Connect with us

Buku

Puisi Induktif Joko Pinurbo

mm

Published

on

Judul: Baju Bulan: Seuntai Puisi Pilihan
Penulis: Joko Pinurbo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, April 2013
Tebal: ix+82 halaman
ISBN: 978-979-22-9470-5

Joko Pinurbo (Jokpin) kembali menerbitkan buku puisi yang ia beri judul ”Baju Bulan” (2013). Menelaah sajak-sajak dalam kumpulan ini identik dengan memahami
simpul kehidupan keseharian. Kehidupan manusia yang renik dan kompleks dihadirkan Jokpin dalam diksi yang padat dan kuat, tetapi ”familiar” dan bersahaja, bahkan acap jenaka.

Jokpin seakan ingin membawa pembaca masuk ke dalam ruang dan waktu sunyi, terharu, bahagia, berkerut, tersenyum, dan seterusnya. Sajak-sajak Jokpin adalah ”narasi puitik” hidup sehari-hari. Pilihan katanya sangat dekat, bahkan berada di dalam pengalaman kita.

Judul ”Baju Bulan” adalah judul sebuah sajak di antara 59 sajak lain di dalamnya. Sajak ini merupakan narasi puitik mengenai sebuah momen penting dalam kehidupan masyarakat kita, yakni tentang Lebaran.

Secara tematik, ”Baju Bulan” mengingatkan kita kepada sajak Sitor Situmorang yang berjudul ”Malam Lebaran”. Sajak itu hanya terdiri atas satu larik, yakni bulan di atas kuburan. Namun, dalam banyak hal, ”Baju Bulan” Jokpin berbeda dengan ”Malam Lebaran” Sitor.

Sitor menulis secara deduktif. Dari pengalaman dan pemahaman tentang Lebaran, melalui sajaknya Sitor merumuskan ”secara teoretik” peristiwa Lebaran. Bagi Sitor, Lebaran, sebagai peristiwa spiritual yang berasimilasi dengan kebudayaan itu, merupakan paradoks: pertentangan kebahagiaan dengan kesedihan, terang dengan gelap, sunyi dengan hiruk-pikuk. Di situ, bulan dan kuburan menjadi pasangan yang berlawanan. Larik sajak ini memiliki kekuatan teoretik-sistemik. Mengacu kepada Ferdinand de Saussure dalam Culler (1986), ia menjadi semacam langue dalam bahasa.

Puisi induktif

Jokpin menulis dengan cara berbeda, bahkan sebaliknya dari Sitor. Perhatikan cuplikan sajak tersebut berikut ini:

Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin baju baru,

tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,

sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.

Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?

Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan

bajunya yang kuno di antara begitu banyak warna-warni

baju buatan. Bulan mencopot bajunya yang keperakan

mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat

menangis di persimpangan jalan. Bulan sendiri

rela telanjang di langit, atap paling rindang

bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang.

 

Secara tematik, sajak di atas memperkarakan ihwal yang tidak jauh berbeda dengan Sitor, yakni tentang peristiwa pertentangan pada malam Lebaran: hal memilukan di tengah-tengah kebahagiaan; orang yang kalah dalam mitos kemenangan.

Namun, berbeda dengan Sitor yang deduktif, Jokpin menulis secara induktif. Dalam teksnya, ia menghadirkan peristiwa secara langsung. Ia menggunakan ”dua subyek lirik”, yakni Bulan dan Gadis Kecil. Untuk Bulan, Jokpin memakai gaya bahasa personifikasi. Kepadanya ia bubuhkan sifat-sifat manusia (bulan terharu, mencopot bajunya, dan seterusnya). Sementara Gadis Kecil adalah synecdoche pars pro toto, sebagian untuk seluruhnya. Itu berarti, gadis kecil yang dimaksud bukan hanya gadis kecil yang sering menangis di persimpangan yang dihadirkan pada teks tersebut saja, melainkan semua gadis kecil lain yang senasib, juga akhirnya merupakan wakil dari kemiskinan dan kesengsaraan secara keseluruhan. Sosok ini boleh dibilang sebagai ”reinkarnasi” gadis kecil berkaleng kecil Toto Sudarto Bachtiar dalam sajaknya, ”Gadis Peminta-minta”.

Dua perspektif

Menjadi menarik ketika dua subyek lirik tersebut juga digunakan Jokpin untuk menghadirkan realitas Lebaran dari dua perspektif. Pertama, perspektif Gadis Kecil yang tampak mewakili pandangan penyair mengenai pertentangan bahagia dengan sedih secara fisik, yakni suka cita malam Lebaran versus gadis kecil yang tidak memiliki baju (kebahagiaan). Suasana suka citanya sendiri tentu saja tidak hadir secara tekstual, melainkan secara in absentia sebagai efek dihadirkannya si gadis kecil secara tekstual (inpraesentia) tadi. Secara de jure, suka cita itu hadir dalam pengetahuan kolektif masyarakat sebagai mitos.

Kedua, perspektif subyek lirik Bulan yang tampak merepresentasikan pandangan filosofis penyair. Di bagian inilah Jokpin mengirim semacam surat kaleng kepada pembaca, satu cara bagaimana ia membuat kita terkejut sekaligus merenung. Ternyata, katanya, ”masih ada yang membutuhkan/bajunya yang kuno/di antara begitu banyak warna-warni/baju buatan”. Larik ini mengirim pesan semiotik: suka cita Lebaran (tentu dengan kemenangan di dalamnya) adalah panorama benda yang artifisial. Faktanya, situasi seperti ini memang acap tidak terhindarkan.

Dengan pola ucap demikian, sebaliknya dari Sitor, Jokpin menghadirkan ”parole”— mengacu pada Saussure—, yakni ujaran individu yang spesifik dan renik. Bulan dan Gadis Kecil berada dalam kisah sehari-hari. Efeknya, pembaca dimungkinkan dapat lebih akrab dengan ”bulan” Jokpin daripada ”bulan” Sitor. Personifikasi yang dijelmakan pada bulan dalam kisah si gadis kecil mengingatkan kita pada ”dunia kebermainan” anak-anak, dunia yang penuh imajinasi. Tentu ini bukan sebuah perbandingan yang menunjukkan sajak satu lebih unggul atau lebih lemah dari yang lain. Ini sebatas untuk menunjukkan pendekatan dan metode menulis yang berbeda.

Model penulisan yang menghadirkan ”parole” sedemikian secara umum merupakan karakteristik sajak Jokpin, baik dalam kumpulan ini maupun yang lain. Tentu saja, dalam proses kreatifnya, Jokpin berada di dalam persilangan dengan berbagai teks dari penyair lain.

Di dalam sajak-sajaknya kita dapat mencium, misalnya, ”narasi puitik” yang imajis Sapardi Djoko Damono dan renungan filosofis Subagio Sastrowardoyo. Namun, justru dengan persilangan teks sedemikian, kita menemukan posisi Jokpin yang menarik dalam peta perpuisian Indonesia. Hanya, untuk melihat hal itu, harus membacanya lebih saksama. Untuk itu, buku ini memiliki peran sangat penting. Khusus untuk mahasiswa sastra, saya merekomendasikan ”Baju Bulan” sebagai salah satu karya puisi yang wajib dibaca. (Acep Iwan Saidi)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Menggeledah Misteri Kekerasan

mm

Published

on

JUDUL BUKU : Kambing Hitam Teori René Girard

PENULIS : Sindhunata

PENERBIT : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

TAHUN TERBIT : 1, 2006 TEBAL : xiii + 422 halaman

Oleh: Ahmad Jauhari*

“(Yang jahat) mampu mengulang dirinya, secara tak terampuni, tanpa penyesalan dan janji,” demikian kata Derrida. Ungkapan Derrida tersebut hendak menunjukkan bahwa kekerasan sungguh selalu menyelimuti hidup kita. Kesemuanya terjaring dalam selimut kekerasan. Ia bisa menghampiri siapa saja. Manusia yang lembut dan ramah, termasuk perempuan yang cantik, cerdas dan sopan, sekejab bisa berubah garang, geram, dan brutal, begitu kekerasan menghampiri mereka.

Lewat terang buku Sindhunata ini, berjudul Kambing Hitam teori René Girard, kita diajak mengelupasi kekerasan mulai dari kulit terluar sampai biji misterinya yang terdalam. Girard membuat banyak orang terperangah. Teorinya seakan adalah ramalan yang kebenarannya belakangan ini terbukti ketika dunia dilanda kekerasan tiada habisnya. Lewat analisis sastra, budaya, dan agama, Girard menunjukkan bahwa manusia mempunyai potensi menghancurkan dirinya sendiri dan kultur adalah bangunan yang amat rapuh.

René Girard adalah intelektual masyhur kebangsaan Prancis. Ia lahir persis di Hari Natal 1923. Ilmuwan besar abad ke-20 ini mengupas kekerasan dari perspektif korban. Dalam arti karyanya bukan melulu kajian teoritis, melainkan juga rasa empatik terhadap runtuhnya solidaritas, pengejaran oposisi dan minoritas, merebaknya kekerasan massa, teror, terlantarnya rakyat dan luka-luka yang tetap basah tak tersembuhkan.

Dalam buku ini, Sindhunata membagi teori René Girard kedalam tiga fase perkembangan. Pertama, teori hasrat mimesis yang terkait dengan bidang sastra. Teori ini didasarkan Girard berkat penelitiannya atas lima novelis besar dunia, yakni Miguel de Cervantes, Gustave Flaubert, Marcel Proust, Sthendhal, dan Fyodor Dostojevsky. Teori ini termaktub dalam Deceit, Desire, and the Novel. Self and Other in Literary Structure (1965).

Kedua, teori kambing hitam, yang terkait dengan bidang antropologi budaya. Teori ini bersumber dari penelusuran Girard atas mitos, ritus pengorbanan agama arkais dan tragedi besar Yunani di zaman antik. Penelitian ini disarikan dalam buku Violence and the Sacred (1972). Ketiga, telaah Kitab Suci dan teologi, khususnya interpretasi terhadap kristianitas. Kajian ini dibukukan dalam Things Hidden since the Foundation of the World (1987).

Gagasan Girard menyangkut kekerasan dapat dipadatkan demikian: Setiap hasrat mengandung ruas konflik oleh sebab berwatak mimesis. Wajah mimesis yang memperbudak kebebasan manusia, berbentuk kebencian dan kecemburuan, menghadirkan rivalitas.

Rivalitas memanggil-manggil eksistensi kekerasan. Kekerasan yang mulai bangkit membentuk mekanisme kambing hitam. Inilah yang disebut Girard sebagai hasrat segitiga, yang berarti suatu sistem metafisik, oleh sebab ia merupakan struktur dasar pengalaman manusia, kemudian menjelma dalam pengalaman konkret, yang satu sama lain itu sebenarnya seragam.

Teori kambing hitam René Girard, menurut Sindhunata, memberi nuansa baru hubungan agama dan kekerasan. Kata Girard, Religions is always against violence. Bangunan kultur masyarakat, termasuk juga agama yang dianggap barang suci sekalipun, meneguk juga darah kekerasan. Kekerasan dalam agama itu paling nampak ketika menjalankan ritus korbannya, entah dengan persembahan manusia maupun binatang. Praktek kekerasan yang dibungkus ritus seolah dan justru dianggap puncak kesucian. Untuk itu ia tak habis-habisnya menelanjangi agama. Maka Girard sampai pada kesimpulan yang cukup mengejutkan: Violence is the heart and secret soul of the sacred (hlm. 205).

Kultur, bahkan juga agama, adalah institusi manusia yang dihantui rivalitas dan kekerasan yang bermuara pada pembunuhan kambing hitam. Girard menelanjangi muslihat dan tata karma kultural maupun religius yang kelihatannya amat luhur. Ia meramalkan ‘akan datang saat di mana agama tidak mampu lagi meredam kekerasan’. Ramalan itu seolah sungguh-sungguh terjadi. Kekerasan meledak bagai letusan gunung berapi. Inilah yang terjadi pada tragedi berdarah 1965 maupun peristiwa 11 September 2001.

Titik lengah agama dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengelola kekerasan (the economic violence) membuat dunia tak kunjung padam akan bara api krisis korbani. Krisis korbani tak selalu lahir berkat lunturnya ritual keagamaan, melainkan juga disebabkan oleh tipisnya garis batas antara kekerasan ‘suci’ dan kekerasan jahat. Agama mestinya berfungsi, kata Girard, “untuk menunjukkan kekerasan, dan menjaga supaya kekerasan itu tidak liar” (hlm. 211).

Di zaman globalisasi, agama mengalami kegagalan menjalankan fungsinya sebagai economic of violence. Hal itu muncul, kata Girard, oleh sebab krisis diferensiasi. Budaya, komunitas dan etnik akan terancam rusak akibat mengerutnya diferensiasi dalam proses interaksi antar manusia. Mimetis dan rivalitas cenderung membawa pada situasi yang seragam. Kondisi tanpa ada diferensiasi memungkinkan pendulum menuju muara kekerasan.

Demistifikasi

Selangkah lebih maju, Sindhunata mengurai kekerasan justru memungkinkan demistifikasi. Sebab, sambil mengutip Girard, demistifikasi diri sesungguhnya adalah suatu pertobatan. Bahwa, an experience of demystification, if radical enough, is very close to an experience of conversion. I think this has been the case with a number of great writers (hlm xi). Pengalaman pertobatan itu, diperoleh Girard, saat menulis karyanya yang pertama, Deceit, Desire, and the Novel, Self and Other in Literary Structure (London, 1965). Di buku tersebut, Girard menjelajahi novel-novel karya penulis terkenal: Miguel de Cervantes, Guatave Flaubert, Stendhal, Marcel Proust, termasuk juga Fyodor Mikhailovitsy Dostojevsky.

Girard sendiri bahkan terkaget-kaget, bagaimana novelis-novelis klasik itu mampu menuliskan pergulatan tokoh-tokohnya melawan segala kesia-siaan diri, sampai akhirnya mereka dapat meninggalkan segala kehampaan itu, kemudian menerima dirinya, apa adanya.

Marcel Proust, misalnya dalam karyanya tentang The Past Recaptured, tentang kisah kenangan dengan tokohnya Mme de la Fayette, melantunkan “kematian adalah keharusan. Ia melihat keharusan itu sudah sangat mendekat. Karena itu, ia terbiasa untuk menarik diri dan sakitnya yang lama membuat penarikan diri itu kebiasaan… Ia melihat nafsu dan kegiatan duniawi dengan penglihatan seperti penglihatan orang-orang yang bervisi lebih dalam dan luas” (hlm. 83). Visi yang dalam dan luas itu hanyalah dimiliki oleh mereka yang secara literer lahir dari kematian.

Kisah pertobatan yang serupa itu muncul lagi dengan sangat terang-terangan dalam karya Dostojevsky tentang Notes from Underground. Novel itu membisikkan suara manusia yang telah menarik diri dari lingkungan masyarakat setelah mengorbankan cinta dan bakatnya. Karya ini pada dasarnya menyoroti relung-relung kejiwaan secara filosofis ini, menampilkan tokoh seorang pemuda yang peka, yang mampu merasakan penolakan dari lingkungan kehidupannya, padahal ia merasa lebih unggul dalam intelegensia. Karena kehilangan daya untuk mencintai dan dicintai, ia pun mengobarkan cita-citanya dengan tujuan despotisme. Kemudian mengalami keterlemparan dalam hidup, lalu melakukan demistifikasi diri.

Bagi Girard, pertobatan para tokoh itu sesungguhnya adalah pengalaman diri para novelis sendiri. Mereka mengalami suatu kejatuhan diri, di mana mereka dipaksa untuk meninggalklan segala anggapan dirinya selama ini. Kejatuhan memang menyakitkan. Tapi justru dengan kejatuhan itulah mereka memperoleh prespektif baru. Mereka tak terdorong lagi untuk membuat pembenaran diri, dan tak menggoreskan lagi kisah yang bercerita tentang dikotomi hitam dan putih dari tokoh-tokohnya. Tidak ada yang baik di atas yang jelek.

Para novelis itu bahkan merasakan, yang jelek, yang sia-sia, yang artifisial, yang suka meniru itu bukanlah orang lain atau pun tokoh yang mereka ciptakan, melainkan diri mereka sendiri. Terhadap segala kesia-siaan itu, para novelis ingin bersimpuh dan bertobat. Girard mengatakan, “So the career of the great novelist is dependent upon a conversion and even if it is not made completely explicit, there are symbolic allusions to it at the end of the novel. These allusions are at least implicitly religious” (xii).

Pengalaman para novelis ternyata telah mampu membimbing Girard untuk bersimpuh pada an intellectual-literary conversion. Sehingga, pada hari Kamis Putih, Girard mengikuti ibadat yang telah lama ditinggalkannya. Lalu dengan suara lirik berkata, “So on Holy Thursday I went to Mass after going to confession. I took the Eucharist. I felt that God liberated me just in time for me to have a real Easter experience, a death and resurrection experience.” (hlm. xii).

Buah karya Sindhunata ini ditulis ke dalam lima bagian, yang ditutup dengan 2 ekskursus. Pertama, mengupas dan mengkritisi Kultur Batara Kala yang diperlihatkan bahwa dalam mitos Jawa, mimesis, sudah mulai tampak dalam teogoni (kisah mengenai asal-usul dewa), rivalitas, dalam kisah Sugriwa & Subali, kemudian kambing hitam dalam nasib anak-anak Sukerta. Ekskursus kedua, bertutur mengenai Kesedihan Putri Cina. Orang-orang Cina yang selalu menjadi kambing hitam ketika terjadi pergolakan atau gesekan sosial.

Di akhir buku ini, Sindhunata menggoreskan esai yang cukup menyentuh mengenai wajah Cina yang selalu menjadi “cermin kecurigaan dan kebencian”. Karya ini merupakan refleksi Sindhunata sebagai Cina peranakan untuk membebaskan diri dari jeratan karma kambing hitam. Ia juga membisikkan pada kita untuk juga menyapa manusia secara personal, agar mendemistifikasi diri, sebab demistifikasi sesungguhnya adalah suatu pertobatan. (*)

____________________________

*) Ahmad Jauhari, Founder Jivaloka Cakra Pustaka; Sembari Mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta

Continue Reading

Buku

Menyelami dan Melampaui Negativitas

mm

Published

on

Oleh: Ahmad Jauhari *)

Baru-baru ini, ledakan hebat mengguncang Kosambi di Tangerang. Pabrik petasan itu meledak. Di belahan Indonesia Timur, gunung Agung di Bali dalam situasi gawat. Ribuan orang mengungsi. Bila direnungkan, bangsa ini adalah tuan rumah fenomenologi peristiwa-peristiwa negatif: pembantaian tragis 1965, konflik bersenjata di Aceh, tragedi Mei 1998, bom Bali 2002, tsunami Aceh Desember 2004, gempa Yogyakarta Mei 2006, tenggelamnya KM Levina 1 2006, gempa Padang 2009, dan yang baru-baru ini, ledakan pabrik minyak di Lamongan, dan seterusnya. Peristiwa-peristiwa itu merupakan jejak-jejak dari negativitas pengalaman manusia.

Buku ini mendiskusikan  tentang “pengremangan kesadaran” sebagai sesuatu yang tidak nyaman untuk dibicarakan termasuk hal-hal negatif di dalam kehidupan bersama, yakni kehidupan yang hancur yang secara sosial-politis berarti runtuhnya solidaritas, pengejaran oposisi dan minoritas, merebaknya kekerasan massa, teror, terlantarnya rakyat dan luka-luka yang tetap basah tak tersembuhkan.

Hal-hal ini tetap tinggal sebagai hantu-hantu atau pengalaman-pengalaman negatif manusia. Buku ini berbicara secara fenomenologis tentang kerusakan-kerusakan sosial dan moral yang diwariskan oleh Orde Baru dari sudut pandang radikal, yaitu—dalam arti etimologis kata Latin itu—menelusuri sampai ke “radix” (akar) kerusakan-kerusakan itu. Di tengah-tengah lirihnya nasehat-nasehat moral, F. Budi Hardiman dalam buku ini lebih memilih pendekatan deskriptif (filsafat politik) dari pada analisis normatif (etika politik) untuk memahami kerusakan mental sampai ke palung terdalam dari relung-relung jiwa (psikologi politik).

JUDUL : Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma PENULIS : F. Budi Hardiman PENERBIT : Buku Kompas, Jakarta CETAKAN : 1, Oktober 2005 TEBAL : xIiv + 222 halaman

Sebelum memperjuangkan demokrasi, kiranya lebih bijaksanalah jika lebih dahulu diteliti kendala-kendala atau patologi-patologi mental menuju demokrasi. Massa, teror, dan trauma adalah pengalaman-pengalaman negatif yang selalu membayangi proses demokrasi, dan ancaman itu semakin besar seiring dengan bertambah banyaknya mereka yang termarginalisasi dalam proses globalisasi pasar dewasa ini. Dalam wacana demokrasi dan diskursus negara hukum modern, bertolak dari “pencerahan kesadaran” sebagai ekspresi kebebasan dan perbedaan individualitas manusia. Negativitas pengalaman manusia, mendasarkan diri pada wilayah “pengremangan kesadaran”, sebagai ancaman demokratisasi.

Istilah “negativitas” dalam buku ini dipakai sebagai “metafor” bagi semua deskripsi, analisis dan kritik dari keseluruhan gagasan. Kata “negativity”, dalam bahasa Inggris sebagai “negative attitude” atau “sikap negatif”, sementara  “negative” diartikan sebagai “hamful” atau “merusak” (hlm. xix). Sikap agresif dan destruktif jelas termasuk dalam kategori ini.

Namun, negativitas dipahami sebagai sesuatu yang melampaui “sikap atau “perilaku”, yaitu sebagai sesuatu yang memungkinkan sikap, perilaku dan pengalaman negatif itu sendiri.  Negativitas bukanlah sesuatu yang netral. Dia juga bukan ketiadaan atau titik nol melainkan sesuatu, yakni sesuatu yang tidak didefinisikan dari dirinya sendiri akan tetapi dari efek yang ditimbulkannya. Eksistensi negativitas dapat dipersepsi dalam kenyataan bahwa ia tidak membuat sesuatu itu “hilang”, melainkan “kurang”. Negativitas adalah sisi ‘yang lain’ (the other) dari jiwa manusia.

Akar Kekerasan Massa

Fenomena kekerasan massa yang semakin marak akhir-akhir ini menurut George Simmel, diproyeksikan oleh heterofobia (takut akan ‘yang lain’). Heterofobia berasal dari otofobia (takut akan diri sendiri). Dalam filsafat yang abnormal dirumuskan dalam konsep “the other” (Inggris), “l’ autri” (Prancis) atau “das Andere” (Jerman), dan “yang lain” dalam terjemahan bahasa Indonesia. Yang lain, menduduki posisi negativas, karena dianggap berbahaya dan harus diberangus. Sebab yang lain ditatap jauh diseberang sana.

Padahal “yang lain” itu justru mengeram di palung terdalam individualitas manusia. Tidak sekedar penampakan wajah (face) ‘yang lain’ sebagai ‘yang lain’ hadir dengan selubung tabir ideologi. Namun juga, wajah seram yang dihadapanku hadir secara terus-menerus. Kehadiran itu “mengharuskan” subyek mengelak dan berpaling bahkan kalau perlu ‘yang lain’ itu dimusnahkan, agar tidak menggerogoti eksistensi subyek. Maka pembrangusan dan pengejaran terhadap yang berlainan sebagai minoritas merupakan tanda keruntuhan solidaritas.

Di zaman Orde Baru (Orba) hancurnya solidaritas pada kehidupan bernegara berpengaruh terhadap masyarakat setelahnya. Maka negara bagi Hannah Arendt, dalam Vita Activa, 1996 (The Human Condition) adalah wadah ekspresi kemajemukan dari ketunggalan. Dalam kediktatoran tak ada lagi negara sebab represi, agresi dan dominasi (Herrschaft) akan menghancurkan kemajemukan dalam ketunggalan. Kediktatoran bukanlah sekedar intervensi publik ke dalam yang privat melainkan “kolonisasi” ruang publik oleh yang privat. Kolonisasi atas ruang publik itu terjadi manakala para konglomerat berkongkalikong dengan kekuasaan politis atau juga agama dalam komando kementrian agama. Republik dalam kondisi semacam itu kehilangan esensinya, dan teror justru bertolak dari penguasa sebagai ‘pelaku’ destruktif.

Histerisitas massa pada teror dan kekerasan massa disorot dari ‘prespektif pelaku’, meminjam ungkapan Hermann Broch dalam buku Massenwahntheorie, 1979 (teori kegilaan massa) ditimbulkan dari ketidakmampuan untuk menegaskan diri yang mendapatkan energi dengan cara tindakan kolektif yang dektruktif. Dalam kekerasan massa ‘pelaku’ kekerasan justru mengalami penumpulan tidak hanya perasaan melukai para korban tetapi juga sirna rasa bersalah atas perilaku kekerasan. Lenyaplah daya serap moralitas dan akal sehat kehilangan “otoritasnya”.

Secara struktural, akar-akar kekerasan massa dalam teori tindakan kolektif Veit Michael Bader (sosiolog Jerman) berpangkal dari disparitas sosial yang terbentuk lewat interaksi sosial. Negativitas dilihat sebagai signal dari kebuntuan komunikasi dan bentuk perjuangan untuk meraih kesamaan dan keadilan. Macetnya komunikasi merupakan resonansi perubahan manusia dari “personalitas” menjadi “massa”.

Disorot dari psikologi politik (mental), kebuntuan komunikasi yang memproduksi kekerasan secara epistemologis dimengerti sebagai proses pengenalan manusia. Artinya, tindakan kekerasan itu sudah terkondisi di dalam struktur pikiran manusia. Hal itu mengacu pada dua hal; pertama, pengenalan atas manusia berarti mengandung momen dominasi sebab mengenali berarti mendefinisikan. Kekerasan itu semakin melar eksistensinya jika yang didefinisikan tak mampu mendefinisikan dirinya sendiri dan tunduk pada “institusi” di luar dirinya. Kedua, pengenalan atas manusia lain diawali dengan stereotipikasi bahwa orang lain dimengerti sebagai kelompok dan bukan sebagai individu. Dalam situasi konflik stereotipikasi yang netral menjadi destruktif (George Simmel). Kekerasan massa pada taraf antropologis berpangkal dari rasa panik dan kebutuhan akan ekstasis (Hermann Borch), dan posisi sosiologis kekerasan massa itu dilahirkan dari proses atomisasi individu secara struktural dalam masyarakat kapitalis (Hannah Arendt).

Kekuasaan (dalam masyarakat kapitalis) menghasilkan kepatuhan. “Bila orang menelusuri sejarah umat manusia yang panjang dan kelabu,” demikian kata C.P. Snow, “orang akan menemukan bahwa lebih banyak kejahatan yang menjijikkan, dilakukan atas nama kepatuhan daripada atas nama pembangkangan”. (hlm. 115). Realitas kepatuhan inilah yang mengilhami Elias Canetti dalam Masse und Macht 1995, merumuskan konsep Verwandlung (metamorfosis\mimesis). Tubuh menampakkan egonya sebagai sesuatu yang meniru gerakkan mesin. Maka destruksi massa merupakan bentuk disiplinasasi tubuh. Disiplinisasi tubuh (docile bodies) adalah elemen penting pemerintahan otoriter sebab hal itulah tenaga praksis destruksi moral dan sosial.

Adalah Viktor E. Frankl dalam konsep logoterapi memandang negativitas dari ‘prespektif korban’. Ia bergumul dengan persoalan makna hidup yang dilontarkan pasiennya. Lebih jauh ia tidak hanya memasuki persoalan makna hidup melainkan juga mengais “makna penderitaan” (termasuk derita para korban). Manusia berbahagia dengan menemukan kehidupannya. Demi menemukan makna itulah, jika perlu, manusia siap untuk menderita. Manusia menurut Frankl memiliki “den Willen zum Sinn” (kehendak-untuk-makna). Konsep ini didasarkan atas pengalaman Frankl sendiri sebagai tawanan di tiga kamp konsentrasi (yaitu Dachau, Bauchenwald dan Auschwitz). Penderitaan akan bermakna jika fokus hidup kita tidak berpijak pada apa yang diharapkan dari hidup ini melainkan bertolak pada apa yang dapat diharapkan oleh kehidupan darinya. Berpindah dari yang bertanya menjadi yang ditanyai. Jadi, makna penderitaan itu tergantung pada sikap yang benar terhadap penderitaan.

Untuk melampaui mengingat dan melupakan negativitas, diakhir buku ini Hardiman menggunakan diskursus detraumatisasai. Detraumatisasi merupakan “tindak merelakan”. Sedang merelakan adalah melampaui mengingat dan melupakan. Memaafkan adalah bertindak, yang menurut Arendt “memulai sesuatu yang baru, lahir kembali”, yakni membiarkan lewat itu yang lewat. Detraumatisasi harus dimulai dengan “askese duniawi”. Fritz Leist memandainya dalam tiga latihan; diam (Schweigen), ketenangan hati (Sammlung) dan merelakan (Verzicht) (hlm. 174). Diam adalah “das Hören in der Stille” (mendengarkan dalam kesunyian).

Berpijak pada metafisika Martin Heidegger dalam buku Discourse on Thinking, 1969 (diskursus tentang berpikir) bahwa Gelassenheit (ketenangan) terjadi melalui berdiam dalam kesunyian. Namun, Heidegger memakai kata kuno Gelassenheit zu den Dingen yang mengacu pada Meister Eckhart tentang “membiarkan dunia berjalan dan menyerahkan diri kepada Allah”.  Sehingga askese untuk diam dan pengumpulan diri berkaitan dengan sesuatu yang dasariah yaitu kerelaan. Kerelaan berarti membiarkan sesuatu itu berjalan sebagai yang lewat.

Buku ini merupakan “resonansi” dari riset disertasi Hardiman tentang massa dan penaklukan totaliter yang diselesaikannya di München Jerman tahun 2001. Disertasi itu lengkapnya berjudul Die Herrschaft der Gleichen. Masse und totalitäre Herrschaft. Eine kritische Überprüfung der Texte von George Simmel, Hermann Broch, Elias Canetti und Hannah Arendt (Peter Lang Verlag, Frankfurt a.M., 2001). Buku yang anda baca ini adalah catatan refleksi tentang keringat dan darah para korban, kaum survivors di negeri ini.

Sayangnya, itu semua merupakan bunga rampai yang tersiar di beberapa media dan ceramah-ceramah Hardiman. Sebagaimana kata Taufik Abdullah menyebut bunga rampai tulisan sebagai “non- book book” (buku yang bukan buku). Tetapi itu tidak berarti mengurangi ketajaman Hardiman memotret setiap negativitas pengalaman manusia. Pembaca justru dibantu secara perlahan-lahan merefleksikan diri bahwa setiap kita memungkinkan satu roda gigi mesin raksasa penghancur bekerja. (*)

JUDUL            : Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma

PENULIS         : F. Budi Hardiman

PENERBIT      : Buku Kompas, Jakarta

CETAKAN      : 1, Oktober 2005

TEBAL            : xIiv + 222 halaman

______________________________________

*) Ahmad Jauhari,mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta; Founder Jivaloka Cakra Pustaka

 

Continue Reading

Buku

Anggitan Epos Memikat: Ke Mana Bajang Menggiring Angin?

mm

Published

on

Oleh: Ahmad Jauhari

Tidak banyak karya sastra di Indonesia yang telah menjadi klasik. Bukan hanya ia telah dicetak ulang beberapa kali (Februari 2007 memasuki cetakan ke-VIII), melainkan novel Sindhunata dalam Anak Bajang Menggiring Angin ini telah banyak memberikan inspirasi bagi lahirnya sejumlah karya seni tari dan teater. Bahkan, di banyak Sekolah Menengah Umum (SMU), buku ini dipakai sebagai bahan pelajaran sastra.

Berangkat dari kisah Ramayana, karya sastra ini telah menjadi aktual untuk kehidupan masa kini. Kisah-kisahnya memuat pelbagai khazanah kekayaan tentang cinta sejati, mengenai pergulatan manusia menghadapi penderitaan, kesendirian, dan kesunyiannya, sekitar kesia-siaan kekuasaan, serta perkara kemenangan autentisitas manusia di tengah segala kepalsuan hidup.

Banyak kritikus sastra mengatakan, kekuatan novel gubahan Sindhunata ini terletak dalam bahasanya yang sangat indah, lebih-lebih dalam corak liriknya yang puitis dan ritmis. Kisah-kisahnya merepresentasikan perlawanan mereka yang lemah dan tidak berdaya menghadapi absurditas nasib dan kekuasaan. Sungguh perjalanan buku ini sendiri telah menjadikannya sebuah karya sastra yang tidak mudah lekang digerus zaman.

Kisah Ramayana yang pertama kali digubah oleh Mpu Walmiki ratusan tahun yang silam ini, telah hadir dengan berbagai macam versi. Akan tetapi, banyak pengamat sastra berpendapat bahwa novel ini tak dapat dianggap sebagai sekedar salah satu versi dari kisah Ramayana, melainkan sebagai penciptaan kembali kisah tradisional Ramayana ke dalam bentuk sebuah karya sastra dengan gaya bahasanya yang khas, imajinatif simbolik.

Buku “Anak Bajang Menggiring Angin” Karya Sindhunata

Novel ini dibuka dengan kisah Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali dari Alengka, yang menyodorkan syarat bagi siapa saja yang ingin meminangnya untuk bisa mengajarkan arti Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Sementara ayah Sukesi sangat khawatir akan banyaknya darah yang tertumpah karena keganasan Jambumangli, paman Sukesi. Jambumangli, diam-diam menginginkan Dewi Sukesi. Lalu, diselenggarakanlah sayembara bagi para ksatria yang berhasil mengalahkan dirinya. Sesungguhnya, sayembara ini hanyalah kedok Jambumangli untuk menyingkirkan semua lelaki, supaya akhirnya tinggallah ia yang akan meminang Sukesi.

Demi mewujudkan keinginan putra tunggalnya, Prabu Danareja, raja Lokapala yang ingin memperistri Sukesi, Begawan Wisrawa menyanggupi untuk mengajari Sukesi tentang Sastra Jendra. Berangkatlah Wisrawa ke negeri Alengka. Di sisi lain, para dewa belum mengizinkan ajaran tersebut diketahui manusia biasa. Kemudian datanglah Batara Guru, raja para dewa, yang tidak menghendaki mereka berdua untuk mengetahui ajaran suci ini lebih mendalam.

Bersama istrinya, Dewi Uma, Batara Guru menyusup ke wadag dua manusia ini. Niatnya ingin menguji keteguhan mereka melawan hawa nafsu. Namun ternyata dua manusia ini gagal. Akhirnya mereka bersetubuh, dan kelak melahirkan Rahwana, tokoh antagonis di babad Ramayana beserta saudara-saudaranya, Sarpakenaka, Kumbakarna, dan Wibisana. Sementara Jambumangli sendiri telah tewas ditangan Begawan Wisrawa.

Bobot kisah Dewi Sukesi sendiri terletak pada Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, sebuah ajaran dewata yang konon dapat mengangkat derajat makhluk apa pun. Begitu tingginya, bahkan dalam setiap pertunjukan wayang kulit, hanya Dalang yang pandai, bisa menggambarkan ajaran ini. Itu pun hanya selintas. Dalam Sastra Jendra, kita dapat menemukan relevansi dengan kehidupan, karena inti ajaran tersebut sebenarnya adalah kepasrahan pada Ilahi.

Cerita bergulir terus ke tempat lain di mana Anoman lahir, kehidupan Rama, pernikahan Rama dengan Dewi Sinta, diculiknya Sinta oleh Rahwana, hingga perjuangan Rama dibantu oleh adiknya, Laksmana, dan kera putih yang sakti, Anoman, pergi ke Negeri Alengka untuk menyelamatkan Sinta.

Ada sebuah tafsir cukup menarik atas tokoh Rama dalam novel ini. Dari cerita yang secara umum termaktub di dalam komik, serial televisi, atau cerita guru di sekolah, Rama digambarkan sebagai sosok ksatria perkasa yang hebat dan memesona. Sebentuk gambaran umum tentang laki-laki dambaan sejuta perempuan.

Namun dalam novel ini, Rama yang dikenal sebagai ksatria dapat menjadi begitu cengeng saat kehilangan Dewi Sinta. Dan Rama yang ksatria, juga tidak lepas dari sisi arogan kelaki-lakiannya. Setelah berjuang setengah mati mengalahkan Rahwana dan puluhan ribu bala tentara Alengka untuk menyelamatkan Dewi Sinta, dengan begitu tega Rama meminta dewi cantik jelita itu melemparkan diri ke kobaran api dengan alasan yang sungguh kerdil, takut jika Dewi Sinta sudah tidak suci lagi. Padahal, Sinta yang selama ini digambarkan begitu lemah, telah berjuang mati-matian menghadapi kebengisan Rahwana untuk mempertahankan kesuciannya.

Tentu bukan hanya kisah cinta yang ada di novel ini, pembaca juga disuguhkan beragam petuah yang bijak. Dalam kisah Dewi Sukesi, misalnya, di saat ia berhenti meratapi nasibnya, dan menyadari bahwa kesalahan masa lalunya timbul karena ia tak sanggup untuk menderita, benar-benar memberikan kita pengalaman batin yang luar biasa. Kebahagiaan di dunia terkadang hanya keindahan yang menipu. Penderitaan merupakan milik kita yang berharga, karena dengan melampaui penderitaan, kebahagiaan sejati dapat diraih.

Kisah-kisah dalam buku ini sebetulnya pernah dimuat sebagai serial dalam cerita Ramayana dalam harian Kompas setiap hari Minggu selama tahun 1981. Tentu dengan sudah ada perbaikan dan tambahan di sana-sini. Sungguh novel ini mempunyai kekuatan re-interpretasi atas epos besar yang memikat. (*)

JUDUL            : Anak Bajang Menggiring Angin

PENULIS        : Sindhunata

PENERBIT     : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

CETAKAN     : Februari, 2007

TEBAL             : vii + 363 halaman

________________________________________________

*Ahmad Jauhari, Mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta; Founder Jivaloka Cakra Pustaka

Continue Reading

Classic Prose

Trending