Connect with us

Puisi

Puisi-puisi Aura Asmaradana

mm

Published

on

Baru Tiba

Petrichor menyulut bara di paruh siang

Palu kering Senin petang.

Beberapa jam, awan menyerah. Hujan dawai-dawai

Langit dan tanah sama-sama riang

Aku terbakar. Beruntung hanya dalam sekam

sebab merindu terang-terangan cuma buat malu.

Februari 2017

 

Balikpapan-Samarinda

Kami membelah Bukit Suharto

meninggalkan jejak

pada toilet aroma tahu Sumedang serta denting dandang soto Bandung

 

Kami menghela tiap kelokan

Berharap segera istirahkan

bibir di tepi gelas kopi ditemani tanya melengking “mama, di mana?”

 

Kami masih sepi di jok kulit

Mahakam belum tampak

Pikiran masih saja di perut bukit:

dipacul Suharto untuk para transmigran tanpa resep sambal tahu Sumedang yang otentik.

Samarinda, 19 Maret 2017

 

Telanjang Dada di Talise

Rokok tinggal puntung, semangat semontok gunung

Jalan kaki ke Talise, berpikir tentang kedirian

Rambut tinggal uban, berpikir lamat-lamat

Telanjang dada di Talise, bercermin diam-diam

Pada gerombolan pemuda begadang

Pada aroma nasi kuning sambal ikan

Pada asap tembakau dengan gula merah

 

Sebab merenung,

Puji Tuhan di relung-relung

Berkat gelisah,

kerokan menanti di rumah.

Palu, 21 Maret 2017

 

Berenang Pagi

Bapak muda yang resah

mengambang telentang

di dingin teluk Palu

 

Bapak muda berenang

kumpulan bibir merah

megap-megap tercengang

Palu, 21 Maret 2017

 

Kopitaro

Buas bahasa serta lapisan perkara melengkapi celah kursi kayu

sandaran aus

Folk wangi Gayo tubruk mengerak di lika-liku cuping telinga

sampai pagi

Bulan rebah pada lalu-lintas panggilan ibadah di udara

seasin air mata

Hari sibuk bisa jadi lembur tapi libur dengan tukar-tukar ide

tanpa jeda

Mi instan dengan nasi dan rendang buat hangat aforisme, puisi, teori

remang ketika kenyang

Tempat itu tak dimiliki siapa-siapa kecuali kepentingan diri yang utama

membakar waktu

melipat cakrawala

melarutkannya ke dalam tetesan di Vietnam drip

Tiga menit menunggunya sempurna.

Tiga menit itu masa dari senja menuju fajar.

Cileunyi, 3 Maret 2017

____________________
Aura Asmaradana
terdaftar sebagai mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta. Bergiat di kelompok sastra rantau Asap Dapur, menulis blog, dan bermain teater. Kumpulan cerita pendeknya “Solo Eksibisi” (2015).

Puisi

Puisi Faris Al Faisal

mm

Published

on

Ritus Barikan  

jika hasil bumi dan laut melimpah ruah

orang-orang pesisir pantai utara berkenduri

menggelar tumpeng dan nasi kuning

hasil kebun dan ladang tiada terbilang

berjejer di simpang jalan desa

orang-orang kampung berkerumun

tiada yang merasa lebih tinggi

menghadap ke meja panjang tanpa kaki

hiruk-pikuk riuh rendah saban cerita

bulir-bulir padi yang kuning membunting

ikan-ikan di perahu yang menggunung

petani menanam padi memanen rembulan

nelayan melempar jala menjaring matahari

butir-butir garam diremas jadi gemintang

syukur diungkapkan dengan barikan

memanjat ke pohon doa

batangnya menyentuh langit

 

Indramayu, 2018

 

Ritus Jathilan

di kampung pesisir yang ditumbuhi pohon mangga

anak-anak bermain jathilan di pekarangan

kuda-kudaan yang dianyam dari bilah bambu

kulit sapi atau kerbau hitam bertanduk

menari dengan jiwa yang tak takut mati

dipandu pawang sebagai panglima perang

pecahan beling berguling-guling

ujung-ujung paku diinjak tak berjejak

jaranne jan thil-thilan tenan, sebut mereka

diceritakan dalam permainan rakyat

sebagai mengenang kisah heroik

raden fatah dan wali sepasukan kuda

kocar-kacirkan serdadu belanda

maka kami tiada berhenti meneladani

berkuda menjaga domba-domba di ladang

dari serigala berbulu domba

 

