Connect with us

Puisi

Puisi Puisi Angga Wijaya

mm

Published

on

Lorong

/1/

Aku datang, senantiasa. Bicara tentang hari terlewati,

juga kenangan yang berlalu seperti angin. Terluka oleh

waktu yang menelikung diam-diam. Nasib? Entahlah

Kita adalah penulis takdir, terpatri di kening seperti

para tetua katakan. Jangan bersedih, cinta masih ada

selama kau percaya padanya. Di rumah sakit ini,

kesedihan merayapi lorong bagai hantu gentayangan

air  mata tumpah, kematian begitu menakutkan

ia bisa datang kapan saja tak kenal waktu.

 

/2/

Tiga tahun aku mengenalmu, setiap bulan datang

meminta penawar sakitku, penyakit yang hancurkan

mimpi dan harapan. Aku tak menyerah, masih banyak

kawan bernasib lebih buruk, terbuang dan dikurung

dalam kamar sempit berterali, terpasung dengan sorot

mata nanar penuh amarah. Kau bebaskan mereka,

melepas rantai yang mengikat kaki. Masih ada harapan,

seperti Wayan yang kini bebas dan bersemangat

 

/3/

Kulihat pasien menunggu di lorong

Terpancar harapan di matanya

Duka-lara sirna perlahan

Berganti suka-cita, tertawa hadapi

hidup yang kadang bagai lelucon

Seperti juga aku, kutulis puisi

Untuk sembuhkan luka di dada

Masa lalu berlalu bagai kuda pacu

Berlari dan menerjang segala kelu

2018

Gang Pipit, Sesetan

 

I see skies of blue
And clouds of white
The bright blessed day
The dark sacred night
And I think to myself
What a wonderful world

   -Louis Armstrong

 

Ambil gitar itu, nyanyikan lagu

Seperti dulu saat kau remaja

Bernyanyilah, agar beban sirna

Hidup makin terjal dan berat

Kau jalani dengan senyum

 

Apa lagi tersisa, air mata

menetes di malam sepi

Teringat kampung halaman

Kawan-kawan sepermainan

Langgar adalah tempat setia

Pelarian dari segala duka

Saat ibu marah memukulimu

Ayah tak bekerja, sementara

anak-anak lapar ingin makan

 

Lagu lama mengalun pelan

Ditingkahi suara gitar

Di siang yang panas

Segelas kopi temani

Percakapan kita

Adakah yang lebih bahagia

Kita bertemu di ruang tamu

Berbagi kisah masa lalu

Kenanglah! Hapus air matamu

Jangan bersedih. Tuhan bersama

kita, orang-orang terlupakan

Digilas waktu yang nisbi

 

2018

Suara

Kututup pintu, agar suara-suara tak terdengar

Menghina dan merendahkan, berasal dari

tetangga yang berbincang di kamar sebelah

 

Mereka tak paham aku penulis

Tak bekerja seperti orang normal

Pergi pagi dan pulang di sore hari

Aku jarang keluar kamar

Kuhabiskan hari dengan membaca

dan menulis, kukirim ke koran

mendapat honor untuk bertahan

hidup. Mereka tak tahu penulis itu apa

Mengapa lebih sering di  kamar

Tenggelam dalam imajinasi

Kutulis puisi dengan segenap daya

Idealisme kujaga bertahun-tahun

Tak menyerah pada hidup, di negeri

yang menganggap sastra hanya

khayalan dan bualan.

 

Suara-suara itu tetap kudengar

Masuk lewat lubang angin

Aku mencoba tak peduli

Kutelan obat redakan itu

Berharap semua tak nyata

Berasal dari pikiranku sendiri

Seperti dikatakan psikiater

“Skizofrenia paranoid,” sebutnya

Tak ada yang membicarakanmu

Tak ada yang peduli padamu 

Sepatu dari Kawan

Aku bekerja dengan pakaian sederhana; jeans lusuh dan kemeja pemberian kakaku, juga sepatu yang juga pemberian orang.

