Connect with us

Prose & Poetry

Puisi-Puisi Arya Adikristya

mm

Published

on

Salatiga

 

Ini kota tapi desa.

Desa tapi kota.

Kota kedesa-desaan.

Desa kekota-kotaan.

Kota rasa desa.

Desa rasa kota.

Jadi, di sini,

tidak ada yang namanya orang kota.

Tidak juga orang desa.

Ya orang kota-desa.

Ya orang desa-kota.

Ya sejuk ya sumuk.

Ya sumuk ya sejuk.

Hingar bingar siang kota ya ada.

Sunyi lewat jam 10 bengi ya ada.

Tak sepadat Jakarta atau Surabaya.

Tak sesunyi Dukuh Paruk.

Ia ada di tengah-tengah kota tetangga:

Semarang, Solo, Magelang, dan Yogyakarta.

Itulah sebabnya orang-orang kota-desa ini,

hampir setiap pekan pergi keluar kota.

Mereka cari pusat perbelanjaan

dan tempat hiburan murni rasa kota, tanpa desa.

Tapi yang cinta rasa desa,

Mereka ‘kan pergi ke tempat yang lebih sunyi,

tapi tak sunyi-sunyi amat:

Kopeng, Bandungan, Selo, Ambarawa.

Tak ada salahnya.

Tak ada benarnya.

Kota-desa ini memang tak menyajikan kemurnian.

Karena yang murni memang tidak ada.

Yang ada ya sejuk ya sumuk.

Ya sumuk ya sejuk.

Ya ramai ya sunyi.

Ya sunyi ya ramai.

 

Salatiga, 2016

 

Budaya(m)

 

sebagai penggemar nasi tumpang koyor

aku tak mau menghujat penggemar nasi ayam (broiler)

meski nasi ayam menjamur di mana-mana

mulai ayam goreng, ayam kremes, ayam kentuki,

dan ayam sambalasambalabalasambalado

sebagai penggemar nasi tumpang koyor

aku jadi bertanya-tanya tentang popularitas nasi ayam (broiler)

apa benar mereka kekinian

karena McDonaldisasi membumi demikian rupa

tsk tsk tsk, ayam goreng, ayam kremes, ayam kentuki, dan ayam sambalasambalabalasambalado

ini bukan menyoal soal Timur dan Barat

bukan juga soal asing dan lokal

mahal dan murah

populer dan kebalikannya

sehat dan penyakitan

baik dan buruk

capek aja liat makanan berkomposisi ayam!

 

Salatiga, 2016

 

Makanria

 

Senja itu, di rumah makan Manado “Nyiur Melambai”, kukatakan padamu:

“Mudah sekali mencari makanan banyak suku di Salatiga.”

Kau mengangguk setuju,

sambil melahap sate babi di genggaman tangan kananmu.

Aku melanjutkan makan nasi dengan babi tinorangsak di piringku.

 

Benar saja,

sebentar di Manado, bila ingin, kita bisa saja langsung di Makassar.

Kita pernah makan coto di sana, es palu butung, gogos,

tapi tak pernah memesan sop konro, karena harganya selangit.

Makan coto denganmu,

aku jadi teringat kapan pertama kali aku makan coto.

Semula kupikir coto adalah soto.

Rupanya berbeda. Apalagi, rasanya.

Tapi sampai sekarang,

diam-diam aku terus mengira kalau coto adalah soto khas orang Makassar.

 

Bila ingin, usai makan babi tinorangsak,

kita bisa lengang bersama ke rumah makan Toraja.

Di sana kita pernah makan bersama.

Memesan babi panggang merah,

komplit dengan sayur daun ketela rebus.

Tak pernah cukup makan sekali di sana.

 

Car, bila kamu tak takut perutmu melebar,

bolehlah kita menjajal ke rumah makan Batak.

Letaknya hanya beberapa rumah dari rumah makan Toraja.

Aku sudah pernah ke sana.

Tapi kita belum.

Percayalah, di sana,

Bang Petrus siap sedia babi masak Sangsang.

Aku tak pernah tertarik dengan arti namanya,

selain melahap sepiring atau dua atau tiga.

Pun begitu dengan sayur asin dan babi panggangnya,

komplit dengan bumbu darah babi

yang lebih mirip seperti sambel kacang.

Aku tak pernah cukup makan sekali di sana.

 

Cukuplah dengan babi.

Kata orang yang tak memakannya, itu daging haram.

Tapi perut tak mengenal haram atau halal.

Perut hanya mengenal bisa atau tidak bisa dicerna.

Maka marilah makan ke tempat kesukaan kita: warung rica waung.

Warung ini sedia daging hitam, berlumur bumbu pedas.

Kadang ada lalapannya, ada sambel dabu-dabu,

dan juga merica bubuk atau kecap manis.

Di Pattimura dan Pasar Sapi,

kita pernah tanpa bicara,

sibuk melahap daging anjing hitam ini. Ingat?

 

Atau mau makanan yang sudah populer di seantero negeri?

Nasi Padang namanya.

Nasi Padang yang enak,

setahuku ada di manapun.

Asalkan gratis.

Yang enak tapi mbayar,

setahuku ada di Jensud, depan Hotel Grand Wahid.

Kamu biasanya makan rendang dan aku gule kambing.

Lalu biasanya kita berbagi lauk.

Bila sayurmu tak habis, aku yang menandaskannya.

 

Sayang, apa kamu benar-benar tak takut kolesterol dan diabetes?

Kalau tidak,

kita bisa singgah lagi ke warung nasi tumpang koyor di Banjaran.

Di situ langganan kita.

Katamu: “Tumpang koyor paling cocok ya di sini.”

Aku sependapat dan makin cinta padamu saat itu.

Berbeda dengan Sangsang di warungnya Bang Petrus,

aku justru tertarik dengan asal-usul tumpang koyor.

Makanan ini cuma ada di Salatiga.

Tumpang sendiri berasal dari kata “tumpang”.

Artinya “menumpahkan”,

“menumpuk”, atau “menjadikan satu”.

Apanya yang dijadikan satu?

Tempe busuk yang dihancurkan,

cabe-cabean, dan beberapa rempah-rempah

yang tak kumengerti wujudnya.

Sedangkan koyor adalah otot.

Tapi bukan otot daging.

Koyor adalah otot yang menempel di tulang.

Lunak, kenyal, mudah hancur bila dikunyah.

Selain di Banjaran,

kita juga pernah makan di warung Mbah Rakinem.

Tapi katamu: “Di Mbah Rakinem lebih sedikit dan mahal pula.”

Aku setuju. Dan makin cinta padamu saat itu.

 

Pernah kutanya padamu: “Ada rumah makan apa lagi di Salatiga?”

Kau menyebut satu yang kulupakan: Rumah makan orang Palu.

Aku baru ingat.

Kita pernah sekali makan di sana.

Lalu tak pernah makan lagi.

Entah, aku jadi lupa pernah makan apa di sana.

Barangkali kamu ingat?

 

Jika kuhitung-hitung, tapi sayangnya aku malas menghitung,

Mungkin sudah ratusan kali kita makan bersama.

Menerangkan malam karena puasa dengan satu tempat makan.

Atau meredupkan siang hanya karena debat soal tempat makan.

Saat ini aku kenyang menulis, tapi lapar di perut.

Lain kali kita harus menjajal gecok di Nanggulan,

sop konro di Kridanggo,

sop brenebon di Nyiur Melambai,

sate kambing Pak Dhar, rica menthok di Pujasera,

lotek Bu Atien di depan kampus UKSW,

nasi goreng empat ribuan di Gamol,

nasi kucing subuh di Pasar Sapi,

soto bening di Jensud,

nasi ruwet di perempatan Sukowati,

warung nasi babi Bali di depan Pizza Hut,

tahu campur Pak Min di Kalitaman,

RW Patemon di Ngawen

dan mengulang lagi tempat-tempat yang tertulis sejak awal.

Meninggalkan familiaritas pada sebuah makanan.

Menelusuri ratusan rasa yang selama ini luput dari lidah.

 

Salatiga, 2016

 

 

The SL3

 

2013 kudatang ke Salatiga.

Kusenang karena tak ada mol dan gedung tinggi seperti di Surabaya.

Sejuk dan tak terlalu sibuk.