Indramayu, 2018

 

 

Ritus Bersih Desa 

 

pagi pukul tujuh —saat embun yang menempel di dedaunan

terlerai hangat mentari— lelaki-lelaki desa

membawa cangkul, pedang panjang, dan peralatan lain

menuju ke jalan, selokan, sungai

pekuburan, masjid dan kantor kepala desa

bersih-besih desa

di halamannya tikar-tikar digelar

dengan sejumlah makanan

setelah semalam perempuan-perempuan desa terjaga

seperti dibangunkan dayang sumbi

menyalakan api dalam tungku-tungku berisi periuk nasi

memerahkan wajah langit

menyedekahkan hasil bumi yang melimpah ruah

kepada segenap orang sekampung

 

di sini kami menghayati pemberi kesuburan tanah

orang-orang menyebutnya dewi sri

 

Indramayu, 2018

 

 

Ritus Wayang 

 

di kantor kepala desa atau di rumah hajat

bunyi gamelan sayup terdengar hingga jauh

tembang kiser pesisiran mendayu-dayu

menebal dan menipis dalam orkestra klasik

bertalu-talu mencipta tetalu waktu

 

dari kulit-kulit sapi yang dikeringkan

tokoh pewayangan dibuat bayangan

sebagai pagelaran di kelir layar

sekotak kisah dilakonkan dalang

 

ada pengajaran tentang darma

cerita ramayana dan mahabharata

pitutur tuntunan dalam tontonan

 

dengan lakon-lakon kisah yang diperankan

manusia adalah wayang di tangan dalang

 

Indramayu, 2018

 

 

Ritus Ruwat 

pada jiwa-jiwa yang berlelehan ceceran dosa

rambut sukerta dipotong sebagai umpama

dari kemalangan badan

kesialan terputus

 

cerita murwa kala digelar semalam suntuk

pementasan pewayangan oleh sang dalang

batara kala sang raksasa

mencari mangsa

 

anak-anak sukerta dijaga dengan perlindungan

diruwat pada hari telah menjadi siang

dalam perhitungan hari

dan pasaran

 

sebab kasih dan sayang menguar

moyang tiada ingin membiar

bahaya datang mengular

selamat anak dan cucu

 

Indramayu, 2018

*) Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), dan Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018) sedangkan karya non fiksinya yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Faris Al Faisal

mm

Published

on

Ritus Pengantin 

di matamu. Embun puisi mengumpul bagai titik-titik

pointillisme memberikan gradasi warna pada pipimu

yang basah. Pekat kabut yang tercipta di malam

rembulan disungut awan sirna diserbu wangi melati

yang bertaburan di mahkotamu. Di depan rumahmu

layur yang dirajut dalam ayaman janur berbentuk

mayang mengucap selamat datang pada setiap tamu

undangan. Dan rasa syukur mengalir dari sungai

doa yang menyeberang bantaran. Kucium gerai

rambutmu yang panjang dan hitam dibasahi

keringat kasih. Seperti puja yang terucap pada

pencipta sebaik-baik wujud. Dan kau menjadi

kelopak yang merekah dihinggapi gemuang

kumbang. Kuseka air mata yang menguras

pada wajah langit yang biru. Merangkak

membawa mahar untukmu. Salamah

 

Indramayu, 2018    

 

Ritus Kelahiran    

tangismu. Memberi senyum pada wajah yang cemas

menunggu dengan doa yang tiada henti. Tapi kau terus

menangis hingga di mulutmu menyatu dengan puting

yang memberi tetes-tetes kasih. Seperti guci menuang

air pada cangkir yang belum terisi. Kini di matamu

langit yang biru memberi warna pada cerah wajah

yang masih begitu polos. Sementara waktu tertatih

menunggu hari tali pusarmu lepas. Merambah jamuan

sekeliling kampung bagai sebuah arus sungai

yang memberi catatan sajak-sajak celoteh

bagi nama yang masih asing. Zamzani

Indramayu, 2018

 

Ritus Kematian

di keranda. Tubuhmu digotong menuju taman

bunga kamboja. Bau tanah tercium seperti dekat

sekali dengan lubang hidung. Seperti tadi pagi

jenazahmu dibasuh, dikafankan dan disalatkan

pada musala. Gerbang langit berderak terbuka

menunggu ruhmu diangkat. Langit yang biru

seketika menitikkan gerimis tangis. Bunga-bunga

merekah di atas gundukan tanah. Menahan hatimu

yang gemetar berjumpa malaikat kubur. Dan kau

menghitung hari-hari berapa lama terbaring

dalam tidur panjangmu. Sebaris doa yang terucap

mengenyahkan mimpi buruk. Kau tersenyum

memeluk indahnya ilustrasi yang tergambar

di kepala. Tentang negeri abadi yang kau puja

akan singgah dan menetap selama. Di sana

Indramayu, 2018

 

Ritus Hujan 

gerimis tangis pada mata langit adalah hujan

yang ditunggu. Angin yang bersuit berirama

membawa pesan. Tentang kemarau yang lelah

menahan haus. Dalam kering kerontang daun

beterbangan. Dan kawanan burung yang migrasi

menjadi penanda ritus ini. Saat Orang-orang mulai

mengolah tanah. Menyebar benih pada setiap

lahan dalam rahim tanah. Musim membawa

air yang mengalir seperti mimpi-mimpi orang

pesisir yang terus mendesir. Pada setiap bau

tanah dan lumpur adalah cinta. Ditabalkan

segala kasih dalam tanah dan air. Seperti

kesetiaan pelangi mewarnai biru langit

hatimu. Dan hujan membungkus kisahku

Indramayu, 2018

 

Ritus Sungai 

mengantarkanmu mencium riak sungai

papan geladak disusun serupa jalan

lelaki-lelaki pesisir mendesir

tangan kekar mencengkeram akar

tujuh bunga dikalungkan pada haluan

beras dan kunyit dipercikkan sampai buritan

asap kemenyan menebar segala harapan

ikan-ikan akan meloncat ke badan perahu

kepada siapa doa dipanjatkan

agar hidup terjaga dari kesengsaraan

nun dikejauhan bunyi gitar dan suling

mengiringi tembang pesisiran

melepas pelaut berlayar

memeluk mesra samudera

Indramayu, 2018    

 

Ritus Laut

dengan sebuah upacara adat

orang-orang pesisir memberi makan

pada ikan-ikan yang telah memberi kehidupan

 

sebab moyang kami mengajarkan

tentang hidup dengan saling berkasih

seperti nuh yang memberi cinta pada manusia

 

Indramayu, 2018

_____________

*) Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), dan Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018) sedangkan karya non fiksinya yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).

Puisi, cerma, cernak, cerpen dan resensinya tersiar berbagai media cetak dan online seperti Kompas, Tempo, Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Radar Cirebon, Radar Surabaya, Radar Sulbar, Radar Banyuwangi, Media Jatim, Merapi, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Bali Post, Bangka Pos, Magelang Ekspres, Malang Post, Solopos, Suara NTB, Joglosemar, Tribun Jabar, Tribun Bali, Bhirawa, Koran Pantura, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Fajar Makasar, Serambi Indonesia, Majalah Simalaba, Majalah Hadila, Majalah Suara Muhammadiyah, Tabloid Nova, IDN Times, Sportourism.id, Puan.co, Nyontong.Com, takanta.id, Jurnal Asia, dan Utusan Borneo Malaysia.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Aghosh Kembara

mm

Published

on

Menolehlah Manis, Menolehlah

menolehlah manis, menolehlah

biar tampak itu wajah serupa Zulaikha

biar tak melulu cermin mendapat berkah

mata ini pula ingin merasakannya

betapa cantik itu tak ada cela

 

tahulah aku bukanlah Yusuf

tak tampan rupawan menggoda-goda

tak mampu menghasut pisau mengiris-giris jari pula

tetapi hati di dalam cangkang ini bolehlah diadu

takkan kalah dengan pujaanmu si blacan itu

 

menolehlah manis, menolehlah

pujian takkan keluar dari cermin

 

menolehlah manis, menolehlah

biar aku saja memujimu

 

menolehlah manis, menolehlah

lelah aku diamuk mimpi

Asoka, 2018

 

Berhentilah Mengeluh, Sayang

berhentilah mengeluh, sayang

hidup hanya perjalanan cerita

tak baik dibuat susah sampai berduka

bulir demi bulir itu usah cuma-cuma dibuang

 

coba lihat mereka, sayang

satu keluarga tak bisa menengok sunyi kota

tak tahu beda malam dan siang

tapi tak pernah aku lihat mereka berduka

si ibu dan ayah tabah mengurusi dua anaknya

betapapun anak susah dijinakkan pula

 

berhentilah mengeluh, sayang

kubur segala prasangka buruk di dalam ceruk

biar segala duka berguguran

biar di bibirmu itu senyum bisa bertumbuhan

biar tersumbat jalan bulir-bulir kesedihan

 

berhentilah mengeluh, sayang

dan berilah mata ini waktu

sejenak sampai di alam mimpi

 

berhentilah mengeluh, sayang

Asoka, 2018

 

Satu-satu Pasti Sampai

satu-satu pasti sampai

tak usah kau ragu-ragu meyakini

tak ada kata mendadak pulang

tak perlu ada kata tak bilang-bilang

 

tak ada beda

disayang atau tak disuka

diharap-harap atau tak berguna

bila daun jatuh apa bisa dikata?

 

kau boleh umbar berimbun tanya

berpuluh-puluh kutuk pun boleh juga

tapi tahulah kau itu tiada guna

Izrail pasti bilang kau itu gila

 

satu-satu pasti sampai

tak ada pilihan ganda

tak ada negosiasi

tak ada bincang-bincang soal puisi

 

satu-satu pasti sampai

kenanglah kelak aku sebagai puisi

Asoka, 2018

 

Lepaslah Buhulmu Untukku

 

lepaslah buhulmu untukku

tak kan pernah aku menghalaunya

soal tidur tak nyenyak atau makan tak enak

percayalah, rela aku sungguh-sungguh!

 

lepaslah buhulmu untukku

biar tidur ditumbuhi bunga-bunga

biar jaga ditumbuhi asa-asa

menjadi gila pun tak mengapa

 

lepaslah buhulmu untukku

tak kan pernah aku menghalaunya

sumpah!

Asoka, 2018

 

Di Bawah Bulan Perahu

di bawah bulan perahu

kau pernah menjadi kupu-kupu

mengepak-ngepak sayap merayuku

berputar-putar seperti lupa malu

 

saat lelah kau hinggap di bahuku

terdengar napasmu seperti dipompa

tahulah aku kau mudah hilang tenaga

maka kubiarkan matamu tidur semaumu

 

sebab bulan perahu tak bisa menyalang

jadilah malam serupa kain hitam

mengaburkan bulu-bulu kehidupan di dua sayapmu

yang mungkin sudah mulai gugur satu-satu

 

ketika bulan perahu bergeser

kau pun bangkit lagi membawa sayapmu

terbang bak peri kahyangan

lagi-lagi demi merayuku

 

tetapi di bawah bulan perahu kala itu

bibirku serupa batu

bergetar-getar menahan bulir getir

hendak menetas-netas di sudut mataku

Asoka, 2018

 

Senja di Bawah Senja Itu

Senja di bawah senja itu

tak terbuat dari jingga

Tetapi coklat tua

kumpulan dosa-dosa

 

Ia memang suka hinggap

di beranda orang diam-diam

Bukan hendak bicara soal senja

yang rentan tenggelam

musnah oleh gelap

Tetapi mengunyah bangkai saudara sendiri

tak malu-malu hingga busa di mulut buncah

tiada terkira

 

Senja di bawah senja itu

suka meratap bila tinggal sendiri

bicara tak keruan soal hidup tak keruan

misuh-misuh dan mengutuk kesunyian

Ia juga suka meramal kematiannya sendiri

yang katanya masih lama dan tak perlu dikhawatiri

 

Senja di bawah senja itu

pernah menenggak hujan berkali-kali

yang netas dari sudut matanya sendiri

Asoka, 2018

 

*) Aghosh Kembara. Lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980. Tinggal di Sumenep. Bergiat di Komunitas Labita. Puisi-puisi saya pernah dimuat di Kabar Madura, Surabaya Post, Suara Karya, Lini Fiksi. Saya bisa dihubungi di nomor 085856524605. Pos-El: aghoshkembara@gmail.com.

 

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending