Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi Agust Gunadin

mm

Published

on

Ketika Iman Butuh istirahat

Semua yang kau yakinkan butuh istirahat

Tak perlu resah, tuk secepat mungkin saling menyahut

Apalagi dalilmu itu, batas pada keyakinanmu saja

Akhirnya tak saling sepaham hingga perlu meregangkan jiwa

Imanmu menyelamatkanmu, kata-Ku di atas perahu Galilea

Jika memang kau kuat pada keyakinan itu, yakinlah ada keselamatan

Kau tak perlu berceloteh membela di depan umum

Sebab yang Ku-kehendaki bersujud di tempat sembunyi

Saudaramu tak perlu tahu, kau seringkali menyembah

Itu urusanmu!

Sebab dirimu hanyalah milikmu

Lagi-lagi tak perlu resah pada keyakinanmu, yakinlah!

Jika dalam dirimu ada keyakinan

Kau tak perlu menyanggah kebenaran yang lain

Sebab semua benar, hanya beda jalan, menuju

Kembalilah apa yang kau sebut iman yang memiliki harapan pada kasih

Hingga kau hidup damai, walaupun itu beda keyakinan

Kau hanya beda jalan tetapi saling menuju

Kepada sang Khalik

Pau, kentol: GND 082019

 

Balada anak minta air

Setelah bayi itu dilahirkan, dunia tersenyum dan menyapa

Lalu pagi pun merekah sehingga tahu ini kehangatan mentari

Bayi yang masih mungil menampakan ceria tanpa memikul beban

Sebab memang ibu masih memberi asuh dan asih

Membopongnya, ini ibumu anak!

Hingga bayi tertidur pulas

Ini memang hidup sejahtera dimiliki sang bayi

Tetapi, manusia punya fase untuk meningkat

Cerita saat masih bayi, kini berubah menjadi kanak-kanak

Maklum…

zaman kanak-kanak ingin tahu banyak hal

saat ibu, keluar rumah memikul tempat air

anak itu, mulai bertanya: aku ingin ikut bu!

Ibunya menyahut: tempatnya jauh, ibu ingin menimpa air

Bukan karena ibunya takut tetapi usaha mencari

Air di tanah kering, melahap lahan membuka sumur, memang sia-sia

Karena terpaksa ditolak, anak itu merenung diri

Bahwa hidupnya susah di zaman kekurangan air

Lantas, mau ke mana mencari air?

Tanyakan pada diri-mu dan mereka, kemanakah mencari air?

Saat kerongkongan mulai lelah akibat ketiadaan air

San Camillo, 240809

 

Ketika Nasib Membalut Luka

Di bawah pendar, indahnya pulau Nusa Bunga

Masih berdiri dalam sebuah potret

Yang nampaknya seperti ajal

Sebab, telah lama dimulai

Tentang Perdagangan Orang yang bertumbuh

Humus lagi indah dari kejauhan saja

Jika pemberian predikat wilayah toleransi

Patut diapresiasi

Lantas, menjadi kusam dan memperpucat

Bahwa orang kita sering diangkut dalam sebuah Koper

Yang tak bertuan! Dan mungkin bertanya: Kemanakah mereka?

Kita tak lagi bisa berlari

Ini memang nasib, kita yang tak punya berpijak

Soal hidup sejahtera

Katanya tak perlu belagu, sebab beranjak dari tanah ini!

Bias menikmati

Malaysia yang katanya “Ringgit Melangit” menjadikan hidup

Tak perlu kredit

Karena alasan nasib sekaligus ekonomi yang meradang

Gadis belia nan manis dan lugu, pergi…

Dengan hati yang tak karuan, dipicut gaji yang tinggi

Namun, apa? Tak disangka-sangka

Pulang hanya bawah dengan tangan hampa

Sebab segala gajian menjadi ratapan dan kreasi imajinatif para penyelundup

San Camillo, GND: Dohut, 060809

 

Kerinduan Menyoal Stunting

Memang kehidupan menjadi sebuah perdebatan

Sebab di dalamnya ada gelap dan cahaya

Cahaya selalu diimpikan

Namun, bagi orang yang Gennya bercahaya

Itu bukan impian tetapi sebagai akibat “kita ini keterunan sejahtera”

Bagaimana dengan kami?

Katanya “tubuh pendek” ini karena Gen orangtua

Lalu kini dilabeli kata metafora “Stunting”

Lalu cahaya mataku hanya menatap tembok

Sebab ini soal peradaban

Alih-alih pemerintah ingin menyentuh! Ini masalah kelam

Mengapa kita sering menyukai terlambat pencegahan

Daripada mengatasi

Riwayat stunting jarak mulai membentang, meluas dan menjangkit

Namun perlu kesadaran pilu selama waktu di punggungmu

Menanggung rindu dalam kata “sama-sama mengatasi”

Menjadi soal

Pemerintah jangan larut dalam APBD untuk keperluan beli ASPAL

Sebab garis ibu-ibu memiliki jejak

Mendapat asupan gizi, saat janin mulai bertumbuh

Lembah Pau: Kentol 082019

 

 

 

 

Sajak Berkarakter Menggaris Jejak

Apa yang bisa disentuh, ketika sekolah menjadi cacat!

Jika sekolah hanya menyentuh Kognotif

Lantas Psikologis yang memuat karakter

Belum ditempa secara matang

Kita sudah larut dalam mengacungkan kuantitatif lalu melupakan kualitatif

Untuk apa sekolah, jika pulang membawa

Busungkan dada, meninggi diri karena label Sarjana

Sedang masalah Korupsi, Pemerkosaan dan Pencurian

Masih saja termuat dalam kasus

Anak Sekolah Belum Berkarakter

Masihkah kita meninggi diri, saat kakek bertanya

Sebutkan empat pilar kebangsaan lalu

Kita dengan enteng menjawab, saya sudah lupa!

Kata lupa saja, berarti kita belum sepenuhnya menjadi terdidik

Memang dipinta tak bisa usai

Sekolah menjadi dipuja ketika embun-embun jiwa menjelma menjadi bijak

Dalam bertingkah dan berkata

Agust Gunadin: Pecinta Kata di San Camillo, Ketua Kelompok Sastra “Salib Merah”. Beberapa puisi pernah diterbitkan Pos Kupang, Warta Flobamora, Majalah GSS OFM, Galeri Buku Jakarta, Flores Muda dan media onlinenya

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Puisi Puisi Joe Hasan

mm

Published

on

Pelarian

pelarian yang percuma

melewati ladang, menyeberangi sungai

dari rumah sakit orang-orang berjiwa kacau

menemui nenek

berharap kejujuran

pembunuhan di samping rakit

siapa suruh

mengejar sampai kesini

perempuan tanduk

duduk santai di gubuknya

menunggu kabar

tanpa harus terkejut

darah sudah menjadi kawan

sejak kuda melepas perawannya

kini beranak pinak

dengan kutukan dan luka bernanah

dewasa tak ada arti

pelarian adalah cara

bercinta dengan damai

ternyata percuma

kosong

berujung mati

tersadar oleh penyesalan yang terlambat

mengapa harus lahir dari selangkangan

yang membawa kutukan hingga turunan

                                (Bau-Bau, 2020)

Ragu

kembali pada ragu yang mengudara

wajahnya masih terselip di sela-sela jari

waktu itu malam hari

tempat untuk ia berbohong

mata dengan pandai mencari meneranwang

lalu waktunya habis

selesai

bagaimanalah nasib rindu

terkungkung sudah

meratapi kisah malangnya

katanya sampai bertemu lagi

detik telah menahun

lincah nian mulut itu membujuk

janjikah?

atau hanya penghibur

wajahnya kembali lagi

namun ragu aku menghampiri

berbeda sudah temnpat kita

memang ada pesan singkat

aku telah lupa

isinya tentang menjemput pergi

wajahnya lesuh

akan kembali pada ragu

      (Bau-Bau, 2020)

Sudah Cukup

aku mengatakan sudah cukup

sebab penatku yang menua tanpa batas

dan kemalasan tiada tara untuk menggambar

kebejatan orang-orang dalam diari yang masih begitu polos

aku mencari tuhan dimana-mana

tak kenal letih

ternyata sedang di samping rumah

duduk menikmati kopi pagi

bercakap dengan matahari

semalam orang-orang liar itu berulah

tanganku tertarik

murkaku tertahan

mengapa sulit untuk menghadirkan benci

pada mata telanjang

setidaknya kesalahan itu tertanggung oleh tuannya

berhentilah berbesar ucap pada yang lembut

mereka marah

tapi tak pandai melampiaskan

sejenak

renungkan kembali nafas yang berulang kali berdegup

tuhan merencanakan banyak hal

kita tinggal jalankan hari ini

dengan segala keruwetan

dengan rindu yang tak tuntas

masihkah kita menunggu

aku ingin bergerak

kau juga

dimana kan berlabuh janji-janji kita

sekali lagi aku katakan cukup

sudah cukup

sudah cukup sempurna sakit yang kau titip

lagi pula kau tak lagi jadi kau

dan aku masih setia memuji

                                                                                      (Surabaya, 2020)

*) Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Kini Berdomisili di Surabaya, Jawa Timur.  Beberapa puisinya pernah dimuat di media lokal dan nasional.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Ayu Pawitri

mm

Published

on

DUKA

Pengulangan

sama halnya seperti kumpulan

kemuakan

pada yang tak kau harap

pada yang kau harap

ia tak menjelma

bermutasi

mengimitasi

dirimu

Lahirlah benci

yang Tuhan tanam

pada segala hal yang

yang kau masukkan

ke dalam

jauh, ke dalam

Denpasar, 2020

PERAYAAN

Menatap layar persegi empat

Menekan huruf-huruf

yang simetris

Bersimpuh

Memeluk dinginnya lantai

di rumah yang sepi

Kau berpidato

berucap selamat

pada tiap kepedihan

yang tak kau rasakan

Taka ada foto

ayah ibu tetap bekerja

Layar-layar hanya bisa

menangkap potret

diriku yang lalu lalang

Aku tamat

Denpasar, 2020

RAUP

Dalam riuh rendah

yang bukan kau

Ada kala

kau bungkam riaknya

Dalam dunia

yang tak kau kenal

Tetap kau simpulkan

tangan di bahunya

Dalam ruang

yang menyempit

Sempat kau lambaikan

kedua tangan

Dalam raga

yang kau ragukan

Tetap terselip

gurat di pipimu

Denpasar, 2020

*) Ayu Pawitri adalah mahasiswa Ilmu Politik tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi di Bali. Sesekali menulis, seringkali tidak percaya pada diri dan hanya menulis di blog pribadi.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Angga Wijaya

mm

Published

on

Suatu Hari di Tahun Epidemi


Jarum-jarum hujan menghujam wajahku
Seperti kenangan yang datang tiba-tiba

Menjemput ingatan entah tentang apa
Mandi bersama ibu dulu sewaktu kecil

Atau melihat tubuh telanjang kekasih
Bersama nafas yang makin memburu

Kota menjadi basah setelah panas itu
Wabah membuat kecemasan panjang

Berita kematian terus hadir di telinga
Kau bersedih melihat badut menangis

Berdiri di mal yang sepi tanpa pembeli
Di depan kaki kotak uang tak jua terisi

Kita ingin semua kembali seperti biasa
Bekerja dengan tenang penuh keriangan

Hamparan gunung terlihat di layar ponsel
Awan-awan di kotamu kabarkan rindu ini

2020


Menunggu Nasi Matang

Sup di meja telah dingin. Sambil menanak nasi,

aku asyik pandangi ponsel kabarkan kematian

dimana-mana. Detik demi detik, setiap hari.

Dunia kini bersedih karena wabah membunuh

jutaan nyawa. Kehilangan pekerjaan, banyak

orang menjadi depresi. Ada yang bunuh diri.

Katanya setelah ini lahir era baru, bumi

sedang membersihkan diri. Kematian

membuat sedih, kau belum alami hal itu.

Lelaki mengundang makan orang lapar,

baru saja ia kehilangan pekerjaan. Dia jauh

lebih mulia daripada mulut yang bicara.

Aku teringat nyanyian guruku, bersama

anaknya ia bergumami tentang ubi goreng

dan sayur bayam. Makan apa yang ada.

Nasiku telah matang. Puisi adalah angin

berlalu, sebab aku belum bisa membuktikan

apa-apa. Seperti lelaki pemberi makan itu.

2020

Jika Corona Berlalu


Katamu kamu bosan
Di rumah memakai daster
Mengurus cucian-setrikaan

Kamu sudah puas rebahan
Setelah membeli kebutuhan
   Digawai secara online
Kuota internetmu berkurang
Kamu merasa tak tahan lagi

Tak ada yang tahu kapan
         wabah ini berakhir
Kita teringat liburan terakhir
Kini tak bisa kemana-mana
Warga disarankan di rumah
       Agar tak tertular virus

Mal dan toko-toko tutup
    Karyawan dirumahkan
Tak ada lagi yang datang
Pengusaha susah, tak tahu
         mesti berbuat apa.

Jalan malam hari sepi
     Kota hampir mati
Kecemasan terbayang
Di wajah tertutup masker
Perawat diam menangis
Kematian di depan mata

Jika Corona berlalu
Ada yang menunggu
Tangan keriput ibu
   Kucium penuh haru
Bertemu kembali
Di rumah kenangan

2020

Catatan:
Puisi terinspirasi dari lagu @tante_moji yang banyak didengar di media sosial


*) Angga Wijaya, bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya, lahir di Negara, Bali 14 Februari 1984. Puisi-puisi tersebar di banyak media dan antologi bersama. Buku puisi terbarunya ‘Tidur di Hari Minggu’ (2020) merupakan buku kumpulan puisi kelima yang ditulisnya di sela-sela rutinitas sebagai wartawan lepas dan guru jurnalistik sebuah SMA di Kuta, Badung, Bali.

Continue Reading

Trending