2014 tersiar kabar pembangunan mol. The SL3 namanya.

Kubaru tahu kalau persoalan mol sudah mulai sejak 2010.

2010 investor dari  Yogyakarta masuk ke Salatiga.

Didemo. Tertunda. Dan tidak jadi.

2014 investor dari Jakarta masuk ke Salatiga.

Didemo. Tertunda. Tapi jalan lagi.

2015 kulihat beberapa kali kendaraan besar

lalu lalang masuk lahan pembangunan.

Terakhir kulihat benda cagar budaya

yang ada di sana sudah roboh.

2016 kuingat satu ungkapan klasik:

“Salatiga. Silahkan mengota, asal jangan men-Jakarta.”

Kubertanya-tanya sendiri,

apakah The SL3 akan mengubah wajah Salatiga mirip Jakarta?

Oh ya, dekat kosku juga akan dibangun pusat perbelanjaan lainnya:

Pattimura Centre.

 

Salatiga, 2016

 

Arya Adikristya: Lahir di Surabaya. Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Aktif di LPM Scientiarum. Biasa menulis di blog sendiri: adikristya.com

Continue Reading

Cerpen

Cinta Ayu

mm

Published

on

Dengan langkah kaki cepat, Ayu bergegas menuju gedung Diponegoro untuk mengikuti seminar. Seminar yang mengambil tema “Menyoal Cinta dan Feminisme” bukan hanya memikat hati Ayu, melainkan kebanyakan hati perempuan. Sebab, pembicara dalam seminar ialah seorang feminis laki-laki, sekaligus aktivis “kemanusiaan” yang menjadi diskursusnya. Kendati ia masih berstatus mahasiswa. Namun, ia bagaikan matahari yang menjadi pusat perhatian di kampusnya. Pagi itu, bukan tanpa perjuangan bagi seorang gadis yang hidupnya normal. Ayu memutuskan alpa sarapan pagi beserta Abah dan Umminya. Satu keputusan radikal yang sepanjang usianya belum sekalipun dilakukannya. “Semoga acaranya belum dimulai,” gumamnya dalam hati.

Setelah setengah berlari menaiki tangga sepanjang lima lantai, Ayu mengatur nafasnya sambil sesekali mengipasi wajahnya yang merah setelah mengambil tempat duduk. “Ayu, sini, kamu lama sekali,” kata April sahabat karibnya. “Ia, maaf saya ketiduran sehabis salat Subuh,” jawabnya pelan.

“Raka sudah berbicara?”

“Belum, Ayu.”

Setelah satu jam berlalu, kini giliran pembicara terakhir yang sudah dinanti-nantikan tampil di podium. “Selamat pagi Puan dan Tuan. Baik untuk menghemat narasi saya langsung masuk pada bagian subtansi…”

“Kenapa tidak mengucapkan Assalamualaikum.”

“Entahlah.”

“Apa dia non-Muslim?”

Ayu tak menjawab. Hanya mengangkat kedua bahunya.

Setelah hampir setengah jam Raka menyampaikan pandangannya, kini waktunya berdiskusi: tanya-jawab. Empat orang penanya sudah mendapatkan jawabannya. Dan Ayu memberanikan diri mengangkat tangannya. “Baik, silakan perkenalkan diri Anda sebelum bertanya,” kata moderator. “Nama saya Ayu Arunika. Saya ingin bertanya pada Mas Raka. Sepanjang penjelasan Anda tentang feminisme. Saya merasa bahwa Anda terlalu liberal. Sebab, Islam justru memuliakan perempuan. Perkara peradaban menghendaki perempuan selalu di bawah laki-laki, karena seorang suami adalah pemimpin dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sebagai hamba tentu harus taat pada perintah Allah SWT. Itu yang pertama. Yang kedua, atas dasar apa Anda mengajukan argumen bahwa doktrin teologis adalah penyumbang kerusakan alam? Bahkan berperan dalam mendorong rusaknya lingkungan alam akibat doktrin antoposentrisnya. Terima kasih.”

Pertanyaan yang mengagetkan semua orang yang sedang asyik-masyuk mendengar penjelasan Raka, mahasiswa filsafat yang menjadi bintang di acara itu. Dengan tenang Raka menjawab, “Ayu Arunika. Sebagai fakta nama itu indah untuk dikecupkan. Saya tahu arah pertanyaanmu. Benar-benar pertanyaan teologis. Tadi dikecupkan kata “hamba”. Maka, dengan sendirinya ada hierarki dalam kalimat yang Anda susun: Tuhan dan hamba. Saya mengajukan argumen yang basisnya adalah reasoning. Dan Anda mengajukan pertanyaan yang dibungkus dokumen dari langit. Tidak mungkin saya debat dengan argumen. Itu yang pertama. Yang kedua perihal ekofeminisme…”

“Tunggu sebentar. Apa keyakinan Anda?” Ayu memotong.

Setelah diam sesaat, Raka menjawab. “Anda tahu bahwa diskusi ini mengangkat tema feminisme. Artinya tidak membahas tema teologis. Pertanyaan Anda tidak ethics, kendati dibungkus dengan kesantunan bahasa. Karena Anda bertanya sesuatu yang bersifat privat. Tidak mungkin saya jawab di ruang publik. Tapi tidak jadi soal. Pukul setengah empat nanti saya ada perlu di perpustakaan. Jika Anda masih penasaran dan menuntut jawaban dari saya, silakan temui saya.” Selanjutnya diskusi berjalan lancar. Namun pertanyaan dari Ayu membuat orang-orang mulai berpikir ulang tentang sosok sang pembicara.

***

Pukul empat sore Ayu datang ke perpustakaan. Di ruang kecil, tempat diskusi, seorang pemuda sedang duduk dengan tenang. Di tangannya terlihat Ivan Illich: Deshooling Society. Setelah menarik nafas panjang Ayu memberanikan diri menghampirinya. “Assalamulaikum, maaf saya terlambat datang.”

“Tak apa. Artinya dikau masih orang Indonesia. Silakan duduk.”

Jawaban yang membuat wajah Ayu merah sebab malu. “Maaf, tadi saya habis salat Ashar terlebih dahulu.” Jawabnya pelan. “Mas Raka sudah Salat?”

Setelah meletakan Ivan Illich, Raka menatap mata Ayu dengan tatapan tajam. “Puan, apa dikau tahu siapa nama orangtuaku? Pekerjaannya apa? Apa dikau juga tahu sosio-historisku?”

Ayu menggelengkan kepala.

“Pertanyaan teologismu itu menghukum psikologiku. Semacam hukuman bahwa saya telah divonis dalam perkara privat: agama tertentu. Dan seringkali pertanyaan itu dianggap hal yang wajar hingga berkumandang di telinga setiap orang. “Kamu sudah salat? Apa agamamu? Pertanyaan itu buat saya semacam arogansi karena disponsori suara mayoritasisme. Bahkan hal semacam itu, terjadi di wilayah akademis. Seharusnya seorang akademis bisa lepas dari hal semacam itu. Di ruang akademis yang ada hanya pikiran. Universitas dalam definisi bebas ialah wilayah di mana sikap kritis itu tumbuh. Artinya tidak dikekang oleh doktrin teologis. Yang ada hanya dialektika rasionalisme. Sebab universitas adalah tempat lalu lintasnya pikiran. No road to heaven. Dan sebagai warga negara, kita hanya diikat oleh etika publik. Status agama itu hak. Artinya seseorang boleh tidak menggunakan haknya. Paham Ayu?”

Mendengar jawaban Raka, airmuka Ayu merah padam. Baru kali ini ia diceramahi pelajaran di luar nalar pikirannya. Wajahnya menunduk, seakan-akan tak sanggup melihat matanya yang tajam bagai mata pedang. Barulah ia sadar bahwa pemuda yang sedang menceramahinya adalah pemuda yang setiap hari diperbincangkan teman-temannya sesama mahasiswi: Raka adalah pemuda cerdas. Menyukai sastra, filsafat, sosiologi, psikologi, politik, hukum dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Raka penggila filsuf Immanuel Kant, Sartre, Heidegger hingga Ivan Illich. Juga ada pula yang mengatakan bahwa sudah banyak perempuan yang patah hati. Bukan lantaran disakiti, melainkan karena alasan yang abnormal: Raka tidak ingin menikah. Pikiran yang benar-benar gila bagi anak muda seusianya.

