Connect with us
Chairil Anwar Chairil Anwar

Classic Poetry

Puisi-Puisi Chairil Anwar

mm

Published

on

Senja di Pelabuhan Kecil

; Buat Sri Ayati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Cintaku Jauh di Pulau
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya

Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

Sebuah Kamar

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
“Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”

Ibuku tertidur dalam tersedu,
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!

Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
d luar hitungan: Kamar begini
3 x 4, terlalu sempit buat meniup nyawa!

Sajak Putih
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…
1944

CHAIRIL ANWAR: Penyair Indonesia paling terkenal itu dilahirkan 26 Juli 1922 di Medan, dan meninggal 28 April 1949 di Jakarta karena sakit parah. Riwayat hidupnya yg singkat mewakili citra romantic seniman bohemian yang mati dalam kemiskinan, meski semenjang jenazahnya masih di CBZ (kini RS Tjipto Mangunkoesoemo) pun sudah ribuan orang menengoknya, seperti diceritakan Asjari Rahman dalam Intisari September 1971. Hari meninggalnya selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Georg Trakl

mm

Published

on

Musim Gugur Yang Cerah

Begitu akhir tahun; penuh megah.

Bertanggar kencana dan buahan ditaman

Sekitar, ya aneh, membisu rimba.

Yang bagi orang sepi menjadi taman.

Lalu petani berkata: nah, sukur.

Kau bermain dengan senja Panjang dan pelan

Masih menghibur dibunyi terakhir

Burung-burung di tengah perjalanan.

 

Inilah saat cinta yang mungil

Berperahu melayari sungi biru

Indahnya gambaran silih berganti

Semua ditelah istirah membisu.

 

*) Georg Trakl (3 February 1887 – 3 November 1914) Penyair Austria.  Salah satu penyair liris terpenting berbahasa Jerman di abad 21. Ia tak banyak menulis karena meninggal. Overdosis kokain menjadi penyebabnya. | Editorial Team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Rainer Maria Rilke

mm

Published

on

Hari Musim Gugur

Tuhan: sampai waktu. Musim panas begitu megah.

Lindungkan bayanganmu pada jarum hari

Dan atas padang anginmu lepaslah.

 

Titahkan buahan penghabisan biar matang:

Beri padanya dua hari dari selatan lagi

Desakkan mereka kemurnian dan baru jadi

Gulang penghabisan dalam anggur yang garang.

 

Yang kini tidak berumah, tidak kan menegak tiang.

Yang kini sendiri, akan lama tinggal sendiri.

Kan berjaga, membaca, menyurat Panjang sekali

Dan akan pulang kembali melewati gang

Berjalan gelisah, jika dedaunan mengalun pergi.

 

Musim Gugur

Dedaunan berguguran bagai dari kejauhan,

Seakan di langit berlajuan taman-taman nun jauh;

Gerak-geriknya menampikkan tak rela jatuh.

 

Dan dalam gulingan malam dunia berat—jatuh

Lepas dari galau gemintang masuk kesunyian.

 

Kita semua jatuh. Ini tangan bergulingan

Dan padang Akumu itu: tak satu pun luput!

Betapa pun, ada orang yang sambut

Maha lembut ini jatuh di lengan kasihan.

 

Lagu Asmara

Betapa beta  akan tahan jiwaku, supaya

Jangan meresah dikau? Betapa nanti ia

Kuntandai lintas dirimu ke benda lain?

Ah, aku ingin, semoga dapat ia kupisah

Ke dekat suatu sungai di tengah kegelapan

Disuatu tempat, sepi dan asing, nan tidaklah

Lanjut berdesing, bila kalbumu berdesingan.

Tapi semua yang menyentuh kita, kau dan aku,

Bagai penggesek menyatukan; kau dan aku.

 

Menarik bunyi tunggal dari sepasang tali

Pada bunyian mana kita ini terpasang

Dan ditangan pemain mana kita terpegang?

Wahai lagu berseri.

 

Dari buku ketika

Kau hari nanti, nyala pagi berkilau

Yang mencerah ranah keabadian

Kau kokok ayam disubuh akhir zaman

Embun, misa pagi dan perawan

Orang asing, sang ibu dan maut.

 

Kaulah sosok yang berubah-ubah

Yang menjulang dari nasib, selalu sepi

Yang tinggal tak dipuji dan tak diwelasi

Dan belum dipetakan bagai rimbaraya

 

 

Kau hakikat benda yang dalam nian

Yang menyimpan kata-kata wujudnya

Dan bagi yang lain selalu lain menyata;

Dipantai bagai kapal, di kapal; daratan.

 

*) Rainer Maria Rilke (1875-1926): ia kelahiran Praha, Ceko.Dianggap penyair bahasa Jerman terbesar dari abad 20. Karyanya yang terkenal antara lain Sonnets to Orpheus, Duino Elegies, Letters to a Young Poet, dan The Notebooks of Malte Laurids Brigge. | Editorial Team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Friedrich Nietzsche

mm

Published

on

Eco homo (lihat, manusia)

 

Ya! Aku tahu asalku dimana

Tak terpuaskan, nyala laiknya

Aku membubus menelan diri

Terang jadinya segala kupegang

Sisa kutinggal; semua arang

Memang nyala hakikat diri.

 

Mentari Silam

 

Hari hidupku!

Mentari silam.

Sepuh emas meliputi laut yang rata

Bukit batu panas bernafas; istanakah di atasnya:

Bahagia, dalam nikmat tidur petangnya?

Dalam cahaya hijau

Masih main-main

Bahagia mendaki jurang nan jingga.

 

Hari hidupku !

Senja telah dibatas

Telah hampir padam nyala matamu

Telah mulai turun rinai tangis embunmu

Telah merata di laut putih;

Merahmu mesra,

Nikmat bimbangmu yang penghabisan….

 

Dilamun Sepi

 

Gagak-gagak riuh

Berisik terbang menuju kota

Sebentar… salju turun—

Bahagia orang, yang kini masih—ada kampungnya!

 

Kini kau kelu

Menoleh, ah, sekian lamanya!

Yang lari kedunia sebelum waktunya!

 

 

Duna—gerbang

Keribuan gurun dingin dan bisu

Jang kehilangan,

Bagai kau kehilangan, tak kunjung lesu.

 

Kini kau lagut

Ternasib kelana dimusim dingin

Ya—asap, tak henti

Mencaari langit-langit lebih dingin

 

Terbanglah burung

Kumandangkan lagu ala burung gurunmu!

Sembunyikan, anakku

Dalam es dan cerita, hatimu yang luka.

 

Gagak-gagak riuh.

Berisik terbang menuju kota:

Sebentar… salju turun—

Celaka orang, yang tiada kampugnya.

 

*) Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900), selain penyar adalah seorang filsuf Jerman dan seorang ahli ilmu filologi yang meneliti teks-teks kuno, filsuf, kritikus budaya, dan juga komposer. | editorial team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Prose

Trending