Connect with us

Puisi

(Puisi) Peluklah Lukaku yang menua

mm

Published

on

Peluklah Lukaku yang menua

Betapa jauh waktu

Aku lelah dan takut

Dingin dan menua

Kutuntun langkah setapak

Tiada malam atau siang

Aku hanya ingin pulang

Melihat wajah-wajah

Jadi penunjuk arah

Ke rumah di mana aku ingin rebah

Istirah yang penghabisan

 

Aku tak ingin mencari apa-apa lagi

Aku tak ingin kemana-mana lagi

Aku lelah dan takut..

 

Kekasihku

Peluklah Lukaku yang menua..

November, 2019

 

Karafan Duka

Di luar hujan dan dingin

Malam membusungkan dadanya

Menantang Lukaku yang jadi serigala

 

Aku menembus hutan-hutan jauh

Pohon-pohon telah jadi purba

Senja telah jadi salju beku

Aku seorang diri

Menangis dan takut

 

Melayap dan memburu

Kekosongan demi kehampaan

Duka-duka sepanjang jalan

Luka kupapah sendiri

Tiada siapa lagi kunanti

 

Jika kekasihku tak kembali malam ini

Esok pagi aku telah jadi tanah merah

Hanya bisa menunggu

Karafan duka mengantar

Kekasihku kembali

Sebagai sunyi abadi

 

Biar kukisahkan kekasihku:

Ia gulungan ombak lazuardi

Biru nun kaswah

Pada sampanku ia  melayut

Sekali malam kan juga melagut

 

Bila aku tenggelam

Dukanya kan jadi laut gelap

Hujan datang melayangkan duka

Aku sekali takkan hidup lagi

 

Takdir yang menyeru

Seperti sangkakala diujung waktu

Membangunkanku dari dingin

Dan kekasihku menjelma api

 

Aku letakkan jiwaku

Sebagai arang nasib

Agar terbakar api lukanya

 

Kelak jika kau lihat lukanya

Itulah cintaku yang terbakar

Dan kita tak lagi punya rumah

 

Aku lelah mengungkai

Temali yang melipat jiwaku

Rinduku telah jadi abu

Semalam membakar rumahku

 

2019

*) Meera Sabina,  

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Puisi Badruddin Emce: Dermaga Zuhdi

mm

Published

on


Badruddin Emce, 57 tahun–adalah sastrawan  berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal secara luas melalui karya-karyanya berupa esai  dan puisi yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar dan terhimpun dalam berbagai antologi puisi. Badruddin tercatat pernah menjabat sebagai anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Tengah selama dua periode. Beberapa kali, Badruddin Emce diundang dalam perhelatan sastra antara lain Forum Puisi Indonesia 87 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Festival Seni Surabaya 1996. dan Temu 18 Penyair Jawa Tengah 2006. Badruddin kini tinggal di Kroya, Cilacap. Kumpulan puisinya yang telah terbit, Binatang Suci Teluk Penyu (Olongia, 2007) dan Diksi Para Pendendam (Akar Indonesia, 2012). Saat ini berhidmat di Lesbumi PCNU Cilacap.

Prolog :

“Tahun itu kami sibuk dengan tanduran!” –

Mungkin begitu orang Kalikudi, jika ditanya, “seperti apa waktu itu?”

Jika dari mulut ke mulut ini kita tawarkan –

Bayi-abang hingga para renta, bergegas ke arah kota sana.

Konon, siapa entah, dengan lilin meredup di tangan,

meredam sendiri yang terbersit – dosa apa kami? –”

Dunia kita malah seperti ditertawakan.

“Keruwetan apalagi melucuti mereka?”

Tapi orang Kalikudi juga senang mendengar

dari yang tak dikenal sekalipun–

‘Berombong-rombong itu’ konon hendak

memenuhi panggilan Ratunya sekaligus

menghindari yang kelak disebut-sebut sebagai kerja paksa.

Adakah begini? Bahkan, saya tak mampu menampik

yang dituturkan suargi guru ngaji,

“dari timur merunduk – sementara di kita, ada :

Dari jendela rumah, hanya termangu memandang.

Di pucuk kelapa, hanya menghisapgigiti

rokok linthingan belum dinyalakan.

Di perahu mancung berguncang,

hanya memilin-milin tali jaring arad-pinggir

mungkin sudah tersangkut akar.

Di sawah meruapkan anyir lintah rawa,

hanya mengelus-elus doran pacul

sementara keringat wajahnya telah sampai plakangan

selepas jembatan kereta Maos ke Kesugihan,

melintasi desa ini, ‘berombong-rombong itu’

membawa apa saja yang gampang dibawa!”

Terkadang ingin ngaji turutan lagi.

Selesai satu dua surat pendek, tanya –

“Dari perkebunan apa saja mereka turun?”

“Dari bangunan-bangunan dekat stasiun mana saja

mereka keluar?”

“Barak nyaris ambruk, apa masih menyengatkan bau tir

mereka tinggalkan?”

Tentu saya berusaha yakin –

Setelah desa ini, yang kehausan segera menemu air.

Beberapa teguk –

bisa dari pangon bebek yang telah berminggu buara.

Sedang yang terkilir – sekalian dipijit –

dari dukun bayi barusan ndhadhah putri seorang lurah!

Mungkin, andai jauh sebelumnya orang desa ini tahu,

layaknya hari raya yang setiap tahun menghambur,

‘berombongan-rombong itu’ bakal mereka sambut peluk

dengan pujian bertalu-talu bunyi bedug.

Tak ketinggalan ber-tampah-tampah jajan pasar.

Mana ada orang jahat di desa ini?

Bahkan jin-jin penunggu pohon,

sumur-sumur tua dan ceruk-ceruk tebing sungai,

usai ledakan-ledakan besar itu

bertahun berpadu menyangga jembatan itu dari runtuh!”

|a.| Jembatan itu :

Di timur laut sana, di atas Serayu, setelah puluhan tahun

ditinggal ‘berombong-rombong itu’ ke dermaga ini,

beberapa menit lalu bahkan kita lewati.

Jika adalah saksi, mustikah dulu mengikuti

‘berombong-rombong itu’ mencapai dermaga ini?

Lalu menggores begitu rupa –

bagaimana di bawah pesawat pembom meliuk-liuk,

di antara ledakan-ledakan menenggelamkan,

kapal bergantian merapat, menjemput

‘berombong-rombong itu’ di dermaga ini!

Bahagianya, suatu hari nanti di bilangan Pasar Senen

kita mendapati, di antara tumpukan buku loak,

komik si tak kuasa melangkah lebih dari semestinya itu.

Beberapa halaman saja, engkau seperti ditinggalkan –

Menyeruak dari rerimbun epilogmu,

kawanan perompak Afrika seolah menggiring

12 sisa kapal penjemput ke keluasan lebih purba samudera.

“Saat dulu labuh di sini, kawanan itu sejatinya

hendak berdagang!”

Ujar seseorang tercetak dalam balon.

“Sebelum leluasa menyusuri gua-gua,

safari di kebun-kebun makna,

memetiki simbul-simbul yang tak tumbuh kembang

di hati-hati suku mereka, pada keluarga dan sahabat raja

menghadiahkan keunggulan mantra-mantra,

tergores di gelang akar, taring babon tua bandul kalung

dan kulit rusa makar.”

|b.| Tembini :

Kemeriahannya jadi lebih terasa, bukan?

Kemeriahan yang tak sekedar bagaimana Pulebahas

meraih 1 putri Ciptarasa

dengan 40 adik perempuan kebanggaan.

Teman saya bahkan masih mengira, kala itu teluknya

belum banyak laguna –

Bolehlah, di timur laut sana, Kalikudi dan silsilah sada siji-nya

baru berkas-berkas kemambang belalang dan capung

hinggap berdekatan.

Bolehlah, di sana kota Medang tua sudah menunggu

pertanyaan-pertanyaan kita.

Jika suka, cukup setengah hari berperahu mencapainya.

Jika ombak menjadi ganas, bolehlah,

di ceruk-ceruk dinding utara bukit kini bertajuk Selok

kita berlindung.

Lepas itu, dari perahu segera tampak,

nyala obor berjajar sepanjang pantai.

Bolehlah, siapa bermalam bakal menemu

betapa tak kuasanya menolak kegelapan,

betapa pentingnya terang.

Maka, demi baca-tulis, demi menemu paham,

siapa yang bermalam perlu mempertahankan nyala.

Bolehlah, di keramaian pasarnya akhirnya menemu,

anjing-anjing yang tak diikat

membiarkan pendatang-pendatang nakal macam kita,

kulakan : memilih yang tampak wah, namun murah.

“Tidak, kami tidak perlu bermalam!” Sela lelaki hitam kekar

tertera dalam balon lain.

“Secukupnya saja, lalu balik lagi istirahat di sini.

Kami sudah ada janji ketemu tuan ratu Brantarara, besok!”

Rembugan sambil menyisir kemolekan pesisir

hanya di sini, bukan?”

Bersama jalan malam memang mengasyikan.

Tapi teman saya suka mengingatkan

pentingnya nyala panduan.

Tertawan nyala terang Tembini,

bagaimana terbersit yang bukan Tembini? –

Bolehlah, sementara nakhoda.

Juga beberapa nelayan arad-tengah, pernah terlintas –

Sesekali, jika segugus bintang yang ditata rapih kupu-kupu

dan sekawanan tikus sawah disembunyikan bebintang

ribut meraih bentuk, nyala itu padam.

Tetapi mereka juga pernah, dengan sukaria,

mengantar sekolah anaknya. Nyangking oleh-oleh buat istri.

Memiliki keluarga besar serta kampung kebanggaan.

Belum lupa dengan dinginnya sebuah kota.

Suatu hari, saat menyusuri sudut-sudutnya, memergoki :

Di depan tokonya, sambil bercerita dan menyimak cerita,

seorang cina memijit seorang tukang parkir keriput tua.”

Kenapa tersenyum?

Adakah engkau di antara sosok-sosok itu?

                        |c.| Mungkin nyala saja tak cukup :

Teman saya pernah mereka-reka –

Sebelum bertolak ke Medang, di selembar bidang

mereka titikkan dulu nyala Tembini sebagai pusat perjumpaan.

Lalu dari sisi atas, merambat jalur orang Pasir Luhur awal

menawarkan jasa pandai logam.

Dari sisi kiri atas, menjuntai jejak terburu-buru orang Galuh

memikul berbumbung madu tawon gung, susu kerbau dan nira aren.

Sedang di sisi bawah, titik-titik kapal menurunkan aneka perhiasan

dipaku dengan tinta kuning.

Meruap amis lautan,

tapi segera, dari gua-gua merebak aroma gaharu –

Bolehlah, maha karya peta digelar selebar-lebar,

hingga paran-paran bak dilihat

dari ceruk tersembunyi langit nan jauh.

Tetapi tak sumua butuh memilih paran.

Paran ada di mana-mana.

Terdampar setelah berhari-hari pasrah, di situlah paran.

Sayangnya begitu dibilang cuma bocah dolan kesasar,

mereka langsung nglokro.

                        |d.| Laguna saling mendekat, bersemilah rawa-rawa :

Hendak membisu, pelarian Batavia malah menebar gabah.

Jadilah rawa-rawa hamparan sawah. Tembini pun pasrah.

Berbahagialah, teman saya masih menyimpan lembaran lapuk itu –

Bolehlah si pencipta, bersama kapalnya,

akhirnya dilemparkan badai ke tebing yang dijauhi.

Bolehlah, titik-titik tersembunyi tak kunjung tegas

sebagai yang tiada lagi di bumi.

Bolehlah, lagi suntuk mengikuti arah goresan

sebuah mural gua, tiba-tiba tergoda curiga –

jika rancang jalang sudah di tangan,

mana ada tempat menakutkan.

Setelah lengkap peralatan, datang tengah malam,

segera, di balik rimbun persembunyian babi hutan,

menatahkan seolah peninggalan.

Bolehlah, ingin selalu dipercaya raja,

lepas dari hisapan pusar Sapu Regel,

para cerdik bergegas ke utara.

Menyusuri Citanduy-Cijolang. Meloncat dari batu ke batu.

Setelah Datar dan Hanum,

ngatepus di makam tua Tejakembang.

                        |f.| Pituduh para sepuh :

Jika engkau ragu, benar sudah engkau butuh –

Bolehlah, karena tak bersama kita,

mereka tak harus kita percaya.

Tak harus kita ikuti,

meski terus mencermati hari-hari lahir batin kita.

Meski lebih mengenali kita ketimbang diri kita sendiri.

Meski terus meyakinkan kita –

Setelah meraba-raba, sampai juga kalian

di yang kalian yakini sebagai sisa dermaga Tembini.

Begitu merasa tiba, tawa kalian tak kunjung reda.

Riuh, mirip air berebut balik ke titik mula di lautan sana.

                        |g.| Pantai yang berabad ditinggalkan nyala Tembini :

Arahnya sudah engkau temukan?

Bolehlah, yang asyik bersama jalan malam

memikirlakukannya di lautan sana.

Jika bentangan siang besok menyilaukan, bolehlah,

kepul asap cerobong pantai Karangkandri di tengah,

julang bukit kapur Karangbolong di timurnya,

dan ujung timur Nusakambangan di baratnya

adalah seregupandupenuhbhakti!

Bolehlah, sibuk dengan untung-rugi

kita tak sempat mencatatnya.

Bolehlah, mungkin cuma iseng, kelak ada yang tanya –

apakah Bapak-Ibu lebih muda dari saya?

                        |h.| Anak muda kita :

Diam-diam teman saya coba mengikuti mereka.

Bolehlah, bagaimana mencapai sebuah dermaga,

mereka bayangkan sambil meraih poin liwat game online.

Tapi bayangan itu kemudian mereka robek-robek.

Bolehlah, udara bertabur pelabuhan-pelabuhan kecil

tak tertera pada peta.

Bolehlah, tanpa harus kembali,

dari sana ke mana-mana bisa!

__

Kroya, 2019/2020

Continue Reading

Puisi

Afrizal Malna: sebuah jantung Jakarta di Batavia

mm

Published

on

ceritakan pada seseorang yang sudah 60 tahun, tentang kota dan generasi yang hilang”. membayangkan gambaran ruang tentang kiri, kanan, atas, bawah, dan kuasa kata melibas masuk ke dalam arah mata angin. seseorang seperti sebuah gang pada ujungnya yang buntu.

sebuah jantung Jakarta di Batavia

Afrizal Malna (lahir di Jakarta, 7 Juni 1957; umur 62 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal secara luas melalui karya-karyanya berupa puisi, cerita pendek, novel, esai sastra yang dipublikasikan di berbagai media massa. Afrizal juga menulis teks pertunjukan teater yang dipentaskan di berbagai panggung pertunjukan di Indonesia dan mancanegara. Kekhasan karya Afrizal Malna adalah lebih mengangkat tema dunia modern dan kehidupan urban, serta objek material dari lingkungan tersebut. Korespondensi antarobjek itulah yang menciptakan gaya puitiknya.

jantung itu terbuat dari sebuah pasar. lampu patromak dimana-mana. malam dan bekas hujan. “diobral, diobral, buku bekas, kaos oblong, sandal jepit. diobral. kerudung, kutang, celana dalam diobral. gunting kuku, jarum, benang, peniti, siapa mau beli.” –> kota adalah peta terakhir untuk melupakan dari mana asalmu.

pemberontakan teater modern bung muscar dari buku bekas. ajip rosidi teriak-teriak di atas sepeda berlari kencang: “misbach-misbach, puisimu dimuat di majalah siasat.” muslim thaher mendirikan akademi akutansi dari teater bekas. 1967. iwan simatupang petantang-petenteng mau bikin film penyakit kita semua, dan batal. kangkung, bayem …. jengkol, pete. senimanseniman senen sudah biasa membatalkan hari senin di hari minggu. “ada buku death of salesman arthur miller di toko buku loak nasution.”

es sirop, kepala ikan, dendeng kering di restoran padang. telur asin, tempe goreng, kacang buncis di warung sunda. kue putu, pedagang kopi, kacang rebus. malam berbau bedak tebal, aspirin dan pinisilin. pengemis dan sisa-sisa kaki buntung bekas kusta. tukang pijat dengan mata bolong, bunyi kaleng berisi batu menyusuri lorong-lorong malam. bang pi’i dan anak buahnya dari gembong cobra. udara panas dari lampu patromak, garis sebuah perampokan mimpi-mimpi liar. (barclays bank, 1967 itu, mulai membuat mesin teller otomatis pertama di london utara). gubernur ali sadikin sedang mengubah kota. 29 % anggaran kota dipungut dari perjudian. pembangunan, efisiensi, mulai mengubah poster-poster “bapak revolusi”. film nasional mulai meleleh di bawah film-film india.

(seorang anak masuk ke dalam kelambu tidurnya. dia membayangkan di atap kelambu itulah tuhan tinggal). jakarta diriset, disurvei, ditabulasi dalam tabung-tabung populasi menjelang 4 juta penduduk kota.

ibu-ibu mulai berhadapan dengan spiral untuk keluarga berencana, menjaga vagina mereka dari benda-benda asing. setiap aku mulai terkurung dalam kartu keluarga. belok kiri dari bioskop rex ada jalan melati. modernisasi kemudian menggusur dan menghancurkan sang legenda. 

proyek senen, pusat pertokoan modern waktu itu, mulai dibangun. ketika hujan turun, kolamkolam betonnya berubah jadi kolam renang. anakanak kampung berenang-renang dalam kolam itu. berita anak hilang mulai sering terdengar. kepalanya dijadikan tumbal untuk bangunan bertingkat, katanya. hantu dan ketakutan yang aneh mulai ikut dibangun bersama semen dan besi-besi beton. gedung sarinah dipenuhi pengunjung (bukan untuk belanja). tapi untuk mencoba eskalator pertama di kota. naik dan turun di atas tangga berjalan tanpa berjalan.

(seorang anak masuk ke dalam daster tidur ibunya, bermain kelereng di dalamnya. bau ibunya yang tersimpan dalam daster, menyusun lagi dirinya sebagai seorang daging mentah. dia merasa mulai bisa bernapas bersama semua mahluk yang tertanam dalam tubuhnya. sejak itu dia tidak mau keluar lagi dari dalam daster ibunya. sebuah peta terakhir, untuk berhenti memandang dirinya sebagai seseorang).

pasar terus bergerak dan menciptakan dirinya sendiri dari kapal barang, kereta api, truk, oplet dan becak. misbach yusa biran mementaskan teater 30 menit menjelang neraka.

seorang anak, yang selamanya berusia 10 tahun, membawa jantung sebuah kota, masuk ke proyek senen. membeli sebuah kelambu dan daster. menatap simpang-siur lalu-lintas masakini, jalan raya yang telah bertingkat di senen. berusaha membangun kembali masa kanak-kanaknya di atas restoran ayahnya yang telah jadi jalan raya: rumah makan setia. piring keluarganya pecah di bawah runtuhan tembok kota. anak-anak yang jadi orang asing di kota tempatnya lahir.

dia meletakkan jantung itu dalam sebuah puisi, yang dirancang untuk semua yang telah hilang.

meteran 2/3 jakarta

jakarta telah pergi dengan sebuah becak      pagi itu. jadi nama sebuah hari dalam seminggu .

hari itu. tahun 1957 dalam bilangan 2/3. sebuah hari.

sesuatu hari. seorang hari.

melihat seorang pagi berjalan, datang, dengan sisa mimpi dari kipas angin bekas. melangkah dari atas dan bawah. menyebar sebelum ke kiri. mengetuk pintu sebelum pemadam kebakaran memadamkan kata api. punggung siapa terlihat dari belakang? kota itu, Jakarta, membawaku ke mana-mana di tempat yang sama. kadang seperti sungai. kadang seperti banjir. kerumunan angka yang terus berubah dalam batasnya.

kail mengenakan sungai sebagai topengnya, antara makanan dan kematian: riak dan mulut ikan mujair menghirup oksigen, lipatan air dan suara setelah kail menyeret mulutnya. sebuah kampung dengan gang-gang sempit, menawarkan belok dan buntu dalam jual-beli impian. seseorang dengan suara dalam bau kretek, berusaha menjemur bayangan ibunya.

“ceritakan pada seseorang yang sudah 60 tahun, tentang kota dan generasi yang hilang”. membayangkan gambaran ruang tentang kiri, kanan, atas, bawah, dan kuasa kata melibas masuk ke dalam arah mata angin. seseorang seperti sebuah gang pada ujungnya yang buntu.

tanah tinggi planet senen kwitang kali angke dan kisah tentang mat item

nama-nama itu goyang di atas jalan becek berlubang:

matraman paseban cikini kramat tunggak dan buaya terakhir di kali ciliwung

sebelum 100 tahun mobil dan kereta melayanglayang di atas kota.

saya membangun instalasi puisi ini seperti membongkar bangunan bahasa dengan meteran tentang lupa. membungkus kata, memasukkannya ke dalam mikrobiologi neurotik. mulai menulis antara tata kota dan populasi penduduk. gunting masih tersimpan dalam potongannya. titik yang tersesat dalam penggaris bahasa. dan kau tahu, tak seorang pun bisa mengubah arah mata angin di luar penggaris itu; atau kata potong yang berusaha melupakan gunting.

belok  –   lurus  –  balik  –  terus  –   berhenti atau 0,2 % mentok

saya menulisnya dari kenangan yang telah kehilangan termometer dan meterannya. kota yang menghabiskan 2/3 hutang negara. seluruh daerah menatapnya dengan mata hitam. hitam. desa-desa bangkrut. akulah bayi yang lahir sebagai mayat dalam novel muchtar lubis, jakarta dalam senja 1957. kabinet yang goyah dalam jaringan korupsi, menjadi serangga buas dalam makna. seperti kafka dalam metamorfosis seorang pegawai asuransi ——  siapakah koma, siapakah titik, siapakah semua yang diberi tanda dan menghapusnya

            “   ,   .   ?   /  !   ()

tuan-tuan telah hilang ke dalam rekening bank dan saham-saham. sebuah surat warisan di antara jaringan distribusi barang-barang impor. sebuah puisi berusaha menyimpan suara jangrik dalam museum tentang kebersihan kota, dan melupakan cara-cara bagaimana karya sastra ditulis.

*) AFRIZAL MALNA, 2019.

Afrizal Malna (lahir di Jakarta, 7 Juni 1957; umur 62 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal secara luas melalui karya-karyanya berupa puisi, cerita pendek, novel, esai sastra yang dipublikasikan di berbagai media massa. Afrizal juga menulis teks pertunjukan teater yang dipentaskan di berbagai panggung pertunjukan di Indonesia dan mancanegara. Kekhasan karya Afrizal Malna adalah lebih mengangkat tema dunia modern dan kehidupan urban, serta objek material dari lingkungan tersebut. Korespondensi antarobjek itulah yang menciptakan gaya puitiknya.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Fr. Alex Sehatang, SVD

mm

Published

on

Fana sefana diri kita

Selalu saja tawa dan tangis beriak tentang kefanaan.
Sefananya diri kita.

Acapkali aku mengintip matamu yang mengutip banyak pertanyaan tentang kefanaan.
Sefananya diri kita.

Tak pernah matamu pandai bermain ilusi selagi selapus polos masih berucap tentang kefanaan.
Sefananya diri kita.

Hei… fana!
Haruskah aku mengajakmu untuk menemui kekal?
Agh…
Memangnya di mana kekal?
Tak ada?
Ya…
Aku fana.
Sefana diri kita.

Bello, 03 Juni 2019


Siapakah aku ini?

Lidya..
Sebersit tanya untukmu perihal nama yang aku sematkan kepada sayap-sayap kicau;
Siapakah aku ini?
Aku tidak tahu siapakah aku, tapi yang aku tahu bahwa kamu tahu siapa aku.
Jadi, aku adalah yang kamu tahu.
Kamu boleh bahkan bisa saja menumpahkan stigma yang bagiku adalah sesuatu misterius.
Mengapa?
Tapi, mungkin itu caramu untuk berkata bahwa itulah aku.
Aku biarkan itu terjadi.
Karna aku percaya yang kamu tahu itulah yang pantas aku yakini tentang pertanyaanku tadi;
siapa aku?

Ledalero, 03 Oktober 2019

Manifestasi 

Aku sementara bertapa bersama Sang Ada bahkan menapak bersama-Nya.
Sementara syahdu di jemari-Nya.

Tetapi, bersama yang ada aku merasa seperti bersama Sang Ada.

Mengapa aku perlu Teduh dan Sunyi bersama yang ada?

Sebab aku melihat Sang Ada hadir dalam yang ada.

Ledalero, 03 September 2019

Toreh

Sss…
Perlu dan haruskah katakan mendiang pada pohon tak bernama.
Ia masih menunggu nama darimu sekadar agar tidak dibilang mendiang.
Sekonyong-konyong agar tidak dikata anker.

Ooo…
Lekaslah agar rayap tidak menggerotinya atau burung enggan melukis peluh pada rantingnya.

Baa…
Tentunya ketika langit memanggil untuk bertanya jawab sudah ada nama pada dirinya
Apalagi di atas sana angin, hujan, panas mengajakmu untuk bersandiwara.

Ttt…
Sigaplah!
Jangan candu dengan semuanya karna kapak sudah di pohon menunggu untuk siap ditebang.

Kuwu, 12 Februari 2019

Fr. Alex Sehatang, SVD

Ledalero-Maumere

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending