Connect with us

Puisi

Puisi Puisi Anjrah Lelono Broto

mm

Published

on

ISTIRAH DAN LAIN-LAIN

 

Tak pernah ada hasrat untuk sembunyi. Dari

mata langit. Bukan karena aku pemberani,

namun bagiku itu adalah penantian

pada tegaknya benang basah di perempatan

kotamu yang enggan menulis; “Istirah”.

 

Dari balik jendela apartemen, tatapanmu

memendam tanya. Aku biarkan berlalu

agar mata langit juga menjadi saksi

betapa semuanya hanya bisa ditunda sebagai

lain kali, tak bisa diingkari; “Mengerti”.

 

Di kali ke sekian, dering telepon genggam

pun kukebumikan. Aku balas tatapan itu

dengan senyum terajam, seluka judul-judul

puisiku yang menikam untuk dibaca

dengan berbaring di ranjang; “Pengkhianatan”.

 

Sementara hujan tak lagi berulang bertandang

ke kotamu, dan orang-orang berseru girang

menyindir kita yang berbahagia. Begitu pula

orang-orang yang tak membaca kisah kita

yang kita sebut sebagai; “Keluarga”.

 

 

Malang, 2019

 

 

DITIKAM TAWA

 

 

aku lalu ditikam tawa demikian luar biasa hingga lupa akan luka

berlari ke sana kemari kemudian aku dengan bersimbah darah

aku tak mengaduh itu jika engkau benar-benar ingin berita

tapi kuketuk pintu-pintu juga jendela-jendela

berharap ada malaikat di sana

hingga lukaku memberi gapai pada dosa-dosa

di masa itu

 

belati tawa terasa begitu digdaya sampai selaksa purnama berganti rupa

tubuhku pun dibelit kerontang karena darah tinggal legenda

aku tak mengaduh itu jika engkau benar-benar ingin berita

sebab tusukan itu memberikan peringatan

akan diriku yang senantiasa menyendiri-sendirian

kedatangan malaikat pun adalah isapan jari

di masa ini

 

 

Mojokerto, 2019

TERJAGA DI SEPEREMPAT MALAM

tiba-tiba

entah untuk kali ke berapa

dirinya bangun di seperempat malam

 

matanya nyalang pada daun jendela

meski dirinya tak sedang menantikan

ketukan apalagi kedatangan

namun daun jendela tak menjauh dari pandangan

 

ngeri masih disimpannya di saku piyama

meski wajah penabur ngeri itu sendiri

tak berbentuk lagi di ruang memori

namun dunia terasa berakhir jika saja

empu wajah itu bertamu dari jendela

 

jikalau iya

siapa saja di dekatnya akan menjadi Tuhan

juru selamat di seperempat malam

 

 

Mojokerto, 2019

 

TAK ADA LAGI NAMANYA

 

sembari memungut udara

di dinding pagar

kehampaan diperasnya

sekali lagi

gadis pembakar rindu

itu sendirian

kemarin, sekarang,

 

kemudian dilipatnya rapi

dijemurnya kehampaan sampai

tak ada lagi sinar matahari

juga rembulan

dimiliki gadis pembakar rindu

itu yang tengah sendirian

mungkin hingga udara beruban

 

tak ada lagi namanya

 

koran dan media sosial menguburnya

dalam benar

 

Mojokerto, 2019

 

*) Anjrah Lelono Broto, tinggal di Trowulan-Mojokerto. Aktif menulis esai, cerpen, serta puisi di sejumlah media masa (berbahasa Indonesia dan berbahasa Jawa). Karya tunggalnya adalah Esem Ligan Randha Jombang (antologi geguritan, 2010), Orasi Jenderal Markus (naskah monolog, 2011), dan Emak, Sayak, Lan Hem Kothak-Kothak (antologi cerpen berbahasa Jawa, 2015), dan  “Nampan Pencakan (Himpunan Puisi, 2017). Terundang dalam agenda Muktamar Sastra (Situbondo, 2018), dan karya naskah teaternya “Nyonya Cayo” meraih nominasi dalam Sayembara Naskah Lakon DKJT 2018.

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Sabiq Carebesth: Tentang cinta yang kehilangan bahasa

mm

Published

on

1

Terkadang cinta kehilangan bahasa
Maka ia berjalan dengan bisu
Terkadang cinta bukan lagi kata
Maka ia menghabiskan hari hari
Dengan berjalan menyusuri kota kota

Dari peron stasiun, melewati kesunyian
Terasing di pasar pasar masa silam
Membenam dan beku di lantai enam apartemen
Di antara gerimis yang ragu,

malam yang enggan, lautan yang membisu—
cinta enggan berhenti
Tapi kita telah kehabisan kata-kata.

 

2

Lalu pada malam yang rapuh
Kita bertanya tentang keindahan;
Tentang cinta yang kehilangan bahasa

Kita pergi dari kota ke kota
Stasiun, kafe kafe,
ruang tunggu bandara—
Lalu kita diam diam mengira,
Cinta seperti kanvas kosong;
Kita telah menuang semua warna;
Malam dan subuh; lelah dan terburu—
Dan kita sama tak tahu
Gambar apa yang kita kehendaki
Musim apa yang kita damba.

 

3

Lalu kita beringsut dari mimpi
Mendapati pagi yang basah oleh hujan
Taksi yang menunggu dalam sepi
Jalanan redup—
Kota yang tiba-tiba hampa
Seakan hanya kita yang terjaga
Hanya kesunyian menghampiri
Tapi kita pun tak sempat bercakap;
Kita harus pergi
Dengan cinta yang tetap tak kita pahami.

 

4

“Cinta adalah waktu yang ingin kita tempuhi
Meniti ujung jalan dan kota kota,
kafe kafe yang beku—
lampu lampu yang merona seperti pipimu,
Sebelum hujan melelapkan kita
dalam mimpi buruk—untuk berjalan sendirian;
Menziarahi kesunyian kota kota, hening kafe kafe,

lampu lampu jalan yang sedan,

jendela apartemen berwarna kabut—dengan cinta
Yang tetap tak kita pahami.”


Sabiq Carebesth, Hong Kong—2019

 

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Agust Gunadin

mm

Published

on

Getty Images/ my verson of a great painting by robert-burns

Juni Menggerutu Pada Memilih

Masih seperti yang model kemarin

Kisah tentang waktu yang menggerutu dibahumu

Yang ingin ditepiskan pada suatu masa

Bahwa kau ingin segera memilih

Pada tempat ingin dipijak, pada ruang yang ingin bersahabat

Dan pada masa yang tepat sasar

Aku dan kamu telah menamainya

Namun sedang merajut tentang suatu nama itu

Tentang “berkuliah”

Yang tepat sasar, kata seorang kakek dalam perutusan

Agar kau jangan asal pilih

Sebab memilih sebuah konsekuensi

Sekali pilih “itu sudah”

Cbl:Pau, Juni 09

 

Cukup Meringankan Saja

Jika senja sebelumnya, kami menikmati kelegahan

Namun, senja pada hari itu berubah semburat merah

Sebab ada pilihan yang tersengal

Tak kala pendidikan bisa terapung

Lantas, ada waktu untuk merenung

Bukan! Merenung lalu menikmati

Tetapi merenung karena kami terbirit meraih angan

Angan kami pun jelas!

Menutup lubang yang masih terbuka

Bagaimana kami ke sana

Jika pada kini dan di sini

Menganga dan tercengang, kata mereka ilmu itu mahal

Maka jelas dibayar mahal

Kami pun mulai lunglai, berpikir pun agak meradang

Tatkala ilmu yang ingin dicari

Tergeletak pada ekonomi kami yang masih terpuruk

Mengeluh adalah cara kami

Mungkin yang di seberang sana peduli

Agar kami tersenyum sumringah

Bahwa kami butuh pendidikan yang perlu diringankan

Gnd: San Camillo, Mei 2019

Dilema Sebuah Lilin

Sengaja kudekapkan dengan lilin, sebab ia seringkali indah pada cahaya

Dan hangat untuk asa

Kita yang ingin menjadi (maha….)

Sesekali bertumpu pada lilin

Yang memampukan untuk kehangatan

Yang membawa asa pada cahaya

Menerangi lorong yang masih gelap

Menghangat yang masih peluh

Mengata untuk mewakili yang bisu, sebab seringkali

Kita keenakan untuk menjadi bisu

Lantas, penerangan ditindis api kebisuan

Dan kehangatan ditimpas asa kelesuan

Yang ingin menjadi (maha…)

Menjadi duta untuk menuntaskan

Maumere, 0609: GND

__________

*) Agust Gunadin, Mahasiswa STFK Ledalero, Ketua Kelompok Sastra di Seminari Tinggi St. Kamilus-Maumere. Beberapa puisi pernah dimuat di Pos Kupang, Warta Flobamora, Majalah Simalaba-Lampung, Floresmuda.Com, Gita Sang Surya-OFM dan Media online.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Aditya Ardi N

mm

Published

on

mumu

 

petiklah bianglala di dada ibumu

sebelum bintang mati dan bulan berlayar menjauh

 

ciptakan langitmu sendiri

yang berbeda dari langit marah kota ini

dengan tembakan laser dan merkuri

⎼dikutuk tunduk pada polusi

 

menarilah, mumu

dengan keriangan sebagaimana mustinya

sebelum kau kenali kutukan hari-hari

seperti mahalnya harga susu formula untuk bayi,

dokumen penghilang ingatan

serta agenda kerja yang memangkas usia

 

teruslah tersenyum, mumu

sebab hanya dengan itu hidup yang keras bisa dikalah

hanya dengan tersenyum, mumu

dunia akan dipenuhi belas kasih

dan cahaya cinta yang acap terlupa umat manusia

 

dangdut koplo rapsodi

 

dangdut koplo adalah obat

bagi rakyat melarat

ia beri bunyi bagi sunyi

yang kekal mengendap di lokalisasi

 

di dolly, di dolly

ia nyatakan diri untuk pertama kali

sebuah susunan notasi

mengurapi seluruh pelacur dan mucikari

merasuki seluruh ranjang dan sprei

menggoyang larik-larik larut menuju pagi

 

meski waktu terkutuk kedaluwarsa membungkus dolly

di sini, di jambon gang sempit ini

dangdut koplo bakal abadi

mengorkestrasi kehampaan hari-hari

 

  madah bagi para biduanita orkes

 

/1/ arlida putri

tak hanya berdiam dalam mikrofon

suaramu debur ombak

yang tidur dalam pikiranku

sapuan angin yang kini bersarang

di hulu jantungku

 

o, betapa cantikmu serupa pisau

berkilat dan mengacung ke arahku

 

tanpa bedak—tanpa gincu

kupuisikan namamu

dalam bait sunyi sajak ini

 

/2/ niken yra

 

seluruh isi dadamu adalah puisi

yang tak henti aku bacai

 

o, biduan

kerling nakalmu,

merogoh dalam-dalam lipatan jiwaku

yang selalu ingin menari dan hanyut bersamamu

 

suaramu api yang menjilat-jilat kayu tubuhku

begitu kusaksikan kau bergoyang—berdendang

teror mengambang di puncak siang

terbakar habis aku jadi abu

 

/3/  tasya rosmala

 

gendang telingaku adalah penampung terbaik

bagi pertikel sendu basah suaramu

seluruh getarnya aku rasakan

ia beresonansi menembusi urat nadi

hingga terpicu detak jantung ini

 

lewat larik-larik  yang naif

kita lantas rajin bertemu

di panggung-panggung orkesan

di kaset vcd bajakan dan sesekali di televisi

kemudian begitu saja kau kuakrabi

 

biduan,

barangkali hanya dalam puisi ini

lagu dangdut koplo begitu berarti

dan tak bakal mati

 

penggemar orkes garis keras

 

setelah seliter arak beras tandas

segera kami bergegas

menyerbu gelanggang dangdut

dimana hati dan pikiran kami tertaut

 

kami datang dengan hati riang

meski hidup kian keras meradang

oleh tagihan dan himpitan hutang

seirama kendang kami bergoyang

seturut dendang segala sakit hilang

 

pantat bulat biduan dangdut

bikin kami melupa anak istri

membawa kami jauh terhanyut

menepi dari kutukan hari-hari

 

di altar panggung orkes ini

kami akan terus bejoged, terus berjoged

hingga kami dapati cara  menyiasati

hidup yang telanjur koplo ini

 

saweran

matamu goyah

di hadapan lima ribu rupiah

mengasingkanmu dari pengertian ibu dan ayah

 

cium tangan biduan

 

aku cium tanganmu

dan sedikit terangsang

dan tuhan tahu itu

dan aku malu

tapi mau

_________

*) Aditya Ardi N: Penyair, lahir di Ngoro – Jombang, Jawa Timur 7 Januari 1987. Buku  Puisi  tunggalnya Mobilisasi Warung Kopi  (2011), Mazmur dari Timur (2016) .  Beberapa  karya puisi dan esai dimuat di media online/cetak  lokal maupun nasional serta  beberapa jurnal kebudayaan. Kini tinggal dan berkarya  di  Jl. Musi no 137, RT 02/RW 02, Dusun Gresikan, Desa Ngoro, Kec Ngoro, Kab Jombang,    Jawa Timur  kodepos: 61473. HP 0812-3374-0285 IG: @mas_genjus

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending