Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi Afrizal Malna

mm

Published

on

TAMU MISTERIUS

Sayang sekali puisi ini telah dihapus ketika aku akan

membacanya. Seperti udara lembab yang menarik lenganku

untuk memegang yang akan jatuh. Ada apa dengan menghapus?

Lem, gunting, benang yang membuat bayangan tentang kawat

berduri. Aku menghapus kata hapus dari dokumentasi, seperti

keluar dari kawat berduri itu. kembali ke lem, gunting, benang

dari setiap kata untuk menyembunyikannya, menghilangkan dan

menghapusnya sekali lagi. Dan sebuah ketukan tak pernah

terhapus

 

Tamu itu menduga aku tidak memiliki kursi untuk mati, jika

tidak memiliki lantai untuk hidup. Menunggu. Ditunggu. Janji

jam tujuh malam. Ia suguhkan kata penghapus dari sebuah toko

buku kepada tamunya, seperti bayangan yang terlepas dari

tempatnya. Kamu tamuku yang aku tunggu dari kesalahan

mengetik kata hapus dari sebuah cerita tentang pagi hari

yang cerah. Kau sudah tidak sempat lagi merapikan yang tidak

bisa lagi dihapus, setelah puisi ini. penghapusnya membuat jam

5 sore, tembus hingga tak terlihat lagi kekosongannya

 

 

 

SURAT DARI BIJI KOPI

 

Bau kopi keluar dari napasnya, seperti jalan lurus yang

bagian belakangnya menghilang. Ia duduk di bagian

belakang dari bau kopi itu. Biji-biji kopi itu membuatnya

Ingin bergerak, antara air yang mendidih dan suhu

yang tak terukur dalam pikirannya. Bau kopi ini untukmu

Menangis, dan membiarkan kenangan membuat bingkai

bingkainya sendiri pada sisa kopi di dasar cangkirnya. Dan

ia kembali duduk di bagian belakang bau kopi, sisa hangat

antara pahit dan manis di lidahnya. “Cinta”, dia seperti

ingin jatuh, telungkup dan menggenggam semua yang

berjatuhan dari biji-biji kopi. Kapal-kapal yang bergerak

sendiri mencari bau kopi, kuburan petani kopi, cerita yang

saling mengunjungi dan menghapus pasir di pantai. Bau itu

mengikatnya lebih dalam dari semua yang mengabur di

depannya, dari semua yang menghilang di belakangnya

 

MENGGODA TUJUH KUPU-KUPU

 

Aku tidak berjalan dengan mata melek. Kau pergi dengan mata

tidur. orang di sini membawa beban berat. bukan soal melihat.

Dalam beban itu isinya sampah. Bukan pergi dan tidak tidur.

Kita sibuk mencari tempat membuang sampah itu untuk

mengisinya kembali dengan sampah. Kau pergi dengan mata

tidur. Aku tidak berjalan dengan mata melek dan tidak

mengukur yang terlihat. Kau latihan yoga dan menjadi tujuh

kupu-kupu. Aku melihat kau terbang dan tidak bisa ikut masuk

ke dalam kupu-kupumu. Keadaan seperti gas padat dalam lemari

  1. Tetapi tidak ada ledakan. Aku tidak mendengar suara

ledakan dalam puisi ini. Di sini hidup menjadi mudah karena

memang hidup sudah tidak ada. menjadi benar oleh

kebohongan-kebohongan. Menjadi indah oleh kerusakan

kerusakannya. Aku di dalam pelukanmu dan di luar terbangmu.

Membayangkan tujuh kupu-kupu mulai menanamkan sayapnya

dan menanamkan terbangnya. Mengganti bumi pertama dengan

rute sungai marne yang membelah mimpi-mimpimu

 

 

 

 

 PROSES LETUPAN KAPUR SIRIH

 

Batu kapur sirih mulai direndam dengan air. Bentuk

bentuknya yang seperti batu karang itu mulai

mengeluarkan asap dalam genangan airnya, dan genangan

uap di atasnya. Bentuk-bentuknya mulai luruh, seperti

bukit-bukit melelah dan letupan-letupannya. Akan muncul

permukaan kapur yang sudah berubah menjadi lumpur

putih dan lembutnya yang panas. Lumpur kapur dalam

gelembung-gelembung berasap, suara mendidih dan

letupanya menggenggam uap panas hingga ke ujung

lidahku. Seperti akan nada yang meledak dalam lumpur

kapur itu, dan mengusir bayangan hitam dari letupannya.

Proses ini akan berhenti dan seluruh batu kapur berubah

menjadi lumpur kapur putih kental. Uapnya menatap

dinding-dinding bayangan hitam. Tangan dan kakiku

menggenggam letupan-letupan uapnya. Dan lidah yang tertelan

bayangan hitam.kapur ini panas. Kulit jari-jari tangan

biasanya akan melepuh. Rasa perih dari kulit yang

mengelupas, mengeluarkan kutu-kutu yang mati di

dalamnya. Melepaskan jiwa yang tak bisa lagi terharu,

yang terlalu percaya kepada ketukan pintu dan

membisukan dering telfon. Proses yang menggodaku untuk

mengangkat kamar tidur dan meletakkannya dalam amplop

surat bersegel. Pekerjaan yang rasanya tidak ada gunanya,

tetapi aku melihat proses letupannya ketika melepaskan

tekanan udara panas. Mulut puisi yang memuntahkan

percakapan tentang kepergian. Kamar tidur yang

menyimpan bayangan tentang pelukan dan terhisap letupan

kapur sirih. Satu botol bayangan pintu. Satu botol kapur

sirih. Keduanya mengecat mimpiku menjadi sebelum

bermimpi

 

 

(Koran Tempo, 25 Maret 2012)

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Tak ada Vodka di Jakarta

mm

Published

on

“Tak ada Vodka di Jakarta”

 

Dalam perjamuan siang

Memakan domba

Sambil memamah luka

 

Aku memesan vodka

Untuk melarutkan duka

Menenggelamkannya diam-diam

Ke dasar jiwa

 

Hidup yang kecut

Waktu yang getir

Dengan itu kita kepayang

Dalam perjamuan siang itu

 

Waktu segera senja

Aku memesan lagi vodka

Tak kusangka aku tenggelam

Di lautan sajak yang malam

 

Pernahkah laut menjadi malam?

Dan sajak sajak mabuk kepayang?

Pada siapa ia memesan luka

Pada siapa ia bercerita

Tentang dukanya pada senja

Tentang kecewanya pada malam

 

Lautan tak punya kata-kata

Meski ia terbuat dari kata-kata

Lautan tak punya cinta

Meski ia dibuat dari asmara

 

Sajakku sajak kepayang

Dibuat dari vodka dan derita

Yang bergumul di awal malam

Lalu telanjang di kala subuh

Sendirian dan kedinginan

 

Aku memesan kopi

Untuk jamuan malamku

Tapi tak kubuat sajakku dengan kopi

 

Aku tak mau menulis sajak lagi

Aku ingin membuat laut

Aku ingin membuat malam

Dengan vodka dan duka

 

“Sudah malam, tidur.” Katamu

“Aku lelah berusaha tidur.” Balasku

 

Aku ingin memesan vodka

“tak ada vodka di Jakarta!”

__

“Sajak Cinta”

 

Telah kutulis sajak cinta

Tapi sajakku tenggelam

Di dasar kepahitan

 

Orang menyelam mengambilnya

Sebagai sublim

Tapi mereka tak membacanya

 

Maka aku ingin menulis sajak lagi

Sebagai dendam jiwa

Agar aku tak gila sendiri

 

Oh manisku

Sejak kapan sajak sajak itu

Berganti rupa jadi candu

Di mana orang-orang

Berpesta dengannya

Sementara kita

Tenggelam dalam kepahitan

__

*) Sabiq Carebesth: Penulis lepas, atau semacamnya. 

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Firza Yasmina

mm

Published

on

Perjalanan Pulang

 

Dalam rangkaian singkat waktu, masa berlalu cepat,

Jam jam dalam perjalanan pulang

Penat mengarung; aku bertahan.

 

Berdiri dempet dalam bis; waktu melambat begitu lambat

Orang berbondong mendahului satu sama lain

Bergegas beringas, batinku terasa guncang

 

Pulo Gadunggg, Cibuburrr, Kotaaa

Entah suara panggilan untuk siapa?

Seringkali aku hanya terdiam dalam barisan para penumpang,

Nanti waktu membawaku juga pulang,

Lalu sekejap dunia menari berdendang

dalam gemerlap lampu lampu remang.

 

Perjalanan pulangku terasa seperti waktu tak bergerak

Sebuah tindakan serupa, namun selalu saja dengan tempo yang tak berirama,

Muka asing yang lelah membeku dengan banyak koma,

Melukis kotaku sekaan ia sendiri ingin pulang.

 

Kamu tahu ada sekitar 135 langkah kecil

Kita telusuri di jembatan transjakarta,

Ada sekitar 49 anak tangga yang kita panjat untuk naik kereta cepat

15 garis putih dan hitam sepanjang jalan sudirman.

 

Tapi sekejap mata langit merah muda itu menjelma menjadi kehitaman,

merindu rembulan yang akhirnya kembali ke pemukiman.

Perjalanan ku pulang rasanya mudah dan sulit,

seperti menuangkan nya dalam barisan tulisan

yang sekarang kau tengah membacanya

dengan umpama-umpama yang terbata.

_

Zayasmina, 19/09/19

 

Patahan Hati

Maafkan saya yang setengah hati

Menanggapi dialog antara kita yang kian basi,

Tapi saya bisa apa,

Biar aku kembali terbenam

Dalam cinta yang fiksi;

……………………………………

Zayasmina, 09/23/2019

*) Firza Yasmina, terlahir di Ibu Kota Jakarta tepat 23 tahun yang lalu. Duta Bahasa DKI Jakarta 2017. Tinggal di Utan Kayu.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Ozi Marzuki

mm

Published

on

Kotamu Ingin Bunuh Diri

 

Ular naga panjang –Kata nyanyian kita waktu kecil

Menuju ke kotamu

Tapi tidak dengan kotaku

Mengangkut pikiran yang ingin pulang

Tapi raga memutuskan untuk tetap tinggal

Ada apa dengan kotaku dan kotamu?

keduanya penuh dengan persetujuan yang tidak disetujui

 

Kotaku tidak habis pikir pada dirinya

Terlalu banyak kesamaan dalam rupanya

Kata kotaku, kotamu juga demikian

Dia punya noda yang terlalu banyak

Hingga kotamu dianggap tidak suci

Meski sudah mencoba wudhu berkali-kali

 

Kabar terbaru; kotamu ingin bunuh diri

Tapi kotaku bilang lebih baik mengasingkan diri

Karena sendiri untuk sementara layak dicoba

Dibanding sendiri untuk selamanya

 

Satu kesempatan kota kita berbincang

Tentang Ibu yang dalam waktu dekat akan hilang

Memang selama ini Ibu merepotkan

Tapi pelukannya yang menghangatkan juga dirindukan

 

Ayah bilang Ibu pergi karena sayang

Tapi mana ada sayang tanpa kasih

Keduanya saling membutuhkan

Seperti kotamu butuh kotaku.

 

Tiga Pagi

 

Dari dengkur yang tersungkur di telinga

Kau telah berdua menindih aku yang ke-tiga

Kesendirianmu menemukan kesendirian lain;

Bukan kesendirianku

 

Bukan maksud ingin punya kesunyianmu

Tapi aku benci

Sunyimu berisik bukan dengan sunyiku.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending