuja dunia

 

Aku sebut kau dengan menyumpah serapah

Sebab hanya kau-lah yang punya

Satu-satunya

 

(2016)

 

Memoar Pintu Kamar

 

Hanya kamar

Selalu dengar berbaris-baris kata keluar

Dari bibir yang tersulam benang ingatan

Bersama sedu pun semakin sedan

 

Semula lutut bersimpuh pada-Nya

Hingga kening turut menyentuh tanah

Tak lantas sumpah berhenti hina

Karena perih mengiris kelopak mata

 

Jika ini hendak-Nya

Biar ku gambar memoar-memoar sesal

Tuntaskan jalan kala begitu terjal

Yang tak memudar dari balik pintu kamar

 

 

(2016)

 

Seribu Tahun Lagi

 

Bukan salah harap di meja

Semua hanya kumpulan rencana

Disusun begitu berharga

Agar hari-hari tak mesti bersusah payah

 

Cita-cita yang tak kunjung terbeli

Perut-perut yang tak juga diumpani

Kaki-kaki yang lupa berlari

Sampai fana pun akhirnya dipilih

 

Jika memang demikian, di manakah letak kerja tangan Tuhan

Yang bisa saja bosan dengan keluhan-keluhan

Hanya sekadar mencari kata mapan

Sebab hidup semakin digerus zaman

 

Saat kisah dongeng di anggap menjadi nyata

Penguasa berubah bak ratu dan raja

Tak peduli carut marut pinta sesama

Hanya tahu tawa mencekik batang kepala

 

Teriak pengais duka makin menjadi

Air bercampur mimpi tumpah seiring petang pergi

Mencari sebab alasan

Untuk hidup seribu tahun lagi

 

(2016)

 

Dedy Yudha Christian. Lahir di Depok 4 Desember 1988. Saat ini bekerja di salah satu televisi swasta di Jakarta  sekaligus melanjutkan pendidikan di Universitas Bina Nusantara. Beberapa coretan, catatan serta puisinya dapat ditemui di akudancatatanku.tumblr.com. Twitter : @dedych00

Continue Reading

Puisi

Puisi Musim Hujan

mm

Published

on

Nyanyian Hujan

Kita yang membakar api
Kau yang memilih tersedu

Jika tidak karena lukanya, kita telah sirna
Jika tidak karena ratapmu, kita telah menua;
Dan sia-sia

Nyanyikan lagi lagu jiwamu
Aku telah terkutuk mendenger deritamu
Cinta kita yang semi tanpa musim
Tumbuh dari akar kengerian
Jika tidak karena lukanya, kita telah sirna
Jika tidak karena ratapmu, kita telah menua;
Dan sia-sia

Betapa fana cinta betapa lara asmara
Betapa abadi rasa betapa dalam tangis
Kita yang terbakar dan habis
Jika tidak karena lukanya, kita telah sirna

*

Jika saja kau ingat
Betapa lembut tatapmu dulu
Betapa gairahku pada sekujur jiwamu
Seakan seluruh bumi menjadi musik
Kita lagut dalam tari yang mabuk
Betapa tak perdulinya
Jiwa kita alangkah bebasnya
Tidak gerak dari kerling matamu
Adalah madah dan sihir bagi jiwaku
Hidupku karena kerling matamu
Sungging senyummu nyawaku
Walau telah pasti kita kan sama pergi
Ke kubur tergelap nun abadi

Kenakan gaunmu warna merah
Tunggu aku di puncak kesunyian
Aku datang dengan selendangmu
Mengantarkan nasibku pada kengerianmu
Kita sama pergi kita sama abadi
Biarkan musik mengalun, kita terus saja
Menari-narikan tarian jiwa
Nyalakan api dalam matamu
Biar kita terbakar; dan puisi menjelma mantera
Dari dalam jiwa paling diliputi cinta.

Sayangku, siapa itu mengintip dari celah langit
Seperti maut menyungging; dan kita terus menari..

O, apa yang lebih ngeri dari matamu yang berhenti
mengerling?
Dan jiwaku ingin mati dalam kerling cintamu, pada
matamu..

Jakarta, 7 April 2016

Yang Hilang Dalam Hujan

Rambutmu cahaya petang
Kakimu tarian abadi
Kerling matamu ranjang sukmaku
Aku luruh pada sejengkal tulang dilehermu

Keindahan sepanjang kemabukan
Pada bibirmu aku menuju kebebasan
Kita berpagut tiada henti
Seolah sebantar lagi kita pergi…

*

Hentakkan lagi dan tertawalah
Lepas itu kita ke laut
Menacari kebebasan biar pasti karam
Tapi telah pasti kita pemberani
Mengayuh sampan walau rapuh
Ke tengah ke intinya penghidupan
Tiada sawan menali
Kita memang memilih pergi…

*

Jika saja kau ingat
Bagaimana aku luput
Ketika rambutmu tergerai
Dan matamu melesat ke dalam jiwaku
Kuserahkan seluruh
Kau menali—kita telah luruh.

Jakarta, 23 Maret 2016

___________________________

*) Sabiq Carebesth: Lahir pada 10 Agustus 1985. Pendiri Galeri Buku Jakarta (GBJ). Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012), “Seperti Para Penyair” (2017).

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Georg Trakl

mm

Published

on

Musim Gugur Yang Cerah

Begitu akhir tahun; penuh megah.

Bertanggar kencana dan buahan ditaman

Sekitar, ya aneh, membisu rimba.

Yang bagi orang sepi menjadi taman.

Lalu petani berkata: nah, sukur.

Kau bermain dengan senja Panjang dan pelan

Masih menghibur dibunyi terakhir

Burung-burung di tengah perjalanan.

 

Inilah saat cinta yang mungil

Berperahu melayari sungi biru

Indahnya gambaran silih berganti

Semua ditelah istirah membisu.

 

*) Georg Trakl (3 February 1887 – 3 November 1914) Penyair Austria.  Salah satu penyair liris terpenting berbahasa Jerman di abad 21. Ia tak banyak menulis karena meninggal. Overdosis kokain menjadi penyebabnya. | Editorial Team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Rainer Maria Rilke

mm

Published

on

Hari Musim Gugur

Tuhan: sampai waktu. Musim panas begitu megah.

Lindungkan bayanganmu pada jarum hari

Dan atas padang anginmu lepaslah.

 

Titahkan buahan penghabisan biar matang:

Beri padanya dua hari dari selatan lagi

Desakkan mereka kemurnian dan baru jadi

Gulang penghabisan dalam anggur yang garang.

 

Yang kini tidak berumah, tidak kan menegak tiang.

Yang kini sendiri, akan lama tinggal sendiri.

Kan berjaga, membaca, menyurat Panjang sekali

Dan akan pulang kembali melewati gang

Berjalan gelisah, jika dedaunan mengalun pergi.

 

Musim Gugur

Dedaunan berguguran bagai dari kejauhan,

Seakan di langit berlajuan taman-taman nun jauh;

Gerak-geriknya menampikkan tak rela jatuh.

 

Dan dalam gulingan malam dunia berat—jatuh

Lepas dari galau gemintang masuk kesunyian.

 

Kita semua jatuh. Ini tangan bergulingan

Dan padang Akumu itu: tak satu pun luput!

Betapa pun, ada orang yang sambut

Maha lembut ini jatuh di lengan kasihan.

 

Lagu Asmara

Betapa beta  akan tahan jiwaku, supaya

Jangan meresah dikau? Betapa nanti ia

Kuntandai lintas dirimu ke benda lain?

Ah, aku ingin, semoga dapat ia kupisah

Ke dekat suatu sungai di tengah kegelapan

Disuatu tempat, sepi dan asing, nan tidaklah

Lanjut berdesing, bila kalbumu berdesingan.

Tapi semua yang menyentuh kita, kau dan aku,

Bagai penggesek menyatukan; kau dan aku.

 

Menarik bunyi tunggal dari sepasang tali

Pada bunyian mana kita ini terpasang

Dan ditangan pemain mana kita terpegang?

Wahai lagu berseri.

 

Dari buku ketika

Kau hari nanti, nyala pagi berkilau

Yang mencerah ranah keabadian

Kau kokok ayam disubuh akhir zaman

Embun, misa pagi dan perawan

Orang asing, sang ibu dan maut.

 

Kaulah sosok yang berubah-ubah

Yang menjulang dari nasib, selalu sepi

Yang tinggal tak dipuji dan tak diwelasi

Dan belum dipetakan bagai rimbaraya

 

 

Kau hakikat benda yang dalam nian

Yang menyimpan kata-kata wujudnya

Dan bagi yang lain selalu lain menyata;

Dipantai bagai kapal, di kapal; daratan.

 

*) Rainer Maria Rilke (1875-1926): ia kelahiran Praha, Ceko.Dianggap penyair bahasa Jerman terbesar dari abad 20. Karyanya yang terkenal antara lain Sonnets to Orpheus, Duino Elegies, Letters to a Young Poet, dan The Notebooks of Malte Laurids Brigge. | Editorial Team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Prose

Trending