Sepatuku robek dan bagian bawahnya hampir terlepas. Waktu itu aku baru bekerja di kota setelah bertahun-tahun mendekam di kampung halaman akibat skizofrenia. Aku belum mendapat gaji sehingga belum mampu membeli sepatu baru.

Kawanku prihatin melihatnya. Suatu hari ia memberikanku sepatu miliknya. Aku memakainya dengan perasaan sedih; betapa buruk hidupku, tak ada yang bisa mengubahnya selain diriku sendiri. Aku berjanji pada diriku untuk giat bekerja, agar bisa membeli jeans, kemeja dan sepatu baru.

 

2018

 

Jaket dari Ayah

Dulu sekali, sewaktu aku remaja ayah membelikanku jaket berwarna cokelat. “Ini jaket dari Korea,” katanya. Aku senang sekali, tiap hari jaket itu kupakai,saat itu aku jatuh cinta pada puisi dan merasa menjadi penyair tiap kali pergi memakai jaket itu.

Aku tahu ayah membelinya di toko pakaian bekas di kota, loakan menjadi pilihan bagi orang miskin seperti kami. Aku tak mau menanyakannya lebih dalam, kepedulian ayah merupakan hal luar biasa bagiku.

Jaket itu menemaniku hingga bertahun-tahun kemudian, merantau dan bekerja di kota sambil terus menulis, puisi-puisiku menghiasi koran dan dibaca banyak orang.  Aku memakai jaket dari ayah saat diundang membaca puisi di festival sastra kenamaan yang dihadiri  penyair terkenal. Jaket itu juga menemaniku saat ayah dirawat berminggu-minggu di rumah sakit sebelum akhirnya dibawa pulang dan meninggal beberapa hari kemudian.

Kini jaket pemberian ayah telah rusak, lapuk dan robek di sana-sini. Aku tak memakainya lagi dan menyimpannya di lemari. Jaket penuh kenangan, dibeli dari keringat dan kebanggaan ayah sebagai sopir taksi di kota, jarang pulang untuk memastikan kami bisa makan dan tak kelaparan di kampung halaman.

 

2018

 

kenangan di rumah sakit jiwa

kopi di sini nikmat sekali

dibawakan tiap pagi menjelang

“kopi, kopi, kopi,” suaranya

bangunkanku dari mimpi

kami minum bersama

ada yang meminumnya

saat panas, tanpa takut

terbakar

 

orang-orang menyebut

kami gila, dan kami

menyangka merekalah

penyebab kami berada

di rumah sakit ini

di ruangan berterali

bersama orang lain

yang juga disebut gila

 

matahari meninggi

saatnya mandi

lalu makan

dan minum obat

sementara ruangan

dibersihkan dari

segala kotoran dan

serapah, juga

tangis kami semalam

 

aku tak tahu

sampai kapan di sini

rinduku pada rumah

semakin menebal

ingin sekali menelpon

“kapan ke sini menjemputku,

kalian membiarkanku

membusuk bertahun-tahun

di tempat asing ini”

 

kudengar kabar

pasien yang lari

atau bunuh diri

sebab hidup tak

penting lagi

tak ada cinta

untuk kami

 

2017

 

Buku-Buku Tak Bisa Menolongmu

Akhir bulan saat kantongmu menipis kau gelisah

Pulang ke rumah kau temui anak-istri terdiam

Tabungan tak ada lagi, habis untuk makan dan

pengeluaran lain. Juga untuk rokokmu, membuat

istrimu kesal dan sering marah padamu.

 

“Pilih aku atau rokokmu!”  bentak istrimu

Kau hanya diam lalu pergi berlalu. Kau mencintai

rokok sebelum mengenal istrimu. Penuhi paru-paru

dengan asap nikotin dan tak bisa lepas darinya

 

Menuju kamar, tumpukan buku temani harimu

Bertahun-tahun kau kumpulkan, jadi amunisi

kala menulis bagi penulis-seniman sepertimu.

Tak semua buku kau baca, ada yang bertahun-

tahun tak kau sentuh hingga berdebu dan kusam

Saat seperti ini buku-buku menjadi benda mati

Mereka tak bisa menolongmu. Pengarang mati

sebelum kau membacanya. Tak ada lagi yang

berharga. Hanya tumpukan debu dan kelu.

 

“Jual saja buku-bukumu. Koleksimu langka”

Temanmu berkata suatu malam. Kau bimbang.

“Masih ada uang?” istrimu selalu bertanya

Kau makin gelisah kemudian setengah berbisik

meracau tentang nama-nama yang kau ingat

Dostoyevsky, Nietzsche, Camus, Virginia Woof,

Pramoedya, Wiji Thukul, Rusmini, Cok, Nanoq

Bibirmu bergetar menyebut mereka, kau berteriak

dan berlari ke jalan, hingga orang-orang memanggil

polisi pamong praja untuk meringkus-membawamu

ke rumah sakit jiwa. Kau mengidap skizofrenia!

 

Di kamarmu tak ada buku-buku dan kau bukan

penulis. Sewaktu kecil kau ingin menjadi penulis

Orang tuamu menjadikanmu pegawai bank

Di bank kau kerap membaca puisi keras-keras

Kau dipecat dan dianggap sakit jiwa. Kau belum

menikah dan tak punya kekasih. Tak ada perempuan

yang mau dekat denganmu. Kau menjadi pemurung,

sering menyendiri di kamar bersama bayanganmu.

2018

*) Angga Wijaya: Bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya. Lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Belajar menulis puisi sejak SMA saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya asuhan penyair Nanoq da Kansas. Puisi-puisinya pernah dimuat di Warta Bali, Jembrana Post, Independent News, Riau Pos, Bali Post, Jogja Review, Serambi Indonesia, Denpost, Tribun Bali, tatkala.co, balebengong.id, qureta.com dan Antologi Puisi Dian Sastro for President! End of Trilogy (INSIST Press, 2005) serta Mengunyah Geram (Seratus Puisi Melawan Korupsi) yang diterbitkan oleh Yayasan Manikaya Kauci, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Jatijagat Kampung Puisi (2017). Buku kumpulan puisinya berjudul “Catatan Pulang” diluncurkan Januari 2018 lalu. Bekerja sebagai wartawan lepas di Denpasar. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Puisi

Puisi Faris Al Faisal

mm

Published

on

Ritus Barikan  

jika hasil bumi dan laut melimpah ruah

orang-orang pesisir pantai utara berkenduri

menggelar tumpeng dan nasi kuning

hasil kebun dan ladang tiada terbilang

berjejer di simpang jalan desa

orang-orang kampung berkerumun

tiada yang merasa lebih tinggi

menghadap ke meja panjang tanpa kaki

hiruk-pikuk riuh rendah saban cerita

bulir-bulir padi yang kuning membunting

ikan-ikan di perahu yang menggunung

petani menanam padi memanen rembulan

nelayan melempar jala menjaring matahari

butir-butir garam diremas jadi gemintang

syukur diungkapkan dengan barikan

memanjat ke pohon doa

batangnya menyentuh langit

 

Indramayu, 2018

 

Ritus Jathilan

di kampung pesisir yang ditumbuhi pohon mangga

anak-anak bermain jathilan di pekarangan

kuda-kudaan yang dianyam dari bilah bambu

kulit sapi atau kerbau hitam bertanduk

menari dengan jiwa yang tak takut mati

dipandu pawang sebagai panglima perang

pecahan beling berguling-guling

ujung-ujung paku diinjak tak berjejak

jaranne jan thil-thilan tenan, sebut mereka

diceritakan dalam permainan rakyat

sebagai mengenang kisah heroik

raden fatah dan wali sepasukan kuda

kocar-kacirkan serdadu belanda

maka kami tiada berhenti meneladani

berkuda menjaga domba-domba di ladang

dari serigala berbulu domba

 

Indramayu, 2018

 

 

Ritus Bersih Desa 

 

pagi pukul tujuh —saat embun yang menempel di dedaunan

terlerai hangat mentari— lelaki-lelaki desa

membawa cangkul, pedang panjang, dan peralatan lain

menuju ke jalan, selokan, sungai

pekuburan, masjid dan kantor kepala desa

bersih-besih desa

di halamannya tikar-tikar digelar

dengan sejumlah makanan

setelah semalam perempuan-perempuan desa terjaga

seperti dibangunkan dayang sumbi

menyalakan api dalam tungku-tungku berisi periuk nasi

memerahkan wajah langit

menyedekahkan hasil bumi yang melimpah ruah

kepada segenap orang sekampung

 

di sini kami menghayati pemberi kesuburan tanah

orang-orang menyebutnya dewi sri

 

Indramayu, 2018

 

 

Ritus Wayang 

 

di kantor kepala desa atau di rumah hajat

bunyi gamelan sayup terdengar hingga jauh

tembang kiser pesisiran mendayu-dayu

menebal dan menipis dalam orkestra klasik

bertalu-talu mencipta tetalu waktu

 

dari kulit-kulit sapi yang dikeringkan

tokoh pewayangan dibuat bayangan

sebagai pagelaran di kelir layar

sekotak kisah dilakonkan dalang

 

ada pengajaran tentang darma

cerita ramayana dan mahabharata

pitutur tuntunan dalam tontonan

 

dengan lakon-lakon kisah yang diperankan

manusia adalah wayang di tangan dalang

 

Indramayu, 2018

 

 

Ritus Ruwat 

pada jiwa-jiwa yang berlelehan ceceran dosa

rambut sukerta dipotong sebagai umpama

dari kemalangan badan

kesialan terputus

 

cerita murwa kala digelar semalam suntuk

pementasan pewayangan oleh sang dalang

batara kala sang raksasa

mencari mangsa

 

anak-anak sukerta dijaga dengan perlindungan

diruwat pada hari telah menjadi siang

dalam perhitungan hari

dan pasaran

 

sebab kasih dan sayang menguar

moyang tiada ingin membiar

bahaya datang mengular

selamat anak dan cucu

 

Indramayu, 2018

*) Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), dan Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018) sedangkan karya non fiksinya yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Faris Al Faisal

mm

Published

on

Ritus Pengantin 

di matamu. Embun puisi mengumpul bagai titik-titik

pointillisme memberikan gradasi warna pada pipimu

yang basah. Pekat kabut yang tercipta di malam

rembulan disungut awan sirna diserbu wangi melati

yang bertaburan di mahkotamu. Di depan rumahmu

layur yang dirajut dalam ayaman janur berbentuk

mayang mengucap selamat datang pada setiap tamu

undangan. Dan rasa syukur mengalir dari sungai

doa yang menyeberang bantaran. Kucium gerai

rambutmu yang panjang dan hitam dibasahi

keringat kasih. Seperti puja yang terucap pada

pencipta sebaik-baik wujud. Dan kau menjadi

kelopak yang merekah dihinggapi gemuang

kumbang. Kuseka air mata yang menguras

pada wajah langit yang biru. Merangkak

membawa mahar untukmu. Salamah

 

Indramayu, 2018    

 

Ritus Kelahiran    

tangismu. Memberi senyum pada wajah yang cemas

menunggu dengan doa yang tiada henti. Tapi kau terus

menangis hingga di mulutmu menyatu dengan puting

yang memberi tetes-tetes kasih. Seperti guci menuang

air pada cangkir yang belum terisi. Kini di matamu

langit yang biru memberi warna pada cerah wajah

yang masih begitu polos. Sementara waktu tertatih

menunggu hari tali pusarmu lepas. Merambah jamuan

sekeliling kampung bagai sebuah arus sungai

yang memberi catatan sajak-sajak celoteh

bagi nama yang masih asing. Zamzani

Indramayu, 2018

 

Ritus Kematian

di keranda. Tubuhmu digotong menuju taman

bunga kamboja. Bau tanah tercium seperti dekat

sekali dengan lubang hidung. Seperti tadi pagi

jenazahmu dibasuh, dikafankan dan disalatkan

pada musala. Gerbang langit berderak terbuka

menunggu ruhmu diangkat. Langit yang biru

seketika menitikkan gerimis tangis. Bunga-bunga

merekah di atas gundukan tanah. Menahan hatimu

yang gemetar berjumpa malaikat kubur. Dan kau

menghitung hari-hari berapa lama terbaring

dalam tidur panjangmu. Sebaris doa yang terucap

mengenyahkan mimpi buruk. Kau tersenyum

memeluk indahnya ilustrasi yang tergambar

di kepala. Tentang negeri abadi yang kau puja

akan singgah dan menetap selama. Di sana

Indramayu, 2018

 

Ritus Hujan 

gerimis tangis pada mata langit adalah hujan

yang ditunggu. Angin yang bersuit berirama

membawa pesan. Tentang kemarau yang lelah

menahan haus. Dalam kering kerontang daun

beterbangan. Dan kawanan burung yang migrasi

menjadi penanda ritus ini. Saat Orang-orang mulai

mengolah tanah. Menyebar benih pada setiap

lahan dalam rahim tanah. Musim membawa

air yang mengalir seperti mimpi-mimpi orang

pesisir yang terus mendesir. Pada setiap bau

tanah dan lumpur adalah cinta. Ditabalkan

segala kasih dalam tanah dan air. Seperti

kesetiaan pelangi mewarnai biru langit

hatimu. Dan hujan membungkus kisahku

Indramayu, 2018

 

Ritus Sungai 

mengantarkanmu mencium riak sungai

papan geladak disusun serupa jalan

lelaki-lelaki pesisir mendesir

tangan kekar mencengkeram akar

tujuh bunga dikalungkan pada haluan

beras dan kunyit dipercikkan sampai buritan

asap kemenyan menebar segala harapan

ikan-ikan akan meloncat ke badan perahu

kepada siapa doa dipanjatkan

agar hidup terjaga dari kesengsaraan

nun dikejauhan bunyi gitar dan suling

mengiringi tembang pesisiran

melepas pelaut berlayar

memeluk mesra samudera

Indramayu, 2018    

 

Ritus Laut

dengan sebuah upacara adat

orang-orang pesisir memberi makan

pada ikan-ikan yang telah memberi kehidupan

 

sebab moyang kami mengajarkan

tentang hidup dengan saling berkasih

seperti nuh yang memberi cinta pada manusia

 

Indramayu, 2018

_____________

*) Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), dan Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018) sedangkan karya non fiksinya yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).

Puisi, cerma, cernak, cerpen dan resensinya tersiar berbagai media cetak dan online seperti Kompas, Tempo, Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Radar Cirebon, Radar Surabaya, Radar Sulbar, Radar Banyuwangi, Media Jatim, Merapi, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Bali Post, Bangka Pos, Magelang Ekspres, Malang Post, Solopos, Suara NTB, Joglosemar, Tribun Jabar, Tribun Bali, Bhirawa, Koran Pantura, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Fajar Makasar, Serambi Indonesia, Majalah Simalaba, Majalah Hadila, Majalah Suara Muhammadiyah, Tabloid Nova, IDN Times, Sportourism.id, Puan.co, Nyontong.Com, takanta.id, Jurnal Asia, dan Utusan Borneo Malaysia.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Aghosh Kembara

mm

Published

on

Menolehlah Manis, Menolehlah

menolehlah manis, menolehlah

biar tampak itu wajah serupa Zulaikha

biar tak melulu cermin mendapat berkah

mata ini pula ingin merasakannya

betapa cantik itu tak ada cela

 

tahulah aku bukanlah Yusuf

tak tampan rupawan menggoda-goda

tak mampu menghasut pisau mengiris-giris jari pula

tetapi hati di dalam cangkang ini bolehlah diadu

takkan kalah dengan pujaanmu si blacan itu

 

menolehlah manis, menolehlah

pujian takkan keluar dari cermin

 

menolehlah manis, menolehlah

biar aku saja memujimu

 

menolehlah manis, menolehlah

lelah aku diamuk mimpi

Asoka, 2018

 

Berhentilah Mengeluh, Sayang

berhentilah mengeluh, sayang

hidup hanya perjalanan cerita

tak baik dibuat susah sampai berduka

bulir demi bulir itu usah cuma-cuma dibuang

 

coba lihat mereka, sayang

satu keluarga tak bisa menengok sunyi kota

tak tahu beda malam dan siang

tapi tak pernah aku lihat mereka berduka

si ibu dan ayah tabah mengurusi dua anaknya

betapapun anak susah dijinakkan pula

 

berhentilah mengeluh, sayang

kubur segala prasangka buruk di dalam ceruk

biar segala duka berguguran

biar di bibirmu itu senyum bisa bertumbuhan

biar tersumbat jalan bulir-bulir kesedihan

 

berhentilah mengeluh, sayang

dan berilah mata ini waktu

sejenak sampai di alam mimpi

 

berhentilah mengeluh, sayang

Asoka, 2018

 

Satu-satu Pasti Sampai

satu-satu pasti sampai

tak usah kau ragu-ragu meyakini

tak ada kata mendadak pulang

tak perlu ada kata tak bilang-bilang

 

tak ada beda

disayang atau tak disuka

diharap-harap atau tak berguna

bila daun jatuh apa bisa dikata?

 

kau boleh umbar berimbun tanya

berpuluh-puluh kutuk pun boleh juga

tapi tahulah kau itu tiada guna

Izrail pasti bilang kau itu gila

 

satu-satu pasti sampai

tak ada pilihan ganda

tak ada negosiasi

tak ada bincang-bincang soal puisi

 

satu-satu pasti sampai

kenanglah kelak aku sebagai puisi

Asoka, 2018

 

Lepaslah Buhulmu Untukku

 

lepaslah buhulmu untukku

tak kan pernah aku menghalaunya

soal tidur tak nyenyak atau makan tak enak

percayalah, rela aku sungguh-sungguh!

 

lepaslah buhulmu untukku

biar tidur ditumbuhi bunga-bunga

biar jaga ditumbuhi asa-asa

menjadi gila pun tak mengapa

 

lepaslah buhulmu untukku

tak kan pernah aku menghalaunya

sumpah!

Asoka, 2018

 

Di Bawah Bulan Perahu

di bawah bulan perahu

kau pernah menjadi kupu-kupu

mengepak-ngepak sayap merayuku

berputar-putar seperti lupa malu

 

saat lelah kau hinggap di bahuku

terdengar napasmu seperti dipompa

tahulah aku kau mudah hilang tenaga

maka kubiarkan matamu tidur semaumu

 

sebab bulan perahu tak bisa menyalang

jadilah malam serupa kain hitam

mengaburkan bulu-bulu kehidupan di dua sayapmu

yang mungkin sudah mulai gugur satu-satu

 

ketika bulan perahu bergeser

kau pun bangkit lagi membawa sayapmu

terbang bak peri kahyangan

lagi-lagi demi merayuku

 

tetapi di bawah bulan perahu kala itu

bibirku serupa batu

bergetar-getar menahan bulir getir

hendak menetas-netas di sudut mataku

Asoka, 2018

 

Senja di Bawah Senja Itu

Senja di bawah senja itu

tak terbuat dari jingga

Tetapi coklat tua

kumpulan dosa-dosa

 

Ia memang suka hinggap

di beranda orang diam-diam

Bukan hendak bicara soal senja

yang rentan tenggelam

musnah oleh gelap

Tetapi mengunyah bangkai saudara sendiri

tak malu-malu hingga busa di mulut buncah

tiada terkira

 

Senja di bawah senja itu

suka meratap bila tinggal sendiri

bicara tak keruan soal hidup tak keruan

misuh-misuh dan mengutuk kesunyian

Ia juga suka meramal kematiannya sendiri

yang katanya masih lama dan tak perlu dikhawatiri

 

Senja di bawah senja itu

pernah menenggak hujan berkali-kali

yang netas dari sudut matanya sendiri

Asoka, 2018

 

*) Aghosh Kembara. Lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980. Tinggal di Sumenep. Bergiat di Komunitas Labita. Puisi-puisi saya pernah dimuat di Kabar Madura, Surabaya Post, Suara Karya, Lini Fiksi. Saya bisa dihubungi di nomor 085856524605. Pos-El: aghoshkembara@gmail.com.

 

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending