Connect with us

Puisi

Puisi Puisi Angga Wijaya

mm

Published

on

Lorong

/1/

Aku datang, senantiasa. Bicara tentang hari terlewati,

juga kenangan yang berlalu seperti angin. Terluka oleh

waktu yang menelikung diam-diam. Nasib? Entahlah

Kita adalah penulis takdir, terpatri di kening seperti

para tetua katakan. Jangan bersedih, cinta masih ada

selama kau percaya padanya. Di rumah sakit ini,

kesedihan merayapi lorong bagai hantu gentayangan

air  mata tumpah, kematian begitu menakutkan

ia bisa datang kapan saja tak kenal waktu.

 

/2/

Tiga tahun aku mengenalmu, setiap bulan datang

meminta penawar sakitku, penyakit yang hancurkan

mimpi dan harapan. Aku tak menyerah, masih banyak

kawan bernasib lebih buruk, terbuang dan dikurung

dalam kamar sempit berterali, terpasung dengan sorot

mata nanar penuh amarah. Kau bebaskan mereka,

melepas rantai yang mengikat kaki. Masih ada harapan,

seperti Wayan yang kini bebas dan bersemangat

 

/3/

Kulihat pasien menunggu di lorong

Terpancar harapan di matanya

Duka-lara sirna perlahan

Berganti suka-cita, tertawa hadapi

hidup yang kadang bagai lelucon

Seperti juga aku, kutulis puisi

Untuk sembuhkan luka di dada

Masa lalu berlalu bagai kuda pacu

Berlari dan menerjang segala kelu

2018

Gang Pipit, Sesetan

 

I see skies of blue
And clouds of white
The bright blessed day
The dark sacred night
And I think to myself
What a wonderful world

   -Louis Armstrong

 

Ambil gitar itu, nyanyikan lagu

Seperti dulu saat kau remaja

Bernyanyilah, agar beban sirna

Hidup makin terjal dan berat

Kau jalani dengan senyum

 

Apa lagi tersisa, air mata

menetes di malam sepi

Teringat kampung halaman

Kawan-kawan sepermainan

Langgar adalah tempat setia

Pelarian dari segala duka

Saat ibu marah memukulimu

Ayah tak bekerja, sementara

anak-anak lapar ingin makan

 

Lagu lama mengalun pelan

Ditingkahi suara gitar

Di siang yang panas

Segelas kopi temani

Percakapan kita

Adakah yang lebih bahagia

Kita bertemu di ruang tamu

Berbagi kisah masa lalu

Kenanglah! Hapus air matamu

Jangan bersedih. Tuhan bersama

kita, orang-orang terlupakan

Digilas waktu yang nisbi

 

2018

Suara

Kututup pintu, agar suara-suara tak terdengar

Menghina dan merendahkan, berasal dari

tetangga yang berbincang di kamar sebelah

 

Mereka tak paham aku penulis

Tak bekerja seperti orang normal

Pergi pagi dan pulang di sore hari

Aku jarang keluar kamar

Kuhabiskan hari dengan membaca

dan menulis, kukirim ke koran

mendapat honor untuk bertahan

hidup. Mereka tak tahu penulis itu apa

Mengapa lebih sering di  kamar

Tenggelam dalam imajinasi

Kutulis puisi dengan segenap daya

Idealisme kujaga bertahun-tahun

Tak menyerah pada hidup, di negeri

yang menganggap sastra hanya

khayalan dan bualan.

 

Suara-suara itu tetap kudengar

Masuk lewat lubang angin

Aku mencoba tak peduli

Kutelan obat redakan itu

Berharap semua tak nyata

Berasal dari pikiranku sendiri

Seperti dikatakan psikiater

“Skizofrenia paranoid,” sebutnya

Tak ada yang membicarakanmu

Tak ada yang peduli padamu 

Sepatu dari Kawan

Aku bekerja dengan pakaian sederhana; jeans lusuh dan kemeja pemberian kakaku, juga sepatu yang juga pemberian orang.

Sepatuku robek dan bagian bawahnya hampir terlepas. Waktu itu aku baru bekerja di kota setelah bertahun-tahun mendekam di kampung halaman akibat skizofrenia. Aku belum mendapat gaji sehingga belum mampu membeli sepatu baru.

Kawanku prihatin melihatnya. Suatu hari ia memberikanku sepatu miliknya. Aku memakainya dengan perasaan sedih; betapa buruk hidupku, tak ada yang bisa mengubahnya selain diriku sendiri. Aku berjanji pada diriku untuk giat bekerja, agar bisa membeli jeans, kemeja dan sepatu baru.

 

2018

 

Jaket dari Ayah

Dulu sekali, sewaktu aku remaja ayah membelikanku jaket berwarna cokelat. “Ini jaket dari Korea,” katanya. Aku senang sekali, tiap hari jaket itu kupakai,saat itu aku jatuh cinta pada puisi dan merasa menjadi penyair tiap kali pergi memakai jaket itu.

Aku tahu ayah membelinya di toko pakaian bekas di kota, loakan menjadi pilihan bagi orang miskin seperti kami. Aku tak mau menanyakannya lebih dalam, kepedulian ayah merupakan hal luar biasa bagiku.

Jaket itu menemaniku hingga bertahun-tahun kemudian, merantau dan bekerja di kota sambil terus menulis, puisi-puisiku menghiasi koran dan dibaca banyak orang.  Aku memakai jaket dari ayah saat diundang membaca puisi di festival sastra kenamaan yang dihadiri  penyair terkenal. Jaket itu juga menemaniku saat ayah dirawat berminggu-minggu di rumah sakit sebelum akhirnya dibawa pulang dan meninggal beberapa hari kemudian.

Kini jaket pemberian ayah telah rusak, lapuk dan robek di sana-sini. Aku tak memakainya lagi dan menyimpannya di lemari. Jaket penuh kenangan, dibeli dari keringat dan kebanggaan ayah sebagai sopir taksi di kota, jarang pulang untuk memastikan kami bisa makan dan tak kelaparan di kampung halaman.

 

2018

 

kenangan di rumah sakit jiwa

kopi di sini nikmat sekali

dibawakan tiap pagi menjelang

“kopi, kopi, kopi,” suaranya

bangunkanku dari mimpi

kami minum bersama

ada yang meminumnya

saat panas, tanpa takut

terbakar

 

orang-orang menyebut

kami gila, dan kami

menyangka merekalah

penyebab kami berada

di rumah sakit ini

di ruangan berterali

bersama orang lain

yang juga disebut gila

 

matahari meninggi

saatnya mandi

lalu makan

dan minum obat

sementara ruangan

dibersihkan dari

segala kotoran dan

serapah, juga

tangis kami semalam

 

aku tak tahu

sampai kapan di sini

rinduku pada rumah

semakin menebal

ingin sekali menelpon

“kapan ke sini menjemputku,

kalian membiarkanku

membusuk bertahun-tahun

di tempat asing ini”

 

kudengar kabar

pasien yang lari

atau bunuh diri

sebab hidup tak

penting lagi

tak ada cinta

untuk kami

 

2017

 

Buku-Buku Tak Bisa Menolongmu

Akhir bulan saat kantongmu menipis kau gelisah

Pulang ke rumah kau temui anak-istri terdiam

Tabungan tak ada lagi, habis untuk makan dan

pengeluaran lain. Juga untuk rokokmu, membuat

istrimu kesal dan sering marah padamu.

 

“Pilih aku atau rokokmu!”  bentak istrimu

Kau hanya diam lalu pergi berlalu. Kau mencintai

rokok sebelum mengenal istrimu. Penuhi paru-paru

dengan asap nikotin dan tak bisa lepas darinya

 

Menuju kamar, tumpukan buku temani harimu

Bertahun-tahun kau kumpulkan, jadi amunisi

kala menulis bagi penulis-seniman sepertimu.

Tak semua buku kau baca, ada yang bertahun-

tahun tak kau sentuh hingga berdebu dan kusam

Saat seperti ini buku-buku menjadi benda mati

Mereka tak bisa menolongmu. Pengarang mati

sebelum kau membacanya. Tak ada lagi yang

berharga. Hanya tumpukan debu dan kelu.

 

“Jual saja buku-bukumu. Koleksimu langka”

Temanmu berkata suatu malam. Kau bimbang.

“Masih ada uang?” istrimu selalu bertanya

Kau makin gelisah kemudian setengah berbisik

meracau tentang nama-nama yang kau ingat

Dostoyevsky, Nietzsche, Camus, Virginia Woof,

Pramoedya, Wiji Thukul, Rusmini, Cok, Nanoq

Bibirmu bergetar menyebut mereka, kau berteriak

dan berlari ke jalan, hingga orang-orang memanggil

polisi pamong praja untuk meringkus-membawamu

ke rumah sakit jiwa. Kau mengidap skizofrenia!

 

Di kamarmu tak ada buku-buku dan kau bukan

penulis. Sewaktu kecil kau ingin menjadi penulis

Orang tuamu menjadikanmu pegawai bank

Di bank kau kerap membaca puisi keras-keras

Kau dipecat dan dianggap sakit jiwa. Kau belum

menikah dan tak punya kekasih. Tak ada perempuan

yang mau dekat denganmu. Kau menjadi pemurung,

sering menyendiri di kamar bersama bayanganmu.

2018

*) Angga Wijaya: Bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya. Lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Belajar menulis puisi sejak SMA saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya asuhan penyair Nanoq da Kansas. Puisi-puisinya pernah dimuat di Warta Bali, Jembrana Post, Independent News, Riau Pos, Bali Post, Jogja Review, Serambi Indonesia, Denpost, Tribun Bali, tatkala.co, balebengong.id, qureta.com dan Antologi Puisi Dian Sastro for President! End of Trilogy (INSIST Press, 2005) serta Mengunyah Geram (Seratus Puisi Melawan Korupsi) yang diterbitkan oleh Yayasan Manikaya Kauci, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Jatijagat Kampung Puisi (2017). Buku kumpulan puisinya berjudul “Catatan Pulang” diluncurkan Januari 2018 lalu. Bekerja sebagai wartawan lepas di Denpasar. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Sabiq Carebesth: Tentang cinta yang kehilangan bahasa

mm

Published

on

1

Terkadang cinta kehilangan bahasa
Maka ia berjalan dengan bisu
Terkadang cinta bukan lagi kata
Maka ia menghabiskan hari hari
Dengan berjalan menyusuri kota kota

Dari peron stasiun, melewati kesunyian
Terasing di pasar pasar masa silam
Membenam dan beku di lantai enam apartemen
Di antara gerimis yang ragu,

malam yang enggan, lautan yang membisu—
cinta enggan berhenti
Tapi kita telah kehabisan kata-kata.

 

2

Lalu pada malam yang rapuh
Kita bertanya tentang keindahan;
Tentang cinta yang kehilangan bahasa

Kita pergi dari kota ke kota
Stasiun, kafe kafe,
ruang tunggu bandara—
Lalu kita diam diam mengira,
Cinta seperti kanvas kosong;
Kita telah menuang semua warna;
Malam dan subuh; lelah dan terburu—
Dan kita sama tak tahu
Gambar apa yang kita kehendaki
Musim apa yang kita damba.

 

3

Lalu kita beringsut dari mimpi
Mendapati pagi yang basah oleh hujan
Taksi yang menunggu dalam sepi
Jalanan redup—
Kota yang tiba-tiba hampa
Seakan hanya kita yang terjaga
Hanya kesunyian menghampiri
Tapi kita pun tak sempat bercakap;
Kita harus pergi
Dengan cinta yang tetap tak kita pahami.

 

4

“Cinta adalah waktu yang ingin kita tempuhi
Meniti ujung jalan dan kota kota,
kafe kafe yang beku—
lampu lampu yang merona seperti pipimu,
Sebelum hujan melelapkan kita
dalam mimpi buruk—untuk berjalan sendirian;
Menziarahi kesunyian kota kota, hening kafe kafe,

lampu lampu jalan yang sedan,

jendela apartemen berwarna kabut—dengan cinta
Yang tetap tak kita pahami.”


Sabiq Carebesth, Hong Kong—2019

 

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Agust Gunadin

mm

Published

on

Getty Images/ my verson of a great painting by robert-burns

Juni Menggerutu Pada Memilih

Masih seperti yang model kemarin

Kisah tentang waktu yang menggerutu dibahumu

Yang ingin ditepiskan pada suatu masa

Bahwa kau ingin segera memilih

Pada tempat ingin dipijak, pada ruang yang ingin bersahabat

Dan pada masa yang tepat sasar

Aku dan kamu telah menamainya

Namun sedang merajut tentang suatu nama itu

Tentang “berkuliah”

Yang tepat sasar, kata seorang kakek dalam perutusan

Agar kau jangan asal pilih

Sebab memilih sebuah konsekuensi

Sekali pilih “itu sudah”

Cbl:Pau, Juni 09

 

Cukup Meringankan Saja

Jika senja sebelumnya, kami menikmati kelegahan

Namun, senja pada hari itu berubah semburat merah

Sebab ada pilihan yang tersengal

Tak kala pendidikan bisa terapung

Lantas, ada waktu untuk merenung

Bukan! Merenung lalu menikmati

Tetapi merenung karena kami terbirit meraih angan

Angan kami pun jelas!

Menutup lubang yang masih terbuka

Bagaimana kami ke sana

Jika pada kini dan di sini

Menganga dan tercengang, kata mereka ilmu itu mahal

Maka jelas dibayar mahal

Kami pun mulai lunglai, berpikir pun agak meradang

Tatkala ilmu yang ingin dicari

Tergeletak pada ekonomi kami yang masih terpuruk

Mengeluh adalah cara kami

Mungkin yang di seberang sana peduli

Agar kami tersenyum sumringah

Bahwa kami butuh pendidikan yang perlu diringankan

Gnd: San Camillo, Mei 2019

Dilema Sebuah Lilin

Sengaja kudekapkan dengan lilin, sebab ia seringkali indah pada cahaya

Dan hangat untuk asa

Kita yang ingin menjadi (maha….)

Sesekali bertumpu pada lilin

Yang memampukan untuk kehangatan

Yang membawa asa pada cahaya

Menerangi lorong yang masih gelap

Menghangat yang masih peluh

Mengata untuk mewakili yang bisu, sebab seringkali

Kita keenakan untuk menjadi bisu

Lantas, penerangan ditindis api kebisuan

Dan kehangatan ditimpas asa kelesuan

Yang ingin menjadi (maha…)

Menjadi duta untuk menuntaskan

Maumere, 0609: GND

__________

*) Agust Gunadin, Mahasiswa STFK Ledalero, Ketua Kelompok Sastra di Seminari Tinggi St. Kamilus-Maumere. Beberapa puisi pernah dimuat di Pos Kupang, Warta Flobamora, Majalah Simalaba-Lampung, Floresmuda.Com, Gita Sang Surya-OFM dan Media online.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Aditya Ardi N

mm

Published

on

mumu

 

petiklah bianglala di dada ibumu

sebelum bintang mati dan bulan berlayar menjauh

 

ciptakan langitmu sendiri

yang berbeda dari langit marah kota ini

dengan tembakan laser dan merkuri

⎼dikutuk tunduk pada polusi

 

menarilah, mumu

dengan keriangan sebagaimana mustinya

sebelum kau kenali kutukan hari-hari

seperti mahalnya harga susu formula untuk bayi,

dokumen penghilang ingatan

serta agenda kerja yang memangkas usia

 

teruslah tersenyum, mumu

sebab hanya dengan itu hidup yang keras bisa dikalah

hanya dengan tersenyum, mumu

dunia akan dipenuhi belas kasih

dan cahaya cinta yang acap terlupa umat manusia

 

dangdut koplo rapsodi

 

dangdut koplo adalah obat

bagi rakyat melarat

ia beri bunyi bagi sunyi

yang kekal mengendap di lokalisasi

 

di dolly, di dolly

ia nyatakan diri untuk pertama kali

sebuah susunan notasi

mengurapi seluruh pelacur dan mucikari

merasuki seluruh ranjang dan sprei

menggoyang larik-larik larut menuju pagi

 

meski waktu terkutuk kedaluwarsa membungkus dolly

di sini, di jambon gang sempit ini

dangdut koplo bakal abadi

mengorkestrasi kehampaan hari-hari

 

  madah bagi para biduanita orkes

 

/1/ arlida putri

tak hanya berdiam dalam mikrofon

suaramu debur ombak

yang tidur dalam pikiranku

sapuan angin yang kini bersarang

di hulu jantungku

 

o, betapa cantikmu serupa pisau

berkilat dan mengacung ke arahku

 

tanpa bedak—tanpa gincu

kupuisikan namamu

dalam bait sunyi sajak ini

 

/2/ niken yra

 

seluruh isi dadamu adalah puisi

yang tak henti aku bacai

 

o, biduan

kerling nakalmu,

merogoh dalam-dalam lipatan jiwaku

yang selalu ingin menari dan hanyut bersamamu

 

suaramu api yang menjilat-jilat kayu tubuhku

begitu kusaksikan kau bergoyang—berdendang

teror mengambang di puncak siang

terbakar habis aku jadi abu

 

/3/  tasya rosmala

 

gendang telingaku adalah penampung terbaik

bagi pertikel sendu basah suaramu

seluruh getarnya aku rasakan

ia beresonansi menembusi urat nadi

hingga terpicu detak jantung ini

 

lewat larik-larik  yang naif

kita lantas rajin bertemu

di panggung-panggung orkesan

di kaset vcd bajakan dan sesekali di televisi

kemudian begitu saja kau kuakrabi

 

biduan,

barangkali hanya dalam puisi ini

lagu dangdut koplo begitu berarti

dan tak bakal mati

 

penggemar orkes garis keras

 

setelah seliter arak beras tandas

segera kami bergegas

menyerbu gelanggang dangdut

dimana hati dan pikiran kami tertaut

 

kami datang dengan hati riang

meski hidup kian keras meradang

oleh tagihan dan himpitan hutang

seirama kendang kami bergoyang

seturut dendang segala sakit hilang

 

pantat bulat biduan dangdut

bikin kami melupa anak istri

membawa kami jauh terhanyut

menepi dari kutukan hari-hari

 

di altar panggung orkes ini

kami akan terus bejoged, terus berjoged

hingga kami dapati cara  menyiasati

hidup yang telanjur koplo ini

 

saweran

matamu goyah

di hadapan lima ribu rupiah

mengasingkanmu dari pengertian ibu dan ayah

 

cium tangan biduan

 

aku cium tanganmu

dan sedikit terangsang

dan tuhan tahu itu

dan aku malu

tapi mau

_________

*) Aditya Ardi N: Penyair, lahir di Ngoro – Jombang, Jawa Timur 7 Januari 1987. Buku  Puisi  tunggalnya Mobilisasi Warung Kopi  (2011), Mazmur dari Timur (2016) .  Beberapa  karya puisi dan esai dimuat di media online/cetak  lokal maupun nasional serta  beberapa jurnal kebudayaan. Kini tinggal dan berkarya  di  Jl. Musi no 137, RT 02/RW 02, Dusun Gresikan, Desa Ngoro, Kec Ngoro, Kab Jombang,    Jawa Timur  kodepos: 61473. HP 0812-3374-0285 IG: @mas_genjus

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending