Connect with us

Puisi

Puisi Badruddin Emce: Dermaga Zuhdi

mm

Published

on


Badruddin Emce, 57 tahun–adalah sastrawan  berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal secara luas melalui karya-karyanya berupa esai  dan puisi yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar dan terhimpun dalam berbagai antologi puisi. Badruddin tercatat pernah menjabat sebagai anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Tengah selama dua periode. Beberapa kali, Badruddin Emce diundang dalam perhelatan sastra antara lain Forum Puisi Indonesia 87 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Festival Seni Surabaya 1996. dan Temu 18 Penyair Jawa Tengah 2006. Badruddin kini tinggal di Kroya, Cilacap. Kumpulan puisinya yang telah terbit, Binatang Suci Teluk Penyu (Olongia, 2007) dan Diksi Para Pendendam (Akar Indonesia, 2012). Saat ini berhidmat di Lesbumi PCNU Cilacap.

Prolog :

“Tahun itu kami sibuk dengan tanduran!” –

Mungkin begitu orang Kalikudi, jika ditanya, “seperti apa waktu itu?”

Jika dari mulut ke mulut ini kita tawarkan –

Bayi-abang hingga para renta, bergegas ke arah kota sana.

Konon, siapa entah, dengan lilin meredup di tangan,

meredam sendiri yang terbersit – dosa apa kami? –”

Dunia kita malah seperti ditertawakan.

“Keruwetan apalagi melucuti mereka?”

Tapi orang Kalikudi juga senang mendengar

dari yang tak dikenal sekalipun–

‘Berombong-rombong itu’ konon hendak

memenuhi panggilan Ratunya sekaligus

menghindari yang kelak disebut-sebut sebagai kerja paksa.

Adakah begini? Bahkan, saya tak mampu menampik

yang dituturkan suargi guru ngaji,

“dari timur merunduk – sementara di kita, ada :

Dari jendela rumah, hanya termangu memandang.

Di pucuk kelapa, hanya menghisapgigiti

rokok linthingan belum dinyalakan.

Di perahu mancung berguncang,

hanya memilin-milin tali jaring arad-pinggir

mungkin sudah tersangkut akar.

Di sawah meruapkan anyir lintah rawa,

hanya mengelus-elus doran pacul

sementara keringat wajahnya telah sampai plakangan

selepas jembatan kereta Maos ke Kesugihan,

melintasi desa ini, ‘berombong-rombong itu’

membawa apa saja yang gampang dibawa!”

Terkadang ingin ngaji turutan lagi.

Selesai satu dua surat pendek, tanya –

“Dari perkebunan apa saja mereka turun?”

“Dari bangunan-bangunan dekat stasiun mana saja

mereka keluar?”

“Barak nyaris ambruk, apa masih menyengatkan bau tir

mereka tinggalkan?”

Tentu saya berusaha yakin –

Setelah desa ini, yang kehausan segera menemu air.

Beberapa teguk –

bisa dari pangon bebek yang telah berminggu buara.

Sedang yang terkilir – sekalian dipijit –

dari dukun bayi barusan ndhadhah putri seorang lurah!

Mungkin, andai jauh sebelumnya orang desa ini tahu,

layaknya hari raya yang setiap tahun menghambur,

‘berombongan-rombong itu’ bakal mereka sambut peluk

dengan pujian bertalu-talu bunyi bedug.

Tak ketinggalan ber-tampah-tampah jajan pasar.

Mana ada orang jahat di desa ini?

Bahkan jin-jin penunggu pohon,

sumur-sumur tua dan ceruk-ceruk tebing sungai,

usai ledakan-ledakan besar itu

bertahun berpadu menyangga jembatan itu dari runtuh!”

|a.| Jembatan itu :

Di timur laut sana, di atas Serayu, setelah puluhan tahun

ditinggal ‘berombong-rombong itu’ ke dermaga ini,

beberapa menit lalu bahkan kita lewati.

Jika adalah saksi, mustikah dulu mengikuti

‘berombong-rombong itu’ mencapai dermaga ini?

Lalu menggores begitu rupa –

bagaimana di bawah pesawat pembom meliuk-liuk,

di antara ledakan-ledakan menenggelamkan,

kapal bergantian merapat, menjemput

‘berombong-rombong itu’ di dermaga ini!

Bahagianya, suatu hari nanti di bilangan Pasar Senen

kita mendapati, di antara tumpukan buku loak,

komik si tak kuasa melangkah lebih dari semestinya itu.

Beberapa halaman saja, engkau seperti ditinggalkan –

Menyeruak dari rerimbun epilogmu,

kawanan perompak Afrika seolah menggiring

12 sisa kapal penjemput ke keluasan lebih purba samudera.

“Saat dulu labuh di sini, kawanan itu sejatinya

hendak berdagang!”

Ujar seseorang tercetak dalam balon.

“Sebelum leluasa menyusuri gua-gua,

safari di kebun-kebun makna,

memetiki simbul-simbul yang tak tumbuh kembang

di hati-hati suku mereka, pada keluarga dan sahabat raja

menghadiahkan keunggulan mantra-mantra,

tergores di gelang akar, taring babon tua bandul kalung

dan kulit rusa makar.”

|b.| Tembini :

Kemeriahannya jadi lebih terasa, bukan?

Kemeriahan yang tak sekedar bagaimana Pulebahas

meraih 1 putri Ciptarasa

dengan 40 adik perempuan kebanggaan.

Teman saya bahkan masih mengira, kala itu teluknya

belum banyak laguna –

Bolehlah, di timur laut sana, Kalikudi dan silsilah sada siji-nya

baru berkas-berkas kemambang belalang dan capung

hinggap berdekatan.

Bolehlah, di sana kota Medang tua sudah menunggu

pertanyaan-pertanyaan kita.

Jika suka, cukup setengah hari berperahu mencapainya.

Jika ombak menjadi ganas, bolehlah,

di ceruk-ceruk dinding utara bukit kini bertajuk Selok

kita berlindung.

Lepas itu, dari perahu segera tampak,

nyala obor berjajar sepanjang pantai.

Bolehlah, siapa bermalam bakal menemu

betapa tak kuasanya menolak kegelapan,

betapa pentingnya terang.

Maka, demi baca-tulis, demi menemu paham,

siapa yang bermalam perlu mempertahankan nyala.

Bolehlah, di keramaian pasarnya akhirnya menemu,

anjing-anjing yang tak diikat

membiarkan pendatang-pendatang nakal macam kita,

kulakan : memilih yang tampak wah, namun murah.

“Tidak, kami tidak perlu bermalam!” Sela lelaki hitam kekar

tertera dalam balon lain.

“Secukupnya saja, lalu balik lagi istirahat di sini.

Kami sudah ada janji ketemu tuan ratu Brantarara, besok!”

Rembugan sambil menyisir kemolekan pesisir

hanya di sini, bukan?”

Bersama jalan malam memang mengasyikan.

Tapi teman saya suka mengingatkan

pentingnya nyala panduan.

Tertawan nyala terang Tembini,

bagaimana terbersit yang bukan Tembini? –

Bolehlah, sementara nakhoda.

Juga beberapa nelayan arad-tengah, pernah terlintas –

Sesekali, jika segugus bintang yang ditata rapih kupu-kupu

dan sekawanan tikus sawah disembunyikan bebintang

ribut meraih bentuk, nyala itu padam.

Tetapi mereka juga pernah, dengan sukaria,

mengantar sekolah anaknya. Nyangking oleh-oleh buat istri.

Memiliki keluarga besar serta kampung kebanggaan.

Belum lupa dengan dinginnya sebuah kota.

Suatu hari, saat menyusuri sudut-sudutnya, memergoki :

Di depan tokonya, sambil bercerita dan menyimak cerita,

seorang cina memijit seorang tukang parkir keriput tua.”

Kenapa tersenyum?

Adakah engkau di antara sosok-sosok itu?

                        |c.| Mungkin nyala saja tak cukup :

Teman saya pernah mereka-reka –

Sebelum bertolak ke Medang, di selembar bidang

mereka titikkan dulu nyala Tembini sebagai pusat perjumpaan.

Lalu dari sisi atas, merambat jalur orang Pasir Luhur awal

menawarkan jasa pandai logam.

Dari sisi kiri atas, menjuntai jejak terburu-buru orang Galuh

memikul berbumbung madu tawon gung, susu kerbau dan nira aren.

Sedang di sisi bawah, titik-titik kapal menurunkan aneka perhiasan

dipaku dengan tinta kuning.

Meruap amis lautan,

tapi segera, dari gua-gua merebak aroma gaharu –

Bolehlah, maha karya peta digelar selebar-lebar,

hingga paran-paran bak dilihat

dari ceruk tersembunyi langit nan jauh.

Tetapi tak sumua butuh memilih paran.

Paran ada di mana-mana.

Terdampar setelah berhari-hari pasrah, di situlah paran.

Sayangnya begitu dibilang cuma bocah dolan kesasar,

mereka langsung nglokro.

                        |d.| Laguna saling mendekat, bersemilah rawa-rawa :

Hendak membisu, pelarian Batavia malah menebar gabah.

Jadilah rawa-rawa hamparan sawah. Tembini pun pasrah.

Berbahagialah, teman saya masih menyimpan lembaran lapuk itu –

Bolehlah si pencipta, bersama kapalnya,

akhirnya dilemparkan badai ke tebing yang dijauhi.

Bolehlah, titik-titik tersembunyi tak kunjung tegas

sebagai yang tiada lagi di bumi.

Bolehlah, lagi suntuk mengikuti arah goresan

sebuah mural gua, tiba-tiba tergoda curiga –

jika rancang jalang sudah di tangan,

mana ada tempat menakutkan.

Setelah lengkap peralatan, datang tengah malam,

segera, di balik rimbun persembunyian babi hutan,

menatahkan seolah peninggalan.

Bolehlah, ingin selalu dipercaya raja,

lepas dari hisapan pusar Sapu Regel,

para cerdik bergegas ke utara.

Menyusuri Citanduy-Cijolang. Meloncat dari batu ke batu.

Setelah Datar dan Hanum,

ngatepus di makam tua Tejakembang.

                        |f.| Pituduh para sepuh :

Jika engkau ragu, benar sudah engkau butuh –

Bolehlah, karena tak bersama kita,

mereka tak harus kita percaya.

Tak harus kita ikuti,

meski terus mencermati hari-hari lahir batin kita.

Meski lebih mengenali kita ketimbang diri kita sendiri.

Meski terus meyakinkan kita –

Setelah meraba-raba, sampai juga kalian

di yang kalian yakini sebagai sisa dermaga Tembini.

Begitu merasa tiba, tawa kalian tak kunjung reda.

Riuh, mirip air berebut balik ke titik mula di lautan sana.

                        |g.| Pantai yang berabad ditinggalkan nyala Tembini :

Arahnya sudah engkau temukan?

Bolehlah, yang asyik bersama jalan malam

memikirlakukannya di lautan sana.

Jika bentangan siang besok menyilaukan, bolehlah,

kepul asap cerobong pantai Karangkandri di tengah,

julang bukit kapur Karangbolong di timurnya,

dan ujung timur Nusakambangan di baratnya

adalah seregupandupenuhbhakti!

Bolehlah, sibuk dengan untung-rugi

kita tak sempat mencatatnya.

Bolehlah, mungkin cuma iseng, kelak ada yang tanya –

apakah Bapak-Ibu lebih muda dari saya?

                        |h.| Anak muda kita :

Diam-diam teman saya coba mengikuti mereka.

Bolehlah, bagaimana mencapai sebuah dermaga,

mereka bayangkan sambil meraih poin liwat game online.

Tapi bayangan itu kemudian mereka robek-robek.

Bolehlah, udara bertabur pelabuhan-pelabuhan kecil

tak tertera pada peta.

Bolehlah, tanpa harus kembali,

dari sana ke mana-mana bisa!

__

Kroya, 2019/2020

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Sajak Sajak Angga Wijaya

mm

Published

on


Lidah Dimana-mana


Langit sampaikan pesan, seakan berkata
“Aku meniup nyawa, menumbuhkan lidah

di tubuh, bukan semata hanya percuma.

Lidah untuk berkata yang baik, bukan untuk

bergunjing, bak cerita sinetron menjelma

racun pagi hingga malam hari”

Namun terjadi sebaliknya; dimana-mana,

orang kerap gunakan lidah untuk hal buruk.

Gemar bicara tak benar, kaum munafik di

kitab suci yang hanya jadi sesembahan.

Jangan terlalu berharap pada gerombolan,

mereka membunuh kita dengan kata pedas. 

Mata yang berbinar seiring percakapan yang

makin panas. Seperti dalam film, kumpulan

makhluk malas tak berguna. Ada yang

kurang jika tak membicarakan orang lain.

Seakan mereka paling utama dan sempurna

Kuman di seberang lautan tampak begitu jelas

Lidah menjulur dari segala tempat; layar ponsel

pintar, pintu, jendela bahkan dari lubang kemaluan

manusia itu. Hingga pada suatu waktu, di alam

setelah kematian, lidah mereka terbagi menjadi

potongan kecil, tumbuh di sekujur tubuh yang

terpanggang api abadi neraka. Cerita itu

kudengar berkali-kali beberapa hari ini.


2020

Penyair Melihat Hujan


Dari kamar lantai dua kontrakan, penyair itu melihat hujan

Suara air jatuh di atap rumah sebelah yang baru dibangun

Ia kehilangan langit tempat awan berarak, sumber inspirasi

ketika ia menulis puisi. Kini di depannya hanya hamparan

tembok. Tapi tak apa, semua akan menjadi biasa oleh hal itu

Hujan ternyata tak lama, hanya mampir sebentar basahi malam

yang amat gerah.Istrinya tertidur pulas, setelah seharian  bekerja

di toko bangunan sebagai tenaga administrasi. Kucing tak tampak

di kamar, mereka beranjak setelah mendapat makanan.Pergi malam

hari dan kembali di pagi hari sesuka hati bagai raja di istana.

Penyair itu belum juga tertidur, ia bahagia kini bisa bekerja lagi.

Kemarin kawan di ibu kota menelponnya, ia ditawari menjadi

Wartawan budaya. Istri juga ikut senang, setidaknya

bebannya berkurang karena kini ada pemasukan baru

Tak risau ketika melihat saldo tabungan terus berkurang

Terlalu bahagia juga tak baik, sebab itu bisa membuat senyawa

dalam otak tak seimbang. Penyair itu ingin meminum obat tidur,

tapi ia menundanya. Biarlah malam ini ia merayakan kebahagiaan

dengan duduk di beranda memandangi sisa hujan dan udara dingin

Ia bersyukur telah diberi ruang untuk menjadi dirinya. Sudah enam

buku ia tulis dalam dua tahun ini. Tak pernah terpikir sebelumnya,

kini ia menjadi penulis. Mencintai hidup dengan segala upaya,

seperti hujan selalu tepat janji, datang saat amat dirindukan.

2020

Beranda Rumah Sakit Jiwa


Bisa keluar ruangan bangsal begitu

membahagiakan. Bagai raja sehari,

duduk menonton berita di televisi.

Tapi hati-hati, benda itu bisa bicara
Bercakap-cakap dengan kegilaan
Mengajakmu berbincang berdua

Pengatur saluran terus kau ganti
Perawat tersenyum lalu melarang
Mengajakmu kembali ke bangsal

“Coba ramal saya, kamu indigo?
kudengar kabar tentang dirimu
akhir-akhir ini saya sering lelah”

Aku menjawab dengan tuntas
Di matanya kulihat rasa cemas
Kebosanan jelang menopause

Kami berpisah saat senja tiba
Berbisik ia pada teman sejawat
Tepat saat pintu terali dibuka

“Skizofrenia Paranoid. Kasihan.
Kudengar ia mahasiswa pintar,
ditinggal kekasih amat dicinta”

Aku tersenyum mendengarnya
Batas kewarasan sangat tipis
Tak ada cermin untuk berkaca



2020

Belajar Bercinta

Sepasang anak muda itu hidup bersama. Berbagi banyak hal;

cinta, uang, air mata. Pelaminan selalu dinanti, tapi apa daya

kantong lebih sering kosong. Biaya hidup mesti dipenuhi;

kontrakan, listrik, air, pulsa juga kuota internet untuk bekerja

dan hiburan pelepas lelah selepas rutinitas.

Jangan kalian pikir ini hanya soal asmara atau hubungan ranjang.

Mereka telah lama beranjak dari hal itu. Cinta tak hanya seks,

ia lebih agung dari naluri rendah ini. Bisa jadi, mereka telah lama

belajar bercinta. Tahun-tahun awal kamar menjadi saksi percintaan

di ujung senja yang muram.

Pertengkaran beberapa kali menghiasi hari dalam babak hidup

membara,waktu demi waktu. Ada saatnya mereka bersedih

kehilangan seekor kucing, ada kala tawa penuhi ruang hati tak

sepi oleh kesunyian. Cinta menjadi dasar  rumah jiwa yang

merdeka. Aku adalah saksi apa yang mereka alami.


2020

___

I Ketut Angga Wijaya, lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Belajar menulis puisi sejak SMA saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya asuhan penyair Nanoq da Kansas. Buku kumpulan puisi terbarunya, Tidur di Hari Minggu (2020). Selain penulis,sehari-hari ia bekerja sebagai wartawan di Denpasar.

.

Continue Reading

COFFEESOPHIA

Tak Ada Sajak di Kafe-Kafe

mm

Published

on

I

Samsara Duka
(Aug, 2020)
by Sabiq Carebesth

ISBN 978-623-93949-0-5
____
Puisi Sabiq Carebesth dalam buku ini menggunakan banyak kata yang berfungsi menebar berbagai asosiasi.Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat—Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar; duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi—dan lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan.
-Afrizal Malna, Penyair.
__
Buku ini bisa dipesan via kontak whatsapp 082111450777 atau tokopedia bookcoffeeandmore
Rp. 100.000

Aku tak menulis sajak untuk pembaca

Mereka mudah murka dan kecewa

Sajak-sajakku bukan pelipur lara

Aku menulis sajak untuk angin

Mereka hening dan luas.

Di sana

Sajak-sajakku bisa rebah istirah

Sebab kerap

Ia lelah menempuh jalan panjang

Melewati tiap hampa dan sia-sia;

Ia rapuh dan lambat

Tapi senantiasa mencari puncak;

Di sana hanya hening

Di sana hanya kekosongan;

Selalu hanya sejenak

Tapi sajakku memahami

Terjalnya jalan kembali ke mula

Ingatan dari mana ia lahir

Merepih jalan memuncak.

II

Aku pernah mengira sajakku terbuat dari waktu

Mengira tersusun dari sore yang menderita

Dengan bunyi senja yang beringsut pada gelap

Dangan tatakan dari kayu di mana jiwa dibelah;

Sementara kuncup bunga tetap mekar tak iba—

pada sajakku.

Tapi sajakku tak dibuat untuk pembaca

Sajakku memang bukan sajak

Ia hanya sajak—memenuhi takdirnya

Untuk memapah jiwa-jiwa

Keluar dari sekam hampa

Agar senantiasa berdetak

Meski dengan suara jauh

Meski dengan kebisuan serigala

Serupa kepak rajawali di pucuk langit

Atau suara kesunyian tempat ibadah

Yang ditinggalkan hasrat para penyembah

Karena kematian yang tak memberi aba

III

Sajakku

Sajak-sajak rapuh

Yang tak sanggup bertahan

Untuk sampai pada pembacanya

Ia lahir lalu mendaki

Kembali pada sepi sebelum sempat

Duduk di antara pengunjung kafe

Yang tak pernah sempat menuntaskan

Menulis sajak tentang sajak-sajak

Tapi kini tak ada sajak di kafe-kafe

Sebab di luar hujan membadai

Orang-orang berlindung dalam kaca

Senantiasa sia-sia dan mengulanginya

Mereka membayar gairah

Dengan cinta yang ditambatkan sejenak

dan terburu;

Tak sempat bercumbu

Sibuk mengulur waktu

Seolah waktu segera habis

Dan kebisuan pun tak sempat memakna

IV

Aku menulis sajakku di kafe

Tapi sajakku bukan sajak

Sajakku tidak ditulis

Untuk dibaca para pembaca

Aku menulis sajak di kafe

Tapi tak ada sajak di kafe-kafe

Dan kau menunggu akhir sajakku?

Aku tidak menulis sajak untukmu

Aku telah menghapus dendam sukmaku

Sebelum sempat menjadi sajak

Maka sajakku tak punya kekuatan

Untuk meledak dan menulis sejarah

Waktu selalu lekas

Tapi sajak-sajak tidak

Sebab ia kedinginan

Seperti rumah yang ditinggalkan

Seperti pendaki di ujung petang

Ia hanya ingin istirah

Atau pohon-pohon kepurbaan akan menelannya

Hilang dalam gerbang sepi

Membeku bersama dingin

yang tak mungkin dipahaminya.

V

Kenapa sajak-sajak harus ditulis untuk pembaca?

Sajakku tak kutulis untuk pembaca!

Aku tak ingin sajakku dibaca

Sajakku bukan sajak

Aku ingin sajakku dibentangkan

Dalam sukma sehingga jiwamu membahana

Atau biarkan sajakku

Menjadi lumut pepohonan

Yang mewarnai jiwa

Menjadi selimut bagi tubuh waktu

Dan ketika para serigala menjadi sepi

Sajakku menjulang mengabarkan nyanyian

Agar sang rajawali kembali

Menemui kekasihnya yang tersesat

Di antara belantara kesepian

Di antara pepohonan purba

Dan para pendaki masih mencari

Nyanyian bagi jiwanya yang duka

Maka kutulis sajakku

Untuk menjadi kabut

Selimut bagi jiwa yang beku

Agar penantiannya menumbuhkan dedaunan rindu

Yang berguguran di hutan-hutan waktu

Menjadi api bagi peziarah puncak

Dengannya kehangatan menyerta

Peziarah tiba di puncaknya

Dan sajakku merayakan kenangannya

Sendirian..

VI

Sementara di kafe aku memesan kopi

Sambil melihat matahari berwarna putih

Aku tak juga mendapati sajak-sajak

Tak mendapati dedaunan dan peziarah

Tidak serigala kedinginan

Tidak juga rajawali yang kesepian

Kekasihku pun tak ada

Aku mencari sajak-sajakku

Tak ada yang membacakannya

Di kafe hanya pendusta

Yang membual tentang mimpi

Menebus hasrat dengan cinta

Yang sebentar dan tak berbalas

Masing-masing menjauh dari jiwanya

Kehilangan sajak-sajak milik jiwanya

Dan sajakku tak kunjung berhenti

Bernyayi ria dalam tarian kalbuku

Ia ingin berkisah tapi aku mulai lelah

VII

Aku harus pulang

Membawakan sisa sajakku

Anak gadisku telah menunggu

Di ranjang dengan ribuan malaikat

Menantiku membacakan sajak-sajakku

Di rumah kubacakan sajakku

Untuknya entah ratusan malaikat:

“Tak ada sajak di kafe-kafe

Pergilah pada jauh

Mendakilah pada hasrat

Sebab cinta membawa para ksatria

Pergi berperang sebagai martir

Untuk menaklukkan kesepiannya sendiri

Maka jadikan tanganmu perisai

Dan hatimu martir.”

___

Sabiq Carebesth, 2019

Continue Reading

Puisi

Samsara Duka

mm

Published

on

Samsara Duka
(Aug, 2020)
by Sabiq Carebesth

Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat–ekspresionis. Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar; duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi— dan lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan.
____
Afrizal Malna, dalam pengantar untuk buku Samsara Duka

Kirab malam dengan panji-panji hitam di malam larut; hujan dengan lolongan serigala berusia berabad yang terkutuk oleh nasibnya sendiri—sebagai penjaga gerbang sunyi antara malam dan larut; onggokan jiwanya telah melihat cahaya dan mentari terindah yang tak mungkin lagi jadi bagiannya. Ia telah tahu ke mana kembara—hanya berujung laut mati bagi matanya: ia telah tahu kemana kelana hanya memperpanjang usia dukanya—tetapi tinggal tiada siapa datang—tidak duka tidak cintanya yang lalu, waktu telah memasungnya sebagai tugu kesunyian di kota dengan lampu-lampu warna rembulan atau di antara dinding-dinding kafe dan galak tawa muram dari jiwa-jiwa yang diburu ingatan pada luka dan kepalsuan . O hendak bagaimana ia tuju lautan dalam jiwanya? Embun dan kabut, terik dan sunyi tak menjelmakan apa-apa; sungai-sungai kering, danau-danau bisu, dan gunung-gunung hanya lintasan beku—sedang malam penuh rembulan; dan tak satu lagu pun dapat dikenang. Jiwanya akan mati sebagai penjaga malam dengan lolongan timur dan barat yang gemanya menari-narikan angin, dan pohon-pohon purba sama birunya dengan lumut-lumut waktu yang tak lagi bisa ditakar; seperti usia kerinduan yang telah jadi abadi dalam kefanaan saban hari; begitulah akhir cerita semua cinta sejati; membenam dalam kepurbaan, menjadi langit dan gemintang; menjadi perjalanan dan duka cinta, genangan kenangan tentang ranum bibir belia, atau pipi merah jambu yang terbakar terik mentari pertama di laut timur, atau payudara yang bercahaya; atau botol-botol bir di redup hotel-hotel, jendela kereta yang membekukan gerak dan batin, tempat-tempat dan kesunyian yang tak sempat dikunjungi atau apa saja dalam segala rupa samsara—yang tak mungkin dimiliki kecuali dukanya; atau segala rupa panji-panji hitam waktu yang tak mungkin diulang kembali; sebagai gelak tawa atau percumbuan penuh duka—yang mengantar pecinta ke puncak kekosongan. (*)

Jakarta, 28 April 2020

Sabiq Carebesth

___

*) Buku sajak ini akan diterbitan Galeri Buku Jakarta pada pekan ke 4 Agustus 2020. Untuk info pemesanan silakan kontak whatsapp +62 813-1684-2110 (Book Coffee and More )

Continue Reading

Trending