Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi Ahmad Radhitya Alam

mm

Published

on

PENA-PENA LITERA

 

Pena-pena menari di atas kanvas litera

dengan tinta yang terus menggulirkan asa

menyusun kata imaji, emosi jiwa

sambil mewarna dunia menuju senja perenungan

yang penuh dengan temaram angan

 

Doa-doa ritus terus berkumandang

menggantungkan asa pengharapan

menjadi lentera dari kekosongan

guna meraih jiwa-jiwa yang tenang

 

Menggapai sinar gemintang adalah tujuan kita

Seperti lentera yang terus membara

bakar semangat yang tak pernah padam

sebelum sauh pengharapan menghujam

menorehkan aksara jiwa

mencetak sastra semesta

 

Aksara adalah lentera

Dan buku adalah jendela dunia

Di situ kita akan mengarunginya

Bersama mendayung kata-kata

Menuju dermaga literasi

guna berbakti, berkarya

serta mengabdi di muka bumi

 

Blitar, 22 Februari 2017

 

DIORAMA PUISI

 

Puisi adalah bahasa jiwa

larik-larik kata imaji

yang berdesakan mencari arti

menebas segala ambigu dan persepsi

dari setiap kegamangan yang nyata adanya

 

Puisi adalah kejujuran

makna yang tak pernah berdusta

diantara kepicikan kata yang diumbar bebas

menari-nari bertebaran tanpa batas

 

Puisi juga adalah perempuan

menyimpan rahasia yang tak terpecahkan

sembunyi dibalik kata-kata yang menggoda

hingga hilang diantara rima-rima tak berpola

 

Dan puisi juga adalah kau

yang tanpa lelah melahirkan karya

dengan berbakti serta berarti

kepada negeri ibu pertiwi

 

Blitar, 28 Februari 2017

 

ULANG TAHUN

 

Telah kau lalu jutaan detik

waktu-waktu dari masa lampau

yang tak tersisa untuk kata sia-sia

telah kau isi dengan bakti, karya, dan arti

melukiskan pelangi kehidupan

dalam lingkaran pena

 

Telah berapa lama ku tunggu

Kuhabisi milyaran detik

Ditemani guguran rintik

Guna menunggu ulang tahunmu

 

Gapai tanganku

Kita langkah bersama

Kepakkan sayap-sayap indah

Dan semoga usiamu selalu berkah

 

Kita adalah sepasang merpati

putih bersih dan akan selalu berati

menapaki mimpi-mimpi pengharapan asa

untuk taklukan dunia

 

Blitar, 22 Februari 2017

 

TENTANG WANITA DYSANIA

 

Pagi ini langit begitu pekat

Menyiratkan kabut yang begitu rekat

Aku terbayang akan rona rupamu

Namun telah buta tentang namamu

 

Kau wanita dysania

Yang senantiasa berwatak degil

Rautmu tampak niskala

Pada fajar yang mencipta gigil

 

Rindu ini telah sasar pada keniscayaan

Tentangmu yang memberikan harapan

Perihal kasih dan impian cita

Sebab cinta bukan hanya soal nama

 

Gubuk Niskala, 2017

 

SEBUAH LUKA

 

Luka ini menganga

terbuka semakin nyata

menyiksa relung-relung jiwa

sampai hancur tak karuan, berkat janji

mimpi tinggi yang nian tak terealisasi

 

Janji-janji suci telah ternodai

Kebohongan publik, korupsi, bahkan politik dinasti

Telah menjamur di daerah yang tak terjamah

Oleh penguasa yang beratas nama kepala daerah

 

Sogok-menyogok menjadi satu

malih rupa kekuasaan berkarakter bebal

sambil menelikung amanah otda

bermain mata dengan sanak saudara

mencipta politik dinasti untuk memanipulasi

harapan rakyat yang telah lama pupus dan

nyaris hangus

 

Negeri Mimpi, 29 Maret 2017

 

RANTAU

 

Al, kenapa orang pada pergi ke kota

dengan alibi sembukan nestapa

Padahal dunia punya luka yang sama

Kaweron, 17 Juli 2017

SILAM TENGGELAM

Zam, kau boleh saja memaafkan

Tapi tidak untuk melupakan

Niskala, 2017

Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar, pada tanggal 2 Maret 2001. Siswa SMAN 1 Talun dan santri di PP Mambaul Hisan Kaweron. Penulis bergiat di FLP Blitar, Awalita, dan Teater Bara SMANTA untuk belajar menjadi pengecer jasa peran dan perakit kata.

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Tak ada Vodka di Jakarta

mm

Published

on

“Tak ada Vodka di Jakarta”

 

Dalam perjamuan siang

Memakan domba

Sambil memamah luka

 

Aku memesan vodka

Untuk melarutkan duka

Menenggelamkannya diam-diam

Ke dasar jiwa

 

Hidup yang kecut

Waktu yang getir

Dengan itu kita kepayang

Dalam perjamuan siang itu

 

Waktu segera senja

Aku memesan lagi vodka

Tak kusangka aku tenggelam

Di lautan sajak yang malam

 

Pernahkah laut menjadi malam?

Dan sajak sajak mabuk kepayang?

Pada siapa ia memesan luka

Pada siapa ia bercerita

Tentang dukanya pada senja

Tentang kecewanya pada malam

 

Lautan tak punya kata-kata

Meski ia terbuat dari kata-kata

Lautan tak punya cinta

Meski ia dibuat dari asmara

 

Sajakku sajak kepayang

Dibuat dari vodka dan derita

Yang bergumul di awal malam

Lalu telanjang di kala subuh

Sendirian dan kedinginan

 

Aku memesan kopi

Untuk jamuan malamku

Tapi tak kubuat sajakku dengan kopi

 

Aku tak mau menulis sajak lagi

Aku ingin membuat laut

Aku ingin membuat malam

Dengan vodka dan duka

 

“Sudah malam, tidur.” Katamu

“Aku lelah berusaha tidur.” Balasku

 

Aku ingin memesan vodka

“tak ada vodka di Jakarta!”

__

“Sajak Cinta”

 

Telah kutulis sajak cinta

Tapi sajakku tenggelam

Di dasar kepahitan

 

Orang menyelam mengambilnya

Sebagai sublim

Tapi mereka tak membacanya

 

Maka aku ingin menulis sajak lagi

Sebagai dendam jiwa

Agar aku tak gila sendiri

 

Oh manisku

Sejak kapan sajak sajak itu

Berganti rupa jadi candu

Di mana orang-orang

Berpesta dengannya

Sementara kita

Tenggelam dalam kepahitan

__

*) Sabiq Carebesth: Penulis lepas, atau semacamnya. 

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Firza Yasmina

mm

Published

on

Perjalanan Pulang

 

Dalam rangkaian singkat waktu, masa berlalu cepat,

Jam jam dalam perjalanan pulang

Penat mengarung; aku bertahan.

 

Berdiri dempet dalam bis; waktu melambat begitu lambat

Orang berbondong mendahului satu sama lain

Bergegas beringas, batinku terasa guncang

 

Pulo Gadunggg, Cibuburrr, Kotaaa

Entah suara panggilan untuk siapa?

Seringkali aku hanya terdiam dalam barisan para penumpang,

Nanti waktu membawaku juga pulang,

Lalu sekejap dunia menari berdendang

dalam gemerlap lampu lampu remang.

 

Perjalanan pulangku terasa seperti waktu tak bergerak

Sebuah tindakan serupa, namun selalu saja dengan tempo yang tak berirama,

Muka asing yang lelah membeku dengan banyak koma,

Melukis kotaku sekaan ia sendiri ingin pulang.

 

Kamu tahu ada sekitar 135 langkah kecil

Kita telusuri di jembatan transjakarta,

Ada sekitar 49 anak tangga yang kita panjat untuk naik kereta cepat

15 garis putih dan hitam sepanjang jalan sudirman.

 

Tapi sekejap mata langit merah muda itu menjelma menjadi kehitaman,

merindu rembulan yang akhirnya kembali ke pemukiman.

Perjalanan ku pulang rasanya mudah dan sulit,

seperti menuangkan nya dalam barisan tulisan

yang sekarang kau tengah membacanya

dengan umpama-umpama yang terbata.

_

Zayasmina, 19/09/19

 

Patahan Hati

Maafkan saya yang setengah hati

Menanggapi dialog antara kita yang kian basi,

Tapi saya bisa apa,

Biar aku kembali terbenam

Dalam cinta yang fiksi;

……………………………………

Zayasmina, 09/23/2019

*) Firza Yasmina, terlahir di Ibu Kota Jakarta tepat 23 tahun yang lalu. Duta Bahasa DKI Jakarta 2017. Tinggal di Utan Kayu.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Ozi Marzuki

mm

Published

on

Kotamu Ingin Bunuh Diri

 

Ular naga panjang –Kata nyanyian kita waktu kecil

Menuju ke kotamu

Tapi tidak dengan kotaku

Mengangkut pikiran yang ingin pulang

Tapi raga memutuskan untuk tetap tinggal

Ada apa dengan kotaku dan kotamu?

keduanya penuh dengan persetujuan yang tidak disetujui

 

Kotaku tidak habis pikir pada dirinya

Terlalu banyak kesamaan dalam rupanya

Kata kotaku, kotamu juga demikian

Dia punya noda yang terlalu banyak

Hingga kotamu dianggap tidak suci

Meski sudah mencoba wudhu berkali-kali

 

Kabar terbaru; kotamu ingin bunuh diri

Tapi kotaku bilang lebih baik mengasingkan diri

Karena sendiri untuk sementara layak dicoba

Dibanding sendiri untuk selamanya

 

Satu kesempatan kota kita berbincang

Tentang Ibu yang dalam waktu dekat akan hilang

Memang selama ini Ibu merepotkan

Tapi pelukannya yang menghangatkan juga dirindukan

 

Ayah bilang Ibu pergi karena sayang

Tapi mana ada sayang tanpa kasih

Keduanya saling membutuhkan

Seperti kotamu butuh kotaku.

 

Tiga Pagi

 

Dari dengkur yang tersungkur di telinga

Kau telah berdua menindih aku yang ke-tiga

Kesendirianmu menemukan kesendirian lain;

Bukan kesendirianku

 

Bukan maksud ingin punya kesunyianmu

Tapi aku benci

Sunyimu berisik bukan dengan sunyiku.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending