Connect with us

Prose & Poetry

Puisi-Puisi Dedy Tri Riyadi

mm

Published

on

Di Kafe

 

Ia menatap poster Mandela, dan membaca –

Je ne perds jamais. Soit je gagne, soit j’apprends

Tapi dengung itu menggoda,

di akhir lagu – seperti mencari kata “amin.”

 

Berpaling menekuri menu, ia menemu:

Harga belum termasuk –10 % tax & 3% service charge.

Padahal musik sudah berhenti.

Dan seharusnya, ia bisa lebih tahan dari cemas menanti.

 

Seorang pelayan menuang air putih, membawakan serbet

dan bicara seperti bocah menekan-nekankan jari pada hp mainan.

Cepat & berulang-ulang. Mendengarnya, ia seperti digiring

 

berlari menghindari; basah kenangan dan sinar matahari

yang kian mahir menyalakan gelisah lalu memantulkannya

ke jendela kafe. Sontak, ia merasa berada dalam akuarium.

 

Ia ingin berontak dari segala dingin dan canggung.

 

2016

 

Ia Menggambar Bunga

 

Ia menggambar bunga dari cerita

dan cahaya — yang berpendar di

rumah-rumah itu, semacam percik

pertengkaran dan gerutu.

 

Ia menggambar bunga dengan

kelopak rekah, daun nyaris layu,

juga warna sesayu perjalanan

melupakan: nama mantan, lembut & liar

kecupan, tempat biliar, kafe, jembatan,

juga cuaca.

 

Ia menggambar bunga,

lalu meninggalkannya

tepat di saat kau merasa

begitu berat sekuntum kesedihan

 

mekar dan memperkarakan

sejumlah peristiwa yang baru terjadi.

 

2016

 

Anno Quaestiones

 

Kebencian ini pelan-pelan ditanam

sejak tahun sembilan puluh sembilan

(Ia tak pernah menyadari, tersesat bahkan) –

antara lirik Ágætis Byrjun dan

larik-larik Selected Poem-nya Günter Grass.

 

Ia bisa bermula dari tangis

yang menyeberang Sungai Tigris,

membahana hingga ke Perancis,

dan belum akan kalis.

 

Ia seperti pertanyaan, butuh jawaban

setiap orang – sampai kapan?

Lalu hidup tumbuh jadi kesempatan

antara mengungsi, mati, atau kesia-siaan.

 

Dan pertanyaan ini tak kunjung berhenti

dari tahun sembilan puluh sembilan

(sampai sekarang, ia masih memikirkan) –

apa yang disebut Ágætis Byrjun dan

kebahagiaan seperti dalam puisi Günter Grass.

 

2016

 

Variasi Lain dari Daydreaming

 

Ia berjalan cepat. Membuka pintu & sekat:

Rumah sakit, dapur, penatu, toko busana,

tempat parkir, kolom dan balkon semenjana.

 

Dilarung ia oleh cahaya pekat.

Yang memancar- memadat

melalui beragam interval tanpa istirahat.

 

Karenanya, ia terlihat lelah.

Terlihat seperti orang habis madat.

 

Ia berjalan cepat ke arah pantai dan

puncak gunung. Menuruni dan mendaki

beragam peristiwa yang disusun bagai anak tangga.

 

Tak gontai, juga tak santai, ia berjalan.

Menyuruk dalam sebentuk ceruk – mimpi

yang menyala dan menjilati kedua bola matanya.

 

Tiba-tiba ia merasa begitu mengantuk.

Seperti seluruh tenaganya telah dikeruk.

 

2016

 

Mendengarkan When The Levee Break

 

Kita berkemas, Sayangku, bergesa menyimpan

cemas dan mengikat harapan-harapan yang bakal

lepas. Sebab esok adalah kerinduan yang belum

tentu tuntas.

 

Aku tak tergesa, hanya bersiap segera. Mengatur

degup di dada, mengulur waktu yang hampir tiada.

Hari ini adalah kemasan paling sempurna untuk

meletakkan doa. Membuatku seolah begitu bahagia.

 

Dengarlah, Manisku, suara-suara itu. Gemuruh

tanggul yang runtuh. Kota dan kata-kata yang

diucapkan tanpa rasa sabar. Jika sampai mereka

mengepung, aku hanya tahu cintamu adalah

tempatku berlindung.

 

2016

 

 

 

 

 

Interpretasi dari Klip video House of Cards

 

Suatu saat, kau hanya bit-bit data dan suara.

Sementara ia kerlip warna, pengindera belaka.

 

Suatu masa, pohon di depan rumahmu tak beda

dengan suara burung dan runtuhnya gedung.

Sebuah tangis sekian desibel dan percakapan

murung – Inikah kutuk yang harus ditanggung?

 

Kau bisa saja berjalan, menaiki mobil, atau mengintip

hasil rekaman drone – kota masih cetakan kata,

retakan wacana, dan perekatan semacam cerita.

 

Tak ada perubahan pada semesta.

Tak ada perubahan sebagaimana mestinya.

 

Kau berharap rindu tak bisa ditampung kabel data,

lebar pita atau cakram optik. Ia lebih baik berupa —

warna penuh kedalaman gaya barok, lencir garis

renaisans, atau rangka lebar ala gotik.

 

Kau meratap; sebuah rumah harusnya tetap

sebuah rumah. Di mana ada peran tak tergantikan

dan percakapan yang memerikan: di masa lalu,

ada semacam perkumpulan rahasia. Orang-orang

bergantian membagikan sedih dan kelu.

Membahagiakan liyan – di luar kau dan aku.

 

2016

 

 

* Dedy Tri Riyadi, Penyair. Beberapa karyanya antara lain: Antologi Puisi Bersama Maulana Ahmad dan Inez Dikara berjudul Sepasang Sepatu Sendiri Dalam Hujan, 2006, Dan Segalanya Menghilang, Novel, 2009, Antologi Puisi Dewan Kesenian Jakarta, 2010, Gelembung, kumpulan puisi, 2011, Liburan Penyair, kumpulan puisi, 2014, Pengungsian Suara, sepilihan puisi, 2016.

 

 

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Menulis Puisi

mm

Published

on

1/

Kopi dari kabut nun jauh

Menghadirkan beku

Dingin di lembah

Kau terperosok jatuh

Tak ada sesiapa

Apakah kehidupan mati?

 

Kini  kau tahu artinya

Kenangan dan waktu

Masa lalu yang ditakdirkan

Masa depan yang purba

 

2/

Sebatang rokok yang menggerus waktu

Kau meminta dan mengakrabi

Agar dari apinya menyala cahaya

Menerangi sukmamu yang mengepulkan kabut

Mencari dalam kegelapannya—bayangan-bayangan

“Bisakah kita tidak saling menyakiti?” Jiwamu bergumam.

 

3/

Buku harian di akhir tahun

Putih tandus seperti lembah mati

Bagaimana kau bertahan

Dalam ketandusan?

Menanam kata-kata

Dalam tandusnya sukma

Bila darinya mekar

Kembang-kembang jiwa

Kau mengiranya sajak-sajak

 

Siapa yang menghidupkan sajak?

Kembang jiwa—padi dan anggur

Untuk para penggembala

Yang kembara memboyong

Serigala dalam kalbunya

 

Kita tidak membuat puisi untuk dibaca

Kita tidak menulis puisi untuk dengan kata-kata

Kita menyusun dunia

Menulisnya dengan mantera!

 

4/

Kita adalah domba sekalian gembala

Kita mahluk terkutuk sekalian sufi terkasih

Kita serigala yang lolongnya menandai larut

Membangunkan para penggembala dari kematian

Agar kelana mencari dunia mati

Menyiram bebatuan dengan air mata

Hanya kekasihnya yang jauh mengirim mawar

Yang tangkainya terbuat dari sayap rajawali

Mengambilnya ke tempat tinggi, entah puncak sunyi.

 

Sabiq Carebesth,

Desember, 2018  

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi Novia Rika Perwitasari

mm

Published

on

DALAM PERJALANAN KE STASIUN KERETA

Dalam perjalananku ke stasiun kereta, matahari telah luput
udara dingin menembus—kulit terbuka
kebisingan, kemacetan demi kemacetan
melenyapkan suara batin langit
wajah-wajah asing melintas
lampu jalan yang suram dan muram
di bawah grafiti sayap
menyulap siluet napasku

udara dingin menembus—kulit terbuka
kebisingan, kemacetan demi kemacetan
melenyapkan suara batin langit
wajah-wajah asing melintas
lampu jalan yang suram dan muram
di bawah grafiti sayap
menyulap siluet napasku

Dalam cermin hitam di bangunan dan mobil-mobil
aku melihat bayangan diriku yang tak sempurna;
pantulanku yang tak sempurna di jendela
mengumumkan adanya manusia di dalam diriku
mengintip jiwaku di antara orang-orang asing
dan percakapan yang hilang
dalam perjalanan ke stasiun kereta

Ini adalah perjalanan pulangku
di antara wajah-wajah yang merindukan rumah
menatah langit yang suram
pada baja kereta yang dingin
dan ruang di antara kursi-kursi kosong
dengan kelupaan yang selalu kulakukan
pada diriku dan jiwaku

Aku selalu sendirian
hingga kau datang hanya untuk menambah keheningan
keheningan yang tiba-tiba, sungguh lebih dari cukup
untuk memperbaiki setengah hatiku yang rusak
Diam-diam aku berharap, lebih lama
tiba di rumah
untuk menghirup udara tanpa batas ini

Jakarta, April 2018

TIBA DI STASIUN

Inginku memeluk bayangmu
di kaca kereta yang berganti-ganti cerita
namun kesunyian mengaburkan waktu
dan pintu terbuka di pemberhentian selanjutnya
Selamat tinggal, itu saja kataku

Akasia, 21 April 2018

JALAN HIDUP

Kita berdiri di beranda rumah, pagi-pagi sekali
Menanti pertanda arah hari dalam cahaya matahari
Perlahan merambati tubuh kita yang sekaku batang pepohonan
Kabar apa yang kita nanti, kita cari
Selain ingatan hangat yang mengepul di dekat secangkir teh hangat
Semakin mengental, semakin melekat tanpa perlu disuarakan

Setiap pagi aku menunggu matahari
Menelanjangi diri dari rasa sakit yang terkikis
Selapis demi selapis di bawah gradasi langit fajar
Sekali lagi hidup memberikan kesempatan mencicip luka
Yang terus kita obati dengan cara-cara rahasia
Goresan-goresan itu seringkali menyala di kala malam
Ketika kita fasih berbicara bahasa kalbu
Lalu, saat matahari menapak cakrawala maka hidup kita kembali menyala
Berjalan dengan kekuatan sederhana dan menjadi manusia

Apakah yang kita punya itu kepalsuan?
Bagiku, itulah kehidupan di bawah debu-debu matahari
Berlimpah cahaya, penuh bayangan dan pada saatnya pun tenggelam
Kita punya cara untuk memilih menjaga hati
yang kita cintai, dan mengikhlaskan hati kita sendiri
Terkadang cahaya akan hilang, lorong gelap menemui jalan terang
Cinta akan ditantang cobaan dan rasa benci mendadak hambar

Tak ada yang akan memilihkannya untuk kita
Jalan ini hanya kita yang mampu laluinya
Dengan kekuatan yang tersisa dalam napas

Jakarta, 29 Agustus 2018

BULAN TENGGELAM DI MATAMU

Aku melihat bulan tenggelam di matamu
Entah berapa lama, sinarnya merasuki
dan aku mulai melihat bayanganmu
berjalan melintasi lampu-lampu jalan,
pohon-pohon yang dimakan temaram,
asap-asap kendaraan dan riuh jalanan
Aku tak mengira akan mencari jejakmu
di tengah asing riuh malam

Di bawah bulan yang tenggelam di matamu
aku melihat kilas cahaya, saat kau menoleh
dari atas jembatan penyeberangan
mungkin saja, kau sama sepertiku
mencari jejak yang ditinggalkan bulan
Meski saat kita saling menemukan
kita sudah terbiasa pada cahaya bulan yang tak bersuara

Aku melihatnya di matamu, bulan yang tenggelam itu
mengisi kesunyian yang kita rahasiakan
dan aku tahu, tak ada jalan untuk membuka rahasia
kecuali pada angin jalanan ketika kita berjalan bersama

Malam ini
bulan menerangi setengah bagian bumi,
menerangi mata kita,
menerangi kesunyian yang timbul tenggelam,
dan sebelum ucapan selamat tinggal
sekali lagi aku melihat bulan tenggelam di matamu

Akasia, 17 April 2018


KOTA TANPA NAMA

Bila hati adalah kota yang kehilangan nama
tumbuh semarak dari ingatan yang berpijar
melingkar dan berpendar di sudut-sudut kota
Dan kota yang sibuk mencatat setiap perjalanan
tumbuh dari bumi, turun dari langit,
bertemu di persimpangan mata hati

Rombongan pejalan kaki menyusuri jalan berdebu;
sementara kita mencari jalan sendiri
yang terus bersisian, bersinggungan
namun tak akan pernah menjadi tujuan
tak akan mungkin, meski betapa dahsyat
hati ini berdetak di sampingmu

Kita telah menjadi bagian perjalanan,
fragmen yang berserakan di sudut kota
Di setiap keramaian dan ritme yang tak terkejar
sejenak waktu menghadirkan ruang temu
tempat kita bersandar tanpa saling bersentuhan,
tanpa saling bertatapan, tanpa saling mengungkapkan perasaan

Semua ingatan menjadi satu di dinding-dinding kota
mekar di setiap pergantian siang-malam
Bila suatu saat nanti,
aku menghentikan langkah di tengah jalan pulang
mungkin aku tengah mengingatmu
mungkin aku menyebut namamu dalam sepi
mungkin aku menahan luka ini sendiri

Akasia, 4 November 2018

*) Novia Rika Perwitasari. Berasal dari Malang, Jawa Timur. Saat ini tinggal di Tangerang Selatan. Senang menulis puisi untuk menghidupkan jiwanya. Karya puisinya masuk dalam berbagai buku antologi puisi nasional serta beberapa media puisi internasional seperti Dying Dahlia Review, The Murmur House, Haiku Masters NHK Japan, Optimum Poetry Zine. Pernah meraih juara 1 nasional lomba puisi Penerbit Oksana (2015), juara 1 nasional lomba puisi Majelis Sastra Bandung (2016), juara 1 nasional lomba puisi “Pindul Bersajak” (2017), juara 2 nasional Sayembara Pena Kita (2017), dll.

Continue Reading

Puisi

Sajak Cinta Sepanjang Malam

mm

Published

on

1/

Cinta adalah masa yang menjadi silam

Yang terbakar menjadi api unggun

Di antara orang-orang mabuk

Kepayang dan kedinginan

Menahan pilu dan menari

Hasrat yang terkburu dan pedih yang menjulang

Dewi kasmaran memadahkan kidung dan lara

Janji yang silam

Tangismu dan ratapku bangkit

Dari kedalaman

Membisu dalam nyanyian

Tersesat dalam tarian yang asing

 

2/

“Mabuklah dalam cinta—

Kenapa tak kau nyanyikan lagu jiwamu?—

Beritahu seluruh dunia

Cinta yang tak sanggup berhenti

Ia berlari memburu

Lagu-lagu telah dikidungkan

Kenapa tak kau miliki cintamu

Yang telah menjadi lagu burung-burung malam

Dinyanyikan sepanjang pesta

Saat semua perindu

Merayakan keheningan.”

 

3/

Detak jantungmu

Pejam matamu

Ratap dan pilimu

Lelahmu yang menunggu

Bersekutulah bersama

Mabuk dan menyanyilah

Cinta adalah sajak panjang

Milik penyair dan penari

Yang tak pernah menulis sajak cintanya

Yang tak pernah menyanyikan lagu kasmaran

Detak jantungmu lagu ratapmu

Telah menjadi serigala

Yang melolong ke puncak dan jauh

Ratap cinta yang memanggil…

 

4/

Cinta ini akan kehilangan bahasa

Lagu ini akan kehilangan irama

Rembulan akan menjadi api

Seorang akan tetap menari

Perindu akan tetap bernyanyi

Kata-kata pulang ke surga

 

Yang tidak mabuk tidak mengerti

Yang bukan penyair takkan mendengar

Ratap cinta yang memanggil..

 

5/

“Lagu-lagu akan berakhir

Penyair akan berhenti

Api kan padam

Waktu segera berlalu

Pesta dan sunyi kan jadi pagi

Jika jiwa tak juga berpeluk

Takkan ada kisah cinta

Takkan ada lagu dan tari

Tak ada kesunyian dan hening

Juga tidak ratap dalam duka kata

Cintalah yang melahirkan bahasa

Cinta yang membakar semua

Cinta yang menyusun sajak ini

Cinta yang membakar

Sajak cintaku sepanjang malam”

 

6/

 

Peluk cintamu sebelum

Lampu-lampu kota ini dipadamkan

Dan orang-orang menggantinya

Dengan kata-kata tak bermakna

Berhamburan di jalan-jalan

Di kafe-kafe

 

O kekasihku, tak ada sajak dikafe-kafe

Tak ada sajak di jalan-jalan

Kita semua telah terlambat

Kehilangan lagu-lagu

Ditinggalkan dan Lelah

O kekasihku

Aku mabuk—senidirian!

Sepanjang malam—dalam sajak-sajak cinta

Yang gagal kutulis untukmu.

 

Jakarta, 23 Oktober 2018

Sabiq Carebesth

 

Continue Reading

Trending