“Saya minta maaf bila pertanyaanku membuat Mas Raka tersinggung,” kata Ayu sebelum meninggalkan Raka. Akan tetapi, sebelum Ayu menghilang ditelan pintu perpustakaan, Raka menyahut, “Ayu, saya yang minta maaf. Senang berkenalan denganmu. Di luar ada cafe yang nyaman untuk menikmati segelas kopi dan sepotong kenangan.” Ayu terseyum mendengarnya. Senyuman yang menawan. Demikianlah perempuan gemar membunuh seorang lelaki dengan senyumannya.

***

Waktu bergulir dengan cepat. Bergantinya nama bulan seperti bergantinya siang dan malam. Demikianlah bagi hati anak muda yang hari-harinya diliputi bahagia bertabur bunga. Begitulah hari-hari Ayu dan Raka. Keduanya semakin akrab, bukan hanya sebagai teman, melainkan sepasang kekasih yang sedang mengepakan sayapnya. Selepas pertemuan itu, Ayu terpesona oleh Raka yang dinilainya berbeda.

Kendati kasak-kusuk berita negatif tentang Raka tersebar luas di lingkungan kampus. Namun, hal itu tidak membuat Ayu membatalkan cintanya. Tidak pula mempengaruhi Ayu untuk memadamkan api cinta yang menyala di hatinya. Masih menggema lonceng cinta di pikiran batinnya, baginya Raka serupa sang pengusik sepi yang membunyikan loncengnya. “Janganlah dikau padamkan matahari cinta yang terbit dari hati seorang pujangga,” kata-kata itu bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya tepat mengenai jantung hati gadis pujaannya. Ujar Raka pada Ayu suatu senja di bukit Mandalawangi.

Dalam cinta selalu ada kegilaan. Orang gila yang rasional adalah orang yang sedang dimabuk cinta. Hari-hari berikutnya, di mana kaki Raka melangkah, di situ jejak Ayu tertinggal. Terlebih Raka selalu membimbing langkah kaki Ayu pada tempat yang tak terduga: gunung, hutan, dan sekolah rakyat yang didirikannya bersama para sahabatnya. Deschooling Society adalah kitab sucinya Raka.

Namun, ada yang ganjil dalam pikiran Ayu yang setiap malam selalu menghantuinya. Sebab, selama menjadi kekasih Raka, sekalipun Ayu tak pernah mendengar kata dari kamus agama diucapkan olehnya. Juga tidak sekalipun Ayu mempergoki sisa-sisa jejak ritual keagamaan yang dilakukan Raka. Baik jejak kakinya di Gereja, Masjid, maupun rumah ibadah lainnya yang tertinggal.

Keganjilan itu membuat Ayu memberanikan diri untuk mencari tahu. Entah sudah berapa banyak teman-teman Raka yang diinterogasi. Namun, semuanya menjawab seragam seperti orang mengucapkan kata “Aamiin”, yakni “tidak tahu”. Hingga pada suatu hari Ayu menanyakan langsung kepada Raka. Sebagaimana kebiasaannya, Raka yang suka merenung di tempat sunyi seorang diri di hutan, tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran Ayu yang sudah mengetahui tempat pelariannya. Lama keduanya bertukar pandangan.

Ayu mulai mencium keganjilan kekasihnya itu. Karena tak tahan sambil bercucuran air mata Ayu bertanya, “Apa agamamu Mas? Banyak orang yang membicarakanmu perihal itu. Apakah Mas percaya akan adanya Tuhan?”

Raka tak menjawab. Lama ia terdiam.

“Sekali lagi saya tanya, apa Mas percaya akan adanya Tuhan?”

“Ayu, dikau menyusulku ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu yang menjadi antitesis kemanusiaan.” Kemudian Raka menjemput tangan Ayu sambil berujar, “Kamu mencintaiku?” Ayu mengangguk diiringi tangisan.

“Jika dikau percaya Sartre adalah seorang atheis, dan Simon de Beauvoir tidak mempermasalahkannya, maka kamu harus percaya bahwa kekasihmu adalah orang yang percaya sebagaimana kepercayaan Sartre.”

Mendengar jawaban itu, tangisan Ayu semakin dera. Segera saja Ayu melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-MU,” ucap Ayu sebelum pergi.

“Jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri. Sebab, cinta sedari dulu kala selalu saja drama. Cinta adalah kesunyian yang panjang, kendati keramaian selalu mengintainya. Namun cinta selalu memilih untuk sendiri,” kata Raka pada dirinya sendiri. (*)

*) Arian Pangestu, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya berupa cerpen, esai, dan puisi dimuat di koran Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bangka Pos, Radar Surabaya, Harian Analisa. Saat ini aktif sebagai mahasiswa sastra.

Continue Reading

Classic Poetry

Rendra Sajak Sepatu Tua dan Lautan

mm

Published

on

MANCURIA

Di padang-padang yang luas

Kuda-kuda liar berpacu

Rindu dan tuju selalu berpacu.

 

Di rumput-rumput yang tinggi

Angin menggosokkan punggungnya yang gatal.

Di padang yang luas aku ditantang.

 

Hujan turun di atas padang

Wahai, badai dan hujan di atas padang!

 

Dan di cakrawala, di dalam hujan

Kulihat diriku yang dulu hilang.

 

LAUTAN

Daratan adalah rumah kita

Dan lautan adalah kebebasan.

Langit telah bersatu dengan samudera

Dalam jiwa dan dalam warna

 

Ke segenap arah

Berlaksa-laksa hasta

Di atas dan di bawah

Membentang warna biru muda.

Tanpa angin mentari terpancang

Bagai kancing dari tembaga.

 

Tiga buah awan yang kecil dan jauh

Berlayar di langit dan di air

Bersama dua kapal layar

Bagai sepasang burung camar

Dari arah yang berbeda.

Sedang lautan memandang saja.

Lautan memandang saja.

 

Di hadapan wajah lautan

Nampak diriku yang pendusta.

 

Di sini semua harus telanjang

Bagai ikan di lautan

Dan burung di udara.

Tak usah bersuara!

Janganlah bersuara !

Suara dan kata terasa dena.

 

Daratan adalah rumah kita,

Dan lautan adalah rahasia.

 

SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTRINYA

Aku tulis sajak ini

Untuk menghibur hatimu.

Sementara kukenangkan encokmu

Kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang.

Dan juga masa depan kita

Yang hampir rampung

Dan dengan lega akan kita lunaskan.

 

Kita tidaklah sendiri

Dan terasing dengan nasiib kita.

Karena soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.

Suka dan duka kita bukanlah istimewa

Karena setiap orang mengalaminya.

 

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh

Hidup adalah untuk mengolah hidup

Bekerja membalik tanah

Memasuki rahasia langit dan samudera

Serta mencipta dan mengukir dunia

Kita menyandang tugas,

Karena tugas adalah tugas

Bukannya demi surga atau neraka

Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

 

Karena sesungguhnyalah kita bukan debu

Meski kita telah reyot, tua renta, dan kelabu.

Kita adalah kepribadian

Dan harga kita adalah kehormatan kita

Tolehlah lagi ke belakang

Ke masa silam yang

Tak seorang pun kuasa menghapusnya.

 

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna

Sembilan puluh tahun yang  dibelai nafas kita

Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit

Melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda

Dan kenangkan lah pula

Bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa

Menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

 

Kita tersenyum bukanlah karena bersandiwara

Bukan karena senyuman adalah suatu kedok

Tetapi karena senyuman adalah suatu sikap

Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,

Nasib dan kahidupan.

 

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna !

Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma

Kita menjadi goyah dan bongkok

Karena usia nampaknya lebih kuat dari kita

Tapi bukan karena kita terkalahkan.

 

Aku tulis sajak ini

Untuk menghibur hatimu

Sementara kau kenangkan encokmu

Kenangkanlah pula

Bahwa kita ditantang serratus dewa.

 

*) Rendra, penyair dan dramwan terkemuka ini dilahirkan di Solo, 7 November 1935. Mula-mula ia bernama Willibrodus Surendra Broto, namun setelah masuk Islam namanya menjadi Wahyu Sulaiman Rendra. Sajak-sajak dalam bukunya “Sajak-Sajak Sepatu Tua” ini merupakan sajak-sajak dalam masa paling intens dan produktif kepenyairan sang Burung Merak.

Continue Reading

Puisi

Puisi Faris Al Faisal

mm

Published

on

Ritus Barikan  

jika hasil bumi dan laut melimpah ruah

orang-orang pesisir pantai utara berkenduri

menggelar tumpeng dan nasi kuning

hasil kebun dan ladang tiada terbilang

berjejer di simpang jalan desa

orang-orang kampung berkerumun

tiada yang merasa lebih tinggi

menghadap ke meja panjang tanpa kaki

hiruk-pikuk riuh rendah saban cerita

bulir-bulir padi yang kuning membunting

ikan-ikan di perahu yang menggunung

petani menanam padi memanen rembulan

nelayan melempar jala menjaring matahari

butir-butir garam diremas jadi gemintang

syukur diungkapkan dengan barikan

memanjat ke pohon doa

batangnya menyentuh langit

 

Indramayu, 2018

 

Ritus Jathilan

di kampung pesisir yang ditumbuhi pohon mangga

anak-anak bermain jathilan di pekarangan

kuda-kudaan yang dianyam dari bilah bambu

kulit sapi atau kerbau hitam bertanduk

menari dengan jiwa yang tak takut mati

dipandu pawang sebagai panglima perang

pecahan beling berguling-guling

ujung-ujung paku diinjak tak berjejak

jaranne jan thil-thilan tenan, sebut mereka

diceritakan dalam permainan rakyat

sebagai mengenang kisah heroik

raden fatah dan wali sepasukan kuda

kocar-kacirkan serdadu belanda

maka kami tiada berhenti meneladani

berkuda menjaga domba-domba di ladang

dari serigala berbulu domba

 

Indramayu, 2018

 

 

Ritus Bersih Desa 

 

pagi pukul tujuh —saat embun yang menempel di dedaunan

terlerai hangat mentari— lelaki-lelaki desa

membawa cangkul, pedang panjang, dan peralatan lain

menuju ke jalan, selokan, sungai

pekuburan, masjid dan kantor kepala desa

bersih-besih desa

di halamannya tikar-tikar digelar

dengan sejumlah makanan

setelah semalam perempuan-perempuan desa terjaga

seperti dibangunkan dayang sumbi

menyalakan api dalam tungku-tungku berisi periuk nasi

memerahkan wajah langit

menyedekahkan hasil bumi yang melimpah ruah

kepada segenap orang sekampung

 

di sini kami menghayati pemberi kesuburan tanah

orang-orang menyebutnya dewi sri

 

Indramayu, 2018

 

 

Ritus Wayang 

 

di kantor kepala desa atau di rumah hajat

bunyi gamelan sayup terdengar hingga jauh

tembang kiser pesisiran mendayu-dayu

menebal dan menipis dalam orkestra klasik

bertalu-talu mencipta tetalu waktu

 

dari kulit-kulit sapi yang dikeringkan

tokoh pewayangan dibuat bayangan

sebagai pagelaran di kelir layar

sekotak kisah dilakonkan dalang

 

ada pengajaran tentang darma

cerita ramayana dan mahabharata

pitutur tuntunan dalam tontonan

 

dengan lakon-lakon kisah yang diperankan

manusia adalah wayang di tangan dalang

 

Indramayu, 2018

 

 

Ritus Ruwat 

pada jiwa-jiwa yang berlelehan ceceran dosa

rambut sukerta dipotong sebagai umpama

dari kemalangan badan

kesialan terputus

 

cerita murwa kala digelar semalam suntuk

pementasan pewayangan oleh sang dalang

batara kala sang raksasa

mencari mangsa

 

anak-anak sukerta dijaga dengan perlindungan

diruwat pada hari telah menjadi siang

dalam perhitungan hari

dan pasaran

 

sebab kasih dan sayang menguar

moyang tiada ingin membiar

bahaya datang mengular

selamat anak dan cucu

 

Indramayu, 2018

*) Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), dan Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018) sedangkan karya non fiksinya yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).

Continue Reading

Classic Prose

Trending