Connect with us

Puisi

Puisi-Puisi Aa Edoy Astrajingga

mm

Published

on

Ah

Jika pelan ia adalah kenikmatan

Semisal es degan yang melancar

Di tenggorokan. Bisa juga ia serupa

Ujung pertempuran ranjang mempelai

 

Jika kencang ia adalah kekecewaan

Semisal sinyal hape yang gangguan

Saat si Doi video call untuk menyaput

Rindu di bentangan jarak dan waktu

 

Manakah yang lebih sering kaulontarkan:

Kenikmatan dahaga dirahmati kesegaran

Atau kekecewaan gagal membahagiakan

Si Doi dalam Long Distance Relationship?

 

Apapun jawabannya semoga saja ikhlas

Walau dengan sedikit ngedumel, sebab

Nikmat dan kecewa itu simpel saja semisal

Bentuk lengkung alis seorang mamah muda

(Pondok Bambu, 2016)

 

Ih

Seperti sehelai rambut di nasi uduk

Pesananmu. Atau lalat berenangan

Dalam cangkir kopimu. Begitulah

Memang hakikatnya terucap untuk

Mengekspresikan jijik dan geli

Tapi kamu maklum dan takluk juga

Lantaran si mbok masih survive

 

Jika mau lebih ekstrem, kamu

Hobi nonton serial drama korea

Lalu ditembak sama jomblo cupu

Aku hakulyakin kamu bermasam

Dan mengerutkan dahi: Ih…….

Terima kasih

(Pondok Bambu, 2016)

 

Uh

Entah ada perkaitan apa antara sambal

Super pedas dan harapan yang pupus

Serta mempelai di Puisi “Ah“. Ketiganya

begitu akrab lagi intim dengannya

 

Di tubuh berpeluh atau di malam jauh

Wujudnya hadir dalam ucap yang sumir:

Pada seorang sarjana muda ia menjelma

Singkat dan pendek. Pada seorang 4L4Y

Facebook bernama SuM1y4TI D0yAN RaWiT

Ia menjelma bertenaga dan pendek-pendek

 

Sedang pada mempelai di Puisi “Ah” ia

Menjelma syahdu nan mendayu seperti

Alunan alat musik yang dimainkan Kenny G

Dalam sebuah adegan yang tidak lulus sensor

 

Komisi Penyiaran Indonesia

(Pondok Bambu, 2016)

 

 

Eh

Ia mesra dengan Jeng dan FYI

Dari ABG sampai sosialita

Tanpa terkecuali

 

Baik itu saat mengerumuni

Tukang sayur, arisan ibu-ibu pejabat

Atau ABG yang menjajah free wifi kafe

Ia adalah primadona untuk kata pertama

Bahkan mengalahkan basmalah

Di lidah seorang saleh

 

Sehingga kadang ia terlalu jumawa

Dan melakukan semacam keceplosan

Yang membocorkan rahasia

 

Dan di ini zaman yang tiap ada kata hits

Menjadi lagu dangdut

Ia sering dijadikan senjata politik

Adu domba antara golongan

Dan bukan golongan

 

Jangan kaget. FYI: For Your Information

 

(Pondok Bambu, 2016)

 

Oh

Ajaib. Ibu guru bahasa Indonesia yang kaku

Tampak menyerah pada Maidah

Yang tidak mengerjakan soal nomor 51

 

Padahal kemarin perintahnya

Semua soal harus dijawab sebenar-benarnya

Dan wajah Maidah pun biasa saja

Seakan bukan murid yang bersalah. Entahlah

Apakah aku memang senewen kalah pintar

Dari Maidah, atau dugaan ihwal bu guru

Melindunginya itu 100% jitu

 

Dan aku pantang pulang sebelum rasa

Penasaran hilang. Ini penting meski

Nanti mendapat ganjaran dipentung

 

Kok bu guru gak ngehukum elo sih bro

Tanyaku yang gagal meniru Najwa Shihab,

Coba itu gue pasti dihukum bikin puisi

Tentang permintaan maaf. Pungkasku loyo

 

Reaksi Maidah kalem saja seperti biasa.

Mau tahu banget atau mau tahu aja?

Timpalnya dengan intonasi sok imut.

Oh! Batinku. #cukstaw

Dari situ aku menerima bahwa segala tanya

Segala jawab akan kehilangan penasaran

Jika aku tak senewen. Sebab senewen

Adalah jalan panjang menuju kangen

 

(Pondok Bambu, 2016)

Biodata Singkat Penulis:

Astrajingga Asmasubrata, kelahiran Cirebon tahun 1990. Bekerja sebagai tukang cat melamik – duko – politur di Jakarta Timur. Penggerak Malam Puisi Jakarta. Buku puisi terbarunya adalah Ritus Khayali. Dapat disapa di Twitter @edoy___

 

 

 

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Tak ada Vodka di Jakarta

mm

Published

on

“Tak ada Vodka di Jakarta”

 

Dalam perjamuan siang

Memakan domba

Sambil memamah luka

 

Aku memesan vodka

Untuk melarutkan duka

Menenggelamkannya diam-diam

Ke dasar jiwa

 

Hidup yang kecut

Waktu yang getir

Dengan itu kita kepayang

Dalam perjamuan siang itu

 

Waktu segera senja

Aku memesan lagi vodka

Tak kusangka aku tenggelam

Di lautan sajak yang malam

 

Pernahkah laut menjadi malam?

Dan sajak sajak mabuk kepayang?

Pada siapa ia memesan luka

Pada siapa ia bercerita

Tentang dukanya pada senja

Tentang kecewanya pada malam

 

Lautan tak punya kata-kata

Meski ia terbuat dari kata-kata

Lautan tak punya cinta

Meski ia dibuat dari asmara

 

Sajakku sajak kepayang

Dibuat dari vodka dan derita

Yang bergumul di awal malam

Lalu telanjang di kala subuh

Sendirian dan kedinginan

 

Aku memesan kopi

Untuk jamuan malamku

Tapi tak kubuat sajakku dengan kopi

 

Aku tak mau menulis sajak lagi

Aku ingin membuat laut

Aku ingin membuat malam

Dengan vodka dan duka

 

“Sudah malam, tidur.” Katamu

“Aku lelah berusaha tidur.” Balasku

 

Aku ingin memesan vodka

“tak ada vodka di Jakarta!”

__

“Sajak Cinta”

 

Telah kutulis sajak cinta

Tapi sajakku tenggelam

Di dasar kepahitan

 

Orang menyelam mengambilnya

Sebagai sublim

Tapi mereka tak membacanya

 

Maka aku ingin menulis sajak lagi

Sebagai dendam jiwa

Agar aku tak gila sendiri

 

Oh manisku

Sejak kapan sajak sajak itu

Berganti rupa jadi candu

Di mana orang-orang

Berpesta dengannya

Sementara kita

Tenggelam dalam kepahitan

__

*) Sabiq Carebesth: Penulis lepas, atau semacamnya. 

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Firza Yasmina

mm

Published

on

Perjalanan Pulang

 

Dalam rangkaian singkat waktu, masa berlalu cepat,

Jam jam dalam perjalanan pulang

Penat mengarung; aku bertahan.

 

Berdiri dempet dalam bis; waktu melambat begitu lambat

Orang berbondong mendahului satu sama lain

Bergegas beringas, batinku terasa guncang

 

Pulo Gadunggg, Cibuburrr, Kotaaa

Entah suara panggilan untuk siapa?

Seringkali aku hanya terdiam dalam barisan para penumpang,

Nanti waktu membawaku juga pulang,

Lalu sekejap dunia menari berdendang

dalam gemerlap lampu lampu remang.

 

Perjalanan pulangku terasa seperti waktu tak bergerak

Sebuah tindakan serupa, namun selalu saja dengan tempo yang tak berirama,

Muka asing yang lelah membeku dengan banyak koma,

Melukis kotaku sekaan ia sendiri ingin pulang.

 

Kamu tahu ada sekitar 135 langkah kecil

Kita telusuri di jembatan transjakarta,

Ada sekitar 49 anak tangga yang kita panjat untuk naik kereta cepat

15 garis putih dan hitam sepanjang jalan sudirman.

 

Tapi sekejap mata langit merah muda itu menjelma menjadi kehitaman,

merindu rembulan yang akhirnya kembali ke pemukiman.

Perjalanan ku pulang rasanya mudah dan sulit,

seperti menuangkan nya dalam barisan tulisan

yang sekarang kau tengah membacanya

dengan umpama-umpama yang terbata.

_

Zayasmina, 19/09/19

 

Patahan Hati

Maafkan saya yang setengah hati

Menanggapi dialog antara kita yang kian basi,

Tapi saya bisa apa,

Biar aku kembali terbenam

Dalam cinta yang fiksi;

……………………………………

Zayasmina, 09/23/2019

*) Firza Yasmina, terlahir di Ibu Kota Jakarta tepat 23 tahun yang lalu. Duta Bahasa DKI Jakarta 2017. Tinggal di Utan Kayu.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Ozi Marzuki

mm

Published

on

Kotamu Ingin Bunuh Diri

 

Ular naga panjang –Kata nyanyian kita waktu kecil

Menuju ke kotamu

Tapi tidak dengan kotaku

Mengangkut pikiran yang ingin pulang

Tapi raga memutuskan untuk tetap tinggal

Ada apa dengan kotaku dan kotamu?

keduanya penuh dengan persetujuan yang tidak disetujui

 

Kotaku tidak habis pikir pada dirinya

Terlalu banyak kesamaan dalam rupanya

Kata kotaku, kotamu juga demikian

Dia punya noda yang terlalu banyak

Hingga kotamu dianggap tidak suci

Meski sudah mencoba wudhu berkali-kali

 

Kabar terbaru; kotamu ingin bunuh diri

Tapi kotaku bilang lebih baik mengasingkan diri

Karena sendiri untuk sementara layak dicoba

Dibanding sendiri untuk selamanya

 

Satu kesempatan kota kita berbincang

Tentang Ibu yang dalam waktu dekat akan hilang

Memang selama ini Ibu merepotkan

Tapi pelukannya yang menghangatkan juga dirindukan

 

Ayah bilang Ibu pergi karena sayang

Tapi mana ada sayang tanpa kasih

Keduanya saling membutuhkan

Seperti kotamu butuh kotaku.

 

Tiga Pagi

 

Dari dengkur yang tersungkur di telinga

Kau telah berdua menindih aku yang ke-tiga

Kesendirianmu menemukan kesendirian lain;

Bukan kesendirianku

 

Bukan maksud ingin punya kesunyianmu

Tapi aku benci

Sunyimu berisik bukan dengan sunyiku.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending