Connect with us

Puisi

Puisi Puisi Angga Wijaya

mm

Published

on

Lorong

/1/

Aku datang, senantiasa. Bicara tentang hari terlewati,

juga kenangan yang berlalu seperti angin. Terluka oleh

waktu yang menelikung diam-diam. Nasib? Entahlah

Kita adalah penulis takdir, terpatri di kening seperti

para tetua katakan. Jangan bersedih, cinta masih ada

selama kau percaya padanya. Di rumah sakit ini,

kesedihan merayapi lorong bagai hantu gentayangan

air  mata tumpah, kematian begitu menakutkan

ia bisa datang kapan saja tak kenal waktu.

 

/2/

Tiga tahun aku mengenalmu, setiap bulan datang

meminta penawar sakitku, penyakit yang hancurkan

mimpi dan harapan. Aku tak menyerah, masih banyak

kawan bernasib lebih buruk, terbuang dan dikurung

dalam kamar sempit berterali, terpasung dengan sorot

mata nanar penuh amarah. Kau bebaskan mereka,

melepas rantai yang mengikat kaki. Masih ada harapan,

seperti Wayan yang kini bebas dan bersemangat

 

/3/

Kulihat pasien menunggu di lorong

Terpancar harapan di matanya

Duka-lara sirna perlahan

Berganti suka-cita, tertawa hadapi

hidup yang kadang bagai lelucon

Seperti juga aku, kutulis puisi

Untuk sembuhkan luka di dada

Masa lalu berlalu bagai kuda pacu

Berlari dan menerjang segala kelu

2018

Gang Pipit, Sesetan

 

I see skies of blue
And clouds of white
The bright blessed day
The dark sacred night
And I think to myself
What a wonderful world

   -Louis Armstrong

 

Ambil gitar itu, nyanyikan lagu

Seperti dulu saat kau remaja

Bernyanyilah, agar beban sirna

Hidup makin terjal dan berat

Kau jalani dengan senyum

 

Apa lagi tersisa, air mata

menetes di malam sepi

Teringat kampung halaman

Kawan-kawan sepermainan

Langgar adalah tempat setia

Pelarian dari segala duka

Saat ibu marah memukulimu

Ayah tak bekerja, sementara

anak-anak lapar ingin makan

 

Lagu lama mengalun pelan

Ditingkahi suara gitar

Di siang yang panas

Segelas kopi temani

Percakapan kita

Adakah yang lebih bahagia

Kita bertemu di ruang tamu

Berbagi kisah masa lalu

Kenanglah! Hapus air matamu

Jangan bersedih. Tuhan bersama

kita, orang-orang terlupakan

Digilas waktu yang nisbi

 

2018

Suara

Kututup pintu, agar suara-suara tak terdengar

Menghina dan merendahkan, berasal dari

tetangga yang berbincang di kamar sebelah

 

Mereka tak paham aku penulis

Tak bekerja seperti orang normal

Pergi pagi dan pulang di sore hari

Aku jarang keluar kamar

Kuhabiskan hari dengan membaca

dan menulis, kukirim ke koran

mendapat honor untuk bertahan

hidup. Mereka tak tahu penulis itu apa

Mengapa lebih sering di  kamar

Tenggelam dalam imajinasi

Kutulis puisi dengan segenap daya

Idealisme kujaga bertahun-tahun

Tak menyerah pada hidup, di negeri

yang menganggap sastra hanya

khayalan dan bualan.

 

Suara-suara itu tetap kudengar

Masuk lewat lubang angin

Aku mencoba tak peduli

Kutelan obat redakan itu

Berharap semua tak nyata

Berasal dari pikiranku sendiri

Seperti dikatakan psikiater

“Skizofrenia paranoid,” sebutnya

Tak ada yang membicarakanmu

Tak ada yang peduli padamu 

Sepatu dari Kawan

Aku bekerja dengan pakaian sederhana; jeans lusuh dan kemeja pemberian kakaku, juga sepatu yang juga pemberian orang.

Sepatuku robek dan bagian bawahnya hampir terlepas. Waktu itu aku baru bekerja di kota setelah bertahun-tahun mendekam di kampung halaman akibat skizofrenia. Aku belum mendapat gaji sehingga belum mampu membeli sepatu baru.

Kawanku prihatin melihatnya. Suatu hari ia memberikanku sepatu miliknya. Aku memakainya dengan perasaan sedih; betapa buruk hidupku, tak ada yang bisa mengubahnya selain diriku sendiri. Aku berjanji pada diriku untuk giat bekerja, agar bisa membeli jeans, kemeja dan sepatu baru.

 

2018

 

Jaket dari Ayah

Dulu sekali, sewaktu aku remaja ayah membelikanku jaket berwarna cokelat. “Ini jaket dari Korea,” katanya. Aku senang sekali, tiap hari jaket itu kupakai,saat itu aku jatuh cinta pada puisi dan merasa menjadi penyair tiap kali pergi memakai jaket itu.

Aku tahu ayah membelinya di toko pakaian bekas di kota, loakan menjadi pilihan bagi orang miskin seperti kami. Aku tak mau menanyakannya lebih dalam, kepedulian ayah merupakan hal luar biasa bagiku.

Jaket itu menemaniku hingga bertahun-tahun kemudian, merantau dan bekerja di kota sambil terus menulis, puisi-puisiku menghiasi koran dan dibaca banyak orang.  Aku memakai jaket dari ayah saat diundang membaca puisi di festival sastra kenamaan yang dihadiri  penyair terkenal. Jaket itu juga menemaniku saat ayah dirawat berminggu-minggu di rumah sakit sebelum akhirnya dibawa pulang dan meninggal beberapa hari kemudian.

Kini jaket pemberian ayah telah rusak, lapuk dan robek di sana-sini. Aku tak memakainya lagi dan menyimpannya di lemari. Jaket penuh kenangan, dibeli dari keringat dan kebanggaan ayah sebagai sopir taksi di kota, jarang pulang untuk memastikan kami bisa makan dan tak kelaparan di kampung halaman.

 

2018

 

kenangan di rumah sakit jiwa

kopi di sini nikmat sekali

dibawakan tiap pagi menjelang

“kopi, kopi, kopi,” suaranya

bangunkanku dari mimpi

kami minum bersama

ada yang meminumnya

saat panas, tanpa takut

terbakar

 

orang-orang menyebut

kami gila, dan kami

menyangka merekalah

penyebab kami berada

di rumah sakit ini

di ruangan berterali

bersama orang lain

yang juga disebut gila

 

matahari meninggi

saatnya mandi

lalu makan

dan minum obat

sementara ruangan

dibersihkan dari

segala kotoran dan

serapah, juga

tangis kami semalam

 

aku tak tahu

sampai kapan di sini

rinduku pada rumah

semakin menebal

ingin sekali menelpon

“kapan ke sini menjemputku,

kalian membiarkanku

membusuk bertahun-tahun

di tempat asing ini”

 

kudengar kabar

pasien yang lari

atau bunuh diri

sebab hidup tak

penting lagi

tak ada cinta

untuk kami

 

2017

 

Buku-Buku Tak Bisa Menolongmu

Akhir bulan saat kantongmu menipis kau gelisah

Pulang ke rumah kau temui anak-istri terdiam

Tabungan tak ada lagi, habis untuk makan dan

pengeluaran lain. Juga untuk rokokmu, membuat

istrimu kesal dan sering marah padamu.

 

“Pilih aku atau rokokmu!”  bentak istrimu

Kau hanya diam lalu pergi berlalu. Kau mencintai

rokok sebelum mengenal istrimu. Penuhi paru-paru

dengan asap nikotin dan tak bisa lepas darinya

 

Menuju kamar, tumpukan buku temani harimu

Bertahun-tahun kau kumpulkan, jadi amunisi

kala menulis bagi penulis-seniman sepertimu.

Tak semua buku kau baca, ada yang bertahun-

tahun tak kau sentuh hingga berdebu dan kusam

Saat seperti ini buku-buku menjadi benda mati

Mereka tak bisa menolongmu. Pengarang mati

sebelum kau membacanya. Tak ada lagi yang

berharga. Hanya tumpukan debu dan kelu.

 

“Jual saja buku-bukumu. Koleksimu langka”

Temanmu berkata suatu malam. Kau bimbang.

“Masih ada uang?” istrimu selalu bertanya

Kau makin gelisah kemudian setengah berbisik

meracau tentang nama-nama yang kau ingat

Dostoyevsky, Nietzsche, Camus, Virginia Woof,

Pramoedya, Wiji Thukul, Rusmini, Cok, Nanoq

Bibirmu bergetar menyebut mereka, kau berteriak

dan berlari ke jalan, hingga orang-orang memanggil

polisi pamong praja untuk meringkus-membawamu

ke rumah sakit jiwa. Kau mengidap skizofrenia!

 

Di kamarmu tak ada buku-buku dan kau bukan

penulis. Sewaktu kecil kau ingin menjadi penulis

Orang tuamu menjadikanmu pegawai bank

Di bank kau kerap membaca puisi keras-keras

Kau dipecat dan dianggap sakit jiwa. Kau belum

menikah dan tak punya kekasih. Tak ada perempuan

yang mau dekat denganmu. Kau menjadi pemurung,

sering menyendiri di kamar bersama bayanganmu.

2018

*) Angga Wijaya: Bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya. Lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Belajar menulis puisi sejak SMA saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya asuhan penyair Nanoq da Kansas. Puisi-puisinya pernah dimuat di Warta Bali, Jembrana Post, Independent News, Riau Pos, Bali Post, Jogja Review, Serambi Indonesia, Denpost, Tribun Bali, tatkala.co, balebengong.id, qureta.com dan Antologi Puisi Dian Sastro for President! End of Trilogy (INSIST Press, 2005) serta Mengunyah Geram (Seratus Puisi Melawan Korupsi) yang diterbitkan oleh Yayasan Manikaya Kauci, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Jatijagat Kampung Puisi (2017). Buku kumpulan puisinya berjudul “Catatan Pulang” diluncurkan Januari 2018 lalu. Bekerja sebagai wartawan lepas di Denpasar. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Puisi

Sajak Sajak Sabiq Carebesth

mm

Published

on

Prometheus

 

Untuk melihat pada yang jauh

 

Jika tidak ada kehidupan

Kisahku tiada rekah

Tapi cintaku

Kusimpan sendiri

Sebagai nyala api

 

Biar aku dikutuk

Biar jantungku habis tertikam

Denyutnya mengisahkan cinta

Sebab tiada cinta

Bebas dari kutuk nestapa

 

Hanya jika kaku tahu

Getarnya membuat burung bul bul

Menari—dan sepasang kekasih

Membumbung dalam dekap dan tari

Tiada kan padamu sesal mencinta

 

Jika taka da cinta

Sajakku tiada kan jadi lagu

Tapi hatiku

Kusimpan sendiri

Supaya dapat kukenang

Cintamu yang menari

Waktu itu…

 

Jakarta, 26 Juli 2018

 

Kadang-kadang

 

Dijariku sebatang rokok

Waktu malam ditinggal

Oleh keributan siang tadi

Aku bicara pada angin

Aku bicara pada bayangan

Aku

Aku

Bicara

Apa kau mendengarnya?

 

Sajak-sajak adalah aku

Aku sajakmu

Kadang-kadang

Sajak-sajak hilang

Seperti waktu

Kadang-kadang

Hanya malam kelu

 

Aku membayangkan

Tentang waktu dan sajak-sajak

Tentang aku dan kamu

Tentang kesia-siaanku

Juga tentang kesia-siaanmu

Kecantikanmu

 

Para penyair adalah kekasih

Bagi kesunyiannya sendiri

Kadang-kadang—tak lebih dari itu.

 

28 Agustus 2018.

 

Sajak Berjudul Namamu

 

; Gui

 

Pergilah pada kejauhan

Tapi tinggalkan wangi tubuhmu

Biar kucumbu;

Rambutmu yang malam

Pipimu yang senja

Suaramu yang subuh

 

Bawa serta lelapku

Di antara lekuk lehermu

Mimpiku yang kusemai

Di punggungmu yang gurun bersalju

 

Matamu gema

Nyanyian sukmaku

Dari mana aku dulu berangkat

Menjemput penantianmu

Dari kesunyian maha purba

 

Pergilah pada kejauhan

Aku takkan kemana-mana

Kenakan gaun warna hitam

Biarkan aku lelap sekali lagi

Dalam debur gemuruh

Dari samudera membentang

Di antara payudaramu yang gemintang.

 

1 September 2018

 

Continue Reading

Puisi

Sajak-sajak Afrizal Malna

mm

Published

on

Zhenghui, aku mengagumi lukisanmu, yang kembali ke kertas bubur beras dan tinta China. Angin menjelang musim dingin mulai menyapa leherku.kartu identitas penduduk di china

kartu identitas penduduk di china

untuk lan zgenghui

Aku sudah menyiapkan tas ransel, mesin pencukur jenggot, dan sebuah kebangsaan yang dipotret di kantor kecamatan. Setiap terbangun, aku takut ketinggalan pesawat. Atau menemukan diriku sedang bercinta dengan bahasa China di kamar orang lain. Hari Selasa kemarin tidak datang. Besok masih besok. Kemarin entah ke mana sebelum hari Minggu. Hari Selasa masih menunggu kemarin yang tidak datang. Hari Selasa bukan hari Selasa kalau belum hari Selasa.

Besok, hari Selasa mulai akan melubangi bayanganku dari punggungku, untuk mendengar bahasa China dari sipit mataku hingga hardware komputerku. Besok masih besok sebelum kemarin. Hari Selasa tidak menyimpan 100 tahun dari ketakutan setiap generasi pada Kartu Identitas Penduduk, pendidikan dan lapangan kerja. Orang-orang membuat rumah untuk berdusta. Menjeritkan generasi yang berceceran di tangga eskalator. Dan menjeritkan lagi ketakutan mereka di atas great wall. Sejarah seperti obeng dan gergaji yang menjauhkan manusia dari tangan-tangan waktu.

Apakah kamu dari Indonesia? Tanya supir taksi. Ya jawabku. Seperti menjawab suara jeritan dari toko-toko yang terbakar di Jakarta. Perempuan mereka yang ditelanjangi dan diperkosa. Tubuh-tubuh yang berubah menjadi arang hitam. Sejarah yang mengambil tangan kita, dan membenamkannya kembali berulang ke dalam luka yang sama. Luka yang kembali bertanya: Apakah kamu dari Indonesia?

Pagi itu kabel-kabel listrik di jalan masih menahan dingin, melepaskan sisa-sisa malam, lemak dan kembang api olimpiade. Seorang teman memesan topi Mao. Apa yang aku kenang tentang negeri ini dari great wall, topi bulu musang dari Mongol, teguran politik dari Tibet, air terjun manusia yang tumpah dari lubang langit – hingga manajemen komunis yang mengatur penghasilan penduduk sampai kamar hotelku.

Zhenghui, aku mengagumi lukisanmu, yang kembali ke kertas bubur beras dan tinta China. Angin menjelang musim dingin mulai menyapa leherku.

khotbah di bawah tiang listrik

Aku membiarkan malam membuat balok kayu di punggungku. Angin berhembus seperti tiang gantungan yang menyeret talinya sendiri. Seorang lelaki, setelah menutup pintu mobilnya, berlari ke tiang listrik. Suara lubang dari tubuhnya terdengar mengerikan seperti suara sel penjara jam 11 malam. Kenapa kau berada di luar khotbah yang kau buat sendiri? Kenapa ada lendir yang menetes dari jam 11 malam?

Lelaki itu adalah jam 11 malam yang meninggalkan khotbahnya sendiri. Adalah jam 11 malam yang baru menemukan lubang sebesar paku di telapak tangannya sendiri, menyeret kesunyian dari leher tuhan yang telah menciptakan lelaki jam 11 malam. Bekas kawat berduri di keningnya, dan sisa-sisa nikotin di jari-jari tangannya. Lelaki itu membersihkan semua vagina untuk menemukan anaknya, khotbah-khotbah yang selalu ditutup dengan hujan yang digantung di tiang listrik.

Benarkah, tuhan, benarkah aku bisa melihat? Benarkah aku bisa mendengar? Benarkah, tuhan, benarkah aku sedang berdiri di bawah tiang listrik ini? Benarkah aku telah menggantikan khotbah dengan kematianku sendiri, bukan dengan kematian orang lain. Benarkah aku sedang berjalan meninggalkanmu, meninggalkan pakaianku di dalam mobil. Benarkah tubuhku telah menjadi lantai dalam geraja itu.

antri uang di bank

Seseorang datang menemui punggungku. Membicarakan sesuatu, menghitung sesuatu, seperti kasur yang terbakar dan hanyut di sungai. Lalu ia meletakkan batu es dalam botol mineralku.

batu dalam sepatu

Selamat pagi Kamsudi, selamat pagi Busro, selamat pagi Remy dan Aidil yang marah. Kami masih di sini, di warung sop buntut kemarin, gelas kopi kemarin, asbak dan kursi plastik kemarin. Kami masih menjaga sebuah batu yang kami simpan dalam sepatu kami. Kami memotret tubuh kami sendiri di depan warung kopi, di samping tong sampah. Rambut putih yang putus dari kepala kami, setelah tertawa tertahan, dan hari kemarin masih di sini.

Selamat pagi, waktu. Selamat pagi semua yang telah menggantikan malam kami dengan cerita-cerita kecil. Waktu yang melapukkan atap kamar tidur kami, sebelum kami sempat terpulas, mengintip mimpi dari tembok-tembok berjamur. Hampir 50 tahun kami menunggu hingga sepatu kami kembali berubah menjadi kulit sapi. Waktu, seperti makhluk-makhluk asing yang beranak-pinak dalam tubuh kami. Puisi yang sampai sekarang tidak tahu bagaimana cara menuliskannya: 12 selimut untuk teman-teman dari Makassar. 12 selimut untuk teman-teman dari Padang dan Lampung.

Dan besok, besok kami akan datang lagi ke warung kemarin, ke Jalan Cikini kemarin yang telah menjadikan tubuh kami sebagai percobaan waktu untuk menunggu, percobaan menunggu untuk bisa melihat, percobaan melihat untuk mengenal kedatanganmu tak terduga. Percobaan untuk tetap berada di hari kemarin. Para gubernur datang dan berganti di kota ini, seperti permainan dalam kota-kota kolonial. Membuat peti telur untuk puisi dan teater.

Kemarin. Kami—kami tidak pernah tahu tentang hari ini dan hari esok. Dan batu lebih dalam lagi, lebih keras lagi, antara sepatu dan kulit sapi. Batu—untuk semua negeri yang terlalu curiga pada kebebasan, pada kemiskinan dan orang-orang yang masih tetap berjalan dengan kakinya.

kesepian di lantai 5 rumah sakit

Lelaki itu menatapku setelah selesai mengucapkan doa. Keningnya seperti mau berkata, apakah aku sedang membuat dusta? Aku menghampirinya, dan mencium bibirnya. Tubuh manusia itu sedih dan menyimpan bangkai masa lalu. Tetapi keningnya mengatakan, bahuku sakit dan bisa merasakan ciuman dari seluruh kesepian.

Aku kembali mencium lelaki itu, seperti jus tomat yang tidak tahu kenapa lelaki itu berdoa dan sekaligus merasa telah berdusta. Aku memeluk lelaki itu di lantai 5 sebuah rumah sakit. Lelaki itu melihat ambulan datang dan menerobos begitu saja ke dalam jantungnya. Dia tidak yakin apakah ambulan itu apakah jantung itu.

Lalu aku melompat dari lantai 5 rumah sakit itu, lalu aku melihat tubuhku melayang, batang-batang rokok berhamburan dari saku bajuku. Aku melihat kesunyian meledak dari seragam seorang suster, lalu aku tidak melihat ketika tiba-tiba aku tidak bisa lagi merasakan waktu: tuhan, jangan tinggalkan kesepian berdiri sendiri di lantai 5 sebuah rumah sakit. Lelaki itu tidak tahu apakah kematian itu sebuah dusta tentang waktu dan tentang cinta.

Lelaki itu kembali menatapku setelah selesai mengucapkan kesunyian, dan membuat ladang bintang-bintang di kaca jendela rumah sakit. Ciumannya seperti berkata, kesunyian itu, tidak pernah berdusta kepadamu. Aku lihat wajah lelaki itu, seperti selimut yang berbau obat-obatan. Perangkap tikus di bawah bantal. Dan kau tahu, akulah tahanan dari luka-lukamu.

__________________

*) Afrizal Malna lahir di Jakarta dan kini bermukim di Yogyakarta. Penulis buku sajak “Bantal Berasap: Empat Kumpulan Puisi (2010). Dan beberapa kumpulan sajak, kritik sastra dan naskah drama lainnya.

 

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi Wawan Kurniawan–Variasi Mimpi Setelah Menelan Pil Obat Tidur

mm

Published

on

Variasi Mimpi Setelah Menelan Pil Obat Tidur

 

1.

dua ekor kelinci melompat girang

masuk ke dalam dua bola matamu

lubang sembunyi paling dalam.

 

2.

setengah rumah kita

adalah halaman belakang yang lapang

menampung gugur daun yang subur

membunuh dirinya beserta kebisinganku.

 

3.

anjing merah berlari mengejar

bayanganku – sedang aku berdiri

di atas batu hitam tua yang merana

menangisi kematianku hari rabu nanti.

 

4.

di jalan batua, toko kecil mulai dibuka

para pembeli datang dengan anak kecil

yang merengek minta beli balon hijau

tapi kemudian toko meledak satu per satu.

 

5.

pepohonan di tebang begitu saja

mereka jatuh sebelum diterjemahkan:

kepada aspal yang mendidih, klakson

kendaraan yang bising, serta kepada macet

dari satu waktu ke masa lain yang entah kapan.

mereka tumbuh tak lagi bertubuh.

6.

di pantai losari,

seseorang lelaki bermata sipit

menggendong anaknya yang hitam,

seorang penjual coto membuang mangkuk

dan seketika menjelma perahu raksasa,

kita pun pergi mencari tempat lain yang jauh.

 

7.

kuah coto menjadi ombak kecil

menenggelamkan lambung dan

jantung yang ingin jadi jembatan

antara kematian dan kehidupan hari

kemarin dan masa depan nanti.

 

8.

kulihat kau terbangun

menarik selimut menutup mayatku

dan tidur terasa semakin panjang dan hening.

 

Kwatrin Tentang Seorang Jung

 

Di meja, tumpukan kertas serta debu menjelma kamu

merangkak masuk ke dalam kepala sebagai tamu

dia berjaga di batas kesadaran dan ketidaksadaran

lalu palang di ingatan pun akan musnah berhamburan

 

Tapi kapan pertemuan denganmu tiba tanpa harus menanti

lebih lama lagi, aku tak pernah benar percaya kepada mati

dan apa yang kurapalkan bukan lagi berasal dari hati

melainkan ketakutan – jikalau manusia tak mampu mencintai.

 

Sebut Saja Aku Mimpi Buruk

 

bangunlah sepagi mungkin,

aku paham kau mencari terbit matahari

kau juga telah berkeras menerima gelap

dalam nasib buruk yang berbaik hati lenyap.

 

biar hari kemarin tetap terjalin dalam puisi

besok pun akan demikian adanya.

aku tak beranjak sama sekali,

bahkan selangkah pun.

 

tapi kau ingin melihat kota lain –

dengan kerlap kerlip lampu begitu mewah

serta kabar baik masa depan yang megah.

 

celakanya, aku bersetia pada masa lalu

biar hari berlalu aku terlampau melaju

pada ulang kenangan yang akan menang.

 

kasih tak akan habis berkisah.

meski kau hendak membawa kecupmu

kepadanya.

di masa yang cepat dan kau susun

dengan pasti; aku dengan lamban

mencintai segala yang tak kukenali.

 

maka selamanya,

sebut saja aku mimpi buruk.

 

Kau Belum Bangun Pagi Ini

 

Di jendela, kulihat cahaya mencari cara

Agar diriku percaya pada dunia pagi ini

Tapi tumpukan buku, kertas dan cemas

Berubah jadi semesta gelap yang hangat

Membiarkan tubuh terbaring dan merasa

Jikalau langit kamarku tak terasa tinggi lagi

Aku melihatmu terlelap dan segala di sisimu

Seakan jadi rumput basah dipeluk embun

 

Kau belum bangun pagi ini, setelah semalam

Kita baru saja usai mencatat hitungan bintang

Tiga ribu dua puluh lima juta katamu dan esok

Angka masih akan bicara melampaui waktu

Dan kepercayaan segala risau yang bersuara

Biar aku duduk tenang di kursi ruang tamu

Menerka seberapa lama dan banyak kehilangan

Di meja, kulihat uap teh hijau hendak diterjemahkan

 

*) Wawan Kurniawan, alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa. Menerbitkan buku puisi pertamanya yang berjudul “Persinggahan Perangai Sepi (2013)”. Serta diundang sebagai penulis Indonesia Timur di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2015. Buku puisi kedua terbit “Sajak Penghuni Surga (2017)” Buku esai pertamanya yang memuat 50 tulisan yang pernah dimuat di Koran Tempo Makassar dari tahun 2013-2016 terbit Februari 2017 dengan judul “Sepi Manusia Topeng” oleh Penerbit Nala Cipta Litera kerjasama komunitas Literasi Makassar dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Sulawesi Selatan. Karya-karyanya pernah dimuat di Jawa Pos, Media Indonesia, Riau Pos, Bali Post, Koran Tempo Makassar, Suara NTB, Harian Fajar Makassar, Tribun Timur Makassar, Serambi Indonesia, Republika, Koran Sindo, Kompas, Harian Cakrawala Makassar, Lombok Post dan beberapa website.

Continue Reading

Classic Prose

Trending